Uwoh Saepulloh, Anak dari Keluarga Petani yang Sukses Berwirausaha Pembuatan Perangkat dari Logam Beromzet Miliaran


Uwoh Saepulloh, Dari Piala Citra Hingga Rangka Baja

Dua piagam penghargaan dari

Menteri Pariwisata dan Gubernur

Jawa Barat menghiasì ruang kerja

H. Uwoh Saepulloh. Piala Citra,

Panasonic Award, dan Ka1pataru juga

menjadi bukti nyata sentuhan tangan

Uwoh menyulap logam. Inovasi demi

inovasi terus dilakukan Uwoh, tak bisa

berhenti, tak ada pedal rem.

 

GIGIH dan pantang menyerah, itulah

Uwoh Saepulloh, pemilik CV Sumirah

Teknik dan CV Rhodas di Cibatu, Cisaat,

Sukabumi, Jawa Barat. Sejak menjadi karyawan

di sebuah bengkel logam, Uwoh tidak pernah

menyerah atas suatu pesanan pelanggan. Sesulit

apa pun desainnya, tidak ada yang ditolak.

Justru pekerjaan sulit dijadikan tantangan

 

untuk menemukan cara yang lebih hebat.

Dengan bermodalkan kemampuan menguasai

3 jenis mesin—yakni press, scrub, dan bubut—

semua pekerjaan logam dilakukan tanpa kenal

lelah. Kepuasan pelanggan atas hasil kerjanya

menjadi tujuannya. Tak heran jika, selain

 

pelanggan bertambah banyak, kebanyakan dari

mereka juga secara khusus meminta pesanan

mereka dikerjakan oleh Uwoh, bukan yang lain.

Order yang semakin meningkat membuat Uwoh

kewalahan dan banyak pekerjaan yang tidak

dapat ditangani.

Uwoh pun memutar akal. Ia menyiasati

kendala ini dengan mengerjakannya di rumah

sepulang kerja. Tentu saja, ia harus membeli

 

mesin yang kemudian diletakkan di kamarnya.

Uwoh juga membina anak sekolah yang

 

membutuhkan tambahan uang sekolah. Namun,

finishing tetap ditangani Uwoh sendiri.

“Alhamdulillah pekerjaan-pekerjaan itu bisa

 

diatasi. Tapi karena semakin hari pekerjaan

 

itu semakin banyak dan tidak bisa diatasi

perusahaan, saya memutuskan untuk berwiraswasta,”

 

tutur Uwoh yang menjadi karyawan di

bengkel tersebut selama kurang lebih 4 tahun,

sejak 1995. Uwoh kemudian membuka usaha

sendiri, hingga pada tahun 2007 mendirikan CV

Sumirah Teknik dan CV Rhodas dengan modal

Rp 20 juta yang didapatnya dari gaji selama

menjadi karyawan.

GIGIH DAN SUKA TANTANGAN

Meski keluarganya berlatar belakang petani

dan orangtuanya tidak memberi inspirasi

 

tentang wiraswasta kepadanya, namun hal itu

tidak menghambat Uwoh dalam berkarya.

Sikap gigih Uwoh ini jugalah yang di kemudian

hari membuatnya meraih penghargaan sebagai

 

pemimpin koperasi usaha menengah berprestasi

se-Jawa Barat (2007) untuk jenis usaha logam.

Sejak kecil Uwoh memang suka tantangan.

Bila ada hal-hal yang dianggap sulit dalam bidang

apa pun, ia semakin ingin memecahkannya. Jika

orang lain tidak bisa, Uwoh bersemangat agar

bisa. Tapi jika orang lain yang bisa, Uwoh malah

tidak semangat. Hasratnya selalu ingin berbeda

dari yang lain. Suatu saat pernah ada konsumen

yang meminta dibuatkan meja antik dengan

memberikan contoh dari Belanda. Baginya,

menjiplak suatu benda itu justru susah dan tidak

menantang.

“Saya bilang ke orang itu, ‘Kalau saya

menjiplak ini nanti barangnya enggak laku,

pamornya juga kurang bagus, karena orang tahu

ini cuma tiruan, ada barang aslinya. Nah, saya

ubah motifnya menjadi model baru. Jadi nanti

promosinya jelas, yang itu model lama, yang ini

model baru.’ Setelah barang tersebut booming,

dia mendapat acungan jempol. Katanya, saya

kreatif. Sejak itu setiap ada pekerjaan, saya

diundang. Sampai sekarang pun, setiap ada

pekerjaan dia konsultasi. Padahal dia itu

 

insinyur, punya latar belakang pendidikan bagus,

tapi merealisasikannya belum tentu bisa,” kata

Uwoh sambil tersenyum.

Awalnya Uwoh membuat logam untuk peralatan

 

elektronik seperti tape dan televisi.

Namun, usaha ini tidak berkembang sehingga

Uwoh mulai membuat produk mekanik berbahan

baja ringan. Produk yang dihasilkan mulai dari

mesin hingga rangka baja, juga panel pintu

yang digemari para pengembang kontrakan dan

perumahan, seperti Wasa Mitra Engineering,

Indocement, dan United Tractors.

Seluruh mesin yang digunakan, termasuk

mesin cetakan, dibuat dan dirangkai sendiri oleh

Uwoh. Tangan terampilnya tak kaku mengikuti

perkembangan teknologi permesinan. “Saya dulu

 

membuat mesin untuk baja sedang, lalu ada

rekan datang ke tempat saya. Terus dia mau beli

mesin itu karena dikiranya buatan Jepang,” ujar

Uwoh sambil tergelak, “Padahal saya membuat

mesin itu sesuai dengan kebutuhan produksi

saya saja, tanpa pernah melihat mesin yang dia

maksudkan itu.” Inovasi pun dilakukan Uwoh

dengan membuat kusen logam serta genteng

metal berpasir dan berwarna.

MENGEKSPLORASI GENTENG METAL

Pada awalnya Uwoh fokus pada permintaan

genteng metal yang menantang. Meskipun

harga jual genteng metal tidak terlalu mahal,

yakni Rp 55 ribu per meter persegi, permintaan

justru banyak datang dari luar Pulau Jawa.

 

Di Jawa sendiri baru Jawa Tengah, Jawa Timur, Cirebon,

Tasik, Ciamis, Serang, Banten, Bekasi, dan Tangerang

 

yang perlahan beralih menggunakan genteng metal.

“Untuk pintu panel, kalau tidak salah baru di sini yang

menciptakan, belum ada tempat lain yang menciptakan dari

logam. Produk ini sudah masuk ke Balikpapan dan Papua,

 

800 unit untuk pintu panel, kusen, rangka atap, plafon,

 

sama genteng rumah. Nilainya Rp 23 miliar,” urai pria yang

memiliki bengkel kerja seluas 5.000 meter persegi ini.

Selain harganya yang lebih murah dari alumunium—pintu

 

dari kayu kamper bisa mencapai Rp 1,4 juta, pintu

dari logam hanya Rp 1 juta sudah termasuk kusen dan

pengecatan-keunggulan produk logam adalah awet dan

 

antirayap. Selain itu juga sifatnya stabil sehingga

 

bentuknya selalu simetris dan tidak mengalami penciutan.

Uwoh pun bisa memberi garansi hingga 20 tahun.

 

Kalaupun tidak dipakai lagi, menurut Uwoh, pintu logam ini

bisa dijual kembali maupun didaur ulang sehingga tidak

menambah sampah. Ya, siapa mengira bahwa inspirasi menciptakan

 

komponen bangunan dari logam ini berawal dari keprihatinan

Uwoh terhadap lingkungan. “Saya teringat waktu saya melihat

 

banyaknya illegal logging di televisi yang menyebabkan

terjadinya bencana di mana-mana, seperti banjir. Dari

situ saya berpikir untuk mencari cara mengatasinya, yaitu

dengan membuat bahan bangunan dari logam, bukan dari

kayu,” paparnya bijak.

Mengingat bahan baku kayu semakin sulit diperoleh,

Uwoh pun menganjurkan masyarakat beralih ke logam.

 

“Berapa pohon yang harus ditebang untuk

membuat panel pintu dan kusen dari kayu?

Mungkin untuk mebel belum bisa dialihkan ke

logam. Tapi kalau panel pintu dan kusen sudah

bisa hingga 50-70 persen,” paparnya yakin.

Pengalaman unik lainnya adalah ketika ia

 

diminta membuat Piala Citra dengan desain

baru pada tahun 2008, dan mendapatkan

 

penghargaan Festival Film Indonesia dari Menteri

Kebudayaan dan Pariwisata atas sumbangsih

dan dedikasi dalam pembuatan Piala Citra baru.

Uniknya, saat mengerjakan piala tersebut Uwoh

hanya mendapat gambar tanpa keterangan

ukuran apa pun.

“Dia itu mungkin sudah keliling ke sana

sini tapi enggak mewujudkan suatu barang.

Akhirnya ada yang ngasih tahu bahwa yang

gini mah mungkin ke saya. Dari gambar itu

saya realisasikan dengan kemampuan saya.

Alhamdulillah terwujud suatu barang dan dapat

 

penghargaan dari menteri,” ucap Uwoh

bangga. Apalagi kemudian order berlanjut untuk

pembuatan handicraft lainnya, seperti Piala

Kalpataru dan Panasonic Award.

INOVASI TANPA HENTI

Saat pintu panel rancangan Uwoh yang

baru hanya memiliki satu macam motif saja,

 

sudah banyak permintaan datang. Menurut

Uwoh, pembeli menyukai rancangannya karena

tampilannya mirip kayu. Sayangnya, Uwoh

mengaku tidak mematenkan rancangannya

karena ia masih ingin mengubah motif, warna,

dan ukuran. “Padahal untuk pintu panel saja

sudah ada 20 motif yang bervariasi, dan prediksi

saya permintaan akan terus meningkat,” ujarnya.

Uwoh kerap didatangi marketing developer

sebuah perumahan untuk dikontrak dan di

fasilitasi mulai dari tempat, mesin, dan material.

 

Uwoh tinggal mengerjakannya, sedangkan

sistem pemasaran dan penjualan dilakukan

oleh rekanan. Dengan demikian ia fokus pada

produksi. Marketing developer perumahan

biasanya ‘mengunci’ produk tertentu melalui

ikatan kontrak eksklusif, sehingga Uwoh tidak

boleh menjualnya ke pihak lain. “Mereka berani

memasarkan ke luar Jawa. Jadi, lebih banyak

lagi yang datang. Yang datang itu developer.

 

Konsumen melihatnya kualitas, bagusan dari

sini dengan yang lain katanya,” jelas Uwoh.

Berkat inovasinya, Uwoh mendapat undangan

untuk menggelar presentasinya di hadapan

Menteri Perindustrian pada awal Mei 2011. Ia

optimis tren penggunaan kayu akan beralih ke

logam. Apalagi pemerintah sudah menggiring

ke arah tersebut untuk menyelamatkan hutan

lindung. Dimulai dengan keharusan agar rangka

atap menggunakan baja ringan. Tidak tanggung

tanggung, sudah ada pesanan dari pemerintah

untuk 8 ribu rumah di Papua. Melihat ini, ia

bisa memastikan penggunaan kayu menurun,

digantikan dengan produk logam buatannya.

Menurut Uwoh, jika tidak bisa berinovasi,

seseorang hanya akan menjadi tamu di negeri

sendiri. Dengan berinovasi, sumber daya lokal

bisa bersaing. “Kalau kita ciptakan, orang lain

meniru, itu berarti sudah nilai positif,” ujar

Uwoh.

Pria yang enerjik ini bahkan tidak sabar

untuk segera menuangkan inovasi-inovasi logam

 

lainnya. Dia sudah merancang ventilasi

 

rumah dari logam yang berfungsi mengatur

aliran udara. Dengan tambahan filter, alat ini

berfungsi untuk mengeluarkan udara kotor dan

memasukkan udara bersih. “Semacam exhaust

fan, namun menggunakan sistem mekanik dengan

 

gerak udara, sehingga tidak perlu tenaga

listrik,” paparnya serius.

Ide membuat pintu panel geser dari logam

dengan sistem elektrik juga sudah menari-nari

dalam benak Uwoh. Dengan rancangannya ini, si

pemilik rumah tinggal menekan remote control,

maka ruangan akan terbuka dan tertutup

sendiri. Komponen bangunan ini akan sangat

berguna untuk ruangan multifungsi, seperti

tempat praktik dokter.

Uwoh juga telah merancang pintu panel

logam yang menggunakan programmable logic

control (PLC) dan memiliki personal

 

identification number (PIN). Jadi, pemilik rumah bisa

membuka dan menutup pintu dari mana saja.

Pintu ini diperkirakan bernilai Rp 100-200 juta.

Untuk inovasinya ini, Uwoh membidik kelas

menengah ke atas. Ia yakin pemilik rumah

 

seharga miliaran rupiah akan membutuhkan

pintu PIN untuk menyelamatkan aset, bukan

hanya sekadar mengandalkan satpam. “Saya

sudah ciptakan ke sana, mudah—mudahan bisa

terwujud. Alhamdulillah jika bisa mewujudkan

suatu barang dan bermanfaat bagi banyak

orang,” kata Uwoh yang memiliki omzet Rp 12

miliar per tahun untuk masing-masing perusahaan

 

yang dikelolanya. Kekuatan inovasi jugalah yang

 

membuat Uwoh tangguh dalam menghadapi persaingan.

Kompetisi bukan hanya pada kualitas, tetapi

 

juga harga. Tahun 2000 Uwoh menciptakan

batako yang cara kerjanya seperti mainan lego,

dengan fungsi yang jauh lebih bagus dari bata

merah. Ini dilakukannya setelah melihat lamanya

 

proses pengerjaan bata merah. Produk batako ini

 

sudah ada permintaan, namun karena

kewalahan, ia mengalihkan ke rekanan lain. Ia

cukup membuatkan mesin untuk menghasilkan

10 jenis batako tersebut.

Inovasi di luar logam juga ada di dalam benak

 

Uwoh, yakni memanfaatkan pohon kelapa

untuk dijadikan lantai. Daun dan rumput juga

 

bisa dijadikan material dan bahan baku, seperti

halnya serbuk kayu gergaji menjadi partikel

board untuk lemari. Demikian juga dengan pohon

 

pisang yang jumlahnya berlimpah ruah,

mudah ditanam, dan cepat tumbuh di Indonesia,

 

untuk bahan pembuat dinding. Ampas

pohon pisang dijadikan bahan material dinding,

 

sedangkan airnya dijadikan lem. Kelebihan dinding

 

jenis ini adalah bisa dipasang

knockdown dan kedua sisinya bisa diberi motif

berbeda dengan wallpaper berbahan vinyl. Dengan

 

dinding seperti ini, rumah bisa dibuat loose

saja. Jika pemilik rumah merasa bosan, dinding

bisa diubah-ubah posisinya maupun motifnya.

“Pohon pisang memang lembek dan basah

kalau belum diolah. Tetapi setelah di-press

bahan ini akan menjadi padat. Setelah dipanasi

dengan suhu 300 derajat akan menjadi keras.

Bahan yang tadinya setebal 10 sentimeter di

padatkan hingga 1 sentimeter kan menjadi keras,”

 

urai Uwoh.

Uwoh meyakini produk ini bisa menjadi alternatif

 

dinding beton yang cukup kuat. Namun

bahan material dari pepohonan tidak bisa

dijadikan pintu karena sifat pintu yang dibuka

tutup, sedangkan dinding tidak. Uwoh berharap

dinding berbahan material pohon tidak keburu

diolah orang lain.

 

Dengan inovasi, hidup menjadi lebih hemat.

Caranya dengan menciptakan produk semudah mungkin,

 

sebagus mungkin, dan semurah mungkin, tanpa

 

mengesampingkan fungsi utamanya. Bahkan, ia

 

tidak pernah puas dengan inovasi yang sudah

 

dilakukan. Targetnya, setiap

tahun harus menciptakan inovasi produk, atau

minimal modifikasi. Menurutnya, setelah sesuatu

 

menjadi produk justru bisa meraih keuntungan besar.

MENGEMBANGKAN USAHA

Menyadari bahwa usahanya maju pesat, Uwoh

pun meminjam uang Rp 2 miliar dari bank bjb

untuk CV Sumirah Teknik pada tahun 2008.

Berkat pinjaman tersebut, Uwoh sekarang sanggup

 

membuat 300 pintu panel hanya dalam

sehari, yang dikerjakan oleh 40 orang pegawai.

Ini jauh lebih cepat dibandingkan dengan

pengerjaan sebuah pintu kayu, yaitu 2-3 hari

oleh 1 orang.

 

Dalam usahanya ini, Uwoh yang hanya berlatar

 

belakang pendidikan setara SMA melibatkan

 

istrinya untuk mengurus bagian administrasi

 

dan keuangan. Ia juga mengarahkan

anak sulungnya yang sudah kuliah untuk

 

menangani manajemen, sebagai jembatan untuk

melanjutkan usahanya kelak. Meski melibatkan

keluarga, hingga saat ini ia tidak melihat kendala,

 

perselisihan, apalagi kecemburuan dalam

mengembangkan usahanya.

Uwoh juga mempekerjakan orang-orang sekitar.

 

Kriteria utamanya adalah baik, jujur, dan

mau bekerja. “Lebih baik tetangga daripada

orang lain, karena saya sudah kenal. Saya, sih,

lihat kepribadiannya. Yang penting baik dan

mau bekerja itu sudah cukup,” ujarnya.

Meskipun persaingan dengan bisnis yang

sama di daerahnya tidak terlalu keras, tak

urung pembajakan karyawan terjadi juga. Total

jumlah karyawan yang dibajak saingan-saingan

usahanya hingga saat ini bisa mencapai l00

orang. Tentu saja karyawan Uwoh merupakan

sasaran empuk pembajakan karena Uwoh konsisten

 

meningkatkan keterampilan mereka. Selain turun

 

tangan mengajari sendiri, Uwoh juga

bekerja sama dengan institusi pemerintah agar

karyawannya mendapatkan pelatihan teknis.

Kini, Uwoh memiliki 30 orang karyawan

tetap dan 10 orang pegawai honorer. Untuk

 

memudahkan alur pekerjaan, Uwoh menspesifikkan

 

pengerjaan produksi. CV Sumirah

Teknik yang namanya diambil dari nama istrinya,

 

Sumirah, mendapat jatah mengerjakan

panel pintu, kusen, dan genteng. Sedangkan CV

Rhodas menangani permesinan, rangka atap

dan baja ringan, dan kompor. Semua pengerjaan

menggunakan bahan baku logam yang diperoleh

dari distributor perusahaan baja besar di

Indonesia secara inden selama 1 bulan.

Dengan bantuan mesin, produk yang dihasilkan

tetap simetris dan memiliki presisi yang stabil.

Jadi, untuk membuat 1 unit bahkan 1.000 unit pun

hasilnya akan sama karena menggunakan cetakan.

Produk logam pun bisa memiliki bermacam warna

tergantung selera, bahkan 1 produk bisa dibuat 10

warna. Inilah keunggulan lainnya dibandingkan

panel pintu dan kayu.

 

MANAJEMEN USAHA

Meski perjalanan usahanya terhitung lancar,

Uwoh juga pernah mengalami masa surut pada

2010 yang—menurutnya dipicu ketidakstabilan

pemerintah, daya beli pasar, dan persaingan

yang sengit. Tapi, hal ini juga dialami oleh semua

pesaingnya. Untungnya, Uwoh tidak sampai

gulung tikar karena memiliki inovasi yang bisa

diterima pasar dan sulit ditiru.

Selain itu, ia juga pernah menjadi unit

sebuah perusahaan besar. Dengan metode bisnis

ini, ia baru menerima pembayaran setelah 3

bulan. Selanjutnya masih diberikan giro selama

1 bulan, jadi totalnya membutuhkan waktu 4

bulan untuk menerima pembayaran. Menurut

perhitungan Uwoh, keuntungan sebesar 10 persen

 

bisa lenyap kalau dihitung dengan bunga.

“Keuntungan 5 persen dengan pembayaran 4

 

bulan itu sudah minus. Bisnis tidak mungkin

bisa berkembang,” ujarnya. Itu sebabnya Uwoh

tidak ingin lagi menjadi sub perusahaan besar.

Menurut pengalamannya, bukan perusahaan

besar yang membantu perusahaan kecil, tapi

malah sebaliknya.

Tentu saja, Uwoh memiliki mimpi agar usahanya

menjadi besar. Untuk mewujudkan impiannya itu,

Uwoh melakukan berbagai persiapan. “Setelah

Lebaran 2011 ini saya bergabung dengan beberapa

teman yang ingin menjadi distributor produk saya

di beberapa daerah. Untuk produksinya tetap di

saya, mereka hanya marketing atau distributor

saja,” tutur Uwoh.

Perluasan pasar juga dilakukan Uwoh dengan

 

membuka kantor cabang di beberapa

daerah. Targetnya adalah Bandung, Tangerang,

Jambi, Jakarta. Dalam angannya, 5-10 tahun

ke depan ia telah memiliki kantor cabang atau

distributor di setiap daerah. Selain itu, ia juga

 

ingin memiliki lebih dari satu pabrik.

Saat ini Uwoh masih menjalankan perusahaannya

 

mengikuti intuisinya semata dan belum

membangun sistem, baik dalam manajemen

keuangan, rekrutmen, sumber daya manusia,

produksi, maupun pemasaran. “Ada mungkin

pada saat produksi naik karena kantor cabang

banyak, pasti saya akan membuat sistem, termasuk

 

manajemen keuangan, merekrut karyawan, atau

 

dalam bidang marketing,” kata Uwoh.

Di masa depan Uwoh ingin memiliki cabang

yang asetnya 30% dimiliki oleh keluarga dan

70% dimiliki oleh orang lain. “Usaha ini muncul

dari keinginan sendiri, dari kemauan dengan

tekad. Saya ini cuma ingin maju atas nama

daerah. Mudah-mudahan bisa berkembang

untuk orang banyak. Insya Allah usaha ini

membuat tempat yang gelap bisa jadi terang, di

tempat yang terang bisa menjadikan cahaya,”

demikian Uwoh mengakhiri pembicaraan.

 

Catatan Rhenald Kasali

SALAH SATU KELEMAHAN UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) dan

 

kewirausahaan Indonesia adalah selalu dimulai pada inovasi produk dan

 

berhenti pada produksi. Tanpa inovasi usaha dan membangun sistem, usaha

 

akan berakhir di tangan inovator atau satu generasi di bawahnya. Oleh

 

karena itu inovasi produk harus diikuti dengan sistem dan manajemën usäha

 

yang modern.

Meski demikian, tidak dengan serta merta suatu usaba langsung diawali

 

dengan manajemen modern. Bahkan tidak jarang saya menemukan sebuah usaha

 

yang tidak memiliki visi—misi tertulis meski sudah hidup lebih dari 20

tahun, Namun perusahaan ini memiliki sistem rutin yang balk dan profesional

 

setelah melewati sekitar 4-6 tahun perjalanan usaha.

Dalam 4 tahun pertama seorang wirausahawan akan sibuk membuat mimpinya

 

menjadi kenyataan. Fokusnya adalah pada survival yaitu membuat usahanya

 

hidup ia harus merawat ‘bayi’ basil kandungannya dengan memberi susu

 

memandikan, mengajaknya berbicara, mengajarkan makan, dan berjalan serta

 

membawa ke dokter bila ia demam dan memberikan imunisasi.

Jadi empat tahun pertama adalah masa yang vital, karena usaha baru itu

 

rentan kematian. Usaha harus dijaga siang-malam agar tetap hidup. Usaha

 

memerlukan kepastian pendapatan dan kelancaran arus cash. Setelah urusan

cash lancar dan menjadi rutin, ibarat seorang anak, ia pun harus

 

disekolahkan. Itulah saatnya Anda memberikan sìstem dengan manajemen yang

 

tertata baik.

Akan halnya inovasi yäng dijalannya Uwoh, tentu saja tetap sama.

 

Ia membutuhkan inovasi dan sistem. Tanpa sistem, usahanya akan berakhìr di

 

tangannya atau satu generasi di bawahnya. Itu sebabnya ia membutuhkan

manajemen yang balk saat ini.

 

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 13/04/2013, in Manufaktur and tagged . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Cari Bisnis Online PROFIT 1-2x 24 jam CAIR , langsung – NO SCAM – http://www.investasionlinebersama.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: