Monthly Archives: October 2012

Bisnis Mobil-mobilan Kayu Pak Marsa’ad Ini Sudah Menembus Hingga Eropa

Jakarta – Hampir semua bocah
laki-laki menyukai mainan mobil-
mobilan. Siapa sangka jika hampir
semua mainan mobil-mobilan kayu
yang dijual di pasar DKI Jakarta,
merupakan hasil kerajinan tangan
pabrik U.D Senang Anak milik Pak
Marsa’ad.

“Saya mulai usaha ini tahun 1977.
Awalnya iseng-iseng karena
kerjaan saya sebelumnya
bangkrut,” ujar Marsa’ad ketika
ditemui detikFinance di tokonya,
Kalibata, Jakarta, Minggu
(3/8/2008).

Inspirasi pria berusia 57 tahun ini
datang dari keinginannya untuk
membuat usaha yang dapat
menyenangkan anak-anak.
“Saya pikir, siapa sih yang tidak
suka mainan mobil-mobilan,” ujar
Marsa’ad.

Dengan modal sekedarnya,
pengusaha yang memiliki nama
asli Umar ini mulai membuka
usaha ini. Ia kemudian bekerja
sama dengan pemilik lahan di
Kalibata untuk membuka toko
disana.

“Jadi saya kerjasama dengan
pemilik lahan. Dia sediakan lahan,
saya produknya. Sistem
pembagiannya dengan bagi hasil,”
jelas Marsa’ad.
Pabrik mainan ini terletak di
wilayah Karawang. Pabriknya pun
bukan pabrik besar dengan
teknologi canggih, melainkan
pabrik industri rumahan.
“Jadi di Karawang, saya
menerapkan sistem pesan
borongan pada pabrik-pabrik
rumahan disana,” ujar Marsa’ad.

Sistem pesan borongan yang
dimaksud Marsa’ad adalah sistem
beli berdasarkan unit, dan
pembayaran dilakukan berdasarkan
jumlah unit yang dibuat. Dalam
terminologi modern, sistem beli
putus ala pak Marsa’ad ini mirip
dengan sistem outsourcing.
“Karena kalau pakai sistem gaji
agak repot. Kalau mereka lagi
malas, hasil unitnya sedikit, saya
tetap harus menggaji mereka,”
jelas Marsa’ad.

Mekanisme produksi yang tidak
terintegrasi inilah yang
dipertahankan oleh Marsa’ad
selama 30 tahun lebih. Dalam
perjalanannya, rupanya dengan
mekanisme seperti itu, usaha pak
Marsa’ad pernah mengalami
kejayaan.
“Jumlah pengrajin kami pernah
mencapai 200 orang. Ketika itu
produksi sangat banyak sekali,
bahkan sampai diekspor ke
Belanda, Jerman, Australia dan
Jepang,” papar Marsa’ad.

Ketika itu pun produk kerajinan
ala pak Marsa’ad ini dijual di
berbagai kota di Indonesia seperti
Bekasi, Bogor, Tangerang,
Palembang, Cirebon hingga
Semarang.
“Sampai sekarang pun sebenarnya
permintaan masih sangat tinggi,
namun tidak bisa kami penuhi
karena pengrajin kami saat ini
jumlahnya tinggal 40 orangan,”
ujar Marsa’ad.

Menurut pak Marsa’ad, kondisi
ekonomi menjadi faktor utama
yang menyebabkan penyusutan
jumlah tenaga kerja pabriknya.
Jika dulu U.D Senang Anak mampu
memproduksi 37 tipe mobil-
mobilan, kini berkurang separuh
menjadi 18 tipe saja.

Penyusutan jumlah pengrajin juga
memangkas produksi mainan
mobil-mobilan menjadi maksimal
500 unit saja satu bulannya.
“Padahal, permintaan dari Belanda
atau Jerman misalnya, mereka
biasanya minta 200 unit sekaligus
per negara,” ujar Marsa’ad.
Masalah tenaga kerja rupanya
cukup menghambat pengembangan
usaha pak Marsa’ad. Sistem pabrik
tidak terintegrasi yang telah
berjalan selama 30 tahun lebih
mulai dipertanyakan oleh pak
Marsa’ad.
“Dengan keadaan seperti ini, saya
berpikir untuk bikin pabrik.
Namun modalnya cukup besar
sekitar Rp 300-500 jutaan. Modal
tersebut untuk membeli gudang,
mesian dan sebagainya,” ujar
Marsa’ad.

Seandainya pabrik terintegrasi
sudah terwujud, tentu masalah-
masalah ketenagakerjaan dapat
lebih dikendalikan. Apalagi
menurut Pak Marsa’ad, dari segi
permintaan jumlahnya sangat
tinggi, jadi prospek usaha ini ke
depan bukanlah suatu hal yang
perlu dikhawatirkan.
“Buktinya, di tengah kenaikan
BBM seperti ini, ketika kami
menaikkan harga jual, permintaan
tidak berkurang,” ujar Marsa’ad.

Saat ini harga jual produk pak
Marsa’ad berkisar antara Rp 35
ribu hingga Rp 175 ribu per
unitnya. Modal yang dibutuhkan
berkisar antara Rp 23 ribu hingga
Rp 125 ribu per unit.
“Namun untuk bikin pabrik, kami
terbentur modal. Ingin
mengajukan ke bank, tapi kami
tidak punya agunan. Lagipula bank
juga tidak percaya dengan usaha
ini,” ujar Marsa’ad.

Meski memiliki pabrik masih
menjadi impian, namun ia
berharap dapat mewujudkan cita-
citanya suatu hari nanti, entah
dengan modal sendiri maupun
bekerja sama dengan pemodal
pihak luar.( Indro Bagus SU)

Tertarik investasi disini:
Hubungi:
U.D Senang Anak
Jl Raya Pasar Minggu No 46,
Kalibata Timur, Jakarta Selatan.
Marsa’ad alias Umar

sumber: http://m.detik.com/finance/read/2008/08/04/083338/982261/480/

Ermey, Dulu Awal Usaha Toko ‘Dapur Cokelat’ Punya 3 Karyawan, Kini Menjadi 300 Karyawan

Bermula dari kegemaran terhadap
cokelat, Ermey Trisniaty sukses
membangun toko Dapur Cokelat. Ia
rela melepas pendidikannya untuk
membangun bisnisnya ini. Dengan
delapan toko, kini, omzet Dapur
Cokelat bisa ratusan juta rupiah per
bulan.

Katakan dengan cokelat. Begitulah,
sekarang, banyak orang
memanfaatkan cokelat sebagai
ungkapan kasih sayang dan
perhatian mereka. Cokelat diberikan
bukan cuma di saat event khusus
seperti valentine, tapi juga saat
orang sakit, melahirkan,
ulangtahun, dan perayaan
keagamaan.
Salah satu gerai cokelat ternama di
Ibukota adalah Dapur Cokelat.

Berdiri sejak 10 tahun silam, Dapur
Cokelat adalah pionir toko cokelat
di Indonesia. Kini, Dapur Cokelat
memiliki delapan gerai di Jakarta
dan Surabaya. Setiap hari, total
penjualan semua gerai mencapai
3.000 kilogram (kg) cokelat, baik
berupa pralin atau kue.

Di balik sukses Dapur Cokelat ada
nama Ermey Trisniaty. Sejak kecil,
ia memang suka cokelat, entah
dalam bentuk permen atau kue.
“Zaman dulu, kan, cokelat-cokelat
itu sudah enak sekali,” kenangnya.

Saking gemarnya, perempuan yang
biasa disapa Eyi ini kerap
menyimpan cokelat di bawah bantal
supaya bisa ia makan sebelum
tidur. Ia tidak bisa tidur sebelum
makan cokelat. “Tapi, saya tidak
pernah sakit gigi, tuh,” ujarnya
sambil tergelak.

Kini, kegemaran Ermey itu
dicurahkan ke bisnis cokelat melalui
Dapur Cokelat. Dengan menjual
permen cokelat (praline), kue (cake)
ulangtahun, dan wedding cake
seharga Rp 2.500–Rp 250.000,
Dapur Cokelat mampu meraup
omzet Rp 500 juta lebih setiap
bulan.
Ermey menempuh jalan terjal yang
cukup panjang sebelum menggapai
sukses seperti sekarang. Sejak kecil,
perempuan kelahiran Jakarta 2 Mei
1975 ini memang sudah hobi
memasak. Ia sering membantu sang
ibu memasak di dapur.

Kegemaran memasak itu Ermey
pertajam dengan bersekolah di
National Hotel Institute, Bandung.
Meski belajar ilmu memasak dengan
aneka menu, ia tetap mencoba
membuat makanan berbahan
cokelat. Saat kuliah itulah, untuk
pertama kalinya, ia mencoba
membuat kue berbahan cokelat.
Jenis kue yang dibikin Ermey adalah
cake cokelat. Keluar dari oven,
cake -nya langsung diserbu dan
dinikmati kawan-kawan kosnya di
Bandung. Melihat teman-temannya
sangat menyukai cake buatannya,
tekadnya untuk memproduksi aneka
kue cokelat semakin bulat. “Saya
langsung bersemangat, mencoba
membuat inovasi permen cokelat,”
ujarnya.

Dengan modal Rp 10.000 untuk
membeli bahan baku, Eyi mencoba
membuat praline. Ia memanfaatkan
kompor kecil di dapur kosnya untuk
mengolah bahan baku cokelat. Kala
itu, ia membuat praline hanya
untuk coba-coba dan iseng.

Lulus dari kuliah di Bandung, di
tahun 1994, Ermey melanjutkan
kuliah di Jurusan Agrobisnis Institut
Pertanian Bogor (IPB). Sambil
kuliah, ia bertekad memulai usaha
berjualan kue supaya bisa mendapat
penghasilan. Sang ayah memang
selalu mengajarkannya untuk
berusaha mendapatkan uang dengan
usaha sendiri. “Modal awal berasal
dari ayah sebesar Rp 200.000.
Tadinya buat beli handphone ,” kata
perempuan yang pernah bekerja di
hotel dan menjadi awak redaksi di
majalah Selera ini.

Dengan modal Rp 200.000 itu,
Ermey menjajal keberuntungannya
di bisnis kue cokelat. Tidak sampai
seminggu, ia sudah meraup Rp
500.000, dua kali lipat lebih
modalnya. Saat itu, ia segera
mengembalikan duit ayahnya dan
sekaligus membeli handphone.
Sukses di bisnis kue, ia semakin
yakin bahwa bisnis ini menjanjikan.
Tapi, lantaran tak bisa sambil
kuliah, ia melepas pendidikannya di
IPB. “Harus ada yang saya
korbankan. Tapi, saya tidak
menyesal,” katanya.

Cokelat menyatukan

Di 2001, bersama Okky Dewanto
yang kemudian menjadi suaminya,
Ermey mulai serius membangun
toko cokelat berjuluk Dapur
Cokelat. Benih-benih cintanya
dengan Okky tak lepas dari unsur
cokelat. Alkisah, Ermey meminta
Okky mencicipi kue buatannya.
Okky yang sudah lebih dulu
bergerak di bisnis pastry terpikat
kue Ermey. “Wah enak, nih, kita
jual, yuk!” kata Ermey menirukan
ajakan kekasihnya waktu itu.

Sekali mendayung, dua tiga pulau
terlampaui. Ermey mendapatkan
tambatan hatinya sekaligus memulai
cikal bakal usaha Dapur Cokelat-
nya. Dengan modal Rp 75 juta hasil
patungan dengan Okky dan seorang
teman, Ermey membangun toko di
Jalan Ahmad Dahlan, Jakarta
Selatan. Hampir 50% modalnya
habis untuk investasi peralatan dan
sewa lahan. Sisanya untuk membeli
bahan baku cokelat dari produsen
lokal. Ia hanya mempekerjakan tiga
orang untuk membantu proses
produksi di dapur.
Ermey punya cara promosi unik. Ia
mengumpulkan nama orang dan
alamat-alamat yang tidak ia kenal
sebelumnya. “Saya kirim 1.500
kertas promosi Dapur Cokelat
menggunakan perangko seadanya,”
katanya.

Usahanya itu membuahkan hasil.
Pelan-pelan, pengunjung mulai
datang. Dari semula sekadar coba-
coba, belakangan, makin banyak
dari mereka yang menjadi
pelanggan tetap. Kini, dengan
delapan gerai Dapur Cokelat, Ermey
sudah memiliki 300 karyawan.
( Diade Riva Nugrahani)

Sumber: http//mobile.kontan.co.id//news/ermey-penggemar-cokelat-yang-sukses-membangun-gerai-cokelat-ternama-1

Nur Handiah, Berbekal Kreatif dan Inovatif, Kerajinan Kerang-nya Sukses Tembus Hingga ke Empat Benua

Jakarta – Jangan anggap sebelah mata produk Industri Kecil Menengah (IKM) buatan Indonesia. Bukan tak mungkin produk IKM bisa mengalahkan produk perusahaan besar. Misalnya produk hiasan kerang asal Cirebon, produk bernuansa etnik ini telah diekspor ke berbagai benua antaralain Eropa, Asia, Afrika hingga Amerika. “Awalnya dari bahan bakunya saja (kerang) diekspor karena ada temannya suami saya dari luar negeri pesan kerang. Saya penasaran buat apa, akhirnya saya nggak mau kirim bahan bakunya saja. Saya buat barangnya,” ungkap Pemilik CV Multi Dimensi Shell Craft Manufacturer and Exporter, Nur Handiah J Taguba kepada detikFinance di acara Trade Expo Indonesia di JIExpo Kemayoran Jakarta, Kamis (18/10/12). Ia menceritakan usahanya dimulai pada tahun 2000, CV ini berdiri di Cirebon di atas lahan seluas 1.000 meter persegi dan mempekerjakan sekitar 60 orang yang diantaranya adalah para tetangganya. “Harganya mulai dari Rp 5000 untuk gantungan kunci, pembatas buku, bunga. Dan yang paling mahal itu Rp 24 juta, itu untuk lampu dan juga ada yang 1 set furnitur yaitu kursi, meja dan cerminnya, lampunya,” paparnya. Saat ini, produk yang ditawarkanpun memiliki inovasi yang lebih maju, mulai dari hiasan, hingga lampu kristal terbuat dari kerang. “Seiring berjalannya waktu, sekarang ada 32.000 m2, kapasitas produksi kita hingga 8 kontainer (per bulan),” katanya. Ia mengatakan, saat ini usaha yang sudah ditekuni sejak 12 tahun lalu ini sudah banyak merambah pasar dunia. Sebut saja negara Eropa seperti Jerman, Spanyol, Italia. Sedangkan untuk pasar Asia, ke Singapura, Jepang, Korea. Timur tengah, Amerika Latin hingga Afrika Selatan menjadi pelanggan produk kerang ini. “Kirimnya 5-6 kontainer (per bulan) untuk ekspor, pasar dalam negeri kita kurang. Kita punya toko di Jogja, Bali, Jakarta dan Cirebon, tapi yang beli tetap turis asing,” jelasnya. Perusahaan milik Nur ini setiap bulan bisa menjual produknya hingga senilai Rp 2 miliar. “Nggak tentu sih, kalau lagi rame bisa sampai Rp 1 miliar lebih. Bisa sampai Rp 2 miliar,” pungkasnya. ( Zulfi Suhendra) Sumber: http://m.detik.com/finance/read/2012/10/18/184329/2066485/480/kerang-made-in-cirebon-terbang-hingga-ke-eropa-amerika

Jody Brotosuseno, Pemilik Waroeng Steak and Shake, Awalnya Jual Motor untuk Modal, Kini Punya 1000 Karyawan

Sejak didirikan 10 tahun lalu, usaha
kulinernya telah mencapai 50
outlet (gerai), dengan omzet di atas
Rp 100 juta perbulan untuk setiap
gerai. Lantas, apa hubungannya
dengan pengajian dan Rumah
Tahfizh?

Mendengar kata steak akan teringat
makanan khas Eropa yang mahal
harganya. Namun, itu tidak berlaku
di “Waroeng Steak and Shake”.
Hanya dengan merogoh kocek Rp
8.000 hingga Rp. 13.000, aneka
macam steak pun dapat dinikmati
dengan cita rasa yang tak kalah
dengan steak di hotel berbintang.
Tak heran bila setiap kali Waroeng
Steak and Shake buka pada saat jam
makan siang, puluhan pengunjung
langsung menyerbu kuliner yang
telah meraih sertifikat halal dari
Majelis Ulama Indonesia. Bahkan,
tak jarang sebagian di antaranya
rela antri untuk mendapatkan
tempat duduk.

Seiring dengan berputarnya waktu,
usaha ini semakin melaju. Jika
tahun 2000 hanya memiliki 1 gerai
sederhana dengan 2 karyawan,
namun kini menjadi 50 gerai
dengan mempekerjakan 1.000
karyawan.

Jual Motor untuk Modal Usaha
Sukses yang diraih Waroeng Group
tidak lepas dari keuletan dan
tangan dingin sang owner (pemilik),
Jody Broto Suseno (37). Dengan
bakat wirausaha yang dimilikinya,
sejak lulus SMA tahun 1993, Jody
telah mencoba berbagai macam
usaha, mulai bisnis parsel, susu
segar, roti bakar, hingga kaos
partai. Untung dan rugi pun pernah
ia alami.

Tahun 1997, Jody terlibat
mengurusi usaha “Obonk Steak”
milik orangtuanya. Ia diminta
menangani Obonk Steak dan
memasarkannya ke teman-teman
kuliahnya. “Tapi sayangnya ndak
ada yang datang, karena harganya
cukup mahal dan tidak terjangkau
oleh kantong mahasiswa,”
ungkapnya sambil tersenyum.

Pengalaman terakhir inilah yang
memberi inspirasi untuk membuat
usaha kuliner steak dengan harga
mahasiswa. Jody pun mulai
memikirkan cara menekan harga
steak yang sejatinya memang
mahal.

Diakui Jody, untuk mendirikan
Waroeng Steak and Shake
dibutuhkan modal awal yang cukup
besar. Beruntung ia memiliki
sepeda motor pemberian orangtua,
yang akhirnya dijual untuk modal
usaha.

“Dari penjualan motor, saya
gunakan untuk sewa tempat di
daerah Demangan Yogyakarta,
sebagian lagi untuk peralatan
usaha, dan sisanya untuk membeli
motor tua sebagai alat
transportasi,” ujar Jody.

Tanggal 4 September 2000 adalah
awal berdirinya Waroeng Steak and
Shake di Jalan Cendrawasih
Demangan Yogyakarta. Jody
memilih nama Waroeng sebagai
brand usaha kulinernya untuk
memberi kesan murah kepada
konsumen.

“Di mana-mana yang namanya steak
itu mahal, makanya saya memberi
nama Waroeng untuk memberi
kesan murah,” kata Jody.
Mengingat pangsa pasarnya anak
muda dan mahasiswa, maka warna
yang digunakannya pun dibuat
ngejreng, dengan kombinasi warna
kuning yang dominan dipadu warna
putih dan hitam.

Tahun pertama merupakan
perjuangan bagi Jody. Dengan lima
meja, sepuluh hot plate dan tiga
menu utama (Sirloin, Tenderlon,
dan Chicken Steak) yang disediakan
Waroeng Steak, tak jarang hari-hari
yang dilalui Jody tanpa pengunjung.
Kalaupun ada, jumlahnya bisa
dihitung dengan jari.
Masa awal ini lebih banyak dukanya
daripada sukanya. Namun, usaha
ini tetap jalan. Jody bertugas
memasak di dapur, istrinya
melayani tamu sekaligus menjadi
kasir, dan dua karyawannya
menangani tugas lainnya.

“Alhamdulillah, di tahun pertama
masih bisa menggaji karyawan dan
memenuhi kebutuhan keluarga,
meski pas-pasan,” jelas Jody.
Interaksinya dengan pelanggan dan
masukan yang dilontarkan mereka
membuat Jody terus berbenah.
Jody pun berinisiatif membuat
daftar harga dan dipasang di depan
warung miliknya. Ternyata cara ini
efektif. Tidak lama berselang,
banyak pengunjung dari berbagai
kalangan memenuhi gerainya.
Tahun kedua, usahanya mulai
menampakkan hasil.

Pengunjungnya
semakin stabil, bahkan tidak
mampu melayani seluruh
pengunjung. Maka ia pun mengajak
keluarganya untuk berinvestasi
mengembangkan usaha ini, mulai
dari ayah, ibu, saudara, paman,
dan keluarga lainnya diajak
berinvestasi dengan bagi hasil
50:50. Semakin hari usaha ini
berkembang hingga cabang ke-7
dengan sistem bagi hasil. Barulah
pada gerai ke-8 dan seterusnya
Jody mampu mendanai sendiri
gerainya, tanpa menerapkan pola
franchise.

Belakangan, Jody lebih senang
mengajak investor dari kalangan
ustadz untuk mengembangkan
usahanya di berbagai daerah di
Jawa, Bali, dan Sumatera. Sebut
saja Ustadz Yusuf Mansur, Ustadz
Edi Mustofa, dan Ustadz Endang
ikut berinvestasi di bisnis ini.
Bahkan, kini berkembang ke
berbagai lini, seperti Bebaqaran
untuk ikan bakar, Bebek Goreng H.
Slamet, dan Festival Kuliner
(Feskul).

“Para ustadz itu saya ajak
bergabung dengan usaha kuliner ini
dengan harapan usaha ini
memperoleh doa dari mereka,”
terang Jody saat ditemui Suara
Hidayatullah di Rumah Tahfizh
miliknya di Deresan Yogyakarta.

Spiritual Company

Mengelola 1.000 karyawan
bukanlah hal mudah, dan itulah
yang dirasakan Jody. Ia merasa
berkewajiban untuk ikut
memberdayakan karyawannya yang
berasal dari berbagai latar belakang
sosial dan budaya tersebut.
Awalnya, Jody hanya berpikir
praktis dengan mengikutkan hampir
seluruh karyawannya training ESQ.

Namun atas masukan beberapa
ustadz, Jody akhirnya membuat
Spiritual Company, dan mendaulat
Ustadz Syamsuri untuk membuat
sistem sekaligus mengawalnya.
Menurut Ustadz Syamsuri, Spiritual
Company ini terdiri dari dakwah
dan pendidikan Islam. Untuk
dakwah bil hal, dilakukan melalui
olahraga, kegiatan sosial, infaq
karyawan, dan seni budaya. “Untuk
pendidikan Islamnya yakni
pengadaan tausiyah rutin di outlet-
outlet dan kantor, buletin bulanan,
dan belajar membaca al-Qur`an
bagi seluruh karyawan,” kata
Ustadz Syamsuri saat ditemui di
kantor Waroeng Group Timoho
Yogyakarta.

Tausiyah di gerai kata Ustadz
Syamsuri, telah disusun secara
sistematis berikut tema-temanya.
Misalnya bulan Maret lalu bertema
Shalat Tepat Waktu, maka seluruh
gerai di Jawa, Bali dan Sumatera
harus menyelenggarakan tausiyah
untuk karyawan dengan tema yang
sama. Tema yang beragam itu telah
disusun selama setahun. Materinya
meliputi aqidah, akhlak, fiqih, dan
sirah Nabi.
Selain pengajian internal karyawan
yang dilaksanakan setiap pekan,
Waroeng Group juga
menyelenggarakan pengajian warga
sekitar gerai tiap bulan. Bahkan,
pengajian berskala besar dengan
mendatangkan ustadz dari Jakarta
setiap bulan, dengan tema kegiatan
“Dari Waroeng untuk Umat”.

Tahun 2010, Waroeng Gr0up mulai
menawarkan program menarik bagi
karyawannya. Bagi yang mampu
menghafal al-Qur`an minimal
empat surah pilihan akan diikutkan
umrah dan haji gratis.
“Ternyata banyak karyawan yang
bisa menghafal empat surah, dan
terpaksa dilakukan pengundian
untuk memilih enam di antaranya,”
kata Jody.

Sebagai bagian dari Spiritual
Company, Jody menerapkan aturan
ketat kepada karyawannya. Bila
tahun 2009 larangan merokok
ditujukan kepada seluruh
menejemen, maka mulai 2010
seluruh karyawannya dilarang
merokok.

Kini, selain sibuk mengurus
usahanya, Jody pun aktif
mendirikan Rumah Tahfizh dan
mengasuh puluhan anak untuk
menghafal al-Qur`an.

“Saat ini sudah berdiri empat
Rumah Tahfizh yang mengasuh 83
santri mukim, dan 60 santri kalong,
satu di antaranya adalah Rumah
Tahfizh Waroeng Group.
Alhamdulillah, usaha saya terbukti
semakin meningkat, ”ungkap Jody
yakin.* Masjidi/Suara Hidayatullah
APRIL 2011

sumber: http//majalah.hidayatullah.com/?p=2497

Badroni Yuzirman, Jatuh Bangun di Bisnis Garmen, Hingga Keberhasilannya Mendirikan Komunitas Tangan Di Atas

Sesuai namanya, komunitas Tangan
di Atas (TDA) terus menanamkan
nilai saling memberi dan berbagi
ilmu kepada anggotanya. Mereka
percaya, dengan berbagi kepada
sesama, rezeki akan semakin
berlimpah. Semangat itulah yang
membuat jumlah anggota TDA terus
berkembang pesat. Kini sekitar 20
ribu orang berjiwa entrepreneur
tergabung dalam komunitas yang
didirikan pada 2006 tersebut.

BADRONI Yuzirman tak pernah
mengira kegagalannya menjalankan
bisnis garmen di Pasar Tanah Abang
ternyata berbuah sangat manis.
Tidak hanya berhasil bangkit
dengan memanfaatkan toko online,
kini pria yang akrab disapa Roni itu
juga sukses menyebarkan virus
entrepreneurship kepada anak-anak
muda yang ingin sukses
membangun kerajaan bisnis.

Ya, Roni “panggilan Badroni” yang
kini menekuni bisnis pakaian
busana muslim di Jakarta tersebut
adalah pendiri komunitas TDA.
“Sebenarnya angka 20 ribu itu
jumlah anggota yang keluar masuk
di TDA karena memang pintunya
banyak. Ada yang masuk lewat
milis, blog, Twitter, Facebook, dan
lainnya,” katanya saat ditemui di
rumahnya, kawasan Ulujami Jaksel,
Kamis (26/7).

Kini, kata Roni, TDA berupaya
menertibkan seluruh anggotanya
dengan membuat kartu anggota
resmi. Sampai saat ini, sudah
sekitar 2 ribu anggota yang
memiliki kartu anggota. Anggotanya
pun terdiri atas berbagai latar
belakang. Mulai entrepreneur di
bidang IT yang bisnisnya
berhubungan dengan alat-alat
canggih hingga pengusaha makanan
yang sekelas warteg (warung tegal).
“Pokoknya, di sini pengusaha yang
omzetnya miliaran sampai
pengusaha yang masih nol ada
semua,” ujarnya lantas tertawa.

Di TDA-lah mereka yang sudah
merasakan sukses dan mapan harus
menyebarkan ilmu serta resep
kesuksesannya. Setidaknya mereka
bisa bertukar pengalaman antara
satu dan lainnya untuk menambah
jaringan bisnis di antara mereka.

Sejak 2009, TDA mulai
mengembangkan diri dan membuka
“cabang” di berbagai daerah.
Hingga kini, TDA tercatat ada di 30
kota/kabupaten. Setiap wilayah
memiliki program serta kegiatan
tersendiri.
“Awalnya kami terpusat di Jakarta.
Tapi, karena jumlah orang yang
bergabung semakin banyak dan dari
berbagai wilayah, akhirnya kami
membuka di wilayah-wilayah yang
sudah siap,” imbuh bapak dua anak
itu.

Meski menjadi orang penting di
antara ribuan pengusaha sukses,
Roni tetap hidup sederhana.
Rumahnya yang cukup luas
didesain simpel dan minimalis.

Halamannya dibiarkan hijau dengan
ditumbuhi rumput yang tertata
rapi. Di sudut halaman, Roni
membangun arena bermain untuk
anak-anaknya yang masih kecil.
Ruang tamu di rumah tersebut juga
tak kalah sederhana. Di sana hanya
ada sebuah sofa mungil serta
beberapa kursi. Sebuah lemari kecil
dan beberapa hiasan rumah
menyambut tamu yang berkunjung.

Saat menemui Jawa Pos, Roni
bergaya santai dengan mengenakan
batik ungu yang dipadu blue jeans.
Roni mengaku, saat ini dirinya
memang mengutamakan kualitas
hidup. Sehari-hari dirinya tidak
hanya menghabiskan waktu untuk
mengembangkan bisnis, tapi juga
berupaya mendekatkan diri dengan
keluarga.

Dia lantas menceritakan awal mula
merintis komunitas TDA. Lulusan
Jurusan Manajemen Trisakti
tersebut menggeluti bisnis pakaian
muslim sejak 2001. Kala itu, dia
menyewa kios di Pasar Tanah
Abang. Letaknya di Blok F yang
memang khusus pakaian.
Nah, karena Roni mengutamakan
kualitas dan pelayanan kepada
pelanggan, bisnisnya cepat maju.
Perlahan-lahan dia terus
menambah kios. “Puncak bisnis
saya tahun 2003. Saya menyewa
tiga kios,” katanya.

Seiring dengan pesatnya
perkembangan bisnisnya, Roni juga
mendapat banyak “gangguan”. Di
antaranya, dirinya berselisih
dengan pengelola pasar. Dia merasa
diperlakukan tidak adil. “Saya
termasuk salah seorang pedagang
yang vokal melawan perlakuan
pengelola yang saat itu tidak adil,”
kenangnya.

Perselisihan tersebut tak kunjung
selesai hingga 2004. Bahkan
semakin runcing. Akhirnya, 3 Maret
2004, Roni diusir dari Pasar Tanah
Abang. Dia diminta keluar dan tidak
lagi diizinkan untuk berdagang di
pasar besar itu. Roni awalnya ingin
melawan melalui jalur hukum. Tapi,
setelah berpikir dua kali, dia
memilih untuk mengalah.

Dia lantas mengontrak rumah kecil
di kawasan padat penduduk
Kemandoran, Jaksel. “Di sana, saya
benar-benar memulai usaha dari
nol lagi. Tapi, saya tetap yakin bisa
kembali bangkit,” imbuhnya.
Di kontrakan tersebut, Roni
memanfaatkan garasi untuk
merintis usahanya. Lantaran
tempatnya yang kurang strategis
dibanding kiosnya di Tanah Abang,
mau tidak mau Roni harus terus
memutar otak. Akhirnya, dia
“menemukan” solusi dengan
berbisnis via online.

Dia lalu membuat situs
http://www.manetvision.com yang
merupakan lapak busana muslimnya
di dunia maya. “Saya sebenarnya
iseng. Sebab, saat itu kalau berbau
http://www.com dianggap sudah keren.
Apalagi saat itu belum banyak toko
online,” tuturnya lantas tertawa.

Sejak saat itu Roni kerap
menghubungi teman-temannya,
jaringan, serta para pelanggan
untuk memberi tahu agar membuka
lapaknya di internet. Dia terus
berusaha mengenalkan lapak itu
secara luas. Tak diduga, keisengan
tersebut berbuah manis. Jualannya
laris. Bahkan, Roni mengaku
bisnisnya terus berkembang dan
semakin maju. Keuntungan yang
diraup dari berjualan online tidak
kalah dibanding berjualan di tiga
kiosnya di Tanah Abang.
“Bayangkan, di Tanah Abang saya
harus menghabiskan Rp 200 juta
setiap tahun untuk sewa tiga kios.
Tapi, di kontrakan kecil itu, saya
hanya membayar Rp 12 juta untuk
sewa,” ungkapnya.

Sejak merasakan sukses di bisnis
online, Roni ingin membagi
pengalaman dan ilmunya kepada
orang lain. Caranya masih tetap via
dunia maya. Dia membuat blog
roniyuzirman.com pada 2
November 2005. Di blog itulah dia
menceritakan semua
pengalamannya jatuh bangun
menjalankan bisnis, mulai di Pasar
Tanah Abang hingga sukses
menempuh jalur toko online.
Curahan pengalaman di blog yang
sebenarnya juga iseng itu ternyata
banyak dibaca orang. Tidak sedikit
yang akhirnya mengirim komen
atau bertanya jawab dengan Roni.
Dari situ, Roni kemudian
memutuskan untuk membuat milis
yang dikhususkan untuk orang-
orang yang biasa berdiskusi di
blognya.

Milis bisnis online itu pun sangat
ramai. Karena itu, pada 22 Januari
2006, Roni memberanikan diri
untuk kopi darat dengan para
anggota. “Saat itu jumlahnya masih
40 orang,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, Roni
mengajak seorang pengusaha Pasar
Tanah Abang yang sangat sukses.
Pengusaha itu akrab disapa Haji
Alay. Dia punya puluhan kios di
Pasar Tanah Abang. Haji Alay
diminta menjadi narasumber.

Pertemuan tersebut membicarakan
berbagai pengalaman masing-
masing anggota dalam berbisnis,
mulai mengikrarkan niat hingga
memulai usaha. Ternyata,
pertemuan itu tidak berhenti
sampai di situ. Mereka lalu
melanjutkan dalam diskusi serta
seminar yang mengundang
pengusaha-pengusaha kondang
sebagai pembicara.
Para anggota komunitas tersebut
menyadari pentingnya sebuah
wadah untuk berbagi di antara
mereka yang ingin menjadi
pengusaha sukses. Karena itu, lalu
dipilihkan kata Tangan di Atas
sebagai nama komunitas.

Tahun demi tahun kelompok
tersebut terus berkembang hingga
jumlah anggotanya mencapai
ribuan. “TDA bisa besar bukan
karena kecanggihan teknologi. Tapi,
kami memiliki nilai lebih. Yaitu,
saling memberi. Kami mengajak
member untuk selalu berbagi.

Kami
percaya, alam semesta ini
berlimpah dan akan makin
berlimpah meski setiap hari kita
bagi,” tutur suami Ely Febrita itu.
Kini TDA sudah menyerupai
perusahaan. Mereka memiliki
pengurus di pusat dan wilayah.
Roni menjadi ketua Majelis Wali
Amanah yang dalam struktur
perusahaan biasa disebut
komisaris. “Seluruh pengurus tidak
dibayar. Sebab, prinsip kami untuk
berbagi,” imbuhnya.

Eksistensi TDA yang militan menarik
perhatian Menteri BUMN Dahlan
Iskan. Kementerian BUMN akan
menjadikan TDA sebagai mitra
kerja. Sebagian CSR (corporate
social responsibility) perusahaan-
perusahaan BUMN akan disalurkan
melalui TDA.
“Pak Dahlan sudah menyatakan
ingin menjadi mitra kerja TDA.
Kami sangat menyambut,”
tegasnya. (*/c5/ari)( THOMAS KUKUH)

sumber: http://www.jpnn.com/read/2012/07/29/135159/Kerja-Keras-Badroni-Yuzirman-Membangun-Komunitas-Tangan-di-Atas-