Category Archives: Industri Kreatif

Wiranantaja, Mantan Cabin Boy Kapal Pesiar yang Kini Menjadi Raja Kipas Beromzet Milyaran

Niat, kerja keras serta sikap
pantang menyerah adalah modal
utama Ketut Wiranantaja merintis
dan membesarkan usaha pembuatan
kipas tangan. Kini, ia menjadi raja
kipas asal Bali. Ketenaran kipas
Wiracana pun bergaung hingga ke
luar negeri.

Sering sebuah keterpaksaan
berbuah manis. Apalagi jika
dibarengi dengan ketekunan dan
kerja keras. Ketiga modal itulah
yang mendorong Ketut Wiranantaja
sukses membangun bisnis kipas
berlabel Wiracana.
Memadukan pengerjaan mesin dan
keahlian tangan, jangan heran, jika
kipas Wiracana banyak diburu
kolektor kipas tanah air. Banyak
pula pejabat dan perusahaan yang
memesan kipas buatan Wira,
panggilan akrab Ketut Wiranantaja,
sebagai suvenir ketika ada hajatan
penting. Sebagian besar hotel
berbintang lima di Bali dan Jakarta
juga memiliki koleksi kipas
Wiracana.

Bahkan, kipas Wiracana juga
menghiasi etalase museum kipas di
London, Inggris. Tak hanya itu,
Wira juga mengirimkan kipasnya ke
Spanyol dan Jepang. Di Negeri
Matahari Terbit tersebut, kipas
Wiracana termasuk cenderamata
yang dijajakan di Skytree, menara
tertinggi di dunia yang berada di
Tokyo.

Kesuksesan Wira membangun bisnis
kipas tidak dicapai dalam waktu
singkat. Pria kelahiran 31 Januari
1954 ini membutuhkan waktu 25
tahun untuk membesarkan bisnis
kipasnya. Ia pun mengalami jatuh
bangun saat membesarkan bisnis
yang mulanya hanya dipandang
sebelah mata ini.

Pada 1978, setelah bekerja di kapal
pesiar berbendera Australia selama
tiga tahun, Wira pun memutuskan
pulang ke kampung halamannya di
Bali.  Meski saat itu menggenggam
banyak uang, ia sempat bingung
untuk memulai usaha.

Lantaran melihat perkembangan
bisnis pariwisata di Bali yang baik,
Wira pun tergerak mencoba
peruntungannya menjadi pedagang
acung, sebutan untuk pedagang kaki
lima di Bali. Rupanya, pilihan ini
tepat. Dari sini, ia melihat peluang
berbisnis kipas. “Biasanya,
wisatawan hanya mau membeli satu
patung, berbeda dengan kipas yang
sering dibeli dalam jumlah banyak,”
ujar dia.
Berbekal keyakinan itu, setelah tiga
bulan menjadi pedagang acung,
Wira memutuskan untuk
memproduksi kipas di rumah. Ia
menggunakan sisa tabungan hasil
bekerja di kapal pesiar, sebagai
modal. Karena hanya mengandalkan
tangan, produksi kipas Wira masih
minim. Wira hanya bisa
menghasilkan 20 kipas dalam
sehari.

Tak hanya dalam hal produksi,
awalnya, bapak tiga anak ini juga
menemui kesulitan dalam menjual
kipasnya. Wira menawarkan kipas
buatannya ke beberapa artshop di
Ubud, Tampak Siring, dan Goa
Gajah. Ia pun tak langsung
menerima uang hasil penjualan,
karena pembayaran baru dilakukan
setelah kipasnya laku terjual.

Ketekunan menjadi kunci sukses
bagi Wira merintis bisnis kipas. Ia
pun makin yakin bisnis kipasnya
memiliki prospek cerah ketika
penjualan makin baik. Hingga pada
1987, lulusan akademi pariwisata di
Denpasar ini mendirikan CV
Wiracana.Ia mendapat suntikan
dana bank senilai Rp 400.000.

Stres karena mesin

Berbekal dana segar itu, Wira
bergegas mencari mesin pembuat
kipas. Ia menyadari, produksi kipas
dengan cara tradisional memakan
waktu cukup lama. Lantas, Wira
pergi ke Surabaya untuk mencari
mesin pencetak kipas.

Sayang, usaha itu tak berhasil. Wira
pun mengaku sempat stres hanya
gara-gara tak mendapatkan mesin
yang bisa memilah kayu tipis-tipis.
Baru pada 1992, Wira mendapatkan
mesin pencetak kipas seperti
keinginannya seharga Rp 72 juta.

Kapasitas produksi kipas Wiracana
pun terus meningkat seiring dengan
banyaknya pesanan. Wira juga terus
menambah tenaga kerja hingga 15
orang. Pada 1993, kipas Wiracana
merambah Istana Negara, setelah
dipesan menjadi suvenir untuk
upacara peringatan Hari
Kemerdekaan RI 17 Agustus.

Perkembangan desain kipas pun
menuntut kebutuhan mesin laser
yang mahal sebagai pelengkap alat
produksi. Hanya saja, sang istri tak
mengizinkan Wira menjual sebagian
aset untuk membeli mesin baru.
“Saya sempat masuk ICU, stres
karena terus memikirkan mesin
baru,” tutur Wira.

Beruntung sang istri luluh.
“Akhirnya, saya jual mobil Mercy,
diler sepeda motor, dan ruko
karena harus punya alat produksi,”
kata Wira. Ia sendiri yang memesan
mesin tersebut sesuai dengan
idenya. Benar saja, berbekal mesin
canggih itu, kreasi kipas Wiracana
makin beragam.

Wira bisa membuat kipas perak,
kipas warna tradisional, kipas
dekorasi, kipas lukis dengan ukiran
dari tulang, kipas sutra polos, kipas
sutra lukis tangan, kipas cetak
kertas, kipas sutra batik, kipas
kerang laut, kipas sutra brokat.
Konsumen pun bisa dengan mudah
mengukir namanya di kipas.
Dan, pesanan makin deras mengalir.

Kini, dengan 175 karyawan, CV
Wiracana mampu memproduksi
25.000 kipas kayu dan kertas tiap
bulan. Harga kipas-kipas itu mulai
dari Rp 10.000 hingga Rp 17 juta
per buah. Tak heran, Wira bisa
menangguk omzet ratusan juta
hingga miliaran rupiah.

Tak hanya itu, Wira pun mendapat
banyak tawaran untuk membuka
gerainya di beberapa mal ternama
ibu kota.( Feri Kristianto)

sumber: http://mobile.kontan.co.id/news/si-cabin-boy-itu-kini-menjadi-raja-kipas/2013/01/22

Hery dan Retno, Pasutri Kreatif yang Mengubah Limbah Kayu Menjadi Bisnis Kerajinan Beromzet Puluhan Juta Rupiah

Jakarta – Sepak terjang pasangan
suami istri (Pasutri) asal Malang,
Hery dan Retno patut menjadi
inspirasi bagi pasangan lainnya.
Pasutri ini sukses menjalankan
bisnis, pengolahan sampah kayu,
mungkin bagi banyak orang benda
tersebut tak bernilai.

Hery dan Retno merupakan pasutri
asal Malang, Jawa Timur yang
mampu memaksimalkan bahan
kayu bekas pabrik mebel dan
furnitur yang tidak terpakai
menjadi desain-desain hiasan kayu
yang unik seperti tempat pensil,
tempat gulungan tisu, boneka kayu
dan gantungan baju. Namun
proses keduanya menjadi
pengusaha dengan omset Rp 30-50
juta/bulan, dilewati dengan kerja
keras.

“Saya memulai bisnis ini tahun
1992 dimulai dari limbah pabrik
kayu perusahaan mebel yang tidak
terpakai. Kemudian kita desain dan
kita pasarkan,” ungkap Retno
kepada detikFinance di JCC
Senayan Jakarta, Kamis
(13/12/2012).

Retno menuturkankan ketika
memulai bisnisnya pertama kali,
tidak membutuhkan modal.
Awalnya usahanya pun masih
belum berkembang karena
ketidaktahuan mereka pada produk
kayu yang disukai masyarakat.

“Saya nggak modal karena pakai
limbah pabrik itu dan pengerjaan
kita menggunakan gergaji pabrik di
Malang. Dahulu kita masih
melihat-lihat dan laku di pasaran
tidak. acara pertama Expo
pembangunan di Malang kita
pamerkan produk kita. Dari acara
itu kita mendapat masukan bentuk
produk yang laku dan bermanfaat
dipasaran. Tahun 1992 omset
masih Rp 100.000 itupun jika ada
acara saja,” tuturnya.
Dari pengalaman itu, Hery dan
Retno kemudian mengubah desain
pada produk kayu yang dibuatnya.

Tahun 1995, mereka
menambahkan desain buah-
buahan seperti strawberry dan
terus menambah desain pada
tahun yang sama. Selain itu
perluasan pasar kembali dilakukan
walaupun belum masih lingkup
Kota Malang Jawa Timur.

“Lama-lama kita tahu pasarnya,
kemudian kita beli kayu
gelondongan jenis Pinus atas izin
Perhutani dan hasil produksinya
saya titipkan ke toko-toko dan
koperasi. Tahun 1995 kita
memberikan motif strawberry dan
tahun berikutnya kita terus
menambah model,” imbuhnya.
Masa puncak bisnisnya terjadi
pada tahun 2003, produk Hery
dan Retno dilirik pasar Malaysia
dan Jamaika. Akhirnya inilah
pengalaman mereka untuk
melakukan ekspor dan hasilnya
negatif. Menurutnya tidak ada
kesepakatan harga dan penipuan
yang dilakukan eksportir membuat
mereka menghentikan ekspor
produknya ke Jamaika dan
Malaysia.

“Tahun 2003 kita merambah pasar
internasional yaitu Jamaika dan
Malaysia ada order sekitar Rp 25
juta dari Jamaika dan Kuala
Lumpur Rp 25 juta. Setelah itu
tidak ada kesepakatan harga dan
kami berhenti. Selain itu saya juga
rugi imateril tenaga kerja. Saya
juga belum siap dan saya pernah
tertipu lewat eksportir di Bali
hingga kami harus menutupi
kekurangan yang ada,” katanya.

Sejak saat itu, Heri dan Retno
lebih konsentrasi untuk merambah
pasar domestik. Hasilnya tidak sia-
sia. Saat ini keduanya mampu
meraup omset hingga Rp 30-50
juta per bulan. Harga juga
beragam mulai dari Rp 10.000
hingga jutaan rupiah. Produk yang
dijual seperti tempat pensil,
tempat gulungan tisu, boneka kayu
dan gantungan baju.
“Nggak mahal produk kami dari Rp
10.000 hingga jutaan rupiah itu
untuk desain khusus. Omset
pendapatan per bulan Rp 30 juta.
Musim pameran dan pernikahan
omset saya lebih dan bisa
mencapai Rp 50 juta. Januari nanti
sudah mulai banyak pemesanan.

Rumah saya di Gondosuli Malang
sering dijadikan tempat kunjungan.
Ini kayu pinus dari Malang dan
saya sudah tahu peluang ini baik
ke depan,” tutupnya.

Tertarik mengikuti jejaknya ? atau
mau lebih tahu tentang produk
yang unik yang di produksi oleh
Hery dan Retno? Saat ini keduanya
tengah memamerkan produk
kayunya di JCC Senayan Jakarta
tepatnya di Hall B pada acara
CRAFINA 2012 hingga Minggu
(16/12/2012).( Wiji Nurhayat )

sumber: http://m.detik.com/finance/read/2012/12/14/111909/2118464/480/

Ratna, Sukses ‘Menyulap’ Botol Bekas Menjadi Bisnis Botol Hias Beromzet Puluhan Juta

Bandung – Bagi banyak orang,
mungkin botol-botol bekas adalah
sampah yang tidak berguna.
Namun bagi Ratna Miranti botol
bekas adalah barang yang sangat
berarti.
Ia mampu mengubah barang itu
menjadi sesuatu yang amat
bernilai. Sebagai seorang perajin
lukisan di atas kaca, botol, gelas
dan barang yang terbuat dari kaca
lainnya.

Ratna mengawali karirnya sejak
tahun 2009, bisnisnya dimulai dari
sebuah kecelakaan. Ia sebelumnya
berprofesi sebagai perajin batik.
“Saya dulu suka membatik. Tapi
batik makin kesini makin banyak
dan makin ketat. Akhirnya saya
vakum 2 tahun karena mengurus
anak,” tutur Ratna kepada
detikFinance di kediaman
sekaligus workshopnya di Jalan
Sangkuriang, Bandung, Jawa Barat,
Sabtu (24/11/12).

Ratna memutuskan untuk memulai
usahanya lagi. Namun, di pada
saat ingin membeli bahan baku cat
untuk batik, ia malah membeli cat
untuk kaca. Ia pun iseng-iseng,
mencoba melukis di atas kaca.
“Saya salah beli. Malah beli untuk
cat kaca. Tapi saya coba untuk
buat di botol, di gelas. Ternyata
temen-temen suka,” tutur Sarjana
Desain Tekstil Institut Teknologi
Bandung ini.

Namun, kejadian itu tak serta
merta membuat dirinya percaya
diri untuk menumbuh kembangkan
usahanya menjadi besar. Pada saat
itu, Ratna masih menjual
produknya berdasarkan pesanan
konsumen.
“Saya bikin dulu, karena pada
dasarnya saya hobi melukis. Waktu
itu bertepatan sama Natal, jadi
banyak pesanan bernuansa Natal.
Pemasaran saya masih mulut ke
mulut, di blog, atau bawa ke
tempat ibu-ibu arisan,” papar
Ratna.

Barulah pada tahun 2010, genap
setelah usahanya berusia 1 tahun,
dia mendapat kesempatan untuk
mengikuti pameran Inacraft di
Jakarta. Disitulah kesempatan
besar bagi Ratna untuk
memperkenalkan produknya.

Untuk mengembangkan usahanya
itu dia mendapatkan suntikan
modal dari PT Permodalan
Nasional Madani (PNM) melalui
programnya yaitu Unit Layanan
Mikro Madani sebesar Rp 50 juta.
“Untuk nambah modal. Biaya
bahan baku dan yang lain,”
ucapnya.

Sampai saat ini, omzet yang
didapat Ratna dengan produknya
yang dinamai ‘Meerakatja’ ini
mencapai Rp 30 juta/bulan.
Padahal sebelum menjadi besar,
dia hanya bisa meraup Rp 3-5 juta
per bulan.
“Awalnya omzet Rp 3 juta, paling
tinggi Rp 5 juta. Karena jualnya
juga perorangan. Modal awalnya
juga pertama Rp 500 ribu,”
katanya.

Untuk urusan bahan baku, Ratna
mengaku tak kesulitan. Ia pun
sering memesan botol-botol bekas
penjual jamu. Namun untuk
catnya, Ratna menggunakan cat
yang diimpor dari Jerman melalui
distributor langganannya.
Tak hanya melukis di atas botol,
Ratna pun menerima pesanan
untuk melukis interior rumah
berbahan baku kaca, kaca cermin,
vas bunga, gelas, tempat lampu,
guci dan lain sebagainya.
“Harganya dari Rp 25 ribu hingga
Rp 2,5 juta,” ucapnya.

Produknya ini masih banyak
tersebar di wilayah Jakarta dan
Bandung. Beberapa produknya pun
telah masuk pasar internasional.
Namun, ia tidak secara langsung
mengekspor produknya ke luar
negeri, melainkan melalui
perantara.

“Kalau yang namanya bener-bener
ekspor sih belum. Tapi ada
pesanan beberapa orang untuk
tujuannya ke luar, Kanada, Jerman,
tapi tetap Saya berhubungannya
dengan orang Jakarta,” papar
Ratna.
Sampai saat ini, Ratna memiliki 3
pegawai tetap yang bekerja sebagai
pemberi warna pada karyanya.
Urusan desain dan lukisan dasar,
Ratna lah yang turun tangan.
“Kalau pesanan lagi banyak, kita
bisa sampai 15 orang,” cetusnya.

Jika tertarik dengan hasil karya
Meeraktja ini, anda bisa langsung
datang ke Jalan Sangkuriang O-2,
Bandung. Atau bisa mengunjungi
website
http://www.meeraktja.wordpress.com.

sumber: http://m.detik.com/finance/read/2012/11/26/105241/2101144/480/

Bermodal Hanya Rp 2,5 Juta, Benyamin Kini Raup Untung Rp 200 Juta/Bulan dari Usaha Mendong

Jakarta – Siapa sangka, bahan
dasar mendong, tanaman sejenis
padi bisa menghasilkan
keuntungan hingga Rp 200 juta
per bulan. Dengan modal awal
hanya Rp 2,5 juta saja, kini Abun
Benyamin (48), pemilik toko
produk mendong bisa meraup
keuntungan menggiurkan.

Mendong merupakan sejenis
tanaman padi yang dibudidayakan
di sawah. Bahan tersebut bisa
diolah kemudian dikeringkan dan
diberi warna menggunakan bahan
kimia dasar yang kemudian bisa
menghasilkan barang bernilai
tambah seperti tas, sandal, tikar,
tempat sampah, box buku, dan
tempat cucian.
“Itu asli Tasikmalaya, Jawa Barat.
Material dari karton dan mendong.

Mendong ditenun dulu dan
dikeringkan menggunakan energi
matahari. Setelah kering diberi
warna kemudian dikeringkan lagi
dan siap dipasarkan. Pembuatan
sehari beres,” papar Abun, saat
dijumpai detikFinance, di Pameran
CRAFINA, JCC, Minggu
(16/12/2012).
Abun mengaku, produk-produk
tersebut, dibuat untuk memberi
warna yang beda kepada
masyarakat yang mulai bosan
dengan produk-produk moderen.

Bahan dasar mendong merupakan
ciri khas dari Tasikmalaya, Jawa
Barat. Selain dari mendong,
produk-produk tersebut juga bisa
menggunakan bahan dari eceng
gondok, pandan, dan lidi.
Produk-produk itu dibandrol
dengan kisaran harga Rp 15 ribu –
Rp 1 juta. Untuk tikar, misalnya
dengan panjang 2 meter dan lebar
90 cm, produk tersebut dihargai
Rp 150 ribu.

Sementara untuk tas, dibandrol
dengan kisaran harga Rp 80 ribu –
Rp 150 ribu. Selain itu, ada box
buku yang harganya Rp 100 – Rp
800 ribu dan tempat cucian yang
diberi harga Rp 300 ribu – Rp 500
ribu. Selain itu, ada tempat sampai
yang 1 set-nya dihargai Rp 200
ribu. Ada juga yang murah loh,
sandal dari mendong dibandrol
cuma Rp 15 ribu saja.

Namun, harga-harga tersebut
masih bisa nego asal membeli
dalam jumlah banyak. Abun
memberi diskon hingga 20 persen
untuk setiap produk dengan
pemesanan di atas seratus produk.
“Kalau satuan mahal, kalau dalam
jumlah banyak bisa murah dan
nego tergantung jumlah dan
materialnya. Bisa sekitar 10-20
persen diskonnya. Untuk ekspor
bisa sampai 30-40 persen
diskonnya dengan minimal
pesanan 550 set untuk semua
produk,” katanya.

Usaha yang telah dirintisnya sejak
1996 itu, bisa menembus omset
hingga seribu set setiap bulannya
untuk box buku. Sementara untuk
tas bisa jauh lebih banyak hingga
2 ribu set per bulannya.
Tak hanya itu, produk-produk
miliknya dalam 2 bulan terakhir
mulai dilirik negara lain seperti
Kanada, Eropa (Spanyol), dan Asia
(Jepang, China, dan Singapura). “2
bulan lalu kita ekspor box cucian
ke Kanada. Ekspor sudah kita
lakukan dari 5 bulan lalu,” kata
Abun.

Mengingat permintaan yang
meningkat, Abun tak kalah akal,
dirinya ingin terus melebarkan
usahanya ke berbagai kota di
Indonesia. Rencananya. Bulan
April 2013, produk-produk hasil
kerajinannya akan mulai
disalurkan ke Bandung, Jakarta,
dan Bali.
“Kita punya showroom baru di
Tasikmalaya, baru satu. Rencana
ekspansi April tahun depan ke
Bandung, Jakarta, dan Bali. Lihat
kondisi pasar dulu,” akunya.

Abun mengaku, hingga saat ini
angka ekspor mencapai 270 set
untuk 1 kontainer untuk produk
box cucian. Sementara untuk box
buku bisa mencapai 2600 set per
1 kontainer.
“Kita mengedepankan motif.
Mendong lebih banyak variasinya.
Kualitas ekspor dan mutu terjaga,”
katanya.

Pernyataan itu diamini si pembeli
lady (37). Menurutnya, box buku
mendong tersebut memiliki desain
yang bagus dan harganya sesuai
dengan kualitas. “Desainnya bagus,
buatannya bagus, harganya sesuai
dengan kualitasnya,” katanya.( Dewi Rachmat Kusuma)

sumber: m.detik.com/finance/read/2012/12/16/133342/2119791/480/bermodal-hanya-rp-25-juta-pengusaha-mendong-ini-kini-untung-rp-200-juta-bulan

Saefullah, Kerajinan Bambu ‘Efrin Kreasi’-nya Menembus Hingga Pasar Amerika dan Fiji

Jakarta – Produk Industri Kecil dan Menengah (IKM) sejatinya jangan dipandang sebelah mata. Tak sedikit produk industri tersebut tembus pasar ekspor dengan omzet selangit. Salah satunya adalah produk kerajinan bambu milik Mochamad Saefullah. Siapa menyangka, bambu yang bagi sebagian orang bukan barang yang bernilai, bisa dibilang menjadi tumpuan hidup Saefullah, pria yang biasa dipanggil Kang Ipul ini. Berawal dari kegemarannya terhadap seni, dan menghadiri beberapa pameran kerajinan, Kang Ipul mulai memberanikan diri untuk terjun langsung sebagai perajin. Pada tahun 2002 dia mulai bergelut dengan bisnis kerajinan bambu. “Saya pikir di kampung saya banyak SDA (sumber daya alam), kita coba. Awal modal kita Rp 100 ribu. Kita bikin pensil, tahun 2002,” ungkap Kang Ipul saat ditemui di kediaman sekaligus workshopnya di Lembang, Bandung, Sabtu (24/11/12). Produknya sudah ke merambah ke beberapa negara di dunia. Terjauh, dia mengirimkan produk bambunya ke Amerika Serikat (AS) dan Fiji. Sisanya ke negara Asia seperti Malaysia, Singapura, negara Eropa seperti Belanda, Spanyol dan negara-negara lainnya. “Ekspor itu rutin, dari 100% paling banyak ke Malaysia hingga 60%. Cenderamata dari Malaysia dibuat di sini,” tambahnya. “Dan suatu saat kita pengen buka toko di Kuala Lumpur sekitar 2 tahun lagi lah. Karena peminat di sana banyak,” imbuhnya. Permasalahan umum sebuah IKM ialah permodalan. Usaha yang dinamainya Efrin Kreasi inipun pernah mengalami masalah demikian. Hingga pada tahun 2009, Kang Ipul mendapat bantuan permodalan dari PT Permodalan Nasional Madani (Persero) dengan program yang dinamakan Unit Layanan Mikro Madani (UlaMM) sebesar Rp 200 juta. Modal tersebut digunakan Kang Ipul untuk biaya operasional seperti pembelian bahan baku, kendaraan operasional dan lainnya. “Orang dari UlaMM datang ke saya. Saya pinjam Rp 200 juta, prosesnya cepat sekali. Dua hari sudah cair. Tiga bulan yang lalu kita pinjam lagi Rp 80 juta. Bunganya wajar, kami sanggup bayarnya” papar Kang Ipul. Sampai saat ini, dia memiliki 15 orang pekerja yang kebanyakan bersifat borongan, dengan kata lain, bekerja saat ada pesanan saja. Sementara dia memiliki 3 pekerja yang keluar dan memulai usaha serupa mengikuti jejaknya. “Ada 3 orang yang keluar, tapi mereka kurang pasarnya mungkin ya,” tambahnya. Dalam satu bulan, dia bisa memproduksi 20 ribu unit kerajinan bambu yang kecil. Namun, untuk produk dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi seperti miniatur motor Harley, Kang Ipul tak bisa menyebutkan berapa kemampuan produksinya. Omzetnya, Kang Ipul dapat meraup hingga Rp 60 juta. Harga yang ditawarkan untuk produknya mulai dari Rp 3.500 hingga Rp 1,5 juta per unit. Pada tahun 2005, Kang Ipul bersama pekerjanya mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia karena telah membuat miniatur kereta api terpanjang, yaitu sepanjang 240 meter. Namun sayang, setelah itu, miniatur tersebut dia bongkar untuk kembali digunakan membuat kerajinan yang lain. “Kita juga buat Harley Davidson, pesanan dari California, saya yakin ini baru pertama saya yang buat,” tutupnya. Jika ingin membeli atau melihat- lihat, atau bahkan anda terinspirasi usaha gigih dan ingin berdiskusi dengan Kang Ipul, langsung saja datang ke tokonya di Jalan Tangkuban Parahu 333 RT 03/07 Cikole Lembang, Bandung.( Zulfi Suhendra) sumber: http://m.detik.com/finance/read/2012/11/24/125640/2100139/480/