Category Archives: Perniagaan

Hadi Kuntoro, Juragan Selimut yang Sukses Berkat Tempaan Jatuh Bangun Berbisnis

Gaya berbisnis wirausahawan yang satu ini bisa

dibilang cukup unik. Hanya dengan modal bercerita,

 

Hadi Kuntoro bisa menjual ribuan selimut

dalam waktu sebulan. Bercerita atau sharing

memang telah menjadi kegemarannya sejak dulu.

Apalagi kalau ngobrol soal bisnis, berbagai ide yang

keluar seakan tidak pernah ada habisnya.

Gayanya dalam bercerita pun bisa dibilang

cukup unik. Lugas, tangkas, to the point, dan

diungkapkan dengan logat Jawa yang masih kental.

Apalagi kalau bertemu partner ngobrol yang cocok,

 

dia sanggup bercerita hingga berjam-jam. Tentu

saja diselangi dengan humor-humor yang bisa menyegarkan suasana.

Rupanya, pengalaman jatuh bangun dalam

berbisnis yang sering dialaminya telah memberikan

lautan hikmah kehidupan yang sedemikian dalam.

Hal itu tampak terbaca dengan jelas dari cara dia

bercerita dan bertutur kata.

Ide awal berbisnis selimut, sebenarnya sangat

sederhana. Bisnis ini bermula dari perkenalannya

dengan salah seorang pria berkewarganegaraan

Jepang yang memiliki sebuah perusahaan selimut di

Indonesia. Produk selimut dari perusahaan orang

Jepang tersebut telah diekspor ke berbagai negara.

Yang mengherankan, walaupun pabriknya ada di

Indonesia, tetapi ternyata pemasarannya justru

difokuskan hanya untuk pasar mancanegara, bukan

pasar domestik. Hal inilah yang menginspirasi Hadi

untuk mengambil peluang pemasaran dengan

menggarap pasar dalam negeri yang masih sangat terbuka.

Perbincangannya dengan pemilik perusahaan

Jepang, Hadi baru tahu kalau ternyata izin

pemasaran produk selimutnya memang bukan untuk

Indonesia, melainkan khusus pasar ekspor sehingga

dia tidak berani memasarkannya di Indonesia

sendiri. Kebanyakan selimut yang diproduksinya

juga merupakan pesanan dari beberapa pemilik

merek terkenal, dan hanya untuk melayani pasar di luar negeri.

Bukan Hadi namanya kalau menyerah begitu saja.

 

Dia mulai mencari cara agar bisa memasarkan

selimut tersebut di dalam negeri, walaupun

jumlahnya mungkin belum bisa banyak. Akhirnya,

berkat cerita dari orang Jepang tersebut, Hadi

mendapatkan sebuah ide cemerlang untuk

memanfaatkan sebuah peluang yang lebih dahsyat.

Sebagaimana perusahaan besar lainnya, dalam

setiap produksi biasanya selalu ada spare atau

kelebihan produksi untuk setiap model yang dibikin.

Demikian juga dengan perusahaan Jepang ini.

Perusahaan ini selalu membuat sedikit lebih banyak

dari pesanan pembeli yang ada di luar negeri.

Kelebihan produksi tersebut dimaksudkan untuk

mengantisipasi seandainya ada produk yang rusak

sehingga pengiriman tidak terganggu.

Berhubung selimut tersebut merupakan produk

yang khusus untuk dijual di luar negeri, kelebihan

produksinya tidak bisa dipasarkan di dalam negeri

dan harus dimusnahkan. Setiap bulan perusahaan

Jepang tersebut selalu melakukan pemusnahan atas

kelebihan produksinya. Peluang inilah yang segera

dicium Hadi. Dia pun langsung berusaha meyakinkan

dan melobi pemilik perusahaan agar memberinya hak

untuk membeli kelebihan produk yang biasa dimusnahkan.

Awalnya orang Jepang keberatan. Ia tidak berani

 

mengambil langkah yang menurutnya cukup

berisiko. Namun berkat kegigihannya, akhirnya

permintaan Hadi disetujui. Tentu saja dengan satu

syarat, dia tidak boleh menjualnya di mal atau

department store. Hadi hanya dibolehkan menjual

 

selimut kelebihan produksi tersebut ke para

tetangga atau komunitasnya saja. Supplynya juga

tidak bisa dipastikan karena mengikuti kondisi

proses produksi yang ada di perusahaan. Syarat

tersebut langsung disanggupinya dengan sukacita.

Berbekal beberapa buah selimut sebagai contoh,

 

Hadi pun mulai “bergerilya”. Dalam setiap

kesempatan, dia selalu bercerita tentang mainan

barunya tersebut. Di antara temannya, ada yang

menyambutnya dengan antusias. Namun, tidak

sedikit pula yang menyambutnya dengan dingin

alias cuek saja. Mungkin mereka menganggap bisnis

di bidang ini tidak mempunyai prospek yang jelas.

Seiring bergulirnya waktu, berkat pola komunikasi

 

yang dijalankan Hadi secara konsisten,

selimutnya mulai dikenal banyak orang. Komunikasi

pemasaran yang dilakukan dari mulut ke mulut,

tampaknya sedikit demi sedikit mulai berbuah.

Banyak teman-teman yang bertandang ke

rumahnya, dan akhirnya ikut bergabung sebagai

reseller setelah mendengar berbagai cerita dahsyat

darinya. Bahkan, tidak sedikit reseller baru yang

mengambil produknya dalam jumlah yang cukup

banyak. Padahal, Hadi tidak pernah merayu mereka.

Dia hanya bercerita tentang sebuah peluang besar

yang bisa diraih dengan bergabung dalam bisnis

selimutnya. Tentu saja cerita yang disampaikan

juga bukan isapan jempol belaka. Cerita yang

disampaikannya selatu sesuai fakta dan bisa

dibuktikan di lapangan. Berkat gaya berceritanya

yang memang sangat menarik, banyak

 

teman-teman Hadi yang semula masih ragu dan

takut untuk terjun dalam dunia bisnis menjadi berani

untuk mencoba.

Sejak awal saya memang ingin menjadikan

komoditas ini sebagai pancingan buat teman-teman

saya untuk ikut terjun berbisnis, ujar Hadi

menjelaskan salah satu motivasinya.

Dalam hal pengambilan keputusan, Hadi juga

selalu berusaha untuk kreatif. Misalnya saja saat

film Spiderman 3 melanda penggemarnya di

Indonesia. Dia menyempatkan din untuk menonton

film tersebut di Pondok Indah Mall 21. Dia ingin

melihat dan memperkirakan secara langsung,

dampak film tersebut terhadap merchandise selimut

Spiderman yang dijualnya.

Dan antusiasme masyarakat yang dilihatnya

secara langsung, Hadi bisa memastikan bahwa

selimut Spiderman yang dijualnya pasti akan laris

manis. Begitu saya dengar anak-anak menangis

ketika Spiderman terlihat terdesak oleh Sandman

dan ketika seorang ABG di samping saya berteriak

histeris tidak terima ketika Luci, si foto model yang

cantik manja ke Spiderman layaknya kekasih,

dengan mantap saya akan berani order selimut

Spiderman ini 2000 Iembar, ungkapnya.

Prediksi Hadi ternyata memang tepat. Sepulang

dari nonton, dia mendapat informasi dari istrinya

kalau order selimut Spiderman meningkat tajam.

Fenomena ini juga dikonfirmasi lagi oleh beberapa

agennya. Penjualan selimut Spiderman yang

sebelumnya sempat mandek, tiba-tiba melonjak

 

lagi. Ternyata dampak kesuksesan sebuah film

sangat besar terhadap penjualan merchandise yang

berhubungan dengannya. Proses pengambilan

keputusan yang didahului dengan melihat apa yang

menjadi tren di masyarakat hanyalah salah satu

cara yang dipakai oleh Hadi.

Strategi bisnis yang awalnya hanya bermodalkan

 

cerita ini, kini mulai digarap dengan lebih

profesional. Hadi pun memanfaatkan teknologi

Internet dengan membuat blog untuk menjangkau

pasar yang lebih luas. Langkah ini berani

dilakukannya setelah dia mendapatkan hak khusus

dari pemilik perusahaan selimut tersebut untuk

memasarkannya di dalam negeri.

Hal ini dilakukan karena orang Jepang telah

mendapatkan izin untuk memasarkan produknya di

dalam negeri, setelah melihat prestasi penjualan

domestik yang terus meningkat. Hadi juga tidak lagi

mendapatkan supply barang kelebihan produksi. Dia

kini bisa meminta kuota dan membuat Purchase

Order sendiri. Jika dulu dia hanya bisa memasarkan

selimut dengan merek Bibie, kini merek dan model

yang dipasarkannya sudah mencapai puluhan item.

Bahkan, semua model yang diproduksi oleh

perusahaan tersebut bisa dipesannya.

Dengan strategi yang lebih profesional tersebut,

 

omzet penjualan selimut Hadi meningkat

cukup signifikan. Peningkatannya juga tidak lagi

bersifat linear, tetapi eksponensial. Reseller yang

bergabung pun kini bukan lagi hanya

teman-temannya, melainkan juga orang-orang yang

 

selama ini belum dikenalnya sama sekali.

Berkat bisnis ini, Hadi banyak sekali mendapatkan

 

kenalan baru yang ikut bergabung memasarkan

selimutnya. Sungguh percepatan ini tidak dia duga

sebelumnya. Jika awalnya dia hanya mampu menjual

puluhan selimut dalam waktu sebulan, kini

penjualannya bisa mencapai ribuan potong per

bulan. Kalau harga satu selimut rata-rata seratus

ribu rupiah, sudah bisa dihitung berapa omzet yang

berhasil diraihnya.

Rumah Hadi yang ada di Taman Harapan Baru

Bekasi, saat ini setiap hari selalu ramai dikunjungi

orang dari berbagai penjuru Jabodetabek, bahkan

dari luar kota, yang datang baik untuk belanja

selimut ataupun sekadar untuk belajar bisnis kepadanya.

Keputusan Hadi untuk bermain grosir juga

merupakan keputusan yang tepat. Sejak awal dia

memang lebih membidik orang-orang yang berniat

untuk ikut berbisnis selimut. Dia sengaja tidak

mengambil keuntungan terlalu besar dari setiap

item produk. Hal ini agar agen atau reseller yang

menjadi mitranya lebih bebas bermain dan bisa

menikmati keuntungan yang menarik. Sementara

Hadi lebih suka mengandalkan volume penjualan

yang lebih banyak. Lagi pula, bisnis ini dia

maksudkan sebagai wahana untuk memancing

mereka yang selama ini ragu-ragu atau takut

menerjuni dunia bisnis.

Berkat bimbingan yang diberikannya, banyak

pendatang baru dalam dunia bisnis berhasil

 

memasarkan produknya. Apalagi Hadi memberikan

sensational offer, berupa jaminan uang kembali jika

selimut yang telah dibeli hendak dikembalikan

karena tidak laku.

Bahkan untuk pebisnis pemula, dia berani membeli

 

dengan harga lebih tinggi dari harga dasarnya

dulu, agar mereka tetap menikmati keuntungan. Hal

ini dilakukannya semata-mata untuk mendobrak

mental mereka yang masih takut dalam mengambil risiko bisnis.

Selain karena kepiawaiannya dalam bercerita,

keberhasilan Hadi dalam membangun bisnis selimut

ini, juga didukung oleh beberapa faktor. Diantaranya:

1. Kualitas barang yang dijual adalah kualitas

standar internasional, karena memang dibuat

untuk ekspor ke mancanegara;

2. Harganya relatif murah dibanding dengan

selimut sejenis di pasaran;

3. Cara menjualnya cukup mudah, karena strategi

pemasaran dan pengetahuan produk diajarkannya dengan teperinci;

4. Khusus bagi pebisnis pemula, yang baru

mencoba dari tidak atau belum berhasil

menjual, maka Hadi bersedia membeli

barangnya kembali dengan harga yang lebih

tinggi sebagai penghargaan atas kemauan mereka untuk mencoba.

“Jadi tidak ada alasan yang perlu ditakutkan

karena ini saya niatkan untuk proses pembelajaran

buat teman-teman saya,” ungkap pria kelahiran 1972 ini.

Dengan strategi tersebut, banyak pebisnis

pemula yang sukses menjual produknya. Banyak di

antara mereka yang berhasil meruntuhkan mental

block yang selama ini menghalangi kepercayaan diri

mereka untuk terjun berbisnis. Sarana pembelajaran

bisnis yang diciptakan Hadi ternyata benar-benar

bermanfaat untuk melahirkan wirausahawan baru.

Harapan Hadi, kalau customernya bisa menjual

 

kembali selimutnya dengan sukses, maka hal itu

akan memunculkan perasaan aku bisa pada diri

mereka. Selanjutnya mereka akan menjadi

pemberani dan putus urat malunya. Kelak dengan

media bisnis apa pun juga, mereka akan sama

beraninya, tegas Hadi.

Kini selimut jepangnya telah dikenal. Modelnya

juga sangat banyak. Mulai dan Barbie, Spiderman,

Winnie the Pooh, Snoopy, Hello Kitty, Pinguin,

Osaka, Okinawa, dan Queen Royal. Bahkan, saya

juga menjual selimut merchandise asli dari berbagai

universitas terkenal di dunia dan beberapa klub

sepak bola ternama, ungkap pria yang hobi makan bakso ini.

Berkat kegigihannya juga, selimut Jepang

tersebut kini memenuhi ruang display beberapa

buah toko dan grosir di Pasar Regional Tanah Abang

Jakarta. Terobosan pemasaran ini, tak ayal hagi

membuat omzetnya terus meroket dari waktu ke waktu.

Keberhasihannya dalam membangun bisnis selimut ini,

 

menginspirasi Hadi untuk berbuat lebih

 

banyak lagi. Dia ingin menciptakan satu wahana lagi

untuk membantu banyak orang. Akhirnya, setelah

melakukan negosiasi dengan pemilik pabrik

selimutnya, dia kini bisa memesan satu jenis produk

lagi berupa sajadah. Teknologi pembuatan sajadah

ternyata tidak jauh berbeda dengan selimut

sehingga pabrik tersebut bisa mengerjakannya.

Tentu saja dengan minimum order yang mencapai

ribuan potong untuk setiap modelnya.

Hadi pun menentukan sendiri model dan warna

sajadah yang diinginkannya. Dia sangat yakin

dengan prospek produk ini. Apalagi produk ini

dilaunching menjelang bulan Ramadhan, di saat

permintaan sajadah sedang meningkat. Sajadah

yang diproduksinya untuk tahap awal memakai

merek Mecca dan Palestine dengan masing-masing

mempunyai empat pilihan warna. Dan untuk

pemasarannya, di samping melalui blog yang

dibikinnya, juga mengandalkan para agen yang

selama ini setia bermitra dengannya.

Keberhasilan yang dicapai Hadi tentu saja tidak

 

terjadi begitu saja. Kerja keras yang disertai

semangat untuk terus belajar menjadi salah satu

kunci keberhasilannya. Kegigihan dan sikap tidak

mudah menyerah juga memberikan andil yang tidak

sedikit dalam proses pembelajaran bisnis yang

dilakukannya. Ia pun pernah mengalami masa yang

amat pahit ketika awal-awal mencoba berbisnis.

Tidak jarang dia harus kehilangan modal karena

bisnis yang pernah dijalankannya tidak berjalan

sesuai yang direncanakan.

 

Hadi pernah membuktikan betapa bisnis tanpa

ilmu sungguh merupakan hal yang sangat

mengenaskan. Beberapa pengalaman pahit terjadi

ketika keinginan Hadi untuk memulai bisnis sudah

bergejolak. Waktu itu, dia hanya belajar dari apa

yang dia lihat dan dengar di sekitarnya. Tidak pernah

 

terpikir olehnya untuk belajar bisnis dari yang

 

terbaik di bidangnya.

Salah satu pengalaman pahit terjadi pada

1999. Atas permintaan seorang pedagang salak

keliling yang menjadi langganannya, Hadi

mendapatkan pesanan dari pedagang tersebut.

Intinya dia sanggup membeli salak pondoh dari

kampungnya di Jawa Tengah dengan harga Rp4.000

per kg. Sedangkan harga salak di kampungnya saat

itu sekitar Rpl.500 per kg. Waktu itu harga salak

keliling sekitar Rp8.000 per kg. Sudah terbayang di

pikiran Hadi berapa keuntungan yang bakal diraihnya.

Tanpa pikir panjang, dia langsung memesan

salak ke kampung dengan sangat optimistis. Begitu

berpeti-peti salak datang, rupanya janji pedagang

salak tersebut tidak seindah yang diucapkan. Salak

pondoh dari kampungnya tersebut dibilang

kebanyakan air, kecil-kecil, dan asam. Tidak seperti

salak pondoh dari Sleman.

 

Padahal, sebetulnya salak yang ditawarkan

Hadi cukup manis dan ukurannya tidak jauh berbeda

dengan salak pondoh dari Sleman. Lagi pula

konsumen juga tidak akan bisa membedakan mana

yang dari Sleman atau dari kampunqnya. Pedagang

salak itu pun hanya mau membeli dengan harga

Rpl.000 per kg. Itu pun bayarnya di akhir jika

barang sudah laku.

Hadi sangat kecewa dan hanya bisa tersenyum

kecut. Ternyata pedagang salak langganannya

tersebut tidak menepati janji yang telah disepakati

sebelumnya. Hadi sempat shock, tumpukan salak

pondoh memenuhi rumah kontrakannya. Bau salak

yang diciumnya tiap saat, terus mengusik

pikirannya. Saat itu dia tidak tahu harus

dikemanakan buah salak sebanyak itu.

Akhirnya, pada suatu malam, dengan motor

butut keluaran 1993 kesayanganya, Hadi bersama

istri yang sedang hamil tua, pergi ke Pasar Kranji

Bekasi yang sangat kumuh dan sempat kehujanan.

Setelah jalan ke sana kemari, dia bisa bertemu

dengan seorang bandar buah yang hanya menawar

salaknya seharga Rpl.500 per kg. Itu pun dibayar

belakangan sesuai jumlah yang laku.

Daripada dia stres dengan bau salak di rumah,

akhirnya Hadi menyetujui dan menyewa becak

untuk membawa salak bolak-balik dari rumah ke

pasar Kranji. Pengalaman itu sempat dirasakannya

sebagai mimpi buruk dalam belajar bisnis di Jakarta.

Dia bahkan tidak ingat lagi apakah akhirnya salak

tersebut dibayar semuanya atau tidak.

 

Tak hanya pengalaman berbisnis salak, Hadi juga

pernah mencoba berbisnis buah nangka yang

dibawanya dan kampung. Bisnis itu dilakukannya

setelah menerima pesanan dari seorang pedagang

yang dikenalnya. Namun,pengalaman mensupply

nangka ke sebuah pasar,hanya berbuah ongkos belajar.

 

Saat itu rupanya dia kurang belajar dari pengalaman sebelumnya.

Namun, dia tidak menyerah. Hadi terus menggali

 

peluang baru. Sebagai usahawan dia sadar

betul bahwa peluang sering tidak datang dua kali.

Usahawan harus tahu kapan peluang itu hadir di

depan matanya, dan kapan harus mengambil

keputusan untuk meraih peluang tersebut.

Dalam berbisnis, Hadi selalu berusaha agar

suasana hatinya selalu dalam keadaan fun. “Apapun

 

bisnis yang dijalani, laksanakanlah dengan

enjoy dan happy,” pesannya. Dia menegaskan

bahwa bisnis itu hanyalah suatu game atau

permainan belaka. karena itu dari awal bisnis

segalanya saya buat seperti game saja, kalau saya

sedang kalah, ya… tidak perlu panik. Hati tetap

happy dan dengan sedikit kecerdikan dan serius

belajar nanti juga bisa menang lagi. Dengan merasa

senang, semangat dalam berbisnis tidak akan

mudah pudar,” ungkap bapak dengan tiga anak ini.

 

Berbisnis dengan fun dan tanpa beban

menyebabkan pikiran kita jadi Iebih jernih. Sesuatu

akan sempurna jika dilakukan dalam suasana

yang menyenangkan, tanpa tekanan dan atas inisiatif

diri sendiri. Lakukanlah bisnis seperti melakukan

hobi. Pasti kita akan menikmatinya, ujar suami

dari Ami ini mantap.

 

Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan

Arya Yoga, Sosok Wirausahawan Difabel Sukses Lewat Usaha Asesoris Motor

Semua manusia tentu menginginkan keberhasilan

dalam hidup. Untuk itulah setiap orang memiliki

cita-cita atau impian yang hendak direngkuhnya.

Demikian juga dengan Arya Yoga Rudhita, yang

akrab dipanggil Yoga, terus berjuang menggapai

impiannya. Kemauan dan mimpi-mimpinya yang

tinggi tak menyurutkan langkahnya untuk terjun

berbisnis, meski kecelakaan telah merenggut

sebagian daya kakinya untuk bergerak. Dua kakinya

saat ini memang lumpuh sehingga harus selalu

ditopang dengan sebuah kursi roda. Semangatnya

 

yang luar biasa untuk menggapai asa, mengalahkan

semua keterbatasan fisik yang menderanya. Dia

layak menjadi contoh pembelajaran

entrepreneurship bagi para kawula muda yang ingin

terus berkarya.

Saat ini, Yoga memang masih tercatat sebagai

mahasiswa di sebuah universitas swasta di Jakarta.

Ketertarikannya pada dunia bisnis membuatnya

mengambil jurusan manajemen pemasaran. Namun

di tengah kesibukannya, dia nekat mendirikan usaha

sendiri untuk mewujudkan cita-citanya.

Keterbatasan fisik benar-benar tidak mampu

menjadi penghalang baginya. Walaupun kemana-mana

 

dia harus memakai kursi roda, Yoga

tetap maju bertekad membangun kerajaan

bisnisnya. Dia pun berharap bisnis perlengkapan dan

aksesori sepeda motor yang dirintisnya bisa cepat

berkembang. Bio Motor Sport, nama toko yang

dipilihnya, kini menempati sebuah ruko yang

berlokasi di Jalan Raya Kalimalang nomor 75 Bekasi

Timur.

Walaupun saya masih pemula, saya bertekad

untuk menjadi seorang wirausahawan yang sukses,

tegas pemuda kelahiran Oktober 1979 ini.

Sebetulnya saya merasa agak terlambat saat

terjun dalam usaha ini, seharusnya saya

memulainya sejak dulu. But it’s better late than

never, tutur anak pertama dari dua bersaudara ini.

Bisnis perlengkapan motor di bawah bendera

Bio Motor Sport ini, pertama kali dirintisnya pada

2006. Keputusannya untuk memilih bisnis dalam

 

bidang ini tidak lepas dari kegemarannya naik motor

sejak dulu. Dia pun mempunyai mimpi untuk

membuka usaha di bidang perlengkapan motor itu.

Namun, setelah peristiwa kecelakaan yang

membuat kakinya lumpuh, Yoga sempat melupakan

mimpinya.

Awalnya dalam sebuah kesempatan, Yoga bertemu

 

dengan seorang teman yang mempunyai ide

untuk membuka usaha perlengkapan sepeda motor,

seperti helm, jas hujan, spion, hiasan plat nomor,

dan aksesori ringan lainnya. Setelah berdiskusi

mengenai prospek bisnis ini, Yoga berkesimpulan

bahwa usaha di bidang perlengkapan motor ini

cukup menjanjikan. Seiring meningkatnya jumlah

pengguna sepeda motor, otomatis kebutuhan

terhadap berbagai perlengkapan dan aksesori motor

akan terus meningkat. Saat membuka usaha ini

bersama temannya, investasi awal yang

dikeluarkannya tidak terlalu besar, sekitar Rp35 juta.

Sayangnya, bisnis yang dijalankan Yoga bersama

 

temannya ini tidak berjalan mulus. Dia telah

dibohongi oleh teman yang menjadi partner

bisnisnya. Rupanya teman Yoga melakukan mark-up

harga sewa toko, pembelian barang, dan

memunculkan biaya operasional yang sebetulnya tidak ada.

Yoga pun langsung penasaran. Akhirnya dia

turun sendiri menghubungi para supplier atau

distributor, dan menanyakan berbagai harga

pembelian untuk produk yang pernah dibelinya.

 

Ternyata harga sebenarnya jauh iebih murah dari

yang tertera di bon pembelian. Saat itu, Yoga

merasa sangat kecewa dengan partner bisnisnya.

Pengalaman pahit yang diaiaminya pertama kali

memulai berbisnis tersebut, memberikan pelajaran

berharga baginya tentang pentingnya membangun sebuah kepercayaan.

‘Saya tidak kapok. Justru makin semangat untuk

 

terus belajar. Saya bertekad untuk memulai dari

awal bisnis ini sendirian, cetus Yoga sambil

mengenang saat mencoba memulai bisnisnya sendiri.

Bulan pertama hingga ketiga, omzet penjualan

usahanya masih sangat kecil sehingga belum bisa

menutupi biaya operasional. Saat itu, Yoga memang

tidak menyebarkan brosur atau sarana promosi

lainnya untuk memperkenalkan toko aksesori

motornya. Walaupun dia sebetulnya cukup paham

tentang strategi pemasaran, tampaknya dia ingin

tokonya berkembang secara “alamiah” saja.

Baru seteiah berjalan tiga bulan, orang-orang

yang lewat di sepanjang Jalan Raya Kalimalang ini

mulai banyak yang mampir dan bertanya-tanya.

Lokasi tokonya yang persis di pinggir Jalan Raya

Kaiimaiang Bekasi Timur, memang boieh dibilang

sangat strategis. Setiap hari, jalan di depan

tokonya diiewati ribuan motor, baik dari arah

Jakarta maupun Cikarang. Letaknya yang tidak jauh

dan pintu toi Bekasi Timur, membuat tokonya

berada di antara sekian banyak tempat penitipan

motor yang bertebaran di kawasan itu.

Belajar dari pengaiaman pertamanya yang tertipu

 

dalam melakukan pembelanjaan ke supplier.

Yoga selalu mencari sumber supplier yang mampu

memberikan harga yang terbaik. Berkat

kegigihannya, dia kini mempunyai beberapa supplier

dengan harga yang sangat kompetitif. Dengan

menguasai mata rantai supplier tersebut, Yoga pun

mampu memberikan harga yang cukup kompetitif

kepada para konsumen. Harga yang murah tersebut

tak ayal lagi menjadi salah satu faktor larisnya

produk yang dijualnya.

Kesuksesan bisnis di bidang ini, selain ditentukan

 

oleh lokasi outlet yang strategis, juga didukung

oleh kepiawaian pemilik untuk selalu berkomunikasi

dengan para pecinta motor, atau komunitas

penggemar sepeda motor. Keakraban yang

dibangun dengan komunitas penggemar motor, akan

menjadi salah satu leverage atau daya ungkit bagi

pemasaran seluruh produk yang terkait dengannya.

Dengan demikian, secara otomatis Yoga bisa

mengetahui aksesori atau jenis perlengkapan motor

apa yang sedang ngetren.

Selain berjualan di outlet-nya sendiri, Yoga

juga sempat menitipkan barang dagangannya ke

teman-teman yang berjualan voucher dan aksesori

handphone, tetapi hasilnya ternyata kurang memuaskan.

Rencana ke depan, Yoga ingin mengembangkan

bisnisnya tersebut di kawasan jalur pantura dengan

menggandeng beberapa mitra. Dia melihat potensi

pasar di kawasan tersebut sangat besar. Para

anak muda di kawasan ini terkenal suka

 

‘mendandani’ motornya, tandasnya.

Saat ini Yoga memang lebih berkonsentrasi untuk

 

terus meningkatkan omzet tokonya. Hal ini tidak

lepas dari keinginannya untuk menjadi authorized

distributor untuk beberapa produk yang selama ini

dijualnya. Jika omzet sudah besar, para produsen

peralatan dan perlengkapan sepeda motor tentu

mau menunjuk toko saya menjadi distributor,

tambah Yoga dengan nada optimis.

Untuk mencapai tujuan tersebut, selain berjualan

 

secara offline, Yoga juga membuat website

untuk memasarkan produknya secara online. Melalui

website tersebut dia berharap bisa menjangkau

pasar yang lebih luas.

Dalam menjalani bisnis ini, Yoga benar-benar

mengandalkan kejujuran para karyawan. “Sejauh ini

alhamdulillah tidak ada masalah dengan mereka.

Saya mencoba mengontrol mereka melalui laporan

harian dan bulanan,” papar Yoga.

Dibantu dua orang karyawannya yang menunggu

 

toko secara bergantian, Yoga juga selalu

mengadakan stock opname setiap bulan untuk

mengontrol keluar masuknya barang. Walaupun

masih sibuk kuliah, Yoga masih sempat melakukan

pembelanjaan dan melakukan kontrol atas seluruh

barang yang ada di tokonya.

Harga produk yang dijual di tokonya berkisar

antara Rpl5 ribu hingga Rp5OO ribu. Barang yang

paling mahal adalah helm dengan kualitas yang

sangat bagus. Untuk menjual helm jenis ini, dia

harus pandai-pandai menjelaskan kepada calon

 

pembeli mengapa harga helm tersebut lebih mahal.

Hal ini tentu terkait dengan faktor perlindungan

yang lebih kuat dibandingkan dengan jenis helm lainnya.

Sebagaimana bisnis yang lain, usaha perlengkapan

 

dan aksesori motor ini ada kalanya ramai,

tapi ada juga masa-masa sepi. Biasanya omzet

melambung tinggi saat menjelang lebaran, karena

banyak orang yang membeli helm baru untuk pulang

kampung. Apalagi toko Yoga berada tepat di jalur

lalu lintas yang dilalui para pemudik. Hal ini

membuat pengunjung di tokonya sangat ramai

menjelang lebaran. Namun sebaliknya, saat setelah

lebaran, penjualannya turun tajam. Masa sepi ini

biasanya bisa berlangsung hingga dua bulan.

Berdasarkan pengalamannya selama ini, Yoga

kini bisa mengetahui kapan harus menyiapkan stok

yang banyak untuk waktu tertentu, dan bagaimana

strategi mempertahankan omzet jika musim paceklik

penjualan tiba. Toko yang biasa buka dari jam

delapan pagi hingga jam sembilan malam itu pun,

kini semakin punya banyak pelanggan.

Sebenarnya, saat ini memang sudah banyak

orang yang terjun dalam bisnis perlengkapan dan

aksesori sepeda motor, khususnya di sepanjang

Jalan Raya Kalimalang ini. Namun, Yoga tidak

pernah khawatir dengan tingkat persaingan yang

 

semakin ketat. Dia selalu memandang positif sebuah

persaingan. Dengan adanya pesaing, kita justru

 

dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif, ujar Yoga

menanggapi menjamurnya pesaing di bisnis ini.

Sadar akan kondisi persaingan tersebut, Yoga

 

selalu berusaha untuk menciptakan pelayanan yang

unik. Hal ini dilakukannya untuk membedakan diri

dengan pesaing lainnya. “Saya tidak ingin sekadar

berjualan barang saja. Saya ingin memberikan value

lebih kepada para pelanggan saya,” ujar pemuda

yang selalu berkacamata ini.

Menurut Yoga, menjadi berbeda itu lebih penting

 

daripada sekadar memberikan harga yang lebih

murah. Persaingan yang hanya menekankan pada

harga justru bisa memperparah kondisi menuju

perang harga yang tidak sehat. Yang penting,

harga harus tetap bersaing, tetapi ada nilai tambah

lain yang tidak dimiliki pesaing. Salah satu kuncinya

tentu saja ada di pelayanan. Untuk itu, Yoga selalu

menjalin hubungan baik dengan pelanggannya.

“Saya selalu mengatakan kepada karyawan

saya bahwa pelanggan yang datang untuk bertanya

saja itu lebih baik daripada tidak ada yang datang

sama sekali,” ungkap pemuda yang punya hobi fotografer ini.

Yoga juga sadar bahwa keberhasilan dalam

berbisnis harus didukung oleh seluruh anggota tim

yang terdiri dan para karyawan. Sehingga dia

sangat memerhatikan kesejahteraan para

karyawannya. Dia juga ingin karyawannya sukses

 

dan suatu saat bisa memiliki usaha sendiri seperti

dirinya. Menurut Yoga, saat ini bukan zamannya lagi

orang sukses sendirian, para karyawan harus

menjadi bagian dari rencana sukses juga.

Selain berbinis perlengkapan dan aksesori sepeda motor,

 

Yoga juga merintis usaha grosir sepatu

bersama beberapa temannya. Saat ini, usaha

sepatunya tersebut menempati sebuah ruko di

kawasan bisnis Pasar Tanah Abang Jakarta.

Naluri bisnis Yoga makin terasah seiring dengan

perjaanan waktu. Dia sadar bahwa ketajaman naluri

bisnis yang bagus tidak dapat diraih dalam waktu

singkat. Sebagai wirausahawan, dia berusaha untuk

terus mengasah ketajaman naluri tersebut agar bisa

mengambil keputusan bisnis dengan tepat.

Menurut Yoga, dalam dunia wiraswasta, seorang

 

pengusaha tidak hanya bersaing dengan

perusahaan sejenis, tetapi juga harus bersaing

dengan keadaan dan situasi tertentu. Mulai dari

kondisi makro ekonomi, suhu politik, perubahan

kebijakan pemerintah dan sebagainya. Agar dapat

mengantisipasi setiap perkembangan yang mungkin

terjadi, seorang pengusaha perlu terus melatih naluri

 

kewirausahaannya,agar selalu siap

menghadapi kondisi apapun.

Seorang pengusaha perlu menyadani sepenuhnya

bahwa ketika memutuskan untuk menjadi pengusaha,

 

maka cara berpikir, berbicara, maupun bertindak

harus mencerminkan seorang pengusaha sejati.

Makin lama menekuni dunia wirausaha, makin

banyak pengalaman yang didapat, dan tentu makin tajamlah

 

nalurinya. Bagi Yoga, belajar bagi seorang pengusaha tidak

 

mengenal usia. Belajar bisa dilakukan setiap

saat, kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa

saja. Langsung terjun menjalankan bisnis juga

merupakan pembelajaran bisnis yang paling nyata.

Ketika sudah terjun langsung, informasi dan

pengetahuan yang terkait akan mengalir seperti air.

Apalagi jika didukung dengan banyak membaca buku

dan bergabung dengan komunitas pengusaha.

Sebagai pengusaha pemula, dengan cara belajar

tersebut, Yoga merasa lebih mudah mendapatkan

berbagai ilmu bisnis praktis yang dibutuhkannya.

“Kita dapat belajar dari kesalahan dan pengalaman

 

diri kita sendiri maupun dari pengalaman

orang lain, ungkap pemuda yang baru berusia 28

tahun ini. Belajar dari kesalahan dan pengalaman

orang lain adalah cara belajar yang paling mudah

dan murah. Walaupun pengalaman orang lain

tersebut mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi kita.

Belajar memang tidak pernah ada ruginya.

Seberapa besar pun biaya yang telah dikeluarkan.

Bila kita tidak belajar, biaya yang dikeluarkan untuk

sebuah pengalaman buruk pastilah akan jauh lebih

mahal dan menyakitkan. Yoga memang bukan yang

pertama dalam bisnis ini, tapi dia berusaha untuk

 

menjadi yang terbaik. Dalam perjalanan menuju ke

sana, dia pun tidak takut untuk tampil berbeda dengan yang lain.

Kesuksesan Yoga dalam mengembangkan diri

dan bisnisnya tidak lepas dari peran serta

keluarganya. Yoga sangat berterima kasih atas

dukungan yang luar biasa dari seluruh keluarga dan

calon istrinya. “Tanpa mereka, saya tidak bisa

seperti sekarang ini”, kata Yoga mengungkapkan

apresiasi untuk keluarganya.

 

Dari Buku: Rahasia jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan

Hendrik, Memulai dari Bawah,Sang Mantan Akuntan Ini Kini Sukses Berjualan Anchor Beromzet Milyaran

Dalam usaha apa pun, jangan
pernah menyepelekan kepercayaan
konsumen. Menganut prinsip itu,
Hendrik Sutjiatmadja sukses
memasarkan produk konstruksi asal
Jerman, Fischer. Omzetnya kini
mencapai Rp 30 miliar per tahun.
Para pelaku bisnis konstruksi yang
menggarap proyek besar tentu tak
asing dengan angkur ( anchor). Alat
serupa mur besar ini berfungsi
sebagai pengikat baja atau beton
pada bangunan dan dinding agar
barang yang dipasang terikat kuat.
Salah satu merek yang terkenal
adalah Fischer, asal Jerman.

Memang, harga aneka produk
angkur Fischer tidak bisa dibilang
murah. Tapi, keandalannya sudah
diakui. Nah, di balik kesuksesan
produk Fischer di bisnis konstruksi
di Indonesia ada nama Hendrik
Sutjiatmadja. Lewat PT Bersama
Bangun Persada, Hendrik menjadi
distributor resmi Fischer di
Indonesia.
Saat ini, banyak proyek properti
prestisius di kota-kota besar seperti
Jakarta menggunakan angkur
Fischer. Contohnya Ciputra World,
Hotel Ritz Carlton-Pacific Place,
Kuningan City, Kemang Village, dan
Belagio Residence. Dari penjualan
dan jasa pemasangan, Hendrik bisa
meraup omzet hingga Rp 30 miliar
per tahun.

Untuk menggapai kesuksesan
seperti sekarang, Hendrik harus
memulai dari bawah. Sekitar 10
tahun silam, ia harus meyakinkan
produsen Fischer di Jerman untuk
masuk ke Indonesia. Maklum, saat
itu, Fisher belum melihat Indonesia
sebagai pasar yang potensial.
“Susah meyakinkan mereka bahwa
kita mampu menjual produk
Fischer,” tuturnya.
Tapi, berbekal keyakinan bahwa
bisnis ini bisa berhasil, akhirnya,
Fischer memberi kepercayaan pada
Hendrik untuk memasarkan
produknya di Indonesia. Saat itu,
target utama Fischer adalah
proyek-proyek besar. Tapi,
belakangan, Fischer juga menyasar
pasar ritel.

Lahir dan dibesarkan dalam
keluarga China Betawi 37 tahun
silam, keluarga Hendrik memiliki
sebuah toko elektronik di Jakarta.
Meski begitu, dari sisi ekonomi,
kehidupan keluarganya relatif pas-
pasan. Orangtuanya menyekolahkan
Hendrik hingga Universitas Trisakti,
Jurusan Akuntansi.
Tapi, Hendrik tak bisa terus-
menerus mengandalkan
keluarganya. Apalagi, bisnis
ayahnya terus turun. Puncaknya,
pada tahun 1998, toko elektronik
itu bangkrut. Hendrik dan
keluarganya mulai membiasakan
diri hidup dengan fasilitas terbatas.
“Dulu, makan saya sampai sempat
dijatah,” kenangnya.
Untuk menyelesaikan kuliah,
Hendrik juga harus memutar otak
untuk mendapatkan tambahan duit.

Di saat seperti ini, kemampuan
bisnisnya kian terasah. Di awal
masa kuliah, ia menjual stiker bola
saat event Piala Dunia di sekeliling
kampus. Dari bisnis ini, ia bisa
mengantungi untung sekitar
Rp 200.000 sebulan.
Saat masih kuliah di semester
enam, Hendrik mulai melamar kerja
di perusahaan konsultan pajak. Di
sana, ia digaji berdasarkan hari
bekerja. Meski gajinya kecil,
hasilnya bisa ia gunakan untuk
biaya transportasi.
Tahun 1996, pria kelahiran 8 Mei
1974 ini melamar sebagai staf
akuntan di Pondok Indah Group.
Dengan gajinya, Hendrik bisa
membiayai kuliah sendiri. Tapi,
lantaran terlalu asyik bekerja, ia
tidak fokus kuliah. Ia butuh enam
tahun untuk mendapatkan gelar
sarjana.

Habis di tahun pertama
Selepas kuliah, di tahun 1998,
bersama tiga kawannya, Hendrik
terjun ke bisnis impor buku kuliah
dengan mendirikan PT Mitra Lestari
Pustaka. Modal awalnya Rp 50 juta.
Tapi, usaha ini tidak bertahan lama
lantaran kurang modal dan kalah
bersaing dengan pemain besar.
Pada tahun 2000, Hendrik
mendapat tawaran dari kakak
iparnya untuk terjun ke bisnis
distributor produk konstruksi.
Kebetulan, sang kakak itu lulusan
Jerman dan pernah bekerja di
bidang konstruksi bangunan selama
tiga tahun.

Dengan modal awal Rp 100 juta,
Hendrik dan saudaranya
mendirikan PT Bersama Bangun
Persada dan menjadi distributor
resmi Fischer. Ia membeli sebuah
rumah di Cakung sebagai kantor
dengan seorang karyawan untuk
mengurusi administrasi. Ia juga
membelanjakan sekitar Rp 6 juta
untuk membeli produk Fischer.

Setahun pertama, modal Hendrik
habis untuk promosi dan seminar
memperkenalkan produk Fischer.
Baru di akhir 2002, sebuah proyek
besar, yakni RS Siloam, Cikarang,
menggunakan Fischer. Nama
perusahaannya pun mulai dikenal.
Dari mulut ke mulut,
perusahaannya mulai menjadi
referensi pemilik proyek maupun
kontraktor.

Mulai tahun 2004, Fischer meminta
Hendrik menggarap pasar ritel.
Karena itu, ia memperkenalkan
merek (brand ) Mr Safety,
kependekan dari Mature, Reliable,
Safety, Achievement, Family,
Efficient, Teamwork, and Youth.
Saat ini, setiap tahun, Hendrik
menggarap puluhan proyek
properti. Nilai satu proyek bisa
mencapai puluhan juta rupiah
hingga Rp 5 miliar. Bahkan,
seringkali proyek tersebut “beranak
pinak” lantaran ada tambahan
bangunan baru.

Saat ini, Hendrik menjadi
distributor untuk tujuh merek,
yaitu Fischer, STO, Intumex,
Promat, Lifeline Descent, Hakken
Brand Series, dan Elco. Sebagian
besar produk itu merupakan
peralatan konstruksi dan
keselamatan.( Diade Riva Nugrahani)

sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id/xml/hendrik-sang-mantan-akuntan-yang-sukses-berjualan-angkur-1

Vivin, Anak Sopir yang Kini Sukses Jadi Pengusaha Perlengkapan Sarana Olahraga

Kesuksesan bisa datang meski tak
sesuai dengan jurusan. Setelah
pensiun sebagai atlet basket, Vivin
Cahyani Sungkono memulai karier
sebagai seorang guru. Namun nasib
berkata lain, dia justru mengenyam
kesuksesan lewat bisnis lantai
lapangan.

Di Indonesia, cukup banyak mantan
atlet yang memiliki bisnis setelah
pensiun. Biasanya, bisnis mereka
tidak jauh-jauh dari dunia olahraga
yang pernah mereka geluti. Salah
satunya adalah Vivin Cahyani
Sungkono. Sebagai mantan atlet
basket, ia memiliki usaha sports
flooring, yakni aneka lantai atau
karpet lapangan olahraga.

Di bawah bendera VSport, ibu
empat anak ini menjadi produsen
dan distributor beberapa jenis
sports flooring dan produk aksesori
seperti jaring, gawang, dan bola.
Flooring merupakan karpet
berbahan vinil yang dipakai sebagai
lapisan lantai lapangan olahraga
indoor seperti basket, voli,
badminton, handball, dan hoki.
Karpet ini seperti lantai nan empuk.

Vivin telah memasang lebih dari
400 lapangan di beberapa kota di
Indonesia dan Malaysia. “Dalam
waktu dekat, kami akan memasang
di Filipina,” kata perempuan
kelahiran Surabaya, 20 September
1973 ini.

Vivin adalah mantan atlet basket
yang pernah bertanding di pelbagai
ajang Pekan Olahraga Nasional,
kejuaraan ABC Junior di Beijing,
World Islamic Country
Championship Tehran, Kejuaraan
Antarmahasiswa di Melbourne, SEA
Games, dan masih banyak lagi.

Di usia 23 tahun, Vivin memutuskan
pensiun dari dunia basket. Dia
bekerja demi meningkatkan
kesejahteraan keluarganya. Maklum,
ibunya hanya penjahit dan
bapaknya seorang sopir. “Saya tahu
persis, saya tidak akan bisa
berprestasi lebih dari apa yang
sudah saya capai. Sebab, masih
banyak senior yang berumur lebih
dari 30 tahun belum pensiun.
Kesempatan untuk menggantikan
mereka sangat tipis,” katanya.
Sembari kuliah di jurusan psikologi
Universitas Surabaya selama lima
tahun, Vivin menjadi guru honorer
di sebuah sekolah dasar di
Surabaya. Pada umur 25 tahun, ia
mendirikan SD Kasih Karunia untuk
anak-anak berkebutuhan khusus.

Di
sana, ia menjadi kepala sekolah.
“Sekolah itu masih ada sampai
sekarang dan sudah saya hibahkan
ke guru di sana,” ujarnya.
Vivin melepas profesi sebagai guru
demi membantu rekannya
mengelola perusahaan yang
bergerak di bidang penjualan
material baja dan bahan bangunan.
“Dengan latar belakang pendidikan
psikologi, saya membantu di divisi
human resource development.
Kemudian saya dipercaya sebagai
manajer pemasaran,” kenangnya.
Tapi Vivin hanya bertahan enam
bulan di perusahaan itu. Sekitar
tahun 2001, dia memutuskan
membuka usaha sejenis di bawah
bendera CV Viva Metalindo.

“Hingga
sekarang, perusahaan di bidang jasa
konstruksi ini masih berjalan dan
berkembang,” jelasnya. Perusahaan
ini menggarap proyek rumah
tinggal dan renovasi gedung. Ia juga
sering memasok material baja ke
beberapa proyek pembangkit listrik
tenaga uap, Caltex, dan Freeport.
Tanpa disengaja, ada pelanggannya
yang menanyakan distributor lantai
lapangan futsal. “Saya bilang bisa
mencarikan. Padahal, saya belum
tahu bagaimana mendapatkan lantai
semacam itu,” katanya. Vivin
mencari informasi soal prospek
lantai lapangan olahraga. Maka,
pada tahun 2008, bermodal Rp 1
miliar ia memutuskan mendirikan
VSport.

Enam bulan sepi

Vivin memproduksi sendiri lantai
tersebut. Dia memodifikasi desain
flooring serupa dari Amerika
Serikat yang harganya sangat
mahal. Ia melibatkan desainer dari
China untuk perubahan desain
tanpa mengurangi kekuatan dan
fungsinya. “Awalnya, saya tidak
berharap banyak pada bisnis ini.
Sebab, bidang ini benar-benar baru
buat saya,” katanya.
Vivin bilang, saat presentasi ke 10
pembeli, hanya ada satu yang
tertarik dengan produk lantai
futsalnya. Itu pun lebih karena
kasihan ketimbang yakin dengan
kualitas produk.

Vivin terjun langsung
mempresentasikan produk, mulai di
Surabaya dengan berbekal brosur
dan videoklip dari kejuaraan di
Malaysia yang menggunakan
flooring sejenis. Tujuannya untuk
meyakinkan calon klien bahwa
produknya layak digunakan.
“Background saya yang sama sekali
belum mengenal futsal membuat
klien sulit sekali meyakini kualitas
produk buatan VSport,” jelasnya.
Selama enam bulan pertama, Vivin
hanya berhasil menjual satu unit
floor . “Saya pun mengganti home
base penjualan dari Surabaya ke
Jakarta sebagai strategi,” katanya.

Ternyata keputusan itu efektif.
Selain membangun citra, dia
berhasil mendekatkan hubungan
dengan organisasi Badan Futsal
Nasional (BFN). Lembaga ini
mengampanyekan Real Futsal
dengan menggunakan media VSport
sebagai alas Liga Profesional
Indonesia, sebuah liga tertinggi
futsal sejak 2008 hingga sekarang.
Hasilnya, penjualan pun ikut
melonjak.

Setelah dua tahun memproduksi
aneka flooring, Vivin juga
menyediakan alas lapangan rumput
sintetis. “Di Indonesia masih banyak
yang suka rumput sintetis
ketimbang flooring ,” katanya. Ia
mengimpor rumput palsu ini dari
China.

Terbukti, kan, tekad merupakan
modal kuat berbisnis?
( Fransiska Firlana)

Sumber: http://mobile.kontan.co.id/news/vivin-mantan-atlet-yang-sukses-di-lantai-futsal/2012/09/03

Elsa, Pebisnis Pupuk Online Sukses ini Memulai Usahanya dari Menolong Teman yang Tertipu

detikcom – Jakarta, Memulai
bisnis bagi seseorang memang
berbeda-beda, ada yang terencana
tetapi ada juga yang secara
kebetulan. Misalnya yang dialami
oleh Elsa Rosyidah, kini ia sukses
menjadi pengusaha pupuk, hanya
karena berawal dari keinginan
untuk menolong teman yang sering
ditipu oleh tenaga marketing.
Wanita kelahiran Blora, Jawa
Tengah 1985 ini, kemudian
mencoba membuat pemasaran
pupuk secara online dari produk
temannya. Padahal sebagian besar
para pengguna pupuk adalah
petani yang umumnya tidak
terbiasa dengan transaksi online.
Lalu bagaimana kah?

Usaha yang dimulai pada
September 2009 ini, tidak
disangka-sangka, dalam beberapa
hari setelah ia memulai
memasarkan melalui website tidak
berbayar (blogspot), Elsa langsung
memperoleh pesanan dalam
jumlah yang cukup luar biasa.
Elsa menceritakan alasannya
memilih penjualan dan pemasaran
pupuk secara online.

Berawal dari
keinginan menolong, dia pun
berpikir untuk memasarkan produk
temannya itu. Padahal pada waktu
itu, Elsa sedang menempuh studi
S1 di Universitas Brawijaya,
Malang, Jawa Timur. Kemudian ia
berpikir bagaimana dapat menjual
pupuk supaya dia bisa kuliah dan
juga dapat membantu temannya.
“Itu sangat sulit bagi saya karena
ketika memasarkan pupuk secara
offline (nyata), itu memerlukan
biaya untuk keliling kemudian saya
tidak tahu medannya seperti apa,
belum banyak kenalan di toko
pupuk juga, dan itu menghabiskan
waktu dan tenaga juga. Tetapi saya
tetap ingin bantu dan akhirnya kita
buat secara online,” katanya
kepada detikFinance beberapa
waktu lalu di kediaman dubes AS,
beberapa waktu lalu.
Beberapa hari setelelah mulai
dipasarkan, kemudian ada seorang
yang menelpon Elsa untuk
memesan pupuk dari toko online-
nya. Elsa pada saat itupun sedikit
kaget karena dia samasekali tidak
menyangka. Alasannya dalam
waktu yang singkat, yakni 10 hari
setelah toko online dari situs non
berbayar itu (blogspot) di buka,
langsung memperoleh respon dari
pelanggan dan Elsa pun harus
melihat katalog harga terlebih dulu
karena dia tidak begitu hafal
dengan harga pupuk yang
ditawarkan.
“Waktu saya ditelpon orang, saya
benar-benar bingung karena masih
belum ada persiapan dan saya
masih lihat daftar harganya
berapa,” ceritanya.

Wanita finalis wirausaha mandiri
nasional tahun 2009 dan juga
salah satu dari sembilan wanita
muda Indonesia peraih program
10.000 wanita wirausaha dunia
dari Goldman Sachs di Amerika
Serikat tahun 2012 ini, menyadari
bahwa hanya dengan mengunakan
situs non berbayar yang sederhana
saja bisa berjalan. Kemudian ia
berpikir untuk meningkatkan
kualitas toko onlinenya, Elsa
kemudian menggunakan situs
berbayar.
“Ini kemudian berlangsung hingga
kini dan sekarang menggunakan
website yang berbayar,” tuturnya.

Menurut Elsa, memasarkan dan
menjual pupuk secara online,
bukannya tanpa kendala karena
pupuk merupakan kebutuhan dasar
petani yang umumnya jarang dijual
secara online dan sebagian besar
pengguna pupuk dan distribusi
pupuk dipegang adalah orang yang
usianya cukup tua dan tidak
terbasa dengan transaksi melalui
toko online. Disamping itu, tingkat
kepercayaan masyarakat Indonesia
terhadap transasksi online masih
relatif rendah.
“Kita harus membiasakan mereka
untuk online dan membuat mereka
percaya kepada kita,” pungkasnya.
Elsa sendiri menjual pupuk semi
organik, sedangkan pelangganya
tidak membatasi segmen pasar dari
toko onlinenya. Menurutnya
siapapun orang yang terbiasa dan
bisa transaksi online merupakan
pasarnya.

Pelangganya sendiri merupakan
orang yang sudah berpengalaman
di bidang pupuk, seperti para
petani, kelompok tani, toko
prasarana pertanian dan
distributor pupuk.
“Semua orang yang bisa online itu
adalah pasar kami,” ujarnya.
Elsa yang kini sedang menempuh
pendidikan Pasca Sarjana di Unpad
Bandung ini menambahkan, usaha
yang awalnya hanya dikelola oleh
ia sendiri, sekarang telah memiliki
8 orang pegawai karena seiring
berjalannya waktu dan
meningkatnya order atau pesanan
pupuk.

Sayangnya Elsa enggan
berkomentar soal berapa omset
yang ia peroleh, tetapi ia
mengungkapkan dari awal berdiri
hingga sekarang, peningkatan
penjulan toko onlinenya mencapai
400%. Saat ini pasar pupuknya
telah tersebar di seluruh pulau di
Indonesia dari jawa, Sumatera
hingga Sulawesi.
“Itu luar biasa dan sekitar 400%
serta pasar kami tersebar di
seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Kesuksesan wanita muda ini
bukannya tanpa kendala, Elsa
pernah mengalami pengalaman
pahit. Saking senangnya waktu
pesanan di awal-awal. Pada
pesanan selanjutnya Elsa
memperoleh pesanan sekiatar 3
kontainer pupuk.
Tepatnya pada tahun 2009, ketika
barang telah sampai di tangan
pelanggan. Ternyata pupuk yang
dijual oleh Elsa tidak dibayar dan
orang yang membeli tidak tahu
kemana. Dia waktu itu mengalami
kerugian hingga Rp 160 juta.
Pengalaman tersebut kemudian
memberikan pelajaran yang
berharga bagi Elsa untuk membuat
sistem pembayaran agar peristiwa
itu tidak terulang kembali, yakni
barang akan dikirim jika sudah
lunas atau 100% terbayar.
“Barang akan kita kirim ketika
pembayaran 100% telah
dibayarkan. 50% ketika pemesanan
dan 50% ketika barang akan
dikirim.” tegasnya.

Elsa juga berkeinginan membuka
toko pupuknya secara offline dan
menambah kerjasama dengan
produsen pupuk untuk menambah
jenis produk yang dijual dan
memperluas pasarnya. Serta
meningkatkan kualitas sistem toko
onlinenya.

Jika anda berminat memesan
pupuk online atau mengetahui
jenis pupuk yang dijual.
Anda dapat mengunjungi situs:
http://tokopupuk.net
( Feby Dwi Sutianto)

sumber: http://m.detik.com/read/2012/03/19/122249/1870813/480/pebisnis-pupuk-online-ini-memulai-usaha-dari-tolong-teman-yang-tertipu