Ronald Sinaga, Mantan Direktur Sebuah Bank yang Resign dan Kini Sukses Lewat Peternakan Sapi Perah


Ronald H. Sinaga, Menggulirkan Revolusi Susu

 

Gila! Itulah kata yang hampir pasti

akan dilontarkan orang jika ada

seseorang yang nekat melepas profesi

terhormat berpenghasilan tinggi lalu

memilih tinggal di “kandang” sapi.

Tetapi Ronald H. Sinaga, justru memilih

langkah “gila” itu: melepas dasinya

sebagai bankir lalu menjadi peternak

sapi perah.

 

KAMPUNG Papakmangu di Desa Cibodas,

Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung,

 

Jawa Barat, siang hari itu terlihat

berbeda daripada hari lainnya. Ratusan warga

tumpah ruah di halaman Sekretariat Kelompok

Peternak Sapi Perah Pasirjambu Ciwidey (KPPC)

Cipta Pratama. Mereka mengantarkan anak atau

anggota keluarga yang akan mengikuti khitanan

massal, pengobatan gratis, dan pembagian bingkisan.

Pengelola KPPC menjelaskan, kegiatan sosial

itu adaiah ungkapan syukur atas keberadaan

mereka sebagai perusahaan yang bergerak di

bidang peternakan sapi perah di Papakmangu.

Mereka ingin berbagi rezeki kepada warga yang

telah menerima kehadiran mereka.

Menurut ketua KPPC Cipta Pratama, Ronald

H. Sinaga, kegiatan tersebut merupakan momen

penting untuk meningkatkan rasa kebersamaan

antar peternak dan antara masyarakat dengan

KPPC. Apalagi KPPC tengah berupaya meningkatkan

 

kinerja mereka dan kesejahteraan peternak.

“Masih banyak peternak yang perlu didorong

untuk bergabung, selain itu kegiatan seperti ini

menjadi momen yang tepat untuk menyentuh

para peternak sapi yang nakal. Sebab masih ada

 

peternak yang sengaja menambahkan air pada

susu,” kata Ronald.

Ronald menekankan pentingnya kebersamaan bagi

 

para peternak sapi. Selain menjadi

media untuk saling belajar, kebersamaan merupakan

 

cara yang sangat efektif untuk saling

 

mengingatkan dan mengontrol. Lewat kebersamaan,

 

lanjut Ronald, para peternak bisa

saling membantu dan menguatkan, terutama ketika

 

menghadapi berbagai kendala usaha. Khususnya

 

kendala yang datang dari luar, seperti

perilaku kartel susu yang sangat merugikan.

PERJALANAN USAHA

KPPC Cipta Pratama adalah kelompok usaha yang

 

menghimpun para pelaku usaha mikro dalam

 

bidang peternakan sapi perah di

Parongpong dan Cibodas. Selain bergerak di

bidang pemerahan susu, KPPC juga terlibat

dalam pembuatan pakan, penampungan dan

pendinginan susu, serta pembuatan sejumlah

produk turunan susu.

Para peternak sapi sebenarnya sudah bergabung

 

dengan KPPC sejak tahun 1998.

Umumnya mereka melakukan usaha ternaknya

secara tradisional. Tak banyak yang dilakukan

untuk menghadapi berbagai masalah seperti

 

meningkatkan kualitas sumber daya manusia,

permodalan, akses ke dunia perbankan, pemasaran,

 

serta kualitas ternak dan produk susu.

Baru setelah Ronald bergabung, tahun 2008,

sejumlah masalah ini mulai memperoleh jalan

keluar.

Saat ini, KPPC menampung 800 peternak sapi

perah yang memiliki 3.000-an ekor sapi. Terbagi

dalam 20-an kelompok, KPPC yang didukung

oleh 40-an karyawan ini mampu menghasilkan

susu segar sebanyak 23.000 hingga 25.000 liter

per hari. Sapi-sapi penghasil susu segar tersebut

merupakan bagian dari ribuan ekor sapi yang

berada pada fase laktasi.

KPPC memiliki dua pusat lokasi usaha, yakni

di Kampung Papakmangu, Cibodas, Pasirjambu,

 

Kabupaten Bandung dan Kampung Belapati,

 

Desa Parongpong, Bandung Barat. Namun,

 

sebenarnya para perternak sapi perah itu

tersebar di sejumlah lokasi, yakni Lembang,

Parongpong, Cisarua, dan Ciwidey.

Selain itu, KPPC juga memiliki empat unit

usaha yang tersebar di beberapa lokasi. Unit

usaha pertama berupa penampungan dan

pendinginan susu sapi segar yang berada di

 

Parongpong. Proses pendinginan menggunakan

PHE dengan kapasitas mencapai 3.000 liter per

jam. Sementara daya tampung dan pendinginan

susu mencapai 15.000 liter.

Unit usaha kedua berada di Ciwidey, berupa

pabrik pakan ternak. Unit usaha ini disertai

usaha penampungan dan pendinginan susu

segar, lengkap dengan unit pendinginan yang

memiliki daya tampung hingga 5.000 liter.

Unit usaha ketiga adalah unit usaha peternakan

 

sapi perah di Cibodas. Unit usaha ini juga

dilengkapi dengan pendinginan susu dengan

daya tampung 1.000 liter. Sedangkan unit usaha

keempat KPPC berada di Cisarua, berupa usaha

penampungan dan pendinginan susu.

“Selain itu, KPPC juga masih memiliki unit

usaha lain yang baru mulai tumbuh. Unit ini

menghasilkan produk turunan susu seperti

yoghurt, permen susu, dan dodol susu,” ujar

Ronald dengan bangga. Semua usaha yang

dilakukan KPPC ini mampu meraih omzet Rp

2 miliar setiap bulan. Dari total pendapatan itu

keuntungan bersih yang diraih KPPC mencapai

Rp 1,5 miliar per tahun.

Ronald berharap agar ke depannya KPPC

 

tidak hanya mampu menyalurkan susu segar,

tetapi juga mampu memproduksi produk susu

dengan merek sendiri. Produk susu yang di

maksud antara lain adalah susu segar siap minum,

 

yoghurt, dan es krim. “Kami punya ide

untuk membuat warung susu segar KPPC, dengan

 

membentuk koperasi sendiri. Namun,

masih terdapat keterbatasan dana dalam

 

mewujudkannya,” jelas Ronald. Hingga memasuki

 

pertengahan 2011, KPPC tengah berusaha

 

membawa usaha peternakan ini menjadi

penyedia sekaligus penyebar virus gemar susu

segar di masyarakat, terutama masyarakat

 

perkotaan di Indonesia.

DARI MENARA GADING KE KANDANG SAPI

Sebelumnya, peternakan sapi merupakan dunia

 

yang asing bagi Ronald. Tak pernah terbayangkan

 

sama sekali bahwa dalam perjalanan

hidupnya ia akan berurusan dengan “kandang

sapi”. Sebagai orang kota yang lebih banyak tinggal

 

di “menara gading”, hingga setahun sebelum

berkutat dengan usaha peternakan sapi, pria

 

kelahiran Palembang, 25 Desember 1963 ini belum

tahu sedikit pun tentang sapi.

Semua berawal tahun 2008. Saat itu, tak lama

setelah meninggalkan profesinya sebagai bankir

mapan yang telah dijalaninya 20 tahun, Ronald

mengunjungi sahabatnya di Missouri, Amerika

 

Serikat, yang bergerak di bidang peternakan sapi

perah. Di negeri itulah untuk kali pertama dalam

hidupnya ia mengenal usaha peternakan sapi perah.

“Saya memang baru mengenal dunia sapi

perah di tempat sahabat saya. Di negeri orang,

pula. Itu pun baru kulitnya. Pengetahuan saya

tentang usaha ini baru bertambah setelah rajin

 

membaca buku-buku tentang ternak sapi,

produk susu segar, dan produk turunannya,”

katanya.

Dalam sebuah buku yang sempat dibacanya,

Ronald menemukan informasi yang mengejutkan.

Suatu hasil studi menunjukkan adanya korelasi

yang meyakinkan antara negara-negara yang

 

berhasil menjadi peserta Piala Dunia Sepakbola FIFA

dengan jumlah volume susu yang dikonsumsi

 

penduduknya. Intinya, penduduk negara-negara yang

berhasil menjadi langganan peserta pesta olah

raga sepakbola kelas dunia itu konsumsi susunya

paling sedikit mencapai 30-50 liter per kapita per

tahun. Demikian juga negara-negara yang merajai

Olimpiade.

“Cina melakukan revolusi (minum) susu

pada tahun 1986. Tahun 2006 mereka juara

Olimpiade. Indonesia rata-rata baru 10 liter per

tahun. Itu pun 70 persennya bukan susu segar

tapi susu formula yang nutrisinya lebih rendah

dibanding susu segar dan bahannya diimpor dari

 

negara lain. Kita masih kalah dengan Vietnam

yang konsumsi susu segarnya sudah mencapai

11 liter per penduduk per tahun,” paparnya.

Ronald yang pernah menduduki jabatan tinggi

di sejumlah bank dan lembaga keuangan lain ini

kemudian melanjutkan penggaliannya tentang

dunia sapi perah.

Jenuh bekerja di lembaga keuangan yang

cukup bergengsi di Jakarta, Marketing &

 

Business Development Director itu memilih

 

jalan ekstrem. Dia meninggalkan Jakarta lalu

beternak sapi. Tahun 2009, penyandang gelar

S2 di bidang bisnis dari School of Business pada

University of the East Manila dan S1 Universitas

Advent Indonesia ini membeli 30 ekor sapi

secara bertahap.

Namun karena tak memiliki pengalaman,

Ronald langsung menghadapi sejumlah masalah.

Produk susu segar yang dihasilkan sapi-sapinya

mengecewakan. Sialnya lagi, pasar dikuasai oleh

kartel yang sangat merugikan peternak. Mereka

mengatur harga yang sangat rendah.

Ronald yang terlatih melakukan analisis

bisnis segera mencari tahu penyebabnya. Dia

menemukan bahwa rendahnya kuantitas maupun

 

kualitas produk susu sapinya bersumber

pada pakan sapi dan perawatannya. Ronald

mengaku bahwa dia hanya memberi pakan

sebagaimana peternak sapi lokal di sekitar

 

daerah usahanya. “Akibatnya, produk susunya

berkualitas rendah,” ujar Ronald menjelaskan.

Ronald pun bergerak mencari solusinya.

Setelah gagal dalam beberapa kali percobaan,

akhirnya Ronald berhasil membuat pakan sapi

yang tepat. Kuantitas dan kualitas susunya

meningkat signifikan, yakni sebesar 50 persen

dan secara bertahap menuju 100 persen.

Merasa berhasil, Ronald melangkah lebih

jauh. Dia membuat pabrik pakan sapi.

 

Rencananya, produk pakan ternaknya akan

 

ditawarkan kepada para peternak di sekitarnya.

Harapannya agar susu yang dihasilkan para

peternak meningkat kuantitas dan kualitasnya.

“Kalau produk susunya meningkat, penghasilan

peternak pasti akan ikut meningkat,” ujarnya.

Sayang, respons para peternak lokal tak

sesuai harapannya. Pasalnya, harga yang

 

ditawarkannya terlalu tinggi. Mereka tidak

 

memiliki cukup dana untuk membelinya. Ronald

kemudian memutar otak. Ia pun mencoba cara

lain. Menurut asumsinya, para peternak akan

bersedia membeli pakan buatannya jika produk

susu mereka juga dia beli. Ternyata benar,

predikat Ronald pun segera bertambah, yaitu

menjadi penampung susu.

Tak terlalu lama mencari, Ronald berhasil

mendapatkan pasar susu segarnya, yakni

PT Indolacto (dahulu bernama Indomilk).

 

Perusahaan susu formula ini bersedia menampung

 

susu segar KPPC hingga 25.000 liter

per hari. Setelah memperoleh pasar ini Ronald

 

merasa satu masalah di antara sejumlah

masalah yang dihadapinya mulai terpecahkan.

 

Dia juga merasa memperoleh isyarat

bahwa lambat atau cepat, berbagai masalah yang

 

dihadapi dunia usaha peternakan sapi

perah juga bisa dipecahkan.

 

MENYEBAR “VIRUS” KEMAJUAN

Meskipun berhasil menemukan pasar yang bagus

 

Untuk menyalurkan produk susu, Ronald menyadari

 

bahwa masalah yang dihadapi para peternak

 

lokal cukup rumit. Diantaranya ialah soal bibit sapi.

Selama ini peternak yang ingin memperoleh sperma sapi

harus mengeluarkan dana besar. “Saya katakan masalah

besar karena penghasilan peternak masih rendah, modal

mereka juga terbatas. Selain itu pendidikan mereka juga

tidak terlalu tinggi sementara semangat untuk tumbuh

 

menjadi peternak modern belum terbangun,” katanya.

Kedua, kebijakan pemerintah. Menurut Ronald,

 

bea masuk yang dikenakan terhadap susu impor

 

sangat rendah sehingga perusahaan susu formula di

 

Indonesia leluasa memproduksi susu formula

dengan harga murah. Dengan demikian, peternak sapi

 

perah lokal harus menghadapi masyarakat Indonesia yang

lebih mudah mengonsumsi susu formula daripada susu

segar.

Menghadapi berbagai masalah tersebut, Ronald kembali

memeras otaknya. Ia melihat bahwa sebagian peternak

 

lokal telah memiliki kelompok usaha bernama KPPC Cipta

Pratama. Ronald pun segera bergabung. Tujuannya agar

bisa melakukan berbagai kerja sama yang saling menguntungkan.

 

Dalam waktu sekitar 8 bulan Ronald dipercaya untuk

 

memimpin KPPC tersebut. Dua bulan kemudian, dengan

 

menambah investasi baru, Ronald mengambil alih KPPC

 

dari pengurus lama. Dengan investasi tersebut di

bentuklah unit pengolahan pakan ternak untuk

mengembangkan kelompok peternak sapi perah

di Desa Papakmanggu, Gambung, Pasirjambu,

Kabupaten Bandung.

Sejak saat itu, Ronald mulai menyebarkan

“virus” kemajuan. Namun untuk urusan ini

dia harus bekerja keras dan cepat. Maklumlah,

selain banyak peternak yang belum bersedia

bergabung, banyak anggota yang tidak siap

diajak ‘berjalan’ cepat.

“Pada umumnya peternak masih kerasan dengan

 

kebiasaan lama, seperti mencampurkan

air ke dalam susu sehingga kadar air pada susu

segar menjadi tinggi. Peternak seperti ini kami

sebut peternak nakal,” katanya.

Untuk menyadarkan peternak nakal, Ronald

menerapkan budaya yang hidup di kalangan

masyarakat Sunda, yaitu budaya malu. Dengan

 

budaya malu ini para peternak diajak

memberikan sanksi sosial terhadap peternak

yang tak jujur. Kalau ada yang ketahuan,

sanksinya harus dikucilkan.

“Sebaliknya, peternak yang berhasil menjaga

kualitas harus diberi penghargaan. Bagi

 

masyarakat pedesaan yang masih menjunjung budaya

 

malu, mengalami pengucilan adalah hal yang

menakutkan,” katanya.

Ternyata cara tersebut cukup ampuh dan

menguntungkan. KPPC bisa membangun mekanisme

 

kontrol. Dengan pendekatan kultural pula,

cara berorganisasi yang lebih modern mulai

ditanamkan.

 

“Sementara untuk meningkatkan kualitas

susu, KPPC menempuh jalan penyadaran akan

pentingnya kebersihan kandang pada saat proses

pemerahan,” kata Ronald.

Selain itu, KPPC juga terus berusaha menumbuhkan

 

kesadaran akan pentingnya menjaga

lingkungan, termasuk sungai, dari pencemaran

 

limbah sapi. Terkait hal ini, KPPC menggandeng

berbagai kelompok pengolah limbah sapi. “Limbah

 

dijadikan pupuk atau produk lain. Hanya

saja hal ini masih sulit karena banyak peternak

yang belum bergabung ke KPPC,” tuturnya.

Untuk kenyamanan usaha, Ronald menambah

 

berbagai fasilitas seperti kesehatan ternak,

termasuk jumlah dokter hewan, selain petugas

kesehatan yang mengontrol kesehatan sapi. “Ini

juga sangat penting kami lakukan agar kualitas

susu sapi tetap terjaga,” katanya.

Ronald juga membawa kemajuan untuk urusan

 

permodalan. Selain pinjam ke bank bjb untuk

 

pengembangan usahanya, Ronald juga menyediakan

 

KPPC sebagai penjamin untuk para peternak.

Dari modal tersebut peternak anggota

KPPC mampu membeli sapi perah. Dengan

banyaknya sapi perah maka semakin banyak

pula tampungan susu di KPPC. Pengembalian

pinjaman modal kepada bank bjb dilakukan

dengan sistem angsuran, dan anggota KPPC

membayar angsuran dari hasil susu yang

diperoleh. Dengan cara ini, dunia perbankan

pun mulai melihat bahwa dunia peternakan

bisa menjadi pasar bagi produk-produk kredit

mikro.

REVOLUS SUSU!

Ronald mengakui bahwa ia masih baru dalam

 

usaha peternakan sapi perah. Namun bagi dia,

waktu dua tahun telah membimbingnya untuk

melihat dan melakukan sesuatu yang berguna

bagi kalangan peternak dan masyarakat luas.

Saat ini semua pengolahan susu masih dilakukan

 

secara tradisional. Perlahan namun pasti,

Ronald mengubah cara-cara tradisional tersebut

 

dengan memberikan penyuluhan peningkatan

 

kebersihan. Ronald menyarankan agar

kandang dan ternak dibersihkan dengan

 

menggunakan air hangat dan tempat pemerahan sapi

dibersihkan menggunakan ember alumunium.

Selain itu, Ronald memberikan penyuluhan

agar memperpendek waktu dari pemerahan

hingga penyetoran. Lebih cepat tiba di tempat

penyetoran maka dapat langsung didinginkan

guna mencegah pertumbuhan bakteri. KPPC

juga menyediakan mantri hewan gratis bagi

setiap anggota untuk menjaga kesehatan dan

kesuburan ternak mereka.

Pembelian susu dari peternak dilakukan

dengan membuat kelompok yang terdiri dari

40 orang. Dari setiap kelompok tersebut KPPC

membeli susu seharga Rp l00 per liter per hari.

Jadi, jika hari ini jumlah produksi KPPC 20.000

liter per hari maka dana yang disiapkan oleh

KPPC adalah Rp 2 juta.

Setidaknya konsep, metode, proses, dan

orientasi usaha KPPC yang dilakoninya sudah

mulai membuka mata banyak orang bahwa

 

usaha peternakan sapi perah bisa berkembang,

maju, dan menguntungkan. “Memang enggak

gampang. Bahkan masalahnya cenderung kompleks.

 

Tapi itulah tantangannya,” katanya.

Untuk mengurai berbagai masalah dan menemukan

 

solusinya, Ronald memanfaatkan pengalaman

 

yang dia peroleh di dunia perbankan

dan keuangan, ditambah kemauannya membaca

berbagai buku. “Kalaupun seperti trial and error

ya mohon dimaklumi. Tapi bukankah dunia

nyata menuntut kita belajar dari kesalahan?”

ujarnya.

Menghadapi peternak dengan kultur agraris

yang kuat, katanya, hanya ada satu cara, yakni

 

memberi contoh dan terus meyakinkan bahwa

mereka bisa melakukan yang lebih baik dari

sebelumnya. “Yang penting mata peternak

terbuka bahwa ada hal lebih baik yang bisa

mereka lakukan,” katanya. Misalnya, mengubah

pakan sapi yang tidak bernutrisi menjadi pakan

yang bernutrisi karena sangat berpengaruh

terhadap kuantitas dan kualitas susu.

Pada sisi pemasaran Ronald mencari penampung

 

susu besar, seperti perusahaan susu formula.

 

Ronald juga memelopori pembuatan produk

 

turunan dan penjualan susu segar secara

eceran. “Penjualan eceran ini penting bagi

peternak susu. Selain membuka peluang usaha

 

bagi masyarakat, juga menjadi awal dimulainya

revolusi susu di Indonesia,” ujarnya. Upaya itu

akan dilanjutkan dengan berdirinya rumah

susu di berbagai kota dan lokasi. Rumah susu

ini nanti akan menjadi semacam distributor

yang membuka peluang usaha bagi masyarakat

sekaligus menyebarkan virus Revolusi Susu,

yakni pentingnya mengonsumsi susu sebanyak

40-50 liter per kapita per tahun.

“Kalau ide yang sudah kami rintis ini kelak

menjadi gerakan, maka berbagai persoalan

utama peternak akan teratasi. Selain itu bangsa

Indonesia juga akan memetik manfaat dalam

hal kesehatan dan kecerdasan,” ujarnya seraya

menekankan pentingnya peningkatan konsumsi

susu segar di masyarakat karena susu segar jauh

lebih bernutrisi dibandingkan susu formula.

Untuk mewujudkan revolusi susu ini KPPC

tengah merintis sejumlah kerja sama dengan

pemerintah daerah Provinsi Jawa Barat. Ronald

juga segera mengusulkan kepada pemerintah

pusat untuk membuat kebijakan tentang susu

impor yang tidak merugikan peternak sapi.

“Pemerintah juga perlu mulai mengenal pentingnya

 

asupan susu segar bagi rakyat, terutama

 

di kalangan anak-anak, balita, pelajar, serta

mahasiswa,” katanya.

MANAJEMEN USAHA

Saat ini, Ronald memiliki dua impian besar

untuk mengembangkan usahanya. Pertama,

memiliki tanah yang dapat menampung sapi

kelompok peternaknya. Kedua, mendirikan pabrik

 

untuk memproses susu sendiri. Ronald

berharap agar kelompok peternaknya dapat fokus

 

beternak, kemudian menjual dengan harga

yang lebih tinggi. Untuk mewujudkan mimpi

tersebut, sistem usaha harus diperbaiki.

Pertama, kinerja karyawan dan peternaknya.

“Sudah ada di pikiran saya untuk memakai

 

tenaga profesional, tetapi tidak mudah, terutama

yang mau bekerja full time dan tetap masuk

Sabtu dan Minggu bila dibutuhkan,” ujarnya.

Sementara peternaknya, hanya diambil dari

 

sekitar Lembang. Upah yang diberikan disesuaikan

dengan banyaknya susu yang dihasilkan.

Peningkatan kemampuan peternak, dilakukan

 

melalui pelatihan dan diskusi. Ia mendatangkan

 

tenaga pelatih dari organisasi peternakan

 

bernama PUM Netherlands. “Saya browsing di

 

internet, melalui website-nya saya submit

 

aplikasi mengenai UKM saya. Setelah

 

melalui dua kali wawancara, akhirnya

saya berhasil mendatangkan seseorang untuk

memberikan konsultasi kualitas susu ke sini,

gratis, semua biaya ditanggung PUM,” jelasnya

bangga.

Selain pelatihan, ia juga melakukan pengawasan

 

terhadap para peternaknya. Ronald

mengaku pekerjanya ada yang pindah ke kelompok

 

pesaing karena pilihan sendiri dan ia

harus mencari seseorang yang dapat menjadi

penyelia. “Saya meminta adik istri saya bergabung,

 

karena dia bisa mengerti bahasa penduduk,” jelasnya.

Selanjutnya ia memperbaiki sistem usahanya.

Pertama, dalam hal social engineering, ia

 

mengubah perilaku peternak menjadi modern dengan

menanamkan pola pikir bahwa susu adalah

 

konsumsi manusia. Karena itu, kebersihan dan

kualitas susu harus benar-benar dijaga. Kedua,

sistem manajemen untuk menjaga loyalitas

karyawannya.

Ronald berharap dengan melakukan perbaikan,

 

mimpi-mimpinya dapat terwujud. Paling

 

tidak target sederhananya, yaitu semua

orang bisa minum susu dengan harga yang lebih

murah dengan kualitas terbaik.

Suatu malam pada bulan Juni 2011, di lokasi

 

peternakan sapi perah KPPC di Cisarua

yang dingin, Ronald H. Sinaga, mantan

bankir profesional itu, memandangi langit di

atas deretan kandang yang penuh bintang.

Ia membuktikan bahwa usaha peternakan

sapi perah dan susu segar bisa meningkatkan

kehidupan peternak. Bahkan dari kandang

sapi, virus Revolusi (Minum) Susu mulai ia

sebarkan.

 

Catatan Rhenald Kasali

SERING KALI TERLIBAT dalam kegiatan usaha bukanlah murni soal uang atau

 

menitipkan hari tua. Ada kalanya Anda juga dituntut melakukan perubahan.

 

Ya, perubahan. Sebuah transformasi sosial. Kalau ingin usaha Anda

maju maka Anda pun dituntut memajukan masyarakat. Bukankah dari masyarakat

 

itu Anda mendapatkan rasa aman (keamanan), bahan baku, tenaga kerja,

 

pembelaan saat terjadi gangguan, dan seterusnya.

Bayangkan apa jadinya bila kementerian pendidikan salah urus tenaga kerja

 

Kita? Sekarang ini saja semua pangusaha sudah merasakan akibatnya yaitu

 

tenaga-tenaga kerja yang tidak siap pakai. Belum lagi masalah kesehatan,

 

investasi sosial, kesejahteraan (listrik, fasilitas jalan, poliklinik dan

 

seterusnya). Anda juga dituntut melatih keterampilan mereka dan

 

memperbaikinya. Bukankah tenaga-tenaga penyuluh pertanian dan peternakan

sudah lama menghilang?

Ada kalanya, sistem ini sengaja dipertahankan oleh mereka yang mendapat

 

keuntungan-keuntungan jangka pendek. Tengkulak, lintah darat, dan politisi

 

atau birokrat-birokrat yang korup. Mereka mempertahankan masalah agar

 

terjadi ketergantungan dan masalah dijadikan proyek abadi. Maka demi

 

kecintaan Anda pada Sang Merah Putih, lakukanlah perubahan.

Ronald H. Sinaga ingin mendulang keuntungan, namun caranya harus berbeda.

 

Ia tidak menjadikan masalah sebagai peluang dengan mengabadikan masalah itu

 

sebagai proyek abadi, melainkan mengubahnya menjadi masyarakat yang

 

sejahtera yaitu masyarakat yang lebih mengerti, lebih mandiri dan lebih

 

sehat. Ia mengubah masalah masyarakat yang bukan menjadí kewajibannya

 

untuk mendapatkan dukungan, kepercayaan dan kredibilitas. Ia memberikan

 

pelatihan, memperbaiki mata rantai, dan memberi perhatian.

Perbaikan masyarakat mutlak dilakukan usahawan, di desa maupun di kota.

 

Bäyangkan bagaimana sehatnya negeri ini kalau semua orang mau

 

Melakukannya…

 

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 13/04/2013, in Agribisnis and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: