Pasutri Ini Raup Omzet Rp 300 Juta/Bulan Jualan Rendang Kemasan


Jakarta -Meraup keuntungan hingga ratusan juta per bulan bukan hal yang bisa diraih dengan mudah. Butuh usaha dan kerja keras. Pasangan suami istri (pasutri) ini mencoba peruntungan mengolah rendang sapi dalam kemasan.

Adalah Intan Rahmatillah (33) dan Ivan Diryana (40). Pasutri ini mencoba mengolah rendang sapi rumahan menjadi lebih menarik. Intan yang asal Padang ini terbiasa mengkonsumsi rendang sapi buatan neneknya. Rasanya lezat dan pakai resep asli Padang. Dari situlah muncul ide untuk membuat rendang sapi kemasan.

“Saya darah Padang, suami Bogor (Jawa barat). Nenek saya suka bikin rendang. Kata suami rasanya enak dan minta saya belajar masak rendang. Hasilnya, awalnya saya kasih icip ke keluarga suami, ke mertua. Terus ke teman-teman, ternyata dibilang enak,” ujar Intan kepada detikFinance, Selasa (7/6/2016).

Suami saya, kata Intan, sangat suka sekali dengan rendang buatan nenek. Dari situlah, Intan mencoba menggeluti cara membuat rendang dengan resep nenek. Terbentuklah nama ‘Rendang Nenek’.

“Nama rendang nenek kami pilih karena di keluarga istri saya, rendang buatan neneknya memang sangat digemari sehingga disebut rendang nenek. Tidak ada modal cukup untuk membuka usaha rumah makan Padang, akhirnya kami pilih menjual produk kami secara online,” imbuh Ivan.

Menurut Ivan, usaha yang telah dirintisnya sejak 5 tahun lalu ini, kebanjiran orderan saat Ramadan atau bulan puasa. Tak hanya menuntungkan bagi dirinya, usaha rumahan ini juga banyak menciptakan lapangan kerja bagi warga sekitar.

“Setiap bulan puasa, penjualan kami melonjak tajam. Kami merekrut tenaga kerja dari sekitar rumah kami. Di sini memang banyak ibu rumah tangga yang butuh tambahan penghasilan untuk membantu suaminya yang pekerjaannya hanya sebagai tukang ojek, buruh bangunan dan sejenisnya. Kebanyakan yang bekerja di Rendang Nenek tamatan SD yang sudah tentu sulit terserap oleh industri besar,” terang Ivan.

Bagaimana cara memproduksi Rendang Nenek?

“Produksi dimulai dengan menyiapkan bumbu, daging dan santan. Kemudian semua diolah hingga 6 jam, diaduk-aduk secara berkala. Setelah 6 jam, rendang kami bungkus dengan vacuum sealer agar tahan lama hingga 6 bulan untuk daging dan ayam, lalu kami kemas dengan dus untuk selanjutnya kami kirim melalui jasa pengeriman,” paparnya.

Berapa modal awalnya?

“Tahun 2011 modal awal di bawah Rp 1 juta, saat itu kami belum memiliki mesin apa pun, rendang kami kemas seadanya menggunakan keler sehingga daya tahannya hanya beberapa hari saja. Setiap keuntungan kami sisihkan untuk ditabung sedikit demi sedikit hingga akhirnya kami saat ini memiliki 2 buah freezer, 2 buah vacuum sealer, dan 12 kompor (24 titik api). Pengemasan juga hal yang kami jaga, agar produk kami bisa tahan lebih dari 6 bulan kami menggunakan vacuum sealer,” kata Ivan.

Ivan menyebutkan, Rendang Nenek memiliki 7 varian rasa yaitu daging, paru, hati, limpa, ayam suwir, jengkol, dan jamur tiram. Rata-rata dalam sebulan bisa meraih omzet Rp 100 juta. Namun, omzet saat bulan puasa bisa mencapai kurang lebih Rp 300 juta, atau sekitar 1 ton daging, belum termasuk varian lain.

“Usaha ini sudah jalan 5 tahun, nggak kerasa. Dulu waktu mau mulai, bahkan istri sendiri komentarnya gini “Siapa yang mau beli?”. Tapi yah kita jalanin saja dulu. Alhamdulillah bisa bertahan sampai sekarang dan tiap bulan puasa pesanan membludak,” ungkap dia.

Usaha ini, kata Ivan, justru memberikan banyak manfaat bagi warga sekitar. Banyak menyerap tenaga kerja dengan pendidikan rendah.

“Kita hanya UKM kecil, tapi ternyata UKM lah yang bisa menyerap tenaga kerja dengan pendidikan rendah, banyak dari mereka yang hanya lulusan SD. UKM lah yang masih mau mempekerjakan mereka yang sudah berumur lebih dari 55 tahun namun masih semangat bekerja, enggan meminta-minta,” ucap Ivan.

Intan menambahkan, saat ini Rendang Nenek buatannya sudah masuk ritel modern seperti supermarket-supermarket di Bandung. Bahkan, kini sudah ada 20 agen untuk membantu memasarkan produk buatannya.

“Di Bandung sudah masuk supermarket, di Setiabudi Supermarket, kita juga sudah punya agen, ada sekitar 20 agen,” katanya.

Berikut Varian Rendang Nenek:
Rendang Daging, Paru, Hati, dan Limpa: 100 gram Rp 35.000, 250 gram Rp 70.000, 500 gram Rp 125.000
Rendang Jengkol: 100 gram Rp 30.000, 250 gram Rp 55.000, 500 gram Rp 100.000
Rendang Ayam Suwir: 100 gram Rp 35.000, 250 gram Rp 55.000, 500 gram Rp 100.000
Rendang Jamur Tiram: 100 gram Rp 35.000, 250 gram Rp 60.000, 500 gram Rp 110.000

Berminat mencicipi Rendang Nenek?
Bisa dipesan melalui http://www.rendangnenek.com

(drk/ang)Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance

Sumber: http://finance.detik.com/read/2016/06/09/075254/3228836/480/pasutri-ini-raup-omzet-rp-300-juta-bulan-jualan-rendang-kemasan

About wirasmada

Wirausaha Muda

Posted on 23/06/2016, in Kisah Sukses Wirausaha Non Alumni Smada, Kuliner. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Sangat menggiurkan sekali jika di lihat dari hasil keuntungan yang bisa di dapat setiap bulannya! tentunya semuanya memang memerlukan proses dan juga kerja keras yang tidak mudah. Sangat insfiratif sekali dan patut untuk di teladani kisah sukses tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: