Nani Oktaviani, Womenpreneur Muda yang dari Bisnis Busana Muslim Sukses Raup Omzet Hingga Rp 800 Juta


Nani Oktaviani, Dari Hobi ke Bisnis Konveksi

Banyak pelaku bisnis yang mengawali

usahanya dari hobi. Wanita ini adalah

salah satu pelaku usaha konveksi yang

berhasil membangun usaha dari minatnya

di bidang seni dan fesyen. Diiringi usaha

keras dan dukungan penuh sang suami,

produk fesyennya yang dibangun dari

usaha kecil mulai dikenal di Indonesia

bahkan sampai kalangan muslim Amerika

Serikat.

 

SENI, kampus UNPAD (Universitas Padjajaran),

 

dan kota Bandung adalah tiga ha1 yang

 

tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Nani.

 

Tiga hal tersebutlah yang kemudian

 

mengantarkannya menjadi pelaku

usaha konveksi. Dunia seni yang pertama

dikenalnya adalah dunia tari. Sejak kecil

Nani mampu membawakan berbagai tarian

tradisional Jawa Barat. Sekarang pun ia masih

dapat menarikannya dengan gemulai.

Selain menari, kegemarannya dengan kesenian

 

juga tampak dari gaya berpakaiannya.

Alumnus program diploma Sastra Jepang

UNPAD ini dikenal modis dalam berpakaian.

Hal ini bukannya tanpa alasan. Jurusan sastra

 

memang dikenal sebagai jurusan yang

mahasiswinya berpenampilan modis. Tak hanya

modis, baju yang dikenakan Nani juga unik

karena tidak ada orang lain yang memilikinya.

Rahasianya adalah mendesain dan membuat

sendiri baju yang diinginkannya. Karena modis

dan unik itulah, banyak teman yang menyukai

busana buatan Nani. Banyak dari mereka yang

 

akhirnya ingin dibuatkan baju muslim seperti

yang dikenakan Nani.

Nani pun dengan senang hati mengerjakan

pesanan teman-temannya. Tanpa terasa ia sudah

membuat banyak pakaian dan, karena dipakai

teman-temannya, desain Nani semakin dikenal

orang banyak. Dalam waktu yang tak berapa

lama Nani pun dikenal sebagai perancang amatir

busana muslim yang modis di kampus.

Sebagaimana ungkapan bahwa produk bermutu

 

punya jalannya sendiri untuk menemui

pintunya, busana rancangan Nani pun mencapai

sasarannya. Promosi gratis ‘dari mulut ke mulut’

melalui teman-temannya, mengantarkan Nani

ke pasar yang lebih luas. Berbagai penyelenggara

bazar kampus yang digelar di Bandung mengundang

 

Nani untuk ikut berpameran. Desain

busana muslim rancangan Nani pun semakin

dikenal di luar kampusnya.

Setelah melalui bazar kampus, kaki Nani

pun mulai melangkah lebih jauh. Dia kerap

mendapatkan undangan untuk tampil di pameran

 

fesyen kota Bandung dan sekitarnya.

 

Kota yang dikenal sebagai sentra industri

 

clothing dan fesyen ini mulai memberikan

tempat bagi Nani untuk mengembangkan minatnya.

Bandung memang memiliki arti khusus bagi Nani.

 

Baginya, Bandung dan orang-orang di dalamnya

adalah lingkungan dan entitas yang telah

 

mengantarkannya menjadi perempuan mandiri dan

 

mampu berpikir kreatif. Selain itu, Bandung

adalah tempat di mana dia menemukan jodohnya. Di

kota inilah Nani bertemu Irfan, pria yang kemudian

menjadi suami sekaligus motivator terhebat dalam

 

hidupnya.

 

TIDAK MALU UNTUK BELAJAR

Lahir di Majalengka, Jawa Barat, tanggal 24 Oktober

1972, Nani yang berasal dan keluarga pegawai BUMN ini

merupakan sosok yang mudah beradaptasi. Mungkin karena

beberapa kali pindah tempat tinggal. Pada usia 8 tahun,

Nani mengikuti orangtuanya pindah ke Kuningan, lalu

ke Tasikmalaya di usia 13 tahun. Di Tasikmalaya, Nani

menghabiskan masa SMA-nya sampai pindah ke Bandung

untuk kuliah di UNPAD. Karena cukup lama tinggal di

Tasikmalaya itulah Nani kerap merasa bahwa Tasikmalaya

adalah kota asalnya. Setelah menikah, Nani

mengikuti suaminya bertugas di Kalimantan Timur selama 3

 

tahun, lalu pindah lagi ke Riau selama 3 tahun. Baru pada

tahun 2000-lab ibu tiga anak ini kembali ke Tasikmalaya.

Meski sempat tinggal jauh dari kota industri pakaian, Nani

tetap menekuni kecintaannya pada fesyen. Sehingga ketika

kembali ke Tasikmalaya, Nani segera memutuskan untuk

menekuni bisnis fesyen. Keputusannya ini mendapat

 

dukungan dari suaminya, yang mengajukan pensiun dini dari

perusahaannya di Pekanbaru pada tahun 2004 dan

 

memutuskan untuk memulai usaha konveksi.

Salah satu alasan di balik keputusan tersebut adalah

 

karena Tasikmalaya dikenal sebagai salah satu kawasan

 

industri pakaian jadi Indonesia.

Data Dinas Perdagangan dan Perindustrian setempat

 

menunjukkan bahwa jumlah pelaku usaha di bidang ini

 

mencapai 17.000 orang. Selain itu, mereka merasa dapat

 

belajar banyak dari adik-adik mereka yang sudah lebih dulu

 

terjun di usaha konveksi. “Adik-adik kami sudah sukses

 

berbisnis sebagai supplier pakaian jadi ke Pasar Tanah Abang,

 

Jakarta. Jadi kami memilih bergabung lebih dulu. Modalnya

 

Sebagian dari orangtua,” kata Nani. Setelah merasa cukup

 

belajar  dengan sang Adik, tahun 2005 Nani dan Irfan secara

perlahan mencoba mandiri. Mereka mengembangkan usaha

 

pembuatan pakaian jadi, hanya berbekal 3 orang penjahit

 

yang bekerja di garasi rumahnya. Nani memberi merek

 

pakaian muslim wanitanya dengan nama Nadira.

Merek tersebut hanya ditawarkan secara terbatas, kepada

 

teman-teman arisan atau pengajiannya. Namun, tampaknya

 

desain busana muslim rancangan Nani memang memikat

 

banyak onang. Mengulang kembali promosi word of mouth semasa

perkuliahan, kali ini desain busana muslimnya

tersebar meialui teman-teman pengajiannya.

Usaha Nani pun mulai dikenal banyak orang,

hingga suatu ketika seseorang datang pada

Irfan untuk memesan busana muslim pria.

Berbeda dari busana muslim wanita yang

memerlukan jahitan detail, busana muslim

pria langsung dapat diproduksi secara massal.

Jadi, jika busana muslim wanita diproduksi

sesuai pesanan, busana muslim pria dapat dibuat stok.

Saat itulah, Nani dan Irfan membentuk perusahaan

 

konveksi yang diberi nama PT Janamas. Sejak Janamas

 

berdiri, keduanya selalu berusaha mencari pasar yang

 

berbeda dengan pelaku bisnis konveksi lain. Keduanya

 

juga memilih kreativitas sebagai andalan. Selain

berusaha tampil unik sebagai kekuatan utama

bisnisnya, pasangan ini juga menggenjot sisi

kualitas produk. “Untuk masalah kreativitas,

kami tekankan pada desain. Sementara untuk

kualitas, kami tekankan pada bagian bordirnya,”

kata Nani lagi, “Dengan mengandalkan

keduanya, alhamdulillah kami belum pernah

gagal di pasar.”

 

KENDALA DAN SOLUSI

Menjadi pemasok pakaian di pasar konveksi

Tanah Abang ternyata tidak semudah yang Nani

bayangkan. Pasalnya, pedagang Tanah Abang

banyak yang menggunakan sistem pembayaran

melalui giro. “Nah dengan sistem pembayaran

seperti ini, temponya sering meleset,” papar

Nani. Oleh sebab itu Nani dan Irfan memutuskan

berhenti sebagai pemasok pakaian jadi.

Tahun 2006, mereka memilih untuk menjual

 

langsung ke outlet-outlet di pusat-pusat

 

perbelanjaan. “Di outlet kita langsung berhadapan

dengan pembeli. Ini membuat kami tidak harus

mengambil risiko,” katanya. Ketika itu, Nani dan

Irfan memutuskan untuk membuat usaha baru

dengan nama CV Avertura. Tujuannya untuk

membuat sebuah merek busana muslim yang

lebih menarik. Sementara PT Janamas menerima

pesanan massal, Avertura mengkhususkan diri

untuk memproduksi busana muslim yang lebih

personal. Kemudian dengan merek barunya

yaitu Massive, Nani langsung memasarkannya

ke outlet-outlet baju di Bandung dan meminta

kesempatan mempresentasikan produk. “Ternyata

 

90 persen outlet menerima presentasi

kami,” ujar Nani.

Menjelang Lebaran, outlet-outlet pun mengalami

 

kebanjiran permintaan, terutama busana muslim.

 

Nani dan Irfan pun berusaha

meningkatkan produksi. Mereka berusaha mendapatkan

 

keuntungan lebih dari kesempatan itu.

Namun, justru pada saat itulah mereka menghadapi

 

hambatan baru. “Kalau sudah menghadapi musim Lebaran,

 

tenaga kerja terampil menjadi mahal dan terbatas,”

 

kata Irfan. Pasalnya, pada saat yang sama para

 

pengusaha pakaian lain juga mendapatkan banyak

pesanan sehingga permintaan tenaga kerja pun

melonjak. Ditambah lagi, karena puasa dan libur

Lebaran, banyak penjahit di Tasikmalaya enggan

menerima pesanan. Hal ini menyebabkan neraca

 

permintaan dan ketersediaan tenaga kerja

menjadi tidak seimbang, yang berimbas pada

meningkatnya honor mereka.

Tetapi, Nani dan Irfan harus tetap memenuhi

pesanan. Untuk mengatasi masalah ini, keduanya

menggunakan pendekatan khusus. Mereka

membuat perjanjian dengan para pekerjanya

bahwa mereka akan terus memberikan pesanan

setelah selesai Lebaran. Hal ini menjadi pilihan

karena biasanya pesanan justru menurun pasca

 

Lebaran sehingga para penjahit tidak memiliki

pekerjaan.

Dengan menggunakan perjanjian yang

menguntungkan kedua belah pihak tersebut,

para penjahit setuju untuk membantu PT Janamas.

 

Mereka mau menjahit asalkan setelah Lebaran

 

tetap mendapat pekerjaan, meskipun

dengan volume kecil. Selain itu, mereka juga

mendapat insentif dan bantuan keuangan dari

PT Janamas.

Satu per satu hambatan dapat terselesaikan.

Namun, PT Janamas tidak luput dari kerugian

besar. Tahun 2006, ketika memasok pesanan

ke sebuah toko baju di Cikarang, ratusan juta

rupiah tak tertagih dan lenyap begitu saja. Hal

ini membuat Nani berpikir lebih keras untuk

menyelamatkan usaha yang juga merupakan

hobinya ini. “Karena pesanan dari Cikarang

itu menguras modal, kami kemudian datang ke

bank bjb. Kami mendapat pinjaman modal kerja

Rp 40 juta dengan sistem profit sharing. Modal

ini menyuntik semangat kami lagi,” kata Nani.

Dengan semangat baru itu, usaha mereka

 

kembali merekah. Bank bjb kembali memberikan

suntikan modal sebesar Rp 100 juta pada tahun

2010 setelah melihat perkembangan Janamas.

Terakhir, pada tahun 2011 mereka kembali

 

mendapatkan pinjaman modal senilai Rp 160 juta.

Janamas pun mulai melebarkan sayapnya.

Perusahaan ini menarik tenaga kerja dalam

jumlah yang lebih banyak lagi. Kini, selain 4

orang karyawan reguler, ada 50 orang yang

terlibat dalam usaha konveksi ini; sekitar 10

orang penjahit bekerja di garasi rumah Nani,

sementara yang lainnya menyelesaikan pesanan

di rumah masing-masing. “Kebanyakan mereka

adalah tenaga kerja di bagian finishing,” jelas

Nani.

Untuk bertahan dan meningkatkan omzet,

selain mengutamakan kreativitas dan kualitas,

Nani dan Irfan terus mendorong PT Janamas untuk

 

mengikuti tren pasar. “Bahkan kami sering

menciptakan tren pasar,” kata Nani sambil

 

menunjukkan sejumlah busana muslim yang telah

beredar di butik-butik Jakarta dan Bandung.

Walau menggunakan bahan dasar yang beragam_

 

seperti katun, linen, raw silk atau Thai

silk—Janamas tak menghadapi kesulitan untuk

mendapatkan bahan-bahan tersebut. Tetapi,

baik Irfan maupun Nani mengaku bahwa hal

tersebut tidak berarti membebaskan mereka

 

dari persoalan bahan baku. Harga bahan

bahan yang mereka butuhkan terus mengalami

kenaikan. “Semua pemain konveksi menghadapi

masalah ini. Karena harga terus naik, kami

juga tidak melirik bisnis bahan baku sebagai

peluang,” tambahnya.

REKANAN DAN PESANAN

Meskipun usaha konveksinya masih tergolong

lokal, Nani memiliki cita-cita tinggi. Setelah

perbankan menilai usaha ini layak memperoleh

modal, Nani ingin membawa Janamas dikenal

masyarakat luas. Salah satunya dengan cara

tampil profesional di dalam negeri.

Untuk pasar dalam negeri, Nani memilih memasarkan

 

produknya ke segmen kelas menengah.

Nani rajin melakukan promosi dengan cara

mengikuti pameran, presentasi, atau membuat

brosur dan beriklan di media cetak. “Dari segi

kreativitas, saya terus mendorong Janamas

menjadi usaha konveksi yang produknya

berkualitas dan berkelas,” kata Nani.

Tidak hanya menenima pesanan baju muslim,

Nani juga mulai menerima semua jenis

produk yang berkaitan dengan jahit-menjahit,

termasuk seragam pegawai perusahaan manufaktur

 

hingga seragam pegawai hotel bintang

5 di Jakarta. Selain itu, Janamas juga pernah

 

menerima pesanan sarung jok kursi dari

perusahaan furnitur di Yogya, yang kemudian

diekspor ke Eropa. Dari promosi word of mouth

itulah lambat-laun pesanan berbagai jenis

jahitan membanjiri Janamas.

Usaha keras Nani dan Irfan tak sia-sia.

Dengan rajinnya Nani menerima berbagai

pesanan dan mengikuti pameran di tingkat

lokal maupun nasional, ia banyak diundang

tampil di berbagai ajang pameran fesyen,

termasuk pameran di luar negeri. Salah satu

pihak yang beberapa tahun belakangan rajin

mengundangnya adalah ajang kegiatan Moslem

Journal Award di Amerika Serikat. Setiap ada

kesempatan untuk berpameran di ajang ini Nani

mencoba tampil habis-habisan.

Dalam Moslem Journal Award 2011, ada tiga

kegiatan yang dilakukan Nani, termasuk peragaan

 

busana muslim, malam penghargaan,

dan bazar di Majelis Taklim. “Saya diperkenalkan

sebagai satu di antara dua undangan terhormat,”

 

ujarnya bangga, seraya menginformasikan

bahwa undangan terhormat lainnya adalah

perancang busana muslim dari Timur Tengah.

Salah satu dampak positif pameran tersebut

adalah datangnya order mendesain dan

 

memproduksi seragam untuk sebuah islamic school.

Janamas diminta membuat pakaian seragam

 

dari TK hingga Perguruan Tinggi di Louisville,

Kentucky. Selain itu, Nani juga pernah tampil di

Moslem Journal dan Azizah Magazine.

Meskipun demikian Nani mengaku belum

ingin terlalu fokus untuk memasarkan produknya

 

ke luar negeri karena belum menemukan

cara untuk mengatasi masalah jarak dan biaya

pengiriman. Pemesan dari luar negeri biasanya

menginginkan baju bagus dengan harga murah.

Tetapi ongkos kirim ke luar negeri masih

sangat mahal. Hal ini menyebabkan harga

pokok menjadi sangat tinggi, terutama ketika

jumlah pesanan tidak terlalu banyak. “Kecuali

bila ada pesanan yang banyak sehingga bisa

menutup biaya kirim,” jelas Nani yang kemudian

memutuskan untuk fokus mengembangkan

usaha di dalam negeri.

MANAJEMEN USAHA

Banyaknya warga Tasikmalaya yang bekerja

sebagai penjahit, membuat Nani tidak kesulitan

 

untuk mencari tenaga kerja. Tanpa perlu

 

memberikan pelatihan khusus, Nani mampu

 

mendapatkan penjahit, tukang potong, dan tukang

bordir dengan mudah. Dengan demikian, Nani

hanya perlu membuatkan desain, sementara

produksinya langsung diserahkan sesuai bidang

keahlian mereka.

Urusan keuangan, diatur sendiri oleh Irfan

yang memiliki latar belakang pendidikan di

bidang akuntansi. Pernah juga Nani

 

mempekerjakan saudara sendiri untuk urusan keuangan.

 

Namun, hal ini tidak berlangsung lama

karena orang tersebut mengundurkan diri ketika

akan menikah.

Seperti yang terjadi pada hampir semua

usaha rumahan Indonesia lainnya, Nani yang

terjun langsung dalam pemilihan pegawai tidak

memiliki kriteria khusus dalam menenima pegawainya.

 

“Asalkan mau bekerja dan memiliki

tekad untuk belajar, mereka akan diterima

bekerja di sini,” tegasnya. Nani merasa tidak

perlu memikirkan apakah pegawainya memiliki

latar belakang pendidikan yang sesuai dengan

pekerjaannya atau tidak. Ia merujuk pada

dirinya sendiri yang menjadi desainer dengan

latar belakang pendidikan sastra Jepang.

Dengan sistem pembayaran sesuai posisi—

para penjahitnya diupah per potong, sementara

 

staf kantor diupah per bulan—Nani mampu

mengatasi masalah turnover para penjahit.

 

Dengan memberikan upah per potong, Nani dapat

dengan mudah mencari pengganti penjahitnya

yang mengundurkan diri secara tiba-tiba.

 

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, jumlah

penjahit di Tasikmalaya memang sangat banyak.

Meski harus sering berganti penjahit, Nani

mengaku tidak perlu memberikan pelatihan

khusus mengenai keterampilan menangani mesin

 

jahit terbaru. Saat ini Nani menggunakan

mesin jahit berkecepatan tinggi dan mesin

jahit biasa. Kedua jenis mesin jahit tersebut

dapat dengan mudah digunakan oleh para

penjahitnya. Mesin jahit berkecepatan tinggi

 

membantu para penjahitnya bekerja lebih cepat,

dengan demikian mereka mendapatkan upah

yang lebih tinggi. Sedangkan mesin jahit biasa

digunakan untuk memproduksi busana muslim

wanita yang memerlukan kehati-hatian dan

banyak detailnya.

Dalam dunia usaha, khususnya UKM yang

bergerak di bidang ekonomi kreatif seperti

fesyen, ternyata manajemen yang baik tak hanya

dibutuhkan pada sisi hulu atau produksi. Tanpa

manajemen yang baik dan tepat pada sisi hilir

atau pemasaran, diakui Nani bahwa usaha ini

akan lambat berkembang. Meski masih memilih

 

cara pemasaran konvensional, yaitu dari

mulut ke mulut, Nani dan Irfan merasa bahwa

pemasaran produk mereka memerlukan cara

cara yang lebih kreatif. “Intinya, marketing

konvensional boleh saja tetap dipakai namun

dengan cara kreatif,” kata Nani.

 

Ia kini tengah menyiapkan pemasaran

dengan menggunakan jasa internet. Namun

Nani yakin, selama perusahaannya mampu

memenuhi pesanan dengan kualitas yang baik

dan tepat waktu, maka para pelanggan tidak

akan pindah ke perusahaan lain dan nama baik

perusahaan pun tetap terjaga.

Nani juga menjelaskan bahwa perusahaannya

melayani pesanan dengan sistem first come first

served. Pesanan yang lebih dulu diterima akan

langsung diselesaikannya. Sementara untuk

sistem pembayaran, Nani memberlakukan dua

sistem. Sistem pertama adalah bayar di muka,

kemudian dilunasi ketika pesanan telah selesai.

Sistem kedua adalah pre order, setelah pesanan

 

disetujui, Nani langsung memproduksi

pesanan tersebut dan baru akan dibayar setelah

selesai. “Sistem pre order kami setujui asalkan

pemesannya merupakan perusahaan yang jelas

dan punya reputasi yang baik. Dan kami terlebih

dahulu membuat perjanjian yang jelas dengan

si pemesan,” jelas Nani mengenai bagaimana ia

memitigasi risiko penerapan sistem ini.

Secara garis besar, sisi manajemen Janamas

dan Averture menggunakan sistem manajemen

modern, tetapi mereka tetap menjaga hubungan

kerja yang dekat dengan pegawai sesuai adat

yang berlaku di Timur. Jadi, sembari membangun

 

sistem pengelolaan perusahaan yang

 

profesional, Nani dan Irfan tetap menjalin

hubungan kekeluargaan dengan seluruh karyawan.

 

“Kami sedang menyiapkan sistem agar

karyawan memiliki saham hingga 30 persen.

Bahkan mesin jahit pun kami serahkan kepada

mereka,” katanya. Dengan cara ini Nani dan

Irfan berharap karyawan betah bekerja di

tempat mereka.

Menurut Irfan, Janamas selalu berupaya

memperbaiki sisi produksi, pemasaran, dan

permodalan. “Kami mulai menerapkan QC

(quality control) yang dikerjakan oleh satu

orang saja,” kata Irfan. Usaha yang berdiri

dengan modal awal Rp 100 juta ini telah

mampu memproduksi 6.000 potong pakaian

 

per bulan. Omzet bersih usaha yang berlokasi di

Kompleks Perumahan Tajur Indah, Tasikmalaya

ini mencapai Rp 800 juta per tahun. Setelah

dikurangi ongkos produksi, keuntungan bersih

yang dicapai Janamas sedikitnya mencapai Rp

100 juta per tahun.

Pengusaha busana muslim yang sudah menerbitkan

 

buku panduan berbusana muslim

dengan judul “Inspirasi Berbusana Muslim” ini

ingin agar dalam 5-10 tahun ke depan, usahanya

 

mampu berdiri lebih kokoh. Tidak muluk-muluk,

Nani hanya ingin memiliki konveksi yang dapat

mewadahi para penjahitnya yang sebagian masih

 

bekerja di rumah masing-masing saat ini.

Selain itu Nani ingin memiliki outlet sendiri di

Tasikmalaya. Dan, tujuan utama Nani berusaha

adalah ingin dapat terus membantu wanita

muslim tampil modis. “Karena semua ini saya

lakukan dengan tujuan untuk berniaga di jalan

Allah,” ujar Nani bersahaja.

 

Catatan Rhenald Kasali

SEPERTI KIKI GUMELAR, Nani Oktaviani dan suaminya yang mengawali kariernya

 

di dunia kerjä, juga pulang kampung yang satu pulang ke Garut, yang satunya

 

ke Tasikmalaya. Mereka memilih bisnis yang didukung oleh lingkungannya

 

sehingga tidak tarlalu sulit memu1ai, mempertahankan pertumbuhan, mencari

 

pegawai, membeli bahan baku, dan seterusnya.

Tentu saja hal seperti ini tidak berlaku sama pada setiap orang. Belum

 

tentu Anda barasal dari kampung yang memiliki daya dukung lingkungan

 

saperti Garut. Tasik adalah gudangnya pengusaha konveksi khususnya bordir.

Anda tinggal menyebut, ribuan tukang jahit akan datang. Demikian juga bahan

 

baku dan pembeli. Anda punya akses yang luas untuk membuat usaha jahitan

 

Anda menjadi produktif.

 

Demikian juga dengan Garut. Selain sebagai daerah wisata, penduduk Garut

 

terbiasa membuat pangan dodol dan jajanan wisata. Daya dukung pertanian dan

 

alamnya sangat kaya. Kota ini juga memiliki jendela pasar yang mudah

 

diakses.

Yagyakarta, Solo, Sleman, Plered, Cirebon, Pekalongan, Lombok, Bali,

 

Pontianak, Makassar, dan banyäk kota lainnya juga punya potensi yang sama

 

Anda tinggal mencocokkan minat dan keterampilan Anda pada potensi yang

Tersimpan di kota-kota tersebut, Selebihnya 90% keberhasilan ada di sana.

 

Anda tentu tidak harus mendaptakan sesuatu yang baru sama sekali. Seperti

 

kata pepatah we don’t have to reinvent the will.

Namun demikian, Anda perlu menyegarkan industri yang sudah ada. Sebab

 

Perilaku-perilaku usaha di kampung itu sudah puluhan tahun berada di sana

 

Dan, mereka saling meniru satu sama lain, mencocokkan produksi

dan pemasaran dengan yang dilakukan tetangga-tetangganya. Demikian terus

 

selama bertahun-tahun mereka melakukannya bersama-sama, bersaing dan

 

bekerja sama. Mereka lupa suatu ketika konsumen pun berubah.

Konsumen jenuh dengan barang yang sama terus-menerus. Selera pasar berubah,

 

menunggu sang pembaru.

Oleh karena itu, pulanglah ke kampung dan perbaruilah apa yang sudab ada.

 

Di sana semuanya sudah ada. Anda tinggal memperbaruinya.

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 13/04/2013, in Fashion and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: