Category Archives: Jasa

Triwoko, Sukses Membangun Kerajaan Bisnis dengan Berpegang pada Falsafah Memberi dan Melayani

Berbekal pengalaman bekerja di berbagai

perusahaan, Bambang Triwoko memantapkan diri

terjun dalam dunia entrepreneurship. Walaupun

saat mengundurkan diri pada pertengahan 2002,

bisa dibilang jabatan dan penghasilannya sebagai

karyawan cukup tinggi, namun panggilan jiwanya

untuk menjadi entrepreneur tidak tertahankan lagi.

Setelah lima tahun berbisnis, saat ini Bambang

berhasil mengembangkan kerajaan bisnisnya menjadi

beberapa jenis usaha. Di antaranya adalah Betiga

Klaten, Asrama Putri Betiga, Classy Tent, Refillo

 

Jakarta, Transtek Trimitra, dan Taman Gondosuli.

Betiga Klaten merupakan sub distributor semua

produk AQUA, Danone, dan sub agen LPG kemasan

12 kg dan Pertamina, dengan wilayah pemasaran

Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Betiga Klaten

melayani pembelian grosir maupun eceran dengan

harga yang kompetitif. Semua pembelian produk

diantar sampai lokasi pembeli di seluruh wilayah

Kabupaten Klaten tanpa biaya tambahan alias gratis.

Sementara itu, Asrama Putri Betiga menyediakan

 

jasa pemondokan khusus putri dengan

kapasitas 43 kamar di 3 lokasi yang saling

berdekatan di daerah Pringwulung, Condong Catur,

Yogyakarta. Lokasi pondokan tersebut cukup

strategis, berjarak cukup dekat dengan Universitas

Atmajaya, Sanata Dharma, UNY, UPN, AKS

Tarakanita, AMPTA, dan perguruan tinggi lainnya.

Setiap kamar sudah dilengkapi dengan tempat tidur,

lemari pakaian, dan meja belajar. Tersedia fasilitas

dapur, ruang tamu, garasi sepeda motor, dan taman.

Sedangkan Classy Tents bergerak di bidang

jasa penyewaan tenda dekorasi di wilayah

Jabodetabek. Jenis-jenis tenda yang tersedia

antara lain tenda flat, tenda canopy, tenda

kerucut, dan tenda hall. Classy Tent juga

menyewakan alas papan, panggung, rigging stage,

air conditioning, sound system, lighting set, florist,

dan mini garden, dan segala keperluan dekorasi

ruangan. Classy Tent didirikan pada 1 April 2003,

dua bulan lebih awal dari Betiga Klaten yang berdiri

 

pada 2 Juni 2003.

Ownership Classy Tent merupakan gabungan

unik persahabatan di antara partner yang terdiri

dari delapan orang. Setting awal bisnis ini adalah

sebagai wadah mitra bisnis, atau partner agar

selalu dapat bersilaturahmi di masa pensiun,

korporasi ini lebih menitikberatkan pada aspek

ikatan kekelurgaan di antara partner.

Mayoritas partner masih aktif berkarya sebagai

karyawan di perusahaan, dan menduduki jabatan

manajerial sehingga praktis waktu untuk mengelola

bisnis Classy Tent terbatas. Amanah pengelolaan

bisnis diberikan kepada dua orang partner, salah

satunya adalah Bambang.

Laju tumbuh bisnis penyewaan tenda ini cukup

bagus. Perusahaan sudah bisa menghasilkan

keuntungan sejak awal berdiri. Hal ini didukung

faktor tingkat persaingan yang belum begitu tajam.

Ada beberapa hambatan yang dihadapi Bambang

 

dalam menjalankan bisnis ini. Hambatan

tersebut di antaranya pengambilan keputusan

kebijakan strategis yang kurang cepat, karena

harus mempertahankan aspek persetujuan dan

partner yang lain. Terlebih apabila harus mengambil

keputusan kategori investasi, dampak yang

dirasakan adalah banyaknya peluang yang terlewatkan.

Keterbatasan waktu adalah faktor yang kurang

menguntungkan berikutnya dalam usaha

pengembangan perusahaan. Di samping itu, ada

juga perbedaan corporate culture dan mindset dari

 

pengelola bisnis.

Meskipun banyak hambatan yang dihadapi, laju

tumbuh Classy Tent boleh dibilang cukup

spektakuler. Total aset menjadi empat kali lipat bila

dibandingkan tahun pertama bisnis ini didirikan. Net

worth yang dihasilkan ternyata juga mengalami

kenaikan rata-rata 20% per tahun. Hebatnya lagi,

akumulasi laba yang dihasilkan selalu digunakan

untuk re-investasi perlengkapan tenda.

Bambang juga membuka bisnis Refillo Jakarta

yang melayani jasa isi ulang tinta printer laser, dan

inkjet di wilayah Jakarta Selatan. Bisnis dalam

bidang ini semuanya telah diserahkan kepada karyawan.

Melalui PT Transtek Trimitra, Bambang

mengepakkan sayap bisnisnya dalam bidang

konstruksi renovasi gedung, jalan dan jembatan,

elektrikal dan mekanikal, pelatihan SDM, dan

sertiflkasi spesialis welding.

Berkolaborasi dengan keluarga, Bambang juga

mendirikan bisnis Taman Gondosuli yang

menyediakan aneka tanaman hias berkualitas,

indoor maupun outdoor. Taman Gondosuli

menyajikan tanaman hias dengan kemasan yang

artistik dan unik yang berlokasi di daerah Klaten.

Setelah menggeluti beberapa bisnis sekaligus

dalam waktu 5 tahun terakhir, tampak benang

merah perbedaan fundamental bisnis yang

berdampak pada laju pertumbuhan korporasi.

Korporasi bisnis distribusi Betiga Klaten dan Real

Estat (asrama putri, rumah sewa) Betiga Yogya,

 

sebagai flag carrier bisnisnya, kini menunjukkan

laju tumbuh yang signifikan. Korporasi ini 100%

modalnya dimiliki keluarga serta dikelola sendiri

secara langsung, sehingga kecepatan dalam

mengambil keputusan penting dapat dilaksanakan setiap saat.

Terlebih Bambang telah menentukan falsafah

dan budaya bisnis yang pas. Hal ini berdampak pada

akselerasi laju tumbuh perusahaan sehingga roh

bisnis terasa sekali auranya. Setiap kali mengalami

problem bisnis yang serius dapat cepat ‘exit’

bahkan setiap problem tersebut nyaris selalu

menjadi pertanda leverage korporasi, ungkap

Bambang dengan semangat.

Bahkan, untuk menghindari comfort zone bisnis,

 

Bambang terkadang justru menciptakan

problem positif di perusahaan, misalnya menambah

investasi armada distribusi. Dengan bertambahnya

armada distribusi, otomatis adrenalin dipacu agar

armada tidak mengalami idle capacity.

Untuk Real Estate, problem positif yang diciptakan

 

berupa renovasi properti yang memerlukan

dana tidak sedikit sehingga kreativitas muncul

dalam mencari sumber pendanaan renovasi. Tentu

saja, Bambang tetap fokus terhadap kepuasan

stakeholders, dan kualitas pelayanan yang selalu

lebih baik. Sering kali kebijakan bisnis tersebut

melanggar kelaziman pakem berbisnis, baik dari sisi

marketing, teknis operasional, finance maupun SDM.

Kadangkala Bambang mengambil kebijakan yang

tidak lazim. Salah satu contohnya adalah

 

menghibahkan 40% saham perusahaan Betiga

Klaten kepada koperasi karyawan Betiga Klaten

pada 2010. Kebijakan lain yang keluar pakem,

setelah salah satu perusahaan yang akan dijadikan

andalan hidup ternyata bangkrut dan ditutup pada

2003. Bambang mendirikan Betiga Klaten dan

mengambil kebijakan untuk membagikan profit

setiap bulan kepada karyawan, dengan persentase

sama besar dengan persentasenya sebagai pemilik

perusahaan.

 

Sampai saat ini, Bambang selalu konsisten

dengan kebijakan tersebut, meskipun korporasi sudah

berkembang pesat. Satu hal yang selalu mewarnai

passion Bambang dalam berbisnis adalah selalu

berbisnis dengan hati, selalu bersyukur dan ikhlas

setiap saat. Justru dengan semangat tersebut,

aktivitas operasional bisnis bisa berjalan dengan

optimal. Sistem pendelegasian wewenang

bisa berjalan dengan mulus. Pembelajaran alih

pengelolaan perusahaan kepada karyawan sebagai

mitra kerja juga mulai menghasilkan sinergi bisnis yang bagus.

Bambang merasakan betapa dia mendapatkan

anugerah dan kenikmatan yang luar biasa ketika

menerapkan falsafah 2 M (Memberi dan Melayani).

Falsafah tersebut selalu diterapkannya, baik dalam

kehidupan bisnis, keluarga, maupun bermasyarakat.

Dia pun merasakan kenikmatan yang luar biasa dalam berkarya.

Penerapan falsafah memberi dan melayani

dalam berbisnis, dilakukan Bambang dengan

mengelola SDM yang bervisi entrepreneurship. Hal

ini diyakininya akan menjadikan bisnis semakin

mengkilap sepanjang waktu.

Bambang juga selalu berusaha menerapkan

positive feeling dalam setiap jengkal kehidupannya.

Fakta kehidupan pribadi yang Bambang rasakan

juga merupakan wujud positive feeling yang

dijalankan setiap saat, yakni menjadikan relasi

suami-istri dalam kondisi saling memberi dan

melayani, saling menghormati dan saling mendukung

dalam setiap karya pengabdian kepada masyarakat.

Dia menjelaskan bahwa sering kali hanya positive

feeling-lah yang mampu merasakan keindahan serta

keajaiban spirit memberi dan melayani ini.

Positive feeling juga menghasilkan relasi dengan

 

anak-anak tercinta selalu dalam kondisi yang

menakjubkan. Komunikasi yang terjalin akrab dan

mengalir seperti yang diharapkan menjadikan proses

belajar anak-anak di sekolah dan pembelajaran di

rumah berjalan dengan baik.

Bambang menyadari betapa pentingnya arti

 

sebuah perjalanan hidup. Bambang percaya bahwa

Tuhan tidak akan memberi cobaan melebihi

kemampuan hamba-Nya. Kesempatan untuk

menjadi manusia yang berguna selalu terbuka

lebar, yakni dengan selalu berdoa dan berusaha

menjadi balk. Sambil belajar mengatasi problem

kehidupan, Bambang justru mencoba merekrut

karyawan dengan berbagai latar belakang stigma

negatif masyarakat, ada pemabuk, penjudi, drop

out sekolah, dan sebagainya.

Ternyata, kinerja yang mereka hasilkan sungguh dahsyat.

 

Kuncinya dengan memberi mereka

kesempatan dan kepercayaan, serta diperlakukan

sebagal manusia yang bermartabat. Memang

terkadang masih terjadi hal-hal kecil yang menjadi

kebiasaan lama mereka, namun hebatnya justru

rekan sejawat mereka sendiri yang saling

mengingatkan agar kembali ke hal-hal yang balk.

Ada satu nasihat almarhum ayahnya yang

sampal kini masih selalu terngiang di telinga

Bambang “Sing podho rukun,” pesan ayahnya untuk

selalu menjaga kerukunan. Satu kalimat yang begitu

singkat bermakna cukup dalam. Ayahnya pun

memberi contoh tindakan konkret, antara lain

dengan membantu mengatasi masalah keuangan

yang dihadapi adik-adiknya, tulus, dan tanpa

pamrih sedikit pun. Menjadi orangtua asuh

keponakan yang kurang mampu agar dapat

bersekolah, dan mencarikan pekerjaan untuk anak

tetangga yang drop out sekolah dan sebagainya.

Yang membuat Bambang kagum dan terharu

 

adalah ayahnya bukanlah seorang miliarder. Ayah

Bambang berprofesi sebagai guru pegawai negeri,

yang tidak neko-neko dan jujur. Untuk biaya hidup

sehari-hari dan biaya sekolah anak-anaknya pun

sering kali pinjam sana sini untuk menutupi negatif

cash flow-nya.

Ketika anak-anaknya meminta agar keperluan

keluarga sendiri diutamakan dan menunda dulu

urusan membantu orang lain (meskipun masih

keluarga), ayahnya menjawab, orang tersebut

lebih memerlukan dari pada kita, tidak ada salahnya

kita membantu orang lain, bapak juga tahu kita

sedang kesulitan finansial. Percayalah, setiap kali

kita membantu orang lain, Tuhan akan selalu

memberi kemudahan dalam karya-karya kita.

Jawaban dan falsafah hidup ayahnya tersebut

dipakai sebagai way of life Bambang hingga kini.

Falsafah tersebut begitu dahsyat merasuk dalam

sendi-sendi kehidupannya sehingga dalam setiap

langkah bisnis, dia selalu berprinsip memberi dan

melayani.

Saat ini, Bambang masih memiliki beberapa

impian. Di antaranya adalah menghibahkan 40%

saham perusahaan dan menyerahkan pengelolaan

Betiga Klaten kepada koperasi karyawan Betiga

pada 2010. Ketika pensiun pada 23 Desember 2010

nanti, dia menargetkan mempunyai pasif income

lima kali biaya hidup, mempunyai mobil baru Honda

Accord tahun produksi 2010, dan menikmati masa

pensiunnya dengan berwisata ke luar negeri

bersama sang istri tercinta.

 

Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan

Stanly, Anak Petani yang Kini Jadi Bos Bengkel dan Onderdil Mobil Beromzet Milyaran

Memulai suatu usaha tidaklah
gampang, tapi juga tidak mustahil
untuk sukses. Asal ada tekad dan
kemauan kuat, pasti suatu saat akan
berhasil. Stanly Erungan (40 tahun),
seorang anak petani dari Manado
membuktikan hal itu.
Kini, Stanly sukses menjadi
pengusaha bengkel mobil dengan
omzet di atas Rp 1 miliar per bulan.
Tekad menjadi pengusaha sudah
muncul saat ia masih bekerja di
sejumlah perusahaan besar, seperti
Astra.
Stanly sudah bekerja di Astra sejak
lulus dari Universitas Padjajaran
(Unpad) Bandung tahun 1996. Di
Unpad, ia mengambil jurusan
komputer, khususnya bidang
informasi teknologi.
Lama bekerja di Astra, anak ketiga
dari empat bersaudara ini sudah
menduduki posisi penting di
perusahaan itu. Namun, tekadnya
yang kuat untuk menjadi
pengusaha, tidak menghalangi
niatnya untuk terjun ke dunia
bisnis.
“Sejak dulu, saya sudah
menargetkan bahwa pada usia
menjelang 40 tahun harus
mendirikan usaha sendiri,” katanya.
Begitu keluar dari Astra pada 2001,
Stanly tidak langsung terjun ke
dunia bisnis dan mendirikan usaha
sendiri. Saat itu, ia sempat
bergabung dulu di salah satu
perusahaan oli di Jakarta.
Di perusahaan ini, ayah dua anak
ini semakin memiliki jaringan yang
kuat di dunia otomotif. Saat itu, ia
rutin memasok oli ke sejumlah
pengusaha truk, bus, dan kendaraan
lainnya. “Saya akhirnya memiliki
banyak kenalan,” kata suami dari
Maria Natalia ini.
Bermodal jaringan itu, pada 2008,
Stanly lantas memilih keluar dari
perusahaan oli dan fokus mengelola
bengkel mobil di bawah bendera
usaha PT Mitra Jaya Agung Motor
yang bermarkas di Cikokol,
Tangerang, Banten.
Stanly mengembangkan usaha
bengkel ini dengan merek Mitra
Service Car (MSC). Bisnis bengkel
sebenarnya sudah dirintis sejak
tahun 2007, saat ia masih di
perusahaan oli. “Namun, saat itu
yang saya dirikan usaha bengkel
motor,” ujarnya.
Setelah dua tahun berjalan, bengkel
motor itu kemudian dijualnya pada
2009. Setelah itu, ia fokus
membesarkan usaha bengkel mobil
miliknya. Selain bengkel, ia juga
menyediakan aneka onderdil mobil
dengan merek sendiri, yakni AQ
Genuine.
“Saya beri nama AQ yang artinya
kualitas nomor satu,” ujarnya.
Onderdil yang dipasarkannya
kebanyakan khusus buat bus dan
truk. Di bisnis ini, ia juga
memberikan layanan perawatan
onderdil.
Dengan begitu, pelanggan tidak lagi
pusing jika butuh perawatan dan
penggantian onderdil
kendaraannya. Berkat usahanya ini,
Stanly bisa meraup omzet di atas Rp
1 miliar per bulan.
Selain menjual onderdil dengan
merek sendiri, Stanly juga
mengimpor onderdil kendaraan lain
yang umumnya berasal dari Eropa.
Setelah merasa mantap dengan
perkembangan usahanya, pada
tahun 2012, ia resmi membuka
peluang usaha waralaba. Saat ini, ia
telah memiliki enam gerai MSC, dan
lima di antaranya milik
terwaralaba.

Sebelum sukses membesarkan
usaha bengkel mobil dengan merek
Mitra Service Car, Stanly Erungan
pernah bekerja di sejumlah
perusahaan besar.
Salah satunya di Grup Astra. Di
perusahaan ini, Stanly pernah
menangani bagian penjualan. Lepas
dari Astra, ia kemudian bergabung
di sebuah perusahaan oli terkemuka
di Jakarta.
Di perusahaan oli ini, Stanly
menjabat sebagai manajer
pengembangan bisnis. Di posisi ini,
ia bertanggung jawab, mulai
rekrutmen karyawan baru sampai
presentasi kondisi perusahaan.
Bahkan, ia juga diserahi tugas
menarik pelanggan.
Ia pun kerap memasok oli ke
sejumlah perusahaan besar,
khususnya pengelola bus, travel,
dan truk. Dengan pekerjaan itu,
relasi yang dimiliknya di sektor
otomotif semakin kuat.
Pengalaman itu membuat wawasan
dunia pemasarannya semakin luas.
Kendati menempati posisi penting,
keinginan yang kuat untuk memiliki
usaha sendiri mendorong Stanly
untuk mengundurkan diri dari
perusahaan itu.
Pada 2008, Stanly mulai merintis
usaha bengkel dan onderdil mobil.
Berbekal pengalaman kerja di
perusahaan terkemuka, tekadnya
untuk membesarkan usaha sendiri
semakin kuat.
Bisnis bengkel mobil ini merupakan
kelanjutan dari bisnis bengkel
motor yang sudah dirintisnya sejak
2007. Namun, karena prospeknya
kurang bagus, pada 2009, ia
menjual bengkel motor itu. Sejak
itu, ia fokus membesarkan usaha
bengkel mobil. Kini, omzetnya
sudah lebih dari Rp 1 miliar per
bulan.
Saat awal merintis usaha, Stanly
langsung mendekati relasi-relasi
yang dimilikinya, seperti pengelola
bus, travel, dan truk untuk diajak
bekerjasama. Dengan pengalaman
dan latar belakang yang dimilikinya,
tak sulit bagi Stanly untuk
meyakinkan para relasinya itu.
Mirip dengan yang dilakukannya
saat masih bekerja di perusahaan
oli, Stanly pun memasok aneka
onderdil sekaligus jasa
perawatannya ke sejumlah pool bus,
travel, dan truk milik pelanggannya.
Ketika pelanggan membutuhkan
onderdil tertentu, ia tinggal
mengambil barang milik Stanly yang
sudah ditaruh di tempat mereka.
Cara ini termasuk efektif dan efisien
ketimbang baru menyediakan
onderdil ketika pelanggan
membutuhkannya.
Setiap bulan, konsumen tinggal
membayar pemakaian onderdil itu.
Stanly juga menyediakan jasa servis
di setiap pool milik pelanggan.
“Jadi, mulai proses penyediaan
onderdil sampai servis, kami
menyediakan semua,” kata Stanly.
Stanly bilang, kunci sukses strategi
pemasaran ini terletak pada
kreativitas yang dikembangkan
terus menerus. Tanpa kreativitas
pemasaran, pelayanan prima, dan
didukung oleh produk berkualitas,
bisnis sulit berkembang.
Selain itu, untuk menjaga kepuasan
pelanggan, Stanly membuat sistem
layanan servis secara online di
setiap bengkelnya.
Dengan cara ini, ia bisa memantau
seluruh proses perawatan
kendaraan di setiap bengkel
miliknya, mulai pada proses
pengecekan  jumlah kendaraan yang
sedang diperbaiki, kinerja montir,
hingga harga yang harus dibayar
konsumen.

Kendati telah sukses membesut
usaha bengkel dan onderdil mobil
di bawah bendera Mitra Service Car
(MSC), insting dan naluri bisnis
Stanly Erungan tidak juga surut.
Terbukti, ia masih terus ekspansi
dengan merambah bisnis baru.
Tahun lalu, misalnya, Stanly
merintis usaha rental atau
penyewaan mobil. Bisnis rental
mobil ini memang masih skala kecil
karena ia baru mengoperasikan tiga
unit mobil.
Ke depan, Stanly bertekad terus
menambah armada mobilnya ini.
Kendati masih fokus membesarkan
bisnis rental mobil, dia mengaku
masih akan melanjutkan ekspansi
dengan merambah sektor-sektor
lain yang menjanjikan peluang dan
keuntungan.
Salah satu yang diliriknya adalah
bisnis jasa ekspedisi pengiriman
barang. Ia berencana mendirikan
usaha ekspedisi tahun ini juga.
Salah satu alasannya masuk bisnis
ini adalah keinginan untuk
melancarkan proses pengiriman
logistik dari perusahaan onderdil
miliknya.
Selama ini, ia kerap kesulitan
melakukan pengiriman barang,
terutama pada malam hari atau
pada saat musim liburan. Berangkat
dari kesulitan itu, ia melihat
peluang di bisnis ekspedisi.
Stanly menargetkan, perusahaan
ekspedisi tersebut sudah berdiri
paling lambat akhir tahun 2013.
Soal perkiraan biaya investasi, ia
mengaku masih menghitungnya.
“Tapi, kami perkirakan butuh modal
kurang lebih Rp 50 miliar untuk
membangun perusahaan logistik
ini,” ujarnya. Lantaran butuh biaya
besar, Stanly tidak akan merintis
usaha ini sendirian.
Ia sudah menggandeng sebuah
perusahaan yang akan mendanai
seluruh kebutuhan pendirian
perusahaan tersebut. Stanly sendiri
bakal menjadi pengelola bisnis
tersebut. “Jadi, investor yang akan
masuk hanya menyertakan modal,”
ujarnya.
Stanly akan mengembangkan usaha
ini menjadi terintegrasi dengan
bisnis onderdil dan bengkel
miliknya. Dengan adanya
perusahaan ekspedisi, ia bisa
leluasa melayani pesanan pelanggan
dan mitranya di sejumlah wilayah.
Dalam mengelola usaha ini, Stanly
juga akan membuka layanan selama
24 jam penuh, bahkan tidak ada
hari libur dalam setahun.
Strategi ini diharapkan bisa
memuaskan seluruh pelanggannya,
baik pengguna jasa ekspedisi
maupun konsumen pengguna
onderdil dan bengkelnya. “Dengan
demikian, kami bisa memberikan
pelayanan lebih kepada pelanggan,”
ujarnya.
Stanly optimistis, seluruh unit
usahanya ini kelak akan menjadi
besar dan saling terintegrasi satu
sama lain. Kendati berencana
merambah bisnis lain, Stanly tetap
berambisi membesarkan bisnis
bengkel dan onderdil mobilnya.

Di bisnis ini, ia berharap jaringan
bengkel MSC bisa merambah
pelbagai kota di Indonesia. Selain
lewat jalur waralaba atau
kemitraan, ia juga bakal
mengembangkan usaha bengkelnya
dengan menggandeng pemerintah
daerah.
“Kami akan menawarkan jasa
perawatan dan penjualan onderdil
untuk kebutuhan kendaraan dinas di
daerah -daerah,” bebernya.
Lewat kerjasama itu, Stanly
menjamin banyak manfaat yang
didapat pemerintah. Salah satunya
dapat menekan anggaran biaya
pemeliharaan mobil dinas.
Dengan sistem online yang
dikembangkannya, setiap
pemerintah daerah yang
menggunakan jasa bengkelnya bisa
memantau seluruh proses
perawatan kendaraan dinas.
Dengan begitu, setiap bagian
administrasi daerah bisa
mengetahui berapa jumlah
anggaran dan pengeluaran bulanan
buat perawatan kendaraan dinas,
sekaligus mengendalikannya.
(Noverius Laoli)

sumber: http://mobile.kontan.co.id/news/setelah-bengkel-stanly-garap-bisnis-ekspedisi-3/2013/01/16

Aryanto, Dulu Loper Koran Kini Bos Rental Mobil Mewah

Kerasnya hidup sering menjadi motor
penggerak seseorang untuk mencapai
keberhasilan atau kehidupan yang
lebih baik. Seperti yang dialami
Aryanto Mangundiharjo. Kerasnya
kehidupan di jalanan membawanya
menuai keberhasilan.

Lahir dari keluarga berada tak
menjamin orang bisa sukses. Tapi,
Aryanto Mangundiharjo membuktikan
bahwa kerja keras dan pengalaman
jatuh bangun merupakan faktor yang
membuatnya sukses walau berasal
dari keluarga berada. Berkat keuletan
dan belajar dari kegagalan,
ia sukses menjadi pemain rental mobil
mewah dengan bendera The Jakarta
Limousine.

Saat ini The Jakarta Limousine mampu
menghasilkan omzet Rp 300 juta
hingga Rp 400 juta per bulan. Selain
beberapa hotel bintang lima, Jakarta
Limousine juga menjadi rekanan
beberapa kedutaan besar seperti
Inggris, Korea Selatan, Malaysia, dan
China. Ada juga kerja sama dengan
BRI dan Bank Indonesia.
Beberapa artis mancanegara seperti
Super Junior, Rihanna, dan Justine
Bieber pernah menggunakan jasa
perusahaan Aryanto. “Selain rental
langsung, saya memasok mobil ke
rental-rental mobil mewah ternama,”
katanya.

Saat ini, ia memang baru
memiliki 16 unit mobil mewah
bermerek Toyota Alphard, Fortuner,
dan Mercedes Benz E Class. Khusus
mobil limousine, biasanya dia
mendapat pinjaman dari orang kaya.

Lahir dari keluarga berada, ayah
Aryanto adalah pengusaha sewa-
menyewa alat berat. Adapun ibunya
seorang pemasok bahan kue di
beberapa pengusaha kue. Tapi, saat
kecil, ia lebih suka bermain dengan
anak-anak loper koran meski sering
dimarahi orang tuanya.
Ternyata pergaulan dengan loper
koran memberi makna lain dalam
kehidupan Aryanto. “Ada
permasalahan keluarga yang
membuat saya kabur dari rumah.
Saya hidup di jalanan dan menjadi
loper koran,” kenang lelaki kelahiran
Jakarta, 14 Mei 1976 ini.
Tak cuma itu, setelah sang ayah
meninggal, ekonomi keluarganya
guncang. Aryanto juga terpaksa
meninggalkan bangku sekolah. “Saat
itu saya sukses menjadi loper berkat
pager. Di antara lipatan koran, saya
selipkan nomor pager saya. Dari situ,
pelanggan bertambah banyak,”
kenangnya.

Dari jerih payahnya itu, Aryanto
berhasil menyewa rumah dan
mengikuti pendidikan kejar paket.
“Karena bosan, usaha loper saya
berikan ke adik. Saya memilih menjadi
satpam,” katanya. Di saat menjadi
satpam, dia belajar menyetir.
Akhirnya, dia berani bekerja sebagai
sopir di perusahaan air minum.
Selanjutnya, ia pindah ke perusahaan
Jepang. Karena kerusuhan tahun
1998, perusahaan Jepang itu bubar. Ia
menjadi sopir taksi di Blue Bird, lantas
hijrah ke Bali menjadi supir taksi
eksklusif.

Di Pulau Dewata, selain sebagai sopir
taksi eksklusif, Aryanto mendapat
tambahan penghasilan sebagai calo
mobil sewaan. Dari situ, dia belajar
soal bisnis penyewaan mobil.
Peristiwa Bom Bali tahun 2002
membuatnya keluar dari pekerjaan
dan kembali ke Jakarta dengan uang
pesangon sebesar Rp 3 juta. Pada saat
yang sama, usaha distributor koran
yang dikelola sang adik juga bangkrut.

Bermodal pesangon itu, Aryanto
memberanikan diri membuka usaha
rental mobil. “Saya tidak punya mobil,
cuma modal nomor telepon. Kalau
ada order, saya akan cari rental lain,”
katanya. Ia mendapat order dari
perusahaan obat nyamuk yang
menyewa 18 mobil untuk kegiatan di
10 kota selama 3 bulan. Dari order ini,
ia mampu membeli mobil Kijang.

Order besar datang lagi dari
perusahaan telepon seluler yang
meminta 40 unit mobil dengan
dibiayai oleh bank. “Saya tidak puas
begitu saja dengan bisnis rental ini.
Saya coba menjadi kontraktor,”
kenangnya. Sayang, baru menggarap
satu proyek di Belitung, Aryanto sudah
kena tipu sebesar Rp 1,4 miliar.

Sementara itu, karena ulah karyawan
yang nakal, 40 unit mobil sewaannya
digelapkan penyewa.
Bangkit dari bangkrut
Utang bank yang menumpuk hingga
menyebabkan rumah Aryanto disita.
Uang hasil penjualan tanah yang
dikelola sang istri lenyap karena kena
tipu penjual valas. Tahun 2004, ia
bangkrut dan terpaksa tinggal di
rumah mertua.

Setahun lebih, Aryanto terpuruk. Pada
pertengahan tahun 2006, dia
mendapat pinjaman Rp 25 juta dari
seorang teman. Bermodal itu, dia
merintis usaha penyewaan mobil lagi
tanpa kendaraan sendiri. Ia
memanfaatkan mobil dari jasa
penyewaan lain.
Suatu saat, dari pelanggannya yang
warga negara asing, Aryanto
mendengar keluhan soal susahnya
mencari rental mobil mewah di
Jakarta. Dari situ, ia tertarik menjajal
bisnis ini. Dia mencari kenalan yang
mau menyewakan mobil mewahnya.
“Banyak yang mau, sebab untuk kelas
Alphard saja, tarif sewa per 12 jam Rp
3 juta. Saya dapat komisi 50 persen,”
katanya. Aryanto lantas fokus
menggarap penyewaan mobil mewah
meski tanpa modal mobil sendiri.

Aryanto akhirnya mendapat order 16
unit mobil mewah dengan masa sewa
10 hari sekaligus. Dalam jangka waktu
itu, ia mengantongi untung Rp 270
juta. “Saya langsung beli rumah dan
mobil Alphard. Dari modal itu, usaha
saya terus bergulir dan kini saya
memiliki 16 mobil mewah,” katanya. (Fransiska Firlana/
Kontan)

sumber: http://m.kompas.com/news/read/2012/08/29/09291773/Aryanto.Dulu.Loper.Koran

Ni Ketut Susilawati, Pemilik Sondri Banten: Dari Bali Mengelola Warisan Tradisi

Pulau dewata mewariskan banyak hal, dari seni, budaya, sampai alam yang indah. Tapi bukan hanya itu. Bali juga mewariskan bisnis banten (sesajen) yang menelurkan seorang wirausahawan mandiri yang mampu melepaskan diri dari kesulitan hidup

 

SELALU ADA HAL yang menarik dari Bali. Pemandangannya yang indah, ambiance-nya yang menawarkan penawar kejenuhan, dan kegiatan seni budayanya yang memikat. Aktivitas seni bisa dilihal dari adanya tari-tarian, patung, kain songket, dan yang tak kalah penting adalah kelihaian tangan untuk merangkai janur dalam proses pembuatan banten atau sesajen. Sesajen terdiri dari rangkaian janur, buah, kelapa, kue, dan bahan lainnya yang kemudian disusun sedemikian rupa sesuai makna filosofisnya. Setiap aspek kehidupan masyarakat Bali memang tidak terlepas dari aktivitas spiritual dan keagamaan.

Karena setiap keluarga harus menyediakan banten sebagai perangkat yang tak terpisahkan dari kehidupan upakara sehari-hari, maka tentunya dibutuhkan pula seseorang yang mampu memproduksi banten. Itulah yang dilakukan Ni Ketut Susilawati dan keluarganya terutama sang bunda untuk menambah penghasilan keluarga. “Salah satu tujuannya adalah mendukung kehidupan beragama sebagai penyeimbang arus modernisasi, selain tentu saja sebagai usaha mencari nafkah,” Ni Ketut menjelaskan.

Bisnis rumahan yang dimulai oleh ibunya beberapa tahun lalu itu ayahnya bekerja sebagai pegawai swasta tak berkembang seperti yang diharapkan. Inilah ciri khas sebagian besar UMKM kita, berusaha sekadar untuk hidup dan merasa wajar bila usaha sepi, asalkan cukup untuk makan sehari-hari. Tetapi bagi Ni Ketut, hal ini merupakan sebuah masalah. Ada sesuatu yang salah dalam strategi bisnis, kalau dari bisnis yang sepi itu Ni Ketut harus menanggung utang Rp50 juta dari usaha itu. Namun, dengan kegigihannya ia berhasil melunasi utang-utang itu, bahkan menuai untung puluhan juta rupiah setiap bulannya. Apa rahasianya?

 

Memilih bisnis yang sudah ia selami seja knowledge dan keahliannya cukup terasah.

 

BERAWAL DARI PERJUANGAN IBU

Sejarah bisnis banten keluarga Ni Ketut berawal dari impitan ekonomi keluarga yang cukup besar. Orangtuanya harus menanggung biaya lima orang anak yang semuanya membutuhkan dana yang besar. “Saat itu saya baru akan masuk perguruan tinggi. Karena anggaran terbatas, Ayah dan lbu meminjam uang dari rentenir yang bunganya sangat tinggi.”

Sebagai orangtua bijak, ibu Ni Ketut ingin agar anak keempatnya itu bisa menyelesaikan sekolah sampai ke jenjang perguruan tinggi. Dia merasa malu jika tidak seorang pun dari kelima anaknya mencicipi nikmatnya mencari ilmu di kampus. Tapi, “Jangankan untuk membiayai kuliah, menanggung beban hidup sehari-hari pun sulit dipenuhi orangtua saya,” demikian awal penuturan Ni Ketut.

Demi kelanjutan pendidikan anak-anaknya itu, sang bunda merintis berbagai macam usaha, dari berdagang makanan, sandal, sembako, dan lain-lainnya. Tapi yang terjadi hanya kegagalan. Semua usaha yang sudah dicoba hanya mendatangkan utang yang semakin menumpuk karena sistem gali lubang dan tutup lubang. Usaha banten itu sendiri dimulai pada 2002, dengan modal awal Rp35 juta, yang dipinjamkan oleh salah seorang kerabat yang iba akan kesulitan hidup Ni Ketut dan keluarganya. Namun, lagi-lagi usaha itu kandas. Tahun 2008, ibu Ni Ketut jatuh sakit. Tidak terlalu lama sakit, stroke mengakhiri perjuangannya membesarkan anak-anak.

“Rasanya hampa karena beliaulah satu-satunya yang mendorong saya untuk terus kuliah. Saya tidak bisa berdiam diri karena ketika lbu sakit, usaha ini diteruskan seorang kakak dan Ayah. Namun keduanya tidak bisa dibilang sukses. Harusnya bisnis banten ini menguntungkan, kenyataannya tetap saja ekonomi keluarga tak terpenuhi,” kenang Ni Ketut.

Dengan nekat, Ni Ketut yang masih kuliah mengambil alih usaha dengan peninggalan utang sebesar Rp50 juta. Modal untuk membangun kembali bisnis yang ‘setengah hidup’ itu, diperoleh–lagi-lagi–dari modal keluarga dan pinjaman dari kerabat-kerabat terdekat. Alhasil, setahun pertama keuntungan yang diperoleh mencapai Rp10 juta per bulan dan omzet yang dicapai sebesar Rp350 juta dari penjualan berbagai jenis banten. “Tahun berikutnya Saya melakukan kegiatan promosi yang lebih gencar seperti penyebaran kartu nama dan brosur ke kantor-kantor, pemesanan melalui surat elektronik, dan melakukan ready stock pada produk-produk tertentu. Terakhir tapi tidak kalah penting, yaitu memberikan pelayanan terbaik terhadap konsumen,” ujarnya.

 

BIODATA

NI KETUT SUSILAWATI

Denpasar, 30 Juni 1986

Pendidlikan

SI Sastra Inggris, Universitas Udayana, Denpasar

Nama Usaha

Sondri Banten (Industri Rumahan di Bidang Produksi Sarana Upacara)

Alamat: JI. Waturenggong No. 142, Denpasar, Bali

Penghargaan

2009 Finalis Nasional Wirausaha Muda Mandiri

 

Dari perombakan yang dilakukan Ni Ketut, omzet usaha ini melonjak drastis hingga Rp720 juta dengan keuntungan bersih mencapai Rp20 juta per bulan pada tahun 2009. Kendati senang, awalnya Ni Ketut sempat bingung dan kaget. Dia terkejut, mengapa profit yang dihasilkan ini bisa begitu besar. Mengapa dulu ibunya tak bisa meraih keuntungan seperti itu–bahkan terlilit utang yang cukup besar?

 

PERLU PROFESIONALISME

Ni Ketut lantas menganalisis apa yang telah terjadi. Dia mencoba menggali rekam jejak bisnis banten-nya dari segala arah. Setelah ditelusuri, akhirnya ia menemukan permasalahannya. Rupanya, keuntungan yang belum diperoleh oleh ibunya disebabkan beliau masih menjalankan masa promosi. “Promosinya sedemikian hebat, sampai-sampai selama 5 tahun harga yang diberikan adalah harga promosi atau harga diskon,” ujar Ni Ketut. Walaupun terdengar menyimpang dari berbagai strategi bisnis yang pernah dibadanya, namun cara itu telah membentuk pelanggan yang loyal. “Sehingga, pada saat saya mewarisinya, usaha ini sudah siap digerakkan dan siap menghasilkan keuntungan yang begitu besar. Walaupun utang yang juga ditinggalkan begitu besar, tapi semua utang itu bisa ditutup hanya dalam waktu dua bulan.”

Tentu saja, kata Ni Ketut, diperlukan pembenahan sistem manajemen pembagian tugas dan keuangan. Sebab, sebenarnya hal-hal lain sudah cukup mendukung. Misalnya, lokasi usaha—di A Waturenggong No. 142, Panjer,  Denpasar Selatan—cukup strategic, karena akses yang mudah dari kota Denpasar. Struktur organisasinya pun sudah ada—walau dulu belum berfungsi optimal. Ni Ketut menyempurnakannya dengan membentuk pimpinan usaha sebagai koordinator yang membawahi dua kepala bidang usaha, yaitu bidang usaha produksi dan distribusi. Kedua kepala bidang tersebut membawahi tenaga kerja di masing-masing bidangnya. pimpinan usaha bertugas mengontrol usaha secara umum, sedangkan kepala bidang bertugas mengontrol usaha sesuai bidangnya masing-masing.

 

Tidak segan melakukan analisis masalah, antara lain dengan menelusuri perbedaan profit bisnis ketika dipegang ibunya dan ketika ia kelola sendiri.

 

“Jumlah tenaga kerjanya sementara ini 4 orang; 3 orang untuk proses produksi, dan 1 orang untuk proses distribusi. Untuk waktu produksi, sangat bergantung dari jenis banten yang dibuat. Namun, dalam perjalanannya, kita dapat melakukan berbagai persiapan terlebih dulu untuk berbagai kelengkapan yang akan disusun menjadi banten. Paling lama waktu yang dibutuhkan kurang lebih 1 minggu. sedangkan untuk proses distribusi, barang dapat tersedia di agen penjual atau produsennya,” Ni Ketut menjelaskan panjang lebar.

Bahan baku terpenting yang digunakan dalam proses produksi banten adalah janur, bunga, buah, serta semat. Menurut Ni Ketut, dalam perjalanannya usaha banten ini memberikan dampak yang positif terhadap lingkungan, baik dari segi ekonomi, social maupun budaya. Sebab, di masa depan ia ingin dapat lebih banyak lagi menyerap tenaga kerja lokal—terutama ibu-ibu rumah tangga.

 

PEMSELAJARAN PENTING

Keberhasilan Ni Ketut meneruskan usaha ibunya tidak terlepas dari kegigihan dan semangatnya dalam berupaya. Sejak remaja, ia sadar bahwa kondisi ekonomi keluarganya tergolong kekurangan. la pun terclorong untuk membantu mengatasi masalah financial tersebut. “Sejak kuliah, saya sudah banyak melakukan usaha kecil-kecilan. Salah satunya bergabung dalam bisnis produk kedantikan yang berbasis multi-level marketing. Sambil kuliah, saya selalu mencari prospek baru atau menawarkan produk kedantikan kepala teman-teman di kampus,” kenangnya.

 

Setelah mernperoleh profit, ia juga melakukan inovasi, misalnya melakukan promosi dan memperkaya cara pemasaran

 

Walaupun belum purna-waktu, ketika kuliah pun Ni Ketut rajin membantu usaha ibunya. Dengan demikian ia memahami bahwa apa pun usaha itu, “Harus dibangun dengan proses, kerja keras, dan keberanian,” katanya arif.

Ni Ketut juga belajar dari pengalaman keluarga mengelola usaha banten. Sebagai anggota keluarga, dia melihat bisnis ini pantang mengecewakan pelanggan. la menjelaskan, “pelanggan yang kecewa akan pergi, mungkin saja menyebarkan berita buruk tanpa sengaja tentang pelayanan kami yang buruk. Pengelolaan keuangan pun harus profesional. Harus jelas ke mana keluar masuknya, tidak boleh bercampur dengan keuangan pribadi.”

Kesalahan-kesalahan yang dilakukan keluarganya dulu menjadi pembelajaran yang mahal bagi Ni Ketut. Itulah yang membuatnya tekun membenahi segala masalah dalam keluarga dan usahanya. Semua potensi usaha dianalisis dengan akurat, termasuk warisan usaha, rumah, serta aset-aset lain yang ada. la juga kembali mempelajari secara detail proses produksi, pembelian barang, potensi pemasaran, hingga kebutuhan konsumen.

“Lantas, dengan modal semangat saya kembali menghubungi kenalan-kenalan ibu saya yang pernah menjadi pelanggan untuk dapat kembali menjadi konsumen kami. semangat ini akhirnya membuat saya bisa melewati bulan pertama dengan baik walaupun saya merasakan saat ini bagaimana kerasnya dunia bisnis bagi seorang perempuan seperti saya,” tambahnya.

Berbagai inovasi pun dilakukan lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana, Denpasar ini. la berpromosi melalui penyebaran brosur, kartu nama, pamflet, mengikuti pameran-pameran, hingga melalui jalur online. Daerah pemasaran ia perluas hingga mencakup hampir ke seluruh Denpasar. la juga melakukan terobosan bisnis dengan memberlakukan layanan pesan-antar. Di bawah bendera Sondri Banters, proses perekrutan tenaga baru yang berasal dari masyarakat setempat juga terus dia lakukan.

Ni Ketut merasa bersyukur karena bisa mengikuti berbagai seminar bisnis, yang diadakan oleh Bank Mandiri. “Saya bertekad mengembangkan lebih jauh lagi usaha ini. Impian saya ke depannya adalah membangun cabang-cabang baru dengan memanfaatkan tenaga kerja lokal lebih banyak lagi. secara sosial, pembentukan usaha ini memiliki fungsi sebagai pencegah degradasi sosial dalam masyarakat,” pungkas gadis kelahiran Denpasar, yang berharap dapat lebih banyak lagi memberdayakan kaum perempuan itu untuk menanggulangi kemiskinan dan pengangguran.

Tertib dalam memisahkan keuangan pribadi maupun profesional, kendati usahanya masih berskala rumahan.

 

TESTIMONI

Q: Mengapa memilih bisnis ini?

A: Banten, sebagai satu perangkat yang tak terpisahkan dari kehidupan keagamaan yang dilakukan masyarakat Bali, merupakan bentuk transformasi Hindu sebagai ungkapan dari pemujaan terhadap Tuhan. Usaha ini tujuan pokoknya adalah untuk mendukung kehidupan beragarna dalam struktur masyarakat, yang bersifat sebagai penyeimbang dalam pesatnya arus modernisasi.

 

“Usaha keluarga yang dibangun ibu dan telah berkembang, akhirnya berganti manajemen mulai dari kakak hinga bapak saya, dan semuanya membuat saya kecewa karena mereka tak pernah memikirkan keluarga. Hasil usaha yang didapat hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi saja.”

 

Tips

HUKUM WIRAUSAHA #16

Keluar dari Belenggu Usaha Kecil

 

“Apa yang kita benar-benar pelajari, dari setiap keadaan, menentukan apakah kita menjadi semakin tidak berdaya atau lebih kuat. — Blaine Lee

 

MEMULAI SUATU USAHA memang boleh saja dari usaha kecil, sehingga setiap orang bisa dengan mudah memasuki dunia usaha dan menjadi wirausahawan. Namun untuk menjadi besar, seseorang harus menanamkan dalam pikirannya bahwa segala sesuatu yang dilakukan di awal tidak selalu menjadi akhir dari perjalanan bisnisnya. Karena usaha yang paling mudah ini biasanya sudah bisa memberikan kehidupan walaupun dengan skala ekonomi yang kecil banyak orang kemudian merasa sudah cukup. Akibatnya, mereka tetap tinggal dalam ‘kekecilan’ tersebut selamanya. Mereka terbelenggu dalam kegiatan ekonomi skala kecil yang dikelola secara konvensional, paguyuban, dan kekeluargaan. Yang penting bisa dipakai untuk hidup. Pada akhirnya, usaha semacam ini cenderung mengalami kemerosotan karena skala usahanya tetap sama, sedangkan anggota keluarga semakin hari semakin banyak. Demikian pula, tuntutan ekonomi suatu keluarga semakin hari semakin besar.

Sebagai contoh, ibunda Ni Ketut Susilawati semula mengelola usaha hanya untuk kepentingan keluarga kecilnya, yang terdiri dari orangtua dan lima orang anak. Namun, di era Ni Ketut Susilawati, dia tidak hanya harus membiayai ayah dan saudara-saudaranya, tetapi juga membiayai anggota keluarga mereka masing-masing. Jumlahnya kini bisa mencapai 3-4 kali lipat dari jumlah semula. Dan, anak-anak mereka mungkin sudah membutuhkan peralatan kehidupan modern yang jauh lebih mahal dari generasi-generasi sebelumnya, seperti ponsel, laptop, sepeca motor, dan sebagainya.

Kehidupan yang seimbang adalah kehidupan yang tumbuh bersama-sama, antara alam di sekitar kita dengan diri sendiri. Ketika alam berubah, sementara kita tetap berada pada kebiasaan yang sama, maka terjadilah ketimpangan-ketimpangan alamiah, seperti pengerdilan kehidupan atau kematian yang diakibatkan oleh hilangnya daya imunitas. Untuk dapat keluar dari perangkap awal yang rentan terhadap ‘seragngan’ perubahan alam itu, ikuti tips berikut ini:

  • Lakukanlah perubahan secara berkala. Ketika kita berada pada posisi sebagai pengikut, yang dapat kita lakukan hanyalah mengamati perubahan. Tetapi, ketika kita berada pada posisi memimpin, kita diberikan kekuatan untuk melakukan perubahan. Lakukanlah perubahan dengan penuh kesungguhan untuk menyempurnakan usaha Anda.
  • Bila dirasa perlu, jangan ragu untuk melakukan perubahan mendasar pada usaha yang sama. Beberapa caranya adalah menggunakan teknologi baru yang lebih tepat guna, merekrut orang-orang baru yang lebih bergairah, atau menerapkan metode-metode baru yang sebelumnya ticak pernah terpikirkan seperti misalnya misalnya relationship marketing.
  • Perubahan juga bisa dilakukan dengan mengubah atau menambah usaha-usaha baru, baik yang ada hubungannya dengan usaha lama maupun yang tidak berhubungan sama sekali. Berubah, berarti belajar kembali tentang hal-hal yang baru. Satu hal penting yang harus dipahami saat belajar adalah dibutuhkan kerelaan untuk menjadi ‘bodoh’ kembali, karena kita harus memulai lagi dari awal dengan kemungkinan menghadapi beragam risiko yang tidak terduga.
  • Bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, jangan merasa malu atau mudah putus asa. Segera bangkit dan pergilah ke luar. Anda perlu bertemu dengan orang-orang baru atau orang-orang lama yang sudah Anda kenal, dan mencari potensi-potensi yang memungkinkan Anda untuk bangkit kembali. Dari sang Anda akan menemukan inspirasi, kekuatan, jaringan, dan sebagainya yang tak pernah Anda duga.
  • Bila usaha baru ternyata memiliki masa depan yang lebih menarik, jangan ragu untuk mengerahkan semua kekuatan sumber daya yang Anda miliki pada usaha baru tersebut. Dan, tutuplah usaha lama yang sudah tidak sesuai dengan DNA Anda yang baru.
  • Jangan ragu untuk mendatangkan tenaga-tenaga profesional. Hal ini berarti Anda memperkuat struktur manajerial perusahaan dengan pelimpahan kekuasaan pada orang-orang yang memiliki kompetensi. Dengan demikian Anda tidak harus turun sendiri mengelola perusahaan Anda.
  • Lakukan terus adaptasi-adaptasi baru. Buka wawasan Anda seluas-luasnya dan gall pengalaman orang-orang yang telah sukses untuk mendapatkan sudut pandang baru terhadap bisnis Anda. Keluar sejenak dari rutinitas untuk dapa t’memandang’ bisnis Anda dari posisi orang luar.

 

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 2: Kisah Inspiratif Anak-anak Muda Menemukan Masa Depan dari Hal-hal yang Diabaikan Banyak Orang. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

Tri Wahyudi, Pemilik Khalulistiwa Tour & Travel: Kepak Sayap Wisata Edukasi

Usaha mempromosikan keindahan panorama negeri sendiri sedang gencar-gencarnya dilakukan orang. Tri Wahyudi memilih cara yang unik, yaitu memperkenalkan Indonesia ke warganya melalui wisata pendidikan.

 

 

SETELAH MENAMATKAN KULIAH, setiap sarjana tentu ingin bekerja, apakah sebagai pegawai pemerintah, swasta, maupun berwirausaha. Langkah terakhirlah yang diambil oleh Tri Wahyudi, lulusan Fakultas Teknik Perendanaan Wilayah Universitas Diponegoro, Semarang. Bersama teman-temannya, ia mendirikan sebuah biro perjalanan karena punya hobi jalan-jalan dan berkemah.

Dengan modal sekitar Rp20 juta—hasil meminjam ke sana-sini—Tri menyewa sebuah ruko di daerah Tembalang, Semarang. Sulitnya menemukan customer sampai salah perhitungan biaya telah dilaluinya. Semua pengalaman ini menempa Tri dan timnya sampai akhirnya ia menemukan sebuah formula: wisata edukasi. Cara yang dipilihnya adalah mengemas perjalanan wisata dengan unsur-unsur pendidikan, baik dengan outbound, mengunjungi UKM (Usaha Kecil Menengah), dan banyak kegiatan edukatif lainnya. Setelah tiga tahun berlalu, bukan hanya modal awal kembali, omzet tahunannya mencapai Rp1 miliar dan pegawai tetap pun sudah berjumlah 18 orang. Benar-benar sebuah pencapaian yang serius.

 

MODAL BUKAN HANYA UANG

Boleh dibilang keseriusan Tri adalah modal terpenting. Anak muda kelahiran Langsa, 1989 itu memang tidak mau menekuni sesuatu secara setengah-setengah. Ketika akan mendirikan biro tur beberapa tahun lalu, ia melakukan penelitian mendalam ke Bali untuk mempelajari destinasi wisata yang selalu ramai dan menjadi benchmark para agen perjalanan. Survei itu dilakukannya agar ia bisa mencari link terbaru dan mempelajari seluk-beluk di sana.

Pengalaman berkunjung ke Bali memberi Tri inspirasi dan wawasan yang lebih luas akan keindahan alam Indonesia serta ragam budayanya yang  mengagumkan. la pun semakin yakin dengan prospek bisnisnya. “Dengan menggunakan brand Khalulistiwa Tour & Travel, saga langsung terjun melakukan proses marketing dan menguatkan branding perusahaan,” ujarnya mantap.

 

Sadar bahwa produknya harus berbeda, Tri memasuki pariwisata berbasis edukasi yang melayani pelajar hingga profesional.

Layaknya sebuah usaha yang masih bayi, perjalanan awal tidak berlangsung mulus. Kerikil, bahkan juga dinding, sewaktu-waktu dapat menghadang. beberapa kali presentasi ke calon customer ternyata tidak menghasilkan apa-apa. Setelah perjuangan tak kenal putus asa selama tiga bulan, barulah Tri dan timnya mendapatkan klien perdana: mahasiswa Fakultas Kesehalan Masyarakat Universitas Diponegoro mau menggunakan jasa biro turnya untuk melakukan kunjungan ke Bali.

Pelayanan terbaik segera diberikan namun apa daya, terjadi kesalahan perhitungan. “Seharusnya untung Rp3 juta, yang ada kami malah rugi Rp5 juta. Meski berat hali, di balik musibah itu tersimpan pelajaran penting,” kata Tri mengenang. “Kami harus lebih detail dalam perhitungan dan persiapan di lapangan. Dan, yang terpenting, teman-teman FKM senang dengan pelayanan yang diberikan.”

Bersama tiga rekannya, Tri terus berjuang dan belajar memperbaiki setiap hal yang berkaitan dengan bisnisnya. Pada akhir tahun pertama, usaha itu membuahkan omzet Rp250 juta, dengan profit Rp10 juta. Tidak besar, tapi tetaplah merupakan awal yang baik.

 

BIODATA

TRI WAHYUDI

Langsa, 7 Juli 1989

Alamat: JL Tunjung Sari 1, No. 22C, Tembalang

Pendidikan

S1 Teknik Perendanaan Wilayah dan Kota, Universitas Diponegoro, Semarang

Nama Usaha

Khalulistiwa Tour & Travel

Perusahaan jasa tour & travel, car rental, online ticketing, event organizer

Website: http://www.khatulistiwatravel.com

Alamat: Komplek Ruko Pusposari Blok A/7, Perumda Tembalang, Semarang

Penghargaan

2009 Pemenang II Wirausaha Muda Mandiri Kategori Mahasiswa Diploma & Sarjana Usaha Industri & jasa

2009 Wirausaha Jawa Tengah

 

UNGGUL DENGAN KEUNIKAN

Menyadari bahwa produknya harus berbeda dari usaha lain, pada 2009 Tri melakukan inovasi dengan mengembangkan produk jasa penawaran. la memasuki pariwisata berbasis edukasi yang dapat melayani berbagai kebutuhan seluruh kalangan masyarakat, mulai dari pelajar hingga profesional.

“Setelah mengadakan berbagai rapat dan upaya pembuatan program-program terbaru, kami sepakat bahwa program tur edukasilah yang akan rnenjadi core utama jasa dari Khalulistiwa Tour & Travel,” ungkap Tri. Program-program itu di antaranya adalah outbound travelling, yang menggabungkan konsep outbound dengan wisata. Juga ada program Achievement Motivation Travelling yang dikembangkan untuk kebutuhan perusahaan atau lembaga dalam mengembangkan sUmber daya manusia dengan konsep learn and fun. Program lainnya adalah Student Road To Campus atau Entrepreneur Travelling untuk dunia pendidikan. Kadang, ia juga mengadakan kegiatan yang terkesan ‘nyeleneh’, misalnya mengadakan lomba memungut sampah di pantai Kuta, Bali.

“Program-program ini unik dan karenanya merupakan keunggulan tersendiri. Tanggapan pasar sangat positif,” cerita Tri yang dulu pernah bercita-cita menjadi walikota Langsa ini. Beberapa bulan setelah program itu diluncurkan, permintaan pun mulai masuk. Selain aktif di Facebook dan Twitter, produk dan profil perusahaannya dapat dengan mudah diakses lewat situsnya.

“Kami juga merandang konsep agar kampus dan sekolah yang pasarnya terus berganti bisa secara konsisten menggunakan jasa kami, yaitu dengan membuat program pelatihan gratis kepada mereka,” imbuh Tri.

Berkat langkah-langkah serius ini, Tri meraih penghargaan Wirausaha Muda Mandiri tahun 2009. Kemenangan itu yang kemudian disusul dengan berbagai seminar, pameran, dan pelatihan yang diberikan oleh Bank Mandiri. diimplementasikan dengan baik dan serius. Hasilnya sungguh luar biasa. Pada akhir 2010, pertumbuhan usahanya begitu cepat sehingga menembus angka Rpl miliar dan menelurkan beberapa cabang di daerah lain, misalnya di Gunung PaTI (Semarang), Ungaran, Solo, Boyolali, Pekalongan, dan Yogyakarta.

 

Kadang, ia juga mengadaKan kegiatan yang terKesan Nyeleneh, misalnya mengadakan lomba memungut sampah di Pantai Kuta, Bali.

 

MENGEMBANGKAN NILAI

Bukan hanya sukses dalam usaha, kapasitas pribadi Tri sebagai mahasiswa pun meningkat. Prestasinya tetap berkibar. Pada 2009, ia tercatat mewakili Undip dalam kegiatan pelatihan manajemen mahasiswa di University Malaya, Malaysia. la juga memenangkan lomba debar undang-undang BHP (Badan Hukum Pendidikan) se-Universitas Diponegoro, peserta terbaik Sekolah Kader Bangsa Universitas Diponegoro, dan LKMM Madya Undip tahun 2009. Setahun kemudian, ia juga tercatat sebagai Mawapres 3 Fakultas Teknik Undip.

“Mimpi saya terkait bisnis pun sertambah besar,” kata Tri. “Saya mendanangkan target untuk membuka cabang perusahaan di berbagai pusat-pusat aktivitas manusia di seluruh dunia, seperti Singapura, Tokyo, Paris, London, Mekkah. Sebuah mimpi yang ingin saya dan teman-teman wujudkan pada tahun 2020, sesuai dengan visi perusahaan ‘Menjadi biro pariwisata kelas dunia berbasis edukasi yang unggul dan terpercaya pada tahun 2020’,” urainya bersemangat.

Di mata Tri, target memang perlu ditetapkan. Maka ia pun bermimpi perusahaannya kelak memiliki penyedia jasa transportasi udara dengan brand “Khalulistiwa Airlines”. Seperti halnya sukses Rusdi Kirana membawa Lion Air seperti sekarang diawali dengan karier sebagai awak agen perjalanan. “Mimpi ini selalu saya sampaikan kepada tim secara pribadi untuk pengembangan perusahaan. Saya ingin perusahaan ini bisa berekspansi di bidang penerbangan sebesar Virgin” ujarnya mantap.

 

Tahan mental menghadapi ‘uang panas’ saat negosiasi tender.

 

la juga berniat memberikan beasiswa kepada mahasiswa Undip sebagai almamaternya, serta membangun sebuah kawasan yang mirip dengan Rumah Perubahan milik Prof. Rhenald Kasali yang banyak memberikan inspirasi pada masyarakat sekitar. “Saya ingin mempersembahkan konsep kewirausahaan seperti ‘Rumah Perubahan’ di kampung halaman saya, di Nanggroe Aceh Darussalam. Saya punya mimpi yang sederhana untuk masalah ini, yakni menaikkelaskan anak-anak yatim dan peminta-minta di kampung halaman saya, dari yang tidak berdaya menjadi seorang entrepreneur.”

Salah satu misi pribadi Tri adalah mengembangkan nilai-nilai tambah di perusahaannya. Berbagai pelatihan yang diikutinya memberikan motivasi untuk terus meningkatkan diri dalam berinovasi supaya perusahaannya dapat menjadi lebih baik dan terus berkembang menjadi perusahaan yang dikenal publik.

Salah satu inovasi yang dikembangkannya setelah mengikuti pelatihan di Rumah Perubahan adalah menambahkan ‘Travel Nurse’, yaitu tenaga medis dalam perjalanan untuk menjamin layanan kesehalan bagi pemakai jasa Khalulistiwa Tour & Travel. “Konsep ini jelas memberikan added value yang baik karena pelanggan menjadi lebih yakin pada perusahaan kami,” katanya. Hal ini semakin memotivasi Tri untuk terus mengasah kreativitasnya dalam upaya penambahan fasilitas, pelayanan, dan penguatan brand. Tri mengatakan, ia kini paham bahwa bersaing di tengah pasar yang kompetitif tidak harus menurunkan harga. “Tapi justru dengan penambahan nilai, misalnya dengan pelayanan dan inovasi.”

Tri juga belajar untuk tahan mental menghadapi `uang panas’ saat bernegosiasi untuk memperoleh tender. la menanamkan pada dirinya bahwa bisnis yang besar selalu dihasilkan dari penerjemahan nilai perusahaan yang dilaksanakan secara konsisten. “Untuk itu saya juga senantiasa menekankan pada tim saya bahwa pelayanan kepada customer merupakan ibadah, sehingga harus diberikan semaksimal mungkin. Value lain yang menjadi tonggak perusahaan adalah kejujuran. Setiap orang selayaknya jujur terhadap segala hal dalam perusahaan, termasuk bagaimana mengelola keuangan dan menjalani proses tender, jangan sampai ada uang haram yang masuk ke kas perusahaan,” urainya tegas.

Namun pada akhirnya, Tri mengemukakan bahwa semua rendananya ini tetap bergantung pada ketentuan Yang Maha Kuasa. “Rendana hidup ini saya serahkan kepada Allah SWT sebagai bentuk rasa syukur sebagai salah satu makhluk yang diberikan kesempatan merasakan manisnya menjadi entrepreneur dengan berbagai lika-liku perubahan kehidupan yang dinamis,” tegasnya.

 

Bersaing di tengah pasar yang kompetitif tidak harus menurunkan harga. “Tapi Justru dengan penambahan nilai, misalnya dengan pelayanan dan inovasi.”

 

TESTIMONI

Q: Cara pemasaran Anda apakah memanfaatkan situs jejaring sosial atau masih menggunakan cara-cara lama misalnya door to door atau words of mouth?

A: Metode berbasis jejaring sosial sangat membantu, website juga terus digunakan, tapi kami tidak melupakan metode words of mouth, karena cars ini juga banyak mendatangkan market yang loyal pada perusahaan.

Q: Bagaimana membina hubungan dengan pelanggan, khususnya menghadapi selera mereka yang berbeda-beda?

A: Pelayanan kami berbeda-beda tergantung segmentasi: pelajar, mahasiswa, Mum, kantoran, perusahaan. Setiap segmen memiliki karakter dan paket pelayanan berbeda, sesuai dengan kemampuan keuangan masing–masing.

Q: Bagaimana Anda menentukan lokasi dan sistem kemitraan?

A: Saya menempatkan perusahaan saya di dekat kawasan kampus karena pusat Ativitas pendidikan memiliki banyak kebutuhan di bidang transportasi. Sekarang saya memiliki 4 outlet di 3 kota, beberapa outlet tersebut bekerja sama dengan investor lokal. Mitra kami biasanya sertanggung jawab menyiapkan tempat dan seluruh fasilitas kantor sementara manajemennya diatur oleh Khalulistiwa Tour & travel.

 

“Di awal usaha ada banyak tender bagi Khalulistiwa Tour & Travel, namun sebagian besar mengalami kekalahan, sehingga saya harus bekerja keras menutupi operasional perusahaan, terutama biaya sewa bangunan. Lalu, setelah mendapatkan tender tur pertama, saya kembali harus bersabar dengan kesuksesan yang tertunda, karena setelah perhitungan ternyata perusahaan dinyatakan rupi Rp 4 juta, tidak untung sama sekali. Hal ini membuat saya memotivasi diri untuk belajar hal-hal yang berkaitan dengan penghitungan tender, sambil mencari hutabgan ke teman-teman yang saya kenal.”

 

 

HUKUM WIRAUSAHA #13

Berpacu dengan Teknologi

 

“Kadang-kadang ketika berinovasi, Anda membuat kesalahan. Hal terbaik adalah mengakui dengan cepat dan melanjutkan dengan membuat inovasi lain.`—Steve Jobs

 

DI SELURUH BELAHAN dunia, bisnis travel tengah mengalami kemunduran dan kesulitan: marjin yang diperoleh dari perusahaan transportasi (airlines) semakin hari semakin tipis, terjadi kenaikan harga bahan bakar, penurunan harga tiket di seluruh dunia, meningkatnya akses pada teknologi sehingga hampir semua konsumen di seluruh dunia dapat berhubungan langsung atau membeli tiket secara langsung. Dampak lain dari kemudahan mengakses teknologi ini adalah setiap orang dapat dengan muclah mempelajari daerah wisata yang diinginkannya karena informasi yang tersedia di berbagai situs wisata sangat lengkap. Semua hal ini membuat bisnis travel di seluruh dunia mengalami banyak ancaman.

Selain itu, jumlah pengusaha travel saat ini semakin banyak sehingga kompetisi bisnis pun semakin tinggi. Saya tidak tahu apakah usaha yang dijalani Tri Wahyudi ini akan benar-benar mampu sertahan dalam jangka panjang. Tetapi entrepreneurship seseorang bisa berkata lain meski industrinya sudah tidak membaik lagi. Supaya dapat sertahan, beberapa tips berikut ini perlu mendapat perhatian:

  • Bisnis travel tidak dapat hidup dalam skala kecil, melainkan harus menangani skala yang sangat besar. Dengan cara ini seorang pengusaha travel dapat menyediakan paket-paket yang ekonomis, yang relatif murah dari volume besar.
  • Harus memiliki marketing relationship yang kuat dan didukung oleh teknologi Serta sumber daya manusia yang berkualitas karena inti dari usaha travel adalah pelayanan. Pelayanan didapat melalui kualitas hubungan yang akurat, cepat, dan berkelanjutan. Hal ini diperlukan karena yang terpenting dalam bisnis travel bukanlah mendapatkan pelanggan baru, melainkan mendapat bisnis-bisnis baru dari pelanggan lama yang merasa pugs dan ingin melanjutkan kerja sama dengan pihak travel.
  • Memberikan fair price, artinya bersedia memberikan pengembalian bila ternyata harga yang dikenakan lebih mahal daripada harga yang berlaku di pasar. Dengan cara ini travel Anda akan dikenal sertanggung jawab dan berani bersaing.
  • Berikan kemudahan kepada pelanggan dalam segala hal, baik dalam mengakses, mengambil keputusan, menggabung-gabungkan pilihan yang tersedia, dan mengatasi segala masalah yang timbul dalam memenuhi keinginan pelanggannya. Untuk itu Anda perlu memiliki jaringan kerja yang efektif dan efisien sehingga perubahan sekecil dan sedarurat apa pun dapat ditangani dengan baik.
  • Lengkapi usaha dengan jaringan yang luas, sehingga konsumen memili alternatif dan mendapatkan pelayanan berkelanjutan dari variasi-variasi yang terus berkembang. Jaringan ini juga akan membantu Anda memperluas usaha dengan berbagai diversifikasi, sekaligus memperkuat layanan utama bisnis Anda.

 

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 2: Kisah Inspiratif Anak-anak Muda Menemukan Masa Depan dari Hal-hal yang Diabaikan Banyak Orang. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.