Monthly Archives: December 2012

Dengan Inovasi, Rima Sukses Mengembangkan Bisnis Salon Warisan Menjadi Banyak Gerai

Kebutuhan wanita untuk tampil
cantik tidak mengenal hari libur.
Demikian prinsip Rima Wira Sakti
dalam mengembangkan Itje Her
Hair and Beauty Salon. Berkat moto
itu, Rima mengembangkan usaha
warisan menjadi lima gerai salon
modern.

Rima berkenalan dengan usaha
salon sejak berstatus siswa SMP.
Sebagai satu-satunya anak
perempuan dari Itje Herdjadiono,
pendiri Itje Her Hair, Rima kebagian
tanggung jawab untuk mengurusi
keuangan dan administrasi salon
ibundanya.
Itje, sang Ibunda Rima, merintis
usaha salon di tahun 1980-an,
dengan memanfaatkan satu ruangan
di rumahnya. Kesederhanaan salon
Itje saat itu terlihat dari minimnya
perabot yang tersedia, hanya empat
meja, kursi tunggu pelanggan, serta
satu kaca.

Saat pertama kali beroperasi, Itje
sendiri yang langsung mengerjakan
seluruh perawatan bagi konsumen,
seperti potong rambut, sanggul,
make up, hingga creambath.
Konsep Itje Her Hair, yang lokasi
pertamanya di Cilandak itu, adalah
salon rumahan khusus perempuan
dan tidak tutup di hari libur.
Konsep sederhana yang diterapkan
sang ibu, menurut Rima,
merupakan kunci sukses yang masih
ia pegang hingga sekarang. Ia
menjelaskan, salon cuma menyasar
perempuan, sesuai dengan
permintaan Herdjadiono, suami
Itje. Waktu Itje yang lowong
memungkinkannya untuk
mengoperasikan salon, di hari libur
sekali pun.
Selain mengurus administrasi dan
uang, tentu, Rima juga mendapat
warisan ilmu tata rias dari sang ibu.

Melihat minat sang anak, Itje dan
suami lantas mengarahkan Rima
sebagai penerus usaha salon.
Langkah yang disiapkan adalah
menyekolahkan sang putri ke
Fakultas Ekonomi Jurusan
Manajemen Universitas Indonesia.

Ketika masih berada di tangan
generasi pertama, Itje Her Hair
telah berkembang menjadi dua
salon, yang masih berkonsep
rumahan. Tapi, jumlah karyawan
sudah sekitar 20 orang. “Salon
kedua menempati rumah warisan
nenek,” tutur Rima.

Rima baru memegang kendali
pengelolaan Itje Her Hair setelah
lulus kuliah, tahun 1999. Melihat
jam magang Rima sebagai pengelola
salon yang sudah panjang, Itje yakin
sang putri mampu, kendati baru
lulus kuliah. Rima sendiri sudah tak
sabar mengubah salon, yang saat
itu sudah berumur 10 tahunan itu,
menjadi salon modern.

Tanpa iklan

Agenda modernisasi salon yang
digulirkan perempuan berusia 36
tahun itu adalah memisahkan
pengeluaran kedua salon, dari
pengeluaran pribadi dan keluarga.
Rima menilai, penyatuan “dapur”
salon dan keluarga sebagai kendala
ekspansi bisnis salon.
Jika kedua Itje Her Hair di masa
ibundanya berdiri di daerah
perumahan, Rima berhasrat
membangun salon di daerah bisnis.

Tiga salon yang dibidani Rima
terletak di daerah bisnis: Cipete
Raya dan Bintaro Raya, Jakarta
Selatan.
Kedua salon lama tidak luput dari
renovasi. Rima mengubah bangunan
salon menjadi semacam ruko
berlantai empat. Untuk ekspansi
itu, ia harus membeli dua rumah
tetangganya serta sisa lahan yang
diwariskan sang nenek.

Rima juga melakukan regenerasi
karyawan untuk mengimbangi bisnis
yang terus berlanjut. Sebagai
pelatih karyawan baru, Rima
meminta sang ibunda turun gunung,
serta seorang karyawan yang sudah
bekerja selama 20 tahun.

Untuk menjadi salon modern, Itje
Her Hair tentu membutuhkan
standar layanan. Bentuk perawatan
yang ditawarkan pun bertambah.

Itje Her Hair kini menawarkan
aneka perawatan, dari kepala
sampai kaki, baik yang klasik
maupun modern. Perawatan klasik
itu maksudnya seperti cuci dan
potong rambut serta creambath.
Adapun perawatan modern seperti
manicure, pedicure, pewarnaan
rambut, pijat, lulur, dan cukur bulu
seluruh badan, totok aura, atau rias
pengantin. “Ada puluhan treatment
saat ini. Tarif mulai dari Rp 25.000
sampai ratusan ribu,” tambah Rima.

Modernisasi tak berarti Rima
melupakan kunci sukses salon, yakni
buka lebih awal, tutup lebih akhir,
dan buka saat hari libur. Itje Her
Hair beroperasi sejak jam tujuh pagi
hingga delapan malam, dan hanya
libur di hari pertama dan kedua
Lebaran.

Konsep salon khusus untuk wanita
dan mempergunakan karyawan
kecantikan wanita juga tetap
dipertahankan. Rima beralasan,
masih banyak wanita yang merasa
lebih nyaman jika mendapat
perawatan dari sesama wanita juga.
“Masih banyak yang risih kalau
harus campur satu ruangan dengan
tamu pria,” ujar wanita yang
memiliki tiga putra ini.

Itje Her Hair, yang kini membidik
masyarakat kelas menengah ke atas,
memiliki rata-rata pengunjung
5.000 orang per minggu di kelima
gerainya. Jumlah pengunjung salon
Itje Her Hair, sejak di tangan Rima,
meningkat hingga 50 kali lipat.
Padahal, selama hampir 20 tahun
beroperasi, Itje Her Hair cuma
mengandalkan promosi dari mulut
ke mulut. Salon tersebut cuma
sekali beriklan di media masa.
“Waktu itu saya mendapat jatah
beriklan satu halaman penuh di
Femina dan Gadis, sebagai sponsor
tata rias untuk program Wajah
Femina dan Gadis Sampul,” tutur
Itje.

Terbukti, kan, bisnis estafet dari
orang tua bisa dikembangkan
dengan ide-ide baru?( Melati Amaya Dori)

sumber: http://mobile.kontan.co.id/news/rima-mencampur-jurus-modern-dan-resep-sederhana/2013/01/21

Teddy, Pengusaha Muda Sukses Pionir Industri Bihun Jagung

KOMPAS.com – Bihun jagung,
mungkin,  hanya produk
sederhana. Namun, ternyata,
pengolah produk ini mampu
meraih sukses besar. Adalah
Teddy Tjokrosaputro tokoh
yang berhasil mengenalkan
produk olahan sederhana ini ke
khalayak di Tanah Air.
Jatuh tak jauh dari pohonnya.

Demikian pula dengan kisah
perjalanan bisnis Teddy
Tjokrosaputro, Direktur Utama
PT Subafood Pangan Jaya. Kakek
dan neneknya adalah pengusaha
batik ternama bermerek Batik
Keris. Sebagai generasi ketiga,
ia memilih tidak melanjutkan
usaha tekstil meski tetap
mewarisi darah bisnis dari
kakek dan neneknya. Teddy
lebih memilih menggeluti bisnis
makanan ketimbang batik.

Melalui PT Subafood Pangan
Jaya, ia berhasil menjadi
produsen bihun jagung yang
sukses. “Produk bihun jagung
ini merupakan yang pertama di
Indonesia, bahkan di dunia.
Boleh dibilang, kami pionir di
bisnis ini,” katanya. Tak heran
bila Subafood berhasil meraih
beberapa penghargaan berkat
inovasi produk pangan ini.

Bukan itu saja, setiap tahun,
kapasitas produksi sekaligus
penjualan bihun jagung selalu
naik 100 persen. Saat ini,
kapasitas produksi Subafood
sebanyak 1.200 ton per bulan
atau sekitar 14.400 ton per
tahun. Adapun market share
bihun jagung Subafood sudah
20 persen. “Dengan harga
eceran tertinggi (HET) rata-rata
Rp 11.000 per kilogram, bihun
jagung kami bisa menembus
pasar dan diminati,” kata Teddy.
Bihun ini pun sudah
didistribusikan ke 25 provinsi
dengan lebih dari 30.000 gerai.

Uniknya, Teddy justru
mengawali karier bisnisnya
bidang properti, bukan
makanan. Setelah menyelesaikan
pendidikan di University of
Southern California, Los
Angeles, Amerika Serikat, tahun
1995, dia pulang ke Indonesia
dan membantu orang tuanya
mengurus bisnis keluarga di
bidang properti. “Saya belajar
menjalankan bisnis melalui
perusahaan keluarga sekitar dua
hingga tiga tahun,” kata suami
Shelly Verywan ini.

Saat krisis moneter 1997–1998,
perusahaan keluarga Teddy
terpukul. “Waktu itu, hampir
semua bisnis gulung tikar,
termasuk bisnis properti,”
katanya. Meski begitu, ia tidak
kapok menjajal bisnis properti.

Sekitar tahun 1999, lelaki
kelahiran Solo, Jawa Tengah, 18
Agustus 1974 ini kembali
merintis usaha di bidang
properti. Kali ini, dia
menjalankan usaha secara
pribadi. Dengan mengibarkan
bendera PT Andalan
Propertindo, Teddy menggarap
sebuah proyek trade center di
Solo, Jawa Tengah. “Isi trade
center ini rata-rata pedagang
batik. Usaha ini masih berjalan
hingga sekarang,” kata bapak
dua anak ini.

Ternyata, Teddy tidak puas
hanya memiliki bisnis di bidang
properti. Tahun 2004, ia
merambah bisnis makanan
dengan mendirikan PT Subafood
Pangan Jaya. Pilihannya jatuh
pada usaha pengolahan jagung.
“Saya memilih jagung karena
merupakan tanaman pangan
kedua setelah beras. Itu saja.
Namun, saya juga berpikir,
jagung ini cocoknya diolah jadi
apa. Tidak mungkin, kan, kita
jualan jagung bakar,” jelasnya.

Lantas, Teddy mengumpulkan
tim untuk memikirkan olahan
jagung yang bisa disukai
masyarakat. Akhirnya, tercetus
ide untuk mengolah pati jagung
menjadi bihun. “Masyarakat kita
sudah dekat dengan olahan
pangan jenis mi ini. Nah,
dengan bihun jagung ini, kami
pikir bisa terserap masyarakat
dengan mudah,” katanya.
Selama setahun, Teddy bersama
tim melakukan penelitian.

Butuh edukasi

Akhirnya berdirilah pabrik
olahan jagung di daerah
Tangerang, Banten, pada bulan
Juni 2005. Tahun 2006,
Subafood mulai memproduksi
bihun jagung dengan kapasitas
100 ton per bulan. “Tidak
semulus yang dibayangkan.

Kami cukup bekerja keras untuk
melakukan edukasi ke
masyarakat. Maklum, waktu itu,
kan, belum ada produk bihun
jagung di pasaran. Yang ada
bihun beras,” jelasnya. Seiring
dengan pengenalan masyarakat
terhadap produk, kapasitas dan
penyerapan bihun jagung
Subafood terus meningkat
setiap tahun.

Teddy bilang, sejauh ini,
usahanya itu banyak mengalami
kendala. “Harga jagung cukup
fluktuatif,” katanya. Bila harga
sedang tinggi, tentu kondisi ini
menyusahkan lantaran bihun
jagung merupakan produk yang
membidik semua kalangan.
Harga jualnya tidak mungkin
tinggi. Terkadang, Subafood
juga mengalami kendala
pasokan bahan baku yang
kurang rutin. Tapi, Teddy
bilang, persoalan itu masih bisa
dihadapi.

Dalam perjalanannya, Teddy
tidak hanya mengandalkan
bihun jagung. Dia mulai
melakukan inovasi produk.
Antara lain dengan
memunculkan produk bihun
jagung instan aneka rasa,
sorgum, mi kering, dan
makaroni jagung. Selain itu, ia
juga mulai memproduksi olahan
di luar bahan baku jagung,
seperti terasi dan merica
bubuk.

Bihun jagung yang diproduksi
Subafood juga mengundang
banyak pengekor. “Bila tahun
2006 hanya ada dua produsen
bihun jagung, sekarang sudah
ada 23 produsen,” jelas Teddy.
Teddy pun tak tinggal diam. Dia
terus melakukan ekspansi.

Selain memunculkan produk
baru, Subafood juga
memperluas pasar. Mulai tahun
2010, Subafood mengekspor
aneka produk olahan dari
jagung ke Belanda, Malaysia,
dan terakhir ke Brunei
Darussalam. (Fransiska
Firlana/ Kontan )

sumber: bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/12/14/15184382/teddy..cucu.pengusaha.batik.yang.sukses.di.bihun.jagung

Suryadi, Mantan Penjaga Toko yang Sukses di Bisnis Pakaian Dalam ‘Wacoal’

KOMPAS.com – Jalan Suryadi Sasmita menuju sukses terbilang panjang. Maklumlah, resep sukses Suryadi terbilang sederhana: kerja, kerja, dan kerja. Ketekunan Suryadi selama puluhan tahun tidak sia- sia jika melihat popularitas merek pakaian dalam Wacoal. Di balik nama besar pakaian dalam wanita ini ada kerja keras Suryadi Sasmita. Memulai usaha dari nol, Suryadi kini menikmati penjualan Wacoal yang selalu naik 30 persen per tahun. Wacoal kini memiliki lebih dari 50 gerai. Angka itu belum termasuk ratusan gerai Wacoal yang tersebar di berbagai pusat perbelanjaan. “Kalau soal aset, sudah tentu bertambah bila dibandingkan dengan awal menjalankan usaha,” kata Suryadi, yang menyandang status sebagai Presiden Direktur PT Indonesia Wacoal. Ayah dari tiga orang ini kini memiliki sepuluh perusahaan di bidang garmen. Namun, kesuksesan itu tidak datang dengan mudah. Maklum, pria kelahiran Jakarta 12 April 1948 ini berasal dari keluarga yang kurang mampu. Sejak duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA), Suryadi menjadi tulang punggung keluarga. Sebagai anak lelaki tertua, ia harus mengurus kelima adiknya. Faktor itulah yang menuntutnya untuk bekerja keras. Bersama sang ayah, dia membuka usaha konveksi tas. Sayang, usaha itu harus gulung tikar karena bangkrut. Lulus SMA, Suryadi bekerja di toko tekstil di Pasar Pagi, Jakarta, sebagai penjaga toko. Untuk mendapatkan penghasilan lebih, ia bekerja hingga dua sif. Sikap kerja kerasnya ini menarik perhatian bosnya. Suryadi pun dikuliahkan di Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara. Sambil kuliah, ia tetap bekerja. Bahkan lebih keras bekerja, akibatnya dia tidak berkonsentrasi untuk kuliah. Baru enam bulan duduk di bangku kuliah, Suryadi memilih keluar dan fokus bekerja. Maklum, ia harus membantu menghidupi keluarganya. Dari hasil bekerja di toko, Suryadi mampu membeli toko kecil di daerah Jembatan Lima. Toko itu dikelola oleh anggota keluarganya, sementara Suryadi tetap bekerja di Pasar Pagi. Setelah empat tahun bekerja sebagai penjaga toko, Suryadi pindah jalur menjadi karyawan di pabrik perusahaan tekstil asal Jepang, C. Itoh. Di perusahaan tekstil kelas dunia itulah, Suryadi mengawali karier sebagai pengantar dokumen. “Saya merasa gaji saya terlalu besar kalau hanya bekerja sebagai pengantar dokumen. Saya pun memberanikan diri menghadap ke pimpinan perusahaan dan meminta pekerjaan saya ditambahi. Saya minta diizinkan berjualan benang,” tutur dia. Permintaan Suryadi dipenuhi sang atasan. Ia pun merangkap tugas. Dari pagi hingga sore, ia menjadi pengantar dokumen. Begitu matahari beranjak ke barat hingga malam hari, Suryadi menjadi salesman . “Target penjualan setahun bisa saya penuhi dalam setengah tahun. Saya pun diangkat menjadi salesman ,” tutur dia. Bersamaan dengan karier yang melesat, jaringan Suryadi kian luas. Sekitar tahun 1976, Suryadi mampu mendirikan perusahaan trading bernama Moritex Trading Company. Tahun berikutnya, ia membuka usaha rajut (knitting ) bernama Moritex Knitting. “Keduanya saya kelola bersamaan dan hanya saya cek di sore hari. Selama pagi hingga sore, saya masih bekerja sebagai sales representative di C. Itoh,” kenang dia. Menjalin pertemanan Baru setelah delapan tahun bekerja di C.Itoh, Suryadi mundur dan fokus ke perusahaannya. “Tiba-tiba, ada pelanggan saya yang menawarkan usaha lain. Pada 1980, dia menawarkan lisensi Wacoal yang diperolehnya,” ujar Suryadi. Menjadi salesman merupakan kesempatan Suryadi membuka jaringan yang seluas-luasnya. “Prinsip saya, sales itu jangan hanya berdagang yang ada di kepala. Tapi, bagaimana memberikan informasi produk yang benar ke calon klien dan membangun pertemanan. Kalau mereka merasa puas, pasti akan pesan,” kata dia. Dari jaringan itu, Suryadi dipercaya seorang pelanggannya untuk mengelola perusahaan pakaian dalam wanita asal Jepang bermerek Wacoal. “Dia menilai saya pekerja keras, jadi dia percaya jika saya yang pegang lisensi Wacoal,” ucapnya. Ia pun menutup usaha trading dan knitting, serta fokus mengelola Wacoal. “Ternyata tidak mudah. Dalam lima tahun pertama, saya rugi,” kenangnya. Hal itu dikarenakan sulitnya memasarkan produk pakaian dalam yang harganya jauh lebih mahal daripada harga produk sejenis yang sudah ada. Apalagi, saat itu, belum banyak department store. Suryadi pun mengerahkan keluarga dan jaringannya untuk mempromosikan Wacoal. Nama Wacoal perlahan terdengar. Di tahun ke enam, Wacoal akhirnya meraup untung. “Sepuluh tahun pertama, kami harus kerja keras memperkenalkan Wacoal. Hingga akhirnya di sepuluh tahun kedua, Wacoal mampu dipasarkan secara nasional,” terang Suryadi. Memasuki dekade ketiga atau sekitar tahun 2000, Wacoal buatan Indonesia masuk ke pasar luar negeri. Dari pabrik seluas 2,7 ha, produk Wacoal kini mengalir ke sembilan negara. Masing-masing Singapura, Malaysia, Filipina, Vietnam, Hong Kong, Taiwan, Jepang, China, dan Amerika Serikat. (Fransiska Firlana/ Kontan ) Editor: Erlangga Djumena sumber: bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/12/19/16262998/Suryadi.Mantan.Penjaga.Toko.yang.Sukses.di.Bra

Kodir, Profil Pengusaha Sukses dari Usaha Cemilan Konghui yang Beromzet 3 Jt/Hari

KOMPAS.com – Kalau Aceng
yang ini bukan nama Bupati
Garut yang sedang bermasalah.

Aceng yang ini adalah profil
pekerja keras yang berjuang
dari bawah dan akhirnya sukses
dalam wirausaha di bisnis ubi
kayu atau singkong.

Aceng Kodir menganggap
singkong adalah jalan hidupnya.
Jika dahulu singkong hanya
dikenal sebagai makanan orang
kampung, tidak demikian saat
ini. Beragam makanan olahan
berbahan dasar singkong justru
disukai orang kota yang
modern.

Seperti makanan olahan
berbahan singkong yang
diciptakan Aceng Kodir, warga
Gang Pancatengah I, Batujajar
Kabupaten Bandung Barat.

Makanan olahan yang dia namai
crispy singkong dan crispy
konghui itu laku keras di
pasaran. Bahkan, pria 42 tahun
itu mampu meraup omzet tak
kurang dari Rp 3 juta per hari
dari penjualan kedua jenis
makanan tersebut.
Crispy singkong dan crispy
konghui buatan Aceng
merupakan makanan ringan.

Crispy singkong berbahan dasar
singkong, sementara crispy
konghui merupakan perpaduan
antara singkong dan hui (ubi,
dalam bahasa Indonesia). Ubi
yang dipilih adalah ubi
berwarna ungu.

Ditemui dalam acara UKM di
Kampus Unpad, Jalan Dipati
Ukur, Bandung, pekan lalu,
Aceng menuturkan jika
bisnisnya sudah dimulai sejak
tiga tahun lalu.

Ketika itu, dia merasa prihatin
terhadap petani singkong yang
ada di sekitar tempat
tinggalnya. Meski bertahun-
tahun menanam singkong,
petani tidak pernah menikmati
hasilnya lantaran harga jual
singkong sangat murah, tak
lebih dari Rp 400 per kilogram.
“Saya berpikir bagaimana agar
petani singkong tidak terpuruk,
dan yang paling penting adalah
agar mereka tetap semangat
menanam singkong karena
singkongnya terjual dengan
harga wajar,” ujar Aceng.

Aceng pun memutar otak.
Tercetuslah ide membuat
singkong crispy. Dengan modal
Rp 200.000, ia membeli
beberapa kilogram singkong
dari tetangga. Tak ketinggalan,
bahan untuk singkong crispy
pun dibelinya, termasuk minyak
goreng. Sementara alat untuk
mengepres adonan singkong
agar benar-benar tipis,
digunakan alat pembuatan
molen.

Aceng mengaku, ketika pertama
kali membuat crispy singkong,
dia tidak langsung menjualnya.
Dia tawarkan produk buatannya
itu kepada tetangga, dan
belakangan ke Ketua RT, RW,
Kepala Desa, Camat, sampai
Bupati. Dari situlah, produknya
dikenal dan disukai banyak
orang. Akhirnya Aceng pun
menjual crispy singkong
buatannya.

Setelah crispy singkong banyak
yang minat, Aceng membuat
crispy konghui. Penganan
tersebut terbuat dari singkong
dan ubi ungu. Ubi didapatnya
dari daerah Jawa Timur, namun
belakangan dirinya
membudidayakan ubi ungu di
kampungnya.

Kedua makanan ringan buatan
Aceng diterima pasar dengan
baik. Bahkan pasarnya adalah
wisatawan dalam maupun luar
negeri. Kedua camilan itu pun
dijual di Kartikasari dan Circle
K. Sebungkus crispy singkong
dijual Rp 19.000, sedangkan
crispy konghui dibanderol Rp
20.000. Satu bungkus isi bersih
250 gram.

Sehari, Aceng bisa membuat
250 bungkus crispy singkong
dan crispy konghui. Dia
menjualnya Rp 12.500 per
bungkus ke reseller, atau jika
dihitung omzetnya Rp 3 juta
per hari.

Untuk peralatan, Aceng
mengaku tidak kesulitan.
Demikian pula bahan baku dan
tenaga perajin. Areal
perkebunan singkong terhampar
luas di daerahnya. Aceng
membeli singkong dari petani
Rp 1.000 per kilogram.
Sementara sejumlah tetangga
menjadi pekerja pembuatan
crispy singkong dan konghui
buatannya, di rumah produksi
bernama Rumah Crispy. ( Ida
Romlah/Tribun Jabar)

sumber: m.kompas.com/news/read/2012/12/21/14580183/Singkong.Crispy.Aceng.Beromzet.Rp.3.Juta.Per.hari–bisniskeuangan