Category Archives: Kisah Sukses Wirausaha Non Alumni Smada

Sanin, Mantan Tukang Becak yang kini Jadi Juragan Garam dengan 50 Karyawan

Sanin, Berkah Garam Seorang Tukang Becak

 

Sepuluh tahun bertekun mengayuh becak

tak membuat Sanin menyerah begitu saja

terhadap nasib. Keringat yang mengucur

akhirnya mengkrista1 bagai garam.

Asinnya garam membuat kehidupan Sanin

tak lagi hambar.

 

 

DARI seorang tukang becak, Sanin meniti

usaha sebagai pembuat garam dapur dan pupuk

yang kini beroleh sukses. CV Sanutra Utama

 

yang didirikannya tahun 1985 dengan

modal awal Rp 1 juta dan dikerjakan sendiri,

 

kini telah memiliki 50 pekerja dan 0mzet

 

Rp 200 juta per bulan. Pemikirannya sederhana

 

saja: di Cirebon sangat banyak dan mudah

 

mencari bahan garam. Lalu, di usia 35 tahun,

 

Sanin pun mendirikan pabrik garam.

Memang bukan perjalanan yang mudah. Kesulitan

 

Modal pun masih dirasakannya hingga sekarang.

 

Namun, kalau sejak dulu ia mudah berputus

asa, mungkin bukan seperti ini hidup yang sekarang

 

digenggamnya.

 

PRODUKSI GARAM YANG BERBUAH MANIS

Selama 5 tahun mengayuh becak di Cirebon, Sanin

 

mengamati Cirebon sebagai sentral garam. Melihat ada

 

peluang untuk memperbaiki kualitas hidupnya, ia pun

 

berganti haluan. Becak ditinggalkan dan beralih menjadi

 

karyawan perusahaan garam sebagai pencetak garam dapur.

 

“Kerja dulu nyetak garam, berguru selama 5 bulan. Setelah

 

bisa, bikin sendiri di rumah. Dulu sama istri nyetak sendiri,

 

manggang sendiri, dipasarkan sendiri, kita kan pakai

 

sepeda dulu,” tutur Sanin. Usaha yang dirintisnya

ini terus bergulir. Sanin pun tak lagi hanya mengandalkan

istrinya. Ia mulai mengambil tetangga sekitarnya untuk

 

bekerja di pabrik garamnya. “Mereka datang sendiri

 

karena butuh pekerjaan,” kenang Sanin.

Mungkin para penduduk di sekitarnya mulai

merasakan pertumbuhan usaha garam Sanin.

Jadi, Sanin pun tak perlu pilih-pilih. “Rata-rata

saya sudah kenal dengan mereka. Jadi ketika

mereka minta pekerjaan, ya saya berikan,”

ujarnya lugas. Kini, ada 8 orang yang bekerja

 

di ladang garam, 30-an orang di pabrik, 6 orang

bagian distribusi, dan 4 orang sales.

Sanin sendirilah yang melatih semua pekerjanya

 

mengenai segala hal pengolahan garam. Ia fasih

 

mengenai pekerjaan di ladang garam, mengumpulkan

 

butir garam hingga menggenjot cetakan, juga

 

memasukkan dalam kemasan yang siap dijual.

 

“Kalau ada pelatihan mengenai pengolahan garam,

 

saya dan anak saya yang datang, sampai pernah ikut

 

pelatihan di Madura,” ujarnya. Lalu, mereka berdualah

yang mengajarkan semua karyawan. Sanin yang berhasil

 

menyekolahkan anak anaknya hingga lulus dari perguruan

 

tinggi negeri ternama di Yogyakarta kemudian melibatkan

anak-anaknya dalam usaha garam ini. Bagi Sanin, anggota

 

keluarganya adalah orang-orang yang paling mengetahui

 

dan memahami kondisi perusahaan. Merekalah orang-orang

 

yang paling tepat untuk membesarkan usaha yang

dirintisnya tersebut. “Selain itu, saya lebih tahu

 

kebiasaan anggota keluarga saya daripada

karyawan lain di luar keluarga,” ujarnya.

Jadi, tiga dari empat anaknya yang notabene

perempuan semua, kini berkecimpung mengurus garam.

 

Tak terkecuali, para suami mereka.

Bahkan salah satu menantunya kini dipercaya

 

mengepalai gudang, mengawasi produksi,

juga mengurus rekrutmen di pabrik. “Ada juga

yang mengurus pengadaan barang,” ujarnya,

“Jadi saya tinggal kontrol dan tanda tangan

untuk menjual BG.” Mungkin, firasat Sanin

tidak keliru. Hingga saat ini semua anggota

 

keluarga yang terlibat tetap rukun dan memiliki

hubungan yang baik.

Dalam benak Sanin, memang ada keinginan

 

untuk mempekerjakan orang-orang yang profesional

 

dalam bidangnya. Namun, melihat kondisi keuangan

 

dan pabrik saat ini, niat tersebut belum bisa

 

terwujud. “Ya, nantilah. Kalau sudah punya modal

 

besar dan pabriknya juga sudah besar. Saat ini kami

 

belum mampu mempekerjakan karyawan profesional,” ujarnya.

MENYIASATI KEUANGAN

Minimnya mengecap bangku sekolah sempat

membuat Sanin mengalami kesulitan saat berurusan

 

dengan pihak bank. Saat membuat bilyet biro (BG)

 

di sebuah bank swasta ternama,

Sanin kagok saat membubuhkan tanda tangan.

Semakin sering mencoba agar tanda tangannya

sama persis, semakin berbeda hasilnya.

Walhasil, Sanin pun ditolak menjadi debitur

bank tersebut, meski memiliki usaha dan mobil

sendiri serta perusahaan atas nama pribadi.

Sulitnya Sanin mencari suntikan modal mendapat

 

jalan keluar saat mulai bisa berutang ke

bank tahun 1997. Namun baru pada tahun 2003,

Sanin mendapat pinjaman sesuai jumlah yang

diinginkannya, yaitu Rp 100 juta dari bank bjb,

dengan jaminan perusahaannya sendiri. Sanin

butuh permodalan banyak, sebab minimal

dalam sehari harus memiliki 6 ton bahan baku

 

garam. Dalam sebulan ia membutuhkan kurang

lebih 200 ton garam, sehingga dalam setahun

minimal ia harus menyediakan 2.000 ton garam.

Apalagi, untuk membeli bahan baku tersebut ia

harus membayar kontan.

Lantaran ingin memiliki uang banyak untuk

membeli 2.000 ton garam sekaligus setiap

tahunnya, Sanin pun rutin meminjam ke bank

dengan jamjnan rumah dan kendaraan. Namun,

agar tertib dan disiplin dalam membayar utang,

Sanin selalu mengambil tempo pinjaman 1 tahun.

Tidak pernah lebih dari itu. “Minimal per bulan

bayar ke bank Rp 45 jutaan, lah. Alhamdulillah

belum pernah ada masalah. Lancar terus. Bulan

tujuh sudah ketutup lagi. Garam murah kami

beli lagi, pinjam lagi, setahun ketutup lagi,”

urai Sanin. Ia pun mengakui bahwa salah satu

yang membuatnya sukses dalam urusan kredit

ini adalah memilih bank yang bunganya paling

rendah.

Dengan menggunakan perputaran uang

pinjaman setahun sekali, Sanin lebih mudah

mengontrol dan mengetahui untung atau rugi

 

usahanya. Setiap menjelang bulan Juli, saat

hendak penutupan pinjaman bank, Sanin

menghitung hitung dana. Setelah utang

tertutupi, jika ada lebih, digunakan untuk

menambah aset seperti ladang garam, tanah

untuk perluasan pabrik garam, rumah, maupun

kendaraan.

Usahanya terus berkembang hingga perlahan

 

tapi pasti Sanin memiliki pabrik

pengolahan garam di Rawa Urip, 6 buah rumah,

serta 9 kendaraan yang terdiri dari truk dan

mobil pribadi. Selain itu, impian Sanin ke Tanah

Suci pun tercapai pada tahun 2000 dan 2010.

Setiap keuntungan yang diraih, dibelikannya

aset secara bertahap. Dengan membeli aset,

Sanin mengaku dapat mengetahui apakah

bisnisnya mendapatkan untung atau justru rugi

di tahun yang sedang berjalan. “Soalnya bisa

 

kelihatan wujudnya,” ujarnya lugu.

Karena setiap keuntungan dibelikan aset,

Sanin harus selalu kembali mengajukan

pinjaman ke bank untuk membeli bahan baku.

Dana yang dipinjam bisa cukup besar bila ia

 

merasa barga bahan baku garam sedang turun

 

dan dia perlu membeli banyak. “Kalau

musim kemarau, garam lokal bisa dibeli dengan

 

harga Rp300,” ujarnya. Setelah itu

disimpannya bahan baku tersebut dan dijual

 

secara bertahap. Harga jualnya bisa

mencapai Rp600, yang berarti dua kali lipat

 

dari harga beli. “Bahkan, kadang bisa saya

jual Rp1.000,” urainya, “Kalau saya jual

 

ke pelosok dengan harga Rp500, untungnya

 

sudah hampir 75 persen.” Dari keuntungan

 

itulah Sanin menutup utang dan membeli aset.

Meskipun berkali-kali meminjam, hingga

saat ini Sanin amat menjaga kepercayaan

agar tidak terjadi masalah ke bank, “Tutup

utang, lalu tahun berikutnya utang lagi!” Sanin

tampaknya tidak sekadar bicara. Pabrik yang

dibeli secara bertahap, sedikit demi sedikit

 

setiap ada keuntungan, juga ladang garam yang

kini mencapai luas 6 hektar adalah saksi bisu

perjalanannya mengolah garam selama hampir

30 tahun.

Sanin melihat kelemahan pengusaha yang

bangkrut dikarenakan manajemen keuangan

yang kurang terkontrol. Keuntungan yang

 

diperoleh tidak disimpan atau diputar kembali

untuk membeli bahan baku atau melunasi utang,

melainkan dibelikan hal-hal yang diinginkan.

Beda halnya dengan Sanin yang disiplin

 

memprioritaskan pelunasan utang bank. “Yang

 

penting adalah mencatat pemasukan dan

 

pengeluaran dengan benar,” demikian tipsnya.

Apalagi, bahan-bahan yang dibelinya harus

dibayar secara kontan. Pada saat diwawancara,

Sanin tengah menunggu dua trailer yang

 

membawa 105 ton bahan mentah garam dari Surabaya.

 

“Seratus lima ton itu harus dibayar Rp 105

juta kontan,” paparnya, “Jadi, kadang-kadang

saya jual BG.”

 

Meski berusaha disiplin dalam hal keuangan,

bukan berarti Sanin tidak pernah menghadapi

masalah keuangan. Ini terjadi pada tahun 2003

saat menantu sulungnya mencalonkan diri dalam

pemilihan kepala desa (Pilkades). Modal untuk

membeli garam yang saat itu harganya masih

murah digunakan untuk biaya pencalonan. Saat

hendak membeli garam pada tahun 2006, harganya

 

ternyata sudah melonjak tinggi. Apesnya

lagi, sang menantu tak memenangkan Pilkades.

Sanin pun berutang hingga Rp 6oo juta. Namun,

Sanin merasa lega dan bersyukur karena pada

tahun 2008, seluruh utang tersebut telah lunas.

“Alhamdulillah, pulih lagi. Malah akhirnya sampai

 

lebih. Sampai susah ngitung lebihnya,” ucap Sanin.

Pelajaran mahal yang dipetik Sanin adalah

tidak mau sembrono memperlakukan BG. Setiap

ada BG segera ditukar agar terus berputar dan

bergulir. Sanin menjaga namanya dengan baik

agar jangan sampai cacat dalam catatan bank.

“Kalau sekali nama kita tercemar, semua bank

akan tahu,” ujarnya, “Nanti kita juga yang jadi

tidak laku. Padahal kita harus bayar plastik ke

Semarang, garam ke Surabaya, banyak sekali!

Jadi, saya pesan benar-benar ke anak-anak,

supaya mereka jangan sampai menunggak.”

Dengan cara tersebut ia berharap kapan pun

membutuhkan pinjaman uang dari bank, ia tidak

 

akan mengalami kesulitan. Sanin yang pernah

dengan mulus meningkatkan pinjaman ke bank

bjb menjadi Rp 150 juta pun berencana menaikkan

 

jumlah utang menjadi Rp 200 juta. Faktor

 

kepercayaan dan tidak pernah menunggak

pembayaran dipegang teguh oleh Sanin.

Karena sudah mendapat kepercayaan, Sanin

 

mengaku tidak lagi sering dikejar-kejar

untuk masalah pembayaran. “Waktu tahun

pertama, telat sehari sudah ditelepon terus,”

kenangnya, “Padahal, saya mah orang usaha.

Kena bunga berapa pun pasti saya bayar. Yang

penting menutup utang di bulan itu.” Sanin

merasa beruntung karena bank bjb memahami

usahanya. “Lebih longgar dan tidak cepat

memberi peringatan,” katanya bersyukur.

PEMASARAN DAN PERLUASAN

Karena menjalankan pabrik berdasarkan intuisi

bisnisnya sendiri, Sanin tidak banyak melakukan

 

inovasi dalam usahanya. Setiap pagi

Sanin dan anak-anaknya menjual garam ke

pasar-pasar yang ada di sekitar tempat tinggal

 

dan pabrik mereka. Penjualan yang dulu

menggunakan sepeda, kini telah menggunakan

mobil yang disopirinya sendiri.

Sementara sore hari, para sales-lah yang

memasarkan garam ke toko-toko yang sebagian

 

besar berlokasi di wilayah 3, yaitu daerah

 

Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan Indramayu.

 

Kadang mereka juga merambah

Jatibarang hingga Jawa Tengah. Garam dapur

tidak diberikan kepada agen, melainkan ke

pasar langsung, itu sebabnya Sanin langsung

mendapat hasil. Sales juga mendapat fasilitas

mobil sebagai modal untuk mengangkut barang

dagangan. Setiap hari sales-nya bisa membawa

rezeki Rp 3-6 juta. “Jadi, kalau untuk anak

sekolah atau kebutuhan sehari-hari, saya tidak

bingung. Selalu ada dana,” paparnya bangga.

Selain uang, membina karyawan agar bekerja

 

dengan benar dan baik juga menjadi

modal bagi Sanin, terutama untuk para sales.

Karena begitu pentingnya peran sales dalam

usaha garam ini, Sanin berencana menambah

sales yang bisa terjun langsung ke lapangan

 

dalam rangka memperluas pasar hingga seluruh

wilayah Jawa Barat. Sanin juga ingin membuka

cabang di tempat lain, selain di Paliaman yang

berfungsi sebagai distributor.

Tentunya, perluasan pasar tidak dapat dilakukan

 

jika produk yang dihasilkan masih

terbatas. “Saya ingin membuat garam dalam

kemasan botol karena selama ini saya cuma

membuat kemasan plastik yang beratnya

berbeda-beda,” jelasnya. Namun, hal ini pun

masih terkendala dengan kapasitas produksi

 

yang mampu dihasilkan. “Kesulitan memakai

tenaga manusia adalah tidak bisa diberikan

target. Kalau sudah terlalu lelah, hasilnya akan

sangat sedikit,” ucapnya.

Lantas, mengapa tak membeli mesin saja?

“Sebenarnya, kami sangat butuh mesin, tapi

terkendala modal. Mesin itu pembiayaannya

besar,” ujar Sanin. Sanin sendiri mengaku sudah

banyak mempelajari cara kerja mesin-mesin

pembuat garam dari hasil melihat langsung

ke pabrik-pabrik lain tempatnya belajar. Jadi,

 

kalau kelak mampu membeli mesin, ia sudah

 

tahu cara mengoperasikannya. Sanin

kini giat mencari pinjaman dengan bunga

 

rendah untuk mewujudkan mesin-mesin

impiannya. Setidaknya, separuh produksi dilakukan

secara manual, separuh dengan mesin.

GARAM LOKAL VS IMPOR

Langganan masa sulit bagi pengusaha garam adalah

 

ketika turun hujan. Bahkan pada tahun 2010

 

mereka mengalami gagal panen sehingga tidak

 

ada garam lokal. Di musim kemarau, garam bisa

dihasilkan dari ladangnya sendiri maupun

 

membeli dari masyarakat. “Garam lokal lebih murah,”

 

jelas Sanin. Misalnya, dengan harga jual Rp

300, Sanin bisa mendapat keuntungan Rp5o, atau

 

Sekitar 15 persen. Sementara garam impor hanya

 

menghasilkan keuntungan maksimal 10 persen

 

karena modalnya tinggi. Sanin juga

mengambil garam dari Surabaya, yang

 

didatangkan dan Australia dan India.

Sebagai petani garam, ia fasih menceritakan

 

proses pembuatan garam. “Kita seperti bikin

 

kolam yang besar, lalu dipetak-petak,

seperti orang menggarap sawah. Perbedaannya,

 

kalau ladang garam membutuhkan tanah yang

 

halus dan keras. Kalau orang sini

sih memakai silinder, sejenis silinder mesin

 

yang dipakai untuk mengeraskan jalan. Setelah

 

ladangnya bersih, air dipindahkan.

Setelah kering, dipindahkan lagi ke petak lain.

 

Jadi, kalau airnya sudah mengental, kita periksa

 

dengan arometer. Kalau di sini disebut

hipermil. Biasanya kalau udah jadi garam,

 

ukurannya minimal 22 arometer. Ketika masih

 

berupa air laut, ukurannya 0 arometer.

Kalau sudah 22 arometer, baru jadi garam,

 

keluar, dan bertumbuh,” urainya panjang lebar.

Kalau tidak ada hujan, Sanin mengibaratkan

 

garam seperti kumis atau jenggot: hari ini dikeruk,

 

kalau besok panas bisa dikeruk lagi. Perbedaannya

 

dengan garam di Madura, ketebalan

garam di daerah Sanin untuk dikeruk hanya 1 cm.

 

Kalau di Madura, ladang-ladang garam bisa

 

mencapai ketebalan 5 cm karena ditunggui hingga

 

minimal 15 hari. “Kalau di sini tidak

 

bisa begitu. Kalau kena hujan, wah! Istri bisa

ngamuk karena anaknya enggak bisa jajan,”

ujarnya sambil tergelak.

Menurut perhitungan Sanin, nilai murni

garam adalah Rp 500 per kilogram. Kalau sehari

saja pekerja di ladang garam bisa mendapat

sekuintal garam, ia sudah beroleh uang Rp 50

ribu. Padahal, setiap harinya setiap petak bisa

menghasilkan 5 kuintal hingga 1 ton garam.

Untuk menjadi garam balok, bahan garam

dari Australia butuh perlakuan khusus, karena

tidak mengandung air. Prosesnya harus diairi

dulu supaya melekat, dicetak balok, lalu di

masukkan ke dalam oven untuk dipanggang.

Sedangkan garam lokal yang memang sudah

mengandung air bisa langsung dicetak balok.

Sementara untuk garam halus, baik lokal

maupun dari luar negeri bisa langsung di

masukkan ke dalam plastik kemasan.

Diakui Sanin, warna garam dari Australia

lebih putih karena tumbuh seperti gunung di

pinggiran laut. Sedangkan garam lokal berasal

dari air sehingga terkadang ada kotoran debu.

Namun soal rasa, menurut Sanin, garam lokal

lebih enak dan gurih. Ini karena PPN atau

 

kadar keasinan garam lokal paling tinggi 70,

sedangkan garam Australia lebih dari l00.

“Kalau masak pakai garam Australia, saat

dicicipi sudah cukup asin. Tapi begitu masakan

sudah dingin, asinnya luar biasa. Nah, kalau

garam lokal, biarpun masakannya masih panas

atau sudah dingin, rasanya tetap sama. Cuma

kadang-kadang orang kota tuh suka yang putih,

yang putih sekali, padahal enggak enak,” kata

Sanin.

Untuk proses pemanggangan, awalnya Sanin

menggunakan solar sebagai bahan bakarnya.

Tetapi, pemakaian solar ternyata menjadikan

biayanya lebih tinggi. Karena itu, sejak tahun

ini ia menggunakan elpiji, yang lebih ringan dan

irit.

Selain memproduksi garam dapur, Sanin

mendiversifikasikan usahanya, yakni berjualan

pupuk untuk semua jenis tanaman. Pembuatan

pupuk memerlukan garam hingga 40 persen. “Lalu

ditambah kaptan, bahan kaptul seperti kapur dari

Sukabumi,” urainya. KCI dalam garam dibutuhkan

untuk menguatkan batang. Ia mengirim pupuknya

ke Sumatera karena tanah di sana cenderung

bersifat gambut. “Kalau tidak diberi garam,

 

tanamannya tidak bisa hidup, tidak bisa berbuah,

atau buahnya sedikit,” papar Sanin. Berbisnis

garam sangat menguntungkan bagi Sanin karena

tidak ada garam yang tersisa, “Semua garam

dipakai. Yang kotor dicampur untuk pupuk.”

Penjuaan pupuk pun dalam setahun

mencapai 2 ribu ton, bahkan pernah hingga

3 ribu ton. Tentu saja, garam yang digunakan

adalah jenis yang berbeda. Untuk garam dapur

menggunakan garam putih kualitas 1 dan 2.

Sedangkan untuk pupuk, Sanin menggunakan

garam kualitas 3.

Baik di bidang garam maupun pupuk, Sanin

tidak terlalu memusingkan urusan persaingan.

Ia percaya bahwa rezeki diatur oleh Yang Di Atas.

Apalagi Sanin melihat banyak pesaingnya yang

bangkrut. “Ada bisnis yang sama di daerah ini,

tapi perusahaannya kecil. Bahkan, untuk bahan

baku saja mengambil dari saya. Mereka tinggal

mengemasnya,” ujar Sanin. Bisa jadi, memang

tidak ada pesaing yang berarti di sekitar wilayah

tersebut.

Bagi Sanin, ia hanya beruntung. “Menyekolahkan

 

empat anak sampai jadi sarjana butuh biaya

yang enggak sedikit,” ujarnya. Ia mengisahkan,

anak bungsunya yang menjadi bidan setiap

 

bulan paling sedikit butuh Rp 4-5 juta. “Kalau

tidak mengandalkan usaha, ya repot,” ujarnya

sembari tersenyum.

Ketika ditanya, akan dibawa ke mana bisnis

garam ini, Sanin menjawab, “Saya hanya mau

memperbesar pabrik, menaikkan jumlah

produksi, menambah tenaga kerja, membeli

mesin, dan menambah jumlah armada agar

produksi saya bisa menjangkau seluruh Jawa

Barat. Setelah menggeluti usaha garam dapur

dan pupuk hingga seperempat abad, Sanin

yang kini berusia 60 tahun memercayakan

pengelolaan perusahaan kepada para anak dan

menantunya dengan berbagi tugas. Sanin hanya

tinggal mengontrol agar semuanya berjalan

dengan baik.

Pesan penting pun dibagikan kepada semua

anak dan menantunya, bahkan karyawannya,

dan siapa pun yang hendak terjun ke dalam

dunia usaha, yakni harus sabar dan jujur.

“Susahlah kalau kita berbisnis inginnya

langsung besar. Pelan-pelan saja, begitu.

Jangan sekali-kali kita banyak bohong. Kita

harus jujur. Suatu saat dalam usaha, kejujuran

pasti menjadi kesuksesan kita,” ujarnya

bersahaja.

 

Catatan Rhenald Kasali

SAYA TERTEGUN DENGAN cara Sanin membangun usahanya. Ya, seperti inilah

 

manajamen UMKM (usaha mikro kecil dan menengah). Tumbuhnya perlahan-lahan

 

sacara alamiah. Dan hanya mereka yang tekun jujur, serta disiplinlah yang

 

mampu bertahan dan tumbuh. Bagi Sanin untung itu ditandai dengan

 

membesarnya jumlah aset bukan yang lainnya. Seperti pangusaha lain Sanin

 

juga butuh bantuan cash flow dari bank. Namun cara kerja bank yang mampu

manyederhanakan proses dan membuat usaha UMKM ‘nyaman’ sangat menentukan

 

keberhasilan hubungan antara bank dengan UMKM. Jadi sederhanakanlah semua

 

proses dan mengertilah cara kerja mereka.

Sanin seperti UMKM lainnya adalah sebuah produk dari sebuah proses evolusi.

 

Mereka naik kelas secara alamiah dari bekal kerja keras dan kejujuran. Saya

 

sering menyebutkan, pengusaha-pengusaha kecil modalnya berawal dari sekolah

 

50 senti atau setangah meter. Dari ujung telapak kaki ke atas dengkul.

 

Mulai dari tukang becak sampai menjadi pemilik pabrik garam. Itu pun hanya

 

kecil-kecilan saja. Namun karena tekun, ia bisa berurusan dengan bank dan

 

mampu mencicil pinjaman hingga puluhan juta rupiah setiap bulannya.

Sanin berbeda dangan sarjana-sarjana yang hanya bersekolah lima senti,

 

yaitu hanya mengisi kepalanya dengan teori, namun kaki dan tangannya tidak

 

‘disekolahkan’ di lapangan. Mereka yang demikian hanya menjadi penganggur.

 

beban bagi msyarakat.

Bisnis ‘50 senti’ ini adalah bisnis yang marjinnya besar, namun nilainya

 

kecil dan volumenya besar. Bayangkan 105 ton hanya berharga Rp 105 juta.

 

Bagi para sarjana, nilai seperti itu terlalu kecil. Namun bagi rakyat

 

jelata, nilai seperti itu sudah sangat disyukuri. Apalagi oleh seorang

 

mantan tukang bacak.

Berbeda dengan kebanyakan usaha, bisnis UKM seperti ini mempunyai karakter

 

tunai (sehingga banyak uang recehannya). Karakter tunai yang demikian bisa

 

membuat pelaku usaha kecil terperangkap dalam ‘perilaku pedagang’ yang lupa

 

melakukan inovasi atau perluasan produksi. Setiap mendapat tawaran

 

berutang, mereka hanya berpikir untuk memodali pembelian bahan baku atau

 

barang-barang untuk dijual kembali, bukan untuk membangun pabrik yang lebih

 

besar, lebih efisien, atau lebih produktif.

Kedua, usaha kecil juga sarat dengan godaan-godaan duniawi yang bisa

 

berakhir kalau pemiliknya terperangkap dalam godaan. Secara alamiah kita

 

semua terpanggil untuk menjalankan ibadah ke Tanah Suci, namun semua ada

 

syaratnya yaitu mampu. Godaan pertama adalah ‘merasa mampu’ bukan karena

 

benar-benar mampu, melainkan karena gengsi, ingin terlihat hebat. Kedua,

 

godaan kawin lagi. Dan ketiga, godaan Pilkada. Mereka bisa menjadi besar

 

kalau mampu mengatasi godaan-godaan tersebut dan fokus pada upaya memajukan

 

usaha.

 

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Sania Sari, Rumah Produksi Batiknya Pernah Habis Terbakar, Kini Sukses Bangkit dan Mengembangkan Hasan Batik dengan Puluhan Karyawan

Sania Sari, Tri Asayani, Ranityarani, Menyeimbangkan Bisnis dan Seni Batik

Hasan Batik Bandung adalah rumah

industri yang bergerak di bidang

produksi dan penjualan batik.

Memadukan kemampuan teknik, seni,

dan bisnis, Hasan Batik menawarkan

desain produk batik yang eksklusif dan

inovatif.

 

BATIK merupakan jenis kesenian yang

kompleks. Pasalnya, untuk menghasilkan

kain batik diperlukan teknik dan proses

khusus. Pada dasarnya proses membatik

 

dilakukan dengan cara melukis malam (lilin cair)

dengan menggunakan canting di atas sehelai kain.

Dalam literatur, teknik atau metode ini

 

dikenal sebagai wax-resist dyeing. Metode ini

ditempuh untuk mencegah pewarna menyebar

ke seluruh kain, sekaligus memperoleh desain

atau pola artistiknya. Selanjutnya kain tersebut

dicelup ke dalam pewarna tekstil untuk

 

mendapatkan warna yang diinginkan, lalu direndam

dalam larutan kimia panas untuk menghilangkan

 

lilin yang melekat. Setelah diulang

beberapa kali, barulah dapat diperoleh selembar

kain batik yang artistik.

Walau teknik membatik pada dasarnya sama,

motif atau corak batik yang dihasilkan setiap

daerah memiliki perbedaan. Corak itulah yang

menjadi identitas kebudayaan daerah asalnya.

Bandung, Jawa Barat, adalah daerah yang

 

memiliki keunikan corak batik tersendiri. Dan

sampai sekarang, para perajin dan pelaku usaha

batik tidak pernah menyerah mempromosikan

batik Bandung.

Jika batik Solo dan Yogyakarta lebih kental

dengan nuansa tradisional khas keraton, maka

batik Bandung lebih mencirikan masyarakat

kontemporer Indonesia. Corak batik Bandung

berakar pada kekayaan batik Nusantara yang

telah beradaptasi dengan budaya kontemporer

yang cenderung progresif dan modern. Batik

Bandung adalah produk budaya yang lahir

 

melalui proses pengembangan tak henti dari para

perajin dan seniman batik. Melalui proses

 

seperti itulah lahir kain batik dengan kekhasan

tersendiri: motif geometris dan abstrak. Selain

itu juga terdapat bentuk-bentuk khas daerah

Jawa Barat seperti, siluet angklung (alat musik

tradisional) atau kujang (senjata tradisional).

Salah satu perajin dan pelaku usaha batik

yang masih giat mengembangkan batik di

Bandung adalah keluarga Hasanudin. Di bawah

 

bendera CV Hasan Indonesia, keluarga

 

Hasanudin menjalani usaha batik dengan merek

Hasan Batik Bandung. Hasan Batik Bandung

menyatakan diri sebagai rumah industri yang

bergerak di bidang produksi dan penjualan batik

tulis, batik cap, dan batik kombinasi.

KARYA SENIMAN AKADEMISI

Berbeda dengan sebagian besar usaha batik

yang dibangun oleh pedagang, Hasan Batik

 

didirikan tahun 1975 oleh Hasanudin (almarhum),

 

dosen Jurusan Seni Rupa di Institut Teknologi

 

Bandung (ITB). Selain menjadi dosen,

Hasanudin telah lama menekuni pembuatan

batik sebagai karya seni. Spesialisasinya di

 

bidang desain tekstil menjadi kekuatan utama

Hasan Batik dalam mengembangkan batiknya.

Dilihat dari latar belakang keluarganya,

Hasanudin yang akrab disapa Hasan bukanlah

sosok yang tumbuh dari keluarga batik. Namun

sejak kuliah, Hasan sudah rajin mengeksplorasi

batik sebagai objek melukis di atas kanvas.

“Sejak kuliah Ayah memang suka membuat lukisan

 

batik. Ayah selalu memilih objek batik

 

sebagai tema yang kemudian dituangkan di atas

selembar kanvas,” kata Sania Sari, putri pertama

Hasan yang kini menjadi General Manager

Hasan Batik Bandung.

Proses yang dijalani Hasanudin dalam

 

mengembangkan hobinya terpatri di hati anak-

anaknya. Hasanudin memang menyukai batik

sejak dari kuliah, namun kemampuannya

 

semakin lengkap setelah dia menikah dengan

 

seorang wanita dari keluarga batik Pekalongan.

Sejak saat itu Hasanudin mulai mendalami batik.

 

Sebelum Hasan Batik didirikan, Hasan

mendirikan tempat belajar membatik di Jalan

Muararajeun, Bandung. Di tempat ini, Hasan

mengajarkan cara-cara mendesain batik sesuai

keinginan mereka. Sebagai seniman, Hasan

mengangkat tema tradisi dunia batik yang dapat

dikomersialkan.

Kegiatan ini ternyata mengundang minat

 

banyak orang, terutama warga negara asing yang

 

bekerja di Bandung dan Jakarta, bahkan

 

peminatnya banyak warga negara Jepang. Dari

peserta dan para pelanggan batiknya itulah

kemudian muncul nama Hasan Batik.

Sebagai unit usaha, sebenarnya Hasan Batik

baru dimulai pada tahun 1978. Saat itu, selain

memberikan les, Hasan mulai membangun

showroom kecil untuk menjual karya seni batik

ciptaannya. Sebagaimana peminat les batiknya,

peminat kain Hasan Batik juga kebanyakan

berasal dari Jepang. Mereka mendapatkan

informasi mengenai Hasan Batik dari mulut ke

mulut oleh para peserta les sebelumnya.

Sebagai seniman, Hasan juga mengalami

perkembangan dalam berkarya. Hal itu terbukti

dari banyaknya undangan untuk berpartisipasi

dalam berbagai pameran. Hasan mendesain

batik dengan mengeksploitasi berbagai ragam

hias seperti kawung, lereng, dan ceplok; ragam

hias geometris titik-titik, kotak-kotak, dan garis

garis; serta kombinasi antara keduanya. Salah

satu ragam hias ciptaan Hasan ialah batik tambal

dengan efek tiga dimensi yang menggunakan

proses cap, canting, colek, dan celup. “Dibantu

tenaga kerja berpengalaman, Hasan Batik selalu

mengutamakan kepuasan konsumen untuk

memperoleh batik yang mereka inginkan,” kata

Nia, nama panggilan Sania Sari.

Model usaha yang dikembangkan Hasan

 

Batik tersebut ternyata mendapatkan tempat di

masyarakat kelas menengah. Sambutan pasar

membawa usaha Hasan Batik mengalami masa-

masa kejayaan hingga tahun 1997. Produk Hasan

Batik pun berkembang pesat, dari kain batik dan

baju menjadi keperluan interior seperti tirai,

seprai, sarung bantal, hingga tatakan dan tutup

gelas. “Malah sejak tahun 1985 Hasan Batik

lebih banyak memproduksi produk-produk batik

untuk keperluan interior. Produk-produk seperti

itu sangat disukai konsumen,” kata Nia.

PASANG SURUT

Sejak tahun 1980-an, usaha yang berangkat

dari kegiatan berkesenian dan kursus batik

 

kontemporer ini secara bertahap memperlihatkan

perkembangan yang semakin membaik. Menurut

Nia, pendirian studio dan tempat produksi

 

benar-benar menjadi infrastruktur usaha yang

sangat mendukung. Sebab, setelah studio dan

tempat produksi berdiri, produktivitas Hasan

 

Batik mengalami peningkatan yang sangat

pesat. Sampai-sampai Hasan Batik harus

 

memindahkan tempat produksinya dari daerah

Muararajeun ke daerah Cigadung Raya di

 

Bandung Timur. Produktivitas Hasan Batik

 

mencapai puncaknya pada 1990-an.

Namun, kejayaan ini harus berakhir ketika

perekonomian Indonesia menghadapi masa-

 

masa suram. Krisis moneter tahun 1997 yang

meluluhlantakkan hampir setiap sektor

 

perindustrian Indonesia juga berdampak buruk

pada usaha Hasan Batik yang sangat diminati

orang-orang asing.

Krisis moneter tersebut menyebabkan penurunan

 

jumlah warga negara asing di Indonesia

 

sehingga Hasan Batik kehilangan pasar

terbesarnya. Namun, bukan hanya dari sisi

 

eksternal. Tahun 1997 Hasan Batik juga mengalami

keterpurukan dari sisi internal menghadapi

pembelotan karyawan-karyawan terampilnya.

Sebagian dari karyawannya keluar dan

 

mendirikan usaha batik sendiri. Mereka juga

mengambil para pelanggan tetap Hasan Batik.

“Kejadian berturut-turut seperti itu membuat

usaha kami menurun sampai 75 persen. Tahun

2000 adalah puncaknya. Kami menghadapi krisis

 

pemasaran,” kata Nia.

Rupanya nasib buruk yang menimpa Hasan

Batik belum berakhir di situ. Pada tahun itu

pula, si jago merah melahap rumah produksi

Hasan Batik, mengakibatkan semua koleksi

batik mereka habis terbakar. “Yang jelas kami

rugi besar,” kenang Sania, “Terlebih lagi,

 

sebagian besar karyawan andalan kami keluar.

Saat itu, tinggal lima orang saja yang masih

bertahan.” Jelas, tahun-tahun ini merupakan

periode suram setelah Hasan Batik mengalami

 

puncak kejayaannya dengan memiliki 20 orang

karyawan terampil.

Tahun 2006, kesulitan usaha Hasan Batik

semakin terasa ketika kondisi kesehatan Hasan

terlihat semakin menurun hingga akhirnya beliau

berpulang. Situasi ini memaksa ketiga putrinya,

Sania Sari, Tri Asayani (Yani), dan Ranityarani

(Rani) bergandengan menyelamatkan biduk

usaha Hasan Batik warisan ayah mereka.

 

Beruntung sebelum Hasan meninggal, Nia dan adik-

adiknya mendapatkan informasi tentang adanya

fasilitas dari bank bjb untuk kalangan UKM

(Usaha Kecil dan Menengah). Meski tidak besar,

mereka pun berhasil mendapatkan pinjaman

modal sebesar Rp 10 juta.

Ternyata untuk urusan pinjam modal dari

bank ini, ketiga putri Hasan memiliki

 

kemampuan tinggi untuk mengelolanya. Mereka sangat

disiplin dalam mengatur jadwal pembayaran

cicilan utang. Sikap ini menimbulkan kepercayaan

 

dan membuat bank bjb terus menaikkan

jumlah dana yang dipinjamkannya. “Fasilitas

modal seperti ini sangat menolong kami. Boleh

dibilang produksi kami terus meningkat secara

perlahan,” tutur Nia.

Meningkatnya kembali produktivitas Hasan

Batik, diikuti kembali oleh peningkatan jumlah

karyawan. Pada April 2011 karyawan Hasan

 

Batik sudah bisa mencapai 20 orang lagi.

Sementara omzet per bulannya mencapai Rp 75

juta. Ditambah lagi, Nia dan adik-adiknya mulai

memperoleh informasi tentang adanya fasilitas

negara untuk mengikuti pameran di luar negeri.

Setelah persyaratan untuk pameran dipenuhi,

Hasan Batik seperti kembali ke kejayaan

 

pendirinya di masa lalu ketika almarhum Hasanudin

kerap menerima undangan berpameran di luar negeri.

MANAJEMEN USAHA UNTUK MERAIH MIMPI

Saat ini Nia dan adik-adiknyalah yang bertanggung

 

jawab atas perkembangan Hasan Batik.

Mereka semua mewarisi semangat Hasanudin

dan memiliki impian untuk membesarkan usaha

Hasan Batik hingga dikenal di negara lain.

Kini mereka menerapkan sistem yang berbeda

dengan yang diterapkan pendahulunya. Sistem

ini dibangun sebagai hasil pengamatan Yani,

adik Sania, ketika mengunjungi rumah industri

 

produk kain tradisional di Thailand. Di sana

Yani mempelajari bagaimana warga Thailand

mengembangkan usaha produk kain tradisional

dengan gaya modern. Setiap industri rumahan

di Thailand memiliki showroom. Bagian tersebut

 

berfungsi untuk memperlihatkan proses

pembuatan kain secara langsung kepada para

pelanggannya sekaligus sebagai tempat display

produknya. Inilah yang kemudian diterapkan

pada Hasan Batik.

Selain menerapkan model usaha baru, Nia dan

adik-adiknya berusaha membentuk pola manajemen

 

untuk mengembangkan Hasan Batik.

Hasan Batik lebih memilih untuk menerapkan

pembagian tugas yang jelas dibandingkan

 

menerapkan sistem manajemen yang kaku. Nia,

 

saat ini menjadi dosen di ITB, menangani bidang

manajemen. Yani, yang mendalami bidang seni,

menangani urusan desain. Sementara Rani,

memegang bidang produksi sekaligus mengembangkan

 

butik muslimah.

 

Namun keterlibatan keluarga dalam mengelola

 

Hasan Batik bukanlah sesuatu yang mudah.

Keuntungannya memiliki karyawan keluarga

sendiri adalah adanya rasa cinta, menghargai,

dan motivasi yang sama dalam memajukan

usaha berbasiskan seni. Tapi, kekurangannya

adalah mudahnya timbul perselisihan dan beda

pendapat. “Tapi alhamdulillah, kami masih

memiliki Mama yang selalu menjadi penengah

ketika kami berselisih,” jelas Yani sambil

 

tersenyum. Berkat adanya penengah, mereka mulai

 

belajar untuk bersikap terbuka terhadap perbedaan

pendapat. Sejauh ini, mereka belum mengalami

hambatan yang berarti mengenai sistem manajemen

 

mereka. Tampaknya manajemen mereka

yang serius tapi juga santai cocok dengan model

usaha Hasan Batik.

Selain keluarga sendiri, saat ini Hasan Batik

sudah memiliki 23 orang pegawai. Sekitar

3-4 orang dari mereka merupakan tetangga

 

lingkungan sekitar, dan selebihnya direkomendasikan

oleh teman atau kenalan mereka. Saat ini Hasan Batik

 

sudah mempekerjakan karyawan profesional, namun baru

terbatas pada bidang seni rupa untuk desain batik.

 

Sementara untuk bidang lainnya, Yani mengaku belum

 

Berniat mempekerjakan karyawan profesional, karena

 

merasa Hasan Batik masih belum mapan secara finansial.

Tidak mempekerjakan karyawan profesional, bukan

 

berarti Hasan Batik tidak memiliki pekerja yang terampil.

Karena demi meningkatkan keterampilan para pekerjanya,

 

beberapa kali Nia dan adik-adiknya mengadakan pelatihan

 

bagi para karyawan. Agar tidak membebankan perusahaan,

 

Nia dan adik-adiknya mengupayakan pelatihan yang bebas

 

biaya. Sekitar tahun 2008 Hasan Batik pernah mendapatkan

 

pelatihan mengenai tren jenis kain dari perusahaan Amerika

 

yang didatangkan oleh instansi pemerintah.

Kebetulan, instansi pemerintah tersebut memilih mereka untuk

menerima pelatihan. Saat ini, Nia juga sedang menjalani pelatihan

mengenai tren batik tahun 2012-2013.

Namun, Nia juga mengaku saat ini Hasan Batik tengah

 

menghadapi tantangan yang tidak ringan. Beberapa pegawai

mereka sempat memutuskan untuk cuti, bahkan meninggalkan

 

Hasan Batik, meskipun ada beberapa orang

yang datang kembali. Hal ini mengakibatkan Yani dan

 

saudara-saudaranya memutuskan untuk menaikkan gaji

 

karyawan dan mengubah sistem kesejahteraan karyawan agar

 

mereka lebih nyaman bekerja pada Hasan Batik.

Setelah mampu memperbaiki sistem manajemennya, Nia dan

adik-adiknya juga melakukan perbaikan sistem administrasi.

Mereka menerapkan sistem komputerisasi agar data penjualan,

pembelian kain, dan lain sebagainya dapat terdata dengan baik.

Selain itu, sistem komputerisasi juga dipergunakan untuk

 

mempermudah pembuatan desain batik.

Di bidang marketing, Hasan Batik pun tak mungkin mengelak

dari perkembangan zaman. Kini Hasan Batik memiliki situs

 

http://www.hasanbatik.co.id sebagai sarana promosi, agar dapat

 

memberi kemudahan bagi para pelanggannya

untuk mengetahui produk terbaru dan adanya

promosi khusus. Demi menjaga kelangsungan

promosi dan pembelian melalui situs tersebut,

Hasan Batik mempekerjakan karyawan tersendiri

untuk mengurusnya.

Sistem promosi melalui internet terbukti cukup

efektif dalam menyampaikan informasi terkini.

Pada Maret 2011 lalu, di hari kelahiran pendirinya,

Hasan Batik memberikan diskon sebesar 20 persen

 

untuk produk baru dan 50 persen untuk produk

yang lebih lama. Melalui promosi ini Hasan Batik

semakin dikenal masyarakat.

Selain melalui internet, pada tahun 2006

mereka meluncurkan produk baru dengan

showroom khusus. Produk baru Hasan Batik

 

adalah baju batik untuk anak-anak berusia

1 hingga 11 tahun, yang diberi nama ‘Little

Asahyani Batik’. Dengan produk baru ini, pasar

 

yang dituju oleh Hasan Batik akan semakin luas.

Menurut rencana, Hasan Batik akan membuka

 

showroom yang lebih besar demi mewujudkan

 

cita-cita Hasanundin. “Saya ingin

membuat showroom yang lebih besar, sehingga

bisa memuat produk lebih banyak pula. Sehingga

akhirnya akan datang banyak konsumen,” jelas

Yani. Hasan Batik ingin agar para pelanggan

dapat berkunjung melihat proses pembuatan

batik sampai berada di showroom. Saat ini

 

pelanggan sudah bisa melakukan hal tersebut,

 

tetapi jumlahnya tidak begitu banyak dan tidak

rutin. Yani ingin agar para pelanggan Hasan

Batik dapat secara langsung melihat proses

pembuatan, karena dengan cara demikian

 

diharapkan para pelanggannya akan lebih

 

tergerak untuk berbelanja. “Saya berharap

 

kunjungan tersebut dapat dilakukan rutin setiap

hari agar suasana di sini lebih hidup,” ujar Yani

mengenai impiannya akan Hasan Batik.

 

Catatan Rhenald Kasali

BOUNCE! MEMBAL, BEGITULAH hukum keberhasi1an. Usaha tìdak selalu bergerak

 

ka atas namun kalau jatuh ke bawah, janganlah mudah pecah segeralah kembali

Bacaan di atas mengajarkan kepada kita bahwa memulai usaha bukanlah hal

 

yang sulit. Namun meneruskannya dan membuatnys lebih maju ternyata tak

 

semudah memulainya. Apalagi bagi usaha yang berbasiskan seni dan

pengetahuan. Lain di sekolah lain pula keadaannya di lapangan.

Dari pelajaran yang dialami para penerus Hasan Batik Anda mungkin akan

 

mengatakan dibutuhkan keuletan untuk menjadi pengusaha. Ya, betul Keuletan.

 

Tetapi apakah keuletan itu? Keuletan adalah tahan banting dan membal

 

kembali.

Anda baca sendiri bagaimana bisnis kecil ini dicintai orang-orang asing

 

tetapi hilang begitu saja saat terjadi krisis moneter. Lalu mundur sejalan

 

dengan kemunduran kesehatan tokoh kuncinya, terbakar dan ditinggalkan

karyawan-karyawan andalannya yang pergi bersama pelanggan-pelanggan

 

setianya.

Untuk bangkit kembali Anda butuh kemembalan. Anda butuh visi baru dan

 

tenaga yang kuat untuk melompat kembali ka atas. Orang-orang yang pernah

 

mengalaminya pasti tahu hukum ini. Anda hanya bisa membal kembali

kalau sudah menyentuh karang yang ada di dasar laut. Bukan di udara. Jadi

 

sentuhlah kesulitan yang paling dasar sampai ia membukakan mata Anda dan

 

otomatis memberi Anda tenaga baru untuk kembali. Maka keluarlah

dari lingkaran setan kesulitan dengan melakukan kunjungan ka mana saja,

 

sampai Anda menemukan visi baru itu. Anak-anak yang mau keluar dari

 

kesulitan pasti akan menemukan pintunya. Itulah yang Anda pelajari dari

bangkitnya Hasan Batik.

 

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Ronald Sinaga, Mantan Direktur Sebuah Bank yang Resign dan Kini Sukses Lewat Peternakan Sapi Perah

Ronald H. Sinaga, Menggulirkan Revolusi Susu

 

Gila! Itulah kata yang hampir pasti

akan dilontarkan orang jika ada

seseorang yang nekat melepas profesi

terhormat berpenghasilan tinggi lalu

memilih tinggal di “kandang” sapi.

Tetapi Ronald H. Sinaga, justru memilih

langkah “gila” itu: melepas dasinya

sebagai bankir lalu menjadi peternak

sapi perah.

 

KAMPUNG Papakmangu di Desa Cibodas,

Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung,

 

Jawa Barat, siang hari itu terlihat

berbeda daripada hari lainnya. Ratusan warga

tumpah ruah di halaman Sekretariat Kelompok

Peternak Sapi Perah Pasirjambu Ciwidey (KPPC)

Cipta Pratama. Mereka mengantarkan anak atau

anggota keluarga yang akan mengikuti khitanan

massal, pengobatan gratis, dan pembagian bingkisan.

Pengelola KPPC menjelaskan, kegiatan sosial

itu adaiah ungkapan syukur atas keberadaan

mereka sebagai perusahaan yang bergerak di

bidang peternakan sapi perah di Papakmangu.

Mereka ingin berbagi rezeki kepada warga yang

telah menerima kehadiran mereka.

Menurut ketua KPPC Cipta Pratama, Ronald

H. Sinaga, kegiatan tersebut merupakan momen

penting untuk meningkatkan rasa kebersamaan

antar peternak dan antara masyarakat dengan

KPPC. Apalagi KPPC tengah berupaya meningkatkan

 

kinerja mereka dan kesejahteraan peternak.

“Masih banyak peternak yang perlu didorong

untuk bergabung, selain itu kegiatan seperti ini

menjadi momen yang tepat untuk menyentuh

para peternak sapi yang nakal. Sebab masih ada

 

peternak yang sengaja menambahkan air pada

susu,” kata Ronald.

Ronald menekankan pentingnya kebersamaan bagi

 

para peternak sapi. Selain menjadi

media untuk saling belajar, kebersamaan merupakan

 

cara yang sangat efektif untuk saling

 

mengingatkan dan mengontrol. Lewat kebersamaan,

 

lanjut Ronald, para peternak bisa

saling membantu dan menguatkan, terutama ketika

 

menghadapi berbagai kendala usaha. Khususnya

 

kendala yang datang dari luar, seperti

perilaku kartel susu yang sangat merugikan.

PERJALANAN USAHA

KPPC Cipta Pratama adalah kelompok usaha yang

 

menghimpun para pelaku usaha mikro dalam

 

bidang peternakan sapi perah di

Parongpong dan Cibodas. Selain bergerak di

bidang pemerahan susu, KPPC juga terlibat

dalam pembuatan pakan, penampungan dan

pendinginan susu, serta pembuatan sejumlah

produk turunan susu.

Para peternak sapi sebenarnya sudah bergabung

 

dengan KPPC sejak tahun 1998.

Umumnya mereka melakukan usaha ternaknya

secara tradisional. Tak banyak yang dilakukan

untuk menghadapi berbagai masalah seperti

 

meningkatkan kualitas sumber daya manusia,

permodalan, akses ke dunia perbankan, pemasaran,

 

serta kualitas ternak dan produk susu.

Baru setelah Ronald bergabung, tahun 2008,

sejumlah masalah ini mulai memperoleh jalan

keluar.

Saat ini, KPPC menampung 800 peternak sapi

perah yang memiliki 3.000-an ekor sapi. Terbagi

dalam 20-an kelompok, KPPC yang didukung

oleh 40-an karyawan ini mampu menghasilkan

susu segar sebanyak 23.000 hingga 25.000 liter

per hari. Sapi-sapi penghasil susu segar tersebut

merupakan bagian dari ribuan ekor sapi yang

berada pada fase laktasi.

KPPC memiliki dua pusat lokasi usaha, yakni

di Kampung Papakmangu, Cibodas, Pasirjambu,

 

Kabupaten Bandung dan Kampung Belapati,

 

Desa Parongpong, Bandung Barat. Namun,

 

sebenarnya para perternak sapi perah itu

tersebar di sejumlah lokasi, yakni Lembang,

Parongpong, Cisarua, dan Ciwidey.

Selain itu, KPPC juga memiliki empat unit

usaha yang tersebar di beberapa lokasi. Unit

usaha pertama berupa penampungan dan

pendinginan susu sapi segar yang berada di

 

Parongpong. Proses pendinginan menggunakan

PHE dengan kapasitas mencapai 3.000 liter per

jam. Sementara daya tampung dan pendinginan

susu mencapai 15.000 liter.

Unit usaha kedua berada di Ciwidey, berupa

pabrik pakan ternak. Unit usaha ini disertai

usaha penampungan dan pendinginan susu

segar, lengkap dengan unit pendinginan yang

memiliki daya tampung hingga 5.000 liter.

Unit usaha ketiga adalah unit usaha peternakan

 

sapi perah di Cibodas. Unit usaha ini juga

dilengkapi dengan pendinginan susu dengan

daya tampung 1.000 liter. Sedangkan unit usaha

keempat KPPC berada di Cisarua, berupa usaha

penampungan dan pendinginan susu.

“Selain itu, KPPC juga masih memiliki unit

usaha lain yang baru mulai tumbuh. Unit ini

menghasilkan produk turunan susu seperti

yoghurt, permen susu, dan dodol susu,” ujar

Ronald dengan bangga. Semua usaha yang

dilakukan KPPC ini mampu meraih omzet Rp

2 miliar setiap bulan. Dari total pendapatan itu

keuntungan bersih yang diraih KPPC mencapai

Rp 1,5 miliar per tahun.

Ronald berharap agar ke depannya KPPC

 

tidak hanya mampu menyalurkan susu segar,

tetapi juga mampu memproduksi produk susu

dengan merek sendiri. Produk susu yang di

maksud antara lain adalah susu segar siap minum,

 

yoghurt, dan es krim. “Kami punya ide

untuk membuat warung susu segar KPPC, dengan

 

membentuk koperasi sendiri. Namun,

masih terdapat keterbatasan dana dalam

 

mewujudkannya,” jelas Ronald. Hingga memasuki

 

pertengahan 2011, KPPC tengah berusaha

 

membawa usaha peternakan ini menjadi

penyedia sekaligus penyebar virus gemar susu

segar di masyarakat, terutama masyarakat

 

perkotaan di Indonesia.

DARI MENARA GADING KE KANDANG SAPI

Sebelumnya, peternakan sapi merupakan dunia

 

yang asing bagi Ronald. Tak pernah terbayangkan

 

sama sekali bahwa dalam perjalanan

hidupnya ia akan berurusan dengan “kandang

sapi”. Sebagai orang kota yang lebih banyak tinggal

 

di “menara gading”, hingga setahun sebelum

berkutat dengan usaha peternakan sapi, pria

 

kelahiran Palembang, 25 Desember 1963 ini belum

tahu sedikit pun tentang sapi.

Semua berawal tahun 2008. Saat itu, tak lama

setelah meninggalkan profesinya sebagai bankir

mapan yang telah dijalaninya 20 tahun, Ronald

mengunjungi sahabatnya di Missouri, Amerika

 

Serikat, yang bergerak di bidang peternakan sapi

perah. Di negeri itulah untuk kali pertama dalam

hidupnya ia mengenal usaha peternakan sapi perah.

“Saya memang baru mengenal dunia sapi

perah di tempat sahabat saya. Di negeri orang,

pula. Itu pun baru kulitnya. Pengetahuan saya

tentang usaha ini baru bertambah setelah rajin

 

membaca buku-buku tentang ternak sapi,

produk susu segar, dan produk turunannya,”

katanya.

Dalam sebuah buku yang sempat dibacanya,

Ronald menemukan informasi yang mengejutkan.

Suatu hasil studi menunjukkan adanya korelasi

yang meyakinkan antara negara-negara yang

 

berhasil menjadi peserta Piala Dunia Sepakbola FIFA

dengan jumlah volume susu yang dikonsumsi

 

penduduknya. Intinya, penduduk negara-negara yang

berhasil menjadi langganan peserta pesta olah

raga sepakbola kelas dunia itu konsumsi susunya

paling sedikit mencapai 30-50 liter per kapita per

tahun. Demikian juga negara-negara yang merajai

Olimpiade.

“Cina melakukan revolusi (minum) susu

pada tahun 1986. Tahun 2006 mereka juara

Olimpiade. Indonesia rata-rata baru 10 liter per

tahun. Itu pun 70 persennya bukan susu segar

tapi susu formula yang nutrisinya lebih rendah

dibanding susu segar dan bahannya diimpor dari

 

negara lain. Kita masih kalah dengan Vietnam

yang konsumsi susu segarnya sudah mencapai

11 liter per penduduk per tahun,” paparnya.

Ronald yang pernah menduduki jabatan tinggi

di sejumlah bank dan lembaga keuangan lain ini

kemudian melanjutkan penggaliannya tentang

dunia sapi perah.

Jenuh bekerja di lembaga keuangan yang

cukup bergengsi di Jakarta, Marketing &

 

Business Development Director itu memilih

 

jalan ekstrem. Dia meninggalkan Jakarta lalu

beternak sapi. Tahun 2009, penyandang gelar

S2 di bidang bisnis dari School of Business pada

University of the East Manila dan S1 Universitas

Advent Indonesia ini membeli 30 ekor sapi

secara bertahap.

Namun karena tak memiliki pengalaman,

Ronald langsung menghadapi sejumlah masalah.

Produk susu segar yang dihasilkan sapi-sapinya

mengecewakan. Sialnya lagi, pasar dikuasai oleh

kartel yang sangat merugikan peternak. Mereka

mengatur harga yang sangat rendah.

Ronald yang terlatih melakukan analisis

bisnis segera mencari tahu penyebabnya. Dia

menemukan bahwa rendahnya kuantitas maupun

 

kualitas produk susu sapinya bersumber

pada pakan sapi dan perawatannya. Ronald

mengaku bahwa dia hanya memberi pakan

sebagaimana peternak sapi lokal di sekitar

 

daerah usahanya. “Akibatnya, produk susunya

berkualitas rendah,” ujar Ronald menjelaskan.

Ronald pun bergerak mencari solusinya.

Setelah gagal dalam beberapa kali percobaan,

akhirnya Ronald berhasil membuat pakan sapi

yang tepat. Kuantitas dan kualitas susunya

meningkat signifikan, yakni sebesar 50 persen

dan secara bertahap menuju 100 persen.

Merasa berhasil, Ronald melangkah lebih

jauh. Dia membuat pabrik pakan sapi.

 

Rencananya, produk pakan ternaknya akan

 

ditawarkan kepada para peternak di sekitarnya.

Harapannya agar susu yang dihasilkan para

peternak meningkat kuantitas dan kualitasnya.

“Kalau produk susunya meningkat, penghasilan

peternak pasti akan ikut meningkat,” ujarnya.

Sayang, respons para peternak lokal tak

sesuai harapannya. Pasalnya, harga yang

 

ditawarkannya terlalu tinggi. Mereka tidak

 

memiliki cukup dana untuk membelinya. Ronald

kemudian memutar otak. Ia pun mencoba cara

lain. Menurut asumsinya, para peternak akan

bersedia membeli pakan buatannya jika produk

susu mereka juga dia beli. Ternyata benar,

predikat Ronald pun segera bertambah, yaitu

menjadi penampung susu.

Tak terlalu lama mencari, Ronald berhasil

mendapatkan pasar susu segarnya, yakni

PT Indolacto (dahulu bernama Indomilk).

 

Perusahaan susu formula ini bersedia menampung

 

susu segar KPPC hingga 25.000 liter

per hari. Setelah memperoleh pasar ini Ronald

 

merasa satu masalah di antara sejumlah

masalah yang dihadapinya mulai terpecahkan.

 

Dia juga merasa memperoleh isyarat

bahwa lambat atau cepat, berbagai masalah yang

 

dihadapi dunia usaha peternakan sapi

perah juga bisa dipecahkan.

 

MENYEBAR “VIRUS” KEMAJUAN

Meskipun berhasil menemukan pasar yang bagus

 

Untuk menyalurkan produk susu, Ronald menyadari

 

bahwa masalah yang dihadapi para peternak

 

lokal cukup rumit. Diantaranya ialah soal bibit sapi.

Selama ini peternak yang ingin memperoleh sperma sapi

harus mengeluarkan dana besar. “Saya katakan masalah

besar karena penghasilan peternak masih rendah, modal

mereka juga terbatas. Selain itu pendidikan mereka juga

tidak terlalu tinggi sementara semangat untuk tumbuh

 

menjadi peternak modern belum terbangun,” katanya.

Kedua, kebijakan pemerintah. Menurut Ronald,

 

bea masuk yang dikenakan terhadap susu impor

 

sangat rendah sehingga perusahaan susu formula di

 

Indonesia leluasa memproduksi susu formula

dengan harga murah. Dengan demikian, peternak sapi

 

perah lokal harus menghadapi masyarakat Indonesia yang

lebih mudah mengonsumsi susu formula daripada susu

segar.

Menghadapi berbagai masalah tersebut, Ronald kembali

memeras otaknya. Ia melihat bahwa sebagian peternak

 

lokal telah memiliki kelompok usaha bernama KPPC Cipta

Pratama. Ronald pun segera bergabung. Tujuannya agar

bisa melakukan berbagai kerja sama yang saling menguntungkan.

 

Dalam waktu sekitar 8 bulan Ronald dipercaya untuk

 

memimpin KPPC tersebut. Dua bulan kemudian, dengan

 

menambah investasi baru, Ronald mengambil alih KPPC

 

dari pengurus lama. Dengan investasi tersebut di

bentuklah unit pengolahan pakan ternak untuk

mengembangkan kelompok peternak sapi perah

di Desa Papakmanggu, Gambung, Pasirjambu,

Kabupaten Bandung.

Sejak saat itu, Ronald mulai menyebarkan

“virus” kemajuan. Namun untuk urusan ini

dia harus bekerja keras dan cepat. Maklumlah,

selain banyak peternak yang belum bersedia

bergabung, banyak anggota yang tidak siap

diajak ‘berjalan’ cepat.

“Pada umumnya peternak masih kerasan dengan

 

kebiasaan lama, seperti mencampurkan

air ke dalam susu sehingga kadar air pada susu

segar menjadi tinggi. Peternak seperti ini kami

sebut peternak nakal,” katanya.

Untuk menyadarkan peternak nakal, Ronald

menerapkan budaya yang hidup di kalangan

masyarakat Sunda, yaitu budaya malu. Dengan

 

budaya malu ini para peternak diajak

memberikan sanksi sosial terhadap peternak

yang tak jujur. Kalau ada yang ketahuan,

sanksinya harus dikucilkan.

“Sebaliknya, peternak yang berhasil menjaga

kualitas harus diberi penghargaan. Bagi

 

masyarakat pedesaan yang masih menjunjung budaya

 

malu, mengalami pengucilan adalah hal yang

menakutkan,” katanya.

Ternyata cara tersebut cukup ampuh dan

menguntungkan. KPPC bisa membangun mekanisme

 

kontrol. Dengan pendekatan kultural pula,

cara berorganisasi yang lebih modern mulai

ditanamkan.

 

“Sementara untuk meningkatkan kualitas

susu, KPPC menempuh jalan penyadaran akan

pentingnya kebersihan kandang pada saat proses

pemerahan,” kata Ronald.

Selain itu, KPPC juga terus berusaha menumbuhkan

 

kesadaran akan pentingnya menjaga

lingkungan, termasuk sungai, dari pencemaran

 

limbah sapi. Terkait hal ini, KPPC menggandeng

berbagai kelompok pengolah limbah sapi. “Limbah

 

dijadikan pupuk atau produk lain. Hanya

saja hal ini masih sulit karena banyak peternak

yang belum bergabung ke KPPC,” tuturnya.

Untuk kenyamanan usaha, Ronald menambah

 

berbagai fasilitas seperti kesehatan ternak,

termasuk jumlah dokter hewan, selain petugas

kesehatan yang mengontrol kesehatan sapi. “Ini

juga sangat penting kami lakukan agar kualitas

susu sapi tetap terjaga,” katanya.

Ronald juga membawa kemajuan untuk urusan

 

permodalan. Selain pinjam ke bank bjb untuk

 

pengembangan usahanya, Ronald juga menyediakan

 

KPPC sebagai penjamin untuk para peternak.

Dari modal tersebut peternak anggota

KPPC mampu membeli sapi perah. Dengan

banyaknya sapi perah maka semakin banyak

pula tampungan susu di KPPC. Pengembalian

pinjaman modal kepada bank bjb dilakukan

dengan sistem angsuran, dan anggota KPPC

membayar angsuran dari hasil susu yang

diperoleh. Dengan cara ini, dunia perbankan

pun mulai melihat bahwa dunia peternakan

bisa menjadi pasar bagi produk-produk kredit

mikro.

REVOLUS SUSU!

Ronald mengakui bahwa ia masih baru dalam

 

usaha peternakan sapi perah. Namun bagi dia,

waktu dua tahun telah membimbingnya untuk

melihat dan melakukan sesuatu yang berguna

bagi kalangan peternak dan masyarakat luas.

Saat ini semua pengolahan susu masih dilakukan

 

secara tradisional. Perlahan namun pasti,

Ronald mengubah cara-cara tradisional tersebut

 

dengan memberikan penyuluhan peningkatan

 

kebersihan. Ronald menyarankan agar

kandang dan ternak dibersihkan dengan

 

menggunakan air hangat dan tempat pemerahan sapi

dibersihkan menggunakan ember alumunium.

Selain itu, Ronald memberikan penyuluhan

agar memperpendek waktu dari pemerahan

hingga penyetoran. Lebih cepat tiba di tempat

penyetoran maka dapat langsung didinginkan

guna mencegah pertumbuhan bakteri. KPPC

juga menyediakan mantri hewan gratis bagi

setiap anggota untuk menjaga kesehatan dan

kesuburan ternak mereka.

Pembelian susu dari peternak dilakukan

dengan membuat kelompok yang terdiri dari

40 orang. Dari setiap kelompok tersebut KPPC

membeli susu seharga Rp l00 per liter per hari.

Jadi, jika hari ini jumlah produksi KPPC 20.000

liter per hari maka dana yang disiapkan oleh

KPPC adalah Rp 2 juta.

Setidaknya konsep, metode, proses, dan

orientasi usaha KPPC yang dilakoninya sudah

mulai membuka mata banyak orang bahwa

 

usaha peternakan sapi perah bisa berkembang,

maju, dan menguntungkan. “Memang enggak

gampang. Bahkan masalahnya cenderung kompleks.

 

Tapi itulah tantangannya,” katanya.

Untuk mengurai berbagai masalah dan menemukan

 

solusinya, Ronald memanfaatkan pengalaman

 

yang dia peroleh di dunia perbankan

dan keuangan, ditambah kemauannya membaca

berbagai buku. “Kalaupun seperti trial and error

ya mohon dimaklumi. Tapi bukankah dunia

nyata menuntut kita belajar dari kesalahan?”

ujarnya.

Menghadapi peternak dengan kultur agraris

yang kuat, katanya, hanya ada satu cara, yakni

 

memberi contoh dan terus meyakinkan bahwa

mereka bisa melakukan yang lebih baik dari

sebelumnya. “Yang penting mata peternak

terbuka bahwa ada hal lebih baik yang bisa

mereka lakukan,” katanya. Misalnya, mengubah

pakan sapi yang tidak bernutrisi menjadi pakan

yang bernutrisi karena sangat berpengaruh

terhadap kuantitas dan kualitas susu.

Pada sisi pemasaran Ronald mencari penampung

 

susu besar, seperti perusahaan susu formula.

 

Ronald juga memelopori pembuatan produk

 

turunan dan penjualan susu segar secara

eceran. “Penjualan eceran ini penting bagi

peternak susu. Selain membuka peluang usaha

 

bagi masyarakat, juga menjadi awal dimulainya

revolusi susu di Indonesia,” ujarnya. Upaya itu

akan dilanjutkan dengan berdirinya rumah

susu di berbagai kota dan lokasi. Rumah susu

ini nanti akan menjadi semacam distributor

yang membuka peluang usaha bagi masyarakat

sekaligus menyebarkan virus Revolusi Susu,

yakni pentingnya mengonsumsi susu sebanyak

40-50 liter per kapita per tahun.

“Kalau ide yang sudah kami rintis ini kelak

menjadi gerakan, maka berbagai persoalan

utama peternak akan teratasi. Selain itu bangsa

Indonesia juga akan memetik manfaat dalam

hal kesehatan dan kecerdasan,” ujarnya seraya

menekankan pentingnya peningkatan konsumsi

susu segar di masyarakat karena susu segar jauh

lebih bernutrisi dibandingkan susu formula.

Untuk mewujudkan revolusi susu ini KPPC

tengah merintis sejumlah kerja sama dengan

pemerintah daerah Provinsi Jawa Barat. Ronald

juga segera mengusulkan kepada pemerintah

pusat untuk membuat kebijakan tentang susu

impor yang tidak merugikan peternak sapi.

“Pemerintah juga perlu mulai mengenal pentingnya

 

asupan susu segar bagi rakyat, terutama

 

di kalangan anak-anak, balita, pelajar, serta

mahasiswa,” katanya.

MANAJEMEN USAHA

Saat ini, Ronald memiliki dua impian besar

untuk mengembangkan usahanya. Pertama,

memiliki tanah yang dapat menampung sapi

kelompok peternaknya. Kedua, mendirikan pabrik

 

untuk memproses susu sendiri. Ronald

berharap agar kelompok peternaknya dapat fokus

 

beternak, kemudian menjual dengan harga

yang lebih tinggi. Untuk mewujudkan mimpi

tersebut, sistem usaha harus diperbaiki.

Pertama, kinerja karyawan dan peternaknya.

“Sudah ada di pikiran saya untuk memakai

 

tenaga profesional, tetapi tidak mudah, terutama

yang mau bekerja full time dan tetap masuk

Sabtu dan Minggu bila dibutuhkan,” ujarnya.

Sementara peternaknya, hanya diambil dari

 

sekitar Lembang. Upah yang diberikan disesuaikan

dengan banyaknya susu yang dihasilkan.

Peningkatan kemampuan peternak, dilakukan

 

melalui pelatihan dan diskusi. Ia mendatangkan

 

tenaga pelatih dari organisasi peternakan

 

bernama PUM Netherlands. “Saya browsing di

 

internet, melalui website-nya saya submit

 

aplikasi mengenai UKM saya. Setelah

 

melalui dua kali wawancara, akhirnya

saya berhasil mendatangkan seseorang untuk

memberikan konsultasi kualitas susu ke sini,

gratis, semua biaya ditanggung PUM,” jelasnya

bangga.

Selain pelatihan, ia juga melakukan pengawasan

 

terhadap para peternaknya. Ronald

mengaku pekerjanya ada yang pindah ke kelompok

 

pesaing karena pilihan sendiri dan ia

harus mencari seseorang yang dapat menjadi

penyelia. “Saya meminta adik istri saya bergabung,

 

karena dia bisa mengerti bahasa penduduk,” jelasnya.

Selanjutnya ia memperbaiki sistem usahanya.

Pertama, dalam hal social engineering, ia

 

mengubah perilaku peternak menjadi modern dengan

menanamkan pola pikir bahwa susu adalah

 

konsumsi manusia. Karena itu, kebersihan dan

kualitas susu harus benar-benar dijaga. Kedua,

sistem manajemen untuk menjaga loyalitas

karyawannya.

Ronald berharap dengan melakukan perbaikan,

 

mimpi-mimpinya dapat terwujud. Paling

 

tidak target sederhananya, yaitu semua

orang bisa minum susu dengan harga yang lebih

murah dengan kualitas terbaik.

Suatu malam pada bulan Juni 2011, di lokasi

 

peternakan sapi perah KPPC di Cisarua

yang dingin, Ronald H. Sinaga, mantan

bankir profesional itu, memandangi langit di

atas deretan kandang yang penuh bintang.

Ia membuktikan bahwa usaha peternakan

sapi perah dan susu segar bisa meningkatkan

kehidupan peternak. Bahkan dari kandang

sapi, virus Revolusi (Minum) Susu mulai ia

sebarkan.

 

Catatan Rhenald Kasali

SERING KALI TERLIBAT dalam kegiatan usaha bukanlah murni soal uang atau

 

menitipkan hari tua. Ada kalanya Anda juga dituntut melakukan perubahan.

 

Ya, perubahan. Sebuah transformasi sosial. Kalau ingin usaha Anda

maju maka Anda pun dituntut memajukan masyarakat. Bukankah dari masyarakat

 

itu Anda mendapatkan rasa aman (keamanan), bahan baku, tenaga kerja,

 

pembelaan saat terjadi gangguan, dan seterusnya.

Bayangkan apa jadinya bila kementerian pendidikan salah urus tenaga kerja

 

Kita? Sekarang ini saja semua pangusaha sudah merasakan akibatnya yaitu

 

tenaga-tenaga kerja yang tidak siap pakai. Belum lagi masalah kesehatan,

 

investasi sosial, kesejahteraan (listrik, fasilitas jalan, poliklinik dan

 

seterusnya). Anda juga dituntut melatih keterampilan mereka dan

 

memperbaikinya. Bukankah tenaga-tenaga penyuluh pertanian dan peternakan

sudah lama menghilang?

Ada kalanya, sistem ini sengaja dipertahankan oleh mereka yang mendapat

 

keuntungan-keuntungan jangka pendek. Tengkulak, lintah darat, dan politisi

 

atau birokrat-birokrat yang korup. Mereka mempertahankan masalah agar

 

terjadi ketergantungan dan masalah dijadikan proyek abadi. Maka demi

 

kecintaan Anda pada Sang Merah Putih, lakukanlah perubahan.

Ronald H. Sinaga ingin mendulang keuntungan, namun caranya harus berbeda.

 

Ia tidak menjadikan masalah sebagai peluang dengan mengabadikan masalah itu

 

sebagai proyek abadi, melainkan mengubahnya menjadi masyarakat yang

 

sejahtera yaitu masyarakat yang lebih mengerti, lebih mandiri dan lebih

 

sehat. Ia mengubah masalah masyarakat yang bukan menjadí kewajibannya

 

untuk mendapatkan dukungan, kepercayaan dan kredibilitas. Ia memberikan

 

pelatihan, memperbaiki mata rantai, dan memberi perhatian.

Perbaikan masyarakat mutlak dilakukan usahawan, di desa maupun di kota.

 

Bäyangkan bagaimana sehatnya negeri ini kalau semua orang mau

 

Melakukannya…

 

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Suhaemah, Awalnya Ibu Rumah Tangga Biasa, Kini Sukses Lewat Usaha Dodol Mangga dan Aneka Keripik Beromzet Ratusan Juta per Bulan

Popon Suhaemah, Sukses Semanis Dodol Serenyah Keripik

Melihat hasil panen raya dari 83 pohon

mangganya sia-sia, ibu yang tidak

bekerja ini pun berpikir untuk menjual

jus. Kebetulan ada sekolahan di dekat

rumahnya. Meski usaha jusnya tak

berlangsung lama, namun ia tetap

dapat memanfaatkan sumber daya

di sekitarnya menjadi camilan yang

membuat lidah berdansa.

Ide bisnis memang dapat datang dari mana

saja. Termasuk dari pelataran rumah Popon

Suhaemah di Kelurahan Cijati, Kabupaten

Majalengka. Sebelum menjual jus, Popon pernah

membuat usaha telur asin tahun 2000 yang

berakhir ketika peternak bebek menghilang dari

desanya karena musim kemarau.

Senasib dengan usaha telur asin, usaha menjual

jus pun tidak berlangsung lama. Pasalnya,

baru seminggu disimpan, jus buatannya sudah

mengeluarkan bakteri. Dia memutar otak agar

olahan jus mangganya bisa tahan lama, tidak

cepat busuk. “Akhirnya saya berkonsultasi ke

Dinas Kesehatan, kalau pengen lama bagaimana

nih, saya bilang begitu,” cerita Popon mengenang

awal usahanya.

Atas saran pegawai Dinkes, Popon mengikuti

pelatihan untuk mendapatkan Surat Penyuluhan

(SP)—kini Perizinan Industri Rumah Tangga

(PIRT). Dia mendapat ilmu baru bagaimana

mengawetkan mangga dengan bahan pengawet

yang sudah diperbolehkan. Pada 31 Oktober

2002, dengan SP di tangan, Popon mendaftarkan

dagangannya dengan nama ‘Ibu Popon’. “Saya

berpikir sederhana waktu itu, kalau orang

nyari saya gampang, karena saya orang sini asli.

Kalau orang tanya Bu Popon, semua pasti tahu,”

cetusnya.

MEMANFAATKAN BUAH YANG BERLIMPAH

Setelah suaminya di-PHK saat krisis moneter

tahun 1998, perempuan asal Majalengka ini memang

harus pintar-pintar mencari peluang. Pada

bulan Oktober 2003, pohon mangganya kembali

menghasilkan buah yang banyak. Bermodalkan

ilmu dan pelatihan sebelumnya, Popon mengolah

mangga tersebut menjadi dodol dengan

menambahkan pengawet yang sudah mendapat

izin Dinas Kesehatan.

Dengan mengendarai motor GL 86, Popon

menaruh dodolnya di beberapa warung di

desanya. Setiap warung dititipkan sekitar 20

bungkus dodol. Dalam pikirannya, dodol yang

dibuatnya harus habis, tidak lagi disimpan di

rumah.

Namun, harapan tidak seindah kenyataan.

Ketika seminggu kemudian Popon menagih

hasil penjualan ke warung-warung tersebut,

ternyata dodol yang laku hanya 2-5 bungkus

saja. Selebihnya dikembalikan. Kejadian ini

berlangsung beberapa waktu. Untuk menghindari

malu kepada ibunya, Popon selalu membawa

gunting di tasnya. Dodol yang tidak laku

digunting dan dibuang ke sungai. Sementara

merek ‘Ibu Popon’ yang tertera di bungkus, ia

bakar.

Siapa sangka, keuletannya menjual dodol

mangga ke warung-warung itu menarik minat

seorang staf Dinas Pertanian. Betapa senangnya

Popon ketika tempat usahanya dikunjungi orang

berseragam dinas cokelat-cokelat. Rupanya,

orang tersebut hendak membeli dodolnya untuk

dibawa ke provinsi. Ia ingin menunjukkan bahwa

Majalengka pun bisa menghasilkan penganan

khas, mengingat daerah ini memang terkenal

dengan banyaknya pohon mangga.

“Dari hari itu seperti ada titik terang bagi

saya. Seperti ada malaikat penolong. Terus,

setelah ngobrol, saya minta nomor teleponnya,

dikasihlah nomor telepon,” tutur Popon. Setelah

Lebaran, Popon berkunjung ke Dinas Pertanian

tingkat Kabupaten Majalengka. Dia bertemu

dengan Pak Nunu, yang mengenalkannya

kepada Kepala Seksi Usaha. Kesempatan itu

dipergunakannya untuk berkisah panjang lebar

tentang kendala usahanya dan mimpi-mimpi

pengembangan usaha. Gayung pun bersambut,

Popon diajak menjadi warga tani binaan Dinas

Pertanian dengan syarat membentuk kelompok.

Bersama dengan 4 saudaranya, Popon membentuk

kelompok Asri Rahayu. Mereka mengumpulkan

uang Rp 50 ribu per orang untuk

mengikuti pembinaan tani. Mereka terus

melakukan trial and error dalam pembuatan

dodol mangga tanpa kenal lelah. “Kadang-

kadang belum diedarkan, dodol tersebut sudah

jamuran. Kemudian kami berkonsultasi

dan disarankan memakai lemak sapi, namun

hasilnya bau,” kenang Popon.

Nyaris setiap hari Popon dan kelompoknya

melakukan uji coba dan hasilnya dikonsultasikan

ke Dinas Pertanian, hingga akhirnya dikirim

ke pelatihan pengolahan pascapanen di Balai

Pelatihan Pertanian Cihea, Cianjur. “Di situ saya

mulai mendapat ilmu. Ooohhh… rupanya begini

cara mengolah dodol. Mulailah saya diajak studi

banding ke Ciamis, lalu Sukasena. Dari situ saya

semakin semangat. Oh kalau orang lain bisa,

kenapa saya enggak,” yakinnya.

Sejak saat itu, Popon semakin aktif mengikuti

pelatihan, mulai dari proses pengolahan sampai

packaging. Di pelatihan itu juga dia baru

mengetahui bahwa sebuah merek yang kuat

sebaiknya memiliki arti dan pengaruh yang

besar. Namun hal tersebut tidak membuatnya

mengubah merek yang sudah teregistrasi.

Selain pelatihan, Popon juga mendapat

bantuan dari Universitas Padjajaran (Unpad)

dan Universitas Pasundan (Unpas). Setiap

permasalahan juga dikonsultasikan kepada

para profesor Jurusan Teknologi Pangan pada

kedua perguruan tinggi tersebut. Bahkan Popon

memberikan tempatnya untuk menjadi

tempat penelitian mahasiswa, yang menurutnya

amat membantu usahanya. Berkat penelitian

mahasiswa jualah camilan ‘Ibu Popon’ kini

sudah mencantumkan informasi kandungan

nutrisi. Produknya pun kerap diajak pameran

yang digelar di lingkungan kedua universitas

tersebut.

Tahun 2004, jenis olahan Popon mulai beraneka

ragam. Dia mendapat tawaran alat vacuum

frying untuk menggoreng keripik. Selama

setahun dia harus mempelajari kegunaan alat

tersebut dan menghasilkan produk keripik

dan buah-buahan. Popon hanya fokus agar

keripiknya bagus. Dia belajar bagaimana

keripik pisangnya tidak cepat letoy. Ia baru

tahu, ternyata jenis pisang dan tingkat

kematangannya pun sangat berpengaruh.

“Jadi kita sekarang sudah bisa menentukan

Pisangnya seperti apa, kulitnya seperti

apa, harus kita goreng hingga kematangan

seperti apa. Kalau yang lewat dari sortasi

itu jadi dodol. Kalau dulu mah dihantam aja,

digoreng semua pisangnya. Pikirannya

sederhana, daripada dibuang,” papar Popon.

Meski tak pernah putus belajar, baru saat

menginjak tahun ketiga, Popon bisa menggoreng

keripik yang tahan lama. Seiring waktu pun

orang makin mengenal produk dodol dan keripik

merek ‘Ibu Popon’.

Popon pun terus belajar menjalankan usahanya ini.

Misalnya dalam menentukan harga.

Dengan berat 1 ons, Popon menjual keripik

tersebut ke warung seharga Rp3.500 dan dijual

warung tersebut ke masyarakat seharga

Rp5.000. Padahal ada juga yang menjual keripik

pisang seberat 1/4 kg dengan harga Rp2.500.

Sukses? Ternyata belum. Keripik pisang Popon

ternyata tidak laku dan ia kembali menerima

banyak retur. Maka ia pun menata ulang

penentuan harga produk-produknya.

MEMBESARKAN USAHA

Seperti usaha kecil lainnya, Popon pun mulai

mengalami permasalahan modal. Dengan bantuan

Dinas Koperasi, dia mendapat jaminan

untuk mendapatkan pinjaman dari bank bjb

sebesar Rp 9 juta pada 2005. Dia juga diajak

mengikuti pameran-pameran oleh Departemen

Perindustrian. Saat ini hampir semua wilayah

Indonesia sudah dikunjunginya untuk pameran,

mulai dari Surabaya, Jakarta, Makassar, NTB,

hingga Batam. Bahkan produk ‘Ibu Popon’ sudah

ikut pameran ke Singapore Expo (Singex).

Dari pameran-pameran itu juga Popon mengenal

packaging yang baik dan menarik.

Packaging House di Bandung menyarankan

Popon untuk membuat packaging yang menarik

dan menimbulkan minat orang untuk membeli.

Ketika pameran di Singex, produk Popon tidak

hanya dikemas dalam plastik, tapi dimasukkan

dalam kaleng dan kardus suvenir.

Dari pameran—pameran tersebut merek ‘Ibu

Popon’ akhirnya mulai dikenal orang. Sekarang

banyak pihak yang justru ingin memasarkan

camilan produksi Popon. Pemasarannya pun

sekarang sudah tak lagi hanya di sekitar

Majalengka, tapi sudah masuk Jakarta, termasuk

rest area jalan tol dan koperasi di perkantoran

Jalan Jenderal Sudirman. Di Bogor, produk Popon dapat

ditemukan di sentra oleh-oleh Priangan Sari. Pusat

perbelanjaan besar seperti Carrefour dan Yogya

pun sudah menjual camilan khas ‘Ibu Popon’.

Setelah usahanya semakin berkembang,

kini saatnya gantian, Popon harus membina

kelompok ibu-ibu wanita tani di desa-desa di

Majalengka. Saat ini dia sudah membina sekitar

40 kelompok, yang tiap kelompoknya terdiri

dari 10 orang. Setiap kelompok dibuatnya

memiliki keahlian khusus, misalnya membuat

keripik pisang saja, keripik jagung saja, atau

keripik salak saja. Muiai dari bumbu hingga

standard operational procedure (SOP) dan

pengawasannya dikontroi langsung oleh Popon.

Produksi dari setiap kelompok tani itu dijual

ke tempatnya.

Hingga saat ini, kelompok wanita tani binaan

Popon bukan hanya menghasilkan berbagai jenis

keripik, tapi juga rempeyek kacang hijau, hingga

sumpia (sejenis makanan ringan berbentuk

lumpia kecil dan digoreng kering) isi oncom.

Sementara di fasilitas produksinya, Popon sudah

menghasilkan keripik pisang, keripik

nangka, keripik salak, dodol jambu biji, dodol

mangga, dan dodol pisang. Siapa sangka wanita

berpenampilan sederhana ini bisa menyulap

mangga, salak, pisang, nangka, jagung menjadi

camilan seperti dodol dan keripik?

Popon pun rajin mengutak-atik produknya.

Misalnya, sumpia yang biasanya berisi udang

atau ebi, kini diganti dengan oncom. Popon

mengaku terkejut karena idenya itu ternyata

diminati banyak orang. Awalnya, dia hanya

melihat bahwa desanya banyak memproduksi

oncom. Dia pun memberdayakan masyarakat

untuk membungkus oncom dengan kulit lumpia.

Upah yang diberikan sebesar Rp2.000 per

kilogram dan dibayarkan setiap hari Sabtu.

Popon tinggal mempekerjakan orang untuk

menggoreng sumpia oncom tersebut.

Sementara emping jagung Popon paling di

minati oleh konsumen di Bogor. Awalnya Popon

hanya membuat rasa original. Namun para

pembelinya meminta diberi taburan bumbu rasa

barbekyu, yang kemudian dia penuhi. Meskipun

demikian, emping jagung rasa original juga tak

kalah peminatnya.

Popon dengan cepat juga mempelajari bahwa

setiap daerah di Jawa Barat ini memiliki

permintaan yang berbeda. Jika orang Bogor suka

emping jagung, di Jakarta yang paling laris

adalah keripik pisang. Rest area pada jalan tol

di Jakarta bahkan mengorder 2 kuintal setiap

2 minggu sekali. Artinya, dia harus mengolah 2

ton pisang untuk menghasilkan keripik pisang

sebanyak itu. Padahal, dengan kemampuannya

saat ini hanya 600-700 kilogram yang bisa

diolah karena terkendala alat produksi yang

minim dan kurang memadainya luas fasilitas

produksinya saat ini.

“Dengan 5 alat vacuum yang dimiliki saat

ini, kapasitas kita baru 1.000 kg keripik tiap

bulan,” ujar sarjana pendidikan Islam yang

memelesetkan gelar S.Pd.I yang diraihnya

menjadi sarjana pembuat dodol Ibu Popon.

Untuk itu, dia pun meminta tambahan modal.

Setelah melunasi utang Rp 9 juta, tahun 2007

Popon mendapat pinjaman lagi dari bank

bjb sebesar Rp 50 juta. Bisnisnya bertambah

pesat, dan keberaniannya berbisnis semakin

besar. Dan, akhir tahun 2010 lalu dia mendapat

pinjaman Rp 250 juta untuk membeli alat

produksi dan memindahkan fasilitas produksi

ke sebelah tokonya.

Saat ini, Popon baru mampu menghasilkan

2.000 kilogram untuk seluruh jenis produknya.

Khusus keripik dapat dihasilkan 1.000 kilogram,

yang artinya membutuhkan 10 ton bahan baku.

Untungnya, di bumi Nusantara ini Popon tidak

pernah kesulitan urusan bahan baku. Bermitra

dengan petani dan pengolah setengah jadi (pure)

membuat ketersediaan bahan tidak pernah

kurang. Selain itu, misalnya untuk mangga,

Popon membuat stok dengan menyimpannya

dalam beberapa buah freezer. Untuk pisang,

Popon bermitra dengan petani dan pengumpul

di Rajagaluh, Majaengka. Untuk nangka, ada

temannya yang berburu nangka dan menyetorkan

hasil buruannya kepada Popon.

Keripik yang awalnya hanya dilakukan coba-

coba, kini menjadi dagangan yang paling

diandalkan, mengingat penjualannya selalu habis.

Apalagi bahan baku buah-buahan amat berlimpah

di daerahnya. Inilah keuntungannya memulai

bisnis dengan memperhitungkan masak

masak sumber daya alam yang dibutuhkan

untuk keperluan tersebut.

Dari perjalanan panjangnya di awal usaha,

Popon banyak memperoleh pelajaran dan

pengalaman yang mendukung kemajuan usahanya.

Misalnya saja, dia menyadari pentingnya merek.

“Sekarang saya baru sadar, merek ternyata besar

artinya. Merek harus punya ciri khas, hurufnya

jangan terlalu banyak. Nah, itu saya baru dapat

sekarang, tapi sudah telanjur jadi dan terdaftar,”

ujarnya sambil tertawa.

MELATIH MASYARAKAT SEKITAR

Untuk sumber daya manusianya, Popon tidak

mau lagi hanya sekadar banyak menyerap tenaga

kerja. Dia kini ingin usahanya memberi manfaat

untuk orang lain. Bukan hanya bermanfaat

bagi sanak saudara, tetangga, kelompok tani,

dan para santri dari pesantren yang didirikan

ayahnya, melainkan juga bagi anak sekolah yang

tidak mampu. Mereka bisa magang di pabriknya.

Popon memberi pelatihan produksi kepada

mereka secara langsung. Mereka diarahkan sesuai

dengan kemampuan masing-masing. Tak

tanggung-tanggung, Popon kini sudah memiliki

standar pelatihan, termasuk masalah kesehatan

serta kebersihan. Penggunaan celemek, penutup

kepala, dan penutup mulut, misalnya, adalah

sebuah keharusan. Bahkan ada modul yang

harus dipelajari calon pekerjanya.

Popon mencari anak-anak yang berpotensi.

Menurutnya, secara hukum alam, anak yang

kurang mau belajar akan tersingkir dengan

sendirinya, sementara yang bertahan akan

diberi pelatihan oleh suku dinas setempat. Ketika

mereka sudah keluar dari sekolah, Popon

mengajak mereka membantunya.

“Misalnya untuk membuat keripik jagung.

Kontrol, penjualan, dan bahan baku dari saya.

Jadi, hubungan saya dengan anak-anak ada

kaitan emosionalnya dan menjadi lebih panjang.

Bahkan petani mitra juga begitu, jadi banyak

berhubungan dengan santri-santri pesantren

yang saya kenal dari awal,” paparnya.

Saat ini, Popon memiliki 17 orang pegawai,

yang dibagi ke dalam 2 sif. Sementara untuk

urusan administrasi, ia memiliki 5 orang

karyawan yang sejak awal sudah ikut membangun

usaha keripik tersebut. Popon memberikan upah

untuk karyawannya yang bekerja

di fasilitas produksi dan outlet sebesar Rp 10

ribu per hari plus insentif dari jumlah pnoduksi

dan penjualan yang melebihi target. Kerajinan

masuk kerja pun memengaruhi pemberian insentif.

Sementana untuk tenaga teknis seperti orang

orang yang menangani mesin, dibayar sesuai

dengan jumlah alat yang dipegang. Tenaga

borongan, biasanya untuk bagian pembungkusan,

mendapat upah Rp 20 per bungkus. Biasanya

dibayarkan setiap minggu, atau sesuai dengan

permintaan tenaga borongan tersebut.

Popon tidak melupakan kesejahteraan masa

depan karyawannya. Zakat usaha diberikan

kepada karyawannya dalam bentuk tabungan

pensiun. Bahkan setiap tahunnya ada jatah

kurban Idul Adha untuk pegawainya yang

dilakukan secara bergantian. Kurban ini didapat

dengan menjual minyak goreng bekas yang

masih bersih kepada penduduk sekitar. Untuk

melepas jenuh, pada setiap tanggal 31 Oktober,

yakni hari ulang tahun usahanya, Popon dan

karyawannya pergi piknik bersama.

Popon juga telah menyiapkan regenerasi

untuk menjalankan bisnisnya. Dia melibatkan

langsung adiknya. Juga, salah satu keponakannya

diangkat menjadi sekretaris. Dengan

manajemen keluarga seperti ini, Popon merasa

lebih aman. Selain faktor kepercayaan, menurut

Popon, keluarga lebih mudah dipegang karena

ada rasa kebersamaan dan kepemilikan yang kuat.

Tentu saja, manajemen keluarga bukannya

tanpa masalah sama sekali. Misalnya, ada

anggota keluarga yang menitipkan anaknya

bekerja di pabrik, namun ternyata hasil

pekerjaannya atau disiplinnya tidak memuaskan.

Hal ini kerap menjadi dilema untuk Popon.

“Akan jadi omongan orang di kampung jika kita

sukses tapi saudara kita miskin. Tapi saya juga

enggak mau disangka tidak adil oleh anak-anak

lain. Sama saudaranya ngebela, tapi yang lain

tidak,” tutur Popon yang mengaku sudah pernah

mengeluarkan 4 orang karyawan yang berasal

dari keluarganya.

MENGATUR SISTEM PRODUKSI

Seperti usaha-usaha kecil yang tumbuh dari

bawah lainnya, Popon saat ini juga belum

menggunakan jasa profesional dalam

mengembangkan usahanya. Popon masih melakukan

pencatatan keuangan, perekrutan, dan

pemasarannya sendiri. Namun untuk urusan

rekrutmen karyawan, ia hanya mengandalkan

calon yang dibawa oleh karyawannya sendiri,

sehingga kesetiaan dan kejujurannya lebih

terjamin. Meskipun demikian, setiap calon

tetap harus diwawancara dan dites

kemampuannya langsung oleh Popon sendiri.

Pembagian tugas dan disiplin pun diterapkan.

Selain berdasarkan pengalaman, Popon juga

menerapkan pengetahuan yang ia dapat dari

berbagai pelatihan dan diskusi yang ia lakukan

dengan mahasiswa.

Untuk pencatatan keuangan, ia dibantu

seorang bendahara, demikian pula untuk

penghitungan keperluan produksi. Popon juga

sudah dapat membuat estimasi kemampuan

dan keperluan biaya produksi setiap minggu.

Misalnya, kebutuhan pengeluaran fasilitas

produksi mencapai Rp 20 juta per minggu. Jika

mengirim hasil produksi dengan nilai lebih dari

Rp 20 juta, outlet hanya akan membayar Rp 20

juta. Jika ada kelebihan keuntungan dan outlet

akan dialihkan ke investasi peralatan fasilitas

produksi. Misalnya untuk mengurus perizinan

halal, PIRT, merek, hingga barcode. Biaya-biaya

tersebut memang dibayarkan setiap tahun,

namun oleh Popon sudah disisihkan setiap bulan.

Terkait keuangan, meski belum memakai jasa

akuntan profesional, untuk membangun sistem

dan audit, Popon sudah memisahkan antara

biaya-biaya untuk urusan usaha dengan urusan

pribadinya. Rekening pun dibuat terpisah. Pada

tahun 2010, dia bahkan sudah memisahkan

antara urusan fasilitas produksi dengan outlet,

termasuk aset. Dari pendapatan, setiap minggu

dia menyisihkan Rp 2,5 juta untuk disetorkan ke

bank bjb sebagai pengembalian modal.

Untuk mengantisipasi kekurangan suplai

bahan baku, Popon mengelola banyak supplier.

Jika di antara supplier satu dan lainnya

memberikan harga berbeda, dia mengambil

harga tengah. “Pada periode tertentu memang

beberapa jenis bahan baku agak susah,” ujar

Popon, “Biasanya di bulan Maret-April.”

Untuk menyiasati hal ini, Popon menurunkan

jumlah produksi, meski menjual dengan harga

yang tetap. Untuk mengurangi ongkos produksi,

Popon juga memberikan libur tambahan bagi

karyawannya, yang biasanya hanya sehari dalam

seminggu menjadi dua hari. Bahkan kalau order

sangat sepi, karyawan pabrik diliburkan setiap

dua hari sekali. “Tapi sejak tahun 2010, pemasok

bahan baku jalan terus,” kata Popon. Untuk itu

karyawan bahkan tetap bekerja di hari Minggu

dan Popon memberi libur seminggu sekali

secara bergilir.

Kebijakan mengenai berapa banyak jumlah

produksi awalnya diambil Popon secara intuitif.

Namun seiring waktu ia mulai memberlakukan

pencatatan. Dengan demikian, berapa jumlah

order bulan depan sudah bisa terbaca dari

permintaan yang terjadi pada bulan ini dan

perkiraan produksi tahun lalu pada bulan yang

sama. Jika order sedikit, Popon menghentikan

produksi satu item dan berganti dengan

memproduksi komoditi yang lain.

“Setiap bulan saya mengadakan rapat sehingga

ketahuan data-data produksi dan penjualan

untuk membuat perencanaan produksi

berikutnya. Biasanya setiap tanggal 1 kita

kumpul dan hasil penghitungan kurang lebih

selalu sesuai dengan rencana produksi,” kata

perempuan murah senyum ini.

Untuk pencatatan barang masuk dan keluar,

Popon sudah menggunakan software pencatatan

yang mampu mendata dan menerima laporan

setiap hari dari bagian produksi dan outlet.

Teknologi pencatatan ini didapatkannya berkat

mengikuti diskusi-diskusi dengan banyak pihak.

Meski awalnya Popon mengaku mengalami

kesulitan, banyak dosen dan mahasiswa yang

secara sukarela tidak segan-segan menolongnya.

Penggunaan teknologi bukan hanya diperlukan

untuk pencatatan saja, melainkan

juga untuk menerima pesanan, yang bisa

dilakukan dengan internet. Sementara untuk

urusan promosi—juga dilakukan melalui internet—

allhamdulillah justru dilakukan oleh

mahasiswa-mahasiswa Unpad dan Unpas yang

kerap bekerja sama dengan Popon.

MERANCANG MASA DEPAN

Ke depannya, Popon bermimpi untuk menggunakan

tenaga profesional di bagian produksi

dan pemasaran. Misalnya saja manajer pemasaran

profesional, akuntan profesional, dan

manajer pabrik. Dia ingin mimpinya itu

terwujud pada tahun 2012.

Dia berharap, ke depannya juga bisa

memiliki pabrik yang lebih besar lagi, sehingga

bisa meraup omzet hingga Rp 1 miliar per

bulan. Popon juga ingin menambah berbagai

alat produksi, seperti menambah 5 mesin

vacuum frying, untuk menggenjot jumlah

produksi. Apalagi pasar Singapura sudah

meminta kiriman emping jagung, yang saat

ini masih terkendala dalam menentukan agen

yang bersedia memasaknya di sana. “Soalnya,

kalau dikirim matang dari Majalengka, di

khawatirkan sampai Singapura sudah remuk,”

kata Popon sambil tergelak. Di Jakarta, pusat

retail yang berada di Grand Indonesia pun

sedang memproses masuknya camilan ‘Ibu

Popon’ ke pusat perbelanjaan bergengsi di

Jakarta itu.

Impiannya tak berhenti sampai di situ.

Popon juga ingin agar fasilitas produksi, toko,

dan kantornya terletak dalam satu kawasan

saja. Kantor berada di atas pabrik, sehingga

proses produksi dapat diawasi dari atas. Saat

ini kantornya masih mengambil bagian dari

rumahnya, sementara fasilitas produksi dan toko

berada di tempat lainnya. Dengan menyatukan

lokasi Popon berharap bisa memenuhi berbagai

permintaan yang sudah membanjir. Apalagi,

setiap menjelang bulan puasa dan tahun baru,

permintaan bisa meningkat hingga 3 kali lipat.

Misalnya saja permintaan dari Carrefour.

Awalnya hanya Carrefour Kiaracondong yang

menempatkan produk Popon pada bagian Pojok

Rakyat. Sekarang berlanjut dengan meminta

Popon menyuplai cabang-cabangnya di Jakarta,

Yogyakarta, dan Bali. Padahal untuk menyuplai

ke Carrefour di Bandung saja, Popon sudah

merasa kewalahan dan pernah mengorbankan

permintaan dari yang lainnya. Karena itu, dia

menambah 1 vacuum frying lagi, meski itu pun

dianggapnya masih kurang. Selain Bandung,

Popon juga ingin memusatkan pengirimannya

di Jakarta sehingga biaya pengiriman atau

distribusi bisa seminimal mungkin.

Untuk inovasi komoditas, Popon tidak pernah

berhenti. Setelah jus mangga, dodol pisang dan

tomat, berbagai jenis keripik, sumpia, Popon

berencana membuat sambal oncom dan ulukutek

(leunca khas Sunda) yang dikemas dengan

botol. Eksperimen biasanya dilakukannya pada

bulan-bulan sepi produksi dan order, yakni

antara bulan Maret hingga Mei. Dengan begitu,

eksperimen komoditas baru tidak mengganggu

kegiatan produksi.

“Banyak mimpi saya. Keripik pisang cokelat

juga baru saya tes, tapi belum launching di pasar.

Banyak PR untuk pengembangan. Biasanya dari

saya sendiri, lalu saya akan masukkan ke lab untuk

dites, setelah itu saya baru berani lepas ke pasar,”

ujar Popon.

Dengan kerja kerasnya selama 8 tahun, kini

omzet Popon sudah mencapai Rp 120 juta per

bulan, dengan keuntungan bersih sekitar 15-20

persen. Popon pun cukup senang karena dengan

caranya berkreasi, praktis ia sulit dikejar saingan

di sekitarnya ini. Kegigihannya membangkitkan

usaha kecil di Majalengka, membawa kelompok

Asri Rahayu yang dibinanya mendapat Penghargaan

Ketahanan Pangan Bidang Pengolahan

dan Pemasaran Hasil Pertanian dari Dirjen

Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian

Kementerian Pertanian pada tahun 2009.

Yang paling dibanggakan Popon adalah

penghargaan yang diserahkan langsung oleh

Wakil Presiden Boediono pada bulan Desember

2010 di Istana Negara. Penghargaan Ketahanan

Pangan Tingkat Nasional itu diperoleh Kelompok

Asri Rahayu melalui Kementerian Pertanian

karena kelompok tersebut dianggap sukses

membina ibu-ibu mengolah hasil pertanian.

“Saya senang bisa masuk Istana, meski banyak

aturannya. Misalnya enggak boleh pakai celana

jeans. Seharusnya Presiden yang memberikan,

tapi saat itu beliau sedang berada di Kopenhagen,

jadi diwakilkan,” kenangnya riang. Foto-foto

Popon saat menerima penghargaan dari Wapres

Boediono pun terpajang manis di kios camilannya

di Kelurahan Cijati, Kabupaten Majalengka.

Begitu juga dengan piala dari Dirjen Pengolahan

dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian

Pertanian.

Menurut Popon, mimpinya untuk memberdayakan

masyarakat sekitar, termasuk kaum

ibu, telah terwujud. Popon percaya, kunci

sukses usaha terletak pada kesungguhan,

niat yang tulus di dalam hati, fokus, dan

membangun usaha untuk membantu orang

lain. “Dengan membantu orang lain, insya

Allah urusan kita juga dibantu sama Yang

Kuasa,” ujarnya menutup pembicaraan.

Catatan Rhenald Kasali

SEORANG KREATIF MENEMBUS berbagai belenggu dengan berlari tiada henti.

Ibaratnya ia menari-nari mengikuti tabuhan tifa yang digendang seseorang.

Ia terus menari tiada letih, tetapi lambat laun tariannya mulai tidak

keruan, asal saja. Waktu tak bisa ditahan, umur bergerak ke depan. Ia terus

maju saja, padahal kesegaran sangat dibutuhkan.

Itulah gambaran sebagian besar usaha kecil Indonesia yang matanya baru

terbuka. Ia berlari terus seperti rusa yang dikejar cheetah, bergerak zig-

zag. Ia meraih kemajuan, namun pasar butuh kedalaman. Untuk mendapatkan

kedalaman, seseorang harus berhenti berlari dan mengendapkan pikiran-

pikirannya ke dalam selembar kertas yang bersih, dan menata usahanya pada

segala sisi, mulai dari manusia hingga ke mesin. Dari mesin hingga ke

produksi. Dari produksi hingga ka pasar, dan dari pasar sampai menghasilkan

uang.

Itu pula yang terjadi dengan Popon dan sebagian besar usaha kecil Indonesia

Kalau tidak terlalu aktif, mereka terlalu pasif. Yang satu penuh gairah tak

mau berhenti yang satunya lagi tak punya gairah dan selalu mengeluh.

Memang yang pertama lebih baik karena rezekinya lebih lancar, pintu selalu

terbuka. Tetapi Popon dan kawan-kawannya juga harus bisa naik kelas dengan

berhenti berlari membenahi usaha dan menempatkan usaha dalam desain yang

lebih strategis.

Ia perlu menata perusahaannya, bukan melulu membuat produk. Bila Popon

terus bergerak membuat produk, ia akan keletihan dan pasar dapat menjadi

jenuh. Saatnya sekarang bekerja dengan pikiran dan memakai tangan orang

lain.

Untuk berhentí berlarì, para pelaku usaha kecil dan mikro dapat menempuh

beberapa cara beríkut ini. Pertama, dalamilah manajemen. Setelah berusaha

empat-lima tahun, silakan mengendurkan kreativitas dalam membuat

produk baru, dan arahkan energi pada kreativitas manajemen.

Kedua, jangan takut merekrut orang-orang yang punya pengalaman untuk menata

SDM, keuangan, dan sistem. Ketiga, kurangi waktu dari operasional dan

perbanyak waktu untuk berkomunikasi internal.

Dengan berkomunikasi secara intens ke dalam, Anda dapat memperkuat tim

bisnis Anda sehingga perusahaan tidak terlalu tergantung pada cara

berpikir satu orang. Manajemen yang solid akan sangat membantu kemajuan

usaha Anda, dan mereka akan sangat membantu memajukan usaha Anda.

Maka bangunlah tim yang kuat. Tim yang kuat akan menjadikan Anda lebih dari

sekadar pengusaha kecil, melainkan menjadí wìrausaha yang inovalíf dan

kreatif.

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Eddy Permadi, Resign Sebagai Dosen, Kini Sukses Lewat Usaha Turbin Mikrohidro yang Sudah Menembus Luar Negeri

Eddy Permadi, Energi yang Menciptakan Kemandirian Ekonomi

Melepaskan pekerjaan tetap sebagai

dosen bukan berarti duduk berpangku

tangan. Dengan modal sendiri, mesin

turbin mikrohidronya tak hanya

menghasilkan energi, tetapi juga

berbagai minuman serbuk, seperti

bandrek. Perpaduan yang aneh

memang, tetapi inilah UMKM dengan

segmen keunikannya.

 

ADALAH Eddy Permadi, pemilik Cihanjuang

 

Inti Teknik, yang pertama kali menelurkan

 

ide menciptakan turbin embangkit listrik

 

mikrohidro di daerahnya.

Bapak tiga anak yang pernah belajar di Swiss

selama 3 tahun dan Jerman selama setahun

ini memang mendapat banyak pengalaman dari

 

periode singkat pembelajarannya di Eropa.

Menurut Eddy, kemajuan orang-orang Eropa dimulai

 

dari revolusi industri, yang berarti memberikan

 

nilai tambah pada sesuatu yang bernilai rendah.

Revo1usi industri dimulai dari revolusi

energi, dari mulai adanya kincir air untuk

menumbuk gandum, lalu ditemukannya tenaga

uap. Dengan demikian transportasi menjadi

bagus, jarak juga menjadi lebih dekat. Bahkan

di Zurich, Swiss terdapat laboratorium energi

yang memperlihatkan turbin, mulai dari

 

pembangkit yang paling sederhana dari kayu

 

sampai yang paling modern,” urainya panjang lebar.

 

Dari pengamatan inilah Eddy kemudian

menyimpulkan bahwa kalau ingin meningkatkan

 

ekonomi rakyat, jelas harus dimulai dari

 

energi. Pada titik itulah ia memutuskan untuk

mengeksplorasi dunia energi.

Eddy lantas mulai membuat proyek-proyek

percontohan, mulai dari turbin sederhana hingga

 

yang relatif modern. Hingga saat ini sudah

ada 7 turbin percontohan yang setiap tahunnya

ramai dikunjungi orang. “Tahun kemarin ada lebih

 

dari 5.000 orang yang berkunjung dan tahun

ini juga sudah mencapai angka 6.000 orang lebih

 

dan beberapa menteri juga sudah datang ke

tempat kami,” paparnya. Bahkan, turbin buatannya

 

sudah dipesan oleh pengusaha-pengusaha

dari negara lain. Tak kurang dari pemerintah

Malaysia dan Swiss kini mengoperasikan

 

pembangkit listrik buatannya.

MEMANFAATKAN AIR

“Meskipun debitnya tidak tetap, tapi kita punya

banyak air sungai untuk dimanfaatkan,” ujar pria

ramah senyum ini. Kelebihan turbin ciptaannya

adalah bisa disesuaikan dengan ketinggian

jeram berapa pun. Jadi, tidak perlu jeram yang

tinggi untuk menghasllkan listrik. Jeram pendek

pun tetap bisa membangkitkan listrik. Karena

 

fleksibilitas ini, sudah banyak

daerah yang memanfaatkan turbin mikrohidronya.

 

“Bahkan, masyarakat yang hanya bisa merasakan

 

8 bulan mendapat listrik pun sudah sangat

senang, karena mereka tidak perlu berada dalam

 

gelap sepanjang tahun,” kelakarnya

ketika diwawancara sebuah stasiun televisi.

Mikrohidro adalah pembangkit listrik tenaga air.

Berdasarkan besarnya daya yang dihasilkan, terdapat

 

beberapa jenis turbin. Pikohidro adalah pembangkit

 

yang menghasilkan kurang dari 3.000 watt listrik,

 

mikrohidro menghasilkan daya antara

3.000 watt sampai 1 megawatt,

sementara minihidro menghasilkan 1 hingga 3 megawatt.

Eddy memulai usahanya dengan modal uang tunai Rp 25

juta dan keahliannya di bidang teknik. “Saya membuat

 

banyak turbin,” ujar Eddy, “Lebih dari

300 lokasi sudah kita pasang di seluruh Indonesia.”

 

Eddy pun berhasil menyediakan lapangan

pekerjaan dan menampung ratusan tenaga kerja tidak langsung.

Lulusan PMS ITB (Polman) ini memang tidak tanggung

tanggung dalam menerapkan pengetahuannya bagi kepentingan

orang banyak. Yang ada dalam pikirannya adalah memberikan

solusi bagi sebuah permasalahan, “Dan, bagaimana memberi tahu

orang bahwa mikrohidro adalah solusi bagi masalah mereka,”

ujarnya.

Untuk itu ia membuat turbin percontohan bersama pemerintah

 

daerah dan dibuka bagi masyarakat umum, salah satunya

 

di Leuwikiara. Di sana terdapat masyarakat yang perlu

menempuh waktu sekitar 6-7 jam perjalanan ke Tasikmalaya

untuk bekerja sebagai buruh bordir. Setelah dipasang pembangkit

mikrohidro ditambah bantuan mesin bordir, di daerah kecil

 

itu kini menjamur industri bordir. “Dan yang

terjadi kemudian, bandar-bandar dari kota

berdatangan ke sana membawa bahan dan

benang sehingga kampung itu menjadi hidup.

Berhasil di Leuwikiara, hingga mendapatkan

Asean Energy Award, kini metode ini mulai

diaplikasikan ke daerah-daerah lainnya. Seperti

di Papua, listrik digunakan untuk pengolahan

umbi-umbian, kue, dan sebagainya,” urainya

bangga.

 

Apakah produknya akan menyaingi PLN?

“PLN sebenarnya masih sangat kekurangan

daya. Bahkan ada Keputusan Menteri Energi dan

Sumber Daya Mineral yang menyatakan bahwa

PLN wajib membeli listrik dari mikrohidro.

Kalau ada dana, tempat, dan air, kita bisa

bangun pembangkit lalu kita jual ke PLN dan itu

wajib dibeli,” jelasnya.

Saat ini Eddy sudah menyiapkan produksi

turbin untuk menghasilkan daya 100 watt hingga

 

500 kilowatt. Menurut Eddy, ia membutuhkan

investasi yang cukup besar. Untuk itu, Eddy

bermitra dengan bank bjb dan mendapatkan

pinjaman sebesar Rp 450 juta tahun 2005.

Saat itu modal dari bank bjb digunakan untuk

membeli tanah tempat pabriknya sekarang

berdiri. Lantas, tahun 2010 pinjamannya

meningkat menjadi Rp 1,1 miliar dan Rp 1,8

miliar di tahun 2011.

Selain untuk memproduksi mesin, yang

perlu dipikirkan adalah tempat. Pabrik yang

sekarang menempati tanah seluas 700 meter

persegi sudah tidak memadai lagi. “Saya sedang

mencari tempat baru. Sudah melihat beberapa

tempat, tapi belum ada yang sesuai,” ujarnya

menerawang.

KAMPUNG BANDREK HANJUANG

Idealnya, perluasan dilakukan tidak jauh dari

lokasi pabrik yang sekarang. Dengan demikian

biaya operasional menjadi lebih murah dan

 

pengendalian pun lebih mudah. Tapi, tentu saja

 

tidak mudah, karena kawasan itu sudah dipadati

perumahan. Kalaupun tidak mendapatkannya di

 

situ, Eddy berencana menempatkan pabrik

 

bandreknya tetap di sini, sementara pembuatan

 

turbin akan menempati lahan yang baru. “Soalnya

bandrek sudah menjadi brand kawasan ini,”

Ujarnya mantap.

Ya, bandrek juga merupakan produk buatan

Eddy. “Idenya muncul dari kondisi masyarakat

ketika mendapatkan listrik. Mereka justru

menginginkan kehidupan seperti di kota. Ada

televisi, radio, dan sebagainya,” jelas Eddy,

“Kalau hal ini saya teruskan, saya akan berdosa

 

karena membuat perekonomian mereka

menurun karena terbuangnya waktu untuk

kegiatan yang tidak produktif.” Tentu, Eddy

tidak menyalahkan turbin mikrohidro karyanya

sendiri. Justru ia mencari solusinya, dengan

memanfaatkan energi tersebut.

Awalnya, Eddy ingin membuat bandrek.

Tetapi ternyata sudah ada banyak jenis

bandrek di pasar. “Dai situlah timbul ide

menggabungkan kopi dengan bandrek yang

belum ada di pasaran.” Pada tahun 2001, ia

membuat proyek percontohan teknologi tepat

guna dengan membuat pengolahan jahe dan gula

 

aren menjadi minuman serbuk khas Jawa Barat.

Ia hanya ingin membuat hal-hal yang bernilai

ekonomi rendah memiliki nilai tambah setelah

diolah. Dengan membuat serbuk bandrek, Eddy

merasa ikut mendidik dan menciptakan lapangan

 

kerja di sini.

Periode sulit terjadi di tahun-tahun pertama.

Meski sudah menawarkan ke berbagai toko dan

warung, produk kopi bandreknya tetap saja

tidak diterima. “Saya menawarkan sendiri ke

warung karena menurut saya bandrek adalah

produk yang sederhana,” jelas Eddy. Tetapi,

dengan penolakan itu Eddy justru belajar bahwa

kemungkinan segmen pasarnya tidak tepat.

Langkah pertama yang dilakukan adalah

mengubah kemasan, dengan memberi lukisan.

“Kami mengundang pelukis dan menyampaikan

ide-ide untuk gambar kemasan ini,” kenang

Eddy yang ingin menonjolkan kesan tradisional.

Dipilihlah sosok Kabayan yang mewakili daerah

Jawa Barat.

 

Eddy mengirim produknya masuk ke toko

oleh-oleh di tepi jalan tol Cipularang, bertepatan

dengan dibukanya jalan tol tersebut. Segera

saja kopi bandrek ini laris-manis. Meski banyak

yang menyukai rasanya, namun ada juga yang

mengeluh karena tidak kuat dengan kandungan

kopinya. “Mereka minta kopi-bandrek, tetapi

jangan pakai kopi,” ujar Eddy sambil tergelak,

“Itu jadinya bandrek biasa seperti ide awal saya.”

Tapi, karena tidak ingin menolak permintaan

pasar, Eddy pun akhirnya membuat bandrek.

Sejak itu, Eddy serius menekuni bisnisnya.

Produk berikut yang dibuatnya adalah bajigur.

“Bajigur sebenarnya telah sangat dikenal di Jawa

Barat dan kami hanya merupakan salah satu

penggagas bajigur dalam kemasan siap seduh,”

paparnya. Memang belum pernah ada produk

minuman bajigur dalam kemasan. Bajigur ini

pun mendapat respons yang baik. Eddy lalu

mengembangkan rasa lainnya, termasuk kopi

bajigur, sekoteng, cokelat bandrek, teh bandrek,

 

hingga beas cikur (minuman sejenis beras kencur).

Kemasannya pun dibuat berbeda. Produk dengan

kemasan bergambar Kabayan dalam bungkus cokelat

konsepnya adalah oleh-oleh.

“Bandung kan kota belanja, jadi kemasan seperti

 

ini adanya di factory outlet dan tempat oleh-

oleh,” paparnya. Menurut Eddy, orang kota menyukai

 

kemasan untuk buah tangan, sementara

di kota-kota kecil, kemasan seperti ini tidak diminati.

Produk serupa juga dibuat daam kemasan sachet

 

rencengan, meskipun bergambar Kabayan, menyasar

 

konsumen yang berbeda. “Harganya relatif lebih murah

 

dan terjangkau, produk seperti ini bisa

dipasarkan di daerah seperti Tasik, Garut, sampai ke

 

pesisir pantai utara,” jelasnya.

Sedangkan untuk restoran, Eddy hanya menyiapkan

 

produk dalam kemasan plastik

 

transparan karena mereka tidak membutuhkan kemasan luarnya.

“Kami mengikuti kemauan pasar saja,” ujarnya ringan.

Kini produk bandreknya sudah dapat ditemukan di Alfamart,

Indomart, Griya, 7/11, Borma, dan Circle K. Sementara kemasan

klasik untuk buah tangan, selain dapat dijumpai di gerai factory

outlet, juga tersedia di Carrefour dan Gazebo di Bandung.

Untuk bahan baku, Eddy mengambil dari beberapa tempat.

Jahe, misalnya, bisa diambil dari Jawa Barat dan Lampung. Tetapi,

Eddy lebih suka jahe Lampung karena untuk menghasilkan 1 kg

jahe kering hanya membutuhkan 9 kg jahe basah, sementara dari

Jawa Barat diperlukan 12 kg.

Untuk gula aren, Eddy bekerjasama dengan masyarakat

 

di Gunung Halimun. “Ini betul-betul kelas

perajin. Mereka harus memilih nira yang bagus,

membuatnya jadi gula tepung, dikumpulkan,

kemudian dibawa ke sini,” urai Eddy. Di sini, gula

tepung itu disortir lagi dan dikeringkan, baru

diproses menjadi minuman serbuk. Sementara

bahan baku kopi diambil dari masyarakat sekitar saja.

MENJUAL SOLUSI

Kini, keyakinannya terbukti sudah. “Sekarang

bandrek merupakan solusi untuk menikmati

rempah-rempah. Kalau orang ingin membuat

bandrek tidak perlu membeli bahan-bahannya

dulu. Tinggal menggunting kemasan, praktis.

Solusi inilah yang menarik,” papar Eddy. Pasar

minuman serbuknya pun meluas, bahkan telah

dinikmati konsumen di Aceh, Nusa Tenggara,

dan Papua.

Di luar negeri, produk bandreknya telah

menjelajah Qatar. Ada pula yang membeli secara

 

borongan untuk dijual di luar negeri.

“Sebetulnya kami sudah menjajaki ke Australia

dan Amerika,” ujar Eddy, “Sudah sampai di

sana, tetapi tidak formal.” Eddy juga pernah

menjajal pasar di Malaysia, tetapi ternyata

penduduk negeri jiran itu tidak terlalu menyukai

rasa manisnya. “Kadang suka agak repot juga

 

dengan permintaan mereka, sehingga kita harus

menggunakan trik, kami sarankan untuk memperbanyak

 

airnya.” Produk terbarunya diberi nama Arjuna. “Ini

adalah produk khusus vitalitas untuk orang

dewasa,” ujarnya penuh arti. Menurut Eddy, produk

 

ini yang sekarang sedang booming. Selain

minuman serbuk, Eddy juga memproduksi

permen dengan varian rasa yang sama dengan

minuman serbuk. Angan-angannya, lima tahun

lagi daerah sekitarnya akan menjadi Kampung

Bandrek. Keuntungannya lumayan untuk memperkuat modal.

Seperti turbin, sebagian besar mesin yang

digunakan dalam produksi minuman serbuk

ini adalah buatannya sendiri. Dengan membuat

 

sendiri, ia bisa mendapatkan mesin yang

sesuai dengan keinginannya. “Kita juga tahu

kinerjanya. Kalau membeli produk yang sudah

jadi, belum tentu cocok dengan keinginan,”

paparnya. Selain itu, lebih murah produksi

 

maupun perawatan, karena mereka telah menguasai

seluk beluk mesinnya.

MEMBINA KARYAWAN DAN PERAJIN

Selain menguntungkan, tujuan kemandirian

sudah tercapai. Ia menggerakkan masyarakat

yang tinggal di sekitar untuk bekerja di pabriknya.

 

Dari awal yang sangat sederhana, Eddy kini berhasil

menciptakan lapangan kerja untuk tenaga kerja langsung

dan tidak langsung berupa kelompok kerja (pokja).

 

Pokja yang berada di sekitar pabrik bertugas untuk

 

mempersiapkan kemasan, sementara tenaga kerja

 

langsung yaitu sekitar 80 orang, sebagian besar

 

bekerja di dua bidang sekaligus, yaitu pembuatan

 

turbin dan membuat serbuk minuman bandrek. Kedengarannya

 

aneh memang, tetapi itulah UKM, selalu ada saja caranya,

 

“Jadi kalau lagi ramai pesanan di bandrek mereka

 

diperbantukan di produksi bandrek. Tapi kalau pesanan

 

turbin sedang banyak, mereka pindah mengerjakan turbin.

 

Malah ada pembuat mesin yang jago membungkus bandrek,”

 

urainya. Pembuatan turbin yang 100 persen dananya

 

dari APBD dan ABPN, biasanya ditenderkan

dan baru diterima Eddy sekitar bulan Agustus hingga

September. Ini berarti antara Januari hingga Juli praktis

tidak ada pesanan. Periode itulah yang dimanfaatkan

 

untuk memproduksi bandrek. Setiap tahun produksi

 

minuman serbuk membutuhkan sekitar loo ton jahe yang

 

dibeli pada saat panen raya karena harganya lebih murah.

Jahe tersebut kemudian diolah, disterilisasi, hingga di

keringkan. “Kalau dalam sehari kita bisa mengerjakan 1

ton pengolahan jahe, berarti butuh waktu sekitar 100 hari

atau 3-4 bulan untuk menyelesaikan semuanya,” paparnya,

 

“Pada periode Januari hingga Juli yang kosong ini,

para teknisi yang biasa ngebubut ikut mengolah jahe.”

Eddy mengaku tidak banyak keahlian yang dibutuhkan

 

untuk mengerjakan bandrek dan turbin, kecuali untuk teknisi

mesin turbin. “Yang penting mau kerja saja,” tegas Eddy.

Pekerjaan seperti mencuci dan mengepak tidak membutuhkan

keahlian khusus, sehingga para ahli mesin pun bisa

 

mengerjakannya. Cara seperti inilah yang membuat mereka

fleksibel dan bisa tetap eksis.

Selain itu, perusahaannya memiliki enam kelompok

kerja yang tersebar di rumah rumah warga. Satu pokja

 

beranggotakan sekitar 10 orang.

Mereka bertugas mengemas minuman serbuk. Setiap seribu

bungkus—yang biasanya di kerjakan dalam waktu 2 jam—

para pekerja mendapat upah Rp 16 ribu. Saking terampilnya,

membuat lipatan bungkus sampai mengelem hanya

perlu waktu 6 detik dengan hasil yang rapi jali. Dan,

setelah melewati pemeriksaan kualitas, minuman serbuk pun

siap dipasarkan.

 

Menurut Eddy, yang perlu diperbanyak adalah pokja, bukan

karyawan. “Soalnya pekerjaan ini bisa dibawa pulang,” jelasnya.

Selain itu, setiap tahunnya Eddy memilih beberapa orang

karyawan yang berprestasi untuk disekolahkan dengan biaya

dari perusahaan bekerja sama dengan Universitas Ahmad Yani.

“Karena jaraknya cukup dekat, kami juga bekerja sama untuk

program pelatihan dan praktik,” ujarnya.

Hampir setiap minggu selalu ada mahasiswa dari berbagai

perguruan tinggi yang mengadakan penelitian di tempatnya.

“Ada yang meneliti efisiensi produk, proses produksi, seni

merek, keuangan, pemasaran, dan sebagainya,” papar salah

satu stafnya. Eddy mendapat laporan dari setiap penelitian yang

dilakukan. Ia pun menyediakan tempat menginap selama mereka

melakukan penelitian.

 

MANAJEMEN PROMOSI

Kini, baik turbin maupun bandrek sama-sama

bersaing untuk menjadi lebih maju. “Sekarang

ini setiap tahun kita meluncurkan produk baru

yang memberikan peluang dan segmen yang

berbeda karena setiap daerah memiliki potensi

yang berbeda,” ujar Eddy. Beberapa daerah

membutuhkan jenis turbin besar, yang lain

hanya membutuhkan turbin kecil. Keunikan

produk yang menjadi kebutuhan masyarakat

inilah yang terus dikembangkan Eddy.

Eddy tetap mengandalkan promosi dari mulut

ke mulut karena untuk produk seperti ini orang

akan lebih percaya kalau mendengar langsung

dari orang lain tentang kebaikan suatu produk,

dibandingkan jika mendapatkannya dari iklan.

Menurut Eddy, “Bobot kepercayaannya akan

berbeda. Bobot yang paling kuat adalah cerita

dari teman ke teman.”

Prinsipnya adalah membuat semakin banyak

 

orang mengetahui produknya. Caranya,

dengan mengajak mereka mendatangi proyek

percontohannya. “Bayangkan kalau saya harus

ke daerah-daerah untuk berpromosi,” ujarnya,

 

“Biayanya akan jauh lebih besar. “Proyek

 

percontohan ini lambat laun menjadi objek wisata

teknologi. Mereka yang datang disuguhi minuman

bandrek. Dengan demikian, setiap orang pulang

dengan membawa cerita dan oleh-oleh. Cerita

orang-orang tersebutlah yang membesarkan

usaha turbin dan bandrek Hanjuang.

Promosi internet tetap dilakukan sebagai

pelengkap. “Kuncinya adalah ketika suatu produk

 

menjadi solusi, pasti laku,” ujarnya mantap,

“Sebaliknya, walaupun produk bagus, kalau

tidak bisa menjadi solusi, tidak laku.”

Eddy kini merasa bahwa bisnis turbin dan

bandreknya sudah tinggal menjalankan saja.

“Cash flow-nya sudah benar-benar mandiri,

bahkan bisa menyerap tenaga kerja,” urainya.

Lalu, ia pun mencari ‘mainan baru’. Melihat

kondisi air yang cukup baik di sekitar tempat

tinggalnya, ia pun berencana membangun

sentra ikan koi. Saat ini ia mulai membiakkan

ikan-ikan itu di tanahnya yang luas. “Apa pun

keadaannya saya selalu menikmati prosesnya,

termasuk kesulitan dan hambatannya juga saya

nikmati,” ujarnya.

 

Catatan Rhenald Kasali

KALI INI ANDA membaca sebuah proses membangun usaha berbasis teknologi

 

sederhana yang dimulai dari kesenangan. Seorang yang senang akan terus

 

bekerja, seperti seorang seniman yang keasyikan. Namun seperti

kebanyakan “seniman” bisnis lainnya, mereka mudah tergoda dalam

 

kesenangan-kesenangan yang sering kali kurang memikirkan kesatuan konsep

 

dalam bisnis Bahwa bisnis harus ditata dikelola secara sophisticated dengan

ahlì-ahli di luar produksi. Namun demikian, para seniman usaha ini selalu

 

menyatakan, “Kalau saya suka, sudah menguntungkan, den membuat saya happy,•

 

apa salahnya?”

Seniman-seniman UMKM seperti ini biasanya menggunakan survival instinct

 

naluri untuk bartahan atau beradaptasi. Mareka bukanlah expansionist

 

seperti pengusaha-pengusaha Barat atau pengusaha-pengusaha dari

Asia Timur (Cina, Taiwan, Korea, bahkan India). Mereka mudah puas kalau

 

cash flow-nya aman dan produknya selalu ada pesanan. Apalagi bila mereka

 

bisa secara langsung melihat dampaknya pada lapangan pekerjaan.

Eddy memulai usaha dari skll yang ia miliki dan ia melihat masalah energi

 

begitu luas di negeri ini. Ia pun mengisinya dengan membuat turbin, Tetapi

 

apa hubungan dengan bandrek? Ya tidak ada! Kalau Anda pakai strategi bisnis

 

dan Anda tidak romantis, maka Anda memilih usaha lain yang membantu usaha

 

utama Anda untuk tumbuh menjadì industri. Eddy memilih bandrek. Dugaan saya

 

ini pasti karena ia suka bandrek. Ia juga senang melihat orang

 

kumpul bekerja. Dan, ternyata bisa juga dihubung-hubungkan, karena Eddy

 

adalah seniman sekaligus tahu cara membuat mesinnya.

Orang-orangnya ternyata bisa juga dipekerjakan di sana. Walaupun nilai

 

ekonominya berbeda, sebagai survival instinct bolehlah. Toh, pada setiap 6

 

bulan pertama, pesanan turbin tidak besar. Mereka butuh pekerjaan. Namun

kalau UMKM ingin maju, mereka harus berefleksi dan berhenti berkreasi

 

barang sejenak. Berhentilah berlari-lari yang meletihkan barang sesaat,

 

lalu tuangkan mimpi-mimpi Anda dalam rencana bisnis yang terpadu. Dari situ

Anda akan bisa melihat labih bijak, ke mana Anda akan membawa usaha ini di

 

kemudian hari. Bukanlah waktu berjalan terus dan suatu saat Anda tak bisa

 

mencari makan dengan tangan sendiri?

Di masa depan Anda perlu mencari makan melalui tangan orang-orang lain, dan

 

produk Anda bisa berevolusi menemukan pintunya dengan pikiran-pikiran

 

dan tangan-tangan orang lain.

 

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012