Category Archives: Fashion

Bermodal Jual Motor, Kini Zakiyah Cetak Omzet Puluhan Juta

KOMPAS.com — Awalnya, Zakiyah
Fitri dan orangtuanya hanya
berprofesi sebagai tukang jahit.
Namun, ia akhirnya
memberanikan diri membuka
usaha baju muslimnya sendiri.
Dengan modal awal sebesar satu
buah motor, ia kini berhasil
meraih omzet hingga Rp 50 juta
per bulan.

“Sudah 10 tahun usaha. Awal baju
muslim anak,” sebut Zakiyah
kepada Kompas.com , di sela-sela
pameran kerajinan, di Jakarta,
beberapa waktu lalu.
Ia bercerita, sebelumnya, dia dan
orangtua mempunyai usaha jasa
terima jahitan baju. Jahitan yang
diterima misalnya baju seragam.
Setelah itu, ia pun termotivasi
untuk membuka usaha sendiri.

Zakiyah punya niatan untuk
menggeluti usaha baju muslim.
Tetapi, ia mengawalinya untuk
segmen anak-anak.
Ibu dari tiga anak ini mengaku
menemui kesulitan ketika memulai
usaha yang dinamakannya Alifah
Collection. Kesulitannya adalah
permodalan. “Modal awal saya
jual motor,” sambung dia.

Hasil penjualan motor itu lantas ia
belikan dua buah mesin jahit.
Kedua mesin itu dibelinya dengan
harga sekitar Rp 1,4 juta. Setelah
sekian lama membuat baju
muslim anak, ia pun tertantang
membuat baju untuk orang
dewasa. Alasannya, kurang variatif
kalau hanya menyasar anak-anak.
“Enggak pede ,” kata dia.
Kesulitan kembali ditemuinya.
Modal yang dibutuhkan tentu kian
besar seiring dengan usaha yang
semakin berkembang. Ia butuh
mesin dan tenaga kerja yang lebih
banyak. “Modal awal enggak
banyak, cuma untuk merintis bisa
jadi besar itu susah,” sambung
Zakiyah.

Untuk bisa menggarap kedua
segmen, ia menambah tenaga
kerjanya. Sekarang ada sekitar 25
tenaga kerja yang direkrut.
Sebanyak 15 orang penjahit
bekerja di depan rumahnya
sebagai tempat produksi. Dan, ia
juga merekrut tenaga kerja lepas
sebanyak 10 orang. Tenaga kerja
ini menjahit di rumahnya masing-
masing.

Selain tenaga kerja, ia pun butuh
mesin tambahan. Dari informasi
seorang teman, Zakiyah
mendaftar untuk menjadi mitra
binaan Perusahaan Gas Negara di
Surabaya. Setelah melalui proses
yang cukup selektif, ia pun
tercantum sebagai mitra binaan
sejak tahun 2006. “Dari teman,
waktu itu ikut forum pengusaha
pemuda produktif,” ujarnya.
Bergabung sebagai mitra binaan,
ia pun mendapatkan sejumlah
keuntungan. Mulai dari pelatihan
tentang manajemen hingga
diikutsertakan dalam sejumlah
pameran di Jakarta-Bandung.

Selain dua hal itu, ia yang
merupakan sarjana ekonomi
pembangunan pun mendapatkan
hibah peralatan dari PGN, yakni
tiga set mesin dan bahan seharga
Rp 20-Rp 25 juta.
Peralatan itu digunakannya untuk
membuat baju dari bahan kaus.
Dengan peralatan dan tenaga
kerja yang ada, ia bisa
menghasilkan 700 potong baju
baik dewasa dan anak per
bulannya. Ia memasang harga
baju buatannya, paling mahal Rp
200.000. Produk jilbab merupakan
barang termurah dengan harga
Rp 40.000.
Penjualan dilakukannya melalui
toko-toko baju, pameran, ataupun
pemesanan melalui telepon.

Sistem pembayarannya adalah
konsinyasi. “Ada yang sistemnya
bayar mundur 2-3 bulan. Terima
barang bayarnya mundur, yang
enggak laku tetap dibeli, tapi
dibayar mundur,” ucapnya.
“Omzetnya bisa Rp 50 juta per
bulan,” tambah Zakiyah.
Persaingan tentu ada, bahkan
cukup sengit. Tetapi, ia menyiasati
itu dengan berusaha membina
hubungan baik dengan
pelanggan. Zakiyah juga
berinovasi dengan model-model
baju terbaru. Ke depan, ia pun
berniat merambah pasar negara
tetangga, seperti Malaysia.
“Kepengin ke Malaysia, tapi
jembatannya enggak ada,”
pungkasnya.( Ester Meryana )
Editor: Erlangga Djumena

Sumber: http://m.kompas.com/news/read/2012/06/04/09161945/bermodal.jual.motor..kini.zakiyah.cetak.omzet.puluhan.juta

Advertisements

Dari Hobi, Pardianto Jadi Pengusaha Produk Kulit Buaya Beromzet Ratusan Juta

JAKARTA, KOMPAS.com — Tidak
sedikit orang menjadikan produk
kulit buaya sebagai barang hobi
atau kesenangan belaka. Namanya
hobi, sekalipun mahal, tetap
mereka beli.

Akan tetapi, tidak banyak yang
lebih memilih menghasilkan
sendiri untuk dijual ketimbang
sekadar membeli atau menjual
kembali barang yang dibelinya ke
sesama pehobi. Pardianto adalah
salah satu di antaranya . Pria ini
mulai menyukai berbagai produk
dari kulit, seperti sepatu, ikat
pinggang, dan dompet, sejak
1991. Berselang delapan tahun
kemudian sebagai pehobi, ia
memutuskan terjun sebagai
pengusaha kerajinan kulit buaya
itu.

“Lambat laun, ada niat dari saya
untuk belajar bagaimana
membuatnya dari perajin lain dan
akhirnya kita bisa menghasilkan
sendiri. Daripada hanya jadi
penikmat saja yang hanya
menghabiskan uang,” ujarnya
kepada Kompas.com ditemui di
ajang pameran fashion dan
kerajinan tangan di JCC Senayan,
Jakarta, akhir pekan lalu.
Kini, melalui usaha kerajinan kulit
buaya asli dari Provinsi Papua
tersebut, ia mengaku mampu
menghasilkan pendapatan kotor
Rp 100 juta dalam sebulan. Itu
pun masih bentuk industri
rumahan dengan bantuan alat
manual non-mesin modern atau
handmade dan tidak bermerek
jual. Pegawainya pun hanya
berjumlah lima orang.
Pardianto mengatakan, populasi
buaya di Papua terbilang banyak.
Ini membuat keberadaannya
cukup membahayakan bagi
masyarakat, terutama anak-anak
di sekitar rawa, sungai, dan pantai.

Menurutnya, hewan ini pun
akhirnya menjadi salah satu
sumber kehidupan bagi
masyarakat sekitarnya. Warga
memanfaatkan buaya mulai dari
kulit, daging, gigi, telur, hingga
empedunya. Selain hasil
penangkapan, ada juga yang
ditangkarkan di suatu tempat
hingga menghasilkan keturunan.
“Kita di Papua sudah memiliki izin
dari pemda untuk
membudidayakan buaya. Kita juga
bermitra dengan konservasi
sumber daya alam di sana.
Mungkin kalau di wilayah
Indonesia barat, membunuh
buaya hal yang legal, tapi di Papua
tidak demikian,” ungkapnya.
Kulit buaya yang didapat
Pardianto berasal dari masyarakat
sekitar. Ia hargai kulit Rp 30.000
per inci. Seekor buaya ukuran
besar bisa mencapai 20 inci kulit
dan dalam 1-3 hari bisa mendapat
pasokan sekitar 200 inci. Kulit
mentah itu berbentuk kasar,
bersisik hitam, dan masih banyak
daging yang menempel.
Melalui industrinya, kulit tersebut
disamak atau dihaluskan dengan
cara manual tanpa bantuan mesin
modern. Ketika dirasa sudah
halus, maka layak pakai atau
sesuai standar dijadikan sebagai
bahan dasar kain.

Dalam sebulan, rumah
produksinya mampu
memproduksi sekitar 500 dompet,
25 tas wanita, dan 150 ikat
pinggang. Sebagian besar wilayah
pemasarannya masih sebatas di
Papua saja, seperti Timika,
Sorong, dan Merauke. Kendati
demikian, ia mengaku
penjualannya tidak pernah
merugi.
“60 persen dari total produksi
sebulan bisa habis terjual.
Kebanyakan pembeli dari
kalangan pejabat, pengusaha yang
berkunjung ke Papua, dan juga
satgas yang bertugas di wilayah
perbatasan,” ujarnya.
Wilayah Jakarta dan sekitarnya
hanya dijadikan tempat pameran.
Akan tetapi, ia juga menyadari
pasar di Jawa sangat potensial
bagi produknya. Maka dari itu, ia
juga mempunyai tempat produksi
sekaligus showroom di daerah
pasar wisata Sidoarjo, Jawa Timur,
dengan pasokan kulitnya tetap
dari Papua.

Harga lebih murah

Produk Pardianto pun direspons
cukup baik oleh konsumen, harga
yang ditawarkan terbilang murah
dibanding produk serupa di
tempat lain. “Bila saya ke suatu
toko di Plaza Senayan, sepasang
sepatu dengan merek terkenal
Hermes atau Louis Vuitton seperti
ini bisa mencapai Rp 40 juta,
dompet dan ikat pinggang Rp 15
juta, dan tas wanita bisa mencapai
Rp 400 juta,” ungkap salah
seorang pembeli saat
mengunjungi stan pameran
Purdianto.
Hanya saja, ia mengaku,
penyamakan kulit buaya dari
kerajinan Pardianto memang tidak
sehalus dengan buatan brand-
brand ternama itu yang
menggunakan mesin modern
ratusan juta rupiah. Menurutnya,
bila Purdianto mau bermodal
mesin tersebut dan memakai
merek, maka harga jual sekarang
bisa 2-5 kali lipat.

Sementara produk Pardianto
dibanderol mulai ratusan ribu
hingga jutaan rupiah, seperti
dompet dan ikat pinggang kisaran
Rp 300.000, sepatu Rp 1,8 juta-Rp
2 juta, dan tas wanita Rp 2 juta-Rp
2,5 juta. Dari ketiga barang
tersebut, Pardianto mengakui, tas
wanita dan dompetlah yang
paling laku di pasaran.
“Harga fashion kulit buaya ini
umumnya diketahui oleh
masyarakat kalangan menengah
atas. Kalau ada tamu ke rumah
lalu saya bilang harganya Rp 5 juta
dan itu asli, pasti bakal langsung
dibayar,” ungkapnya tertawa lepas
sembari menunjukkan dompet
kulit pribadinya berumur lebih
dari enam tahun merupakan hasil
produksi sendiri.

Ia mengungkapkan, butuh
permodalan yang cukup besar
bila ingin menerapkan mesin
produksi modern. Padahal,
tawaran Kredit Usaha Rakyat
(KUR) dari berbagai bank daerah
berdatangan. Namun, hingga saat
ini ia masih belum berani
mencobanya. Selain permodalan,
juga butuh perizinan, sumber
daya manusia lebih banyak dan
sebagainya.

“Saya bersyukur dengan usaha
yang sekarang ini bisa punya
rumah, tanah, dan kendaraan
pribadi. Selama 14 tahun, usaha
ini pun juga tidak pernah merugi,”
tutur pemilik CV Argo Boyo Timika
ini.(Dimasyq Ozal)

sumber: http://m.kompas.com/news/read/2012/08/14/09530268/dari.hobi.jadi.pengusaha.produk.kulit.buaya.beromzet.ratusan.juta.

Berawal dari Iseng, Ryo Kini Juragan Distro Beromzet Miliaran

KOMPAS.com — Usia muda
bukan berarti tak bisa mencapai
kesuksesan. Kusdarmawan Aryo
Baskoro membuktikan, di usianya
yang masih muda, 28 tahun, dia
mampu meraup omzet miliaran
rupiah setahun dari usaha distro
yang dirintisnya di Solo.
Kata distro alias distribution
outlet tentu sudah tidak asing di
telinga masyarakat Indonesia.

Toko pakaian jenis ini masih eksis
hingga sekarang lantaran masih
menjadi kiblat fashion anak muda
di hampir semua kota besar.
Bahkan, tidak sedikit anak muda
yang sukses menjadi juragan
distro ini, salah satunya adalah
Kusdarmawan Aryo Baskoro.

Mengusung nama perusahaan
Rawn Divisions, semua merek
yang diproduksi oleh pria yang
akrab dipanggil Ryo ini dilabeli
dengan nama Rown. Nama ini
merupakan kependekan dari Ryo
Owner atau bisa juga diartikan
tapak alias jejak kaki. “Harapan
saya, produk bisnis yang saya
bangun ini bisa menapak di mana-
mana,” ujar pemuda kelahiran
Surakarta, 9 November 1984, yang
boleh dibilang sukses menjadi
juragan distro di kotanya itu.
Ryo menjual berbagai produk
fashion seperti halnya distro lain.
Misalnya, t-shirt, kemeja, celana
jins, sepatu, dan berbagai
aksesori, seperti topi dan stiker. Ia
juga membawa Rown tidak hanya
menyasar anak muda, tetapi juga
segmen anak-anak hingga orang
tua. “Tapi, kami lebih dominan
membidik pasar anak muda,”
ungkapnya kepada Kontan.

Usaha distro yang dibangun
pemuda usia 28 tahun ini kini
memiliki omzet usaha hingga
miliaran rupiah. Dalam sebulan,
Ryo mampu memproduksi 3.000
hingga 4.000 kemeja, 2.000
pasang sepatu, 3.000 potong
celana jins, dan yang terbanyak
adalah sekitar 25.000 potong
kaus. Setiap satu desain hanya
diproduksi 30 potong.

Saat ini, Ryo memang hanya
memiliki dua gerai, yaitu di
Karanganyar dan Surakarta.
Tetapi, dia bermitra dengan
banyak distro di beberapa kota
untuk memasok produknya.
“Produk saya sudah menyebar
dari Aceh hingga Papua,” kata Ryo,
yang berencana membuka
cabang di Pontianak lantaran ada
investor yang berminat bekerja
sama.

Dua tahun terakhir, merek Rown
bahkan sudah masuk pasar
Malaysia dan Singapura. Tak lama
lagi, produknya akan juga bakal
dikirim ke Kanada. “Kalau soal
omzet yang pasti terjual lumayan
hingga ribuan pieces dengan
rentang harga mulai dari Rp
20.000 sampai Rp 800.000,” ujar
bungsu dari dua bersaudara ini.

Buah dari keisengan

Semangat bisnis Ryo sebetulnya
sudah muncul sejak berada di
kelas III sekolah dasar. “Saya
jualan gorengan dan kacang di
sekolah, semuanya mama yang
bikin. Upahnya lumayan buat
ditabung,” kenangnya sambil
terkekeh. Jualan gorengan ia
lakoni hingga duduk di bangku
SMP. Ketika SMA, dia sudah dapat
membuat desain dan sablon di
kain sarung pantai.
Ryo mulai merintis usaha distro
saat kuliah. Awal usaha ini
sebenarnya bukan berangkat dari
kesengajaan. Ketika masuk kuliah
pada tahun 2003, dia
membangun usaha patungan
bersama temannya dengan
memasarkan produk fashion
bermerek Ankles. Targetnya
adalah anggota komunitas
skateboard .

Sayang, usaha itu bubar. Ryo tak
lantas putus asa. Iseng-iseng dia
mendesain sebuah t-shirt . Tak
disangka, banyak yang meminati
desainnya itu. Permintaan pun
terus berdatangan. Pada tahun
2006, merek Rown lahir dengan
modal awal Rp 30 juta.

Awal berdiri, Ryo hanya memiliki
tiga karyawan. Ia juga menyewa
gerai seluas 3 meter x 10 meter.
Lambat laun, dari yang semula
memproduksi puluhan kaus,
permintaan bertambah menjadi
ratusan bahkan hingga kini
mencapai ribuan potong.
Pada 2008, Ryo mulai
mengembangkan usahanya. Ia
mendapat pinjaman dari bank.
“Saya meminjam Rp 100 juta
untuk pengembangan usaha.
Sekarang, aset saya sudah
miliaran,” ungkapnya tanpa mau
menyebut detail berapa besar.
Ryo juga terus menambah
karyawan, dari semula tiga
desainer, kini ia memiliki lima
desainer dan total karyawan
mencapai 40 orang. Gerai yang
semula seukuran “kamar” sudah
meluas menjadi 360 meter
persegi. “Saya sudah membuat
jenjang karier bagi para karyawan.
Namun, yang langsung melayani
pembeli saya bayar secara
harian,” cerita lulusan Jurusan
Ilmu Komunikasi Universitas
Sebelas Maret ini.

Dalam memasarkan produknya,
Ryo memakai berbagai cara jitu, di
antaranya menjadi sponsor di
beberapa acara anak muda
seperti pentas band. Untuk hal itu,
dia juga pernah menjadi sponsor
band Efek Rumah Kaca, MTV
Ampuh, MTV 100%, dan berbagai
film televisi (FTV). “Saya pantang
jualan produk rejected ,” katanya.
Ryo tak lantas puas dengan hasil
kerjanya. Ia menggunakan uang
hasil keuntungan untuk
memperluas bisnis. “Saya
berencana membuat produk jam
tangan dengan merek Rown dan
membuat sistem semi-waralaba
buat usaha ini,” ujarnya.
Ryo bilang, saat pesanan mulai
banyak, dia masih menghadapi
kendala, khususnya dalam
infrastruktur pengiriman. “Jika ada
permintaan dari luar negeri,
pengiriman sering terhambat,”
ujarnya. Ia berharap proses
pengiriman bisa lebih cepat.
(Cheppy A Muchlis/ Kontan)
Editor: Erlangga Djumena

sumber: http://m.kompas.com/news/read/2012/08/10/10291579/berawal.dari.iseng..ryo.kini.juragan.distro.beromzet.miliaran

Ariranto, Anak Supir Angkot Sukses Jualan Peralatan Gunung dengan Enam Outlet dan Puluhan Karawan

SETIAP orang pasti memiliki hobi untuk melepas stres maupun untuk rekreasi. Contoh saja Almarhum Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo. Salah satu cara yang beliau lakukan untuk menghilangkan kepenatan pekerjaan dengan melakukan hobinya, yakni mendaki gunung.

Hobi serupa dimiliki Peres Ariranto Pangabean. Berawal dari hobinya mendaki gunung bersama kakak dan teman-temannya, pria yang akrab disapa Peres ini telah terinspirasi untuk menjual perlengkapan gunung. Sayangnya, anak ke-3 dari empat bersaudara ini bukan terlahir dari keluarga pebisnis. Ayahnya, Timbul Pangabean, bekerja sebagai supir angkot, sementara sang ibu, Susiani beprofesi sebagai penjual sayuran yang bertempat tinggal di Kampung Tipas Mekarsari, Cimanggis, Depok.

Namun, hal tersebut tak mengahalangi Peres untuk memulai usahanya. Peres mengaku kedua orangtuanya mendukung apa yang akan dilakukan Peres. Tapi, orang yang paling mendukung Peres dalam keluarganya sang kakak kandungnya yakni Tongam Sopiantoro. Menurut Peres, kakanya itu kerap memotivasi Peres untuk lebih maju. Dukungan sang kakak, juga diwujudkan saat mereka mencari tempat yang digunakan untuk outlet outdoor miliknya di samping Universitas Pancasila, Jakarta Selatan. Outlet seluas 2×3 meter persegi tersebut, dibanderol dengan harga Rp6 Juta per tahun.

Kedua kakak beradik tersebut memang tidak mempunyai uang sedemikian besar, karenanya pada 2000 mereka mengajukan pinjaman ke bank dengan menggadaikan surat tanah milik orangtuanya. “Dulu nyari modal pinjam dari bank Rp5 juta, tapi yang cair cuma Rp2,5 juta,” kenang Peres kala berbincang dengan Okezone di salah satu outlet-nya cabang Depok, Jawa Barat beberapa waktu lalu. Alhasil untuk menambah modal tersebut Peres harus menjual kendaraan kesayangannya. “Saya sampai jual vespa waktu itu,” tambah dia.

Pasarkan Produk

Outlet pertama pun akhirnya berdiri, dengan meminjam nama sebuah gunung di Aceh, Leuser, yang kini ditetapkan sebagai merk produk outdoor-nya. “Dulu abang dan teman-temannya mendaki gunung Leuser di Aceh, lalu bersama ketiga temannya memilih nama Leuser untuk produk ini,” jelas dia.

Namun, masalah bukan selesai dengan mendapatkan tempat untuk mmbuka tempat berjualan. Masalah sebenarnya baru datang kala produk mereka muncul, yakni bagaimana cara memasarkan produk mereka. Menyewa tenaga marketing bukan opsi bagi mereka. Jangankan untuk menyewa marketing, untuk mempekerjakan seorang penjaga saja mereka belum mampu. Outlet tersebut, terpaksa dijaga bergantian oleh keduanya sekaligus melanjutkan kuliah.

Karenanya, pemasaran pun dilakukan keduanya sambil menjalankan kuliah. Berawal dari penawaran ke teman-temannya, produk keduanya pun mulai marak di antara teman-temannya. “Dulu setiap bawa barang ke kampus temen-temen malah pada tertarik. Mereka malah mampir ke outlet, soalnya kata mereka lebih lengkap di outlet,” jelas Peres.

Peres pun tidak main-main dalam menjalankan usahanya. Untuk itu, pria kelahiran Jakarta, 21 Oktober 1985 ini sengaja memilih ilmu administrasi niaga. “Saya milih kuliah ngambil jurusan administrasi niaga memang niatnya nanti mau ngembangin usaha bareng abang,” tuturnya.

Marketing yang dilakukan Peres dan kakaknya tergolong sukses menarik pelanggan. Dengan omzet awal sebesar Rp10 juta-Rp15 juta per bulan, membuat tempat yang awalnya dia sewa dipermanenkan pada 2011, sekaligus menjadi outlet resmi Leuser yang pertama.

Sukses Peres tak lepas dari tergabungnya dia dalam Ikatan Asosiasi Adventure Indonesia yang terdiri dari berbagai pengusaha dibidang jual beli perlengkapan outdoor. Peres mengaku outlet-nya kebanjiran order saat Juni sampai Desember, karena pada bulan-bulan tersebut saat libur sekolah dan banyak orang yang berlibur untuk traveling dan menggunakan peralatan gunung guna menunjang pendakian.

Motivasi

Peres mengaku dahulu tidak terpikir usahanya akan berjalan hingga saat ini. Sampai saat ini outlet yang dimilikinya sekira enam outlet di antaranya di Cibubur, Margonda Depok, Ciputat, Kramat Jati, dan Kalimalang, kawasan Universitas Pancasila. Dengan omzet mencapai Rp150 juta per outlet, Peres kini memiliki sekira 25 karyawan di enam cabang outlet Leuser miliknya. Sekira 15-17 merk peralatan gunung ia jual di enam cabang outlet-nya. Dengan permintaan konsumen yang kian meningkat setiap bulannya.

Hal ini, tak lantas membuat Peres berbangga hati. Dia mengaku sering membaca profil para pengusaha seperti Bob Sadino, Chairul Tanjung dan sebagainya untuk menginspirasi dirinya dan usahanya. “Mereka saja bisa, kenapa saya tidak, mumpung masih muda diumur saya 27 ini,” tukasnya sambil tersenyum.

Selain itu, keikutsertaan dia dalam organisasi outdoor juga mendatangkan keuntungan lain. Di setiap pertemuan dia dapat menambah wawasannya dan bertukar fikiran dengan sesama pengusaha outdoor untuk mengembangkan usahanya dan membahas kendala apa saja yang dihadapi dalam menjalankan usaha perlengkapan outdoor.

Oleh karena itu, persaingan dengan outlet outdoor lain pun dijadikan motivasi dirinya untuk terus mengembangkan usahanya, karena menurutnya jika tidak ada saingan maka usahanya tidak akan seperti yang ia jalani saat ini. Intinya, jelas dia, harus tetap berpikiran positif. “Saya percaya kalaupun enggak ada modal yang penting ada niat, jangan mudah menyerah dan yang penting bekerja keras, itu akan membawa kita pada kesuksesan,” ungkap Peres.

Menurut dia, kunci sukses lainnya adalah 25 orang karyawannya yang loyal. “Zaman sekarang orang pintar banyak, tapi orang jujur susah,” kata Peres.

Ke depan, Peres berencana akan mengembangkan usahanya dengan membuka cabang outlet Leuser di seluruh daerah di Jabodetabek. Dengan saving money 20 persen dari keuntungan yang didapat, Peres menyisakannya untuk memenuhi kebutuhan outlet-nya.  “Meskipun bapak sopir dan ibu tukang sayuran dulu, tapi sekarang saya sudah bisa mencukupi semua yang mereka perlukan,” tukas dia. (mrt/nia)
(ade)

sumber: http://economy.okezone.com/read/2012/05/13/455/628697/anak-supir-angkot-sukses-jualan-peralatan-gunung

Saptu, Kembangkan Kaos Khas Jogja Istimewa “Jogist”, Sukses Terjual Ratusan Kaos/Bulan

JAKARTA – Menunda kesenangan saat kuliah demi membuka usaha adalah kunci keberhasilan sang pemilik Kedai Digital saat memulai usahanya dibidang merchandise.

Jeli dalam melihat peluang bisnis yang besar juga menjadi inspirasi tersendiri dari seorang Saptuari Sugiharto. Kedai Digital yang dimilikinya kini telah “merajai” dunia usaha, serta produknya terlihat sudah tidak asing lagi, khususnya di wilayah Jawa.

Pria yang biasa disapa Saptu ini merupakan finalis Wirausaha Muda Mandiri 2007. Saat ini, dirinya sudah mempunyai 61 cabang Kedai Digital di 30 kota yang tersebar di Indonesia. Kedai Digital pun mempunyai konsep menghadirkan merchandise pribadi.

Mengapa akhirnya lahir Kedai Digital? Mulanya Saptu terpikir untuk membuka usahanya ketika dia melihat sebuah konser musik di Yogya. Kala itu, dirinya melihat orang-orang berebut kaos band Dewa.

“Saya pikir kok gara-gara kaos Dewa, orang sampai berantem berebutan seperti itu. Gara-gara merchandise artis. Dari situ aku berpikir merchandise itu untuk dijadikan lahan usaha,” ujarnya saat di temui Okezone.

Saptu yang lahir di Yogyakarta 8 September 1979 mengaku mulai berbisnis sejak duduk di bangku kuliah semester pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1998. Ketika itu dirinya menjadi penjaga tas di kios UGM dengan gaji sebesar Rp20 ribu seminggu.

Saat ini, dia sedang mulai merambah untuk memproduksi kaos Yogya istimewa atau yang disebut dengan Jogist. Tahap penggarapan pun mulai berlangsung, dengan proses yang dimulai sejak 2011 lalu melalui penjulan online. Produk yang ditampilkannya, sebesar 30 persen bertema Yogya dan 70 persen bertema umum.

Selama kurun waktu tujuh tahun usahanya berjalan, sejak awal pertama kali membuka usaha pada 2005, dia nekat membuka cabang lagi pada 2006. Namun rencana tinggal rencana, bencana gempa di Yogya menjadi salah satu alasan tidak jadi dibuka. Namun, dirinya tidak menyerah.

“Saya enggak nyerah, waktu usaha saya terimbas gempa, saya coba lagi. Pada 2007 saya mengajak beberapa karyawan untuk mengajak menaruh saham di Kedai Digital, dari kerjasama itu menghasilkan lima cabang di Yogya,” katanya.

Bertempat di atas lahan seluas 2×7 meter yang merupakan bekas gudang becak. Dia pun menyulapnya menjadi kantor pusat. Sekarang, Saptu sudah memproduksi 60 produk merchandise.

“Dari yang tadinya hanya di sekitar Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur kini sudah merambah mulai Sabang sampai Marauke, dari Banda Aceh, hingga Jayapura. Serta akan segera opening sehingga jika ditotal sekira 37 kota,” tuturnya.

Dia menyebutkan, untuk yang benar-benar milik sendiri dan saham sendiri ada 10 kedai di seluruh cabang. Selebihnya, sebagian sahamnya dimiliki juga oleh mitra-mitranya. Saat ditanyakan soal omzet secara nasional, dia menyebutkan hampir sekira Rp800 juta sampai Rp1,2 miliar untuk keseluruhan cabang.

Saptu pun memasarkan merchandise-nya untuk personal sebesar 40 persen, serta untuk perusahaan sebesar 60 persen. Adapun untuk kebutuhan personal biasanya digunakan untuk selamatan, ulang tahun, dengan harga yang beragam.

Ekspansi Usaha

Saat ini, Saptuari tengah mengembangkan usaha kaos Jogist-nya. Dia pun sudah berhasil menjual 700 kaos Jogist dalam jangka waktu sebulan hanya dari satu kios baru miliknya. “Target saya sebulan 1.000 kaos. Per buah Rp75 ribu sampai Rp80 ribu,” singkatnya.

Dia mengakui, di kantor pusat Kedai Digital dan Jogist yang terletak di daerah Utara UGM dahulu omzetnya hanya sekira Rp20 juta per kedai. Namun, saat ini bisa mencapai Rp80 juta per kedai. Adapun, kendala yang dialaminya yakni untuk pengadaan bahan baku, karena tergantung dari bahan baku lokal yang masih terbatas. Dia pun memberikan tips bagi yang ingin membuka usaha, yakni tetap harus fokus pada usaha yang dijalankan, serta tidak mudah menyerah.

“Karena orang menyerah itu orang yang kalah di awal, banyak berinteraksi dengan Tuhan, dan perbanyak bersedakah. Rezeki akan datang unlimited. Lalu, berjuanglah dengan kelucuan dan keluguan, karena dengan hal itu kita bisa memperoleh keberuntungan dalam usaha,” tuturnya.

Jatuh Bangun Memulai Usaha

Dirinya yang lulusan sarjana geografi ini memulai jerih payahnya dengan berjualan ayam potong, celana gunung, batik, stiker. Semua dilakoninya sembari berkeliling kampus dengan menjajakan dagangannya. Semasa kuliah, dia sudah menjalankan bisnis serabutan. Ada delapan jenis usaha yang kala itu ditanganinya, mulai dari berjualan ayam, celana gunung, dan sebagainya.

“Saya mengimbau ke teman-teman mahasiswa jadilah pengusaha sebelum diwisuda, karena nanti ketika lulus akan siap langsung membuka usaha. Pak Dahlan Iskan (menteri BUMN) pernah bilang ke saya, kamu sebagai mahasiswa segera jalankan usaha, enggak apa-apa bangkrut sekarang, daripada nanti sudah tua bangkrut, sembuhnya lama. Setiap orang punya jatah gagal, habiskan jatah itu sekarang tinggal nanti berhasilnya,” ceritanya.

Sejak saat itu, usai menamatkan kuliahnya dari UGM, ia mengaku ijazahnya disimpan dengan rapih. kendati tidak digunakan karena dirinya sudah bertekad ingin menjadi pengusaha. Sang ibu pun mendukung tekadnya tersebut. Dia dan ibunya memberanikan diri meminjam uang untuk modal awal sebanyak Rp20 juta. Namun, yang cair hanya Rp15 juta, mengingat tabungan yang dimilikinya hanya Rp3 juta. Dia pun memberanikan diri menggadaikan surat tanahnya kepada bank.

“Ibu mengizinkan saya untuk meminjam uang di bank karena saya serius. Mengingat bapak sudah lama meninggal sejak saya masih duduk di kelas 5 SD,” tuturnya.

Melihat kondisinya yang sejak kecil telah menjadi anak yatim, yakni dari seorang anak tentara dan memiliki ibu pedagang di pasar Lempuyangan di Yogya, Saptu berniat agar ibunya dapat beristirahat dan dia memutuskan menjadi pengusaha. Kini, Saptu sudah berkeluarga namun belum memiliki anak. “Saya sedang menjalani proses untuk memperoleh anak,” tutupnya sambil tersenyum. (ade)

sumber: http://economy.okezone.com/read/2012/06/05/455/641939/kedai-digital-beromzet-hingga-rp1-2-m