Category Archives: Manufaktur

Baedowy, dari Auditor Bank kini menjadi Pengusaha Sampah yang Sukses yang punya Puluhan Karyawan

Awalnya, pekerjaan Mohammad Baedowy cukup mentereng: auditor sebuah bank yang sangat mapan. Ketika karirnya menanjak, dia memutuskan untuk keluar. Dia memilih menjadi pengusaha sampah. Kini usahanya menjadi bosnya para pemulung itu kian moncer.

SEHARI-hari Baedowy berkantor di sebuah bangunan yang luasnya sekitar 100 meter persegi. Bangunan yang dilengkapi AC itu terletak agak tersembunyi di antara tumpukan botol oli bekas, botol minuman, botol sampo, dan berbagai sampah plastik.

Bangunan tersebut berdiri di atas lahan seluas total seribu meter persegi, di kawasan Desa Cimuning, Bekasi Timur. Di tempat itulah, Baedowy meraup rezeki di bawah bendera CV Majestik Buana Group.

Kantor yang ditempati Baedowy itu tentu saja tak sementereng kantornya sebelumnya. Yakni, ketika dia masih menjadi auditor di Royal Bank of Scotland (RBS) yang berlokasi di kawasan elite Jakarta.

“Sekarang saya lihat teman-teman yang masih bertahan di bank tersebut. Saya tanya mobilnya apa dan gajinya berapa. Setelah tahu, saya bersyukur. Berarti keputusan saya keluar dari bank itu sudah benar. Sebab, pencapaian saya sekarang jauh dari mereka,” paparnya. “Saya punya driver. Mobil ada beberapa, dan rumah sangat baik,” ucap pria kelahiran Balikpapan, 2 Mei 1973, itu.

Dia lantas menceritakan mengapa memutuskan keluar dari pekerjaan sebagai auditor. “Saya menyadari bahwa kita bekerja baik pun tidak lantas berbanding lurus dengan prestasi dalam reward gaji,” ucapnya.

Akhirnya, setelah dipikir secara masak, Baedowy memutuskan untuk keluar dari tempatnya bekerja. Dia bekerja di RBS sejak 1997, setelah setahun lulus kuliah di Malang. “Jadi, saya bekerja di RBS hanya tiga tahun. Pada 2000 saya keluar,” ujar lulusan Universitas Merdeka Malang ini.

Di tempat kerja sebelumnya itu, Baedowy sebenarnya berprestasi. Dia bahkan dijuluki rising star karena dianggap berprestasi ketika usianya masih muda, sekitar 24 tahun.

Meski begitu, tekadnya untuk berwirausaha sudah bulat. Karena itu, dia memberanikan diri untuk berpamitan kepada bosnya. “Ketika saya berhenti, bos saya waktu itu bilang, asal kamu tahu ya, orang kayak kamu inilah yang nggak akan bisa sukses. You are so young, very emotional. Ingat kata-kata saya, kamu tidak akan bisa sukses. Kamu tidak sabaran,” papar Baedowy mengenang perkataan bosnya. Dia hanya ingat bahwa itu hari Kamis, pada pengujung 2000.

Menyandang gelar mantan karyawan, Baedowy sempat kebingungan. Dia mulai banyak berpikir harus berbisnis apa. Bayangannya saat itu, jika bisnis makanan, ada risiko basi. Buah-buahan, risikonya busuk, tanaman ada hama, dan peternakan bisa mati.

Meski begitu, akhirnya dia nekat juga berbisnis ternak jangkrik. Dia pun merombak salah satu kamar di rumahnya. Tetapi, giliran musim panen tiba, bukannya bertambah, populasi ternaknya malah susut. “Mungkin kanibal atau apa saya tidak paham,” kisahnya.

Suatu saat dia melihat ada seorang pengusaha sampah. Dia punya mobil sedan untuk istrinya dan punya mobil Kijang. “Padahal, dia hanya lulusan SD,” tutur Baedowy.

Dia akhirnya bekerja dengan pengusaha sampah itu, sekaligus menggali ilmu dari lulusan SD tersebut. Dalam beberapa bulan, Baedowy merasa bisa membuka usaha sendiri. Untuk itu, dia memutuskan menyewa lahan. Kantornya saat itu hanya berdinding gedek. Dia pun memberanikan diri membeli mesin penggiling sampah.

Problem pertama, mesin bekas yang dia beli itu rusak. Pihak penjual tidak bisa membetulkannya. Ketika pengepul lain diminta tolong, mereka tidak mau mengajarkan bagaimana cara memperbaiki mesin penggiling sampah. “Akhirnya saya mencoba membetulkan mesin ini sendiri selama setahun. Saya bawa ke tukang besi dan las bubut,” kenangnya.

Gara-gara mengerjakan sendiri perbaikan mesin penggiling sampah itu, Baedowy jadi tahu seluk-beluk mesin. Dia bahkan sanggup mendesain mesin sendiri dengan mempelajari kesalahan dari mesin yang ada. Namun, saat itu modalnya semakin tipis.

Tepat setahun sejak membuka usaha sendiri, dia bangkrut total. Harta tinggal kontrakan rumah, sebuah kipas angin, dan TV. “Kipas angin itu satu buah, kalau saya terima tamu di pabrik, saya bawa kipas itu ke pabrik. Kalau pulang, ya bawa pulang lagi karena ditagih anak. Sebab, waktu itu anak saya sudah dua,” kata ayahanda Muhammad Fahrezi Fatahillah, 14; M. Fahrehan Fatahillah, 12, dan M. Fahrezi Husaini, 9, itu.

Dalam keadaan bangkrut, orang tua Baedowy dari Balikpapan datang. Kebetulan orang tuanya dari kalangan mampu. Begitu pula mertuanya yang kini tinggal di Malang. Baik orang tua maupun mertua Baedowy saat itu meminta agar pabrik dijual saja. “Waktu itu saya manut. Pabrik pun saya jual,” ucap suami Ririn Sari Yuniar itu.

Selama ditawarkan, tak ada yang mau membeli pabrik Baedowy. Lamanya hampir tiga bulan. Saat itu Baedowy juga sudah berancang-ancang untuk melamar pekerjaan.

“Tapi, belakangan saya sadari bahwa itu sebagai kesalahan. Kesalahan saya, menyesali keputusan masa lalu itu salah. Masa lalu itu kaca spion. Cukup sekali dilirik, tapi jangan kelamaan, nanti jadi nabrak,” paparnya.

Saat itu Baedowy masih bertahan di rumah kontrakan. Istri dan kedua anaknya (waktu itu) dipulangkan ke Malang. Sebab, uangnya semakin tidak memungkinkan karena dia bersikukuh untuk tidak mau meminta bantuan dana kepada orang tua.

“Waktu bangkrut, saya menangis dan berdoa. Di atas tempat tidur saya menangis sambil bilang, sempatkan saya bisa ya Allah, Kalau saya bisa, saya janji saya akan mengajari siapa pun yang ingin bisa,” kisahnya.

Pada saat uangnya semakin tipis itu, Baedowy yang kebetulan aktif di sebuah pesantren di Bekasi Timur didatangi seorang kiai yang meminta bantuan dana karena harus ada peletakan batu pertama pembangunan pesantren dan akan dihadiri wali kota.

“Saya tahu mereka butuh banget uang untuk membeli semen atau batu. Akhirnya saya kasihkan sisa uang yang ada, walaupun tidak semua,” ujarnya.

Namun, akhirnya dia menyadari bahwa efek sedekah itu luar biasa. Dia lantas meneruskan bisnis itu dengan modal mobil pick-up. Baedowy kembali belajar kepada pengepul besar. “Saya nongkrong saja di sekitar sana,” ujarnya.

Dari hasil nongkrong itulah Baedowy mendapat banyak pelajaran. Dia akhirnya bisa mendapatkan ilmu baru, bagaimana cara menetapkan harga agar disenangi para pemulung. “Kalau pengepul lain menerima dengan harga Rp 1.500 per kilogram, saya berani menerima dengan harga Rp 1.700. Akhirnya, para pemulung lebih suka menjual kepada saya,” ceritanya. Sejak saat itu usaha Baedowy mulai bangkit.

Kini Baedowy bukan sekadar menjadi penadah, tetapi juga pembuat mesin dan menjualnya kepada mitra. Mekanismenya mirip franchise. Sebab, selain diberi pelatihan setelah membeli mesin darinya, hasil penggilingan mitra bisnis juga ditampung.

Mitra Baedowy saat ini sudah lebih dari 100. Mereka tersebar di seluruh wilayah di Indonesia, sampai ke Aceh. Bijih plastik hasil olahannya diekspor, terutama ke Tiongkok. “Pasarnya sangat besar. Kita tidak akan bisa memenuhi permintaan pasar,” akunya.

Dengan pencapaian sekarang, Baedowy jadi teringat sebuah tulisan yang dikutip dari kitab kuno tulisan Sasongko Jati. Tulisan itu dia pajang di halaman depan skripsinya. Menurut penerjemahannya, tulisan bahasa Jawa itu kira-kira berbunyi: “Bagaimana mungkin kamu bisa mengerjakan pekerjaan yang besar kalau yang kecil saja tidak terbiasa. Dan, pekerjaan itu walaupun remeh semua datangnya dari Tuhan. Maka lakukan dengan sungguh-sungguh dan hati yang suci?”

“Ini yang mengantarkan hidup saya mengurusi yang kecil, yaitu sampah dan membetulkan mesin,” katanya.

Usahanya juga berbuah banyak penghargaan. Di antaranya juara 1 pemuda pelopor tingkat nasional 2006. Dia juga menjadi tokoh terbaik pilihan majalah Tempo, Soegeng Sarjadi Awards on Good Governance, piagam penghargaan Kalpataru 2010, dan juara 1 wirausaha terbaik Indonesia versi Dji Sam Soe Awards.

Kini, Majestik Buana Group juga terbilang sukses. Di bawahnya ada Majestik Buana Cemerlang untuk penggilingan sampah plastik, mencari bahan baku, menggiling, dan mengeringkan sampah. Majestik Buana Cipta Kreasi bertugas mengkreasi mesin-mesin daur ulang sampah, mesin injeksi, blowing, dan kompos. Majestik Buana Cipta Guna membuat kepala sapu ijuk, celengan, dan sebagainya. Majestik Buana Cipta Selaras sebagai divisi nonprofit, menyelaraskan kepentingan para mitra.

Baedowy menerapkan prinsip keterbukaan kepada sekitar 30 karyawannya. Termasuk soal keuangan. “Nanti, usia saya 45 tahun kan pabrik ini punya karyawan, saya kasihkan karyawan. Itu obsesi saya. Nanti saya tidak akan mayoritas memiliki ini. Kan sekarang pemilik tunggal. Nanti saya 10 persen. Sisanya 90 persen untuk karyawan, dibagi proporsional menurut masa kerja dan jabatannya,” jelasnya. Tujuannya, untuk mengukur kesetiaan dan rasa memiliki. (c2/kum) (Sugeng Sulaksono)

Reza, Lewat Bisnis Tutup Klosetnya Kuasai 18 Negara

Tahun 1998 lalu, Fernanda Reza Muhammad terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari perusahaan kontraktor asing tempatnya bekerja karena terkena krisis moneter.

Karena itu, Reza memutar otak untuk mencari mata pencaharian baru. Ahirnya, dengan modal Rp 40 juta, dia mendirikan Deco Resion (DR), dan mulai memproduksi penutup kloset berbahan resin yang bening, sehingga di dalamnya bisa diberi hiasan kerang. Sebagai tempat kerja, Reza menggunakan tempat kosnya di Surabaya untuk memproduksi tutup kloset. “Saya hanya ingin mendirikan suatu perusahaan yang unik dan belum digeluti banyak orang,” kata Reza.

Setelah itu, Reza menghubungi pabrikan perlengkapan kamar mandi terkemuka di Australia, Loo with a View melalui internet. Dia berhasil memikat Loo dengan menawarkan harga murah 50 dollar Australia. Sedangkan produk serupa di  Australia mencapai 225 dollar Australia.

Enam hari kemudian, Loo mengirim tenaga kontrol kualitas ke DR sekaligus mengajarkan proses pembuatan tutup kloset dari bahan resin. Tidak hanya itu, Loo juga memesan satu kontainer (isi 900-1.000  buah tutup kloset). Penjualannya ke pasar ekspor khususnya Australia dan Inggris mendapat respon positif dan terus meningkat.

Sukses Reza menarik distributor asal Singapura, In Trade Consultacy (ITC) yang menawarkan kerjasama, Reza dan DR-nya memproduksi, sedangkan pemasarannya diurus ITC. Dibawah bendera baru, yakni ITC Asia Pasific, produksi perusahaan meningkat tajam menjadi dua kontainer per  bulan dan tenaga kerjanya 50 orang.

Negara jajahannnya pun semakin luas merambah hingga 18 negara didunia, termasuk negara-negara kaya Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Bahrain dengan nilai 140 ribu per bulan. “Saat itu kami mengalami masa-masa keemasan,” ujar pria usia 37 tahun ini.

Namun tahun 2003 pasar ITC menyusut karena terimbas dampak bom WTC dan bom bali I. Reza terpaksa melakukan efisiensi besarr-besaran, mengurangi kapasitas beberapa line produknya, dan mengurangi tenaga kerjanya hingga tinggal 10 orang. “Saat itu benar-benar masa sulit bagi saya. Namun, saya mencoba bangkit, pokoknya harus survive,” kata alumni S2 Universitas Erlangga ini.

Reza harus berjuang keras untuk meraih masa kejayaannya kembali. Dia rajin mengikuti pameran internasional, melakukan personal selling, mengunjungi klien di negara tujuan, dan menggencarkan public relations. “Setidaknya saya tetap survive hingga kini. Dalam sebulan saya bisa menyelesaikan order 3 kontainer,” ujar Reza.

Namun, bukan berarti semua kendala telah sirna. Reza mengaku, saat ini harga bahan baku terus melonjak dan keinginan pasar selalu berubah. Selain itu, pemadaman listrik yang dilakukan PLN akhir-akhir ini membuatnya terpaksa menelan kerugian. Pasalnya, ujar Reza, ketika produksi sedang berjalan tiba-tiba listrik mati sehingga menggagalkan proses produksi.

“Saya pernah diklaim konsumen gara-gara terlambat menyelesaikan order gara-gara listrik di tempat produksi mati tiga kali dalam satu minggu. Ya, sebaiknya pemerintah memperhatikan hal ini,” kata Reza.

Kedepan, Reza ingin mengembangkan pemasaran produknya ke dalam negeri untuk menambah jaringan pemasaran. Menurut Reza, era sekarang bukan siapa yang besar yang bisa menguasai pasar, melainkan siapa yang cepat yang bisa menguasai pasar.

==================================================
Promosia Indonesia
Jl Dukuh Kupang X/6 Surabaya 60225
031-5687116/0811-325329

sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2008/09/23/08182640/Reza.Tutup.Kloset.Kuasai.18.Negara

 

Joko Sriyanto, Dulu Kuli Bangunan Kini Jadi Juragan Batako yang Beromzet Miliaran

Joko Sriyanto benar-benar beruntung. Keputusannya menekuni bisnis membuat batako telah mengubah hidupnya. Kini, ia menjadi seorang pengusaha sukses dengan omzet miliaran rupiah per tahun. Namun, sebelum sukses menjadi juragan batako, Joko pernah mengalami lika-liku hidup, termasuk menjadi kuli bangunan.

Menjadi pengusaha sukses adalah impian banyak orang. Namun, tak banyak orang yang berani mencapainya tanpa modal yang memadai. Banyak orang beranggapan, untuk menjadi pengusaha sukses harus punya modal besar. Namun, Joko Sriyanto telah mematahkan anggapan itu.

Bagi Joko, modal paling penting adalah kemauan dan keberanian menghadapi risiko. Kedengaran klise, tapi Joko rnembuktikan itulah yang membuatnya berhasil menjadi pengusaha batako dengan omzet miliaran.

Lelaki yang tahun ini berusia 40 tahun cuma lulusan STM. Tapi, kini ia telah menjadi pengusaha sukses yang bisa mengurus bisnis atau sekadar jalan-jalan dengan mengendarai Mercedes-Benz bernomor J 0 KO. “Kemarin saya juga barusan naik haji,” tuturnya. Joko yang dulu hidup di rumah berukuran 2 x 6 meter selama 10 tahun, kini tinggal di rumah megah yang berdiri di atas tanah seluas 6.000 m2.

Ya, Joko yang dulunya hidup pas-pasan dan sempat menjadi kuli bangunan kini telah mejadi juragan batako besar dari Sleman. Lewat UD Marga Jaya yang dia dirikan tahun 1999, Joko kini meraup omzet Rp 2 miliar setahun.

Sejumlah perusahaan kontraktor perumahan swasta di Semarang, Tegal, Yogyakarta, dan Solo kini tercatat sebagai pelanggan tetap Joko. Selain itu, Joko juga memiliki 14 truk pengangkut batako dan memiliki sekitar 120 pekerja.

Menurut Joko, semua kesuksesan itu adalah buah kerja keras dan keberuntungan. Ia mengaku tak punya warisan, kecerdasannya pun biasa saja. Semasa sekolah ia bukanlah murid pintar. “Nilai saya jelek terus,” tuturnya tersipu.

Joko mengenal usaha batako secara tak sengaja. Pada 1987, Joko muda  bekerja di sebuah bengkel mobil di Jakarta. Setelah beberapa bulan bekerja, ia tak kunjung mendapat upah.

Menyadari diperlakukan semena-mena oleh majikannya, Joko pun minggat. Ia menerima pekerjaan serabutan sekadar untuk bertahan hidup. Apalagi, ia butuh duit buat biaya pulang kampung.

Peluang kerja yang terbuka baginya saat itu adalah menjadi kuli bangunan. “Saya butuh duit, jadi saya terima pekerjaan kasar itu,” kenang Joko. Tapi, siapa sangka justru dari pekerjaan kasar itulah pintu keberuntungan Joko mulai terbuka

Joko membangun bisnisnya dengan modal hanya Rp 350.000, hasil sumbangan pernikahannya. Meski tidak pernah mengecap sekolah hingga perguruan tinggi, Joko selalu memunculkan ide kreatif. Salah satunya adalah menguji batako buatannya ke laboratorium UGM untuk mendapatkan sertifikat.

Selepas empat bulan bekerja sebagai kuli bangunan, Joko pun memutuskan pulang ke kampung halamannya di Sleman. Di sana ia bekerja di usaha bangunan milik sang kakak.

Didorong keinginan kuat untuk mandiri, Joko memutuskan membuka usaha sendiri. Dengan modal awal sebesar Rp 350.000 dari hasil dari sumbangan pernikahannya, suami Istuti Ening Setiawati ini memutuskan membuka bisnis sendiri.

Joko menggunakan modal sebesar itu untuk membeli 100 sak semen yang bisa menghasilkan 400 bis beton. “Untuk cetakan, saya pinjam dari kakak,” ujarnya sembari tersenyum. Dari penjualan 400 batako, Joko berhasil mendapatkan Rp 1,2 juta. Uang tersebut langsung ia putar kembali untuk membeli semen dan pasir yang merupakan bahan baku bis beton.

Setiap hari bis beton bikinan Joko selalu habis dibeli pelanggan. Hal ini karena kualitas bis beton bikinan Joko bagus. “Bahkan belum sempat kering, orang sudah antre beli bis beton,” ujarnya sembari terkekeh.

Selain karena kualitasnya yang bagus, pelanggan menyukai bis beton buatan Joko, terutama karena Joko bersedia memberikan utangan bagi pembelinya.

Tanggapan pasar yang begitu hangat memacu Joko makin serius mengembangkan usahanya. la merekrut sejumlah orang di desanya untuk membantu proses produksi. Karena usahanya belum stabil, ia menambah pekerjanya secara bertahap.

Produk Joko pun terus berkembang, tidak lagi hanya bis beton. “Saya juga memproduksi tegel dan batako,” ujar Joko.

Ekspansi produk Joko ini juga sukses. Pesanan tegel miliknya mengalir kencang. Maklum saja, waktu itu di Sleman sedang gencar-gencarnya orang melakukan pembangunan proyek rumah sederhana. Kini, selain bis beton, tegel, dan batako, Joko juga memproduksi paving block dan semen curah.

Tak banyak yang tahu, usaha Joko membangun bisnisnya hanya berdasarkan pengalaman, bukan berdasarkan ilmu sekolah. Meski begitu, Joko cukup cerdas dengan menguji kualitas produknya ke laboratorium di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Alasannya simpel saja, biasanya orang akan lebih percaya kalau sebuah produk memiliki sertifikat.

Dalam perjalanan membangun usahanya hingga sukses seperti sekarang, Joko mengalami jatuh bangun. la pernah rugi gara-gara ada pelanggan yang mangkir membayar utang Rp 240 juta. Usahanya pun sempat hancur akibat gempa bumi tiga tahun silam. Tapi, ia bisa bangkit karena menerapkan prinsip menabung dan hidup sederhana.

Sukses Joko bukannya tanpa kendala. Setelah usaha bis beton berkembang, ia juga menggarap tegel. Tapi, belakangan, permintaan tegel atau ubin terus menurun. “Waktu itu orang lebih memilih memakal keramik ketimbang ubin buat membangun rumah,” tutur lelaki kelahiran Klaten ini.

Otak Joko berputar cepat mencari ide lain. Ia lantas mengutak-atik lima mesin pembuat tegelnya. Ia berusaha mengubah spesifikasi dan fungsi alat itu menjadi mesin pembuat batako. Alhasil, bisnis Joko tertolong oleh produksi batako.

Namun Kemurahan hati Joko memperbolehkan pelanggannya membayar dengan mencicil berbuah pahit. Beberapa pelanggan sempat mangkir membayar utang. Pada tahun 2006, ia menelan kerugian sampai Rp 240 juta gara-gara seorang pelanggannya mangkir. Saat menagih utang, Joko malah mendapat ancaman. “Banyak preman datang ke rumah, Saya jadi takut,” kenang getir.

Gempa Yogyakarta tiga tahun silam juga memorakporandakan usaha Joko. “Pas gempa, batako saya hancur dan menimpa mesin,” tutur Joko. Kerugiannya mencapai Rp 100 juta.

Meski begitu, Joko tidak menyerah. la terus belajar dari kegagalannya. Selain itu, Joko bisa bertahan berkat kebiasaannya menabung. Pada 1995, Joko membeli motor dengan angsuran Rp 250.000 per bulan. Dua tahun kemudian, saat kreditnya lunas, ia menjual kembali motornya. “Saya butuh duit buat membayar uang muka mesin genteng,” ungkap Joko.

Meski kondisi ekonomi sudah berkembang, Joko tak lantas berubah. la tetap memakai celana pendek dan kaos saat menjalankan usaha. Gara-gara cara berpakaian yang sederhana itu, ia pernah dipandang sebelah mata oleh bank. Sebab, wajah dan cara berpakaiannya tak mencerminkan tanda kemakmuran.

Cara hidup sederhana Joko itu tak lepas dari cita-citanya semasa kecil. Waktu itu ia ingin menjadi guru yang hidup sederhana. Tapi, selulus Sekolah Menengah Pertama (SMP), lamarannya ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Solo ditolak. “Tinggi badan saya tak cukup,” katanya.

Meski sukses seperti sekarang, Joko mengaku tak langsung jumawa. la tetap menghargai orang lain. “Saya banyak mengambil pekerja lulusan SD,” kata bapak tiga anak dari satu istri ini. (Dessy Rosalina/Kontan)

sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2009/02/27/09220197/Joko.Sriyanto.Kuli.Bangunan.Jadi.Juragan.Batako.3.

Mantan Tukang Las Itu Raup Omzet Ratusan Juta

KOMPAS.com – Berawal sebagai tukang las di sebuah bengkel, Adnan sukses menjadi pebisnis perlengkapan pabrik. Berbagai perusahaan besar telah menjadi pelanggannya. Yang menarik, modal Adnan mengawali usaha hanya berupa mesin bubut yang ia sewa dari sebuah sekolah.

Kerja keras dan pantang menyerah menjadi kunci kesuksesan Adnan dalam membangun usaha. Berpuluh tahun bergelut di bidang pengelasan, akhirnya Adnan berhasil mendirikan sebuah perusahaan sendiri yang bergerak di bidang pabrikasi.

Di bawah bendera PT Teknik Makmur Perkasa Asri (PT TEMPA), Adnan memasok berbagai perlengkapan pabrik dan komponen pendukung untuk mesin dan alat berat, khususnya onderdil yang terbuat dari logam.

November ini, Adnan mengubah bentuk usahanya menjadi perseroan terbatas (PT). Sebelumnya, usahanya baru sebatas usaha dagang (UD) bernama UD ASRI. Selama berbentuk UD,  Adnan berhasil memperoleh order atau tender melalui pihak ketiga.  Dengan mengusung izin usaha sebagai perusahaan, Adnan berharap bisa memasok langsung perlengkapan ke perusahaan besar yang selama ini hanya ia kenal lewat pihak ketiga.

Bersama tujuh pekerja tetapnya, saat ini Adnan memproduksi berbagai perlengkapan dan komponen, mulai dari mesin pabrik, tangki, komponen penggulung plat, sampai rol penyekat minyak kapal tanker. Meski terbilang sederhana, Adnan berhasil membangun tempat produksi sendiri di Kalimalang yang ia sebut sebagai bengkel pabrik. “Tapi tempatnya masih kecil untuk dibilang pabrik,” ujar Adnan merendah.

Di bengkelnya, pria asal Boyolali ini mengerjakan berbagai pesanan komponen dari perusahaan pembuat alat berat, seperti PT Truba Enginering, PT Globindo, dan PT Krakatau Steel.

Siapa sangka, Adnan memulai usaha itu dari nol. Bisa dibilang, ia tak mengeluarkan modal yang banyak ketika memulai usaha 19 tahun silam. Untuk bekerja, Adnan menyewa mesin bubut milik sebuah sekolah di Rawamangun dengan tarif Rp 15.000 per hari.

Adnan menceritakan, keahlian mengelas ia peroleh dari tempatnya bekerja sebagai tukang las di Jakarta. Delapan tahun bekerja sebagai tukang las alumunium membuatnya percaya diri merintis usaha pengelasan sendiri. Produk pertamanya adalah komponen penggulung plat. “Orang tahunya kalau saya ahli membuat perlengkapan dari logam,” ujar bapak tiga anak ini.

Bisnis Adnan terus berkembang. Kini pesanan kepada dia terus mengalir seiring semakin populernya nama Adnan. Saat sepi saja, Adnan sanggup meraup omzet paling tidak sebanyak sekitar Rp 50 juta per bulan. Saat ramai, omzetnya melonjak hingga ratusan juta rupiah per bulan.

Sejatinya Adnan tidak pernah membayangkan bakal punya perusahaan dan bengkel kerja seperti sekarang. Kepergiannya dari Boyolali ke Ibukota justru karena paksaan ekonomi keluarga.  Penghasilan orangtuanya dari bertani tidak cukup untuk membiayai sekolahnya. Ia pun tak ingin terus membebani keluarga. “Hal itu memaksa saya segera pergi merantau ke mana saja, yang penting bisa punya penghasilan sendiri,” kenang Adnan.

Alkisah, selepas lulus sekolah teknik mesin (STM) di Boyolali pada 1982, pria yang mengambil jurusan mesin umum ini berangkat menuju tanah perantauan pertamanya ke Lubuk Linggau, Sumatra Selatan. Dia berangkat bersama beberapa rekannya, meski tidak punya kenalan yang dituju di sana. Namun, berbekal keahliannya dari bangku sekolah, dia bisa dipekerjakan sebagai teknisi sepeda motor di sebuah bengkel di Lubuk Linggau.

Sayang, baru jalan tiga bulan, Adnan memutuskan kembali ke tanah kelahirannya. Biaya hidup yang terlalu mahal membuatnya merasa tidak bisa bertahan di rantau.  Setelah kembali ke rumah, lagi-lagi Adnan merasa tidak nyaman membebani keluarga. Beberapa bulan kemudian dia memutuskan hijrah ke rumah sepupunya di Jakarta bermodalkan sisa tabungan sebesar Rp 35.000.

Di situ, kesabarannya diuji. Sebab, beberapa bulan berjalan dia belum juga mendapat pekerjaan. “Selama itu pula saya bantu-bantu pekerjaan rumahtangga, seperti mengepel, angkat air,” kisah pria 49 tahun ini.

Penantiannya tidak sia-sia. Pada bulan ketiga berada di Ibukota, akhirnya dia mendapat pekerjaan sebagai teknisi di salah satu bengkel di daerah Tanjung Priok.  Selama bekerja di bengkel itu, Adnan tidak cepat berpuas diri. Dia berpikir untuk mengembangkan diri dengan belajar keahlian lain. Kebetulan di bengkel tempatnya bekerja ada kesempatan belajar mengelas. Selama tiga hari berturut-turut, ia memanfaatkan kesempatan untuk belajar mengelas mobil.

Dari pekerjaan ini, dia cuma mendapat tambahan uang makan. “Saya pikir, biarlah tidak digaji, yang penting dapat ilmu lebih, karena saya ingin menjangkau lebih lagi ke depannya,” tuturnya.

Merasa cukup mampu berjuang di lingkup lebih besar, Adnan memutuskan keluar dari bengkel. Tak lama kemudian, dia diterima sebagai tukang las aluminium di sebuah perusahaan yang memproduksi peralatan transportasi di Jakarta. “Selama delapan tahun saya menimba ilmu dan pengalaman di sana. Selama itu pula saya bekerja sambilan sebagai tenaga panggilan mengelas di Mayasari Bakti,” kenang pria sederhana ini.

Menurutnya, pendapatan dari mengelas panggilan justru jauh lebih besar dari gaji bulanannya. “Dari las, saya bisa mencicil rumah ketika itu,” kenangnya.

Hal inilah yang kemudian mencetuskan ide dalam benaknya untuk membuka usaha las sendiri. Apalagi dengan modal pengalaman dan kenalannya, dia merasa cukup mampu untuk merintis usaha pengelasan.

Untuk membangun PT Teknik Makmur Perkasa Asri (PT Tempa) hingga beromzet ratusan juta sebulan seperti sekarang, Adnan harus merasakan gonta-ganti pekerjaan beberapa kali.  Awalnya, usaha Adnan yang bergerak di bidang pembuatan peralatan pabrik ini masih berjalan tanpa nama. Ia mendapatkan order dari sebuah Sekolah Teknik Mesin (STM) di Rawamangun, Jakarta. Ia juga menyewa tempat di STM ini.

Dari sekolah inilah, Adnan menyewa beberapa mesin bubut sebagai alat operasinya. Selama dua tahun pertama, order pengerjaan mesin datang dari STM tersebut. Tapi, memasuki tahun ketiga, datang beberapa order dari perusahaan besar dengan nilai puluhan juta rupiah. Misalnya dari PT Krakatau Steel dan dari PT Globindo di Sunter untuk mengerjakan empat unit rol penyekat minyak di kapal tanker. Proyek bernilai Rp 22 juta itu berhasil dia selesaikan dalam tempo tiga minggu saja. “Waktu itu, saya mulai menabung untuk membeli tanah,” ujarnya.

Sayang, ujian datang ketika Adnan sedang di atas angin. Salah satu pengurus STM mengusirnya karena merasa kurang cocok. Ia pun terpaksa hengkang dari STM tersebut dan kembali ke tanah kelahirannya di Boyolali. Ia kemudian memulai usaha pembelahan kayu. Tapi karena merasa kurang cocok, usaha ini hanya berjalan beberapa bulan. Begitu pula dengan usaha-usaha lainnya, seperti usaha pembuatan alat kebersihan, usaha mi ayam, dan lainnya.

Akhirnya, di 1996, ia memutuskan kembali ke usaha semula. “Kebetulan salah satu kepala unit usaha STM menawari saya tempat,” ujarnya. ujarnya.  Tak menunggu lama, order pun mulai mengalir lagi. Setahun kemudian, dia menamakan usahanya Usaha Dagang (UD) Asri dan menyewa tempat usaha baru. Tiga tahun berselang, ia membeli peralatan sendiri.  Lantaran biaya sewa tempat usaha terus naik, Adnan memutuskan membangun bengkel di atas lahan miliknya sendiri seluas 400 meter persegi. “Dulu dindingnya dari bambu,” kenangnya.

Karena pindah ke lokasi baru dan bengkelnya kurang meyakinkan, order mulai seret dan terancam tutup. Bahkan pernah satu hari ia hanya punya uang untuk membeli bensin. “Tapi saya pantang menyerah, rajin promosi dari mulut ke mulut, dan melobi,” katanya.

Hasilnya, perlahan order mulai mengalir lagi. Produksi bengkelnya terus meningkat. Bahkan ia sempat menambah mesin dan membangun gudang tiga tahun silam. “Kuncinya, kualitas produk harus bagus,” ujarnya.  Akhirnya, November ini, usahanya resmi menjadi Perseoran Terbatas (PT). ( Dupla Kartini PS/Kontan)

sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2009/12/13/12354649/Mantan.Tukang.Las.Itu.Raup.Omzet.Ratusan.Juta

Pabriknya Pernah Kebakaran, Kini Sukses Ekspor Mebel ke Berbagai Negara

Memulai kembali bisnisnya dari nol, setelah pabriknya hampir bangkrut karena terbakar, merupakan bagian dari perjalanan Integra menjadi eksportir mebel terbesar di negeri ini. Kini, Integra berhasil mengekspor mebel 300-400 kontainer setiap bulan.

Sepintas, kondisi pabrik PT Integra Indocabinet tampak biasa saja. Sama seperti kondisi pabrik-pabrik lainnya di sepanjang Jalan Raya Betro, Desa Betro, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pabrik Integra terlihat sibuk dan ramai dengan lalu-lalang pegawai dan kendaraan. Tidak ada yang istimewa, termasuk ruang kantornya yang terkesan sangat sederhana. Yang tampak di ruangan itu hanyalah pajangan produk-produk mebel, bisnis yang digeluti Integra.

Jangan anggap enteng penampilan sederhana ini. Ketika semakin masuk ke dalam pabrik, Anda akan dibuat tercengang melihat luasnya area pabrik mebel ini. Betapa tidak? Integra menempati area seluas 25 hektare lebih. “Bentuk pabrik kami kebetulan ngantong. Jadi, bagian belakang lebih luas dibandingkan bagian depan,” kata Halim Rusli, pemilik Integra menjelaskan.

Ketika SWA menyusuri pabrik Integra menggunakan kendaraan khusus, pabrik tersebut tertata rapi dan bersih, termasuk toiletnya. Umumnya pabrik kayu terlihat centang perenang, tetapi Integra tidak. Balok-balok ukuran tertentu disusun berjajar rapi berdasarkan jenis kayu dan tingkat kekeringannya. “Kami memiliki stok bahan baku, minimal untuk produksi tiga bulan ke depan. Itu untuk raw material maupun barang dalam proses,” Halim menjelaskan. ”Jadinya, sebagian besar modal kerja banyak terserap pada stok bahan baku.”

Di bagian penggergajian kayu, yang biasanya sarat debu (serbuk gergajian kayu) dan desing suara tidak terkendali, seperti musnah entah ke mana. Debu beterbangan dan desing memang ada, tetapi kuantitasnya tidak sebesar di pabrik-pabrik lain pada umumnya. “Debu akibat pemotongan kayu dan suara bising yang keluar akibat penggergajian memang kami kendalikan. Kalau tidak, customer akan lari,” kata pria berusia 50 tahun itu.

Integra ternyata juga memanfaatkan limbah debu hasil gergajian kayu itu. Debu itu dikumpulkan menjadi satu dan digunakan sebagai pemanas dengan tujuan untuk mengurangi kadar air pada kayu. Selain itu, Integra juga memiliki unit tersendiri untuk mengubah serbuk kayu menjadi briket-briket tanpa disentuh oleh tangan manusia sedikit pun karena menggunakan mesin yang bekerja otomatis. “Ke depan, kami ingin pengolahan ini menjadi unit yang berdiri sendiri dan mengubah diri dari cost center menjadi profit center,” kata Halim.

Keinginan serupa juga disematkan Halim pada unit peralatan. Unit yang dipimpin oleh orang asing ini bertugas melayani berbagai macam peralatan yang dibutuhkan pabriknya seperti mata bor dan mata gergaji. Dengan kompletnya alat yang dimiliki, selain unggul dalam hal kustomisasi bentuk dan ukuran, pengerjaan pun bisa tepat waktu sehingga tidak mengganggu perencanaan proses produksi.

Selain memiliki pabrik di Betro — pabrik terbesar di kawasan tersebut — Integra juga memiliki dua pabrik pendukung di daerah berbeda, juga di Sidoarjo. Luas masing-masing kedua pabrik pendukung itu sekitar 15 ha. “Jadinya, total luas pabrik kami mencapai 50 ha. Setiap bulan kami mampu mengekspor mebel pada kisaran 300-400 kontainer,” tuturnya bangga.

Jika merunut ke belakang, sejatinya pencapaian Integra hingga seperti sekarang tidak diraih dengan mudah. Perusahaan ini dibangun dengan merangkak dari bawah. Bahkan, hampir bangkrut karena pabriknya pada 1994 terbakar. Semuanya musnah menjadi abu. “Ini di luar perkiraan kami saat awal didirikan. Dan saya yakin ada tangan Tuhan yang berperan,” ucap Halim bersyukur.

Memang, pada 1994 pabrik ini dilalap api. “Waktu itu, saya merasa semuanya selesai dan tutup buku serta berpikiran untuk ganti haluan,” ia mengenang pengalaman pahitnya. Namun, nasib berkata lain karena para mitra, pemasok dan pelanggannya malah memberikan dukungan agar Integra bisa tetap berjalan meskipun modalnya sudah ludes dilahap api. Akhirnya, Integra pun bisa bangkit lagi hingga sebesar sekarang. “Inilah jalan terjal yang harus dilalui Integra. Sekarang kami menjadi pabrikan mebel terbesar di Indonesia.”

Halim tidaklah dilahirkan dari keluarga yang memiliki dasar entrepreunership. Ayahnya seorang bankir. Selepas lulus dari universitas di Amerika Serikat, ia pun balik ke Surabaya. Kemudian, bergabung dengan Ria Star, pabrikan alat-alat rumah tangga yang terkemuka hingga sekarang. Perusahaan ini milik saudaranya.

Namun, dalam perjalanannya Halim merasa terinspirasi kegiatan yang dilakukan salah satu pabrik di Surabaya. Pabrik itu membuat rak kaset dan kemudian diekspor. Bisnis pabrik ini terlihat moncer karena setiap hari bisa mengekspor lebih dari empat kontainer. “Saya lantas ingin melakukan hal serupa. Untungnya, ada salah seorang karyawan di pabrik itu yang bersedia gabung.”

Maka, pada 1989, mulailah ia dan dua karyawannya itu membuat rak kaset dari bahan mdf (medium density board). Ternyata, memang tidak rumit. Ia bahkan mampu memproduksi dalam jumlah banyak. Dalam sehari bisa memproduksi sampai dua kontainer. Namun, justru dari sinilah timbul permasalahan. Halim mengalami kesulitan menjual produk. Tidak segampang bayangan di awal. Apalagi saat itu, Indonesia belum terlalu dikenal seperti sekarang. Belum lagi harus menghadapi mafia-mafia importir di berbagai negara.

Terlebih lagi, teknologi dulu tidak secanggih sekarang. Untuk komunikasi, dulu masih memakai telex. Makanya, Halim sering menyambangi langsung dan presentasi ke importir seperti di Taiwan dan AS serta mengikuti berbagai pameran mebel di kedua negara itu. Namun, tetap saja mereka seperti tidak tertarik.

Namun, suatu waktu ada satu importir Taiwan tertarik. Ini menjadi titik terang bagi bisnis Halim. Meski demikian, perjalanan tidak semulus yang dibayangkan. Tidak semua importir memiliki rekam jejak yang baik. Ini terlihat dari respons mereka saat barang sudah sampai di negaranya. Mereka mengancam menolak karena produknya dinilai tidak memenuhi kualitas. Ternyata, ujung-ujungnya satu: mereka meminta diskon. “Memang menebus pasar luar negeri tidaklah mudah,” ungkapnya mengingat masa-masa sulit dulu. Akhirnya, setelah berjalan beberapa bulan, Halim bisa menentukan siapa saja importir yang memiliki itikad baik. Sementara yang tidak baik akan tergelincir secara otomatis.

Waktu itu pada 1992, ada permintaan pasar rak kaset. Halim pun memproduksinya dari bahan baku kayu, tidak lagi dari mdf. “Mdf perlahan-lahan kami tinggalkan karena perubahan perilaku pasar,” ucapnya. Pada tahun sama, ia juga memperoleh informasi bahwa IKEA membutuhkan baki (tray) dari kayu.

Maka, ia pun mengajukan permohonan menjadi salah satu pemasok. Setelah diberi contoh profil, ia lantas membuatnya dan memberikan beberapa modifikasi. “Setelah kami tawarkan kembali hasil kreasi kami, ternyata IKEA tertarik dan bersedia mengambil produk kami. Kebetulan, baki kami laris manis,” kata Halim. Ia bahagia bisa memasok produk ke peritel mebel terbesar di dunia yang memiliki 326 gerai di 38 negara itu.

Dari sinilah, jalan seakan terbentang lebar dan bisnis makin lancar. IKEA banyak membantunya dalam hal desain, penataan, bahkan manajemen. Sayangnya, pada 1994 itu Integra terkena musibah. Pabriknya terbakar. “Tapi, peristiwa itu blessing juga. Bayangkan saja, karena dulu mengejar target capaian ekspor, kondisi pabrik morat-marit. Usulan tata ulang lay out pabrik nggak pernah terlaksana. Bagaimana mau ditata, wong tiap hari digunakan,” katanya. Maka dengan adanya kebakaran itu, ia dibantu mitra, pemasok dan pelanggannya mulai menata ulang sehingga kondisi tata ruang pabriknya menjadi lebih baik.

Menurutnya, produknya dipercaya pelanggan karena pihaknya menekankan pada kualitas, efisiensi dan produktivitas. “Kami di sini bekerja di dalam tim dan model produksi kami adalah by order. Kalau customer datang, order akan diserahkan ke bagian R&D (riset dan pengembangan).”

Tim R&D kemudian membuat analisis dan gambar secara detail. Termasuk, aneka penghitungan biaya dikaitkan dengan bahan baku. Dari R&D, kemudian dilakukan rapat tim untuk menentukan langkah operasional di lapangan. Bagian mana yang bisa diefisienkan dan mana pula bagian yang sejatinya tidak bisa dikerjakan. Semuanya diurai dengan detail sehingga tidak menimbulkan persoalan di tingkat operasional nantinya. Selesai itu, baru diajukan kembali ke pelanggan. Ia pun memberikan kebebasan kepada pelanggan untuk memutuskan memilih model dan jenis mana yang mereka inginkan.

Begitulah Integra bekerja, sehingga produknya digemari pelanggan. Apalagi, Integra memiliki produk mebel dalam bentuk ready to assembly (RTA) yang merupakan produk yang bisa dirakit di tempat tujuan. Misalnya, case goods seperti ranjang atau house component seperti kusen dan daun pintu. Sistem kerja dan produk seperti itu membuat pesanan IKEA pun terus bertambah, baik dari sisi kuantitas maupun jenis produk. Termasuk, pelanggan dari negara lain seperti Jepang.

Khusus untuk pengerjaan rotan, karena membutuhkan banyak tenaga, Halim mendayagunakan model inti plasma. “Kami memiliki tiga ribu plasma yang tersebar di Desa Menganti. Mereka siap mengerjakan order yang kami berikan,” katanya. Mereka bisa seperti itu karena Integra melakukan pelatihan dulu. Sekarang tinggal menjalankan dengan beberapa koordinator dan pengawas kontrol-kualitas daerah.

Untuk bahan baku, Integra sudah menjalin kerja sama dengan banyak pemasok agar produksi tetap lancar. Agar pasokan lebih aman, sejak dua tahun lalu Integra memperoleh hak pengusahaan hutan (HPH) seluas 200 ribu ha di Kalimantan Timur. Lahan tersebut ditanami sengon sehingga dalam jangka waktu delapan tahun bisa panen. “Kamilah satu-satunya HPH yang berhasil memperoleh sertifikat Forest Management Chain of Custody,” ujar Halim. Pihaknya harus tetap berjaga-jaga karena bahan baku semakin lama semakin menjadi primadona dan jadi rebutan banyak orang.

Bahan baku Integra ini juga dipasok oleh perusahaan perkebunan nasioal. Endang Sulaiman, Manajer Wilayah I PT Perkebunan Nasional (PTPN) 12, salah satu pemasok Integra, mengatakan, kayu sengon dalam bentuk log memang tengah menjadi primadona. Sebagian hasil produksi PTPN 12 memang dipasok ke Integra, salah satu mitranya di antara 11 mitra lainnya dalam urusan kayu sengon. Kiriman terbesarnya memang tidak ke Integra, tetapi ke Karunia. Kiriman untuk Integra sama dengan mitra lain.

Mengapa disebut primadona? Karena sebelum melakukan penebangan, PTPN 12 membuat penawaran terlebih dulu kepada 11 perusahaan itu. Misalnya, bila Integra setuju untuk membeli 5 ribu kubik, dibuatlah kontrak. Salah satu klausul kontraknya berbunyi agar Integra melunasi pembayaran. Misalnya, tujuh hari setelah tanggal kontrak ditetapkan.

Bila pelunasan dilakukan, turunlah perintah untuk melakukan penebangan. Jadi, dalam kasus pembelian kayu sengon dalam bentuk log, pembayarannya selalu di depan. Nah, Integra selama ini tidak punya masalah dengan PTPN 12, karena kalau bermasalah, tentu akan dicoret dari daftar pelanggan perusahaan perkebunan tersebut. “Jadi, selama ini hubungan kami dengan Integra berlangsung dengan aman dan sama-sama menguntungkan. Nilainya positif, karena Integra tidak pernah ingkat janji,” ujar Endang.

Selanjutnya, dalam hal pemasaran, Integra perlahan-lahan akan mengarahkan produknya untuk diserap peritel. Bukan lagi memfokuskan diri menggarap para importir di berbagai balahan negara. Ini merupakan salah satu langkah strategis karena Integra berusaha memotong salah satu mata rantai distribusi sehingga harga yang jatuh ke tangan konsumen akan menjadi sangat terjangkau. “Saat ini, kami masih bekerja sama dengan 10-15 importir besar dan 50 peritel besar di berbagai negara,” ungkapnya menginformasikan.

Selain itu, Integra juga berencana memasok mebel untuk hotel-hotel di dalam dan luar negeri. Syaratnya, mereka harus memenuhi minimal order, yaitu 300 pieces per model di mana satu produk adalah satu model.

“Perjalanan Integra di bawah kendali Halim Rusli patut diacungi jempol. Lebih-lebih bisa merangkul IKEA yang notabene kelas dunia,” ucap Bambang Irawan, konsultan dari ICM Surabaya, mengomentari kinerja Integra. Namun saat ini, tantangan yang harus dihadapi Integra adalah masalah krisis Eropa dan AS. Menurutnya, IKEA memang berjaya di bidangnya. Namun, jika daya beli konsumen Eropa menurun, bisa menurun pula pasar IKEA. Dampaknya juga nantinya akan terasa oleh Integra.

Bambang menyoroti soal krisis ini karena beberapa waktu lalu banyak pemain industri mebel nasional pergi ke Eropa untuk mengunjungi buyer-buyer besar, termasuk bertandang ke IKEA. Mereka bercerita bahwa saat ini IKEA menyadari dampak krisis Eropa. IKEA sedang berusaha mencari terobosan untuk mengatasi dampak krisis tersebut.

“Ini sebaiknya juga diantisipasi Integra. Kemungkinan penurunan order, yang terjadinya entah sampai kapan. Juga, tidak ada informasi yang pasti kapan pula Eropa bangkit dari krisis. Maka, selayaknya Integra segera melakukan inovasi-inovasi baru,” Bambang memberi masukan.

Selain itu, sudah saatnya Intergra berperan sebagai pemain langsung dalam medan industri mebel ini. “Bukankah Integra sudah banyak belajar dari IKEA sewaktu berposisi sebagai ‘tukang jahit’ untuk brand-nya? Bukankah sudah punya pengalaman dipetik?” katanya. Bambang juga melihat, bagian R&D Integra sudah tergolong maju sehingga bisa mengarah ke sana.

Sudah saatnya pula Indonesia mulai jadi pemain. Bukan sekadar menjadi ”tukang membuat” atau ”tukang jahit” untuk merek-merek pihak lain. Sasaran pasarnya pun bukan hanya Eropa atau AS, tetapi mulailah merambah pasar Asia Tenggara terlebih dulu, dan kemudian merambah pasar Australia. “Dengan kekuatan dan gaya leadership Halim Rusli sekarang, saya percaya Integra mampu melakukannya,” Bambang meyakini.

Terlepas dari semua itu, yang pasti, sekarang Halim tinggal memetik hasil dari kerja kerasnya selama ini setelah menembus jalan terjal yang berliku. “Kondisi saya saat ini memang tidak sesibuk dulu karena semua proses sudah ditangani tim. Tapi saya masih tetap ngantor tiap hari,” ucapnya.

Kehadirannya di Integra masih diperlukan, terutama untuk menjembatani perbedaan pendapat yang memerlukan keputusannya. Ia pun selalu mengatakan kepada karyawannya yang saat ini berjumlah 6 ribu orang, “Nggak apa-apa kita ini hidup neng ndeso. Tapi ojo lali, kualitase kudu tetep internasional.”

Dede Suryadi dan Suhariyanto; Riset: Siti Sumariyati

sumber: http://swa.co.id/2012/01/jalan-terjal-integra-menjadi-eksportir-mebel-kelas-dunia/