Monthly Archives: January 2013

Hery dan Retno, Pasutri Kreatif yang Mengubah Limbah Kayu Menjadi Bisnis Kerajinan Beromzet Puluhan Juta Rupiah

Jakarta – Sepak terjang pasangan
suami istri (Pasutri) asal Malang,
Hery dan Retno patut menjadi
inspirasi bagi pasangan lainnya.
Pasutri ini sukses menjalankan
bisnis, pengolahan sampah kayu,
mungkin bagi banyak orang benda
tersebut tak bernilai.

Hery dan Retno merupakan pasutri
asal Malang, Jawa Timur yang
mampu memaksimalkan bahan
kayu bekas pabrik mebel dan
furnitur yang tidak terpakai
menjadi desain-desain hiasan kayu
yang unik seperti tempat pensil,
tempat gulungan tisu, boneka kayu
dan gantungan baju. Namun
proses keduanya menjadi
pengusaha dengan omset Rp 30-50
juta/bulan, dilewati dengan kerja
keras.

“Saya memulai bisnis ini tahun
1992 dimulai dari limbah pabrik
kayu perusahaan mebel yang tidak
terpakai. Kemudian kita desain dan
kita pasarkan,” ungkap Retno
kepada detikFinance di JCC
Senayan Jakarta, Kamis
(13/12/2012).

Retno menuturkankan ketika
memulai bisnisnya pertama kali,
tidak membutuhkan modal.
Awalnya usahanya pun masih
belum berkembang karena
ketidaktahuan mereka pada produk
kayu yang disukai masyarakat.

“Saya nggak modal karena pakai
limbah pabrik itu dan pengerjaan
kita menggunakan gergaji pabrik di
Malang. Dahulu kita masih
melihat-lihat dan laku di pasaran
tidak. acara pertama Expo
pembangunan di Malang kita
pamerkan produk kita. Dari acara
itu kita mendapat masukan bentuk
produk yang laku dan bermanfaat
dipasaran. Tahun 1992 omset
masih Rp 100.000 itupun jika ada
acara saja,” tuturnya.
Dari pengalaman itu, Hery dan
Retno kemudian mengubah desain
pada produk kayu yang dibuatnya.

Tahun 1995, mereka
menambahkan desain buah-
buahan seperti strawberry dan
terus menambah desain pada
tahun yang sama. Selain itu
perluasan pasar kembali dilakukan
walaupun belum masih lingkup
Kota Malang Jawa Timur.

“Lama-lama kita tahu pasarnya,
kemudian kita beli kayu
gelondongan jenis Pinus atas izin
Perhutani dan hasil produksinya
saya titipkan ke toko-toko dan
koperasi. Tahun 1995 kita
memberikan motif strawberry dan
tahun berikutnya kita terus
menambah model,” imbuhnya.
Masa puncak bisnisnya terjadi
pada tahun 2003, produk Hery
dan Retno dilirik pasar Malaysia
dan Jamaika. Akhirnya inilah
pengalaman mereka untuk
melakukan ekspor dan hasilnya
negatif. Menurutnya tidak ada
kesepakatan harga dan penipuan
yang dilakukan eksportir membuat
mereka menghentikan ekspor
produknya ke Jamaika dan
Malaysia.

“Tahun 2003 kita merambah pasar
internasional yaitu Jamaika dan
Malaysia ada order sekitar Rp 25
juta dari Jamaika dan Kuala
Lumpur Rp 25 juta. Setelah itu
tidak ada kesepakatan harga dan
kami berhenti. Selain itu saya juga
rugi imateril tenaga kerja. Saya
juga belum siap dan saya pernah
tertipu lewat eksportir di Bali
hingga kami harus menutupi
kekurangan yang ada,” katanya.

Sejak saat itu, Heri dan Retno
lebih konsentrasi untuk merambah
pasar domestik. Hasilnya tidak sia-
sia. Saat ini keduanya mampu
meraup omset hingga Rp 30-50
juta per bulan. Harga juga
beragam mulai dari Rp 10.000
hingga jutaan rupiah. Produk yang
dijual seperti tempat pensil,
tempat gulungan tisu, boneka kayu
dan gantungan baju.
“Nggak mahal produk kami dari Rp
10.000 hingga jutaan rupiah itu
untuk desain khusus. Omset
pendapatan per bulan Rp 30 juta.
Musim pameran dan pernikahan
omset saya lebih dan bisa
mencapai Rp 50 juta. Januari nanti
sudah mulai banyak pemesanan.

Rumah saya di Gondosuli Malang
sering dijadikan tempat kunjungan.
Ini kayu pinus dari Malang dan
saya sudah tahu peluang ini baik
ke depan,” tutupnya.

Tertarik mengikuti jejaknya ? atau
mau lebih tahu tentang produk
yang unik yang di produksi oleh
Hery dan Retno? Saat ini keduanya
tengah memamerkan produk
kayunya di JCC Senayan Jakarta
tepatnya di Hall B pada acara
CRAFINA 2012 hingga Minggu
(16/12/2012).( Wiji Nurhayat )

sumber: http://m.detik.com/finance/read/2012/12/14/111909/2118464/480/

Yusi, Berawal dari Iseng, Wanita Pengusaha Muda Ini Kini Sukses Lewat Sepatu Kulit ‘U-See’

Jakarta – Berbisnis tak melulu
harus terencana dengan sistematis.
Namun ada beberapa pengusaha
sukses menggeluti bisnisnya
berawal dari keisengan, misalnya
bisnis U-See Shoes and Bag, milik
Yusi.

Barang-barang yang terbuat dari
kulit, biasanya memang lebih awet
dari bahan lainnya. Terbukti, tas
atau sepatu berbahan dasar kulit
harganya jauh lebih mahal. Ada
harga, ada barang, begitu katanya.
“Sepatu-sepatu dan tas-tas saya
terbuat dari kulit sapi, kulit ular,
batik, kulit domba, kulit kambing,
pokoknya kulit ternak,” kata si
pemilik toko, Yusi (38) kepada
detikFinance pekan lalu.

Menurut Yusi, barang-barang
buatannya itu memiliki kualitas
yang terjamin keawetannya
dibanding barang sejenis namun
imitasi. Sehingga tak heran, jika
harga yang dibanderol tergolong
mahal. “Sepatu kulit jauh lebih
awet dan nyaman. Beda kalau
imitasi,” katanya.

Untuk satu pasang sepatu kulit,
Yusi membanderol Rp 350.000 –
Rp 2,5 juta. Sementara tas kulit,
dia mematok harga mulai dari Rp
600.000 – Rp 3 juta.
Yusi memang hobi menggambar,
kini Yusi bersama 11 orang
pegawainya bisa menjual sekitar
400 produk sebulan dengan omset
Rp 120 juta per bulannya.

“Awal-awal iseng beli selembar
kulit sapi, terus coba-coba
gambar. Mungkin karena latar
belakang keluarga saya perajin
sepatu di Solo. Jadi ya ketularan.
Dari hasil hambar itu saya minta
embahku cariin tukang buat
ngejahit. Pertama kali hanya
terjual 40 pasang sepatu sebulan.
Lama-lama rame,” paparnya.

Untuk modalnya, Yusi
menghabiskan uang sekitar Rp 30 –
Rp 40 juta untuk sekali belanja.
“Itu bisa untuk 3 bulan lho (dalam
3 bulan ga belanja lagi). Selembar
kulit harganya Rp 1 juta dengan
hitungan Rp 35 ribu – Rp 85 ribu
per feet (1 feet= 28 cm). Kulit ular
itu disamak. Disamak pakai
campuran bahan kimia. Desain 80
persen sendiri, 20 persen
modifikasi. Produk jenis kulit print
sama kulit ular piton yang paling
mahal,” terangnya.

Usaha yang telah digelutinya
hampir 2 tahun itu, bisa
didapatkan di pameran-pameran
fashion atau UKM. Rencananya,
tahun depan Yusi mencoba
peruntungan untuk ekspor barang-
barang buatannya ke luar negeri,
seperti Hongkong dan Australia.
Rencananya 14 – 17 Januari 2013,
tokonya akan mejeng di pameran
Hongkong World Designer
Boutique.

“Rencana Januari tahun depan
target ekspor. Sekarang sih sudah
dijual di Australia, nitip sama
temenku yang ada disana, kalau
ada order saya kirim. 14-17
Januari ada pameran di Hongkong
World Designer Boutique,” kata
Yusi.( Dewi Rachmat Kusuma)

sumber: http://m.detik.com/finance/read/2012/12/27/103633/2127641/480/berawal-dari-iseng-wanita-ini-sukses-jadi-pengusaha-sepatu-kulit

Ratna, Sukses ‘Menyulap’ Botol Bekas Menjadi Bisnis Botol Hias Beromzet Puluhan Juta

Bandung – Bagi banyak orang,
mungkin botol-botol bekas adalah
sampah yang tidak berguna.
Namun bagi Ratna Miranti botol
bekas adalah barang yang sangat
berarti.
Ia mampu mengubah barang itu
menjadi sesuatu yang amat
bernilai. Sebagai seorang perajin
lukisan di atas kaca, botol, gelas
dan barang yang terbuat dari kaca
lainnya.

Ratna mengawali karirnya sejak
tahun 2009, bisnisnya dimulai dari
sebuah kecelakaan. Ia sebelumnya
berprofesi sebagai perajin batik.
“Saya dulu suka membatik. Tapi
batik makin kesini makin banyak
dan makin ketat. Akhirnya saya
vakum 2 tahun karena mengurus
anak,” tutur Ratna kepada
detikFinance di kediaman
sekaligus workshopnya di Jalan
Sangkuriang, Bandung, Jawa Barat,
Sabtu (24/11/12).

Ratna memutuskan untuk memulai
usahanya lagi. Namun, di pada
saat ingin membeli bahan baku cat
untuk batik, ia malah membeli cat
untuk kaca. Ia pun iseng-iseng,
mencoba melukis di atas kaca.
“Saya salah beli. Malah beli untuk
cat kaca. Tapi saya coba untuk
buat di botol, di gelas. Ternyata
temen-temen suka,” tutur Sarjana
Desain Tekstil Institut Teknologi
Bandung ini.

Namun, kejadian itu tak serta
merta membuat dirinya percaya
diri untuk menumbuh kembangkan
usahanya menjadi besar. Pada saat
itu, Ratna masih menjual
produknya berdasarkan pesanan
konsumen.
“Saya bikin dulu, karena pada
dasarnya saya hobi melukis. Waktu
itu bertepatan sama Natal, jadi
banyak pesanan bernuansa Natal.
Pemasaran saya masih mulut ke
mulut, di blog, atau bawa ke
tempat ibu-ibu arisan,” papar
Ratna.

Barulah pada tahun 2010, genap
setelah usahanya berusia 1 tahun,
dia mendapat kesempatan untuk
mengikuti pameran Inacraft di
Jakarta. Disitulah kesempatan
besar bagi Ratna untuk
memperkenalkan produknya.

Untuk mengembangkan usahanya
itu dia mendapatkan suntikan
modal dari PT Permodalan
Nasional Madani (PNM) melalui
programnya yaitu Unit Layanan
Mikro Madani sebesar Rp 50 juta.
“Untuk nambah modal. Biaya
bahan baku dan yang lain,”
ucapnya.

Sampai saat ini, omzet yang
didapat Ratna dengan produknya
yang dinamai ‘Meerakatja’ ini
mencapai Rp 30 juta/bulan.
Padahal sebelum menjadi besar,
dia hanya bisa meraup Rp 3-5 juta
per bulan.
“Awalnya omzet Rp 3 juta, paling
tinggi Rp 5 juta. Karena jualnya
juga perorangan. Modal awalnya
juga pertama Rp 500 ribu,”
katanya.

Untuk urusan bahan baku, Ratna
mengaku tak kesulitan. Ia pun
sering memesan botol-botol bekas
penjual jamu. Namun untuk
catnya, Ratna menggunakan cat
yang diimpor dari Jerman melalui
distributor langganannya.
Tak hanya melukis di atas botol,
Ratna pun menerima pesanan
untuk melukis interior rumah
berbahan baku kaca, kaca cermin,
vas bunga, gelas, tempat lampu,
guci dan lain sebagainya.
“Harganya dari Rp 25 ribu hingga
Rp 2,5 juta,” ucapnya.

Produknya ini masih banyak
tersebar di wilayah Jakarta dan
Bandung. Beberapa produknya pun
telah masuk pasar internasional.
Namun, ia tidak secara langsung
mengekspor produknya ke luar
negeri, melainkan melalui
perantara.

“Kalau yang namanya bener-bener
ekspor sih belum. Tapi ada
pesanan beberapa orang untuk
tujuannya ke luar, Kanada, Jerman,
tapi tetap Saya berhubungannya
dengan orang Jakarta,” papar
Ratna.
Sampai saat ini, Ratna memiliki 3
pegawai tetap yang bekerja sebagai
pemberi warna pada karyanya.
Urusan desain dan lukisan dasar,
Ratna lah yang turun tangan.
“Kalau pesanan lagi banyak, kita
bisa sampai 15 orang,” cetusnya.

Jika tertarik dengan hasil karya
Meeraktja ini, anda bisa langsung
datang ke Jalan Sangkuriang O-2,
Bandung. Atau bisa mengunjungi
website
http://www.meeraktja.wordpress.com.

sumber: http://m.detik.com/finance/read/2012/11/26/105241/2101144/480/

Bermodal Hanya Rp 2,5 Juta, Benyamin Kini Raup Untung Rp 200 Juta/Bulan dari Usaha Mendong

Jakarta – Siapa sangka, bahan
dasar mendong, tanaman sejenis
padi bisa menghasilkan
keuntungan hingga Rp 200 juta
per bulan. Dengan modal awal
hanya Rp 2,5 juta saja, kini Abun
Benyamin (48), pemilik toko
produk mendong bisa meraup
keuntungan menggiurkan.

Mendong merupakan sejenis
tanaman padi yang dibudidayakan
di sawah. Bahan tersebut bisa
diolah kemudian dikeringkan dan
diberi warna menggunakan bahan
kimia dasar yang kemudian bisa
menghasilkan barang bernilai
tambah seperti tas, sandal, tikar,
tempat sampah, box buku, dan
tempat cucian.
“Itu asli Tasikmalaya, Jawa Barat.
Material dari karton dan mendong.

Mendong ditenun dulu dan
dikeringkan menggunakan energi
matahari. Setelah kering diberi
warna kemudian dikeringkan lagi
dan siap dipasarkan. Pembuatan
sehari beres,” papar Abun, saat
dijumpai detikFinance, di Pameran
CRAFINA, JCC, Minggu
(16/12/2012).
Abun mengaku, produk-produk
tersebut, dibuat untuk memberi
warna yang beda kepada
masyarakat yang mulai bosan
dengan produk-produk moderen.

Bahan dasar mendong merupakan
ciri khas dari Tasikmalaya, Jawa
Barat. Selain dari mendong,
produk-produk tersebut juga bisa
menggunakan bahan dari eceng
gondok, pandan, dan lidi.
Produk-produk itu dibandrol
dengan kisaran harga Rp 15 ribu –
Rp 1 juta. Untuk tikar, misalnya
dengan panjang 2 meter dan lebar
90 cm, produk tersebut dihargai
Rp 150 ribu.

Sementara untuk tas, dibandrol
dengan kisaran harga Rp 80 ribu –
Rp 150 ribu. Selain itu, ada box
buku yang harganya Rp 100 – Rp
800 ribu dan tempat cucian yang
diberi harga Rp 300 ribu – Rp 500
ribu. Selain itu, ada tempat sampai
yang 1 set-nya dihargai Rp 200
ribu. Ada juga yang murah loh,
sandal dari mendong dibandrol
cuma Rp 15 ribu saja.

Namun, harga-harga tersebut
masih bisa nego asal membeli
dalam jumlah banyak. Abun
memberi diskon hingga 20 persen
untuk setiap produk dengan
pemesanan di atas seratus produk.
“Kalau satuan mahal, kalau dalam
jumlah banyak bisa murah dan
nego tergantung jumlah dan
materialnya. Bisa sekitar 10-20
persen diskonnya. Untuk ekspor
bisa sampai 30-40 persen
diskonnya dengan minimal
pesanan 550 set untuk semua
produk,” katanya.

Usaha yang telah dirintisnya sejak
1996 itu, bisa menembus omset
hingga seribu set setiap bulannya
untuk box buku. Sementara untuk
tas bisa jauh lebih banyak hingga
2 ribu set per bulannya.
Tak hanya itu, produk-produk
miliknya dalam 2 bulan terakhir
mulai dilirik negara lain seperti
Kanada, Eropa (Spanyol), dan Asia
(Jepang, China, dan Singapura). “2
bulan lalu kita ekspor box cucian
ke Kanada. Ekspor sudah kita
lakukan dari 5 bulan lalu,” kata
Abun.

Mengingat permintaan yang
meningkat, Abun tak kalah akal,
dirinya ingin terus melebarkan
usahanya ke berbagai kota di
Indonesia. Rencananya. Bulan
April 2013, produk-produk hasil
kerajinannya akan mulai
disalurkan ke Bandung, Jakarta,
dan Bali.
“Kita punya showroom baru di
Tasikmalaya, baru satu. Rencana
ekspansi April tahun depan ke
Bandung, Jakarta, dan Bali. Lihat
kondisi pasar dulu,” akunya.

Abun mengaku, hingga saat ini
angka ekspor mencapai 270 set
untuk 1 kontainer untuk produk
box cucian. Sementara untuk box
buku bisa mencapai 2600 set per
1 kontainer.
“Kita mengedepankan motif.
Mendong lebih banyak variasinya.
Kualitas ekspor dan mutu terjaga,”
katanya.

Pernyataan itu diamini si pembeli
lady (37). Menurutnya, box buku
mendong tersebut memiliki desain
yang bagus dan harganya sesuai
dengan kualitas. “Desainnya bagus,
buatannya bagus, harganya sesuai
dengan kualitasnya,” katanya.( Dewi Rachmat Kusuma)

sumber: m.detik.com/finance/read/2012/12/16/133342/2119791/480/bermodal-hanya-rp-25-juta-pengusaha-mendong-ini-kini-untung-rp-200-juta-bulan

Iskandar, Mantan Aktivis yang Berbisnis Kaos Bertema Demonstrasi Beromzet Puluhan Juta Rupiah

Jakarta – Sarjana muda seorang
aktivis kampus, Iskandar sukses
berbisnis kaos dengan nama
‘Kampoeng Merdeka’. Ia membuat
berbagai produk kaos yang
bertemakan soal demonstrasi.
Iskandar menyebut dirinya sebagai
Presiden ‘Kampoeng Merdeka’.

Berangkat dari seorang aktivis
yang cukup sibuk dengan aksi
demonstrasinya, ia rupanya
mencari cara lain untuk
mengungkapkan aspirasinya.
Ia menuturkan, menjadi
demonstran adalah sikap individu
yang mulai resah atas kondisi di
sekitarnya. Mensejahterakan
rakyat selalu menjadi alasan utama
setiap kali melangsungkan
demonstrasi.

“Satu kali saya naik angkot waktu
banyak ibu-ibu bilang, wah
mahasiswa demo lagi demo lagi
bikin macet jalan. Padahal tujuan
kita demonstrasi untuk
mensejahterakan rakyat,” katanya
kepada detikFinance pekan lalu.
Peserta Wirausaha Muda Mandiri
ini mengaku mulai merenung
terhadap ucapan ibu-ibu tersebut.
Iskandar pun mencari upaya untuk
tetap menyampaikan aspirasi,
namun tidak dengan merugikan
masyarakat lainnya.
“Timbulah pikiran, oh lewat baju
saja. Maka ini saya jadikan peluang
bisnis,” katanya.

Ia memilih baju yang diproduksi
dikemas dengan bahasa
demonstran dan berkembang
mengikuti isu nasional. “Salah
satunya saya awasi detik.com. oh
ini sedang tren isu,” cetus pria
yang mengaku belum menikah ini.

Alumni Universitas Muslim
Indonesia (UMI) Makassar ini siap
megawali usaha dengan modal Rp
800.000. Modal tersebut
merupakan hasil pinjaman dari
teman dekatnya. “Saya pinjam
buat bikin baju 6 buah. Desain
saya sendiri,” kata Iskandar.

Kemudian usahanya berkembang
dengan membidik segmentasi
pasar mahasiswa dengan rentang
usia 18-30 tahun. Pemasaran
selain satu outlet yang disebut
sebagai kantor kecamatan, ia juga
mengandalkan website
Kampoengmerdeka.com dan media
sosial lainnya.

Ia cukup yakin dengan bisnisnya
ini, Iskandar beralasan masyarakat
yang resah akan terus bertambah
dan ingin meluapkan ekspresinya.
“Banyak yang resah dengan Aceng,
jadi pakai baju ‘saya bukan aceng’.
Jadi ini demo dengan cara yang
unik kreatif dan inovatif,”
jawabnya.

Alhasil, saat ini Iskandar telah
mengantongi omset Rp 40-50 juta
per bulan dari baju yang seharga
Rp 85.000. Ia pun juga telah
memperkerjakan 47 orang sebagai
tim, mulai dari desain, produksi,
hingga pemasaran.

Soal kendala, menurutnya cukup
dapat diminimalisir setelah
menyelesaikan kuliahnya akhir
2012 lalu. Terkait desain baju
yang cukup kontroversial, ia malah
menganggap bukan sebuah
masalah.
“Nggak ada masalah, malah
menunggu masalah datang. Kan
masyarakat demo nggak masalah,”
singkatnya.

Iskandar berencana membuka
kantor ‘kecamatan’ dengan konsep
kemitraan. Belum disebutkan
lokasinya, namun konsep tempat
akan dibuat unik. Ruangan
tersebut hanya akan berisikan satu
tablet dan LCD dan jaringan
internet gratis.

“Mereka bisa cek Online ke
Kampoengmerdeka.com dia dah
bisa lihat, dan beli disana,” jelas
Iskandar.
Penting baginya dalam usaha ini
adalah eksklusifitas barang. Selain
itu, kepedulian untuk Indonesia
tetap masih bisa diwujudkan meski
tidak dengan turun ke jalan.
“Untuk memajukan negeri,” tutup
Iskandar.( Maikel Jefriando)

sumber: http:// m.detik.com/finance/read/2013/01/25/115713/2151989/480/iskandar-aktivis-yang-berbisnis-kaos-demonstran-beromzet-puluhan-juta-rupiah