Category Archives: Properti

Kisah Sukses Usaha Ciputra dan Visi Entrepreneurshipnya Untuk Bangsa

Nama Ciputra hampir tidak bisa dilepas dari tema entrepreneurship. Hampir di segala kesempatan pemilik dan pendiri Grup Ciputra yang memiliki nama besar di industri properti itu tak henti-hentinya mengkampanyekan pengembangan kewirausahaan di negeri ini, sehingga virus entrepreneurship menyebar ke mana-mana.

Tentu dia tidak hanya berbicara, tetapi telah memberikan contoh dalam mengembangkan bisnisnya. Untuk lebih mengenal sepak terjang dalam mengembangkan bisnis, berikut petikan wawancaranya.

 

Bagaimana awal mula Anda mengembangkan bisnis di bidang properti?

 

Saya bersyukur bahwa orang tua saya pengusaha. Dia mempunyai toko kelontong dan sejak kecil saya diajarkan untuk menjadi pengusaha seperti dia. Saya lahir di ruko, saya bangun, saya buka mata lihat barang dagangan. Saya merangkak pertama saya pegang barang dagangan. Saya disuruh bekerja pertama untuk menjual barang dan sebagai pedagang.

 

Tiba-tiba ayah saya meninggal ketika saya berumur 12 tahun dan saat itu saya bertekad teruskan sekolah untuk menjadi pengusaha. Tak lama saya ingin menjadi seorang arsitek, lalu saya ke ITB Bandung. Di sana saya berubah pikiran. Saya bilang seorang arsitek mencari pekerjaan, mencari projek, yang telah diciptakan orang lain. Dan saya putuskan saya menjadi developer.

 

Apa yang mendasari untuk fokus ke bisnis properti?

 

Pertama saya merasa mempunyai bakat dan passion mencintai dunia properti. Oleh karena itu, saya mengambil arsitek. Arsitek itu merupakan satu alat bagi orang yang akan fokus sebagai developer. Itu sebabnya saya senang membikin rancangan dan merealisir rancangan tersebut menjadi kenyataan. Dari sekadar passion kemudian menjadi mimpi, sampai mewujudkan mimpi tersebut. Namun selain bidang properti, saya juga mengembangkan spesialisasi membangun kota-kota baru. Melalui tiga grup properti, lebih daripada 50 kota kecil maupun besar telah dibangun di Indonesia maupun luar negeri, baik saya sendiri maupun dengan teman-teman yang lain.

 

Pada krisis tahun 1997/1998 perusahaan Anda terkena dampak krisis. Bagaimana Anda bisa bangkit lagi?

 

Itu namanya enterpreneur yang baik, tentu harus punya integritas yang baik. Ya, kami membangun manajemen yang terbuka dan jujur. Semua utang kami yang begitu banyak kan dipakai untuk perusahaan, bukan untuk yang lain. Ya kita terangkan kepada bank, kemudian kita dialog, berunding, bagaimana agar bank bisa kasih discount dan kasih waktu yang lebih baik, angsur selama sekian tahun.

 

Nah itu integritas. Lalu jangan lupa minta berkah Tuhan, kita hidup dengan firman Tuhan menurut agama masing-masing. Tuhan ingin memberkati kehidupan sesuai dengan kehendak Dia. Makanya utamakan kejujuran, jangan melakukan penipuan, jangan melakukan dusta, jangan hidup percabulan, itu hindari semua.

 

Apa yang paling Anda hargai dari kepribadian manusia?

 

Integritasnya. Karena [integritas] itulah kunci segala-galanya. Sekali Anda melakukan penipuan akan tersebar kemana-mana, berita yang jelek disebarkan 10 kali, berita yang baik hanya lima kali. Itu menyia-nyiakan berkat Tuhan dan kejelekan itu akan tersebar kemana-mana. Anda tahu ucapan maupun lisan itu janji dan janji harus dipenuhi. Proyek kami misalnya, ada yang 10 tahun wajib kami selesaikan. Janji itu harus dipenuhi karena janji adalah utang.

 

Sebagai orang yang terlibat di properti, apa pendapat Anda soal kemacetan kota Jakarta?

 

Kalau Jakarta menjadi kota entrepreneur, kota properti, maka properti akan berkembang dengan pesat. Sehingga pembayaran pajak tanah dan bangunan itu dapat naik sekian kali lipat. Uang itu dipakai untuk membangun infrastruktur. Nah kota kita ini jauh dari kota properti, dari mana income [untuk membangun infrastruktur]? Coba, nah pertama musti ada income, baru kita dapat membangun. Mudah saja kalau ada income, misalnya kita bangun subway, hanya melalui subway dan elevated road bisa mengatasi Jakarta. Baik yang di atas maupun dalam tanah, nah itu kan perlu uang. Jadikan Jakarta itu [kota properti], undang investor, pembeli dari luar negeri. Pembeli dari luar negeri dia akan akan bawa uang. Dia akan kan bayar pajak.

 

Banyak orang yang mempersalahkan developer, termasuk Anda, karena salah satu penyebab banjir?

 

Pada waktu saya memulai perusahaan real estate ini, waktu itu kami disalahkan sebagai makelar tanah. Kepada pejabat, kami dapat buktikan bahwa real estate itu berguna, kita bukan makelar tanah, itu merupakan tantangan.

 

Kita buktikan berapa banyak pajak kita bayar, kalau kita menjadi kota properti, maka pendapatan akan naik 10 kali lipat dari kegiatan properti. Income ini bisa dipakai untuk membangun subway, kalau ada income dalam waktu lima tahun sudah bisa bangun subway. Sekarang dengan Rp1 triliun per km tanpa income, sampai kiamat tidak akan bisa [bangun subway]. Jakarta itu butuh subway 100 km. Maka kita semua ini harus menjadi entrepreneur. Entrepreneur itu macam-macam, sebut saja government, academician, pebisnis, society harus menjadi enterpreneur. Ini semua belum ke sana.

 

Masalah pembebasan tanah mempersulit pembangunan infrastruktur. Anda punya ide mengenai masalah ini?

 

Ikut saja seperti Malaysia. Pembebasan tanah itu sudah ada pembangunan, sudah ada peraturan pemerintah daerah, tapi tidak ada follow up. Bayangkan, hanya karena beberapa orang saja, seluruh daerah kacau balau.

 

Anda membangun banyak proyek di luar negeri padahal di dalam negeri masih banyak kebutuhan investasi. Tak khawatir dituduh kurang nasionalis?

 

Pemikiran itu yang harus ditinggalkan. Belum lama ini ada pertemuan Asean di Vietnam. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sempat melihat projek kami, yaitu Ciputra International Project. Rombongan itu bangga. Saya senang mereka bangga, mereka sebagian tinggal di Hotel Horizon yang kami bangun. Mereka juga bangga. Nah ketika kita mengundang orang luar negeri datang, apa karena mereka itu tidak nasionalis? Orang Malaysia investasi di sini, apakah mereka itu tidak nasionalis, atau orang Singapura, apakah mereka tidak nasionalis. Mereka cari laba dari sini, lalu laba dari sini bawa ke mana? Kan dibawa ke negeri masing-masing?

 

Nah, kenapa orang lebih suka dirikan perusahaan Singapura daripada di Indonesia, kita tinjau diri sendiri? Kenapa orang tidak suka, kenapa orang suka ke sana? Kalau kita tidak maju, tinjau diri kita sendiri dulu. Terus terang, kalau saya tidak maju, 90% saya salahkan diri saya sendiri.

 

Atau ada hambatan berbisnis di Indonesia?

 

Mindset, karakter, budaya. Itu watak, mental. Bukan karena penyakit kantong (kekurangan uang). Penyakit kantong juga akibat mental.

 

Anda juga punyak banyak proyek di Indonesia Timur?

 

Kami sekarang sedang survei di Kupang, Ambon sudah, sudah survei di Irian Jaya. Mungkin Ciputra Group tahun ini membangun lagi di beberapa kota, dikembangkan di Bali, Semarang, Jambi, Cirebon, Madiun, Irian Jaya. Juga ada di Kendari.

 

Sekarang ini Jakarta sudah jenuh, traffic sudah macet begini, kemudian di daerah ada otonomi. Jadi kami ke luar Jawa, luar kota Jakarta. Sedangkan luar negeri izin-izin lebih mudah, kita ke Singapura, Vietnam, Kamboja, India, RRC. Jadikan kebanggaan, masa dia [investor asing] cari uang di sini kita tidak cari uang ke sana. Saya kan punya rumah di sini, semua anak-anak itu tinggal di rumah sini, kalau ada pendapatan kan kita bawa ke sini.

 

Ada anggapan developer besar kurang konsen kepada perumahan rakyat?

 

Nah, saya kan punya Citra Indah dan Citra Raya. Satu di Bogor, satu di Tangerang. Tiap tahun saya bangun lebih dari 4.000 rumah yang harganya Rp55 juta. Siapa developer besar yang bangun sebanyak itu? Itu kan tidak kelihatan, kalau kita bangun di luar kota Jakarta. Tapi kita tidak masuk rusunami, kenapa? Karena peraturannya antardepartemen tidak sinkron. Lihat yang masuk rusunami sekarang jadi apa? Itu menuai masalah. Dia bikin, tapi jadi masalah. Lebih baik kita konsentrasi yang aturannya lebih gampang. Pengusaha untuk cari laba kan? Kalau bangun hanya memanen persoalan, kenapa Anda masuk?

 

Apakah itu artinya rumah murah adalah tugas pemerintah?

 

Memang tugas pemerintah. Makanya saya ketemu dengan Real Estat Indonesia pecahkan masalah tersebut. Hanya satu cara memecahkan dan ampuh sekali, membentuk dana perumahan. Pemerintah memberikan subsidi Rp3,5 triliun. Itu kan cuma kumur-kumur. Bagus, tapi lebih bagus lagi, kalau Rp100 triliun dana yang di Jamsostek itu sebagian buat subsidi perumahan. Oleh karena itu, harus dibentuk dana khusus buat perumahan yang dikumpulkan dari yang bersangkutan maupun dari perusahaan.

 

Ambil contoh di Singapura, 85% perumahan murah itu dibangun oleh dana perumahan yang dibentuk pemerintah. Modalnya dari karyawan dan dari perusahaan. Kalau itu dilakukan, kita punya itu kira-kira Rp25 triliun per tahun. RRC punya sistem yang sama, mereka berhasil, Moskow pun sudah punya sistem itu, kecuali kita.

 

Berarti kita paling terlambat?

 

Ya. Mental enterpreneur tidak ada.

 

Pengembang dituding lebih senang membangun perumahan mewah. Pendapat Anda?

 

Makanya begini, biarlah swasta membangun rumah mewah, artinya dia bayar pajak, pajak itu dipakai untuk membangun rumah yang murah. Kalau pengusaha membangun perumahan murah dari mana uangnya?

 

Ada juga anggapan banyak pengusaha sukses karena proyek pemerintah?

 

Itu nggak salah. Pengusaha kita harus dididik mencari peluang, proyek pemerintah itu mereka mencari peluang. Kita cipta peluang. Saya membangun Ancol untuk mencipta peluang, Jadi penting mencipta peluang.

 

Proyek Ancol disebut-sebut sebagian dibiayai dari uang judi?

 

Satu sen pun nggak ada.

 

Kalau ada judi di Indonesia seperti di Genting Island?

 

Genting Island kan judinya tidak masuk ke pulau itu, judinya gak masuk kepada pemerintah. Di Santosa, sudah berapa miliar dolar yang masuk ke situ? Ancol justru bayar dividen dan pajak. Saya sendiri bayar pajak dari 3 grup lebih dari Rp1 triliun per tahun dan mempekerjakan 5 ribu karyawan secara langsung dan secara tidak langsung menghidupi sekian ratus ribu manusia.

 

Anda kan berbisnis di banyak daerah, banyak yang bilang otonomi daerah malah menghambat bisnis di daerah itu?

 

Otonomi daerah saya setuju. Cuma sekarang dalam waktu peralihan. Dan akan muncul beberapa daerah yang maju dan daerah yang tidak maju akan mengambil contoh. Saya kira memang ini masih bayi, masih taman kanak-kanak. Nanti lima sampai sepuluh tahun lagi, lebih bagus lagi.

 

Ke depan, Ciputra tetap di properti atau mengincar bisnis lain?

 

Side business (bisnis sampingan) aja, seperti misalnya di komputer. Saya pemilik, pemegang saham terbesar di Metrodata. Ya itulah, tapi kita, anak-anak juga mulai melirik-lirik side business. Mudah-mudahan satu dua tahun akan muncul

 

Bisnis baru?

 

Begini, kita ingin bisnis spesial seperti McDonald. Dia kan ada di seluruh dunia, betul gak? Lupakan pertanyaan soal bisnis baru. Kita mau kembangkan properti ke seluruh dunia. Kami sedang mengerjakan proyek di Polandia, di RRC itu ratusan kota yang bisa dibangun, Malaysia pun kita merambah ke kota-kota kecil sekarang.

 

Jadi lebih go global?

 

Dan go global itu saja sudah bagus. Anda tahu perusahaan terbesar di Singapura itu apa? Orang terkaya Singapura siapa? Semua dari properti. Orang terkaya di Hong Kong siapa? Orang Jepang propertinya. Cuma kita kan durian runtuh, durian alam. Tujuan kita kan bukan menjadi terkaya, tujuan kita supaya bermanfaat buat masyarakat.

 

Anda selalu mengatakan bahwa membangun bukan pertama-tama dengan modal uang. Bagimana itu bisa dilakukan?

 

Modalnya enterpreneurship. Menurut saya, istilah enterpreneurship adalah kemampuan mengubah kotoran dan sampah menjadi emas. Jadi kalau Anda mempunyai kemampuan tersebut, tanah apapun serahkan kepada Anda, Anda bisa membuat menjadi emas. Dan kemampuan itu yang harus ada. Jadi kita bukan mencari peluang, kita mencipta peluang. Nah itu yang kami lakukan.

 

Bagaimana cara menjadi enterpreneur?

 

Kita harus melewati 3 front. Front pertama dari taman kanak-kanak sampai sekolah menengah, kemudian front kedua universitas, ketiga publik. Walikota Palembang, misalnya, akan mulai dari taman kanak-kanak sampai SMA, kemudian kami sudah mulai dengan Ditjen Dikti untuk perguruan tinggi. Sekarang [pelatihan bagi] umum juga sudah mulai dengan lembaga-lembaga yang ada.

 

Kami sudah melatih 2.000 orang dosen, ribuan guru-guru. Ini harus menjadi gerakan nasional. Jadikan abad ini abad enterpreneur buat Indonesia, anggap abad kebangkitan bangsa sudah abad yang lalu, sekarang abad enterpreneur. Saya bisa berkembang, karena saya enterpreneur. Yang lain, sudahlah. Umur saya 79 tahun, tinggal mengingat masa-masa lalu saja.

 

Apakah di usia begini masih terlibat langsung di bisnis?

 

Saya sebagai inspirator, sebagai motivator, dan sebagai mentor. Nah itu fungsi saya. Anak-anak di Ciputra Group, saya bagi tiga divisi. Sehingga mereka masing-masing memegang satu divisi. Suami istri memegang satu divisi, sedangkan pemilik sama semua. Demikian juga di Jaya Group dan Metropolitan Group mempunyai pemegang saham masing-masing sehingga mencegah conflict of interest.

 

Apakah ada satu dari putera Anda yang dipersiapkan menjadi putera mahkota?

 

Semua adalah putra mahkota dan mereka sekarang sudah memimpin divisi masing-masing dan ternyata berhasil sekali. Ada satu yang misalnya konsentrasi di Jakarta, satu di Jawa Timur, satu di luar negeri, jadi masing-masing mempunyai konsentrasi.

 

Apakah membedakan anak laki-laki dan anak perempuan ?

 

Saya tidak membedakan. Dan memang wanita itu karena punya suami yang aktif, dia menjadi semi housewife. Jadi saya punya anak lelaki yang full time, sementara anak perempuan saya sudah ada suami yang full time, sehingga tidak begitu aktif.

 

Bagaimana mereka dididik sehingga sekarang bisa memimpin unit-unit bisnis di grup?

 

Itu pertanyaan yang penting sekali. Dari mana mereka menjadi enterpreneur? Itu seperti anaknya Lulu (Lulu Terianto, Dirut PT Jurnalindo Aksara Grafika—yang ikut mendampingi wawancara)– dari kecil sudah diajak ke mana-mana. Tiap kali ambil keputusan, kita terangkan kepada dia. Misalnya kalau kita pergi ke toko, kita terangkan toko itu jual barang apa? Toko mana yang Anda suka? Kalau Anda buka toko, toko apa yang Anda mau pilih? Wah Anda lihat pemilik toko itu siapa pemiliknya.

 

Pada hari Sabtu-Minggu, saya ajak anak-anak misalnya ke Ancol. Biar mereka tahu tujuan saya membangun Ancol. Saya transferkan kepada mereka, bagaimana mengelolanya, bagaimana menarik orang datang kemari. Jadi dari kecil sudah ditanamkan the spirit of enterpreneur. Saya tanya kepada kalian, siapa mulai menerangkan tentang enterpreneurship kepada anak-anak. Mungkin tidak ada, karena karakter itu belum ada di budaya-budaya di sini, apalagi dari Jawa yang menganggap pengusaha pedagang itu strata rendah.

 

Coba tanya kepada mahasiswa di Andalas, kalau Anda tamat mau jadi apa? Saya kira 70% ingin menjadi pegawai negeri. Kalau di Jawa mungkin 95% ingin menjadi pegawai negeri. Di Jawa orang ingin abdi dalem, pamong praja. Tapi, itu kan dulu. Sekarang mulai berubah.

 

Saya melatih 28 orang di Universitas Gadjah Mada [Yogyakarta]. Enam kali saya terbang ke sana, enam kali saya biayai Rp900 juta lebih, sekarang 50% menjadi pengusaha yang sukses. Kita bisa. Tidak ada hubungan keberhasilan menjadi entrepreneur dengan etnis. Tidak, itu hanya hubungannya dengan passion.

 

Jadi Anda percaya bahwa sukses bisnis itu tidak berkaitan dengan etnis?

 

Tidak berkaitan, cuma ada yang punya bakat. Nah, ada 25% orang punya bakat, itu yang kita pilih, kita latih, jadi bukannya orang yang tidak punya passion dilatih, karena percuma. Nah bakat itu apa, Anda ingin menjadi pengusaha, Anda berusaha keras menjadi pengusaha, Anda percaya diri Anda bisa jadi pengusaha. Jadi enterpreneur itu ada yang namanya bakat. Kalau Anda mau tahu seorang yang punya bakat atau tidak, keinginan dia besar nggak? Mau kerja keras nggak? Punya confidence nggak? Nah ini yang namanya entrepreneurship.

 

Anda berminat mempersiapkan anak-anak ke politik?

 

Indonesia politiknya hebat, 350 tahun melawan penjajahan Belanda. Jadi waktu penjajahan Belanda, orang Indonesia gak bisa dagang. Tetapi politik hebat, apalagi politik lempar batu sembunyi tangan, itu nomor satu.

 

Jadi, kalau bisnis ke politik itu setback?

 

Saya kira setback, tetapi ada orang masuk politik untuk bisnis.

 

Pernahkah merasa gagal dalam menjalani bisnis?

 

Pasti adalah, tapi lupakanlah kegagalan [karena] saya gemar memperbaiki. Dan saya tidak menyesal saya masuk dalam bidang properti.

 

Pernahkah ada keputusan yang disesali?

 

Pasti ada, tapi bukan yang utamalah. Bahwa hidup itu yang kecil-kecil selalu ada. Itu bikin kita lebih baik.

 

Kesannya Anda berpandangan bahwa bisnis itu nggak butuh populis?

 

Tentu tidak perlu populer. Saya kalau menonjol ke publik itu dalam rangka public relations untuk mencapai tujuan perusahaan maupun tujuan tanggungjawab sosial. Jadi bukan untuk populer pribadi. Pengusaha makin populer makin susah.

 

Kesannya Anda sangat profit oriented.

 

Tentu, harus profit. Tetapi bukan cuma itu. Profit dalam rangka untuk dapat income, mencipta lapangan kerja, dan membayar pajak. Saya bangga saya membayar pajak lebih Rp1 triliun per tahun. Kalau tidak profit bagaimana bayar pajak, percuma saya cipta lapangan kerja.

 

Masih ada impian Anda yang belum kesampaian?

 

Masih banyak pegawai kita yang belum punya rumah. Tentu kalau di Singapura, sebagian gaji dikumpulkan, misalnya 15%, pengusaha 20%, untuk membeli rumah. Kita tidak perlu sampai seperti itu, paling tidak 5% dan 6%, yang penting uang terkumpul dan tidak habis untuk beli baju , consumer goods. Kita bisa pakai uang dengan lebih bijak.

 

Apa nasihat kepada para pebisnis baru?

 

Terus kembangkan kemampuan enterpreneurship, yaitu mencipta peluang. Kita melakukan terus perubahan, kreatif menciptakan yang baru. Anda lihat Nokia mundur karena apa? Sudah tidak ada yang baru dari dia. Kenapa Apple maju? Karena enterpreneurship.

 

Pada usia sedemikian ini Anda masih aktif di bisnis, juga masih banyak bepergian. Bagaimana menjaga kesehatan?

 

Itu persoalan terbesar sekarang, itu tantangan terbesar

 

Bagaimana caranya?

 

Terutama jalan-jalan. Hidup harus tahu kapan waktunya bekerja, kapan waktunya olahraga, kapan waktunya istirahat, begitu yang harus dijaga.

 

Siapa yang paling mendukung untuk kesuksesan Anda? Istri?

Tuhan.

sumber: http://www.bisnis.com/articles/ciputra-ini-abad-entrepreneur

Elang Gumilang, Miliarder Muda yang Sebelumnya Pernah Jatuh Bangun Mencoba Beragam Usaha

Satu lagi kisah sukses pengusaha muda. Di usia 22 tahun, Elang Gumilang telah jadi miliarder dari usaha penjualan tempat tinggal untuk kalangan bawah. Dia merintis kesuksesan dari tenaga pemasaran rumah dan berjualan aneka barang.

Adalah lumrah bila setiap orang bercita-cita memiliki rumah. Orang rela bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal berstatus milik sendiri kala sudah mandiri. Namun, tak semua orang beruntung bisa memiliki rumah sendiri. Di Indonesia, ada 70 juta orang atau 8,3 juta kepala keluarga yang belum memiliki rumah. Angka ini tiap tahun diprediksi bertambah 800.000 jiwa.

Kebutuhan itu membawa seorang pemuda bernama Elang Gumilang yang pada 6 April nanti genap berusia 27 tahun menjadi miliarder. Dengan jeli, dia menjadi pengembang perumahan yang khusus menyasar masyarakat berpenghasilan rendah, bahkan sebelum pemerintah membuat program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Kini, dengan bendera Elang Group, dia sudah membangun lebih 2.200 unit rumah di enam kompleks perumahan di Bogor dan Sukabumi, Jawa Barat. Omzetnya? “Tahun lalu, saya menjual sekitar 900 rumah. Kalikan saja kalau harga rata-rata rumah Rp 60 juta per unit,” kata Elang. Artinya, omzet Elang tahun 2011 itu Rp 54 miliar!

Jalinan sukses Elang tidaklah terwujud dengan mudah. Sulung dari tiga bersaudara ini mulai berbisnis sejak masih sekolah menengah atas (SMA). Dia sempat berjualan donat di beberapa sekolah dasar. Aktivitas ini terhenti karena dilarang orang tua.

Tapi, Elang tidak lantas berhenti bertindak. Ia menyalurkan bakat bisnis itu lewat pelbagai perlombaan wirausaha. Ia pernah menjuarai beberapa lomba dengan tema kemandirian. Keuletannya itu mengantarnya menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor (IPB).

Meski berstatus mahasiswa, jiwa bisnis Elang terus tumbuh. Dia pernah berdagang sepatu, lampu, dan minyak goreng. Bersama 12 kawannya, ia juga pernah membuka lembaga kursus bahasa Inggris.

Dari sekian ragam jenis usaha, Elang merasa, bisnisnya tak kunjung memberi hasil yang layak. Dia lantas berintrospeksi dan mendapati adanya rasa kurang bersyukur pada dirinya. Lalu, dia memperbanyak sedekah dan banyak merenung.

Terjun ke properti

Dari pengalaman menarik diri dan instrospeksi itu, Elang mendapat inspirasi untuk berbisnis properti. Dia sadar, bisnis ini tidak mudah dan membutuhkan modal besar. Tapi, tekad kuat untuk maju membuat Elang berani nekat. Pada 2005, dia ikut tender rehabilitasi sekolah dasar di Jakarta senilai Rp 160 juta dan menang.

Untuk ikut tender, Elang berutang ke bank. Status mahasiswa menyulitkannya mendapat kredit. Beruntung, ada kerabat dari salah satu sahabatnya yang mau menjamin. Alhasil, ia berhasil mendapatkan kredit tanpa agunan Rp 150 juta. Pada usia 20 tahun, ia harus membayar cicilan utang sebesar Rp 8,7 juta per bulan selama dua tahun!

Proyek itu tuntas. Tapi, beban utang membuat Elang harus jungkir-balik membayarnya. Untuk itu, dia menjadi tenaga pemasaran sebuah perusahaan properti di Bogor. Di sini, Elang tak menerima gaji bulanan, hanya komisi bila berhasil menjual rumah. Pekerjaan ini memberinya tambahan pengetahuan di bisnis properti.

Kiprah Elang di dunia properti berlanjut. Suatu saat, dia mendapat informasi soal tanah murah di Cinangneng, Bogor. Dari situ, dia tertarik membeli untuk menyulapnya menjadi kompleks perumahan murah. “Saya tergerak karena banyak orang kecil kesulitan membeli rumah,” ungkap Elang.

Lagi-lagi, modal menjadi kendala dan bank belum mau memberi kredit. Tak menyerah, Elang mengajak lima sahabatnya dan terkumpul modal usaha sebesar Rp 340 juta. Pada 2007, proyek pertama Elang Group yaitu Perumahan Griya Salak Endah, mulai dijual. Dengan cepat, 450 unit rumah seharga Rp 25 juta ludes terjual.

Proyek-proyek rumah murah Elang lainnya terus berlanjut. Yang jelas, walau rumah berbanderol murah, ia memastikan kualitas rumah tidak murahan. Tiap rumah memiliki dua kamar dengan rangka atap baja ringan. “Kuncinya mengatur pasokan bahan bangunan dan tenaga kerja,” katanya.

Pada awal 2011, Elang kembali membeli tanah murah di kawasan Lido, Sukabumi. Kali ini, dia mendapat pembiayaan dari bank. Tak tanggung-tanggung, nilainya Rp 25 miliar. Posisi utang itu sekarang tinggal Rp 12 miliar.

Ke depan, Elang terus berusaha mewujudkan konsep pemenuhan kebutuhan warga perumahannya yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Dia ingin tiap kompleks memiliki satu koperasi untuk mengurus usaha penyediaan air bersih, keamanan, pasar, dan sarana kesehatan. Hasil usaha ini kembali ke warga untuk biaya perawatan jalan, kegiatan sosial, atau bahkan menopang kredit macet di lingkungan itu. Konsep ini adalah upaya Elang untuk meningkatkan taraf hidup konsumennya. “Jangan sampai sudah rumahnya sederhana dan jauh, biaya hidupnya juga masih mahal,” tuturnya. (Arief Ardiansyah)

sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id/news/berawal-dari-tenaga-penjual-elang-kini-juragan/2012/02/01

Erik, Anak Menteri yang Juga Pernah Jatuh Bangun Jalani Bisnis

Menjadi seorang pengusaha tentu tidak mudah. Selain harus membangun dan mempertahankan usaha sendiri, juga dituntut harus memikirkan nasib kepala-kepala keluarga yang bekerja kepada perusahaan yang dimiliki pengusaha.

Adalah Ariful Yaqin Hidayat atau yang dikenal dengan nama Erik Hidayat, yang berani menjawab tantangan demi menjadi seorang pengusaha. Berawal dari motivasi yaitu uang, Erik terus berusaha untuk mendirikan sebuah perusahaan sendiri karena dirinya menganggap dengan mendirikan perusahaan sendiri, ide-ide yang ada dalam setiap diri manusia dapat tersalurkan dengan baik daripada bekerja untuk orang lain.

Selain itu, jiwa entrepreneur yang dimiliki Erik merupakan kolaborasi antara keturunan dan pengalaman usia remaja. Kala itu, Erik remaja selalu tertantang untuk dapat menghasilkan uang sendiri dari kreativitas yang dilakukannya sejak SMP sampai SMA.

“Kalau jadi pengusaha itu kita bisa berusaha lebih, waktunya juga tergantung kita sendiri. Lebih challenging menjadi pengusaha daripada kita bekerja di tempat lain dan semua ide-ide kreatif kita pun menjadi sangat real ketika jadi pengusaha,” ungkapnya ketika berbincang dengan okezone, beberapa waktu lalu.

Awalnya, bapak dua anak ini mulai merintis usahanya dibidang properti. Jatuh bangun dalam merintis usaha pun dirasakannya. Saat terjadi krisis moneter di Indonesia beberapa tahun silam, usaha properti miliknya sempat terkena imbas, bahkan perusahaanya pun sempat tidak jalan.

Akan tetapi dengan semangat dan keyakinan bahwa dirinya mampu bangkit kembali dan keinginan untuk menyelamatkan pegawai-pegawainya agar tidak terkena PHK, membuat Erik terus berusaha mencari peluang usaha dibidang lain di luar properti.

“Saya juga pernah down pada saat krisis. Perusahaan kita turun banget, artinya kita sedang memulai perusahaan properti dan utang kita juga banyak di bank, membuat perusahaan kita tidak jalan. Akan tetapi ada satu spirit yang kita dapatkan dari kesulitan tersebut. Spirit untuk tidak memecat pegawai-pegawai kita dan itu spirit yang kita inginkan sejak dulu,” paparnya.

“Kita pun melihat peluang-peluang lain, selain di properti. Maka kita pun mulai merambah ke bidang energi, ke dunia pendidikan dan di situ kita berhasil bangkit meskipun dengan jarak waktu yang lama, kita bisa men-driver perusahaan-perusahaan kita dibidang yang lain,” tambah Erik.

Buah usaha Erik untuk bertahan pun tidak percuma. Saat ini, pria kelahiran Jakarta, 28 Januari 1974 itu pun mengelola beberapa usaha di antaranya properti berupa real estate developer yaitu Itasia Birunusa di Jatinangor, Bandung, lalu Sentosa Birunusa di Bekasi Timur, dan PT Graha Niaga Tower, Management Building & Property.

Lalu dalam bidang energi dan infrastruktur, putra kedua Menteri Perindustrian MS Hidayat ini juga mengelola Mitra Selaras Hutama (MSH) Energy Power Plant Poiton 2, dengan kapasitas 2×600 MW, di Probolinggo. Kemudian di bidang Agro Industri, mengelola MSH Agro (Mitra Sentosa Utama) bidang pertanian, pengembangan pertanian labu Jepang untuk ekspor.

Selanjutnya, dalam dunia pendidikan, pria yang mempunyai hobi bulu tangkis dan futsal ini juga mendirikan Yayasan Nur Fitriah, Al Azhar di Kota Legenda, Bekasi Timur.

Melihat berbagai peluang usaha yang masih banyak, ke depannya Erik yang pernah mencalonkan diri untuk menjadi Calon Ketua Hipmi ini pun akan merambah usaha lain yaitu dibidang pertambangan dan perkebunan. Bahkan dirinya pun tidak menutup kemungkinan bahwa suatu saat nanti salah satu perusahaannya akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui mekanisme penawaran saham umum perdana atau initial public offering (IPO).

Di balik keberhasilannya hingga saat, pria lulusan Webster University Regents College London, Inggris ini pun tidak memungkiri bahwa peran keluarga sangatlah penting. Motivasi utama Erik dalam merintis usaha pun untuk keluarga tercinta.

“Peran keluarga sangat sentral sekali. Ketika keluar rumah pun ada izin dari kelaurga dan apa-apa yang kita kerjakan buat keluarga juga dan komunikasi yang kita jalani bersama istri  dan keluarga menjadi motivasi tersendiri dan itu  sangat penting bagi saya,” jelas Erik.

Tip Menjadi Pengusaha

Dengan pengalamannya tersebut, Erik pun memberikan tip kepada pembaca bagaimana menjadi pengusaha, di antaranya adalah dengan berani jatuh. Menurutnya dengan berani jatuh, seseorang dapat belajar dari kejatuhannya tersebut sehingga akan lebih kuat menghadapi tantangan di era globalisasi mendatang.

“Tip saya untuk Anda yang ingin menjadi pengusaha mudah saja. Harus pantang menyerah, berani jatuh lalu membuat jaringan yang seluas-luasnya dan stay focus,” pungkasnya. (nia)
(ade) R Ghita Intan Permatasari – Okezone

sumber: http://economy.okezone.com/read/2011/11/13/22/528745/erik-hidayat-anak-menteri-pun-jatuh-bangun-jalani-bisnis

Dari Karyawan, Arnawa Kini Sukses Menjadi Entrepreneur Dengan 500 Karyawan

Dari seorang karyawan, I Putu Arnawa bermetamorfosis menjadi entrepreneur dengan 500 karyawan. Bisnisnya terpancak di setiap jengkal Bandara Ngurah Rai. Juga di Nusa Dua, Sanur dan Kuta. Bagaimana ia mengawali?

Langit kemerahan dengan sapuan arakan awan merona jingga ditelan ufuk barat saat kaki menjejak di Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Menyusuri selasar yang dipenuhi deretan gerai handycraft dan riuh orang-orang berkulit putih dengan mata biru dan rambut pirang kemerahan, pandangan mata menangkap beberapa gerai dengan nama yang sama. Prada Reflexology dan Prada Priority Restaurant dijumpai di hampir setiap gate, mulai dari Gate 1, 2, 3, sampai Gate 10 area kedatangan internasional Ngurah Rai. “Tujuh gerai Prada Reflexology, 6 restoran Prada, dan dua executive lounge.” Mengeja dan menyimpan dalam hati temuan mata yang membersitkan tanya, siapa pemiliknya?

Sosok bertubuh tegap dengan penampilan yang cukup kasual itu menjabat erat tangan kami. “Putu Arnawa,” katanya. Senyum hangatnya menebarkan keramahan. Sore itu, di Prada Priority Lounge, salah satu ruang tunggu eksklusif miliknya yang terletak di lantai bawah Bandara Ngurah Rai, Putu Arnawa yang akrab disapa Arnawa membagi cerita pergulatannya membangun bisnis. Di bawah payung PT Nu Prasada, saat ini ia memiliki puluhan gerai refleksologi, executive lounge, resto, spa, minimarket, ruko, vila butik, sampai hotel.

Bisnisnya tak hanya berserak di Bandara Internasional Ngurah Rai, tetapi tersebar di kawasan Kuta dan Nusa Dua. Di kawasan bergengsi Bali Collection Nusa Dua, jejak bisnis Arnawa terpancak megah. Selain ada empat resto dan empat gerai refleksologi, yang paling mencolok pandangan adalah keberadaan Prada Concept Store yang menyediakan aneka wine, cokelat, rokok dan camilan.

Arnawa juga ikut menggerakkan bisnis di Sanur. Di pusat bisnis Pulau Dewata ini, Arnawa merambah bidang properti dengan ruko dan vila. Prada Executive Villa yang mengusung konsep vila butik, baru diluncurkan awal tahun ini. Ada 10 unit dengan masing-masing luas 500 m2. Di setiap unit terdiri dari empat kamar utama, ruang tamu, dapur, dan kolam renang dengan full furnishing. “Seperti layaknya hunian, penyewa tinggal masuk,” kata Arnawa. Setiap unit vila disewakan minimum dua tahun dengan harga Rp 500 juta/tahun/unit. “Yang menyewa para ekspatriat dan sudah terisi semua,” kata Arnawa semringah. Setali tiga uang, 9 ruko yang dimiliki Arnawa di Sunset Road sudah terisi penyewa yang rata-rata perusahaan besar, seperti bank dan biro travel.

Bisnis supermarket dijalankan Arnawa di Kuta. Ia juga tengah ancang-ancang membangun hotel dengan 100-an kamar di Kuta, kawasan yang menjadi poros wisatawan domestik dan mancanegara. “Sedang mengurus perizinannya. Targetnya akhir tahun ini sudah mulai pembangunan,” kata Arnawa seraya menambahkan, hotel dengan konsep sama juga akan dibangun di Nusa Dua. “Konsepnya hotel butik, jadi lumayan mewah.”

Sejatinya, di panggung bisnis Pulau Dewata, Arnawa boleh dibilang pemain baru. Tahun 2001, Arnawa menceburkan diri ke gelanggang bisnis. Debut awalnya adalah gerai refleksologi di area kedatangan internasional Bandara Ngurah Rai. Waktu itu, ia masih tercatat sebagai manajer di sebuah lounge – satu-satunya ketika itu – di Bandara Ngurah Rai. Saat Arnawa bergabung, lounge tersebut tengah limbung. Tugas Arnawa menggeliatkan kembali bisnis lounge yang salah satu pemiliknya adalah Aerowisata. Sebelumnya, ia bekerja sebagai staf ground handling di Singapore Airlines dan Cathay Pacific.

Berbagai terobosan kemudian dilakukan Arnawa yang sempat mengikuti pelatihan bisnis lounge di berbagai bandara di belahan bumi lain. Salah satu terobosannya, menghadirkan fasilitas refleksologi untuk para tamu lounge yang kemudian disusul dengan layanan massage. “Kami yang pertama menawarkan fasilitas layanan refleksologi ini,” ungkapnya. Fasilitas anyar itu disambut antusias para tamu, terutama tamu dari Jepang. Standar higienitas di lounge, termasuk prosedur dan penyiapan makanan, ditingkatkan sesuai dengan standar internasional. Kerja sama dengan maskapai pun ditingkatkan. Berbagai upaya tersebut mampu menaikkan kembali pamor ruang tunggu eksklusif itu.

Seiring lounge yang dikomandaninya menggeliat kembali, ia tergelitik untuk membuka refleksologi di luar lounge tetapi masih di area bandara. Pertimbangannya, pasar yang dibidik lebih luas, tidak terbatas seperti di lounge yang hanya mengandalkan penumpang kelas bisnis. Waktu itu, dengan modal tabungan seadanya, ia memberanikan diri membuka gerai refleksologi pertama di bandara. Ia memulai dengan tempat yang kecil, sekitar 4 x 6 m2 dengan empat kursi dan lima karyawan. Prada Reflexology yang dibesut Arnawa ternyata dibanjiri pengunjung. Padahal, harga yang dibanderol cukup mahal, Rp 100 ribu untuk 30 menit.

Bagi Arnawa, keberhasilan itu sebuah awal yang bagus. Ia kemudian tergerak untuk menambah gerai lagi. Di bawah bendera UD Prasada, ia menambah gerai refleksologi di kawasan yang sama. Lagi, Dewi Fortuna memeluknya. Penambahan gerai justru makin memperbesar pasar. Gerai refleksologinya selalu penuh.

Intuisi bisnisnya kemudian mengendus peluang di bisnis food & beverages. Dari perbincanagn dengan tamu-tamu di gerai refleksologi, ia melihat ada peluang mengembangkan usaha resto dengan suguhan menu internasional. “Waktu itu memang belum ada restoran dengan konsep internasional,” katanya. Lagi-lagi, dengan modal yang dikumpulkan dari usaha refleksologi, ia membangun Prada Priority Restaurant di Gate 1 dan 2. Kapasitas resto yang mampu menampung 40-50 kursi itu juga mendapat respons positif dari pengunjung, terutama para ekspat.

Keberhasilan itu melecut Arnawa untuk fokus mengembangkan bisnis. Ia kemudian memilih keluar dari tempatnya bekerja. “Tidak enak juga mengurusi bisnis tapi masih bekerja di tempat lain,” katanya. Keberanian untuk keluar dari comfort zone, bagi Arnawa, adalah pilihan yang bukan tanpa risiko. Toh, itu harus diambilnya. “Waktu itu saya sudah mantap melangkah memasuki dunia usaha,” katanya. Bagi Arnawa, keberhasilan tidak akan bisa diraih kalau tidak berani melakukan perubahan.

Pilihannya tidak keliru. Dengan fokus pada usaha refleksologi dan resto, bisnisnya terus berkembang. Tahun 2005, status hukum usahanya ditingkatkan menjadi PT dengan nama PT Nu Prasada. Seiring perubahan status hukum, gerai refleksologinya terus bertambah. Ia juga membuka lagi resto di pintu keberangkatan 7 dan 8. Setiap ada peluang, ia menambah lagi gerai refleksologi dan resto. Padahal, mencari tempat di area tunggu keberangkatan internasional itu tidak gampang. “Hunting tempat di bandara itu tidak gampang. Apalagi, kami pemain baru,” ungkapnya.

Toh, kendala tersebut tak menyurutkan langkah Arnawa untuk “menguasai” setiap jengkal tempat di bandara. Bahkan, ketika pihak Angkasa Pura menawarkan pengelolaan lounge yang ditinggalkan pemiliknya karena pindah lokasi, Arnawa tak menyia-nyiakan kesempatan itu. “Awalnya, jujur saya tidak berani karena tempatnya luas sekali, lebih dari 350 m2,” ceritanya. Namun, setelah dipertimbangkan dengan saksama, ia pun menerima tawaran Angkasa Pura untuk mengelola lounge yang notabene tempat dulu ia merentas karier. “Saya sudah pernah mengelola lounge dan berhasil. Sebelum saya ambil, saya beri tahu teman-teman di airlines kalau saya akan punya lounge sendiri,” katanya sambil tertawa.

Diakui Arnawa, ketika memasuki bisnis lounge, tantangannya luar biasa. Meski ia sudah paham seluk-beluk dunia lounge, ia tetap nervous. Pasalnya, saat ini ia adalah pemilik. Investasi yang dikucurkan pun tidak sedikit. Waktu itu sekitar Rp 200 juta untuk membenahi interior saja. “Belum termasuk sewa tempat karena waktu itu saya dapat keringanan bisa dicicil. Ini juga yang jadi pertimbangan saya akhirnya bersedia mengambil lounge ini,” ungkapnya.

Tahun 1998-2001, di lounge itu ia sebagai manajer dan tahun 2005, ia sebagai pemilik. Tahun-tahun berikutnya, bisnisnya terus menggelinding, bahkan keluar bandara. Selain mengembangkan gerai refleksologi dan resto, ia merambah bisnis spa, supermarket dan properti. Perjalanan metamorfosis dari seorang karyawan menjadi entrepreneur sukses di genggamannya. “Saya selalu meyakinkan diri saya bahwa setiap usaha kalau dijalankan dengan sungguh-sungguh akan berhasil. Tentu keberhasilan ini juga berkat campur tangan Tuhan,” tuturnya.

Bagaimana bisnisnya bisa menggelembung? Arnawa adalah pengusaha yang sangat memahami bahwa bisnis adalah dunia kompetisi. Menurutnya, persaingan di dunia bisnis tidak bisa dielakkan. “Jangan takut terhadap persaingan bisnis, jalani bisnis dengan baik dan penuh perhitungan,” imbuhnya. Untuk menjadi pemenang, jurus yang dilakukannya adalah memberikan yang terbaik. A small step is part of a giant step, so do what ever you can do and give it your best. “Lakukan yang terbaik dan harus lebih setingkat bahkan beberapa tingkat dari yang sudah ada,” kelahiran Mengwi, Kabupaten Badung 14 Juli 1972 ini menandaskan.

Arnawa memang tidak mau setengah-setengah dalam menjalankan setiap ladang bisnis yang dimasukinya. “Harus something different. Kalau mau bikin yang besar ya besar sekalian, jangan tanggung-tanggung atau jangan sekalian,” ungkapnya. Dalam menjalankan setiap unit bisnisnya, lanjutnya, harus memberi pembeda dari pemain yang sudah lebih dulu hadir.

Berbekal prinsip tersebut, Arnawa memasuki setiap bisnisnya dengan menawarkan nuansa berbeda, yang pastinya tidak dimiliki pesaingnya. Refleksologi, misalnya. Sebagai pionir, ia tahu langkahnya akan banyak ditiru orang. Terbukti, di bandara sekarang ini puluhan gerai yang menawarkan refleksi dan pijat menjamur. Toh, Prada masih yang terdepan. Dengan keluwesan dan keramahan para terapis yang siap memanjakan tubuh, ditambah interior yang dibuat nyaman, membuat Prada Reflexology dengan tarif di kisaran Rp 80-140 ribu itu tak pernah sepi pengunjung. Apalagi, layanannya ditambah manikur dan pedikur.

Untuk resto pun begitu. Paduan menu, interior, dan pelayanan yang prima mengantarkan Prada Priority Restaurant selalu dijadikan pilihan bersantap, seperti restonya di Nusa Dua. Resto-resto milik Arnawa menyuguhkan atmosfer yang berbeda. Ada live music dengan jenis musik yang berbeda disuguhkan menemani para tamu bersantap. Ini tak ada di resto lain di kawaasan tersebut. Bagaimana dengan lounge? Tak seperti dua lounge lainnya di Bandara Ngurah Rai, Prada Lounge menjalin kerja sama dengan semua airlines. Bukan hanya penumpang kelas bisnis, semua segmen mendapat tempat di Prada Lounge. “Tinggal menunjukkan kartu kredit Gold saja,” katanya. Dengan membuka pintu lebar-lebar, pasar Prada Lounge otomatis semakin terbuka lebar.

Menurut Sumber SWA di Premier Lounge Bandara Ngurah Rai, meski boleh dibilang pemain baru, Prada Lounge cepat berkembang dan berhasil menarik pengunjung. Keberhasilan Prada Lounge, menurut sumber yang tidak mau disebutkan namanya itu, karena Arnawa sebagai pemilik menguasai detail bisnis lounge. “Beliau lama bekerja di lounge sehingga sangat paham bagaimana menjalankan bisnis lounge,” ungkapnya. Ia juga melihat Prada Reflexology tetap merajai di bisnisnya meski saat ini bermunculan pemain baru di bisnis refleksologi di bandara. “Karena dia pionir, mereknya sudah kuat, jadi tetap yang terdepan,” katanya.

Sementara di mata Nakrowi dari Garuda Indonesia (Bali), keberhasilan Arnawa karena ia fokus dalam mengembangkan bisnis. “Ia fokus di bisnis yang digelutinya,” ungkap pria yang akrab disapa Rowi ini. Menurutnya, Arnawa juga memiliki relationship yang bagus dengan semua maskapai yang singgah di Ngurah Rai. Karena lama bekerja di ground handling dan lounge, tambahnya, Arnawa memiliki jejaring yang luas di kalangan maskapai.

Keberhasilan Arnawa adalah akumulasi dari semangat, kerja keras, kreativitas, dan jejaring yang luas di ranah airlines. Dalam rentang sedasawarsa, bisnisnya menggurita. Memulai bisnis pada 2001 dengan lima karyawan, sekarang ia mengayomi hampir 500 karyawan. “Tantangannya juga tidak kecil,” kata ayah satu putra dan dua putri, yang aktif di organisasi kemasyarakatan ini.

Sewaktu membangun resto di Gate 7 dan 8, misalnya, restonya sempat terseok-seok. Pasalnya, itu pintu terakhir menuju pesawat. Untunglah, waktu itu ada airlines yang kerap delay sehingga memerlukan layanan untuk para penumpangnya. Awalnya hanya snack, kemudian makan. Sampai akhirnya semua maskapai menjalin kerja sama untuk urusan layanan penumpang karena delay.

Setelah 10 tahun berkiprah di dunia bisnis, Arnawa yang sewaktu kecil bercita-cita menjadi pramuwisata, dikenal sebagai pengusaha bertangan dingin dengan kepemimpinan yang kuat. “Beliau orangnya tegas, disiplin dalam urusan kerja meski hubungan dengan karyawannya dibangun dengan rasa kekeluargaan,” ungkap seorang karyawan yang tak mau disebut jatidirinya. Di matamya, sang bos yang lulusan Politeknik Pariwisata ini seorang pekerja keras dan taat beribadah. “Beliau orangnya baik dan rajin beribadah,” imbuhnya.

Jalan hidup telah mengantarkan Arnawa pada pencapaiannya saat ini. Ia meraihnya berkat keberaniannya meninggalkan zona amannya sebagai karyawan. “Bisnis ini jiwa saya, banyak mimpi yang ingin saya raih lewat bisnis ini,” ungkap Arnawa.

Ke mana lagi kepak sayap bisnisnya akan mengembang? Akankah ke luar Pulau Dewata? “Saya terlalu sederhana berpikir, saya belum tertarik untuk ekspansi ke luar Bali. Kalau mau, ya sekalian ke luar negeri,” ujarnya. Ia menilai Bali masih memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. “Saya akan tetap di Bali. Selain masih banyak peluang yang bisa dikembangkan, akan lebih mudah juga memonitornya,” ungkap suami N. L. Parwati ini. “Saya berangkat dari orang operasional. Jadi, kalau tidak lihat operasional, sepertinya ada yang kurang,” imbuhnya.

Ke depan, seiring perluasan Terminal Internasional Ngurah Rai, ia tengah berancang-ancang membuka lounge dan duty free. “Mungkin mengawali dengan wine dulu,” kata Arnawa yang baru saja menggenggam izin sebagai distributor wine untuk area Bali. “Supaya duty free yang sekarang ada lawannya,” katanya sambil tertawa.

BOKS:

Tip Sukses Ala Arnawa

  • Menguasai best practice bisnis lounge.

  • Fokus pada bisnis yang digeluti.

  • Jejaring yang luas dengan semua airlines yang beroperasi di Bandara Ngurah Rai.

  • Selalu menjadi yang terdepan di bisnisnya

(oleh : Henni T. Soelaeman)

sumber: http://swa.co.id/2011/12/%e2%80%9cpenguasa%e2%80%9d-ngurah-rai/

Pernah Bangkrut dan Punya Utang Rp 62 M, Kini Bangkit dan Punya 3000 Karyawan

Kebangkrutan bisnis alat berat yang menyisakan utang Rp 62 miliar justru menjadi titik balik kebangkitan Heppy Trenggono merintis bisnis baru dengan 12 perusahaan dan 3.000 karyawan. Bagaimana bisa?

Dulu, tiap hari selalu tampak sejumlah lelaki berbadan tegap hilir mudik di kantor PT Balimuda Persada. Wajah-wajah garang itu datang silih berganti ke lokasi perusahaan milik Heppy Trenggono itu beroperasi. Mereka adalah para debt collector yang menagih utang perusahaan alat berat tersebut senilai Rp 62 miliar. “Itu kejadian sekitar enam tahun silam. Jumlah utang saya melebihi aset perusahaan,” ujar Heppy tentang masa sulitnya tahun 2005. Kini, Heppy adalah bos Grup Balimuda yang membawahkan 12 anak perusahaan dengan 3.000 pegawai.

Diakui Heppy, kegagalannya saat itu berawal dari ambisi ingin kelihatan sukses. Untuk mencapai mimpinya, pria kelahiran 20 April 1967 ini nekat melakukan sesuatu di luar kemampuan: ekspansi besar-besaran tanpa kalkulasi bisnis dan prospeknya. Keberanian ini dipicu oleh kondisi bisnis Balimuda yang berkembang terlalu cepat dibandingkan rata-rata perusahaan lain. Pihaknya berani menyanggupi pekerjaan yang nyatanya tidak mampu digarap dan nilai proyeknya melampaui kapasitas finansial perusahaan.

 Cepat membesar, cepat terkapar. Kalimat itu cocok menggambarkan betapa rentannya bisnis Balimuda yang dibesut Heppy pada 2002. Dia terpincut terjun ke bisnis alat berat lantaran ingin mengikuti jejak sang kakak yang lebih dulu sukses. Maka, sembilan tahun lalu Heppy yang kala itu masih menjabat Direktur Teknik Lativi mengibarkan bendera PT Balimuda Persada. Baginya, dunia alat berat bukan hal asing. Apalagi, dia pernah bekerja sebagai Programmer Analyst di PT United Tractors selama lima tahun. Dengan pengalamannya itulah, dia berani memutuskan bekerja sambil berwirausaha.

Mula-mula Balimuda menangani proyek pembukaan lahan (land clearing) perkebunan sawit, yaitu menjadi subkontraktor beberapa perusahaan, seperti Pradiksi dari Malaysia. Adapun proyek pertama bukan-subkontraktor adalah proyek dari Gudang Garam yang ingin membuka lahan di Kalimantan Timur pada akhir 2002. Proyek itu didapat dengan susah payah. Kebetulan, intuisi bisnis Heppy tajam, sehingga dia mampu mencium peluang dari perusahaan rokok itu yang hendak buka lahan sawit. Dia pun jemput bola dengan mendatangi kantor Gudang Garam dari pagi hingga sore.

 Untuk menjalankan proyek Balimuda kala itu, tidak dibutuhkan dana besar. Dia hanya memutar uang untuk menggarap proyek dari klien. Pasalnya, lulusan Manajemen Informatika dari Universitas Gunadarma ini sudah mendapatkan kredit usaha dari Bank Niaga sebesar 80% dari total nilai proyek. Sementara untuk pengadaan alat berat, dia mencicil dari United Tractors. Uang muka 20%, sisanya diangsur selama 12 bulan. Begitu seterusnya, sampai suatu ketika Heppy yakin untuk serius menggeluti bisnisnya dan meninggalkan kursi empuk di Lativi (kini TV One).

 Ya, Dewi Fortuna masih berpihak pada Heppy. Nama Balimuda kian melambung dan banyak perusahaan yang meliriknya. Celakanya, “Di situlah agaknya awal kehancuran bisnis saya,” katanya mengenang dengan raut wajah sedih. Waktu itu, dia betul-betul terlena dengan pinjaman usaha dan tak mampu mengontrol diri. Ekspansinya kebablasan dengan menambah banyak alat berat, sehingga dia tidak mampu bayar utang. Bahkan, semua hartanya terkuras habis. Karyawan sebanyak 400 orang pun bubar, sebelum dilakukan pemecatan. “Mereka (karyawan) pergi membawa aset perusahaan yang ada,” ucap anak ke-3 dari 8 bersaudara ini. Dia mengaku tidak bisa berbuat apa-apa lantaran tak mampu menggaji pegawainya. Yang bisa dia lakukan saat itu cuma memohon perpanjangn tempo pembayaran utang kepada para kreditor.

 Heppy mengaku memetik pelajaran berharga dari pengalaman buruknya. “Saya mulai sadar bahwa nafsu untuk kelihatan sukses justru akan membuat diri sendiri terpuruk,” ungkap ayah empat anak ini. Pascajatuh, Heppy tidak berlarut-larut meratapi diri. Berawal dari kebangkrutan, dia ingin membuktikan bisa bangkit dan melesat kembali.

Lantas, apa yang dia lakukan?

 Langkah pertama yang diayunnya adalah mengubah haluan bisnis. Dia kapok menggumuli bisnis alat berat. Nah, agar tetap bisa menghidupi keluarganya, Heppy tidak malu menjadi broker bagi perusahaan yang akan terjun ke bisnis kelapa sawit. “Sebab, pekerjaan inilah yang paling memungkinkan dan risikonya kecil,” ujar pengusaha yang juga dikenal sebagai ustadz ini.

 Saat menjadi broker, Heppy mengandalkan jaringan lama yang masih percaya pada dirinya. Dia juga memperluas pergaulan hingga ke mancanegara. Sebagai perantara, tugasnya hanya mencarikan lahan sawit bagi investor. Atau, mempertemukan investor dan pengusaha yang bergerak di bidang sawit. Perlahan tetapi pasti, Heppy mampu membeli lahan sawit sembari melunasi tumpukan utangnya.

Tidak hanya itu, siapa sangka kini Heppy bersama mitra bisnisnya sudah memiliki 80 ribu hektare lahan kelapa sawit yang tersebar di beberapa daerah di Kal-Tim dan Sumatera. Tidak tanggung-tanggung, total investasinya hingga sekarang Rp 4 triliun.

 Makin lama bisnis broker kelapa sawit Heppy kian bersinar. Lelaki asal Desa Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, ini mendapat banyak mitra dari investor asing. Saat ini, Balimuda bersinergi bisnis dengan IGM Corp, Bless Resource, plus NBC. “Sebenarnya, masih banyak lagi,” katanya tanpa merinci nama perusahaan yang menaungi kerja sama itu. Yang jelas, anak perusahaan perkebunan itu antara lain PT Sinergi Agro Industri, PT Indonesia Plantation Synergi, PT Prima Alumga, PT Borneo Indo Subur, PT Prasetia Utama dan PT Buana Mudantara.

 Heppy mengaku, model bisnis kelapa sawitnya belum sampai ke tahap pengolahan. Malah, boleh dibilang, tidak sampai ke tahap panen. Kegiatan bisnisnya cenderung membeli lahan, baik yang masih kosong, siap tanam, maupun sudah ditanami. Kemudian, lahan tersebut dia kelola melalui berbagai anak perusahaan. Setelah itu, lahan dijual lagi pada umur tertentu. Nah, profit didapat dari selisih harga jual tersebut. “Kalau lahan sawit itu, makin tua kian mahal. Apalagi, jika bibitnya bagus, sehingga umur tiga tahun bisa memetik hasilnya,” kata Heppy yang enggan membeberkan omsetnya. Yang pasti, bisnis perkebunan itu memberi kontribusi pendapatan terbesar di Grup Balimuda.

 Tidak puas hanya menggenggam bisnis perkebunan, selanjutnya bidang produk konsumer pun disergap Heppy. Bisnis baru ini dipayungi Heppyfoods yang membawahkan PT Balimuda Food dan PT Industri Pangan Indonesia yang didirikan tahun 2006. Meski belum setenar perusahaan produk konsumer besar, produk Heppyfoods yang pabriknya berada di BSD City Tangerang mampu menyeruak di pasaran. Salah satu produknya adalah bubur instan berbahan kentang dengan merek Potayo. Dia mengklaim, produk ini menjadi pionir dan pemimpin pasar. Betul, secara brand awareness, Potayo belum terkenal karena Heppy sengaja tidak membuka jalur promosi, apalagi beriklan di media massa. Pasalnya, strategi penjualan yang dilancarkan langsung ke end user.

 Kendati demikian, jangan anggap enteng distribusi Potayo. Heppy justru langsung mengambil jalur modern channel seperti Carrefour dan Hero. Jadi, meski iklannya belum nongol di televisi, produk Potayo sudah menyebar ke seluruh wilayah Indonesia. Selain Potayo, belakangan dia juga memproduksi health coffee dengan merek Cordova. Produk anyar ini baru dirilis ke pasar dengan menyasar konsumen langsung, alias belum memakai jalur distributor.

 Handito Hadi Joewono memberikan aplausterhadap inovasi Potayo. “Heppyfoods punya peluang menjadi penguasa di pasar yang diciptakannya tersebut. Tapi, kalau tidak mau promosi gara-gara takut persaingan, itu berbahaya. Sebab, justru persaingan inilah potensi untuk tumbuh besar. Kuncinya, grow or die. Kalau tidak mau persaingan, justru nanti mati sendiri,” kata Chief Strategy Consultant & President Arrbeyitu. Menurutnya, jangan takut membangunkan macan tidur. Kalau tidak, malah bisnisnya akan kecil terus. Nah, untuk mengantisipasinya, dia menyarankan strategi menahan pertumbuhan kompetitor dengan menguasai daerah-daerah tertentu, jadi bukan head-on.

 Sekarang, di bawah United Balimuda Corp ada 12 perusahaan milik Heppy. Ini adalah buah dari kerja keras dan kegigihannya dalam berbisnis. Heppy sudah mandiri sejak ibunya wafat saat dia masih duduk di kelas III SD.

Aswandi As’an juga tidak meragukan sikap pantang menyerah bosnya. ”Beliau tidak ambisius, tetapi mampu mengerjakan apa yang ada dengan banyak relasi di dalam dan luar negeri,” kata staf Hubungan Eksternal United Balimuda Corp itu.

 Heppy mempekerjakan lebih dari 3.000 orang dengan sistem kekeluargaan. Dia cenderung ingin membangun karakter karyawan ketimbang menerapkan target yang muluk-muluk. “Memang target itu penting. Tapi, saya tidak pernah marah jika target tidak tercapai,” kata Presiden Direktur United Balimuda Corp ini tentang alasan sistem pengelolaan karyawannya. Yang bisa menyulut kemarahan Heppy justru ketika karyawan tidak bisa menerapkan falsafah “Inspiring and giving the world”. Prinsip inilah yang terus ditanamkan pada karyawan Balimuda. Dan perwujudannya, membentuk karyawan yang berkarakter dan berintegritas tinggi.

 Gaya leadership Heppy adalah keteladanan. Dia ingin menunjukkan bagaimana hidup secara benar kepada bawahan. Misalnya, soal kejujuran, dia selalu terbuka soal pengeluaran perusahaan. Ini dimaksudkan agar karyawan tidak berlaku culas ketika diberi tanggung jawab. Contoh lain? Untuk mewujudkan perusahaan yang menginspirasi, secara berkala dia melibatkan masyarakat sekitar kantor yang berada di Jl. Mampang Prapatan XIV/99, Jakarta Selatan, untuk beraktivitas. Heppy pun tiap hari memberikan sarapan kepada kaum dhuafa di sekitar rumahnya di Jl. Mampang Prapatan X. “Kita jangan sejahtera sendirian, tapi juga lingkungan sekitar,” ujar Heppy tentang sikap filantropinya. Untuk memberi contoh kehidupan berkeluarga, tak jarang anak-anak Heppy juga diajak menyambangi kantor. Bila umumnya istri pengusaha hanya di rumah, Heppy melibatkan sang istri sebagai Direktur Keuangan.

 Keteladanan Heppy dibenarkan oleh karyawannya. Pendapat Edi Cahyanto setidaknya menguatkan hal itu. “Saya seperti mendapatkan sosok guru pada diri Pak Heppy,” ucap Penyelia Produksi PT Industri Pangan Indonesia itu. Jadi, hubungannya dengan Heppy bukanlah antara atasan dan bawahan, melainkan antara guru dan murid. Nilai moral yang diajarkan Heppy dan sangat melekat di hati karyawan adalah tradisi untuk menyisihkan 10% penghasilan buat kegiatan amal. Heppy juga dinilainya jago memilih karyawan untuk menduduki posisi terentu. “Bagi Pak Heppy, orang pintar itu banyak. Tapi orang yang mau dididik itu sedikit,” kata Edi. Dia mencontohkan, dirinya sendiri yang tidak tahu apa-apa soal produksi justru diserahi posisi supervisor. Hebatnya, Heppy bersedia mengajari secara langsung anak buah yang ingin belajar sungguh-sungguh. Kelebihan lain sosok Heppy? “Orangnya sederhana, bahkan sering menyetir sendiri mobilnya,” Aswandi menambahkan.

Nah, seiring dengan semangat menginspirasi, Heppy juga membentuk komunitas Indonesian Islamic Business Forum. Ini merupakan komunitas yang beranggotakan pengusaha dan calon pengusaha. Kegiatannya, mulai dari berbagi pengalaman hingga pendampingan bisnis para anggota. Belakangan, Heppy juga menggagas lahirnya gerakan Beli Indonesia yang dicetuskan pada 27 Februari 2011 bersama 504 pengusaha dari 42 kota di Indonesia. Beli Indonesia adalah gerakan membangun karakter bangsa yang membela bangsanya sendiri, yaitu sikap untuk membeli produk bukan dengan alasan lebih baik atau lebih murah, tetapi karena milik bangsa sendiri. Pasalnya, dia prihatin dengan kondisi perekonomian Indonesia yang justru banyak dijajah produk asing. “Semua itu saya lakukan untuk memberi manfaat bagi orang banyak. Karena, saya hanya ingin hidup tenang tanpa dikejar-kejar nafsu untuk memperkaya diri,” kata pengusaha yang hampir selalu pulang kampung dengan helikopter sewaan ini. (*)

Eva Martha Rahayu & Sigit A. Nugroho

sumber: http://swa.co.id/2011/06/titik-balik-mantan-debitor-kakap/