Monthly Archives: September 2012

Andris, Lewat Nasi Liwet Instan dari Beras Garut Hasilkan Omzet Ratusan Juta

KOMPAS.com – Di pasaran,
beras asal Garut masih kalah
pamor dengan beras Cianjur
atau beras Thailand. Padahal,
beras garut memiliki sejumlah
kelebihan dibanding beras jenis
lainnya.

Beras garut dikenal memiliki
warna lebih putih, lebih pulen
setelah dimasak, dan memiliki
rasa manis, dibanding jenis
beras lainnya. Namun, banyak
pedagang yang
menyembunyikan identitas
beras Garut dan menggantinya
dengan nama beras Cianjur yang
tertera pada karungnya.

Kondisi inilah yang membuat
Andris Wijaya (32), warga Desa
Samarang, Kecamatan
Samarang, Kabupaten Garut,
berusaha menaikkan pamor
beras Garut tanpa
menyembunyikan nama asli
berasnya. Andris ingin
masyarakat mengenal beras
Garut dan menyukai beras
tersebut.

Andris memang tidak bisa
melakukan promosi besar-
besaran untuk mempopulerkan
beras garut. Namun, alumnus
D3 Politeknik ITB Jurusan
Teknik Mesin tahun 2001 ini
memiliki sejumlah ide atau cara
lain untuk mempopulerkan
beras garut.

Minat warga luar Kabupaten
Garut yang semakin tinggi dan
berminat menjadikan Kabupaten
Garut sebagai tujuan wisata
dijadikan alat untuk mencapai
tujuan tersebut.

Menurut
Andris, beras Garut harus
diolah dan dikemas sedemikian
rupa sehingga jadi oleh-oleh
favorit para wisatawan.
Berbekal resep nasi liwet
keluarga, pengetahuan yang
dimilikinya, dan minat
wisatawan yang tinggi atas oleh-
oleh khas Garut, Andris
membuat nasi liwet instan.

Mesin heuleur milik almarhum
ayahnya dia modifikasi menjadi
mesin yang bisa menggiling padi
menjadi lebih baik. Dengan
penggilingan sebanyak tiga kali
menggunakan mesin tersebut,
beras Garut bisa matang dengan
waktu memasak selama 20
menit saja.

Berbagai bumbu dan rempah
resep keluarganya dikeringkan
sehingga tidak dibutuhkan
pengawet dan bisa bertahan
sampai 8 bulan. Begitupun
dengan pelengkap nasi liwet
seperti ikan teri, asin jambal
roti, petai, dan jengkol.
Semuanya dikeringkan dan
dikemas serapi dan sebersih
mungkin.

Beras Garut, rempah, bumbu,
minyak sayur, dan
pelengkapnya, disusun dalam
sebuah kemasan dus berlabel
“Liwet 1001”. Melaui sejumlah
distributornya dan para
wisatawan yang membeli
produknya, Andris memasarkan
beras Garut ke sejumlah kota
besar di Indonesia. Bahkan,
produknya dinikmati juga di
Timur Tengah dan sejumlah
negara Asia lainnya.

“Akhirnya tidak hanya dijadikan
oleh-oleh. Tapi lebih banyak
dikonsumsi warga kalangan
menengah atas yang menyukai
nasi liwet di restoran-restoran
dan ingin memasaknya dengan
cara praktis di rumah. Bahkan,
nasi liwet ini sudah dipesan
banyak oleh para calon haji,”
kata Andris saat ditemui di
pusat produksi Liwet 1001 di
Desa Samarang, Rabu
(12/9/2012).

Untuk memasaknya, beras,
bumbu, minyak sayur, dan
pelengkapnya, tinggal
dimasukkan ke penanak nasi
elektronik ( rice cooker ). 250
gram beras liwet instan dimasak
dalam 600 mililiter air selama
20 menit sedangkan 500 gram
beras dimasak dalam 850
mililiter air selama 25 menit.
Setelah itu, nasi liwet pun bisa
langsung dinikmati. Aroma dan
rasa nasi liwet ini, tuturnya,
tidak kalah dengan nasi liwet di
restoran. Nasi dari beras Garut
pun tersaji dengan keadaan
pulen dan berukuran besar
serta lezat.
Karenanya, sejumlah hotel dan
restoran di Garut telah jadi
pelanggan tetapnya. Minimal,
hotel dan restoran itu memesan
beras Garut dari tempatnya dan
menggunakan bumbu liwet
sendiri.

Andris yang meluncurkan
produk tersebut pada Juli 2011
ini pun mendapat penghargaan
dari Gubernur Jabar, Ahmad
Heryawan, pada Anugerah
Inovasi Jawa Barat (AIJB) 2012,
kategori bidang pangan kategori
perorangan. Ia pun semakin
termotivasi memasarkan beras
garut.

Kini Andris bisa memproduksi
2.000 produk Liwet 1001 per
hari dan mendapat omzet Rp 20
juta per hari. Ia pun membina
200 petani padi di Kecamatan
Samarang, Bayongbong, dan
Tarogong, yang menanam beras
garut jenis sarinah, serta
mempekerjakan 60 warga di
rumah industrinya. (sam/
Tribun Jabar) ( Editor: Erlangga Djumena)

sumber: http://m.kompas.com/news/read/2012/09/13/09434310/andris..mengangkat.beras.garut.lewat.nasi.liwet.instan

Modal Awal dari Pinjaman, Kini Isam Sukses Berdayakan Puluhan Warga Lewat Usaha Kain Sutera Garut

Terjun ke usaha pembuatan kain
sutra sejak 2008, Isam Samsudin
sukses memperkenalkan kain sutra
khas Garut hingga ke seluruh
penjuru Nusantara. Konsumennya
mulai pengusaha batik, desainer,
dan masyarakat umum.
Sejak dahulu, Kabupaten Garut,
Jawa Barat sudah terkenal sebagai
daerah penghasil sutra. Daerah ini
punya industri tenun sutra yang
telah ada sejak puluhan tahun
silam.

Salah satu perajin yang sukses
mengibarkan sutra khas Garut ini
adalah Isam Samsudin. Sejak tahun
2008, ia memperkenalkan sutra
Garut ke seluruh penjuru
Nusantara.

Di bawah bendera usaha Gallery
Sutra Garut, kain sutra buatannya
kini banyak dipesan para perajin
batik, desainer pakaian, dan juga
masyarakat umum penyuka sutra
dari seluruh Indonesia.

Salah satu yang menjadi nilai
tambah kain sutra buatan Isam
adalah proses pembuatannya yang
dilakukan secara handmade dengan
bantuan peralatan tradisional.

Lantaran itu kain sutra buatannya
dikenal sebagai kain sutra ATBM
alias alat tenun bukan mesin.
“Semua proses pengerjaannya
dilakukan secara tradisional, jadi
lebih eksklusif dan kualitasnya juga
terjamin,” ujarnya.

Karena kelebihannya, kain sutra
buatan lelaki 36 tahun ini banyak
disukai. Dengan dibantu 40
karyawan, Isam mengaku mampu
menghasilkan rata-rata lebih dari
2.300 meter kain saban bulannya.

Tidak hanya kain sutra polos, ia
juga memproduksi kain sutra yang
sudah diberi warna dan motif
tertentu. “Untuk kain polos kami
menjualnya sekitar Rp 85.000
hingga Rp 125.000 per meternya,”
ungkapnya.
Selain kain yang masih polos, Isam
juga memproduksi kain sutra yang
sudah diberi warna dan motif batik.

Bahkan, ada juga yang dibuatnya
menjadi pakaian kemeja dan lain-
lain.
Isam mengklaim, seluruh hasil
karya desain batik sutranya
merupakan kreasi sendiri dengan
memadukan motif batik khas
Cirebon. “Selebihnya merupakan
hasil imajinasi saya sendiri,”
ujarnya.
Bila sudah diberi motif batik,
harganya jauh lebih mahal dari kain
yang masih polos. Untuk kain sutra
batik, misalnya, dibanderol mulai
Rp 1,5 juta-Rp 3,5 juta per pieces.

Sementara yang sudah menjadi
pakaian jadi dihargai hingga Rp 5
juta per lembar. Dari usaha ini,
omzet yang dikantonginya dalam
sebulan mencapai sekitar Rp 150
juta. Adapun laba bersihnya sekitar
40% dari omzet.
Isam mengaku, selama hampir
empat tahun menjalani usaha ini,
penjualan dan permintaan kain
sutra terus meningkat.

Pencapaian
yang diraih Isam saat ini terbilang
cukup baik mengingat ia hanya
memiliki bekal pendidikan Diploma
I (D1) Ilmu Perhotelan.

Pengalaman bergelut di usaha ini
dapatnya dari bekerja pada usaha
pembuatan kain sutra ATBM milik
kakak kandungnya sendiri pada
tahun 2001 hingga 2008.

Selama bekerja dengan kakaknya, ia
mengaku banyak belajar tentang
proses pembuatan kain sutra.
Lambat-laun minta dan
kecintaannya terhadap kain sutra
terus tumbuh. “Saya tak pernah
terpikir akan masuk ke bidang ini
sebelumnya,” ucapnya.

Berbekal kecintaan dan
keterampilan membuat kain sutra
inilah ia memutuskan untuk
membuka usaha sendiri. Bisnis ini
dirintisnya dengan modal awal Rp
60 juta dari hasil pinjaman ke
beberapa teman dan saudaranya.

Kesuksesan bisa diraih dengan tekad
dan keyakinan yang kuat. Meskipun
modal usaha harus meminjam pada
beberapa orang, namun dengan
kerja keras semuanya bisa terbayar.

Begitulah yang dilakukan Isam
Samsudin, pemilik Gallery Sutera
Garut, saat awal-awal merintis
usaha. Bisnis ini dirintis dengan
modal awal Rp 60 juta ini mulai
ditekuni Isam pada 1 Februari
2008.

Modal awal tersebut didapat dari
hasil meminjam ke teman dan
kerabat keluarganya. Uang tersebut,
ia gunakan untuk membeli lima alat
tenun dan merekrut lima karyawan.

Selain itu, ada juga yang dipakai
buat membeli bahan, seperti
benang. Di masa awal merintis
usaha, Isam getol menawarkan kain
buatannya ke pasar.

Sempat dilanda dilema ketika harus
bersaing head to head dengan sang
kakak, namun Isam mengaku tetap
menaruh hormat pada kakaknya
yang juga menekuni usaha
pembuatan kain sutera. “Kami
bersaing cukup sehat meski kadang
ada konflik namun itu bisa
teratasi,” tandasnya.

Persaingan sehat itu dibuktikan
Isam dengan memilih segmen pasar
yang berbeda dengan sang kakak. Ia
fokus memproduksi kain sutera
dengan grade kualitas lebih tinggi
dari yang diproduksi kakaknya.
Maka itu, harga kain sutera buatan
Isam dijual lebih mahal dari
kakaknya. Meski lebih mahal bukan
berarti Isam sepi pembeli.

Munculnya para desainer muda dan
para pengrajin batik mendatangkan
berkah bagi dia. Terbukti, sejak
awal memulai usaha, ia telah rutin
memasok kebutuhan sutera untuk
mereka. Tak heran, bila dalam
waktu tiga bulan, ia sudah bisa
mengembalikan pinjaman modal
usaha. Kemudian delapan bulan
setelah usaha Isam berjalan, ia
meningkatkan kapasitas produksi
dengan menambah alat tenun dan
juga merekrut karyawan baru.

Kendati bisnis terus berkembang,
Isam tidak lantas terlena. Sebagai
pengusaha fesyen, ia menyadari
pentingnya inovasi produk dan
mengikuti tren perkembangan
zaman. Makanya, pada tahun 2011,
pria yang hobi berolahraga ini
mulai berkreasi dengan kain sutera
buatannya itu. Sekitar 25% kain
sutera hasil produksinya kala itu
diberi motif sendiri.

Motifnya bisa berupa batik, garis-
garis, atau kotak-kotak. Sementara
sisanya tetap dipasarkan dalam
bentuk kain sutera polos. Kain
polos ini untuk memenuhi
permintaan para pembatik dan
desainer. Lantaran diminati pasar,
Isam kini mengubah fokus usaha.

Sejak 2012, sebanyak 75% kain
suteranya sudah diberi motif
sendiri. Dari 75% itu, sekitar 25%
dibuat menjadi kemeja pria, sarung,
dan selendang dengan motif batik.
“Ke depan kami akan membuat
desain batik untuk pakaian wanita,”
tuturnya.
Empat tahun berjalan, Isam
mengaku mendapatkan kepuasan
batin yang tak diperoleh saat masih
bekerja dengan sang kakak dulu.

Menurutnya, menikmati tahap demi
tahap dalam merintis usaha
merupakan proses pembelajaran
yang tak bisa ditemukan
dimanapun. “Karena jika kita
mengelola bisnis sendiri, bukan
sekedar keterampilan yang
bertambah, naluri dan insting bisnis
pun dapat terbentuk,” ungkapnya.

Di
bawah bendera usaha Gallery Sutera
Garut, Isam Samsudin sukses
memperkenalkan kain sutera khas
Garut ke seluruh penjuru
Nusantara. Di daerahnya, kini Isam
dikenal sebagai salah satu produsen
kain sutera yang cukup mapan.
Tapi, bukan itu satu-satunya tujuan
Isam terjun ke usaha pembuatan
kain sutera. Melalui usaha yang
ditekuninya ini, ia juga ingin
melestarikan kerajinan kain sutera
ATBM alias alat tenun bukan mesin.
Sejak lama, kerajinan ini telah
menjadi warisan budaya khas Garut.
Motivasi lain adalah membuka
lapangan pekerjaan bagi warga di
sekitarnya.

Berkat usaha pembuatan kain
sutera, kini ia telah berhasil
merealisasikan seluruh keinginannya
itu. Dari segi finansial, Isam
mengaku penghasilannya lebih dari
cukup untuk menghidupi keluarga
serta para karyawannya.
Dalam upaya pelestarian budaya, ia
juga telah sukses mempertahankan
tradisi produksi kain sutera tanpa
mesin. “Semua pelanggan saya
mengakui bahwa sutera ATBM lebih
baik ketimbang mesin pabrikan,”
ujarnya.
Keunggulan sutera ATBM bukan
hanya dari kualitas produknya yang
lebih baik dibanding buatan mesin.

Tapi, hasil produksinya juga lebih
maksimal karena tidak banyak
bahan baku benang yang terbuang.
Namun ada juga kelemahannya.
Yakni, kapasitas produksi yang tidak
bisa sebanyak mesin. “Soalnya,
ATBM banyak menggunakan tenaga
manusia,” ujarnya.

Hal lain yang mendatangkan
kepuasan bagi Isam adalah
kemampuannya menyediakan
lapangan pekerjaan. Dari awalnya
hanya mempekerjakan lima orang
karyawan, kini total karyawan yang
dimilikinya sudah 42 orang. Dengan
semakin berkembangnya bisnis kain
suteranya, tidak menutup
kemungkinan semakin banyak
tenaga kerja yang akan diajaknya
bergabung.

Usahanya ini sedikit banyak telah
membantu mengurangi
pengangguran di Desa Karya Jaya,
Kecamatan Bayongbong, Garut.
“Beberapa pemuda di kampung ini
sering datang ke saya menanyakan
pekerjaan, dan jika memang sedang
membutuhkan saya tak bisa
menolaknya,” jelasnya.

Menurut Isam, sebagian besar
karyawannya, awalnya tidak memiki
keterampilan memproduksi kain
sutera. Namun ia tidak ragu
mempekerjakan mereka. Sebab,
Isam memang ingin menularkan
keterampilan membuat kain sutera
ke warga desa. “Saya dulu juga
bekerja di usaha ini tanpa
keterampilan, tapi semuanya bisa
dipelajari asalkan ada niat,”
lanjutnya.

Isam sendiri masih memiliki
sejumlah rencana untuk
membesarkan usahanya. Dalam
waktu dekat ia akan membuka galeri
khusus untuk memajang kain sutera
buatannya.( Fahriyadi )

Sumber: http://mobile.kontan.co.id/news/isam-berdayakan-warga-sekitar-3/2012/09/02

Vivin, Anak Sopir yang Kini Sukses Jadi Pengusaha Perlengkapan Sarana Olahraga

Kesuksesan bisa datang meski tak
sesuai dengan jurusan. Setelah
pensiun sebagai atlet basket, Vivin
Cahyani Sungkono memulai karier
sebagai seorang guru. Namun nasib
berkata lain, dia justru mengenyam
kesuksesan lewat bisnis lantai
lapangan.

Di Indonesia, cukup banyak mantan
atlet yang memiliki bisnis setelah
pensiun. Biasanya, bisnis mereka
tidak jauh-jauh dari dunia olahraga
yang pernah mereka geluti. Salah
satunya adalah Vivin Cahyani
Sungkono. Sebagai mantan atlet
basket, ia memiliki usaha sports
flooring, yakni aneka lantai atau
karpet lapangan olahraga.

Di bawah bendera VSport, ibu
empat anak ini menjadi produsen
dan distributor beberapa jenis
sports flooring dan produk aksesori
seperti jaring, gawang, dan bola.
Flooring merupakan karpet
berbahan vinil yang dipakai sebagai
lapisan lantai lapangan olahraga
indoor seperti basket, voli,
badminton, handball, dan hoki.
Karpet ini seperti lantai nan empuk.

Vivin telah memasang lebih dari
400 lapangan di beberapa kota di
Indonesia dan Malaysia. “Dalam
waktu dekat, kami akan memasang
di Filipina,” kata perempuan
kelahiran Surabaya, 20 September
1973 ini.

Vivin adalah mantan atlet basket
yang pernah bertanding di pelbagai
ajang Pekan Olahraga Nasional,
kejuaraan ABC Junior di Beijing,
World Islamic Country
Championship Tehran, Kejuaraan
Antarmahasiswa di Melbourne, SEA
Games, dan masih banyak lagi.

Di usia 23 tahun, Vivin memutuskan
pensiun dari dunia basket. Dia
bekerja demi meningkatkan
kesejahteraan keluarganya. Maklum,
ibunya hanya penjahit dan
bapaknya seorang sopir. “Saya tahu
persis, saya tidak akan bisa
berprestasi lebih dari apa yang
sudah saya capai. Sebab, masih
banyak senior yang berumur lebih
dari 30 tahun belum pensiun.
Kesempatan untuk menggantikan
mereka sangat tipis,” katanya.
Sembari kuliah di jurusan psikologi
Universitas Surabaya selama lima
tahun, Vivin menjadi guru honorer
di sebuah sekolah dasar di
Surabaya. Pada umur 25 tahun, ia
mendirikan SD Kasih Karunia untuk
anak-anak berkebutuhan khusus.

Di
sana, ia menjadi kepala sekolah.
“Sekolah itu masih ada sampai
sekarang dan sudah saya hibahkan
ke guru di sana,” ujarnya.
Vivin melepas profesi sebagai guru
demi membantu rekannya
mengelola perusahaan yang
bergerak di bidang penjualan
material baja dan bahan bangunan.
“Dengan latar belakang pendidikan
psikologi, saya membantu di divisi
human resource development.
Kemudian saya dipercaya sebagai
manajer pemasaran,” kenangnya.
Tapi Vivin hanya bertahan enam
bulan di perusahaan itu. Sekitar
tahun 2001, dia memutuskan
membuka usaha sejenis di bawah
bendera CV Viva Metalindo.

“Hingga
sekarang, perusahaan di bidang jasa
konstruksi ini masih berjalan dan
berkembang,” jelasnya. Perusahaan
ini menggarap proyek rumah
tinggal dan renovasi gedung. Ia juga
sering memasok material baja ke
beberapa proyek pembangkit listrik
tenaga uap, Caltex, dan Freeport.
Tanpa disengaja, ada pelanggannya
yang menanyakan distributor lantai
lapangan futsal. “Saya bilang bisa
mencarikan. Padahal, saya belum
tahu bagaimana mendapatkan lantai
semacam itu,” katanya. Vivin
mencari informasi soal prospek
lantai lapangan olahraga. Maka,
pada tahun 2008, bermodal Rp 1
miliar ia memutuskan mendirikan
VSport.

Enam bulan sepi

Vivin memproduksi sendiri lantai
tersebut. Dia memodifikasi desain
flooring serupa dari Amerika
Serikat yang harganya sangat
mahal. Ia melibatkan desainer dari
China untuk perubahan desain
tanpa mengurangi kekuatan dan
fungsinya. “Awalnya, saya tidak
berharap banyak pada bisnis ini.
Sebab, bidang ini benar-benar baru
buat saya,” katanya.
Vivin bilang, saat presentasi ke 10
pembeli, hanya ada satu yang
tertarik dengan produk lantai
futsalnya. Itu pun lebih karena
kasihan ketimbang yakin dengan
kualitas produk.

Vivin terjun langsung
mempresentasikan produk, mulai di
Surabaya dengan berbekal brosur
dan videoklip dari kejuaraan di
Malaysia yang menggunakan
flooring sejenis. Tujuannya untuk
meyakinkan calon klien bahwa
produknya layak digunakan.
“Background saya yang sama sekali
belum mengenal futsal membuat
klien sulit sekali meyakini kualitas
produk buatan VSport,” jelasnya.
Selama enam bulan pertama, Vivin
hanya berhasil menjual satu unit
floor . “Saya pun mengganti home
base penjualan dari Surabaya ke
Jakarta sebagai strategi,” katanya.

Ternyata keputusan itu efektif.
Selain membangun citra, dia
berhasil mendekatkan hubungan
dengan organisasi Badan Futsal
Nasional (BFN). Lembaga ini
mengampanyekan Real Futsal
dengan menggunakan media VSport
sebagai alas Liga Profesional
Indonesia, sebuah liga tertinggi
futsal sejak 2008 hingga sekarang.
Hasilnya, penjualan pun ikut
melonjak.

Setelah dua tahun memproduksi
aneka flooring, Vivin juga
menyediakan alas lapangan rumput
sintetis. “Di Indonesia masih banyak
yang suka rumput sintetis
ketimbang flooring ,” katanya. Ia
mengimpor rumput palsu ini dari
China.

Terbukti, kan, tekad merupakan
modal kuat berbisnis?
( Fransiska Firlana)

Sumber: http://mobile.kontan.co.id/news/vivin-mantan-atlet-yang-sukses-di-lantai-futsal/2012/09/03

Rosidah, Bermodal 100 Ribu, Berkat Kegigihannya Donat DKU-nya Tembus Hingga Mancanegara

Rosidah Widya Utami kini sukses
menjadi produsen donat ternama di
Jombang, Jawa Timur. Dipasarkan
dengan brand Donat Kampung
Utami (DKU), produk donatnya
dikenal luas hingga ke luar negeri.
Omzetnya ratusan juta dalam
sebulan.

Berawal dari hobi membuat kue,
Rosidah Widya Utami kini sukses
mengembangkan bisnis pembuatan
donat dengan brand Donat
Kampung Utami (DKU). Omzetnya
dalam sebulan mencapai ratusan
juta.

Usaha ini, ia awali dari bisnis skala
kecil-kecilan di Jombang, Jawa
Timur. Utami pertama kali merintis
bisnis tahun 2001. Sebagai jajanan
kampung, saat itu donatnya dijual
dengan harga Rp 500 per biji.
“Saya pilih donat karena banyak
yang suka,” katanya. Ia memulai
dengan peralatan rumah tangga
seadanya dan menitipkan donatnya
ke sekolah-sekolah.

Berkat kegigihannya membesarkan
usaha, kini donat Utami sudah
dikenal di berbagai wilayah
Indonesia. Bahkan, donatnya sudah
kesohor hingga ke luar negeri.
Tentu bukan lagi jajanan kampung,
donat buatan Utami kini masuk
kategori premium. Rasanya tak
kalah dengan donat kelas mal
dengan harga lebih terjangkau.
“Saya jual Rp 4.000 per buah,”
katanya.

Pelanggan donatnya terbesar di
berbagai daerah di Pulau Jawa,
Sumatra, hingga Kalimantan.
“Selama ini, saya banyak kirim ke
pelanggan di daerah-daerah,”
ujarnya.
Sejak tahun 2008, beberapa negara,
seperti Hong Kong, Malaysia, dan
Singapura juga telah menjadi
langganan tetap donat buatan
Utami. Selain itu, ia juga
memasarkan produk donat itu ke
London dan Belanda.

Khusus di Malayasia, ada seorang
pengusaha kuliner setempat yang
mengembangkan donat dengan
resep donat racikan Utami.
“Sementara di negara-negara lain
saya hanya menjual donat lewat
orang-orang Indonesia yang tinggal
di negara itu, seperti pelajar dan
TKI,” jelasnya,
Kendati tak mau menyebut angka,
Utami mengaku nilai penjualan
resep donatnya cukup mahal.
Terbukti, dari hasil menjual resep
itu, ia mampu membuka gerai
khusus donat di Jombang. Gerai
donat ini dinamakan Roshberry
Donuts and Coffee.”Saya dirikan
tahun 2009,” tuturnya.
Selain resep, pengusaha asal Negeri
Jiran itu juga membeli tepung donat
dari Utami. Selama ini, ia memang
memasarkan tepung donat ke
kalangan umum tidak hanya ke
pengusaha Malaysia itu. Harga jual
tepung donat mulai Rp 50.000-Rp
200.000 per 1,5 kilogram (kg).

Selama 11 tahun mengendalikan
usaha, telah banyak kemajuan yang
dicapai. Bahkan, DKU telah
menjelma sebuah grup usaha yang
membidangi beberapa cabang
usaha.
Selain donat, Utami juga merambah
usaha pembuatan aneka kue kering,
kue tart, brownies, dan roti manis.

Usaha ini dikelolanya di bawah
bendera DKU Cookies. Pendapatan
dari kue kering ini melonjak tajam
saat Lebaran dan akhir tahun.
“Lebaran tahun ini, omzet saya dari
penjualan kue kering saja mencapai
Rp 500 juta,” ujar Utami.
Ia juga merambah bisnis restoran
dengan mendirikan rumah makan
Sari Rasa di Jombang. Tahun ini,
Utami juga telah menambah tiga
bisnis baru ke dalam grupnya. Di
antaranya bisnis toko oleh-oleh
khas Jombang. Dua lainnya tidak
terkait dengan bisnis makanan,
yakni jasa hosting desain web dan
marketing, serta bisnis fashion
and jewelry.

Kesuksesan Rosidah Widya Utami
mengembangkan bisnis donat
tidaklah dalam sekejap mata. Ia ulet
mengenalkan produknya lewat
berbagai cara. Titik baliknya saat
ada investor Malaysia membeli
resep donat buatannya.

Selepas lulus kuliah Fakultas
Administrasi Negara Universitas
Brawijaya, Malang, Utami sempat
bekerja sebagai tenaga administrasi.
Namun, kecintaannya pada dunia
masak-memasak mendorong
Rosidah untuk membuka usaha
sendiri.

Di tahun 2001, Rosidah Widya
Utami mulai membuka bisnis aneka
masakan, termasuk kue. Modal
awalnya hanya Rp 100.000. Setelah
beberapa bulan berjalan, Rosidah
terpikir untuk memfokuskan
usahanya pada satu jenis makanan.

Ia pun memilih donat dengan
pertimbangan kue ini termasuk
jajanan yang disukai semua
kalangan.
Ia merintis usaha pembuatan donat
dengan modal dan peralatan
seadanya. Untuk mengaduk adonan
donat, semisal, seharusnya memakai
mixer ukuran besar. Namun,
Rosidah memakai mixer biasa.
“Peralatan saya sangat minim. Di
bawah standar pabrik kue. Tapi itu
tidak menyurutkan semangat saya,”
ujar Utami.
Dibantu seorang pembantu, ia
membuat ratusan donat saban hari
dan menjajakan ke sekolah-sekolah.

Agar produknya makin dikenal,
Rosidah juga rajin mengikuti
berbagai pameran wirausaha
makanan. Setiap ada pameran di
sekitar Jawa Timur, ia pasti ikut
serta.

Bukan cuma itu saja, Utami juga
memasarkan donat buatannya yang
diberi merek Donat Kampung Utami
(DKU) lewat blog pribadi.
Sehari-hari, Rosidah tak pernah
lupa menuliskan setiap aktivitas
seputar usaha donat yang ia geluti,
di blog . Bahkan, rezeki mengalir
deras berkat blog pribadi tersebut.

Pada tahun 2008, ada investor
Malaysia tertarik untuk membeli
resep donat milik Utami. Bahkan, ia
sampai diundang ke Malaysia.

Sang investor Malaysia itu
kemudian membuka gerai donat di
Penang Malaysia dengan nama Nash
Donut. Kini Nash Donut telah
memiliki empat gerai yang berasal
dari resep dasar Rosidah. Tiap bulan
Nash masih membayar royalti pada
Rosidah.
Hasil dari penjualan resep plus
pembayaran royalti itu cukup
lumayan. Rosidah memanfaatkannya
untuk mengembangkan usaha yang
membuka gerai donat di Jombang.

Pada 2009, Rosidah mulai
membuka gerai donat bernama
Roshberry Donuts and Coffee di
Jombang.
Belajar dari mitranya di Malaysia
itu, Rosidah sadar akan pentingnya
peran marketing agar usahanya
makin berkembang. Rosidah pun
mulai membenahi sistem pemasaran
dan operasional usahanya. “Melihat
di Malaysia, donat saya bisa
dipasarkan dengan baik, saya mulai
fokus membenahi manajemen,” ujar
dia.

Dengan membuka gerai donat,
Rosidah juga ingin agar donat
buatannya itu naik kelas sehingga
lebih bergengsi. Kualitas donat
produknya dinaikkan ke kelas
premium dengan harga Rp 4.000
per buah. Logo dan kemasan
donatnya pun ia buat dengan
standar yang lebih baik.

Utami juga membuat website
sendiri, bahkan mengiklankan
produknya secara berbayar via
sejumlah media internet, seperti
Google dan Facebook.
Tak percuma, permintaan pun mulai
berdatangan. Bahkan juga dari
pembeli luar negeri. Toh, sukses
mengembangkan bisnis donat belum
membuat Rosidah puas.

Berawal dari donat, bisnis Rosidah
Widya Utami terus berkembang.
Setelah donat, ia merambah bisnis
kue kering dan rumah makan di
Jombang, Jawa Timur.
Masih di bisnis makanan, tahun ini
ia juga mendirikan toko oleh-oleh
khas Jawa Timur di Jombang.

Selain
menyediakan sejumlah suvenir khas
Jombang, toko oleh-oleh ini juga
menjual aneka kue kering serta
Donat Kampung Utami (DKU)
buatannya.
Ia juga ingin menjadikan
DKU sebagai pusat oleh-oleh khas
Jombang.
Selain makanan, tahun ini juga
merambah bisnis perhiasan, fesyen,
dan jasa pembuatan desain web. Ia
tertarik terjun ke bisnis desain web
karena selama ini banyak
bersentuhan dengan dunia maya. Bisnis
perhiasan dan fesyen yang baru
digeluti Rosidah juga
dilatarbelakangi minatnya yang
tinggi di bidang itu.

Menurutnya, dalam
mengembangkan usaha jangan
pernah menutup kemungkinan
terhadap bidang apa pun yang
diminati. Ia mengaku, seluruh
bidang usaha yang digelutinya
berasal dari minat dan
ketertarikannya di bidang itu.
“Semula yang saya pikir tidak bisa,
ternyata bisa. Dan, saya memulai
semuanya dari skala kecil,” ujar
Utami.

Di dunia usaha, ia mengaku banyak
terinspirasi dari kisah sukses
Johnny Andrean, pemilik gerai
donat J.Co. Kendati besar di usaha
salon, Johnny juga bisa sukses di
usaha donat.
Rosidah pun yakin ia bisa
melakukan hal serupa. Makanya,
dari bisnis donat, ia juga merambah
dunia fesyen.

Lantaran masih baru, tentu masih
diperlukan kerja keras untuk
membesarkan seluruh usahanya ini.
Selain bisnis yang masih baru,
Rosidah juga masih terus ingin
mengembangkan bisnis donatnya.

Masih ada beberapa inovasi lain
yang ingin dilakukannya. Dalam
waktu dekat, misalnya, ia ingin
memasarkan donat dalam bentuk
makanan beku (frozen food).
Ia terinspirasi membuat donat
frozen karena banyak konsumen di
luar kota yang berminat
mengonsumsi donat DKU, namun
terkendala waktu pengiriman yang
lama. Padahal, donat DKU hanya
mampu bertahan maksimal sehari.
Ia berharap, masalah itu bisa
diatasi dengan adanya donat frozen.

Rosidah mengaku sudah melakukan
penelitian untuk donat frozen ini.
Nantinya, donat ini bisa bertahan
selama satu tahun jika disimpan
pada suhu rendah. “Donatnya pun
tinggal digoreng lalu bisa langsung
disajikan,” ujar Rosidah.
Ia berharap, tahun depan rencana
ini sudah mampu terealisasi.

Masih
terkait dengan donat, ia juga akan
membuat divisi cooking class. Divisi
ini khusus memberikan kegiatan
kursus pembuatan donat.
Kursus membuat donat ini
sebenarnya sudah dirintis sejak
tahun lalu. “Tapi belum serius.
Karena peminatnya banyak, ingin
saya seriusi lagi,” imbuh Utami.
( Revi Yohana)

Sumber:  Http://mobile.kontan.co.id/news/rosidah-berambisi-bisnis-donatnya-sebesar-j.co/2012/09/06

Nazwa, Pernah Stres Karena di-PHK, Kini Juragan Kue Sukses dengan Omzet Ratusan Juta

Bisnis makanan cukup banyak
menelurkan kisah sukses. Salah
satunya adalah kisah sukses
Nazliana Lubis, pemilik usaha aneka
kue di Medan, Sumatra Utara.

Berkat ketekunan dan kerja keras,
dia berhasil membesarkan toko kue
Nazwa Aneka Kue hingga
menghasilkan omzet ratusan juta
rupiah per bulan. Salah satu kue
khas yang diolahnya dan menjadi
terkenal adalah cake pisang yang
diberi nama Blondi Pisang
Barangan.

Toko kue milik Nazliana atau yang
kerap disapa Nazwa yang terletak di
Jl. Kapten Muchtar Basri No. 110,
Medan itu cukup kondang di
Sumatra Utara. Beberapa hotel
berbintang di Medan sudah menjadi
pelanggan tetap, seperti Hotel JW
Marriot, Hotel Ina Dharmadeli,
Hotel Tiara, Hotel Danau Toba, dan
Madani Hotel.

Hotel-hotel memesan kue Nazwa
sedikitnya sebanyak 600 potong
sekali event. “Padahal, saban hari,
satu hotel bisa menyelenggarakan
sampai tiga kali event,” jelasnya.

Bukan hanya hotel, Nazwa juga
rutin mendapat pesanan dari
beberapa bank, perusahaan swasta,
sekolah, dan instansi pemerintah di
Sumatra Utara. “Sekarang bisa
menghabiskan 3.000 telur dan 8
karung tepung atau sekitar 200
kilogram (kg) tepung per hari,” kata
wanita berkerudung ini. Selain kue
dia juga menerima pesanan nasi
boks. Perusahaan atau pemda biasa
memesan 1.000 hingga 1.800 nasi
boks.

Sebelum menjadi juragan kue,
lulusan D3 Pariwisata Universitas
Sumatra Utara tahun 1989 ini
sempat bekerja di bagian ticketing
di sebuah biro perjalanan selama
tiga tahun. Tahun 1991, dia pindah
ke perusahaan maskapai
penerbangan Sempati Air. Jabatan
terakhirnya, supervisor. “Kerja di
perusahaan penerbangan itu
memiliki gengsi tersendiri. Saya
punya kesempatan untuk jalan-jalan
ke berbagai daerah,” kata
perempuan kelahiran Medan, 23
Januari 1965 ini.

Sayangnya, kebanggaannya bekerja
di industri penerbangan harus
berakhir. Nazwa kena Pemutusan
Hubungan Kerja (PHK) karena
Sempati Air tak beroperasi lagi mulai
tahun 1997. “Saya sempat stres dan
labil, malu sama teman-teman dan
lingkungan,” ujarnya.
Selama enam bulan, Nazwa depresi.

Akhirnya, dia menemukan semangat
setelah mengamati lingkungan
rumahnya yang berdekatan dengan
kampus Universitas Muhammadiyah
Sumatra Utara. “Saya perhatikan,
kok di kawasan kampus tidak ada
yang jual jajanan berat semacam
kue. Saya pun terpikir untuk buka
usaha kue,” kenangnya.

Nazwa mulai mengulak-alik aneka
buku resep masakan untuk mencari
dan belajar mengolah aneka kue.
Maklum, dia tidak punya keahlian
memasak sehingga mengandalkan
buku resep. “Saya pilih jualan donat
sebab proses pembuatan lebih
mudah ketimbang membuat kue
yang lain dan di sekeliling kampus
belum ada yang jualan donat,” ujar
istri dari Fadlin ini.

Pada Juli 1997, Nazwa nekat jualan
donat bermodal dana kurang dari
Rp 100.000. Kala itu, dia menjual
sepotong donat seharga Rp 350.
“Omzetnya baru Rp 70.000 per
hari. Rasa dan bentuk donatnya pun
belum konsisten karena saya
masih belajar membuatnya,”
katanya sambil tertawa.

Nazwa terus mengasah kemampuan
membuat kue. Dia mengikuti aneka
kursus pembuatan kue di Medan
hingga Bandung. Karena usaha kue
itu belum menghasilkan pendapatan
besar, Nazwa menerima tawaran
mengajar mahasiswa D3 dan D1
Pariwisata di salah satu perguruan
tinggi di Medan. Dia mengajar mata
kuliah pelayanan di perusahaan
penerbangan.

Setengah tahun berjalan, penjualan
usaha toko kue Nazwa belum
meningkat. Justru lebih sering
merugi lantaran saat itu terjadi
krisis moneter tahun 1998. “Saya
tidak menghentikan usaha ini meski
rugi. Ini demi eksistensi usaha,”
katanya.

Bayaran tak pasti

Nazwa mulai berani menitipkan
kuenya di toko-toko kue. Dari sini,
produksi dan omzet mulai
berkembang. Tahun 2000, ia
berhenti mengajar, fokus mengelola
toko dan mulai mengajukan
proposal penawaran ke beberapa
hotel di Medan.

Pada tahun 2003, Nazwa berhasil
mendapatkan pesanan dari sebuah
hotel. ”Meskipun pesanan hanya
bika ambon setengah loyang, 20
potong tahu isi, dan 20 potong kue
lumpur, saya menerima pesanan
itu,” ujarnya. Ia gigih memasok
kuenya ke hotel yang memesan
meskipun hanya dalam jumlah
kecil. Menurut dia, yang paling
penting adalah kepercayaan dari
konsumennya, meskipun dia harus
menerima bayaran dua bulan sekali
dari hotel.

Suatu saat, hotel JW Marriot Medan
memiliki acara seminar Ikatan
Dokter Indonesia selama seminggu
dan mengorder aneka snack ke
Nazwa. Ia harus memasok 22 item
jajanan pasar dengan jumlah 2.600
pieces per item . “Dari situ,
pesanan besar dari hotel mulai
berdatangan. Nazwa Aneka Kue
mulai dikenal dan dipercaya
konsumen,” jelasnya. Dia juga mulai
mendapat order katering untuk
pesta yang nilainya Rp 40 juta
hingga Rp 50 juta per klien.
( Fransiska Firlana)

Sumber: http://mobile.kontan.co.id/news/nazwa-pernah-labil-dan-stres-kini-juragan-kue-suk/2012/09/07