Category Archives: Media

Kisah Sukses Surya Paloh di Bisnis Media

Surya Paloh , pendiri dan pemilik Media Group (koran Media Indonesia dan Metro TV), 40 tahun, lahir di Tanah Rencong, di daerah yang tak pernah dijajah Belanda. Ia besar di kota Pematang Siantar, Sumut, di daerah yang memunculkan tokoh-tokoh besar semacam TB Simatupang, Adam Malik, Parada Harahap, A.M. Sipahutar, Harun Nasution. Ia menjadi pengusaha di kota Medan, daerah yang membesarkan tokoh PNI dan tokoh bisnis TD Pardede. Aktifitas politiknya yang menyebabkan Surya Paloh pindah ke Jakarta, menjadi anggota MPR dua periode. Justru di kota metropolitan ini, kemudian Surya Paloh terkenal sebagai seorang pengusaha muda Indonesia.

Surya Paloh mengenal dunia bisnis tatkala ia masih Remaja. Sambil Sekolah ia berdagang teh, ikan asin, karung goni, dll. Ia membelinya dari dua orang ‘toke’ sahabat yang sekaligus gurunya dalam dunia usaha, lalu dijual ke beberapa kedai kecil atau ke perkebunan (PTP-PTP). Di Medan, Surya Paloh mendirikan perusahaan karoseri sekaligus menjadi agen penjualan mobil.

Sembari berdagang, Surya Paloh juga menekuni kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan Fakultas Sosial Politik, Universitas Islam Sumater Utara, Medan. Di kota yang terkenal keras dan semrawut ini, keinginan berorganisasi yang sudah berkembang sejak dari kota Pematang Siantar, semakin tumbuh subur dalam dirinya. Situasi pada saat itu, memang mengarahkan mereka aktif dalam organisasi massa yang sama-sama menentang kebijakan salah dari pemerintahan orde lama. Surya Paloh menjadi salah seorang pimpinan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI).

Setelah KAPPI bubar, ia menjadi Koordinator Pemuda dan Pelajar pada Sekber Golkar. Beberapa tahun kemudian, Surya Paloh mendirikan Organisasi Putra-Putri ABRI (PP-ABRI), lalu ia menjadi Pimpinan PT-ABRI Sumut. Bahkan organisasi ini, pada tahun 1978, didirikannya bersama anak ABRI yang lain, di tingkat pusat Jakarta, dikenal dengan nama Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI).

Kesadarannya bahwa dalam kegiatan politik harus ada uang sebagai biaya hidup dan biaya perjuangan, menyebabkan ia harus bekerja keras mencari uang, dengan mendirikan perusahaan atau menjual berbagai jenis jasa. Ia mendirikan perusahaan jasa boga, yang belakangan dikenal sebagai perusahaan catering terbesar di Indonesia. Keberhasilannya sebagai pengusaha jasa boga, menyebabkan ia lebih giat belajar menambah ilmu dan pengalaman, sekaligus meningkatkan aktifitasnya di organisasi.

Menyusuri kesuksesan itu, ia melihat peluang di bidang usaha penerbitan pers. Surya Paloh mendirikan Surat Kabar Harian Prioritas. Koran yang dicetak berwarna ini, laku keras. Akrab dengan pembacanya yang begitu luas sampai ke daerah-daerah. Sayang, surat kabar harian itu tidak berumur panjang, keburu di cabut SIUPP-nya oleh pemerintah. Isinya dianggap kurang sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik Indonesia.

Kendati bidang usaha penerbitan pers mempunyai risiko tinggi, bagi Surya Paloh, bidang itu tetap merupakan lahan bisnis yang menarik. Ia memohon SIUPP baru, namun, setelah dua tahun tak juga keluar. Minatnya di bisnis pers tak bisa dihalangi, ia pun kerjasama dengan Achmad Taufik Menghidupkan kembali Majalah Vista. Pada tahun 1989, Surya Paloh bekerja sama dengan Drs. T. Yously Syah mengelola koran Media Indonesia. Atas persetujuan Yously sebagai pemilik dan Pemrednya, Surya Paloh memboyong Media Indonesia ke Gedung Prioritas. Penyajian dan bentuk logo surat kabar ini dibuat seperti Almarhum Prioritas. Kemajuan koran ini, menyebabkan Surya Paloh makin bersemangat untuk melakukan ekspansi ke berbagai media di daerah. Disamping Media Indonesia dan Vista yang terbit di Jakarta, Surya Paloh bekerjasama menerbitkan sepuluh penerbitan di daerah.

Pada umurnya yang masih muda, 33 tahun, Surya Paloh berani mempercayakan bisnis cateringnya pada manajer yang memang disiapkannya. Pasar catering sudah dikuasainya, dan ia menjadi the best di bisnis itu. Lalu, ia mencari tantangan baru, masuk ke bisnis pers. Padahal, bisnis pers adalah dunia yang tidak diketahuinya sebelum itu. Kewartawanan juga bukan profesinya, tetapi ia berani memasuki dunia ini, memasuki pasar yang kelihatannya sudah jenuh. Ia bersaing dengan Penerbit Gramedia Group yang dipimpin oleh Yakob Utama, wartawan senior. Ia berhadapan dengan Kartini Grup yang sudah puluhan tahun memasuki bisnis penerbitan. Ia tidak segan pada Pos Kota Group yang diotaki Harmoko, mantan Menpen RI. Bahkan, ia tidak takut pada Grafisi Group yang di-back up oleh pengusaha terkenal Ir. Ciputra, bos Jaya Group.

Kendati kondisi pasar pers begitu ramai dengan persaingan. Surya Paloh sedikit pun tak bergeming. Bahkan ia berani mempertaruhkan modal dalam jumlah relatif besar, dengan melakukan terobosan-terobosan baru yang tak biasa dilakukan oleh pengusaha terdahulu. Dengan mencetak berwarna misalnya. Ia berani menghadapi risiko rugi atau bangkrut. Ia sangat kreatif dan inovatif. Dan, ia berhasil.

Surya Paloh menghadirkan koran Proritas di pentas pers nasional dengan beberapa keunggulan. Pertama, halaman pertama dan halaman terakhir di cetak berwarna. Kedua, pengungkapan informasi kelihatan menarik dan berani. Ketika, foto yang disajikan dikerjakan dengan serius. Faktor-faktor itulah yang menyebabkan koran ini dalam waktu singkat, berhasil mencapai sirkulasi lebih 100 ribu eksemplar. Tidak sampai setahun, break event point-nya sudah tercapai.

Ancaman yang selalu menghantui Prioritas justru bukan karena kebangkrutan, tetapi pencabutan SIUPP oleh pemerintah. Terbukti kemudian, ancaman itu datang juga. Koran Prioritasnya mati dalam usia yang terlalu muda. Pemberitaannya dianggap kasar dan telanjang. Inilah risiko terberat yang pernah dialami Surya Paloh. Ia tidak hanya kehilangan sumber uang, tetapi ia juga harus memikirkan pembayaran utang investasi.

Dalam suasana yang sangat sulit itu, ia tidak putus asa. Ia berusaha membayar gaji semua karyawan Prioritas, sambil menyusun permohonan SIUPP baru dari pemerintah. Namun permohonan itu tidak dikabulkan pemerintah. Beberapa wartawan yang masih sabar, tidak mau pindah ke tempat lain, dikirim Surya Paloh ke berbagai lembaga manajemen untuk belajar.

Pers memang memiliki kekuatan, di negara barat, ia dikenal sebagai lembaga keempat setelah legislatif, yudikatif dan eksekutif. Apalagi kebesaran tokoh-tokoh dari berbagai disiplin ilmu atau tokoh-tokoh dalam masyarakat, sering karena peranan pers yang mempublikasikan mereka. Bagaimana seorang tokoh diakui oleh kalangan masyarakat secara luas, kalau ia di boikot oleh pers. Dengan demikian, bisnis pers memang prestisius, memberi kebanggaan, memberi kekuatan dan kekuasaan. Dan, itulah bisnis Surya Paloh.

sumber: http://milyarderuniversity.blogspot.com/2011/03/kisah-sukses-surya-paloh.html

Kisah Sukses Chairul Tanjung Menjadi Raja Televisi

Apa jadinya jika seorang calon dokter gigi justru merambah bisnis televisi? Jika ingin tahu jawabannya, lihatlah sosok Chairul Tanjung, pebisnis asli pribumi yang kini namanya berkibar dengan Grup TransTV dan Trans7. Berkat kesulitan ekonomi yang menderanya, ternyata hal tersebut justru menjadi bekal mengasah ketajaman insting bisnisnya.

Saat kuliah di Fakultas Kedokteran gigi Universitas Indonesia, pada periode tahun 1980-an, ia memang harus memenuhi kebutuhan kuliahnya sendiri. Meski terlahir dari keluarga yang cukup berada, karena perubahan keadaan politik, keluarganya terpaksa menjalani kehidupan seadanya. Dari rumah yang tergolong besar, mereka harus menjualnya, dan menyewa sebuah losmen sempit.

Namun, ternyata, kesulitan ini justru membuat Chairul membulatkan tekadnya untuk kembali berjuang meraih kesuksesan,” Saya bercita-cita jadi orang besar.” Maka, lepas dari SMA Boedi Utomo Jakarta, ia pun masuk ke Fakultas Kedokteran Gigi UI. Kesulitan biaya kuliah membuatnya harus kreatif mencari dana untuk meneruskan sekolahnya. Maka, kelahiran Jakarta, 18 Juni 1962 ini pun lantas memulai bisnis kecil-kecilan. Mulai dari berjualan buku kuliah stensilan, kaos, sepatu, dan aneka barang lain di kampus dan kepada teman-temannya. Dari modal usaha itu, ia berhasil membuka sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di daerah Senen Raya, Jakarta. Sayang, karena sifat sosialnya – yang sering memberi fasilitas kepada rekan kuliah, serta sering menraktir teman – usaha itu bangkrut.Namun, rupanya, menjadi pebisnis telah memikat hatinya. Walau bangkrut, ia justru langsung mencoba usaha lain, kali ini di bidang kontraktor. Meski juga kurang berhasil, ia merasa mendapat pelajaran banyak hal dari bisnis-bisnis yang pernah ditanganinya. Dari bekal pengetahuan itu, ia memberanikan mendirikan CV pertamanya pada tahun 1984 dan menjadikannya PT pada tahun 1987. Dari PT bernama Pariarti Shindutama itu, ia berkongsi dengan dua rekannya mendirikan pabrik sepatu. Kepiawaiannya menjaring hubungan bisnis langsung membuat sepatu produksinya mendapat pesanan sebanyak 160 ribu pasang dari pengusaha Italia. Dari kesuksesan ini, bisnisnya merambah ke industri genting, sandal, dan properti. Namun, di tengah kesuksesan itu, rupanya ia mengalami perbedaan visi dengan kedua rekannya. Maka, ia pun memilih menjalankan sendiri usahanya.Ternyata, ia justru bisa makin berkembang dengan berbagai usahanya. Ia pun lantas memfokuskan usahanya ke tiga bisnis inti, yakni: keuangan, properti, dan multimedia. Melalui tangan dinginnya, ia mengakuisisi sebuah bank kecil yang nyaris bangkrut, Bank Tugu. Keputusan yang dianggap kontoversial saat itu oleh orang dekatnya. Namun, pengalaman bangkit dari kegagalan rupanya mengajarkannya banyak hal. Ia justru berhasil mengangkat bank itu, – setelah mengubah namanya menjadi Bank Mega – menjadi bank papan atas dengan omset di atas Rp1 triliun saat ini.

Selain itu, suami dari dokter gigi Ratna Anitasari ini juga merambah bisnis sekuritas, asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Kemudian, di bisnis properti, ia juga telah membuat sebuah proyek prestisius di Kota Bandung, yang dikenal dengan Bandung Supermall. Dan, salah satu usaha yang paling melambungkan namanya yaitu bisnis televisi, TransTV. Pada bisnis pertelevisian ini, ia juga dikenal berhasil mengakuisisi televisi yang nyaris bangkrut TV7, dan kini berhasil mengubahnya jadi Trans7 yang juga cukup sukses.

Tak heran, dengan semua prestasinya, ia layak disebut sebagai “The Rising Star”. Bahkan, baru-baru ini, ia dinobatkan sebagai orang terkaya Indonesia, di posisi ke-18, dengan total kekayaan mencapai 450 juta dolar AS. Sebuah prestasi yang mungkin tak pernah dibayangkannya saat memulai usaha kecil-kecilan, demi mendapat biaya kuliah, ketika masih kuliah di UI dulu.

Hal itulah yang barangkali membuat Chairul Tanjung selalu tampil apa adanya, tanpa kesan ingin memamerkan kesuksesannya. Selain itu, rupanya ia pun tak lupa pada masa lalunya. Karenanya, ia pun kini getol menjalankan berbagai kegiatan sosial. Mulai dari PMI, Komite Kemanusiaan Indonesia, anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia dan sebagainya. “Kini waktu saya lebih dari 50% saya curahkan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan,” ungkapnya.

Pencapaian Chairul Tanjung sebagai tokoh bisnis yang gemilang, dengan berbagai jenis usahanya, telah membuat ia dinobatkan sebagai “The Rising Star”. Ia mampu membuktikan, bahwa kebangkrutan dan kegagalan, justru bisa menjadi bahan pembelajaran guna meraih sukses yang luar biasa di kemudian hari. Dan, yang terpenting, di tengah kesuksesannya, ia kini tak lupa berbagi, dengan menjadi pegiat berbagai urusan sosial kemasyarakatan. Sebuah catatan kehidupan seorang Chairung Tanjung yang bisa diteladani kita semua.

Wendy, Penguasa Media “Mainan” yang Bukan Main-main

oleh : wiend
Boleh saja disebut mainan, tetapi tak selamanya menjadi ajang main-main. Buktinya Wendy Chandra, pria kelahiran Bandung ini justru menjadikan mainan sebagai inspirasi bisnisnya. Ia mengembangkan media game mulai dari Animonster, Cinemags dan Gamestation. Di luar itu ada juga majalah Gadget dan Kiddo serta majalah lisensi MacWorld.

Mulanya Wendy adalah pehobi game dan komik Jepang. “Tahun 1991, saya bersama teman-teman kuliah sangat menggandrungi game,” ucap Wendy sembari mengenang awalnya bersentuhan dengan bisnis yang membesarkan namanya itu.

Ketika itu ia merasakan informasi tentang game masih kurang banyak, apalagi pasokan kaset game di Bandung hampir tidak ada. “Dari situlah kami berempat mulai merintis bisnis gerai game yang bernama Vega,” kata Wendy, Sarjana Manajemen dari Universitas Parahyangan dan Master Pemasaran dari San Francisco State University, Amerika Serikat, yang memulai usaha tahun 1994. Dengan modal awal sekitar Rp 20 juta yang dibagi rata, mereka pun eksis berbisnis.

Gerai di bawah bendera PT Vegindo Tunggal Perkasa yang berlokasi di Jl. Ranggamalela ini menjual game Super Nintendo, komputer dan komik asal AS seperti DC, Marvell, sekaligus alat permainan game. Momentum berkembang diraih saat era konsol game Sony Playstation hadir di Indonesia. Saat itu CD permainan Sony Playstation sangat laris.

Sejak itu bisnis mereka membesar dengan anggota sebanyak 1.000 orang lebih. Berawal dari sinilah langkah ke bisnis media diayunkan. Guna memberikan pelayanan dan informasi terbaru seputar game, Wendy membuat sebuah buletin yang berisi daftar game, preview, walkthrough dan cheats game dengan nama Mega Game Indonesia (Megindo).

Buletin tersebut perlahan-lahan berbiak dari 8 halaman menjadi 16 halaman lalu naik lagi jadi 32 halaman, hingga akhirnya berubah nama menjadi Majalah Gamestation pada 1996 di bawah naungan PT Megindo Tunggal Sejahtera. Promosi majalah ini selanjutnya digencarkan bukan hanya menggaet komunitas, tetapi juga menawarkan ke toko game dengan lebih dulu membuat sampling, ke forum di Internet seperti KasKus dan Kafegaul. Acara pun digelar untuk membangun citra perusahaan dan majalah. Contohnya penyelenggaraan kompetisi game Winning Eleven. “Itu paling besar, di Mall Ambassador, tahun 1995. Pesertanya mencapai 1.000 orang,” katanya.

Untuk mengisi kontennya Wendy berhasil mengembangkan jaringan hingga ke pengembang game di AS. Keberhasilan membangun jaringan ini selain karena Wendy pernah bekerja di penerbit game Konami selama dua tahun selulus dari San Francisco State University, juga karena dirinya sering nongkrong di Silicon Valley, tempat berkumpulnya para penerbit game.

Wendy pun kemudian mulai membuka kantor distribusi di Jakarta karena memang 70% dari total eksemplar Majalah Gamestation beredar di Jakarta. Wendy menuturkan, kendala ketika pertama kali menghadirkan majalahnya adalah di bidang distribusi hingga ke seluruh penjuru Indonesia. Awalnya majalah ini disalurkan hanya ke toko game, lalu berkembang hingga ke agen, toko buku dan lapak penjual koran di jalan.

Kerja sama distribusi pernah pula dilakukan Megindo dengan Grup Mugi Rekso Abadi (MRA) untuk mengantisipasi kebocoran distribusi. Namun, karena masalah internal, pegawai dari MRA ditarik untuk membidani distribusi independen milik Megindo. “Lalu dengan tim yang ada, kami mencoba melakukan ekspansi dengan menerbitkan dua majalah lagi yaitu Cinemags dan Animonster,” ungkapnya.

Dalam mempromosikan Cinemags yang mengulas film terkini, Wendy bekerja sama dengan jaringan bioskop 21 untuk mengadakan nonton bareng. Bagi Animonster yang menyasar penggemar komik Jepang, Wendy mencari kerja sama dengan televisi berbayar AXN untuk program Animax dan penerbit komik di Jepang yang lantas memberikan preview produk-produknya.

Sampai sekarang, Wendi dkk. telah memiliki 6 majalah dengan tambahan Gadget dan Kiddo tahun 2000, MacWorld tahun 2004, serta menerbitkan berbagai macam buku dan komik.

Wendy mengklaim Gamestation kini oplahnya mencapai 50 ribu eksemplar, dan Cinemags 50-100 ribu eksemplar per edisi tergantung offer dan event film tertentu. Lalu berturut-turut, rata-rata penjualan Animonster sebanyak 20 ribu, Gadget 20 ribu, Kiddo 10 ribu, dan MacWorld 10 ribu eksemplar. Wendy menyebutkan, Animonster pernah memperoleh predikat dari AC Nielsen sebagai majalah yang paling banyak dibaca di segmen anak-anak.

Meski kini memiliki banyak bisnis, perjalanan Wendy tak selalu mulus. Dia bahkan pernah menelan kerugian sampai Rp 7 miliar. Musibah itu terjadi saat dirinya mengambil S-2 di AS tahun 1996 dan tampuk kepemimpinan diserahkan kepada temannya. Saat itulah terjadi kerugian yang bersumber dari distribusi dan percetakan.

Sepulang ke Indonesia tahun 2000 Wendy berbenah-benah dan mencari investor baru. Dirinya juga lantas mencopot orang-orang yang tidak kompeten. Maka, lanjut Wendy, dirinya berhasil mengembalikan arus keuangan perusahaan setelah dua tahun. Kegigihan Wendy yang kini memegang 45% saham Megindo itu selain membuahkan bisnis yang relatif mapan, juga menghasilkan sebuah gedung berlantai empat di gerai pertama Vega. “Lantai satu untuk gerai game, ini yang terbesar di Bandung, sedangkan lantai dua, tiga dan empat merupakan kantor,” kata Wendy yang bisnisnya kini diawaki 200 karyawan dengan omset sekitar Rp 5 miliar per bulan.

Charly Himawan, Direktur Produk Megindo yang teman dekat Wendy menuturkan, sosok Wendy adalah pemimpin yang kreatif. “Sering kami berbicara tentang suatu konsep yang akhirnya ternyata dapat menjadi sebuah produk bisnis,” ujarnya. Adapun Nadya Tamara, Direktur Penjualan Megindo mengklaim, oplah berbagai majalah Megindo dari tahun ke tahun meningkat 5%-10%.

Meski usahanya sudah berjalan stabil di bawah kendali para profesional, Wendy belum puas. Salah satu rencananya yang sedang berjalan yakni mengembangkan sarana pembayaran online bagi penggemar game. Selain itu, Wendy ingin menjadikan medianya sebagai majalah gratis atau freemagz. Maka, Wendy berusaha menyasar jenis media baru yaitu media digital yang sekarang memang sedang booming. “Dalam satu-dua bulan ke depan kami akan mengeluarkan satu konsep majalah baru di dunia elektronik.”

Yurivito Kris Nugroho

Eddy Dwinanto Iskandar (sumber swa online)

Dahlan Iskan Raja Media dari Timur

Dahlan Iskan (lahir tanggal 17 Agustus 1951 di Magetan, Jawa Timur), dalam bukunya Ganti Hati ada cerita menarik tentang tanggal kelahiranya, Dahlan Iskan menuturkan bahwa tanggal tersebut dikarang sendiri oleh pak Dahlan karena pada waktu itu tidak ada catatan kapan dilahirkan dan orang tuanya juga tidak ingat tanggal kelahirannya. Dan kenapa pak Dahlan memilih tanggal 17 Agustus, karena bertepatan dengan tanggal kemerdekaan Indonesia dan supaya mudah diingat.

Dahlan kecil dibesarkan dilingkungan pedesaan dangan serba kekurangan, akan tetapi sangat kental akan suasana religiusnya. Ada cerita menarik yang saya baca pada buku beliau Ganti Hati yang menggambarkan betapa serba kekurangannya beliau ketika waktu kecil. Disitu diceritakan Dahlan kecil hanya memiliki satu celana pendek dan satu baju, tapi masih memiliki satu sarung!. Dan dengan joke-joke pak Dahlan yang segar beliau menceritakan kehebatan dari sarung yang dimiliki. Disini beliau menceritakan bahwa sarung bisa jadi apa saja. Mulai jadi alat ibadah, mencari rezeki, alat hiburan, fashion, kesehatan sampai menjadi alat untuk menakut-nakuti.

Kalau Dahlan kecil lagi mencuci baju, sarung bisa dikemulkan pada badan atasnya. Kalau lagi mencuci celana, sarung bisa dijadikan bawahan. Kalau lagi cari sisa-sisa panen kedelai sawah orang kaya, sarung itu bisa dijadikan karung. Kalau perut lagi lapar dan dirumah tidak ada makanan, sarung bisa diikatkan erat-erat dipinggang jadilah dia pengganjal perut yang andal. Kalau mau sholat jadilah dia benda yang penting unutk menghadap Tuhan. Kalau lagi kedinginan, jadilah dia selimut. Kalau sarung itu sobek masih bisa dijahit. Kalau ditempat jahitan itu robek lagi, masih bisa ditambal. Kalau tambalanya pun robek, sarung itu belum tentu akan pensiun. Masih bisa dirobek-robek lagi, bagian yang besar bisa digunakan sebagai sarung bantal dan bagian yang kecil bisa dijadikan popok bayi. Ada pelajaran yang bisa kita petik dari cerita beliau, bahwa apapun kondisi kita, baik kurang, cukup atau lebih kita harus tetap bersyukur, sabar dan harus menikmati semuanya dengan apa adanya.

Dahlan Iskan Bersama Jawa POS

Jawa Pos didirikan oleh The Chung Shen pada 1 Juli 1949 dengan nama Djawa Post. Saat itu The Chung Shen hanyalah seorang pegawai bagian iklan sebuah bioskop di Surabaya. Karena setiap hari dia harus memasang iklan bioskop di surat kabar, lama-lama ia tertarik untuk membuat surat kabar sendiri. Setelah sukses dengan Jawa Pos-nya, The Chung Shen mendirikan pula koran berbahasa Mandarin dan Belanda. Bisnis The Chung Shen di bidang surat kabar tidak selamanya mulus. Pada akhir tahun 1970-an, omzet Jawa Pos mengalami kemerosotan yang tajam. Tahun 1982, oplahnya hanya tinggal 6.800 eksemplar saja. Koran-korannya yang lain sudah lebih dulu pensiun. Ketika usianya menginjak 80 tahun, The Chung Shen akhirnya memutuskan untuk menjual Jawa Pos. Dia merasa tidak mampu lagi mengurus perusahaannya, sementara tiga orang anaknya lebih memilih tinggal di London, Inggris.
Pada tahun 1982, Eric FH Samola, waktu itu adalah Direktur Utama PT Grafiti Pers (penerbit majalah Tempo) mengambil alih Jawa Pos. Dengan manajemen baru, Eric mengangkat Dahlan Iskan, yang sebelumnya adalah Kepala Biro Tempo di Surabaya untuk memimpin Jawa Pos. Eric Samola kemudian meninggal dunia pada tahun 2000.

Karir Dahlan Iskan dimulai sebagai calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda (Kalimantan Timur) pada tahun 1975. Tahun 1976, ia menjadi wartawan majalah Tempo. Sejak tahun 1982, Dahlan Iskan memimpin surat kabar Jawa Pos hingga sekarang. Dahlan Iskan adalah sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 ekslempar, dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar. Lima tahun kemudian terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia, dimana memiliki lebih dari 80 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Pada tahun 1997 ia berhasil mendirikan Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya, dan kemudian gedung serupa di Jakarta. Pada tahun 2002, ia mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, yang kemudian diikuti Batam TV di Batam dan Riau TV di Pekanbaru.

Sejak akhir 2009, Dahlan diangkat menjadi direktur utama PLN menggantikan Fahmi Mochtar yang dikritik karena selama kepemimpinannya banyak terjadi mati lampu di daerah Jakarta. [3][1] Selain sebagai pemimpin Grup Jawa Pos, Dahlan juga merupakan presiden direktur dari dua perusahaan pembangkit listrik swasta: PT Cahaya Fajar Kaltim di Kalimantan Timur dan PT Prima Electric Power di Surabaya.

sumber: http://info-biografi.blogspot.com/2010/02/biografi-dahlan-iskan.html

Biem Triani Benjamin, Lewat Bens Radio Usung Lokalitas, Gaet Popularitas

oleh : Henni T. Soelaeman

Dari sebuah stasiun radio bercitarasa Betawi, Bens Radio telah berkembang menjadi 13 radio lokal yang merentang dari Banten, Jawa Tengah, Sumatera Selatan, sampai Kepulauan Riau. Strategi mengangkat nilai-nilai etnik dan budaya lokal menjadikan Bens Radio meraih pendengar terbanyak.

Biem Triani Benjamin berbeda jauh dari gambaran sosok orang Betawi umumnya yang kerap distereotipkan sebagai doyan nongkrong, cuma menjual tanah warisan, dan sekolah ala kadarnya. Pria berusia 45 tahun ini justru tampil sebaliknya. Pendidikannya sampai perguruan tinggi, yang ditempuhnya di negeri Barack Obama. Dia juga bukan pengangguran yang bermalas-malasan. Dia malah sukses membangun imperium bisnis yang diwariskan orang tuanya, seniman Betawi yang sangat ternama: Benjamin Sjuaeb (almarhum). Dan bahkan di tangannya, bisnis yang didirikan sang ayah kini telah beranak pinak, merambah berbagai daerah dengan omset miliaran rupiah. Di bawah kendali Etnikom, kini ada 13 radio dalam jaringannya, yang membentang dari Banten, Jawa Tengah (Cirebon), Lampung, Sumatera Selatan, hingga Kepulauan Riau.

Semua itu berawal dari Bens Radio, yang dibesut Biem bersama sang ayah tahun 1989. Stasiun radio ini mengudara dengan mengangkat nilai-nilai budaya Betawi. Seluruh siaran menggunakan bahasa dan dialek Betawi. “Abang-none, encang-encing, enyak-babe, kagak terase ye bentar lagi Jakarta ultah nyang ke-482 taon…,” demikian celoteh penyiarnya. Tak sekadar penuturan penyiar dengan citarasa Betawi, program acara pun menampilkan budaya Betawi, seperti Gambang Kromong atau lagu-lagu Betawi lawas yang pernah dinyanyikan Benjamin bersama Ida Royani.

Dengan mengusung lokalitas, dalam tempo singkat, Bens Radio mampu bertengger sebagai stasiun radio yang meraup pendengar terbanyak. Menurut hasil survei AC Nielsen pada 2001 dan 2002, Bens Radio menjadi radio dengan pendengar terbanyak se-Jabotabek. Mengudara di kanal 106,2 FM, stasiun radio yang bermarkas di Jalan Jagakarsa 39, Jakarta Selatan, ini didengar lebih dari 4 juta orang, sementara radio-radio lain paling banter cuma dapat mengumpulkan 1 juta pendengar.

Lahir di Jakarta pada 13 Maret 1964, Biem, seperti juga anak Betawi lainnya, dibesarkan dalam budaya Betawi yang sangat kental. Anak ketiga dari lima bersaudara ini, selain menimba ilmu di sekolah, juga belajar pengetahuan agama dan mengaji dari ustadz yang dipanggil ke rumah oleh orang tuanya pada sore hari. Meski demikian, Benjamin tetap memberi kebebasan kepada anak-anaknya untuk berkreasi, termasuk kepada Biem. Menurut Biem, ayahnya memberikan kebebasan dengan catatan tidak melupakan masalah akhirat. “Mau jadi apa terserah, satu hal yang penting adalah shalat,” katanya mengenang.

Setelah menyelesaikan sekolah dasar di SDN Tebet tahun 1977, Biem melanjutkan sekolah ke SMP 13 Jakarta. Lalu, dia masuk SMA Pangudi Luhur Kebayoran dan lulus pada 1983. Setahun setelah lulus SMA, barulah Biem terbang ke Amerika Serikat untuk belajar Ilmu Manajemen Komputer di Metropolitan State College, Denver, Colorado. Setelah lulus, dia balik ke Indonesia. Dia sempat bekerja di sebuah perusahaan kopi ternama di Indonesia selama enam bulan, sebelum memutuskan terjun di bisnis broadcasting.

Berbeda dari saudara-saudaranya, keterampilan panggung Biem tidak terlalu menonjol. “Saya jarang diajak maen sama Babe. Mungkin juga karena saya tidak terlalu tertarik,” ungkap pria kalem ini. Dia mengaku lebih tertarik mengelola pertunjukan seni daripada harus tampil di atas panggung. Ketertarikan menjadi orang di belakang layar membuatnya menyanggupi tantangan sang ayah untuk mendirikan stasiun radio. Biem mengenang, untuk mengurus perizinannya perlu waktu hampir empat tahun. Barulah pada 5 Maret 1989 — bertepatan dengan tanggal lahir Benjamin — Bens Radio didirikan di Ciputat, Jak-Sel. Nama Bens merupakan singkatan Benjamin S.

Biem mengaku diuntungkan dengan latar pendidikannya sehingga cukup paham bagaimana mengelola bisnis. “Kebetulan saya punya ilmu manajemen. Jadi, saya pegang manajemen dan almahum pegang kreatifnya,” ujarnya. Hal itu dibenarkan Iman Musaman, Manajer Operasional Bens Radio serta Manajer Program dan Promosi Etnikom. Menurutnya, dari awal, manajemen Bens Radio memang telah dipegang Biem. Sebab, saat itu Benjamin yang menjadi ikon Bens Radio adalah seorang artis yang sangat populer dan sibuknya bukan alang-kepalang, sehingga urusan menata dan mengelola radio secara profesional sejak awal sudah di tangan Biem.

Jika berkunjung ke kantor Bens Radio dan Etnikom di kawasan Jagakarsa, kesan rapi dan berkarakter kuat terlihat mencolok. Sebait pantun khas Betawi tertulis di prasasti peresmian yang menempel di dinding dekat pintu depan kantor. Lalu, koleksi foto almarhum maskot seniman Betawi Benjamin S. yang dipelesetkan menjadi Sider Ben, Ben Lee naga Betawi, juga terpampang menghiasi dinding kantor. Halaman kantor yang cukup luas memberikan pemandangan taman kecil yang terawat rapi. Di salah satu bagian tamannya, ada sebuah sado tanpa kuda. “Saya juga ingin kantor ini menjadi green office,” ungkap Biem. “Walaupun sebenarnya kantor ini tidak luas, halamannya kami hias dengan taman-taman. Halaman belakang juga ada untuk dijadikan taman. Pokoknya, cinta lingkungan, dah,” tambah ayah Chika, Gilang, dan Adelia ini.

Setia dan konsisten mempertahankan nilai Betawi dalam berbagai format acara Bens Radio membuat radio ini disukai banyak orang. Seiring dengan perkembangan zaman, Biem juga menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan selera pendengar Bens Radio yang ikut berubah. Porsi lagu dangdut yang semula dominan sudah berkurang, bergeser ke lagu-lagu pop. “Apalagi, produksi lagu-lagu dangdut sekarang juga menurun,” ujarnya. Namun, muatan lokal yang menjadi ciri dan keunikan Bens Radio tetap dipertahankan. Dalam hal manajemen, sebelumnya direktur Bens Radio disebut dengan “jagoan”. “Jadi, almarhum Babe disebut Jagoan,” kata Biem mengenang. Kini, istilah jagoan digantikan dengan direktur.

Bagi Biem, di tengah persaingan stasiun radio, keunikan menjadi salah satu kunci sukses untuk bisa bertahan. Meski diakuinya, “Menjaga lokalitas itu susah.” Karena itu, walau bercitarasa lokal, sajian acaranya bermuatan global. Artinya, pesan yang ingin disampaikan harus bisa dikonsumsi seluruh kalangan yang menjadi target bidik Bens Radio. Strategi ini membuat Bens Radio bisa bertahan sampai bilangan dekade.

Sukses Bens Radio menggelitik Biem untuk mengepakkan sayap. Di matanya, jaringan juga menjadi kiat untuk memperbesar bisnis radio. Perlahan dia mulai berekspansi mendirikan radio di daerah-daerah dengan tetap mengusung budaya setempat. Sampai 1992, jaringannya mencapai 9 radio dan Biem tak ingin berhenti. Namun, niatnya untuk makin ekspansif ditentang sang ayah. “Udah, ga usah banyak-banyak. Radio yang ada aja. Ntar pusing lho,” Biem menirukan nasihat Benjamin kepadanya terkait niatnya tersebut. “Tapi saya waktu itu masih berjiwa muda. Terus aja. Alhamdulillah, sekarang semua radio established. Hampir semua punya gedung sendiri,” paparnya. Dia mengungkapkan, Radio Bens merupakan radio terbesar dari semua radionya. “Maklum, Radio Bens itu ada di Jakarta,” katanya. Radio Bens bisa menjaring dana Rp 700-800 juta dari iklan setiap bulan. Jika digabungkan, ke-13 radio lain juga mengantongi iklan pada angka itu setiap bulan.

Tahun 2000, Etnikom secara resmi didirikan. Etnikom diambil dari kata etnik dan komunitas atau bisa juga komunikasi. Ketika itu, sudah ada 11 radio yang dimiliki Bens Radio. Etnikom mengoordinasi semua radio miliknya. Biem berharap radio-radio etnik ini bisa menjadi wadah eksplorasi ekspresi etnik daerah masing-masing yang sangat beragam di seluruh Indonesia. “Radio-radio itu memang kami posisikan untuk mengangkat budaya daerah masing-masing,” kata Biem. Di holding ini, semua kebijakan umum untuk pengembangan radio-radio dalam jaringannya di daerah dikoordinasikan. Setiap tahun, juga ada pertemuan rutin semua pemimpin radio. Selain untuk berkoordinasi, pertemuan ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi semua stasiun radio di bawah naungan Etnikom.

Biem berpendapat, radio etnik tetap akan berkembang meski di era globalisasi. Malah, menurutnya, globalisasi justru memperkuat keinginan untuk menemukan identitas diri setiap orang di dunia, termasuk tentang etnis. “Semakin global dunia, orang-orangnya semakin ingin mencari identitas dirinya masing-masing. Perasaan itu tidak akan pernah hilang,” ujarnya. Barangkali, faktor inilah yang menyebabkan radio-radio Etnikom terbilang eksis. Biem menyebutkan, semua radionya di daerah-daerah berhasil meraih posisi pertama atau kedua sebagai radio dengan pendengar terbanyak. Radio-radio Etnikom selalu menampilkan format etnik dalam penyampaiannya seperti penyapaan pendengar yang menggunakan bahasa daerah dan konten-konten program berbahasa daerah.

Biem melihat, globalisasi tidak bisa ditolak. Masyarakat harus membuka diri terhadap globalisasi agar dapat bersaing dan terus berkembang. “Globalisasi harus diadopsi. Walau radio Betawi, kami tetap memanfaatkan berbagai jasa layanan Internet. Kami juga bekerja sama dengan beberapa lembaga pendidikan bahasa Inggris untuk pengembangan bahasa,” paparnya. Globaliasasi membawa perubahan zaman. Karena itu, pihaknya harus menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan tersebut tanpa harus melepaskan identitas diri. Biem tetap melihat masa lalu, kini, dan masa yang akan datang. “Pendengar berubah, kompetitor berubah. Ada pergeseran nilai. Mau tidak mau, kami juga harus berubah untuk mengantisipasi berbagai perubahan tersebut,” kata suami Ismarlita ini.

Dalam pandangan Iman, Biem sangat visioner. “Biem adalah orang yang menggagas Bens Radio mulai dari konsep dasar hingga namanya,” ungkapnya. Iman kemudian mencontohkan, Biem mengonsep radio etnik pada 1993. Padahal pada saat itu, radio etnik sama sekali tidak populer. Kenyataannya sekarang, semua radio etnik yang tergabung di Etnikom pimpinan Biem menjadi salah satu radio utama di tiap daerahnya. Menurutnya, sejak itu pula Biem menggagas perluasan radio jaringan Bens. Biem juga membalikkan pandangan orang-orang yang beranggapan radio harus besar dulu baru membuat jaringan. “Pak Biem berpikir beda, supaya besar, radionya harus berjaringan,” papar Iman.

Dia menambahkan, Biem juga mengingatkan bahwa radio etnik bukan berarti radionya akan berkutat di masa lalu. Karena etnik itu meliputi masa lalu, sekarang, dan masa mendatang. Di bawah komando Biem, tambahnya, Bens Radio selalu menemukan inovasi baru dan tetap berkembang sehingga tidak tertinggal menghadapi radio-radio lain yang juga terus berkembang. Iman kemudian mencontohkan lagi, Biem mengharuskan penyiarnya menguasai minimal tiga bahasa: bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari, bahasa Inggris sebagai konsekuensi globalisasi dan yang terdepan di dunia media, serta bahasa daerah sebagai identitas. “Jangan sampai kita juga jadi radio yang kayak radio museum yang pendengarnya cuma orang tua,” katanya menegaskan.

Dalam waktu dekat, sebuah radio baru milik Etnikom akan didirikan di Tasikmalaya, Jawa Barat. Biem pun mengungkapkan impiannya memiliki stasiun radio etnik di setiap provinsi di Indonesia. “Kalau bisa, radio ini jaringannya tidak hanya nasional, tapi global,” ujarnya. Menurutnya, mimpi ini masih sangat potensial mengingat globalisasi tetap membawa orang-orang untuk mencari identitas dirinya. Negara-negara lain tentu punya daerah-daerah yang juga memiliki khasanah budaya masing-masing yang sangat beragam. “Tapi sejauh ini, modal kami masih terbatas,” ungkap Biem seraya berharap ada investor yang mau menanam modal.

Biem mengakui, radionya ada yang didirikan langsung, ada pula yang diambil alih dari pemilik lama. Akan tetapi, sebagian besar didirikan langsung dari bawah. “Hanya beberapa yang di-takeover,” ujarnya. Biasanya sebuah radio baru akan dikelola sementara oleh seorang utusan dari Jakarta. Kemudian, mereka mempersiapkan orang-orang daerah setempat untuk mengelolanya. Ketika semua sudah siap, barulah mereka memberikan semuanya kepada orang-orang daerah tersebut. Hanya kebijakan umum yang dikoordinasikan ke daerah dari Etnikom. “Orang daerah tersebut tentu lebih tahu kebutuhan di daerahnya,” ujar Biem. Selain itu, otonomi akan menambah rasa memiliki masyarakat daerah masing-masing.

Biem mengaku tidak menerapkan aturan khusus di lingkungan kerja kantornya. Budaya kerja itu, menurutnya, tidak dibuat-buat, tetapi akan terbangun dengan sendirinya. Dia hanya menerapkan disiplin kerja serta layanan yang baik kepada klien, yaitu pendengar dan pemasang iklan. Apalagi, tahun-tahun terakhir ini, ketika Bens Radio mulai tergeser pemain baru. Menurut survei ACNielsen, delapan tahun terakhir Bens Radio merupakan radio dengan pendengar terbanyak di Jakarta. Namun, belakangan posisi ini diambil alih radio baru, Gen FM. “Mungkin karena kami sudah cukup lama mengisi ruang dengar pendengar. Lalu, mereka ingin mencoba sesuatu yang baru,” Biem menduga-duga. Meski demikian, Biem yakin bisa kembali merebut posisi teratas dalam waktu dekat. “Kami punya banyak potensi yang bagus. Dengan sedikit polesan, kami yakin bisa ke atas lagi,” ujarnya optimistis.

Untuk itu, pihaknya mulai melakukan beberapa terobosan baru seperti menyiapkan beberapa program off air. Juga, menempuh promosi bellow the line dengan menggelar berbagai event. Karena itu, pihaknya mulai aktif mengembangkan bagian event organizer-nya. “Kini kami sedang mengerjakan beberapa event dengan Telkomsel. Mudah-mudahan ini akan menunjang omset radio kami.”

Manajer Stasiun Radio Heartline FM Budi Aditya yakin Biem mampu mewujudkan targetnya. “Pak Biem itu sosok yang ulet dan pekerja keras,” kata Budi. Selain itu, Biem juga orang yang sabar dan tenang. Dalam penampilan dan pembawaan sehari-hari, di matanya, Biem merupakan sosok yang low profile. Budi, yang sempat sama-sama aktif di Pimpinan Daerah Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Banten, mengaku sangat salut pada dedikasi Biem kepada organisasi. Biem selalu menyempatkan diri untuk hadir dalam rapat pengurus. “Padahal, Pak Biem itu sibuk sekali,” katanya. Biem juga memberi kepercayaan sepenuhnya kepada pengurus untuk melakukan yang terbaik bagi semua anggota PRSSNI Banten.

Reportase: Ahmad Yasir Saputra

Riset: Dumaria Manurung(sumber swa online)