Marcell, Mantan Pegawai Bank Ini Kini Raup Omzet Milyaran dari Bisnis Sapi Perah dan Sapi Potong


Marcell Diaz sudah menekuni bisnis
peternakan sapi perah dan sapi
potong sejak tahun 2008. Dengan
luas lahan peternakan mencapai 20
hektare (ha), ia kini mengantongi
omzet hingga Rp 3 miliar per bulan
dari usaha peternakan ini.
Perkenalannya dengan dunia
peternakan berawal dari
keterlibatannya membenahi
peternakan milik saudara iparnya di
Kalimantan Barat pada tahun 2005.
Kala itu, kondisi peternakan saudara
iparnya itu nyaris bangkrut. “Waktu
saya ke sana, yang tersisa hanya
enam ekor sapi dengan grade C,”
tutur Marcell.

Saudaranya sudah tidak berniat
meneruskan peternakan tersebut
dan hendak menjual. Namun,
Marcell berpikir sayang jika
peternakan tersebut dijual.
Sebagai seorang tenaga ahli
pemasaran di sebuah bank asing
ternama di Jakarta, Marcell pun
membantu membenahi pengelolaan
peternakan sapi tersebut hingga
bisa pulih.
Marcell membantu melakukan
pembenahan, terutama dari sisi
keuangan yang memang dia kuasai.
Berkat bantuannya, akhirnya
peternakan itu bisa berkembang dan
berjalan hingga sekarang. “Dari situ,
saya belajar banyak mengenai
pengelolaan peternakan sapi,”
katanya.

Saat itu, Marcell masih belum
terjun ke bisnis peternakan. Ia
masih bekerja di bank asing di
Jakarta. Sampai suatu ketika, anak
keduanya mengidap penyakit
leukimia atau kanker darah.
Ia dan sang istri pun harus menjaga
anak mereka di rumah sakit secara
intensif. “Hampir setiap hari, kami
menginap di rumah sakit,” tutur
Marcell.
Merasa tak enak dengan tempatnya
bekerja karena sering izin, Marcell
dan istrinya yang juga bekerja di
bank asing memutuskan
mengundurkan diri dari jabatan
mereka pada tahun 2007.
Mereka fokus merawat anak hingga
tahun 2008. Lantaran sudah tidak
bekerja lagi, ia dan isterinya
memutuskan untuk hijrah dan
menetap di Kalimantan Barat.

Marcell pun terpikir untuk
membuka usaha sendiri supaya bisa
bekerja lebih fleksibel. Namun,
baru dua bulan berselang setelah
kepindahan mereka ke Kalimantan
Barat, anaknya yang mengidap
leukimia meninggal dunia. “Anak
saya adalah sumber inspirasi
terbesar saya dalam membangun
peternakan,” tuturnya.

Marcell terinspirasi membangun
usaha peternakan sapi perah agar
dapat menghasilkan banyak susu
sapi murni. Ia menuturkan,
perkembangan penyakit kanker
sangat tergantung pada imunitas
anak.
Sementara, sistem kekebalan tubuh
bisa ditingkatkan melalui susu sapi
murni yang benar-benar segar.

Maka, pada tahun 2008, Marcell
membangun peternakan sapi di
bawah bendera usaha PT Cesna
Agro Borneo.
Kini, luas lahan peternakannya
sudah mencapai 20 hektare yang
berpusat di Kalimantan Barat.

Sementara, cabang usahanya ada di
Tangerang dan Bandung.
Total sapi perah peliharaannya kini
mencapai 170 ekor yang mampu
memproduksi 1.500 liter susu per
hari. Sementara, jumlah sapi
pedagingnya sudah sebanyak 2.000
ekor. “Omzet saya Rp 3 miliar per
bulan,” ujarnya.

Sukses yang diraih Marcell Diaz
dalam membesarkan usaha
peternakan sapi penuh dengan lika-
liku. Banyak sekali hambatan dan
tantangan yang ditemuinya saat
awal-awal merintis usaha.
Terkait dengan modal usaha,
misalnya, permohonan kreditnya ke
bank tak kunjung dikabulkan.
“Pengajuan kredit saya seringkali
ditolak,” katanya.

Padahal, Marcell sangat
memerlukan bantuan modal buat
mengembangkan usahanya. Salah
satu kendala pencairtan kredit
karena pihak bank di Kalimantan
masih bergantung dari Jakarta
dalam pengambilan keputusan.

Meski usahanya memiliki prospek
yang cerah, tapi bank di sana tetap
tak berani memberi pinjaman jika
tak ada izin dari kantor pusat.
Agar komunikasi dengan kantor
bank pusat lancar, Marcell pun
pernah membiayai petinggi sebuah
bank dan tenaga ahlinya terbang
dari Kalimantan ke Jakarta. “Saya
biayai ke Jakarta, meeting sampai
tiga hari, tapi ternyata tetap tidak
ada solusi,” ujarnya.

Alhasil, Marcell pun batal
meminjam dana di bank tersebut.
Pernah juga ia mencoba
mengajukan proposal pinjaman ke
bank lain. Namun, dari total
pinjaman yang diminta, yang
dikabulkan hanya 1%. “Saya ajukan
pinjaman Rp 7 miliar, yang
diberikan hanya Rp 70 juta,”
tuturnya, sambil tertawa.
Ia mengaku, tetap mengambil
pinjaman itu namun segera
dilunasinya. Pinjaman itu adalah
satu-satunya pinjaman bank yang
pernah ia peroleh.

Selain terkendala modal, ia juga
kesulitan memperoleh tenaga kerja
yang mumpuni di bidang
peternakan. Meski begitu, ia tak
cepat menyerah dengan kondisi
yang ada. “Masalah terberat juga
terkait dengan sumber daya
manusianya,” tutur Marcell.
Karyawan yang bekerja di
peternakannya maksimal lulusan
sekolah menengah atas (SMA). Itu
pun ijazahnya kebanyakan kejar
paket C.

Selain berpendidikan rendah,
pengalaman para pekerjanya juga
minim. Marcell pun sering turun
tangan melatih para pekerjanya.
“Solusinya, saya yang belajar, lalu
saya terapkan ke para staf,”
ujarnya.

Marcell banyak menimba ilmu
melalui internet, membaca buku,
dan bertukar pendapat dengan
orang lain. Lulusan Pasca Sarjana
Ekonomi di Bond University,
Australia ini juga sering melakukan
studi banding.
“Sesekali saya mengunjungi
peternakan teman di Australia untuk
belajar,” ujarnya. Kebetulan,
sejumlah temannya di Australia
memiliki peternakan besar.

Melalui studi banding itu, ia banyak
mengambil pelajaran penting
seputar manajemen pengelolaan
peternakan secara modern. “Yang
membuat kami berhasil adalah
fighting spirit dan bantuan tangan
dingin istri,” ujar Marcell.

Sejak tahun 2008, Marcell Diaz
sudah menekuni bisnis peternakan
sapi perah dan sapi potong di
Kalimantan Barat. Ia terinspirasi
membangun usaha peternakan itu
agar bisa menghasilkan banyak susu
sapi murni.
Inspirasi itu dia dapat setelah salah
satu anaknya yang mengidap
leukimia meninggal dunia.

Menurutnya, perkembangan
penyakit kanker sangat tergantung
pada imunitas anak. “Imunitas anak
bisa ditingkatkan lewat susu sapi
yang benar-benar segar,” katanya.
Terlebih, di Kalimantan Barat
(Kalbar) belum ada peternakan sapi
yang fokus memposisikan diri
sebagai penyedia susu sapi segar.
Padahal, permintaan masyarakat
cukup tinggi.

Makanya, sejak awal Marcell
berambisi menjadi penyedia susu
sapi segar terbesar di Kalbar. Ia
menargetkan, keinginannya itu
sudah bisa terealisasi tahun ini
juga. “Saya ingin pengembangan
peternakan sapi ini posisinya ke
sapi perah,” tutur Marcell.
Sampai saat ini, peternakan sapinya
belum sepenuhnya fokus ke sapi
perah. Soalnya, ia juga masih
mengembangkan peternakan sapi
potong. Ke depan, porsi sapi perah
akan dia tingkatkan.

Sekarang, Marcell baru memiliki
170 ekor sapi perah. Dalam sehari,
seekor sapinya bisa menghasilkan
10 liter hingga 40 liter susu.
Dengan 170 ekor, paling tidak bisa,
dia menghasilkan 1.500 liter susu
dalam satu hari.
Marcell telah mengkalkulasi, bahwa
kebutuhan masyarakat Kalbar
khususnya anak-anak sekolah dasar
akan susu sapi paling tidak 6.000
liter per hari. “Saya harus bisa
memenuhi kuota sebesar enam ton
susu sapi di tahun 2013 ini,” imbuh
dia.
Jumlah tersebut bukan sekadar
target. Melainkan, harus dia penuhi
lantaran sudah terikat kontrak
dengan Pemerintah Provinsi Kalbar.

Dalam kontrak itu, ia menyanggupi
untuk menyediakan susu sapi segar
sebanyak 6 ton sehari.
Menurut Marcell, meningkatkan
produksi susu sapi segar hingga
hampir empat kali lipat, jelas bukan
perkara yang gampang. “Butuh
strategi, kecukupan dari sisi
finansial, peralatan, dan tenaga
kerja,” tegasnya.

Untuk itu, ia telah menyiapkan
sejumlah rencana. Dari sisi
finansial, sebagai diversifikasi,
Marcell pun menyediakan sapi
pedaging di peternakannya. Dia
memiliki 1.000 hingga 2.000 ekor
sapi pedaging di peternakannya.
Daging-daging sapi tersebut
kebanyakan ia ekspor ke Malaysia.
“Harga jual ke Malaysia lebih
tinggi,” akunya. Meski begitu, tetap
ada sebagian daging yang dia jual
ke wilayah Jabodetabek, Bandung,
dan Kalimantan.

Selain itu, Marcell juga tengah
melebarkan usahanya ke sektor
properti. Ia telah memiliki sejumlah
lahan yang akan ia dirikan properti.

Sedang dari sisi sumber daya
manusia (SDM), ia terus
meningkatkan keterampilan para
karyawannya.
Untuk bisa sukses dalam sebuah
bisnis, dia memberi tip: perlu
pengetahuan mengenai produk yang
dipasarkan alias product knowledge.

Apalagi, bila produknya tergolong
berisiko seperti susu segar.
Sebab, susu sapi segar maksimal
hanya bertahan selama 14 hari
dengan suhu -4 derajat Celcius.
Sementara, jika ia memproduksi
susu kental manis atau susu bubuk,
produknya bertahan paling tidak
satu tahun.

Namun, susu sapi segar jauh lebih
baik karena kandungan di
dalamnya, seperti vitamin, kalsium
dan sebagainya, masih murni dan
bukan tambahan. Dengan product
knowledge yang baik, Marcell yakin
bisa bersaing di pasar susu.( Revi Yohana)

sumber: http://mobile.kontan.co.id/news/marcell-berambisi-jadi-pemasok-susu-terbesar-3/2013/01/21

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 07/02/2013, in Agribisnis. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Ada sekumpulan tips ber agribisnis di http://www.mediatani.com . yuuk berkunjung

  2. Anita Rahayu

    Apa bisa minta nomor telp usha nya bpk marcell, mohon infonya. Karna sy lagi cari susu sapi segar daerah kalimantan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: