Monthly Archives: February 2013

Natha dan Janet, Lewat Usaha Garmen Berlabel Gaudi Hasilkan Omzet Milyaran dari Puluhan Butiknya

Maraknya merek fashion asing
menginspirasi dua sahabat ini
membuat Gaudi, sebuah brand
lokal. Model trendi dan harga
terjangkau menjadi daya pikat
Gaudi. Dengan 26 gerai di seluruh
Indonesia, Gaudi mencetak omzet
puluhan miliar.

Jeli melihat peluang. Itulah salah
satu kelebihan yang dimiliki dua
karib, Nathalia Napitupulu dan
Janet Dana. Lantaran melihat ada
celah pasar bagi produk fashion
yang stylish, luwes, dengan harga
terjangkau, dua perempuan muda
ini mendirikan usaha garmen
berlabel Gaudi.
Kecintaan terhadap produk mode
pun menjadi bekal mereka terjun di
bisnis ini. Beruntung, Natha,
panggilan akrab Nathalia, sudah
lebih dulu akrab berbisnis garmen.

Sebelumnya, ia membantu sang
ayah berbisnis pakaian grosir.
Berkibarnya produk ritel fashion
merek asing di berbagai pusat
perbelanjaan ibu kota mengundang
dua sahabat ini menerjuni bisnis
gerai busana. Dengan modal
pinjaman dari orang tua mereka,
Natha dan Janet membuka gerai
Gaudi pertama di Plasa Semanggi,
Jakarta, pada 2004.

Mereka pun harus terjun sendiri
mengurus gerainya. Mulai dari
menentukan desain baju, memilih
bahan, mencari konveksi, hingga
mendekorasi gerai. Janet dan Natha
pun terlihat sering melayani
pengunjung gerainya. Maklum, saat
itu, mereka baru memiliki lima
karyawan, termasuk penjaga toko.
Respons konsumen pun bagus.

Apalagi, Janet juga membekali
karyawan toko dengan pengetahuan
fashion hingga mereka bisa jadi
konsultan bagi pelanggan. Melihat
angka penjualan yang bagus, Janet
dan Natha pun menambah beberapa
gerai baru di Jakarta. Hingga di
tahun keduanya beroperasi, Gaudi
sudah ada di tiga pusat belanja
ternama di Jakarta.

Bahkan, untuk pengembangan
selanjutnya, mereka tak perlu repot
mencari lokasi untuk gerai-
gerainya. “Justru, pemilik mal yang
memburu kami,” kata Janet
bersemangat. Bahkan, pada tahun
ketiga, Natha bilang, mereka sudah
bisa mengembalikan modal yang
dipinjam dari orang tuanya.

Bisnis Gaudi pun terus mengalir.
Tak hanya menyediakan pakaian
dengan model-model yang up to
date, Gaudi yang mengincar pasar
wanita berusia remaja hingga
dewasa muda itu, menawarkan
beragam aksesori, termasuk tas.
“Kami menjual berbagai produk
fashion itu dengan harga Rp 88.000
hingga Rp 250.000,” jelas Janet.

Ekspansi ke daerah
Seiring dengan pertumbuhan
ekonomi di beberapa daerah, Gaudi
berekspansi di beberapa kota besar
seperti Medan, Semarang,
Denpasar, Palembang, Makassar,
dan Balikpapan. Apalagi, persaingan
mal di Jakarta sudah sangat ketat.
Sebaliknya, “Kota-kota di daerah itu
mempunyai buying power yang
cukup baik,” tutur Natha.

Selain berekspansi dengan
membuka gerai baru, Gaudi tak
berhenti meluncurkan produk
anyar. Salah satu kiat agar
pelanggan setia berkunjung, Janet
meluncurkan 40 item baru setiap
bulan. Tak hanya itu, Gaudi juga
rajin mendekorasi ulang gerainya
dengan konsep tertentu tiap tiga
tahun sekali. “Supaya pemandangan
di gerai kami selalu segar dan tidak
membosankan,” kata Janet.
Tapi, tak berarti perjalanan bisnis
kedua sahabat itu selalu berjalan
mulus. Pernah, suatu ketika, Gaudi
harus memindahkan lokasi tokonya
karena pengelola mengatur ulang
ruangan (rezoning). “Padahal, kami
enggak pernah telat bayar dan
ramai pengunjung,” tutur Natha.
Mereka mengaku kecewa, lantaran
pengelola mal justru tidak
mendukung keberadaan brand
lokal. Apalagi, konsep dekorasi
gerai Gaudi tidak kalah menarik
dibandingkan dengan gerai-gerai
merek dunia.

Natha pun sempat kebingungan
ketika pada awal usaha mendapati
produknya sempat menumpuk lama
hingga tak ada tempat untuk barang
baru. Lalu ia segera menggelar
promosi untuk menghabiskan stok.
Pengalaman itu berbuah trik jitu
mengelola stok barang.

Untuk memasok 26 gerainya di
seluruh Indonesia, Gaudi
memproduksi setiap item barang
hingga 700 unit. Selain
mengandalkan konveksi lokal, Janet
juga memesan beberapa produknya
di Hong Kong. “Seringkali untuk
warna-warna tertentu belum bisa
diproduksi di Indonesia,” katanya.
Selain itu, pengerjaan di Hong Kong
juga lebih baik dan rapi.

Sampai kini, Janet pun masih
memilih sendiri bahan yang akan
dipakai Gaudi. Bahkan, sering, ia
juga mendesain sendiri motif-motif
kain yang akan dipakai. Tak hanya
itu, Gaudi juga rutin mengganti
label pakaian dan tas pembungkus
produk Gaudi.
Setelah delapan tahun, Natha dan
Janet telah mempekerjakan 300
karyawan. Gaudi pun bisa mencatat
omzet hingga sekitar Rp 50 miliar
per tahun.

Meski sudah menuai sukses, mereka
mengaku masih memiliki angan-
angan yang belum terwujud, yaitu
menempatkan Gaudi sejajar dengan
brand fashion dari luar negeri.
Kedua sahabat itu berambisi agar
nama Gaudi juga berkibar di pasar
dunia. “Kami punya mimpi seperti
Zara,” kata Natha.

Mereka pun memasang target untuk
membuka gerai di Bangkok dan
Singapura tiga tahun mendatang.
“Kami terus mempelajari pasar,
mungkin yang terdekat kami buka
di Singapura,” kata Natha.( J. Ani Kristanti, Meylisa Badriyani )

sumber: http://mobile.kontan.co.id/news/duet-wanita-cantik-di-balik-gerai-fashion/2013/01/18

Amin, Mantan Buruh Pabrik Ini Kini Jadi Juragan Kain Tenun Sutera Khas Garut Beromzet Ratusan Juta

Sejak lama, Kabupaten Garut, Jawa
Barat, dikenal sebagai daerah
penghasil kain sutera. Salah satu
produsen kain sutera khas Garut ini
adalah Amin Iskandar.
Terjun ke usaha ini sejak tahun
2003, nama Amin kini dikenal luas
sebagai produsen kain sutera dan
pengrajin kain tenun Garut.

Namanya berkibar seiring jaringan
pasarnya yang luas. Kini, Amin rutin
memasok kebutuhan kain sutera
buat para pembatik di beberapa
daerah, seperti Pekalongan,
Cirebon, Yogyakarta, dan Jakarta.
Dengan jumlah produksi mencapai
2.000 meter kain sutera per bulan,
Amin mengantongi omzet lebih dari
Rp 100 juta. Di bendera usaha
Rumah Tenun Amin, ia juga
memproduksi kain putihan dan kain
mori untuk batik. “Harga kain saya
berkisar Rp 95.000 sampai Rp
200.000 per meter,” kata dia.
Sebelum menjadi produsen kain
sutera, Amin lama bekerja di salah
satu perusahaan tenun sutera di
Garut. Sadar akan potensi bisnis
kain sutera, pada 2003, ia
memutuskan untuk membuka usaha
sendiri.

Selain tujuan bisnis, ia juga
mengaku terpanggil untuk turut
melestarikan budaya tenun kain
sutera khas Garut. Apalagi,
perkembangan tenun tradisional
Garut kini mulai surut. “Jadi, saya
mau angkat lagi untuk melestarikan
budaya tenun, terutama kerajinan
sutera,” ujarnya.

Amin menemukan banyak tantangan
saat awal-awal merintis usaha.
Pernah usahanya terkatung-katung
karena kekurangan modal.
“Perjalanan saya mengembangkan
Rumah Tenun Amin penuh dengan
hambatan dan tantangan,” ujarnya.

Amin mengkisahkan, di awal
merintis usaha, ia butuh modal
dalam jumlah lumayan besar.
Jumlahnya mencapai sekitar Rp 40
juta – Rp 60 juta buat membeli
empat alat tenun bukan mesin
(ATBM), bahan baku, dan sewa
tempat.

Untuk memenuhi kebutuhan modal
itu, Amin rajin mencari investor
yang mau diajak bekerja sama.
Karena kemauannya yang kuat, ia
pun berhasil meyakinkan beberapa
investor yang merupakan kerabat
dan kenalannya.
Lantaran omzetnya masih kecil,
modal uang yang disetor investor
itu sering dibayar dengan kain
tenun. Baru pada tahun 2005, ia
berhasil membayar seluruh modal
yang dikeluarkan investor.

Usahanya makin berkembang maju
saat ia menjadi mitra binaan PT
Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN)
sejak tahun 2011. Sebagai mitraan
binaan, ia pun mendapatkan
pinjaman lunak dari perusahaan
pelat merah itu. “Sementara ini
baru sekali dapat pinjaman senilai
Rp 40 juta untuk pembayaran tiga
tahun,” ucap dia.
Selain pinjaman modal, Amin juga
mendapatkan pelatihan di bidang
manajemen usaha dan pemasaran.

Berkat pelatihan itu, ia kini mulai
melakukan pemasaran lewat
internet. Ia juga sering diikutkan ke
pelbagai pameran usaha skala kecil
menengah yang difasilitas oleh
PGN.
Amin optimistis usahanya akan
terus berkembang. Terlebih minat
masyarakat terhadap tenun sutera
kini terus tumbuh. Produk kain
sutera diminati karena memiliki
nilai estetika tinggi. Lantaran
lembut dan tahan kusut, kain sutera
juga sering digunakan untuk
membuat selendang atau pakaian
jadi.

Berbekal pengalaman sebagai
karyawan di sebuah perusahaan
tenun, Amin Iskandar, 44 tahun,
memutuskan untuk mendirikan
usaha sendiri. Ayah dari dua orang
putri ini membangun usaha tenun
sutera di Kecamatan Kadungora,
Garut, Jawa Barat.
Amin memulai usaha tenun sutera
dengan membeli empat unit alat
tenun bukan mesin (ATBM) pada
tahun 2009. Saat itu, ia hanya
melayani pembelian secara eceran.
Omzetnya di awal-awal usaha hanya
berkisar Rp 10 juta per bulan.

Amin pun mencari cara agar
omzetnya bisa lebih tinggi lagi. Saat
itu, ia berpikir, tidak mungkin
omzet bisa lebih besar bila hanya
mengandalkan penjualan eceran. Ia
lantas mulai mencari konsumen
yang mau membeli dalam partai
besar atau grosir.
Maka itu, Amin mulai mendekati
para pembatik di daerah-daerah.

Hampir setiap bulan, ia
mengunjungi pembatik di daerah
Pekalongan dan Cirebon untuk
menawarkan produk tenun
suteranya. Selain itu, ia juga biasa
bertemu para pembatik di tempat-
tempat pameran yang diikutinya.
Upayanya itu tidak sia-sia. Berkat
pendekatan seperti itu, order dari
para pembatik pun mulai mengalir.
“Mereka ini membeli kain tenun
dalam partai besar,” kata Amin.

Lantaran sudah punya banyak
pelanggan, Amin kini sudah tak
perlu repot-repot menjajakan kain
tenunnya seperti dulu lagi. Melalui
jaringan yang dibangunnya,
terkadang para pembatik malah
mendatangi langsung galerinya di
Garut.

Usahanya semakin berkembang
sejak mendapat pelatihan dari
yayasan Citra Tenun Indonesia (CTI)
pada tahun 2012. Berkat pelatihan
itu, produk yang dihasilkan Amin
kini makin variatif.
Selain memproduksi kain putihan,
Amin juga memproduksi kain
dengan pelbagai corak dan warna.
Bahkan, ia juga sudah memproduksi
pakaian siap pakai. Selain pelatihan,
CTI juga turut membantu
memasarkan produknya.

Kendati sukses, bukan berarti
bisnisnya tidak pernah menemui
hambatan. Kendala bahan baku
kerap menjadi momok bagi para
perajin tenun seperti Amin.
Pasalnya, mayoritas bahan baku
benang sutera diimpor dari China.

Alhasil, pasokan bahan baku kerap
tersendat. “Setahu saya, 100%
pengrajin sutera bergantung
terhadap bahan baku benang sutera
dari China,” katanya.
Selain pengiriman kadang kurang
lancar, harga bahan baku impor
dari China juga terus naik. Menurut
Amin, dalam setahun, bisa terjadi
empat hingga lima kali kenaikan
harga bahan baku.
Amin membeli benang sutera dari
pengimpor di Surabaya seharga Rp
590.000 per kilogram (kg). Dalam
sebulan, ia bisa membeli 200 kg
benang. “Karena pengiriman sering
terlambat, biasanya saya sering
menyetok supaya tidak kehabisan
bahan baku,” tuturnya.

Tenaga kerja pun menjadi masalah
dalam bisnisnya. Kini, karyawan
Rumah Tenun Amin mencapai 40
orang. Selama menjalani bisnis, ia
kesulitan mendapat tenaga kerja
yang tekun dan berpengalaman.
Pasalnya, turn over karyawan di
tempatnya relatif tinggi karena
kebanyakan perempuan. “Kalau
sudah menikah, mereka keluar dan
saya yang repot mencari karyawan
baru dan melatih dari awal lagi,”
ucap dia.

Kendati bisnis kain tenun sudah
menghasilkan omzet ratusan juta,
hal itu tak membuat Amin Iskandar
cepat puas. Pemilik Rumah  Tenun
Amin di Garut, Jawa Barat, ini
masih menyimpan banyak rencana
buat memajukan usahanya.
Salah satunya adalah rencana
mengatasi kendala bahan baku
benang sutera. Amin mengaku
sudah punya solusi mengatasi
persoalan tersebut.

Yakni, dengan menjalin kerjasama
dengan petani ulat sutera. Dalam
kerjasama itu, ia akan menampung
kepompong ulat sutera dari petani
untuk kemudian dipintal sendiri
menjadi benang. “Harus begitu
supaya tidak mengandalkan bahan
baku dari China lagi,” tuturnya.
Menurut Amun, dulu pernah ada
perusahaan yang memproduksi
benang sutera di Sukabumi, yakni
PT Indo Jado Sutera Pratama.
Namun, pada 2003, perusahaan itu
tutup karena bangkrut.
Sejak itu, perajin tenun sutra
bergantung kepada pasokan benang
sutra impor dari China. Agar lepas
dari ketergantungan, Amin ingin
bekerja sama dengan para petani
sutera di Garut dan Bogor, Jawa
Barat.
Selama ini, kata Amin, petani
membudidayakan ulat sutera dalam
skala kecil. Nah, bila jadi
bekerjasama, ia akan mendorong
mereka untuk meningkatkan hasil
produksinya, sehingga bisa dipakai
untuk keperluan yang lebih besar
lagi.

Amin mengaku pernah
menyampaikan rencananya ini
kepada Dinas Kehutanan Garut.
Tampaknya dinas sangat mendukung
keinginannya itu. “Orang dari Dinas
Kehutanan akan menggiatkan
kembali pembinaan kepada para
petani sutera,” ucap dia.
Amin juga mengaku, rencananya ini
mendapat dukungan penuh dari
industri tenun sutra skala besar di
Garut. “Mereka menawarkan
bantuan mesin pemintal, dengan
syarat, saya bekerja sama dengan
petani sutera,” ujarnya.

Amin mengaku senang lantaran
banyak pihak mendukung
rencananya ini. Maka itu, menjalin
kerja sama dengan petani sutera
kini menjadi fokus utamanya dalam
mengembangkan bisnis tenun yang
digelutinya.

Setelah kendala bahan baku
teratasi, Amin berniat membangun
galeri sutera di Jakarta agar
jangkauan pemasarannya lebih luas.

Untuk itu, ia kini mulai melakukan
pengembangan produk.
Selain kain tenun lembaran, sejak
tahun lalu, Amin juga mulai
memproduksi pakaian jadi. Dengan
membuat pakaian jadi,
konsumennya kini tidak terbatas di
kalangan pembatik saja. Tapi juga
masyarakat umum yang ingin
mencoba langsung produk dengan
mengenakan busana sutera.
Dengan begitu, produk tenun sutera
khas Garut bisa semakin dikenal.
“Sekarang kalau pameran, saya tidak
bawa bahan mentah, tapi yang
sudah siap pakai oleh konsumen
umum,” ujarnya. (Marantina )

sumber: http://mobile.kontan.co.id/news/amin-akan-gandeng-petani-ulat-sutera-3/2013/02/03

Gufron, Berkat Modifikasi Martabak ‘Mavia’, Mahasiswa Ini Raup Omzet Rp 30 Juta/Bulan

Jakarta – Hampir semua orang
mengenal makanan yang bernama
martabak. Selintas ketika
mendengar nama makanan ini,
akan terbayang sebuah lingkaran
besar, terpotong-potong dan
memiliki isi. Nyam.
Pastinya bayangan itu akan buyar
jika melihat martabak mavia.

Muhammad Gufron adalah
inisiatornya. Martabak dengan
diameter 3,5 cm dilapisi rasa unik
ini berhasil ia ciptakan 2011
silam. Bagaimana ceritanya?
“Idenya dulu begini. Saya
terinspirasi dari (es krim)
Magnum, ini sebenarnya saya
bikin kayak gini ikut Magnum.
Magnum kan di luarnya keras,
coklat di dalamnya lembut. Kalau
ini martabak yang lembut isinya,”
jawab Gufron saat berbincang
bersama detikFinance, Selasa
(4/2/2013).

Ia mengaku sebagai pengagum
sejati martabak. Pantas saja, meski
masih menempuh studi di jurusan
Perikanan, Institut Pertanian
Bogor (IPB), Gufron berani
memulai usaha ini. “Jauh banget
ya, tapi saya memang suka
martabak,” tandasnya.
Modal yang disiapkak saat itu Rp
17,5 juta. Percobaan pertama, Ia
memproduksi martabak
berdiameter 8,5 cm, dengan posisi
terbuka.

“Itu ternyata tidak sesuai dengan
segmen pasar saya. Saya inginnya
buat untuk anak muda, dan
praktis. Akhirnya buat kayak gini
lebih kecil,” ucap Gufron.
Menurut dia, anak muda sering
membatalkan niat membeli
martabak hanya karena kebesaran
dan rasa yang cenderung
monoton. Harga yang dipatok pun
disesuaikan, yaitu Rp 7.000.
Lokasi penjualan tersebar di
kantin-kantin wilayah Bogor,
seperti kantin kampus dan
sekolah.

“Kita sesuaikan produk dengan
konsumennya. Jadi diselimuti
coklat. Jadi ada campuran rasa
juga. Rasanya ada original, cheese
milk, sama double coklat,” terang
Gufron sambil memperlihatkan
kreasinya.

Statusnya sebagai mahasiswa
memang menjadi kendala.
Membagi waktu jadi alasan utama
untuk memilih mana yang menjadi
prioritas. Alhasil, pilihannya
ternyata berbuah manis. Saat ini ia
bisa mengantongi uang Rp 30 juta
per bulan.

Gufron juga menyebutkan
kendalanya dalam mengelola
karyawan. Setahun berjalan,
masalah ini cukup membuatnya
kewalahan. “Jadi sekarang ada
tujuh (karyawan). Ini baru
beberapa bulan sudah 2 karyawan
yang berhenti. Ambik karyawan
lalgi, training lagi, itu repot,”
jelasnya.
Tahun 2013, Ia sudah
mematangkan beberapa strategi.

Di antaranya dengan membuka
kemitraan dengan tiga pola.
Pertama, investasi dengan sistem
bagi hasil dan pengembalian
modal. Kedua, distribusi di mana
pembagian untuk penjual 10%.
Ketiga adalah reseller dengan
sistem jual putus.

“Saya targetkan untuk main di
Jabodetabek yang sudah ada
beberapa tempat yang kami tinggal
deal. Kue Lapis Bogor, Javapucino
terus di UI (Universitas Indonesia)
dan ada beberapa tempat di
Kampung Melayu,” lanjutnya.
Gufron juga akan mengakhiri
produknya dijual dari kantin-
kantin dan mencoba masuk ke
swalayan atau mal di Jabodetabek.
Menurutnya ini penting untuk
menjangkau konsumen kelas
menengah ke atas.

“Kalau saya jual masih di tempat
yang biasa, itu ngejatuhin produk
saya. Akhirnya saya ingin naik ke
segmen menengah ke atas,”
pungkasnya.

Tertarik dengan peluang usaha ini?
Hubungi Gufron di twitter
@martabakmavia

( Maikel Jefriando)

sumber: http://m.detik.com/finance/read/2013/02/05/073347/2161107/480/modifikasi-martabak-mahasiswa-ini-raup-omzet-rp-30-juta-bulan