Category Archives: Fashion

Ryad Kusuma, Sukses Berbisnis Busana Muslim dengan Memadukan Penjualan Offline dengan Online

Lantaran memiliki pangsa pasar yang luar biasa,

Ryad Kusuma, pria yang murah senyum ini memutuskan untuk

memasuki bisnis busana Muslim. Berawal dengan

menjadi agen sebuah merek jilbab yang terkenal,

dia pun membuka toko pertama di Plaza Cibubur

dengan nama Ruzika Collection.

Seiring perjalanan waktu, merek yang diusungnya

 

semakin banyak. Toko yang dirintisnya

pun ikut berkembang menjadi tiga buah outlet

hanya dalam waktu satu tahun. Selain di Plaza

Cibubur, Ruzika Collection juga melebarkan sayap

 

dengan membuka outlet di Bogor Trade Mall (BTM),

dan di kawasan permukiman Griya Kenari Mas

Cileungsi.

Saat pertama kali dibuka, toko pertama yang

terletak di lantai tiga Plaza Cibubur tersebut

kondisinya jauh dari ideal. Secara fisik, toko yang

disewanya sebetulnya hanya sebuah counter yang

diberi dinding gypsum di sebelah kiri dan kanan.

Sementara bagian depannya ditutup dengan kain

terpal. Desain interiornya juga sangat sederhana,

mengingat dikerjakan sendiri dan belum punya

banyak pengalaman. Produk utama yang dijual saat

itu juga hanya dua macam, yaitu jilbab dan baju

koko.

Saat itu Ryad sempat ragu alias maju mundur,

apakah toko yang dirintisnya bisa terus berlanjut?

Bisa menutupi selunuh biaya operasional? Apalagi

dengan SDM yang masih baru dan belum

benpengalaman. Berbagai pertanyaan muncul silih

berganti di benaknya. Untuk memantapkan hati,

Ryad pun membuat beberapa perhitungan dengan

berbagai asumsi. Dia juga memikirkan dan

mengantisipasi risiko terburuk jika usaha yang

dirintisnya ternyata tidak berhasil.

Dalam penjalanannya, banyak pengetahuan dan

pengalaman baru yang Ryad dapatkan. Dia belajar

bagaimana mengatasi persaingan usaha yang

ternyata cukup ketat. Baik dengan penjual produk

satu merek, maupun dengan sesama penjual barang

serupa di sekitar lokasi. Dia juga belajar bagaimana

membangun sumber daya manusia yang sesuai

 

dengan kriteria yang dia tetapkan. Mau tidak mau,

dia juga harus berurusan dengan masalah keluar

masuknya karyawan.

Pelajaran tentang bagaimana mengelola keseimbangan

 

antara order dan supply, bagaimana

bernegosiasi dengan supplier, pelanggan, dan

building management merupakan pembelajaran

selanjutnya sebagai entrepreneur. Ryad juga selalu

ditantang untuk mendatangkan prospek sebanyak

mungkin dan mengonversinya menjadi pelanggan

setia.

Dari berbagai pengalaman itulah, Ryad baru

menyadari bahwa ternyata membuka toko itu tidak

hanya sekadar buka, beli barang dan kemudian jual.

Banyak hal yang bisa dan harus dieksplorasi.

Awalnya memang rumit, tapi bila dikerjakan dengan

senang hati, semua menjadi lebih mudah. Dengan

adanya unsur fun itulah, usahanya bisa bertahan

dan justru berkembang sampai sekarang.

Ryad juga menyimpulkan bahwa pembeli akan

lebih suka datang ke toko yang koleksi barangnya

lengkap. Untuk itu dia selalu berusaha untuk

melengkapi koleksinya agar bisa menarik calon

pembeli. Walaupun tidak semua koleksi barangnya

laku keras di pasaran. Ada produk yang masuk

kategori fast moving, average, dan slow moving.

“Di toko saya, ada 20% item barang fast moving

 

yang menyumbang sekitar SO% dari omzet,

60% item average, dan 20% sisanya slow moving,”

ujar Ryad berterus terang.

Pada awalnya Ryad juga tidak tahu, produk apa

saja yang masuk kategori fast moving dan mana

yang slow moving. Jalan satu-satunya adalah

bertanya kepada penjual, dengan harapan penjual

tersebut berkata jujur. Walaupun demikian, karena

kondisi yang berbeda-beda, bisa saja satu produk

laku di toko penjual, tapi belum tentu laku di

tokonya, demikian juga sebaliknya.

Selain referensi penjual, judgement kita sendiri

juga penting. Dari pembelian pertama, biasanya ada

saja beberapa item yang masuk kategori slow

moving. Tapi dari data penjualan, kita bisa tahu

produk apa saja yang laku keras. Data inilah yang

saya pakai untuk melakukan order pembelian

berikutnya, papar suami dari Poppy ini menjelaskan.

Ryad juga menambahkan bahwa untuk barang

yang kurang laku, tetap dia biarkan terdisplay di

toko sehingga ada kesan semua barang tersedia

dengan lengkap di toko. Hal ini tidak lepas dari

pengalamannya bahwa konsumen cenderung datang

ke toko yang item-nya lengkap. Semua model,

warna, dan ukuran selalu diusahakan tersedia agar

konsumen puas dalam memilih. Yang penting untuk

barang slow moving, Ryad menjaga stoknya agar

tidak berlebihan, sementara item yang fast moving,

dijaga jangan sampai kehabisan.

Namun, jika tetap saja tidak laku, Ryad pun

punya solusinya. “Berhubung saya punya tiga toko,

saya rotasi saja, mungkin selera pembeli di toko

yang lain berbeda. Jika masih tidak laku juga, dan

butuh modal cepat, saya jual dengan diskon saja,

 

asal balik modal,” jawab Ryad ringan.

Selain menempuh jalur pemasaran offline, Ryad

juga memakai strategi pemasaran online untuk

menjangkau pasar yang lebih luas. Setelah

mempelajari seputar dunia pemasaran online, Ryad

memutuskan untuk menggunakan blog sebagai

sarana pemasaran online-nya. Setelah merumuskan

konsep, melakukan scan brosur dan gambar yang

perlu di upload, akhirnya dengan fasilitas dari

Blogspot.com, blog Ruzika Collection resmi

diluncurkan.

Hanya beberapa hari setelah online, e-mail

dan SMS mulai berdatangan dari berbagai daerah.

Sampai akhirnya masuk order pertama dari

Makassar. Jumlahnya memang tidak banyak, hanya

empat item, tapi Ryad senang sekali karena itu

adalah orderan pertamanya dari web. Yang sempat

membuatnya bingung adalah bagaimana cara

mengirimkannya. Setelah bertanya ke sana kemari,

akhirnya dia malah menemukan wartel di dekat

rumahnya yang juga menjadi agen Pos dan jasa

pengiriman paket.

Tidak lama kemudian, order dalam jumlah lusinan

 

pun mulai berdatangan. Mulai dari

Jabodetabek, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa

Tenggara, Bali, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatra.

Ada juga pembaca blog dari Singapura yang

beberapa kali memesan produk, namun bukan orang

Singapura, melainkan orang Indonesia yang tinggal

di sana. Pengiriman barangnya tidak langsung ke

Singapura, tapi melalui saudaranya yang tinggal di

Jakarta dan Batam, untuk kemudian dibawa sendiri

oleh saudaranya ke Singapura.

Ada lagi pembaca blog orang Malaysia asli, dia

memesan barang juga. Awalnya memang hanya

memesan dua item sehingga ongkos kirim dan harga

barangnya nyaris sama. ini adalah ekspor saya

yang pertama. Setelah barang diterima, ternyata

istri beliau senang dan akhirnya memesan lagi dalam

jumlah lebih banyak untuk ditawarkan ke

teman-temannya, ungkap Ryad mengenang.

Dengan semakin banyaknya order dari web,

juga memunculkan masalah baru. Karena antara

supply dan demand makin terasa ada jarak. Apa

yang dipesan, belum tentu ada stoknya. Kalau di

toko offline penanganannya lebih mudah, jika model

atau warna yang diinginkan tidak ada, masih bisa

ditawarkan model atau warna lain yang mirip,

pembelinya juga bisa melihat langsung barangnya

sehingga lebih mudah disubstitusi.

Namun, jika melalui web kondisinya berbeda,

jika pembeli juga mau diberi alternatif model atau

warna dan ukuran, tentu akan lebih mudah. Untuk

mengatasi hal tersebut, awalnya Ryad mencoba

memenuhi stok dengan sebanyak mungkin kombinasi

model, warna, dan ukuran. Khusus untuk merek SIK

Clothing, misalnya, ada tiga puluh dua model,

masing-masing bisa ada tiga sampai empat warna,

dengan ukuran S-M-L. Kalau mau dilengkapi

semua, berarti ada tiga ratusan item. Tentu hal ini

akan membutuhkan modal yang lumayan hanya

untuk satu kali belanja. Belum lagi untuk memenuhi

permintaan terhadap produk bermerek lainnya.

Lebih merepotkan lagi, kalau ada order untuk

satu model tertentu dalam jumlah banyak, sudah

pasti dia akan susah memenuhinya. Kalau hal

seperti ini terjadi, dia mencoba untuk bekerja sama

dengan beberapa agen yang lain. Jika mereka

punya stok, dia akan membelinya terlebih dahulu.

Konsekuensinya margin akan menipis, karena tidak

langsung membeli ke produsen, tapi itu tidak

masalah baginya asal pelanggan puas. Jika di agen

lain tidak ada stok juga, terpaksa dia memesan lagi

ke pabrik, dan ini akan membutuhkan waktu lebih lama.

Bagi Ryad, menjual di Internet temyata cukup

menyenangkan. Beberapa kelebihan berjualan di

Internet, diantaranya, tidak sewa tempat, tidak

bayar listrik dan service charge, tinggal duduk, cek

e-mail/SMS, cek stok, cek rekening, lalu kirim

barang, dan omzetnya bisa berkali-kali lipat dari

salah satu outlet offline-nya.

Di sisi lain, berkat blog juga, temannya selalu

bertambah. Karena ada juga pembaca blog yang

tidak beli produknya, tetapi mengambil spiritnya

untuk memulai usaha. Hal-hal seperti ini menurut

Ryad tidak bisa dinilai dengan uang semata.

Dalam menjalankan bisnis busana Muslim ini,

ada tiga hal yang dilakukan Ryad untuk efisiensi

biaya. Pertama, beli produk dalam jumlah yang lebih

besar. Banyak produsen yang memiliki struktur

diskon bertingkat. Makin besar nilai pembelian,

makin besar pula diskon yang akan diperoleh.

 

Kedua, kirim paket dalam jumlah besar, niscaya

ongkos kirimnya lebih murah. Jika kirim barang dalam

paket kecil, ongkos kirim kelihatannya memang

kecil. Tapi setelah dibagi per item, produk ternyata

jatuhnya lebih mahal. Ketiga, negosiasikan

payment term. Jika bisa menunda empat puluh

persen pembayaran atas suatu produk untuk satu

bulan kemudian, ini berarti dengan modal yang

sama, bisa membeli barang enam puluh persen lebih

banyak. Payment term tentu sangat tergantung

dari tingkat kepercayaan dan kondisi keuangan supplier.

Bisnis yang tepat berusia satu tahun pada 5

Agustus 2007 itu, kini menghasilkan profit yang luar

biasa. Hal ini tidak lepas dari upaya keras Ryad

untuk memadukan strategi dari tiga buah outlet

offline-nya dengan satu jalur pemasaran online

yang ampuh.

Berdasarkan pencapaian yang diraihnya, Ryad

menetapkan visi untuk membangun jaringan minimal

sepuluh toko ritel dalam lima tahun ke depan. Dia

pun menerapkan kurikulum DSA

(Dream-Strategy-Action) untuk mencapai visi

bisnisnya. Impiannya dia kuantifikasikan dalam

bentuk besaran omzet sebesar 1 miliar rupiah per bulan.

Strategi untuk mewujudkannya berupa pembukaan

 

retail chain store, copy-paste toko yang

sudah ada menjadi sepuluh toko lagi. Sementara

actionnya adalah mencari lokasi di mal atau pusat

keramaian, dengan target membuka dua toko baru

 

per tahun. Dengan cara itu, dia berharap bisa

mempunyai sepuluh toko dalam lima tahun ke depan.

Kalau selama ini biaya buka satu toko sekitar

Rp25 juta, dia akan menyisihkan sekitar Rp5

juta per bulan untuk biaya pengembangannya.

 

Dia pun akan selalu mencari produk unggulan

 

lainnya untuk memperkuat branding atas jaringan

 

toko yang dibangunnya. Pengalaman masa lalu umumnya

 

akan ikut membentuk diri kita sekarang. Kita semua ada di

titik ini, saat ini, tidak lepas dari pengaruh satu

proses panjang yang sudah kita lewati. Pengalaman

jatuh bangun Ryad dalam berbisnis tampaknya

sangat memberikan andil terhadap kepiawaiannya

dalam mengembangkan bisnis. Sebelum mendirikan

bendera Ruzika Collection, sudah banyak bisnis

yang dirintisnya dan berujung dengan ongkos

belajar alias belum berhasil.

Ryad tercatat pernah menjadi seorang programer freelance.

 

Dia pernah menjual sebuah program aplikasi,

 

tapi oleh pelanggannya cuma dibayar setengah harga.

 

Setelah mendengar presentasi dari seorang pialang

berkewarganegaraan asing yang menanjikan

keuntungan besar, Ryad pernah memberikan diri

berinvestasi saham. Hasilnya bukannya untung,

tapi dananya malah amblas dalam sekejap. Dia juga

 

pernah merintis menjadi agen pakaian dan dijual ke

kantor-kantor di daerah pusat bisnis. Setelah punya

banyak sub-agen, pabriknya malah tutup.

Terinspirasi dari mertua teman yang bisa punya

sepuluh metromini. Ryad merintis bisnis jasa

angkutan kota. Bermula dari punya satu angkot,

kemudian bertambah lagi menjadi dua, namun

akhimya habis dijual kembali karena salah kelola

alias menderita kerugian. Ternyata manajemen

bisnis angkutan kota lebih rumit dari perkiraannya.

Belum lagi faktor eksternal yang sering muncul dan

sulit dikendalikan.

Ketika bisnis MLM (Multi-Level Marketing) ramai

dibicarakan, Ryad langsung bergabung juga. Tidak

cukup hanya ikut berbagai bisnis multilevel

marketing, dia juga menjadi anggota kartu diskon,

UBS, sampai kartu jumpi (ikatan juru masak

profesional Indonesia). Tak hanya itu, saat harga

nomor perdana handphone masih ratusan ribu, Ryad

juga ikut menjajakannya di daerah Margonda Depok.

Bahkan, perah juga mencoba berbisnis aplikasi di

hand-phone, untuk kirim SMS via GPRS. Sekali kirim

satu SMS cuma bayar 5-25 perak (tarif GPRS per

kb). Alat berjualannya saat itu sudah memakai web

multilevel. Secara teknologi memang tampak

canggih, namun ternyata hasilnya jeblok juga.

Meskipun pengalaman jatuh bangun yang

dialaminya sudah lumayan banyak, untuk mulai

suatu usaha baru tetap saja ada rasa was-was.

Perasaan tersebut menurut Ryad sangat manusiawi.

Yang penting baginya, bagaimana mengelola rasa

 

was-was itu menjadi wahana untuk lebih

berhati-hati dan bijaksana dalam mengambil

keputusan bisnis.

Jiwa entrepreneurship ternyata memang sudah

 

ditanamkan orangtua Ryad sejak kecil.

Almarhum bapaknya, Soeparno Koesyono, sangat

berperan dalam membentuk karakter Ryad saat ini.

Teladan entrepreneurship telah dicontohkan

bapaknya sejak masih sendiri. Ketika menyelesaikan

sekolah di Banyuwangi, bapaknya tidak malu

menggembala kerbau dan berjualan kuaci untuk

menutupi biaya sekolah. Hingga akhirya beliau

memutuskan untuk mengabdikan kepada negara

melalui jalur militer dengan menjadi tentara.

Sebelum mendirikan Ruzika, Ryad memang

sudah malang-melintang dalam bisnis properti.

Beberapa properti yang dia pegang, selalu

digunakan sebagai agunan untuk membeli properti

berikutnya. Properti yang baru dibeli kemudian

digunakan untuk bisnis. Profit dari bisnis, sebagian

dialokasikan untuk membayar kredit atas propertinya.

Dengan mengambil kredit jangka panjang,

besarnya nilai cicilan biasanya masih lebih kecil

dibandingkan jika membayar sewa. Walaupun di

awal harus membayar uang muka, secara jangka

panjang, masih tetap menguntungkan. Yang

penting dia hanya perlu menjaga agar hasil

bisnisnya tetap menguntungkan. Risiko paling buruk

adalah bisnisnya tutup karena tidak menguntungkan,

 

tapi properti tersebut masih bisa disewakan.

“Uang hasil pencairan kredit kadangkala masih

ada lebihnya sehingga saya manfaatkan untuk

mempercepat pembayaran cicilan properti yang lain.

Makin cepat selesai kredit, sertifikat bisa segera

diambil, dan pada saatnya nanti bisa segera

dikaryakan lagi untuk mendapatkan kredit bank,”

ungkap anak alumnus AMN 1964 ini.

Pengalaman pertama dalam bermain properti

dimulai ketika Ryad membeli rumah di daerah

Cibubur pada 1992. Uang muka yang dia keluarkan

sejumlah Rpll juta. Nilai kredit sekitar Rp12 juta,

dia cicil Rp400 ribuan per bulan selama lima tahun.

Saat ini rumah tersebut disewakan Rp600 ribu per

bulan. Ini berarti dia mendapatkan return 20,6%

per tahun.

Rumah kedua dia beli di daerah Cileungsi pada

1993. Total uang muka dan cicilan yang dikeluarkan

selama sepuluh tahun berjumlah Rp32 juta.

Ditambah biaya renovasi sebesar Rp25 juta, total

investasi yang dia keluarkan berjumlah Rp57 juta.

Walaupun saat ini tidak disewakan, karena

digunakan untuk keperluan keluarga, namun kalau

disewakan, nilai sewanya minimal Rp800 ribu per

bulan sehingga returnnya berarti 16,8% per tahun.

Rumah ketiga, masih di sekitar Cibubur juga,

tipe 82/196, dia beli pada 1994. Rumah inilah yang

dia tinggali bersama keluarga sampai sekarang.

Rumah keempat dia beli pada 1999, dekat lokasi

rumah kedua di Cileungsi, tipe 36/72. Dia beli over

kredit dengan harga murah, lunas pada 2002.

 

Karena pemilik lamanya tinggal cukup jauh dan tidak

bisa mengurusnya. Setelah direnovasi, total dana

yang dikeluarkannya untuk rumah ini senilai Rp49,9

juta. Saat ini, rumah itu disewakan Rp600 ribu per

bulan, yang berarti returnnya 14,4% per tahun.

Rumah kelima dia beli di Cikarang pada 2002

dengan tipe 36/120. Karena ada di dekat wilayah

industri, rumah ini dijadikan tempat kos dengan dua

puluh kamar. Saat ini dia menerima hasil bersih dari

sewa kos itu rata-rata Rp2,5 juta per bulan. Rumah

keenam, masih di Cikarang juga, tipe 36/93, dibeli

pada 2004. Sampai saat ini, cicilan bulanan yang

masih harus dia bayar sebesar Rpl juta per bulan.

Sementara hasil sewa bersih sebesar Rp400 ribu per

bulan. Jadi, dia masih harus mensubsidi Rp600 ribu

setiap bulan. Untuk properti yang satu ini, dia

sedang berusaha untuk melakukan refinancing.

Menurut Ryad, investasi properti makin lama

makin memberikan return yang menarik, paling tidak

masih di atas bunga bank. Karena ada kenaikan

biaya sewa dan penurunan cicilan (utang lama

ditukar dengan utang baru yang bunganya lebih murah).

“Memang awalnya perlu modal banyak. Tapi,

tidak harus dari kantong sendiri. Paling kita cuma

bayar 15-20% persen dari harga rumah. Yang 80%

dari kredit bank. Walaupun harus mengangsur, tapi

sudah terbantu oleh penyewa. Jadi, terasa agak

ringan. Belum dari capital gain,” ujarnya meyakinkan.

Dulu, Ryad sempat berpikir bahwa kalau mau

menikmati keuntungan dari kenaikan harga, maka

 

properti tersebut harus dijual terlebih dahulu.

Namun, setelah belajar dari buku Dolt de Roos, dia

mendapatkan ilmu baru. Ternyata untuk menikmati

hasil investasi properti tidak harus menjualnya

terlebih dahulu. Intinya rumah bisa diagunkan ke

bank, kemudian uangnya diputar lagi untuk usaha yang lain.

Sebetulnya Ryad mempunyai target untuk memiliki

 

properti berupa kos-kosan dengan seratus

kamar pada usia empat puluh tahun. Ryad pun

berharap bisnis Ruzika Collection akan mendukung

percepatan proses pencapaian target tersebut.

Perputaran uang dalam bisnis memang terbukti lebih

cepat, walaupun benar-benar menguras tenaga

pada awalnya, dan membutuhkan konsistensi serta

kegigihan yang tinggi. Ryad yakin dengan

memainkan jurus gabungan antara bisnis dan

properti, salah satu impiannya untuk bisa membuka

sebanyak mungkin lapangan kerja akan menjadi kenyataan.

Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan

Advertisements

Roni Yuzirman, Restu Orang Tua Kunci Kesuksesan Sang Pendiri TDA dalam Berbisnis Fashion ‘Manetvision’

Internet memang telah mengubah banyak hal.

Bisnis berbasis Internet juga mengalami pertumbuhan

 

luar biasa dibandingkan bisnis konvensional

lainnya. Dunia bisnis online telah mengubah

paradigma lama tentang cara membangun sebuah

bisnis yang bagus. Internet terbukti memberikan

kesempatan dan peluang bagi para pebisnis untuk

melakukan sebuah breakthrough.

Breakthrough di sini adalah suatu terobosan

atau cara baru dalam hal apa pun yang awalnya

tidak ada menjadi ada, atau yang awalnya tidak

 

baik menjadi lebih baik. Di antara sekian contoh

breakthrough dalam bisnis online adalah

Amazon.com yang merupakan salah satu contoh

fenomenal. Amazon bisa mengalahkan Barnes and

Noble yang sudah ratusan tahun menguasai bisnis

perbukuan.

Hal inilah yang dilakukan Badroni Yuzirman dengan

bisnis busana muslimnya. Roni, begitu biasa dia disapa, berhasil

mengembangkan bisnis online

http://www.manetvision.com dan mengalami breakthrough

pada awal 2004. Setelah nyaris bangkrut dan

‘terusir’ dari Pasar Tanah Abang, Roni mulai

memasarkan busana Muslim secara online sampai

sekarang.

Dengan cara online ini, dia bisa menghemat

waktu yang biasa dia habiskan sekitar empat jam

sehari dalam perjalanan dari rumah ke Tanah Abang

menjadi nol. Dia bisa menikmati waktu tersebut

dengan keluarga dan kegiatan lainnya.

Waktu masih mengelola tiga toko di Tanah

Abang, waktunya terkuras habis di sana. Untuk

menghadiri undangan pesta perkawinan yang

waktunya bentrok dengan jadwal buka toko, dia

 

terpaksa harus bergantian dengan istri. Hingga dia

sering datang ke pesta sendirian.

Lain lagi dengan biaya yang dihemat. Setelah

membuka usaha online di rumah, biaya yang dihemat

 

untuk sewa toko berkurang dari 200 jutaan rupiah

per tahun menjadi nol. Meskipun saat bisnis

onlinenya mulai berkembang, Roni kembali

menyewa sebuah bangunan semiruko, tapi biaya

sewanya pun tak sampai 50 juta rupiah per tahun.

Artinya, dari biaya yang berhasil dihemat itu sudah

merupakan breakthrough juga. Bayangkan, dia bisa

hemat lebih dan 150 jutaan per tahun.

Bagaimana dengan omzet yang berhasil diraih?

Sejak pertama kali membuat situs sendiri pada

September 2003, omzet yang diperoleh Roni dari

jalur online semakin signifikan dan mengalahkan

omzetnya di Tanah Abang. Hal inilah yang membuat

Roni memutuskan untuk berbisnis online dari garasi

rumah pada Maret 2004. Dia pun tidak ragu lagi

menutup tiga tokonya di Tanah Abang.

Dengan minimnya biaya yang dikeluarkan setelah

 

berbisnis online, tentu saja profitnya menjadi

lebih besar. Satu hal lagi, profit tersebut

benar-benar profit yang uangnya ada di rekening

bank. Bukannya profit dalam pembukuan saja yang

uangnya masih di tangan pelanggan dalam bentuk

piutang yang tidak jelas kapan dilunasinya. Profit

itu adalah uang yang ada di kantong dan bisa kita

gunakan saat itu juga, tegas pria yang baru

berusia 34 tahun ini.

Tentu saja breaktrough yang diciptakan Roni

tersebut tidak berhenti sampai di situ. Masih

banyak tantangan atau target lain yang harus

dipecahkan pada masa mendatang. Roni pun terus

berinovasi untuk meningkatkan kepuasaan

 

pelanggan atas berbagai produk Manet. Apalagi

saat ini, produk manet sudah dikenal luas dengan

agen tersebar di seluruh penjuru nusantara.

Tingginya permintaan terhadap produk manet,

sering kali memunculkan masalah tersendiri. Sampai

saat ini pun, dia terus berusaha mengatasi happy

problem ini dengan meningkatkan kapasitas

produksinya.

Mengapa seorang pebisnis perlu memanfaatkan

Internet dalam berbisnis? Dia memaparkan beberapa

alasan. Pertama, tingginya pertumbuhan pengguna

Internet secara global dan nasional. Kedua, murah

dari segi biaya, karena kita bisa membuat banyak

perusahaan yang berbeda di Internet dalam

semalam saja. Bisa dijalankan dari garasi rumah.

Tidak perlu beli atau sewa gedung yang mahal dan

lokasinya strategis. Ketiga, Internet salah satu

alternatif bisnis di rumah, bagi yang ingin punya

banyak waktu untuk keluarga dan tidak ingin

seumur hidup terjebak kemacetan di jalan.

Keempat, kondisi geografis Indonesia yang sangat

luas dan tersebar merupakan peluang distribusi

alternatif bagi produk kita.

Bagi yang ingin terjun dalam bisnis online ini,

Roni juga memberikan tips praktis.

1. Tentukan apa yang ingin kita pasarkan melalui

Internet. Barang atau jasa. Bagaimana

pengadaan dan delivery-nya. Carilah yang

paling mudah. Pastikan produk tersebut ada

pasarnya. Jangan menjual produk yang potensi

pasarnya terlalu kecil;

 

2. Sebaiknya tidak menjual semuanya

alias gado-gado. Lakukan segmentasi,

fokus, tentukan niche market produk kita.

Apakah ibu-ibu muda, anak gemuk, penggemar

 

sepak bola dan sebagainya;

3. Buat website yang sederhana saja. Yang

penting menarik dan menggugah orang untuk

melakukan transaksi;

4. Lakukan pemasaran melalui berbagai cara.

Melalui e-mail, iklan baris, publikasi, banner

exchange, keywording, affiliate marketing,

cobranding, dan sebagainya;

5. Bangun kepercayaan. Orang mau bertransaksi

dengan kita karena mereka percaya. Apa yang

orang lain katakan tentang kita lebih

dipercayai daripada apa yang kita katakan

sendiri tentang diri kita. Gunakan testimoni

atau pendapat orang lain, seperti artis,

pejabat, atau orang terkenal lainnya;

6. Lampaui harapan pelanggan. Jika kita berjanji

barang akan sampai di alamat dalam waktu

satu minggu, jadikan hanya 2 hari, mereka

akan senang.

Langkah berikutnya tentu saja adalah terus

belajar, baik dengan cara baca buku, browsing,

mengikuti seminar, maupun belajar langsung pada

pebisnis yang sudah sukses. Tidak lupa Roni

 

mengingatkan juga untuk selalu berdoa kepada

Tuhan. Berbagai Iangkah tersebut pernah

dipraktikkan Roni ketika merintis Manet memasuki

dunia online dan terbukti berhasil. Bahkan bisa

dikatakan, Roni mengalami lompatan kuantum dalam

bisnis busana muslimnya setelah melalui jalur online.

Kesuksesan yang berhasil diraih Roni melalui

manet sekarang sesungguhnya telah melalui jalan

panjang yang berliku. Sebelum akhirnya

memutuskan untuk berbisnis dalam bidang fesyen

ini. Roni sempat mencoba berbagai bisnis yang

memberikan berbagai pelajaran berharga baginya.

“It’s better to light a candle, than to curse the

darkness,” kata Roni ketika harus mengakui

kesalahannya dalam berbisnis dan harus memulai

lagi segalanya dan awal. Namun, dari semua

petualangan itu, tidak dia sesali, karena itu semua

meninggalkan jejak pengalaman yang sangat

berharga baginya sampai sekarang.

Tidak ada istilah gagal, yang ada adalah belajar.

 

Kalau kita tidak mendapat pelajaran dan

kegagalan, itulah kegagalan yang sesungguhnya,”

kata Pak Tung, guru dan sahabatnya. Kata-kata

itulah yang Roni pegang sampai sekarang.

 

Banyak pelajaran yang Roni ambil dari berbagai

petualangan bisnis yang pernah dijalankannya.

Ketika mulai berbisnis MLM pada 1994-an.

 

Saat itu dia masih kuliah. Roni gagal

 

karena memang berhenti di tengah jalan. Kalau dia

teruskan, mungkin ceritanya akan lain sekarang.

Saat bergabung dengan MLM tersebut, ada

beberapa ganjalan di hati Roni ketika itu. Dia

merasa dicekoki paham-paham yang membuatnya

menjadi fanatik buta. Membuatnya menjadi

seorang yang berkacamata kuda dalam melihat

orang lain. Orang yang negatif, dia anggap sebagai

pencuri mimpi, dan tidak baik didekati. Lama-lama

hubungan saya menjadi tidak rileks dengan

teman-teman. Hubungan saya menjadi manipulatif.

Semua orang yang saya kenal saya anggap sebagai

prospek, tutur Roni mengenang.

Positifnya, dari bisnis inilah Roni mulai mengalami

 

pertumbuhan pribadi, jadi lebih percaya diri.

Roni jadi gemar membaca buku-buku personal

development yang membuat pikiran dan mentalnya

jadi lebih positif. Dampaknya masih terasa sampai

sekarang. Bisnis MLM itu balk. Tapi, jangan

dianggap seperti agama baru, kata ayah dan Vito

Ramadhan ini.

Petualangan bisnis berikutnya dilakukan Roni

ketika masih kuliah juga. Dia bersama empat orang

teman, berencana membangun sebuah sekolah

setara D-1 di bidang komputer. Idenya berasal dari

seorang teman yang sukses di Bandung dan

suksesnya LP31 cabang Pasar Minggu. Kebetulan

salah seorang tim mereka adalah anak dari pemilik

ruko yang disewa oleh LP31 tersebut. Mereka

berniat mengambil alih ruko tersebut berdasarkan

kedekatan itu, karena saat itu modal uang juga

 

tidak ada.

Berbulan-bulan Roni dan tim mempersiapkan

semuanya. Kurikulum, cash flow, dan tenaga

pengajar. Roni mendapat bagian di marketing. Si

pemilik ruko pun telah menyetujui permintaan

mereka, yaitu meminta pembayaran sewa di

belakang, setelah cash flow masuk selama setahun.

Namun, kenyataan menjadi berbalik 180 derajat

ketika pemilik ruko tersebut mengalami kecelakaan

dan butuh biaya berobat ke Singapura. Dia

kemudian diminta uang cash di depan oleh penyewa

ruko itu. Gagallah rencana Roni dan timnya.

Pelajaran yang dipetik dari sini adalah agar kita

jangan mengandalkan kepada satu alternatif pilihan

saja. Ketika tidak tercapai, hancurlah semua proses

panjang dan melelahkan itu.

Masih kuliah juga, Roni bersama enam orang

teman sepakat mendirikan pabrik roti murah kelas

warung yang bisa dijual seharga lima ratus

rupiahan. Sebenarnya Roni kurang setuju dengan

ide ini. Dia memegang prinsip bisnis orang Cina,

kuasai dulu pasar, baru bikin pabriknya. Namun,

karena ini adalah keputusan kelompok, Roni mau

tidak mau harus menerimanya.

 

Roni dan satu anggota tim pun kemudian dilatih

menjadi manajer pabrik. Awalnya bisnis berjalan

dengan lancar, permintaan pun terus meningkat.

Namun, skala ekonomis tak kunjung diraih. Makium,

margin keuntungannya tipis sekali. Akhirnya,

mereka pun menyerah. Prediksi awal Roni jadi

kenyataan. kami akhirnya terbebani oleh mesin-mesin

yang menganggur dan sulit dijual,”

 

kenang suami Elly ini. Pelajaran yang dipetik

dari sini agar kita jangan masuk bisnis yang margin

keuntungannya terlalu tipis. Kuasai pasar dulu,

sebelum membangun pabriknya.

Tidak kapok dengan pengalaman sebelumnya,

Roni kemudian merintis bisnis hardware dan servis

komputer. Ini pun dikerjakan bersama keenam

temannya yang terdahulu. Hasilnya ternyata gagal

lagi. Lebih besar effort-nya ketimbang hasil.

Roni dan keenam temannya kemudian mendirikan

 

lembaga keuangan syariah, Baitul MaaI wat

Tamwil (BMT). Misinya adalah sosial dan bisnis.

Bersama enam orang teman tersebut, Roni mencoba

berdakwah di bidang ekonomi.

Ternyata kenyataan di lapangan tidak semudah

yang dibayangkannya. Sulit sekali membangun

bisnis yang dibebani muatan sosial yang tinggi.

Secara bisnis cukup berpeluang, tapi secara

praktik, sangat sulit karena beban dua hal itu.

Akhirnya, bisnis pun kedodoran. Sulit

mencampuradukkan misi bisnis dan sosial. Bisnis, ya

bisnis. Kalau mau sosial, sisihkan sebagian

keuntungannya untuk itu. Atau dirikan lembaga

 

terpisah dari bisnis inti.

Selepas kuliah Roni merintis bisnis alat tulis

kantor (ATK). Hal ini tercetus karena Roni

mempunyai langganan yang terkenal murah di

Mangga Dua. Roni dan seorang teman sepakat

untuk mensupply kebutuhan teman-teman yang

sedang membuat skripsi di kampus. Kebetulan Roni

adalah mantan pengurus organisasi kemahasiswaan

tingkat universitas, jadi dia punya akses untuk

menitipkan dagangan di markas organisasi itu.

Hasilnya? So so aja. Lumayan buat jajan aja. Bisnis

ini pun akhirnya tidak dilanjutkan. Ternyata kalau

bisnis hanya iseng-iseng saja, hasilnya juga

iseng-iseng saja.

Mencoba dengan bisnis yang lebih serius, Roni

mengadu peruntungan pada bisnis kayu. Bisnis ini

menyedot modal yang cukup besar ketika itu.

Beberapa investor terlibat, termasuk orangtuanya.

Nilai ordernya menggiurkan, dalam mata uang dolar

karena memang ditujukan untuk ekspor. Roni

mensupply ke sebuah perusahaan eksportir.

Ternyata, bisnis ini hanyalah alih daya semata.

Alih daya dalam arti sesungguhnya, yaitu risiko.

Semua risiko ada di tangan Roni, sementara si

eksportir tinggal terima beres. Bisnis model ini juga

terlalu banyak uncontrollable factor-nya. Terlalu

banyak layer-layer yang harus dilalui dan setiap

layer itu punya peran vital. Modal Roni sejumlah

puluhan juta langsung ludes dalam hitungan hari

saja. Ini berdampak pada cash flow yang

pembayarannya sangat lama.

 

Nilai tambah dan bisnis ini tidak berada di tangan

Roni, tapi di tangan eksportir. Roni hanyalah

tukang” yang nasibnya ditentukan oleh majikan,

meskipun diiming-imingi keuntungan menggiurkan.

Akhirnya, bisnis ini pun gagal total dan

menyisakan luka yang cukup dalam. Para investor

 

pun meminta uangnya dikembalikan. Kejadian ini

membuat Roni terpukul. Sudah jatuh tertimpa

tangga pula.

Berbulan-bulan Roni harus menghadapi tuntutan

para investor ini. Makanya, dia tidak begitu suka

dengan konsep BODOL (Berani Optimis Duit Orang

Lain) itu. “Kalau bisnisnya tidak jelas konsep, nilai

tambah dan pengelolaannya, jangan coba-coba

melakukan BODOL ini. Bisa jadi BODOL beneran!”

kata Roni menegaskan.

Bisnis harus punya konsep dan nilai tambah

yang jelas, kontrol harus di tangan kita, jangan

diserahkan kepada orang lain. Hati-hati memilih

teamwork, dan jangan coba-coba BODOL kalau

bisnisnya nggak jelas konsep dan nilai tambahnya,”

jelasnya.

Bergabung dengan dua orang teman, Roni

menjalani bisnis sebagai konsultan sistem. Dia

mendapat proyek membuat sistem akuntansi

 

komputer di sebuah perusahaan keluarga di

Sumatra. Tugas Roni adalah membuat sistem

manual dan teman yang lain sebagai

programernya. Pekerjaan Roni dapat dia

tuntaskan dengan sukses dan disambut gembira

oleh klien.

Masalah timbul ketika giliran programernya

menyatakan tidak sanggup melanjutkan

pekerjaannya. Itu pun disampaikannya setelah

berbulan-bulan proyek terkatung-katung tak jelas

ujung pangkalnya. Kekecewaan tentu saja tertuju

kepada Roni sebagai satu tim. Padahal, tugas dia

pribadi sudah selesai dengan baik.

Oleh karenanya, berhati-hatilah dalam memilih

partner. Salah-salah bisa merugikan nama baik kita.

Akhirnya, setelah melalui jalan yang berliku,

Roni pun tersadar bahwa yang ada dalam

genggaman itu lebih berharga dibandingkan yang

masih di angan-angan. Yang saya maksud dalam

genggaman itu adalah bisnis warisan orangtua di

bidang ritel pakaian (garmen). Akhirnya, bersama

adik, saya turuti saran ibu. Dimodali toko dan modal

kerja untuk bersama-sama membangun bisnis ritel

yang telah menghidupi kami sekeluarga selama mi,”

ungkap Roni.

Hasilnya pun ternyata lumayan. Apalagi setelah

dia mendalami ilmu ritel dari berbagai bacaan

tentang itu. Yang sangat memengaruhi Roni adalah

buku biografi Sam Walton, pendiri WalMart.

Satu lagi kelebihan dari bisnis ini adalah karena

direstui oleh orangtua. Roni yakin dan percaya hal

 

itu. “Apa pun yang kita lakukan, kalau tidak direstui

orangtua, hasilnya akan sia-sia,” tegas pria hobi

membaca buku ini.

Kalau dibilang naif, Roni mengakui itulah kenaifan

 

dia dalam berbisnis. Dia menggunakan

asumsi-asumsi yang belum teruji dan kurang

matang. “Tapi, apa mau dikata, nasi sudah jadi

bubur. Ketimbang meratapi, kenapa bubur itu tidak

ditaburi irisan daging ayam, cakwe, kecap, kacang

kedelai? Jadilah bubur ayam spesial,” kata Roni

mengutip perkataan Aa Gym.

“Success is a lousy teacher. Sukses itu adalah

guru yang buruk. Justru kegagalanlah guru yang

terbaik. Dalam perjalanan merintis bisnis, it’s okey

to make a mistake,” kata Roni. Asal kita selalu

belajar darinya, tidak pernah menyerah, dan

melakukan lagi dengan mengubah strateginya.

Orang yang mengharapkan hasil yang berbeda

dengan usaha yang sama adalah orang yang bodoh.

Roni juga menambahkan bahwa satu hal yang

paling penting adalah kita harus selalu bertanggung

jawab 100% terhadap diri dan bisnis kita. Sebagian

besar orang cenderung melakukan tiga hal ini ketika

menemui masalah yaitu excuse (pembenaran),

blame (menyalahkan), dan complain (berkeluh

kesah).

Orang seperti ini adalah pemain di bawah garis

(below the line), para pecundang, para korban

(victim) yang menganggap masalah yang

dihadapinya adalah karena kesalahan orang lain.

Orang seperti ini tidak akan ke mana-mana

 

hidupnya. Ia hanya berjalan di tempat atau

berputar-putar tanpa arah tujuan.

Roni menegaskan bahwa jika kita ingin perubahan

 

dalam kehidupan kita, ubahlah diri kita

sendiri terlebih dahulu. Ubahlah mindset kita.

Ubahlah belief (keyakinan) yang menghambat kita

selama ini. Jadilah pemain di atas garis (above the

line). Bertanggung jawablah 100% terhadap diri dan

bisnis kita. Inilah kebiasaan dan belief dari para

pemenang (victor). Mereka memegang kekuatan

dan kontrol terhadap diri dan masa depannya.

Sampai saat ini, Roni bangga menjadi pengusaha

 

yang bisa selalu berbagi. Roni bahagia bisa

menjadi tangan di atas. Itulah mengapa selain

berbisnis, Roni juga dikenal sebagai pendiri

komunitas Tangan Di Atas. Sebuah komunitas bisnis

yang ingin selalu berbagi. Sebuah komunitas yang

mempunyai visi bersama menebar rahmat”. Sebuah

komunitas yang mempunyai filosofi bahwasanya

tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di

bawah. Bahwa memberi gaji itu lebih baik daripada

menerima gaji.

Dengan menjadi pengusaha yang gemar berbagi,

 

maka peluang untuk menjadi tangan di atas

akan lebih luas. Komunitas yang beranggotakan

kurang Iebih 15.000 orang ini, kini semakin

berkembang dan terus melahirkan wirausahawan

yang andal di berbagai bidang.

Berkat komunitas yang mempunyai situs

http://www.tangandiatas.com ini, Roni semakin dikenal

berbagai kalangan sebagai pegiat dan penyebar

 

virus entrepreneurship di Indonesia. Melalui blog

pribadinya, http://www.roniyuzirman.com, Roni selalu

memberikan pencerahan dan inspirasi mengenai

motivasi, bisnis, entrepreneurship, dan tentu saja

perkembangan komunitas bisnis TDA.

Sepak terjang Roni dalam bisnis dan dalam

membesarkan komunitas bisnis TDA pernah dimuat

di Harian Republika, Tabloid Nova, wirausaha.com,

Niriah.com, dan berbagai media Iainnya.

 

Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan

Rajin Ikut Pameran, Monica Dulang Ratusan Juta dari Keeksisan Romantic Cotton

Berawal dari keinginan sang anak
yang ingin punya usaha sendiri,
Monica Subiakto sukses berbisnis
fashion. Ia setia mengikuti pameran
untuk mempromosikan merek
Romantic Cotton. Kini, omzet
ratusan juta rutin dia kantongi
setiap bulan.

Dalam sebuah pameran yang digelar
di Jakarta Convention Center (JCC)
beberapa saat lalu, ada satu stan
yang tampil beda. Dekorasinya
cantik dan elegan. Gaya klasik yang
berpadu dengan warna lembut
mampu memikat banyak mata.
Banyak pengunjung pun singgah
untuk melihat koleksi baju dan
pernik aksesori yang dipajang.
Itulah stan Romantic Cotton, brand
pakaian yang kini lekat dengan
kalangan perempuan kelas atas
Ibukota. Setiap kali mengikuti suatu
pameran, gerai Romantic Cotton
selalu terlihat ramai. Pelanggan
seolah tidak mau melewatkan
koleksi-koleksi terbaru hasil karya
Monica Subiakto.

Monic, panggilan akrab pemilik
Romantic Cotton, memang
mengandalkan pameran sebagai
gerai penjualannya. Berkat
keikutsertaannya di berbagai
pameran inilah, nama Romantic
Cotton banyak dikenal. Bahkan, saat
merintis usahanya empat tahun
silam, Monic juga memanfaatkan
ajang pameran, entah di sekolah
ataupun di lingkungan tempat
tinggalnya.

Monic mengawali usaha garmen ini
berangkat dari keinginan sang anak,
Amanda, untuk memiliki usaha
sendiri. Dengan modal Rp 3 juta,
perempuan yang pernah bekerja di
Danar Hadi dan Matahari
Department Store hingga belasan
tahun ini menjual kaus-kaus impor
asal Bangkok, Thailand. Ia
memperoleh kaus itu dari seorang
temannya.
Melihat respons yang cukup bagus,
kemudian, Monic memberanikan
diri untuk membuat produk sendiri.

Berdagang enam bulan, modalnya
berlipat. Akhirnya, dengan Rp 12,5
juta, Monic memulai usaha garmen
sejak Juli 2008.
Beruntung, ketika masih bekerja, ia
kerap berhubungan dengan
pengusaha konveksi, baik di daerah
maupun di Jakarta. Monic pun
menerapkan strategi maklun atau
cut, make, & trim (CMT). Ia
memberikan contoh beberapa
pakaian jadi kepada para pengusaha
konveksi mitranya. Selanjutnya,
mereka tinggal meniru sekaligus
membuat beberapa ukuran.
Monic memang tak mendesain
sendiri pakaiannya. Desain pakaian
yang menjadi contoh, adakalanya,
merupakan hasil hasil perburuannya
di luar negeri. Tapi, seringkali ide
datang ketika ia tak puas melihat
baju-baju hasil buruannya. “Lantas,
saya ubah bahan, aplikasi, hingga
modelnya,” kata Monic yang
memperoleh inspirasi dari Laura
Ashley, pendiri sekaligus merek
fashion dan interior ternama asal
Inggris.

Untuk membedakan produknya
dengan garmen yang lain, Monic
memilih hanya memakai warna
tertentu, seperti dusty pink, mint
green , dan mustard yellow,
“ Warna-warna yang lembut ini
belum banyak dipakai desainer di
Indonesia,” tuturnya.
Raja katun
Sesuai dengan namanya, Monic pun
sengaja hanya memilih bahan-bahan
katun sejak awal. “Bahan ini sangat
cocok untuk cuaca di Indonesia,”
tuturnya. Ia rela keluar masuk
pasar tradisional untuk berburu
kain katun karena seringkali toko-
toko lama menyimpan stok kain
berkualitas.

Memiliki selera yang baik dan
pandai membaca keinginan
konsumen menjadi kunci sukses
Monic mengembangkan usahanya.
Tak heran, ia pun berhasil masuk ke
pasar fashion kelas atas meski harus
bersaing dengan beberapa brand
yang lebih dulu eksis.
Pada akhirnya, etalase Romantic
Cotton tak hanya di pameran saja.

Selain datang langsung ke
kediamannya di kawasan Kemang
Pratama, pelanggan juga sering
meminta Monic mengirim baju-baju
ke rumah mereka untuk dipilih.
“Biasanya, mereka memborong
beberapa baju sekaligus,” ujar
sarjana ekonomi dari Universitas
Negeri 11 Maret, Solo ini.
Setelah berhasil mengembangkan
merek Romantic Cotton, Monic
ingin membuat produk lain. Ia juga
memanfaatkan kain perca, sisa
produksi baju-bajunya, untuk
disulap menjadi berbagai aksesori
unik. Monic juga memproduksi
produk-produk houseware dan
boneka. “Pokoknya serba katun,
saya ingin menjadi raja katun di
Indonesia,” ujarnya.
Untuk memproduksi pakaian dan
aksesori, Monic telah menggandeng
15 pengusaha konveksi. Mereka
tersebar dari Jakarta, Solo, hingga
Surabaya.
Ia masih setia berkeliling dari satu
pameran ke pameran lainnya.
Bahkan, perempuan ramah ini
sering terlihat ikut melayani
pembeli di stan Romantic Cotton
bersama beberapa karyawannya.
“Boleh dibilang JCC adalah rumah
kedua saya,” tutur Monic.

Dalam sebulan, Monic
menjadwalkan ikut dalam tiga
pameran. Lantaran, nama Romantic
Cotton sudah terkenal, ia tak perlu
repot mencari stan di pameran
karena biasanya penyelenggara
pameran yang akan mengajaknya
untuk ikut dalam pameran mereka.
Tak heran, biasanya, Monic sudah
mengantongi jadwal pameran
setahun ke depan.

Tiap pameran, Monic bisa
mencetak omzet puluhan juta
rupiah. Total, tiap bulan, Monic
bisa mengantongi pendapatan
hingga ratusan juta rupiah.( J. Ani Kristanti )

sumber: http://mobile.kontan.co.id/news/rajin-ikut-pameran-monica-eksis-di-bisnis-fashion/2013/01/07

Natha dan Janet, Lewat Usaha Garmen Berlabel Gaudi Hasilkan Omzet Milyaran dari Puluhan Butiknya

Maraknya merek fashion asing
menginspirasi dua sahabat ini
membuat Gaudi, sebuah brand
lokal. Model trendi dan harga
terjangkau menjadi daya pikat
Gaudi. Dengan 26 gerai di seluruh
Indonesia, Gaudi mencetak omzet
puluhan miliar.

Jeli melihat peluang. Itulah salah
satu kelebihan yang dimiliki dua
karib, Nathalia Napitupulu dan
Janet Dana. Lantaran melihat ada
celah pasar bagi produk fashion
yang stylish, luwes, dengan harga
terjangkau, dua perempuan muda
ini mendirikan usaha garmen
berlabel Gaudi.
Kecintaan terhadap produk mode
pun menjadi bekal mereka terjun di
bisnis ini. Beruntung, Natha,
panggilan akrab Nathalia, sudah
lebih dulu akrab berbisnis garmen.

Sebelumnya, ia membantu sang
ayah berbisnis pakaian grosir.
Berkibarnya produk ritel fashion
merek asing di berbagai pusat
perbelanjaan ibu kota mengundang
dua sahabat ini menerjuni bisnis
gerai busana. Dengan modal
pinjaman dari orang tua mereka,
Natha dan Janet membuka gerai
Gaudi pertama di Plasa Semanggi,
Jakarta, pada 2004.

Mereka pun harus terjun sendiri
mengurus gerainya. Mulai dari
menentukan desain baju, memilih
bahan, mencari konveksi, hingga
mendekorasi gerai. Janet dan Natha
pun terlihat sering melayani
pengunjung gerainya. Maklum, saat
itu, mereka baru memiliki lima
karyawan, termasuk penjaga toko.
Respons konsumen pun bagus.

Apalagi, Janet juga membekali
karyawan toko dengan pengetahuan
fashion hingga mereka bisa jadi
konsultan bagi pelanggan. Melihat
angka penjualan yang bagus, Janet
dan Natha pun menambah beberapa
gerai baru di Jakarta. Hingga di
tahun keduanya beroperasi, Gaudi
sudah ada di tiga pusat belanja
ternama di Jakarta.

Bahkan, untuk pengembangan
selanjutnya, mereka tak perlu repot
mencari lokasi untuk gerai-
gerainya. “Justru, pemilik mal yang
memburu kami,” kata Janet
bersemangat. Bahkan, pada tahun
ketiga, Natha bilang, mereka sudah
bisa mengembalikan modal yang
dipinjam dari orang tuanya.

Bisnis Gaudi pun terus mengalir.
Tak hanya menyediakan pakaian
dengan model-model yang up to
date, Gaudi yang mengincar pasar
wanita berusia remaja hingga
dewasa muda itu, menawarkan
beragam aksesori, termasuk tas.
“Kami menjual berbagai produk
fashion itu dengan harga Rp 88.000
hingga Rp 250.000,” jelas Janet.

Ekspansi ke daerah
Seiring dengan pertumbuhan
ekonomi di beberapa daerah, Gaudi
berekspansi di beberapa kota besar
seperti Medan, Semarang,
Denpasar, Palembang, Makassar,
dan Balikpapan. Apalagi, persaingan
mal di Jakarta sudah sangat ketat.
Sebaliknya, “Kota-kota di daerah itu
mempunyai buying power yang
cukup baik,” tutur Natha.

Selain berekspansi dengan
membuka gerai baru, Gaudi tak
berhenti meluncurkan produk
anyar. Salah satu kiat agar
pelanggan setia berkunjung, Janet
meluncurkan 40 item baru setiap
bulan. Tak hanya itu, Gaudi juga
rajin mendekorasi ulang gerainya
dengan konsep tertentu tiap tiga
tahun sekali. “Supaya pemandangan
di gerai kami selalu segar dan tidak
membosankan,” kata Janet.
Tapi, tak berarti perjalanan bisnis
kedua sahabat itu selalu berjalan
mulus. Pernah, suatu ketika, Gaudi
harus memindahkan lokasi tokonya
karena pengelola mengatur ulang
ruangan (rezoning). “Padahal, kami
enggak pernah telat bayar dan
ramai pengunjung,” tutur Natha.
Mereka mengaku kecewa, lantaran
pengelola mal justru tidak
mendukung keberadaan brand
lokal. Apalagi, konsep dekorasi
gerai Gaudi tidak kalah menarik
dibandingkan dengan gerai-gerai
merek dunia.

Natha pun sempat kebingungan
ketika pada awal usaha mendapati
produknya sempat menumpuk lama
hingga tak ada tempat untuk barang
baru. Lalu ia segera menggelar
promosi untuk menghabiskan stok.
Pengalaman itu berbuah trik jitu
mengelola stok barang.

Untuk memasok 26 gerainya di
seluruh Indonesia, Gaudi
memproduksi setiap item barang
hingga 700 unit. Selain
mengandalkan konveksi lokal, Janet
juga memesan beberapa produknya
di Hong Kong. “Seringkali untuk
warna-warna tertentu belum bisa
diproduksi di Indonesia,” katanya.
Selain itu, pengerjaan di Hong Kong
juga lebih baik dan rapi.

Sampai kini, Janet pun masih
memilih sendiri bahan yang akan
dipakai Gaudi. Bahkan, sering, ia
juga mendesain sendiri motif-motif
kain yang akan dipakai. Tak hanya
itu, Gaudi juga rutin mengganti
label pakaian dan tas pembungkus
produk Gaudi.
Setelah delapan tahun, Natha dan
Janet telah mempekerjakan 300
karyawan. Gaudi pun bisa mencatat
omzet hingga sekitar Rp 50 miliar
per tahun.

Meski sudah menuai sukses, mereka
mengaku masih memiliki angan-
angan yang belum terwujud, yaitu
menempatkan Gaudi sejajar dengan
brand fashion dari luar negeri.
Kedua sahabat itu berambisi agar
nama Gaudi juga berkibar di pasar
dunia. “Kami punya mimpi seperti
Zara,” kata Natha.

Mereka pun memasang target untuk
membuka gerai di Bangkok dan
Singapura tiga tahun mendatang.
“Kami terus mempelajari pasar,
mungkin yang terdekat kami buka
di Singapura,” kata Natha.( J. Ani Kristanti, Meylisa Badriyani )

sumber: http://mobile.kontan.co.id/news/duet-wanita-cantik-di-balik-gerai-fashion/2013/01/18

Amin, Mantan Buruh Pabrik Ini Kini Jadi Juragan Kain Tenun Sutera Khas Garut Beromzet Ratusan Juta

Sejak lama, Kabupaten Garut, Jawa
Barat, dikenal sebagai daerah
penghasil kain sutera. Salah satu
produsen kain sutera khas Garut ini
adalah Amin Iskandar.
Terjun ke usaha ini sejak tahun
2003, nama Amin kini dikenal luas
sebagai produsen kain sutera dan
pengrajin kain tenun Garut.

Namanya berkibar seiring jaringan
pasarnya yang luas. Kini, Amin rutin
memasok kebutuhan kain sutera
buat para pembatik di beberapa
daerah, seperti Pekalongan,
Cirebon, Yogyakarta, dan Jakarta.
Dengan jumlah produksi mencapai
2.000 meter kain sutera per bulan,
Amin mengantongi omzet lebih dari
Rp 100 juta. Di bendera usaha
Rumah Tenun Amin, ia juga
memproduksi kain putihan dan kain
mori untuk batik. “Harga kain saya
berkisar Rp 95.000 sampai Rp
200.000 per meter,” kata dia.
Sebelum menjadi produsen kain
sutera, Amin lama bekerja di salah
satu perusahaan tenun sutera di
Garut. Sadar akan potensi bisnis
kain sutera, pada 2003, ia
memutuskan untuk membuka usaha
sendiri.

Selain tujuan bisnis, ia juga
mengaku terpanggil untuk turut
melestarikan budaya tenun kain
sutera khas Garut. Apalagi,
perkembangan tenun tradisional
Garut kini mulai surut. “Jadi, saya
mau angkat lagi untuk melestarikan
budaya tenun, terutama kerajinan
sutera,” ujarnya.

Amin menemukan banyak tantangan
saat awal-awal merintis usaha.
Pernah usahanya terkatung-katung
karena kekurangan modal.
“Perjalanan saya mengembangkan
Rumah Tenun Amin penuh dengan
hambatan dan tantangan,” ujarnya.

Amin mengkisahkan, di awal
merintis usaha, ia butuh modal
dalam jumlah lumayan besar.
Jumlahnya mencapai sekitar Rp 40
juta – Rp 60 juta buat membeli
empat alat tenun bukan mesin
(ATBM), bahan baku, dan sewa
tempat.

Untuk memenuhi kebutuhan modal
itu, Amin rajin mencari investor
yang mau diajak bekerja sama.
Karena kemauannya yang kuat, ia
pun berhasil meyakinkan beberapa
investor yang merupakan kerabat
dan kenalannya.
Lantaran omzetnya masih kecil,
modal uang yang disetor investor
itu sering dibayar dengan kain
tenun. Baru pada tahun 2005, ia
berhasil membayar seluruh modal
yang dikeluarkan investor.

Usahanya makin berkembang maju
saat ia menjadi mitra binaan PT
Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN)
sejak tahun 2011. Sebagai mitraan
binaan, ia pun mendapatkan
pinjaman lunak dari perusahaan
pelat merah itu. “Sementara ini
baru sekali dapat pinjaman senilai
Rp 40 juta untuk pembayaran tiga
tahun,” ucap dia.
Selain pinjaman modal, Amin juga
mendapatkan pelatihan di bidang
manajemen usaha dan pemasaran.

Berkat pelatihan itu, ia kini mulai
melakukan pemasaran lewat
internet. Ia juga sering diikutkan ke
pelbagai pameran usaha skala kecil
menengah yang difasilitas oleh
PGN.
Amin optimistis usahanya akan
terus berkembang. Terlebih minat
masyarakat terhadap tenun sutera
kini terus tumbuh. Produk kain
sutera diminati karena memiliki
nilai estetika tinggi. Lantaran
lembut dan tahan kusut, kain sutera
juga sering digunakan untuk
membuat selendang atau pakaian
jadi.

Berbekal pengalaman sebagai
karyawan di sebuah perusahaan
tenun, Amin Iskandar, 44 tahun,
memutuskan untuk mendirikan
usaha sendiri. Ayah dari dua orang
putri ini membangun usaha tenun
sutera di Kecamatan Kadungora,
Garut, Jawa Barat.
Amin memulai usaha tenun sutera
dengan membeli empat unit alat
tenun bukan mesin (ATBM) pada
tahun 2009. Saat itu, ia hanya
melayani pembelian secara eceran.
Omzetnya di awal-awal usaha hanya
berkisar Rp 10 juta per bulan.

Amin pun mencari cara agar
omzetnya bisa lebih tinggi lagi. Saat
itu, ia berpikir, tidak mungkin
omzet bisa lebih besar bila hanya
mengandalkan penjualan eceran. Ia
lantas mulai mencari konsumen
yang mau membeli dalam partai
besar atau grosir.
Maka itu, Amin mulai mendekati
para pembatik di daerah-daerah.

Hampir setiap bulan, ia
mengunjungi pembatik di daerah
Pekalongan dan Cirebon untuk
menawarkan produk tenun
suteranya. Selain itu, ia juga biasa
bertemu para pembatik di tempat-
tempat pameran yang diikutinya.
Upayanya itu tidak sia-sia. Berkat
pendekatan seperti itu, order dari
para pembatik pun mulai mengalir.
“Mereka ini membeli kain tenun
dalam partai besar,” kata Amin.

Lantaran sudah punya banyak
pelanggan, Amin kini sudah tak
perlu repot-repot menjajakan kain
tenunnya seperti dulu lagi. Melalui
jaringan yang dibangunnya,
terkadang para pembatik malah
mendatangi langsung galerinya di
Garut.

Usahanya semakin berkembang
sejak mendapat pelatihan dari
yayasan Citra Tenun Indonesia (CTI)
pada tahun 2012. Berkat pelatihan
itu, produk yang dihasilkan Amin
kini makin variatif.
Selain memproduksi kain putihan,
Amin juga memproduksi kain
dengan pelbagai corak dan warna.
Bahkan, ia juga sudah memproduksi
pakaian siap pakai. Selain pelatihan,
CTI juga turut membantu
memasarkan produknya.

Kendati sukses, bukan berarti
bisnisnya tidak pernah menemui
hambatan. Kendala bahan baku
kerap menjadi momok bagi para
perajin tenun seperti Amin.
Pasalnya, mayoritas bahan baku
benang sutera diimpor dari China.

Alhasil, pasokan bahan baku kerap
tersendat. “Setahu saya, 100%
pengrajin sutera bergantung
terhadap bahan baku benang sutera
dari China,” katanya.
Selain pengiriman kadang kurang
lancar, harga bahan baku impor
dari China juga terus naik. Menurut
Amin, dalam setahun, bisa terjadi
empat hingga lima kali kenaikan
harga bahan baku.
Amin membeli benang sutera dari
pengimpor di Surabaya seharga Rp
590.000 per kilogram (kg). Dalam
sebulan, ia bisa membeli 200 kg
benang. “Karena pengiriman sering
terlambat, biasanya saya sering
menyetok supaya tidak kehabisan
bahan baku,” tuturnya.

Tenaga kerja pun menjadi masalah
dalam bisnisnya. Kini, karyawan
Rumah Tenun Amin mencapai 40
orang. Selama menjalani bisnis, ia
kesulitan mendapat tenaga kerja
yang tekun dan berpengalaman.
Pasalnya, turn over karyawan di
tempatnya relatif tinggi karena
kebanyakan perempuan. “Kalau
sudah menikah, mereka keluar dan
saya yang repot mencari karyawan
baru dan melatih dari awal lagi,”
ucap dia.

Kendati bisnis kain tenun sudah
menghasilkan omzet ratusan juta,
hal itu tak membuat Amin Iskandar
cepat puas. Pemilik Rumah  Tenun
Amin di Garut, Jawa Barat, ini
masih menyimpan banyak rencana
buat memajukan usahanya.
Salah satunya adalah rencana
mengatasi kendala bahan baku
benang sutera. Amin mengaku
sudah punya solusi mengatasi
persoalan tersebut.

Yakni, dengan menjalin kerjasama
dengan petani ulat sutera. Dalam
kerjasama itu, ia akan menampung
kepompong ulat sutera dari petani
untuk kemudian dipintal sendiri
menjadi benang. “Harus begitu
supaya tidak mengandalkan bahan
baku dari China lagi,” tuturnya.
Menurut Amun, dulu pernah ada
perusahaan yang memproduksi
benang sutera di Sukabumi, yakni
PT Indo Jado Sutera Pratama.
Namun, pada 2003, perusahaan itu
tutup karena bangkrut.
Sejak itu, perajin tenun sutra
bergantung kepada pasokan benang
sutra impor dari China. Agar lepas
dari ketergantungan, Amin ingin
bekerja sama dengan para petani
sutera di Garut dan Bogor, Jawa
Barat.
Selama ini, kata Amin, petani
membudidayakan ulat sutera dalam
skala kecil. Nah, bila jadi
bekerjasama, ia akan mendorong
mereka untuk meningkatkan hasil
produksinya, sehingga bisa dipakai
untuk keperluan yang lebih besar
lagi.

Amin mengaku pernah
menyampaikan rencananya ini
kepada Dinas Kehutanan Garut.
Tampaknya dinas sangat mendukung
keinginannya itu. “Orang dari Dinas
Kehutanan akan menggiatkan
kembali pembinaan kepada para
petani sutera,” ucap dia.
Amin juga mengaku, rencananya ini
mendapat dukungan penuh dari
industri tenun sutra skala besar di
Garut. “Mereka menawarkan
bantuan mesin pemintal, dengan
syarat, saya bekerja sama dengan
petani sutera,” ujarnya.

Amin mengaku senang lantaran
banyak pihak mendukung
rencananya ini. Maka itu, menjalin
kerja sama dengan petani sutera
kini menjadi fokus utamanya dalam
mengembangkan bisnis tenun yang
digelutinya.

Setelah kendala bahan baku
teratasi, Amin berniat membangun
galeri sutera di Jakarta agar
jangkauan pemasarannya lebih luas.

Untuk itu, ia kini mulai melakukan
pengembangan produk.
Selain kain tenun lembaran, sejak
tahun lalu, Amin juga mulai
memproduksi pakaian jadi. Dengan
membuat pakaian jadi,
konsumennya kini tidak terbatas di
kalangan pembatik saja. Tapi juga
masyarakat umum yang ingin
mencoba langsung produk dengan
mengenakan busana sutera.
Dengan begitu, produk tenun sutera
khas Garut bisa semakin dikenal.
“Sekarang kalau pameran, saya tidak
bawa bahan mentah, tapi yang
sudah siap pakai oleh konsumen
umum,” ujarnya. (Marantina )

sumber: http://mobile.kontan.co.id/news/amin-akan-gandeng-petani-ulat-sutera-3/2013/02/03