Monthly Archives: October 2012

Aghnia Nabila, Masih Mahasiswi tapi Sudah Mampu Raup Omzet Puluhan Juta Lewat L’Risoles

KOMPAS.com – Usia muda tak
menghalangi cita-cita seseorang
untuk mengembangkan diri dan
keinginan untuk menjadi
wirausahawan yang sukses.

Meskipun masih berstatus
mahasiswa semester enam
fakultas hukum di Universitas
Padjajaran, Bandung, Aghnia
Nabila sudah punya tekad yang
kuat untuk berbisnis.

“Saya sangat suka makan, jadi
saya memutuskan untuk bisnis
di bidang makanan,” tukas
Aghnia kepada Kompas
Female, di sela-sela kompetisi
Young Caring Professional
Award 2012 (YCPA) di Djakarta
Theater, Jakarta, Sabtu
(16/6/2012) lalu.

Berbekal kecintaan pada
makanan, ia memutuskan untuk
mulai berjualan risoles keju
berdasarkan pesanan teman-
teman kampusnya. Lama-
kelamaan, ia memberanikan diri
untuk membuka sebuah outlet
bernama L’Risoles di Bandung.

Dalam perkembangannya, usaha
ini menghasilkan lima reseller
di Bandung, dan dalam sebulan
ia mampu meraup omset
sampai Rp 30 juta. Ia pun sudah
memiliki empat pegawai yang
semuanya diambil dari para
tuna karya di sekitar rumahnya.
Selain bisnis dan kuliah,
perempuan kelahiran Bandung,
5 Desember 1991 ini juga
masih mengikuti beragam
aktivitas keorganisasian di
kampusnya. Bahkan ia tercatat
sebagai anggota BEM FH Unpad
sebagai kader pengembangan
sumber daya manusia (PSDM)
dan menjadi salah satu pendiri
Himpunan Pengusaha Muda
Indonesia (HIPMI) Perguruan
Tinggi Unpad, sebagai ketua
divisi kewirausahaan.
“Ini sebagai salah satu wujud
kepedulian saya untuk
membangkitkan semangat
wirausaha para generasi muda,”
ungkapnya.

Semua kesibukan itu ternyata
tak membuat prestasinya
menurun. Buktinya, baru-baru
ini Aghnia terpilih menjadi
finalis mahasiswa berprestasi di
Unpad tahun 2011. Saat
penjurian YCPA di Hotel
Morrisey, Jakarta Pusat, Jumat
(15/6/2012) lalu, para juri
terkagum-kagum dengan
semangat kewirausahaan
Aghnia, yang diikuti dengan
prestasinya di kampus dalam
waktu bersamaan. Ketika
disinggung tentang
kepiawaiannya mengatur waktu,
ia hanya menjawab bahwa ia
tidak memiliki metode khusus.

“Yang saya lakukan hanya fokus
pada berbagai hal yang sedang
saya lakukan. Saat kuliah saya
benar-benar konsentrasi pada
pelajaran, karena saya sadar
saya tidak punya banyak waktu
senggang,” bebernya.

Prestasi, usia muda, dan
semangat wirausaha inilah yang
membuatnya terpilih sebagai
salah satu perempuan inspiratif
dan kreatif YCPA. Kepada
Kompas Female , Aghnia
mengaku tak berani berharap
untuk jadi pemenang karena
memiliki 18 saingan yang
sangat kuat. “Namun,
mengingat usia saya yang paling
muda di antara yang lain, saya
optimis menang,” ungkap
perempuan yang mengakui
Nilam Sari (salah satu
pemenang YCPA lainnya) sebagai
salah satu pesaing terberatnya.

Muda dan menginpirasi

Terpilihnya Aghnia sebagai salah
satu pemenang termuda YCPA
diungkapkan Fira Basuki (salah
satu juri) sebagai keputusan
yang tepat. “Salah satu kriteria
penentuan pemenang bukanlah
dari penampilan fisik. Akan
tetapi kemampuan mereka
untuk bisa berpikir kreatif dan
menginspirasi orang lain,” tukas
Fira kepada Kompas Female.

Menurut Fira Basuki dan
desainer Era Soekamto (juga
menjadi juri), salah satu nilai
lebih Aghnia terletak pada
kemampuannya untuk
menorehkan prestasi di kampus,
dan kesuksesan bisnisnya dalam
waktu yang bersamaan.

“Selain itu, ia juga mampu
menginspirasi generasi muda
lainnya untuk bisa menjadi
pengusaha sukses selagi kuliah.
Ini terbukti dari kemampuannya
untuk memberdayakan
mahasiswa lainnya menjadi
reseller usahanya,” beber Era.

Tak hanya itu, para juri juga
menilai Aghnia mampu menjadi
contoh karena punya
kepedulian yang tinggi terhadap
masyarakat di sekitarnya, yaitu
dengan membuka lapangan
pekerjaan sebagai pegawai di
L’Risoles.
(CHR)

Editor: Dini

Sumber: http://female.kompas.com/read/2012/06/18/19552565/Aghnia.Nabila.Wirausahawan.Muda.yang.Inspiratif.

Bisnis Juga Untuk Berbagi, Dini Sisihkan 20% dari Omzet Jutaan per Hari dari Bisnis Bakso Mawut-nya Untuk Sedekah

MAGELANG, KOMPAS.com –
Siapa tak suka bakso? Hampir
semua orang tahu dan
menyukai makanan yang satu
ini. Saat ini bakso juga sudah
banyak ragam rasa dan makin
inovatif. Seperti Bakso Mawut
yang ada di Kota Magelang
Jateng, unik dan bikin nagih.

Dalam Bahasa Jawa, kata
“mawut” artinya tumpah, yang
artinya dalam satu mangkuk ada
banyak isinya. Antara lain bakso
urat, bakso isi telur, bakso alus,
iga sapi, mie, tahu, hingga
sayuran dan tentu kuah yang
gurih.
“Saking kompletnya seperti mau
tumpah,” ujar Nuri Ikhsanida,
pemilik Bakso Mawut Magelang,
Jumat (8/6/2012).

Kata “mawut” sengaja dipilih
Dini, panggilan akrabnya,
karena diharapkan banyak
pembeli yang datang sehingga
bisa memberi rezeki yang
tumpah melimpah. Bahkan,
agar tidak dijiplak nama Bakso
Mawut sudah dipatenkan di
Dirjen HKI Kemenhumham RI
sejak 16 Mei lalu.

Rahasia kelezatan bakso ini
terletak pada pemilihan bahan
baku dagingnya. Dini sengaja
memilih jenis daging sapi segar
yang kualitas super, meski
tergolong mahal namun kualitas
rasa dijamin tidak
mengecewakan. Berbeda dengan
bakso pada umumnya, daging
dalam bakso ini benar-benar
dominan. “Banyak penjual
bakso yang mencampurkan
lebih banyak tepung ketimbang
daging. Namun bakso kami
benar-benar lebih banyak
dagingnya, penggunaan tepung
kanji hanya sebagai pengikat
saja itu pun dalam jumlah yang
sedikit,” imbuh alumni jurusan
Apoteker UAD Yogyakarta ini.

Ia juga sama sekali tidak
mencampurkan bahan-bahan
kimia berbahaya seperti boraks
dan pengawet. Oleh karena itu,
Dini beserta tiga karyawannya
setiap pagi harus belanja dan
masak. “Itu sebabnya kenapa
kami mulai buka jam 11.00,
karena kami bena-benar ingin
meyajikan bakso yang fresh,”
kata gadis berjilbab ini.

Untuk menarik pelanggan, Dini
membuat program-program
khusus yang menarik, seperti
pengunjung yang kebetulan
memakai baju sama dengan
warna seragam karyawan maka
gratis minum es teh, atau yang
kebetulan memiliki nama Dini
juga bakal dapat gratis minum
es teh. Istimewanya lagi, jika
pengunjung pada saat membeli
merayakan ultah, maka gratis
makan bakso sepuas dan
sekeyang-kenyangnya.
“Syaratnya hanya menunjukkan
KTP,” katanya.

Karena itu tak heran, meski
usaha yang dirintisnya baru
berjalan dua bulan, namun
sudah memliki banyak
pelanggan, mulai dari orang tua
hingga anak kecil. Kedainya
yang terletak di Jalan
Panembahan Senopati No. 17C
Kota Magelang ini tak pernah
sepi pengunjung terutama pada
jam makan siang dan sore hari.
Harga yang dipatok pun relatif
terjangkau, mulai dari Rp 7.000
hingga Rp 10.000 per porsi.

Harga tergantung jumlah dan
jenis bakso, pengunjung bebas
memilih mau yang mawut
uratnya, mawut ndog/telurnya,
mawut alusannya atau komplet
plus daging iga sapi. “Semuanya
nikmat dengan atau tanpa
kecap, saus dan sambel,”
katanya.

Dalam sehari rata-rata Dini
bisa menghabiskan daging 7 kg,
urat 3 kg dan iga hingga 5 kg.
Jika dirupiahkan omzetnya bisa
mencapai Rp 1-2 juta per hari.

Namun demikian tak membuat
Dini sombong, setiap hari
Jumat ia selalu menyisihkan 20
persen dari omzetnya untuk
bersedekah. Menurutnya, usaha
tersebut tidak hanya semata
untuk memperkaya diri namun
juga ingin memberi manfaat
bagi sesama. “Jadi pengunjung
yang membeli bakso pada hari
Jumat juga turut bersedekah,”
tutur warga Perumahan Depkes
Kramat Magelang ini.

( Penulis: Kontributor Magelang,
Ika Fitriana)
Editor: I Made Asdhiana

Sumber: http://m.kompas.com/news/read/2012/06/09/07421537/Ini.Dia.Bakso.Mawut

Awalnya Usaha Skala Kecil, Kini Hinda Bisa Hasilkan Omset Ratusan Juta dari Usaha Dodol Garut-nya

KOMPAS.com – Berawal dari
bantu-bantu bisnis orangtua,
Hinda Japar kini sukses menjadi
pengusaha dodol di Garut, Jawa
Barat. Dari usaha ini ia meraup
omzet hingga Rp 400 juta per
bulan.

Ada banyak variasi olahan
makanan khas Kota Garut yang
dipasarkannya dengan merek
Pusaka dan Pusaka JS. Dodol
Garut Pusaka merupakan bisnis
yang dirintis oleh orang tua
Hinda sejak tahun 1970-an.

Awalnya dodol Pusaka
merupakan usaha rumahan
dengan skala kecil. Hinda
kemudian mengambil alih bisnis
orangtuanya itu pada 2005.
Hingga saat ini, Hinda menjabat
Direktur Perusahaan Dodol
Garut Pusaka.

Dalam sehari, pabrik dodol
milik Hinda bisa memproduksi
rata-rata 1 ton dodol. Harga
dodol di tingkat pabrik Rp
16.500 – Rp 17.000 per
kilogram (kg). “Jadi, omzet saya
dalam sebulan mencapai Rp 400
juta,” kata Hinda.

Selain pabrik, Hinda juga
memiliki dua toko untuk
memasarkan produk dodol
buatannya itu. Di dua toko itu,
ia menjual pelbagai varian
dodol, seperti dodol dengan
rasa buah-buahan dan rujak
dodol.

Pria 43 tahun ini sudah mulai
membantu bisnis orang tuanya
sejak tamat dari bangku SMA
pada tahun 1989. Tapi, baru
tahun 2005 ia memegang
tampuk kepemimpinan di
perusahaan keluarga itu.

Saat mulai dikendalikannya,
usaha warisan orang tua ini
memiliki kelemahan di bidang
pemasaran. Ketika itu, Dodol
Pusaka hanya dipasarkan di
wilayah Garut. Namun, setelah
beberapa tahun dikelola Hinda,
wilayah pemasarannya meluas
hingga ke Jakarta, Bandung,
Jawa Timur, Jawa Tengah, dan
Kalimantan.

Kebanyakan, konsumennya
merupakan pedagang makanan
di daerahnya masing-masing.
Biasanya, mereka menjual lagi
dodol buatannya dengan harga
Rp 30.000 hingga Rp 60.000
per kotak.

Menurut Hinda, pelanggannya
di Kalimantan ada yang
memasok dodolnya ke beberapa
pusat perbelanjaan. Sementara
pelanggannya di Jawa Timur ada
yang memasok ke toko oleh-
oleh di beberapa tempat wisata.

Hinda Japar sudah ikut
membantu kedua orang tuanya
mengelola usaha pembuatan
dodol sejak masih duduk di
bangku sekolah dasar (SD).

Tepatnya sejak tahun 1970-an.
“Saya hanya bertugas
membantu produksi di pabrik
kecil milik orang tua,” katanya.
Sebagai anak pertama di
keluarganya, Hinda memang
dipersiapkan untuk meneruskan
bisnis orang tuanya ini. Di
tahun 1970-an itu, menurut
Hinda, bisnis dodol Pusaka
milik orang tuanya masih skala
kecil.

Baru di tahun 1990-an, merek
dodol Pusaka dikenal oleh
masyarakat Jawa Barat. Sejak
saat itu, dodol Pusaka
diproduksi dalam jumlah besar.

Makanya, ketika lulus sekolah
menengah atas (SMA) pada
1989, Hinda memutuskan untuk
tidak melanjutkan sekolah. Ia
memilih fokus membantu orang
tuanya membesarkan usaha.

Oleh orang tuanya, ia diberi
tugas mengurus produksi dan
pemasaran dodol Pusaka. Pada
tahun 2005, usaha dodol ini
baru diwariskan ke Hinda.
Langkah pertama yang
dilakukannya saat menerima
usaha ini adalah memperkuat
produksi. “Saat itu saya
langsung membangun pabrik
sendiri,” ujarnya.

Hinda sempat mengalami
kekurangan dana untuk
membangun pabrik. Pasalnya, ia
butuh pabrik skala besar yang
bisa memproduksi dodol dalam
jumlah banyak. Selain biaya
buat membangun pabrik, ia juga
perlu biaya lumayan besar buat
membeli tanah.

Untungnya, kekurangan dana
bisa tutup dari pinjaman dari
bank. “Karena usaha orang tua
saya ini sudah terkenal, bank
percaya saja meminjamkan uang
kepada saya,” ucapnya.
Kini, pabrik barunya itu mampu
memproduksi dodol sebanyak 1
ton per hari. Setelah pendirian
pabrik selesai, ia terus mencari
strategi untuk mengembangkan
pemasaran dodol Pusaka.

Salah satunya dengan rajin
mengikuti pameran kuliner di
Jakarta. Dari pameran ini,
produk dodolnya semakin
dikenal luas. Selain di Jawa
Barat, ia sekarang sering
mendapat pesanan dari daerah-
daerah.
Hingga saat ini, Hinda terus
berupaya untuk memperluas
pemasaran dodol Pusaka.

Menurutnya, tidak cukup hanya
mengandalkan penjualan dari
toko. Soalnya, penjualan toko
sangat bergantung kepada
musim liburan.“Biasanya baru
ramai pembeli kalau libur
sekolah dan banyak yang
berkunjung ke Garut saja,”
katanya.

Apalagi, sekarang di Garut
semakin banyak kompetitor di
bidang usaha yang sama.
Bahkan, di daerahnya itu kini
banyak muncul produsen dodol
dengan kualitas rendah yang
merusak pasar.

Sukses di bisnis dodol Garut
dengan omzet ratusan juta, tak
membuat Hinda Japar cepat
puas. Ia masih berambisi untuk
terus membesarkan usaha
pembuatan dodol Garut
peninggalan orang tuanya itu.

Hinda mengaku, ingin sekali
mengekspor produk dodol
Garut merek Pusaka buatannya
ke luar negeri. Ia menargetkan,
rencana ekspor itu bisa
terwujud tahun ini juga. Hinda
mengaku, saat masih menjadi
mitra binaan PT Krakatau Steel
pernah mengekspor dodol
Pusaka ke Dubai, Uni Emirat
Arab.

Ekspor ke Dubai itu berlangsung
sekitar tahun 2000-an. Namun,
ekspor terpaksa dihentikan
karena keterbatasan
manajemen. Pengalaman itu
juga yang mendorongnya untuk
mencoba kembali melakukan
ekspor.
Ia optmistis, keinginan untuk
ekspor tahun ini bisa
terealisasi. “Soalnya, sekarang
ini saya sudah mendapatkan
satu calon buyer dari
Singapura,” katanya.

Namun, rencana ekspor ini
bukannya tanpa halangan. Salah
satunya di bidang kemasan.
Untuk ekspor diperlukan
kualitas kemasan agak bagus.
Namun, biayanya tentu besar.
Nah, ia khawatir ongkos
produksi bakal membengkak.

Makanya, sekarang ia sedang
mencari cara untuk
menurunkan ongkos produksi
ini. Tidak hanya itu, ia juga
masih merasa perlu melakukan
inovasi produk. Menurutnya,
varian dodol Pusaka masih
kurang beragam. Sejak
meluncurkan varian rujak dodol
tahun lalu, ia belum
menemukan lagi varian baru
untuk dikembangkan.

Sampai saat ini ia masih terus
berusaha menemukan resep
baru untuk produk dodolnya
tersebut. Lantaran perhatiannya
masih terfokus kepada usaha
dodolnya, ia mengaku belum
berencana merambah bisnis
lain.

Bagi Hinda, bisnis dodol sendiri
penuh dengan tantangan.
Selama mengelola usaha ini, ia
pernah beberapa kali dirugikan
oleh agen, terutama agen-agen
kecil.

Soalnya, mereka ini sering telat
melakukan pembayaran.
Bahkan, ada juga yang tidak
melakukan pembayaran sama
sekali. Padahal, produk sudah
terlanjur dikirim.

Agen besar juga pernah mangkir
dari kewajiban membayar. Hal
itu pernah dilakukan agen besar
di wilayah Surabaya, Jawa Timur
dan Cianjur, Jawa Barat. “Alasan
mereka saat itu sudah bangkrut,
sehingga tidak memiliki uang
lagi untuk membayar saya,”
ujarnya.

Kini, Hinda lebih berhati-hati
dalam memilih agen yang akan
memasarkan produknya.
(Marantina/ Kontan)

sumber: http//bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/10/13/22152215/Hinda.Raup.Omzet.Rp.400.Juta.dari.Bisnis.Dodol.Garut.

Ningsih, Sukses Butik Fesyen-nya Bermula dari Dua Potong Pakaian Kreditan

Keinginannya untuk mandiri
sedari dini, membuat
Muktiningsih cerdas membaca
berbagai peluang bisnis. Berawal
dari dua potong pakaian
kreditan, kini ia memiliki butik
megah Mega Fashion dan
sejumlah bisnis lainnya.

Sebuah foto keluarga berukuran
besar tergantung di ruang tamu di
rumahnya yang megah di Jalan
Jagalan Kediri. Mirip. Mirip sekali
dengan penyanyi Cici Paramida.
Semula saya tidak mengira bahwa
foto tersebut adalah milik sang
empunya rumah, pasangan
Muktiningsih dan Agus Purnomo
yang mengapit putri semata
wayangnya Elke.

Di depan rumahnya persis (hanya
dipisahkan gang) berdiri kokoh
butiknya Mega Fashion. Pada lantai
pertama terpajang semua produk
fesyen mulai dari pakaian, tas,
asesoris, parfum dan produk-
produk mode lainnya. Di lantai dua
terhampar ruangan untuk gym,
pelatihan dansa dan ruangan
layanan perawatan kecantikan serta
kesehatan Roemah Cantik Langsing.
Tak pernah ada yang mengira bisnis
sebesar itu bermula dari dua
potong pakaian.

Muktiningsih, yang akrab disapa
Mbak Ning oleh para pelanggannya,
memulai usaha ketika duduk di
bangku SMA di Kediri. Awalnya ia
membeli dua potong pakaian dari
orangtua temannya yang berjualan
pakaian. “Waktu saya pakai ada
teman lain yang tertarik. Saat itu
pikiran saya langsung bekerja,
kenapa saya tidak berbisnis jual beli
pakaian saja,” ungkap Ning.

Kemampuan menangkap peluang ini
tidak terlepas dari rekaman di
bawah sadar Ning yang diprogram
secara berulang-ulang melalui
pesan-pesan yang berulang-ulang
juga dari orangtuanya. Sebagai anak
pertama dari empat bersaudara di
keluarganya Ning selalu menerima
pesan dari orangtuanya,” Meskipun
kamu seorang wanita, kamu harus
mandiri sehingga suatu saat ketika
kamu membantu adik-adikmu kamu
tidak perlu merepotkan suami
kamu,” ulang Ning tentang pesan
orangtuanya.

Pemograman bahwa sadar tentang
kemandirian inilah yang membuat
Ning memutuskan untuk berjual
beli pakaian saat temannya
mengaku tertarik pakaian yang
dikenakan Ning. Ia membeli
beberapa potong pakaian dari
orangtua temannya dan menjual
lagi ke sejumlah teman lainnya.

Dari jual-beli pakaian di lingkungan
teman-teman sekolah itulah jiwa
bisnis Ning terasah. Rumah
orangtua Ning kebetulan dilewati
ribuan karyawan rokok Gudang
Garam. Pernah suatu waktu ia
melihat sejumlah karyawan antre di
depan toko sembako orangtuanya
untuk membeli keperluan sehari
hari, semisal pasta gigi, shampoo
dan sabun mandi. Ning melihat
ketidakefisienan pelayanan dari
orangtuanya sehingga banyak
pembeli yang tidak terlayani. Oleh
karena itu, Ning membuat
terobosan dengan membungkus
berbagai keperluan sehari-hari
tersebut menjadi satu paket.

Berkat terobosan itu para pembeli
dengan cepat terlayani dan
omsetnya pun membengkak karena
para konsumen tinggal mengambil
paket tanpa harus antre. Bakat
dagang Ning inilah yang
menggerakkan orangtuanya untuk
membangun toko pakaian kecil di
samping toko sembakonya.

Harga kompetitif dan mode yang
up to date adalah dua kunci dari
beberapa kunci sukses berbisnis
pakaian. Itu sebabnya Ning yang
memutuskan diri tidak melanjutkan
kuliah selepas SMA, tidak mau
kulakan pakaian di Kediri,
melainkan ke Kapasan Surabaya.
“Dengan naik kereta api, dua hari
sekali saya pergi ke Kapasan
Surabaya untuk kulakan,” tutur
Ning.

Dalam waktu singkat Ning
mendapat kepercayaan dari grosir
pakaian di Kapasan. Dengan
semakin banyaknya produk pakaian,
Ning mulai memikirkan cara
pemasarannya. Ia mulai
menciptakan reseller di lingkungan
karyawan rokok Gudang Garam.

Satu reseller bisa menghasilkan
omset Rp20 juta hingga Rp25 juta/
bulan. “Pada tahun 1989/1990 saya
memiliki sekitar 20 reseller,”
ujarnya. Berarti Ning bisa
menangguk omset Rp400 juta
hingga Rp500 juta/bulan. Itu belum
termasuk hasil penjualan dari
tokonya sendiri. “Menjelang
lebaran omset toko bisa mencapai
Rp25 juta/hari,” papar Ning.

Namun masa booming langsung
redup ketika perusahaan rokok
Gudang Garam mewajibkan
karyawannya berseragam. Untuk
mempertahankan omset—dibantu
suaminya Agus Purnomo—Ning
membeli satu toko di Pasar
Sonobetek, Kediri. Kejayaan
berjualan pakaian sempat bertahan
hingga beberapa tahun kemudian.
Tetapi ketika di Kediri menjamur
beberapa pusat perbelanjaan,
omset toko pakaian Ning di Pasar
Sonobetek turun drastis.

Di sinilah keberanian dan feeling
bisnis Ning diuji. Keberadaan
sejumlah tempat perbelanjaan di
Kediri, alih-alih menciutkan nyali
Ning, justru wanita kelahiran tahun
1969 ini mengambil langkah besar.
Ia membeli tiga ruko sekaligus di
Jalan Pattimura Kediri. Tiga ruko
tersebut direnovasi dan disatukan
menjadi Butik Mega Fashion.

Menyadari Butik Mega Fashion
tidak berada di tempat strategis,
Ning melancarkan jurus baru dalam
pemasarannya. Ia masuk dan
tergabung dalam sejumlah kegiatan
arisan. Sekalipuan ia bukan istri
dokter, arisan istri-istri dokter pun
ia ikuti. Bahkan bukan hanya arisan
yang anggotanya berlingkup di
Kediri, arisan yang berada di
Surabaya dan pesertanya tersebar
di beberapa kota ia ikuti juga.
“Sambil arisan, saya membawa
produk-produk fesyen. Itulah cara
saya memperkenalkan produk-
produk,” ujarnya.

Tetapi dengan sasaran konsumen
yang berbeda dari sebelumnya ini
membuat Ning rela bolak-balik
Jakarta-Kediri setiap minggunya
untuk kulakan. Itu sebabnya meski
ia berjualan di Kediri tetapi
barometer modenya adalah Jakarta.

“Produk butik saya tidak kalah
dengan tempat-tempat perbelanjaan
mentereng di Kediri. Ini yang
membuat konsumen saya masih
terus berdatangan meski Mega
Fashion tempatnya kurang
strategis,” ungkap Ning tentang
kiatnya mendatangkan pelanggan.

Ketika Ning memperluas usahanya
ke pelatihan aerobik, senam, dansa
dan perawatan kecantikan serta
kesehatan Roemah Cantik Langsing,
jurus mendatangkan pelanggan
dengan masuk ke sejumlah arisan
tetap dilakukan. Hasilnya “orang-
orang penting” di Jalan Doho Kediri
tercatat menjadi konsumen
setianya.

“Dalam berbisnis saya memakai
feeling. Bisnis apa yang menurut
saya prospektif langsung saya
jalankan tanpa menunda-nunda
waktu,” tutur Ning tentang kiat
bisnisnya. Pengakuan Ning sekaligus
mengungkapkan bawah sadarnya
yang sudah terinstall program
Enter, bukan Entar.
( Sukatna Panca M)

Sumber: http//pengusahaindonesia.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=95:finansial-mapan-berkat-dua-potong-pakaian-kreditan&catid=29:profil-pengusaha&Itemid=65

Kuntoro, Bisnis Lampu Hias-nya yang Beromzet Puluhan Juta Rupiah Ini Berawal dari Hobi

Jakarta – Menggeluti sebuah bisnis
tak jarang dimulai dari sebuah
hobi ataupun kesukaan seseorang.
Misalnya usaha lampu hias unik
yang ditekuni oleh Kuntoro dan
rekannya.

Berawal dari ketertarikannya
terhadap interior dan lampu hias,
Kuntoro selepas bekerja dari
Amerika Serikat (AS) kemudian
mendirikan usaha lampu dekorasi
buatan tangan yang unik.

“Karena saya suka interior dan
bisanya kalau Natal saya suka yang
warna-warni, dulu waktu saya di
Amerika sering ada acara Natal
ramai meriah jadi saya dasarnya
beli lampu dari luar habis itu
kenapa kok nggak bikin sendiri di
Indonesia. Sudah saya bikin saja,”
ungkapnya ketika berbicang
dengan detikFinance beberapa
waktu lalu.

Usaha yang dijalani Kuntoro
bersama rekannya semenjak April
2009 ini, menjual produk lampu
hias berupa lampu tidur, lampu
gantung, dan lampu korden
dengan membidik pasar untuk
memenuhi keperluan anak-anak
dan home dekor. Sedangkan untuk
penjualannya sendiri dilakukan
melalui offline maupun online.
“Ada online, ada offline ada
reseller juga. Serta galeri-galeri
dari luar (dalam dan luar negeri),”
tambahnya.

Pemuda yang lulusan sekolah
pelayaran di Cikarang dan sempat
bekerja 5 tahun di AS. Saat ini
usahanya telah menghasilkan
omzet penjualan mencapai Rp 40
juta per bulan dengan harga
produknya berkisar Rp 10 ribu
sampai Rp 7 juta.

“Dari Rp 10 ribu sampai paling
mahal kita bikin pohon natal
seharga Rp 7 juta,” sambungnya.
Kuntoro juga menunturkan, ketika
memulai usaha, ia hanya bekerja
bersama seorang rekannya dari
proses produksi sampai penjualan.

Tetapi saat ini ia telah
mempekerjakan 20 orang
karyawan yang merupakan ibu-ibu
di sekitar kantornya di Surabaya
untuk terlibat dalam proses
produksi pembuatan lampu hias
ini.

“Dulu dua orang, saya dan partner
saya. Kerja sendiri bikin sendiri
serta dijual sendiri, sekarang tim
ini di kantor saya itu ada 9 orang
dan perajinnya ada 20 orang. Itu
semuanya ibu-ibu yang dirumah
nggak kerja jadi mereka
diberdayakan, diajari kemudian
dikasih bahan agar mereka bisa
menghasilkan sesuatu lah,”
tambahnya.

Sebelum memfokuskan pasarnya
ke dalam negeri, Kuntoro
mengatakan jika di awal usaha,
produknya lebih banyak ditujukan
untuk memenuhi pasar ekspor
daripada pasar dalam negeri.
Kemudian dialihkan ke dalam
negeri karena persyaratan yang
begitu banyak untuk kebutuhan
pasar ekspor.

“Dua tahun lalau kita sempat
ekspor, cuma sekarang kita
membidik lokal karena lokal
banyak sekali minatnya jadi kita
nggak main ekspor karena ekspor
permintaan banyak bermacam-
macam perlu elektrik dan
sertifikatnya jadi kita nggak mau
pecah perhatian kesana. Kita
fokusnya ke lokal ke anak-anak,”
sambungnya.

Usaha yang dijalani oleh Kuntoro
ini bukannya tanpa kendala.
Banyak sekali kendala yang
dihadapinya, mulai dari ‘gesekan-
gesekan’ sampai sulitnya mengajari
ibu-ibu agar terampil membuat
produk.
“Banyak, ada kendala-kendala, ada
gesekan kanan kiri, mulai usaha
memang nggak gampang tapi
kuncinya terus pantang menyerah
saja, dalam satu masalah pasti ada
jalan keluarnya,” sebutnya.

Kuntoro juga tidak pelit berbagai
kunci keberhasilannya. Ia
mengatakan kunci keberhasilannya
yaitu terus berinovasi dan
membentuk tim yang solid. Selain
itu kedepannya dia berencana
membukan pabrik aksesoris Natal.

“Kedepannya mau buka pabrik
aksesoris natal di Surabaya jadi
nanti fokus ke Natal aja soalnya
saya lihat di Indonesia belum
ada,” tutupnya.

Jika anda tertarik terhadap produk
dari Light Craft ini anda bisa
datang ke:
Jalan Jaya A2 No. 66 Surabaya
atau mengunjungi http://www.light-
craft.blogspot.com

( Feby Dwi Sutianto)

sumber: http://m.detik.com/finance/read/2012/05/14/125913/1916558/480/