Category Archives: Agribisnis

Andris, Lewat Nasi Liwet Instan dari Beras Garut Hasilkan Omzet Ratusan Juta

KOMPAS.com – Di pasaran,
beras asal Garut masih kalah
pamor dengan beras Cianjur
atau beras Thailand. Padahal,
beras garut memiliki sejumlah
kelebihan dibanding beras jenis
lainnya.

Beras garut dikenal memiliki
warna lebih putih, lebih pulen
setelah dimasak, dan memiliki
rasa manis, dibanding jenis
beras lainnya. Namun, banyak
pedagang yang
menyembunyikan identitas
beras Garut dan menggantinya
dengan nama beras Cianjur yang
tertera pada karungnya.

Kondisi inilah yang membuat
Andris Wijaya (32), warga Desa
Samarang, Kecamatan
Samarang, Kabupaten Garut,
berusaha menaikkan pamor
beras Garut tanpa
menyembunyikan nama asli
berasnya. Andris ingin
masyarakat mengenal beras
Garut dan menyukai beras
tersebut.

Andris memang tidak bisa
melakukan promosi besar-
besaran untuk mempopulerkan
beras garut. Namun, alumnus
D3 Politeknik ITB Jurusan
Teknik Mesin tahun 2001 ini
memiliki sejumlah ide atau cara
lain untuk mempopulerkan
beras garut.

Minat warga luar Kabupaten
Garut yang semakin tinggi dan
berminat menjadikan Kabupaten
Garut sebagai tujuan wisata
dijadikan alat untuk mencapai
tujuan tersebut.

Menurut
Andris, beras Garut harus
diolah dan dikemas sedemikian
rupa sehingga jadi oleh-oleh
favorit para wisatawan.
Berbekal resep nasi liwet
keluarga, pengetahuan yang
dimilikinya, dan minat
wisatawan yang tinggi atas oleh-
oleh khas Garut, Andris
membuat nasi liwet instan.

Mesin heuleur milik almarhum
ayahnya dia modifikasi menjadi
mesin yang bisa menggiling padi
menjadi lebih baik. Dengan
penggilingan sebanyak tiga kali
menggunakan mesin tersebut,
beras Garut bisa matang dengan
waktu memasak selama 20
menit saja.

Berbagai bumbu dan rempah
resep keluarganya dikeringkan
sehingga tidak dibutuhkan
pengawet dan bisa bertahan
sampai 8 bulan. Begitupun
dengan pelengkap nasi liwet
seperti ikan teri, asin jambal
roti, petai, dan jengkol.
Semuanya dikeringkan dan
dikemas serapi dan sebersih
mungkin.

Beras Garut, rempah, bumbu,
minyak sayur, dan
pelengkapnya, disusun dalam
sebuah kemasan dus berlabel
“Liwet 1001”. Melaui sejumlah
distributornya dan para
wisatawan yang membeli
produknya, Andris memasarkan
beras Garut ke sejumlah kota
besar di Indonesia. Bahkan,
produknya dinikmati juga di
Timur Tengah dan sejumlah
negara Asia lainnya.

“Akhirnya tidak hanya dijadikan
oleh-oleh. Tapi lebih banyak
dikonsumsi warga kalangan
menengah atas yang menyukai
nasi liwet di restoran-restoran
dan ingin memasaknya dengan
cara praktis di rumah. Bahkan,
nasi liwet ini sudah dipesan
banyak oleh para calon haji,”
kata Andris saat ditemui di
pusat produksi Liwet 1001 di
Desa Samarang, Rabu
(12/9/2012).

Untuk memasaknya, beras,
bumbu, minyak sayur, dan
pelengkapnya, tinggal
dimasukkan ke penanak nasi
elektronik ( rice cooker ). 250
gram beras liwet instan dimasak
dalam 600 mililiter air selama
20 menit sedangkan 500 gram
beras dimasak dalam 850
mililiter air selama 25 menit.
Setelah itu, nasi liwet pun bisa
langsung dinikmati. Aroma dan
rasa nasi liwet ini, tuturnya,
tidak kalah dengan nasi liwet di
restoran. Nasi dari beras Garut
pun tersaji dengan keadaan
pulen dan berukuran besar
serta lezat.
Karenanya, sejumlah hotel dan
restoran di Garut telah jadi
pelanggan tetapnya. Minimal,
hotel dan restoran itu memesan
beras Garut dari tempatnya dan
menggunakan bumbu liwet
sendiri.

Andris yang meluncurkan
produk tersebut pada Juli 2011
ini pun mendapat penghargaan
dari Gubernur Jabar, Ahmad
Heryawan, pada Anugerah
Inovasi Jawa Barat (AIJB) 2012,
kategori bidang pangan kategori
perorangan. Ia pun semakin
termotivasi memasarkan beras
garut.

Kini Andris bisa memproduksi
2.000 produk Liwet 1001 per
hari dan mendapat omzet Rp 20
juta per hari. Ia pun membina
200 petani padi di Kecamatan
Samarang, Bayongbong, dan
Tarogong, yang menanam beras
garut jenis sarinah, serta
mempekerjakan 60 warga di
rumah industrinya. (sam/
Tribun Jabar) ( Editor: Erlangga Djumena)

sumber: http://m.kompas.com/news/read/2012/09/13/09434310/andris..mengangkat.beras.garut.lewat.nasi.liwet.instan

Alvia Alhadi, Pemilik Budidaya Keladi Tikus: Ketika Bisnis dan Penyembuhan Bergandengan

Keladi tikus yang ditanam Alvia Alhadi ternyata mengandung khasiat penyembuhan terhadap kanker. Dari hobi bercocok tanam ia bisa memetik laba sekaligus membantu orang lain yang sakit berat.

SETIAP ORANG MEMILIKI kisah tersendiri dalam perjalanan hidup maupun bisnisnya. Ada yang memperoleh titik baliknya secara kebetulan, ada juga yang menemukannya lewat pencarian selama beberapa waktu lamanya. Alvia Alhadi termasuk orang yang beruntung. la tergolong orang di kelompok pertama, walau keberuntungan itu kemudian diimplementasikannya dengan kerja yang tak kalah keras.

Titik balik yang dialami pemuda Pontianak itu terjadi ketika seorang teman ayahnya datang sertandang ke rumah, 5 tahun lalu. Sambil bersilaturahmi, tamu itu melihat-lihal pekarangan luas rumah orangtua Alvia yang banyak ditanami tumbuhan. Hobi Alvia memang bercocok tanam, sehingga dialah yang biasa menanami pekarangan itu hingga hijau dan indah dipandang. Mendadak, tamu itu berhenti di depan tanaman yang saat itu belum diketahui namanya oleh Alvia.

“Teman ayah saya mengatakan bahwa tanaman itu namanya keladi tikus dan punya khasiat penyembuhan yang hebat. Anaknya yang berusia 8 tahun mengidap kanker otak dan bisa sembuh karena mengonsumsinya secara teratur. Ya, tentunya kesembuhan itu atas kuasa Tuhan jua,” tutur Alvia, “Karena memiliki bisnis rumahan, yaitu memproduksi kapsul keladi tikus, beliau menawari saya untuk menyuplai keladi tikus seharga Rp40 ribu per kilogram.”

Hanya butuh waktu singkat bagi Alvia untuk mempelajari khasiat keladi tikus (typhonium flagelliforme, sp) di Internet. la membaca bahwa tanaman itu telah diakui di negeri jiran, Malaysia, sebagai salah satu penyembuh penyakit berat, terutama kanker. Sudah ada dokter yang meresepkan keladi tikus sebagai obat (lihal boks: Keladi Tikus, Sang Penyembuh). Hal ini membuat Alvia tergerak untuk menjadi petani keladi tikus dari lahan ayahnya yang hanya berukuran 10×24 m.

Tak mudah mencari orang yang benar-benar bisa mengurus tanaman. Kerja tidak benar, malah meminta kenaikan upah.

 

Dengan modal Rp1 juta, usaha yang dimulai pada 2006 itu kini telah menghasilkan omzet per tahun sampai Rp30 juta dengan keuntungan bersih Rp17 juta setiap tahunnya. la kemudian membuka lahan baru seluas 15×25 m, sehingga panennya setiap minggu dapat mencapai 10 kg. Meski nilai sebesar ini tidak seberapa bila dibandingkan dengan nilai rupiah yang dicapai melalui usaha-usaha yang dirintis wirausahawan-wirausahawan muda lainnya, bagi Alvia Alhadi sudah lumayan.

 

PETANI KELADI

Tak ada konsep bisnis ‘njelimet’ dari ketekunan mahasiswa semester 8 program Diploma III Politeknik Negeri Pontianak ini. Ind usahanya adalah menyuplai keladi tikus dari lahan yang dimilikinya. Kendati sesederhana itu, bukan berarti ia mudah menjalankannya. Membagi waktu antara kuliah dan mengurus tanamannya ternyata tidak terlalu gampang. Pekerjaan ini cukup melelahkan karena tanaman keladi tikus membutuhkan perawatan yang teratur.

Padahal, langkah-langkahnya sendiri cukup sederhana. Alvia tinggal mempersiapkan lahan agar kondisinya baik untuk ditanami keladi tikus, melakukan penanaman, perawatan teratur, panen, kemudian pembersihan. Peralatan pertanian dan pupuk tentu saja masuk ke dalam hal-hal yang harus dipersiapkannya.

Walau secara langsung tidak berhubungan, Alvia merasa bahwa ilmu yang diperolehnya dari kampus cukup membantunya berpikir sisternatis, faktual, dan logis. Keuntungan lain dari usaha ini adalah karena ia menjalankan usaha yang merupakan hobinya sejak dulu, yaitu bercocok tanam.

Tapi, kesibukan kuliah membuat Alvia harus mencari orang lain untuk membantu mengurusi lahannya. “Ternyata tak gampang mencari orang yang mau dan bisa melakukannya,” ungkap Alvia. “Apalagi awalnya saya tidak mampu memberikan upah yang memadai untuk usaha ini. Pernah saya mempekerjakan pegawai. Eh, dia tidak bertanggung jawab. Diwajibkan datang jam 8, baru muncul jam 9 atau 10 pagi. Janji pulang jam 4, tak tahunya jam 3 sudah pulang. Malah upah minta naik.”

BIODATA

ALVIA ALHADI

Pontianak, 5 November 1989

Pendidikan

D3 Teknik Sipil, Politeknik Negeri, Pontianak

Nama Usaha

Budidaya Tanaman Keladi Tikus

Website: http://www.naturalfresh.co.cc

Alamat: A Pangeran Natakusuma Gg. Siliwangi Pontianak, Kalimantan Barat

Penghargaan

2009 Finalis Nasional Wirausaha Muda Mandiri

Karena pendidikan pula, Alvia tidak setengah-setengah mempelajari pembudidayaan keladi tikus. Dengan gist ia terus mencari cara Yang benar dalam melakukan bisnisnya. Misalnya, ia kini memahami tata cara pembibitan dan perawatan, serta pengelolaan hasil panen yang optimal. la jadi mengerti bahwa tanaman keladi tikus tidak selalu memerlukan lahan luas. Di pekarangan sekitar rumah atau di dalam pot pun bisa. Yang penting, tidak terkena sinar matahari langsung dan media tanam tidak dalam kondisi basah berlebihan.

“Lahan yang saya miliki saat ini sangat teduh karena ditumbuhi pohon-pohon pisang yang tumbuh subur. Hal ini sangat baik agar tanaman keladi tikus tumbuh subur. Jika ditanam di lahan yang terbuka, maka keladi tikus ini saya lindungi dengan saring untuk menghalangi sinar matahari.”

Keladi tikus bisa dipanen setelah mass pemeliharaan 20 hari. Yang siap panen biasanya berukuran 25-35 cm. Menurut Alvia, pangsa pasar obat kanker tersebut meliputi Yogyakarta, Bandung, Malaysia, dan Brunei Darussalam. “Saya dengar orang Malaysia berani membeli tanaman ini dengan harga tinggi. Sayang, saya belum memiliki jaringan untuk menembusnya.”

Agar tidak menaruh telur dalam satu keranjang saja, ia membuka usaha lain yang tak kalah bermanfaat.

MENGAJAK TETANGGA

Permintaan tinggi namun hasil panen terbatas membuat Alvia, kelahiran Pontianak, 1989 ini memutar otak lebih kendang. Melihat tetangga di tempatnya tinggal banyak yang tidak memiliki mata pencaharian, ia mengajak mereka melakukan hal yang sama seperti dirinya.

“Saya niatkan usaha ini juga bisa bermanfaat bagi mereka,” kata Alvia. “Kebetulan, kebanyakan tetangga adalah pensiunan yang tidak memiliki kegiatan apa pun. Mereka sangat bersemangat menanam keladi tikus walaupun untuk menanamnya diperlukan ketelatenan dan keuletan agar bisa tumbuh subur.” Hingga tahun 2010 lalu, sebanyak 10-15 rumah telah menanam keladi tikus dan Alvia menjadi koordinatornya. Dengan demikian, setiap hasil panen mereka kirimkan ke Alvia, lalu diteruskan ke UKM yang mengolah tanaman tersebut menjadi kapsul.

Di sisi lain, Alvia yang mempromosikan usahanya lewat brosur dan situs http://www.naturalfresh.co.cc ini mengakui bahwa bisnisnya masih perlu mendapatkan lebih banyak perbaikan. la merasa bahwa usahanya belum berkembang dan belum menampakkan kemajuan secara signifikan. “Mungkin karena saya belum berani melakukan gebrakan yang berarti. Saya masih bingung, bagaimana harus melakukan promosi dan kepada siapa. Padahal, selama ini keladi tikus telah diyakini masyarakat yang berada di kawasan saya sebagai obat.”

Walau didukung orangtua–mereka jugalah yang memberikan modal awal–dan lingkungan kampusnya, Alvia masih merasa gamang dalam hal mengelola bisnisnya, termasuk cara terbaik dalam manajemen administrasi, keuangan, dan sumber daya manusia. Maka itu, hingga saat ini ia baru mempekerjakan dua pegawai tetap.

Permintaan tinggi namun hasil panen terbatas membuat Alvia memutar otak lebih kendang, la mengajak mereka melakukan hal yang sama seperti dirinya.

 

Bicara soal pegawai, Alvia juga pernah mengalami kegagalan yang menyakitkan. Alvia pernah membuka lahan yang cukup luas untuk penanaman keladi tikus bermodalkan sejumlah uang yang cukup besar. Sayang, bibit-bibit yang ia tanam tidak bisa tumbuh karena kurang perawatan. Ternyata, pekerja yang direkrutnya tidak bekerja maksimal, sehingga keladi tikus yang dihasilkan kurang memenuhi syarat untuk dijual.

Kegagalan itu membuka mata Alvia bahwa membangun usaha memang tidak segampang membalikkan telapak tangan. “Harus fokus, ulet, kerja keras, dan tanggung jawab. Untungiah hal ini kini sudah tercamkan dengan baik di kepala saya, terutama setelah memperoleh pembinaan dari Bank Mandiri,” kata pemenang Wirausaha Muda Mandiri 2009 itu.

Agar tidak menaruh telur dalam satu keranjang saja, Alvia memutuskan bahwa ia juga perlu melakukan berbagai usaha lain yang bermanfaat. Jadi, tak hanya membudidayakan keladi tikus, ia juga membuka penyewaan mobil dan rumah kos.

Namun begitu, keladi tikus tetap menjadi prioritasnya. Alvia percaya bahwa bisnis tidak selamanya dinilai dengan uang. la beranggapan bahwa uang akan datang sendirinya jika is selalu fokus dan tidak egois serta diniatkan untuk menolong orang lain yang membutuhkan produknya. “Saya yakin, jika saya selalu berpikir seperti itu maka konsumen akan selalu datang,” ujarnya optimis.

Cita-cita terbesar anak muda Pontianak itu adalah agar usahanya mampu menolong orang banyak, di antaranya menciptakan lapangan kerja dan menyembuhkan orang yang terkena penyakit dengan menggunakan obat tradisional yang harganya terjangkau. “Saya selalu bermimpi agar usaha saya ini bisa berkembang dan merambah nasional, lalu internasional. Sebab, banyak kalangan berpendapat bahwa manusia berasal dari alam dan akan kembali ke alam. Berdasarkan hal itu, salah satu cars mengobati penyakit pastinya berasal dari alam pula. Tapi untuk mencapai itu tidak mudah. Perlu waktu serta kerja ekstra keras,” tambahnya.

Keladi Tikus – Sang Penyembuh Kanker

Posted by kanker on 8th September 20010

KANKER kini tidak lagi rnernatikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman “KELADI TIKUS” (Typhonium Flagelliforrne/Rodent Tuber) sebagai tanaman obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan berbagai penyakit berat lain. Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 cm ini hanya tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari langsung. “tanaman ini sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa,” kata Drs. Patoppoi Pasau, orang pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia. Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof Dr. Chris K.H.Teo,Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari Universiti Sains Malaysia dan juga pendiri Dancer Care Penang, Malaysia. Lembaga perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah membantu ribuan pasien dari Malaysia, Amerika, Inggris, Australia, Selandia Baru, Singapura, dan berbagai, negara di dunia.

Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi di Pekalongan, Jawa Tengah. Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker payudara stadium III dan harus dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker ganas tersebut diangkat melalui operasi, istri Patoppoi harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh sel) untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut. ‘Sebelum menjalani kemoterapi, dokter mengatakan agar kami menyiapkan wig (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkan kerontokan rambut, selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan, jelas Patoppoi.

Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus berusaha mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan inforrnasi mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobati kanker. “Saat itu juga saya langsung terbang ke Malaysia untuk membeli teh tersebut,” ujar Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang berada di sebuah toko obat di Malaysia, secara tidak sengaja da melihat dan membaca buku mengenai pengobatan kanker yang berjudul Cancer, Yet They Live karangan Dr. Chris K.H. Teo terbitan 1996. “Setelah saya Baca sekilas, langsung saja saya beli buku tersebut. Begitu menemukan buku itu, saya malah tidak jadi membeii teh Lin Qi, tapi langsung pulang ke Indonesia;” kenang Patoppoi sambil tersenyum. Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium flagelliforme itu.

Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat Departernen Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanaman tersebut. Setelah menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat, keluarganya di Pekalongan Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata, rnereka rnenemukan tanaman itu di sana. Setelah mendapatkan tanaman tersebut dan mempelajarinya lagi, Patoppoi menghubungi Dr. Teo di Malaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman yang ditemukannya itu.

Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi dan menjelaskan bahwa tanaman tersebut memang benar Rodent Tuber ‘Dr Jeo mengatakan agar tidak ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat,” lanjut Patoppoi. Akhirnya, dengan ltekad bulat dan doa untuk kesembuhan, Patoppoi Mulai memproses tanaman tersebut sesuai dengan Iangkah-langkah pada buku tersebut untuk diminum sebagai obat. Kemudian Paroppoi menghubungi putranya, Boni Patoppoi di Bucluran, Sidoarjo untuk ikut, mencarikan tanaman tersebut. “Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai mencari di pinggir sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan tanaman tersebut tumbuh liar di pinggir sungai,” kata Bonif yang mendampingi ayahnya saat itu.

Selama mengonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami penurunan efek samping kemoterapi yang dijalaninya. Rambutnya berhenti rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang. ‘Bahkan nafsu makan ibu saya pun kembali normal,” lanjut Boni.

Setelah tiga bulan meminurn obat tersebut, isteri Patoppoi menjalani pemeriksaan kankernya. “Hasil pemeriksaan negatif, dan itu sungguh mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta,’ kata Patoppoi. Para dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan pada isterinva. “Malah mereka ragu, apakah mereka telah salah memberikan dosis kemoterapi kepada kami,” lanjut Patoppoi, Setelah diterangkan mengenai kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter pun mendukung Pengobatan tersebut dan menyarankan agar Mengembangkannya. Apalagi melihat keadaan isterinya vang tidak mengalami efek samping kemoterapi yang sangat keras tersebut. ‘Dan pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali diundur menjadi enam bulan sekali. “Tetapi karena sesuatu hal, para dokter tersebut tidak mau mendukung secara terang-terangan penggunaan tanaman sebagai pengobatan alternatif” sambung Boni sambil tertawa. Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan keadaan isterinya, pada bulan April: 1998, Patappoi Kemudian menghubungi Dr, Teo melalui fax untuk menginformasikan bahwa tanaman tersebut banyak terdapat di Jawa dan mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan tanaman ini di indonesia. Kemudian Dr. Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh,” sambung Patoppoi. Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjermahkan dalam bahasa Indonesia dan disebar luaskan di Indonesia, Dr. Teo menganjurkan agar kedua belah pihak bekerja sama dan berkonsentrasi dalam usaha nyata membantu penderita kanker di Indonesia.

Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas mengenai meninggalnya Wing Wirvanto, salah satu wartawan handal jawa Pos, Patoppoi sempat tercengang. Data-data rinci Mengenai gejala, pencentaan, pengobatan vang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan salah satu pengalaman pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan di buku tersebut. Dan eksperimen pengobatan tersebut berhasil menyernbuhkan pasien tersebut.

Sumber: http://kankerku.blogdetik.com/?m=20090908

“Saya membina hubungan dengan pelanggan dengan cara selalu berkomunikasi tentang perkembangan penyakit kemudian berdiskusi mengenai hal-hal yang bisa menjadi masukan berharga bagi kehidupan.”

TESTIMONI

Q: Sulitkah mendapatkan bahan baku usaha Anda?

A: Bahan dasar usaha saya adalah tanaman keladi tikus, bahan lain yang menunjang bisnis saya di antaranya adalah tanah basah, pupuk, dan peralatan lainnya. Bibit tanaman itu sangat sulit didapatkan. Tanaman ini memang sepintas banyak terdapat di mana-mana, namun ternyata bukan keladi tikus. Keladi tikus sangat menjanjikan untuk dunia bisnis, pasalnya dari tanaman ini pembeli bisa langsung mengonsumsinya, namun harus dengan cara yang besar sesuai anjuran yang ditetapkan. Bahkan di Malaysia, keladi tikus siap dibeli dengan harga tinggi, namun hingga kini saya belum mendapatkan saluran untuk memasarkannya di sana.

Q: Adakah ciri khas bisnis Anda?

A: Ciri khas dari bisnis saya adalah sangat mengutamakan manfaat bagi para pembeli produk, karena produk yang saya tawarkan berguna bagi penyembuhan berbagai penyakit yang diderita. Sejujurnya tanaman keladi tikus ini sudah lama ada di Indonesia, namun banyak masyarakat Indonesia yang memandang tanaman ini dengan sebelah mata saja. Akibatnya, lama kelamaan tanaman ini jarang ditemukan. Selain itu, mengembangkan tanaman ini tergolong sulit karena penanaman dan perawatan berbeda dengan tanaman lainnya.

TIPS

HUKUM WIRAUSAHA #15

Kejujuran dan Tanggung Jawab adalah Modal Utama

“Rahasia bisnis adalah mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain.”

Aristoteles Onassis

MESKIPUN BIDANG USAHANYA tergolong kecil, tapi Alvia memiliki modal dasar untuk menjadi pengusaha besar, yaitu kejujuran dan kejelian melihat peluang. Kejujuran dan tanggung jawab merupakan modal untuk menjadi pengusaha besar, bukan membesar-besarkan kemampuan (bombastic) atau merasa sudah besar, padahal sebenarnya belum apa-apa.

Ketika seseorang memulai usaha, harus jelas betul apa yang dimaksud dengan menjadi pengusaha. Ada orang yang memilih jalan hidup sebagai petani, guru, dosen, pegawai, dan lain sebagainya. Tetapi, ada pula orang yang memilih menjadi pengusaha di bidang pertanian atau pendidikan. Ini adalah hal yang berbeda. Demikian juga Alvia, dia harus memilih apakah ingin menjadi petani keladi tikus, produsen obat-obatan herbal dari keladi tikus, atau ingin menjadi pengusaha di bidang obat-obatan herbal. Keduanya memiliki cara berpikir dan landasan yang berbeda. Berikut ini adalah tips untuk menjadi pengusaha dalam bidang apa pun:

  • Sekali lagi saya tegaskan bahwa apa yang menjadi bisnis kita pada saat awal belum tentu akan menjadi bisnis akhir kita. Dengan demikian, menanarn keladi tikus bagi seorang Alvia haruslah menjadi usaha awal. Namun akhirnya, Alvia harus menjadi pengusaha besar. Oleh karena itu, Alvia harus menyiapkan langkah-langkah besar, jangan terbatas pada creating product, tetapi fokuslah pada creating value. Sebab, seperti yang pernah saya sampaikan pada wirausahawan muda lainnya, diperlukan lompatan yang berbeda untuk menyeberangi parit dan menyeberangi gunung yang tinggi.
  • Menjadi pengusaha berarti menciptakan mata rantai nilai yang merupakan gabungan dari berbagai aktivitas bernilai tinggi. Nilai-nilai itu tidak hanya disusun, tetapi mungkin perlu diciptakan dari nol melalui ilmu pengetahuan, informasi, pengembangan produk, pengembangan jaringan distribusi, dan reputasi. Sekali lagi lakukan value creation.
  • Bangunlah reputasi melalui rangkaian kegiatan yang produktif Jangan takut untuk melakukan investasi pada aspek-aspek intangibles (harta tak kelihalan), seperti keterampilan, paten, dan reputasi. Memang, aspek-aspek ini tidak dapat diperoleh dalam tempo sekejap dan harus diupayakan dengan kerja keras. Namun, setelah dimiliki, aspek-aspek ini akan melekat pada pengusaha itu sendiri.
  • Menjadi pengusaha yang berkaitan dengan obat-obatan herbal dan kesehatan bukan hanya perkara bagaimana membuat produk dan memasarkannya. Diperlukan upaya-upaya lain yang bersifat mengamankan kepentingan pelanggan. Dalam hal ini, yang dimaksud adalah kepentingan kesehatan dan rasa aman dari gangguan-gangguan seperti efek samping yang berpotensi merugikan atau hal-hal yang sebetulnya tidak teruji secara klinis. Maka, untuk pengusaha produk makanan, sebaiknya dalam jangka panjang lengkapi usaha Anda dengan divisi research and development, uji klinis, Serta segala sesuatu yang berbasis pengetahuan.
  • Meski usaha terpaksa dimulai dari volume yang terbatas, pengusaha harus tetap berpikir besar dalam menjadikan usaha menjadi lebih besar, lebih modern, dan didukung oleh teknologi yang memadai. Bila tidak, usaha Anda tidak ada bedanya dengan usaha yang dikembangkan oleh para pembual di kaki lima.
  • Ada pilihan lain yang dapat dieksplorasi, yaitu menjadi pemasok kecil pada satu mata rantai nilai dengan menjadi pemasok bahan baku. Tapi, bila pilihan ini dilakukan, Anda tidak akan bisa menjadi pengusaha besar. Selain itu, usaha Anda akan sangat tergantung pada fluktuasi kondisi alam dan supply-demand.

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 2: Kisah Inspiratif Anak-anak Muda Menemukan Masa Depan dari Hal-hal yang Diabaikan Banyak Orang. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

Jafri S. Hut, Pemilik Minuman Sehat Aloesella: Melesat Berkat Minuman Sehat

Pemanfaatan sumber daya yang unik dari daerah sendiri memang telah banyak dilakukan orang. Namun, ketika, orang mulai peduli terhadap kesehatannya, dibutuhkan strategi tersendiri untuk mengaitkan sumber daya tersebut dengan pasar.

 

 

 

UNTUK URUSAN MAKANAN atau minuman, konsumen zaman sekarang memang bukan hanya mencari yang sedap di lidah, melainkan juga yang menyehalkan. Cermat membaca keinginan pasar, Jafri pun memadukan dua jenis tanaman berkhasiat untuk menjadi minuman segar sekaligus menyehalkan. la menggabungkan aloe vera (lidah buaya) dan bunga rosella menjadi minuman Aloesella yang warna merahnya dantik menggoda. Minuman ini bahkan sudah masuk ke hotel-hotel sebagai welcome drink. Sementara si empunya gagasan, bisa menangguk rezeki yang lumayan bagi wirausahawan pemula, yaitu omzet Rp108 juta per tahun.

 

RAMUAN ‘AJAIB’

Di daerah Pontianak, minuman yang terbuat dari lidah buaya sudah lama populer. Maklum, di daerah ini tumbuh subur tanaman lidah buaya dalam jumlah tak terbatas. Lalu Apa yang membedakan Aloesella dari produk lain? Jafri mengklaim bahwa minuman ramuannya itu bebas bahan pengawet atau perasa buatan. “Banyak produsen minuman seperTI sayA menggunakan pengawet atau diberi perasa buah. Aloesella berbeda. Rasa rosella yang asam berperan sebagai pengganti pengawet. WarnA merahnya pun dari bunga rosella. Jadi, minuman ini membuat kita sehat luar-dalam,” ujar Jafri. Memang, lidah buaya bermanfaat untuk menjaga kesehatan kulit, sementara bunga rosella merupakan antioksidan yang baik.

Antioksidan yang dibicarakan Jafri belakangan ini memang sedang naik daun. Kesehauan–juga kedantikan–adalah insentif bagi orang yang mengonsumsinya. Gaya hidup dan kondisi lingkungan saat ini memang membuat banyak orang mulai memberi perhalian khusus akan kesehatannya. Karena itu, semua artikel dan informasi tentang antioksidan yang dapat membuat tubuh lebih sehat, dengan segera menarik minat kita. Ini karena antioksidan berperan meredam radikal bebas yang mengakibatkan kerusakan dalam tubuh. Kondisi ini dipercaya mengakibatkan penuaan lebih dini.

 

Tidak ragu memulai usaha di usia muda, bahkan sambil berkuliah. Jafri mampu membuatkan bahwa kuliah dan bisnis bisa berjalan beriringan.

 

Padahal, radikal bebas sebenarnya merupakan produk yang dihasilkan tubuh–terkait dengan metabolisme tubuh sewaktu memproses makanan yang dikonsumsi serta memproses zat-zat polutan (yang terdapat dalam udara, air, dan tumbuh-tumbuhan yang tercemar pestisida). Radikal bebas juga dihasilkan oleh paparan sinar X, asap rokok, stres, dan pola makan. Para ahli percaya bahwa radikal bebas adalah penyebab utama 68 jenis penyakit, termasuk kanker dan gangguan jantung. Tidak heran bila makanan, minuman, ataupun suplemen yang mengandung antioksidan, berpotensi laris di pasar. Demikian pula halnya dengan minuman yang dijajakan Jafri.

Untung tidak sulit baginya untuk menemukan bahan baku minuman tersebut. Lidah buaya yang merupakan ikon tanaman unggulan Kalimantan            Barat mudah ditemui di mana-mana. Ada saja petani yang menanamnya untuk dijadikan komoditas unggulan. Sehingga, Jafri yakin, bisnis ini sangat menjanjikan di masa depan. Namun, ada satu masalah yang timbul karena penyimpanan bahan baku tidak mudah. Salah teknik penyimpanan dapat mengakibatkan bahannya busuk atau berjamur. Inilah yang menjadi tantangan utama bagi Jafri. la harus mencari metode penyimpanan bahan baku, supaya bisa sertahan hingga dua bulan. Dengan begitu, kualitas minuman tetap terjaga tanpa pengawet.

 

Bekerja dulu di tempat orang lain, karena bisa membuka wawasan sekaligus ajang mencuri ilmu.

BIODATA

JAFRI S. HUT

Pontianak, 14 Maret 1984

Pendidikan

S1 Kehutanan, Universitas Tanjung Pura, Pontianak

Nama Usaha

Aloefresh Pontianak Kalbar (minuman kesehatan kombinasi tanaman Lidah buaya dan bunga Rosella)

Website: http://www.smallindustry-aloesella.com

Alamat: JI. H. Rais A Rahman Gg. Era Baru No. 24 Pontianak-Kalimantan Barat

Penghargaan

2007 Juara I GKM Terbaik Provinsi Kalimantan Barat

2007 Juara I GKM IKM Terbaik Oleh Kementerian Perdagangan RI di Padang Sumatera Barat

2009 Finalis Nasional Wirausaha Muda Mandiri.

 

BERBISNIS SEJAK KECIL

Jafri memulai bisnis ini sejak awal kuliah, tepatnya tahun 2002. la memang termotivasi memiliki usaha sendiri dan tidak bekerja pada orang lain sejak dulu. “Sebab, sejak SMP saya sudah bekerja pada orang lain dan lama-lama merasa jenuh. Selama itu, ide-ide kreatif yang saya miliki hanya ada dalam benak saja, tanpa ada kesempatan untuk diwujudkan,” katanya.

Kegiatan berdagang sebenarnya sudah tak aneh lagi bagi Jafri. Ketika masih sangat kecil, ia sudah mulai berdagang untuk membantu perekenomian keluarga. Saat duduk di kelas 2 SD, ia sudah dipercaya untuk menjualkan barang dagangan oleh tetangga sebelah rumah. Dengan semangat, Jafri kecil menawarkan buah semangka potong dan jeruk kepada teman-teman di sekolahnya, bahkan pada gurunya.

“Dari hasil penjualan itu, saya diberi sedikit upah untuk biaya sekolah dan uang jajan. Meski sedikit, uang itu sangat berarti bagi saya. Apalagi, guru saya juga mendukung usaha yang saya lakukan untuk membantu orangtua,” kata Jafri, yang kemudian juga membantu ibunya menjajakan kue.

Setelah ayahnya meninggal, niatJafri untuk membantu ibunya makin kuat. Seorang kakaknya lalu memutuskan berhenti bersekolah dan menjual bensin eceran di pinggir jalan untuk membantu menghidupi keluarga. Tak hanya itu, kakaknya juga menjadi buruh bangunan. la tak punya bekal pendidikan yang lebih untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik. Meski penghasilannya tak besar, sang kakak bisa menjadi pengganti kepala keluarga, menyekolahkan adik-adiknya termasuk Jafri, bungsu dari lima bersaudara. Kenyataan ini membuat Jafri sangat sedih. Tapi, ia tak ingin berpangku tangan dan menggantungkan nasib pada kakaknya. Jafri ingin tetap meraih ilmu sebanyak-banyaknya agar bisa menjadi pengusaha sukses, meskipun mimpi itu bertentangan dengan cita-cita ibunya yang ingin agar ia menjadi pegawai negeri.

 

Mencari ide bisnis dari sekitar. Ide bisnis Jafri muncul karena kota tempatnya tinggal menghasilkan banyak bahan baku yang muclah dicari. la lalu menggabungkan ide tersebut dan melakukan inovasi.

 

Dalam keadaan nyaris putus sekolah karena ketiadaan biaya, semangat Jafri untuk menuntut ilmu tidak meluntur. la terus belajar dan belajar. Hingga akhirnya ketika kelas 6 SD, ia berhasil mendapat nilai tertinggi di kelas. Menghargai prestasi Jafri, sekolahnya lalu memberikan beasiswa dalam bentuk uang, yang bisa dipergunakan untuk melanjutkan sekolah ke tingkat SMP. “Masih terbayang saat itu perasaan senang yang amat sangat karena tak horns menambah beban pikiran lbu dan kakak dalam mencari uang untuk membiayai sekolah saya,” kata Jafri, sedikit sendu.

Saat duduk di kelas I SMP, Jafri semakin rajin menjajakan kue. Sampai-sampai ia sempat dilarang berjualan oleh gurunya, karena khawatir mengganggu proses belajar mengajar di kelas. “Sebenarnya saya tidak berjualan ketika pelajaran berlangsung. Tapi, ada teman saya yang menikmati kue jualan saya di tengah jam pelajaran. Saya lalu berusaha meyakinkan guru saya bahwa kegiatan berjualan ini tidak akan mengganggu pelajaran. Untunglah guru itu bisa memahami dan kemudian malah memberi masukan berharga, agar saya menitipkan kue itu di kantin sekolah agar bisa fokus belajar,” tambah Jafri, mengenang masa kecilnya.

 

 

BELAJAR DARI BISNIS TETANGGA

Setahun kemudian, seorang tetangga Jafri memperkenalkan dia pada seorang pengusaha rumahan Halo de coca, Syahrizal. la diminta untuk membantu usaha tersebut. Jafri kemudian beralih `profesi’. la tidak lagi berjualan ketika sekolah, melainkan bekerja di usaha rumahan tersebut sepulang sekolah. Cukup lama Jafri menjalani pekerjaan itu, hingga ia lulus SMA.

 

la memulai bisnis dari hobi. Karena hobi menggali sesuatu yang baru dari kuliner, Jafri menekuni bisnis kuliner ini dengan senang hati.

 

“Sampai sekarang Pak Syahrizal menjadi inspirasi dalam hidup saya. Saya mendapatkan banyak sekali ilmu yang sangat berharga darinya. Dengan bimbingannya, keinginan untuk menjadi pengusaha mulai menunjukkan titik terang. Saya makin termotivasi untuk berbisnis,” kata Jafri, yang menganggap Syahrizal sebagai ayah angkatnya.

Selepas SMA, Jafri memutuskan untuk bekerja terlebih dulu agar bisa menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Beruntung, ia mendapat pekerjaan sebagai waiter di salah satu hotel tak berbintang di Pontianak. Kebetulan, ada karyawan yang sedang off dan ia menggantikan karyawan tersebut. “Gajinya cukup lumayan untuk ditabung, walaupun saya hanya bekerja pada hari Sabtu dan Minggu. Selain itu, saya juga bekerja sebagai petugas kebersihan di salah satu masjid terbesar di Pontianak,” tutur Jafri, yang mengaku bahwa hobinya adalah berdagang dan jalan-jalan, mencari hal baru yang berhubungan dengan kuliner.

Meski begitu, ia tetap menjalin hubungan baik dengan Syahrizal. Bahkan, Syahrizal juga kerap memberi tahu Jafri, kalau ada pelatihan yang bogus. Syahrizal rupanya juga berharap agar Jafri bisa meneruskan usaha nota de coco miliknya. Namun, Jafri tahu diri, karena Syahrizal memiliki anak yang mungkin ingin menggantikan ayahnya. Di nisi lain, karena Bering mengikuti pelatihan, Jafri jadi mengenal banyak orang di lingkungan pemerintahan, khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan di Pontianak. Tawaran pekerjaan untuk membantu pengembangan industri lidah budaya yang saat itu sedang digalakkan di Pontianak, mengalir.

Gairah untuk berbisnis semakin berkobar. Untuk bekal berusaha, mulailah Jafri mengikuti pelatihan kewirausahaan dan seminar tentang hak paten. Merasa sudah punya cukup modal ilmu, tahun 2002 Jafri memberanikan diri untuk rnembuka usaha minuman lidah buaya. Namun, keinginan untuk melanjutkan sekolah juga tinggi. Sebuah keputusan besar dan berani diambil oleh Jafri. Ia merintis usaha sekaligus melanjutkan sekolah. la harus ‘berakrobat’ membagi waktu untuk kuliah di Jurusan Manajemen Kehutanan Fakultas Kehutana Universitas Tanjungpura, Pontianak dan melakukan bisnisnya.

Meski masih baru di dunia bisnis, putra Pontianak kelahiran 1984 itu memahami pentingnya melakukan promosi. Agar minuman lidah buayanya dikenal banyak orang, ia rajin memamerkan produknya di berbagai pamerar baik yang berskala kecil maupun nasional, seperti SMESCO 2003, Pangan Nusa 2004, Pameran Produk Indonesia 2009, bahkan sampai ke Malaysia (2009). Ta disangka, masyarakat pun menyambut baik minuman kesehatan ini. Namanya mulai dikenal sebagai pengusaha yang sukses.

Satu demi satu kerjasama dengan perusahaan lain pun terjalin. Jafri mulai memasok minumannya ke salah satu pusat olahraga. Tak berselang lama, sebuah perusahaan dari Surabaya mengajaknya bekerja sama dalam hal pengiriman gel lidah buaya. la juga diminta oleh Dinas Koperasi dan Usah Kecil Menengah di Jawa Tengah untuk menjadi instruktur pengolahan lidah buaya. “Selain itu, usaha saya juga diikutsertakan dalam perlombaan di tingkat provinsi dan nasional untuk kategori industri kecil dan menengah di bidang penemuan sistem kerja melalui alat sterilisasi produk di Malang (2004) dan Padang (2007),” kata Jafri, yang terpilih sebagai Juara UKM Terbaik di Padang.

 

Menjadi pengusaha juga memerlukan pendidikan tinggi. Pendidikan itu digunakan untuk mengembangkan ide inovasi serta mendapatkan persaingan yang sehat dalam berwirausaha

 

Modal sejuta rupiah yang ditanamnya mulai berbuah. Padahal, harga jual minuman produksinya itu tidak terlalu mahal. “Satu botol kecil ukuran 330 ml untuk sirup, hanya dijual Rp6 ribu,” katanya. “Kalau untuk langsung minum, harganya mencapai Rp5 ribu. Khasiatnya lumayan. Karena mengandung vitamin C dosis tinggi, antioksidannya tinggi, juga bisa menurunkan berat badan dan tekanan darah tinggi, demikian menurut penelitian yang saya baca di internet,” tambah Jafri.

Usaha ini memberikan dampak yang luar biasa terhadap kehidupan pribadi Jafri. Jafri yang dulunya hidup dalam kekurangan, kini sudah bisa menghidupi keluarganya, terutama membahagiakan ibunya. la pun kini sudah memiliki 5 pegawai tetap, plus 7 pegawai tidak tetap yang slap membantu sewaktu-waktu dibutuhkan—baik saat berproduksi atau ketika akan mengikuti pameran. Dari kampus tempatnya bersekolah, Jafri juga mendapat dukungan yang baik. Apalagi, ia melakukan inovasi dengan memadukan bunga rosella dalam minumannya. “Melalui Program Mahasiswa Wirausaha 2009, saya diberi tambahan modal oleh kampus untuk mengembangkan usaha. Minuman saya pun dijadikan minuman pembuka di berbagai kegiatan kampus,” tutur Jafri yang akhirnya lulus kuliah tahun lalu dan berniat berkeluarga pada tahun 2012.

Sukses Jafri ini tak lepas dari kegigihannya mencari cara untuk berproduksi lebih banyak. Selama ini, alat sterilisasi yang dipakai dalam pengolahan lidah buaya hanya mampu menghasilkan produksi sebanyak 70 cup. Bersama ketiga teman bisnisnya, Budi Lesmana, Erik Alfian, dan Arferianto, ia membuat sebuah alat yang disebut pasteurisasi. Dengan alat itu, sterilisasi dapat menghasilkan 350 cup, atau 5 kali lipat hasil alat biasa. Maka, bukan keajaiban bila kreativitas anak-anak muda ini menghasilkan sesuatu yang lebih sukses yang belum tentu dapat diraih oleh pemuda-pemudi sebaya mereka.

 

TESTIMONI

Q: Produk minuman berbahan lidah buaya sudah banyak di tempat Anda, mengapa Anda tetap tertarik membuka bisnis ini?

A: Banyak jenis minuman di Pontianak berbahan dasar lidah buaya umumnya memiliki esens atau perasa led Serta menggunakan berbahan pengawet sitrun dan keasaman. Saya menciptakan produk minuman aloesella ini tanpa bahan pengawet. Pewarnanya berasal dari warns merah alami, sementara keasaman bunga rosella menjadi pengganti pengawet sitrun. Jadi, makna dari minuman aloesella ini adalah sehat luar dalam karena kandungan lidah buayanya bermanfaat menjaga kesehatan kulit dan kandungan bunga rosella merupakan antioksidan bagi tubuh. Nilai lebih ini saya jelaskan untuk meyakinkan pembeli dan menjadikannya sebagai minuman oleh-oleh khas Kalimantan Barat.

Q: Mengapa pengusaha perlu memiliki pendidikan tinggi?

A: Saya berusaha meyakinkan diri bahwa—tidak seperti gambaran orang selama ini—tidak selamanya orang yang pendidikan tinggi itu mudah menjadi pegawai negeri. Sebaliknya, menjadi pengusaha juga perlu berpendidikan tinggi agar lebih dapat berinovasi dan menciptakan persaingan yang sehat dalam berwirausaha. Saya bangga dengan hasil yang saya dapatkan, sukses di pendidikan dan sukses di usaha.

 

“Tiap hari setelah pulang sekolah, saya selalu bekerja. Saya senang dengna pekerjaan itu karena selain hasilnya lumayan untuk diri sendiri dan keluarga, kehidupan saya selalu mendapat perhalian dari bapak angkat saya. Tapi dampaknya, saya dianggap kurang bergaul dengan teman yang lain karena setiap pulang sekolah saya langsung pulang dan bekerja, padahal dalam hali kecil saya ingin bermain setelah pulang sekolah.”

 

 

HUKUM WIRAUSAHA #14

Mengimbangi Peran Pengusaha Nasional

 

“Keberhasilan atau kegagalan dalam bisnis lebih disebabkan oleh sikap mental dibandingkan oleh kapasitas mental.”

Walter Scott

 

PENGUSAHA DARI DAERAH tentu saja memiliki kapasitas yang lebih terbatas dan tidak bisa disamakan dengan pengusaha dari pusat atau daerah lain yang memiliki potensi pasarnya lebih besar. Di Kalimantan Barat terdapat potensi sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan, tapi local market-nya sangat terbatas. Padahal, serangan dari produk-produk berskala nasional begitu kuat dan hal ini dihadapi oleh setiap pengusaha lokal. Oleh karena itu, untuk sertarung di ceruk pasar yang terbatas dan menjadi pemula diperlukan sejumlah teknik khusus. Teknik-teknik ini tidak boleh ‘kalah bersaing’ dengan teknik yang diterapkan oleh para pemain nasional. Dengan teknik ini pengusaha lokal dapat mengimbangi peran pengusaha nasional dalam kancah perekonomian Indonesia. Beberapa tips yang dapat diberikan:

  • Usahakan untuk memodernkan komoditas lokal ke dalam sebuah produk akhir yang dipersepsikan berkualitas tinggi oleh pasar. Dalam hal ini, lidah buaya yang selama ini dikenal sebagai komoditi lokal diolah oleh Jafri menjadi minuman yang mengandung sejumlah khasiat. seperti misalnya mengatasi masalah lambung dan panAs dalam. Tentu saja lidah buaya tidak hanya dapat dibuat dalam bentuk minuman, melainkan juga dalam bentuk lain. Misalnya ekstrak yang dapat dipakai untuk pengobatan dan perawatan kulit serta rambut.
  • Mengisi semua ceruk sedemikian rupa sehingga tidak ada ruang bagi para pendatang baru untuk mengisi pasar yang sudah kecil dan mempersempit pasar yang sudah kecil. Kalau Anda adalah rusa, Anda harus berlari lebih cepat dari serigala yang siap menerkam. Berlari lebih cepat dalam kewirausahaan dapat diartikan sebagai usaha untuk menciptakan kualitas internal yang lebih tinggi, seperti quality control yang lebih baik, sumber daya manusia yang lebih handal, dan jaringan distribusi yang lebih luas.
  • Bangunlah jaringan mata rantai baik distribusi, produksi, maupun sumber-sumber ketersediaan bahan baku. Hal ini perlu dilakukan agar bahan dan pasar yang terbuka lebar itu tetap akan memberikan prioritas pada produk Anda. Bentuknya bisa berupa aliansi atau co-production. Ini adalah pekerjaan yang sangat memakan waktu bagi wirausahawan pemula. Namun, sekali Anda dapatkan maka Anda akan memiliki kekuatan.
  • Jangan menyerah untuk menumbuhkan usaha Anda menjadi perusahaan nasional. Meskipun memulai dari pasar yang kecil, namun karena tekanan begitu besar, Anda akan mampu menjadi pemain nasional yang tangguh. Ingatlah bahwa seindah apa pun tujuan Anda tidak akan pernah tercapai jika Anda tidak melakukan langkah-langkah untuk mendekatinya.
  • Terus kembangkan produk-produk turunan baru dari produk inti yang sama. Anda mungkin saja melakukan diversifikasi usaha dari produk-produk turunan tersebut. Kalau hal tersebut membutuhkan teknologi yang lebih tinggi, jangan takut memanfaatkan teknologi dengan menjalin kerja sama dengan pihak-pihak terkait. Ingatlah mahasiswa dikelilingi oleh orang-orang hebat dan teknologi pengolahan yang maju, yaitu semua yang tersedia di kampus. Dekatilah dan jajaki kemungkinan-kemungkinannya untuk dipakai dalam usaha Anda.

 

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 2: Kisah Inspiratif Anak-anak Muda Menemukan Masa Depan dari Hal-hal yang Diabaikan Banyak Orang. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

Syammahfuz Chazali, Pemilik PT. Faerumnesia: Mengangkat harkat kotoran sapi

Jika kebanyakan orang menjauhi kotoran sapi, Syammahfuz Chazali malah akrab dan berkutat dengan limbah perut berbau busuk ini. Tapi siapa yang menyangka hasilnya bisa menjadi bsinis bernilai miliaran, bahkan berpotensi menghasilkan devisa?

 

KOTORAN ITU ANUGERAH yang indah. Barangkali begitu yang ada di benak Syammahfuz Chazali (25). Tentu saja bukan bentuknya ang indah atau aromanya yang semerbak. Dimana-mana kotoran – apalagi yang kita bicarakan ini, maaf, adalah kotoran alias tahisapi alias tlethong – selalu dipandang menjijikkan dan berbau busuk menyengat. Kotoran dipandang sebagai limbah yang mengganggu lingkungan sekitarnya.

Fakta inilah yang menggelitik Syam – begitu ia biasa disapa. Ia mengolah dan mengangkat harkat kotoran sapi ini menjadi bahan produk bernilai ekonomis. Melalui beberapa eksperimen, mahasiswa Jurusan Sosial Ekonomi (Sosek) Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada (UGM) ini membuktikan bahwa tlethong bisa memberi manfaat baru bagi perkembangan industri gerabah dan keramik di Indonesia. Hasilnya mengagumkan. Sebagai bahan campuran, tlethong olahan ternyata bisa membuat gerabah menjadi lebih kuat, memerikan warna yang cermelang, dan bobotnya lebih ringan hingga dua kilogram.

 

BERAWAL DARI RENUNGAN KLOSET

Gagasan awal Syam untuk manfaat kotoran sapi muncul sekitar September 2006. saat merenung ketikabuang hajat, tiba-tiba saja terbersit dibenaknya untuk menjadikan ampas perut berbau tersebut sebagai bahan campuran keramik. Pria kelahiran Medan pada 5 November 1984 ini teringat kenyataan bahwa tanah yang kering dan tandus bisa menjadi bagus kalau dicampur dengan kotoran sapi.

Renugan kloset itu ters menggugah pikirannya. Ia sibuk mencari referensi mengenai seluk-beluk per-tlethong-an guna menjawab rasa penarasannya. Selain melalui buku-buku, ia juga berusaha mengumpulkan berbagai informasi tentang kemungkinan pengolahan tlethong dari teman-temannya. Dari penelitian sederhana ia mendapati bahwa selain memiliki tekstur lembut dan mengandung banyak serat, faeces (kotoran) sapi mengandung silikat – sejenis bahan perekat – sebesar 9,6%. Di situ Syam mengemukakan gagasannya untuk memanfaatkan tlethong sebagai campuran baha baku gerabah.

Sebulan kemudian, Syam bersama empat orang temannya Fatmawati dan Agus Nugroho dari Jurusan Sosek, Fakultas Pertanian, serta Wusono Bayu Pamungkas dan Irawan Nurcahyo dari fakultas peternakan membentuk tim yang mereka beri nama Faerumnesia. Nama ini berasal dari istilah peternakan yang berarti kotoran dari lambung sapi Indonesia, yakni faeces (kotoran atau tinja), ruminant (perut sapi atau binatang memamah biak), dan sia yang merupakan kependekan Indonesia).

 

BIODATA

SYAMMAHFUZ CHAZALI

Medan, 05 November 1984

Email : syam_lupie@yahoo.com

 

PENDIDIKAN :

2003 – sekarang Mahasiswa S1 Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian UGM

 

NAMA USAHA :

PT. Faerumnesia 7G (Gerabah dari Limbah Peternak Sapi)

Alamat : J. Flora bulaksumur, Yogyakarta. Telp. 0274516656

Website : www.faerumnesia.com

 

PENGHARGAAN :

2008 Finalis Wirausaha Muda Mandiri

2008 Lolos 50 Besar untuk mengikuti intensive-Student Technopreneurship Program RAMP

2008 Lolos Program Creativitas Mahasiswa 2008 DIKTI

2007 Pemenang I Lomba Bisnis Plan Pemuda 2007 Tingkat Nasional oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga

2008 Juara 1 sebagai Penyaji terbaik 1 pada PIMNAS ke XXI di Unisula

2007 Penghargaan dari Kementrian Pemuda dan Olahraga sebagai Bisnisplan Pemuda Teladan

2008 Juara II lomba bisnis plan competition di Fakultas Peternakan UGM

2007 Penerima penghargaan dari Rektor UGM sebagai mahasiswa berprestasi di bidang kewirausahaan

2007 Juara II lomba bisnis plan entrepreneurship for charity tingkat nasional dengan judul “Desain Lantai Keramik yang Nyaman untuk Balita”

2007 Pemenang grant karya inovation dana penelitian dari proyek DUE-like BATCH IV UGM dengan judul Alternatif pemanfaatan kompos dari industri peternakan sapi bsebagai bahan campuran aneka kerajinan gerabah.

 

Secara bisnis, tim yang dikemudian hari berkembang menjadi kelompok wirausaha ini melihat kotoran sapi memiliki potensi besar yang belum di optimalkan masyarakat. Padahal menurut perhitungan mereka dalam setahun Indonesia bisa menghasilkan kotoran sapi sekitar 5,8 juta ton. Hampir semuanya belum termanfaatkan.

 

DITOLAK KARENA JUDUL JOROK

Karena ingin mengikuti pekan kreativitas mahasiswa, tim ini berusaha ngebut menyelesaikan proposal penelitian. Sayangnya proposal tersebut tidak lolos seleksi dewan juri. Alasanya sederhana judul yang mereka angkat terkesan jorok. Maklum saja, dengan lugunya tim faerumnesia memberi judul proposal mereka Kotoran Sapi. Namun justru dari penolakan itu tim belajar pentingnya citra sebuah merek (brand). Proposal selanjutnya mereka perbaiki sehingga berjudul Alternatif Pemanfaatan Kompos dari Industri Peternakan Sapi sebagai Campuran Aneka Kerajinan Gerabah.

Tanpa putus asa, proposal mereka ajukan ke berbagai perlombaan. Titik terang terlihat pada bulan April 2007, ketika proposal mereka disetujui oleh DUE-Like Batch IV UGM dengan dukungan biaya penelitian sebesar Rp. 3,5 juta. Dengan fasilitas itu mereka bisa melakukan berbagai macam eksperimen.dibantu oleh Purwanto, seorang perajin dari sentra kerajinan gerabah di Kasongan, Bantul, daerah istimewa Yogyakarta, tim Faerumnesia mulai melakukan berbagai uji coba untuk mendapatkan komposisi yang tepat.

Sudah tentu sebelum dipergunakan kotoran sapi ini harus diolah terlebih dahulu untuk menghilangkan baudan tidak menyebabkan gatal. Untuk itu, tlethong lebih dulu dicampur dengan bioactivor atau biang kompos, sehingga menghasilkan humat atau ekstrak kotoran. Proses pembuatan humat biasanya memakan waktu sekitar sebulan.

Hasilnya cukup mengejutkan. Bahan baku dari campuran tanah liat kuning dan tlethong ternyata menghasilkan gerabah yang bobotnya lebih ringan 2 kilogram. Gerabah organik ini ternyata juga lebih kuat. Buktinya, dengan pembakaran bersuhu 90 derajat celcius, keramik masih bertahan tidak pecah. Penelitian laboratorium memberikan jawaban ilmiah. Kekuatan konstruksi ini disumbangkan berkat adanya kandungan silikat sebesar 9,6% di dalam kotoran sapi. Komponen inilah yang memberikan daya ikat yang jauh lebih kuat pada campuran bahan keramik/gerabah.

 

 


DARI SISA MENJADI GERABAH

KOTA YOGYAKARTA MENYIMPAN pesona yang tidak pernah pudar. Inspirasi mengalir menyatukan budaya dan kreativitas di kota pelajar ini. Demikian pula halnya yang terjadi pada Syahmahfuz Chazali. Dalam membangun kreativitasnya, Syam melakukan inovasi dengan memuat gerabah berbahan dasar limbah sapi. Melalui Faerumnesia grup perusahaan yang dirintisnya sebagai pembuat gerabah, Syam membangun usahanya di Kasongan. Kini Syam tidak saja mengembangkan gerabah dengan bahan dasar limbah sapi, tapi juga menumbuhkan usaha kreatif di lingkungan terdekatnya.

 

Q : Betulkah gerabah indah ini terbuat dari kotoran sapi ?

A : Benar. Limbah kotoran sapi ini sekitar 80-90%. Kalau dibakar tidak akan pecah. Dulu, di kasongan – daerah usaa kami –gerabah dibuat dari tanah bercampur pasir. Selama itu, tanah banyak dikeruk, unsur haranya hilang, dan merusak lingkungan. Saya lantar berpikir, apakah ada materi yang dapat menggantikan unsur tanah. Lalu saya lihat bahwa masyarakat disana banyak memiliki sapi yang hidupnya serumah dengan pemiliknya. Sungguh bukan hal yang baik untuk kesehatan. Apalagi limbahnya biasa hanya dijadikan pupuk maupun biogas, yang efektivitasnya sangat sedikit. Lalu saya berpikir, bagaimana agar limbah itu diolah menjadi suatu barang, bukan hanya pupuk dan biogas, tetapi juga gerabah ?

Q : Bagaimana anda merangkai usahanya :

A   : Di kampus ada program aktivitas mahasiswa. Lalu saya dan teman-teman mencari ide yang bagus. Pada sebuah seminar tentang entrepreneurship, saya berdiskusi dengan pembicaranya soal menghasilkan produk dari limbah peternakan sapi. Ide ini juga saya tanyakan pada dosen saya, yang lalu menyarankan agarimbah dibuat kompos terlebih dahuu. Dari situ saya datang ke Kasongan, pusat pengrajin gerabah, dimana saya bertemu dengan pengrajin yang sangat membantu kami, Pak Purwanto. Syarat yang diberikan beliau untuk memasarkan gerabah dari limbah sapi adalah : tidak boleh mengakibatkan pembeli gatal dan tidak boleh berbau. Dosen saya memberi tahun caranya membuat gerabah dengan menggunakan teknik tertentu.

Q : Lalu apa pengembangannya ?

A : Memang tidak hanya gerabah yang kami buat. Kami juga membuat batu bata yang terbuat dari limbah sapi – pesanan dari India. Kedua, dekomposter yang saat ini banyak peminatnya. Bentuknya semacam gentong tapi bisa dilukis semaunya, misal motif batik atau apa saja.

Dekomposter banyak dipakai ibu-ibu untuk menampung sisa-sisa sayuran. Bila dimasukkan sampah kedalamnya dan diberi cairan activator, dalam waktu 1-2 minggu sudah dapat dijadikan pupuk. Pupuk kan bisa dikembalikan lagi ke tanah. Dengan demikian, sebuah rumah sudah memiliki siklus sampah sendiri. Jadi kami punya visi menjadi perusahaan yang bergerak dala bidang lingkungan yang akan membantu seluruh dunia mengatasi lingkungannya. Saat ini, omzet kami baru sekitar 150 – 500 juta per Januari – Novembe tahun ini. Tahun depan kita sudah mempunyai pesanan pupuk per bulan 2 miliar rupiah atau sama dengan 100.000 liter pupuk.

Q : Dunia boleh krisis, orang boleh menakut-nakuti hidup sulit, tapi ada pengusaha yang mampu melihat peluang.

A : Inti pemikiran saya : kalau kita ingin menjadi orang yang sukses, kita harus mampu melihat masalah dengan cara yang berbeda. Kalau ada masalah, jangan dilihat masalahnya saja, tetapi apa peluang yang muncul dari masalah itu. Setiap masalah ada peluang. Dan dari peluang itu bisa menjadi uang.

 

Meski ide awal dilakukan tim Faerumnesia, proses produksi gerabah organik dalam skala bisnis melibatkan banyak pihak. Untuk mendapatkan bahan baku mereka bekerjasama dengan kelompok peternak sapi di daerah Bantul. Selain memudahkan proses produsi, di sisi lain strategi itu menaikkan nilai tambah tlethong di tingkat peternak sapi.

Untuk proses pencetakan gerabah yang biasanya makan waktu sebulan, tim Faerumnesia kembali melibatkan kalangan perajin di Kasongan. Pertimbangannya selain telah memiliki nama, komunitas pengrajin disini sudah terbiasa mendapat pesanan dalam jumlah besar. Maka ketika beberapa waktu lalu di Universitas Trisaksi memesan seribu buah dekomposter rumah tangga berbentuk guci, mereka tidak kelabakan.

 

PELUANG MULAI MEMBENTANG

Tim Faerumnesia boleh berbangga hati. Untuk menciptakan lapangan kerja dan menjadi usahawan mereka tidak harus menunggu sampai mendapatkan gelar sarjana. Keberhasilan itu di ikuti dengan beberapa pengakuan. Saat disertakan dalam lomba Bussines Plan Pemuda Tingkat Nasional yang diadakan Kementrian Pemuda dan Olahraga dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda 2008, penelitian ini meraih juara pertama. Sebelumnya dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) XXI pada Juli 2008 di Semarang, tim ini juga mendapat predikat Tim Penyaji Terbaik. Tahun itu, mereka di undang ke Cina untuk menyampaikan presentasi ilmiah. Tahun berikutnya undangan sudah menanti dari Australia untuk keperluan yang sama.

Beberapa tawaran bisnispun muncul. Dari negara tetangga Brunei Darusalam datang pesanan humat sebesar 60 ton per hari guna bahan baku pembuatan bahan bangunan semacam batako. Karya Syam dan kawan-kawannya memberikan dua manfaat besar bagi masyarakat. Pertama, mengatasi masalah limbah. Dan kedua, meningkatkan kualitas gerabah. Sebagai bahan baku gerabah, Syam memasang harga Rp. 1000 per kilogram. Harga ini jauh lebih murah dibandingkan jika perajin mempergunakan pasir sebagai bahan baku.

 

Selain sebagai bahan baku gerabah, tim Faerumnesia sedang berusaha mengembangkan usaha ini ke sektor lain. Misalnya sebagai bahan baku genteng dan batu bata. Dengan bentuk tersebut mereka percaya manfaat humat akan lebih terasa bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan vital.

Sebagai hasil karya intelektual yang memiliki nilai ekonomis, Syam dan kawan-kawan sadar akan pentingnya mematenkan produknya. Namun ia mengaku pihaknya terbuka dengan pihak lain yang akan mempergunakan hasil karyanya, asal minta izin sehingga tidak menjadi masalah di kemudian hari.

 

 

Yang penting adalah bila anda punya ide, pertahankan ide itu hingga dia menjadi sesuatu yang luar biasa buat hidup anda. Jadi kalau anda gagal, itu bukanlah berarti anda gagal tapi ada pembelajarannya bagaimana anda menjadi orang yang sukses. Jadi

 

Hukum Wirausaha #7

Bangunlah Kekuatan “Bisa!”

 

Jangan menyerah, tumbuh perlahan-­lahan, jangan takut tertinggal.- Pepatah Cina

 

SYAM TELAH MEMPRAKTEKKAN “dream”-nya dengan pendekatan “bisa” (possible). Dalam wawancara di televisi, saga melihat ada dorongan yang kuat untuk melawan keterbelengguan. Dan untuk itu is selalu bertanya: “Me­ngapa tidak bisa?” la hampir selalu memulai jawabannya dengan kata “bisa!”

Cara berpikir yang demikian adalah rumus ke-2 da­lam cara berpikir wirausaha cerdas, yaitu Possibility Think­ing. Possibility Thinking-lah yang mengantarkan orang-­orang biasa berkarya besar. Bahkan mampu mengubah “anak kampung” menjadi “usahawan besar” sekelas Warren Buffet, Hendry Ford, Matsushita, Suryo Wono­wojoyo, Sudomo Salim, Ciputra, dan seterusnya.

Possibility Thinking akan meningkatkan kebiasaan seseorang (atau kemungkinan bisa/berhasil), mendorong orang lain agar juga bisa seperti Anda, membuat Anda selalu berpikir besar (dream big dreams), menghasilkan karya-karya original dan memberi Anda energi.

Bisa itu bukan sekadar impian. Dream is not just a dream. Tapi dream yang paling penting adalah dreatri action. Syam sudah menunjukkan ketika ia mendatangi para ahli, satu orang bilang bisa, dia bertanya lagi “bisa” nya itu dari apa dan bagaimana membuatnya. Terus kemudian disambung lagi dengan yang lain. “Bisa itu diapakan? Dia datang lagi ke pasar, ia mendapatkan jawaban bahwa semua itu “bisa” dan syaratnya adalah kalau tidak menimbulkan gatal dan tidak bau. Jadi kumpulan dari bisa-bisa itu karena kita action, akhirnya pintunya terbuka semua.

Ada beberapa tip yang dapat dipelajari dari karya anak muda brilian yang melihat kotoran sebagai berlian ini, yaitu:

  • Berhentilah memikirkan kernungkinan-kemungkinan negatif, seperti “tidak bisa”, “tidak diakui”, “gagal” dan seterusnya. Anda boleh saja tidak berpikir positif,  tetapi buanglah pikiran-pikiran jelek yang bermuara pada hal-hal negatif.

Menjauhlah dari ahli-ahli tradisional yang berpegang pada mitos. Peliharalah hubungan pada “expert” yang terbuka terhadap hal-hal baru. seperti para pekerja di kantor, para ahli juga terbagi dua, yaitu ahli “pedalaman”, yang cenderung berpikir masa lalu, rutin terikat pakem, dan malas berpikir baru, Berta ahli “pesisir” yang terbuka, mau mendengarkan dan berpikir baru.

 

Rangkailah mata rantai nilai

(Value Chain). Sesuatu yang baru, biasa­nya belum lengkap rantai pasoknya,, dari. hulu ke hilir, dari bahan baku ke proses.

Rhenald Kasali

 

  • Rangkailah mata rantai nilai (Value Chain). Se­suatu yang baru, biasanya belum lengkap rantai pasoknya, dari hulu ke hilir, dari bahan baku ke proses. Dari produk ke pasar. Konsumen mungkin belum mengenal produk itu, merasa aneh namun bukan berarti pasarnya tidak ada.
  • Temukan inspirasi hanya dari penggagas-peng­gagas besar. Mereka itulah sumber inspirasi Anda. Mereka juga diuji oleh zaman dan lingkungan yang tidak bisa ber­pikir baru.
  • Selalu berpikir satu langkah di depan. Banyak yang dipikirkan tetapi tetap realistis,jangan buat diri Anda gila karena kelebihan gagasan dan berpikir melompat­lompat. Berpikirlah sedepa demi sedepa dan fokuslah padanya.

 

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 1: Kisah Inspiratif Anak Muda Mengalahkan Rasa Takut dan Bersahabat dengan Ketidakpastian, Menjadi Wirausaha Tangguh. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

Supriadi, Mantan Tukang Parkir yang Sukses Menekuni Usaha Produksi Kopi Luwak

Gunawan Supriadi pernah memiliki reputasi yang buruk. Pada masa lalunya, ia dikenal sebagai ”preman” yang menguasai sejumlah lahan perparkiran di Liwa, Lampung Barat. Namun, kini, warga lebih banyak mengenalnya sebagai pengusaha kopi luwak yang disegani.

Gunawan merupakan salah satu produsen kopi luwak di Way Mengaku, Liwa, Lampung Barat, dengan merek dagang Raja Luwak. Kopi luwak yang dihasilkan lewat pemeliharaan luwak di pekarangan rumahnya kini mampu menembus kafe-kafe mewah di Jakarta dan sejumlah kota besar di tanah Air.

Bahkan, kopi luwak yang dihasilkan dari ”kampung” ini menjelma sebagai komoditas termasyhur di dunia. Bekerja sama dengan sejumlah eksportir, kopi luwak yang dihasilkan itu kini dinikmati pencinta kopi di beberapa negara, antara lain, Korea, Jepang, Hongkong, dan Kanada.

Kopi luwak produksi Gunawan telah menambah khazanah kekayaan kopi-kopi eksotis Nusantara. Di mata dunia internasional, kopi luwak asal Indonesia, khususnya dari Liwa, memiliki reputasi teramat baik, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu kopi termahal dan terlangka di dunia.

Di luar negeri harga bisa mencapai Rp 5 juta-Rp 8 juta per kilogram dalam bentuk bubuk. Bandingkan dengan biji kopi Hacienda dari Panama dan kopi St Helena, Afrika, yang masuk di dalam jajaran kopi dunia termahal dengan harga masing-masing Rp 1,5 juta dan Rp 1 juta per kg. Gunawan menjual kopi luwak dalam bentuk bubuk dengan harga tidak lebih dari Rp 600.000 per kg.

Selain mengharumkan nama daerah, bagi Gunawan, hal yang lebih penting adalah keberadaan kopi luwak dapat memberikan nilai tambah, yaitu penghidupan yang lebih layak bagi dirinya dan para perajin atau produsen kopi luwak lainnya. Pada gilirannya, para petani kopi juga bisa lebih terangkat kesejahteraannya.

”Usaha macam ini kan bisa menyejahterakan masyarakat yang penghidupannya rata-rata masih morat- marit. Petani (kopi) pun jadi punya uang tambahan di musim belum panen. Mereka tidak kesulitan harus menjemur dulu kopi di musim (ekstrem) ini,” ujar Gunawan.

Ketua kelompok perajin kopi Raja Luwak ini sekarang membina dan mengoordinasikan 10 produsen kopi luwak lainnya di Gang Pekonan, Way Mengaku, Liwa. Sebagian besar di antara mereka adalah para pemula yang tidak memiliki pasar ataupun merek dagang sendiri.

”Saya menampung sebagian kopi dari mereka, lalu membantu menjualnya, terutama jika kebetulan ada pesanan yang besar,” ujarnya. Setiap perajin diharuskan menyetor 5 kg kopi luwak dalam bentuk brenjelan (masih berupa kotoran) dan pemotongan hasil keuntungan.

Iuran-iuran ini memiliki banyak fungsi, di antaranya bantuan pinjaman permodalan, termasuk untuk membeli kandang dan luwak. Gunawan berpikir sebaliknya jika dibandingkan banyak produsen kopi luwak yang berpandangan bahwa usaha itu lebih baik dimonopoli mengingat kerasnya persaingan.

Liwa akan dikenal sebagai sentra kopi luwak budidaya. Pada gilirannya, Gunawan berharap usahanya juga akan menyelamatkan luwak yang populasinya sempat terancam akibat diburu dan dibunuh. ”Luwak ini dahulu sering dianggap hama karena suka menghabisi kopi. Di kebun-kebun (kopi), mereka diracun pakai Timex (racun babi),” kisah Gunawan.

Gunawan mulai menekuni usaha kopi luwak sekitar tiga tahun lalu. Itu berawal dari hobinya memelihara hewan-hewan liar, salah satunya luwak. Dua luwak pertamanya diberi nama Inul dan Adam, mengambil nama pasangan penyanyi dangdut beken dan suaminya. Waktu itu, luwak-luwak ini hanyalah dipelihara.

”Luwak-luwak saya ini kemudian sering dipinjam seorang kawan. Ia minta izin mengurus dan memberi makan kopi. Lalu, anehnya, kotorannya kok dikumpulkan. Penasaran, saya lalu minta kenalan saya mengeceknya ke internet, apakah kotoran luwak bisa dijual?” ungkapnya menceritakan pengalamannya merintis usaha kopi luwak.

Dari penelusurannya, ia kemudian memperoleh informasi bahwa di China, 0,5 kg kopi luwak bubuk dihargai Rp 3,2 juta. Dia melihat ini sebagai peluang usaha yang menjanjikan. Gunawan ketika itu masih bekerja serabutan. Kadang sebagai petugas satpam, kadang mengumpulkan uang parkir dari pasar-pasar. Ketika itu dia memiliki 16 anak buah.

Gunawan kemudian meminta anak buah dan jaringannya mencarikan luwak sebanyak-banyaknya untuk dipelihara dan mencoba memproduksi kopi luwak. Namun, pada awal usahanya, dia terganjal persoalan pemasaran. Ia terpaksa menawarkan dagangannya dari pintu ke pintu kafe dan hotel-hotel.

”Saya membawa langsung kopinya. Luwak yang masih kecil dan jinak pun saya bawa. Itu agar mereka percaya kopi ini asli. Bukan sekadar bicara (menawarkan) di internet,” ujarnya.

Perlahan, usahanya berkembang. Jumlah luwak yang dipeliharanya bisa mencapai 60 ekor saat musim kopi. Namun, saat ini yang dipelihara hanya 26 ekor. Sebagian luwak dia serahkan kepada perajin lainnya dan dilepasliarkan ke alam. Rata-rata ia memproduksi 20 kg kopi bubuk dan 2 kuintal bentuk brenjelan tiap bulan.

Kini, setelah perlahan mulai mapan, dia meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai koordinator parkir. ”Usaha ini jauh lebih aman dan menjanjikan, terutama untuk masa depan saya dan keluarga,” tutur pria yang sempat dua kali masuk sel akibat perselisihan soal parkir ini.

Dari hasil usahanya itu, kini ia bisa membeli sebuah kendaraan dan tengah membangun kafe kopi luwak di rumahnya di Way Mengaku.

Usaha kopi luwak yang ditekuninya bersama belasan warga Way Mengaku lainnya merupakan suatu bentuk kemandirian ekonomi masyarakat. Mulai dari produksi, pengemasan, hingga pemasaran, semuanya dilakukan Mandiri, tak ada bantuan dari pemerintah ataupun pengusaha swasta.

”Dulu pernah ada pengusaha kaya dari Korea mau ikut usaha, memberikan bantuan modal. Saya sempat ditawari menjadi manajer, tetapi kami sepakat menolak. Kami khawatir nanti justru ’ditendang’. Meskipun kadang sulit, setidaknya ini usaha sendiri. Daripada kita ’dijajah’ asing lagi,” ujar Gunawan. (*/Kompas Cetak)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/6094-berjaya-berkat-kopi-luwak.html