Category Archives: Kuliner

Mulai Berbisnis Sejak Kuliah, Sulis Kini Sukses Lewat Ratusan Outlet ‘Lucky Crepes’

Semangat kewirausahaan memang sedang

menemukan momentum kebangkitan di negeri ini.

Fenomena ini dapat dilihat dari semakin banyaknya

entrepreneur muda yang mencoba untuk memulai

usaha di berbagai bidang. Tidak sedikit pula para

karyawan yang mencoba memulai usaha sambil

terus bekerja. Namun, tidak jarang para pemula ini

masih sangat sulit dan kebingungan memilih dan

mencari usaha yang akan ditekuni.

Melihat potensi pasar dan peluang yang begitu

besar, Bunda Sulis bersama 2 orang temannya, Teti

 

dan Nopy mendirikan bisnis Lucky Crepes dengan

sistem waralaba. Dengan sistem waralaba ini, Lucky

Crepes sebagai salah satu produk makanan ringan

cepat saji memberikan kesempatan kepada seluruh

masyarakat Indonesia pada umumnya, dan

entrepreneur pemula pada khususnya, untuk

menjalin kerjasama kemitraan dalam rangka

memperluas jaringan pemasaran. Lucky Crepes

memberikan kemudahan bagi pengusaha pemula

dengan mensupport sistem dan harga yang

terjangkau. Berkat kegigihan dan usaha yang tak

kenal lelah, saat ini Lucky Crepes sudah menembus

pasar nasional.

Bunda Sulis bertekad akan terus memperluas

jaringan Lucky Crepes. Hal ini berarti akan makin

banyak tumbuh entrepreneur baru sehingga dapat

memberikan manfaat yang lebih banyak lagi bagi

masyarakat.

Market Lucky Crepes mulai dari kalangan bawah,

 

menengah, dan atas. Karena, harga Lucky

Crepes sangat terjangkau, mulai dari Rp2.000 saja.

Sebagian besar anak-anak dan orang dewasa

menyukainya sehingga sekolah, arena bermain,

pusat perbelanjaan, dan kolam renang, merupakan

arena yang cocok untuk Lucky Crepes. Keuntungan

dari bisnis ini pun sangat menjanjikan. Terbukti

dengan semakin banyaknya peminat yang

mendaftar untuk menjadi pewaralaba atau franchise.

Bagi Bunda Sulis dan Teti, sebenarnya dunia

usaha bukan hal baru lagi. Karena sejak duduk di

bangku kuliah, kedua sahabat ini sudah mulai

 

merintis usaha kecil-kecilan di sela kesibukan kuliah

untuk menambah uang jajan. Berbeda dengan

Nopy yang memiliki semangat dan keinginan tinggi,

tetapi baru mencoba lewat gerai crepes yang

mereka dirikan.

Lucky Crepes mulai dirintis pada 2004, dengan

outlet crepes “tanpa nama”. Lalu dengan modal

pinjaman dari bank, ketiga sahabat ini melangkah

mengembangkan satu outlet menjadi tiga buah outlet.

Melihat kesuksesan usaha yang dirintis tiga

sahabat ini, ada beberapa orang yang tertarik

untuk membuka gerainya di tempat lain. Namun,

baru satu tahun, usaha mereka dikembangkan

dengan pola kemitraan setelah resmi memiliki nama

Lucky Crepes. Saat awal perintisan usaha, ketiga

sahabat ini masih bekerja sebagai karyawan dengan

profesi yang berbeda.

Bunda Sulis sebagai marketing strategy

manager, Nopy sebagai public relation manager

dan Teti bertindak sebagai operational manager.

Namun seiring perkembangannya, akhirnya Teti

memutuskan keluar dari tempat kerja untuk fokus

pada usaha yang mereka rintis yang hingga kini

sudah memiliki 100 outlet lebih tersebar di seluruh

Indonesia.

Dengan membidik pasar menengah ke bawah,

Lucky Crepes optimis masih terbuka peluang ke

depan walaupun makin banyak usaha sejenis bermunculan.

Strategi pemasaran yang dilakukan melalui

media Internet, penyebaran brosur, iklan media cetak,

dan program member get member oleh mitra.

Lucky Crepes juga pernah diliput berbagai media,

 

seperti Majalah Pengusaha, SWA, Info

Franchise, Pebisnis, Tabloid Peluang Usaha, Kontan,

dan media lainnya yang tentunya sangat membantu

dalam pemasaran.

Program kemitraan yang dirancang Lucky

Crepes berbeda dengan yang lain, yaitu tanpa

franchise fee dan juga tanpa royalti. Dengan tujuan

untuk tidak membebani mitranya. Paket kemitraan

yang ditawarkan pun sangat terjangkau mulai Rp5,5

juta rupiah sudah mencakup join fee, semua

peralatan dan gerai, seragam, dan pelatihan bagi

karyawan. Mitra hanya cukup menyiapkan lokasi

dan karyawan untuk berjualan.

Para mitra biasanya mendapatkan informasi

awal setelah mengunjungi http://www.luckycrepes.com

 

atau http://luckycrepes.multiply.com. Setelah

itu mereka bisa langsung telpon ke hotline Lucky

Crepes di 08159007272.

Kesuksesan Lucky Crepes tentu tidak terjadi

begitu saja. Perjalanan berliku telah mereka lalui

bersama. Berbagai hambatan yang datang telah

berhasil ditaklukkan. Bunda Sulis sendiri awalnya

bahkan tidak berniat untuk membuka bisnis crepes.

Saat pertama kali memulai bisnis, dia ingin membuat

bisnis tempat penitipan anak dan lembaga

pendidikan setingkat TK atau play group.

Berhubung waktu itu lokasi yang mau dibuat

berada di mal, sehingga terbentur masalah dana

yang cukup besar. Walaupun akhirnya sempat

ditawari investor, dalam realisasinya, jawaban pasti

dari investor tak kunjung tiba.

Lalu dalam perjalanannya, dia bertemu dengan

salah satu perusahaan yang mau bekerjasama

untuk merintis usaha dalam bidang pendidikan.

Namun, jenis pendidikannya lebih ke arah pendidikan

dan pelatihan kewirausahaan, bukan pendidikan

anak. Koordinasi yang kurang bagus, ditambah lagi

dengan kesibukan masing-masing, menyebabkan

kerjasama yang hendak dirintis belum bisa berkembang.

Ide membuka bisnis yang berhubungan dengan

makanan kemudian muncul ketika Bunda Sulis

menyadari bahwa dia dan temannya sama-sama

suka wisata kuliner. Saat Bunda Sulis dan temannya

‘nongkrong’ di pujasera, dia menemukan makanan

yang menurutnya aneh, kue iekker.

Kejadian itulah rupanya memberikan “aha”

baginya. Dari situ kemudian mereka mendapatkan

ide untuk membuat gerobak yang unik. Gerobak itu

rencananya akan dipakai untuk menjual crepes

yang akan mereka bikin. Ide ini terus di follow up

dengan mencoba membuat berbagai resep. Bahkan,

bisa dikatakan mereka sampai bosan dengan

eksperimen resep yang mereka bikin sendiri.

Langkah berikutnya adalah mencari berbagai

peralatan yang dibutuhkan.

Akhirnya, gerai pertama berhasil dibuka di

pasar rumput dan di sebuah sekolah di Bekasi.

Sayangnya, karyawan yang diserahi untuk menjaga

 

gerai di Bekasi kurang bertanggung jawab sehingga

Bunda Sulis harus nombok saat baru mengawali

usaha tersebut. Kejadian tersebut tidak

membuatnya putus asa. Bunda Sulis kembali

mencari karyawan yang lebih bisa dipercaya.

Hasilnya, dia mendapatkan karyawan yang bagus

sehingga penjualannya terus meningkat dari waktu

ke waktu.

Melihat perkembangan yang positif, Bunda Sulis

berencana menambah armada atau outlet.

Berhubung masih kekurangan modal, dia

memberanikan diri untuk mengambil kredit tanpa

agunan dari sebuah bank swasta. Keputusan

tersebut ternyata tidak salah, karena keuntungan

hasil bisnis Lucky Crepes ini memang jauh lebih

tinggi dari bunga yang harus dibayarkan ke bank.

Beberapa teman Bunda Sulis berminat bergabung

sebagai mitra ketika melihat perkembangan bisnis

yang dirintisnya.

Bunda Sulis pun berinisiatif untuk mendaftarkan

mereknya. Pada saat cabangnya bertambah hingga

mencapai 10 outlet, berbagai media bisnis meliput

perkembangan bisnis Lucky Crepes ini. Liputan

media inilah yang menjadi salah satu faktor

leverage (pengungkit) bisnis Lucky Crepes ini.

Terutama semenjak liputan dari sebuah tabloid

bisnis ternama, banyak sekali mitra usaha yang

mendaftar untuk bergabung.

Dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan

 

kinerja bisnis, kini Lucky Crepes mulai

berekspansi. Dari sisi produk, Lucky Crepes telah

mengeluarkan produk baru yang khas, yaitu

martabak manis, produk wafel, dan pukis parabola.

Inovasi ini dilakukan untuk melengkapi inovasi

dalam sistem penjualan dan kemitraan yang selalu

dilakukan Bunda Sulis. Berbagai inovasi tersebut,

tak ayal lagi semakin mengukuhkan Lucky Crepes

sebagai salah satu pemain yang cukup

diperhitungkan dalam bisnis makanan berbasis

sistem kemitraan.

Selain bisnis makanan, Bunda Sulis juga merintis

 

bisnis dalam bidang pendidikan. Memiliki

lembaga pendidikan anak yang sebenarnya

merupakan impian Bunda Sulis sejak melangkah ke

jenjang pernikahan. Usaha awal berbisnis, usaha

yang ingin dirintis sebenarnya adalah dunia

pendidikan anak. Namun, Allah punya kehendak lain

dan lebih tahu yang terbaik bagi hamba-Nya. Justru

usaha ini baru bisa terwujud setelah 2 tahun Lucky

Crepes berjalan.

Usaha Bunda Sulis dalam pendidikan anak ini

mulai dirintis sejak akhir 2005. Sementara, itu

yayasan yang menaunginya resmi berdiri pada

Februari 2006. Kelompok Bermain dan TKIT yang

diberi nama Ibnu Rusyid ini resmi beroperasi mulai

tahun ajaran 2006-2007 di Kencana Loka, Bumi

Serpong Damai.

Kelompok Bermain dan TKIT Ibnu Rusyid

dikembangkan dengan menonjolkan konsep

pendidikan karakter dan multiple intelligences. Para

siswa tidak hanya diajarkan membaca dan menulis

saja, tapi pendidikan “good character”-lah yang

lebih diutamakan. Hal ini mengingat bahwa masa

prasekolah dan TK adalah “golden age” yang sangat

penting dan menentukan dalam fase perkembangan

anak berikutnya.

Setelah satu tahun berjalan, Bunda Sulis ke

mudian membuka Kelompok Bermain dan TKIT kedua

yang berlokasi di Citra Raya Tangerang. Dalam

perjalanan selanjutnya, Kelompok Bermain dan TKIT

Ibnu Rusyid juga membuka program TPA Plus dan

English Club for Kids.

Bagi para orangtua dan guru yang ingin lebih

banyak tahu tentang konsep multiple intelegences

dan pendidikan karakter, Yayasan Ibnu Rusyid juga

menyelenggarakan seminar dan pelatihan-pelatihan

khusus. Termasuk bagi mereka yang ingin

mendirikan sekolah, Yayasan Ibnu Rusyid juga

memberikan pelatihan bagaimana menyusun

kurikulum berbasis multiple intelegences dan

pendidikan karakter.

Berhubung masih harus berbagi dengan waktu

kerja di kantor setiap hari, dalam menjalankan

yayasan, Bunda Sulis berpartner dengan tim yang

kesehariannya full time melakukan operasional

yayasan.

Dalam jangka panjang, Ibnu Rusyid juga akan

membuat lembaga pendidikan bagi para guru,

terutama pendidikan berbasis Multiple Inteligences.

Bunda Sulis bahkan mempunyai impian untuk

membuat sekolah khusus bagi para orangtua yang

ingin memperdalam ilmu tentang multiple inteligence

ini. Di samping tentu saja menambah cabang Ibnu

Rusyid yang saat ini baru ada dua.

Tidak berhenti sampai di situ, Bunda Sulis juga

telah mengembangkan sayapnya ke dalam bisnis

salon Muslimah. Salon Muslimah pertama yang

dirintisnya di daerah Villa llhami, Lippo Karawaci

 

ini memang masih embrio.

Namun, Bunda Sulis bahagia karena salonnya

tersebut juga menunjukkan perkembangan positif.

Ketika ditanya mengenai kesuksesannya, Bunda

Sulis menyatakan bahwa sukses itu sebuah proses,

tidak ada sesuatu yang instan. Seseorang yang

bisa menghargai proses, dia akan pantang

menyerah menghadapi tantangan. Kadang

seseorang sudah berputus asa saat proses masih

berjalan. Sebagai contoh, saat belum berhasil

mencoba satu kali, dia langsung berhenti. Padahal,

proses yang ditempuh tersebut merupakan

pelajaran berharga untuk langkah selanjutnya.

Bunda Sulis juga mengingatkan bahwa sering

kali kita lupa dan hanya berpatok pada hasil

oriented. “Kalau patokan dan tujuan kita hanyalah

hasil, setiap proses yang belum menghasilkan akan

kita anggap sia-sia,” tutur penulis buku Bunda Luar

Blasa ini.

Bagi para pemula dalam berbisnis, Bunda Sulis

menyarankan agar menentukan tujuan yang jelas.

Namun, saat belum sampai tujuan seharusnya kita

 

sudah berpikir bahwa jalan yang kita tempuh itu

adalah sukses. “Sebenarnya yang pertama

adalah kemauan. Rata-rata dari kita bukan tidak punya

ide, tapi kurang punya kemauan. Jika sudah ada

kemauan insya Allah akan ada jalan, akan ada

keberanian, dan ide akan mudah terealisasi,”

 

tutur Ibu muda berjilbab ini.

Bunda Sulis juga menjelaskan bahwa keraguan

dan ketakutan, biasanya dipengaruhi oleh mindset

dan pola pikir seseorang, sebagai hasil interaksi

dengan lingkungan. Kalau saat ini seseorang berada

pada zona nyaman dan tidak ada kemauan untuk

mengubahnya, pasti dia akan takut dan ragu-ragu terus.

Pikirannya akan dipengaruhi bayang-bayang

kegagalan. Dampaknya, dia tidak akan pernah

berani untuk memulai usaha. “Kalau mau niat mulai

usaha, belajar dan singkirkan dulu pikiran itu,

terutama dengan kemauan kita yang kuat,” tegas

Bunda Sulis yang saat ini masih menekuni karier

sebagai karyawan juga membesarkan beberapa bisnis.

 

Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan

Yayank, Mantan Head of Department yang di Awal Bisnis Sempat Dicibir, Kini Sukses Lewat Coffeezone

Jakarta – Berawal dari pengalaman
selama 16 tahun di industri
pembuatan kopi, ibu rumah
tangga asal Sidoarjo Jawa Timur ini
sukses berbisnis kedai kopi harga
kaki lima tapi bercita rasa kelas
‘Starbucks’.

Adalah Yayank S. Sahara, ia
memulai bisnis kedai kopi
tepatnya Juni 2010 silam setelah
keluar dari pekerjaan. Yayank
bermodal hanya uang pesangon
senilai Rp 6 juta memutuskan
membuka sebuah kedai kopi kelas
kafe.

Namun karena modal tak cukup,
Yayank dibantu sang suami
akhirnya membuat kedai kopi
berkonsep kaki lima bernama
Coffeezone di Gelanggang Olahraga
Sidoarjo, Jawa Timur.

Meskipun modal awal tersebut
sangat kecil dan berbekal kedai
kaki lima, berkat ketekunan dan
cita rasa menu kopi yang
berkualitas, akhirnya banyak
pelanggan yang datang dan
menjadi pelanggan setia
Coffeezone.

“Ketika aku kerja punya ide buka
usaha, mulai batik busana muslim
anak, cuma jalannya kurang sukses
terus saya kelur kerja bikin usaha
kopi. Cuma waktu itu, modalnya
dari uang pesangon, ternyata uang
pesangon itu nggak cukup bikin
satu kafe. Akhirnya kita buka
konsep PKL di Gor Sidoarjo tapi
menu yang kita sajikan kopi
bintang lima,” tutur Yayank saat
berbincang dengan detikFinance ,
Senin (4/3/2013).

Setelah berjalan beberapa bulan,
ternyata ada pelanggan setianya
yang ingin dibuatkan sebuah kedai
kopi dengan konsep kafe di Gresik
Jatim. Melalui konsep kemitraan,
akhirnya Yayank menyanggupi
permintaan sang pelanggan untuk
membuka kafe milik pelanggannya
namun dikelola oleh Yayank.
Ternyata, berawal dari sana
kemudian permintaan membuka
kedai kopi dari para pelanggan
atau masyarakat cukup tinggi.

Hingga akhirnya, sekarang telah
dibuka 9 kedai kopi dengan konsep
kafe dan island atau kedai kecil
yang menumpang di mal-mal.
Semua kedai tersebut merupakan
milik mitra dan tersebar dari
Surabaya hingga Kupang Nusa
Tenggara Timur (NTT) namun kedai
kopi itu dikelola oleh perusahaan
milik Yayank, Coffezone Indonesia.
“Dari sana mulai terus sampai 9
kafe. Ada konsep kafe dan island,”
tambahnya.

Pesatnya perkembangan bisnis
Coffeezone, tak terlepas dari
ketekunan, kerja keras dan
komitmen Yayank menjaga kualitas
dan inovasi makanan dan minuman
yang ditawarkan.

Untuk kopi, Yayank menawarkan
citra rasa kopi dari Sabang sampai
Merauke. Selain itu, ada berbagai
pilihan minuman sekelas Starbucks
seperti cappucino, hazelnut coffee
hingga coffee blended, chocolate
ice blended, red bean green milk
tea.
Selain itu ada ada juga makanan
ringan yang melengkapi pilihan
menu yang ditawarkan seperti
pancake, sandwich dan banana
stick.

“Kita jaga kualitas jangan sampai
pelanggan saya bilang namanya
bagus tapi rasa atau menu kopinya
sama saja. Kopi saya pakai istilah
kopi modern. Harga minuman Rp
10.000 sampai Rp 20.000 masih
terjangkau untuk kelas
mahasiswa,” sebutnya.
Usaha yang dijalani Yayank
bukannya semulus yang
dibayangkan, karena posisinya
pernah menduduki level yang
cukup tinggi di perusahaan
produsen kopi internasional.

Yayank sempat dicibir karena
memutuskan keluar pekerjaan dan
membuka kedai kopi kaki lima
namun berkat keteguhan hati dan
kerja kerasnya, hal tersebut
mengalahkan segalanya.

“Suami sebetulnya nggak tega liat,
posisi saya sebagai kepala bagian,
buka kedai kopi kaki lima dilihat
orang malah jualan kaki lima,
diketawakan. Namun keinginan
saya mengalahkan cemohan.
Akhirnya dari situ berjalan,”
paparnya.
Saat ini, Yayank berencana pada
bulan Maret 2013 menambah 2
kedai kopi baru milik mitra di
Surabaya.

Ia membuka kesempatan bagi
masyarakat yang ingin membuka
kedai kopi dengan merek
Coffezone. Untuk membuka kedai
kopi berkonsep kafe, seorang
mitra cukup merogoh kocek Rp 75
juta dan konsep island dibandrol
seharga Rp 45 juta. Apakah anda
tertarik untuk membuka usaha
kopi konsep Coffeezone atau
sekedar ingin berkonsultasi soal
bisnis kopi.

Yup, anda bisa mengirim email ke:
coffeezoneindonesia@yahoo.com
atau mengunjungi website:
http://www.mycoffeezone.net atau
datang ke alamat: Jl. Wonokromo
Tangkis No 18 Surabaya factory:
Griyaloka A1 no 6 Jatikalang
Sidoarjo Jawa Timur.( Feby Dwi Sutianto)

sumber: http://m.detik.com/finance/read/2013/03/04/105754/2184723/480/wanita-ini-sukses-jual-kopi-harga-kaki-lima-kelas-starbucks

Gufron, Berkat Modifikasi Martabak ‘Mavia’, Mahasiswa Ini Raup Omzet Rp 30 Juta/Bulan

Jakarta – Hampir semua orang
mengenal makanan yang bernama
martabak. Selintas ketika
mendengar nama makanan ini,
akan terbayang sebuah lingkaran
besar, terpotong-potong dan
memiliki isi. Nyam.
Pastinya bayangan itu akan buyar
jika melihat martabak mavia.

Muhammad Gufron adalah
inisiatornya. Martabak dengan
diameter 3,5 cm dilapisi rasa unik
ini berhasil ia ciptakan 2011
silam. Bagaimana ceritanya?
“Idenya dulu begini. Saya
terinspirasi dari (es krim)
Magnum, ini sebenarnya saya
bikin kayak gini ikut Magnum.
Magnum kan di luarnya keras,
coklat di dalamnya lembut. Kalau
ini martabak yang lembut isinya,”
jawab Gufron saat berbincang
bersama detikFinance, Selasa
(4/2/2013).

Ia mengaku sebagai pengagum
sejati martabak. Pantas saja, meski
masih menempuh studi di jurusan
Perikanan, Institut Pertanian
Bogor (IPB), Gufron berani
memulai usaha ini. “Jauh banget
ya, tapi saya memang suka
martabak,” tandasnya.
Modal yang disiapkak saat itu Rp
17,5 juta. Percobaan pertama, Ia
memproduksi martabak
berdiameter 8,5 cm, dengan posisi
terbuka.

“Itu ternyata tidak sesuai dengan
segmen pasar saya. Saya inginnya
buat untuk anak muda, dan
praktis. Akhirnya buat kayak gini
lebih kecil,” ucap Gufron.
Menurut dia, anak muda sering
membatalkan niat membeli
martabak hanya karena kebesaran
dan rasa yang cenderung
monoton. Harga yang dipatok pun
disesuaikan, yaitu Rp 7.000.
Lokasi penjualan tersebar di
kantin-kantin wilayah Bogor,
seperti kantin kampus dan
sekolah.

“Kita sesuaikan produk dengan
konsumennya. Jadi diselimuti
coklat. Jadi ada campuran rasa
juga. Rasanya ada original, cheese
milk, sama double coklat,” terang
Gufron sambil memperlihatkan
kreasinya.

Statusnya sebagai mahasiswa
memang menjadi kendala.
Membagi waktu jadi alasan utama
untuk memilih mana yang menjadi
prioritas. Alhasil, pilihannya
ternyata berbuah manis. Saat ini ia
bisa mengantongi uang Rp 30 juta
per bulan.

Gufron juga menyebutkan
kendalanya dalam mengelola
karyawan. Setahun berjalan,
masalah ini cukup membuatnya
kewalahan. “Jadi sekarang ada
tujuh (karyawan). Ini baru
beberapa bulan sudah 2 karyawan
yang berhenti. Ambik karyawan
lalgi, training lagi, itu repot,”
jelasnya.
Tahun 2013, Ia sudah
mematangkan beberapa strategi.

Di antaranya dengan membuka
kemitraan dengan tiga pola.
Pertama, investasi dengan sistem
bagi hasil dan pengembalian
modal. Kedua, distribusi di mana
pembagian untuk penjual 10%.
Ketiga adalah reseller dengan
sistem jual putus.

“Saya targetkan untuk main di
Jabodetabek yang sudah ada
beberapa tempat yang kami tinggal
deal. Kue Lapis Bogor, Javapucino
terus di UI (Universitas Indonesia)
dan ada beberapa tempat di
Kampung Melayu,” lanjutnya.
Gufron juga akan mengakhiri
produknya dijual dari kantin-
kantin dan mencoba masuk ke
swalayan atau mal di Jabodetabek.
Menurutnya ini penting untuk
menjangkau konsumen kelas
menengah ke atas.

“Kalau saya jual masih di tempat
yang biasa, itu ngejatuhin produk
saya. Akhirnya saya ingin naik ke
segmen menengah ke atas,”
pungkasnya.

Tertarik dengan peluang usaha ini?
Hubungi Gufron di twitter
@martabakmavia

( Maikel Jefriando)

sumber: http://m.detik.com/finance/read/2013/02/05/073347/2161107/480/modifikasi-martabak-mahasiswa-ini-raup-omzet-rp-30-juta-bulan

Berawal dari Garasi Rumah, Kini Suteja dan Nanik Mampu Pekerjakan 200 Karyawan Lewat Virgin Cake & Bakery

Ketekunan dan kejelian melihat
celah pasar menjadi kunci sukses
pasangan suami istri, Suteja Alim
dan Nanik Sumiyati, berbisnis
bakery di Semarang. Dari garasi
rumah mereka, pasangan tersebut
membangun pabrik roti
berkapasitas besar.

Boleh jadi, Suteja Alim Wijaya dan
Nanik Sumiyati tak akan pernah
menyangka Virgin Cake & Bakery
tumbuh besar seperti saat ini.

Usaha yang bermula dari garasi di
sebuah rumah kontrakan 13 tahun
lalu itu kini menjelma menjadi
pabrik roti berkapasitas besar yang
mampu mengolah puluhan sak
tepung terigu setiap hari.

Beberapa tahun belakangan ini,
keberadaan gerai roti Virgin di
Semarang sangat fenomenal. Gerai
Virgin selalu terlihat ramai
pengunjung setiap harinya. Pamor
Virgin yang berada di suatu
kawasan perumahan, yakni
Tlogosari, pun terdengar sampai
jauh.
Pelanggan bakery itu berasal dari
berbagai penjuru kota. Bahkan,
tidak sedikit konsumen Virgin yang
datang dari luar Semarang, seperti
Ungaran, Kudus, Jepara,
Pekalongan, hingga Tegal.

Berangkat dari keinginan
mempunyai usaha sendiri dan hobi
membuat roti dan kue, Nanik
memutuskan untuk membuka toko
roti di rumahnya pada 1999. “Kami
memakai uang tabungan Rp 25 juta
untuk menyewa rumah, sekaligus
membuka usaha ini,” kata Teja,
panggilan akrab Suteja Alim.
Garasi rumah pun disulapnya
menjadi toko roti sekaligus tempat
produksi. “Bagian depan untuk
etalase, di belakang untuk
produksi,” ujar Nanik.

Selain menawarkan roti yang sudah
jadi, ia juga menerima pesanan dari
tetangga dan kenalan yang
bermukim di sekitar Tlogosari,
Semarang.
Pesanan pun makin sering
berdatangan lantaran kue dan roti
bikinan Nanik tidak mengecewakan.
Harga yang terjangkau juga menjadi
daya tarik tersendiri bagi
konsumen. Berkat kedua hal ini,
toko roti Virgin pun terus
berkembang.

Hingga menginjak tahun keempat,
Teja melihat perkembangan pesat
gerai Virgin. Nanik, yang semula
hanya dibantu pembantunya, sudah
mempekerjakan puluhan karyawan.
Kala itu, Teja masih bekerja sebagai
pemasok bahan bangunan. Setelah
melihat Virgin berkembang pesat, ia
pun lantas berhenti. “Saat itu, saya
melihat perkembangan Virgin lebih
cepat daripada bisnis saya,
penghasilan saya pun bisa
tergantikan,” ujar dia.
Perputaran uang di bisnis bakery
ini lebih bagus ketimbang bisnis
bahan bangunan yang tempo
pembayarannya lebih lama. Apalagi,
ia melihat sang istri kewalahan
mengurus bisnisnya sendiri.

Dengan ilmu marketing yang
dimilikinya, Suteja lantas fokus
menggarap bisnis bakery bersama
istrinya. Ia sengaja membidik pasar
menengah ke bawah. Strategi ini
terbukti benar. Pasar menengah
bawah yang sangat besar saat itu
berhasil mendongkrak omzet Virgin.
Produk berkualitas dan harga
terjangkau menjadi keunggulan
gerai ini. Banyak konsumen
berpendapat, meski harganya
murah, kualitas roti dan kue Virgin
tak mengecewakan.

Apalagi, seperti gerai roti premium,
Suteja mengadopsi konsep
swalayan. Pengunjung bisa memilih
dan mengambil sendiri roti yang
telah disediakan dalam rak-rak.
Sejak 2003, nama Virgin pun
semakin terkenal. Bahkan, toko roti
ini menjadi buah bibir di kalangan
pengusaha bakery Semarang.

Banyak pesanan

Tak hanya penyuka roti, banyak
pula produsen bahan baku yang
berdecak kagum ketika melihat
riuhnya pelanggan Virgin. Selain
berlomba menjadi pemasok, mereka
memberi berbagai pelatihan untuk
mengembangkan produk Virgin.
“Chef mereka mengajari kami
bagaimana teknik memakai bahan
baku mereka,” kata Teja.

Kejelian membaca perilaku pasar
menjadi kunci Teja sukses di bisnis
ini. Ia rajin mengamati habit
(kebiasaan) konsumen dari hari ke
hari, sehingga memahami karakter
dan pola penjualan tiap-tiap hari.
“Itu penting untuk menekan jumlah
produk yang mubazir, karena roti
memiliki umur,” terangnya.

Ia pun tak segan bertanya langsung
kepada konsumen yang memesan
dalam jumlah banyak. Sering, ia
ikut mengantar pesanan konsumen,
sembari mencari informasi soal
produknya. “Ternyata, sekarang,
banyak orang yang ingin praktis,
ketika mempunyai hajat mereka
memberi roti sebagai buah tangan,”
ujar dia.
Tak heran, di musim orang banyak
mengadakan hajatan, Virgin selalu
kebanjiran pesanan. “Bahkan, roti
berbentuk ring yang banyak
dipesan, menduduki peringkat
teratas penjualan Virgin,” tutur
Teja.

Tak berhenti dengan
mengoperasikan satu gerai saja,
tahun lalu, Teja membuka gerai
Virgin kedua di Ungaran, Jawa
Tengah. Teja sengaja memilih luar
Semarang karena ingin menangkap
konsumen yang datang dari arah
selatan ibu kota Jawa Tengah itu. Di
cabang baru yang menempati lahan
seluas 1,1 hektare, Teja juga
mendirikan pabrik roti Virgin
kedua. Ia pun masih punya rencana
untuk membuka gerai baru di
kawasan barat Semarang.

Kini, dengan dua cabang, Teja
mempekerjakan lebih dari 200
karyawan di gerai maupun
pabriknya. Virgin mampu
mendulang omzet ratusan juta
hingga miliaran rupiah tiap bulan.
( J. Ani Kristanti )

sumber: http://mobile.kontan.co.id/news/tepat-pangsa-pasarnya-roti-teja-nanik-pun-meraja/2013/01/25

Sriwahyuni, Mulai Merintis Usaha Sejak Masih Mahasiswi, Kini Keripik Bawang-nya Hasilkan Laba Puluhan Juta

Jakarta – Siapa yang menyangka,
kalau bawang merah bisa jadi
produk makanan keripik dan
menghasilkan keuntungan puluhan
juta rupiah.

Adalah Sriwahyuni
mampu membuktikannya, dengan
bermodal kesungguhan dan
keberanian, ia bisa menciptakan
Bawang Berani Rumbia. Merek ini
mewakili keripik bawang, bawang
goreng dan bawang mentah.

“Ingat perkataan orang tua saya
dulu, ketika kamu mau berhasil,
dan tidak mau melakukan apapun,
maka kamu akan gagal. Tapi ketika
kamu mau berani, berusaha dan
melewatinya maka berhasil bisa
jadi kenyataan. Berani itu saya
coba terus dan membuat saya
percaya diri,” tuturnya kepada
detikFinance akhir pekan lalu.
Ia bercerita, usahanya dimulai
ketika masa kuliahnya akan
berakhir di Universitas Negeri
Makasar (UNM) akhir tahun 2011.

Dengan modal Rp 6 juta, Sri
kembali ke kampung halaman di
Jenepontoh, Sulawesi Selatan
untuk menggarap 1 hektar lahan
yang dimiliki orang tuanya.
“Awalnya program wirausaha
mahasiswa yang memerikan modal
buat saya Rp 6 juta,” ucapnya.

Lulusan Ilmu Pendidikan PPKN
tersebut memilih bawang merah
untuk ditanam pada lahan
tersebut. Alasannya, komoditas ini
bisa lebih tahan lama
dibandingkan dengan jenis lainnya
yang cepat busuk.
“Jadi kalau bawang merah
harganya turun, kan bisa disimpan
dulu, beda sama cabe atau
sayuran lainnya,” cetusnya.

Satu kali budidaya yang memakan
waktu 3-4 bulan, Sri mengaku
gagal. Ia bingung, bagaimana cara
mengolah dan mendapatkan
untung besar. Apalagi dengan
peralatan yang sedikit.
“Saya lihat, di daerah sana
makanan favoritnya adalah coto
kuda. Jadi saya pikir untuk
membuat bawang goreng beraneka
rasa, dan ternyata banyak
peminatnya,” ujar wanita
berzodiak Taurus ini.

Selanjutnya Sri mulai menemukan
titik terang, kegigihannya
menghasilkan panen bawang
merah mencapai 3.000 Kg. Alhasil,
selain bawang mentah dan bawang
goreng, ia juga mengolah keripik
bawang dengan adonan berbeda
dari biasanya dan dijual dengan
harga Rp 15.000/bungkus.

“Keripik bawang rasanya beragam
ada 7 rasa, ekstra campur,
barbeque, keju, balado, jagung
bakar,coklat, pizza,” terangnya.
Secara total, 4 kali budidaya Sri
telah mengantongi omset yang
tidak sedikit. Meski fluktuatif,
namun mampu meraup untung Rp
16 juta sampai Rp 20 juta per 4
bulan.

Wanita berusia 21 tahun ini
mengaku bahagia dengan hasil
usaha tersebut. Ia merasa cocok
dengan profesi sebagai pengusaha
dibandingkan harus menjadi
Pegawai Negeri Sipil (PNS) ataupun
karyawan perusahaan.
“Saya senang ngajar anak-anak
tapi nggak suka terikat. Saya lebih
kreatif dengan kondisi pengusaha,”
jawabnya.

Keripik bawang adalah produk
yang akan menjadi andalan Sri. Ia
menargetkan tahun ini akan
memasuki pasar moderen untuk
memperlebar kosumennya.
Sementara untuk bawang mentah,
ekspor keluar kota terus akan ia
maksimalkan.

“Bawang merah mentah itu sudah
ke Sulawesi Selatan, Sulawesi
Barat, Kalimantan. Kalau Keripik
bawang, masih baru tahap
pemasaran,” ujarnya.( Maikel Jefriando )

sumber: http://m.detik.com/finance/read/2013/01/21/102710/2147992/480/wanita-ini-jadi-pengusaha-keripik-bawang-gara-gara-ikuti-wejangan-orang-tua