Category Archives: Finance

Riana, Miliarder Muda yang Semuanya Bermula dari Berani Bermimpi Besar

Mimpi, menumbuhkan tujuan,
dan semangat hidup Merry Riana
(31). Dengan mimpi, semangat,
dan kerja keras, ia menjadi
miliarder di usia muda.

Saat usianya menginjak 20 tahun, Merry
punya mimpi. Dia ingin sebelum berusia 30 tahun sudah mendapatkan

“kebebasan” finansial.

Mimpi itu terwujud. Hanya setahun setelah dia bekerja, tepatnya di usia 23

tahun, Merry sudah berpenghasilan 220.000 dollar
Singapura. Kira-kira sekitar Rp 1,5 miliar
dengan nilai tukar saat ini. Setahun berikutnya,
yaltu pada tahun 2004,dia mendirikan perusahaan Merry Riana Organization

(MRO). Dua tahun berikutnya di usia 26 tahun, penghasilan totalnya
mencapai 1 juta dollar Singapura —sekitar Rp 7 miliar.

Popularitas Merry melesat. Dia banyak diberitakan media massa di
Singapura sebagai miliarder di usia muda. Lho,
Singapura?

Meski lahir di Jakarta dan orangtua yang warga
Indonesia, Merry mengawali karier sebagai konsultan keuangan,

pengusaha, dan menjadi motivator di Singapura. Sejak
lulus SMA, anak pertama dari tiga bersaudara ini
“mengungsi” ke Negeri Singa.

Ketika bertemu di Central Park, Jakarta,
Minggu (10/7), beberapa jam sebelum kembali ke Singapura, Merry

bercerita sambil mengingat kembali perjalanan hidupnya. Pekan lalu,

selama tiga hari, Merry ada di Indonesia untuk menjadi pembicara atas

undangan sebuah perusahaan di Semarang, Jawa Tengah.

“Ya, sudah lama juga saya di Singapura. Meski rencana kembali ke
Indonesia belum terlaksana, setidaknya pada
tahun ini saya lebih sering datang ke Indonesia karena lebih banyak

kegiatan yang dilaksanakan di sini,” kata Merry.

Kerusuhan 1998

Perjalanan hidup Merry di Singapura berawal ketika terjadi kerusuhan besar

di Jakarta tahun 1998. Cita-cita untuk kuliah di
Jurusan Teknik Elektro Universitas Trisakti
buyar karena kejadian tersebut. Orangtua
Merry kemudian memutuskan mengirimkan
putrinya ke Singapura dengan alasan keselamatan.

“Waktu itu rasanya seperti ada dalam film perang. Saya di
minta pergi agar saya selamat,” kata Merry merasakan kesedihan yang terjadi

13 tahun lalu.

Tanpa persiapan yang memadai untuk kuliah di luar negeri,

Merry sempat gagal dalam tes bahasa Inggris di Nanyang
Technological University. Tanpa persiapan bekal dana yang memadai pula,

Merry meminjam dana dari Pemerintah Singapura.
Tak hanya untuk biaya kuliah, tetapi juga
untuk hidup sehari-hari. “Utang saya totalnya 40.000 dollar Singapura,”

kata Merry.

Dengan uang saku hanya 10 dolar per minggu, hidupnya harus

superhemat. Untuk makan, misalnya, Merry lebih sering makan
roti atau mi instan atau bahkan berpuasa.

Ketika menyadari hidupnya tak berubah
meski sudah memasuki tahun kedua kuliah,
Merry mulai membangun mimpi. “Saya
membuat resolusi ketika ulang tahun ke-20.
Saya harus punya kebebasan finansial sebelum usia 30. Dengan kata lain,

harus jadi orang sukses. The lowest point in my life
membuat saya ingin mewujudkan mimpi tersebut,” ujar Merry

Meski sudah ada mimpi dan didukung
semangat, Merry belum menentukan cara
mewujudkannya. Pikirannya baru terbuka
setelah magang di perusahaan produsen semikonduktor.

Dari pengalaman ini, Merry melakukan hitung-hitungan,

seandainya dia menjadi karyawan perusahaan seusai kuliah.

“Dari perhitungan tersebut, ternyata saya baru bisa melunasi utang dalam
waktu 10 tahun, tanpa tabungan. Kalau begitu caranya, mimpi saya
tak akan terwujud,” kata Merry yang akhirnya memutuskan memilih jalan
berwirausaha untuk mencapai mimpinya.

Karena tak punya latar belakang pendidikan dan pengalaman bisnis, Merry

mengumpulkan informasi dengan mengikuti
berbagai seminar dan melibatkan diri dalam
organisasi kemahasiswaan yang berhubungan dengan dunia bisnis. Merry juga

mencoba praktik dengan terjun ke multi level marketing meski akhirnya rugi

200 dollar.

Merry bahkan pernah kehilangan 10.000
dollar ketika memutar uangnya di bisnis
saham. Mentalnya sempat jatuh meski dalam kondisi tersebut masih bisa

menyelesaikan kuliah.

Tamat kuliah, barulah Merry mempersiapkan diri dengan

matang. Belajar dari pengalaman para pengusaha sukses, dia memulai dari

sektor penjualan di bidang jasa keuangan. Kerja kerasnya menjual berbagai
produk keuangan, seperti tabungan, asuransi, dan kartu kredit, hingga 14

jam sehari mulai membuahkan hasil. Dalam waktu
enam bulan setelah bekerja, Merry bisa melunasi utang pada Pemerintah

Singapura. Tunai!

Kesuksesan lain pun datang. Karena kinerjanya, Merry bisa membentuk tim

Sendiri hingga akhirnya mendirikan MRO. Dengan penghasilan total 1 juta

dollar Singapura di usia 26 tahun, ambisi Merry saat berusia 20
tahun terwujud.

Berbagi

Namun, seiring usia yang kian dewasa, menghasilkan uang hingga jutaan

dollar bukan menjadi satu-satunya tujuan hidup Merry. Pengagum Oprah

Winfrey ini lebih menikmati hidup ketika orang lain memperoleh kesuksesan

seperti dia.

Pengalaman meraih sukses dibagikan kepada orang lain dengan

berbagai cara, seperti menjadi pembicara di seminar, perusahaan,
sekolah, serta melalui media seperti jejaring sosial, media massa, dan

menulis buku.

Bersama timnya di MRO, Merry memiliki
program pemberdayaan perempuan dan anak-anak muda. Anggota timnya di

lembaga ini bahkan tergolong muda, berusia 20-30
tahun. “Saya ingin menampung orang muda yang punya ambisi dan semangat

seperti saya,” katanya.

Keinginannya untuk berbagi ini tak hanya dilakukan di Singapura. Pada ulang

Tahunnya ke-30, Merry membuat resolusi baru, yaitu
memberi dampak positif pada satu juta orang di Asia, terutama di tanah

kelahirannya, Indonesia.

TENTANG MERRY RIANA

• Nama: Merry Riana
• Tempat tangga lahir:
Jakarta, 29 Mei 1980.
. Nama suami:
Alva Tjenderasa (31)
• Nama anak:
Alvernia Mary Liu (2,5)
• Pendidikan:
S-1 Teknik Elektro Nanyang Technological
University, Singapura (1998-2002)
• Pekerjaan:
Group Director Merry Riana Organization
• Penghargaan:
– Salah satu pengusaha terbaik di Singapura dari Menteri Perdagangan dan
  Perindustnian Singapura (2008)
– Salah satu wanita paling sukses dan inspiratif dari Menteri Kepemudaan

  dan Olahraga Singapura (2010)
– Wanita paling inspiratif pada salah satu majalah bulanan Inspirational

  Woman Magazine (2011)
– Salah satu eksekutif paling profesional dari penampilan dan keahlian

  berkomunikasi dari surat kabar My Paper, Singapura (2010)
– Duta LG Asia, Watson, dan Canon (2010-2011)

CITA-CITA

Seperti MacGyver

Merry, yang sukses di bidang jasa keuangan dan kian sibuk dengan
kegiatannya menjadi motivator, pernah punya cita-cita lain. Sewaktu kecil,
anak sulung dari Suanto Sosrosaputro (62) dan Lynda Sanian (62) ini pernah

punya keinginan untuk menjadi seperti sang ayah yang seorang insinyur

elektro. “Waktu kecil, kalau ditanya maujadi apa,
saya selalu jawab ingin seperti papa. Saya senang melihat papa mengutak-

atik peralatan elektronik, seperti Mac Gyver,” kata Merry.
Cita-cita ini bahkan melekat hingga lulus SMA. Merry kuliah di Jurusan

Teknik Elektro Nanyang Technological University seteläh sebelumnya bercita-

cita kuliah dengan jurusan yang sama di Universitas Trisakti
Namun, perjalanan hidup Merry berubah. Meski bisa meraih gelar insinyur
dalam waktu empat tahun, ilmu elektro yang dikuasainya tak terpakai dalam

kariernya. “Paling-paling dipakai di rumah. Kalau
TV atau kulkas rusak, saya masih bisa memperbaiki, hehehe. Tetapi, bukan

berarti kuliah saya tak berguna. Semua proses
yang saya jalani selama kuliah, telah membawa saya menjadi seperti sekarang

ini,” kata Merry. (IYA)

OLEH: YULIA SAPTHIANI

Sumber: Harian Kompas cetak, Minggu, 17 Juli 2011

Rudi Salim, Usia 23 Tahun Sudah Raup Miliaran Rupiah Dari Bisnis Pembiayaan Kredit Online

Umur 23 punya bisnis beromzet lebih dari Rp 1,3 miliar sebulan. Itulah yang kini dilakoni Rudi Salim. Pria lulusan SMA tersebut menekuni bisnis yang penuh risiko. Yakni, membiayai kredit untuk transaksi online.
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

RUDI Salim terlihat tengah berkutat dengan laptopnya saat ditemui di balkon lantai tiga kantornya di sebuah ruko kawasan elite di Jakarta Utara pekan lalu. Dia menyatakan lebih senang bekerja di balkon sambil mengamati keadaan sekitar kantornya. “Di sini banyak sumber inspirasi yang berseliweran,” katanya. Tak lama berselang, sekretarisnya datang menyuguhkan minuman.

Semua kendali manajemen perusahaan dan urusan sepele dia lakukan tanpa suara melalui media internet. Termasuk, mengendalikan karyawannya di luar kota. Ada delapan cabang di luar kota dengan 32 karyawan dengan omzet lebih dari Rp 1,3 miliar sebulan.

Usaha penghobi game online tersebut hanya mengandalkan website dan thread atau lapak di http://www.kaskus.us dengan tampilan sederhana berupa tawaran kredit kepada siapa saja yang bertransaksi jual beli via online. “Sangat efektif kan. Tapi, saya membangun semua ini dari nol dengan modal menjual mobil pemberian orang tua,” jelas owner PT Excel Trade Indonesia tersebut.

Pria yang pernah mencicipi bangku kuliah di fakultas kedokteran sebuah perguruan tinggi Jakarta selama dua semester itu menjelaskan, usaha tersebut dimulai dengan kenekatan dirinya membiayai transaksi jual beli di dunia maya (online) tanpa berjumpa dan kenal orang sebelumnya. Saat bisnis tersebut dirintis, orang tuanya sempat menentang keras.

“Terutama ibu saya. Sebab, saya putus sekolah dan menjual mobil serta melego salah satu usaha karaoke milik keluarga. Bahkan, ibu sempat bilang tak mau bertemu saya sebelum saya sukses,” kenang pria kelahiran Jakarta 24 April 1987 tersebut.

Uniknya, kata Rudi, inspirasi bisnisnya tersebut justru bukan dari dunia online. Tapi, dari perbincangan dirinya dengan temannya yang bekerja di salah satu toko elektronik besar berjaringan nasional yang menyediakan pembiayaan untuk pembelian barang elektronik dari customer. Dari perbincangan tersebut, dia melihat potensi yang masih sangat besar dari bisnis pembiayaan pembelian barang kredit, terutama di dunia online.

Tapi, bisnis Rudi tak langsung mulus dan lancar. Karena minimnya pengalaman, dia berkali-kali ditipu orang. “Awalnya, survei saya hanya melalui telepon berdasar aplikasi dan data yang dikirimkan melalui e-mail kepada calon debitor ke kantor dan rumah calon debitor,” terang anak ketiga di antara tiga bersaudara itu.

Benar saja, permintaan pembiayaan kredit barang naik diikuti naiknya permintaan kredit bodong alias penipuan. Pada awal usahanya didirikan, sudah ada 60 aplikasi yang masuk dari nasabah di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Tapi, di antara aplikasi-aplikasi yang diajukan untuk dibiayai transaksinya kepada perusahaan Rudi, tak sedikit yang bermasalah. “Karena itu, saya selalu cek aplikasi kredit itu sendiri,” ujarnya.

Awalnya, kenekatannya dalam berbisnis penuh risiko tersebut dimanfaatkan orang-orang tidak bertanggung jawab. Beberapa orang sengaja membuat identitas palsu untuk mengibuli Rudi. Bahkan dia sempat ditipu sindikat pemalsu kartu kredit dan menderita kerugian hingga Rp 15 juta.

Kala itu, ada seorang ibu yang mengajukan aplikasi online untuk membeli laptop dengan kredit senilai Rp 10 juta. Semua data cocok, termasuk saat pengecekan dengan menelepon kantor tempat debitor tersebut bekerja di salah satu BUMN. “Dia sempat membayar empat kali cicilan dan selalu tepat waktu,” cerita dia.

Rudi pun percaya kepada “nasabah”-nya tersebut. Karena itu, ketika si ibu kembali mengambil kredit untuk barang yang sama, dia tidak berkeberatan untuk membiayai. “Tak saya sangka, ternyata sejak itu dia menghilang. Kredit laptop keduanya tak dibayar, juga cicilan laptop pertama. Saya kena tipu mentah-mentah,” ujarnya.

Saat Rudi mendatangi kantor si “nasabah”, orang yang namanya sama dengan nama si ibu tersebut ternyata tidak tahu apa-apa soal kredit laptop itu. “Tampaknya, orang yang saya temui itu namanya dicatut si penipu,” imbuhnya.

Dari berbagai pengalaman menjengkelkan tersebut, Rudi kemudian banyak memperbaiki sistem pengucuran kredit perusahaannya. Dia lalu merekrut beberapa orang yang bertugas menyurvei langsung di lapangan. “Kini sebelum bisa menyetujui kredit nasabah, kami menyurvei secara ketat. Setelah barang ada, orang tersebut menandatangani perjanjian dan difoto bersama barangnya,” jelasnya.

Sejak sistem baru diterapkan, Rudi jarang kena tipu lagi. Bahkan, banyak pelanggan yang merasa puas atas pelayanan yang aman dan nyaman yang diberikan perusahaan Rudi.

Dalam waktu cepat, nama perusahaan Rudi melejit, terutama di berbagai forum jual beli secara online. Tanpa harus mengeluarkan biaya promosi, publikasi atas perusahaan itu cepat menyebar di banyak forum diskusi di dunia maya maupun dari mulut ke mulut yang pernah merasakan kemudahan layanannya.

Begitu banyaknya permintaan klien dari luar kota membuat Rudi kembali memutar otak untuk meraup peluang tersebut. Dia kemudian menggandeng beberapa moderator daerah di http://www.kaskus.us untuk menjadi surveyor. Karena itu, Rudi lalu membuka cabang di delapan kota di luar Jabotabek. “Kecil kemungkinan para moderator bermasalah karena mereka juga menjaga reputasinya di dunia maya. Sebab, mereka juga berjualan di forum tersebut,” tegasnya.

Kini, dia mengembangkan usahanya dengan mulai membiayai permintaan kredit dari para debitor di bawah usia 17 tahun dengan jaminan orang tuanya. Yang menarik, sekitar 85 persen permintaan pembiayaan kredit yang diajukan kepada dirinya, belakangan ini, adalah untuk pembelian BlackBerry dan handphone (HP). “Sekarang, saya bersiap untuk ekspansi ke bisnis lain,” tuturnya mantap. (*/c5/ari)

Nico, ‘Bule’ Belgia yang Sukses Lewat Pasar Saham Indonesia

JALAN hidup seseorang memang sulit ditebak. Hari ini mungkin orang tersebut menjadi atlet, tetapi bisa jadi beberapa waktu kemudian kala ditemui lagi orang tersebut telah beralih profesi sebagai analis. Itulah yang terjadi pada Nico Omer Jonckheere. Meninggalkan dunia lari maraton di Belgia, Nico Omer melabuhkan hidupnya ke pasar saham.

Awalnya, pria yang hobi membaca buku ini coba-coba melakukan investasi di pasar modal Indonesia. Namun, investasi di bursa saham kala 1998, terhantam badai krisis Asia. Indonesia sendiri memasuki fase yang disebut krisis moneter. Tak pelak, tiga tahun pertama investasi Nico pun mengalami kerugian.

Meski begitu, Nico tetap ngotot mencoba, hingga tak jarang banyak orang yang cenderung menertawakan dirinya, karena saat itu investasi di pasar saham terimbas sentimen negatif Asia.

“Banyak orang yang menertawakan saya. Banyak yang bilang bahwa saya mempunyai hampa (tidak mempunyai apa-apa), dan banyak juga yang bilang seperti mau jadi kaya saja dari situ (tidak menguntungkan). Pokoknya banyak ejekan lah, tapi saya tetap fokus dan saya yakin saya akan jadi seseorang di bidang ini,” ungkap Nico kala berbincang dengan okezone di Jakarta, beberapa waktu lalu..

Memang, saat itu Nico sulit sekali mendapatkan keuntungan karena kondisi pasar yang sedang menurun. Namun, di situ lah Nico mendapat pembelajaran. Layaknya sebuah sekolah, pria yang lahir di Oostende, Belgia ini banyak belajar dari kesalahan mempelajarinya dari sana.

Memilih Indonesia

Pria kelahiran, 6 Maret 1971 ini jatuh cinta pada pandangan pertama pada Indonesia. Datang ke Indonesia pada 1993, dengan mekanisme backpacker, Nico menjelajah ke seluruh Indonesia. Alhasil, kecintaannya pada Indonesia pun makin mendalam. Meninggalkan status atletnya, pada 1995, Nico kembali ke Indonesia, setelah menyelesaikan pendidikan sarjana ekonomi di Katholieke Universiteit Leuven (KUL).

“Umur saya masih 24 tahun waktu itu, kemudian saya bilang sama orangtua akan tinggal di Indonesia. Mereka sedih karena jauh, cuma saya memang sudah niat, karena saya cinta Indonesia,” kenang Nico.

Ada banyak hal yang membuat Nico jatuh cinta pada Indonesia. Menurutnya, pemandangan alam di Indonesia, membuatnya semakin betah berada di Tanah Air.

“The landscape funtastic, beautiful beach, the plantaion, roci field, palm trees, saya suka sekali itu,” kata Nico singkat.

Faktor lainnya yang juga menarik adalah cuacanya. “Kalau di Belgia itu lebih dari 250 hari dalam setahun musim dingin dan angin yang kencang, saya tidak suka itu, (bikin) depresif lah,” jelas Nico.

Tak hanya pemandangannya saja, Nico juga menyukai makanan Indonesia. Menurutnya, makanan di Indonesia sangat segar, terutama untuk sayur-sayuran dan buah-buahannya.

Di samping itu, yang membuat dirinya betah tinggal di Indonesia adalah perempuan Indonesia yang dinilai lebih feminim dari wanita di negaranya. Nico pun akhirnya ‘kepincut’ oleh salah seorang wanita asal Bandung yang ditemui di Braga, Bandung.

Alkisah, Nico dan temannya sedang menyaksikan live music di tempat tersebut, dia betemu dengan salah seorang kenalan temannya, yang akhirnya menjadi istrinya dan dikaruniai empat orang putera. “I love Indonesian women, mereka feminim. Lebih anggun dari wanita bule,” kata Nico seraya tersenyum.

Setelah menikah, pada periode 1998 hingga 2004, sembari terus bermain di pasar modal, Nico mengasah kemampuannya akan angka dan analisa riset dengan menjadi dosen dikampusnya mengambil magister managemen mengenai pasar modal, ARS International University, Bandung. Di sana, dia tidak hanya mengajarkan pasar saham, namun juga Bahasa Inggris, sebelum akhirnya sukses bekerja menjadi Vice President Research & Analyst Valbury Asia Securites semenjak 2005 hingga saat ini.

Dengan masuknya ke Valbury, Nico berhasil menepis keraguan semua orang mengenai dirinya. Menurutnya, dengan kecintaan akan pasar modal dan apapun yang berhubungan dengan keuangan internasional, semuanya yang dilalui terasa ringan dan bukan seperti tantangan.

“Wah mengenai pengalaman saya tidak terlalu ingat. Saya terlalu suka bidang ini dan tidak pernah peduli apa kata orang meskipun sering dikritik oleh sesama analis karena beda pendapat,” selorohnya.

Misi Besar

Meski terbilang sukses, Nico mengatakan masih ada motivasi dan misi besar dalam menjalani karir di bidang pasar modal ini. “Motivasi dan misi terbesar saya adalah bahwa orang Indonesia menjadi makmur dan sejahtera lewat pasar modal Indonesia, dengan menjadi seorang investor dan bukan seorang trader atau bahkan spkulator,” tegas Nico.

Karenanya, Nico pun menulis buku guna mengajak masyarakat Indonesia berinvestasi di pasar modal Indonesia. Dia mengatakan, buku ini dibuat supaya orang lebih berani dan memahami kekuatan dari investasi dalam jangka panjang. Adapun isi dari buku tersebut di antaranya memilih saham dengan fundamental yang kokoh pada harga yang rendah.

Nico berpesan, untuk menjadi seorang investor harus mempelajari segala hal, misalnya sebuah laporan keuangan emiten agar, tahu kondisi keuangan emiten yang dibeli.

“Belajar sendiri dan jadilah mandiri, jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang alias jangan lupa mendiversifikasi aset Anda dalam beberapa asset class seperti saham, properti dan logam mulia, berivestasi secara reguler (sisihkan setiap bulan sedikit uang untuk membeli saham dengan menerapkan dollar-cost averaging), jangan pernah mendengar rumor, baca laporan keuangan perusahaan agar tahu apa yang dibeli (dengan kata lain jangan membeli kucing dalam karung),” pesan Nico.

Selain itu, Nico juga memberikan tips bagi orang yang ingin berkarier di bidang pasar modal. “Apapun yang anda lakukan you must have passion itu sangat penting. Love what you do, do what you love. Itu akan sangat bagus dalam bidang Anda,” jelas dia.

“Lalu Anda harus obsesi dalam arti kata benar-benar fokus untuk memiliki komitmen ke bidang yang anda tekuni, jangan setengah-setengah. You have to be the best, you have to know what you talking about, harus ada dasarnya, apalagi sebagai analis harus sangat faktual dan datanya harus di-back up,” tambah Nico. (mrt) (rhs)(R Ghita Intan Permatasari – Okezone)

sumber: http://economy.okezone.com/read/2011/12/27/22/547785/nico-omer-lari-maraton-di-belgia-sampai-analisa-pasar-saham

Merry Riana, Sukses Menjadi Miliuner Di Usia Muda

KEAJAIBAN akan muncul dari pribadi yang berani dan gigih! Demikian yang akan kita temui saat menyimak kisah sukses Merry Riana, salah seorang miliuner muda di Singapura asal Indonesia.

Di usia 26 tahun dia sudah mampu mengumpulkan kekayaan sebesar S$1,000,000 (sekitar Rp 7 miliar) . Padahal beberapa tahun sebelumnya  dia hidup di Singapura , salah satu negara dengan biaya hidup tertinggi di dunia, tinggal di kontrakan dengan bekal  hidup Rp 10.000/hari.

Pada saat yang sama dia menuntaskan kuliah dengan gemilang di Jurusan Electrical & Electronic Engineering di Nanyang Technological University (NTU), Singapura hanay dalam waktu empat tahun.

Dia kini memimpin 50-an konsultan dan manajer di bidang konsultasi keuangan dan sebagian besar di antaranya warga Singapura. Dia juga meraih berbagai penghargaan, baik di saat kuliah maupun setelah menjadi wirausahawan. Bahkan, dialah motivator wanita termuda di Asia dan menghasilkan buku laris “A Gift from A Friend” yang diterjemahkan ke dalam tujuh bahasa.

Seperti tanaman, bibit yang baik hanya akan tumbuh subur jika kita menyiapkan tanah dan pupuk yang baik. Begitu juga keajaiban. Keajaiban pada dasarnya datang menghampiri orang-orang yang selama hidupnya bekerja keras dan berbuat yang terbaik dengan tujuan hidup yang jelas.

Keajaiban sebenarnya merupakan buah dari “multi upaya” yang kita lakukan bertahun-tahun. Atau, mengutip ucapan Merry dalam “A Gift from A Friend”, “keberuntungan (atau keajaiban) adalah hasil dari saya berada dalam keadaan siap ketika kesempatan itu datang”.

Pada diri Merry, keajaiban datang dari perpaduan visi, tindakan, dan hasrat. Dalam diri perempuan kelahiran 29 Mei itu, visi tak lepas dari kecintaan dan penghormatannya yang mendalam kepada orangtua yang telah mendidik sekaligus membesarkannya dengan segala upaya hingga menjadi orang sukses.

Sebagai anak yang berbakti, dia memang bermimpi untuk membalas kebaikan orangtua dengan memberi mereka kebahagiaan. Tapi Merry sadar, dia hanya bisa membahagiakan orangtuanya di saat mereka masih sehat dan relatif muda, bukan setelah mereka tua dan sakit-sakitan. Hal itulah yang menguatkan tekadnya untuk sukses dan kaya di usia muda. Maka, sulung dari tiga bersaudara ini pun rela merantau sendiri ke Singapura.

Ayah-ibu Merry memutuskan mengirim putri sulungnya ini untuk menuntut ilmu ke Singapura, sesaat setelah kerusuhan melanda Indonesia di bulan Mei 1998. Sebagai anak dari keluarga sederhana, Merry bukan saja membawa bekal materi yang minim, melainkan juga bahasa Inggris yang pas-pasan namun dengan tekad yang membara.

Saat tiba di Singapura, uang di sakunya hanya S$1,000 (Rp 7 juta). Hanya dalam waktu singkat, uang tersebut nyaris tak bersisa untuk membeli buku pelajaran yang harganya mahal dan kebutuhan sehari-hari.

Saat diterima di NTU, dia pun terpaksa mengajukan pinjaman S$40,000 (sekitar Rp 280 juta) ke pemerintah Singapura. Itu jumlah yang amat besar untuk seorang gadis lugu namun tetap saja nilainya amat kecil untuk hidup di sebuah negara yang sangat moderen.

Dia pun terpaksa lebih sering mengonsumsi roti dan mie instant untuk mengisi perutnya sehari-hari. Sebagai gambaran, pada tahun pertama kuliah, dia harus bertahan hidup hanya dengan S$10 (Rp 70 ribu) untuk tujuh hari atau Rp 10 ribu perhari untuk makan.

Guna menambah penghasilan, di saat libur, dia bekerja paruh waktu sebagai seorang pelayan restoran (waiter), penjaga toko bunga, dan penyebar pamflet beragam produk di jalanan. Sebagai mahasiswa yang dibekali student pass, dia memang tidak mungkin bekerja di kantor.

Kondisi yang serba minim justru membuatnya bekerja keras dan pantang menyerah. Bahkan, dia berkali-kali mendapat berbagai penghargaan di kampusnya. Di akhir masa kuliah (2006), dia berhasil mendapat gelar “Winner of Nanyang Young Oustanding Alumni Award” untuk pencapaiannya yang luar biasa di bidang akademik.

Di tengah-tengah kesibukannya belajar, Merry juga menyempatkan diri aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Kegiatan ini membuatnya bisa memperluas jaringan sosial sekaligus meningkatkan kemampuannya berbahasa Inggris.

Setelah selesai kuliah, dia juga berkali-kali menemui kegagalan ketika mencoba berwirausaha. Di awal kariernya menekuni bisnis, dia kehilangan lebih dari S$10,000 (Rp 70 juta) hanya dalam waktu 30 hari saat melakukan transaksi saham. Padahal, uang itu merupakan hasil jerih payahnya selama 4 tahun bekerja saat masih kuliah.

Tak hanya itu, dalam kondisi hampir bangkrut, suatu saat dia kehilangan S$200 (Rp 1,4 juta) saat mendaftar untuk bergabung dalam bisnis MLM (Multi Level Marketing). Di luar dugaan, perusahaan MLM itu menghilang tanpa jejak. Tentu saja ,itu jumlah uang yang amat kecil bagi seorang warga Singapura namun amat berarti untuk Merry yang hanya memiliki sedikit uang di rekening.

Meskipun demikian, berbagai kegagalan memberinya pelajaran yang amat bergharga dalam dunia bisnis, yang tidak didapatnya di bangku sekolah atau kuliah. Wanita yang menyukai lagu “The Greatest Love of All” (Whitney Houston) dan “You Raise Me Up” (Josh Groban) ini pun tetap dengan tekadnya untuk kerja mandiri dan melepaskan peluang untuk menjadi karyawan. Padahal tak ada satu pun orang-orang di sekitarnya (orangtua, dosen maupun sejumlah sahabatnya) yang mendukung rencana tersebut.

Mereka khawatir dengan pilihan tersebut karena Merry nyaris tidak punya bekal apapun, khususnya tiga syarat utama untuk terjun ke dunia bisnis: modal, relasi, dan keahlian. Modal uang bisa dibilang nol, relasi yang dimilikinya hanya jaringan teman-teman kampus, plus keahlian di bidang elektro. Di luar itu, dia masih harus menanggung utang Rp 280 juta kepada pemerintah Singapura.

Namun, tekad dan niat membahagiakan orangtua ternyata mampu mengalahkan semua rintangan. Maka, dengan gagah berani seperti seekor rajawali, dia pun terbang untuk menjemput mimpinya di langit. Dia ingin menjadi orang luar biasa sehingga harus siap dengan cobaan yang juga luar biasa.

Dia tidak mau sekadar menjadi ayam yang mencari makan dengan mematuk-matuk tanah untuk mendapatkan cacing. Dia ingin menjadi Rajawali yang bisa terbang jauh-tinggi dan memilih aneka makanan yang tersedia di alam. Dia tidak rela menjadi bagian dari golongan karyawan yang rutin bekerja dari pukul 09.00 pagi hingga pukul 05.00 sore, dan tentu saja dengan “rutinitas aliran rekening yang itu-itu saja sebagai gaji”.

Sebagai gambaran, di Singapura, sarjana S-1 yang baru lulus hanya mendapat gaji sekitar S$2,500 (Rp 17,5 juta), suatu jumlah yang relatif kecil untuk standar hidup di negara yang memiliki biaya hidup yang tinggi. Sebab, seorang pekerja harus membayar 20% dari gajinya untuk CPF (Contributions Payable for Singapore Citizens atau tabungan wajib untuk hari tua), juga S$1,000 (Rp 7 juta) untuk biaya hidup (makan, akomodasi, transportasi, biaya telepon genggam, dan lain-lain).

Padahal, dia bertekad mengirim S$500 (Rp 3,5 juta) untuk orangtuanya di Jakarta. Otomatis, setiap bulan, uang di kantong hanya tersisa S$500 untuk membayar pinjaman. Dengan bunga 4% pertahun, sedikitnya diperlukan waktu 10 tahun untuk melunasi hutangnya ke pemerintah Singapura.

Belajar Wirausaha

Karena itu, setelah lulus kuliah, dia langsung terjun ke dunia wirausaha sebagai tenaga sales (penjualan) dalam bidang Financial Consultancy (Konsultasi Keuangan). Hanya bermodal waktu dan tekad untuk bekerja keras; 14 jam sehari, 7 hari seminggu, dan nyaris 365 hari dalam setahun. Di saat yang sama, dia menambah pengetahuannya tentang bisnis, baik dengan membaca buku, mengikuti seminar maupun bertanya kepada orang-orang yang ahli di bidangnya.

Maka, dia pun mulai mencari klien yang berniat melakukan investasi, membeli polis asuransi, dan menabung secara regular (fixed deposit). Hasilnya tidaklah sia-sia. Dalam waktu 6 bulan, peraih gelar “Winner of Nanyang Young Oustanding Alumni Award 2006” ini mampu melunasi hutang sebesar Rp 280 juta.

Dalam waktu 1 tahun, dia berhasil mengumpulkan modal untuk mulai merekrut staf penjualan sekaligus mulai membangun tim impian (The Dream Team). Tim inilah yang menjadi cikal bakal Merry Riana Organization (MRO), perusahaan yang bergerak di bidang Konsultasi Keuangan.

Perusahaan ini pula yang kemudian memberinya kekayaan Rp 7 milyar, hanya 4 tahun setelah lulus dari NTU, saat usianya baru 26 tahun. Dengan begitu, dia pun mewujudkan mimpinya untuk membahagiakan orangtua; mencukupi berbagai kebutuhan mereka dengan kualitas terbaik dan secara rutin mengajak mereka berwisata untuk mendatangi tempat-tempat yang menyenangkan, baik di dalam maupun luar negeri.

Support dari Suami

MRO yang dijalankan bersama suami tercinta (Alva Tjenderasa) dengan sistem yang baik, mampu berjalan tanpa keterlibatannya secara penuh (auto-run). Dengan demikian, sejak 4 tahun lalu, Merry pun bisa mengejar passion pribadi untuk menjadi motivator dan memberikan inspirasi kepada orang lain.

Belakangan, setelah mengurangi kontrolnya terhadap perusahaan, dia makin sibuk mengunjungi berbagai negara di Asia untuk memberi motivasi dan pelatihan kepada ribuan profesional, manajer, eksekutif, pemilik bisnis, dan tenaga sales. Dia bermimpi, suatu saat bisa membawakan acara talk show di televisi, menjadi Oprah Winfrey versi Asia, yang memberi inspirasi kepada banyak orang melalui pengalaman hidupnya maupun beragam pengalaman manusia yang ditemuinya selama ini.

Kekayaan yang didapatnya di usia muda tidak membuatnya besar kepala. Dia tetap tampil sebagai pribadi sederhana yang hangat dan menyenangkan bagi orang-orang di sekitarnya, termasuk orang yang baru dikenalnya. Sikap rendah hati juga dia tunjukkan dalam kaitannya dengan pemanfaatan Twitter.

Untuk setiap orang yang menjadi follower-nya di Twitter, Merry langsung menjadi pengikut mereka (following). Karena itu, jumlah following justru lebih banyak dibandingkan jumlah follower-nya, yakni 27,336 orang dan 26,301 orang, berdasarkan data 22 Januari 2011.

Sebaliknya, hampir semua public figure di Twitter memiliki follower yang jauh lebih banyak dibandingkan following. Penyanyi Sherina Munaf yang menduduki ranking pertama untuk follower, misalnya, memiliki 833.540 follower dan hanya mengikuti (following) 4.515 orang. Artis film yang juga pemain drum, Titi Sjuman diikuti 251.061 orang namun hanya mengikuti 168 orang.

Berikutnya, jumlah follower dan following host berbagai acara di televisi, Sarah Sehan (304.759/1.750), mantan juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid, Wimar Witoelar (52.021/ 109), tokoh pers Gunawan Mohammad (48.112/ 1.026), dan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat (28.231/ 119).

Merry mengikuti semua follower-nya karena dia sadar, ketika dia menjadi follower, dia pun berharap orang yang diikutinya pun melakukan hal yang sama. Selain itu, dia percaya, dari orang-orang biasa yang menjadi follower-nya, dia bisa mendapat berbagai pengalaman dan gagasan yang bisa memperkaya kehidupannya.

Meskipun berkecimpung di dunia bisnis, dia tidak mengabaikan kehidupan rumah tangganya bersama Alva Tjenderasa, yang dijalaninya sejak tahun 2004, yang memberinya seorang puteri yang cantik. Kepada media The New Paper di Singapura, Merry mengungkapkan tips agar rumah tangganya tetap harmonis.

Menurut Merry, having a successful relationship is similar to building a successful business; both need hard work. It takes more than just love to be where we are right now. Dan salah satu tips yang penting dalam membangun pernikahan yang harmonis adalah melakukan komunikasi yang intensif dengan pasangan.

Rumah tangga yang harmonis membuatnya bisa membesarkan MRO bersama sang suami, yang juga lulusan NTU. Berkat dukungan penuh suami, dia pun meraih berbagai penghargaan, seperti Winner of Winner of Spirit of Enterprise Award (2008), Top 5 Female Finalist: 50 Most Gorgeous People (2009), Winner of My Paper Executive Look Readers’ Choice Award (2010), Winner of LG Asia Life’s Good Ambassador (2010), dan Winner of Great Women of Our Time Award (2010). Kini, dia juga menjadi duta sejumlah produk LG untuk Asia.

Sukses juga tidak membuatnya melupakan sesama. Tak lama setelah bukunya menjadi best seller di Singapura, dia mendirikan Proyek “A Gift From A Friend”, yang diambil dari judul bukunya. Komitmennya, untuk setiap buku yang terjual, dia menyumbangkan satu buku gratis ke institusi/ sekolah/ klub yang mendukung tujuan organisasinya, yakni “kewirausahaan pemuda” (youth entrepreneurship).

Selain itu, melalui program “Personal Mentorship Experience”, dalam sepekan, wanita energik ini menyediakan dua jam dari waktunya yang sangat berharga untuk membimbing anak-anak muda (20-30 tahun), yang ingin mengambil alih kontrol hidup mereka dan memenuhi impian mereka. Semua itu dilakukannya tanpa memungut biaya sepeser pun.

Hal ini sesuai dengan prinsip hidupnya yang ditulisnya di dalam blog: “The purpose of my life is to be significant as God’s living miracle, enjoying every moment and pieces of my miraculous life with my loved ones and testifying my blessed life story to the world as a gift of love for myself and others”.

Dia memang tidak ingin menikmati kekayaan dan suksesnya hanya untuk diri sendiri. Itulah wujud syukur dan rasa terima kasihnya atas cinta yang diberikan orangtua dan keluarganya, yang berhasil membuatnya mampu meraih kekayaan dalam usia yang sangat muda. Merry sadar, cinta telah memotivasinya untuk bekerja keras dan mampu meraih sebagian besar impiannya. Maka, dia pun membayarnya dengan cara membagikan pengalamannya kepada masyarakat lewat berbagai aktivitas sosialnya.

Masihkah anda menganggap omong kosong terhadap mimpi anda?Jangan pernah hancurkan kepercayan anda bahwa anda juga bisa dipeluk keajaiban kapanpun asalkan anda serius MAU. sukses selalu untun anda mulai hari ini

sumber: http://panturabisnisonline.com/article/64105/membaca-keajaiban-merry-riana.html

Kisah Sukses Mochtar Riyadi Sang Begawan Perbankan

Orang banyak mengenal Mochtar Riady sebagai seorang praktisi perbankan jempolan dan seorang konglomerat yang visioner. Pandangannya yang jauh ke depan dan sarat dengan filosofi menjadi panutan banyak para pengusaha dan para pelaku pasar.

Mochtar Riady adalah pendiri Grup Lippo, sebuah grup yang memiliki lebih dari 50 anak perusahaan. Jumlah seluruh karyawannya diperkirakan lebih dari 50 ribu orang. Aktivitas perusahaannya tidak hanya di Indonesia, tetapi juga hadir di kawasan Asia Pasifik, terutama di Hong Kong, Guang Zhou, Fujian, dan Shanghai. Sejarah Grup Lippo bermula ketika Mochtar Riady yang memiliki nama Tionghoa, Lie Mo Tie membeli sebagian saham di Bank Perniagaan Indonesia milik Haji Hasyim Ning pada 1981. Waktu dibeli, aset bank milik keluarga Hasyim telah merosot menjadi hanya sekitar Rp 16,3 miliar.

Mochtar sendiri pada waktu itu tengah menduduki posisi penting di Bank Central Asia, bank yang didirikan oleh keluarga Liem Sioe Liong. Ia bergabung dengan BCA pada 1975 dengan meninggalkan Bank Panin. Di BCA Mochtar mendapatkan saham sebesar 17,5 persen saham dan menjadi orang kepercayaan Liem Sioe Liong. Aset BCA ketika Mochtar bergabung hanya Rp 12,8 miliar. Mochtar baru keluar dari BCA pada akhir 1990 dan ketika itu aset bank tersebut sudah di atas Rp 5 triliun. Bergabung dengan Hasyim Ning membuat ia bersemangat.

Pada 1987, setelah ia bergabung, aset Bank Perniagaan Indonesia melonjak naik lebih dari 1.500 persen menjadi Rp 257,73 miliar. Hal ini membuat kagum kalangan perbankan nasional. Dua tahun kemudian, pada 1989, bank ini melakukan merger dengan Bank Umum Asia dan semenjak saat itu lahirlah Lippobank. Inilah cikal bakal Grup Lippo. Saat ini Grup Lippo memiliki berbagai bidang usaha.

Kesuksesannya, tentu saja tidak semudah dibayangkan oleh banyak orang. Mochtar Riady sudah bercita-cita menjadi seorang bankir di usia 10 tahun. Ketertarikan Riady yang dilahirkan di Malang pada tanggal 12 mei 1929 ini disebabkan karena setiap hari ketika berangkat sekolah, dia selalu melewati sebuah gedung megah yang merupakan kantor dari Nederlandsche Handels Bank (NHB) dan melihat para pegawai bank yang berpakaian parlente dan kelihatan sibuk.

Riady adalah anak seorang pedagang batik. Pada tahun 1947, Riady ditangkap oleh pemerintah Belanda dan di buang ke Nanking, Cina, di sana ia kemudian mengambil kuliah filosofi di University of Nanking. Namun karena ada perang, Riady pergi ke Hongkong hingga tahun 1950 dan kemudian kembali ke Indonesia. Riady masih sangat ingin menjadi seorang bankir, namun ayahnya tidak mendukung karena profesi bankir menurut ayahnya hanya untuk orang kaya, sedangkan kondisi keluarga mereka saat itu sangat miskin.

Pada tahun 1951 ia menikahi seorang wanita asal Jember, oleh mertuanya, Riady diserahi tanggung jawab untuk mengurus sebuah toko kecil. Dalam tempo tiga tahun Riady telah dapat memajukan toko mertuanya tersebut menjadi yang terbesar di Jember. Cita-citanya yang sangat ingin menjadi seorang banker membuatnya pergi ke Jakarta pada tahun 1954. Riady berprinsip bahwa jika sebuah pohon ditanam di dalam pot atau di dalam rumah tidak akan pernah tinggi, namun akan terjadi sebaliknya bila ditanam di sebuah lahan yang luas. Untuk mencari relasi, Riady bekerja di sebuah CV di Jalan Hayam Wuruk selama enam bulan, kemudian ia bekerja pada seorang importer, di waktu bersamaan ia pun bekerjasama dengan temannya untuk berbisnis kapal kecil.

Sampai saat itu, Riady masih sangat ingin menjadi seorang bankir. Setiap kali bertemu relasinya, ia selalu mengutarakan keinginannya itu. Suatu saat temannya mengabari dia jika ada sebuah bank yang lagi terkena masalah dan menawarinya untuk memperbaikinya, Riady tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut walau saat itu dia tidak punya pengalaman sekalipun. Riady berhasil meyakinkan Andi Gappa, pemilik Bank Kemakmuran yang bermasalah tersebut sehingga ia pun ditunjuk menjadi direktur di bank tersebut.

Di hari pertama sebagai direktur, Riady sangat pusing melihat balance sheet, dia tidak bisa bagaimana cara membaca dan memahaminya, namun Riady pura-pura mengerti di depan pegawai akunting. Sepanjang malam dia mencoba belajar dan memahami balance sheet tersebut, namun sia sia. Kemudian dia meminta tolong temannya yang bekerja di Standar Chartered Bank untuk mengajarinya, tetapi masih saja tidak mengerti. Akhirnya dia berterus terang terhadap para pegawainya dan Andi Gappa. Tentu saja mereka cukup terkejut mendengarnya. Permintaan Riady pun untuk mulai bekerja dari awal disetujuinya, mulai dari bagian kliring, cash, dan checking account. Selama sebulan penuh Riady belajar dan akhirnya ia pun mengerti tentang proses pembukuan, dan setelah membayar seorang guru privat ia akhirnya mengerti apakah itu akuntansi. Maka mulailah dia menjual kepercayaan, hanya dalam setahun Bank Kemakmuran mengalami banyak perbaikan dan tumbuh pesat.

Setelah cukup besar, pada tahun 1964, Riady pindah ke Bank Buana, kemudian di tahun 1971, dia pindah lagi ke Bank Panin yang merupakan gabungan dari Bank Kemakmuran, Bank Industri Jaya, dan Bank Industri Dagang Indonesia.

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/finansial/509-kisah-sukses-mochtar-riyadi.html