Author Archives: wirasmada

Erick Thohir, Pengusaha Muda Yang Sukses Menggeluti Bisnis Media

JAKARTA: Erick Thohir dikenal sebagai salah satu dari sekian pengusaha muda yang sukses menggeluti bisnis media dan hiburan. Dia pun terobsesi menjadi salah satu raja media di negeri ini. Selain membidik pasar bisnis media yang segmented danme nyasar komunitas, Erick juga melejitkan klub bola basket Mahaka Satria Muda dan Mahaputri Jakarta.

Untuk mengikuti kisah sukses Grup Mahaka, berikut petikan wawancara dengan Erick :

 

Bisa diceritakan kapan mulai terlibat di bisnis media?

Saya pulang dari Amerika Serikat (AS) pada 1993. Saat itu masih berusia 23 tahun. Sekolah sudah selesai danmeraih gelar bachelor dan master[Erick lulus dari National University, California, AS]. Kenapa pulang? Kebetulanbapak saya yang sudah kerja [dagang] dari usia 10-11 tahun, sudahwaktunya istirahat. Kakak saya [BoyGa ribaldi Thohir], pulang pada 1991 langsung meneruskan bisnis keluarga, sehingga ketika saya pulang ke Indonesia, juga langsung membantu.

Kami punya grup [bisnis keluarga] namanya Tri Nugraha Thohir. Bergerakdi empat bidang yakni pertambangan batu bara, properti, restoran (makanan) yakni Hanamasa dan Pronto, serta otomotif (sepeda motor).

Bapak saya, awalnya memiliki belasan perusahaan lalu dijual dan fokus mengelola empat bidang tersebut.

Saya disuruh membantu menanganibisnis makanan (restoran), mulai 1993-1998. Saat itu kami barumemiliki Hanamasa.

Saat baru masuk, gerai Hanamasa baru 3 outlet dan terakhir saya tinggalkansudah ada 20-anoutlet yang tersebar diberbagai kota.

Pronto, yang kami ambil alih, waktu itu ada empat outlet, kemudian sayatutup tiga dan tersisa satu outlet di Pondok Indah.

Dari Pondok Indah kami start ulang lagi dan sekarang ada 3-4 gerai Pronto.

Sebelumnya saya tidak memiliki latar belakang pendidikan untuk bisnis makanan. Saya meraih gelar bachelor untuk advertising dan master dibidang marketing. Tidak ada hubungan, tapi mirip-mirip lah.

Pada 1998, ketika mau mengembangkan bisnis restoran, krisis terjadidan bunga bank naik. Padahal konsep pengembangan ini sudah jadi. Saya mau meminjam Rp10 miliar-Rp20miliar untuk mengembangkan gerai menjadi 50 outlet, ternyata begitu dapat uang Rp3 miliar, bunganya 80%.

Ketika bunga naik menjadi 80% itu berat sekali, tetapi kita bisa bayar sehingga langsung dibayar. Ekspansi tertunda. Memang kebetulan filosofi keluarga saya tidak berutang. Seperti Hanamasa sekarang tidak ada utang dibank sama sekali, nah itu yang menyelamatkan.

 

Kapan memiliki bisnis sendiri?

Ketika ekspansi bisnis resto tertunda, teman-teman saya semasa sekolah di AS, seperti M. Lutfi, Wisnu Wardhana,dan Harry Zulnardy mengajak untuk berbuat sesuatu. Obrolan ini sudah dimulai pada 1996-1997.

Bukannya tidak menurut pada orang tua dan kakak, tetapi sebenarnya saya juga ingin punya bisnis sendiri.

Kebetulan keluarga memutuskan Boy menjadi pimpinan dan kalau saya mau membangun usaha sendiri, tidak boleh menjalankan operasional bisnis keluarga, cukup menjadi komisaris saja, supaya jangan ribut. Lalu, bisnis otomotif, makanan dan lainnya dijalankan oleh para profesional dipegang Boy, saya beserta adik saya [Rika] menjadi komisaris.

Dari situ, setelah teman-teman mengajak, saya pikir-pikir kenapa tidakmencoba. Di keluarga, saya paling bandel, paling gaul. Awalnya bapak dan kakak saya tidak setuju. Mereka menilai sudah ada bisnis keluarga dan kenapa tidak itu saja yang di jaga?

Mereka mengetahui karakter saya, kalau makin ditahan makin rebel. Ya sudah disetujui tetapi tidak boleh yang ada hubungannya dengan bisnis keluarga. Itu yang membuat saya berani meninggalkan bisnis keluarga dan memulai sendiri.

Bersama teman-teman kami membentuk perusahaan, awalnya di trading mulai dari semen, pupuk, beras, kapur, pokoknya bahan kebutuhan. Ternyata sukses, karena memang Lutfi tukang lobi yang bagus, saya pedagang yang bagus, Wisnu tukang hitung yang bagus dan Harry treasury yang bagus.Ya semuanya saling melengkapi.

Dalam perjalanannya, saya diskusi dengan partner-partner saya dan sampaikan, kok trading ini sesuatu yang come and go, saya ingin mencoba ke media, Lutfi menyambut dengan baik, lalu kami mulai membeli perusahaan billboard dan radio, terus Republika (sekitar tahun 2000).

Nah, dari situ sudah mulai tidak bisa berjalan bersama, saya ke media, yang lain ke trading. Dalam perjalanannya masing-masing partner punya visi yang berbeda. Wisnu diminta membantu bisnis keluarga (Grup Indika]. Akhirnya waktu itu kami sepakati, kalau pada sibuk, saya yang mengurusi bisnis media. Saat itu kami membentuk perusahaan namanya Mahaka Media dan Mahaka Niaga. Persentase kami 30:30:30 dan 10.

 

Bagaimana awalnya menemukan nama Mahaka, lalu apa artinya?

Nama Mahaka itu tidak sengaja ditemukan.

Saat kami berbincang, saya membuka kamus Jawa Kuno [Sanskrit], di situ tertulis Mahaka, artinya langkah pertama yang baik, yang besar. Seperti mahakarya [karya besar], maha itu sesuatu yang besar. Saya tidak sengaja menemukannya dan teman-teman menilainya cukup bagus.

Waktu itu saya mendirikan Mahaka Niaga, sedangkan Mahaka Media belum lahir. Dalam perjalanannya, teman-teman sibuk dan saya fokus menangani bisnis media. Ketika Wisnuke luar 2007, sahamnya saya beli, Harry keluar untuk bisnis lainnya, saya beli sahamnya. Sisanya saya dan Lutfi, komposisi 60: 40, lalu go public.

Kisah go public ini juga seru. Sebenarnya tidak mau go public tapi Republika adalah public company meski tidak listed, jadi saya agak aneh. Saya minta tolong bursa efek dan akhirnya go public secara strategik.

Dari tidak terdaftar menjadi terdaftar, dari situlah ada pemegang saham publik sampai saat ini, saya pegang 61%, Lutfi ada 20-an%, sisanya publik.

Rosan P. Roeslani juga beli melalui Recapital, dari situ kami bertumbuh dibawah bendera Mahaka, mulai dari koran, radio, online, terakhir Alif TV.

 

Lalu bagaimana dengan posisi Anda di TV One?

TV One itu tidak berada di bawah bendera Mahaka Media, itu VivaNews. Saya berpartner dengan Anindya [Viva Group] di TV One. Dulu diajak dalam rangka membantu secara operasional dan investasi, saya punya saham sedikit di TV One. Saya berusaha profesional menaruh diri pada tempatnya, tidak boleh conflict of interest.

Mayoritas saham milik mereka sekitar 90%. Hanya mereka melihat saya bisa membantu secara operasional. Kebetulan saya juga melihat ini tantangan.

Saya ini kan problemnya kutu loncat,jadi duduk di satu perusahaan setelah 2-3 tahun kalau sudah jalan saya tinggal, penyakit juga sih. Kenapa saya seperti itu? supaya saya memberi kesempatan kepada profesional untuk menjalankannya. Saya kembali memikirkan aspek strategis. Ini bisa dilihat di struktur Mahaka Media, dirutnya orang lain dan saya komisaris saja.

 

Apa pertimbangannya memilih terjun ke bisnis media?

Sebenarnya saat itu ada tiga pertimbangan.

Pertama, Indonesia pada 1998 menjadi negara terbuka, saya melihat media akan tumbuh karena tidak dikontrol. Kedua, terlepas pada tahun itu masa susah karena krisis, saya yakin ke depan pertumbuhan consumergoods akan tinggi. Media is a consumer goods. Media kan seperti produk, cuma dari angle yang lain, dinikmati dengan mata dan telinga. Ketiga, saya percaya hidup itu mesti give and take, bukan take and give. Saya percaya dengan media juga bisa  berkontribusi sesuatu kepada masyarakat.

Makanya juga saya membatasi diri di areal politik, saya tidak ikut parpol.

Kenapa saya masuk ke media? Saya lihat itu peluang seiring era kebebasan dan consumer goods yang akan berkembang, lalu dari segi edukatif, ini memberikan sesuatu, tetapi konsekuensinya saya tidak boleh terjebak pula diputaran itu. Ini prinsip dan pilihan.

Walaupun, 2 tahun terakhir ini keluarga saya menerima oke. Jadi waktusaya keluar dari bisnis keluarga untuk mengurusi Mahaka, mereka berkata “waduh”. Ketika Mahaka jalankan bisnis trading, mereka happy, tapi begitu kita masuk ke bisnis media, keluarga bilang lagi “waduh cari musuh, kalau nulis salah dimusuhin.” Mereka easy going sekali, ketika kita masuk ya mereka agak kurang menerima, bukan mereka tidak setuju dengan kemauan saya, tapi khawatir karena mereka ini kan pedagang.

 

Berapa lama pergulatan memutuskan pindah ke media?

Sekitar 6 bulanan, dan saya rasa itu pilihan yang tepat, karena ketika beberapa partner kita fokus ke tempat lain, niaganya juga goyang, bagi tugasnya jadi tidak seimbang.

 

Ke depan, apakah ada rencana membeli media atau televisi lagi?

Saya juga mesti terima kasih dalam pengembangan hidup saya ini banyak partner, seperti di Mahaka ada Lutfiada Rosan, di JAK TV ada Artha Graha (Tommy Winata), di TV One ada Bakrie, jadi banyak partner. Tapi untungnya partner-partner tadi mempercayakan kepada saya, saya dianggap transparan dan profesional, kalau tidak mana mungkin mereka mau bekerja sama dengan saya, saya transparan dan professional, dan yang terpenting ketika menjalankan I act asa professional not as an owner.

Kami sekarang menjadi punya dua bendera, Mahaka Media dan Alif. Mahaka Media untuk media dan Alif untuk entertainment company. Alif ini menaungi produk-produk terkait hiburan.

Kami mulai pisahkan antara media dengan entertainment. Kalau Beyond Media itu saya, holding company saya. Basicly Beyond Media bergerak sebagai holding. Mahaka Media itu public company, untuk TV One itu my personal.

 

Bagaimana melihat bisnis media ke depan di Indonesia?

Bisnis 360 derajat integrated services, bercampur antara media, entertainment, multiplatform dan konten is theking. Beberapa hal yang memang bagian yang bisa diefisiensikan kita efisiensikan, distribusinya kita gabungkan karena tidak ada hubungan dengan konten.

 

Pengalaman yang Anda selalu kenang dalam berbisnis?

Keputusan yang selalu dikenang, ya ketika saya memtuskan memulai usaha sendiri, terus memutuskan juga dari Mahaka Niaga ke Mahaka Media.

Sebetulnya orang tidak tahu pada 2006 saya lagi susah-susahnya karena masalah cash flow, kebetulan bisnis lagi tidak jalan, tapi tiba-tiba ada ekspansi,tapi cash flow tidak cukup.

Maka saya mesti jual lukisan dan jual mobil. Saya sebenarnya bisa berutang ke bank, tapi saya pikir itu ada lukisan atau mobil, kenapa tidak dipakai, padahal sayang lukisan itu ada karya Affandi. Anak buah saya tahu bahwa saya berani mengorbankan sesuatu yang pribadi untuk kita semua. Loyalitas itu mesti dibentuk dari dua pihak, dari kita sebagai pimpinan dan dari tim. Kalau dari anak buah ke atasan itu normal, tapi pimpinan itu harus memberi contoh.

Saya memang kontradiksi, di satu pihak dikatakan ekspansi, tapi loyal. Jadi seperti dua sisi, saya ini Gemini.

Di sisi satu sangat eksploratif dan satu sisi lainnya, secure. Saya juga membagi area publik dengan private.

sumber: http://www.bisnis.com/articles/erick-thohir-berani-meninggalkan-bisnis-keluarga

Budiono Darsono dan Kiprahnya Membangun Detik.com Media Online Pertama di Indonesia

JAKARTA: Transaksi pembelian Detik.com oleh Chairul Tanjung pada pertengahan  tahun ini mengejutkan pelaku bisnis media di negeri ini. Belum lama ini Bisnis menemui Budiono Darsono salah satu pendiri Detik.com untuk berbincang mengenai awal pendirian dan  transaksi penjualan tersebut. Sebagai catatan, Detik.com yang dibangun dengan modal awal Rp40 juta setelah 13 tahun  dilego senilai US$60 juta.

Siapa saja yang  semula mendirikan Detik.com ?

Ada 5 orang, kami anggap ada dua babak sebagai founder. Abdul Rahman, Budiono Darsono, Didi Nugrahadi, Yayan Sopyan, dan Calvin Lukmantara. Yang pertama empat nama pertama yang disebut. Didi dan Yayan pada 2002-2003 melepas semua sahamnya ke kami; ke Abdul, saya, dan Calvin. Tiger Investment kemudian masuk sekitar 2004-2005 dan saham kami terdilusi.

Bisa anda ceritakan sejarah detik.com ?

Pada akhir 1996, Agranet publishing Internet, membuatkan situs. Aku Yayan, Abdul, Didi, sebelum ada Detik menggunakan nama PT yaitu Agranet. Setelah kami bisa bikin situs sendiri, kami dapat klien yaitu Kompas.com.
Waktu itu Kompas.com ingin redesign, kami mengajukan tender dan menang. Lalu kami taruh server-server mereka di AS. Kontennya merupakan pindahan dari edisi cetak. Dalam proses perjalanan ini, kami enggak punya uang. Servernya kan gratis pada waktu itu, masih kecil kapasitasnya.

 

Uang pertama itu kami dapat dari Kompas.com. Kami gunakan uang itu sebagai modal. Lalu kami bilang ke Kompas, ini tidak salah, tapi akan lebih baik kalau versi online itu isinya berita terus menerus, jadi jangan hanya memindahkan edisi cetak saja.
Klien-klien kami yang media itu tidak ada yang melakukannya. Akhirnya, kami putuskan untuk membuat sendiri.
Saya sempat bersumpah untuk enggak jadi wartawan. Waktu itu Berita Buana dibreidel, Detik dibredel. Kapok saya. Ganti profesi jadi web designer. Akhirnya membuat untuk contoh.

 

Kami bermimpi macam-macam. Kami mulai dengan satu jurnalis pada 9 Juli 1998 yang sampai saat ini masih bekerja bersama Detik.com. Investasi awal Rp40 juta. Web designernya 40 juta itu digunakan untuk membelikan server Kompas. Kami deal dengan sebuah perusahaan AS, beli US$20.000 untuk server Kompas.

 

Tapi saya dapat server gratis. Kalau enggak ada Kompas, enggak ada Detik. Meskipun tidak secara langsung, rejekiku dari Kompas. Dalam berbagai seminar, aku ceritakan, yang menghidupi Detik itu ya dari Kompas.
Proses 10 tahun itu, aku, Abdul, dan Calvin sering terlibat diskusi. Memang ada pemikiran bahwa kami ini sudah mentok. Kalau diteruskan memang tetap tumbuh, tapi harusnya bisa lebih. Di Indonesia, potensinya besar, harusnya bisa lebih tinggi lagi.

Dalam perjalanan selama 13 tahun, kapan Anda dan teman-teman merasakan sebagai masa terberat?

Pada 2000-2002. Itu karena kan persepsi dotcom hancur-hancuran. Di dunia, tidak hanya Indonesia, bubble dotcom pecah. Persepsi kemudian hancur. Detik.com pada waktu itu sudah mendapatkan iklan yang lumayan. Tapi persepsi dengan industri yang hancur-hancuran ini kan berpengaruh ke detik.com. Pada 2001 itu, kami sempat PHK [pemutusan hubungan kerja] 27 orang karena harus menyelamatkan Detik.com.

 

Pada waktu itu saya sempat berantem dengan Abdul karena dia menganjurkan untuk mem-phk karyawan. Saya bantah. Dia bilang,  di luar negeri perusahaan rugi saja PHK karyawannya, kami juga harus melakukan hal yang sama. Dia bilang kita harus rasional, kalau hanya emosional, Detik.com bisa bubar. Kemudian, dengan berat hati akhirnya memberhentikan pegawai. Tapi justru karena keputusan Abdul, Detik.com selamat.

 

Sebanyak 27 orang diberhentikan dari jumlah karyawan waktu itu yang  masih 80 orang. Abdul itu rasional banget. Saya Indonesia banget, memikirkan banyak hal. Tapi keputusan Abdul betul. Kalau tidak mengambil langkah itu, mungkin sudah gulung tikar. Pada 2002-an kami sudah lebih baik, sudah bisa menghidupi diri sendiri, tapi saya dan Abdul tidak menerima gaji. Karyawan juga masih telat mendapatkan gaji. Pada 2004, kami sudah untung. Awalnya untung kecil, tapi lalu naik, naik terus.

 

Setelah dapat uang dari Tiger, kami gelindingkan dan hidup sendiri. Malah uangnya Tiger utuh. Saya lupa angkanya. Tiger itu sempat marah, karena uangnya idle. Jadi kami punya cash banyak. Tiger tidak menaruh perwakilan di sini; hanya menaruh uang saja. Mereka percaya sekali. Kami itu meski perusahaan begini, kami pakai akuntannya Price Water House. Tapi rapor selalu kami kirim kepada mereka. Setelah Tiger masuk, kami terus tumbuh. Mereka basisnya di New York, AS. Banyak menanamkan modal di perusahaan dotcom.

 

Mereka rutin berkomunikasi dengan kami. Mereka sepenuhnya menyerahkan kepada kami. Kadang-kadang memberi saran, ide-ide. Pernah juga mengajak kami untuk melihat investasi lain di dotcom yang mungkin dikembangkan di Indonesia.
Yang paling penting target tercapai dulu tahun ini. Pada 2012, harapannya tentu ide untuk mencapai lebih dari 100% bisa tercapai, meski saya bukan lagi pemilik. Kalau tidak, bisa sedih, kan dilepas untuk mencapai target itu.

Bagaimana anda membagi peran dengan pendiri yang lain ?

Abdul lebih ke bagian keuangan, bisnis kita kelola bareng-bareng, sedangkan saya mengurusi konten.Saya berteman dengan dia dari Tempo. Dia dulu dari Tempo ke Swa. Abdul itu kuncinya. Satu hari saya kan pengangguran begitu Tabloid Detik dibredel saya kan enggak ada pekerjaan. Lalu oleh Majalah Swa saya diminta melatih wartawannya. Abdul redaktur eksekutif di Swa. Kalau selesai mengajar, saya suka ngobrol bareng Abdul. Karena sebelumnya kami sudah dekat. Dia sudah mengerti Internet,  saya enggak mengerti waktu itu. Dia satu-satunya di redaksi Swa yang berlangganan Internet dengan biaya sendiri.

 

Pada waktu itu masih based on text, enggak ada gambarnya. Saya masih belum jelas bisnisnya bagaimana. Abdul sudah memiliki gambaran. Dari situ saya lalu bercerita kepada Didi, tetangga saya. Dulu dia pegawai Bank Exim. Lalu kami bertiga. Lalu muncul Yayan. Sofyan, yang pernah redaktur budaya Tabloid Detik yang juga menganggur. Yayan sebelumnya mencari pekerjaan untuk adiknya. Yayan akhirnya bergabung. Lahirlah PT Agranet. Satu keajaiban, keberuntungan, pada akhirnya saya harus bilang saya mesti berhenti. Akan jauh lebih bagus ketimbang diteruskan. Semakin cepat pensiun, lebih bagus, akan ada regenerasi, lebih segar.

Bisnis model detik.com seperti apa ?

Awal-awal itu bisnis model yang menjadi perhatian. Ketika mengelola ini, ketika saya turun dari mobil, ada satpam yang jemput untuk mengambil tas. Enggak boleh. Tidak boleh juga satpam bersikap terlalu hormat kalau saya datang. Lalu saya juga tidak memiliki ruangan. Semua orang bisa bertemu saya kapan saja. Saya membayangkan ini kan sejak awal saya  itu bukan siapa-siapa. Kalau Budi bukan siapa-siapa, enggak disapa, ya saya enggak apa-apa.
Saya tekankan juga ke anak-anak. Mereka enggak boleh ke Detik.com. Magang pun enggak boleh, cari tempat lain.

Siapa orang yang menginspirasi Anda ?

Aku belajar nulis itu dari Fikri Jufri. Roh-nya dari Goenawan Muhammad. Dua orang itu duduknya di seberang saya waktu saya di Tempo. Fikri itu guru saya langsung. Bersama Goenawan banyak berdiskusi macam-macam. Yang memberikan kesempatan itu Eros Djarot. Di Tabloid Detik, dilepas, dikasih duit, diminta mengurus penuh. Tiga orang ini sangat berpengaruh hingga hari ini.

Soal divestasi Detik.com, apakah semuanya dilepas ?

Semuanya dilepas. Kalau kemarin [Anda bertanya tetapi tidak dijawab] bukan karena ada perjanjian enggak boleh ngomong, tapi karena belum ada cerita [soal harga]. Jadi susah ngomong. Nanti bilang iya, tidak, bilang tidak, ternyata iya, kan repot. Mendingan diem.

Sebelum transaksi komposisi kepemilikannya detik.com seperti apa ?

Aku nggak mau cerita detail ya. PT-nya itu bernama Agranet, yang pemiliknya Budiono Darsono cs dan Tiger. Tiger ini dari Amerika Serikat sedangkan mayoritas Budiono cs. Yang diakuisisi dalam transaksi ini adalah 100% saham PT Agranet.

 

Negosiasi penjualan detik.com berlangsung 2 tahun, bisa diceritakan prosesnya ?

 

Pada tahap awal dulu itu tidak sepakat, ada perbedaan di harga.  Dua tahun itu mereka [CT Corp] gigih. Pak CT [Chairul Tanjung] menilai new media ini bisnis masa depan, akan tumbuh terus. Pertumbuhannya bagus namun kami sempat tidak sepakat pada harga. Tetapi setelah itu tidak berhenti. Setiap saat menanyakan. Mereka juga menaikkan harga akuisisi. Kami masih belum sepakat. Proses sampai menemukan kecocokan harga justru mendadak, kilat.

 

Prosesnya tergolong cepat. Kenaikan harga yang mereka tawarkan juga signifikan. Di samping soal harga, ada alasan kami harus melepas. Antara alasan dan harga itu nyambung. Alasannya yang pertama, kami sudah 13 tahun mengelola ini, saya dan Abdul Rahman.
CEO-nya itu Abdul Rahman, saya wakil CEO. Selama 13 tahun itu kan kami memiliki banyak obsesi. Memang kami setiap tahun keuntungan bisa tumbuh 100%, tetapi ini nominal yang jauh dari impian.

 

Tahun lalu, laba bersih kami kira-kira Rp20 miliar, tahun ini Insya Allah bisa Rp40 miliar. Ada pertumbuhan yang setiap tahun mencapai 100%. Tetapi bayangan kami, pertumbuhan itu masih jauh dari yang bisa kami capai. Karena kami tidak memiliki lebih banyak resources. Misalnya begini, kalau kami ingin investasi yang nilainya Rp30 miliar kan mikir. Kalau kami lakukan ada kemungkinan laba yang kami hasilkan habis. Banyak potensi besar yang tidak bisa kami ambil karena keterbatasan, tidak hanya finansial.

 

Kalau ingin bersinergi misalnya, ya kami tidak memiliki apa-apa. Detik.com kan hanya Detik.com tetapi tidak memiliki resources lainnya. Ini menjadi obsesi bagi kami. Satu hal yang bisa kami lakukan adalah detik.com akan dapat tumbuh besar kalau diambil oleh grup yang tepat. Grup yang memiliki sumber daya dan finansial. Selama proses pemikiran untuk melepas detik.com yang tertarik bukan hanya Pak CT. Ada banyak pihak, baik dari pemain lokal maupun dari luar negeri,  ada 3 hingga 4 pihak.

 
Kalau pada era 2003-2004 pemain dari luar yang datang. Mereka umumnya menaruh uang saja. Sejak tiga tahun lalu, pemain lokal juga mulai tertarik. Pada proses ini kami mulai memilih siapa pihak pembeli yang tepat. Kami bertemu langsung dengan CT Corp. Tidak melalui pihak ketiga.

Peralihan kepemilikan ini apa menjamin semua rencana Detik.com akan selaras dengan yang keinginan CT Corp ?

Mereka itu memiliki obsesi yang sama. Jadi obsesi saya itu, saya boleh sebut 99% sama dengan CT Corp. Idenya sama. Karena kita punya ide dan gagasan yang sama untuk mengambil potensi yang besar itu maka posisi Abdul Rahman akan tetap dipertahankan setelah perubahan kepemilikan. Saya juga tetap dipertahankan sebagai direktur untuk konten dan pemimpin redaksi. Kami sedang menyusun komposisi direksi. Tapi saya sudah diminta secara resmi. Abdul juga demikian.

Faktor apa lagi yang akhirnya membuat akuisisi ini terlaksana?

Saya dan Abdul kan bisa dibilang manajemen amatiranlah. Aslinya kan kemampuannya menulis. Kami tahu 13 tahun ini tumbuh dan bagus, tapi harusnya sebulan ini bukan Rp15 miliar, harusnya angkanya sudah Rp100 miliar.

 

Kenapa tidak bisa ?

 

Kami sendiri terobsesi. Jadi justru kalau ingin membawa Detik.com lebih besar, harus dilepas kepada yang lebih mampu. Jatah saya hanya sampai di sini. Kami tahu dirilah.

Bagaimana transaksi penjualan Detik.com bisa dituntaskan ?

Kebanyakan enggak formal, bukan suasana yang formal. Bukan dalam kaitan negosiasi. Matching justru di layer-layer informal. Kalau formal itu justru enggak ketemu. Kami sering bertukar ide menggunakan social media, twitter misalnya. Dari situ chemistry itu muncul. Justru tidak terucap. Baru setelah ini, oke, baru terucap. Tapi banyak yang tidak terucap. Selama 2-3 hari kita sudah teken. Ini mengalir dan sangat cepat. Dari pihak sini maupun Pak CT.

Ada perasaan menyesal ?

Jangan pernah menyesali apa yang kita lakukan.
Obsesi setelah ini apa ?

Saya hanya ingin membuka warung kopi. Saya tidak memiliki pemikiran untuk membuat bisnis serupa Detik dan mengulang kesuksesannya. Mustahil. Detik.com itu lahir, sukses, karena ada kondisi-kondisi tertentu. Momentum itu tidak dapat diulang. Misalnya, detik.com sebagai pionir. Kalau saya buat lagi kan bukan pionir tapi pengikut. Saya tidak pernah bermimpi mengulangi sukses pada hal yang sama.

Ide warung kopi dari mana ?

Saya dengan Hana, istri saya, sudah lama berpikir, kami harus punya aktivitas yang kami senang. Saya pengen punya warung, yang saya ikut bekerja di situ. Enggak hanya saya jadi bos. Harus melayani sendiri. Warung kopi. Sekarang kami belajar. Saya dan istri pergi berkeliling untuk mencari konsep. Saya bertemu istri saya di Surabaya Post, dia wartawan juga. Menikah 1989. Dengan dua anak.

Anda dulu sempat bermain di koran siang….

Banyak orang keliru menganggap kami ingin bikin koran. Tapi itu adalah biaya promosi. Biar tidak hanya sekedar promosi, kami ingin menghasilkan sensasi. Kami bikin koran, terbit dua kali, siang dan sore. Itu kalau akal sehat aja jontor jalanin begitu. Anggarannya Rp300 juta untuk 3 bulan. Setiap hari terbit. Edisi siang 10.000 eksemplar, edisi sore 6.000 eksemplar.

Kami sebar seolah-olah menggunakan agen. Pada waktu itu kami menjembatani pembaca untuk mengakses dotcom. Situasinya kan beda. Mereka harus dikasih koran untuk membawa ke konten dotcom. Selama ini kan kami juga tidak anti cetak. Setelah 3 bulan, kami putuskan untuk berhenti.

Kalau berbicara dukungan finansial, ada banyak opsi lain seperti IPO dan obligasi yang bisa diambil. Kenapa ini tidak dijadikan pilihan ?

Kami sudah memikirkan pilihan-pilihan itu, tapi enggak lah. Kembali lagi kami memikirkan bahwa kami ini manajemen amatir. Beruntung 13 tahun bisa seperti sekarang ini. Kami tahu, sebagai pemilik kami sampai di sini. Kami mendapatkan pihak yang datang dari chemistry yang sama, pandangan yang sama, dan sepakat perihal pricing.

Soal karyawan pascaakuisisi bagaimana?

Semua karyawan sudah kami ajak berbicara. Pak CT itu kan datang untuk mencari resources baru, bahkan mereka tekankan usahakan tidak ada satu pun yang keluar. Jumlah karyawan sekitar 320 orang ini resources baru. Marketing dan sales juga demikian. Apalagi bisnis dotcom itu berbeda, misalnya dengan televisi dan media cetak, skill-nya khusus.

Uang dari penjualan detik.com ini mau diinvestasikan kemana ?

[Sampai sekarang] Saya masih bekerja

 

Sampai kapan ?

Sampai Pak CT butuh saya. Tapi regenerasi harus terjadi, semakin cepat, semakin bagus. Enggak bagus orang terlalu lama di sini. 13 tahun jadi pemimpin redaksi, menurut saya, itu ngawur. Ha-ha-ha.

 

Apa rencana setelah pensiun ?

Saya mau pensiun buka warung kopi. Ketika Berita Buana dibredel pada 1990. Saya ke Parung di kompleks baru jualan beras dan lain-lain. Kira-kira 7 bulan, datang Ali, sekretaris Eros Djarot minta tolong untuk menjalankan Tabloid Detik. Berangkatlah saya bantu dia. Setahun kemudian, dibredel bareng Tempo dan Editor.

Rencana bisnis Detik.com seperti apa setelah transaksi penjualan ?

 

Kami masih menggunakan business plan yang ada, yang sudah dibuat sebelum akuisisi, hingga akhir tahun ini. Setelah itu, baru akan ketahuan, berapa suntikan dana yang dibutuhkan. Secara arus kas, kami masih sangat bagus. Tahun ini kami anggarkan sekitar Rp20 miliar, kebanyakan untuk teknologi informasi karena kami banyak mengembangkan aplikasi. Kami juga menambah kapasitas server dan sebagainya.

Apa yang sudah dan belum sampai Desember ?

Proyek baru banyak, kami tetap dalam schedule yang sama. Seperti mengubah desain tepat pada 9 Juli. Detikkios misalnya, khusus untuk iPad. Kami mengundang semua penerbit untuk berjualan di detikkios. Semacam pengecer, dengan pembagian Apple 30%, detik.com 30%, penerbit 40%. Ini sudah di-approve oleh Apple.

Ini sederhana sekali, pemilik konten hanya mengirimkan file PDF. Platform sementara ini di iPad. Nanti kami juga akan melihat Android dan RIM. Tapi yang paling siap kan iPad. Detikkios ini dikembangkan sendiri. Kami punya jagoan-jagoan. Kami juga mengembangkan aplikasi di luar detik.com tetapi sebenarnya ini sinergi. Kami misalnya telah meluncurkan Makan Di Mana.

Lalu kami luncurkan Masak Apa, di beragam platform; BlackBerry, Android, iPad. Aplikasi ada foto, resep. Misalnya orang di supermarket, dia bisa melihat bahan-bahan apa yang diperlukan untuk membuat masakan. Sesampainya di rumah, dia juga bisa melihat lagi cara memasaknya. Kalau aplikasi Makan Di Mana akan membantu pengguna mencari tempat makan. Misalnya dia ada di satu tempat, tinggal gunakan aplikasi ini, nanti akan tampak hasil tempat-tempat makan di sekitar itu. Kami juga memiliki Detikdeal. Ini yang sepertinya membutuhkan resources besar karena kami serius di commerce.

Masa depan Detik.com akan bergantung pada layanan apa ?

Ke depan itu ada dua hal yang perlu dilihat di new media. Pertama adalah tetap web, yang kedua mobile berbasis aplikasi. Karena itu, detik.com harus main di aplikasi. Kami juga mengembangkan aplikasi alamatku. Itu sudah dalam proses. Aplikasi di mana orang mencari alamat. Ini akan digabung dengan peta. Model bisnisnya akan ada misalnya iklan. Sekarang layanan sejenis tersedia dengan nama bukukuning.com. Nanti akan dikembangkan di dalam aplikasi alamatku.

 

Bagaimana mengenai rencana sinergi dengan media di bawah CT Corp [Ada Trans 7 dan Trans TV] ?

Kami sedang membahas. Belum bisa secara detail diceritakan. Kami juga akan membahas sinergi seperti apa. Ada beberapa contoh grup besar yang mencoba menyinergikan beragam konten tapi gagal. Ini akan menjadi pengalaman dan memberikan pelajaran. Tim ini solid. Tidak ada resistensi. Saya percaya tidak. Saya tekankan ini yang berubah hanya kepemilikan. Ke keluarga semua juga begitu. Ke istri dan anak-anak.

Proses kaderisasi yang Anda persiapkan seperti apa ?

Bagus, selama 2 tahun terakhir ini, sebetulnya saya lebih seperti pemimpin redaksi korporat. Di level wakil pemimpin redaksi ada dua orang. Mereka yang menjalankan operasional, meski saya tetap mengecek. Mereka sudah jagoan operasional, naluri sudah jalan. Naluri untuk melihat konten mana yang menarik dan perlu dikembangkan. Kalau jaman dulu kan enggak punya alat untuk mendeteksi, sekarang kan bisa real time untuk mengetahui mana yang sedang banyak dibaca. Skenario apa yang dipersiapkan untuk Detik.com? Saya enggak tahu karena saya bukan lagi pemiliknya. Saya yakin Pak CT memiliki skenario yang terbaik untuk Detik.com. Ada atau pun tidak ada saya dan Abdul.

Di Indonesia perbedaannya apa?

Di luar, seperti Spanyol dan Inggris, online advertising mengalahkan TV, apalagi cetak. Kenapa? Karena industrinya jalan, satu sama lain. Pemahaman juga terjadi. Di sini masih susah. Misalnya di biro iklannya belum paham, kliennya juga. Seiring dengan pertumbuhan ini, harusnya industri ini bergerak. Nah pergerakan ini bisa terjadi kalau betul-betul digali. Kalau di luar negeri, pemilik media cetak berani menutup media cetaknya dan pindah ke online. Berani mereka mengambil keputusan seperti itu.

 

Di sini? Enggak berani. Aku sudah bilang, cetak boleh mati, tapi media enggak akan mati. Di sini banyak yang mengerjakannya setengah-setengah. Nanti terlambat bisa enggak kebagian. Makanya kita lihat banyak yang gagal masuk ke online karena ragu-ragu. Kami pernah menerima kunjungan dari salah satu koran tertua di Denmark. Mereka datang ke Detik.com. Mendengar Detik.com sebagai media online pertama di dunia.

 

Mana sih media yang pertama murni menjalankan rule media online. Mereka belajar, 3 bulan kemudian, koran itu menutup edisi cetaknya, pindah ke online. Mereka mendapatkan iklan besar-besaran karena perubahan ini. Karena ketika koran itu tutup, pembaca mau enggak mau kan ke versi onlinenya. Saya memiliki keyakinan yang besar karena ada contohnya.(ratna.ariyanti@bisnis.co.id/munir.haikal@bisnis.co.id)

(M. Munir Haikal, Ratna Ariyanti)

sumber: http://www.bisnis.com/articles/budiono-saya-tak-pernah-menyesal

Sempat Jatuh Bangun Mencoba Berbagai Bisnis, Kini Santi Mia Sukses Berbisnis Jati

Keluar dari ruangan penjurian, matanya berbinar-binar dan bibirnya melafalkan Alhamdulilah  mengungkapkan rasa syukurnya pada sang Khalik atas keberhasilan tim juri melahirkan juara baru di ranah entrepreneurship wanita di negara ini.

Tahun lalu, Santi Mia Sipan, 45,  masih duduk di bangku finalis Ernst & Young Entrepreneurial Winning Women 2010. Namun tahun ini dia sudah di posisi sebagai juri yang  ikut menentukan wanita-wanita untuk mendapatkan penghargaan bergengsi dari organisasi internasional  itu.

Presdir PT Jaty Arthamas ini dalam kesehariannya memang cepat naik kelas dari seorang seketaris konglomerat menjadi pengusaha agroforesty dan menjadi satu-satunya wanita di Indonesia yang menggeluti bisnis kayu jati dari hulu hingga hilir, mulai dari pembibitan jati unggulan Solomon hingga bisnis baru yang tengah disiapkannya, supermarket jati.

“Tim juri tahun ini memilih empat orang pemenang dari berbagai bidang dan mereka adalah Anastassia Florine Limasnax (PT E-Motion Entertainment), Anne Avantie (Perancang busana pemilik label Anne Avantie), Donda Lucia Yuniar (PT Anugraha Weing Caranadwaya & PT Deva-Datta, dan Susanti Alie (PT Bersama Olah Boga),” jelasnya.

Santi mengaku lega tugasnya menjadi juri dari ajang penghargaan yang digelar untuk mendukung kiprah pengusaha wanita Indonesia ini sudah selesai dan keberhasilan empat pemenang penghargaan Ernst & Young Entrepreneurial Woman 2011 juga berangkat dari ide brilian yang diwujudkan secara realistis.

“Mereka semua adalah pengusaha yang merangkak dulu, memulai dari bisnis kecil-kecilan, hingga akhirnya memiliki usaha dengan omzet di atas Rp 10 miliar per tahun. Mereka juga sukses dalam berbisnis tanpa pinjaman di bank. Perempuan cenderung tidak berani meminjam uang kalau tidak bisa bayar,” jelasnya.

Menurut Santi mereka yang menang penghargaan ini adalah yang bisa melakukan terobosan, inovatif, bisnis yang digelutinya masih orisinal, berpikir ke depan dan berani namun tidak nekat. Para pemenang adalah wanita gigih dan berhasil mengembangkan bisnis secara signifikan dengan sistem yang benar dan cerdas.

Selain mampu menciptakan lapangan pekerjaan, mereka juga memberikan manfaat pada sebanyak mungkin orang melalui bisnis yang dibangunnya. Karakter pengusaha yang dapat memberikan dampak luas bagi keluarga, kerabat dan masyarakat memang menjadi keunggulan wanita, tandasnya.

Santi yang usahanya masuk lima besar bisnis kayu jati di negara ini mengatakan bidang yang digelutinya ini memungkinkannya menjalankan personal social responsibility (PSR), CSR maupun membantu pemerintah dalam hal melakukan penghijauan. Dari 250 ha kebun jati yang dikelolanya sebagai hutan rakyat, maka pihaknya juga sekaligus memberikan bimbingan dan memberdayakan para petani.

“Hutan jati milik rakyat kini lebih dominan memenuhi kebutuhan industri perkayuan dan permintaan akan kayu jati tidak pernah mati sepanjang tahun. Bahkan untuk kayu yang masih usia muda sudah banyak permintaannya.Berdasarkan data statistik selama 25 tahun terakhir, harga pohon jati meningkat dua kali lipat dalam 5 tahun,” kata Santi.

Kebutuhan kayu jati di Indonesia baru terpenuhi 30%, sedangkan mulai 2014 penebangan kayu alam akan dihentikan total. Menghadapi kondisi ini, masyarakat dapat menyubsidi kebutuhan kayu dengan menyiapkan hutan tanaman mandiri. Kelak, kayu yang dihasilkan dari hutan tanaman mandiri bisa digunakan untuk membantu pemasokan pada industri lokal maupun global.

Tak heran setelah paham kini banyak keluarga, kerabat, klien yang beralih ke bisnis kebun jati. Sebagai gambaran, ujarnya, untuk satu hektare tanah dan 1.333 bibit jati termasuk biaya perawatan 3 bulan pertama membutuhkan dana sekitar Rp400 juta. Namun hasil investasi bruto setelah 15 tahun penanaman nilainya mencapai sekitar Rp4 miliar.

“Kalau tanam sekarang, hasilnya 50% dinikmati dan ditebang sudah menghasilkan Rp439 juta lebih, lalu 25% lainnya di panen saat usia 10-12 tahun menghasilkan Rp823,3 juta dan sisa 25% lagi jika dipanen saat berusia 15 tahun menghasilkan Rp2,6 miliar karena harga per batang pohon jati di usia ini sudah Rp8 juta/pohon,” ungkapnya.

Tak heran kalau penawaran investasi kebun Jaty Arthamas di Jonggol, sekitar 60 km dari pusat kota Jakarta kini menjadi incaran para profesional muda karena mereka bisa investasi dengan luas tanah 1000 meter saja dengan harga investasi awal sekitar Rp55 juta.

Dia tidak menampik banyak profesional muda yang selama ini bermain investasi di saham dan apartemen kini justru beralih ke bisnis kebun jati. Kesadaran untuk berbisnis, menjaga lingkungan, melakukan pemberdayaan masyarakat dan berkontribusi pada gerakan global mengatasi perubahan iklim menjadi alasan mereka untuk bergabung.

Tentu saja Santi yang kini sudah menjadi orangtua tunggal bagi kedua anaknya, Adamas Harris Zain dan Annisa Al Sakina sangat bangga dengan fenomena di kalangan para profesional muda itu dan membimbing mereka layaknya sebagai start-up bisnis di bidang agroforestry.

Menularkan virus entrepreneurship kini menjadi bagian hidupnya sehari-hari baik di kebun, di rumah maupun diberagam aktivitas sosialnya.Santi tak segan-segan menjadi motivator dan kema hirannya berkomunikasi baik dalam bahasa daerah, bahasa asing seperti Inggris maupun Perancis memudahkannya menyampaikan pandangan-pandangannya.

Dia mengaku sejak menjadi pemenang E&Y Entrepreneurial Winning Woman tahun lalu banyak memenuhi permintaan sebagai pembicara seminar dan menjadi mentor. Perusahaannya juga menyabet penghargaan PGA Best Motivator of the Year 2010 dan sebuah penghargaan internasional lainnya juga akan diberikan pada wanita cantik ini dalam waktu dekat.

Prestasi yang dicapainya ini buah hasil kerja keras dan  pantang menyerah, jujur, serta keinginan berbagi dengan sesama umat manusia. Keputusannya meninggalkan kenyamanan karier sebagai assistant general manager di perusahaan konglomerat selama 11 tahun dan memberdayakan dirinya secara mandiri melalui wirausaha dinilainya sebagai pilihan terbaik dari yang Sang Pencipta untuk dirinya maupun keluarganya.

Memilih jati sebagai fokus bisnis tak datang tiba-tiba. Sebelumnya, Santi jatuh bangun dengan berbagai bisnis. Bergabung dalam bisnis MLM pada 2002 dan menuai sukses darinya pernah dialami Santi. Merintis bisnis rental kendaraan juga dilakoninya. Namun pada bisnis jati, Santi memantapkan hati dan seperti yang dikatakannya sejak awal mendirikan bisnis, berwirausaha baginya adalah juga berbagi.

Santi memimpin ratusan petani untuk merawat lahan jati dan selain menerima gaji bulanan mereka  juga berhak mendapatkan dana sosial yang dikumpulkannya dari para investor pula.  Untuk keberlangsungan bisnisnya, Santi juga merekrut mandor untuk memastikan lahan investor yang dikelolanya aman terjaga disamping memperbaiki infrastruktur jalan di sekitar kebun.

“Sekarang kalau melihat hamparan kebun dan sungai-sungai yang mengalir rasanya lokasi kami juga bisa dikembangkan untuk desa wisata kebun jati dimana wisatawan bisa datang menginap dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas pada masyarakat setempat,” katanya. Nampaknya apa yang diungkapkannya bukan sekedar angan-angan. Bukan tidak mungkin tahun depan Santi juga sibuk dengan bisnis homestay dan outbound di tengah hutan jati ? (faa) (Hilda Sabri Sulistiyo)

sumber: http://www.bisnis.com/articles/santi-mia-sipan-perempuan-sukses-di-bidang-perkayuan

Oktavia Erdian, Sosok Wanita Tangguh Dibalik Kesuksesan Terrant Books Publishing

“Kenapa, ya, tidak ada novel remaja karya penulis Indonesia?” batin ibu dua anak ini, saat melihat toko buku yang dipenuhi novel remaja terjemahan. Padahal, Via yakin Indonesia memiliki banyak penulis bagus yang mampu menghasilkan karya yang tak kalah bermutu.
Pada saat yang sama, Rachmania, adik Aziz, kesulitan memasarkan novel pertamanya, Eiffel I’m in Love. “Waktu itu Nia masih menerbitkan sendiri bukunya, cuma berbentuk fotokopi pula,” ujar Via. Belakangan ia mengerti, penerbit besar belum memercayai penulis muda Indonesia. Ia menduga, masih banyak Nia lain di luar sana, yang mampu menghasilkan novel bermutu, tapi kesulitan menembus penerbit besar.

Melihat prospek bisnis yang menjanjikan, ia dan suaminya sepakat merintis usaha penerbitan buku. Karena pernah bekerja di penerbitan buku, Aziz sudah memiliki modal pengetahuan seluk-beluk bisnis tentang dunia itu. Karya adik ipar jadi embrio Terrant Books. Gaya penuturan Rachmania yang witty dan ceritanya yang sangat remaja, membuat Via pede menggelontorkan dana Rp15 juta untuk mencetak 3.000 eksemplar dan promosi.
Kenekatannya tak sia-sia. Dalam hitungan 3 minggu, Eiffel I’m in Love cetak ulang berkali-kali dan sekarang telah laku sebanyak 50.000 copy. Popularitas itu meningkat setelah novel ini diangkat ke layar lebar. “Setelah itu,  banyak penulis remaja yang mengirimkan naskahnya ke Terrant,” ujarnya, senang.

Kini, bisnis penerbitan novel milik Via telah beromzet Rp25 juta per bulan. Angka didapat dari hasil penjualan buku yang sudah dikurangi biaya produksi, distribusi, promosi, dan royalti penulis sebesar 10%-15%. Meski kini bisnis penerbitan sedang turun dan buku memiliki pesaing tangguh, seperti e-book dan media online, Terrant tetap bertahan. “Berdasarkan hasil riset saya, remaja tetap memilih buku konvensional dibandingkan e-book, karena lebih mudah dibawa dan dibaca di mana saja,” jelasnya.

Namun, Via tak bisa memungkiri, masih ada buku-bukunya yang retur. “Setelah 3 bulan, sisa buku yang tak laku diretur. Biasanya sekitar 100 – 200. Kami menyiasatinya dengan membuat promo paket, misalnya 3 buku dijual Rp50.000,” ia menjelaskan strateginya. Cara itu mampu menutup ongkos produksi, yang cetakan pertamanya sekitar 1.500-3.000 copy per judul.

Sukses Eiffel I’m in Love memacu semangat pasangan suami-istri ini. Mereka terus mencari karya menarik yang bisa mengekor sukses Nia. “Sejak itu memang banyak naskah masuk. Sayangnya, mereka terlalu terinspirasi Eiffel I’m in Love. Karakter remaja dalam mayoritas naskah persis sama dengan Tita dan Adit (tokoh dalam Eiffel I’m in Love),” ungkapnya, kecewa.

Akhirnya ia melakukan aksi jemput bola dengan mengajak penulis-penulis ternama menulis novel untuk Terrant Books. Salah satunya, Monty Tiwa dengan Dunia Mereka. Strategi dan pemilihan penulis ini cukup tepat. Dunia Mereka mendapat apresiasi pembaca, hingga dibuat filmnya juga.

Tak hanya novel terbitannya yang diangkat ke layar lebar, Via juga mencoba menurunkan film ke atas kertas. Setelah menonton film 30 Hari Mencari Cinta karya Upi, Via ingin sekali membaca versi bukunya. Ia lalu meminta Upi menulis untuknya. “Tapi, saya tidak mau ceritanya sama seperti di film. Saya ingin tahu awal persahabatan Keke, Gwen, dan Olin, serta kelanjutan kisah mereka,” tegasnya, agar versi novelnya memiliki daya tarik dan nilai jual tersendiri.

Selain bekerja sama dengan penulis ternama, Via juga rajin mencari penulis baru di dunia maya. Menurut pengalamannya, banyak penulis berbakat siap diasah yang bersembunyi di sana. “Kan banyak remaja yang punya blog. Ternyata, selain curhat, mereka suka menulis cerita di blog,” kisahnya. Bahkan, Via sering terinspirasi oleh curhat blogger remaja di blog-nya. “Saya jadi tahu dunia remaja, problemnya, dan tren di kalangan mereka,” katanya.

Dengan cara itu juga Via berkenalan dengan Cassandra Niki, mahasiswi asal Yogyakarta yang rajin nge-blog dengan nama Casseybunn. “Cassandra sudah terkenal di antara blogger remaja. Waktu itu dia menulis cerita serial di blog-nya. Saat saya ajak dia untuk menulis buku, dia antusias sekali. Awalnya, dia tidak pede, tapi saya terus menyemangati karena saya tahu dia mampu,” ujarnya. Berkat bimbingan dan arahan dari Via, tahun 2010 lalu terbitlah buku perdana Cassandra, Letters, Stories and Dreams.

Meski menggunakan strategi jemput bola, Terrant Books terbuka menerima naskah novel. Ada tim naskah yang khusus menyeleksi naskah kiriman penulis. Setelah melewati seleksi mereka, barulah Via menyeleksi lagi. Salah satu triknya menyeleksi adalah hanya membaca beberapa halaman pertama. “Kalau setelah 5 halaman saya masih tertarik membaca, berarti naskah tersebut bagus,” ujarnya.

Via senang, buku terbitan perdananya menjadi trendsetter genre novel teenlit. “Setelah Eiffel I’m in Love, penerbit lain mulai berani menerbitkan novel remaja asli Indonesia,” kisahnya. Melihat tingkat persaingan yang mulai tinggi, Via mulai putar otak menciptakan diferensiasi.

Setelah menyelami lebih jauh tren di kalangan remaja, ia melihat popularitas manga (komik Jepang). Bahkan, manga mulai membangkitkan minat menggambar komik di kalangan remaja. Ide menerbitkan komik pun muncul. “Sepertinya menarik, ya, kalau ada komik karya komikus Indonesia dengan cerita dan karakter tokoh yang sangat Indonesia,” ujarnya, berkhayal.

Ia lalu menggandeng komikus Indonesia, seperti Beng Rahadian, Bayu Indie, dan Oyas-Iput-Ipot. Tahun 2005, Terrant Comic menerbitkan 3 komik, yaitu Selamat Pagi Urbaz (Beng Rahadian), Split (Bayu Indie), dan 1001 Jagoan: Factory Outlet Boys (Oyas-Iput-Ipot). Tapi, intuisi inovasi Via kali ini meleset. Animo pasar terhadap komik bergaya Indonesia masih sangat rendah. “Setelah 4 bulan ada di toko buku, komik-komik itu tidak laku dan hampir semuanya kembali,” tutur Via, yang merugi sekitar Rp30 juta.

Kegagalan itu menjadi pelajaran berharga baginya. Memang, novel terbitannya tak selalu menjadi bestseller. Tapi, baru kali itu bukunya kembali sebanyak itu. “Kesalahan saya adalah tidak melakukan analisis dan tes pasar dengan lebih teliti. Indonesia memiliki banyak komikus berbakat, namun kita belum punya pembaca yang mau menerima komik Indonesia. Penggemar komik kita masih manga-minded,” kata Via.

“Dalam bisnis penerbitan buku, selain karya yang bagus, distribusi dan promosi memegang peranan penting,” cetus Via. Yang sempat membuatnya cemas adalah perlakuan ‘anak tiri’ terhadap buku karya penulis dan penerbit baru. “Wah, buku saya pasti ditaruh di rak yang tak strategis. Kalau begitu caranya, bagaimana pengunjung toko buku bisa ngeh dengan Eiffel I’m in Love,” Via menceritakan kekhawatirannya saat itu.
Alumnus D-3 Hubungan Masyarakat, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, ini memanfaatkan strategi promosi dan media relations yang diperolehnya semasa kuliah. “Pokoknya, saya keukeuh ingin membuat acara launching buku Rachmania. Manajemen toko buku sempat menertawakan saya. Kata mereka, ‘Launching penulis besar seperti Dewi Lestari aja sepi, Mbak,’” kata Via, menirukan.

Untunglah, Via tetap melakukan launching dan mengundang banyak media massa. Sejak itu, nama Terrant dikenal publik sebagai penerbit khusus novel remaja. “Hubungan kami dengan media massa juga baik, karena Terrant rajin mengadakan kerja sama dengan mereka,” ujarnya, senang. Via menyadari, media massa punya peran besar dalam menyebarkan informasi dan memengaruhi pembaca. Publikasi media menjadi cara promosi jitu. Karena itu, Terrant Books selalu memprioritaskan peluncuran novel terbitannya. “Penulis tak perlu pusing, Terrant yang mengadakan dan membiayai,” katanya.

Terrant terus merancang program promosi bekerja sama dengan media, seperti lomba penulisan cerpen, serta acara diskusi film dan buku. “Terrant ingin membangkitkan semangat menulis anak muda, karena penulis sudah menjadi profesi yang menjanjikan,” jelasnya.

Itu sebabnya, Terrant Books punya program pelatihan penulisan bagi siswa SMP, SMA, dan mahasiswa. “Pelatihannya gratis. Terrant bekerja sama dengan banyak sekolah dan pelatihan itu diadakan di sekolah mereka,” ujar Via, yang juga menjual buku-buku terbitannya di koperasi sekolah. Program itu juga merupakan strategi Terrant Books dalam membina hubungan dengan pembacanya (Terrant menyebut pembacanya besties).

Hubungan baik dengan penulis juga menjadi prioritas. Karena itu, Via tidak menentukan pakem baku dalam gaya penulisan dan penggunaan bahasa. “Karena target pembacanya remaja, gaya bahasanya juga harus seperti bahasa sehari-hari remaja. Penulis kami juga bebas menulis sesuai gaya masing-masing,” ungkap Via, yang juga siap jadi teman curhat penulisnya kapan saja.

Menjadi sahabat dan mentor yang baik, kira-kira begitulah peran yang Via jalani. Bahkan, ketika ada produser film yang berminat membuat film berdasarkan novel terbitannya, Via siap mendampingi penulisnya. “Mayoritas penulis Terrant masih muda dan belum paham urusan kontrak. Tim legal Terrant siap jadi konsultan hukum mereka,” katanya, tersenyum.

Seperti nama Terrant yang dalam bahasa Prancis berarti underground movement, Terrant ingin memiliki hubungan bebas birokrasi dengan penulis dan pembacanya. “Gaya Terrant adalah indie publisher yang tidak banyak aturan. Tapi, untuk urusan kualitas isi novel, kami sangat serius,” tegasnya.

Karena itu, Via hanya menerbitkan 1 novel setiap bulan. “Kami ingin bisa memberikan yang terbaik bagi penulis kami,” ujarnya, bangga. Mimpi Via berikutnya? “Tahun 2012, saya ingin membuat toko buku sendiri agar Terrant dan penulis bisa lebih dekat dengan besties,” tuturnya, penuh harap.

(EKA JANUWATI
FOTO: M. HASRIEL)

sumber: http://wanitawirausaha.femina.co.id/WebForm/contentDetail.aspx?MC=001&SMC=006&AR=58

Irene Holle, Menyulap Sampah Menjadi Omzet Puluhan Juta Perbulan

Tak pernah terpikir oleh Irene akan menjadi pemilik dan pendiri PT. Recycle Indonesia Utama Mandiri (Recyclindo), perusahaan yang menyediakan solusi menciptakan lingkungan hidup yang bersih. Recyclindo menerapkan sistem pengelolaan sampah berbasis zero waste management. “Kalaupun mimpi punya bisnis, saya ingin berbisnis kuliner atau restoran, karena bidang saya F&B,” ujar wanita kelahiran 29 April 1974 ini.

Lantas, apa yang membuatnya tertarik pada masalah sampah hingga mau nyemplung dan menjadikannya sebagai ladang bisnis? Sejak lama ia prihatin melihat perilaku masyarakat yang cenderung cuek pada sampah. Kepeduliannya ini kemudian diwujudkan dengan membeli sampah dari staf housekeeping hotel, berupa kertas, botol, dan kaleng aluminium, untuk kemudian dijual lagi.

Irene lalu mulai belajar cara mengolah sampah dengan mengambil kursus 3 hari intensif mengenai zero waste management di BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). “Dari kursus itu, wawasan saya makin terbuka tentang apa yang bisa saya lakukan pada sampah.”

Saat mengambil kursus itu, ada pengalaman yang membekas, antara lain kunjungan ke tempat pembuangan sampah Bantar Gebang, Bekasi, dan rumah jagal DKI di Cakung. Di Bantar Gebang, Irene tertegun melihat berbukit-bukit sampah. “Saya sempat ‘mabuk’, mungkin karena tidak terbiasa mencium bau sampah. Apalagi, saya alergi terhadap debu,” kenangnya.

Lain lagi pengalaman yang ia peroleh saat mendatangi rumah jagal DKI, tempat pemotongan hewan. Di dekat situ ada tempat pengomposan dari bahan sisa daging. “Ya, ampun, baunya tajam dan menyengat! Setelah kunjungan itu, saya langsung jatuh sakit. Tapi, dalam 3 hari itu banyak sekali pelajaran berharga yang saya peroleh,” tutur Irene.
Usahanya berjalan setahap demi setahap. Dari awalnya berburu sampah kering, naik truk dengan membawa tas kresek ke mana-mana, sampai akhirnya ia punya langganan pemasok. Ia mendapat kontrak untuk mengangkut sampah non-organik. Sisanya masih
dibuang ke tempat pembuangan milik Pemda.

Ia tak segan merogoh kocek Rp100 jutaan sebagai modal awal, antara lain untuk membeli truk second-hand dan menyewa lahan sebagai gudang. “Mengolah sampah organik itu tidak mudah. Untuk itu, kami perlu lahan lebih luas. Kalau salah, nanti bisa-bisa dikomplain tetangga,” ujar Irene, yang mengambil lokasi di kawasan Cinangka, Sawangan, Depok.

Irene mulai mencari lahan baru di daerah Parung, Bogor. Ia ingin lebih memaksimalkan pengolahan sampah. Sejak akhir 2009, di tempat barunya itu ia mulai mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos. “Learning by doing. Kami hire konsultan untuk memastikan proses yang kami lakukan ini sudah benar. Misalnya, kompoisi dan kelelembapannya. Kompos harus selalu basah, supaya cepat busuk.”

Semua Sampah Bernilai

Untuk jasa pengangkutan sampah, Irene memperkirakan omzetnya sekitar Rp15 juta per bulan. Belum lagi, pemasukan dari penjualan sampah daur ulang yang beratnya beratus-ratus kg, menghasilkan lebih dari Rp15 juta. Untuk pengolahan sampah organik, kisaran omzet per bulan bisa sekitar Rp5 juta. Banyaknya sampah berupa sisa makanan dari hotel dan resto membuat Irene terpikir untuk membuat peternakan ikan lele di Parung. Sisa makanan itu bisa dimanfaatkan sebagai pakan ikan. Omzet dari kolam lele kira-kira Rp10 juta. “Total pemasukan dalam sebulan paling sedikit Rp45 juta.”

Irene menerangkan, belakangan ia dipercaya perusahaan besar untuk menangani sampah mereka. Perusahaan itu tidak ingin sampahnya terbuang begitu saja. “Mulai banyak perusahaan yang sudah menerapkan konsep ramah lingkungan kemudian memilih kami. Mereka tidak mau sampahnya tidak diapa-apain. Hal itu rupanya sudah menjadi bagian dari komitmen CSR mereka,” tutur Irene.

Untuk sampah daur ulang, seperti kantong plastik, kertas, kardus, dan botol kaca, banyak sekali pabrik yang memerlukannya. Antara lain, pabrik di Tangerang, Parung, Cikarang. “Yang jelas, semua sampah bisa diolah lagi atau dijadikan bentuk lain. Alumunium dan kaleng bisa langsung dilebur, digunting, atau diolah menjadi handycraft. Botol gelas bisa dipakai lagi. Yang sudah tidak bisa terpakai, diolah oleh pabrik keramik. Kardus dan kertas diolah lagi oleh pabrik kertas. Botol soft drink yang terbuat dari bahan jenis polyethylene terephthalate, bisa diolah menjadi bahan kain yang stretch,” terang Irene.

Sampah yang datang dikumpulkan di Parung, lalu diseleksi. Irene mengelompokkan sampah ke dalam beberapa kategori. Sampah plastik saja masih dibagi menjadi beberapa jenis, misalnya ada plastik yang berupa kemasan botol sampo, kemasan botol air mineral, kemasan soft drink, dan plastik hitam. Selain itu, dipisahkan mana yang bisa didaur ulang untuk dijual lagi. Sampah organik bisa dibuat pupuk kompos dan pupuk cair. Sampah dari sisa makanan untuk pakan ikan dan hewan ternak. Residunya, yang tidak bisa diapa-apakan, baru dibakar di oven pembakaran. “Yang tersisa Benar-benar tinggal debu,” kata Irene, senang.

Masih Banyak Peluang Lain

Di sisi lain, ada yang berpikir, sampah bernilai tinggi sehingga tidak perlu membayar jasa pelayananan. “Kan tetap ada biaya operasional. Untuk pengangkutannya saja perlu biaya. Mengangkut dan mengolah sampah adalah dua hal berbeda,” ujar lulusan D4 MTU (Manajemen Transportasi Udara) Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi Trisakti, ini.

Dulu Irene yang mencari-cari pabrik untuk dipasok sampah daur ulang, sekarang klien yang mencarinya. Kendati belum ada rencana untuk membesarkan bisnisnya, Irene masih terus memikirkan cara memberdayakan sampah, agar bisa digunakan kembali. Belum lama, Irene melakukan uji coba dengan menanam cabai dan papaya jenis california. Ia sedang mengeksplorasi bisnis nursery untuk memanfaatkan pupuk organiknya.

Sebenarnya, Irene melihat, masih banyak peluang lain yang bisa dijajaki dari limbah sampah. Misalnya, diolah menjadi kerajinan tangan, aksesori, barang fashion, dan manik-manik kaca. Ia akan menyambut positif, jika ada pihak yang ingin bekerja sama dalam pengolahan limbah untuk kerajinan.

“Kini saya sedang ingin mempelajari cara membuat pelet ikan dari sisa makanan. Saya dengar di Sumatra Barat ada orang yang mendapat penghargaan, karena sukses mengolah sampah pasar menjadi bahan makanan ikan. Saya sedang mencari infonya,” tutur Irene, bersemangat.

Irene punya kebiasaan unik setiap kali traveling ke luar negeri. Bukannya memotret tempat-tempat indah, ia mengamati tempat sampah dan pengolahan sampah di tiap kota yang disambanginya. Ia mengaku takjub dengan masalah manajemen persampahan di luar negeri. Kata Irene, tempat sampah di mana-mana sudah dipisah sesuai jenis. Di Australia, tempat sampah ditandai dengan warna kuning, biru, dan merah. Perusahaan yang menangani pengangkutan dan pengolahan sampah biasanya berdasarkan tender. Di sana, pemerintah punya plan pengolahan sampah dan menerapkan zero waste management.

Di Singapura, ada pusat daur ulang sampah kertas. “Sampah adalah proyek sangat mahal. Tapi, kalau kita tahu cara mengolahnya, bisa menjadi sumber pendapatan,” kata Irene, menirukan ucapan warga Singapura pengusaha distributor tempat sampah.
Irene bercerita Singapura juga punya tempat pembuangan sampah dengan teknologi maju. Sampah sudah dipisah-pisah, residunya langsung masuk ke tempat pembakaran sampah. Di Dubai, setiap beberapa unit rumah dan vila disediakan kontainer sampah tertutup. Truk sampah datang setiap hari pada saat gelap.

Irene merasa miris, jika bicara soal sampah di negeri ini. “Kesadaran masyarakat untuk tertib buang sampah pada tempatnya masih rendah. Dari pihak pemerintah, belum ada keseriusan dalam menangani sampah. Ada daerah yang warganya terpaksa patungan menyewa truk sampah, karena sampah mereka tak kunjung diangkut. Di pusat pembuangan sampah, limbah hanya dibiarkan tanpa diolah,” kata Irene, menyayangkan.

Agar tercipta lingkungan yang bersih, ia berharap pemerintah bersedia menyubsidi tempat-tempat sampah, di setiap beberapa titik disediakan tempat sampah besar atau kontainer. “Kalau melihat tumpukan sampah, saya geregetan ingin mengangkut. Tapi, kalau saya angkut hari ini, biasanya besok akan ada lagi. Hari ini ada satu, besoknya ada lagi yang melempar,” tutur Irene, yang akan menyambut baik para pemain baru di bisnis ini.

(Ficky Yusrini
Foto: Jennifer Antoinette)

sumber: http://wanitawirausaha.femina.co.id/WebForm/contentDetail.aspx?MC=001&SMC=006&AR=53