Category Archives: Manufaktur

Uwoh Saepulloh, Anak dari Keluarga Petani yang Sukses Berwirausaha Pembuatan Perangkat dari Logam Beromzet Miliaran

Uwoh Saepulloh, Dari Piala Citra Hingga Rangka Baja

Dua piagam penghargaan dari

Menteri Pariwisata dan Gubernur

Jawa Barat menghiasì ruang kerja

H. Uwoh Saepulloh. Piala Citra,

Panasonic Award, dan Ka1pataru juga

menjadi bukti nyata sentuhan tangan

Uwoh menyulap logam. Inovasi demi

inovasi terus dilakukan Uwoh, tak bisa

berhenti, tak ada pedal rem.

 

GIGIH dan pantang menyerah, itulah

Uwoh Saepulloh, pemilik CV Sumirah

Teknik dan CV Rhodas di Cibatu, Cisaat,

Sukabumi, Jawa Barat. Sejak menjadi karyawan

di sebuah bengkel logam, Uwoh tidak pernah

menyerah atas suatu pesanan pelanggan. Sesulit

apa pun desainnya, tidak ada yang ditolak.

Justru pekerjaan sulit dijadikan tantangan

 

untuk menemukan cara yang lebih hebat.

Dengan bermodalkan kemampuan menguasai

3 jenis mesin—yakni press, scrub, dan bubut—

semua pekerjaan logam dilakukan tanpa kenal

lelah. Kepuasan pelanggan atas hasil kerjanya

menjadi tujuannya. Tak heran jika, selain

 

pelanggan bertambah banyak, kebanyakan dari

mereka juga secara khusus meminta pesanan

mereka dikerjakan oleh Uwoh, bukan yang lain.

Order yang semakin meningkat membuat Uwoh

kewalahan dan banyak pekerjaan yang tidak

dapat ditangani.

Uwoh pun memutar akal. Ia menyiasati

kendala ini dengan mengerjakannya di rumah

sepulang kerja. Tentu saja, ia harus membeli

 

mesin yang kemudian diletakkan di kamarnya.

Uwoh juga membina anak sekolah yang

 

membutuhkan tambahan uang sekolah. Namun,

finishing tetap ditangani Uwoh sendiri.

“Alhamdulillah pekerjaan-pekerjaan itu bisa

 

diatasi. Tapi karena semakin hari pekerjaan

 

itu semakin banyak dan tidak bisa diatasi

perusahaan, saya memutuskan untuk berwiraswasta,”

 

tutur Uwoh yang menjadi karyawan di

bengkel tersebut selama kurang lebih 4 tahun,

sejak 1995. Uwoh kemudian membuka usaha

sendiri, hingga pada tahun 2007 mendirikan CV

Sumirah Teknik dan CV Rhodas dengan modal

Rp 20 juta yang didapatnya dari gaji selama

menjadi karyawan.

GIGIH DAN SUKA TANTANGAN

Meski keluarganya berlatar belakang petani

dan orangtuanya tidak memberi inspirasi

 

tentang wiraswasta kepadanya, namun hal itu

tidak menghambat Uwoh dalam berkarya.

Sikap gigih Uwoh ini jugalah yang di kemudian

hari membuatnya meraih penghargaan sebagai

 

pemimpin koperasi usaha menengah berprestasi

se-Jawa Barat (2007) untuk jenis usaha logam.

Sejak kecil Uwoh memang suka tantangan.

Bila ada hal-hal yang dianggap sulit dalam bidang

apa pun, ia semakin ingin memecahkannya. Jika

orang lain tidak bisa, Uwoh bersemangat agar

bisa. Tapi jika orang lain yang bisa, Uwoh malah

tidak semangat. Hasratnya selalu ingin berbeda

dari yang lain. Suatu saat pernah ada konsumen

yang meminta dibuatkan meja antik dengan

memberikan contoh dari Belanda. Baginya,

menjiplak suatu benda itu justru susah dan tidak

menantang.

“Saya bilang ke orang itu, ‘Kalau saya

menjiplak ini nanti barangnya enggak laku,

pamornya juga kurang bagus, karena orang tahu

ini cuma tiruan, ada barang aslinya. Nah, saya

ubah motifnya menjadi model baru. Jadi nanti

promosinya jelas, yang itu model lama, yang ini

model baru.’ Setelah barang tersebut booming,

dia mendapat acungan jempol. Katanya, saya

kreatif. Sejak itu setiap ada pekerjaan, saya

diundang. Sampai sekarang pun, setiap ada

pekerjaan dia konsultasi. Padahal dia itu

 

insinyur, punya latar belakang pendidikan bagus,

tapi merealisasikannya belum tentu bisa,” kata

Uwoh sambil tersenyum.

Awalnya Uwoh membuat logam untuk peralatan

 

elektronik seperti tape dan televisi.

Namun, usaha ini tidak berkembang sehingga

Uwoh mulai membuat produk mekanik berbahan

baja ringan. Produk yang dihasilkan mulai dari

mesin hingga rangka baja, juga panel pintu

yang digemari para pengembang kontrakan dan

perumahan, seperti Wasa Mitra Engineering,

Indocement, dan United Tractors.

Seluruh mesin yang digunakan, termasuk

mesin cetakan, dibuat dan dirangkai sendiri oleh

Uwoh. Tangan terampilnya tak kaku mengikuti

perkembangan teknologi permesinan. “Saya dulu

 

membuat mesin untuk baja sedang, lalu ada

rekan datang ke tempat saya. Terus dia mau beli

mesin itu karena dikiranya buatan Jepang,” ujar

Uwoh sambil tergelak, “Padahal saya membuat

mesin itu sesuai dengan kebutuhan produksi

saya saja, tanpa pernah melihat mesin yang dia

maksudkan itu.” Inovasi pun dilakukan Uwoh

dengan membuat kusen logam serta genteng

metal berpasir dan berwarna.

MENGEKSPLORASI GENTENG METAL

Pada awalnya Uwoh fokus pada permintaan

genteng metal yang menantang. Meskipun

harga jual genteng metal tidak terlalu mahal,

yakni Rp 55 ribu per meter persegi, permintaan

justru banyak datang dari luar Pulau Jawa.

 

Di Jawa sendiri baru Jawa Tengah, Jawa Timur, Cirebon,

Tasik, Ciamis, Serang, Banten, Bekasi, dan Tangerang

 

yang perlahan beralih menggunakan genteng metal.

“Untuk pintu panel, kalau tidak salah baru di sini yang

menciptakan, belum ada tempat lain yang menciptakan dari

logam. Produk ini sudah masuk ke Balikpapan dan Papua,

 

800 unit untuk pintu panel, kusen, rangka atap, plafon,

 

sama genteng rumah. Nilainya Rp 23 miliar,” urai pria yang

memiliki bengkel kerja seluas 5.000 meter persegi ini.

Selain harganya yang lebih murah dari alumunium—pintu

 

dari kayu kamper bisa mencapai Rp 1,4 juta, pintu

dari logam hanya Rp 1 juta sudah termasuk kusen dan

pengecatan-keunggulan produk logam adalah awet dan

 

antirayap. Selain itu juga sifatnya stabil sehingga

 

bentuknya selalu simetris dan tidak mengalami penciutan.

Uwoh pun bisa memberi garansi hingga 20 tahun.

 

Kalaupun tidak dipakai lagi, menurut Uwoh, pintu logam ini

bisa dijual kembali maupun didaur ulang sehingga tidak

menambah sampah. Ya, siapa mengira bahwa inspirasi menciptakan

 

komponen bangunan dari logam ini berawal dari keprihatinan

Uwoh terhadap lingkungan. “Saya teringat waktu saya melihat

 

banyaknya illegal logging di televisi yang menyebabkan

terjadinya bencana di mana-mana, seperti banjir. Dari

situ saya berpikir untuk mencari cara mengatasinya, yaitu

dengan membuat bahan bangunan dari logam, bukan dari

kayu,” paparnya bijak.

Mengingat bahan baku kayu semakin sulit diperoleh,

Uwoh pun menganjurkan masyarakat beralih ke logam.

 

“Berapa pohon yang harus ditebang untuk

membuat panel pintu dan kusen dari kayu?

Mungkin untuk mebel belum bisa dialihkan ke

logam. Tapi kalau panel pintu dan kusen sudah

bisa hingga 50-70 persen,” paparnya yakin.

Pengalaman unik lainnya adalah ketika ia

 

diminta membuat Piala Citra dengan desain

baru pada tahun 2008, dan mendapatkan

 

penghargaan Festival Film Indonesia dari Menteri

Kebudayaan dan Pariwisata atas sumbangsih

dan dedikasi dalam pembuatan Piala Citra baru.

Uniknya, saat mengerjakan piala tersebut Uwoh

hanya mendapat gambar tanpa keterangan

ukuran apa pun.

“Dia itu mungkin sudah keliling ke sana

sini tapi enggak mewujudkan suatu barang.

Akhirnya ada yang ngasih tahu bahwa yang

gini mah mungkin ke saya. Dari gambar itu

saya realisasikan dengan kemampuan saya.

Alhamdulillah terwujud suatu barang dan dapat

 

penghargaan dari menteri,” ucap Uwoh

bangga. Apalagi kemudian order berlanjut untuk

pembuatan handicraft lainnya, seperti Piala

Kalpataru dan Panasonic Award.

INOVASI TANPA HENTI

Saat pintu panel rancangan Uwoh yang

baru hanya memiliki satu macam motif saja,

 

sudah banyak permintaan datang. Menurut

Uwoh, pembeli menyukai rancangannya karena

tampilannya mirip kayu. Sayangnya, Uwoh

mengaku tidak mematenkan rancangannya

karena ia masih ingin mengubah motif, warna,

dan ukuran. “Padahal untuk pintu panel saja

sudah ada 20 motif yang bervariasi, dan prediksi

saya permintaan akan terus meningkat,” ujarnya.

Uwoh kerap didatangi marketing developer

sebuah perumahan untuk dikontrak dan di

fasilitasi mulai dari tempat, mesin, dan material.

 

Uwoh tinggal mengerjakannya, sedangkan

sistem pemasaran dan penjualan dilakukan

oleh rekanan. Dengan demikian ia fokus pada

produksi. Marketing developer perumahan

biasanya ‘mengunci’ produk tertentu melalui

ikatan kontrak eksklusif, sehingga Uwoh tidak

boleh menjualnya ke pihak lain. “Mereka berani

memasarkan ke luar Jawa. Jadi, lebih banyak

lagi yang datang. Yang datang itu developer.

 

Konsumen melihatnya kualitas, bagusan dari

sini dengan yang lain katanya,” jelas Uwoh.

Berkat inovasinya, Uwoh mendapat undangan

untuk menggelar presentasinya di hadapan

Menteri Perindustrian pada awal Mei 2011. Ia

optimis tren penggunaan kayu akan beralih ke

logam. Apalagi pemerintah sudah menggiring

ke arah tersebut untuk menyelamatkan hutan

lindung. Dimulai dengan keharusan agar rangka

atap menggunakan baja ringan. Tidak tanggung

tanggung, sudah ada pesanan dari pemerintah

untuk 8 ribu rumah di Papua. Melihat ini, ia

bisa memastikan penggunaan kayu menurun,

digantikan dengan produk logam buatannya.

Menurut Uwoh, jika tidak bisa berinovasi,

seseorang hanya akan menjadi tamu di negeri

sendiri. Dengan berinovasi, sumber daya lokal

bisa bersaing. “Kalau kita ciptakan, orang lain

meniru, itu berarti sudah nilai positif,” ujar

Uwoh.

Pria yang enerjik ini bahkan tidak sabar

untuk segera menuangkan inovasi-inovasi logam

 

lainnya. Dia sudah merancang ventilasi

 

rumah dari logam yang berfungsi mengatur

aliran udara. Dengan tambahan filter, alat ini

berfungsi untuk mengeluarkan udara kotor dan

memasukkan udara bersih. “Semacam exhaust

fan, namun menggunakan sistem mekanik dengan

 

gerak udara, sehingga tidak perlu tenaga

listrik,” paparnya serius.

Ide membuat pintu panel geser dari logam

dengan sistem elektrik juga sudah menari-nari

dalam benak Uwoh. Dengan rancangannya ini, si

pemilik rumah tinggal menekan remote control,

maka ruangan akan terbuka dan tertutup

sendiri. Komponen bangunan ini akan sangat

berguna untuk ruangan multifungsi, seperti

tempat praktik dokter.

Uwoh juga telah merancang pintu panel

logam yang menggunakan programmable logic

control (PLC) dan memiliki personal

 

identification number (PIN). Jadi, pemilik rumah bisa

membuka dan menutup pintu dari mana saja.

Pintu ini diperkirakan bernilai Rp 100-200 juta.

Untuk inovasinya ini, Uwoh membidik kelas

menengah ke atas. Ia yakin pemilik rumah

 

seharga miliaran rupiah akan membutuhkan

pintu PIN untuk menyelamatkan aset, bukan

hanya sekadar mengandalkan satpam. “Saya

sudah ciptakan ke sana, mudah—mudahan bisa

terwujud. Alhamdulillah jika bisa mewujudkan

suatu barang dan bermanfaat bagi banyak

orang,” kata Uwoh yang memiliki omzet Rp 12

miliar per tahun untuk masing-masing perusahaan

 

yang dikelolanya. Kekuatan inovasi jugalah yang

 

membuat Uwoh tangguh dalam menghadapi persaingan.

Kompetisi bukan hanya pada kualitas, tetapi

 

juga harga. Tahun 2000 Uwoh menciptakan

batako yang cara kerjanya seperti mainan lego,

dengan fungsi yang jauh lebih bagus dari bata

merah. Ini dilakukannya setelah melihat lamanya

 

proses pengerjaan bata merah. Produk batako ini

 

sudah ada permintaan, namun karena

kewalahan, ia mengalihkan ke rekanan lain. Ia

cukup membuatkan mesin untuk menghasilkan

10 jenis batako tersebut.

Inovasi di luar logam juga ada di dalam benak

 

Uwoh, yakni memanfaatkan pohon kelapa

untuk dijadikan lantai. Daun dan rumput juga

 

bisa dijadikan material dan bahan baku, seperti

halnya serbuk kayu gergaji menjadi partikel

board untuk lemari. Demikian juga dengan pohon

 

pisang yang jumlahnya berlimpah ruah,

mudah ditanam, dan cepat tumbuh di Indonesia,

 

untuk bahan pembuat dinding. Ampas

pohon pisang dijadikan bahan material dinding,

 

sedangkan airnya dijadikan lem. Kelebihan dinding

 

jenis ini adalah bisa dipasang

knockdown dan kedua sisinya bisa diberi motif

berbeda dengan wallpaper berbahan vinyl. Dengan

 

dinding seperti ini, rumah bisa dibuat loose

saja. Jika pemilik rumah merasa bosan, dinding

bisa diubah-ubah posisinya maupun motifnya.

“Pohon pisang memang lembek dan basah

kalau belum diolah. Tetapi setelah di-press

bahan ini akan menjadi padat. Setelah dipanasi

dengan suhu 300 derajat akan menjadi keras.

Bahan yang tadinya setebal 10 sentimeter di

padatkan hingga 1 sentimeter kan menjadi keras,”

 

urai Uwoh.

Uwoh meyakini produk ini bisa menjadi alternatif

 

dinding beton yang cukup kuat. Namun

bahan material dari pepohonan tidak bisa

dijadikan pintu karena sifat pintu yang dibuka

tutup, sedangkan dinding tidak. Uwoh berharap

dinding berbahan material pohon tidak keburu

diolah orang lain.

 

Dengan inovasi, hidup menjadi lebih hemat.

Caranya dengan menciptakan produk semudah mungkin,

 

sebagus mungkin, dan semurah mungkin, tanpa

 

mengesampingkan fungsi utamanya. Bahkan, ia

 

tidak pernah puas dengan inovasi yang sudah

 

dilakukan. Targetnya, setiap

tahun harus menciptakan inovasi produk, atau

minimal modifikasi. Menurutnya, setelah sesuatu

 

menjadi produk justru bisa meraih keuntungan besar.

MENGEMBANGKAN USAHA

Menyadari bahwa usahanya maju pesat, Uwoh

pun meminjam uang Rp 2 miliar dari bank bjb

untuk CV Sumirah Teknik pada tahun 2008.

Berkat pinjaman tersebut, Uwoh sekarang sanggup

 

membuat 300 pintu panel hanya dalam

sehari, yang dikerjakan oleh 40 orang pegawai.

Ini jauh lebih cepat dibandingkan dengan

pengerjaan sebuah pintu kayu, yaitu 2-3 hari

oleh 1 orang.

 

Dalam usahanya ini, Uwoh yang hanya berlatar

 

belakang pendidikan setara SMA melibatkan

 

istrinya untuk mengurus bagian administrasi

 

dan keuangan. Ia juga mengarahkan

anak sulungnya yang sudah kuliah untuk

 

menangani manajemen, sebagai jembatan untuk

melanjutkan usahanya kelak. Meski melibatkan

keluarga, hingga saat ini ia tidak melihat kendala,

 

perselisihan, apalagi kecemburuan dalam

mengembangkan usahanya.

Uwoh juga mempekerjakan orang-orang sekitar.

 

Kriteria utamanya adalah baik, jujur, dan

mau bekerja. “Lebih baik tetangga daripada

orang lain, karena saya sudah kenal. Saya, sih,

lihat kepribadiannya. Yang penting baik dan

mau bekerja itu sudah cukup,” ujarnya.

Meskipun persaingan dengan bisnis yang

sama di daerahnya tidak terlalu keras, tak

urung pembajakan karyawan terjadi juga. Total

jumlah karyawan yang dibajak saingan-saingan

usahanya hingga saat ini bisa mencapai l00

orang. Tentu saja karyawan Uwoh merupakan

sasaran empuk pembajakan karena Uwoh konsisten

 

meningkatkan keterampilan mereka. Selain turun

 

tangan mengajari sendiri, Uwoh juga

bekerja sama dengan institusi pemerintah agar

karyawannya mendapatkan pelatihan teknis.

Kini, Uwoh memiliki 30 orang karyawan

tetap dan 10 orang pegawai honorer. Untuk

 

memudahkan alur pekerjaan, Uwoh menspesifikkan

 

pengerjaan produksi. CV Sumirah

Teknik yang namanya diambil dari nama istrinya,

 

Sumirah, mendapat jatah mengerjakan

panel pintu, kusen, dan genteng. Sedangkan CV

Rhodas menangani permesinan, rangka atap

dan baja ringan, dan kompor. Semua pengerjaan

menggunakan bahan baku logam yang diperoleh

dari distributor perusahaan baja besar di

Indonesia secara inden selama 1 bulan.

Dengan bantuan mesin, produk yang dihasilkan

tetap simetris dan memiliki presisi yang stabil.

Jadi, untuk membuat 1 unit bahkan 1.000 unit pun

hasilnya akan sama karena menggunakan cetakan.

Produk logam pun bisa memiliki bermacam warna

tergantung selera, bahkan 1 produk bisa dibuat 10

warna. Inilah keunggulan lainnya dibandingkan

panel pintu dan kayu.

 

MANAJEMEN USAHA

Meski perjalanan usahanya terhitung lancar,

Uwoh juga pernah mengalami masa surut pada

2010 yang—menurutnya dipicu ketidakstabilan

pemerintah, daya beli pasar, dan persaingan

yang sengit. Tapi, hal ini juga dialami oleh semua

pesaingnya. Untungnya, Uwoh tidak sampai

gulung tikar karena memiliki inovasi yang bisa

diterima pasar dan sulit ditiru.

Selain itu, ia juga pernah menjadi unit

sebuah perusahaan besar. Dengan metode bisnis

ini, ia baru menerima pembayaran setelah 3

bulan. Selanjutnya masih diberikan giro selama

1 bulan, jadi totalnya membutuhkan waktu 4

bulan untuk menerima pembayaran. Menurut

perhitungan Uwoh, keuntungan sebesar 10 persen

 

bisa lenyap kalau dihitung dengan bunga.

“Keuntungan 5 persen dengan pembayaran 4

 

bulan itu sudah minus. Bisnis tidak mungkin

bisa berkembang,” ujarnya. Itu sebabnya Uwoh

tidak ingin lagi menjadi sub perusahaan besar.

Menurut pengalamannya, bukan perusahaan

besar yang membantu perusahaan kecil, tapi

malah sebaliknya.

Tentu saja, Uwoh memiliki mimpi agar usahanya

menjadi besar. Untuk mewujudkan impiannya itu,

Uwoh melakukan berbagai persiapan. “Setelah

Lebaran 2011 ini saya bergabung dengan beberapa

teman yang ingin menjadi distributor produk saya

di beberapa daerah. Untuk produksinya tetap di

saya, mereka hanya marketing atau distributor

saja,” tutur Uwoh.

Perluasan pasar juga dilakukan Uwoh dengan

 

membuka kantor cabang di beberapa

daerah. Targetnya adalah Bandung, Tangerang,

Jambi, Jakarta. Dalam angannya, 5-10 tahun

ke depan ia telah memiliki kantor cabang atau

distributor di setiap daerah. Selain itu, ia juga

 

ingin memiliki lebih dari satu pabrik.

Saat ini Uwoh masih menjalankan perusahaannya

 

mengikuti intuisinya semata dan belum

membangun sistem, baik dalam manajemen

keuangan, rekrutmen, sumber daya manusia,

produksi, maupun pemasaran. “Ada mungkin

pada saat produksi naik karena kantor cabang

banyak, pasti saya akan membuat sistem, termasuk

 

manajemen keuangan, merekrut karyawan, atau

 

dalam bidang marketing,” kata Uwoh.

Di masa depan Uwoh ingin memiliki cabang

yang asetnya 30% dimiliki oleh keluarga dan

70% dimiliki oleh orang lain. “Usaha ini muncul

dari keinginan sendiri, dari kemauan dengan

tekad. Saya ini cuma ingin maju atas nama

daerah. Mudah-mudahan bisa berkembang

untuk orang banyak. Insya Allah usaha ini

membuat tempat yang gelap bisa jadi terang, di

tempat yang terang bisa menjadikan cahaya,”

demikian Uwoh mengakhiri pembicaraan.

 

Catatan Rhenald Kasali

SALAH SATU KELEMAHAN UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) dan

 

kewirausahaan Indonesia adalah selalu dimulai pada inovasi produk dan

 

berhenti pada produksi. Tanpa inovasi usaha dan membangun sistem, usaha

 

akan berakhir di tangan inovator atau satu generasi di bawahnya. Oleh

 

karena itu inovasi produk harus diikuti dengan sistem dan manajemën usäha

 

yang modern.

Meski demikian, tidak dengan serta merta suatu usaba langsung diawali

 

dengan manajemen modern. Bahkan tidak jarang saya menemukan sebuah usaha

 

yang tidak memiliki visi—misi tertulis meski sudah hidup lebih dari 20

tahun, Namun perusahaan ini memiliki sistem rutin yang balk dan profesional

 

setelah melewati sekitar 4-6 tahun perjalanan usaha.

Dalam 4 tahun pertama seorang wirausahawan akan sibuk membuat mimpinya

 

menjadi kenyataan. Fokusnya adalah pada survival yaitu membuat usahanya

 

hidup ia harus merawat ‘bayi’ basil kandungannya dengan memberi susu

 

memandikan, mengajaknya berbicara, mengajarkan makan, dan berjalan serta

 

membawa ke dokter bila ia demam dan memberikan imunisasi.

Jadi empat tahun pertama adalah masa yang vital, karena usaha baru itu

 

rentan kematian. Usaha harus dijaga siang-malam agar tetap hidup. Usaha

 

memerlukan kepastian pendapatan dan kelancaran arus cash. Setelah urusan

cash lancar dan menjadi rutin, ibarat seorang anak, ia pun harus

 

disekolahkan. Itulah saatnya Anda memberikan sìstem dengan manajemen yang

 

tertata baik.

Akan halnya inovasi yäng dijalannya Uwoh, tentu saja tetap sama.

 

Ia membutuhkan inovasi dan sistem. Tanpa sistem, usahanya akan berakhìr di

 

tangannya atau satu generasi di bawahnya. Itu sebabnya ia membutuhkan

manajemen yang balk saat ini.

 

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Ujang Sasmita, Tamatan STM yang Kini Sukses Bisnis Timah dengan Omzet Hingga Rp 300 juta per Minggu

Ujang Sasmita, Bisnis Timah Tanpa Kredit Macet

 

Membeli dan menjual dengan tunai,

itulah rahasia keberhasilan bisnis

timahnya hingga bero1eh omzet hingga

Rp 300 juta per minggu. Padahal,

di awal ia justru harus bergulat

membayar utang yang ditinggalkan

usaha ayahnya.

 

 

EMPAT buah mobil pribadi dan sebuah truk

di garasi rumahnya menjadi salah satu bukti

 

keberhasilannya menjalani bisnis ini.

 

Di masa kecilnya, Ujang Sasmita ikut

 

mengerjakan pesanan timah dari bisnis

 

ayahnya hingga mengantar barang dari

 

desanya di Cisaat, Sukabumi ke Jakarta.

Setelah menyelesaikan Sekolah Teknik

 

Menengah (STM, sekarang namanya menjadi

SMK-Sekolah Menengah Kejuruan) tahun 1979,

 

ia hanya sempat menjalani kuliah selama

 

satu tahun. Sebagai anak tertua, Ujang

 

mengalah demi adik-adiknya yang berjumlah

10 orang. Mundur dari bangku kuliah, Ujang

 

langsung terjun membantu usaha ayahnya.

 

“Toh, kuliah nanti ujung-ujungnya cari duit

juga,” cetus Ujang yang tak pernah terpikir ingin

menjadi pegawai seperti kebanyakan orang.

Usaha timah keluarganya belum juga terbilang

 

sukses. Malah pada tahun 2000, usaha

itu terlilit utang yang cukup besar. Ujang pula

yang harus menanggungnya. Dalam waktu

4 bulan, dia berhasil melunasi utang usaha

ayahnya. Namun, kejadian ini membuat Ujang

mulai berpikir untuk membuat usaha sendiri,

memisahkan diri dari bisnis keluarga. Apalagi

dia pun sudah memiliki keluarga sendiri.

Penghasilan Rp 10 ribu per hari dari menjalani

usaha timah dengan ayahnya dirasa tidak cukup

untuk menghidupi keluarga.

Kesulitan yang sering dialami ayahnya

hingga terlilit utang menjadi pelajaran yang

amat berharga. Dia tidak menerapkan cara

yang pernah dilakukan ayahnya dulu. Uang

pemasukan yang seharusnya diputar kembali

untuk usaha, malah dipakai untuk kebutuhan

keluarga, sehingga yang terjadi adalah besar

pengeluaran ketimbang pemasukan. Namun dia

 

mengerti, saat itu ayahnya tidak bisa berbuat

banyak, mengingat anaknya cukup banyak.

Dengan pinjaman dari bank bjb, Ujang

memutar uangnya untuk membayar utang,

menambah modal, juga membiayai kebutuhan

keluarganya. Dengan kegigihannya, Ujang

 

berhasil memiliki rumah yang layak tahun 2008,

yang ditinggali bersama istri dan 3 putranya.

Bahkan tahun 2010, Ujang bersama sang istri

bisa beribadah haji ke Tanah Suci.

MEMBUAT BISNIS SENDRI

Kegigihan Ujang menyelesaikan utang ayahnya

Itulah yang menarik minat bank bjb memberikan

pinjaman awal Rp 17 juta pada tahun 2002 untuk

membuka usahanya sendiri. Ujang mendapat

waktu setahun untuk melunasi utang berikut

bunganya. Dengan modal pengalaman bekerja

dengan ayahnya dan pinjaman dari bank bjb,

mulailah Ujang membuka usaha timah yang

diberi nama Agung Sejahtera.

Awal tahun 2002, Ujang menerima order

bandul pemberat alat pancing dari seorang

 

distributor di Pasar Ikan, Jakarta. Distributor

ini pun menjadi tempat pemasaran utama

batu alat pancing Ujang. Distributor tersebut

meminta Ujang eksklusif menjual hanya kepadanya,

 

dan selanjutnya distributor tersebut yang

mengedarkan ke agen atau toko, baik di Jakarta,

Pulau Jawa, hingga ke daerah-daerah di Pulau

Sumatera dan Kalimantan.

Setiap minggu Ujang mengirim 10 ton timah

untuk menyuplai distributor itu. Namun selain ke

 

Pasar Ikan, Ujang juga menyuplai pesanan dari

Glodok dan beberapa pusat pertokoan. “Cuma

yang paling continue adalah timah bandulan

buat kebutuhan nelayan ke laut, yang nerimanya

itu grosir,” kisahnya. Tapi Ujang sudah membuat

patokan, melayani 3 tempat saja sudah cukup.

 

“Segitu juga saya sudah kenyang,” cetusnÿa.

Dalam seminggu dia minimal mengantongi Rp

150 juta untuk penjualan batu alat pancing.

Pada tahun pertamanya, Ujang mendulang

sukses. Order untuk membuat bandul timah alat

pancing sangat banyak. Dalam seminggu, ia bisa

membeli 15 ton timah, yang kemudian diolahnya

menjadi barang sesuai keinginan pemesan.

Utangnya pun bisa dilunasi tepat waktu, hingga

pinjaman terus dikucurkan oleh bank bjb.

 

Pinjamannya meningkat menjadi Rp 35 juta,

 

kemudian naik menjadi Rp 75 juta, dan tahun 2011

Ujang beroleh pinjaman hingga Rp 300 juta.

Ujang memulai usahanya dengan bekerja

sendiri. Mulai dari menerima order, melakukan

pencetakan, hingga memasarkannya. Pengalaman

 

bekerja dengan bapaknya menjadi modal

penting, sehingga dia tahu semua ‘jeroan’ bisnis

timah ini.

THE STOCK IS READY!

Namun, bandul pemberat alat pancing bukan

satu-satunya produk yang dihasilkan dari usaha

timah Ujang. Dia juga menerima order apa pun,

sesuai yang diinginkan pemesan. Misalnya

saja, dia pernah menerima pesanan timah segel

listrik dari PLN ketika terjadi gempa Padang

yang menghancurkan instalasi listrik di sana.

 

Dan, kebutuhan tersebut hanya dapat dipenuhi

dengan cepat dari Ujang.

Rupanya Ujang memiliki kelebihan dari

perajin timah lainnya, yakni selalu menyediakan

stok timah. Ketika order datang, Ujang tidak

perlu lagi mencari-cari bahan. Dan dalam waktu

2 bulan, order tersebut segera dikirim ke PLN di

Sunter. Dari situ, Ujang mendapat omzet Rp 700

juta. “Waktu itu saya punya 25 ton timah keluar

semua. Uang pun langsung dapat,” ujar pria

berusia 53 tahun ini dengan senang.

Untuk mendapatkan bahan baku timah, Ujang

tidak pernah mengalami kesulitan. Pasalnya,

Ujang tidak hanya memegang satu supplier

saja. Ada 3 penyuplai timah yang menjadi

supplier-nya, yakni dari daerah Cinangeng

Bogor, Tangerang, dan Buah Batu-Bandung.

Ketiga supplier ini didapatnya berdasarkan

pengalaman sewaktu bekerja dengan ayahnya,

juga informasi dari sesama perajin timah.

Harga yang didapatnya dari ketiga supplier

ini pun cukup kompetitif. Jika harga pasar Rp 22

ribu, Ujang bisa mendapatkannya dengan harga

Rp19.500. Paling tinggi seharga Rp19.750. Namun

untuk mendapatkan harga yang ‘manis’ itu, sistem

pembayaran yang dilakukan Ujang juga harus

‘manis’: ia tidak pernah berutang. Bahkan, Ujang

berusaha untuk selalu membayar di muka.

 

“Saya main di uang, bukannya sombong,

ya. Tapi saya lebih suka sistem cash untuk

bayar, bukan sistem bon. Jadi dia punya

barang, saya punya uang. Kalau main timah

kita secara bon harganya bisa beda, walaupun

jeda pembayarannya cuma seminggu. Makanya

saya selalu bayar tunai. Ada perbedaan Rp300—

Rp400 saja, kalau saya bayarnya cash, harga bisa

ditekan,” terang Ujang yang bisa mendapatkan

keuntungan dari selisih harga bahan baku Rp

1 juta untuk setiap 4 ton baku timah. Dia juga

 

menyebut hal ini sebagai salah satu rahasia

usahanya, dibandingkan dengan perajin timah

lainnya.

Khusus untuk bandul pemberat alat pancing,

Ujang bisa memproduksi hingga berbagai bentuk

dan ukuran. Menurut catatannya, ada sekitar

l00 jenis bandul, mulai dari bandul sebesar

pentol korek api hingga seberat 1 kilogram.

Setiap jenis harus memiliki matres atau cetakan

masing-masing.

Untuk mendapatkan cetakan ini, Ujang harus

merogoh kocek yang tidak sedikit. Dia harus

 

membayar setidaknya Rp 1 juta untuk satu cetakan.

Sementara untuk 1 ukuran bandul saja, Ujang

harus memiliki antara 7 hingga 10 cetakan. Bisa

dibayangkan, berapa dana tunai yang harus

 

dikeluarkan untuk itu. Cetakan tersebut memang

wajib dimiliki karena akan mempermudah,

 

mempercepat pembuatan, juga menghasilkan ukuran

barang yang tepat sesuai pesanan.

“Tapi, saya membelinya secara bertahap.

Begitu ada uang, beli matres. Enggak langsung

semua, saya bisa babak belur,” kelakarnya.

Investasi Ujang di matres memang tidak main-

main. Menurut catatannya, ada yang dibeli

dengan harga Rp 1 miliar. Setelah empat tahun,

barulah ia memiliki seluruh matres yang di

perlukan.

 

Meskipun sederhana, matres adalah salah satu

bentuk teknologi yang mempermudah usahanya.

Karena itu Ujang tak segan mengeluarkan uang.

Demikian pula ia terus menambah teknologi

untuk mendukung produksinya, salah satunya

dengan membeli mesin injection baru. Ia pun

merasa tidak mengalami kesulitan yang berarti

dengan teknologi yang semakin canggih.

SIMBIOSIS MUTUALISME

Bisnis pada dasarnya merupakan pertukaran

yang sama-sama menguntungkan. Ujang

 

mengikuti hal ini. Ia hanya akan membuat barang

 

berdasarkan pesanan pelanggan. “Dalam hal produk,

sih, saya bukannya sombong. Selama ini setiap

ada pesanan, apa pun bentuk dan modelnya, saya

bisa mengerjakannya sendiri tanpa bantuan siapa

pun,” ujar Ujang. Yang penting baginya adalah

mengikuti keinginan pasar.

Ujang juga amat pintar menyenangkan para

langganannya. Apa pun pesanan distributor,

dia bisa membuat dengan hasil bagus dan

memuaskan. Selain itu dia tidak pernah ingkar

janji soal waktu. Jika dijanjikan barangnya

selesai dalam 3 hari, maka dalam 3 hari itu pun

barang sudah dikirim. Baginya, permintaan

pelanggan, baik berupa bentuk maupun waktu,

merupakan tantangan yang harus diatasinya.

 

Dan untungnya, dia tidak pernah mendapatkan

kendala yang berarti. “Kalau sampai membuat

pelanggan kecewa, saya bakalan enggak jualan

timah lagi, jualan pisang saja,” ujarnya serius.

Karena itu, soal ketepatan waktu dan janji amat

dipegangnya.

Hal itu juga berlaku pada janjinya kepada

distributor di Pasar Ikan bahwa Ujang tidak

menyuplai ke agen-agen atau toko-toko kecil.

Ujang sudah merasa sangat cukup hanya dengan

mendapat order dari distributor tersebut.

Namun, ada pula imbal balik yang dimintanya

dari distributor tersebut: Pembayaran dilakukan

 

secara tunai, tidak utang. Dengan cara demikian

uang yang diputar kembali untuk bisnisnya

berjalan dengan lancar dan risikonya dimitigasi

menjadi nol. “Saya membeli timah dari supplier

secara tunai, menjual pun harus dibayar tunai,”

tandasnya.

Untuk sistem pembayaran, Ujang lebih memilih

 

mentransfer dana. “Jarang saya kasihkan

uang, misalnya l00 juta, ya main transfer aja.

Paling cuma kasih Rp 20 juta sampai Rp 30

juta tunainya,” terang Ujang, yang menilai

pembayaran dengan cash amat memperlancar

usahanya, sehingga tidak ada ‘kredit macet’.

 

Ujang berkeyakinan, usahanya tidak akan

mati. Apalagi suplai timah diyakininya akan

terus ada. Selain itu, banyak pula produk

yang membutuhkan timah, seperti aki mobil.

Jadi, selama mobil terus diproduksi, maka

kebutuhan akan timah pun terus ada. Apalagi,

dari pengalamannya selama ini, dalam bisnis

timah tidak ada yang terbuang sia-sia. Bahkan

ampas atau abu timah buangan produksi pun

bisa laku dijual. Dalam sebulan, hasil penjualan

abu timah ini saja mencapai Rp 15 juta hingga

Rp 16 juta.

Akan halnya keberadaan perajin timah lain,

bagi Ujang hal itu dapat menyehatkan usahanya.

Pasalnya, ia jadi bisa mempelajari perbedaan

 

pengelolaan usaha timah. Misalnya, salah satu

perajin timah di Jakarta yang bahan bakunya

menggunakan timah bekas atau timah rongsok.

Sementara, Ujang cenderung memanfaatkan timah

 

batangan atau timah bekas aki yang bobotnya

 

berkisar 22-35 kilogram per batang.

“Saya memutuskan untuk berani berspekulasi

di bahan baku. Mahal sedikit, enggak masalah.

Makanya saya punya stok timah dari aki

batangan cukup banyak,” terang Ujang, “Orang

lain mah ngandalin timah-timah yang bekas,

rongsok. Kan, itu terbatas. Kalau timah dari

aki ngecor banyak yang punya, asal kita berani

bayar harga, ikutin pasar, banyak barangnya.”

Ketidakterbatasan bahan baku itu membuat

 

usaha Ujang terus maju. Dia tidak pernah sepi

order karena bahan baku pun selalu ada, ready

stock, tanpa bingung mencari terlebih dulu jika

ada order.

Untuk memenuhi pesanan, saat ini Ujang

mempekerjakan 16 orang, plus seorang mandor.

Ujang berupaya memberdayakan tenaga kerja

yang tinggal di wilayah sekitarnya, yakni para

 

tetangga. “Biasanya sih keluarga saya yang

 

merekomendasikan. Kalau orangnya jujur dan baik,

biasanya saya terima,” ujarnya. Bagi Ujang, cara

ini akan membantu menyejahterakan tetangga-

tetangganya. Selain itu, banyak keuntungan

yang didapatnya. Misalnya saja, jika mendapat

pesanan mendadak, para karyawannya bisa

segera datang.

Jika ada tetangga yang berminat bekerja di

tempatnya, Ujang akan langsung menyuruh

mereka praktik. Jika hasilnya bagus, mereka akan

langsung direkrut dan selanjutnya mendapatkan

bimbingan langsung darinya. Setelah mahir akan

langsung diterjunkan untuk produksi. Ujang

tetap memberikan pelatihan langsung, hingga

 

semua karyawannya mahir mengerjakan

semua tahap produksi. Ia tidak mau proses

produksi terganggu karena ketergantungan pada

karyawan-karyawan tertentu saja.

 

Mengingat mereka memiliki keahlian sama

dan harus bisa melakukan semua tahapan

produksi, Ujang menggaji karyawannya dengan

nilai yang sama rata. Pembayaran biasanya

dilakukan setiap minggu, tapi bagi yang sudah

berkeluarga, “Mereka dibayar per bulan, supaya

uangnya enggak langsung habis,” kelakarnya.

Urusan karyawan yang dibajak juga pernah

dialami Ujang. Namun dia tidak terlalu khawatir

dengan persoalan itu, sebab biasanya mereka

kembali ke tempatnya lagi karena merasa tidak

cocok dengan si pembajak. Bagi Ujang, semua itu

ada hikmahnya. Demikian pula dengan usaha

ayahnya yang kini dipegang oleh sang Adik.

Ujang tidak menganggapnya sebagai pesaing,

justru masih sering memberikan bantuan stok

kepada adiknya.

Demi mendapatkan barang sesuai dengan yang

diinginkan pemesan, Ujang selalu mengawasi

 

pekerjaan anak buahnya. Untuk hal ini dia di

bantu salah satu kerabatnya yang dikenal jujur.

Dengan pengalamannya mengerjakan pesanan

sendiri, Ujang tahu mana barang yang tidak layak

atau sesuai dengan keinginan pelanggan. Kalau

sudah begitu, tak ayal lagi Ujang lebih memilih

untuk membuat ulang pesanan itu.

BERSIAP UNTUK ESTAFET

Ujang sudah mulai menurunkan ilmu bisnisnya

kepada anak tertuanya yang kini sudah berusia

26 tahun. Dia melihat potensi besar putra

sulungnya itu, terutama ketika Ujang berangkat

haji dan menyerahkan cek Rp l00 juta, uang

tunai Rp 150 juta, dan stok timah 40 ton. Selama

40 han Ujang beribadah, si sulung berhasil

mengolah ‘modal’ tersebut hingga mendapatkan

omzet Rp 1 miliar dan untung sekitar Rp 300

juta.

 

“Saya audit lagi, stok timah malah nambah.

Saya pikir, anak ini jujur. Yang saya kagum, selain

tenang beribadah, ternyata pembukuannya juga

beres,” ujarnya bangga. Belum lagi dari penjualan

abu timah, putra sulungnya itu mendapatkan Rp

12,8juta.  Ujang berencana menurunkan usahanya

ini kepada putra-putranya. Dia menggembleng

langsung Dede dan Heri untuk terjun ke bisnis ini,

juga mendukung anaknya yang sedang menjajaki

perluasan usaha di Kebumen, Jawa Tengah.

Nantinya, Ujang berharap anak-anaknya dapat

mengelola usahanya secara lebih profesional,

 

sebab hingga saat ini Ujang menjalankannya

 

hanya bermodalkan intuisi semata. Urusan

 

manajemennya pun masih ditanganinya sendiri.

 

Jika putra-putranya sudah mumpuni, Ujang berniat

melebarkan sayap membuka cabang di Pulau

Sumatera karena cukup banyak bisnis timah di

daerah tersebut yang menginduk ke tempat Ujang.

Selain perluasan bisnis, Ujang berencana

 

memproduksi timah plat yang saat ini sedang

dibuat cetakannya. Timah plat yang berbentuk

seperti kertas timah di bungkus rokok ini juga

ditujukan untuk mempermudah para nelayan

sehingga tidak perlu menggunakan bandul

pemberat alat pancing lagi. Timah plat cukup

dilipat-lipat saja untuk kemudian dipasangkan

di mata pancing sebagai pemberat.

Menurut perhitungannya, dari satu kilogram

timah akan didapatkan sekitar 12 lembar timah

plat berukuran 20 x 20 cm. Harganya sekitar

Rp 40 ribu, jauh lebih mahal ketimbang bandul

pemberat yang dijualnya di kisaran Rp 26 ribu

hingga Rp 27 ribu. “Hanya saja saat ini saya

 

sedang proses bikin matresnya dulu untuk nipisin

timahnya,” ujarnya, yang berharap tahun ini

mesin tersebut sudah siap digunakan.

Pasalnya, timah plat ini sudah banyak yang

memesan, sehingga lambatnya pembuatan mesin

 

membuat Ujang agak kelabakan. Padahal,

Ujang amat enggan membuat pelanggannya

kecewa karena terlalu lama menunggu. Itu

bertentangan dengan kunci sukses usahanya.

“Kalau janji mesti tepat, itu termasuk kunci

sukses,” tegasnya di akhir pertemuan.

 

Catatan Rhenald Kasali

KESULITAN YANG DIALAMI orangtua tidak selalu diturunkan kepada anak-anaknya

 

dalam bentuk kesulitan-kesulitan baru. Anak-anak yang menyaksikan kesedihan

 

dapat berontak, dan satu di antara mereka akan memberikan ‘perlawanan

 

positif’. Dendam. Anak itu tidak mengambil sisi yang negatif melainkan

 

berikrar. “Jlka aku sudah dewasa akan kubuat anak-anakku tersenyum.

 

Aku pedih merasakannya, melihat orang bolak-balik menagih utang dengan

 

penuh ancaman. Melihat Ayah tak bisa berkata apa-apa. Pedih merasa putus

 

asa, tidak ada makanan di meja makan. Pedih melihat ibu menangis melindungi

 

anak-anaknya.”

Anak itu bergerak dan mempelajari apa yang harus dihindarkan kalau ingin

 

lebih berhasil dari ayahnya. Ilmu itu adalah sebuah refleksi yang

 

menghasilkan ilmu mitigasi risiko, yaitu mengurangi segala resiko yang akan

 

berujung pada kebangkrutan. Saya bertemu beberapa usahawan muda yang

 

dulunya, kecílnya mengalami masa-masa sulit seperti yang dialami Ujang.

Dari situlah mereka belajar mengambil celah, membayar tunai—mendapatkan

 

marjin lebih besar dengan menciptakan keunggulan-keunggulan, merekrut

 

pegawai bukan berdasarkan kecerdasan melainkan kejujuran, dan menuntut

 

pembayaran tunai. Bisnis, selain ada untung-rugi, selalu ada risiko-

 

risikonya. Maka hadapilah, atasilah, bertarunglah, dan buatlah mekanisme

 

untuk mengatasìnya.

Pertama, jangan mendiamkan. Bisnis menjadi rusak karena Anda diamkan. Kalau

 

sudah turun, bisnis akan turun terus kalau Anda diamkan. Maka carilah

 

langkah-langkah baru. Yang jelas jangan didiamkan. Kedua, cari cara-cara

 

baru. Hampir mustahil Anda mendapatkan hasil yang berbeda kalau cara yang

 

Anda tempuh sama dengan yang dilakukan generasi pendahulu Anda. Cara yang

 

ditempuh para pendahulu adalah cara yang oocok dilakukan kala tak ada

 

persaingan, dengan selera pasar yang masih sederhana. Oleh karena zaman

 

yang Anda hadapi berbada, maka gunakanlah cara berbeda.

Ketiga, latihlah diri Anda membaca hal-hal yang kasat mata namun tak

 

terlihat oleh banyak orang. Caranya, bangun kepedulian. Hanya orang-orang

 

yang peduli menjadi manusia yang sensitif terhadap suara-suara alam.

Dengarkanlah gejolak-gejolak suara alam yang keluar dari mulut dan gerakan

 

tubuh manusia. Niscaya dari situ Anda akan mengenali kebutuhan-kebutuhan

 

mereka dan mengenal perubahan-perubahan yang terjadi. Hanya manusia yang

 

cepat menangkap gejolak-gejolak perubahan itulah yang adaptif dan mampu

 

membaca peluang.

 

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Markus, Anak Tukang Gado- gado yang Juragan Pabrik Komponen Otomotif dan Telekomunikasi

Kemauan untuk belajar dan total
memanfaatkan kesempatan menjadi
kunci kesuksesan Markus Maturo
dalam menjalankan bisnis.
Mengawali karier dari nol sebagai
seorang salesman , kini Markus
telah menjadi juragan enam pabrik.
Mengalir bak air di sungai. Itu
gambaran perjalanan karier Markus
Maturo, pemilik Adyawinsa Group.

Meski tidak pernah bermimpi
menjadi pengusaha, ternyata, saat
ini dia sukses berbisnis dengan
memiliki sedikitnya enam pabrik.
Lewat bendera Adyawinsa Group,

Markus mengelola usaha di bidang
otomotif dan nonotomotif. Di
bidang otomotif, dia memiliki
empat pabrik, yakni dua pabrik
stamping bernama PT Adyawinsa
Dinamika Karawang dan PT
Adyawinsa Stamping Industries,
satu pabrik pengolahan plastik
bernama PT Adyawinsa Plastic
Industries Karawang, dan satu
pabrik interior mobil Adyawinsa
New World Autoliner yang
beroperasi di Thailand.

Di luar otomotif, Markus memiliki
dua pabrik. Satu pabrik bergerak di
bidang telekomunikasi bernama PT
Adyawinsa Telecommunication &
Electrical dan satu pabrik di bidang
solar panel bernama PT Adyawinsa
Electrica & Power.
Sedikitnya, ada 65 perusahaan yang
sudah bermitra dengan Adyawinsa
Group. Antara lain Suzuki, Daihatsu,
General Motor Indonesia,
Mitsubishi, Toyota, Meiwa
Indonesia, Sharp, Philips,Toshiba,
Panasonic, Telkom Indonesia,
Spinner, Indosat, Ericsson, Huawei,
dan SCS Agit.

Melihat luasnya bidang usaha
Adyawinsa Group, mungkin Anda
mengira ini kelompok usaha milik
keluarga konglomerat. Salah.
Adyawinsa Group bukan warisan
keluarga. Markus sendiri yang
membangun grup usaha ini dari
nol. Selulus dari Akademi Teknik
Mesin Indonesia (ATMI) Solo, Jawa
Tengah, pada 1991, dia bekerja
sebagai kepala proyek di
perusahaan konstruksi. “Orang tua
mau membiayai saya kalau saya
kuliah di ATMI,” kata anak penjual
gado-gado ini.

Markus hanya bekerja di Solo
selama enam bulan. Sebab, ia
diminta untuk bergabung di
perusahaan sang kakak bernama PT
Enceha Pacific yang saat itu
bergerak di bidang perdagangan
epoxy tooling. “Saya jadi tenaga
penjual,” kenangnya.
Selama menjadi salesman, Markus
sering berinteraksi dengan
perusahaan komponen otomotif.

Hingga pada suatu hari, dia
bertandang ke satu pelanggan:
Inoac Indonesia, perusahaan yang
memproduksi jok dan interior
mobil. “Engineer Inoac sedang
pusing saat itu karena komponen
stay headrest pesanan Toyota
banyak yang direjek,” tutur suami
dari Ariyanti Koswara ini.
Inoac pun menawari Markus
memproduksi komponen tersebut.
Karena merasa tidak memiliki
peralatan produksi, ia menanyakan
alamat pemasok stay headrest
yang ada di Tangerang dan Cibubur.

“Saya pun membeli 10 biji di
Cibubur,” kenang lelaki kelahiran
Kroya, Jawa Tengah, 2 Maret 1970
ini.
Hanya mengamplas
Komponen yang Markus beli
memang seret ketika dimasukkan ke
stoper. Dia pun berinisiatif untuk
mengampelasnya. “Mereka puas.
Order pun ditambah menjadi 100
biji. Saya masih ampelas sendiri.
Hingga akhirnya, mereka pre-order
hingga 1.000 biji,” katanya. Markus
lantas merekrut pengangguran di
sekeliling rumahnya. Sembari
memenuhi order, dia tetap bekerja
di perusahaan sang kakak.

Ketika order meningkat hingga
10.000 biji, mau tidak mau, Markus
harus meningkatkan produksi.
Tahun 1994, bermodal Rp 25,7
juta, dia membeli beberapa mesin
pres dan mesin bubut. “Karena
sudah ada karyawan, saya keluar
dari pekerjaan sebagai sales,” kata
Markus yang memulai usahanya di
garasi berukuran 120 meter persegi
(m²) milik sang kakak.

Tahun 1995, Mitsubishi memesan
beberapa komponen untuk mobil
keluaran baru mereka, yaitu
Mitsubishi Kuda. “Awalnya mereka
ragu dengan lokasi usaha saya yang
dekat pemukiman warga. Mereka
minta saya pindah ke kawasan
industri,” katanya.
Mitsubishi pun memberikan order
dan uang muka yang oleh Markus
dipakai untuk membeli lahan seluas
1.400 m² di Jababeka. “Proses
pembangunan pabrik butuh waktu
18 bulan. Selama itu, saya tetap
produksi di garasi,” katanya. Tahun
1996, orderan datang lagi dari
General Motor yang akan
meluncurkan Opel Blazer, mereka
meminta dibuatkan cover engine.

Usaha Markus terus berkembang,
komponen otomotif yang dia
produksi pun semakin banyak.
Hingga, akhirnya, dia mendapatkan
order dari Philips untuk
memproduksi komponen rumah
lampu (armatur). “Mesin yang kami
miliki itu bersifat universal. Bisa
untuk komponen otomotif maupun
non otomotif,” jelasnya.
Bisnis Markus makin luas. Dia juga
merambah dunia telekomunikasi
dengan memasok komponen base
transceiver station (BTS).

Seiring berkembangnya jenis produk
dan meningkatnya pesanan, sampai
sekarang Markus terus menambah
pabrik. “Sejak tahun 2007, dalam
setahun, minimal ada penambahan
satu pabrik,” tuturnya. Tahun ini,
dia akan menambah satu pabrik dan
tahun depan akan menambah dua
pabrik lagi.( J. Ani Kristanti, Fransiska Firlana, Sofyan Nur Hidayat)

Sumber: http://mobile.kontan.co.id/news/markus-anak-tukang-gado-gado-yang-juragan-pabrik/2012/09/21

Tirto Utomo, dan Kisahnya Merintis Pelopor Air Minum Kemasan ‘Aqua’

Siapa orang Indonesia yang tidak mengenal Aqua? Merk ini sangat dikenal masyarakat di seluruh daerah dari perkotaan sampai dengan pedesaan. Aqua menjadi pelopor air minum dalam kemasan di Indonesia, hal ini didasarkan ide Tirto Utomo selaku melihat peluang dalam industri air minum. Saat itu di Indonesia kekurangan air bersih siap minum. Hal ini disadarinya ketika istri salah satu kenalannya yang merupakan ekspatriat sakit setelah minum air di Indonesia. Kalangan ekspatriat adalah pasar yang dapat langsung dilayani produk Aqua. Saat itu banyak orang asing yang datang ke Indonesia tidak berani minum minuman dingin. Memang hanya terdapat air yang dimasak sendiri untuk minum.

Pada masa awal, Aqua menetapkan target segmen orang asing yang sedang makan di tempat makan Jakarta. Restauran dan hotel membeli Aqua dalam kemasan beling. Penjualan mencapai 2.5 juta liter pada tahun 1980, tetapi saat itu perusahaan belum memiliki jaringan distribusi untuk kemasan ini untuk wilayah di luar Jakarta. Perusahaan mengambil langkah antisipasi mengenai hal ini dengan menggunakan kemasan sekali pakai. Dengan kemasan ini, Aqua mengalami peningkatan penjualan terutama untuk wilayah operasional luar Jakarta. Kemasan diubah kembali diubah kembali dengan memakai bentuk lingkaran. Bentuk yang baru ini memungkinkan kemasan Aqua lebih mudah disimpan dan secara dramatis memperbaiki penampilan kemasan produk.

Pada tahun 1985, Aqua memulai kompetisi dengan minuman ringan. Kompetisi ini ditandai saat Aqua mulai memperkenalkan kemasan 220 ml. Kemasan ini yang sangat mendongkrak penjualan, dalam waktu setahun Aqua mencapai penjualan 42 juta liter dalam produk air kemasan.

Aqua kembali memperkenalkan kemasan baru pada tahun 1987. Kemasan terbuat dari bahan PET dan memiliki beberapa keunggulan bila dibandingkan kemasan sebelumnya seperti:

  • Bahan kemasan baru memiliki tingkat kejernihan lebih baik, bahan ini membuat air dalam kemasan terlihat jauh lebih bening
  • Ruang masuk untuk gas lebih sedikit, hal ini membuat isi kemasan lebih toleran pada perubahan atmosfer sekitar kemasan
  • Kemasan lebih kuat dan tahan lama
  • PET memberikan dampak yang lebih sedikit pada lingkungan daripada kemasan sebelumnya

Keberhasilan pemasaran perusahaan dimulai saat penentuan nama merk. Tirto memberi Aqua yang diambil dari bahasa latin yang berarti air. Di satu pihak, para orang asing yang datang Indonesia dapat mengerti makna Aqua dan di lain pihak dapat diterima dengan baik di kalangan orang Indonesia. Nama ini dianggap netral dan tidak menyerupai salah satu bahasa daerah yang digunakan di negara kita. Selain itu, nama Aqua cukup mudah diucapkan oleh orang-orang dari berbagai suku.

Image sangat penting di sini karena Aqua menyediakan air tanpa rasa dan manfaat seperti minuman berenergi. Oleh karena itu perusahaan harus berusaha keras untuk membangun image perusahaan. Pertama kali perusahaan memakai slogan “bersih, bening, dan bebas bakteri” pada empat tahun pertama. Namun slogan ini tidak banyak membantu kinerja perusahaan. Pada tahun 1979, Aqua mengganti slogannya menjadi “air sehat setiap saat”, slogan inilah yang lebih efektif memberikan dampak signifikan bagi perusahaan.

Meski awalnya hanya menargetkan konsumen kalangan ekspatriat, setelah dilakukan tes pasar berbagai kalangan masyarakat ternyata bersedia untuk membeli produk perusahaan. Hasil tes cukup mengejutkan karena respon positif juga datang dari konsumen di terminal-terminal bus, daerah pinggiran, dan kota kecil di sebagian wilayah Indonesia. Hasil tes ini memberikan kepercayaan diri perusahaan untuk menjual produk. Peforma baik operasionalisasi perusahaan menjadikan Aqua pemimpin pasar pada kategori air minum dalam kemasan sampai saat ini.

Artikel ini diadaptasi dari buku Cases in Strategy Management terbitan Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada

sumber: http://the-marketeers.com/archives/84-awal-kisah-hidupnya-merk-aqua.html

Kerja Keras dan Kejujuran Kunci Utama Sofyan Wanandi Membangun Bisnisnya

Hari-harinya kini disibukkan dengan mengurus wadah para pengusaha Indonesia, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Absen dari dunia bisnis setelah sekian lama malang melintang, tidak membuat Sofjan Wanandi berhenti total dari dunia yang telah membesarkannya sebagai salah satu pengusaha di Indonesia.

Ditemui di ruang kerjanya di Kantor Apindo, Sofjan mengurai banyak hal tentang sepak terjangnya di dunia bisnis. Mengenakan setelan batik dan celana panjang warna biru, bapak tiga putera itu bercerita panjang lebar. Berikut petikan wawancaranya:

 

Kapan Anda mulai terjun ke dunia bisnis?

 

Saya terjun ke dunia bisnis by accident. Sepuluh tahun pertama sejak 1967-1977 saya lebih banyak terlibat dalam perpolitikan di Indonesia. Saya banting setir setelah peristiwa Malari. Peristiwa Malari membuat saya diganyang oleh teman-teman saya sendiri juga, karena sebagian dari teman-teman yang merupakan Tokoh 66 memiliki perbedaan pandangan. Ada yang berjuang di dalam dan ada yang masih berjuang di jalanan.

 

Saya memilih di dalam karena Soeharto menjadi presiden. Jadi saya berkewajiban membantu dari dalam. Cuma sebagian besar teman-teman saya maunya di jalanan. Oke, you di jalan. Tetapi ada konflik di Malari itu sehingga kita berbeda jalan, sehingga kita dihujat juga karena kerja sama pemerintah.

 

Tetapi akhirnya toh mereka mendukung pemerintah, malah lebih hebat dari saya. Ada yang jadi menteri dan segala macam. Tapi tidak apa-apa.

 

Setelah peristiwa itu, kami berpikir terutama saya dan kakak saya Yusuf Wanandi, enggak baik jika dua-duanya masuk politik, karena kakak saya itu masuk politik. Kala itu Yusuf pimpinan DPP Golkar sampai jadi Wakil Sekjen DPP Golkar.

 

Di situ saya mulai, pada saat di mana merasa sudah punya banyak hubungan dengan pemerintahan, saya juga sering ke Jepang dengan Sudjono Moerdani.

 

Dari situlah saya akhirnya menentukan. Oke, saya jadi anggota MPR saja, tidak masuk DPR lagi, sehingga waktu itu saya mendukung pemerintahan Soeharto. Saya ikut juga terlibat di dalam membuat GBHN dan beberapa kebijakan terkait lainnya.

 

Sesudah itu saya masuk dalam ekonomi berkerja sama dengan beberapa teman menjadi supplier dari Pertamina, PN Timah dan memegang agency yang lain.

 

Di situ saya mulai pinjam uang di Bank BNI 46 pada 1977-1978. Rumah mertua saya gadaikan, gedung CSIS juga digadaikan. Kalau tidak dari mana saya dapat uang. Akhirnya dikasih pinjam. Setelah berjalan, ada untung, saya kembalikan.

 

Waktu itu Jepang cari mitra dan beberapa perusahaan asing lainnya. Saat itu banyak perusahaan-perusahaan Jepang yang tidak kenal Indonesia cari mitra untuk joint venture di sini.

 

Apa unit bisnis pertama yang dibentuk?

 

Waktu itu kita bentuk pertama itu trading. Waktu itu saya masih pakai bendera Pakarti Yoga. Setelah itu saudara-saudara saya yang lain juga bikin bisnis sendiri-sendiri, tapi akhirnya digabung pada 1980-an dan diberi nama Gemala.

 

Gemala itu dimiliki oleh Wanandi bersaudara, yaitu saya, Rudi Wanandi, Yusuf Wanandi, Biantoro Wanandi, Edward Wanandi dan adik saya yang perempuan. Jadi semua saudara saya yang punya bisnis di sini, dan bergabung dalam satu Gemala.

 

Mengenai komposisi sahamnya disesuaikan dengan siapa yang membawa bisnisnya itu. Waktu itu saya yang komandannya. Setelah itu, Biantoro Wanandi yang sekarang ini pegang farmasi.

 

Bagaimana kendali di Gemala? Apakah sudah dikendalikan di anak-anak?

 

Di Gemala kami bagi. Anak-anak kan tambah banyak. Kakak-kakak saya juga punya banyak anak. Jadi kami bagi, sesuai porsi saham yang dimilikinya. Sekarang semua sudah independen. Tetapi ada juga kelompok tertentu yang masih dikelola sama-sama, tapi itu yang lama-lama.

 

Untuk yang baru, semua mulai sendiri dan berkembang dan banyak bertambah.

 

Dari tiga putera ini, siapa yang dipersiapkan menggantikan posisi Anda?

 

Sebenarnya tiga-tiga itu, satu pegang pabrik di Australia, dua di sini. Saya bagi tugas mereka. Yang paling tua bertanggungjawab semua pabrik automotive part, baterei, transmisi, sasis, kasting di sini.

 

Karena sekarang otomotif bagus, jadi semua untung banyak. Mudah-mudahan pasar otomotif akan bagus terus. Sebagian besar produk kami diekspor. Tetapi kami juga memiliki pabrik Aica Aibon, Asuransi Wahanatata, Nomura Securities kerja sama dengan Jepang. Selain itu masih Hotel Lumire dan di Palangkarya.

 

Anak yang kedua pegang proyek baru, keuangan. Kalau yang kecil dia pegang yang di Australia saja. Saya puaslah mereka semua sekolah dan bekerja baik. Semua perusahaan yang dikelola anak-anak di bawah bendera Santini Group.

 

Apakah Anda masih ikut ambil keputusan di perusahaan?

 

Masih, terutama dalam transaksi yang melibatkan modal lebih dari US$10 juta, pasti anak-anak bilang saya dulu. Di bawah itu diputuskan sendiri saja. Ada batasannya biar dia belajar juga. Nanti dia masuk investasi gede-gedean di luar, tahu-tahunya jebol, kan gawat juga. Saya bilang sama mereka kalau you untung terus, jangan minta advice sama saya.

 

Apakah Anda dan saudara-saudara yang lain masih berkumpul untuk bicara bisnis?

 

Kita berkumpul tapi bukan untuk bicara serius. Kalau anak-anak iya. Mereka biasa ngumpul dan terbuka kemungkinan untuk kerja sama. Kalau kami yang tua-tua ini hanya berkumpul untuk santai-santai saja. Bicara yang aneh-aneh, bicara urusan keluarga, urusan cucu, urusan sakit, urusan sudah tua. Kita gak bicara banyak soal bisnis. Tentu kita bicara bisnis sama anak-anak kita. Sampai rapat pemegang saham, saya tidak terlibat, cuma rapat pemegang saham holding saja. Di luar itu anak-anak semua yang ikut.

 

Berapa jumlah holding?

 

Kalau holding anak-anak saya itu namanya Santini, dan ada Baktiyoga. Itu yang paling besar. Yang lain kita anak usaha di bidang-bidang tertentu. Semua profit center sendiri kita gak bikin jadi satu.

 

Kapan dari Gemala menjadi Santini?

 

Gemala tetap ada, yang baru-baru pakai bendera Santini. Anak-anak kita pakai bendera Santini.

 

Anda ini bergerak dari politik ke bisnis, sementara banyak orang dari bisnis ke politik. Apa komentar Anda?

 

Dari dulu saya berpikir kita tidak bisa merangkap. Kalau mau politik yah politik, kalau bisnis yah berbisnis. Itu prinsip saya karena saya tahu betul kalau you mau politik, you gak bisa habiskan waktu untuk lain. Betul-betul harus konsentrasi untuk politik, tidak bisa lagi menyambi. Lagi pula conflict of interest juga tinggi sekali.

 

Makanya ketika saya terjun ke politik, saya ikut di MPR dan DPR. Setengah di DPR kemudian tahun-tahun berikutnya di MPR, selama 20 tahun.

 

Apa yang menjadi prinsip utama Anda dalam berbisnis?

 

Sebenarnya prinsip utamanya adalah kerja keras, jujur, komit pada bisnis, dan jangan bohongi orang. Sekali anda berbohong, orang tidak akan percaya lagi. Jadi gak ada main-main dan janji-janji palsu. Makanya dari sekian banyak joint venture, gak ada satu pun yang punya masalah sama dengan kami. Joint venture itu rata-rata umurnya di atas 30 tahun, berkembang bersama-sama, maju sama-sama, kadang-kadang kami mayoritas, kadang-kadang kami yang minoritas.

 

Tidak ada satu pun usaha yang kita kalau keluarkan uang , mesti teken dua cek, sehingga ada dua tandatangan. Jadi tidak bisa main-main sendiri. Itu prinsip.

 

Mesti ada trust dan you betul-betul kalau mau teken joint venture, harus bicara pahit di depan, setelah itu berkelahi karena yang satunya mau ambil untung lebih banyak. Apapun itu, saya bicara dengan partner di depan yang pahit-pahit, bikin suatu agreement, setelah itu agreement-nya kita taruh di lemari besi dan tidak lihat-lihat lagi. Kita kerja sama-sama untuk besarkan perusahaan itu, jadi sama-sama ambil untung.

 

Anda punya berbagai perusahaan di luar negeri. Sebetulnya bagaimana Anda me-manage itu?

 

Dulu kita sebenarnya begini karena kami ekspor ke sana, kebetulan ada opportunity di sana perusahan di sana lagi susah, kami bisa beli dengan harga yang murah.

 

Kami sebenarnya memakai di luar negeri itu bukan untuk production center. Kita pakai untuk jaringan marketing. Karena kelemahan kita itu di marketing. Jadi di luar negeri kami kita pakai untuk marketing. Awalnya itu.

 

Di Australia misalnya kita punya pabrik. Kita jual dari sini. Dia punya jaringan ada 250 di Australia, jadi kita bisa kuasai market Australia dengan kombinasi produksi di sana, produksi di sini, jadi di situ kita bisa lebih untung.

 

Kalau produksi di sana dengan tenga kerja yang mahal, social security yang mahal, susah. Makanya waktu itu kami tutup pabrik di London karena merasa gak bisa. Jadi kami menjual saja dari sini sekarang 100%. Terus kita ekspor ke sana. Biar pun rugi sedikit, tapi secara keseluruhan kami untung. Setelah krisis kami jual. Yang di London tidak lama perusahaannya.

 

Kami beli sebelum krisis, namun setelah itu kami pikir wah lebih murah ekspor dari sini, jadi kami jual lagi. Sampai sekarang kami bisa kuasai market karena kami ekspor dari sini. Pakai merek dari sana, tapi kami juga punya merek juga.

 

Kalau yang di Australia, merek kita Yuasa. Kita juga pakai beberapa merek lain. Ada yang murah, ada yang mahal. Itu sebenarnya untuk compete market, supaya segmen pasar tertangkap semua. Jadi kami juga beli pabrik di New Zealand, tapi ketika kami beli dan kami pikir lebih murah kami bikin di sini dan ekspor ke sana, ya kita tutup lagi. Yang New Zealand baru kami tutup 3-4 tahun yang lalu. Perusahaan itu tetap ada tapi hanya untuk networking saja. Jadi mesti ada kombinasi. Karena jualan baterei itu misalnya satu kontainer itu 2.000. ongkosnya ke sana, paling 2.000 dolar. Jadi lebih murah kita bikin di sini dan jual di sana. Di situ advantage-nya kita jual dalam satu networking.

 

Keputusan di luar negeri itu masih diambil Anda?

 

Masih. Sekarang ini yang modalnya lebih dari US$10 juta, pasti anak-anak bilang saya juga. Di bawah itu putuskan sendiri saja. Ada batasannya biar dia belajar juga. Nanti dia masuk investasi gede-gedean di luar, tahu-tahunya jebol, kan gawat juga.

 

Jadi, kapan persisnya Anda benar-benar meninggalkan dunia bisnis?

 

Sebenarnya pada tahun 2000. Sebenarnya begini. Saya meninggalkan bisnis itu karena saya menghadapi masalah. Jadi buronannya Habibie pada waktu itu karena politik. Selain itu sudah waktunya saya merasa saya harus tinggalkan bisnis apalagi umur saya sudah 60 tahunan pada waktu itu.

 

Kami juga punya understanding dalam perusahaan, terutama yang profesional, pensiun umur 60 tahun. Tentu bisa kita perpanjang. Saat itu saya umur 60-an juga. Pada saat itu saya ikuti profesional saja, you boleh tidak day to day lagi. Day to day cuma sampai umur 60 tahun. Itu saya kasih contoh, saya kembali jadi komisaris saja. Setelah itu saya kasih kuasa full ke anak-anak saya, gak setengah-setengah. Saya tidak mau ikut campur lagi yang soal-soal teknis kecuali mereka minta advis pada saya.

 

Seberapa sering mereka minta petunjuk kepada Bapak?

 

Jarang juga. Kalau gak ada susahnya, gak datang ke saya. Saya bilang kalau you untung terus, jangan minta advice sama saya. Kalau diganggu pemerintah, baru minta tolong saya.

 

Apakah Anda punya pengalaman yang paling berkesan sehingga benar-benar membuat Anda merasa harus terus mensyukurinya?

 

Sebenarnya dalam bisnis itu selalu up and down. Yang saya syukuri satu, pada saat karena politik saya dikerjain menjelang 1997-1998. Justru pada saat krisis, saya menggantikan loan hampir di semua perusahaan-perusahaan saya.

 

Dulu itu kan saya dituduh beli perusahaan di luar negeri dengan loan dalam negeri. Seolah-olah capital flight. Sehingga karena saya tidak mau dituduh capital flight, semua utang-utang saya di dalam negeri saya bayar.

 

Jadi banyak sekali yang kita bayar, jadi saya tidak terlalu banyak terganggu efek pada saat krisis waktu itu. Walaupun efeknya terasa karena saya terpaksa menjual tiga pabrik saya waktu itu untuk membayar krisis waktu itu sehingga akhirnya tidak ada persoalan, tidak utang lagi. Lima tahun kita perlukan untuk me-recover kembali semua kerugian akibat krisis moneter. Sekarang utang enggak ada lagi, kecuali utang modal kerja.

 

Ada rencana untuk go public?

 

Sebenarnya ada, tapi saya berpikir go public itu selalu untuk yang pertama kalau perlu uang untuk ekspansi. Kedua, kami tidak terlalu percaya kredibilitas go public di Indonesia pada saat itu karena banyak sekali perusahaan yang tidak bonafit yang masuk. Sebenarnya yang aktif kan hanya 1/3 perusahaan yang betul-betul jual beli. Yang lainnya tidak.

 

Sebenarnya bisnis kita paling sensitif karena kita tidak berani berbuat sesuatu karena saya selalu bisa diserang entah suka atau tidak. Banyak musuh mulai dari pemerintahan saja bisa musuh sama saya. Saya harus betul-betul jangan cari perkara. Makanya saya punya prinsip tidak mau satu pun saya masuk ke wilayah pemerintah. Kalau proyek pemerintah, dulu diajak untuk joint venture. Sekarang saya ucapkan terima kasih saja.

 

Sekarang kalau proyek dengan pemerintah saya pasti akan bergantung pada pemerintah dan kalau mereka tidak suka sama saya, mereka bisa menghujat saya. Sekarang tidak ada satu pun proyek dengan pemerintah. Saya tidak mau bergantung. Hubungan di market saja.

 

Saya mesti dua kali lebih hati-hati. Saya gak boleh banyak hutang, harus bayar utang tepat waktu. Kalau enggak, saya diserang terus.

 

Tetapi Anda dikenal terlalu vokal?

 

Kalau Anda lihat, saya selalu bicara vokal. Sebenarnya maksud saya baik. Kita harus kasih tahu apakah yang pemerintah buat itu betul atau tidak. Saya harus kasih lihat the other side. Jadi tidak bisa, hanya yes man.

 

Kalau ada yang harus diperbaiki, yah harus diperbaiki. Kalau mereka tidak suka dikritik, yah sudah. Dari dulu memang saya dimusuhi karena saya selalu kritik. Dulu saya diperiksa polisi, dituduh ini itu. Selama masa Habibie jadi buronan. Jadi apa yang belum pernah saya rasakan. Semua sudah. Makanya itu sebagai businessman saya harus hati-hati, harus bayar pajak, jangan bikin satu pun yang bisa buat kita jadi sorotan.

 

Saya selalu bilang sama anak-anak seperti itu. Bila perlu jangan berbisnis dengan pemerintah. Gak usah cari muka dengan pemerintah. Saya itu takut pada hukum karma. Saya pernah maki-maki Bung Karno waktu itu. Jadi ada satu prinsip kita bekerja sama tapi tidak usah cari makan dari proyek-proyek pemerintah. Mending berbisnis dengan teman-teman kita di luar.

 

Kalau dilihat, banyak orang yang akhirnya sakit hati sama Indonesia karena mungkin dulu dilecehkan dan lain sebagainya. Tetapi Anda yang juga mengalami hal serupa tetap dengan kerendahan hati mencintai negeri ini. Bagaimana bisa terjadi?

 

Saya itu punya komitmen pada saat kita berteriak-teriak Tritura. Sebelum saya di parlemen, saya ingin berbuat sesuatu untuk bangsa. Saya ingin memperlihatkan juga, saya ini masyarakat Indonesia. Bahwa saya keturunan China, itu bukan kehendak saya. Saya lahir dari sana, jadi yah mau apa.

 

Dulu pada saat saya jadi buronan, di Amerika saya malah ditawari jadi warga negara di sana, mau disponsori sama teman-teman saya. Mau ngapain you di Indonesia, kata mereka. Di sini saya dijadikan buronan. Tetapi sebenarnya gak ada buronan itu. Saya sudah tanya Interpol. Saya punya teman di mana-mana. Mereka bilang. Itu cuma takut-takuti saja. Saya buronan selama satu tahun, setelah itu dipanggil Gus Dur malah bantu dia.

 

Dulu sebelum krisis, semua bisnis mau kita jalani. Tapi setelah krisis, kita berpikir untuk mengkonsentrasikan bisnis kita terutama di bisnis-bisnis yang punya masa depan seperti manufaktur. Jadi masa depan Indonesia dengan pertumbuhan ini, kita bersaing dengan global.

 

Sebab menurut saya kembali lagi kalau kita bicara nasionalisme, saya banyak sekali sakit hati. Saya beberapa kali berdebat dengan teman-teman saya. Dulu saya itu mau mengarahkan teman-teman sebagian mau bergerak di bidang sosial, maka itu kita dirikan Prasetya Mulya. Kita mau buat lebih banyak untuk Indonesia, karena kita tahu kita ini selalu dianaktirikan.

 

Ada lelucuan di antara kita, kalau di jaman Soeharto kami orang keturunan ini bukan istri yang benar, kami itu cuma gundiknya saja. Kapan dia mau pakai, dia pakai. Kalau enggak, yah sudah. Jadi gak usah kita sakit hati, buktikan saja kalau kita mampu bangun bangsa ini, kasih kerjaan pada masyarakat bangsa ini.

 

Itu selalu yang saya coba. Saya tidak merasa sebagai keturunan, apakah mungkin karena keturunannya sudah lama. Ayah saya sendiri tidak bisa bahasa China. Kakek saya juga lahir di Indonesia. Kakek saya itu yang dari ibu saya tidak bisa bahasa China tapi bisa bahasa Belanda. Kalau dari ayah saya, kakek saya itu ke China hanya untuk belajar bahasa China. Tapi dia lahir di sini juga. Jadi saya sudah turunan. Saya masih ada nama china, Lim Bian Koen. Tetapi anak saya sudah tidak ada nama China.

 

Bagaimana menanamkan rasa nasionalisme yang tinggi dalam diri anak-anak?

 

Saya kasih kebebasan tapi saya percaya mereka punya kecintaan kepada negaranya, Indonesia. Biarpun dia sekolah di Amerika di sekolah terbaik, tapi saya selalu tekankan bahwa kesempatan di Indonesia selalu lebih baik, selalu lebih besar.

 

Juga kesempatan untuk berbuat baik lebih banyak kepada bangsamu. Itu yang selalu saya tanamkan pada anak-anak saya. Kami dikasih yang besar dari negara ini jadi berbuatlan suatu yang lebih besar dari negara ini juga, sebelumnya kami ada apa-apa. Ayah saya juga tekankan seperti itu. Karena kami dituduh minoritas, makanya harus bisa buktikan bahwa you bisa lebih Indonesia dari orang Indonesia sekalipun.

 

Bukan sakit hati atau marah. Harus buktikan kepada pribumi bahwa kami bisa buat lebih baik lagi daripada pribumi. Supaya kita bisa lebih bersatu. Makanya saya tidak pernah marah walaupun di-cina-cina-in. Lah memang orang China mau diapain. Saya tidak pernah sakit hati karena itu. Banyak yang marah, teman-teman saya juga ada yang marah. Ada perasaan yang untuk mereka yang China totok. Yang lahir di sini, yang tidak tahu keturunan saya, yah untuk apa.

 

Saya juga tidak pernah mau tahu keturunan saya di sana. Kakek saya gak pernah kasitahu desa di sana atau keturunan kita. Yusuf dulu pernah coba-coba cari tapi tidak ketemu juga. Kakek saya juga kawin sama orang Nias.

 

Masih sering ke kantor? Apa masih ada ruangan yang disediakan untuk Anda?

 

Saya sering ke kantor. Ada ruangan. Saya punya ruangan paling gede di antara mereka. Ruangan saya paling bagus. Saya ke kantor seminggu dua-tiga kali. Saya mau pisahkan, kalau ada urusan Apindo saya di sini, kalau ada urusan kantor, yah di kantor saya. Sebenarnya saya banyak menjadi advicer di international group. Jadi saya banyak belajar juga. Saya anggap itu sebagai input untuk mengetahui dunia internasional sehingga kita ikut memonitor perkembangan dunia. Kita harus ikuti terus. Tapi sekarang saya lebih banyak berkonsentrasi di dalam negeri, karena Yusuf Wanandi lebih banyak di luar negeri. Jadi kita suka tukar pikiran, ketemu juga sering. Sama Yusuf kita paling sering telpon-telponan. Sekarang ini dia di Jepang.

 

Kelompok Prasetya masih ada?

 

Masih ada. Cuma sekarang prioritasnya lebih ke pendidikan. Itu semua kita bantu sama-sama. Kalau ada pertemuan sosial misalnya kasih bantuan atau bahas apa, kami masih ketemuan. Sekarang ada yang tinggal anak-anaknya. William Suryadjaya diwakili Edwin. Eka Putra Wijaya juga. Pak Sudwikatmono masih sering datang. Sedikit sekali yang tua-tua. Saya masih aktif ke sana.

 

Kalau melihat anak-anak muda sekarang, banyak yang berbisnis 3-4 tahun terus akhirnya terjun ke politik. Bagaimana tanggapan Anda?

 

Saya pikir ini salah. Sekarang ini orang merasa politik itu bisa dimanfaatkan untuk kepentingan dia sendiri. Kalau menurut saya, kalau au terjun ke politik seharusnya tinggalkan bisnisnya. Seperti Ical (Abdurizal Bakrie). Kalau dia mau terjun ke politik seharusnya dia tinggalkan Bakrie. Bahwa dia tentu ada hubungan boleh-boleh saja, tapi 100% sudah lebih banyak di politik.

 

Memang harus dipisahkan. Seperti Jusuf Kalla. Ketika dia terjun ke politik, betul-betul dia tinggalkan bisnisnya. Dia kasih ke anaknya yang jalankan semua. Betul-betul sama sekali dia terlepas dari kepentingan bisnisnya. Jadi sebenarnya yang paling baik berpolitik setelah kaya. You tidak usah ikut politik sebelum ada uang sendiri.

 

Pasti dia akan salahgunakan politik untuk kepentingan sendiri atau memperkaya diri sendiri. Itu yang terjadi sekarang. Yang muda-muda itu menurut saya terlalu instan mau cepat kaya tanpa kerja keras. Saya jadi begitu setelah 40 tahun lalu, bukan tiba-tiba jadi kaya. Tapi beda dengan sekarang. Harus pikir jangka panjang. Nama baik you, nama baik keturunan. Sekarang ini orang sudah tidak ada rasa malu lagi. Kita lihat orang masuk penjara saja sudah malu. Saya pribadi waktu buronan setahun sudah merasa malu ketemu teman, rasanya sakit hati betul, sudah berbuat baik untuk bangsa tapi akhirnya dikucilkan begitu saja. Sakitnya bukan main. Ketemu orang di Singapura, rasanya malu sekali sampai-sampai merasa kita orang lepra, betul-betul malu. Padahal belum tentu salah. Sekarang ini sudah keluar masuk penjara, tetap petenteng ke sana kemari gak ada malunya. Ini pengaruh dari hukum itu. Hukum kita bisa dibeli.

 

Apa kelemahan mendasar berbisnis di Indonesia?

 

Sebenarnya paling mendasar kita mau kerja keras atau tidak. Pendidikan kita ini setengah-setengah. Alam kita membuat kita terlalu dimanjakan. Ini juga karena pemimpin-pemimpin kita sendiri yang mau instan. Semua kekuasaan dipakai untuk membuat dia kaya.

 

Coba lihat semua pimpinan daerah. Ada gak yang membangun daerahnya setelah tidak jadi gubernur lagi? Semuanya pindah ke Jakarta. Saya gak tahu salahnya di mana. Teladan kepemimpinan itu yang penting karena kita feodal dan berani menegakkan peraturan. Coba lihat negara lain. Menteri-menteri kita juga bukan the right man in the right place.

 

Anda kan dekat dengan Bu Mari (Mendag Marie Pangestu)? Masih suka menegur Bu Mari kalau dia salah?

 

Masih. Dia terima karena dia tahu saya kasih kritik yang membangun. Kalau dia salah yah saya kasih tahu. Saya paling takut di sekitar kita banyak yang suka bikin senang pemimpinnya dan takut ngomong salah kalau memang ada salah. Jangan mempertahankan hal-hal yang salah. Semua yang salah malah dibenarkan.

 

Kalau saya melihat generasi muda di indonesia, jauh lebih pintar dan kesempatan jauh lebih banyak. Sekolah dan pendidikan lebih bagus. Saya masih melihat sekarang ini karena suasana dari kita, orang gak bisa kerja keras. Kita tidak seperti negara lain yang mau survive. Lihat China. Dia sekarang ini tumbuh sebagai negara yang kuat, jadi dia agak sombong. Dia gak apa-apa sombong. Bukan seperti kita yang tidak punya apa-apa malah sombong.

 

Sekarang ini kita tumbuh hanya karena menjual kekayaan, gap kaya miskin itu begitu besar. Ini tidak sehat. Makanya saya dorong bagaimana kita ciptakan nilai tambah, jual barang jadi bukan barang mentah. Jadi kekayaan alam itu kita manfaatkan betul-betul untuk kekuatan kita demi masa depan kita. Kita harus kerja keras. Kita sekarang bukan berkelahi di era globalisasi, tapi kita berkelahi di dalam negeri kita sendiri. Sementara orang luar negeir berlari dengan kencang. Akhirnya kita tidak menjadi tuan rumah di negeri sendiri karena kita berkelahi sendiri. Saling menghujat di antara kita, saling iri hati. Lupa kalau persaingan kita di tingkat global dalam menghadapi globalisasi. Maka itu setelah krisis oke kita tumbuh 4-5% tapi setelah itu negara lain berlari kencang kita jalan di tempat. Singapura sekarang 18% bisa tumbuh. Dulu dia anjlok hingga minus.

 

Obsesi di usia sekarang?

 

Doa saya setiap hari saya diberi kesempatan untuk berbuat lebih banyak untuk bangsa saya. Itu obsesi saya. Belum tercapai maksimal. Setiap hari saya selalu berdoa untuk itu. Biarpun saya menjadi korban dari orang lain, tapi saya selalu tergerak untuk itu.

 

Saya selalu tekankan anak saya untuk ekspansi di dalam negeri agar lebih banyak masyarakat yang memperoleh manfaat.

 

Pesan untuk pelaku usaha?

 

Pesan saya, you harus tekun. Kesempatan apapun juga harus dimanfaatkan dengan sebaik-sebaiknya. Jangan kepentingan pribadi yang diutamakan. Kalau China bisa, India bisa kenapa kita tidak bisa. Kita jauh lebih kaya. Itu yang saya inginkan untuk teman-teman pengusaha saya. Jangan cuma mau cari kaya saja. You harus punya social responsibility juga buat bangsa ini.

sumber: http://www.bisnis.com/articles/sofyan-wanandi-mau-bisnis-tinggalkan-politik