Ermey, Dulu Awal Usaha Toko ‘Dapur Cokelat’ Punya 3 Karyawan, Kini Menjadi 300 Karyawan


Bermula dari kegemaran terhadap
cokelat, Ermey Trisniaty sukses
membangun toko Dapur Cokelat. Ia
rela melepas pendidikannya untuk
membangun bisnisnya ini. Dengan
delapan toko, kini, omzet Dapur
Cokelat bisa ratusan juta rupiah per
bulan.

Katakan dengan cokelat. Begitulah,
sekarang, banyak orang
memanfaatkan cokelat sebagai
ungkapan kasih sayang dan
perhatian mereka. Cokelat diberikan
bukan cuma di saat event khusus
seperti valentine, tapi juga saat
orang sakit, melahirkan,
ulangtahun, dan perayaan
keagamaan.
Salah satu gerai cokelat ternama di
Ibukota adalah Dapur Cokelat.

Berdiri sejak 10 tahun silam, Dapur
Cokelat adalah pionir toko cokelat
di Indonesia. Kini, Dapur Cokelat
memiliki delapan gerai di Jakarta
dan Surabaya. Setiap hari, total
penjualan semua gerai mencapai
3.000 kilogram (kg) cokelat, baik
berupa pralin atau kue.

Di balik sukses Dapur Cokelat ada
nama Ermey Trisniaty. Sejak kecil,
ia memang suka cokelat, entah
dalam bentuk permen atau kue.
“Zaman dulu, kan, cokelat-cokelat
itu sudah enak sekali,” kenangnya.

Saking gemarnya, perempuan yang
biasa disapa Eyi ini kerap
menyimpan cokelat di bawah bantal
supaya bisa ia makan sebelum
tidur. Ia tidak bisa tidur sebelum
makan cokelat. “Tapi, saya tidak
pernah sakit gigi, tuh,” ujarnya
sambil tergelak.

Kini, kegemaran Ermey itu
dicurahkan ke bisnis cokelat melalui
Dapur Cokelat. Dengan menjual
permen cokelat (praline), kue (cake)
ulangtahun, dan wedding cake
seharga Rp 2.500–Rp 250.000,
Dapur Cokelat mampu meraup
omzet Rp 500 juta lebih setiap
bulan.
Ermey menempuh jalan terjal yang
cukup panjang sebelum menggapai
sukses seperti sekarang. Sejak kecil,
perempuan kelahiran Jakarta 2 Mei
1975 ini memang sudah hobi
memasak. Ia sering membantu sang
ibu memasak di dapur.

Kegemaran memasak itu Ermey
pertajam dengan bersekolah di
National Hotel Institute, Bandung.
Meski belajar ilmu memasak dengan
aneka menu, ia tetap mencoba
membuat makanan berbahan
cokelat. Saat kuliah itulah, untuk
pertama kalinya, ia mencoba
membuat kue berbahan cokelat.
Jenis kue yang dibikin Ermey adalah
cake cokelat. Keluar dari oven,
cake -nya langsung diserbu dan
dinikmati kawan-kawan kosnya di
Bandung. Melihat teman-temannya
sangat menyukai cake buatannya,
tekadnya untuk memproduksi aneka
kue cokelat semakin bulat. “Saya
langsung bersemangat, mencoba
membuat inovasi permen cokelat,”
ujarnya.

Dengan modal Rp 10.000 untuk
membeli bahan baku, Eyi mencoba
membuat praline. Ia memanfaatkan
kompor kecil di dapur kosnya untuk
mengolah bahan baku cokelat. Kala
itu, ia membuat praline hanya
untuk coba-coba dan iseng.

Lulus dari kuliah di Bandung, di
tahun 1994, Ermey melanjutkan
kuliah di Jurusan Agrobisnis Institut
Pertanian Bogor (IPB). Sambil
kuliah, ia bertekad memulai usaha
berjualan kue supaya bisa mendapat
penghasilan. Sang ayah memang
selalu mengajarkannya untuk
berusaha mendapatkan uang dengan
usaha sendiri. “Modal awal berasal
dari ayah sebesar Rp 200.000.
Tadinya buat beli handphone ,” kata
perempuan yang pernah bekerja di
hotel dan menjadi awak redaksi di
majalah Selera ini.

Dengan modal Rp 200.000 itu,
Ermey menjajal keberuntungannya
di bisnis kue cokelat. Tidak sampai
seminggu, ia sudah meraup Rp
500.000, dua kali lipat lebih
modalnya. Saat itu, ia segera
mengembalikan duit ayahnya dan
sekaligus membeli handphone.
Sukses di bisnis kue, ia semakin
yakin bahwa bisnis ini menjanjikan.
Tapi, lantaran tak bisa sambil
kuliah, ia melepas pendidikannya di
IPB. “Harus ada yang saya
korbankan. Tapi, saya tidak
menyesal,” katanya.

Cokelat menyatukan

Di 2001, bersama Okky Dewanto
yang kemudian menjadi suaminya,
Ermey mulai serius membangun
toko cokelat berjuluk Dapur
Cokelat. Benih-benih cintanya
dengan Okky tak lepas dari unsur
cokelat. Alkisah, Ermey meminta
Okky mencicipi kue buatannya.
Okky yang sudah lebih dulu
bergerak di bisnis pastry terpikat
kue Ermey. “Wah enak, nih, kita
jual, yuk!” kata Ermey menirukan
ajakan kekasihnya waktu itu.

Sekali mendayung, dua tiga pulau
terlampaui. Ermey mendapatkan
tambatan hatinya sekaligus memulai
cikal bakal usaha Dapur Cokelat-
nya. Dengan modal Rp 75 juta hasil
patungan dengan Okky dan seorang
teman, Ermey membangun toko di
Jalan Ahmad Dahlan, Jakarta
Selatan. Hampir 50% modalnya
habis untuk investasi peralatan dan
sewa lahan. Sisanya untuk membeli
bahan baku cokelat dari produsen
lokal. Ia hanya mempekerjakan tiga
orang untuk membantu proses
produksi di dapur.
Ermey punya cara promosi unik. Ia
mengumpulkan nama orang dan
alamat-alamat yang tidak ia kenal
sebelumnya. “Saya kirim 1.500
kertas promosi Dapur Cokelat
menggunakan perangko seadanya,”
katanya.

Usahanya itu membuahkan hasil.
Pelan-pelan, pengunjung mulai
datang. Dari semula sekadar coba-
coba, belakangan, makin banyak
dari mereka yang menjadi
pelanggan tetap. Kini, dengan
delapan gerai Dapur Cokelat, Ermey
sudah memiliki 300 karyawan.
( Diade Riva Nugrahani)

Sumber: http//mobile.kontan.co.id//news/ermey-penggemar-cokelat-yang-sukses-membangun-gerai-cokelat-ternama-1

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 25/10/2012, in Kuliner. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: