Category Archives: Fashion

Sarini, Srikandi Batik dari Cirebon yang Produknya Sudah Menembus Mancanegara

Sarini, Jepang & Thailand Pelanggan Batik Sarini

 

Popularitas yang menanjak

karena nyaris diklaim sebagai warisan

budaya negeri tetangga justru

membawa berkah bagi para perajin

batik di sini. Begitulah yang dialami

pengusaha batik asal Cirebon ini.

 

BUKAN hal yang aneh jika melihat ada

pejabat penting negara yang berkunjung

ke usaha batik Sarini. Sejak tahun 2005,

batik Sarini memang kerap dikunjungi orang-

orang penting, termasuk Wakil Gubernur Jawa

Barat, Dede Yusuf beserta istri, ibu Negara Ani

Yudhoyono, bahkan Presiden Susilo Bambang

Yudhoyono sendiri. Mereka mendatangi show

room-nya di Weru, Cirebon. Semua itu berkat

kreativitas dalam kegigihannya melestarikan

kain batik.

Usaha Batik Sarini yang dijalani wanita

berusia 57 tahun ini sudah berdiri jauh sebelum

UNESCO mengakui batik sebagai warisan budaya

 

tak benda dari Indonesia. Berawal dari

usaha kedua orangtuanya, Sarini rela berhenti

bersekolah di kelas lima SD demi membantu

usaha orangtuanya.

Saat itu, orangtua Sarini masih berpikiran

bahwa sekolah tidak terlalu penting. Mereka

 

berpendapat tugas utama seorang anak perempuan

adalah membantu orangtua. Maka, Sarini pun

tidak punya pilihan lain. Meski begitu, Sarini

 

mendapat kesempatan belajar menjalankan

usaha batik, hingga memiliki kelihaian dalam

memilih dan mewarnai bahan, lalu menulis dan

mengecap bahan tersebut menjadi kain batik

yang cantik. Keahlian tersebut mendorongnya

berkreasi membuat motif baru yang berbeda

dari perajin batik lain di sekitarnya.

Berbekal pengalamannya itulah Sarini kemudian

 

mulai berpikir untuk memisahkan diri dari

usaha orangtuanya dan membuka usaha batik

sendiri. Pada tahun 1976 keinginannya itu terwujud.

 

Ia mendirikan Usaha Batik Sarini yang

diambil dari namanya sendiri. Modal awal yang

ia miliki ketika itu hanyalah enam lembar kain

dan uang sebesar Rp 500 ribu. Dengan tangannya

sendiri, Sarini mengubah keenam lembar kain

tersebut menjadi kain dan sarung batik tulis

serta cap yang kemudian dipasarkannya melalui

koperasi.

PEMILIK SHOWROOM PERTAMA

Ya, bersama suaminya, Sarini membesarkan

 

usaha batik, awalnya melalui koperasi di

 

sekitar Cirebon. Selain ke koperasi, ia

 

juga menjualnya ke seorang saudagar batik

 

keturunan Tionghoa. Pesanan demi pesanan ia penuhi,

sampai akhirnya Sarini memberanikan diri memasarkan

batiknya ke luar kota seperti

Jakarta, Bandung, hingga Yogyakarta.

Di Jakarta, Sarini menetapkan titik penjualannya

 

ke Pasar Tanah Abang, karena menurutnya

 

permintaan kain batik di sana cukup tinggi. Benar

 

saja, tak butuh waktu lama, Sarini mendapatkan

 

kerja sama dengan enam toko batik di pasar Tanah

 

Abang. Sarini pun mengirimkan batiknya ke Pasar

 

Grosir Tanah Abang sekali setiap seminggu.

 

Akibatnya, penjualan ke Jakarta meledak bila

 

dibandingkan dengan penjualan ke Bandung atau

Yogyakarta.

Sejak jaringan pemasaran terbuka, permintaan pun

 

Terus meningkat. Sarini tidak hanya mengirimkan

 

bahan per potong, melainkan per kodi (20 potong kain).

 

Seiring berjalannya waktu Sarini mulai dapat memutar

 

keuntungan yang ia peroleh dan membuka showroom Usaha

 

Batik Sarini di Cirebon tahun 1985.

“Dulu, di Cirebon belum ada banyak showroom, yang ada

hanya koperasi. Sementara saya yang sudah mengenal

 

batik sejak tahun ‘70-an, merasa bahwa batik bisa jadi

 

usaha yang cocok di sini. Akhirnya, sayalah yang

 

pertama kali membuka showroom di daerah sini,”

 

kenang Sarini tentang awal membangun usaha

batiknya.

Kala itu, ikiim usaha batik sedang membaik. Dengan bahan

baku yang terbilang cukup murah, yakni bahan katun seharga Rp

6o ribu per lembar, seorang pengusaha batik mampu menjualnya

dengan harga beberapa kali lipat. Jika seoräng pengusaha batik

memiliki modal sebesar Rp 125 ribu, setelah menjadi kain batik

ia dapat menjualnya dengan harga Rp 350 ribu. Selain masih

sedikitnya perajin batik di daerah Cirebon, showroom yang ia

bangun menjadi daya tarik yang penting.

Ternyata membuat showroom adalah keputusan yang tepat.

Showroom-nya tidak hanya dikunjungi pembeli lokal, tetapi juga

diminati importir dari Jepang. Pada awal usahanya, dia mengirim

batik ke Jepang dengan omzet Rp 15 juta per tahun. Hingga saat

 

ini, hubungan Sarini dengan importir Jepang

tersebut masih berlanjut.

Selain sebagai tempat untuk memproduksi

dan memasarkan produknya, showroom tersebut juga

 

digunakan untuk menampung hasil

batik dari para perajin kecil di sekitar showroom.

 

Sarini membeli produk mereka, kemudian

memasarkan ke langganannya di Jakarta, Bandung,

 

Makassar, dan Lampung.

PAMERAN? AYO SAJA!

Sebagai pengusaha batik, salah satu cara jitu

memasarkan produknya adalah dengan mengikuti

 

pameran. “Saya ikut berbagai pameran.

 

Awalnya ada penawaran untuk mengikuti pameran

 

dari Kementerian Koperasi. Dari situ banyak

 

konsumen bertanya kapan ada pameran

lagi?” kenangnya ketika menjelaskan pameran

yang sempat diikutinya di Jakarta Convention

Center. Terlebih lagi, Sarini mendapatkan bantuan

 

sebesar Rp 1,5 juta. “Saat pameran di JCC

ada pembeli dari Singapura yang memborong

dagangan saya sejumlah Rp 26 juta. Sedangkan

pelanggan terjauh saya berasal dari Jepang,”

tutur Sarini.

Namun, pada tahun 2005 kehidupan Sarini

dilanda musibah keluarga. Ia memutuskan berpisah

 

dari suaminya dan hal ini mengakibatkan

 

pecahnya kongsi bisnis mereka. Akibatnya Sarini

 

harus memulai usaha batik yang sudah

dirintisnya sejak usia 22 tahun itu dari awal lagi.

Sarini pun mengontrak sebuah rumah, tidak

jauh dari bekas showroom-nya dahulu.

Pada saat itulah Sarini bertemu dengan bank

bjb yang menaruh perhatian pada usahanya

dan memberi suntikan modal sebesar Rp 5 juta.

Dengan modal tersebut, Sarini bangkit dari

 

permasalahannya dan usahanya kembali melesat.

 

Peminatnya kini bukan lagi dari seputar

Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, namun juga

 

dari Surabaya, Lampung, Palembang, dan

Jambi, bahkan Thailand.

Perkembangan usaha Batik Sarini membuat

bank bjb semakin percaya pada kemampuan

usaha Sarini. Pinjaman yang diberikan pun

bertambah, menjadi Rp lo juta, Rp 70 juta, lalu

 

Rp 200 juta di tahun 2011. Pinjaman itu

 

Dimanfaatkan dengan cermat oleh Sarini

 

untuk membangun showroom sendiri, sehingga

 

ia tidak perlu lagi mengontrak. Dia juga

membuka dua cabang, yaitu di Trusmi, Plered,

 

Cirebon dan pusat perbelanjaan batik di

Thamrin City, Jakarta.

Sejak menjadi debitur bank bjb, Sarini pun

 

‘keranjingan’ mengikuti pameran. Bahkan

bisa sebulan sekali. Kocek yang berani ia

 

rogoh pun tidak sedikit. Sekali mengikuti

pameran di JCC, misalnya, dia harus

 

mengeluarkan uang minimal Rp 10 juta. Belum

lagi biaya transportasi dan penginapan.

 

Total biaya yang dikeluarkan bisa mencapai Rp

15 juta untuk setiap pameran.

Meski demikian, tujuan utama Sarini mengikuti

 

pameran bukanlah mencari keuntungan sesaat.

 

Sebab, biasanya hasil penjualan di

 

pameran hanya bisa menutup biaya yang

 

dikeluarkan. Justru pesanan jangka panjang

lah yang menjadi targetnya.

Selama beberapa kali mengikuti pameran,

 

Sarini menyimpulkan bahwa kegiatan ini

terbukti manjur untuk mendapatkan order

 

jangka panjang dan meningkatkan omzet

 

penjualan batiknya. Pesanan yang datang dari

pameran kadang membuatnya kewalahan. Selain

 

tenaga kerja, modal yang terbatas juga

bisa menjadi masalah. Misalnya dengan total

 

order Rp 70 juta, pemesan biasanya hanya

memberikan uang muka Rp 10 juta. Karena itu

 

Sarini kerap meminta bantuan ke bank bjb

sebagai modal kerja untuk menutupi kekurangan

 

biaya membeli bahan baku, seperti kain,

alat membatik, cap, dan pewarna. Setelah

 

produksi selesai dan pesanan dikirim, baru

lah pemesan membayarkan sisa pembayarannya

 

dan Sarini membayar angsuran pinjamannya

 

ke bank dengan penuh disiplin.

MEMBUAT MOTIF SENDIRI

Dalam mengelola usaha, Sarini langsung turun

tangan mengatur penyediaan bahan baku dan

proses produksi. Ia mendapatkan bahan bakunya

 

dari 3 toko di kawasan Pekalongan. Walau

kadang terdapat perbedaan harga, Sarini

 

menganggapnya masih dalam kondisi wajar.

 

Ia hanya tinggal memilih harga yang paling murah dari

ketiga tawaran tersebut. Sarini pun kini tidak

perlu repot datang ke toko tersebut karena sudah

mengenal kualitas bahan yang disediakan.

Tinggal telepon dan transfer, barang pun di

kirim. Bahan yang biasa digunakan adalah

katun dan sutra, namun saat ini bahan katunlah

yang lebih banyak diminati.

Dari kain polos Sarini menjadikannya aneka

produk pakaian batik. Ia mengembangkan

 

beberapa model baju yang dapat diproduksi

 

secara massal. Sementara untuk pesanan khusus,

Sarini menyediakan penjahit tersendiri.

 

Untuk memenuhi pesanan seperti ini biasanya

dibutuhkan waktu sekitar 3-5 hari, dan para

penjahit dibayar antara Rp 40 ribu hingga Rp

125 ribu per baju, tergantung tingkat kesulitan.

 

Batik Sarini memiliki ciri khas pada motifnya

yang unik. Bayangkan saja, ia menciptakan motif

yang tidak biasa untuk kain batik, misalnya,

kupu-kupu, capung, sepeda, payung, kotak,

 

kelereng, dan parang. Bahkan Sarini kini sedang

membuat motif bola basket dan renang. Hal ini

memberi nuansa berbeda dibandingkan batik

Cirebon lainnya. Meski begitu, motif khas mega

mendung (atau motif Garutan) tidak pernah ia

lupakan karena motif ini paling dikenal orang

dan otomatis paling laris.

Sarini biasanya merancang motif batiknya

di atas secarik kertas, kemudian dua orang

pekerjanya yang ahli merancang motif

 

menggambarnya pada selembar kain. Salah satunya

adalah adik kandungnya sendiri. Setelah di

gambar, dilakukan proses mengecap atan menulis.

 

Dari segi waktu pengerjaan, batik cap

memang lebih singkat—hanya dua hari—ketimbang

 

batik tulis yang bisa memakan waktu l-2 bulan.

SELUK BELUK BISNIS KELUARGA

“Ada dua adik saya yang bertugas menggambar,

tapi ada juga yang bertugas mengecap dan lainnya.

 

Total ada sekitar 10 orang keluarga yang

ikut mengembangkan usaha,” papar Sarini.

Mempekerjakan keluarga dalam usaha memang

 

ciri khas usaha kecil dan menengah Indonesia,

namun tentu saja bukan perkara mudah. Sarini

pun mengakui, terkadang timbul perselisihan di

antara mereka. Namun demikian, perselisihan

itu masih dalam batas wajar dan semua bisa

diselesaikan.

Ketika merekrut keluarga sendiri, Sarini

 

bukannya tidak mempertimbangkan segala hal.

Namun, Sarini merasa tidak dapat mengerjakan

semuanya sendiri. Ia membutuhkan bakat dan

keahlian yang turun-temurun telah dimiliki

 

keluarganya, sehingga menjadikan mereka sangat

terampil dan ahli dalam memproduksi kain batik.

Selain itu, beberapa di antara anggota keluarganya

memang membutuhkan pekerjaan.

Selain anggota keluarga, Sarini juga merekrut

Sekitar 30 orang pekerja yang berasal dari

 

warga sekitar. Setiap orang dilatih agar

 

mampu membatik, mengecap, mewarnai, dan mencelup.

 

Setelah dilatih, Sarini mengelompokkan mereka

 

sesuai dengan spesialisasi masing-masing.

 

Misalnya, untuk pekerjaan mengecap diperlukan

 

dua orang, mencelup dibutuhkan tiga orang,

 

sedangkan tim membatik sebanyak 20-an orang.

 

Untuk upah, Sarini membayar secara borongan

 

Berdasarkan pekerjaan yang dihasilkan. Kisarannya

 

untuk pekerja wanita bisa mendapatkan Rp 15-20

 

ribu per hari, sementara pekerja laki-laki Rp 6o

 

ribu per hari.

 

Meski demikian, hambatan tetap saja ada.

Pernah ada karyawannya yang dibajak atau

pindah ke tempat lain, “Tetapi ujung-ujungnya

juga ada yang balik lagi karena lebih merasa

nyaman bekerja di tempat saya,” ujarnya sambil

tersenyum. Untuk menyiasati agar karyawannya

betah, Sarini memberikan mereka bonus dari

batik yang berhasil dijual saat pameran.

Walau usahanya banyak melibatkan keluarga,

 

Sarini mengaku bakal mengalami kesulitan

 

mendapatkan penerus. Pasalnya, dari

ketiga anaknya ia belum melihat ada yang

 

berminat meneruskan bisnis batiknya. Dua anaknya

 

telah menikah dan tinggal di Surabaya.

Anak pertamanya menikah dengan seorang pria

yang memiliki usaha toko emas, anak keduanya

adalah seorang sarjana kehutanan dan bekerja

sebagai pegawai, sementara anaknya ketiga

cenderung tidak berminat bisnis.

Padahal, Sarini beranggapan bahwa menjadi

pengusaha jauh lebih nyaman dibandingkan

menjadi pegawai. “Kalau usaha kita maju,

 

pendapatan yang dihasilkan akan lebih besar dari

gaji bulanan pegawai biasa. Kalau pegawai biasa

naik gaji paling hanya setahun sekali. Menurut

saya, berdagang merupakan pekerjaan yang

memerlukan kreativitas tinggi,” kata Sarini

yang berharap sang Adik akan menjadi penerus

usahanya kelak.

 

PERSAINGAN SHOWROOM BATIK

Dalam persaingan bisnis batik Cirebon, selain

motif, Sarini juga menganggap faktor harga

sebagai hal yang penting. Terutama untuk para

pembeli grosiran. Jika harga satuan kainnya

mencapai Rp 50 ribu, harga grosirannya sebesar

Rp 40 ribu.

Meskipun potongan harga yang diberikan

tidak terlalu banyak, pasti bisa membuat

pesaingnya merasa terancam. “Pernah ada

yang iri, kalau saya ikut pameran mereka suka

membicarakan saya di belakang. Tapi biar

bagaimanapun, namanya juga usaha, kita harus

tetap maju. Hal itu tidak memengaruhi saya,”

ujar Sarini mantap.

 

Kini, dengan menjamurnya showroom batik di

 

Cirebon, Sarini merasakan sengitnya

persaingan. Karena itu ia melakukan ekspansi

dengan membuka kios dan lapak di Thamrin

City, Jakarta. Awalnya, Sarini mendapat kios

tersebut secara cuma-cuma, mengingat pusat

batik di Jakarta itu masih terbilang baru. Namun,

sejak lokasinya ramai, ia harus mengeluarkan

Rp1.050.000 per bulan untuk sewa kios. Tarif

sewa itu menurutnya masih terbilang murah jika

dibandingkan dengan biaya sewa kios di tempat

lain. Di Bandung, misalnya, tarif sewanya bisa

mencapai belasan juta rupiah per bulan.

Dua bulan pertama berada di Thamrin

City, kios Batik Sarini sepi pengunjung. Tiga

 

pekerjanya bahkan sampai tak betah karenanya.

Sarini pun tidak tinggal diam. Ia mengirimkan

sms kepada para pelanggannya yang berada di

Jakarta untuk mengabari bahwa Batik Sarini

juga tersedia di Jakarta. Sarini berharap para

pelanggannya lebih senang karena tidak perlu

jauh-jauh datang ke Cirebon lagi. Voila! Sejak

itu kiosnya ramai pengunjung. Meski baru enam

bulan berjalan, Sarini mampu meraih omzet

hingga Rp 40 juta per bulan.

“Sebagai orang bisnis, kita harus punya tanggung

 

jawab kepada karyawan. Jangan sampai karyawan

 

kita telantar. Itu yang harus kita

perjuangkan untuk bersama-sama mengembangkan

 

usaha,” ujarnya optimis. Karenanya,

Sarini tidak pernah hanya pasif menunggu

pesanan. Jika dari pelanggannya tidak ada kabar,

 

dia aktif menelepon menanyakan apakah

mereka memerlukan bahan batik baru. Dengan

cara ini, pesanan pun rutin datang mengalir.

Menurut perhitungan Sarini, kini total

 

omzetnya bisa mencapai Rp 50 juta-70 juta per

bulan. Dengan keuntungan dari penjualan batik

per potong berkisar antara Rp 50 ribu hingga Rp

125 ribu, setiap bulannya Sarini mampu meraih

keuntungan bersih sebesar Rp 8 juta.

 

MANAJEMEN USAHA

Berjualan batik ternyata juga ada musimnya.

Sama seperti usaha tekstil lainnya, sebulan

sebelum Ramadhan biasanya pesanan bisa

melonjak hingga tiga kali lipat, mencapai ratusan

kodi. Terkadang Sarini merasa kewalahan dengan

 

banjirnya pesanan, mengingat semua

pemesannya meminta cepat, sementara tenaga

pekerjanya tetap. Pesanan biasanya membanjir

dari Jakarta dan Bandung.

Belum lagi jika ada jadwal pameran di waktu

yang sama. Hal tersebut sering kali membuatnya

semakin kewalahan. “Setiap kali mengikuti

pameran kita harus sudah mempersiapkan

barangnya. Jadi produksi harus lebih cepat.

Sementara bagian produksi masih kewalahan

menepati janji pesanan sebelumnya,” tutur

wanita yang dari usaha batiknya ini sudah

menunaikan ibadah haji di tahun 2001 lalu.

Dalam kondisi normal, produksi batik Sarini

mencapai 5-6 kodi pakaian jadi per hari. Jumlah

tersebut terdiri dari batik cap, tulis, serta

kombinasi kedua metode tersebut. Produk yang

dihasilkan berupa rok, kemeja pria, baju pesta,

blus wanita, gamis, dan kerudung. Meskipun

menghasilkan banyak inovasi produk, Sarini

 

paham henar bahwa yang paling digemari

adalah kain batik sepanjang 2 meter dan 2,5

meter, karena konsumen lebih bebas berkreasi

membuat pakaian yang sesuai dengan keinginan

serta kebutuhan mereka. “Saya selalu mengarahkan

 

para sales untuk lebih dulu menjual

produk jadi, agar barang tidak menumpuk,”

papar Sarini.

Selain menyiasati target penjualan, Sarini

juga mengelompokkan harga sesuai produknya.

Kemeja pria dihargai mulai dari Rp 35 ribu

untuk pembelian kodian dan Rp 50 ribu untuk

pembelian satuan. Sementara bahan batik

dihargai antara Rp 50 ribu hingga Rp 200 ribu.

Untuk mempermudah pembayaran, Sarini

 

membuat beberapa sistem pembayaran, seperti

tunai, transfer, atau diangsur. Bagi pembeli yang

mengambil dalam jumlah banyak, ia memberi

keringanan tempo pembayaran selama dua

minggu hingga sebulan. Untuk pembeli dari luar

daerah, Sarini memberikan keringanan ongkos

kirim agar konsumen tetap setia padanya.

Kesetiaan konsumen juga dicoba diraih melalui

 

inovasi produk secara kontinyu. Sarini

berupa menciptakan model-model baru yang

lebih variatif dengan menggunakan warna yang

banyak digemari, seperti merah dan cokelat.

Hal ini diketahuinya berdasarkan permintaan

tertinggi yang datang ke showroom maupun

cabangnya. Hasilnya, pelanggan menyukai

 

inovasi tersebut dan membuntuti setiap pameran

yang diikutinya. Hal ini memacu Sarini untuk

terus berinovasi dan berjuang mengembangkan

usahanya.

Mengenai teknologi, Sarini merasa tidak begitu

 

memerlukannya. Segalanya dilakukan secara

 

manual, termasuk pencatatan keuangan.

Kalaupun menggunakan teknologi paling-paling

sebatas memiliki akun Facebook Batik Sarini

sebagai sarana promosi. Akun tersebut dikelola

oleh karyawannya karena Sarini tidak begitu

mengerti social network. “Saya lebih mahir

mengatur masalah pameran dibandingkan jika

harus mengurus teknologi,” ungkapnya jujur.

Namun demikian pameran tidak selalu

berbuah manis. Ada masanya pameran yang

diikuti Sarini malah membuatnya rugi karena

sepi pengunjung. Kalau sudah begini, Sarini

harus mencari pinjaman lain untuk menutupi

biaya operasional pameran. Menurut Sarini,

bank bjb sangat kooperatif dan berperan besar

dalam membantu mengembangkan usahanya,

 

baik ketika mengalami masa sulit maupun masa

jaya. Jika pameran yang diikutinya berhasil,

pembayaran pinjamannya ke bank bjb juga

lancar sesuai dengan keuntungan yang diperoleh.

Sedangkan ketika mengalami kerugian, Sarini

diberi kemudahan dengan cara diperbolehkan

hanya membayar bunganya saja.

Yang jelas, masa sulit pun tidak akan membuatnya

 

terpuruk. Dia memilih untuk segera bangkit.

Saat ini, Sarini memusatkan perhatian pada

 

rencana untuk menambah showroom di Bandung.

Sebab, dari pengalamannya mengikuti pameran,

banyak pelanggannya yang menanyakan cabang

Batik Sarini di Bandung. Pembelinya di Cirebon

pun banyak orang Bandung. Selama ini, rencana

tersebut masih terbentur harga sewa kios yang

 

cukup tinggi di Bandung.

“Pendapatannya masih bagus di showroom

yang di sini. Sesekali masih mengikuti pameran di

luar kota. Tapi keinginan saya untuk buka show

room lagi sangat tinggi. Insya Allah kalau ada

rezekinya,” ujarnya optimis.

 

Catatan Rhenald Kasali

SELAIN JELI MELIHAT peluang, keuletan dan tahan banting adalah ciri lain

 

seorang wirausaha. Siapakah yang tidak pernah jatuh atau mengalami ujian?

 

Perhatikanlah yang dialami ibu tiga anak dari Cirebon ini. Bercerai dari

 

Suami dan memulainya kembali dari nol, anak-anak tidak ada yang mau

 

meneruskan usaha, cemoohan dari para pesaing saat ía ikut pameran, lokasi

 

usaha yang sepi saat membuka di Tharnnin City, dan seterusnya.

Semua itu dilalui Sarini dari hari ke hari. Namun, yang terpenting bagi

 

setiap usahawan adalah ia bukan telur yang mudah pecah bila jatuh,

 

melainkan membal bak bola tenis. Usaha keluarga memang penuh ujian. Kalau

keluarga berpisah, modal pun berpisah, Kalau di rumah ribut, di warung pun

 

ribut. Sebaliknya juga demikian. Rapat kantor ya rapat keluarga. Semua ikut

mempengaruhi.

Tetapí kalau bukan keluarga siapa lagi yang membantu? Modal tidak besar,

 

tenaga profesional belum bisa dibiayai, produksi belum lancar ya seluruh

 

anggota keluarga harus ikut menopang. Minimal suami atau istri memegang

 

keuangan karena uang butuh kepercayaan. Tetapi juga tak ada jaminan bahwa

 

anggota keluarga tidak berkhianat. Namun, manusia lebih ikhlas bila

 

kepercayaan dipegang keluarga.

Kepercayaan tidak hanya diperlukan kepada anggota keluarga melainkan juga

 

dari pasar. Itu sebabnya Anda tak bisa bermalas-malasan. Setiap saat Anda

 

harus terus memutar otak, berinovasi dan menjembatani produk dengan

 

pelanggan. Maka diperlukan hubungan baik dengan bank. Sebab bank yang

 

percaya akan membantu mereka yang bersungguh-sungguh untuk menjembatani

 

Anda dengan pasar. Usaha keluarga juga memerlukan ‘jendela’, ÿaitu bingkai

 

untuk melihat keluar. Usaha keluarga tak berjendela akan membuat Anda diam

 

di tempat bak dinosaurus, besar namun mudah punah. Itu sebabnya pameran-

 

pameran sangat diperlukan sama halnya dengan showroom. Sebab betapa pun

 

bagusnya karya Anda ‘tanpa jendela’ tak ada interaksi, tak ada kemajuan.

 

Make bukalah jendela, bangun hubungan dengan pelanggan-pelanggan Anda

dan jangan mudah pecah seperti telur.

 

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Sania Sari, Rumah Produksi Batiknya Pernah Habis Terbakar, Kini Sukses Bangkit dan Mengembangkan Hasan Batik dengan Puluhan Karyawan

Sania Sari, Tri Asayani, Ranityarani, Menyeimbangkan Bisnis dan Seni Batik

Hasan Batik Bandung adalah rumah

industri yang bergerak di bidang

produksi dan penjualan batik.

Memadukan kemampuan teknik, seni,

dan bisnis, Hasan Batik menawarkan

desain produk batik yang eksklusif dan

inovatif.

 

BATIK merupakan jenis kesenian yang

kompleks. Pasalnya, untuk menghasilkan

kain batik diperlukan teknik dan proses

khusus. Pada dasarnya proses membatik

 

dilakukan dengan cara melukis malam (lilin cair)

dengan menggunakan canting di atas sehelai kain.

Dalam literatur, teknik atau metode ini

 

dikenal sebagai wax-resist dyeing. Metode ini

ditempuh untuk mencegah pewarna menyebar

ke seluruh kain, sekaligus memperoleh desain

atau pola artistiknya. Selanjutnya kain tersebut

dicelup ke dalam pewarna tekstil untuk

 

mendapatkan warna yang diinginkan, lalu direndam

dalam larutan kimia panas untuk menghilangkan

 

lilin yang melekat. Setelah diulang

beberapa kali, barulah dapat diperoleh selembar

kain batik yang artistik.

Walau teknik membatik pada dasarnya sama,

motif atau corak batik yang dihasilkan setiap

daerah memiliki perbedaan. Corak itulah yang

menjadi identitas kebudayaan daerah asalnya.

Bandung, Jawa Barat, adalah daerah yang

 

memiliki keunikan corak batik tersendiri. Dan

sampai sekarang, para perajin dan pelaku usaha

batik tidak pernah menyerah mempromosikan

batik Bandung.

Jika batik Solo dan Yogyakarta lebih kental

dengan nuansa tradisional khas keraton, maka

batik Bandung lebih mencirikan masyarakat

kontemporer Indonesia. Corak batik Bandung

berakar pada kekayaan batik Nusantara yang

telah beradaptasi dengan budaya kontemporer

yang cenderung progresif dan modern. Batik

Bandung adalah produk budaya yang lahir

 

melalui proses pengembangan tak henti dari para

perajin dan seniman batik. Melalui proses

 

seperti itulah lahir kain batik dengan kekhasan

tersendiri: motif geometris dan abstrak. Selain

itu juga terdapat bentuk-bentuk khas daerah

Jawa Barat seperti, siluet angklung (alat musik

tradisional) atau kujang (senjata tradisional).

Salah satu perajin dan pelaku usaha batik

yang masih giat mengembangkan batik di

Bandung adalah keluarga Hasanudin. Di bawah

 

bendera CV Hasan Indonesia, keluarga

 

Hasanudin menjalani usaha batik dengan merek

Hasan Batik Bandung. Hasan Batik Bandung

menyatakan diri sebagai rumah industri yang

bergerak di bidang produksi dan penjualan batik

tulis, batik cap, dan batik kombinasi.

KARYA SENIMAN AKADEMISI

Berbeda dengan sebagian besar usaha batik

yang dibangun oleh pedagang, Hasan Batik

 

didirikan tahun 1975 oleh Hasanudin (almarhum),

 

dosen Jurusan Seni Rupa di Institut Teknologi

 

Bandung (ITB). Selain menjadi dosen,

Hasanudin telah lama menekuni pembuatan

batik sebagai karya seni. Spesialisasinya di

 

bidang desain tekstil menjadi kekuatan utama

Hasan Batik dalam mengembangkan batiknya.

Dilihat dari latar belakang keluarganya,

Hasanudin yang akrab disapa Hasan bukanlah

sosok yang tumbuh dari keluarga batik. Namun

sejak kuliah, Hasan sudah rajin mengeksplorasi

batik sebagai objek melukis di atas kanvas.

“Sejak kuliah Ayah memang suka membuat lukisan

 

batik. Ayah selalu memilih objek batik

 

sebagai tema yang kemudian dituangkan di atas

selembar kanvas,” kata Sania Sari, putri pertama

Hasan yang kini menjadi General Manager

Hasan Batik Bandung.

Proses yang dijalani Hasanudin dalam

 

mengembangkan hobinya terpatri di hati anak-

anaknya. Hasanudin memang menyukai batik

sejak dari kuliah, namun kemampuannya

 

semakin lengkap setelah dia menikah dengan

 

seorang wanita dari keluarga batik Pekalongan.

Sejak saat itu Hasanudin mulai mendalami batik.

 

Sebelum Hasan Batik didirikan, Hasan

mendirikan tempat belajar membatik di Jalan

Muararajeun, Bandung. Di tempat ini, Hasan

mengajarkan cara-cara mendesain batik sesuai

keinginan mereka. Sebagai seniman, Hasan

mengangkat tema tradisi dunia batik yang dapat

dikomersialkan.

Kegiatan ini ternyata mengundang minat

 

banyak orang, terutama warga negara asing yang

 

bekerja di Bandung dan Jakarta, bahkan

 

peminatnya banyak warga negara Jepang. Dari

peserta dan para pelanggan batiknya itulah

kemudian muncul nama Hasan Batik.

Sebagai unit usaha, sebenarnya Hasan Batik

baru dimulai pada tahun 1978. Saat itu, selain

memberikan les, Hasan mulai membangun

showroom kecil untuk menjual karya seni batik

ciptaannya. Sebagaimana peminat les batiknya,

peminat kain Hasan Batik juga kebanyakan

berasal dari Jepang. Mereka mendapatkan

informasi mengenai Hasan Batik dari mulut ke

mulut oleh para peserta les sebelumnya.

Sebagai seniman, Hasan juga mengalami

perkembangan dalam berkarya. Hal itu terbukti

dari banyaknya undangan untuk berpartisipasi

dalam berbagai pameran. Hasan mendesain

batik dengan mengeksploitasi berbagai ragam

hias seperti kawung, lereng, dan ceplok; ragam

hias geometris titik-titik, kotak-kotak, dan garis

garis; serta kombinasi antara keduanya. Salah

satu ragam hias ciptaan Hasan ialah batik tambal

dengan efek tiga dimensi yang menggunakan

proses cap, canting, colek, dan celup. “Dibantu

tenaga kerja berpengalaman, Hasan Batik selalu

mengutamakan kepuasan konsumen untuk

memperoleh batik yang mereka inginkan,” kata

Nia, nama panggilan Sania Sari.

Model usaha yang dikembangkan Hasan

 

Batik tersebut ternyata mendapatkan tempat di

masyarakat kelas menengah. Sambutan pasar

membawa usaha Hasan Batik mengalami masa-

masa kejayaan hingga tahun 1997. Produk Hasan

Batik pun berkembang pesat, dari kain batik dan

baju menjadi keperluan interior seperti tirai,

seprai, sarung bantal, hingga tatakan dan tutup

gelas. “Malah sejak tahun 1985 Hasan Batik

lebih banyak memproduksi produk-produk batik

untuk keperluan interior. Produk-produk seperti

itu sangat disukai konsumen,” kata Nia.

PASANG SURUT

Sejak tahun 1980-an, usaha yang berangkat

dari kegiatan berkesenian dan kursus batik

 

kontemporer ini secara bertahap memperlihatkan

perkembangan yang semakin membaik. Menurut

Nia, pendirian studio dan tempat produksi

 

benar-benar menjadi infrastruktur usaha yang

sangat mendukung. Sebab, setelah studio dan

tempat produksi berdiri, produktivitas Hasan

 

Batik mengalami peningkatan yang sangat

pesat. Sampai-sampai Hasan Batik harus

 

memindahkan tempat produksinya dari daerah

Muararajeun ke daerah Cigadung Raya di

 

Bandung Timur. Produktivitas Hasan Batik

 

mencapai puncaknya pada 1990-an.

Namun, kejayaan ini harus berakhir ketika

perekonomian Indonesia menghadapi masa-

 

masa suram. Krisis moneter tahun 1997 yang

meluluhlantakkan hampir setiap sektor

 

perindustrian Indonesia juga berdampak buruk

pada usaha Hasan Batik yang sangat diminati

orang-orang asing.

Krisis moneter tersebut menyebabkan penurunan

 

jumlah warga negara asing di Indonesia

 

sehingga Hasan Batik kehilangan pasar

terbesarnya. Namun, bukan hanya dari sisi

 

eksternal. Tahun 1997 Hasan Batik juga mengalami

keterpurukan dari sisi internal menghadapi

pembelotan karyawan-karyawan terampilnya.

Sebagian dari karyawannya keluar dan

 

mendirikan usaha batik sendiri. Mereka juga

mengambil para pelanggan tetap Hasan Batik.

“Kejadian berturut-turut seperti itu membuat

usaha kami menurun sampai 75 persen. Tahun

2000 adalah puncaknya. Kami menghadapi krisis

 

pemasaran,” kata Nia.

Rupanya nasib buruk yang menimpa Hasan

Batik belum berakhir di situ. Pada tahun itu

pula, si jago merah melahap rumah produksi

Hasan Batik, mengakibatkan semua koleksi

batik mereka habis terbakar. “Yang jelas kami

rugi besar,” kenang Sania, “Terlebih lagi,

 

sebagian besar karyawan andalan kami keluar.

Saat itu, tinggal lima orang saja yang masih

bertahan.” Jelas, tahun-tahun ini merupakan

periode suram setelah Hasan Batik mengalami

 

puncak kejayaannya dengan memiliki 20 orang

karyawan terampil.

Tahun 2006, kesulitan usaha Hasan Batik

semakin terasa ketika kondisi kesehatan Hasan

terlihat semakin menurun hingga akhirnya beliau

berpulang. Situasi ini memaksa ketiga putrinya,

Sania Sari, Tri Asayani (Yani), dan Ranityarani

(Rani) bergandengan menyelamatkan biduk

usaha Hasan Batik warisan ayah mereka.

 

Beruntung sebelum Hasan meninggal, Nia dan adik-

adiknya mendapatkan informasi tentang adanya

fasilitas dari bank bjb untuk kalangan UKM

(Usaha Kecil dan Menengah). Meski tidak besar,

mereka pun berhasil mendapatkan pinjaman

modal sebesar Rp 10 juta.

Ternyata untuk urusan pinjam modal dari

bank ini, ketiga putri Hasan memiliki

 

kemampuan tinggi untuk mengelolanya. Mereka sangat

disiplin dalam mengatur jadwal pembayaran

cicilan utang. Sikap ini menimbulkan kepercayaan

 

dan membuat bank bjb terus menaikkan

jumlah dana yang dipinjamkannya. “Fasilitas

modal seperti ini sangat menolong kami. Boleh

dibilang produksi kami terus meningkat secara

perlahan,” tutur Nia.

Meningkatnya kembali produktivitas Hasan

Batik, diikuti kembali oleh peningkatan jumlah

karyawan. Pada April 2011 karyawan Hasan

 

Batik sudah bisa mencapai 20 orang lagi.

Sementara omzet per bulannya mencapai Rp 75

juta. Ditambah lagi, Nia dan adik-adiknya mulai

memperoleh informasi tentang adanya fasilitas

negara untuk mengikuti pameran di luar negeri.

Setelah persyaratan untuk pameran dipenuhi,

Hasan Batik seperti kembali ke kejayaan

 

pendirinya di masa lalu ketika almarhum Hasanudin

kerap menerima undangan berpameran di luar negeri.

MANAJEMEN USAHA UNTUK MERAIH MIMPI

Saat ini Nia dan adik-adiknyalah yang bertanggung

 

jawab atas perkembangan Hasan Batik.

Mereka semua mewarisi semangat Hasanudin

dan memiliki impian untuk membesarkan usaha

Hasan Batik hingga dikenal di negara lain.

Kini mereka menerapkan sistem yang berbeda

dengan yang diterapkan pendahulunya. Sistem

ini dibangun sebagai hasil pengamatan Yani,

adik Sania, ketika mengunjungi rumah industri

 

produk kain tradisional di Thailand. Di sana

Yani mempelajari bagaimana warga Thailand

mengembangkan usaha produk kain tradisional

dengan gaya modern. Setiap industri rumahan

di Thailand memiliki showroom. Bagian tersebut

 

berfungsi untuk memperlihatkan proses

pembuatan kain secara langsung kepada para

pelanggannya sekaligus sebagai tempat display

produknya. Inilah yang kemudian diterapkan

pada Hasan Batik.

Selain menerapkan model usaha baru, Nia dan

adik-adiknya berusaha membentuk pola manajemen

 

untuk mengembangkan Hasan Batik.

Hasan Batik lebih memilih untuk menerapkan

pembagian tugas yang jelas dibandingkan

 

menerapkan sistem manajemen yang kaku. Nia,

 

saat ini menjadi dosen di ITB, menangani bidang

manajemen. Yani, yang mendalami bidang seni,

menangani urusan desain. Sementara Rani,

memegang bidang produksi sekaligus mengembangkan

 

butik muslimah.

 

Namun keterlibatan keluarga dalam mengelola

 

Hasan Batik bukanlah sesuatu yang mudah.

Keuntungannya memiliki karyawan keluarga

sendiri adalah adanya rasa cinta, menghargai,

dan motivasi yang sama dalam memajukan

usaha berbasiskan seni. Tapi, kekurangannya

adalah mudahnya timbul perselisihan dan beda

pendapat. “Tapi alhamdulillah, kami masih

memiliki Mama yang selalu menjadi penengah

ketika kami berselisih,” jelas Yani sambil

 

tersenyum. Berkat adanya penengah, mereka mulai

 

belajar untuk bersikap terbuka terhadap perbedaan

pendapat. Sejauh ini, mereka belum mengalami

hambatan yang berarti mengenai sistem manajemen

 

mereka. Tampaknya manajemen mereka

yang serius tapi juga santai cocok dengan model

usaha Hasan Batik.

Selain keluarga sendiri, saat ini Hasan Batik

sudah memiliki 23 orang pegawai. Sekitar

3-4 orang dari mereka merupakan tetangga

 

lingkungan sekitar, dan selebihnya direkomendasikan

oleh teman atau kenalan mereka. Saat ini Hasan Batik

 

sudah mempekerjakan karyawan profesional, namun baru

terbatas pada bidang seni rupa untuk desain batik.

 

Sementara untuk bidang lainnya, Yani mengaku belum

 

Berniat mempekerjakan karyawan profesional, karena

 

merasa Hasan Batik masih belum mapan secara finansial.

Tidak mempekerjakan karyawan profesional, bukan

 

berarti Hasan Batik tidak memiliki pekerja yang terampil.

Karena demi meningkatkan keterampilan para pekerjanya,

 

beberapa kali Nia dan adik-adiknya mengadakan pelatihan

 

bagi para karyawan. Agar tidak membebankan perusahaan,

 

Nia dan adik-adiknya mengupayakan pelatihan yang bebas

 

biaya. Sekitar tahun 2008 Hasan Batik pernah mendapatkan

 

pelatihan mengenai tren jenis kain dari perusahaan Amerika

 

yang didatangkan oleh instansi pemerintah.

Kebetulan, instansi pemerintah tersebut memilih mereka untuk

menerima pelatihan. Saat ini, Nia juga sedang menjalani pelatihan

mengenai tren batik tahun 2012-2013.

Namun, Nia juga mengaku saat ini Hasan Batik tengah

 

menghadapi tantangan yang tidak ringan. Beberapa pegawai

mereka sempat memutuskan untuk cuti, bahkan meninggalkan

 

Hasan Batik, meskipun ada beberapa orang

yang datang kembali. Hal ini mengakibatkan Yani dan

 

saudara-saudaranya memutuskan untuk menaikkan gaji

 

karyawan dan mengubah sistem kesejahteraan karyawan agar

 

mereka lebih nyaman bekerja pada Hasan Batik.

Setelah mampu memperbaiki sistem manajemennya, Nia dan

adik-adiknya juga melakukan perbaikan sistem administrasi.

Mereka menerapkan sistem komputerisasi agar data penjualan,

pembelian kain, dan lain sebagainya dapat terdata dengan baik.

Selain itu, sistem komputerisasi juga dipergunakan untuk

 

mempermudah pembuatan desain batik.

Di bidang marketing, Hasan Batik pun tak mungkin mengelak

dari perkembangan zaman. Kini Hasan Batik memiliki situs

 

http://www.hasanbatik.co.id sebagai sarana promosi, agar dapat

 

memberi kemudahan bagi para pelanggannya

untuk mengetahui produk terbaru dan adanya

promosi khusus. Demi menjaga kelangsungan

promosi dan pembelian melalui situs tersebut,

Hasan Batik mempekerjakan karyawan tersendiri

untuk mengurusnya.

Sistem promosi melalui internet terbukti cukup

efektif dalam menyampaikan informasi terkini.

Pada Maret 2011 lalu, di hari kelahiran pendirinya,

Hasan Batik memberikan diskon sebesar 20 persen

 

untuk produk baru dan 50 persen untuk produk

yang lebih lama. Melalui promosi ini Hasan Batik

semakin dikenal masyarakat.

Selain melalui internet, pada tahun 2006

mereka meluncurkan produk baru dengan

showroom khusus. Produk baru Hasan Batik

 

adalah baju batik untuk anak-anak berusia

1 hingga 11 tahun, yang diberi nama ‘Little

Asahyani Batik’. Dengan produk baru ini, pasar

 

yang dituju oleh Hasan Batik akan semakin luas.

Menurut rencana, Hasan Batik akan membuka

 

showroom yang lebih besar demi mewujudkan

 

cita-cita Hasanundin. “Saya ingin

membuat showroom yang lebih besar, sehingga

bisa memuat produk lebih banyak pula. Sehingga

akhirnya akan datang banyak konsumen,” jelas

Yani. Hasan Batik ingin agar para pelanggan

dapat berkunjung melihat proses pembuatan

batik sampai berada di showroom. Saat ini

 

pelanggan sudah bisa melakukan hal tersebut,

 

tetapi jumlahnya tidak begitu banyak dan tidak

rutin. Yani ingin agar para pelanggan Hasan

Batik dapat secara langsung melihat proses

pembuatan, karena dengan cara demikian

 

diharapkan para pelanggannya akan lebih

 

tergerak untuk berbelanja. “Saya berharap

 

kunjungan tersebut dapat dilakukan rutin setiap

hari agar suasana di sini lebih hidup,” ujar Yani

mengenai impiannya akan Hasan Batik.

 

Catatan Rhenald Kasali

BOUNCE! MEMBAL, BEGITULAH hukum keberhasi1an. Usaha tìdak selalu bergerak

 

ka atas namun kalau jatuh ke bawah, janganlah mudah pecah segeralah kembali

Bacaan di atas mengajarkan kepada kita bahwa memulai usaha bukanlah hal

 

yang sulit. Namun meneruskannya dan membuatnys lebih maju ternyata tak

 

semudah memulainya. Apalagi bagi usaha yang berbasiskan seni dan

pengetahuan. Lain di sekolah lain pula keadaannya di lapangan.

Dari pelajaran yang dialami para penerus Hasan Batik Anda mungkin akan

 

mengatakan dibutuhkan keuletan untuk menjadi pengusaha. Ya, betul Keuletan.

 

Tetapi apakah keuletan itu? Keuletan adalah tahan banting dan membal

 

kembali.

Anda baca sendiri bagaimana bisnis kecil ini dicintai orang-orang asing

 

tetapi hilang begitu saja saat terjadi krisis moneter. Lalu mundur sejalan

 

dengan kemunduran kesehatan tokoh kuncinya, terbakar dan ditinggalkan

karyawan-karyawan andalannya yang pergi bersama pelanggan-pelanggan

 

setianya.

Untuk bangkit kembali Anda butuh kemembalan. Anda butuh visi baru dan

 

tenaga yang kuat untuk melompat kembali ka atas. Orang-orang yang pernah

 

mengalaminya pasti tahu hukum ini. Anda hanya bisa membal kembali

kalau sudah menyentuh karang yang ada di dasar laut. Bukan di udara. Jadi

 

sentuhlah kesulitan yang paling dasar sampai ia membukakan mata Anda dan

 

otomatis memberi Anda tenaga baru untuk kembali. Maka keluarlah

dari lingkaran setan kesulitan dengan melakukan kunjungan ka mana saja,

 

sampai Anda menemukan visi baru itu. Anak-anak yang mau keluar dari

 

kesulitan pasti akan menemukan pintunya. Itulah yang Anda pelajari dari

bangkitnya Hasan Batik.

 

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Nani Oktaviani, Womenpreneur Muda yang dari Bisnis Busana Muslim Sukses Raup Omzet Hingga Rp 800 Juta

Nani Oktaviani, Dari Hobi ke Bisnis Konveksi

Banyak pelaku bisnis yang mengawali

usahanya dari hobi. Wanita ini adalah

salah satu pelaku usaha konveksi yang

berhasil membangun usaha dari minatnya

di bidang seni dan fesyen. Diiringi usaha

keras dan dukungan penuh sang suami,

produk fesyennya yang dibangun dari

usaha kecil mulai dikenal di Indonesia

bahkan sampai kalangan muslim Amerika

Serikat.

 

SENI, kampus UNPAD (Universitas Padjajaran),

 

dan kota Bandung adalah tiga ha1 yang

 

tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Nani.

 

Tiga hal tersebutlah yang kemudian

 

mengantarkannya menjadi pelaku

usaha konveksi. Dunia seni yang pertama

dikenalnya adalah dunia tari. Sejak kecil

Nani mampu membawakan berbagai tarian

tradisional Jawa Barat. Sekarang pun ia masih

dapat menarikannya dengan gemulai.

Selain menari, kegemarannya dengan kesenian

 

juga tampak dari gaya berpakaiannya.

Alumnus program diploma Sastra Jepang

UNPAD ini dikenal modis dalam berpakaian.

Hal ini bukannya tanpa alasan. Jurusan sastra

 

memang dikenal sebagai jurusan yang

mahasiswinya berpenampilan modis. Tak hanya

modis, baju yang dikenakan Nani juga unik

karena tidak ada orang lain yang memilikinya.

Rahasianya adalah mendesain dan membuat

sendiri baju yang diinginkannya. Karena modis

dan unik itulah, banyak teman yang menyukai

busana buatan Nani. Banyak dari mereka yang

 

akhirnya ingin dibuatkan baju muslim seperti

yang dikenakan Nani.

Nani pun dengan senang hati mengerjakan

pesanan teman-temannya. Tanpa terasa ia sudah

membuat banyak pakaian dan, karena dipakai

teman-temannya, desain Nani semakin dikenal

orang banyak. Dalam waktu yang tak berapa

lama Nani pun dikenal sebagai perancang amatir

busana muslim yang modis di kampus.

Sebagaimana ungkapan bahwa produk bermutu

 

punya jalannya sendiri untuk menemui

pintunya, busana rancangan Nani pun mencapai

sasarannya. Promosi gratis ‘dari mulut ke mulut’

melalui teman-temannya, mengantarkan Nani

ke pasar yang lebih luas. Berbagai penyelenggara

bazar kampus yang digelar di Bandung mengundang

 

Nani untuk ikut berpameran. Desain

busana muslim rancangan Nani pun semakin

dikenal di luar kampusnya.

Setelah melalui bazar kampus, kaki Nani

pun mulai melangkah lebih jauh. Dia kerap

mendapatkan undangan untuk tampil di pameran

 

fesyen kota Bandung dan sekitarnya.

 

Kota yang dikenal sebagai sentra industri

 

clothing dan fesyen ini mulai memberikan

tempat bagi Nani untuk mengembangkan minatnya.

Bandung memang memiliki arti khusus bagi Nani.

 

Baginya, Bandung dan orang-orang di dalamnya

adalah lingkungan dan entitas yang telah

 

mengantarkannya menjadi perempuan mandiri dan

 

mampu berpikir kreatif. Selain itu, Bandung

adalah tempat di mana dia menemukan jodohnya. Di

kota inilah Nani bertemu Irfan, pria yang kemudian

menjadi suami sekaligus motivator terhebat dalam

 

hidupnya.

 

TIDAK MALU UNTUK BELAJAR

Lahir di Majalengka, Jawa Barat, tanggal 24 Oktober

1972, Nani yang berasal dan keluarga pegawai BUMN ini

merupakan sosok yang mudah beradaptasi. Mungkin karena

beberapa kali pindah tempat tinggal. Pada usia 8 tahun,

Nani mengikuti orangtuanya pindah ke Kuningan, lalu

ke Tasikmalaya di usia 13 tahun. Di Tasikmalaya, Nani

menghabiskan masa SMA-nya sampai pindah ke Bandung

untuk kuliah di UNPAD. Karena cukup lama tinggal di

Tasikmalaya itulah Nani kerap merasa bahwa Tasikmalaya

adalah kota asalnya. Setelah menikah, Nani

mengikuti suaminya bertugas di Kalimantan Timur selama 3

 

tahun, lalu pindah lagi ke Riau selama 3 tahun. Baru pada

tahun 2000-lab ibu tiga anak ini kembali ke Tasikmalaya.

Meski sempat tinggal jauh dari kota industri pakaian, Nani

tetap menekuni kecintaannya pada fesyen. Sehingga ketika

kembali ke Tasikmalaya, Nani segera memutuskan untuk

menekuni bisnis fesyen. Keputusannya ini mendapat

 

dukungan dari suaminya, yang mengajukan pensiun dini dari

perusahaannya di Pekanbaru pada tahun 2004 dan

 

memutuskan untuk memulai usaha konveksi.

Salah satu alasan di balik keputusan tersebut adalah

 

karena Tasikmalaya dikenal sebagai salah satu kawasan

 

industri pakaian jadi Indonesia.

Data Dinas Perdagangan dan Perindustrian setempat

 

menunjukkan bahwa jumlah pelaku usaha di bidang ini

 

mencapai 17.000 orang. Selain itu, mereka merasa dapat

 

belajar banyak dari adik-adik mereka yang sudah lebih dulu

 

terjun di usaha konveksi. “Adik-adik kami sudah sukses

 

berbisnis sebagai supplier pakaian jadi ke Pasar Tanah Abang,

 

Jakarta. Jadi kami memilih bergabung lebih dulu. Modalnya

 

Sebagian dari orangtua,” kata Nani. Setelah merasa cukup

 

belajar  dengan sang Adik, tahun 2005 Nani dan Irfan secara

perlahan mencoba mandiri. Mereka mengembangkan usaha

 

pembuatan pakaian jadi, hanya berbekal 3 orang penjahit

 

yang bekerja di garasi rumahnya. Nani memberi merek

 

pakaian muslim wanitanya dengan nama Nadira.

Merek tersebut hanya ditawarkan secara terbatas, kepada

 

teman-teman arisan atau pengajiannya. Namun, tampaknya

 

desain busana muslim rancangan Nani memang memikat

 

banyak onang. Mengulang kembali promosi word of mouth semasa

perkuliahan, kali ini desain busana muslimnya

tersebar meialui teman-teman pengajiannya.

Usaha Nani pun mulai dikenal banyak orang,

hingga suatu ketika seseorang datang pada

Irfan untuk memesan busana muslim pria.

Berbeda dari busana muslim wanita yang

memerlukan jahitan detail, busana muslim

pria langsung dapat diproduksi secara massal.

Jadi, jika busana muslim wanita diproduksi

sesuai pesanan, busana muslim pria dapat dibuat stok.

Saat itulah, Nani dan Irfan membentuk perusahaan

 

konveksi yang diberi nama PT Janamas. Sejak Janamas

 

berdiri, keduanya selalu berusaha mencari pasar yang

 

berbeda dengan pelaku bisnis konveksi lain. Keduanya

 

juga memilih kreativitas sebagai andalan. Selain

berusaha tampil unik sebagai kekuatan utama

bisnisnya, pasangan ini juga menggenjot sisi

kualitas produk. “Untuk masalah kreativitas,

kami tekankan pada desain. Sementara untuk

kualitas, kami tekankan pada bagian bordirnya,”

kata Nani lagi, “Dengan mengandalkan

keduanya, alhamdulillah kami belum pernah

gagal di pasar.”

 

KENDALA DAN SOLUSI

Menjadi pemasok pakaian di pasar konveksi

Tanah Abang ternyata tidak semudah yang Nani

bayangkan. Pasalnya, pedagang Tanah Abang

banyak yang menggunakan sistem pembayaran

melalui giro. “Nah dengan sistem pembayaran

seperti ini, temponya sering meleset,” papar

Nani. Oleh sebab itu Nani dan Irfan memutuskan

berhenti sebagai pemasok pakaian jadi.

Tahun 2006, mereka memilih untuk menjual

 

langsung ke outlet-outlet di pusat-pusat

 

perbelanjaan. “Di outlet kita langsung berhadapan

dengan pembeli. Ini membuat kami tidak harus

mengambil risiko,” katanya. Ketika itu, Nani dan

Irfan memutuskan untuk membuat usaha baru

dengan nama CV Avertura. Tujuannya untuk

membuat sebuah merek busana muslim yang

lebih menarik. Sementara PT Janamas menerima

pesanan massal, Avertura mengkhususkan diri

untuk memproduksi busana muslim yang lebih

personal. Kemudian dengan merek barunya

yaitu Massive, Nani langsung memasarkannya

ke outlet-outlet baju di Bandung dan meminta

kesempatan mempresentasikan produk. “Ternyata

 

90 persen outlet menerima presentasi

kami,” ujar Nani.

Menjelang Lebaran, outlet-outlet pun mengalami

 

kebanjiran permintaan, terutama busana muslim.

 

Nani dan Irfan pun berusaha

meningkatkan produksi. Mereka berusaha mendapatkan

 

keuntungan lebih dari kesempatan itu.

Namun, justru pada saat itulah mereka menghadapi

 

hambatan baru. “Kalau sudah menghadapi musim Lebaran,

 

tenaga kerja terampil menjadi mahal dan terbatas,”

 

kata Irfan. Pasalnya, pada saat yang sama para

 

pengusaha pakaian lain juga mendapatkan banyak

pesanan sehingga permintaan tenaga kerja pun

melonjak. Ditambah lagi, karena puasa dan libur

Lebaran, banyak penjahit di Tasikmalaya enggan

menerima pesanan. Hal ini menyebabkan neraca

 

permintaan dan ketersediaan tenaga kerja

menjadi tidak seimbang, yang berimbas pada

meningkatnya honor mereka.

Tetapi, Nani dan Irfan harus tetap memenuhi

pesanan. Untuk mengatasi masalah ini, keduanya

menggunakan pendekatan khusus. Mereka

membuat perjanjian dengan para pekerjanya

bahwa mereka akan terus memberikan pesanan

setelah selesai Lebaran. Hal ini menjadi pilihan

karena biasanya pesanan justru menurun pasca

 

Lebaran sehingga para penjahit tidak memiliki

pekerjaan.

Dengan menggunakan perjanjian yang

menguntungkan kedua belah pihak tersebut,

para penjahit setuju untuk membantu PT Janamas.

 

Mereka mau menjahit asalkan setelah Lebaran

 

tetap mendapat pekerjaan, meskipun

dengan volume kecil. Selain itu, mereka juga

mendapat insentif dan bantuan keuangan dari

PT Janamas.

Satu per satu hambatan dapat terselesaikan.

Namun, PT Janamas tidak luput dari kerugian

besar. Tahun 2006, ketika memasok pesanan

ke sebuah toko baju di Cikarang, ratusan juta

rupiah tak tertagih dan lenyap begitu saja. Hal

ini membuat Nani berpikir lebih keras untuk

menyelamatkan usaha yang juga merupakan

hobinya ini. “Karena pesanan dari Cikarang

itu menguras modal, kami kemudian datang ke

bank bjb. Kami mendapat pinjaman modal kerja

Rp 40 juta dengan sistem profit sharing. Modal

ini menyuntik semangat kami lagi,” kata Nani.

Dengan semangat baru itu, usaha mereka

 

kembali merekah. Bank bjb kembali memberikan

suntikan modal sebesar Rp 100 juta pada tahun

2010 setelah melihat perkembangan Janamas.

Terakhir, pada tahun 2011 mereka kembali

 

mendapatkan pinjaman modal senilai Rp 160 juta.

Janamas pun mulai melebarkan sayapnya.

Perusahaan ini menarik tenaga kerja dalam

jumlah yang lebih banyak lagi. Kini, selain 4

orang karyawan reguler, ada 50 orang yang

terlibat dalam usaha konveksi ini; sekitar 10

orang penjahit bekerja di garasi rumah Nani,

sementara yang lainnya menyelesaikan pesanan

di rumah masing-masing. “Kebanyakan mereka

adalah tenaga kerja di bagian finishing,” jelas

Nani.

Untuk bertahan dan meningkatkan omzet,

selain mengutamakan kreativitas dan kualitas,

Nani dan Irfan terus mendorong PT Janamas untuk

 

mengikuti tren pasar. “Bahkan kami sering

menciptakan tren pasar,” kata Nani sambil

 

menunjukkan sejumlah busana muslim yang telah

beredar di butik-butik Jakarta dan Bandung.

Walau menggunakan bahan dasar yang beragam_

 

seperti katun, linen, raw silk atau Thai

silk—Janamas tak menghadapi kesulitan untuk

mendapatkan bahan-bahan tersebut. Tetapi,

baik Irfan maupun Nani mengaku bahwa hal

tersebut tidak berarti membebaskan mereka

 

dari persoalan bahan baku. Harga bahan

bahan yang mereka butuhkan terus mengalami

kenaikan. “Semua pemain konveksi menghadapi

masalah ini. Karena harga terus naik, kami

juga tidak melirik bisnis bahan baku sebagai

peluang,” tambahnya.

REKANAN DAN PESANAN

Meskipun usaha konveksinya masih tergolong

lokal, Nani memiliki cita-cita tinggi. Setelah

perbankan menilai usaha ini layak memperoleh

modal, Nani ingin membawa Janamas dikenal

masyarakat luas. Salah satunya dengan cara

tampil profesional di dalam negeri.

Untuk pasar dalam negeri, Nani memilih memasarkan

 

produknya ke segmen kelas menengah.

Nani rajin melakukan promosi dengan cara

mengikuti pameran, presentasi, atau membuat

brosur dan beriklan di media cetak. “Dari segi

kreativitas, saya terus mendorong Janamas

menjadi usaha konveksi yang produknya

berkualitas dan berkelas,” kata Nani.

Tidak hanya menenima pesanan baju muslim,

Nani juga mulai menerima semua jenis

produk yang berkaitan dengan jahit-menjahit,

termasuk seragam pegawai perusahaan manufaktur

 

hingga seragam pegawai hotel bintang

5 di Jakarta. Selain itu, Janamas juga pernah

 

menerima pesanan sarung jok kursi dari

perusahaan furnitur di Yogya, yang kemudian

diekspor ke Eropa. Dari promosi word of mouth

itulah lambat-laun pesanan berbagai jenis

jahitan membanjiri Janamas.

Usaha keras Nani dan Irfan tak sia-sia.

Dengan rajinnya Nani menerima berbagai

pesanan dan mengikuti pameran di tingkat

lokal maupun nasional, ia banyak diundang

tampil di berbagai ajang pameran fesyen,

termasuk pameran di luar negeri. Salah satu

pihak yang beberapa tahun belakangan rajin

mengundangnya adalah ajang kegiatan Moslem

Journal Award di Amerika Serikat. Setiap ada

kesempatan untuk berpameran di ajang ini Nani

mencoba tampil habis-habisan.

Dalam Moslem Journal Award 2011, ada tiga

kegiatan yang dilakukan Nani, termasuk peragaan

 

busana muslim, malam penghargaan,

dan bazar di Majelis Taklim. “Saya diperkenalkan

sebagai satu di antara dua undangan terhormat,”

 

ujarnya bangga, seraya menginformasikan

bahwa undangan terhormat lainnya adalah

perancang busana muslim dari Timur Tengah.

Salah satu dampak positif pameran tersebut

adalah datangnya order mendesain dan

 

memproduksi seragam untuk sebuah islamic school.

Janamas diminta membuat pakaian seragam

 

dari TK hingga Perguruan Tinggi di Louisville,

Kentucky. Selain itu, Nani juga pernah tampil di

Moslem Journal dan Azizah Magazine.

Meskipun demikian Nani mengaku belum

ingin terlalu fokus untuk memasarkan produknya

 

ke luar negeri karena belum menemukan

cara untuk mengatasi masalah jarak dan biaya

pengiriman. Pemesan dari luar negeri biasanya

menginginkan baju bagus dengan harga murah.

Tetapi ongkos kirim ke luar negeri masih

sangat mahal. Hal ini menyebabkan harga

pokok menjadi sangat tinggi, terutama ketika

jumlah pesanan tidak terlalu banyak. “Kecuali

bila ada pesanan yang banyak sehingga bisa

menutup biaya kirim,” jelas Nani yang kemudian

memutuskan untuk fokus mengembangkan

usaha di dalam negeri.

MANAJEMEN USAHA

Banyaknya warga Tasikmalaya yang bekerja

sebagai penjahit, membuat Nani tidak kesulitan

 

untuk mencari tenaga kerja. Tanpa perlu

 

memberikan pelatihan khusus, Nani mampu

 

mendapatkan penjahit, tukang potong, dan tukang

bordir dengan mudah. Dengan demikian, Nani

hanya perlu membuatkan desain, sementara

produksinya langsung diserahkan sesuai bidang

keahlian mereka.

Urusan keuangan, diatur sendiri oleh Irfan

yang memiliki latar belakang pendidikan di

bidang akuntansi. Pernah juga Nani

 

mempekerjakan saudara sendiri untuk urusan keuangan.

 

Namun, hal ini tidak berlangsung lama

karena orang tersebut mengundurkan diri ketika

akan menikah.

Seperti yang terjadi pada hampir semua

usaha rumahan Indonesia lainnya, Nani yang

terjun langsung dalam pemilihan pegawai tidak

memiliki kriteria khusus dalam menenima pegawainya.

 

“Asalkan mau bekerja dan memiliki

tekad untuk belajar, mereka akan diterima

bekerja di sini,” tegasnya. Nani merasa tidak

perlu memikirkan apakah pegawainya memiliki

latar belakang pendidikan yang sesuai dengan

pekerjaannya atau tidak. Ia merujuk pada

dirinya sendiri yang menjadi desainer dengan

latar belakang pendidikan sastra Jepang.

Dengan sistem pembayaran sesuai posisi—

para penjahitnya diupah per potong, sementara

 

staf kantor diupah per bulan—Nani mampu

mengatasi masalah turnover para penjahit.

 

Dengan memberikan upah per potong, Nani dapat

dengan mudah mencari pengganti penjahitnya

yang mengundurkan diri secara tiba-tiba.

 

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, jumlah

penjahit di Tasikmalaya memang sangat banyak.

Meski harus sering berganti penjahit, Nani

mengaku tidak perlu memberikan pelatihan

khusus mengenai keterampilan menangani mesin

 

jahit terbaru. Saat ini Nani menggunakan

mesin jahit berkecepatan tinggi dan mesin

jahit biasa. Kedua jenis mesin jahit tersebut

dapat dengan mudah digunakan oleh para

penjahitnya. Mesin jahit berkecepatan tinggi

 

membantu para penjahitnya bekerja lebih cepat,

dengan demikian mereka mendapatkan upah

yang lebih tinggi. Sedangkan mesin jahit biasa

digunakan untuk memproduksi busana muslim

wanita yang memerlukan kehati-hatian dan

banyak detailnya.

Dalam dunia usaha, khususnya UKM yang

bergerak di bidang ekonomi kreatif seperti

fesyen, ternyata manajemen yang baik tak hanya

dibutuhkan pada sisi hulu atau produksi. Tanpa

manajemen yang baik dan tepat pada sisi hilir

atau pemasaran, diakui Nani bahwa usaha ini

akan lambat berkembang. Meski masih memilih

 

cara pemasaran konvensional, yaitu dari

mulut ke mulut, Nani dan Irfan merasa bahwa

pemasaran produk mereka memerlukan cara

cara yang lebih kreatif. “Intinya, marketing

konvensional boleh saja tetap dipakai namun

dengan cara kreatif,” kata Nani.

 

Ia kini tengah menyiapkan pemasaran

dengan menggunakan jasa internet. Namun

Nani yakin, selama perusahaannya mampu

memenuhi pesanan dengan kualitas yang baik

dan tepat waktu, maka para pelanggan tidak

akan pindah ke perusahaan lain dan nama baik

perusahaan pun tetap terjaga.

Nani juga menjelaskan bahwa perusahaannya

melayani pesanan dengan sistem first come first

served. Pesanan yang lebih dulu diterima akan

langsung diselesaikannya. Sementara untuk

sistem pembayaran, Nani memberlakukan dua

sistem. Sistem pertama adalah bayar di muka,

kemudian dilunasi ketika pesanan telah selesai.

Sistem kedua adalah pre order, setelah pesanan

 

disetujui, Nani langsung memproduksi

pesanan tersebut dan baru akan dibayar setelah

selesai. “Sistem pre order kami setujui asalkan

pemesannya merupakan perusahaan yang jelas

dan punya reputasi yang baik. Dan kami terlebih

dahulu membuat perjanjian yang jelas dengan

si pemesan,” jelas Nani mengenai bagaimana ia

memitigasi risiko penerapan sistem ini.

Secara garis besar, sisi manajemen Janamas

dan Averture menggunakan sistem manajemen

modern, tetapi mereka tetap menjaga hubungan

kerja yang dekat dengan pegawai sesuai adat

yang berlaku di Timur. Jadi, sembari membangun

 

sistem pengelolaan perusahaan yang

 

profesional, Nani dan Irfan tetap menjalin

hubungan kekeluargaan dengan seluruh karyawan.

 

“Kami sedang menyiapkan sistem agar

karyawan memiliki saham hingga 30 persen.

Bahkan mesin jahit pun kami serahkan kepada

mereka,” katanya. Dengan cara ini Nani dan

Irfan berharap karyawan betah bekerja di

tempat mereka.

Menurut Irfan, Janamas selalu berupaya

memperbaiki sisi produksi, pemasaran, dan

permodalan. “Kami mulai menerapkan QC

(quality control) yang dikerjakan oleh satu

orang saja,” kata Irfan. Usaha yang berdiri

dengan modal awal Rp 100 juta ini telah

mampu memproduksi 6.000 potong pakaian

 

per bulan. Omzet bersih usaha yang berlokasi di

Kompleks Perumahan Tajur Indah, Tasikmalaya

ini mencapai Rp 800 juta per tahun. Setelah

dikurangi ongkos produksi, keuntungan bersih

yang dicapai Janamas sedikitnya mencapai Rp

100 juta per tahun.

Pengusaha busana muslim yang sudah menerbitkan

 

buku panduan berbusana muslim

dengan judul “Inspirasi Berbusana Muslim” ini

ingin agar dalam 5-10 tahun ke depan, usahanya

 

mampu berdiri lebih kokoh. Tidak muluk-muluk,

Nani hanya ingin memiliki konveksi yang dapat

mewadahi para penjahitnya yang sebagian masih

 

bekerja di rumah masing-masing saat ini.

Selain itu Nani ingin memiliki outlet sendiri di

Tasikmalaya. Dan, tujuan utama Nani berusaha

adalah ingin dapat terus membantu wanita

muslim tampil modis. “Karena semua ini saya

lakukan dengan tujuan untuk berniaga di jalan

Allah,” ujar Nani bersahaja.

 

Catatan Rhenald Kasali

SEPERTI KIKI GUMELAR, Nani Oktaviani dan suaminya yang mengawali kariernya

 

di dunia kerjä, juga pulang kampung yang satu pulang ke Garut, yang satunya

 

ke Tasikmalaya. Mereka memilih bisnis yang didukung oleh lingkungannya

 

sehingga tidak tarlalu sulit memu1ai, mempertahankan pertumbuhan, mencari

 

pegawai, membeli bahan baku, dan seterusnya.

Tentu saja hal seperti ini tidak berlaku sama pada setiap orang. Belum

 

tentu Anda barasal dari kampung yang memiliki daya dukung lingkungan

 

saperti Garut. Tasik adalah gudangnya pengusaha konveksi khususnya bordir.

Anda tinggal menyebut, ribuan tukang jahit akan datang. Demikian juga bahan

 

baku dan pembeli. Anda punya akses yang luas untuk membuat usaha jahitan

 

Anda menjadi produktif.

 

Demikian juga dengan Garut. Selain sebagai daerah wisata, penduduk Garut

 

terbiasa membuat pangan dodol dan jajanan wisata. Daya dukung pertanian dan

 

alamnya sangat kaya. Kota ini juga memiliki jendela pasar yang mudah

 

diakses.

Yagyakarta, Solo, Sleman, Plered, Cirebon, Pekalongan, Lombok, Bali,

 

Pontianak, Makassar, dan banyäk kota lainnya juga punya potensi yang sama

 

Anda tinggal mencocokkan minat dan keterampilan Anda pada potensi yang

Tersimpan di kota-kota tersebut, Selebihnya 90% keberhasilan ada di sana.

 

Anda tentu tidak harus mendaptakan sesuatu yang baru sama sekali. Seperti

 

kata pepatah we don’t have to reinvent the will.

Namun demikian, Anda perlu menyegarkan industri yang sudah ada. Sebab

 

Perilaku-perilaku usaha di kampung itu sudah puluhan tahun berada di sana

 

Dan, mereka saling meniru satu sama lain, mencocokkan produksi

dan pemasaran dengan yang dilakukan tetangga-tetangganya. Demikian terus

 

selama bertahun-tahun mereka melakukannya bersama-sama, bersaing dan

 

bekerja sama. Mereka lupa suatu ketika konsumen pun berubah.

Konsumen jenuh dengan barang yang sama terus-menerus. Selera pasar berubah,

 

menunggu sang pembaru.

Oleh karena itu, pulanglah ke kampung dan perbaruilah apa yang sudab ada.

 

Di sana semuanya sudah ada. Anda tinggal memperbaruinya.

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Atik, Modal Awalnya Cuma 50 Ribu, Tapi Kini Usaha Bordirnya Sukses Raup Omzet Miliaran dan Menembus Hingga Rusia

Atik Jumaeli, Mengibarkan Bordir Tasik Hingga ke Rusia

Mengawali usahanya di bidang bordir

Tasik dengan modal Rp50 ribu dan satu

Mesin jahit, kini Atik Jumaeli mampu

membawa produk andalan usaha Dewì

Bordir memimpin pasar di kelasnya.

Bahkan dia mampu menggelar produk-

produk bordirnya di berbagai negara,

mulai dari Singapura hingga Rusia.
Waktu sudah menunjukkan pukul

20.00. Kota Tasikmalaya sudah mulai sepi.

Hj. Siti Atikah Huzaemah Jumaeli, pemilik

usaha Dewi Bordir, sudah menutup tempat

usahanya yang terletak di Jalan

Panunggal No. 64, di samping Asrama Polisi

Bojong, Tasikmalaya. Namun malam itu Dewi

Bordir kedatangan tamu, seorang perempuan

dan laki-laki. Kepada perempuan yang lebih

dikenal sebagai Atik Jumaeli itu, sang tamu laki-

laki mengaku bernama Gam Aceh.

Menerima tamu pada malam hari, apalagi mengaku

bernama Gam Aceh, membuat Atik merasa kecut hatinya.

Atik baru merasa sedikit tenang ketika sang tamu

Mengaku sebagai pengusaha jasa pengiriman paket di

Jakarta. Tamu itu memberitahukan bahwa

dari pengalaman menjalani usahanya, nilai

pengiriman paket Dewi Bordir menduduki

tempat tertinggi sehingga hidung bisnis Gam

menuntunnya untuk melihat sendiri usaha Dewi Bordir.

Kepada Tuan Gam, Atik menjelaskan perihal

usahanya. Setelah melihat-lihat produk Dewi

Bordir, Tuan Gam memesan sepasang baju

bordir. Namun tak lama kemudian, Tuan Gam

menelepon seseorang dan memberikan kejutan

dengan memesan 500 pasang baju bordir serupa.

Konon, pemesanan itu berkaitan dengan sebuah

rencana pernikahan di Kerajaan Kelantan, Malaysia.

Atik terkejut bukan karena ia tak biasa menerima

banyak pesanan. Masalahnya, Tuan Gam meminta

pesanan itu selesai dalam waktu

satu setengah bulan. Apalagi Tuan Gam juga

langsung memberikan uang muka sebanyak Rp

120 juta yang dibayarkan dua kali. Total harga

untuk 500 pasang baju bordir itu Rp 360 juta.

“Sesudah tamu kami pulang, saya hanya

berpikir bagaimana cara mendapat bahan yang

cocok. Paginya saya bangun subuh, salat, dan

mengaji. Saya berdoa, memohon petunjuk untuk

bisa dapat bahan sutra nomor satu,” tutur Atik.

Selanjutnya hari-hari Atik dipenuhi oleh

usaha jungkir-balik untuk mendapatkan bahan

sutra organdi sesuai pesanan. Untuk

mendapatkan bahan itu Atik berpikir bahwa

Jakarta-lah tempatnya. Namun setelah berkeliling

Jakarta dengan susah payah dan keluar

masuk Pasar Majestik, Tanah Abang, serta Pasar

Baru, hasilnya nihil.

“Setelah empat hari berputar-putar di Jakarta
saya cuma bisa merasa kecewa dan sedih.

Beberapa kali ditilang polisi karena salah jalan.

Akhirnya saya pulang ke Tasik dengan menangis,

kecewa, dan bingung. Uang ini mau diapakan?”

kenangnya.

Sekembalinya ke Tasik, Atik mengontak

relasi bisnisnya di Pekalongan dengan harapan

bisa memberikan informasi. Tak sampai seminggu

datang kabar yang sedikit menghibur.

Atik dikenalkan pada seorang pemilik bahan.

“Alhamdulillah orangnya mau menerima. Tapi

masih ada masalah. Bahan untuk bawahan

belum ada. Saya harus pergi lagi ke Bandung

untuk mencari bahan bawahan,” tuturnya.

Di Bandung dia mendatangi enam pabrik.

Namun, hingga pabrik keenam Atik hanya

memperoleh informasi bahwa bahan itu harus

diimpor dari Cina. “Saya sedih sekali. Sudah

hampir sebulan waktu terbuang hanya untuk

mencari bahan tapi tetap nihil,” tutur Atik lagi.

Kejadian seperti di Bandung menimpa lagi

ketika Atik bergerak ke Majalaya. Rasa putus asa

mulai menghampirinya.

Lalu, dari salah satu pabrik, ada orang yang

Memberitahu bahwa bahan itu bisa dibuat dengan

cara menenun benang sutra yang dicampur

bahan sintetis. Atik langsung berbelanja benang

sutra kemudian menyerahkannya ke pabrik

tersebut untuk dibuat kain tenun. Akhirnya

bahan sutra pun jadilah. Tapi masalah baru

datang, pewarnaannya mengalami kegagalan.

Atik hampir menyerah.

Dalam kondisi hampir putus asa, Atik pergi

lagi ke Bandung untuk memesan bahan sutra

impor. Tapi Atik diminta menunggu satu bulan.

Mendengar jawaban itu Atik hanya bisa pasrah

sambil menunggu keajaiban. Ternyata keajaiban

itu benar-benar datang. Bahan itu datang.

Namun ia harus mewarnainya lebih dulu.

Jadilah selama seminggu dia hampir tak tidur

untuk mendapatkan warna yang pas. “Waktu

cuma tinggal sisa 11 hari. Pewarnaan perlu tiga

hari,” kenang Atik.

Akhirnya, bahan gulungan sepanjang

1.280 m hasil celupan itu bisa dibawa pulang

dan dikerjakan tanpa kenal waktu dan lelah.

Pekerjaan sangat berat dan sulit itu akhirnya

beres. Kurang satu hari dari waktu yang

ditentukan, Atik mampu membawa hasilnya

ke Jakarta dan menyerahkannya kepada Tuan

Gam. Tetapi ujian belum berakhir juga. Sesampainya

di Jakarta “kejutan” muncul lagi. Tuan

Gam meminta tambahan 50 pasang lagi. Atik

pun menyanggupinya.

Anda mungkin deg-degan membaca cerita di

atas. Sudah kepepet waktu, uang sudah diterima,

bahan-bahan sulit dicari, sementara waktu berjalan

terus. Tetapi drama ini belum selesai.

Perjalanan dramatis untuk memberikan pelayanan

yang terbaik bagi pelanggan barunya

memang hampir berakhir. Setelah semuanya

beres, “kejutan” terakhir datang. Kali ini berkaitan

dengan hitung-hitungan hasil jerih payahnya

selama satu setengah bulan. Semula

dia menghitung keuntungannya bisa mencapai

Rp 80 juta. Namun di ujung hari, ternyata Atik

hanya memperoleh keuntungan Rp 20 juta

ditambah sisa baju. Apa reaksinya?

“Ya, saya merasa kecewa. Tapi saya tetap

merasa bersyukur karena bisa mengatasi tantangan

dan menjaga kredibilitas Dewi Bordir,”

tutur Atik mengakhiri kisah yang tak pernah dia

lupakan seumur hidupnya. Atik mengaku peristiwa itu

menjadi pembelajaran untuk ‘naik kelas’

di dunia usaha yang dia tekuni maupun hidupnya sebagai

pribadi.

JATUH BANGUN DARI TITIK “NOL”

Atik Jumaeli boleh jadi tak akan lulus menghadapi

“ujian” yang datang dari orang seperti

Tuan Gam, andai saja ia belum teruji. Perempuan

Tasik ini sudah kenyang dengan pengalaman

jatuh-bangun sejak memulai usahanya dari nol.

Atik merintis Dewi Bordir pada tahun 1991, ketika

suaminya, Jumaeli, masih aktif bertugas sebagai

polisi berpangkat inspektur satu di Poires

Tasikmalaya. Sebagaimana istri polisi pada umumnya,

Atik wajib menjadi anggota Bhayangkari, organisasi

istri Poiri. Saat itu Bhayangkari banyak

melakukan kegiatan bersama Dharma Pertiwi, organisasi

istri TNI. Salah satu program yang mereka jalankan
ialah kegiatan ekonomi produktif, di mana

para anggota Bhayangkari dan Dharma Pertiwi diberi

fasilitas permodalan dan alat kerja. Atik termasuk

anggota Bhayangkari yang menerima modal sebesar Rp 50 ribu

dan satu unit mesin jahit untuk usaha kain bordir.

Usaha ini menjadi pilihan karena Tasik dikenal

sebagai kota industri kerajinan kain bordir.

Bahkan bordir telah menjadi salah satu identitas

masyarakat Tasik, selain anyaman mendong.

Hasil laporan Pusat Penelitian dan Pengembangan

Kebudayaan, Badan Pengembangan Sumber Daya Budaya

dan Pariwisata, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI

menunjukkan bahwa industri kain bordir di Tasik terus

memperlihatkan perkembangan yang signifikan,

bahkan ketika Indonesia mengalami krisis

ekonomi tahun 1997 hingga selepas tahun

2000. Dari delapan kecamatan yang ada di

Tasik, empat di antaranya bergerak di bidang

usaha pembuatan kain bordir, yaitu Cibeureum,

Cipedes, Mangkubumi, dan Kawalu.

Pada tahun 2005, terdapat setidaknya 1.092

unit usaha bordir yang melibatkan 10.380 perajin.

Kecamatan Kawalu tercatat sebagai wilayah

yang memiliki pelaku usaha kerajinan bordir

paling banyak, yaitu 87,7 persen dari total perajin

bordir di Tasik. Di kecamatan ini, terutama di

Desa Tegalsari, terdapat banyak pengusaha kain

bordir berskala besar seperti Thratex, Purnama,

Ciwulan, Haryati, dan Bunga Tanjung. Total

produksinya mencapai 7,2 juta potong per tahun.

Nilai produksi bordir di Tasik telah mencapai

angka lebih dari Rp 500 miliar dan mampu

menyerap ribuan tenaga kerja.

Pada dekade 1990-an ketika Atik memulai

usahanya, produk bordir Tasik telah jauh berkembang

dibandingkan dekade-dekade sebelumnya. Saat itu

produk bordir didominasi oleh busana muslim, termasuk

baju garnis, mukena, jilbab, baju koko, dan kopiah.

Jauh sebelumnya, yakni pada dekade 1960-an, jenis bordir

yang dihasilkan hanyalah kebaya dan pakaian tradisional

Cina karena pemesan produk ini kebanyakan kalangan

etnis Tionghoa. Sejak dekade 1970-an, setelah mesin

bordir bertenaga listrik muncul di Tasik, jenis produk

bordir yang dihasilkan pun meluas ke jenis kain untuk

interior ruangan (home interior), seperti seprai,

taplak meja, gorden, dan lain-lain. Namun

pada dekade 1980-an jenis kain bordir yang

diproduksi mulai bergeser ke busana muslim

yang kemudian berkembang hingga kini.

Ketika mulai merintis usahanya itu, Atik

belum pernah menjalani satu jenis usaha pun.

Sebelum menikah dengan Jumaeli, Atik adalah

karyawan sebuah kantor konsultan hukum.

Namun Atik bukan pribadi yang asing dengan

dunia jahit-menjahit. Anak kelima dari 10 bersaudara

H. Saun dan Hj. Sitj Huzaemah ini tumbuh dalam keluarga

penjahit pakaian wanita. Ibunya dikenal sebagai penjahit

kebaya di Cikalong, Tasik. Selain itu Atik sendiri

pernah mengambil kursus menjahit selama 6 bulan di

tempat kursus ‘Abadi’ di Tasik.

Meski demikian, Atik mampu mengembangkan kemampuannya

menjadi sesuatu yang menghasilkan bermodalkan

kemauan bekerja keras, disiplin, ulet, dan kreatif.

Karakter-karakter seperti itu merupakan modal

penting bagi mereka yang ingin terjun di

bidang kerajinan. Selain itu, yang tak kalah

pentingnya adalah intuisi bisnis yang tajam

dalam menangkap pasar. “Usaha kerajinan bordir

memang menuntut pelakunya gigih, ulet, tekun,

dan kreatif. Orang-orang seperti itulah

khususnya kaum perempuan, yang membuat Tasik dikenal

sebagai kota bordir,” katanya. Sejumlah sumber menyebutkan

bahwa dari tangan orang-orang seperti itulah, lahir kain

bordir bermotif alam, terutama flora, yang indah dan

menjadi ciri bordir Tasik.

Sadar sebagai pemula, Atik menjalani usahanya dengan sabar

dan tekun hingga tahun pertama usahanya

terlewati. Memasuki tahun kedua, Atik terus

bergerak perlahan namun pasti, sementara para

koleganya yang dulu sama-sama memperoleh

modal seperti dirinya mulai berguguran. Selepas

tahun kedua, perjalanan usaha Atik semakin mantap.

Pada tahun 1996, Atik ingin Dewi Bordir

memiliki badan hukum. Lahirlah kemudian CV

Dewi Nugraha. Atik juga mendapatkan suntikan

modal dari hasil arisan sebesar Rp 500 ribu.

Dana itu dia gunakan untuk membayar uang

muka mesin jahit baru merek Zuki seharga Rp

3,5 juta. Sisa utangnya dilunasi dengan mencicil.

Namun perjalanan usaha Dewi Bordir

tidak selalu mulus. Pada tahun 1997 usaha ini

pernah jatuh. Ketika itu, Dewi Bordir menerima

pesanan 1.000 lusin tatakan dan tutup gelas

senilai Rp 67 juta. Tetapi krisis ekonomi yang

meluluhlantakkan Indonesia mengakibatkan

uang hasil pesanan tersebut tak tertagih. Kondisi

Dewi Bordir pun sempat terganggu.

Hal serupa juga terjadi pada 2007, ketika

Dewi Bordir menerima pesanan busana bordir

sebanyak 400 pasang untuk dikirim ke Brunei.

Pesanan sempat membengkak menjadi 550 pasang

namun hanya 400 pasang saja yang dibayar

sehingga Dewi Bordir tekor hingga Rp 45 juta.

Nasib nahas lainnya juga harus menimpa

Dewi Bordir. Suatu hari karyawan Dewi Bordir

menerima pengembalian barang yang sudah

dibeli orang. Namun setelah dibuka dan diteliti,

ternyata yang dikembalikan itu bukanlah produk

Dewi Bordir. “Dewi Bordir ketiban nahas akibat

kelakuan yang enggak sehat dari orang lain,” ujarnya.

Selain itu Dewi Bordirjuga pernah melakukan

kesalahan pengukuran ketika mendapatkan

pesanan baju koko sebanyak 20 kodi sehingga

harus menanggung semua kerugian. “Pernah

juga kami kena provokasi yang menyebut produk

kami mahal,” kata Dewi mengenang berbagai

peristiwa yang menimpa Dewi Bordir.

Sebagai lembaga bisnis dengan 30 orang

karyawan dan lebih banyak lagi karyawan

musiman pada saat pesanan meningkat, Dewi

Bordir tak luput dari gesekan internal. Umumnya

gesekan terjadi karena keluarga atau para

karyawan yang terlibat dalam bidang produksi

saling bersikukuh bertahan dengan tren yang

akan dilansir.

“Saya tipe orang yang suka bereksperimen

memasukkan produk-produk nonkonvensional

dan mencoba bertahan dengan sikap saya.

Mungkin itu yang sering menimbulkan gesekan,

baik dengan keluarga maupun karyawan,” katanya.

Namun Atik Jumaeli meyakinkan bahwa

setiap Dewi Bordir menghadapi masalah dari

luar, hal pertama yang mereka lakukan adalah

berusaha tidak panik dan saling menyalahkan.

“Kuncinya sadar dan sabar. Lalu bersama-sama

mencari penyebabnya dan bersama-sama juga

mencari jalan keluar,” katanya.

MENGELOLA SUMBER DAYA MANUSA

Sebagaimana dunia usaha bordir di Tasik pada

umumnya, Dewi Bordir juga harus menghadapi

masalah dari dalam berupa masalah tenaga

kerja. Walau mesin bordir dan mesin jahit

yang digunakan belum mengalami pembaruan

teknologi, tetapi pelatihan menggunakan

mesin tersebut tetap harus dilakukan pada

karyawan baru. “Tergantung, kalau karyawan

sudah memiliki pengetahuan cukup tentang menjahit,

maka gampang dilatih. Tetapi karyawan yang masih

baru sama sekali, memang agak

sedikit sulit,” jelas Atik.

Upah tenaga kerja berpengalaman di industri

bordir di Tasik mencapai Rp 1,2 juta

per bulan. Sementara UMR di Tasik hanya sebesar

Rp 680 ribu per bulan. Oleh sebab itu

mudah dijumpai karyawan yang keluar-masuk. “Kami

sadar bahwa di dunia bordir karyawan mudah

sekali keluar masuk. Dewi Bordir tidak

sendirian,” kata Atik seraya menduga banyak pengusaha

bordir tidak membuat kontrak kerja dengan karyawannya.

“Mungkin karena usaha bordir masih luas,” Atik

Menambahi keterangannya.

Untuk membuat orang merasa kerasan bekerja di Dewi

Bordir, Atik membangun pola hubungan kerja yang

manusiawi dan berusaha memberikan lebih kepada

karyawannya. Selain upah yang lebih tinggi dari UMR,

Atik memberikan insentif bagi mereka yang bekerja lebih.

Atik juga memberikan kesempatan kepada karyawan yang

ingin mandiri. Dari 30 karyawannya, ada tujuh orang yang

telah mandiri. Atik merasa bangga kepada mereka karena

pola pikir mereka memang melebihi dirinya. “Karena itu

saya sangat mendukung mereka. Malah saya mendorong mereka

untuk berani mengajukan bantuan modal ke bank bjb. Saya

katakan ‘Ibu jadi jaminannya’,” ujar Atik bangga.

Dengan cara tersebut Atik yakin bahwa hubungan Dewi Bordir

dengan mantan karyawan akan tetap terjaga. Apalagi di dunia

bordir situasi saling membutuhkan memang sangat tinggi.

Dewi Bordir akhirnya membuat anak usaha berupa lembaga

kursus atau pelatihan membordir, khusus bagi kaum muda Tasik.

Lembaga ini didirikan demi tersedianya sumber daya manusia

atau tenaga terampil di bidang bordir yang dapat diandalkan

untuk masa depan. Tempat kursus ini berada di bawah CV Dewi

Nugraha, badan hukum yang menaungi usaha Dewi Bordir.

Kegiatan kursus di Dewi Bordir ini dibagi menjadi dua kelas,

yakni kelas besar dan kecil. Kelas besar berisi 75 peserta setiap

angkatan dengan masa kursus selama tiga bulan. Dalam satu

tahun Dewi Bordir mampu menyelenggarakan tiga kali pelatihan.

Sedang kelas kecil terdiri dari 20 peserta dengan

masa kursus satu bulan. “Tempat kursus ini kami dirikan untuk

mendidik generasi muda agar mereka punya

kemampuan membordir sekaligus menciptakan

generasi penerus seni bordir Tasik. Ini juga

untuk membantu pemerintah mengurangi pengangguran,” kata Atik.

Melalui lembaga pelatihan ini Atik bersama

keluarga dan karyawan Dewi Bordir membuktikan bahwa

mereka benar-benar mampu melahirkan sumber daya manusia

yang andal di bidang bordir sehingga masyarakat dan

pemerintah pun memercayainya. Hal itu terlihat pada

banyaknya peserta kursus serta kepercayaan

yang diberikan Dinas Perindustrian dan Perdagangan

Kota Tasikmalaya, juga beberapa BUMN untuk menjalin

kerjasama dengan CV Dewi Nugraha. Dalam kerja sama ini

instansi atau perusahaan menyediakan dana, sementara

Dewi Bordir bertanggung jawab atas proses pelatihannya.

Program ini sebenarnya merupakan beasiswa

bagi anak-anak muda. Para siswa yang mengikuti program

ini tidak perlu membayar uang kursus. Sebaliknya,

mereka bahkan mendapat uang saku sebanyak Rp 30 ribu per hari.

Selama tiga bulan, mereka mengikuti tiga tingkat pelatihan,

yaitu: tingkat dasar, tingkat terampil, dan

tingkat mahir. Para siswa yang lulus umumnya

sudah siap ditampung oleh perusahaan-perusahaan

bordir yang membutuhkan. Perusahaan bordir kain yang

membutuhkan tenaga kerja pun hanya perlu menghubungi

Dewi Bordir. Dewi Bordir juga kerap menjadi tempat magang

atau PKL (Praktik Kerja Lapangan) bagi pelajar

SMK dan perguruan tinggi. Banyak sekolah dan

kampus mengirimkan anak didik atau mahasiswa

mereka agar bisa menjalani masa magang atau PKL di sini.

KEJELIAN MEMILIH PRODUK ANDALAN

Seraya menjalani usahanya, Atik menyempatkan

diri untuk meningkatkan berbagai keterampilan yang

menunjang bisnisnya. Dia rajin mengikuti pelatihan

pemasaran dan manajemen.

Di samping itu Atik juga terus mengasah bakat

menggambarnya yang sangat mendukung usahanya,

terutama dalam menciptakan desain barang-barang

yang akan diproduksi.

Secara sekilas tatakan dan tutup gelas bordir

berdiameter lima hingga delapan sentimeter

sebagai produk andalan Dewi Bordir tampak

sederhana. Namun Atik mencoba memberikan

nilai tambah, yakni sulam timbul. Selain itu

Atik juga menciptakan produk serupa berbahan

perca. Semua produknya tampil dengan motif

bunga atau bintang berwarna-warni.

Meskipun sederhana, tatakan dan tutup gelas

justru menjadi pemimpin pasar untuk seluruh

produk Dewi Bordir, bahkan produk serupa di

Tasik. Produk-produk ini juga membawa Tasik

memperoleh kebanggaan. Sebab, tatakan dan

tutup gelas Dewi Bordir menjadi salah satu

produk UKM Tasik yang diekspor. Prestasi ini

menjadikan Dewi Bordir sebagai UKM yang

banyak memperoleh fasilitas dari pemerintah

atau lembaga lain.

Atik tentu bukan sosok yang naif. Ia tidak

ingin Dewi Bordir memenjarakan diri dengan

hanya memproduksi tatakan dan tutup gelas.

Dewi Bordir juga memproduksi produk bordir

lain yang diminta pasar seperti sarung bantal

termasuk untuk bantal kursi—taplak, tas,

batik, serta busana muslim dan kelengkapannya.

Bahkan Atik juga berhasil membawa Dewi

Bordir melahirkan produk busana yang kerap

tampil dalam acara peragaan busana, yaitu

busana muslim, busana resmi, dan busana

Sunda kontemporer. Saat ini Dewi Bordir

mampu memproduksi 500 baju bordir pesanan

hanya dalam waktu 2 bulan. Rentang waktu tersebut

sudah termasuk dari waktu perancangan,

mencari bahan, hingga waktu produksi.

Pengalaman menjalani usaha dari bawah

ternyata membuat intuisi bisnis Atik Jumaeli

terlatih membaca pasar. Hal ini melandasi Atik

saat memilih tatakan dan tutup gelas menjadi

produk andalan Dewi Bordir. Awalnya, Atik

memasarkan produk-produk tersebut pada

acara-acara arisan, bazar, dan pameran yang

melibatkan ibu-ibu anggota Bhayangkari dan

Dharma Pertiwi di Tasik. Setelah mulai di

kenal, Dewi Bordir tampil secara rutin pada

ajang serupa di Tasik maupun kota-kota lain di

Jawa Barat.

Pada tahun 2003, ketika produksi bordir di

Tasik telah mencapai angka Rp 300 miliar, Dewi

Bordir juga mengalami perkembangan. Pasarnya

bukan hanya ada di dunia arisan atau pameran,

melainkan pasar sesungguhnya. Kejelian menangkap

pasar dan cara memasarkan produk,

membuat Jakarta dan sejumlah kota lain mulai

mengenal produk Dewi Bordir.

KELUARGA DAN PENGEMBANGAN USAHA

Di balik sosok yang sukses selalu ada pendukung yang

hebat. Para pendukung itu pula yang selama ini

membuat Atik selalu merasa bersemangat

dan gigih dalam menjalani usahanya.

Jumaeli, suaminya, menurut Atik adalah sosok pendukung

yang hebat. Di luar tugasnya sebagai anggota Poires

Tasik, Jumaeli selalu siap memberikan bantuan dan dukungan

nyata yang dia perlukan. Demikian pula keempat anak

mereka, Budi Mulia, Dewi Fuji Fitriarti, Cecep Ibnu, dan

Jajang Nugraha. “Saya merasa menjadi lebih

bersemangat karena suami dan anak-anak sangat mendukung

usaha ini,” tuturnya. Budi, anak pertama, setelah lulus

kuliah banyak membantu di bidang pemasaran. Demikian

pula Dewi yang masih kuliah di Sekolah Tinggi Tekstil Bandung.

“Bahkan saya dan bapaknya berharap mereka bisa bekerja

sama melanjutkan usaha ini menjadi lebih besar lagi,”

katanya.

Khusus tentang Budi, Atik berterus terang

sangat memerlukan tenaganya, terutama saat

Atik harus mengikuti pameran di luar negeri.

Sebab sudah sejak beberapa tahun terakhir

Dewi Bordir kerap melakukan pameran di luar

negeri. Bahkan, untuk beberapa negara pameran

telah berlangsung secara rutin. Di Malaysia,

misalnya, Dewi Bordir telah melakukan pameran

sebanyak lima kali, di Singapura sudah

berlangsung tiga kali, di Brunei dua kali, dan di

Dubai sekali.

Pada April 2011 Atik melakukan pameran

lagi ke sejumlah negara, yakni Arab Saudi,

Jerman, dan Rusia. “Jadi meskipun hanya

tatakan dan tutup gelas, produk Dewi Bordir

sudah pernah berjalan-jalan ke luar negeri.

Malah sebagian sudah menetap di luar negeri,”

katanya berseloroh.

Karena kinerjanya itu pula, pada tahun

2006 usaha ini terpilih sebagai salah satu

UKM yang mendapatkan fasilitas permodalan

dari bank bjb. Meskipun enggan menyebutkan

jumlahnya, Atik mengakui dana tersebut ikut

membantu usahanya lebih berkembang dan

mampu membayar pinjaman dengan disiplin.

Adapun cara pembayarannya pertama adalah

dengan selalu membayar bunga pinjaman setiap

bulannya. Sementara pembayaran pinjamannya

dilakukan ketika mendapatkan untung dari pesanan besar.

Dewi Bordir sempat memperoleh pinjaman

modal lagi. “Tapi selanjutnya kami tak ingin di

pinjami lagi karena sudah punya modal sendiri

dari usaha yang ada,” ujar Atik. Kedisiplinan

adalah kunci lancarnya pembayaran pinjaman

Atik ke bank.

Dengan dukungan keluarga dan karyawan, Atik

juga telah mengantar Dewi Bordir

menerima sejumlah penghargaan sekaligus

kemudahan. Selain sering menerima fasilitas

pameran secara gratis, Dewi Bordir juga menerima

fasilitas berupa ruko di Asia Plaza, Jalan

Hajat Mustofa nomor 8, Tasikmalaya. “Saya sangat

menghargai tempat ini karena ini fasilitas yang

kami dapat setelah produk-produk Dewi Bordir

terpilih sebagai produk unggulan bordir Tasik,”

katanya.

Atik juga mengakui bahwa perhatian pemerintah

cukup membantu. Dewi Bordir sering

mendapatkan fasilitas pameran, baik di tingkat

lokal, nasional, maupun internasional. Selain

pameran, Presiden pada masa itu, Megawati

Sukarnoputri, memberikan penghargaan berupa fasilitas

HAKI pada produk Dewi Bordir yang telah mampu

memproduksi barang yang memiliki nilai tradisional

khas Indonesia. Dari usaha kerasnya dan berhasil

mendapatkan penghargaan itu, omzet yang dicapai

Dewi Bordir mencapai sekitar Rp loo juta per

bulan atau lebih dari Rp 1 miliar per tahun. Dan,

dari omzet tersebut Atik meraih keuntungan

bersih sebesar 20 persennya.

MENYIAPKAN PASAR KE DEPAN

Pengalaman mengelola usaha selama bertahun-

tahun dan kejelian Atik Jumaeli membaca pasar

telah membawa Dewi Bordir pada posisi harus

mampu memilih segmen pasar yang tepat.

Menurut Atik, Dewi Bordir sedang merintis

jalan untuk masuk ke segmen pasar menengah

ke atas. Alasannya, “Di segmen ini kondisinya

lebih stabil,” katanya.

Atik mengaku sangat sadar bahwa di segmen

ini dia akan menghadapi pemain yang hebat-

hebat. Untuk memenangi pasar dia terus meningkatkan

pengetahuan dan keterampilan.

Selain itu Dewi Bordir gigih menciptakan desain-

desain baru yang sesuai dengan tuntutan pasar.

“Untuk tahu pasar kami mencari informasi dari

internet atau majalah,” ujarnya.

Namun Atik juga berusaha profesional dan

memegang etika usaha. Dalam membuat desain,

misalnya, Dewi Bordir tidak mau menjiplak

karya orang lain. “Kalaupun terpaksa harus

mengikuti tuntutan pasar, kami melakukan

modifikasi atas tren yang sudah ada,” tuturnya.

Terkait bahan-bahan yang diperlukan, pada

umumnya usaha kerajinan bordir di Tasik jarang

mengalami kendala. Bahan dasar yang banyak

digunakan dalam usaha bordir di wilayah ini

ialah sutra. “Untuk bahan dasar, selama ini

masih bisa didapat dengan mudah,” ujar Atik.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tasikmalaya

menyebutkan bahwa untuk bahan baku

kain dan benang bordir, para pengusaha memperolehnya

dari sejumlah pabrik yang ada di

Bandung, Jepara, dan Pekalongan. Sebagian besar

menggunakan produk lokal, hanya sebagian

kecil yang diimpor dari negara lain.

Namun menurut Atik, jika pengusaha bordir

menerima pesanan mendadak dalam jumlah

besar, sementara bahan tidak mudah didapat di

Indonesia, maka mereka jelas kelabakan. “Jangan

sampai para pengusaha bordir menghadapi

masalah yang pernah saya alami. Cukup saya

saja yang menghadapi pengalaman seperti itu,”

katanya merujuk pada pesanan Tuan Gam yang

membuatnya kalang-kabut karena bahannya

sukar dicari di Indonesia.

Untuk urusan pemasaran dan promosi, Dewi

Bordir relatif tidak mendapatkan kesulitan.

Selain mempertahankan promosi dan mulut ke

mulut melalui ajang arisan, bazar, dan pameran,

Atik juga menempuh cara pemasaran yang

lazim ditempuh para pengusaha bordir Tasik

pada umumnya, yakni memasarkan sendiri ke

Jakarta dan beberapa kota lain. Sentra-sentra

pakaian di Jakarta, seperti Pasar Tanah Abang

dan Cipulir adalah sasaran mereka.

Namun, menurut data Dinas Perindustrian

dan Perdagangan, pengusaha bordir yang sudah

terkenal tidak perlu memasarkan sendiri karena

pemesan datang sendiri ke tempat usaha mereka.

Sebagian besar kain bordir mereka diborong oleh

para distributor, yang kemudian menjualnya

kembali ke kota-kota lain. Distributor juga

bertindak sebagai agen pengekspor kain bordir

ke negara-negara lain seperti Malaysia, Arab

Saudi, Brunei Darussalam, dan Yordania.

Para pengusaha kain bordir di Tasik juga telah

mendirikan organisasi Gabungan Pengusaha

Bordir Tasikmalaya (GAPEBTA). Di samping

membantu permodalan, organisasi ini juga bertujuan

membantu anggotanya mencari strategi

agar tercipta jaringan pemasaran produk.

GAPEBTA telah berhasil mencarikan kios-kios

bagi anggotanya untuk berjualan di berbagai

kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Solo, dan

Yogyakarta. Khusus untuk Jakarta, kios-kios

pengusaha dari Tasik dapat ditemui di Pasar

Tanah Abang. GAPEBTA memiliki anggota

hingga 8oo orang pengusaha kain bordir, dan

lebih dari separuhnya memiliki kios-kios di

kota-kota besar.

Namun Atik juga punya keyakinan bahwa

barang yang berkualitas selalu punya jalannya

sendiri untuk mencapai sasarannya. Oleh sebab

itu, selain terus berusaha memperluas pasar,

Atik juga sangat menjaga kualitas produknya.

Dengan sikap seperti itu, pasar Dewi Bordir terus

meningkat, dari lokal ke nasional, dan akhirnya

internasional.

Meskipun demikian, Atik tidak ingin semua

awak Dewi Bordir, termasuk dirinya, berleha-

leha. Mereka mulai belajar memanfaatkan

teknologi internet untuk mencari informasi dan

peluang memasarkan produk-produknya. Namun

sarana ini belum dimanfaatkan secara maksimal.

Dewi Bordir, misalnya, belum memiliki situs khusus.

Pada awal 2011 Atik merintis pembukaan

cabang Dewi Bordir di Season City, Jakarta

Barat, dengan tujuan membawa usaha ini

lebih profesional. Namun, seperti kata pepatah

‘setiap permulaan selalu sulit’, maka tampaknya

sampai saat ini dewi fortuna belum berpihak

pada Dewi Bordir. Karena masih sepinya mall

baru tersebut, Dewi Bordir mengalami kerugian,

sehingga cabang tersebut harus ditutup. Meski

demikian, kejadian tersebut tidak membuat

Atik putus asa. Ia masih memiliki satu cabang

lainnya di UKM Gallery, Smesco, Jakarta. Untuk

menjaga agar pasar tetap mencarinya, Dewi

Bordir menyewa konsultan manajemen untuk

melakukan quality control.

“Saya ingin maju seperti Dewi Motik

Pramono (mantan Ketua Umum Ikatan Wanita

Pengusaha Indonesia). Saya ingin membawa

Dewi Bordir menjadi perusahaan ekspor yang

maju,” demikian tutur Siti Atikah Huzaemah

Jumaeli mengakhiri kjsah perjalanan usaha

dan cita-citanya ke depan.
Catatan Rhenald Kasali

Salah satu syarat bagi pengusaha UMKM untuk naik kelas adaiah ‘berani dan

mau melakukan hal-hal yang sulit’. Anda mungkin masih ingat penstiwa

manusia yang mendarat di bulan pada 1969. Saat itu terbang ke bulan

suatu keniscayaan, tetapi di bawah J F Kennedy, Amerika Serikat berhasil

melakukannya.

Dalam suatu ceramah di Texas, Kennedy menjelaskan, “Ketika bangsa-bangsa

lain mengembangkan teknologi untuk mendaratkan manusia ka puncak gunung,

Kita justru memilih teknologi untuk mendaratkan manusia ke bulan. Mengapa

ke bulan? Jawabnya adalah karena pertama kita tidak ingin dilihat oleh

Rusia dari atas bumi kita dan kedua karena ini tidak mudah. Kita memilih

terbang ke bulan bukan karena mudah dan hanya bangsa yang mau

melakukan hal-hal yang sulit itulah yang akan menjadi bangsa yang hebat.”

Saya membuka kisah naik kelas Atik Jumaeli dengan keberaniannya menerima

order yang sulit sekali untuk ia penuhi. Orang-orang yang mengambil risiko

seperti ini adalah crang-orang yang mau bergerak dan mau berpikir.

Saya pikir orang-orang lain yang mendengar keluhannya akan mengatakan
‘Gila! Berani amat, sih mengambil risiko?”

Mayoritas manusia memang hanya mengambil langkah-langkah yang gampang dan
tidak berani mencoba sesuatu yang baru. Bahkan melakukan perjalanan ka luar
negeri pun harus bergerombol dan diantar orang yang sudah tahu lebih dulu.
Kalau sudah begitu, Anda jadi bisa duduk tenang yang artinya tak perlu
Berpikir. Santai.

Tapi Anda tak tahu banyak. Anda takut tersasar bukan? Kata Columbus “Orang-
orang yang tak berani kesasar tak akan pernah menemukan jalan baru.”

Demikianiah Atik Jumaeli naik kelas karena ia mau berpikir, rela kesasar
Tetapi ia menemukan cara-cara dan keberanian-keberanian baru. Bagi sebagian
orang, hal ini memang sangat meletihkan. Tetapi, itulah yang membuat

pikiran manusia mandapatkan tempat terhormat, di atas kepala. Ia menjadi
komandan karena aktif digunakan dan cermat memberi perintah. Seperti kata
pepatah ‘bukan kaki yang menggerakkan langkah kita, melainkan pikiranlah’,
Ayo, beranilah melakukan hal-hal yang sulit!

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Berbekal Fokus Menjalani Usaha, Try Atmojo Melejit Lewat Bisnis Distro ‘Raxzel’

Bisnis yang berhubungan dengan anak muda

memang tidak akan pernah mati. Tren anak muda

yang ingin tampil beda dan anti kemapanan akan

terus hidup dan berkembang. Kecenderungan itulah

yang dimanfaatkan para pebisnis distro untuk

meraih keuntungan.

Logika yang dipakai dalam bisnis ini memang

berbeda dengan logika bisnis lainnya. Kalau dalam

bidang fesyen lainnya, harga jual dikaitkan dengan

harga bahan baku, desain, teknik produksi, tingkat

kesulitan dalam menjahit, dan sebagainya, dalam

 

bisnis distro, semua logika itu seakan tidak dipakai.

Bayangkan saja, sebuah kaus dengan desain

minimalis dan harga pokok yang sangat minim pun

bisa dijual dengan harga selangit dan laku keras. Di

situlah misteri value yang membuat para anak

muda ini begitu gandrung dengan gaya

anti-kemapanan ini. ‘Serangan’ bisnis distro ini

bahkan telah membuat perusahaan garmen sejenis

kalang kabut dalam menghadapinya. Distro-distro

telah menggerogoti sebagian pasar mereka.

Potensi pasar yang amat segmented dan unik

ituiah yang ditangkap oleh Try Atmojo dalam

mengembangkan bisnisnya. Bermula dari

kebiasaannya untuk selalu tampil gaul, Try Atmojo

mencurahkan seluruh potensinya untuk

membesarkan bisnis distro yang khusus membidik

para kawula muda ini.

Saat ini Try Atmojo mengelola empat distro,

semuanya berlokasi di daerah Tangerang. Nama

yang dipakainya adalah 21 District dan Zero Label.

Salah satu outlet distronya yang bernama Zero

Label bahkan menempati lokasi strategis di

21-Junction UG#135 Supermall Karawaci Tangerang.

Selain menjadi agen untuk beberapa merek

produk distro kelas atas seperti Eat, Cuvai,

Skaters, dan Slack Id, Try Atmojo juga mempunyai

merek sendiri yang eksklusif karena hanya

dipasarkan di jaringan distronya. Berbagai produk

seperti t-shirt dan topi dengan merek Raxzel

(www.raxzel.com) yang diciptakannya kini telah

dikenal dan digemari para penggemar distro.

 

Kelebihan dari pasar distro adalah konsumen

tidak terlalu sensitif dengan harga. Asal produknya

unik dan bagus, mereka mau mengeluarkan berapa

pun untuk membelinya. Inilah yang membuat bisnis

ini cepat membuat kaya para pemainnya. Try

Atmojo sendiri sangat menikmati hasil dari bisnis ini.

Omzetnya terus meningkat dari waktu ke waktu.

Apalagi dia selalu melakukan inovasi produk yang

membuat para konsumen tertarik untuk

membelanjakan uangnya kembali.

Ibarat anak panah yang melesat dari busurnya,

begitulah yang tenjadi dengan bisnis distro yang

dikelola Try Atmojo saat ini. Walaupun kelihatannya

anak panah tersebut bisa melaju dengan kencang,

dalam penjalanannya anak panah tersebut selalu

bergesekan dengan angin. Gesekan dengan angin ini

bisa diibaratkan sebagai masalah atau hambatan

yang muncul di tengah jalan.

Selama menjalankan bisnis ini, Try Atmojo

mengakui banyak masalah sekaligus tantangan yang

harus dia dihadapi. Dia yakin semua pebisnis pun

pasti mengalaminya. Berdasarkan pengalamannya

selama ini, Try menyimpulkan bahwa semua masalah

yang muncul bisa dibagi menjadi dua, yaitu masalah

eksternal, yang timbul di luar kontrol kita, dan

masalah internal yang disebabkan oleh diri kita sendiri.

Yang pasti, semua solusi akan kembali kepada

diri kita, berat atau ringannya masalah tersebut

tergantung dari cara pandang kita. “Masalah justru

akan menjadikan kita tahan banting. Yang penting

 

bagaimana kita tetap fokus pada solusi dan bukan

pada masalahnya, tutur pria yang juga mempunyai

bisnis Chika Ponsel ini.

Dunia bisnis bagi Try Atmojo merupakan dunia

yang menantang. Setiap hari dia merasa mengalami

ketidakpastian seperti main game. Apalagi ketika

sedang menyiapkan cabang baru. Semua serba

belum pasti. Mulai dari belum pasti ramai, belum

pasti untung, belum pasti balik modal, dan belum

pasti lainnya.

Walaupun begitu, ketidakpastian tersebut bisa

diminimalisasi dengan berbagai persiapan yang

memadai. Mulai dari persiapan tempat, interior, stok

barang, dealing bersama supplier, rekrutmen SDM,

dan sebagainya. Seiring dengan pengalaman yang

semakin banyak, tentu saja hal itu akan menjadi

lebih mudah dan risiko kegagalan bisa dikurangi.

Try Atmojo mempunyai satu resep yang ampuh

untuk menghilangkan rasa takut akan ketidakpastian

 

tersebut. Dia selalu berusaha fokus pada apa

yang dia inginkan. Kedengarannya memang

sangat sederhana, tetapi ternyata resep tersebut

cukup jitu untuk mengalahkan rasa takut

atau keraguannya. Try Atmojo sering

mengatakan kepada diri sendiri, baik secara lisan

 

maupun dalam hati, apa yang sebetulnya

benar-benar dia inginkan, bukan apa yang tidak dia

inginkan. Dengan begitu otak bawah sadar pun

akan otomatis merespons dengan tindakan, atau

aktivitas yang mendukung ke arah apa yang dia inginkan.

Try Atmojo juga memaparkan bahwa hal penting yang

 

sering kita lupakan adalah kadang karena

kita terlalu sibuk dengan setumpuk rutinitas, hingga

melupakan tujuan akhir. Salah satu prinsip dalam

time management adalah bagaimana melakukan

aktivitas dengan efektif dan efisien. Tapi bagaimana

mungkin bisa efektif, kalau kita sendiri tidak tahu

tujuan dan aktivitas yang kita lakukan. Lebih celaka

lagi, jika kita tidak tahu sudah sejauh mana kita

berjalan, berapa kecepatannya, dan apakah kita

sudah menuju ke arah tujuan kita.

iadi antara aktivitas dan tujuan harus selalu

terpadu (integrated), pada jalur yang sama, hingga

berakhir pada tujuan yang sama pula, papar pria

yang juga bermain di properti ini.

Try Atmojo meyakini bahwa semua manusia

yang lahir di dunia ini sudah membawa satu aset

yang sangat berharga, yaitu waktu. Sekarang

tinggal cara kita memanfaatkannya untuk menuju

ke arah tujuan hidup kita. Sebagai manusia kita

tidak dapat memundurkan waktu, kita juga tidak

mungkin untuk mengulangnya. Yang bisa kita

lakukan adalah bagaimana kita bisa

memanfaatkannya seefektif mungkin.

jika kita ingin belajar sesuatu hal, pastikan

 

kita bertanya atau belajar pada orang yang pernah

mengalaminya, tutur pria yang selalu tampil gaul

ini. Mau ahli main golf, misalnya, tentu kita belajar

kepada orang yang ahli dalam bermain golf. Dengan

begitu, kemungkinan berhasil akan lebih cepat,

dibanding kalau belajar kepada orang yang belum

berpengalaman atau bukan ahlinya.

Begitu pun dalam bidang bisnis. Jika kita ingin

berbisnis dalam bidang tertentu, maka belajarlah

kepada orang yang terbukti sudah berhasil dalam

bisnis tersebut. Model pembelajarannya bisa dengan

cara bekerjasama dengan yang terbaik.

Lihatlah di sekeliling Anda, adakah orang-orang

yang menurut Anda paling berhasil di bidang yang

ingin Anda tekuni. Ajak mereka makan siang dan

galilah ilmu mereka, ungkap Try Atmojo

menjelaskan triknya.

Sebagai pengusaha, Try meyakini bahwa setiap

hari sebetulnya kita semua bertemu banyak

peluang. Orang yang hari ini kita temui mungkin

membawa peluang. Bus yang kita tumpangi, juga

membawa peluang. Beras mahal yang terjadi saat

ini, juga membawa peluang. Semua kejadian

random menciptakan banyak peluang. Orang-orang

tertentu ternyata lebih mampu menarik keuntungan

dan peluang itu. Semua itu tergantung dari cara

kita memandang kejadian tersebut.

 

Sama dengan istilah krisis, yang artinya bahaya

plus peluang, hanya orang-orang yang beruntung

 

yang dapat memanfaatkannya. Banyak

contoh kejadian yang telah kita saksikan. Krisis

ekonomi 1997 telah membawa mayoritas perusahaan dan

 

banyak orang pada situasi keterpurukan. Namun, ada

 

minoritas orang yang mengambil peluang pada saat tersebut,

 

dan terbukti sampai hari ini mereka luar biasa sukses.

Try Atmojo termasuk orang yang percaya bahwa

 

setiap manusia bisa meningkatkan

keberuntungannya. Dia juga menjelaskan bahwa

dengan kecerdasan aspirasi, kita menjadi peka

terhadap semua hal yang membantu terwujudnya

impian kita. Dengan kecerdasan spiritual kita yakin

bahwa kejadian yang tampak random itu

sebenarnya bukanlah random sehingga kita yakin

bahwa ask (doa) menjadi penting untuk menarik

keberuntungan. Sedekah menjadi penting untuk

menarik keberuntungan. Berbuat baik juga menjadi

penting untuk menarik keberuntungan. Dengan

kecerdasan emosi pula, kita mau menindaklanjuti

berbagai peluang yang terbuka. Kreativitas dan

kecerdasan intelektual juga membuat kita mampu

mengatasi problem-problem yang muncul dalam

setiap jengkal perjalanan.

keberuntungan itu seperti bermain sepak

bola kata pria kelahiran Yogyakarta ini. Dalam

bermain sepak bola, kita mempunyai tujuan yang

 

jelas, yaitu mencetak gol. Lalu sebagai pemain, kita

harus terus bergerak mencari posisi yang

menguntungkan. Suatu ketika bola mungkin akan

lewat di depan kita. Ini namanya keberuntungan.

Kita tendang bola tersebut, dan bisa jadi belum gol.

Lalu, kita berlari-lari lagi mencari posisi dan

menyiasati gerakan lawan. Ada saat di mana bola

melintas lagi di depan kita. Kita tendang bola

tersebut, dan akhirnya bisa gol juga.

Kalau kita mempunyai cita-cita (aspirasi), punya

 

semangat dan keyakinan (spiritual), punya

ketabahan (emosi), punya siasat (power), dan

punya kemampuan menendang ala David Beckham

(intelektual), maka kondisi lapangan dan permainan

saat itu bisa mendatangkan keberuntungan bagi kita.

Dalam mengembangkan bisnisnya, Try Atmojo

selalu memanfaatkan faktor leverage sebagai daya

ungkit atau faktor kali. Dia berpikir bagaimana

menggunakan dan memaksimalkan daya ungkit

tersebut agar kinerja bisnisnya lebih efisien, namun

memberikan hasil yang optimal.

Try Atmojo mencatat ada beberapa jenis

leverage yang bisa digunakan, antara lain:

1. Other People’s Money (Uang Orang Lain).

Dalam beberapa bidang, kita sangat terbantu

dengan OPM ini. Bagaimana tidak, kalau kita

seorang pengusaha, untuk mengembangkan

bisnis (buka cabang, membeli kios atau ruko,

dan lainnya) kita akan sangat terbantu oleh

perbankan atau investor. Contoh lain

 

misalnya, jika kita punya webstore, sangat

mungkin si pelanggan bayar lunas dulu, baru

kita carikan barangnya untuk segera kita kirim;

2. Other People’s Experience (Pengalaman Orang

Lain). Dalam menjalankan bisnis, akan jauh

lebih cepat akselerasinya apabila kita belajar

kepada orang lain yang sudah terbukti sukses

di bidang tersebut. Mungkin tidak harus belajar

atau ketemu langsung, kita bisa dengan

belajar melalui buku-buku atau sharing

pengalamannya. Hal ini akan sangat

menghemat waktu, dibandingkan jika harus

trial and error sendiri;

3. Other People’s Time (Waktu Orang Lain).

Tidak mungkin semua proses bisnis akan kita

tangani sendiri. Tim sangatlah penting, karena

ternyata masih banyak orang yang profesional

di bidangnya yang siap menjual waktu, skill,

dan pengetahuannya untuk membantu

mendongkrak bisnis kita;

4. Other People’s Idea (Ide Orang Lain). Peluang

dan ide bisa didapat dari mana saja, tapi

tahapan selanjutnya adalah seberapa cepat

ide tersebut dapat dieksekusi menjadi sebuah

bisnis yang menguntungkan;

5. Information Technology. Dunia terus bergerak

sangat cepat. Bagaimana kita memanfaatkan

kecanggihan alat-alat modern seperti ini? Saat

ini kita sangat bergantung pada produk IT ini,

mulai dari kalkulator, komputer dan

software-nya, e-mail, Internet, SMS gateway

 

dan sebagainya. Kita bisa memaksimalkan

teknologi ini untuk me-leverage bisnis kita,

karena dunia telah memasuki era baru. The

World is Flat & Borderless.

6. Media. Media bisa menjadi sarana yang paling

cepat dan instan untuk mendongkrak bisnis

kita, baik itu media cetak, elektronik, Internet,

maupun media lainnya. Sudah banyak bukti

yang menunjukkan betapa sebuah bisnis bisa

langsung melejit, begitu diekspos oleh media

massa. Yang terpenting dalam hal ini adalah

siapa yang kenal kita, bukan kita kenal siapa.

Setiap jenis bisnis tentu memiliki faktor kali

atau leverage yang berbeda. Yang jelas setiap

bisnis pasti ada faktor pengungkitnya.

Pertanyaannya adalah sudahkah kita menemukan

dan memaksimalkan faktor kali tersebut dalam bisnis

kita?

Tantangan terbesar Try Atmojo saat ini adalah

membuat bisnisnya tetap menguntungkan dan

berkembang, walaupun dia tidak banyak ikut

campur di dalamnya. Untuk mencapainya, Try mulai

menerapkan ilmu dari seorang business coach, Brad

Sugar. Mulai dari mastery, niche, leverage, team,

synergy, dan result. Try Atmojo yakin dengan

sistem yang telah dibangunnya saat ini,

keterlibatan dirinya akan semakin bisa berkurang.

Dengan begitu, dia bisa lebih leluasa untuk

jalan-jalan, ikut seminar, mencoba peluang baru,

atau melakukan kegiatan sosial.

Sistem bisnis yang dibangun Try Atmojo saat ini

 

sudah mampu menangani hal-hal yang sifatnya rutin

ataupun kemungkinan yang tak terduga. Yang pasti

 

semua hal yang bersifat rutinitas telah dia

delegasikan kepada karyawan.

Semua sistem dalam bisnis distro tersebut

dibangun Try Atmojo dengan sebaik-baiknya,

karena dia beranggapan bahwa sekecil apa pun

bisnis kita, harus tetap dikelola dengan profesional.

Akan lebih bagus jika pemilik lebih fokus pada

hal-hal yang lebih strategis, seperti masalah

pengembangan bisnis, atau menciptakan pasar

baru. Pemilik sebaiknya tidak lagi terjebak menjadi

pekerja atau manajer pada bisnisnya sendiri.

Fokus Try Atmojo saat ini adalah selalu

memperbaiki dan menyempurnakan sistem kerja

dalam bisnisnya. Berdasarkan pengalamannya,

ternyata masalah pengelolaan sumber daya

manusia menjadi salah satu hal yang paling unik dan

perlu kesabaran. Hal ini tidak mengherankan karena

para karyawan juga mempunyai emosi, tidak seperti

mesin, yang tinggal di set dengan program tertentu

langsung bisa jalan.

Setiap muncul masalah baru, bagi Try Atmojo

merupakan kesempatan baru untuk membuat sistem

yang lebih baik lagi sehingga ke depan tidak akan

terjadi masalah yang sama. Mengenai sistem yang

berhubungan dengan sumber daya manusia, dia

mencermati ternyata kuncinya ada pada bagaimana

menerapkan reward dan punishment yang adil dan

 

diterapkan secara konsisten.

Dengan perbaikan yang dilakukan secara

terus-menerus, Try Atmojo merasa bahwa dia telah

berada pada arah yang benar untuk meraih

impiannya. Dengan jaringan empat distro yang

dimilikinya saat ini, dan akan bertambah dengan

cabang distro berikutnya, Try Atmojo memang layak

mendapatkan julukan si Raja Distro dari Tangerang.

 

Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan