Category Archives: Lifestyle

Dengan Inovasi, Rima Sukses Mengembangkan Bisnis Salon Warisan Menjadi Banyak Gerai

Kebutuhan wanita untuk tampil
cantik tidak mengenal hari libur.
Demikian prinsip Rima Wira Sakti
dalam mengembangkan Itje Her
Hair and Beauty Salon. Berkat moto
itu, Rima mengembangkan usaha
warisan menjadi lima gerai salon
modern.

Rima berkenalan dengan usaha
salon sejak berstatus siswa SMP.
Sebagai satu-satunya anak
perempuan dari Itje Herdjadiono,
pendiri Itje Her Hair, Rima kebagian
tanggung jawab untuk mengurusi
keuangan dan administrasi salon
ibundanya.
Itje, sang Ibunda Rima, merintis
usaha salon di tahun 1980-an,
dengan memanfaatkan satu ruangan
di rumahnya. Kesederhanaan salon
Itje saat itu terlihat dari minimnya
perabot yang tersedia, hanya empat
meja, kursi tunggu pelanggan, serta
satu kaca.

Saat pertama kali beroperasi, Itje
sendiri yang langsung mengerjakan
seluruh perawatan bagi konsumen,
seperti potong rambut, sanggul,
make up, hingga creambath.
Konsep Itje Her Hair, yang lokasi
pertamanya di Cilandak itu, adalah
salon rumahan khusus perempuan
dan tidak tutup di hari libur.
Konsep sederhana yang diterapkan
sang ibu, menurut Rima,
merupakan kunci sukses yang masih
ia pegang hingga sekarang. Ia
menjelaskan, salon cuma menyasar
perempuan, sesuai dengan
permintaan Herdjadiono, suami
Itje. Waktu Itje yang lowong
memungkinkannya untuk
mengoperasikan salon, di hari libur
sekali pun.
Selain mengurus administrasi dan
uang, tentu, Rima juga mendapat
warisan ilmu tata rias dari sang ibu.

Melihat minat sang anak, Itje dan
suami lantas mengarahkan Rima
sebagai penerus usaha salon.
Langkah yang disiapkan adalah
menyekolahkan sang putri ke
Fakultas Ekonomi Jurusan
Manajemen Universitas Indonesia.

Ketika masih berada di tangan
generasi pertama, Itje Her Hair
telah berkembang menjadi dua
salon, yang masih berkonsep
rumahan. Tapi, jumlah karyawan
sudah sekitar 20 orang. “Salon
kedua menempati rumah warisan
nenek,” tutur Rima.

Rima baru memegang kendali
pengelolaan Itje Her Hair setelah
lulus kuliah, tahun 1999. Melihat
jam magang Rima sebagai pengelola
salon yang sudah panjang, Itje yakin
sang putri mampu, kendati baru
lulus kuliah. Rima sendiri sudah tak
sabar mengubah salon, yang saat
itu sudah berumur 10 tahunan itu,
menjadi salon modern.

Tanpa iklan

Agenda modernisasi salon yang
digulirkan perempuan berusia 36
tahun itu adalah memisahkan
pengeluaran kedua salon, dari
pengeluaran pribadi dan keluarga.
Rima menilai, penyatuan “dapur”
salon dan keluarga sebagai kendala
ekspansi bisnis salon.
Jika kedua Itje Her Hair di masa
ibundanya berdiri di daerah
perumahan, Rima berhasrat
membangun salon di daerah bisnis.

Tiga salon yang dibidani Rima
terletak di daerah bisnis: Cipete
Raya dan Bintaro Raya, Jakarta
Selatan.
Kedua salon lama tidak luput dari
renovasi. Rima mengubah bangunan
salon menjadi semacam ruko
berlantai empat. Untuk ekspansi
itu, ia harus membeli dua rumah
tetangganya serta sisa lahan yang
diwariskan sang nenek.

Rima juga melakukan regenerasi
karyawan untuk mengimbangi bisnis
yang terus berlanjut. Sebagai
pelatih karyawan baru, Rima
meminta sang ibunda turun gunung,
serta seorang karyawan yang sudah
bekerja selama 20 tahun.

Untuk menjadi salon modern, Itje
Her Hair tentu membutuhkan
standar layanan. Bentuk perawatan
yang ditawarkan pun bertambah.

Itje Her Hair kini menawarkan
aneka perawatan, dari kepala
sampai kaki, baik yang klasik
maupun modern. Perawatan klasik
itu maksudnya seperti cuci dan
potong rambut serta creambath.
Adapun perawatan modern seperti
manicure, pedicure, pewarnaan
rambut, pijat, lulur, dan cukur bulu
seluruh badan, totok aura, atau rias
pengantin. “Ada puluhan treatment
saat ini. Tarif mulai dari Rp 25.000
sampai ratusan ribu,” tambah Rima.

Modernisasi tak berarti Rima
melupakan kunci sukses salon, yakni
buka lebih awal, tutup lebih akhir,
dan buka saat hari libur. Itje Her
Hair beroperasi sejak jam tujuh pagi
hingga delapan malam, dan hanya
libur di hari pertama dan kedua
Lebaran.

Konsep salon khusus untuk wanita
dan mempergunakan karyawan
kecantikan wanita juga tetap
dipertahankan. Rima beralasan,
masih banyak wanita yang merasa
lebih nyaman jika mendapat
perawatan dari sesama wanita juga.
“Masih banyak yang risih kalau
harus campur satu ruangan dengan
tamu pria,” ujar wanita yang
memiliki tiga putra ini.

Itje Her Hair, yang kini membidik
masyarakat kelas menengah ke atas,
memiliki rata-rata pengunjung
5.000 orang per minggu di kelima
gerainya. Jumlah pengunjung salon
Itje Her Hair, sejak di tangan Rima,
meningkat hingga 50 kali lipat.
Padahal, selama hampir 20 tahun
beroperasi, Itje Her Hair cuma
mengandalkan promosi dari mulut
ke mulut. Salon tersebut cuma
sekali beriklan di media masa.
“Waktu itu saya mendapat jatah
beriklan satu halaman penuh di
Femina dan Gadis, sebagai sponsor
tata rias untuk program Wajah
Femina dan Gadis Sampul,” tutur
Itje.

Terbukti, kan, bisnis estafet dari
orang tua bisa dikembangkan
dengan ide-ide baru?( Melati Amaya Dori)

sumber: http://mobile.kontan.co.id/news/rima-mencampur-jurus-modern-dan-resep-sederhana/2013/01/21

Jeli Melihat Peluang, Fifi Sukses Lewat Bisnis Spa Ibu Hamil ‘mom n jo’

Panas dan sibuk lalu lintas Jakarta langsung menguap ketika para tamu memasuki mom n jo, sebuah spa untuk ibu hamil dan anak-anak. Ruangan nyaman dengan wangi aromaterapi yang menenangkan, dan perawatan terampil dan aman membuat mom n jo menjadi tempat ‘pelarian’ bagi para ibu hamil.
“Tempatnya cozy, pelayanannya enak, membuat ibu hamil menjadi tenang, nyaman, relaks, dan ketagihan,” komentar menantu Presiden RI, Annisa Pohan, di blogspot mom n jo, mengenai pengalamannya dimanjakan mom n jo sewaktu mengandung putrinya, Almira Tunggadewi Yudhoyono. Tak heran, sejak dibuka pada April 2006, Fifi Lim (35) pemilik mom n jo, kini sudah balik modal dan tinggal menikmati keuntungan.
Sulitnya Jadi Ibu Hamil
Membuka bisnis spa untuk ibu hamil, sebelumnya tak terpikirkan oleh Fifi. Kehamilan pertamanya yang cukup membuatnya menderita yang mengilhami Fifi membuat bisnis ini. Saat itu, Fifi tak hanya mengalami morning sickness, sepanjang hari ia juga merasakan pening, mual, hingga badan pegal-pegal. Bila gangguan itu sedang parah, Fifi pun harus rela duduk sepanjang hari di dekat toilet karena ia bisa muntah puluhan kali. “Entah mengapa, lambung saya juga terasa asam sekali sampai air putih pun susah masuk,” imbuhnya.
Tentu saja Fifi pergi ke dokter untuk mengatasi penderitaannya waktu itu. “Karena bukan penyakit, dokter hanya memberi saya pil antimuntah.” Akhirnya, untuk meringankan rasa tak enak itu, Fifi ingin mendapat pijatan di spa seperti yang biasa ia lakukan.
“Ternyata tak mudah mencari spa untuk ibu hamil di Jakarta,” Fifi berkisah. Beberapa spa yang ia datangi menolak melayaninya karena merasa tidak memiliki kemampuan pregnancy massage. Maklum, tubuh ibu hamil membutuhkan penanganan berbeda. “Kalaupun ada spa langganan yang mau memijat, hasilnya malah membuat badan saya makin ngilu. Padahal, sebelum hamil, tiap pulang dari spa tersebut badan saya langsung segar,” kata Fifi.
Fifi kemudian terpikir, apakah pregnancy massage itu memang ada? Begitu dia membuka internet, ternyata di dunia maya itu ia menemukan banyak informasi tentang pregnancy massage. Dari teknik pemijatan, manfaatnya, hingga tempat untuk ikut kursus. Ia kemudian juga menemukan bahwa di Amerika seorang dokter kandungan mengakui, pijat selama kehamilan membantu membuat nyaman ibu hamil. “Selain memberikan kenyamanan, pemijatan teratur menjaga kecantikan ibu hamil, terutama mengurangi timbulnya stretch mark dan water retention yang ditandai oleh adanya bengkak-bengkak di bawah kulit.”
Penasaran dengan pregnancy massage, Fifi pun berniat mempelajarinya. Kebetulan, ia menemukan informasi tentang guru pregnancy massage ini di Singapura. Pertengahan 2004, setelah anak pertamanya, Josephine (kini 4,5 tahun) berusia 6 bulan, Fifi pergi ke Singapura untuk kursus privat selama 6 bulan, dengan memboyong serta putri kecilnya.
Tekad yang kuat untuk belajar membuat Fifi cepat menguasai pelajarannya. “Dalam satu hari, saya bisa menghafal gerakan-gerakan massage itu. Cuma, untuk melancarkannya hingga pijatan itu tidak menyakiti badan orang yang dipijat, makan waktu lama,” tuturnya. Selain teknik pijat, ia pun harus menguasai anatomi, fisiologi, dan kontur tubuh manusia. Khusus untuk pijat ibu hamil, ia juga mempelajari berbagai perubahan yang terjadi selama kehamilan.
Lulus kursus dan mendapat ijazah sebagai terapis pregnancy massage, Fifi balik ke Jakarta. Tapi, saat itu dia belum terpikir membuka spa khusus ibu hamil. Lantas, kapan ide memulai bisnis spa itu muncul? “Ini gara-gara sering ikut kelas pilates di sebuah mal di Jakarta Selatan. Tiba-tiba saja terpikir untuk membuka bisnis spa khusus ibu hamil di sini,” kata Fifi, yang melihat pengunjung mal itu memang tak terlalu ramai, tetapi mereka yang datang adalah warga menengah ke atas, yang sesuai dengan target konsumennya.
Fifi lalu mengutarakan niatnya kepada suaminya, Johannes Dharma, yang juga seorang pengusaha. “Ngeri,” begitu komentar suaminya akan prospek bisnis itu. “Suami saya merasa ngeri karena spa bukan bisnisnya. Tapi, dia mendukung penuh keinginan saya,” tutur Fifi.
 
Terapis Wajib Sekolah
Satu hal yang menjadi fokus perhatian Fifi saat memulai bisnisnya adalah menyiapkan terapis yang mumpuni. Menurutnya, di tangan terapis itulah kunci keberhasilan bisnis yang akan diterjuninya itu. Untuk itu, ia sengaja memanggil gurunya sewaktu belajar di Singapura datang ke Jakarta untuk mengajari para terapis hasil rekrutannya.
Itu baru dari teknik pijatan. Untuk hasil maksimal, Fifi pun memilih bahan-bahan berkualitas baik dan antialergi untuk massage di spa miliknya. Misalnya, ia memakai grape seed oil (minyak biji anggur) yang kualitasnya di atas minyak zaitun. “Minyak ini diproduksi di Amerika dan Australia, tetapi saya mengambilnya dari agen di Singapura,” kata Fifi, yang sekali kulakan, bisa berdrum-drum.
Sementara, untuk minyak aromaterapi dan bahan-bahan untuk lulur atau scrub, selain impor, ia juga mengambil produk dalam negeri. “Inginnya, sih, produk untuk spa diambil semua dari sini, apalagi Indonesia kaya akan bahan-bahan alami. Tapi, kualitas produksi terkadang tidak konsisten. Malah, pernah suplai barang kosong,” tutur Fifi, yang saat ini tengah belajar tentang aromaterapi lewat online. Dengan menawarkan semua hal yang terbaik itu, Fifi mematok tarif Rp240.000 untuk massage selama 80 menit.
Melebarkan Sayap
Nama mom n jo yang sangat catchy itu artinya tak jauh-jauh dari keluarga Fifi. “Mom itu tentu saja menggambarkan diri saya sendiri sebagai seorang ibu, sedangkan jo dari nama depan suami dan anak pertama saya,” katanya, tersenyum. Makanya, ketika ia kemudian hamil anak kedua pada tahun 2006, ia pun memilih nama dengan suku kata depan ‘jo’.
Kehamilan anak kedua pada tahun pertama mengawali bisnisnya, Fifi pun rela menjadi bahan praktik para terapisnya. “Setiap minggu, 3-5 kali saya dipijat. Hasilnya, pada kehamilan kedua ini saya tidak mengalami stretch mark dan mood saya tak gampang berubah,” kata Fifi. Dengan tubuhnya yang relaks, Fifi menuturkan, putri keduanya, Joan (2), tumbuh menjadi anak yang sehat dan ceria. Dari hasil itu, Fifi makin mendapat bukti bahwa happy pregnancy, happy baby karena adanya keeratan interaksi antara ibu dan anak sejak dalam kandungan.
Selain pijat bayi, atas permintaan ibu-ibu pelanggannya, Fifi menyediakan perawatan after labor. “Banyak yang mengeluh, mengapa, sih, yang dimanja hanya saat hamil. Padahal, setelah melahirkan ibu-ibu juga membutuhkan perawatan untuk mengembalikan tubuh agar fit lagi,” ujar Fifi, tertawa. Dia lalu menyekolahkan lagi para terapisnya untuk menguasai teknik pijatan yang dibutuhkan.
Kesuksesannya dalam waktu relatif singkat itu tentu saja menarik minat orang lain terjun ke bisnis yang sama. “Dulu sempat ada rasa sebal ketika melihat ada spa baru yang juga khusus untuk ibu hamil. Tetapi, kini saya malah berpikir positif, bahwa persaingan justru membuat bisnis kami teruji,” katanya. (YOS)

Laila Asri, Produk Perawatan Tubuh Berbahan Alami ‘Pourvous’nya Sudah Merambah Eropa

VIVAnews Do what you love and love what you do! Pesan ini terus melecut Laila Asri mengembangkan minatnya di bidang perawatan tubuh. Tak mau sekadar menjadi penikmat, ia memberanikan diri memproduksi produk-produk perawatan tubuh berkualitas: Pourvous.

Wanita asal Surabaya itu memulainya dengan industri rumahan lima tahun silam. Ia terinspirasi sebuah artikel yang menyebut Indonesia memiliki 100 persen bahan baku yang digunakan industri kecantikan, namun hanya berjaya di pasar ekspor bahan baku itu sendiri.

“Sementara produk jadinya malah harus impor. Kami lalu berpikir kenapa tidak mencoba membuat produk sendiri yang berkualitas. Kami padukan bahan baku alami dengan kualitas halal,” ujar wanita yang meraih sejumlah penghargaan sebagai wanita wirausaha itu.

Laila mengedepankan konsep Six Free, produk yang bebas dari enam bahan yang berakibat kurang baik bagi kulit dan kesehatan: Paraben, Lanolin, Para Amino Benzoic Acid (PABA), Methanol Fragrance, Synthetic Colour, dan Sodium Lauryl/ Laureth Sukphate (SLS/SLES).

Paraben merupakan bahan kimia berbahaya yang dapat memicu kanker, gangguan hormon, dan memengaruhi perkembangan janin. Sejumlah produk biasanya mencantumkan kandungan ini dengan sejumlah sebutan: Methyl Paraben, Propyl Paraben, atau Butyl Paraben.

Lanolin merupakan kandungan pelembab sintetis dari hewan yang dapat memicu noda pada kulit. PABA yang bekerja sebagai anti-ultraviolet juga berpotensi meningkatkan risiko kanker dan alergi.

Methanol Fragrance yang bekerja sebagai deodorant dikhawatirkan mengganggu sistem jaringan dan saraf. Synthetic Colour yang mengandung karsinogen juga dapat memicu iritasi kulit dan alergi. Demikian juga SLS/SLES, deterjen yang banyak terkandung di sabun.

Pasar Penderita Kanker

Idealisme memasarkan produk sehat dan ramah lingkungan, jelas bukan tanpa konsekuensi. Selain harga mahal, ia juga harus bekerja keras mengedukasi konsumen yang kebanyakan masih belum sadar dengan kandungan zat berbahaya dalam sejumlah produk.

“Sekitar 20 persen pasar kami pasien kanker, yang mayoritas sudah cukup paham dengan bahaya bahan kimia berbahaya dalam produk kecantikan, tapi bukan berarti ini produk khusus penderita kanker,” ujarnya.

Lewat kerja keras selama lima tahun belakangan, angka penjualan Pourvous menunjukkan grafik sangat positif. Selain pasar dalam negeri, ia juga memasarkan produknya di sejumlah pameran internasinal. Belakangan, bahkan sudah mulai merambah pasar ekspor ke Jerman.

Komitmennya terhadap halal-natural bodycare paraben free mendatangkan sejumlah penghargaan seperti Wanita Wirausaha Femina 2008 dan Ernst & Young Enterpreneurial Winning Woman 2010.

Awal tahun ini, ia juga terpilih bersama delapan wanita wirausaha lain asal Indonesia untuk mengikuti program 10.000 Women Enterprenership Partnership Global Cohort yang diadakan Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Goldman Sachs di Thunderbird University.

Selamat hari perempuan internasional! (umi)Pipiet Tri Noorastuti

sumber: http://wap.vivanews.com/news/read/294474-laila-asri-kisah-sukses-wanita-wirausaha

Kadek Eka, Mendunia Lewat Lulur Wangi

Berani mengambil jalur yang berbeda, Kadek Eka Citrawati (31) harus berpeluh membangun bisnis produk perawatan tubuhnya dari nol. Namun, kerja keras perempuan kelahiran 18 Agustus 1977 ini berbuah manis.

Awal mula membangun Bali Alus?
Orangtua saya di kampung adalah petani. Setiap bulan mereka mengirim rempah-rempah hasil kebun ke berbagai tempat. Bukan cuma Indonesia, tapi juga ke luar negeri seperti India dan Thailand. Ada cengkeh, jahe, temulawak, dan masih banyak lagi. Katanya sih untuk bahan baku kosmetika dan berbagai produk perawatan tubuh.

Lalu?
Dari sini timbul rasa penasaran saya. Kok, kenapa bahan asli Indonesia dipakai untuk produk merek luar yang berarti akan ditempeli brand asing pula? Kenapa bukan kita sendiri saja yang olah bahan-bahan mentah ini hingga jadi produk perawatan tubuh dengan label asli anak Indonesia. Kan, lebih baik dan lebih besar pula nilainya.
Dari sini saya lalu mencoba-coba membuat sendiri beberapa jenis produk perawatan tubuh. Awalnya belum saya kasih nama atau label. Setelah benar-benar fokus di usaha ini, setelah lulus kuliah tahun 2008, baru saya namai Bali Alus.

Apa jenis produk pertama yang Anda buat?
Lulur scrub. Baru kemudian minyak esensial, sabun, dan produk-produk lainnya. Karena waktu memulai saya masih kuliah, jadi hanya sempat mengerjakan di sela-sela waktu luang. Namanya juga coba-coba, lebih banyak gagal daripada berhasilnya.

Apalagi, saya melakukan semuanya sendiri, mulai dari riset, mencari bahan, meramu, eksperimen, sampai tes produk. Makanya butuh waktu lama, bertahun-tahun, baru saya bisa membuat produk yang layak pakai.

Yang juga bikin lama, saya berkeras semua bahan serba tradisional dan asli. Saya ingin produk saya alami dan natural. Misalnya membuat sabun, saya benar-benar dari minyak kelapa murni tanpa campuran bahan kimia sedikit pun.

Berapa lama Anda harus bereksperimen hingga menemukan formula ramuan yang pas hingga bisa menghasilkan produk jadi?
Lama ya, dari saya mulai kuliah hingga lulus. Makan waktunya juga karena saya enggak cuma eksperimen bikin lulur scrub saja, tapi juga produk-produk lain. Saya pikir sekalian saja. Biar nanti jadinya juga serentak, dan saya bisa mulai memasarkan dengan serius.

Kabarnya, latar belakang Anda tidak ada hubungannya dengan produk kecantikan ya?
Betul, tidak ada sama sekali. Saya ini seorang arsitek (Kadek lulusan arsitektur Univesitas Udayana, Bali). Semuanya hanya berbekal rasa suka, rasa penasaran, ditambah keinginan kuat saja.

Jadi saya cuma mengandalkan kekuatan sendiri dan belajar otodidak dalam semua hal. Internet dan buku-buku adalah alat utama saya mencari ilmu tentang pembuatan produk perawatan tubuh.

Sama sekali tanpa bantuan tenaga ahli?
Awalnya, saya benar-benar sendiri dan tanpa bantuan satu pun tenaga ahli. Paling saya diskusi dan tukar pikiran dengan kakak-kakak saya yang berdomisili di luar negeri (Kadek bungsu dari 5 bersaudara). Basic-nya dari kecil saya sering memerhatikan orangtua dan nenek saya membuat ramuan lulur tradisional Bali yang disebut boreh.

Dulu, nenek membuat boreh dari campuran beras, jahe, cengkeh, diulek hingga menjadi pasta. Ini menginspirasi saya. Dengan bahan yang sama, tapi dimodifikasi dengan bengkuang, jadilah lulur scrub ala Bali Alus yang bisa memutihkan kulit. Jadi mulanya saya murni otodidak.

Tapi, setelah lulus kuliah dan fokus dengan Bali Alus, saya mulai mencari pengetahuan tambahan dengan belajar pada ahlinya. Saya sampai mendatangkan tenaga ahli dari Belanda. Beliau saya kontak lewat internet. Jauh-jauh datang ke Bali hanya untuk mengajari saya.

Produk seperti apa sih yang sebenarnya ingin Anda buat hingga mau repot-repot begitu?
Karena niat saya muncul dari melihat produk perawatan tubuh luar yang modern, maka dari awal saya sudah bertekad ingin membuat produk dengan konsep modern, tapi tetap terbuat dari bahan-bahan tradisional. Misalnya, aromaterapi untuk pengharum mobil, itu kan sesuatu yang moderen, tapi saya menggunakan rempah-rempah tradisional sebagai bahan dasarnya.

Saya juga berusaha semaksimal mungkin agar produk saya memenuhi standar kualitas produk kecantikan luar yang sudah mendunia. Tujuannya tentu supaya orang luar juga mau pakai produk saya. Target saya bukan cuma pasar Indonesia.

Anda begitu optimis. Apa pasar untuk produk perawatan tubuh memang menjanjikan?
Menurut saya, pasar untuk produk yang berhubungan dengan kecantikan selalu menjanjikan. Karena di belahan dunia mana pun, kaum perempuannya selalu butuh merawat kecantikannya. Bahkan, sekarang sasaran produk kecantikan termasuk di dalamnya produk perawatan tubuh bukan cuma perempuan, tapi juga laki-laki. Karena laki-laki jaman sekarang kan banyak yang sadar penampilan.

Saya juga optimis mengembangkan usaha ini karena melihat sekitar saya. Di Bali ada banyak sekali hotel dan tempat peristirahatan yang menyediakan fasilitas spa dan perawatan tubuh. Jadi, enggak usah jauh-jauh dulu, cukup menawarkan produk saya ke berbagai hotel dan spa yang ada di Bali.

Itu yang Anda lakukan dalam memperkenalkan produk Anda pertama kali?
Ya. Saya sadar, kalau langsung dijual, siapa yang mau beli? Selain itu, dana dan tenaga yang saya miliki sangat terbatas. Saya harus memilih, mau fokus pada pembuatan dan pengembangan produk atau pemasaran dan pengembangan brand.

Saya memilih yang pertama. Makanya saya pilih model pemasaran yang simpel. Saya datangi hotel-hotel, salon, serta spa di seputar Bali, saya tawarkan mereka untuk memakai produk lulur scrub saya. Tentu saja gratis. Ini saya maksudkan juga sebagai uji coba, apakah konsumen menyukai produk saya.

Bagaimana sambutan awal?
Sangat bagus. Hampir semua hotel dan spa yang saya berikan sampel produk mengaku konsumennya puas. Tapi sambutan memuaskan ini enggak langsung bisa dirasakan begitu sampel saya bagikan lho. Butuh waktu sampai mereka berani mencoba memakai produk saya. Harus saya rayu dulu. Ini wajar, kulit manusia kan sensitif. Salah-salah, produk baru bisa membuat iritasi atau alergi.

Selanjutnya?
Selanjutnya hotel-hotel tersebut mau terus memakai produk saya. Tapi satu kekurangannya, mereka mau pakai produk kami, tapi tanpa label Bali Alus. Rata-rata Hotel kan menempelkan label mereka sendiri di semua produk yang disediakannya. Dan seiring berjalannya waktu, hotel-hotel itu tidak lagi membeli langsung pada saya. Melainkan lewat supplier.

Maksudnya?
Jadi, setelah jenis produk yang saya buat makin banyak, saya makin tidak punya waktu untuk mengurus pemasaran. Dan setelah nama Bali Alus mulai dikenal, banyak orang yang menawarkan ingin memasarkan produk saya. Saya pikir ini juga ide yang baik. Sekalian bagi-bagi rezeki juga kan.

Akhirnya saya putuskan untuk tidak lagi melakukan penjualan langsung. Karena itu saya juga tidak mau membuka toko, outlet, atau gerai. Semua produk Bali Alus hanya tersedia di workshop saya. Supplier yang mengambil atau membelinya dari saya, selanjutnya mereka menjual produk saya ke konsumen.

Yang unik, saya tidak mengikat para supplier ini dengan harga khusus. Mereka bebas menjual produk dengan harga berapa saja. Tapi tentu supplier yang memberi harga termurah akan lebih laku jualannya, kan. Jadi biar mereka bersaing secara sehat.

Berarti Anda tidak menjual produk Bali Alus secara eceran?
Meski sebenarnya tidak melayani penjualan ritel atau eceran, tapi saya bukan orang yang kaku. Banyak orang dari luar kota yang mendengar tentang Bali Alus menyempatkan datang ke workshop saya. Karena mereka sudah jauh-jauh datang, saya selalu membolehkan mereka beli eceran. Kan mereka rata-rata cuma untuk konsumsi pribadi.

Yang menyenangkan, biasanya setelah pulang ke kota masing-masing dan mencoba produk saya, mereka akhirnya tertarik untuk memasarkan Bali Alus di kotanya. Jadilah sekarang agen-agen Bali Alus sudah tersebar di banyak kota besar di seluruh Indonesia. Akhirnya tanpa sengaja saya menemukan cara membesarkan brand saya secara gratis.

Yang unik juga, karena Bali banyak didatangi turis, produk saya pun sampai ke luar negeri. Sama dengan turis Indonesia, mula-mula mereka beli untuk konsumsi sendiri. Setelah pulang ke negaranya, ada yang memesan untuk dijual lagi. Yang saya tahu Bali Alus sudah sampai di Korea, India, Singapura, dan Malaysia.

Ada cara lain mengenalkan Bali Alus pada khalayak? Lewat iklan mungkin?
Kalau iklan belum. Seperti saya bilang tadi, saya lebih memilih fokus pada produksi. Pengenalan produk, selain lewat agen yang tersebar di berbagai kota, juga lewat ajang pameran. Sejak 3 tahun lalu saya rajin mengikuti berbagai pameran, terutama di Jakarta dan Bali. Khusus untuk pameran, saya menjual ritel.

Anda jalan sendiri?
Enggak kok. Banyak yang membantu. Kebetulan, sejak awal saya bergabung dengan koperasi. Oleh koperasi saya dibantu modal dan mendapat banyak pengarahan. Koperasi juga yang mengenalkan saya dengan ajang pameran. Selain koperasi, yang juga banyak membantu saya adalah Dewan Kerajinan Nasional Daerah atau Dekranasda, dan Disperindag.

Ngomong-ngomong, berapa sih modal yang Anda keluarkan saat pertama kali merintis Bali Alus?
Untuk modal awal saya menghabiskan sekitar Rp 100 juta. Setengahnya dari kocek pribadi, setengahnya lagi dari bantuan koperasi.

Saat ini, produk Bali Alus mencakup apa saja?
Banyak ya. Ada puluhan, mulai dari lulur scrub, lulur bubuk, body lotion, masker, sabun batang, sabun sirih untuk vagina, sabun transparan, massage oil, bath foam, garam mineral, ratus, herbal rempah, masker rambut, sampo, kompres mata, dan masih banyak lagi.

Apa kendala yang masih Anda temui?
Sampai saat ini, saya masih fokus dengan pengembangan produk. Masalah yang sering saya temui adalah bagaimana membuat produk yang tahan lama, tapi tanpa proses dan zat kimia.

Ya, gara-gara ingin produk Bali Alus benar-benar alami, jadilah saya menggunakan semua bahan baku asli tumbuh-tumbuhan, bukan sintetis. Akhirnya, produk Bali Alus enggak bisa awet dalam jangka waktu panjang. Setelah berbagai cara saya lakukan, dioven berulang kali, maksimal produk Bali Alus bisa disimpan 8 bulan.

Mengapa harus bahan baku asli?
Sebab dibandingkan dengan essens, bahan baku asli khasiatnya pada kulit akan terasa berbeda sekali.

Berarti Anda menggaransi Bali Alus bebas bahan kimia?
Ya, saya jamin. Tentu terkecuali untuk jenis produk tertentu yang harus menggunakan alkohol. Bahkan, untuk menjaga keaslian dan kemurnian bahan baku, sebagian besar saya tanam dan budidayakan sendiri. Memang repot, tapi saya puas.

Hanya lavender yang saya tidak bisa tanam sendiri. Sudah pernah saya coba, tapi gagal. Jadi satu-satunya produk yang saya tidak bisa jamin keasliannya adalah produk dengan wangi lavender. Karena untuk lavender saya gunakan minyak atau esens lavender yang saya impor dari luar.
Kalau yang lain, apakah itu avocado, jasmin, chocolate, atau stroberi, semua saya suling sendiri minyaknya dari buah asli. Lihat lulur-scrub stroberi ini, kelihatan kan, aslinya. (Kadek membuka kemasan dan menunjukkan lulur-scrub buatannya).

Buah stroberi enggak bisa halus meski sudah digiling. Tetap kasar karena ada biji-bijinya. Selain itu, dari wanginya juga kita bisa tahu tingkat keaslian bahan baku. (Memang, lulur scrub stroberi buatan Kadek begitu terasa wangi stroberinya hingga mampu menerbitkan air liur. Begitu pula dengan lulur scrub cokelatnya).
Satu yang saya utamakan, higienitas. Karena produk saya menggunakan bahan asli, sangat rentan jika ada sedikit saja kotoran atau mikroba yang masuk ke adonan atau ramuan. (Di workshop-nya, Kadek dan seluruh karyawannya wajib memakai masker penutup mulut dan hidung sepanjang hari)

Sekarang Anda dibantu berapa karyawan?
Saya bereksperimen sendiri selama 4 tahun lebih. Tahun 2001, saya mulai punya karyawan. Awalnya hanya 2 orang. Yang satu untuk bantu mengaduk adonan, satunya lagi untuk mengurus packaging. Sekarang, karyawan saya ada 30 orang di bagian produksi, 3 orang untuk melayani tamu dan agen yang datang ke workshop.

Apa sih obsesi Anda?
Ingin mengembangkan Bali Alus hingga bisa mendunia. Saya bermimpi suatu hari nama Bali Alus bisa dikenal seperti Body Shop dan teman-teman.

Terakhir, bagaimana dukungan suami dan anak-anak?
Oh, suami dan anak-anak saya sangat mendukung. Mereka mengerti kesibukan saya. Suami, Putu Kater ST, banyak membantu saya, terutama mengelola keuangan. Anak-anak, Putu Kay Kiandra (3,5) dan Kadek Kesahwa Keano (1,5), sering saya bawa ke workshop, terutama hari Sabtu. Biar mereka lihat bagaimana Mamanya bekerja. (Anastasia Sibarani/Nova)

 

Bali Alus
Jl Bung Tomo V/No 1 Denpasar
HP 08155735795
Telp 62-361-8568768

sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2009/01/20/1016204/Kadek.Eka.Mendunia.Lewat.Lulur.Wangi

Fokus Kunci Sukses Susan Spa Resort

Bisnis salon dan album foto yang dibangun Freddy dan Lanny sejak lebih dari 30 tahun lalu, terus berkembang. Bahkan, sejoli ini kian ekspansif dengan mengibarkan Susan Spa Resort yang kini amat kondang di kawasan wisata Bandungan, Semarang.

Dari jendela kamar di ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut, gugusan gunung bak permadani hijau di antara biru langit terhampar memaku mata. Cahaya semburat dan sepoi angin menerbangkan semua keletihan. Sejauh mata memandang, pahatan alam terbentang, membingkai alam Bandungan bak negeri khayangan.

Selamat datang di Susan Spa Resort, selamat menikmati pemandangan alam nan cantik,” sapa Freddy Sinatra, sang pemilik resor. Dibalut celana hitam dan kemeja bergaris, lelaki ramah ini mengajak SWAberkeliling melihat berbagai fasilitas yang ditawarkan. Mulai dari tempat spa, kolam renang, jacuzzi, sauna, studio kebugaran, arena bermain anak, restoran, Eden Park, ruang pertemuan, ballroom, dan La Kana Chafel. “Ini satu-satunya kapel di dunia yang berada di atas awan,” ungkapnya berseloroh. Sepertinya Freddy tidak bercanda. La Kana berdiri megah di lereng Gunung Ungaran dengan arakan awan putih yang menjuntai bak selendang bidadari.

Sejak dibangun tahun lalu, kapel berkapasitas 48 orang ini banyak diminati pasangan pengantin yang ingin menyelenggarakan pemberkatan pernikahan dalam suasana yang sangat berbeda. “La Kana menawarkan konsep baru sebuah pernikahan modern, standing garden party, live cooking, dengan udara yang sangat sejuk dan pemandangan alam yang menakjubkan,” tutur Freddy. Meski diakuinya, sejatinya, La Kana tak semata bisa digunakan untuk kalangan pemeluk agama Nasrani. Taman dan halaman yang mengelilingi kapel yang mampu menampung 500-an orang bisa dijadikan tempat perhelatan pesta. “Bisa resepsi pernikahan atau gatheringlainnya,” katanya. Bahkan, ballroomdi bawah kapel yang tengah dalam pembangunan ini bisa menampung lebih dari 1.000 orang. “Ini juga satu-satunya ballroomdi dunia yang berada di bawah kapel,” tambah Freddy. Seiring pembangunan ballroom, Freddy akan menambah 10 kamar dari 22 kamar yang saat ini sudah tersedia. Ditargetkan, pertengahan tahun ini ballroombisa beroperasi dan akhir tahun penambahan kamar sudah rampung. “Setelah itu, saya rasa sudah selesai, sudah mentok, sudah capek, ora enek duite(tidak ada uangnya – Red.),” katanya sambil tertawa.

 Meski tak mau menyebut angka investasi, membangun Susan Spa Resort pastinya menghabiskan dana yang tidak sedikit. Berdiri di atas lahan puluhan ribu meter persegi, bahan material yang digunakan mencerminkan resor bintang lima. Mulai dari pernak-pernik interior lobi, kamar, spa, kolam renang dan jacuzzi. “Kalau ada yang berani membangun resor melebihi Susan di Bandungan sini, pasti dia orang gila,” ungkap Jusuf, arsitek yang merancang ballroomSusan. Dengan bahasa lain, ia mau menegaskan bahwa diperlukan dana besar untuk bisa menyaingi Susan. “Di Bandungan, Susan yang paling top. Dari fisik bangunan dan fasilitas, belum ada yang menandingi,” tambahnya.

Senada Jusuf, Manajer Penjualan & Pemasaran Susan Spa Resort, Rengga Bayu Inggil, mengatakan, resor yang bermunculan di Bandungan hampir semuanya menjual pemandangan alam. “Untuk itu, kami harus punya diferensiasi yang unik, yang tidak dimiliki resor lain,” ungkapnya. Selain fasilitas La Kana Chafel, spa, dan paket bulan madu, pihaknya juga menawarkan fasilitas meeting, incentive, convention, and exhibition(MICE). “Ini juga kami genjot dan ternyata direspons sangat bagus oleh banyak korporat,” ujar Rengga.

 Untuk pasar MICE, tersedia berbagai ruangan mulai dari yang berkapasitas 50 sampai 150 tamu. Eden Park juga kerap dipakai untuk gatheringyang menampung sampai 800 tamu. Perusahaan besar di Jawa Tengah, bahkan dari Jakarta, kerap mengadakan gatheringdan rapat kerja di Susan, seperti Gudang Garam, Telkom, PLN, Unika, dan lainnya. Ketika syuting film kolosal Merah Putih, produser, sutradara dan para pemain utama menginap di Susan selama hampir satu setengah bulan. Menurut Rengga, selama ini aktivitas pemasaran yang dilakukan lebih mengandalkan jurus getok tular. “Untuk wilayah Ja-Teng, kami melakukan sales callke perusahaan-perusahaan besar sedangkan di luar Ja-Teng sampai Singapura, kami menggunakan website, BlackBerry Messenger, Facebook dan Twitter,” tuturnya. Ia menambahkan, hampir setiap hari ada kegiatan MICE. “Kalau weekendmalah penuh.”

 Resor yang berlokasi di Dusun Piyoto, Bandungan, yang masuk wilayah Kabupaten Semarang ini diakui Freddy dibangun secara tidak sengaja. “Awalnya, kami hanya mau buat vila untuk pribadi, ya untuk istirahat menghabiskan masa tua,” katanya.

Ketika itu, tahun 1997, diceritakan sang istri, Lanny Riana Dewi, ada seorang kawannya yang menawarkan tanah di Bandungan. “Saya pikir buat investasi saja. Waktu itu kami beli hanya ratusan meter.” Karena krisis, vila dengan empat kamar tidur itu baru dibangun tahun 2000.

 Setelah dibangun, Freddy justru berubah pikiran. Ia merasa dirinya dan istri biasa dikelilingi teman-teman. “Kalau hanya vila, kami akan kesepian karena tidak ada teman, kami akan bosan,” tutur Freddy. Terbersit ide membangun tempat spa. “Kalau ada tempat spa, ada orang-orang yang mengunjungi kami, jadi kami ada teman,” imbuhnya. Dipilihnya spa karena di sekitar Bandungan, meski vila mulai menjamur, belum ada yang menyediakan fasilitas spa. “Kami yang pertama membuat spa di sini,” katanya.

 Tak hanya di Bandungan, pasangan Freddy dan Lanny pun tercatat sebagai pionir bisnis spa di Semarang. Lewat Susan Salon Spa yang berlokasi di Jl. Seroja Timur, Semarang, lebih dari empat windu, pasangan ini menggelindingkan bisnis spa. Bermula dari Seroja, denyut bisnis Freddy dan Susan kemudian merambah dunia hospitality. “Resor, wedding, spa, kecantikan masih saling bersentuhan,” tutur Lanny.

 Spa dengan nuansa alam, sentuhan etnik, produk natural, dilengkapi dengan sauna, jacuzzi, dan kolam renang yang memanjakan tubuh ternyata mampu menyedot pengunjung Susan Spa Bandungan. “Di sini tamu dimanjakan dan dibuat nyaman sejak mereka datang sampai pulang,” ungkap Lanny. Meski harus menempuh perjalanan sekitar satu jam dari Semarang, banyak orang berkunjung ke Susan hanya untuk spa. Bahkan, untuk bisa menikmati Spa On The Sky, harus memesan jauh hari sebelumnya. Perawatan spa di kamar yang menjorok dengan pemandangan hamparan gunung dan bentangan langit biru ini memang menjadi favorit. “Sembari relaksasi, mata dimanjakan dengan pemandangan alam, makanya Spa On The Skyini jadi rebutan,” ujar Vonny Evelyn Jingga, Konsultan Pengembangan Susan Spa Resort, yang siang itu menemani SWAberkeliling. Dijelaskan Vonny, sebelumnya malah Spa On The Skyini dibiarkan terbuka sehingga semilir angin semakin menyejukkan. “Ini kan di atas sekali, angin terlalu kencang, jadi dibuat berkaca seperti ini biar gakmasuk angin,” katanya setengah bercanda.

 Diakui Freddy dan Lanny, keberadaan Susan Spa Resort seperti sekarang ini sangat di luar dugaan dan rencana. Rencana semula, mereka berdua hanya ingin membangun spa dengan konsep alam. “Basisnya spa, terus bikin kafe untuk kongko, terus berkembang ada resto, terus katering karena ada event, terus berkembang lagi bikin kapel, terus bikin ruang serba guna,” paparnya. Semua tahapan perkembangan fasilitas dilakukan karena dorongan permintaan pasar dan melihat peluang. “Awalnya, kami tidak pernah terpikir membangun resor, ternyata banyak yang minta menginap, ya sudah vila pribadi itu akhirnya disewakan,” ujarnya. Yang semula vila itu kini menjadi guest house. Dari hanya empat kamar, permintaan makin banyak kemudian ditambah menjadi 22 kamar. “Akhir tahun ini akan ada penambahan 10 kamar,” ujarnya.

 Ditegaskan Freddy, Susan Spa Resort tidak dirancang dari awal seperti sekarang. “Tidak ada blue printdari awal akan menjadi seperti sekarang ini, ide itu timbul seiring berjalannya waktu,” ujarnya. Seperti kapel, ia mengaku terinspirasi melihat kapel di Uluwatu, Bali. Mereka juga mengombinasikan dengan kapel yang mereka lihat di berbagai belahan bumi lainnya. “Masakmau pemberkatan mesti terbang ke Bali, kami mencoba membangun di sini, dan ternyata responsnya bagus,” ungkapnya. Ballroomdengan kapasitas 1.000 tamu pun dibangun karena melihat animo pasar. Sering kali tak sekadar pemberkatan tetapi sekaligus pesta sehingga membutuhkan ruangan yang lebih luas. “Peluang tersebut yang coba kami tangkap dan kami kembangkan,” ucap Freddy yang terlihat bugar di usia yang sudah melewati 60.

Bagi mereka, Susan Spa Resort adalah aset dan investasi. “Kami membangun bertahap, punya uang sedikit ditempelkan. Beli tanahnya juga gaksekaligus ribuan meter, sedikit-sedikit,” ujarnya. Ditambahkan Lanny, dengan cara mencicil itu justru mereka merasa puas karena sama sekali tidak bersentuhan dengan bank. “Ya ada uang, kami tempelkan, ada uang kami tempelkan, begitu terus,” timpal Lanny. Karena juga menjadi aset, mereka benar-benar membangun sesuai dengan keinginannya. Tak pelak, atmosfer yang dibangun di Susan Spa Resort mencerminkan jiwa Lanny dan Freddy yang penuh kecintaan dalam bekerja.

 Menurut Lanny, pengembangan bisnis yang dilakukan mereka sejatinya tidak lepas dari cikal bakal bisnis awal. Lanny memulai bisnis dengan salon, 36 tahun lalu. Salon Susan di Semarang sampai saat ini tercatat sebagai satu-satunya salon terlengkap dan terbesar. Lanny terjun di dunia kecantikan dengan membuka salon sejak 1975. Ketika itu ia masih lajang berusia 21 tahun. “Waktu itu saya sudah berpacaran dengan Bapak, ya sudah saya beri nama salon saya dengan nama Susan,” ceritanya. Freddy sendiri, ketika itu tengah membangun bisnis album foto. Freddy memulai bisnis saat masih berusia 17 tahun. Ia mengikuti jejak sang ayah yang memang membuka usaha pembuatan album foto kecil-kecilan di Semarang.

 Tahun 1977, Lanny dan Freddy menikah. Mereka fokus mengembangkan bisnis masing-masing. Dewi Fortuna menghinggapi mereka. Susan Photo Album berkembang pesat. Bahkan, pada 1976, Susan Photo Album sudah merambah pasar luar negeri. Menurutnya, keberhasilannya menjaring pasar karena album foto hasil karyanya berbeda dari album yang beredar di pasaran. “Lukisan dan desain menjadi ciri khas album foto Susan,” katanya.

 Perkembangan Susan Photo Album bahkan makin ekspansif. Tahun 1987, bisnis rumahan pun berganti dengan pabrik seluas 8.000 m2, masih di Semarang. Tahun 2002, Freddy mulai melibatkan anak sulungnya, Lio Adrian, pertumbuhan Susan Photo Album semakin tak terbendung. Di tangan Lio, menggurita dengan berbagai produk: Susan Album, Susan Pro, Evita, dan E-Pro. Pasar ekspor pun makin membesar. Saat ini, menurut Lio, pasar ekspor menyerap lebih dari 50% produksi Susan Album. Singapura, Inggris, Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan negara-negara Timur Tengah adalah sebagian pasar luar negeri yang digarap Susan Album.

 Bagaimana dengan bisnis Lanny? Sami mawon. Salon yang dikembangkannya laris manis. Bermula dari salon konvensional yang menyediakan jasa gunting rambut, rias wajah, dan facial, sejak 1996 dilengkapi perawatan wajah dengan alat teknologi canggih dan spa. Sejak 6 tahun lalu, Lanny juga merambah jasa bridal. Sejak 15 tahun lalu pula, salonnya yang semula hanya menempati ruang kecil di rumah peninggalan orang tuanya, berkembang menjadi tiga lantai. Lantai bawah khusus untuk perawatan rambut, tata rias dan perawatan wajah. Lantai dua untuk spa dan bridal. Lantai tiga untuk fasilitas kebugaran. Salon yang mengkhususkan segmen perempuan ini akan dikembangkan dengan menambah pasar remaja perempuan. “Dalam waktu dekat, kami akan merenovasi salon ini mengikuti tren yang tengah berkembang, mungkin dari sisi desain lebih mengarah ke minimalis dengan sentuhan klasik dan etnik,” ujar perempuan yang terlihat awet muda di usianya yang kini 56 tahun.

 Sejak kecil Lanny memang sudah akrab dengan dunia kecantikan. Sebagai anak tunggal, ia sering menemani ibunya ke salon. “Saya waktu kecil ngintilterus Ibu, lagi di-facial, keriting rambut, ya saya tungguin,” katanya. Umur 15 tahun, ia kemudian belajar merias wajah untuk diri sendiri di salon langganan ibunya itu. Lulus SMA, ia sempat masuk Universitas Diponegoro mengambil jurusan Sastra Sejarah. Karena jadwal kuliah yang saat itu belum teratur, ia dilanda kejenuhan. Akhirnya, ia memutuskan keluar di tingkat dua.

 Karena sudah jatuh cinta pada dunia kecantikan, ia pun terbang ke Singapura untuk memperdalam bidang ini. Setelah menikah dengan Freddy, sembari mengembangkan salon, ia tak kenal lelah menuntaskan dahaganya akan ilmu kecantikan. Berbagai pameran kecantikan dan spa di Jepang, AS, Eropa, Hong Kong disambangi. “Ke ujung dunia pun dikejar saking ia suka dan ingin terus belajar,” ungkap Freddy. “Saya tidak pernah sendiri, Pak Freddy selalu menemani saya sehingga kami belajar bersama-sama,” imbuh Lanny.

 Mengunjungi berbagai pameran membuat mereka up-to-dateterhadap dunia bisnis yang mereka geluti. Tak heran, mereka beberapa langkah lebih maju, baik dari sisi inovasi produk maupun pelayanan. Sampai saat ini pun mereka berdua tak pernah melewatkan kesempatan melihat berbagai pameran kecantikan. Beberapa tahun terakhir ini mereka berdua pun rajin mendatangi pameran perhotelan dan food & beverages.

 Lanny dan Freddy mengaku selama ini mereka selalu fokus pada bidang yang digeluti. “Kami juga sampai sekarang tetap terjun bekerja,” tutur Lanny. Berbeda dari pemilik salon dan spa kebanyakan yang hanya sebagai investor, Lanny sampai saat ini masih terjun. “Biasanya orang hanya punya modal kemudian diserahkan ke asistennya,” tambahnya. Untuk perawatan wajah yang menggunakan alat, sampai sekarang masih dipegang Lanny. Bahkan, sesekali Lanny masih memotong rambut dan merias kalau pelanggan memintanya. “Kalau pelanggan ada yang minta, ya saya penuhi,” katanya.

Dari dulu, Lanny memang suka menunggui salon, ada tamu atau tidak. “Mungkin itu yang membuat tamu menjadi senang karena setiap mereka membutuhkan saya, saya selalu siap di tempat,” katanya. Selain menghadirkan produk berkualitas, pelayanan dengan hati, diakui Lanny, adalah kunci keberhasilan salonnya sampai saat ini. “Kami harus memberikan yang terbaik dan dengan hati,” ujarnya.

 Hal senada disampaikan Freddy. Menurut sulung dari lima bersaudara kelahiran Jawa Timur 23 Agustus 1946 ini, sejak awal menggeluti bisnis, ia memang menunaikan filosofi memberikan yang terbaik dan bekerja dengan hati. “Apa pun pekerjaan itu, kami harus mencintai pekerjaan yang kami lakoni, kalau mau berhasil ya harus dengan hati,” ujar Freddy yang menularkan filosofi itu kepada dua anaknya.

 Keberhasilan bisnis, menurutnya, juga harus ditopang dengan fokus, konsistensi dan ketekunan. “Kalau gagal, jangan langsung menyerah tapi harus dicoba lagi dan tetap fokus hingga meraih keberhasilan,” katanya menasihatkan. Untuk memberikan yang terbaik, Freddy yang memang dasarnya senang memasak menjadwalkan seminggu dua kali ke pasar berbelanja bahan masakan untuk Susan Spa Resort. “Saya bisa memilih sendiri mana yang kualitasnya nomor satu, kalau nomor dua, aku emoh,” katanya. Menjaga kualitas produk, ditandaskannya, sudah harga mati. “Jangan menurunkan kualitas dan selalu mencari yang terbagus buat pelanggan, kepuasan pelanggan itu kunci agar bisa tetap bersaing.”

 Ditambahkan Lanny, dalam berbisnis, jangan selalu hitungannya uang dan untung. “Kalau selalu berpikir untung sehingga dikejar terus, akhirnya lupa pada kualitas,” ujarnya. Meski ia tidak menafikan uang. “Selama kami memberikan yang terbaik, uang akan mengikuti.” Mereka pun sepakat untuk terus mengasah kemampuan meski sebagian bisnis sudah diserahkan kepada anak-anak. “Harus terus belajar kalau mau pintar, jangan pernah berhenti belajar,” timpal Freddy.

 Dengan belajar, mereka saling melengkapi dan mendukung. Untuk urusan bisnis kecantikan, Lanny yang pegang peranan. Sementara pengembangan bisnis Susan Spa Resort di tangan Freddy. “Kami juga harus semeleh, jangan memikirkan sesuatu di luar jangkauan. Kalau kuat ya dipikir, kalau tidak ya ditaruh saja. Saya kalau ketemu bantal langsung tidur, saya tidak mau mikir yang berat-berat,” tutur Freddy yang piawai memasak.

 Bagi Lanny, pencapaian bisnisnya saat ini adalah berkah dari Tuhan. “Puji Tuhan, semua ini berkah dari Tuhan,” katanya. Sebagai rasa syukur atas keberkahan itu, Lanny dan Freddy tak pernah pelit membagi ilmu kepada anak buahnya. “Saya suka mengajari masak, kalau mereka pintar saya ikut senang,” katanya. Begitu pula Lanny, ia dengan telaten mengajari anak buahnya seluk-beluk dunia kecantikan. Bagi Lanny, keterampilan tangan karyawan menjadi salah satu pemicu kepuasan pelanggan. “Di sini orang dimanjakan betul, produk disesuaikan, lebih teliti, alat estetika terbaru,” ujarnya. Sejak awal dibangun, Susan Salon memang menyasar segmen menengah-atas, begitu pun Susan Spa Resort.

 Bagi mereka, Susan adalah berkah. Meski tak ada satu pun anggota keluarga yang bernama Susan. “Memilih nama Susan karena simpel dan mudah diingat, dilafalkan,” kata Freddy. Kini, Susan telah menjadi ikon bisnis Freddy dan Lanny.

 Tonggak Sukses Freddy dan Lanny

1964: Freddy memutuskan mengikuti jejak sang ayah membuat album foto dengan nama Susan Album di Semarang. Ia mengawali dengan membuat 20 eksemplar album dari bahan karton, desain simpel, dan handmade.

1966: Freddy menjajal pasar Jakarta.

1975: Lanny mendirikan Susan Salon di Jl. Seroja Timur, Semarang.

1976: Susan Album ekspansi dengan merambah pasar luar negeri.

1987: Susan Album makin ekspansif dengan pembangunan pabrik seluas 8.000 m2 di Semarang.

1996: Susan Salon mengembangkan layanan spa pertama kalinya di Semarang, dilengkapi perawatan tubuh dan wajah dengan peralatan dan teknologi canggih.

2001: Masuk bisnis bridal dengan mengibarkan Susan Bridal.

2002: Di bawah komanda Lio Ardian, anak sulung Freddy dan Lanny, Susan Album makin moncer dengan mengembangkan berbagai lini: Susan Pro, Evita, dan E Pro.

2004: Membangun Susan Spa Resort di Dusun Piyoto, Bandungan, Semarang, yang rencana awalnya hanya untuk peristirahatan keluarga. Karena permintaan pasar berkembang menjadi resor dan layanan spa pertama di Bandungan.

2010: Membangun La Kana Chafel.

(oleh : Henni T. Soelaeman)

 sumber: http://swa.co.id/2011/05/aset-investasi-dan-cinta-bermuara-di-susan-spa-resort/