Category Archives: Lifestyle

Keuletan di Balik Sukses La Tulipe

Bermula dari skala rumahan, bisnis kosmetik ini membesar hingga melibatkan ribuan karyawan. Bagaimana kisahnya?

Pertengahan Juni 2011. Suasana di Grand Ballroom Hotel Mulia, Senayan, malam itu begitu semarak. Di ruang tengah dilangsungkan peragaan tata rias komestik menampilkan berbagai tren warna terkini. Setidaknya ada 26 ahli tata rias yang memamerkan kreasi mereka menggunakan tren kosmetik terbaru. Di antara mereka ada ahli tata rias avant garde, pengantin internasional, fancy, modifikasi serta lukis tubuh yang sudah dikenal secara nasional. Mereka mengusung tema untuk musim semi/panas 2011 yang berkisar pada warna-warna oranye, merah muda, emas, cokelat ungu, dan koral pada eyeshadow, blush on dan lipstik. Semua ahli tata rias malam itu menggunakan kosmetik yang sama: La Tulipe dan LT Pro.

Kemeriahan acara peragaan tata rias komestik itu tak lain merupakan bagian dari event PT Rembaka untuk memberikan apresiasi kepada para ahli tata rias yang telah menggunakan produknya secara terus-menerus. Selain itu, ajang tersebut juga menjadi manifesto sukses perjalanan produsen kosmetik asal Surabaya itu dalam mengarungi bisnis kosmetik yang begitu ketat persaingannya. Mereka berhasil membesarkan nama La Tulipe di kalangan konsumen, khususnya pengguna produk make-up dan skin care.

Dalam konteks ilmu pemasaran, mungkin La Tulipe bisa dirujuk sebagai contoh tepat sebuah merek yang sukses menasional dengan model penetrasi flanking strategy: dimulai dari daerah pinggiran, kemudian merangsek ke pusat. Ia dimulai dari sebuah home industry kecil di Surabaya, lalu pelan-pelan melebarkan pasar dari daerah ke daerah hingga kemudian berkembang, dan kini sudah menjadi merek nasional yang total melibatkan 5.000 karyawan.

Usaha kosmetik berbendera PT Rembaka ini dirintis Indro Handojo (almarhum), seorang dokter bidang patologi klinik yang belajar autodidak tentang ilmu dermatologi di Surabaya. “Papa suka mencoba hal-hal baru, selain tekun dan rajin. Beliau ingin mendirikan perusahaan kosmetik sendiri, makanya tahun 1980-an memulai dari home industry. Ngracik sendiri,” tutur Anthonius Prabowo Handojo (33 tahun), putra Indro yang kini didapuk menjadi Manajer Operasional PT Rembaka.

Produk kosmetik yang pertama dibuat adalah pembersih dan penyegar. Setelah itu, menyusul produk pelembab. Proses produksinya belum memakai mesin alias manual. Indro – wafat awal 2011 – dibantu lima anak buah yang bekerja dengan peralatan seadanya, yang penting higienis. “Papa mengulek dan meracik sendiri resep agar sesuai dengan kulit orang Indonesia,” Anthonius yang lulusan University of Wollongong Australia ini menceritakan kiprah ayahnya. Untuk itu, ayahnya rajin membaca literatur tentang kosmetik dan sering mengikuti seminar dan kongres tentang kulit. Pada tahap awal, produksinya tidak banyak. Sebulan kira-kira memproduksi 1 boks (50 botol).

Dalam memasarkan produknya, sejak awal Indro sudah menggunakan merek La Tulipe. Tulip adalah nama bunga dari Belanda, sebagai penanda kecantikan wanita negeri itu. Sementara kata “La” berasal dari bahasa Prancis yang artinya sama dengan “the” dalam bahasa Inggris. “Pakai bahasa Prancis, karena Prancis merupakan barometer kecantikan dunia,” Anthonius, yang biasa dipanggil Thoni, menjelaskan sejarah merek perusahaan keluarganya.

Cara komunikasi pemasaran saat itu masih sederhana. Di sela-selah praktik dokter di rumah — Jl. Raya Gubeng 61, Surabaya — Indro memperkenalkan produknya ke calon pelanggan yang datang. Rupanya, cara promosi dari mulut ke mulut itu cukup manjur. Terbukti, tak sedikit kaum Hawa yang mengonsultasikan masalah kulit wajah kepadanya. Tidak hanya itu, kebanyakan dari mereka ternyata juga cocok dengan produk hasil racikannya. Tak mengherankan, pelanggan makin banyak, juga jumlah produksinya. Karyawan bertambah menjadi 10-an orang pada 1982-an. Bahkan pada 1985, berhasil memindah tempat produksi ke lahan yang lebih layak di daerah Prapen (Surabaya). Meski demikian, status tanahnya belum hak milik, masih sewa.

Russy Nikawati, karyawan yang bekerja di PT Rembaka sejak 1985, menjelaskan, meski pindah ke Prapen, lokasinya tetap masih kecil. Produksi menempati rumah tipe 120 dengan 10-an karyawan. Di Prapen, awalnya belum memproduksi menggunakan mesin. “Kami akrab semua di sana. Kalau ada bahan baku timun datang, ya kami makan sebagian ha-ha-ha…. Begitu pula kalau ada tomat atau bengkuang. Kami sering rujakan bersama-sama,” Russy menceritakan suasana sederhana di awal perintisan bisnis. Untuk pemasaran, waktu itu mengandalkan toko di Pasar Atom Surabaya dan dua tenaga beautycian yang melakukan demo promosi.

Setelah beberapa tahun melakukan produksi di Prapen, Indro akhirnya bisa membeli mesin sendiri walau bukan mesin baru. “Kami beli mesin kosmetik second dari Taiwan dan Jerman, dari salah seorang pengusaha di Surabaya,” kata Thoni. Dari situ produksi juga mulai bisa ditingkatkan untuk memenuhi permintaan. Rata-rata per bulan bisa memproduksi sebanyak 1 mobil boks. Selain itu, juga menambah 1-2 varian produk baru, yakni skin care, produk tata rias panggung, tata rias wajah dan tata rias fantasi.

Cara promosi juga mulai ditingkatkan dengan merambah program yang belum dilakukan. Antara lain, mengikuti lomba tata rias, baik taraf nasional maupun internasional. “Kami pernah meraih gelar sebagai Juara Umum Lomba Tata Rias Tingkat Nasional 1987 dan Juara Tingkat ASEAN 1987,” ujar Thoni. Promosi juga dilakukan dengan demo produk di instansi pemerintah, ibu-ibu Dharma Wanita dan Bhayangkari, serta organisasi Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Cakupan pasarnya masih mayoritas di Surabaya dan sekitarnya.

Yang membuat segenap pengelola optimistis usahanya bisa berkembang, mereka melihat respons pasar cukup baik. “Terus terang kami sendiri tidak tahu apa penyebab produk buatan Papa kok begitu diserap pasar. Yang saya dengar, produk-produknya cocok untuk kulit di daerah tropis. Inilah yang menjadikan permintaan terus meningkat. Produk kami benar-benar bermanfaat sehingga makin lama makin dicari orang,” ungkap Thoni.

Karena penjualan terus meningkat, akhirnya tempat produksi di Prapen tidak mencukupi lagi. Lebih-lebih, saat itu Indro sudah berencana mendatangkan mesin langsung dari Jerman dan Inggris. Lokasi produksi di Prapen menjadi terlalu sempit, tak mencukupi untuk ukuran mesin baru. Karena itu, pada 1990-an, pabrik beralih ke tempat baru, yakni di Jl. Rungkut Industri VIII/26-28, Surabaya (Kawasan Industri), dengan menyewa. Pada waktu itu juga mulai dipakai nama PT Rembaka. Kata Rembaka diambil dari bahasa jawa yang berarti “berkembang bersama”.

Sejak berproduksi di Jl. Rungkut Industri, boleh disebut usaha ini sudah mulai bergeser dari skala industri rumahan menjadi industri menengah. Sejak itu, skala usahanya terus berkembang. Otomatis, dari hasil penjualan bisa menabung untuk menambah kapasitas produksi dan menyiapkan memiliki pabrik sendiri, bukan sewa. Tahun 1995 sudah bisa membeli tanah sendiri untuk mendirikan pabrik, di Jl. Berbek Industri VII/4, Surabaya.

Dewi Fortuna rupanya mendekat. Pada waktu krisis moneter 1998, bisnis La Tulipe justru mendapatkan keuntungan. “Kami blessing. Kenapa? Karena, sebelum krismon orang kelas atas membeli kosmetik dari luar, namun begitu nilai rupiah goyang, mereka ramai-ramai membeli La Tulipe. Akhirnya, produk kami malah laku keras. Penjualan kami naik sampai 100% lebih. Ini benar-benar di luar dugaan,” Russy mengenang. Karena itu pula, Rembaka bisa mendirikan pabrik sendiri yang mulai dipakai sejak tahun 2000. Pada tahun itu pusat produksi diboyong dari Rungkut ke lokasi sekarang, di Jl. Berbek.

Sejak di Berbek, modernisasi produksi dilakukan hampir di semua proses produksi. Mulai dari mixer sampai filling. Filling, misalnya, dulu dilakukan satu demi satu, kini sekali produksi bisa langsung lima unit selesai. “Kebanyakan mesin berasal dari Jerman, namun juga yang dari Inggris (lipstik) dan Korea (proses penyaringan). Dalam keadaan tertentu, kalau memungkinkan, kami modifikasi mesin agar hasil produksi lebih optimal,” Thoni menerangkan.

Cakupan pasarnya juga bukan semata-mata di Jawa Timur, tetapi terus diperluas menjadi wilayah nasional, termasuk ke kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Bandung, bahkan kota-kota di Sulawesi, Kalimantan dan Papua.

Salah satu fondasi penting yang dibangun Indro, membentuk bagian riset dan pengembangan (R&D) agar bisa menelurkan produk-produk yang bukan hanya sesuai dengan tren, tetapi menciptakan tren. Karena itu, meski Indro telah wafat, tim R&D tetap dikembangkan. Mereka siap meluncurkan produk untuk melayani pasar pada masa mendatang kalau-kalau ada perubahan. “Kami memiliki list produk untuk masa mendatang, yang kalau pasar sudah siap, kami akan luncurkan,” kata Thoni. Soal cara kerja tim R&D, pihaknya tidak memasang target tertentu, misalnya sebulan harus menciptakan satu produk baru. “Tidak begitu. Kami biarkan mereka berkreasi seoptimal mungkin supaya hasil benar-benar bagus,” dia menjelaskan kiatnya.

Distribusi Rembaka saat ini sudah mencakup seluruh wilayah Indonesia, menggandeng tiga distributor. Berdasarkan penelusuran SWA, salah satu distributor yang digandeng adalah PT Dos Ni Roha, salah satu distributor besar Indonesia. Guna memudahkan pengelolaan distribusi, Rembaka kemudian membagi area dalam dua wilayah: barat dan timur. Barat meliputi Sumatera, Jawa Barat, Jakarta dan Pontianak. Adapun timur, dari Jawa Tengah hingga Papua. Para distributor itu dikelola terus-menerus. “Kami jaga mereka, bisa melalui berbagai bonus, penghargaan, gathering-gathering, ataupun tour-tour,” katanya.

“Kami juga memiliki konter-konter sendiri di beberapa kota. Atau, bekerja sama dengan toko kosmetik tertentu untuk memasarkan produk,” lanjut Thoni. Kalau ditotal, gerai sendiri mencapai 30-an. Rembaka juga memasok serta melatih tenaga pemasar dan tenaga kecantikan sendiri guna ditempatkan pada konter dan toko-toko tertentu yang memiliki potensi penjualan. Sementara itu, untuk mengendalikan harga, Rembaka mengatur dengan pola Harga Eceran Tertinggi (HET). Dengan cara itu, para distributor dan peritel hanya diberi kesempatan bermain di diskon. “Mereka mau melempar produk ke pasar pada harga berapa, itu terserah mereka, yang penting tak melebihi HET,” ujar Thoni.

Pekerjaan promosi juga digenjot, tak semata-mata getok tular. Saat ini promosi dilakukan terintegrasi, dari below the line (BTL) hingga above the line (ATL). Untuk ATL, sebagian besar dilakukan melalui majalah dan media elektronik. “Tapi itu hanya sebagian kecil promosi kami sehingga cenderung tidak kelihatan. Bagi kami, yang terutama adalah dengan cara BTL, seperti bekerja sama dengan berbagai instansi dan organisasi,” tutur Thoni. Selain itu, melakukan pendekatan dengan para ahli tata rias. “Kami tidak ada kontrak eksklusif dengan mereka. Mereka percaya kami. Dari situ kami support kebutuhan mereka,” katanya lagi. Selain itu, cara lama seperti menggarap ibu-ibu PKK, melakukan demo dan mengikuti pameran juga terus dilakukan. “Pokoknya, semua sisi kami garap.”

Pada posisi saat ini, omset terbesar disumbang produk-produk skin care dan dekoratif. Untuk merek, jelas La Tulipe menjadi tulang punggung, menyumbang 75% penjualan, sisanya dari penjualan second brand, LT Pro. Menariknya, perusahaan ini sekarang juga mulai masuk ke pasar Singapura dan Brunei, tepatnya pada akhir 2009. Ceritanya, ada salah seorang karyawan yang menikah dengan warga Singapura dan kemudian menetap di sana. Dia lalu melakukan order sekaligus memasarkan untuk area Singapura. Untuk pasar Brunei, Rembaka bahkan punya salon sendiri untuk mulai menggarap pasar di sana. “Tahun 2010 kami dipercaya menjadi sponsor acara Kementerian Kebudayaan Belia dan Suka Brunei untuk pemilihan penyanyi dan penari cilik,” cerita Thoni.

Bambang Irawan, pengamat bisnis dari Surabaya, melihat perjalanan La Tulipe banyak

diwarnai sikap pemilik yang benar-benar sabar dan bermental ulet. Sabar dalam arti melakukan strategi disesuaikan dengan kondisi perusahaan. “Kalau masih kecil, dia bersabar untuk bersikap sebagai perusahaan kecil dan terus-menerus melakukan inovasi, guna memanfaatkan peluang yang ada. Quality yang cukup bisa diandalkan, walaupun melalui proses improvement ‘learning by doing’,” kata Bambang.

Dalam pandangan Bambang, La Tulipe adalah buah kesabaran dan ketekunan sehingga jadilah sebuah produk yang matang baik dari segi produksi maupun pemasaran. Dari sisi perubahan manajemen, Rembaka pun bisa melakukannya dengan baik. Termasuk, dengan membentuk tim profesional dalam R&D. “Saya kira mereka sudah masuk dalam era matang dan kepercayaan konsumen tidak goyah walau pendiri telah tiada. Brand sudah terbentuk,” Bambang menyimpulkan.

Russy yang kini menjabat sebagai Manajer General Affairs & HRD mengakui kini perusahaan tempatnya bekerja telah berkembang dengan baik. “Dulu agak berat karena tidak memakai media komunikasi apa pun. Kami masih kecil sehingga belum memiliki dana. Kami kenalkan produk melalui getok tular,” ujarnya mengenang. Dia pernah mengalami hal tidak enak ketika mendapat tugas membuka gerai Melawai Plaza Blok M Jakarta. Waktu mencoba mengajak kerja sama dengan menawarkan model in store (titip jual), pemilik toko meragukan. “’Ini produk dari mana ini? Cocok nggak dengan kulit orang Indonesia?’, tentu saja kami sempat down. Tapi kami tetap meyakinkan bahwa produk kami bukan sembarang produk,” katanya.

Russy juga melihat, pendiri perusahaan ini, Indro, sangat pandai mengelola anak buah, menjaga kedekatan, serta memberi penghargaan kepada karyawan. “Ya, kami membangun bisnis ini dengan prinsip kekeluargaan. Baik kepada karyawan, distributor, outlet, maupun karyawan. Kalau ada senang, kami rasakan bersama. Begitu pula kalau lagi susah,” Thoni menyambung. Selain kesabaran, sesungguhnya inilah values yang menjadi tulang punggung membesarnya La Tulipe.(*) (oleh : Sudarmadi)

Reporter: Suhariyanto (Surabaya)

sumber: http://swa.co.id/2011/09/keuletan-di-balik-sukses-la-tulipe/

Peliharaan yang Menghasilkan Uang

FISH spa theraphy, pada awalnya memang banyak yang salah mengira tempat spa itu adalah tempat menjual ikan. Cukup dimaklumi karena di tempat itu terdapat dua buah bak berukuran besar yang di dalamnya terdapat ikan-ikan kecil jenis garra rufa. Ikan-ikan itulah yang digunakan sebagai alat spa. Unik bukan?

Tentu saja bermula dari rasa penasaran itu kemudian pengunjung semakin ingin tahu dan tertarik untuk mencoba spa dengan ikan ini. Owner fish spa, Andri Salim, menuturkan, ide mendirikan salon spa ikan ini didapatkan setelah melihat beberapa salon kecantikan di luar negeri yang menggunakan ikan sebagai metode terapisnya. Terlebih, Andri sangat tertarik memelihara ikan.

”Mereka (ikan garra rufa) ini adalah peliharaan saya yang mampu menghasilkan uang, mempercantik kulit,sekaligus mengusir stres. Beda kalau saya mendirikan salon. Kalau begitu, saya harus keluar modal untuk mengaji karyawan. Dengan ikan ini, semua ikan yang mengerjakan,” jelasnya.

Menurut Andri, ikan yang dipakai juga ikan khusus perawatan, yang digunakan didatangkan langsung dari Kota Bandung. Karena merawat ikan tidak selalu mudah, Andri juga harus menggunakan sistem ozonisasi dalam kolam agar ikan-ikan terapis ini dapat bertahan hidup lama.

Dia mengatakan, ikan garra rufa aslinya hidup di sungaisungai di negara Timur Tengah, seperti di Turki, Syria, Iran, Irak. Umurnya empat hingga enam tahun dengan panjang maksimal 12 cm.

“Khusus ikan yang digunakan untuk terapi adalah ikan yang masih kecil, berumur tiga hingga enam bulan, umumnya memiliki panjang 1,5 – 2 cm. Ikan ini dapat hidup pada air dengan suhu 0 – 43 derajat celsius,” jelasnya. Dia menceritakan, pada masyarakat Turki, spa bersama ikan ini sudah dikenal sejak 200 tahun lalu.

Namun, fish therapy ini baru marak dikenal di Asia, Eropa, dan Amerika sejak 2006. Pada awal penemuannya, kata dia, ikan ini disangka sebagai ikan pemakan daging. Pada waktu itu, saat sekelompok orang berada di Sungai Kangal, Turki, ikan-ikan ini mengerubungi kaki mereka.

“Tetapi, mereka tidak mendapati kaki mereka terluka. Bahkan, mereka merasakan tubuh terasa lebih segar. Itulah, awal mulanya sehingga ikan ini akhirnya dijadikan salah satu terapi untuk menyembuhkan penyakit,” katanya.

Menurut dia, cara merawat ikan ini pun tergolong mudah,cukup dengan menyediakan wadah yang sesuai dengan ukuran ikan. Lalu, yang perlu diutamakan filter (penyaring air) yang bagus atau bisa juga mengganti airnya, untuk tambahan menggunakan heater untuk mengatur suhu 30 derajat.

“Memberi makan ikan ini dua kali sehari. Ikan ini selain memakan jaringan sel kulit mati manusia, juga mau mengonsumsi cacing beku,“ katanya.

Pelanggan yang ingin menikmati perawatan spa ikan cukup mencelupkan kakinya di sebuah akuarium yang sudah diisi ratusan ikan kecil. Ikan-ikan inilah yang akan membersihkan sel-sel kulit mati dari kaki Anda.

”Selain itu, gigitan ikan garra rufa kecil juga bisa melancarkan peredaran darah dengan menstimulus titik-titik akupunktur di telapak kaki,” katanya.

Selain itu, fish spa juga bermanfaat untuk menghilangkan stres, mengobati kulit pecah-pecah pada kaki, serta merangsang pertumbuhan kulit baru.

”Pelanggan yang datang ke tempat ini bisa melepaskan kelelahan dan merasa lebih rileks setelah melakukan perawatan spa ikan selama 20 menit,”ungkapnya Tak hanya itu,setelah melakukan perawatan spa ikan, para pelanggan juga masih mendapatkan pijatan dengan scrub khusus untuk memberi nutrisi bagi kulit. (CR01)
(Koran SI/Koran SI/rhs) (sumber okezone.com)

Jeli Lirik Peluang, Omzetnya Capai Rp375 Juta/Tahun

Eksotisme Bali telah mendapat pengakuan dari seluruh penjuru dunia. Keindahan alam Pulau Dewata ini mampu menyedot minat turis, baik lokal maupun mancanegara.

Seiring bergeraknya waktu, Bali tak hanya menawarkan eksotisme alam belaka. Belakangan Bali juga beranjak menjadi surga perawatan tubuh, melalui produk spa berikut tempat-tempat perawatan kulit yang tumbuh bak jamur di musim hujan.

Tumbuhnya tempat-tempat perawatan tubuh, ternyata menjadi salah satu pintu masuk bagi Ni Kadek untuk bergerak di bisnis produk spa dan kecantikan.

”Pada 2001 saya melihat usaha perawatan tubuh di Bali mulai menggeliat. Saya langsung menangkap sinyal itu dengan mendirikan usaha produksi spa dan kecantikan,” tutur Ni Kadek menceritakan awal mendirikan usahanya.

Istri I Putu Katra tersebut pun bercerita, dirinya sempat gamang ketika memulai usahanya. Dia takut tidak bisa membayar karyawan meski di awal usaha, jumlah karyawannya baru tiga orang.

”Saya memang sudah belajar berbisnis sejak kuliah tapi untuk menekuni bisnis yang serius, memang baru di Bali Alus ini,” aku lulusan arsitektur Universitas Udayana tersebut.

Dia melanjutkan, mengawali usaha Bali Alus dengan modal Rp10 juta, tabungan semasa bekerja di perusahaan swasta dan bantuan bahan baku dari orang tuanya.

Sebagai sebuah usaha yang terbilang baru, awalnya Ni Kadek mengalami banyak hambatan. ”Bali Alus”, nama brand usahanya, mesti berjuang mati-matian menembus pasar produk kecantikan di Bali dan bersaing dengan produsen besar yang telah mapan.

Bahkan, usahanya nyaris gulung tikar ketika dia jatuh sakit. Bali Alus mulai bersinar lagi setelah mendapat suntikan modal Rp30 juta dari Bank Negara Indonesia (BNI) pada 2007. Suntikan modal tersebut membuat Bali Alus mampu berkembang lagi. Bahkan, BNI juga memberikan pelatihan kewirausahaan, pelatihan manajemen, hingga membuatkan website untuk promosi. Bali Alus pun terus berkembang.

Berkat kegigihan dan fokus terhadap bisnis, Bali Alus mulai diterima konsumen. Tiga jenis produk awal yang diproduksi Bali Alus mendapat respons positif dari konsumen. Respons positif tersebut tentu menambah motivasi Ni Kadek melanjutkan perjuangannya. Dengan semangat baru serta sokongan modal dari BNI, Ni Kadek kembali berkutat dengan usahanya.

Setelah tiga jenis produk awal menembus pasar, dia segera melakukan inovasi dengan menciptakan produk-produk spa lainnya. Momentum juga turut mengangkat perkembangan bisnis Bali Alus.

Seiring berjalannya waktu, selain sebagai tujuan wisata dengan alamnya yang eksotis, Bali menjelma menjadi pusat perawatan tubuh. ”Bali tidak hanya sebagai tujuan wisata tapi juga perawatan tubuh,” ujar Ni Kadek.

Biasanya, terutama turis mancanegara, memanfaatkan fasilitas spa setelah mereka berjemur seharian di pantai. Mandi uap atau spa pun menjadi gaya hidup di Bali. Bukan hanya itu, perawatan tubuh lewat aroma terapi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ritual mandi sauna.

Perubahan gaya hidup yang drastis di Bali dengan sendirinya membuat usaha Bali Alus milik Ni Kadek berkembang pesat. Jika pada awal berdiri baru mampu memproduksi tiga jenis produk, kini sudah lebih dari 15 jenis produk spa dan kecantikan dihasilkan Bali Alus.

Jumlah karyawannya pun meningkat menjadi 15 orang. Dengan status usaha rumahan, Bali Alus mampu meraih omzet senilai Rp375 juta per tahun. Sebuah angka yang terbilang lumayan untuk usaha rumahan.

Bali Alus juga mulai dikenal sebagai salah satu produsen dalam penyediaan produk spa, aroma terapi, dan kecantikan. Dari rempah-rempah, herbal, sampo, essential oil, body butter, dupa, sampai masker, mampu disediakan Bali Alus.

Meski terbilang tumbuh pesat, Ni Kadek mengakui bahwa persaingan usaha sejenis di Bali terbilang ketat. Agar bisa bertahan di tengah roda kompetisi, selain inovasi, Bali Alus mempertahankan ciri khasnya yakni dengan menggunakan bahan baku lokal.

Sekira 80 persen bahan baku produk Bali Alus diakui Ni Kadek berasal dari alam Indonesia. “Produk kita suka dikerubuti semut. Itu karena bahannya diambil dari alam,” katanya.

Tak hanya bahan, racikan produk Bali Alus juga berdasar pada resep warisan para leluhur. ”Dengan melestarikan, mengembangkan warisan leluhur, didukung oleh kecanggihan teknologi, dibantu oleh tenaga ahli luar dan berbekal ilmu informal design and beauty clinic, kita ingin agar wanita dapat mempercantik diri dengan bahan-bahan alami dan natural yang mempunyai efek samping selain cantik juga sehat,” begitu pesan Ni Kadek.

Dia mengakui, prospek usaha tersebut ke depannya terbilang cerah. Terbukti dengan promosi usaha yang seadanya saja, baru sebatas dari mulut ke mulut, Bali Alus telah mampu menghasilkan keuntungan lumayan.

Bali Alus kini tengah merambah pemasaran dengan memanfaatkan internet. Dengan cara itu, masyarakat dapat mengetahui bisnis kecantikan milik Ni Kadek ini melalui website balialus.com. Tentu saja dengan prospek yang cerah, Ni Kadek bercita-cita memiliki pabrik sendiri supaya dia mampu memproduksi massal.

Ni Kadek bercita-cita, produknya ke depan bisa dipakai seluruh masyarakat Indonesia sebagai salah satu warisan leluhur bangsa dan menembus pasar ekspor.

Lagi-lagi permodalan mungkin akan menjadi kendala.Maklum investasi yang dibutuhkan untuk mendirikan pabrik bisa mencapai ratusan juta rupiah. Tapi, berkaca dari pengalaman dengan BNI, Ni Kadek tak kehilangan semangat.

Dia optimistis permintaan kredit baru sebesar Rp100 juta bakal disetujui bank pemerintah itu. Dia semakin optimistis karena sang suami, I Putu Katra, akan mencurahkan seluruh waktunya untuk pengembangan Bali Alus. ”Dia yang mengatur manajemen Bali Alus,” katanya. (sugeng wahyudi)(Koran SI/Koran SI/ade) (sumber okezone.com)