Category Archives: Teknologi

T. Surya Adhitama, Pemilik CV. Newtronic Solution: Meraup Untung, dari Mempermudah hidup Orang Lain

Manfaat utama dari sebuah teknologi adalah membuat hidup kita menjadi lebih mudah. Ternyata, teknologi tak hanya mempermudah hidup orang lain, tetapi juga memberi keuntungan bagi pembuatan.

 

TIDAK BANYAK ORANG yang tahu pasti seperti apa kemajuan teknologi secara teknis, namun manfaatnya sangat mudah dirasakan. Menyalakan TV dengan cara manual kini telah digantikan dengan memanfaatkan remote control yang dapat dilakukan setiap saat di tangan penontonnya. Atau, absen karyawan yang selama ini menggunakan kartu misalnya, sekarang bisa didata hanya dengan menempelkan jari di mesin absensi. Bahkan, dalam urusan domestik, Anda kini tinggal memasukkan pakaian dan deterjennya, lalu duduk manic hingga cucian Anda bersih dan nyaris kering dengan sendirinya.

Contoh lain terjadi ketika Anda mengantre di bank. Berapa lama kira-kira Anda harus mengantre? Siapa yang bisa memastikan antrean di sini bisa berjalan tertib tanpa menyerobot–mengingat tidak semua orang sabar mengantre? Siapa yang akan datang ke teller pertama, teller kedua, dan seterusnya? Soal ini baru terpecahkan ketika ditemukan IT embedded system (sistem teknologi informasi yang diaplikasikan untuk sebuah persoalan tertentu) antrean otomatis. Kapan saja datang ke bank, Anda tinggal menekan tombol untuk mendapatkan nomor antrean, lengkap dengan jam kedatangan, nomor antrean, dan nomor teller atau boks petugas yang akan melayani. Orang tidak bisa menyerobot, sebab petugas hanya akan melayani mereka yang membawa nomor antrean yang dimaksud.

Itulah salah satu bentuk aplikasi teknologi. Mempermudah hidup. Dan, inilah yang dijadikan bisnis oleh Surya Adhitama. Bersama mitranya, Joseph Stephanus Aditamaputra, ia mendirikan CV Newtronic Solution pada 2008 dengan modal Rp50 juta. Bisnis ini sangat menjanjikan, karena baru tiga tahun berjalan, omzetnya sudah mencapai tiga hingga lima miliar rupiah per tahun dengan keuntungan Rp700juta-1,2 miliar. Theo, nama panggilan Surya, merasa bahwa ilmu yang diperolehnya di Fakultas Teknik Elektro ITB Bandung–ia lulus pada 2006–sangat mendukung minatnya pada dunia teknologi dan keinginannya untuk mempermudah hidup.

 

Tantangan teroesar adalah menjawab keluhan klien yang sering terjadi karena produk yang belum sempurna dan banyak kekurangan di sana-sini.

 

CINTA TEKNOLOGI

Lahir di Pati, 1983, dari keluarga pedagang–orangtuanya membuka toko yang menjual kebutuhan sehari-hari–kehidupan Theo tidak jauh beda dengan anak muda iainnya. Sekolahnya terbilang mulus. Sejak kecil ia sudah memilih segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia elektronika dan teknologi informasi sebagai hobi. Semasa kuliah, misalnya, ia tergabung dalam Kelompok Pencinta Elektro (KPE) dan mulai menekuni bidang embedded system.

“Peluang usaha di bidang itu cukup menjanjikan,” katanya, “Bisnis ini membutuhkan kreativitas dalam menghasilkan berbagai macam produk yang bersifat otomasi, sehingga ini bukan bisnis yang mudah ditiru. Dan, perkembangan dunia saat ini sangat membutuhkan berbagai kemudahan elektronik yang semuanya dapat disediakan meialui embedded system,”urainya.

Namun sebelum memantapkan diri membangun bisnis yang bergerak di bidang teknologi, selagi menulis skripsi ia malah bekerja sebagai manajer promosi di sebuah ‘imperium’ factory outlet di Bandung. Walau pekerjaan itu hanya sementara baginya, namun dari sang bos, Perry Tristianto, ia belajar cukup banyak untuk membangun kerajaan bisnisnya sendiri.

Kesempatan emas itu datang ketika salah satu kantor cabang maskapai penerbangan di Bandung meminta Theo membuatkan sistem antrean otomatis untuk menertibkan dan mempermudah pekerjaan mereka. “Selama tiga bulan kami ditantang untuk mendesain sistem antrean yang sesuai dengan kebutuhan klien,” Theo berkisah. Bisa dibilang, setiap hari rasanya seperd hari Senin, karena mereka selalu lembur untuk melakukan riset, desain, dan uji cobs. “Banyak hal baru secara teknis dan nonteknis yang kami pelajari saat itu. Tantangan terbesar adalah menjawab keluhan klien yang Bering terjadi karena produk kami masih belum sempurna dan banyak kekurangan di sana-sini.”

Keuletan Theo dan Joseph terus diuji sampai dua bulan berikutnya untuk melakukan perbaikan produk sekaligus menjawab keluhan klien. Setelah produk perdana itu memuaskan klien, barulah CV Newtronic Solution berdiri pada 2008.

 

BIODATA

THEODOSIUS SURYA ADHITAMA

Pati, 11 April 1983

Email: teot11@yahoo.com

Pendidikan

S1 TeknikElektro, Institut Teknologi Bandung, Bandung

Nama Usaha

CV Newtronic Solution

Website: http://www.newtronic-solution.com

Alamat: JI. Cimanuk No. 5A, Bandung

Penghargaan

2010 Pemenang II Wirausaha Muda Mandiri Kategori Mahasiswa Pacsasarjana & Alumni Usaha Kreatif

 

Dari hanya mempekerjakan seorang staf saja untuk membantu segala urusan, kini—ketika produk dan jasa mereka mulai dikenal—Theo dan Joseph mempekerjakan dua puluh prang karyawan tetap dan lima prang karyawan tidak tetap. Produknya pun tak hanya sistem antrean, tapi sudah berkembang menjadi exchange rate display, cctv online, alarm system, dan megatron.

 

TAK SEINDAH MIMPI

Pada awal berdirinya perusahaan, tentu saja sukses tak langsung diraih. Bahkan, Theo pernah gundah karena produk dan jasanya pernah tidak dibayar oleh kliennya. Juga, ia merasakan betapa proyek awal ternyata sangat berat. “Soalnya kami belum ada pengalaman nyata dalam mendesain embedded system. Bahkan sampai 3 minggu terakhir sebelum deadline, kami sempat memutuskan untuk mengoper pekerjaan sistem antrean itu kepada perusahaan lain. Untungnya, perusahaan yang kami pilih itu tidak menyanggupi mengerjakannya. Hal itu memicu kami untuk lebih series belajar lagi agar dapat menyelesaikan proyek tepat waktu,”

Kesulitan itu, demikian Theo bercerita, membuat ia dan mitranya belajar untuk tetap ulet dan tidak menyerah saat menghadapi rintangan dalam berbisnis. Pun, karena ia bertekad ingin membuat senyum klien terkembang, dalam menagih klien pun ia selalu menggunakan cara-cara baik dan kekeluargaan. “pernah—karena mungkin klien belum pugs—ada pembayaran yang tertunda sampai 6 bulan. Kami terus mengikuti keinginan klien tersebut dan selalu menyunggingkan senyum sampai akhirnya klien itu membayar,” ungkap Theo.

 

Giat melakukan kegiatan riset untuk menyempurnakan produk dan jasanya.

 

Tekad dan konsep untuk membuat kliennya tersenyum melalui produk yang memberikan nilai tambah dan tepat guna terhadap bisnis klien memang sudah menjadi visi Theo dan Joseph. Didukung oleh latar belakang pendidikan yang tepat, tidak terlalu sulit bagi mereka untuk mendesain dan menyediakan produk-produk berteknologi tinggi sehingga memberikan kemudahan dan otomatisasi dalam berbagai bidang. Sistem antrean mereka memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam mengatur alur antrean di kantor-kantor terutama perbankan atau penerbangan, CCTV Online memberikan akses untuk melihat kejadian-kejadian yang terekam, juga dapat dipantau secara online untuk seorang pimpinan ketika ia ingin melihat kondisi kantor di mana pun dia berada, atau Megatron yang membuat klien mampu mengiklankan produk-produknya kepada khalayak melalui visual yang dinamis dengan unsur prestise yang tinggi.

Namun pendidikan dan keahlian tinggi tak terlalu berguna bila tidak diimbangi mental yang kuat. Inilah yang menurut Theo merupakan salah satu faktor terpenting. “Harus ada persiapan mental untuk ulet, berani, dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Sebagai pengusaha, kita menjadi pimpinan untuk diri sendiri. Itu lebih susah daripada dipimpin orang lain. Setelah itu adalah menentukan sikap dan bidang yang akan kita geluti. Dimulai dari bidang Yang kita kuasai, kita sukai, lalu menetapkan segmentasi pasarnya,” jelasnya. Yang lainnya sifatnya lebih teknis–misalnya kantor atau inventaris kantor–dan akan mengikuti dengan sendirinya.

Keuletan ini diwarisi Theo dari orangtuanya. Selain keuletan, “Mereka juga mengajari saya soal kejujuran serta etos kerja. Dukungan yang kuat pada tahun-tahun awal ketika saya belum bisa menghasilkan menjadi motivasi yang kuat untuk berhasil,” imbuhnya lagi. Pengalaman bekerja di bawah Perry Tristianto, sang raja FO, juga membawa keuntungan lain. Theo mengakui betapa ia mengagumi cara Perry menjalin relasi, keuletannya untuk tetap hands on pada hal-hal kund, serta kehebatannya membaca peluang hingga 5 tahun ke depan. “Beliau juga selalu mencari ide baru lewat bergaul dengan berbagai kalangan, termasuk generasi mucla. Walaupun tidak semua terserap, keuletan dan cara pikir beliau cukup menginspirasi saya,” kata Theo.

 

Setiap kesulitan membuat ia dan mitranya belajar untuk tetap ulet dan tidak menyerah saat menghadapi rintangan dalam berbisnis.

 

KEUNGGULAN BISNIS

Salah satu kepiawaian Theo membangun bisnis dalam waktu yang tidak terlalu lama adalah product knowledge-nya yang kuat. la tahu sekali bahwa bisnisnya bersifat 132B dengan pangsa pasar yang luas. Meskipun kliennya kebanyakan dari kalangan perbankan, ia yakin bahwa sejalan dengan perkembangan waktu, setiap perusahaan atau bidang usaha yang berhubungan dengan pelayanan konsumen akan membutuhkan produk sistem antreannya. Karena itu, ia giat melakukan kegiatan riser untuk menyempurnakan produk dan jasanya, “Saga selalu menekankan bahwa kita harus selalu menciptakan sesuatu yang baru dan menghasilkan something great, not just good.”

Layanan purnajual juga merupakan salah satu keberhasilan bisnisnya. “Barang elektronik yang dijual, akan ada waktunya mengalarni failed system, apa pun penyebabnya. Di situlah kami harus tetap bersama dengan klien untuk memberikan servis terbaik,” tambah pimpinan yang selalu mengutamakan silaturahmi baik dengan klien maupun karyawannya sendiri ini.

la menambahkan bahwa produk yang dijualnya bukanlah barang langka. Namun, produk itu dapat di-customized dengan fitur-fitur yang mengutamakan kebutuhan tiap-tiap konsumen. Ito sebabnya, Theo menganggap bahwa bahan baku dasar usahanya adalah kekuatan tim engineering-nya dalam melakukan desain dan pemrograman embedded system sehingga tercipta produk yang mantap. Selain mantap secara teknis, juga mantap kemasannya.

Karena kekuatan tim begitu dibutuhkan, Theo sangat memperhalikan urusan ini. Dalam pandangannya, karyawan merupakan berkah, sehingga ia harus memberikan pelayanan yang baik kepada mereka. Maka, di kantornya diterapkan unsur kekeluargaan, profesionalitas, kedewasaan, dan sikap saling peduli. Setiap minggu selalu ada waktu makan siang bersama minimal satu kali. Setiap bulan juga selalu diusahakan untuk main futsal bersama. Setiap tahun pun, selalu ada gathering dengan seluruh keluarga karyawan. Pelayanan kesehatan dan tabungan Jamsostek juga disediakan. “Lebih baik berikan dulu kewajiban kantor kepada mereka sebagai keluarga sehingga mereka akan memberikan yang terbaik untuk kantor. Hal-hal ini membuat turnover karyawan di kantor sangat rendah,” tegasnya.

 

Layanan purnajual juga merupakan salah satu keberhasilan bisnisnya, karena jarang elektronik pasti ada waktunya mengalami failed system, apapun penyebabnya. Di situlah mereka harus memberikan servis terbaik.

 

Menyadari bahwa untuk memperoleh tim engineering yang kompeten dalam bidang ini tidak terlalu mudah—karena memerlukan keahlian teknis dan kepandaian yang mutlak tinggi—beberapa waktu belakangan ini Theo menjalin kerja sama dengan beberapa lembaga pendidikan ternama untuk dapat memperoleh somber daya manusia terbaik. “Boat says, lebih mudah mencari bahan baku materi ketimbang non-materi,” katanya sambil tergelak.

Dibandingkan dengan sulitnya mencari tenaga engineering yang kompeten, bahan baku embedded system sendiri tidak sulit dicari. Sebagian besar materi masih bisa didapat di negeri sendiri, “Walaupun untuk beberapa desain kami memerlukan chip IC khusus yang tidak tersedia di pasar Indonesia dan harus kita impor sendiri.”

Meskipun ada celah yang harus dilompati dan halangan yang harus disiasati, semua itu dilakukannya dengan penuh semangat karena telah bermimpi menjadi bagian kecil dari dunia yang mampu menghadirkan produk-produk bermutu dan berguna bagi klien dan masyarakat. “Uang nantinya akan menjadi konsekuensi logic dari bisnis yang kita kerjakan,” katanya yakin.

 

TESTIMONI

Q: Apakah Anda merasa banting setir menjadi pengusaha padahal memiliki pendidikan yang tinggi?

A: Menurut saya, sap tidak banting setir karena memang saya sudah memposisikan diri saya untuk menjadi pengusaha sejak dari kuliah. Justru pendidikan yang tinggi dapat membantu kita dalam usaha kita, karena dengan pendidikan yang baik, kita makin mempunyai kepercayaan diri dan ilmu yang tinggi sehingga dapat digunakan untuk membangun relasi kepada klien-klien kita.

 

Tips

HUKUM WIRAUSAHA #24

DNA Wirausaha

 

‘Takdir bukanlah perkara kesempatan, tetapi pilihan juga bukan sesuatu yang dapat ditunggu, takdir harus diupayakan.William Jennings Bryan

 

BANYAK ORANG BERPIKIR bahwa DNA adalah unsur pembawa keturunan yang diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Seperti halnya Theo yang berasal dari keluarga pedagang. la mewarisi DNA pengusaha dari orangtuanya yang berprofesi sebagai pedagang yang menjual kebutuhan sehari-hari di Pati. Namun demikian, belakangan ditemukan ternyata DNA kewirausahaan bukanlah DNA biologis yang dibawa secara genetik atau turun-temurun di dalam sel-sel tubuh manusia.

DNA kewirausahaan adalah DNA perilaku yang dibentuk bukan dari warisan genetika, melainkan dari pergaulan sehari-hari. Pergaulan itu dimulai dari hubungan antara seorang anak dengan lingkungan terdekatnya, yaitu keluarganya sendiri, lalu, berlanjut ke teman-teman dekat, tetangga, teman kuliah, atau orang-orang yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari dan berhubungan erat dengan anak tersebut. Apalah artinya DNA kewirausahaan yang dimiliki orangtua, bila orangtua tidak melakukan komunikasi intensif atau memberikan jejak pengaruh yang kuat tentang kewirausahaan kepada anak-anaknya. Demikian pula, apalah artinya tetangga yang berada di dekat rumah, apabila seseorang mengisolasi dirinya dengan hanya membaca buku dan sibuk pulang-pergi kuliah atau sekolah.

Dengan demikian, hubungan yang intensif dengan seseorang tidak harus berada pada jarak geografis tertentu, melainkan pada kedekatan batiniah dan interaksi yang dibangun sehari-hari. Untuk mendapatkan DNA kewirausahaan, berikut adalah tips yang saga sarankan:

  • Bangunlah hubungan yang intens dengan orang-orang yang sudah lebih dahulu memiliki iiwa atau karakter kewirausahaan. Orang-orang ini ada di mana saja dan Anda tidak harus berada pada jarak geografis yang dekat untuk mendapatkan gelombang pengaruh dari mereka.
  • Datangi mereka, lakukan interaksi, ajukan pertanyaan-pertanyaan, dan libatkan diri Anda pada pekerjaan mereka. Jangan mengharapkan imbalan apa pun dari orang itu, karena yang sebenarnya Anda harapkan adalah curahan pengaruh dari DNA mereka.
  • DNA kewirausahaan hanya terbentuk kalau Anda memiliki ciri-ciri seperti keterbukaan dalam berpikir atau melakukan hal baru, ketabahan dalam menghadapi berbagai kesulitan, keleluasaan dalam mengungkapkan isi pikiran dan perasaan, kesepahaman dalam melihat masa depan, dan ketangguhan dalam menghadapi segala macam tekanan ataupun rintangan.
  • Pergilah ke luar dan temuilah pengusaha-pengusaha yang ulet dan telah berkembang, yang menjadikan mereka sebagai seorang street smart. Jadikan mereka sebagai mentor Anda dan pelajari hal-hal yang tidak biasa dalam kehidupan mereka. Kenali, pelajari, lalu lakukan hal-hal yang telah mereka lakukan, dan lihallah sendiri seperti apa hasilnya.
  • Karena DNA perilaku menular, maka waspadailah wirausahawan yang berwawasan sempit atau terbiasa mengambil langkah dan jalan pintas atau berspekulasi, karena mereka semua juga akan turut membentuk karakter dan DNA kewirausahaan Anda.

Di atas segalanya, wirausahawan tidak pernah lahir dari orang yang hanya menunggu. Anda harus bergerak, melangkah, mungkin terjatuh, dan bangkit untuk kembali mencoba.

 

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 2: Kisah Inspiratif Anak-anak Muda Menemukan Masa Depan dari Hal-hal yang Diabaikan Banyak Orang. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

Alween Ong, Pemilik Clinic Handphone: Mengobati Ponsel ‘Sakit’

Asal jell, semua hal bisa menjadi peluang bisnis, meski kadang berawal dari sebuah keterpaksaan. Dari servis ponsel sampai mesin printing, wanita berusia 26 tahun ini berhasil menyulap modal Rp8 juta menjadi ratusan juta rupiah per tahun.

 

ANAK KULIAH yang menjadi wirausahawan akibat tekanan ekonomi memang bukan cerita baru. Banyak orang bilang bahwa kreativitas kadang lahir dari keadaan yang sulit. Demikian pula perjalanan hidup Alween Ong, anak kedua dari lima bersaudara di tengah kondisi ekonomi keluarga yang sulit.

Awalnya pemudi kelahiran Padang, 29 Januari 1985, mengikuti pola klasik: berjualan apa saja asal bisa menghasilkan uang. Misalnya, ia menjualkan buku-buku bekas temannya yang sudah tidak dipakai lagi. Jualan ikat pinggang, hingga bertindak sebagai ‘makelar’ atau perantara bila ada teman yang ingin menjual kendaraan. la juga menjual ponsel titipan orang, dengan sistem komisi. Hasilnya, “Lumayan, ada uang saku yang saya peroleh,” katanya.

Kegiatan itu terus dilakukan Alween sampai suatu saat, ponsel temannya rusak. Anak muda sekarang, memang tidak mungkin hidup tanpa ponsel, Jadilah Alween yang awalnya iseng membantu memperbaiki ponsel itu, akhirnya tertarik untuk lebih serius. Mulailah dia belajar–kendad tidak formal–di selasela kuliahnya di Jurusan Sosial Politik Universitas Sumatra Utara, bagaimana cara memperbaiki sebuah ponsel yang rusak.

“Saya belajar secara otodidak saja. Mulai dari membaca buku, melihat teman memperbaiki ponsel, hingga otak-atik sendiri. Alhamdulilah, berkat tekad yang kuat, doa dan usaha, akhirnya saya bisa juga memperbaiki ponsel,” kata Alween bersyukur. Tapi, mengapa Alween berkeras untuk bisa memperbaiki ponsel rusak? “Soalnya, biarpun bisa bell yang baru, banyak juga orang yang sayang pada ponselnya,” kata Alween memberi alasan. “Selain nilai ekonomis, ada nilai sentimental di situ. Orang malas mengganti ponsel bila sejarahnya sangat berarti untuknya. Dan, itu berarti peluang bisnis yang bisa dimanfaatkan.”

 

la mengamati bahwa meskipun bisa mernbeli ponsel baru, banyak orang yang sayang pada ponsel lamanya. Indah alasannya membuka jasa reparasi ponsel.

Itulah awal Alween membuka servis ponsel yang ia istilahkan sebagai ‘Clinic Handphone’. la merintis usahanya itu sambil kuliah dan sempat bekerja paruh waktu di sana-sini, mulai dari menjadi agen kartu kredit sampai kolektor sebuah penerbitan. Saya tidak tahu apakah bisnis yang ditekuni Alween ini juga bernilai bagi anda, pembaca. Tetapi saya tahu ini baru sebuah awal dan ke mana muara usahanya kelak, saya tidak tahu. Bisa saja kelak Alween pun akan bergelar datuk rangkoyo seperti yang saya ulas di bagian depan buku ini

.

CLINIC HANDPHONE

Alween membuka outlet pertamanya di pasar USU, Sumatra Utara. Dia mengerjakan segalanya sendirian. Dari menjadi pemilik outlet, memperbaiki ponsel, menjadi kasir, sampai membuka dan menutup toko. “Kalau saya sakit, tokonya tutup,” ia berkisah. Ternyata, outlet kecil itu punya banyak penggemar. Salah satu sebabnya, tidak ada anak muda–bahkan juga mereka yang berusia matang—yang tahan hidup tanpa ponsel. Sedikit rusak, pasti dibawa ke ‘dokter’ atau Clinic Handphone. Dan Alween, yang mengerjakannya sendirian, dengan jasa yang paripurna, adalah pilihan terbaik. Para ‘penggemar’-nya pula yang kemudian mendorongnya mengikuti lomba Wirausaha Muda Mandiri pada 2008. “Awalnya pesimis. Orang lain yang ikut punya banyak anak bush. Sementara saya hanya sendiri begini,” kenangnya.

Toh, ternyata Alween terpilih sebagai salah satu pemenang. Modal Rp8 juta yang ditanamnya untuk klinik ponselnya bukan hanya menghasilkan uang, tapi juga beroleh pengakuan dan penghargaan yang cukup bergengsi. Kejeliannya mengubah peluang usaha menjadi uang adalah salah satu kekuatan yang membuat para juri terpikat. Maklum, di Medan belum banyak outletyang fokus menawarkan jasa memperbaiki ponsel saja. Umumnya, gerai-gerai ponsellah yang menawarkan jasa perbaikan ponsel. Itu pun belum tentu tampak serius karena usaha utamanya adalah menjual ponsel.

 

BIODATA

ALWEEN ONG

Padang, 29 Januari 1985

Pendidikan

S1 Ilmu Politik, Universitas Sumatra Utara, Medan

Nama Usaha

Clinic Handphone

Email: klinikhandphone@rocketmail.com

Alamat: Grand Palladium Mall Lt. II blok SS 69 No. 1-4, Medan

Penghargaan

2008 Finalis Nasional Wirausaha Muda Mandiri

2009 Mahasiswa Berprestasi Bidang Kewirausahaan

2009 Wirausaha Muda  Berprestasi dari MENPORA

2010 Indonesia Delegation for Asean-China Youth Camp

 

Ketika usahanya meningkat, Alween pun merekrut beberapa orang untuk menjadi stafnya. la juga memperluas usahanya tidak hanya sebagai gerai yang menawarkan perbaikan ponsel, tapi juga menjadi pusat pelatihan dokter ponsel, alias memberi pelatihan bagi orang yang ingin memperbaiki sendiri ponselnya atau ponsel orang lain. Untuk mempromosikan usahanya? Tentu saja Alween tak luput mengerahkan jejaring sosial, seperti Twitter dan Facebook, karena keduanya semakin banyak digunakan terutama oleh kalangan muda.

 

NARSIS DIGITAL PRINTING

Alween benar-benar serius mempersiapkan diri. la, misalnya, memilih lokasi yang cukup ramai, setidaknya di kalangan mahasiswa. Juga menyiapkan peralatan dan suku cadang ponsel yang dibutuhkan. Lalu, setelah usahanya mengalami perkembangan, ia juga mencari staf yang membantunya sebagai teknisi ponsel.

Tapi Alween tak puas hanya mengusahakan jasa perbaikan ponsel. Dengan terpilih sebagai Wirausaha Muda Mandiri dan diberi kesempatan mengikuti sejumlah pelatihan bisnis di Rumah Perubahan yang dikoordinir mentor senior Rhenald Kasali, Alween kembali mengerahkan otaknya untuk berpikir lebih kreatif. Apa lagi yang bisa dilakukannya?

Dulu Alween memilih usaha ponsel karena pada dasarnya ia memang gemar mengutak-atik peralatan teknik, kendati tak berlatar belakang pendidikan teknik. Hobi yang dikembangkan menjadi usaha adalah kegiatan yang ringan dan menyenangkan. “Karena hobi, segala sesuatu yang dilakukan enak saja, tidak terasa berat,” katanya. “Jika di suatu mass mengalami kegagalan, kin merasa itu hanya sebuah tantangan dan harus dicoba lagi. Mencobanya lagi sudah merupakan keasyikan tersendiri.”

Jejaring sosial seperti twitter dan Facebook dimanfaatkan sebagai alat promosi karena semakin banyak digunakan oleh anak muda.

 

Dengan prinsip itulah Alween ingin membuka bisnis berikutnya dengan berlandaskan bidang pekerjaan yang disukainya, bukan hanya berdasarkan perhitungan rasional atau bisnis semata. la lalu membuka Narsis Digital Printing, sebuah bisnis yang mencakup pembuatan pin dengan berbagai model, kartu nama, cetak kaos, facemug (cetak mug bergambar dengan berbagai model), dan penjualan mesin atau alai cetak produk-produk tersebut dengan konsep “jual putus”.

Sebagai perempuan yang senang dengan berbagai pernik unik aksesori, ia berpikir bahwa anak-anak muda juga menyukai pernak-pernik tersebut. Tambahan lagi, ia menjual mesin, bukan hanya pembuatan pin saja. Untuk penjualan mesin facemug misalnya, dengan biaya Rp3,3 juta, mitranya sudah bisa membawa pulang satu unit mesin ditambah dengan satu lusin bahan baku serta pelatihan. Pilihan lainnya dengan harga Rp17 juta, mencakup mesin, alatalat promosi, pelatihan, bahan baku, booth, komputer, dan berbagai fasilitas lainnya.

Dengan bisnis ini, pelanggan Alween tak terbatas pada prang yang akan memperbaiki ponselnya saja. Gerainya pun tidak lagi di pasar USU yang hanya menargetkan kalangan mahasiswa. la beruntung, memiliki kenalan yang punya gerai di Grand Palladium, sebuah mal besar di Medan. Dengan sistem pembagian keuntungan, ia bisa menempati gerai di mal itu tanpa membayar sewa.

Pasar bisnis Alween kian lugs. “Pelanggan saya sekarang datang dari mana-mana. Ada yang dari Aceh, Pekanbaru, dan beberapa daerah di Sumatra.” Bisnis ini juga membuatnya melanglang buana ke beberapa negara, seperti China, Malaysia, dan Singapura. Menurut Alween—yang menempatkan kedua bisnis itu di bawah bendera Alcompany—omzet yang diperoleh hingga  Rp60 juta per bukan. “Keuntungan bersih saya bisa di atas Rp216 juta setahun,” katanya.

 

Paham bahwa kalangan muda menyukai aksesori unik, ia pun membuka digital printing.

 

Tak heran bila ketekunan dan kelihaian perempuan ini membuahkan berbagai penghargaan tambahan. Selain sebagai mahasiswa berprestasi, ia juga diganjar sebagai wirausahawan muda berprestasi oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga pada 2009. Bahkan, Alween juga terpilih sebagai anggota delegasi Indonesia pada ASEAN-China Youth Camp tahun lalu.

 

KEMBAL1 PADA MASYARAKAT

Dalam menjalankan bisnisnya, Alween banyak menggunakan insting dan membaca buku. la juga mencermati segala pengalaman yang pernah dilakukannya tatkala dulu masih bekerja serabutan untuk membiayai kuliah. Baginya, pengalaman adalah guru paling berharga yang mengajarinya banyak hal untuk sukses.

Salah satu yang menurutnya perlu dilakukan dalam mencapai kesuksesan dalam berbisnis adalah meningkatkan unique selling product. “Baik dari segi promosi yang berbeda maupun pelayanan yang lain daripada yang lain. Karena sekarang zamannya internet, maka sebaiknya kita memanfaatkan internet untuk meningkatkan komunikasi yang interaktif,” kata Alween. Twitter dan Facebooknya selalu ia update, bahkan ia mempunyai video kesuksesannya sendiri yang bisa diakses via YouTube. Tak hanya itu, Alween juga menjadi konsultan klinik ponsel pada surat kabar.

Seperti juga mereka yang baru memuiai berwirausaha, awainya Alween harus meyakinkan keluarga bahwa apa yang ia lakukan adalah sesuatu yang benar, selain–tentu saja–halal. “Says tak henti menerangkan pada mereka bahwa dengan berusaha, saya pasti dapat meningkatkan kondisi financial di atas gaji yang saya dapatkan bila saya harus bekerja di perusahaan orang lain,” kenangnya.

Dalam menjalankan usaha, Alween juga melibatkan adik-adiknya agar mereka mulai belajar bisnis secara perlahan dan langsung praktik. “Alhamdulillah, sejauh ini tidak ada konflik. Jika pun ada perselisihan, kami berusaha profesional dan menyelesaikan segalanya dengan kepala dingin,” imbuh Alween.

 

Meski melibatkan anggota keluarga, mereka tetap profesional dan menyelesaikan konflik dengan kepala dingin

 

Tidak hanya kepada adik-adiknya, kepada karyawan pun, Alween menjalin hubungan secara kekeluargaan karena ia menganggap mereka sebagai tim. Meski melibatkan anggota eluarga, mereka tetap profesional dan menyelesaikan konflik dengan kepala dingin. Hal ini dilakukannya agar rasa kepemilikan dan kekeluargaan terjalin erat. Itulah mungkin yang membuat turn over karyawan Alween yang berjumlah 9 orang itu tidak tinggi. “Umumnya mereka berhenti bila pindah rumah atau ikut suami,” kata Alween menjelaskan.

Merasa bahwa kesuksesan usahanya juga berasal dari masyarakat, Alween berusaha menjalankan prinsip-prinsip CSR (Corporate Social Responsibility) derni memupuk jiwa sosiainya, meskipun usahanya belum genap berusia 5 tahun. April lalu, misalnya, ia memberi pelatihan kepada orang-orang berusia 15-25 tahun yang berasal dari golongan ekonomi tidak mampu. “Maksudnya adalah membuka kesempatan lapangan pekerjaan bagi anak-anak muda yang putus sekolah karena ketiadaan biaya,” katanya seperti yang dikutip sebuah media massa di Medan.

Pelatihan dari Clinic Handphone University–demikian Alween memberi Hama untuk pelatihan ini–dilakukan agar anak-anak muda putus sekolah itu memiliki kemampuan untuk membuka usaha. Kalau bisa, bahkan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. “Kalau mereka punya keahlian seperti menjadi teknisi ponsel, dapat membuka peluang usaha dan pastinya mendapatkan keuntungan,” Alween menerangkan. Selain itu, Alween juga membuka kesempatan magang di Alcompany. “Agar mereka dapat meningkatkan kualitas kemampuannya menjadi ‘dokter’ ponsel,” tambahnya, tersenyum.

 

Tips

HUKUM WIRAUSAHA #23

Berani Bekerja Keras

 

“Saya berasal dari keluarga yang percaya bahwoa kita dapat melakukan apa pun, asal mau bekerja keras.”Condoleeza Rice

 

MESKI ADA ORANG-ORANG tertentu yang dapat berhasil tanpa banyak berupaya, namun orang-orang yang sukses umumnya orang-orang yang bekerja keras untuk mendapatkan hasil yang baik dan berkelanjutan. Jodi, janganlah takut untuk bekerja keras. Jangan Anda mudah tergoda dengan jargon “kerja cerdas” yang seakan-akan tak perlu bekerja keras. Jargon itu dapat memanipulasi pikiran Anda. Usaha yang berhasil tidak pernah lahir dari sebuah jalan pintas. Perlu perjuangan yang tak kenal lelah dan kesediaan melewati proses panjang non berliku. Berikut adalah hal-hal yang perlu Anda ketahui tentang bekerja keras membangun sebuah usaha:

  • Bekerja keraslah untuk meningkatkan keterampilan Anda. Teruslah meningkatkan dan mengembangkan kemampuan Anda dengan sekuat tenaga. Jangan berhenti hanya karena satu kerikil besar. Orang yang ingin sukses harus memiliki semangat yang tak ada matinya.
  • Setelah memiliki,tingkat keterampilan tertentu, mungkin saja Anda baru bisa mendapatkan inspirasi untuk membuka usaha. Hal ini bukanlah suatu keterlambatan. Segeralah menggali semua hal yang berhubungan dengan keterampilan dan usaha yang akan Anda bangun. semakin banyak informasi yang Anda ketahui, semakin matang keputusan yang akan Anda buat. Anda semakin tertantang saat kerja keras mendapat imbalan kompensasinya.
  • Karya yang Anda hasilkan akan membangun kepercayaan orang lain terhadap Anda. Peliharalah kepercayaan tersebut dengan memberikan layanan dan kualitas terbaik, karena dari kepercayaanlah sebuah bisnis yang baik dapat berkembang dengan mantap. Ingatlah bahwa yang pertama kali dibeli oleh seseorang bukanlah merek, tetapi kepercayaan. Tentu saja, kepercayaan itu akan menghadapi beragam rintangan. Tetapi, bukankah tidak ada lilin yang dapat menyala dalam ruangan Nampa udara?
  • Menyalakan semangat. Dalam perjalanan usaha Anda, bukan tidak mungkin terjadi kelelahan dan rasa jenuh. Di sinilah pentingnya Anda membangun usaha berdasarkan passion. Temukanlah passion. Saat bekerja dengan passion, Anda akan lebih mudah mempertahankan semangat dan meraih keberhasilan.
  • Teruslah berinovasi. Inovasi berarti menemukan sesuatu yang baru, baik metode, gagasan, maupun alat. Dua syarat mutlak untuk dapat melakukan inovasi adalah memperluas wawasan dan tidak enggan mencoba hal-hal baru.

 

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 2: Kisah Inspiratif Anak-anak Muda Menemukan Masa Depan dari Hal-hal yang Diabaikan Banyak Orang. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

Atthur Sahadewa, Pemilik PT. Inatradecenter: Antivirus pembawa untung

Dunia maya yang tak berbatas melambungkan nama pria asal Yogyakarta ini sebagai penemu antivirus, penulis buku, dan praktisi hacking.

 

 

APA YANG BISA diharapkan dari seorang anak yang sejak kecil disebut hiperaktif dan harus berkonsultasi dengan psikolog secara teratur untuk menangani kemampuan mentalnya? Pada kasus Tony Hawk, solusi orangtuanya adalah memberi skateboard, mendukungnya, dan jadilah dia juara dunia skateboard selama 12 tahun berturut-turut. Skateboard, olahraga yang di Indonesia mungkin lebih dikenal sebagai hiburan ketimbang olahraga, berhasil menjadi mata pencarian Tony Hawk, mengantarnya menjadi atlet kelas dunia–di bidang skateboard tentu saja–bahkan menuntunnya masuk ke dunia film.

 

Tapi bukan ketenaran Tony Hawk yang membuat Atthur Sahadewa Widjaja, anak muda dari Temanggung, mengaguminya. la lebih terpukau pada konsistensi Tony pada profesinya sebagai pemain skateboard profesional. Meski bermain skateboard hanyalah sebuah hobi, asal ditekuni dengan sungguh-sungguh, ternyata bisa mendatangkan hoki. Atthur juga punya hobi meskipun bukan bermain skateboard–yaitu mengutak-atik sesuatu di internet. Arena permainnya terutama server, source code, dan sebagainya. Dari hobi itu is melihat bahwa dalam dunia keamanan internet, di Indonesia masih sangat jarang pemainnya, padahal ceruk pasarnya ada.

“Karena saya suka dan hobi, kenapa tidak dijadikan pegangan hidup? Saya terinspirasi oleh Tony Hawk. Dia bisa menjadikan skateboard sebagai pegangan hidupnya. Saya juga ingin membuat hobi saya sebagai pegangan hidup,” niatnya mantap. Keyakinan Atthur membuahkan hasil. Bisnisnya yang tergolong unik dan kreatif itu meraup sukses. Dari modal awal Rp8 juta pada 2008, tiga tahun kemudian modalnya telah berkembang hingga 50 kali lipat.

 

Jengkel terserang virus, is menciptakan antivirus sekaligus tutorialnya.

 

Pria kelahiran 16 September 1980 itu mengantongi sejumlah prestasi: Wirausaha Muda Mandiri Award versi Bank Mandiri dan Indonesia ICT Awards versi Depkominfo. Kariernya pun menjulang: pendiri http://www.virologi.info (Computer Security Community), direktur DSI Publishing Yogyakarta merangkap pemimpin redaksi dan penulisnya, bahkan juga pernah menjadi konsultan BATS (Badan Informasi Strategic), serta penulis buku Seni Pemrogramon Virus dan Monalisa Pun Tertawa. Hobi mengutak-atik software antivirus sejak kuliah di jurusan Teknik Informatika Insdtut Sains dan Teknologi Akprind (Akademi Perindustrian) Yogyakarta itu terbayar sudah.

 

VIRUS DAN BUKU

Pada awal 2007, diketahui ada 10 megabyte file di dunia ini yang rusak diterjang virus hallo.roro. Memang, hal ini bukan terjadi di tubuh manusia, melainkan dalam dunia modern yang serba serba computerized. Tapi, keganasan nya mungkin hampir sama.

Jengkel terserang virus, Atthur lalu meneliti dan menemukan antivirus yang bisa mengatasi serangan virus tersebut. Tak lama berselang, giliran virus Brontox datang. Lagi-lagi Atthur sukses menemukan antivirusnya, bahkan sekaligus membuat tutorial untuk menghapusnya. Pelan-pelan, namanya mulai dikenal kendati hanya di kalangan terbatas, apalagi ia lantas membuat software antivirus gratisan yang diunggahnya di http://www.virologi.info. Agar orang tak penasaran, ia sekalian menulis buku Seni Pemrograman Virus yang kini sudah 14 kali cetak (setiap kali 2.000 eksemplar). Buku-buku lain hasil karyanya yang berkisah soal peretasan dunia komputer kemudian lahir berturut-turut, di antaranya Empat Hari Jadi Hacker dan Monalisa Pun Tertawa.

“Memang cerita di buku-buku saya kebanyakan tentang cara menggunakan berbagai tools di komputer dan internet untuk meretas, tapi saya tidak mendorong orang untuk menjadi peretas (hacker),” katanya pada sebuah wawancara. “sebagai praktisi, saya ingin melindungi pengguna komputer dari serangan peretas.” Sukses sebagai penulis buku itu dimbangi dengan profesi ‘sebenarnya’. la membuat bisnis yang pada intinya mencakup software untuk melindungi server dari serangan peretas, pengembangan ‘sistern operasi bandit’, jasa security internet, serta usaha pembuatan buku. Ada 4 karyawan tetap di perusahaannya yang diberi brand Inatrade Center, sementara 9 lainnya freelancer. Menurut Atthur, “Ini membuat turn over karyawan rendah.”

 

BIODATA

ATTHUR SAHADEWA WIDJAJA

Temanggung, 16 September 1980

Pendidikan

S1 Teknik Informatika, Institut Sains dan Teknologi-Akademi Perindustrian, Yogyakarta

Nama Usaha

PT Inatrade Center

Website: http://www.inatradecenter.co.id

Alamat: Modinan Baru GP III/206, Yogyakarta 55293

Penghargaan

2009 Pemenang II Wirausaha Muda Mandiri Kategon Mahasiswa Pascasarjana & Alumni Usaha Kreatif.

2010 1NAICTA (Indonesia ICT Awards) versi Depkominfo

 

SITUS DULU, VIRUS KEMUDIAN

Sebelum mernbuka bisnisnya sekarang, Atthur pernah mencoba berbisnis dalam bidang internet. Pada tahun 2006, bersama teman-temannya, ia membuka sebuah situs—sudah dengan brand Inatrade Center—yang mempertemukan pembeli dan penjual di internet. Tapi dengan modal Rp3 juta yang waktu itu dikumpulkannya dari uang saku, bisnisnya ludes ketika 3 bulan kemudian kerja sama itu bubar. Tidak adanya visi dan mini serta tidak adanya agreement apa pun, membuat kongsi itu berjalan tidak jelas.

Tidak kapok gagal berbisnis, Atthur lalu mulai lagi. Kini ia bermodalkan Rp12 juta, plus pengalaman sebelumnya. Lumayan, dalam waktu 2 tahun, situs yang sama telah memiliki 14.000 orang anggota. Tapi, lagi-lagi ia melupakan soal manajemen. Kendati ia telah mengangkat dua orang temannya sebagai anggota Board of Director—ditambah dirinya sendiri—serta menggaji 6 orang karyawan, bisnis itu pun bubar jalan. Modal awal tentu saja, tidak kembali.

Berkaca dari pengalaman itu, Atthur tahu banyak yang harus dipelajarinya. “Saya harus belajar manajemen dengan sungguh-sungguh. Saya bukan hanya pernah gagal berbisnis di internet saja. Sebelumnya saya pernah jualan pulsa, membuka penyewaan komputer, semua bubar. Ini karena kemampuan manajerial yang rendah. Saya lalu mempelajari apa yang disebut ‘ketahanan untuk membuat usaha’. Saya juga fokus pada IT security dan pengembangan software lagi, bukan mempertemukan pembeli dan penjual di internet.”

 

“Atthur punya keyakinan bahwa pasar untuk usahanya jelas ada, yaitu perusahaan dan pengguna internet yang memerlukan IT security. “Lagi pula, keterampilan atau skill di bidang ini masih langka.”

 

Atthur mencoba mengenyahkan kegagalan masa lalu dan bangkit. la yakin, berbisnis pada bidang di mana ia memiliki passion atau gairah, akan lebih baik ketimbang memilih bisnis yang tidak ia sukai. “Mungkin banyak orang membuka bisnis makanan, bisnis jasa lain, atau bisnis berkebun emas dan properb karena situasinya memungkinkan. Tetapi, kalau itu bukan passion saya, saya tidak akan membukanya,” tuturnya.

Berdasarkan ilmu dan pengalamannya, Atthur punya keyakinan bahwa pasar untuk usahanya jelas ada, yaitu perusahaan dan pengguna internet yang memerlukan IT security. “Lagi pula, keterampilan atau skill di bidang ini masih langka,” imbuh ayah Kayla ini. “Mungkin hanya ada sekitar 5 persen orang di Indonesia yang memilikinya, sementara yang membutuhkannya jelas lebih banyak karena pesatnya penggunaan teknologi internet di berbagai sektor.”

Kebutuhan akan jasa security internet bisa terjadi karena perkembangan sistem informasi dan teknologi pasti akan diikuti oleh pemanfaatannya. Contoh paling mudah adalah penggunaan uang plastik. Ketimbang membawa tunai, orang akan lebih senang mengantongi kartu ATM, debet, ataupun kredit. Surat menyurat dengan perangko, amplop, dan kertas pun akan ditinggalkan. Tergantikan oleh Surat elektronik. Lajunya perkembangan itu akan diikuti dengan timbulnya ‘celah’ tertentu. Pada orang baik, celah itu dimanfaatkan untuk menciptakan sistem operasi teknologi informasi yang berguna. Celakanya, bila celah itu dimanfaatkan oleh orang jahat, akan marak terjadi pencurian data, baik dari orang pribadi maupun perusahaan. Agar tak bisa diretas atau tak bisa dicuri, diperlukan jasa IT security.

 

Usahanya di bidang pengembangan software dan IT security ini sejalan dengan hobi dan pendidikannya.

 

Ketika Atthur memutuskan untuk melakukan rebranding dengan Inatrade Center, modalnya sudah banyak. Bukan hanya kapital sebanyak Rp8 juta lagi, tapi juga ilmu manajemen, analisis keuangan, dan pendelegasian pekerjaan. “Ini semua bisa saya kuasai setelah belajar dari berbagai kegagalan masa lalu,” kenangnya.

 

THINKING OUT OF THE BOX

Yang menurut Atthur cukup penting adalah keterampilan berinovasi, terutama dalam menghadapi persaingan bisnis yang kian kompetitif. Katanya, inovasi itu harus dilakukan secara terus-menerus. “Berpikir out of the box sangat penting,” ujarnya. “Bahkan kalau perlu, kotaknya tidak ada. Mari situ kita bisa melihat melihat peluang atau celah untuk melakukan diferensiasi produk.”

Ini diterjemahkan Atthur dengan melakukan cara-cara promosi yang tidak biasa. Tidak usah kaget memperoleh undangan dari perusahaannya saat ia mengadakan peluncuran buku di kantor polisi pada jam 12 malam misainya. Atau, mendengar ia meluncurkan software dengan cara menjebol situs pemerintahan. Bahkan buku-bukunya pun terkesan ‘mengejutkan’, membuat orang awam sekalipun ingin membacanya.

Untung bagi Atthur, usahanya di bidang pengembangan software dan IT security ini sejalan dengan hobi dan pendidikannya. Meski tentu saja, menjadi pengusaha membuatnya harus banting setir dan terlatih jatuh bangun. Sebagai orang yang bukan ‘title minded’, segala hal itu dilakukannya dengan satu keyakinan: keyakinan untuk maju. Sesederhana itu. Namun, bila kesederhanaan itu membuatnya mampu meraup omzet Rp360 juta per tahun, dengan keuntungan bersih Rp200 juta per tahun, pasti ada sesuatu yang tidak sederhana di batik pemikirannya yang kreatif.

 

TESTIMONI

Q: Mengapa memilih bisnis IT security?

A: Hobi saya adalah melakukan aktivitas yang berhubungan dengan komputer, terutama riset untuk keamanan komputer. Banyak orang dan perusahaan yang kurang aware dengan keamanan komputer. Nah, dari situlah terlihal bahwa hobi ini bisa menjadi peluang bisnis. Misainya, mengamankan jaringan perusahaan agar tidak dijebol oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Selain itu, pemainnya juga belum banyak, khususnya di Indonesia, sehingga persaingan tidak terlalu kuat.

Q: Bagaimana kiat Anda menghadapi persaingan bisnis?

A: Persaingan tidak hanya diberikan oleh lawan, tapi terkadang teman–teman sendiri. Mereka boleh tersenyum di depan Anda, tapi di belakang Anda? Pasti Anda tidak mengetahuinya. Mereka bisa saja mempersiapkan sesuatu untuk menyaingi Anda. Tapi, ini bukan hal besar untuk dipikirkan, bukan bate sandungan untuk Anda yang berwirausaha. Hal itu lumrah dalam bisnis, seperti kata pepatah, “Seluruh hal dihalalkan dalam bisnis, cinta, dan perang”. Untuk menghadapi persaingan bisnis, kita harus tetap kreatif dengan jadilah pelopor (pioneer) bukan pengikut (follower), bersikap jujur, dan menolong orang dalam berbisnis.

 

“Saya adalah orang teknis sehingga berpkirnya cendan cara terus, sampai bisnis pun saya pkir dengan teknis, pada’ial hal tersebut bertentangan. karena saya berpikir seperti itu, bisnis pertama saya gagal. Saya terlalu teknis, sehingga tidak bisa berpikir di luar kotak. Untuk keluar dari kotak tersebut saya mengkutlibeberapa pelatihan yanc bersifat bisnis, berpikir kreatif, dan berhubungan dengan manajemen.”

 

Tips        

HUKUM WIRAUSAHA #22   

Berpikir Out Of The Box

 

“Orang bijak adalah mereka yang belajar bahwa batas tidak harus selalu menjadi perhatian utama mereka. “William Arthur Ward

 

COBA TINJAU ULANG hidup Anda. Berapa kali Anda merasa stuck, tidak tahu harus berbuat apa, dan tidak tahu harus melangkah ke mana? Hal seperti ini kerap terjadi karena Anda masih memandang suatu masalah, hidup Anda, karier Anda, dari sudut pandang yang sama. Cobalah untuk berpikir dari sudut pandang lain, maka Anda akan keluar dari kotak yang mengurung Anda dan mendapati bahwa hidup ini jauh lebih berwarna.

Demikian pula yang terjadi pada Atthur. Jika ia sebagai pengguna komputer hanya berdiam diri saat menghadapi serangan virus, tentu ada orang lain yang akan menciptakan antivirus, dan Atthur hanya akan menjadi pengguna komputer biasa. Untuk dapat berpikir out of the box, berikut tipsnya:

  • Jangan terpaku pada satu titik. Melangkahlah dan temukan titik-titik lainnya. Jika dalam perjalanan Anda menemukan titik-titik baru dan Anda mendapat hambatan jangan terlalu cepat menyerah. Sebab tidak semua peluang terbuka secara otomatis. Jika Anda mendapati sebuah pintu, ketuklah beberapa lagi sampai pintu terbuka, dan lihallah apa yang Anda temukan di baliknya. Bila pintu tidak terbuka arahkan pandangan Anda ke tempat lain, di sang pun Anda mungkin akan mendapati titik lainnya untuk dieksplorasi. Jalani terus satu persatu agar talenta yang terpendam dalam diri Anda mendapatkan pasangan yang menariknya keluar dan bersinar.
  • Jangan terpaku pada constraint. Batasan dalam dunia ini hanya eksis karena dibuat oleh Anda sendiri berdasarkan apa yang tidak bisa Anda lakukan. Jangan terkurung dalam pembatas yang Anda beat sendiri itu, atau dibuat oleh orang lain untuk Anda. Jauhi orang-orang yang hanya memberi pengaruh negatif pada Anda, mengajari Anda dengan mitos-mitos yang membelenggu, atau membuat Anda hanya berpikir’tidak bisa’, ‘tidak mungkin’, atau Anda pasti ‘gagal’. Arungi laut yang luas dan sambutlah sinar matahari baru yang menyapa hidup Anda.
  • Lepaskan bingkai yang menghalangi kreativitas Anda. Orang yang kreatif akan selalu mencarijalan, membuka pintu baru, menjelajahi setiap kemungkinan yang ada, serta merangkai kembali banyak hal yang tercerai-berai menjadi kehidupan baru. Anda mungkin memiliki produk yang sama, tetapi jadikan diri dan kreativitas Anda sebagai pembeda yang unik.
  • Keseimbangan antara kecepatan dan kesabaran. Dunia ini dipenuhi banyak kesempatan tetapi tidak semua hal yang tersedia dapat Anda tangkap. Anda harus bergerak cepat, namun begitu kesempatan jatuh di tangan Anda, diperlukan kesabaran untuk membangun dan merawatnya.
  • Kembangkan wawasan seluas samudra. Jangan cepat merasa puas jika Anda sudah mengetahui sesuatu hal. Cari tahu hal-hal lainnya yang terkait dengan minat Anda dengan banyak membaca, berdiskusi, melakukan browsing di internet, melakukan perjalanan, atau melakukan sesuatu yang benar-benar baru. Dengan mengenal dan mengalami semakin banyak hal yang baru, wawasan Anda akan terbuka. Anda akan memiliki lebih banyak pilihan dan lebih banyak pengalaman sebagai dasar pertimbangan saat membuat pilihan. Selain itu, dengan wawasan yang lugs Anda dapat mengenali suatu pilihan, dari awal sampai akhir, sehingga tidak salah memilih dan tidak menyesali pilihan yang telah Anda buat.

 

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 2: Kisah Inspiratif Anak-anak Muda Menemukan Masa Depan dari Hal-hal yang Diabaikan Banyak Orang. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

Sofian, Pemilik S-Works Computer: Mimpi yang menggerakkan

Be nice to nerds,. Chances are you’ll end up working for one. Kutipan dari Bill gates, pendiri Microsoft Corporation dan orang terkaya dunia ini tampak sesuai dengan kisah Sofian. Awalnya, programmer ini hanya bekerja untuk orang lain. Namun dengna mimpi besar, ia kini mengibarkan bendera perusahaan miliknya.

 

 

PEMBAWAAN SORAN, PEMUDA kelahiran Mentok, Bangka, 1 Juni 1980 ini tidak berbeda dengan gambaran kita akan seorang nerd. Pendiam, tidak suka berada di keramaian, namun bisa tak ingat waktu bila sudah berada di depan komputer. Kalau bisa memilih, ia lebih suka berada bersama benda coati itu ketimbang makhluk hidup. Komputer memberinya eksplorasi yang luas dan membentangkan kesempatan yang tak berbatas. Sebuah peluang untuk mewujudkan mimpi.

Lahir dari keluarga yang tak berada membuat Sofian terbiasa hidup dalam keadaan serba kekurangan. Namun, mimpi tak mengenal kendala itu. Mimpi itu tetap datang dan menggerakkan Sofian untuk mengubah nasib. “Action with vision will bring the dreams come true,” kata Sofian mengutip sebuah ungkapan. Pemuda asal Kepulauan Bangka Belitung ini lalu mulai menerjemahkan mimpimimpinya ke dalam sebuah langkah nyata. Langkah-langkah yang awalnya kecil, namun akhirnya menciptakan lompatan besar.

Kini, upayanya berbuah manis. “Dari keahlian sebagai programmer komputer, saya bisa meraih pemasukan sekitar Rp40-100 juta per tahun dengan keuntungan bersih sampai lebih dari Rp50 juta,” ungkapnya. Tentu saja, jumlah ini tak bisa dibandingkan dengan profit idolanya, Bill Gates. Namun, itu pun bukan hal yang dapat dipandang remeh.

 

BERANI BERMIMPI BESAR

Berdirinya S-Work milik Sofian–yang melayani pembuatan aplikasi (software) berbasis database komputer, perawatan dan perbaikan komputer, serta intalasi jaringan komputer (LAN)–diawali pada akhir 2009. Sofian yang telah lama bekerja pada perusahaan orang lain, bahkan bekerja sama dengan rekannya, akhirnya berani membuka usaha sendiri. Lokasi usahanya memang tidak mentereng karena berada di rumahnya sendiri. Maklum, jenis pekerjaan Sofian memang hanya pelayanan. Jadi, ia mendatangi perusahaan orang lain yang membutuhkan jasanya. Sampan kini, ia telah membuat aplikasi untuk mini market, rumah makan, pujasera, billing karaoke, billing warnet, spare part, aksesori telepon seluler, dan program-program keperluan kantor.

 

Memiliki mimpi yang sanggup menggerakkan diri sendiri untuk mengubah nasib.

 

“Sebelumnya saya kurang percaya diri untuk berwirausaha, takut gagal. Apalagi strategi pemasaran kurang saya kuasai, ditambah sifat saya yang pemalu dan kurang mampu berkomunikasi. Namun kemauan saya kuat. Apalagi keluarga juga mendukung pilihan saya memberikan tambahan modal,” kata Sofian.

Untuk memulai usaha, Sofian memang tak memerlukan modal besar, hanya seperangkat komputer dan meja kerja. “Meskipun modal minim saya memulai usaha dengan satu mimpi raksasa untuk sukses,” ujar Sofian penuh optimisme. Mulai program kerja berharga jutaan, sedikit demi sedikit usahanya meningkat menjadi belasan juta, hingga sekarang sudah mencapai ratusan juta untuk setiap produk yang digarapnya. Saat ini Sofian memang baru menangani segmen pasar kecil dan menengah saja. Tapi, harapannya tidak berhenti di situ. “Saya berharap ke depan akan dapat menjual produk ke perusahaan-perusahaan besar di seluruh Indonesia,” katanya.

Kemauan untuk maju telah ditancapkan Sofian dengan kokoh. Meski bisnisnya belum berusia lama, namun bekal ilmu dan pengalamannya membuat  ia yakin bahwa usaha itu dapat berkembang menjadi perusahaan yang akan menghasilkan hardware komputer dengan brand sendiri. “Saya yakin, dengan semakin maju teknologi, suatu hari nanti dapat mewujudkan semua impian saya,” tambahnya. “Dan saya yakin, tak mungkin saya dapat sukses besar bila hanya bekerja untuk prang lain. Saya ingin menjadi pemilik usaha, yang bisa menentukan sendiri nasib dan perolehan yang diinginkan. Sebab hidup barus memilih,” tambahnya lagi.

Menurut Sofian, saat ini usahanya memang belum seberapa. Laju perkembangannya pun belum menderap deras. Ini dikarenakan ia masih terkendala oleh pengetahuan, sumber daya, maupun modal usaha. Namun dengan target dan visi jelas, pengejaran mimpi itu sudah diawali dengan sukses, kendati ia pernah dihantui kegagalan.

 

 

BIODATA

SOFIAN

Mentok, Bangka, 1 Juni 1980

Email: sofian_s@yahoo.com

S1 Teknik Informatika, STIVIKIVIDP, Palembang

Nama Usaha

S-Works Computer

Website: http://www.s-works.web.id

Alamat: Graha Bukit Raflesia Blok M.30, A Kenten Sukamaju, Palembang

Penghargaan

2009 Finalis Wirausaha Muda Mandiri

 

MENCICIPI KEGAGALAN

Pada 2006 Sofian mendapat tawaran kerja sama dari seorang konsultan pajak yang juga baru merinos usaha. Karena belum berpengalaman dan ragu untuk memulai sendiri, tawaran kerja sama tersebut diterimanya. la pun meninggalkan pekerjaannya di perusahaan otomotif. Klien pertama Sofian adalah seorang kontraktor yang menginginkan program komputer untuk memantau penggunaan alat-alat berat, mencatat penggunaan bahan bakarnya, absensi operator alat, dan sebagainya.

Kerja sama ini terus berjalan, hingga pada 2007 mitra kerjanya resmi membuka kantor kecil. Saat itu, klien sudah mulai banyak dan ia mempunyai beberapa karyawan untuk membantu administrasi kantor. Mitra kerja Sofian bahkan bersedia memodak Sofian dengan perjanjian pembagian hasil 50:50 untuk setiap penjualan program, Program yang dibuat adalah akuntansi standar untuk pembukuan kantor.

Dari hasil penjualan program, bersama mitra kerjanya ini, Sofian melebarkan sayap dengan membuka usaha baru, yaitu warnet, dengan pembagian keuntungan 20:80. Sayangnya, karena belum berpengalaman, semua kesepakatan dibuat hanya berdasarkan azas kepercayaan saja. Tanpa ada hitam di atas putih, pada akhirnya semua keputusan berada di tangan mitra Sofian.

Di sinilah timbul ketidakpuasan. Selama dua tahun warnet tersebut beroperasi, Sofian tak menikmati keuntungan sepeser pun. Baru pada tahun ketiga Sofian bisa menikmati laba kerja samanya, Rp4 juta dari keuntungan Rp20 juta setiap tiga bulan. Setelah tiga kali menerima pembagian hasil, Sofian diajak kembali untuk membuka cabang warnet di tempat lain. “Tapi niat itu saya tolak. Saya tahu nanti komputer dan segala perlengkapan lain harus dibeli perusahaan lewat dia dengan bunga yang sangat besar. Saya tak mau lagi dipermainkan,” kenang Sofian.

 

Mau belajar dari pengalaman buruk maupun baik, antara lain dengan menyodorkan perawatan program secara gratis.

 

la pun menarik diri dari kerja sama itu karena merasa keahliannya dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi mitranya. Apalagi, ternyata mitra bisnis Sofian sudah tidak lagi melakukan penagihan kepada klien yang rnemakai jasa program komputer Sofian selama satu tahun. Sofian pun merelakan modal usahanya—sebesar 20 persen—tidak kembali.

Peristiwa ini menjadi pelajaran sangat berharga buat Sofian. la tak lantas putus asa. Keahliannya masih tetap diakui oleh klien-khen lamanya. Buktinya, meski tak lagi bersama mitra kerjanya, Sofian masih dipercaya oleh kliennya. Dari kegagalan itu, ia semakin berhati-hati melakukan usahanya. “Saya mendapat pengalaman positif. Khususnya dalam berinteraksi dan mengenal orang lain,” kata Sofian.

Kepribadian Sofian menjadi lebih terbuka. la jadi tahu bagaimana cara berhubungan dengan orang lain–misalnya untuk menawarkan produk, la melakukan kunjungan ke perusahaan-perusahaan, membuat network untuk memperluas pasar. “Kemudian saya memulai langkah untuk berwirausaha sendiri yang sesungguhnya,” kata Sofian mantap. Selain itu, agar perusahaannya memiliki keunggulan, Sofian juga menyediakan layanan purnajual yang mengesankan. Selama masih dipakai, produk aplikasinya mendapat garansi seumur hidup. Cara ini menumbuhkan loyalitas dan kepercayaan tersendiri, serta membuat banyak klien selalu kembali kepadanya. Mimpi seorang Sofian telah menggerakkan semestanya!

 

Berusaha di bidang yang sesuai dengan kemampuan.

MENGENAL KOMPUTER

Sofian kecil lahir dari keluarga sederhana. Bakat elektroniknya diawali saat ia duduk di bangku SMP di Kepulauan Bangka Belitung, tepatnya di Kabupaten Bangka Barat, Kecamatan Mentok. Itu sebabnya, setamat SMP pada 1995, ia memilih melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Kejuruan Negeri II ketimbang melanjutkan di SMU. Sofian pun pindah ke Pangkal Pinang. la rely berada jauh dari orangtuanya, kemudian memilih jurusan Elektronika dan Komunikasi.

Sekolah yang memiliki laboratorium cukup lengkap itu membuat hobi elektronik Sofian berkembang. “Di sini pula saya mengenal komputer. Meski sebelumnya saya tak tertarik dengan komputer–saat itu belum ada program Windows–lama-kelamaan saya bisa menikmatinya,” tutur Sofian bersemangat. la semakin termotivasi karena Jurusan Mesin sudah mengimplementasikan komputer pada sebuah mesin bubut besi CNC, sehingga membuat bentuk dari besi bukan lagi perkara sulit. “Di luar Sekolah, saya mengikuti kursus komputer, yang ternyata hanya satu-satunya di sang,” Sofian berkisah. Di sanalah ia menjadi mahir menggunakan program Word Star. “Saya pun hapal di luar kepala sintaksis untuk melakukan format penulisan,” katanya.

Sayangnya karena keterbatasan dana, setelah lulus SMK Sofian tak bisa meneruskan ke perguruan tinggi. Tapi, ia tak putus asa. Kursus di Balai Latihan Kerja Indonesia yang dikelola Depnaker di Palembang, menjadi langkah berikutnya. Spesialisasi yang diambilnya adalah TV dan radio. Komputer—yang saat itu perkembangannya tidak pesat—sempat dia lupakan. Keahlian sekaligus hobinya itu pun ia kembangkan, dengan bekerja di salah satu toko elektronik di Palembang sebagai pemasang perangkat elektronik di rumah konsumen.

Pertengahan 1999 Sofian hengkang dari Palembang dan pindah bekerja pada sebuah main dealer Suzuki di Pekanbaru, Riau. la pun mendapat tempat di mess karyawan. Di sinilah Sofian berkenalan dengan seorang programmer komputer yang menangani semua sistem yang sudah terintegrasi dengan sebuah dealer besar, Indomobil. Dan, kariernya pun berawal dari sini, seakan mendapat petunjuk dari yang Maha Kuasa.

Sofian—yang sejak kecil sangat tertarik pada bidang elektronik—bagaikan mendapatkan guru gratis. Dari kegiatan memasang kabel listrik, kabel LAN, sampai akhirnya belajar format dan install program di komputer, dilakoninya. Dari pemeliharaan jaringan hingga bahasa pemrogaman pun dipelajarinya. Dengan dasar peralatan elektronik yang ia kuasai, pelajaran komputer yang diberikan temannya dengan cepat diserapnya. Latihan penanganan kasus yang terjadi di lingkungan perusahaan otomatis mengasah kemampuannya di bidang komputer dan pemrograman. Sofian pun menjadi mahir dan tenaganya dipercaya menangani cabang-cabang di Pekanbaru, Padang, Batam, dan Tanjung Pinang.

Sofian kembali ke Palembang tahun 2004 dan langsung berkecimpung sebagai tenaga IT pada perusahaan otomotif di wilayah Sumatera Selatan dan Bengkulu. Tugasnya adalah membuat program database kecil yang dibutuhkan semua bagian dalam perusahaan serta melakukan perawatan terhadap semua masalah komputer.

 

Kegagalan tak membuatnya cepat menyerah.

 

“Setelah dua tahun bekerja, rasa kurang puas terus menggelora di dada. Impian saya jadi pengusaha terasa semakin jauh,” kata Sofian. Akhirnya ia memutuskan untuk menambah ilmunya di bidang komputer. la lalu kuliah sambil bekerja, Sesuai cita-citanya ia pun mengambil jurusan Teknik Informatika pada Sekolah Tinggi Komputer (STMIK-MDP) Palembang. Karena siang bekerja, malam kuliah, prestasi akademik Sofian keteteran. Meski demikian ia tetap bertekad memperbaiki masa depan dengan menyelesaikan kuliahnya.

Meski secara akademik tertinggal, di kampusnya namanya terkenal untuk urusan komputer. la pun sering membantu teman-temannya dan tetap menerima order dari perusahaan di kotanya. Di tengah-tengah masa kuliah, Sofian mengundurkan diri dari pekerjaannya. la memilih mencoba berusaha sendiri, dan pada 2006 ia mulai bekerja sama dengan seorang pengusaha. “Saya ingin sukses seperti mereka. Meskipun mimpi saya terdengar mustahil, tapi saya tetap yakin suatu saat pasti bisa,” tandas Sofian.

Tempaan dari sejak masa sekolah itulah yang membuat Sofian memiliki semangat untuk bertahan menjalani usahanya. Meski dulu sempat kecewa dengan mitra usahanya, kini dia sudah membuka diri untuk bekerja sama iagi jika ada yang berminat. Niat inn menjadi terbuka setelah ia menjadi finalis pada pelatihan Wirausaha Muda Mandiri. Karena itulah ia terus memelihara situs perusahaannya, http://www.s-works.web.id.

 

Testimoni

Q: Apakah pendidikan Anda menunjang bisnis?

A: Konsep bisnis saya sederhana, yaitu memberikan solusi untuk mempermudah pekerjaan yang menyangkut data berbasis komputer. Pendidikan saya di bidang teknik informatika tentu saja membantu kelancaran bisnis ini. Namun, sebelum berbisnis, saya juga banyak belajar tentang ilmu komputer, baik secara formal melalui kuliah maupun secara informal dengan membaca buku-buku komputer. Banyak relasi bisnis saya saat ini berasal dari hubungan di masa kuliah dulu.

Q: Pernahkah mencoba bisnis lain sebelumnya? Mengapa akhirnya memilih bisnis ini?

A: Sebelumnya saya pernah bekerja sama dengan orang lain membuka bisnis warnet game online. Namun, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pads bisnis software house karena warnet membutuhkan modal yang cukup besar dengan keuntungan yang relatif kecil. Selain itu perawatan warnet lebih rumit. Pangsa pasar bisnis saat ini lebih kepada orang atau perusahaan menengah ke atas, serta menuntut pengetahuan dasar tentang komputer.

 

“Saya termasuk yang agak pendiam dan kurang menyukai berada di suatu lingkungan yang ramai. Tetapi, saya bisa berlama-lama di depan komputer, bahkan seharian untuk bekerja. Saya lebih menyukai pekerjaan yang tidak langsung berhadapan dengan orang lain. Usaha saya sekarang ini saya rasakan cocok dengan karakteristik diri saya, karena tidak terlalu sering berhadapan dengan orang lain secara langsung.”

 

Tips

Hukum Wirausaha #19

Kepribadian yang Tidak Kondusif untuk Berbisnis

 

Siapa pun yang tak kenal waktu saat menggunakan komputer mengetahui tentang kecenderungan untuk bermimpi, dorongan untuk membuat mimpi menjadi kenyataan, don kemungkinan untuk melewatkan makan siang. —Tim Berners-Lee

 

UNTUK MEMBANGUN BISNIS yang baik, setiap orang dituntut untuk memiliki life skills. Salah satu life skills yang penting adalah kemampuan berkomunikasi secara luwes dan mampu mengambil keputusan, berpikir kreatif dan kritis, serta mengelola rasa frustasi. Meskipun demikian, kemampuan-kemampuan seperti itu kadang kala tidak dimiliki seseorang secara lengkap. Banyak orang yang bersekolah tinggi dan akhirnya memiliki intelectual capacityyang jauh lebih besar daripada life skills. seperti halnya dengan Sofian, yang memilki intelectual capacity yang sangat tinggi dalam bidang IT, ternyata memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi.

Hal serupa juga dialami oleh ribuan anak muda yang secara alamiah dibentuk dalam lingkungan pembelajaran yang sangat serius. Pola pendidikan seperti ini cenderung melahirkan manusia-manusia yang hebat tetapi kurang memiliki atau kurang dapat mengembangkan life skills. Apakah orang-orang seperti ini dapat berkembang menjadi entrepreneur yang berhasil? Berikut ini adalah tips bagi Anda yang dibesarkan dalam lingkungan sosial yang serius:

  • Jangan menyangkal, terimalah realita bahwa Anda memiliki keterbatasan. Hanya orang-orang yang menerima kenyataanlah yang dapat berubah. Sepanjang Anda masih menyangkal kondisi tersebut, Anda akan terpenjara dengan keterbatasan tersebut sepanjang usia Anda.
  • Carilah mentor atau partner. Tetapi berhati-hatilah dalam memilih. Mentor atau partner Anda mutlak harus bisa melengkapi kekurangan Anda. Jadi, kalau Anda tidak pandai berkomunikasi secara verbal, carilah orang yang pandai berkomunikasi secara verbal clan jadikan orang ini sebagai tempat Anda belajar sekaligus untuk menutupi kekurangan Anda.
  • Jangan mengurung diri Anda dalam ruang gelap laboratorium yang Anda sukai. Keluar dan carilah tempat yang banyak cahaya serta oksigen. Ingat, Anda bukanlah pegawai laboratorium yang hanya berinteraksi dengan benda coati. Anda adalah seorang pengusaha dan karena posisi itulah Anda harus berinteraksi dengan kehidupan serta siap berubah.
  • Jauhkan pikiran Anda bahwa Anda adalah Anda. Atau, pikiran bahwa Anda adalah orang yang harus diterima apa aclanya dan orang lainlah yang harus mengerti Anda. Pikirkanlah bahwa manusia adalah makhluk pembelajar yang mampu memperbaiki dirinya. Kalau Anda tidak mau belajar serta memperbaiki diri, maka Anda akan mengalami banyak kesulitan. Misalnya, kesulitan karena anak buah Anda tidak mengerti apa yang Anda inginkan sehingga akibatnya Anda akan kembali harus mengerjakan semua hal seorang diri. Pengusaha adalah orang yang mendapatkan keberuntungan dengan menggunakan banyak tangan orang lain.
  • Buatlah hidup Anda menjadi lebih hidup dan bersemangat dengan memberikan sentuhan-sentuhan humanis seperti musik, film, hubungan yang hangat dan penuh persahabatan, berbagi, serta menciptakan target-target baru yang membentuk perilaku baru. Hal-hal yang bersifat emosional, penuh kehangatan, dan menyenangkan ini dapat menumbuhkan kecerdasan relationship, emosional, dan sosial Anda. Dan, pada saatnya nanti, kecerdasan–kecerdasan inilah yang akan membentuk keunggulan baru dalam perilaku Anda.

 

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 2: Kisah Inspiratif Anak-anak Muda Menemukan Masa Depan dari Hal-hal yang Diabaikan Banyak Orang. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

Roestiandi Tsamanov, Pemilik DSI Laser: Teknologi Laser Pembawa Hoki

Sejumlah tawaran bekerja di Jerman ditolaknya karena ingin memiliki bisnis sendiri. Keahliannya yang jarang dimiliki orang pengelasan dengan teknologi laser menjadi kebanggaan sekaligus modal utama

 

 

“SAYA INGIN MENJADI orang terkaya, masuk dalam 20 orang terkaya di Indonesia,” demikian kata Roestandi Tsamanov, saat dia masih berusia 27 tahun. Saat itu is diwawancarai oleh sebuah majalah nasional. Manov, nama panggilan yang lebih disukainya, tidak merinci kapan targetnya. Ambisius? Tidak juga. Rekam jejaknya menunjukkan alasan kuat mengapa Manov memiliki keyakinan teguh seperti itu.

Salah satunya datang dari Sandiaga Uno, pengusaha muda yang sukses. Sandi memperlihalkan kekagumannya terhadap sepak terjang Manov, Direktur PT DSI Laser Internasional Indonesia, perusahaan yang bergerak di bidang pengelasan laser (laser- welding). “Pala usia 27, saya belum berpikir menjadi pengusaha. Tapi Manov telah menjadi pengusaha kedka umurnya baru 23. Tentu saja masa depan dia sangat cerah,” kata Sandi, yang baru berbisnis di usia 28 tahun.

Fakta lain adalah kemajuan perusahaan. Didirikan sejak 2005, bisnis yang menguras modal Rp1,1 miliar itu kini telah menghasilkan omzet Rp200 juta per bulan atau Rp2,4 miliar per tahun. Asetnya antara lain sebuah gedung di Cikarang. Bagaimana seorang yang belum berusia 30 bisa sukses, hanya dengan 10 pekerja tetap? Simak perjalanan lulusan engineering Swiss German University (SGU) jurusan Mechalronic (automatisasi) di Serpong, Tangerang, ini dalam menapaki bisnisnya.

 

MAGANG DI JERMAN

Tidak banyak orang yang dikaruniai kecerdasan, bakat, dan sarana memadai untuk meraih cita-citanya. Barangkali, Manov beruntung karena termasuk dari segelintir orang tersebut. Dilahirkan dari keluarga berpendidikan Tinggi kedua orang tuanya dokter, ayahnya juga profesor di Universitas Indonesia sejak kecil ia dididik untuk kritis, objektif, simpatik, ikhlas, dan idealis. la diajari untuk menjadi orang yang berguna bagi orang banyak, berkarya nyata, dan menolong tanpa pamrih.

 

Program magang itu memberinya peluang untuk belajar, berbaur, serta mencari ide dan peluang berteman dan menjalin network.

 

Manov berkembang menjadi anak pintar, cepat menangkap pelajaran–hingga kadang membuatnya malas belajar–tapi juga pemalu. Kegemarannya sama seperti anak lelaki lainnya, menonton film science-fiction seperti Star Wars dan Star Trek. Film-film seperti itu selalu membuatnya bermimpi menjadi seorang inventor. Sepotong kertas sering dicoret-coretnya menjadi gambar, bukan estetika atau artistiknya, tapi gambar 3 dimensi yang lengkap. Buku tentang laser dan magnet serta berkhayal menciptakan benda danggih dari alat-aslat itu biasa hinggap di kepalanya.

Kuliah di SGU membuatnya berkesempatan untuk magang di Jerman saat duduk di semester 6, di PT DSI Laser, yang bergerak di bidang laser welding, pada 2003. “Di sana, saya melihat banyak pekerjaan pengelasan datang dari perusahaan otomotif besar sehingga saya penasaran apakah teknologi tersebut sudah ada di Indonesia,” kenangnya.

Laser welding merupakan teknik pengelasan dengan menggunakan laser sebagai medium pencair metal. Kualitas hasilnya demikian tinggi sehingga metal yang dilas tidak mengalami deformasi. Presisi sangat penting dalam industri yang berkualitas tinggi ini. Presisi yang baik dapat merekondisi sebuah peralatan seperti baru. “Dan, yang membuat saya tertarik adalah fakta bahwa perusahaan-perusahaan besar seperti Daimler, BMW, dan Audi, meng-outsource peralatan mereka untuk diperbaiki di DSI Laser yang bukan merupakan perusahaan besar,” papar Manov.

Dari internet, ia memperoleh informasi bahwa jasa pengelasan laser untuk perbaikan alat-alat industri, terutama cetakan produk (mold dan dies), belum ada di Indonesia. Bahkan teknologi dan jasa yang sangat spesifik ini adalah industri yang baru berkembang pacla era 1990-an di Jerman dan 2000-an di Jepang. Kenyataan ini memberi ide di kepaia Manov. Bagaimana bila teknologi dan jasa seperti itu ia pindahkan ke Indonesia?

“Untuk itu saya butuh technical partner dan financial partner. DSI Laser Jerman merupakan pemimpin pasar dan berkualitas di bidang pengelasan laser manual, sehingga transfer know-how atau ilmu kepada calon perusahaan saya sangat penting,” tutur Manov. Kepercayaan diri Manov didukung hasil magangnya beroleh nilai yang bagus.

 

BIODATA

ROESTIANDI TSAMANOV

Jakarta, 8 November 1982

Alamat: JI. SMP 126 No. 63, Pondok Dian, Batu Ampar Condet,

Jakarta Timur

Pendidikan

S1 Mechatronics, Swiss German University, Tanggerang

Nama Usaha

PT DSI Laser Internasional Indonesia Jasa dan Penjualan Las Laser

Website: http://www.dsilaser.co.id

Alamat: Kawasan Industri Jababeka 11 Blok EE1 1A, A Industri Selatan 11, Cikarang, Bekasi

Penghargaan

2009 Finalis Nasional Wirausaha Muda Mandiri

 

Program magang itu memberinya peluang untuk belajar, berbaur, serta mencari ide dan peluang berteman dan menjalin network. la ingat, sebelum lepas landas dari bandara Soekarno-Halta menuju Jerman, doanya adalah mendapatkan kontak/networkyang berguna agar setelah lulus kuliah ia beroleh ide bisnis yang dapat diterapkan di Indonesia.

Tidak disangka, doa itu terjawab. Pemilik DSI Laser Service Gmbh, Mr. Christian Frank, kagum dengan keahlian dan ambisi Manov dan mau menjadi mitranya dengan syarat Manov menggunakan brand perusahaan mereka. Tapi, untuk pendanaan, Manov lebih tertarik meminjam ke bank ketimbang dari mitra teknisnya itu. Terciptalah sebuah kerja sama licensing. Secara teknis, DSI memberikan transfer teknologi dan ilmu. Secara finansial, diberikan keringanan.

 

TERBENTUR MODAL

“Pengalaman Mr. Frank di Jerman sangat jauh berbeda dengan pengalaman saya di sini,” kenang Manov. “Di sana, permodalan untuk UKM terbilang mudah. Perusahaan seperti DSI merniliki keahlian yang spesial dan tinggi dalam menjual jasanya ke seluruh dunia. Soya melihat betapa kuatnya perusahaan-perusahaan UKM itu sampai mereka menjadi raja dalam segmen khusus masing-masing industri. Dan, itu membuat saya yakin bahwa mendirikan perusahaan skala UKM adalah suatu hal yang sangat bagus, prospektif, serta menguntungkan selama dikelola dengan baik. Ini pula yang akan saya terapkan di sini. Jadi, saya pikir mudah saja memperoleh modal dari bank di sini. Ternyata saya salah besar!”

Hampir semua bank yang ada di Indonesia tidak dapat meminjamkan uang untuk investasi bagi perusahaan yang belum berjalan 2 tahun. Demikian juga venture capital, mereka membutuhkan track record minimal 1 tahun untuk menjadi calon mitra. Karena tidak menemukan pemodal, ia lalu bernegosiasi dengan DSI Jerman untuk berinvestasi langsung. Sayang, saat itu DSI sedang berinvestasi di Thailand sehingga tidak dapat membagi fokus ke Indonesia. “Setelah terus berkonsultasi dengan Bank Mandiri, saya menemukan Cara yaitu meminjam atas nama ayah saya, dengan menjaminkan rumah orangtua saya.”

 

Dari internet, ia memperoleh informasi bahwa jasa pengelasan laser untuk perbaikan alas-alas industri, terutama cetakan produk (mold dan dies), belum ada di Indonesia.

 

PEMETAAN SEGMEN

Dengan modal pinjaman dari bank dan terms of payment mesin yang panjang, Manov mulai menapaki usahanya, la mengawali DSI Laser Internasional Indonesia dengan satu staf untuk pengelasan. Marketing, pengiriman penawaran, pengiriman invoice, dan pembukuan pajak, ia lakukan sendiri.

Beberapa bulan pertama keadaan sangat sulit. “Karena pelanggan yang dicari kebanyakan adalah pabrik besar, maka sulit bagi saya untuk mencari orang yang tepat posisinya. Kalaupun sudah ketemu, tetap terkendala dalam membujuk orang tersebut untuk bertemu. Sampai akhirnya ada juga perusahaan yang mau mencoba.”

Pada awal bisnis, Manov belajar bagaimana sulitnya memperkenalkan teknologi yang sedemikian tinggi di Indonesia. Betil, ia sedang memasuki ‘blue ocean’. Namun pasar yang ia ciptakan itu belum dikenal orang dan harganya tidak murah. Banyak calon kliennya yang terkejut melihat angkanya yang lebih tinggi dibandingkan dengan teknologi konvensional.

“Kesulitan besar lain terjadi ketika saya memperbaiki keretakan pada cetakan alumunium. Saya sudah berusaha sebaik mungkin, tetapi tetap retak. Tidak jauh lebih bagus dari penggunaan metode pengelasan lainnya, dan saya telah menghabiskan biaya cukup besar, termasuk berkonsultasi via telepon dengan Mr. Frank. Akhirnya, kesulitan ini dapat teratasi dengan datangnya Mr. Frank dari Jerman dan memperbaiki pengelasan itu.”

 

Mesin secanggh itu ternyata tidak dapat diagunkan karena sangat spesifik dan tidak beredar secara umum. Appraisal nilai mesin menjadi susah dan jumlah pinjaman yang diberi bank sangat kecil.

 

Peristiwa itu membuat Manov melakukan refieksi. Apakah ia telah salah membawa teknologi dan jasa ini ke Indonesia? Apakah mungkin las laser hanya cocok di Jerman yang menggunakan peralatan mold dan dies berkualitas sangat bagus, dan kurang cocok untuk Indonesia karena kualitasnya masih tertinggal? Apakah ia telah melakukan investasi yang salah dengan menjaminkan rumah orangtua? Bagaimana caranya agar perusahaan tetap berjalan, minimal dapat mengembalikan utang-utang sampai lunas?

Kedatangan kedua Mr. Frank ke Indonesia memberikan banyak masukan, Tingkat kesulitan teknologi laser welding sangat tinggi dan karenanya membutuhkan biaya yang juga tinggi. Oleh karena itu, Manov harus memetakan ulang segmen pasar. Pasarnya tidaklah terlalu besar, hanya beberapa perusahaan spesifik raja.

“Tahun pertama, pemasukan belum terlalu banyak. Hanya cukup untuk membayar gaji staf dan utang. Saya harus membayar Rp15 juta per bulan ke bank, terasa berat sekali. Tahun kedua, staf bertambah untuk membantu administrasi dan pengelasan. Saat itu baru saya mampu mencicil utang kepada IDSI Laser Service Gmbh, Jerman,” ujarnya sambil tersenyum lega.

 

MENGUBAH MENTAL

Dua tahun pertama, Manov tidak punya gaji. Bisnisnya hanya cukup untuk makan dan transportasi serta membayar utang dan kewajiban. Namun, kerja kerasnya mulai memetik hasil. la mendapatkan kesempatan memperbaiki mold untuk salah satu perusahaan otomotif terbesar di Indonesia. Sebelumnya, pengelasan laser belum pernah dicoba oleh perusahaan otomotif tersebut. Manov menerima order pekerjaan tersebut, walau terpaksa memberikan harga yang sangat murah, 30% lebih murah dari harga sebenarnya. Waktunya pun sangat terbatas. Seyogyanya, pesanan seperti itu diselesaikan dalam 5 hari. Untuk pesanan dari perusahaan otomotif ini, ia harus bisa menyelesaikannya dalam waktu 30 jam. Namun, hasilnya memang memuaskan. Pengelasan laser dimasukkan sebagai salah satu operasi perbaikan mold standar perusahaan tersebut.

“Dampaknya terasa besar, karena penjualan di tahun berikutnya melonjak lebih dari 2 kali lipat,” kata Manov. Dengan meningkatnya penawaran, ia membeli mesin laser lagi dengan meminjam uang ke bank. Tapi, lagi-lagi ia menemui kendala. Mesin sedanggih itu ternyata tidak dapat diagunkan karena sangat spesifik dan tdak beredar secara umum. Appraisal nilai mesin menjadi susah dan jumlah pinjaman yang diberi bank sangat kecil.

Memutar otak berkali-kali, jalan terbuka saat Manov mernutuskan untuk membeli sebuah gedung workshop di kawasan inclustri Jababeka. Waktu itu kontrak rukonya hampir berakhir, Namun, di sisi lain ia yakin gedungnya lebih mudah dijaminkan ke bank. Ternyata, strategi itu berhasil memuluskan jalannya untuk mendapat pinjaman.

 

“Saya tidak dididik untuk memiliki naluri oisnis. Semua datang dari kemauan untuk belajar dan berubah.”

 

Setelah dua tahun dilalui tanpa gaji, Manov berhasil membesarkan DSI Laser Indonesia. la tak hanya belajar menjual jasa, tapi juga terus melakukan pengembangan diri. Sifatnya yang pemalu seperti saat ia masih kecil nyaris tak terlihal lagi. la berusaha keluar dari ‘belenggu’ yang tak terlihal. Kata Manov, ketika remaja ia sama sekali tidak punya kebiasaan berdagang. “Satu-satunya yang pernah saya jual hanyalah sepatu bekas saya. Itu pun hanya kepada teman, dan karena sedang butuh uang saja,” ujarnya. Keinginannya menjadi pengusaha baru terpicu saat kuliah.

Buat Manov, keadaan itu mendorongnya menjadi ‘orang kuat’ agar bisa menolong orang-orang yang ia dengar atau baca. Orang kuat yang ia maksud adalah pengusaha. Tentu saja pengusaha sukses. Itulah sebabnya ia kemudian menolak sejumlah tawaran bekerja di Jerman usai lulus kuliah. la lebih baik berbisnis sendiri. Namun, ia juga tahu bahwa ia harus mengubah mentalitasnya yang lama, yang kurang bermanfaat bila ia ingin menjadi pengusaha.

“Saya harus menghapus sifat tidak enakan, dan terlalu kritis, karena sifat-sifat itu menghambat perjalanan menjadi wirausahawan. Perubahan mentalitas berpikir membutuhkan tekad yang kuat, dan selama saya menjalankan perubahan tersebut, hambatan terbesar yang saya hadapi adalah diri saya sendiri. Hambatan terbesar adalah bagaimana saya bisa mengubah diri, dari siapa saya sebelumnya menjadi siapa saya seharusnya.”

Sebagai wirausahawan, ia menanamkan self reliance, bagaimana menyelesaikan semua masalah tanpa bantuan orang lain. Itulah dasar untuk menjadi seorang pengusaha, Meski pendapatnya tidak sepenuhnya benar, karena pengusaha pun dapat bermitra dan menyewa tenaga ahli, tapi attitude untuk bisa mengerjakan apa pun sendiri tetaplah penting.

Pengagum mencliang William Soeryajaya ini kini boleh bernapas lega. Perusahaannya telah mengerjakan order lebih dari 100 perusahaan di bidang mold making dan manufacturing. Intangibles seperti keterampilan dan pengetahuan, terus diasahnya dengan baik, la ingin membuktikan bahwa menjadi wisarausahawan bisa dipelajari.

“Saya tidak dididik untuk memiliki naluri bisnis. Semua datang dari kemauan untuk belajar dan berubah. Sekarang, DSI Laser adalah spesialis di bidang pengelasan laser di Indonesia. Kami terbuka untuk kerja sama bagi perusahaan-perusahaan yang juga membuka atau mendapatkan pengelasan laser.”

Kendati sukses, Manov masih punya mimpi lain. la bilang, “Mimpi saya adalah tercapainya aliansi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang teknologi terintegrasi dan manufacturing of intelligent gadgets, tools and systems.” Dan, tentunya ingin menjadi orang terkaya di Indonesia.

 

“Saya sangat bersyukur dengan keadaan saya sekarang sebagai pengusaha muda yang lumayan sukses. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya saya akan menjadi seorang entrepreneur, apa lagi di usia muda. Karena, pada dasarnya saya tidak berbakat untuk berdagangn. Saya tidak memiliki naluri alami yang saya lihat pada teman-teman saa semasa SMP dan SMA, yang kala itu sudah mulai berjualan.

Tips

HUKUM WIRAUSAHA #18

Technopreneur, Berbisnis Kecanggihan Teknologi

 

“Anda tidak dapat mengoperasikan perusahaan dengan ketakutan, karena cara untuk menghilangkan rasa takut adalah dengan menghindari kritik. Dan, cara untuk menghindari kritik adalah dengan tidak melakukan apa-apa.” —Steve Ross

 

SEKALI LAGI, DI sini kita melihat bagaimana seorang sarjana memulai usaha dari pengetahuan yang dimilikinya. Manov adalah seorang lulusan Swiss German University yang mendalami mekatronik, sebuah pilihan yang tidak banyak dikuasai oleh anak bangsa. Sementara kebanyakan teknokrat atau teknolog kita menghindar untuk bergelut dalam bidang ilmu yang dikuasainya, Manov justru berkutat pads pengetahuan yang diyakininya akan mampu membawanya ke mass depan. Mengapa sebagian besar teknokrat dan teknolog kita menghindar dari ilmu yang didalaminya?

Jawabannya sederhana: karena usaha di bidang ini memerlukan modal yang sangat besar, hasilnya tidak bisa dilihal secara instan, dan membutuhkan sifat ‘petani’ yang harus sabar menunggu hasil dalam jangka yang relatif panjang. Berikut adalah tips yang perlu dipersiapkan oleh seorang technopreneur dalam memasuki usaha yang penuh dengan ketidakpastian:

  • Fokuskan seluruh energi Anda pada satu titik, yaitu titik yang paling Anda kuasai dalam bidang teknologi. Lalu, kerahkan semua sumber daya yang ads di sekitar Anda. Bisa jadi sumber daya tersebut berasal dari keluarga inti, keluarga besar, teman, kerabat, dosen, dan pihak-pihak lain yang tidak menuntut formalitas atau hal-hal lain yang dapat mengganggu pikiran Anda. Dalam hal ini, Manov menggunakan resources awal yang berasal dari orangtuanya.
  • Pengertian ‘kecil’ dalam bisnis yang berbasis teknologi tentu tidak sama dengan pengertian ‘kecil’ bagi Anda yang menggeluti bisnis di bidang kuliner atau pertanian. Modal sebesar Rp1,1 miliar pada tahun 2005 yang harus dikeluarkan Manov, mungkin terlihal besar bagi seorang pengusahan kuliner. Tapi, dalam industri berbasis teknologi, nilai sebesar ini sesungguhnya tidak seberapa. Sebaliknya, omzet yang didapat dari bisnis ini juga tidak kecil. Terbukti, Manov mendapatkan Rp200 juta setiap bulannya. Bandingkan dengan seorang pengusaha kuliner dengan modal kurang dari Rp5 juta, omzet yang dihasilkan hanya sekitar Rp2 juta per bulan.
  • Tidak ada kata lain yang perlu dipikirkan selain keyakinan dan keberanian. Usaha apa pun yang Anda geluti, besar ataupun kecil, tidak akan pernah bisa berjaIan kalau Anda hanya mengandalkan pengetahuan semata, sementara Anda sendiri tidak mempunyai keyakinan untuk menjadikan pengetahuan itu sebagai masa depan kehidupan Anda. Hanya dengan keyakinan itulah manusia akan memiliki keberanian untuk melakukan banyak hal.
  • Setiap usaha tidak mungkin berjalan dengan mulus sepanjang waktu, tanpa ada rintangan apa-apa. Terbukti, Manov mengalami masalah cetakan yang membutuhkan bantuan ahlinya dari Jerman. Dan, Anda sudah membaca rintangan yang dihadapi oleh Abrian Nathan, Halex Halim, dan Kismet Hamami? Bahkan usaha yang didukung oleh jaminan usaha besar dan pejabat tinggi sekalipun bisa menemui gangguan dan hambatan. Apalagi Anda yang tidak memiliki koneksi pada kekuasaan, belum memiliki jaringan pemasaran yang memadai, dengan reputasi yang belum dikenal atau belum terbentuk, dan mengusung teknologi yang baru Anda pelajari. Bisa dipastikan Anda akan menghadapi sejuta tantangan. Namun, berbesar halilah. Karena tanpa tantangan, tidak akan pernah lahir pengusaha besar.
  • Permudah pelanggan Anda untuk memahami dan membeli jasa atau produk Anda. Produk-produk atau jasa jasa teknologi yang baru, biasanya diterima oleh pasar dengan coba-coba. Maka, di awal usaha sebaiknya Anda jangan memulai dengan menjual jasa atau produk, melainkan undanglah mereka untuk menjadi pelanggan Anda. Seperti yang kita ketahui, undangan diberikan dengan sajian menu yang menyenangkan dan berkesan di hadapan tamu-tamu Anda. Bayarlah mereka agar menjadi pelanggan Anda, dengan memberikan free sample, free design, atau kemudahan-kemudahan lainnya sesuai bidang usaha Anda.

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 2: Kisah Inspiratif Anak-anak Muda Menemukan Masa Depan dari Hal-hal yang Diabaikan Banyak Orang. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.