Nizar Sungkar, Mantan Notaris yang Kini Sukses Berbisnis Farmasi dengan Omzet Ratusan Juta per Bulan

Nizar Sungkar, Jeli Melihat Peluang di Industri Farmasi

 

Di kalangan pengusaha daerah Jawa

Barat, namanya tak lagi asing. Dia

Menjabat sebagai Ketua Kadin Kabupaten

Karawang dan memiliki 4 perusahaan.

Di balik kisah suksesnya saat ini, ada

mata yang jeli menangkap peluang di

mana pun dia berada.

 

NIZAR Sungkar tidak dilahirkan sebagai

pengusaha. Memegang gelar sarjana

hukum, pada tahun 1991, dia bekerja

di kantor notaris yang memberikan jasa hukum

kepada pengusaha. Karena banyak bersentuhan

dengan para pengusaha itulah jiwa usaha Nizar

terpengaruh.

Menginjak tahun kedua bekerja sebagai pegawai,

 

hatinya mulai resah. Dia pun berpikir

untuk memiliki usaha sendiri atau membuka

kantor notaris sendiri. “Kita kan hidup harus

punya rencana. Okelah saya di sini 2 tahun

saja, tahun ke-3 punya kantor notaris sendiri,

tahun ke-5 punya pilihan: tetap di notaris atau

memulai usaha,” ujar Nizar sambil tersenyum.

DARI FURNITUR KE RUMAH MAKAN

Sambil bekerja di kantor notaris, Nizar mulai

 

melirik usaha furnitur yang dibangun

orangtuanya sejak tahun 1994. Dia mengubah

konsep penjualan furnitur menjadi penjual

jasa desain furnitur yang disesuaikan dengan

selera dan kebutuhan konsumen. Sayangnya,

 

ide ini kurang mendapat sambutan baik dari

masyarakat di Karawang. Nizar pun kesulitan

menggiring masyarakat untuk mengenal desain

interior. Masyarakat Karawang lebih senang

langsung membeli tempat tidur atau lemari,

ketimbang kamar tidurnya di-setting sesuai

selera dan kepribadian mereka. Sementara

orang-orang yang punya uang lebih cenderung

membeli furnitur langsung ke kota besar, seperti

Jakarta dan Bandung.

Namun, semua itu tidak membuat surut semangat

 

Nizar. Dengan kucuran modal dari bank

bjb sebesar Rp 35 juta, dia membuka workshop

di Jalan Moh. Toha. Usahanya lumayan berkembang

 

hingga mendapat plafon Rp 500 juta,

dan terus ditambah hingga total mencapai lebih

dari Rp 1 miliar.

Begitu berkembang, seperti biasa, usaha yang

diberi nama CV Madu Segara ini mulai mendapat

tantangan dengan kehadiran workshop-workshop

besar di Karawang. Nizar pun harus memutar

otak menghadapi persaingan tersebut. Dia lalu

bekerja sama dengan workshop-workshop kecil

 

yang dahulu pernah dibinanya. Harga barang pun

diturunkan untuk melayani segmen yang lebih

rendah. Namun, CV Madu Segara juga menerima

order desain interior. Salah satu hasil produk dan

desain interiornya menghiasi lantai 1 hingga 3

kantor Bupati Karawang.

Saat persaingan pada usaha desain interior

semakin berat, bapak 2 anak itu mulai melirik

 

usaha lain: rumah makan. Ide ini beranjak dari

sulitnya menemukan tempat untuk meeting dengan

 

mitra bisnisnya. Keluhan tersebut ternyata

juga dialami oleh kawan-kawan Nizar sesama

pengusaha di Karawang. Akhirnya dengan

dukungan bank bjb, Nizar mendirikan rumah

makan dengan ruang meeting untuk 20-40

orang yang dilengkapi peralatan hiburan.

 

Menurut Nizar, kesulitan bisnis rumah makan

 

terletak pada kepuasan pelanggan. “Kita

ingin orang yang datang ke sini merasa puas, dan

kita ingin mereka menyampaikan lagi kepuasan

tersebut kepada teman-temannya. Di sinilah

yang agak berat,” akunya. Nizar masih terus

mengembangkan usaha rumah makannya. Namun,

 

kesibukannya pada usaha yang lain, membuat

 

dia harus menyerahkan usaha tersebut

kepada istrinya.

Nizar tampaknya terus mencari peluang.

Dari usaha desain interior dan rumah makan,

Nizar merambah dunia konstruksi. Namun,

rupanya bidang ini hanya menjadi batu loncatan

untuk menjadi supplier alat kesehatan di Rumah

 

Sakit Umum Karawang. Dia mengamati

berbagai pengadaan segala kebutuhan yang ada

di rumah sakit tersebut. “Saya memperhatikan

orang-orang di sekitar situ. Rumah sakit kan

spesifiknya alat kesehatan, kenapa saya

 

menawarkan ban mobil? Kenapa saya tidak

mengirimkan alat kesehatan?” tuturnya.

PELUANG DI ALAT KESEHATAN

Membaca adanya peluang di sana, Nizar

pun mempelajari seluk-beluk alat kesehatan.

Awalnya, dia hanya memasarkan produk pihak

lain. Namun melihat peluang yang semakin

 

bagus, tahun 1997 ia mendirikan PT Mizindo

Mitra Karya. Perusahaan ini menyalurkan alat

kesehatan ke rumah sakit-rumah sakit. Nizar

menawarkan berbagai alat kesehatan yang

memang selalu dibutuhkan oleh RS, seperti

jarum suntik dan selang infus, hingga akhirnya

dia menguasai betul seluk-beluk bisnis ini.

Bahkan Nizar juga menyediakan tempat tidur

pasien.

Untuk memperlancar penjualannya ke Rumah

 

Sakit Umum Karawang, Nizar mendirikan

kantor PT Mizindo Mitra Karya di dekat rumah

sakit tersebut. Saking dekatnya, perjalanan bisa

ditempuh dengan berjalan kaki. Pemilihan posisi

yang strategis ini karena Nizar menganggap konsumen

 

alat kesehatan sudah sangat jelas, yaitu

ke rumah sakit. “Tidak mungkin disalurkan

langsung ke masyarakat,” urainya.

Untuk menyediakan barang, PT Mizindo

bekerja sama dengan beberapa pabrik dan

 

distributor yang juga sudah bergandengan dengan

banyak pabrik. Nizar memanfaatkan kelemahan

dari distributor yang menolak mengirimkan

barang pesanan ke rumah sakit jika ada 3 faktur

yang belum dibayar. “Nah, saya memanfaatkan

celah itu,” cetusnya.

Sebagai pemilik alat, distributor menawarkan

produk ke perusahaannya, lalu Nizar yang

 

menawarkannya ke rumah sakit. Kelebihannya,

PT Mizindo tidak perlu repot melakukan

promosi alat kesehatan, sebab tugas itu sudah

dilakukan oleh distributor dan pabrik. Di sisi

lain, distributor dan pabrik terbantu dengan

keberadaan PT Mizindo karena mereka tidak

perlu mengikuti tender. PT Mizindo yang akan

melakukannya.

“Karena cuma dagang, urusan produksi dan

promosi sudah dilakukan bersamaan dengan

distribusinya. Kita cuma sedia tenaga dan

 

menggarap pasar. Sementara yang menagih

 

pembayaran semuanya tetap mereka. Yang

 

memperagakan barang kesehatannya juga mereka,”

terang Nizar, yang saat ini sudah memiliki

pelanggan pada tiga rumah sakit.

Jika rumah sakit sedang kesulitan keuangan

untuk membayar, Nizar mempermudah dengan

menggandeng bank bjb untuk ikut membantu

transaksi tersebut. Bank bjb yang kemudian

membayarkan ke distributor atau pabrik,

 

sementara setiap bulannya rumah sakit akan

mencicil ke bank bjb. Peran PT Mizindo hanya

menjadi leasing-nya. Namun jika rumah sakit

mengalami kesulitan membayar ke bank bjb,

beberapa kekurangannya harus ikut ditanggung

oleh perusahaan Nizar.

Melihat perkembangan usahanya yang terus

 

meningkat, Nizar pun pamit meninggalkan

kantor notaris yang telah dijalaninya selama 7

tahun pada 1998. Dia mengembangkan usaha

alat kesehatan hingga PT Mizindo mampu juga

melayani Rumah Sakit Umum (RSU) Kabupaten

Bekasi. “Kita pegang 2 rumah sakit saja sudah

kewalahan, Rumah Sakit Umum Karawang dan

Rumah Sakit Umum Kabupaten Bekasi. Tapi

yang paling banyak di Karawang,” terang Nizar.

GILIRAN BISNIS FARMASI

Hingga saat ini, usaha menyuplai alat

 

kesehatan itu bisa dikatakan ‘telah berjalan dengan

sendirinya’. Nizar hanya tinggal menunggu

laporan per bulan dari anak buahnya. Perkembangan

 

selanjutnya, Nizar tertarik dengan bisnis

 

obat-obatan. Kali ini dia terinspirasi dari

kisah pasangan suami-istri yang bekerja sebagai

 

apoteker. Si suami, yang merupakan saudaranya

sendiri, bekerja di pabrik obat sementara

istrinya menjadi apoteker di salah satu apotek di

Karawang.

“Saya melihat ada peluang di obat setelah

saya ngobrol-ngobrol dengan mereka,” ujar

Nizar, yang mengucurkan dana Rp 1 miliar

dari kantongnya sendiri untuk memulai usaha

ini. Setelah usaha ini mulai berjalan, Nizar

mendapat bantuan kredit Rp 400 juta dari bank

bjb. Lalu, dengan order yang semakin besar, dia

mendapat tambahan kredit lagi menjadi Rp 1,1

miliar.

Sebelumnya Nizar memang sudah mempelajari

 

adanya peluang di bisnis obat. Ia

melihat bahwa distributor dan pabrik obat

berskala besar hanya ada di kota Bandung.

Untuk melayani suplai obat di Karawang,

mereka membutuhkan waktu yang cukup

lama. Celah inilah yang dijadikan batu

pijakan Nizar untuk merambah bisnis farmasi

dan menganggapnya sebagai peluang yang

menjanjikan.

Tahun 2008, Nizar mendirikan PT HAS

Putra Harapan, yang diambil dari nama anak

keduanya, Hafidz Sungkar. PT HAS membidik

pasar obat-obatan ke sekitar 190 apotek (outlet)

di daerah Karawang, Subang, Purwakarta,

 

hingga Indramayu. Outlet di kota kecil ini

dianggapnya bisa meminimalkan persaingan

dengan distributor besar. Selain mengambil

obat-obatan langsung dari pabrik, Nizar juga

bekerja sama dengan 37 distributor obat.

Untuk mengatasi kendala waktu dan jarak

dari distributor, PT HAS menawarkan kerja

sama sehingga para distributor tidak perlu

lagi menyewa gudang dan membayar gaji

karyawan di Karawang. Pada tahun pertama,

Nizar menyediakan obat secara kelontongan ke

apotek. Namun, hal itu ternyata berisiko tinggi.

Sebab selama ini apotek di kota-kota kecil tidak

membeli dalam jumlah kartonan, hanya 1-3 slot

saja.

Oleh karena itu, PT HAS kemudian hanya

berkonsentrasi pada obat-obat tertentu saja

yang laku keras dan tidak tergoda ikut menjual

kelontongan lagi. “Kalau di obat, harus pintar

memilih siapa yang kita jadikan mitra. Kita

harus punya moril untuk membesarkannya

juga,” tutur Nizar mengenai pabrik yang menjadi

mitra kerja PT HAS. Meski begitu, dia tetap

menyuplai obat yang dibutuhkan apotek dengan

porsi yang lebih kecil. Seiring waktu, Nizar

semakin menguasai pasar. Dia membentuk tim

yang terdiri dari orang-orang yang mengenal

seluk-beluk bisnis obat, termasuk apoteker.

 

PUNYA APOTEK SENDRI

Kendala di bisnis farmasi tentu saja tetap ada.

Nizar melihat adanya ‘permainan’ dari hulu

hingga huir. Pabrik-pabrik obat tidak cuma

memproduksi obat, tapi juga memiliki anak

anak perusahaan yang bergerak di sektor outlet.

Outlet ini merupakan alat untuk meraup pasar

pula. Sehingga mau tidak mau, aturan tidak

tertulis ini pun harus diikuti olehnya.

“Tidak kuatlah kalau saya tidak ikut alur

mereka. Jadi, saya memutuskan untuk ikut

menjadi outlet mereka,” terangnya. Jika tidak

menjadi outlet, PT HAS semakin berat menjual

produk farmasi ke outlet karena distributor

biasanya memberi diskon langsung ke outlet.

 

Hal ini membuat PT HAS tidak lagi menjadi

pemain utama di Karawang. Dan pabrik atau

distributor, PT HAS mendapat keuntungan

sekitar 10-15 persen.

Di tahun kedua, Nizar melihat bahwa

keuntungan juga bisa didapat dengan menjual

langsung ke konsumen. Sementara kalau hanya

menjual ke outlet (dalam hal ini, apotek), ia

tidak bisa mendapatkan keuntungan sebanyak

yang didapatnya pada penjualan langsung

ke konsumen. Nizar pun membuka apotek,

sehingga keuntungan yang didapat lebih besar:

dari pabrik atau distributor dan dari konsumen.

Apotek yang didirikannya ini melayani segmen

bidan dan mantri kesehatan. Apotek ini juga

 

memberi keringanan pada mereka untuk kasbon dengan

nilai Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta dan jangka waktu

pembayaran 1 bulan. Jika sudah melewati limit

 

peminjaman, obat hanya bisa dibeli

kembali jika utangnya sudah dilunasi.

Saat melakukan perluasan pasar, Nizar mengalami

 

kendala yang tidak mudah, sebab cakupan pasar sangat

 

bergantung pada distributor. Tiap-tiap distributor

 

memiliki cakupan wilayah yang berbeda,

yang diberikan untuk setiap penjual. Misalnya, obat A

 

yang dijual Nizar hanya boleh dijual

di beberapa wilayah yang sudah ditentukan distributor,

sementara wilayah lain sudah diperuntukkan bagi penjual

lain. Hal ini terjadi karena distributor membawahi

 

beberapa penjual di daerah-daerah yang berbeda.

Kalaupun ingin memperluas pasar, Nizar harus membeli

 

obat secara lepas, artinya tidak melalui distributor.

Dengan cara ini Nizar tidak akan terikat oleh wilayah

 

Yang ditentukan distributor dan dapat menjual ke daerah

 

sesuai keinginannya sendiri.

Risikonya, harga obat yang dijual bisa jadi lebih mahal

dibandingkan harga obat yang dibeli melalui distributor.

Akhirnya, sampai saat ini Nizar lebih memilih membeli

obat ke distributor. “Lagi pula beberapa distributor ada

yang menitipkan tenaga kerja, seperti sales, pada kami.

Kamilah yang nantinya mengurus insentif mereka,” imbuhnya.

Nizar mengakui, peran sales sangat penting dalam

bisnis ini. Merekalah yang menjajakan dan mencatat

berbagai order dan outlet outlet. Petugas sales harus

bekerja cepat untuk mengambil order dari outlet.

 

Jika ia lambat, kesempatan itu bisa diambil pesaing.

 

Meski demikian, Nizar cenderung tidak memilih petugas

sales yang sudah mahir, karena menurutnya,

kalau sudah mahir mereka suka mengelabui.

Permainan yang dilakukan petugas sales

biasanya menabrak aturan kerja. Petugas

 

sales yang curang seharusnya hanya bertugas

menawarkan barang, namun ia juga menerima

pembayaran. Padahal, dari mulai menawarkan,

mengorder, mengantar, hingga menagih uang,

sudah ada petugasnya masing-masing. Petugas

sales seperti ini tidak layak dipertahankan.

Karena itu, untuk urusan sales, Nizar

 

memutuskan untuk menyerahkan langsung ke distributor.

“Jadi saya tidak gaji petugas sales. Kalau pabrik

 

mau kerja sama dengan saya, saya minta

petugas sales 3 orang, sama supervisor 1 orang.

 

Tempat saya yang siapkan. Jadi, untuk gaji

sales, mereka yang nanggung. Profitnya penjualan

 

dan saya, mereka dapat fee dan pabrik,” urainya.

Nizar juga menyerahkan urusan monitoring kepada

distributor tunggal, mengingat mereka yang

 

membayar petugas sales. Meski begitu, Nizar

tetap memberikan trik-trik kepada petugas sales-nya

 

untuk melawan persaingan. Misalnya dengan melakukan

subsidi silang pada beberapa jenis obat agar

 

outlet atau apotek terangsang mengambil

obat dan mereka. Selain itu, petugas sales diminta

 

tetap melakukan pekerjaannya secara door to door

 

tatap muka, tidak menggunakan jejaring sosial.

 

“Menemui orang. Itu tetap cara yang paling efektif

 

untuk memasarkan obat-obatan,” ujarnya.

MANAJEMEN USAHA

Pasang surut berdagang obat kerap terjadi, tergantung pada

kondisi keuangan masyarakat di Karawang. Jika sedang ada uang,

biasanya pasien berobat ke rumah sakit. Pada saat itulah daya

beli mereka tinggi. Sementara jika sedang kurang uang, biasanya

mereka berobat ke puskesmas dan mendapatkan obat generik,

yang merupakan obat bantuan pemerintah. Jika omzet sedang

turun, dievaluasi kendala-kendala yang dihadapi para petugas

sales sebagai ujung tombak penjualan.

Meski telah 3 tahun berjalan, jumlah pegawainya hingga kini

hanya 10 orang saja. Tapi Nizar benar-benar puas dengan para

karyawannya. Nizar menegaskan bahwa ia hanya mempekerjakan

karyawan profesional dengan merekrutnya melalui ikian di

media massa sekitar Karawang dan Bandung. Kalaupun ada yang

melalui rekomendasi, calon pegawai tersebut tetap harus melewati

prosedur melamar terlebih dulu.

 

Meski begitu, Nizar tidak ragu memberikan pelatihan

atau mengikutkan mereka pada beragam seminar demi

 

meningkatkan skill. Misalnya, untuk pegawai yang

 

mengurus masalah sumber daya manusia, diikutkan dalam

seminar motivasi. Bahkan, perusahaannya memiliki

 

konsultan dalam bidang SDM. Kebanyakan seminar atau

 

pelatihan itu merupakan undangan gratis, sehingga Nizar

 

tidak memiliki budget khusus untuk pelatihan karyawannya.

Pernah ada pegawainya yang diam-diam mengundurkan diri.

 

Belakangan Nizar tahu bahwa mereka dibajak

perusahaan obat lainnya. Meski hal ini cukup mengganggu,

Nizar tidak mau berlarut-larut dalam masalah. Ia pun

 

Segera mencari penggantinya, meski berarti ia harus

 

mengajar pegawai barunya dari awal lagi.

Demi mengembangkan PT HAS, Nizar memilih untuk

 

mempekerjakan saudaranya yang juga

telah memberi inspirasinya untuk terjun ke bisnis obat-obatan.

Nizar menganggap kemampuan mereka adalah hal penting

yang harus dimiliki bisnis apoteknya. Terlebih lagi,

 

salah satu saudaranya tersebut menjadi pengurus Pedagang

 

Besar Farmasi (PBF).

Untuk bisnis obatnya, mulai dari apotek dan distribusi, Nizar

sudah menerapkan sistem IT yang terintegrasi satu sama lain.

Sistem tersebut menghubungkan seluruh mata rantai usaha mulai

dari gudang hingga keuangan. Dia juga mempekerjakan pihak

ketiga untuk mengurus sistem tersebut. Pihak ketiga itu juga yang

memberikan pelatihan bagi pegawainya untuk menggunakan

sistem tersebut. Pegawainya pun cepat beradaptasi, mengingat

sistem yang digunakan adalah sistem standar yang telah

 

digunakan banyak orang. Namun, meski sistemnya sudah terintegrasi,

masih ada pegawai yang menerima gaji tunai. Ternyata tidak

semua pegawainya sudah memiliki rekening bank.

Sementara untuk pembayaran utang ke bank, Nizar sudah

pernah menerapkan berbagai sistem. Ada yang secara angsuran,

ada juga yang sistem investasi, yakni setahun sekali dibayar dan

 

bunga dibayarkan tiap bulan. Namun, Nizar tidak pernah

 

menggunakan sistem stand by loan.

“Saya tidak pernah menggunakan stand by loan

karena sistem tersebut baru bisa dilakukan

ketika ada kegiatan. Sementara kegiatan PT

HAS membutuhkan transaksi yang cepat.

Prosedur sistem itu terlalu lama, bisa-bisa malah

barangnya keburu diambil orang,” jelas Nizar.

Saat ini omzet PT HAS sudah mencapai Rp

300 juta per bulan dengan keuntungan bersih

 

hingga 10-15 persen. Namun, hal ini tak

membuatnya berhenti melihat peluang bisnis

lainnya. Nizar melihat masih ada peluang besar

dalam bisnis obat dan alat kesehatan. Malah, ia

terobsesi membuat pabrik obat dan klinik. “Saya

ingin konsentrasi ke alat kesehatan, saya ingin

bikin klinik. Target saya membuat rumah sakit.

Walaupun skalanya kecil, saya ingin bikin rumah

sakit yang beda, membuat orang nyamanlah,”

angannya.

 

Meski begitu, dia enggan tergesa-gesa untuk

mewujudkannya. Dia tetap melihat kemampuannya,

 

mulai dari urusan sumber daya manusia hingga

 

keuangan. “Cita-cita tinggi

dan ambisius akan membuat kita tergesa-gesa.

Padahal, jika SDM atau armada tidak kuat

dan finansial tidak mendukung, maka ambisi

tersebut akan sulit tercapai. Dalam arti lain,

mengejar cita-citanya perlahan-lahan dengan

cara menumbuhkan semua sektor terlebih

dahulu agar terjaga keseimbangan antara

 

kemampuan dan cita-cita,” papar Nizar berbagi

nasihat.

Nizar juga berangan-angan, dalam waktu 5

hingga 10 tahun ke depan, PT HAS bisa mempunyai

merek obat sendiri. Sebab dia tahu, semua obat

komposisinya sama, hanya mereklah yang

membuatnya berbeda. Namun, ia masih harus

menyiapkan hal tersebut dengan memperkuat

usahanya.

 

Catatan Rhenald Kasali

 

SAAT JUTAAN ORANG ‘tertutup matanya’ dan tak mampu melihat masalah sebagai

 

peluang, seseorang yang terbuka matanya justru melihat peluang-peluang baru

 

tiada henti. Ibarat membuka pintu, begitu satu pintu terbuka pintü-pintu

 

lain menunggu giliran itulah keajaiban yang ditemui seorang wirausaha yang

 

berhasil menemukan satu pintu emas.

Pintu emas memerlukan tangan emas, ÿaitu tangan yang berani masuk dengan

 

penuh kesungguhan. Ibarat menanam jagung, lubangnya tak perlu sedalam

 

menanam pohon jati. Anda perlu memahami perilaku setiap pasar dengan

 

menaruh tangan Anda selangkah demi selangkah. Bibit yang ditanam dalam akan

 

memberi hasil dalam jangka panjang, sedangkan bibit yang ditanam sejengkal

 

akan cepat berbuah. Yang cepat berbuah harus terus ditanam, yang

 

berbuah dalam waktu lama harus terus dirawat.

Orang-orang yang ‘terbuka matanya’ akan terus terbuka jalannya. Tetapi ia

 

Harus fokus dan berhenti berwacana, memilìh satu jalan dan

 

membangun istananya di atas fondasi yang kuat. Ia harus berhenti dari

 

kebingungan, dengan menetapkan hatinya pada satu jalan yang membawanya ke

 

tujuan, yaitu jalan utama. Jalan bercabang-cabang hanyalah godaan semata.

 

Tetaplah fokus, dalami usaha pada jalan utama dan tinggalkan jalan lainnya.

Maka bergeraklah, berjalanlah di mana pun Anda berada seperti yang ditempuh

 

Nizar. Mulanya Anda membangun keberanian lalu keterampilan memelihara

 

usaha dan mengenal masalah. Setelah itu Anda akah mengenal mana usaha yang

 

memberi peluang besar dan mana yang berjalan buntu. Anda juga akan

 

mengenal dinamikanya, hingga Anda mampu beradaptasi dan bertukar sebagai

 

pemenang. Ingatlah pemenang tak pernah berbenti dan hanya yang berhenti tak

 

pernah muncul sebagai pemenang!.

 

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Nani Oktaviani, Womenpreneur Muda yang dari Bisnis Busana Muslim Sukses Raup Omzet Hingga Rp 800 Juta

Nani Oktaviani, Dari Hobi ke Bisnis Konveksi

Banyak pelaku bisnis yang mengawali

usahanya dari hobi. Wanita ini adalah

salah satu pelaku usaha konveksi yang

berhasil membangun usaha dari minatnya

di bidang seni dan fesyen. Diiringi usaha

keras dan dukungan penuh sang suami,

produk fesyennya yang dibangun dari

usaha kecil mulai dikenal di Indonesia

bahkan sampai kalangan muslim Amerika

Serikat.

 

SENI, kampus UNPAD (Universitas Padjajaran),

 

dan kota Bandung adalah tiga ha1 yang

 

tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Nani.

 

Tiga hal tersebutlah yang kemudian

 

mengantarkannya menjadi pelaku

usaha konveksi. Dunia seni yang pertama

dikenalnya adalah dunia tari. Sejak kecil

Nani mampu membawakan berbagai tarian

tradisional Jawa Barat. Sekarang pun ia masih

dapat menarikannya dengan gemulai.

Selain menari, kegemarannya dengan kesenian

 

juga tampak dari gaya berpakaiannya.

Alumnus program diploma Sastra Jepang

UNPAD ini dikenal modis dalam berpakaian.

Hal ini bukannya tanpa alasan. Jurusan sastra

 

memang dikenal sebagai jurusan yang

mahasiswinya berpenampilan modis. Tak hanya

modis, baju yang dikenakan Nani juga unik

karena tidak ada orang lain yang memilikinya.

Rahasianya adalah mendesain dan membuat

sendiri baju yang diinginkannya. Karena modis

dan unik itulah, banyak teman yang menyukai

busana buatan Nani. Banyak dari mereka yang

 

akhirnya ingin dibuatkan baju muslim seperti

yang dikenakan Nani.

Nani pun dengan senang hati mengerjakan

pesanan teman-temannya. Tanpa terasa ia sudah

membuat banyak pakaian dan, karena dipakai

teman-temannya, desain Nani semakin dikenal

orang banyak. Dalam waktu yang tak berapa

lama Nani pun dikenal sebagai perancang amatir

busana muslim yang modis di kampus.

Sebagaimana ungkapan bahwa produk bermutu

 

punya jalannya sendiri untuk menemui

pintunya, busana rancangan Nani pun mencapai

sasarannya. Promosi gratis ‘dari mulut ke mulut’

melalui teman-temannya, mengantarkan Nani

ke pasar yang lebih luas. Berbagai penyelenggara

bazar kampus yang digelar di Bandung mengundang

 

Nani untuk ikut berpameran. Desain

busana muslim rancangan Nani pun semakin

dikenal di luar kampusnya.

Setelah melalui bazar kampus, kaki Nani

pun mulai melangkah lebih jauh. Dia kerap

mendapatkan undangan untuk tampil di pameran

 

fesyen kota Bandung dan sekitarnya.

 

Kota yang dikenal sebagai sentra industri

 

clothing dan fesyen ini mulai memberikan

tempat bagi Nani untuk mengembangkan minatnya.

Bandung memang memiliki arti khusus bagi Nani.

 

Baginya, Bandung dan orang-orang di dalamnya

adalah lingkungan dan entitas yang telah

 

mengantarkannya menjadi perempuan mandiri dan

 

mampu berpikir kreatif. Selain itu, Bandung

adalah tempat di mana dia menemukan jodohnya. Di

kota inilah Nani bertemu Irfan, pria yang kemudian

menjadi suami sekaligus motivator terhebat dalam

 

hidupnya.

 

TIDAK MALU UNTUK BELAJAR

Lahir di Majalengka, Jawa Barat, tanggal 24 Oktober

1972, Nani yang berasal dan keluarga pegawai BUMN ini

merupakan sosok yang mudah beradaptasi. Mungkin karena

beberapa kali pindah tempat tinggal. Pada usia 8 tahun,

Nani mengikuti orangtuanya pindah ke Kuningan, lalu

ke Tasikmalaya di usia 13 tahun. Di Tasikmalaya, Nani

menghabiskan masa SMA-nya sampai pindah ke Bandung

untuk kuliah di UNPAD. Karena cukup lama tinggal di

Tasikmalaya itulah Nani kerap merasa bahwa Tasikmalaya

adalah kota asalnya. Setelah menikah, Nani

mengikuti suaminya bertugas di Kalimantan Timur selama 3

 

tahun, lalu pindah lagi ke Riau selama 3 tahun. Baru pada

tahun 2000-lab ibu tiga anak ini kembali ke Tasikmalaya.

Meski sempat tinggal jauh dari kota industri pakaian, Nani

tetap menekuni kecintaannya pada fesyen. Sehingga ketika

kembali ke Tasikmalaya, Nani segera memutuskan untuk

menekuni bisnis fesyen. Keputusannya ini mendapat

 

dukungan dari suaminya, yang mengajukan pensiun dini dari

perusahaannya di Pekanbaru pada tahun 2004 dan

 

memutuskan untuk memulai usaha konveksi.

Salah satu alasan di balik keputusan tersebut adalah

 

karena Tasikmalaya dikenal sebagai salah satu kawasan

 

industri pakaian jadi Indonesia.

Data Dinas Perdagangan dan Perindustrian setempat

 

menunjukkan bahwa jumlah pelaku usaha di bidang ini

 

mencapai 17.000 orang. Selain itu, mereka merasa dapat

 

belajar banyak dari adik-adik mereka yang sudah lebih dulu

 

terjun di usaha konveksi. “Adik-adik kami sudah sukses

 

berbisnis sebagai supplier pakaian jadi ke Pasar Tanah Abang,

 

Jakarta. Jadi kami memilih bergabung lebih dulu. Modalnya

 

Sebagian dari orangtua,” kata Nani. Setelah merasa cukup

 

belajar  dengan sang Adik, tahun 2005 Nani dan Irfan secara

perlahan mencoba mandiri. Mereka mengembangkan usaha

 

pembuatan pakaian jadi, hanya berbekal 3 orang penjahit

 

yang bekerja di garasi rumahnya. Nani memberi merek

 

pakaian muslim wanitanya dengan nama Nadira.

Merek tersebut hanya ditawarkan secara terbatas, kepada

 

teman-teman arisan atau pengajiannya. Namun, tampaknya

 

desain busana muslim rancangan Nani memang memikat

 

banyak onang. Mengulang kembali promosi word of mouth semasa

perkuliahan, kali ini desain busana muslimnya

tersebar meialui teman-teman pengajiannya.

Usaha Nani pun mulai dikenal banyak orang,

hingga suatu ketika seseorang datang pada

Irfan untuk memesan busana muslim pria.

Berbeda dari busana muslim wanita yang

memerlukan jahitan detail, busana muslim

pria langsung dapat diproduksi secara massal.

Jadi, jika busana muslim wanita diproduksi

sesuai pesanan, busana muslim pria dapat dibuat stok.

Saat itulah, Nani dan Irfan membentuk perusahaan

 

konveksi yang diberi nama PT Janamas. Sejak Janamas

 

berdiri, keduanya selalu berusaha mencari pasar yang

 

berbeda dengan pelaku bisnis konveksi lain. Keduanya

 

juga memilih kreativitas sebagai andalan. Selain

berusaha tampil unik sebagai kekuatan utama

bisnisnya, pasangan ini juga menggenjot sisi

kualitas produk. “Untuk masalah kreativitas,

kami tekankan pada desain. Sementara untuk

kualitas, kami tekankan pada bagian bordirnya,”

kata Nani lagi, “Dengan mengandalkan

keduanya, alhamdulillah kami belum pernah

gagal di pasar.”

 

KENDALA DAN SOLUSI

Menjadi pemasok pakaian di pasar konveksi

Tanah Abang ternyata tidak semudah yang Nani

bayangkan. Pasalnya, pedagang Tanah Abang

banyak yang menggunakan sistem pembayaran

melalui giro. “Nah dengan sistem pembayaran

seperti ini, temponya sering meleset,” papar

Nani. Oleh sebab itu Nani dan Irfan memutuskan

berhenti sebagai pemasok pakaian jadi.

Tahun 2006, mereka memilih untuk menjual

 

langsung ke outlet-outlet di pusat-pusat

 

perbelanjaan. “Di outlet kita langsung berhadapan

dengan pembeli. Ini membuat kami tidak harus

mengambil risiko,” katanya. Ketika itu, Nani dan

Irfan memutuskan untuk membuat usaha baru

dengan nama CV Avertura. Tujuannya untuk

membuat sebuah merek busana muslim yang

lebih menarik. Sementara PT Janamas menerima

pesanan massal, Avertura mengkhususkan diri

untuk memproduksi busana muslim yang lebih

personal. Kemudian dengan merek barunya

yaitu Massive, Nani langsung memasarkannya

ke outlet-outlet baju di Bandung dan meminta

kesempatan mempresentasikan produk. “Ternyata

 

90 persen outlet menerima presentasi

kami,” ujar Nani.

Menjelang Lebaran, outlet-outlet pun mengalami

 

kebanjiran permintaan, terutama busana muslim.

 

Nani dan Irfan pun berusaha

meningkatkan produksi. Mereka berusaha mendapatkan

 

keuntungan lebih dari kesempatan itu.

Namun, justru pada saat itulah mereka menghadapi

 

hambatan baru. “Kalau sudah menghadapi musim Lebaran,

 

tenaga kerja terampil menjadi mahal dan terbatas,”

 

kata Irfan. Pasalnya, pada saat yang sama para

 

pengusaha pakaian lain juga mendapatkan banyak

pesanan sehingga permintaan tenaga kerja pun

melonjak. Ditambah lagi, karena puasa dan libur

Lebaran, banyak penjahit di Tasikmalaya enggan

menerima pesanan. Hal ini menyebabkan neraca

 

permintaan dan ketersediaan tenaga kerja

menjadi tidak seimbang, yang berimbas pada

meningkatnya honor mereka.

Tetapi, Nani dan Irfan harus tetap memenuhi

pesanan. Untuk mengatasi masalah ini, keduanya

menggunakan pendekatan khusus. Mereka

membuat perjanjian dengan para pekerjanya

bahwa mereka akan terus memberikan pesanan

setelah selesai Lebaran. Hal ini menjadi pilihan

karena biasanya pesanan justru menurun pasca

 

Lebaran sehingga para penjahit tidak memiliki

pekerjaan.

Dengan menggunakan perjanjian yang

menguntungkan kedua belah pihak tersebut,

para penjahit setuju untuk membantu PT Janamas.

 

Mereka mau menjahit asalkan setelah Lebaran

 

tetap mendapat pekerjaan, meskipun

dengan volume kecil. Selain itu, mereka juga

mendapat insentif dan bantuan keuangan dari

PT Janamas.

Satu per satu hambatan dapat terselesaikan.

Namun, PT Janamas tidak luput dari kerugian

besar. Tahun 2006, ketika memasok pesanan

ke sebuah toko baju di Cikarang, ratusan juta

rupiah tak tertagih dan lenyap begitu saja. Hal

ini membuat Nani berpikir lebih keras untuk

menyelamatkan usaha yang juga merupakan

hobinya ini. “Karena pesanan dari Cikarang

itu menguras modal, kami kemudian datang ke

bank bjb. Kami mendapat pinjaman modal kerja

Rp 40 juta dengan sistem profit sharing. Modal

ini menyuntik semangat kami lagi,” kata Nani.

Dengan semangat baru itu, usaha mereka

 

kembali merekah. Bank bjb kembali memberikan

suntikan modal sebesar Rp 100 juta pada tahun

2010 setelah melihat perkembangan Janamas.

Terakhir, pada tahun 2011 mereka kembali

 

mendapatkan pinjaman modal senilai Rp 160 juta.

Janamas pun mulai melebarkan sayapnya.

Perusahaan ini menarik tenaga kerja dalam

jumlah yang lebih banyak lagi. Kini, selain 4

orang karyawan reguler, ada 50 orang yang

terlibat dalam usaha konveksi ini; sekitar 10

orang penjahit bekerja di garasi rumah Nani,

sementara yang lainnya menyelesaikan pesanan

di rumah masing-masing. “Kebanyakan mereka

adalah tenaga kerja di bagian finishing,” jelas

Nani.

Untuk bertahan dan meningkatkan omzet,

selain mengutamakan kreativitas dan kualitas,

Nani dan Irfan terus mendorong PT Janamas untuk

 

mengikuti tren pasar. “Bahkan kami sering

menciptakan tren pasar,” kata Nani sambil

 

menunjukkan sejumlah busana muslim yang telah

beredar di butik-butik Jakarta dan Bandung.

Walau menggunakan bahan dasar yang beragam_

 

seperti katun, linen, raw silk atau Thai

silk—Janamas tak menghadapi kesulitan untuk

mendapatkan bahan-bahan tersebut. Tetapi,

baik Irfan maupun Nani mengaku bahwa hal

tersebut tidak berarti membebaskan mereka

 

dari persoalan bahan baku. Harga bahan

bahan yang mereka butuhkan terus mengalami

kenaikan. “Semua pemain konveksi menghadapi

masalah ini. Karena harga terus naik, kami

juga tidak melirik bisnis bahan baku sebagai

peluang,” tambahnya.

REKANAN DAN PESANAN

Meskipun usaha konveksinya masih tergolong

lokal, Nani memiliki cita-cita tinggi. Setelah

perbankan menilai usaha ini layak memperoleh

modal, Nani ingin membawa Janamas dikenal

masyarakat luas. Salah satunya dengan cara

tampil profesional di dalam negeri.

Untuk pasar dalam negeri, Nani memilih memasarkan

 

produknya ke segmen kelas menengah.

Nani rajin melakukan promosi dengan cara

mengikuti pameran, presentasi, atau membuat

brosur dan beriklan di media cetak. “Dari segi

kreativitas, saya terus mendorong Janamas

menjadi usaha konveksi yang produknya

berkualitas dan berkelas,” kata Nani.

Tidak hanya menenima pesanan baju muslim,

Nani juga mulai menerima semua jenis

produk yang berkaitan dengan jahit-menjahit,

termasuk seragam pegawai perusahaan manufaktur

 

hingga seragam pegawai hotel bintang

5 di Jakarta. Selain itu, Janamas juga pernah

 

menerima pesanan sarung jok kursi dari

perusahaan furnitur di Yogya, yang kemudian

diekspor ke Eropa. Dari promosi word of mouth

itulah lambat-laun pesanan berbagai jenis

jahitan membanjiri Janamas.

Usaha keras Nani dan Irfan tak sia-sia.

Dengan rajinnya Nani menerima berbagai

pesanan dan mengikuti pameran di tingkat

lokal maupun nasional, ia banyak diundang

tampil di berbagai ajang pameran fesyen,

termasuk pameran di luar negeri. Salah satu

pihak yang beberapa tahun belakangan rajin

mengundangnya adalah ajang kegiatan Moslem

Journal Award di Amerika Serikat. Setiap ada

kesempatan untuk berpameran di ajang ini Nani

mencoba tampil habis-habisan.

Dalam Moslem Journal Award 2011, ada tiga

kegiatan yang dilakukan Nani, termasuk peragaan

 

busana muslim, malam penghargaan,

dan bazar di Majelis Taklim. “Saya diperkenalkan

sebagai satu di antara dua undangan terhormat,”

 

ujarnya bangga, seraya menginformasikan

bahwa undangan terhormat lainnya adalah

perancang busana muslim dari Timur Tengah.

Salah satu dampak positif pameran tersebut

adalah datangnya order mendesain dan

 

memproduksi seragam untuk sebuah islamic school.

Janamas diminta membuat pakaian seragam

 

dari TK hingga Perguruan Tinggi di Louisville,

Kentucky. Selain itu, Nani juga pernah tampil di

Moslem Journal dan Azizah Magazine.

Meskipun demikian Nani mengaku belum

ingin terlalu fokus untuk memasarkan produknya

 

ke luar negeri karena belum menemukan

cara untuk mengatasi masalah jarak dan biaya

pengiriman. Pemesan dari luar negeri biasanya

menginginkan baju bagus dengan harga murah.

Tetapi ongkos kirim ke luar negeri masih

sangat mahal. Hal ini menyebabkan harga

pokok menjadi sangat tinggi, terutama ketika

jumlah pesanan tidak terlalu banyak. “Kecuali

bila ada pesanan yang banyak sehingga bisa

menutup biaya kirim,” jelas Nani yang kemudian

memutuskan untuk fokus mengembangkan

usaha di dalam negeri.

MANAJEMEN USAHA

Banyaknya warga Tasikmalaya yang bekerja

sebagai penjahit, membuat Nani tidak kesulitan

 

untuk mencari tenaga kerja. Tanpa perlu

 

memberikan pelatihan khusus, Nani mampu

 

mendapatkan penjahit, tukang potong, dan tukang

bordir dengan mudah. Dengan demikian, Nani

hanya perlu membuatkan desain, sementara

produksinya langsung diserahkan sesuai bidang

keahlian mereka.

Urusan keuangan, diatur sendiri oleh Irfan

yang memiliki latar belakang pendidikan di

bidang akuntansi. Pernah juga Nani

 

mempekerjakan saudara sendiri untuk urusan keuangan.

 

Namun, hal ini tidak berlangsung lama

karena orang tersebut mengundurkan diri ketika

akan menikah.

Seperti yang terjadi pada hampir semua

usaha rumahan Indonesia lainnya, Nani yang

terjun langsung dalam pemilihan pegawai tidak

memiliki kriteria khusus dalam menenima pegawainya.

 

“Asalkan mau bekerja dan memiliki

tekad untuk belajar, mereka akan diterima

bekerja di sini,” tegasnya. Nani merasa tidak

perlu memikirkan apakah pegawainya memiliki

latar belakang pendidikan yang sesuai dengan

pekerjaannya atau tidak. Ia merujuk pada

dirinya sendiri yang menjadi desainer dengan

latar belakang pendidikan sastra Jepang.

Dengan sistem pembayaran sesuai posisi—

para penjahitnya diupah per potong, sementara

 

staf kantor diupah per bulan—Nani mampu

mengatasi masalah turnover para penjahit.

 

Dengan memberikan upah per potong, Nani dapat

dengan mudah mencari pengganti penjahitnya

yang mengundurkan diri secara tiba-tiba.

 

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, jumlah

penjahit di Tasikmalaya memang sangat banyak.

Meski harus sering berganti penjahit, Nani

mengaku tidak perlu memberikan pelatihan

khusus mengenai keterampilan menangani mesin

 

jahit terbaru. Saat ini Nani menggunakan

mesin jahit berkecepatan tinggi dan mesin

jahit biasa. Kedua jenis mesin jahit tersebut

dapat dengan mudah digunakan oleh para

penjahitnya. Mesin jahit berkecepatan tinggi

 

membantu para penjahitnya bekerja lebih cepat,

dengan demikian mereka mendapatkan upah

yang lebih tinggi. Sedangkan mesin jahit biasa

digunakan untuk memproduksi busana muslim

wanita yang memerlukan kehati-hatian dan

banyak detailnya.

Dalam dunia usaha, khususnya UKM yang

bergerak di bidang ekonomi kreatif seperti

fesyen, ternyata manajemen yang baik tak hanya

dibutuhkan pada sisi hulu atau produksi. Tanpa

manajemen yang baik dan tepat pada sisi hilir

atau pemasaran, diakui Nani bahwa usaha ini

akan lambat berkembang. Meski masih memilih

 

cara pemasaran konvensional, yaitu dari

mulut ke mulut, Nani dan Irfan merasa bahwa

pemasaran produk mereka memerlukan cara

cara yang lebih kreatif. “Intinya, marketing

konvensional boleh saja tetap dipakai namun

dengan cara kreatif,” kata Nani.

 

Ia kini tengah menyiapkan pemasaran

dengan menggunakan jasa internet. Namun

Nani yakin, selama perusahaannya mampu

memenuhi pesanan dengan kualitas yang baik

dan tepat waktu, maka para pelanggan tidak

akan pindah ke perusahaan lain dan nama baik

perusahaan pun tetap terjaga.

Nani juga menjelaskan bahwa perusahaannya

melayani pesanan dengan sistem first come first

served. Pesanan yang lebih dulu diterima akan

langsung diselesaikannya. Sementara untuk

sistem pembayaran, Nani memberlakukan dua

sistem. Sistem pertama adalah bayar di muka,

kemudian dilunasi ketika pesanan telah selesai.

Sistem kedua adalah pre order, setelah pesanan

 

disetujui, Nani langsung memproduksi

pesanan tersebut dan baru akan dibayar setelah

selesai. “Sistem pre order kami setujui asalkan

pemesannya merupakan perusahaan yang jelas

dan punya reputasi yang baik. Dan kami terlebih

dahulu membuat perjanjian yang jelas dengan

si pemesan,” jelas Nani mengenai bagaimana ia

memitigasi risiko penerapan sistem ini.

Secara garis besar, sisi manajemen Janamas

dan Averture menggunakan sistem manajemen

modern, tetapi mereka tetap menjaga hubungan

kerja yang dekat dengan pegawai sesuai adat

yang berlaku di Timur. Jadi, sembari membangun

 

sistem pengelolaan perusahaan yang

 

profesional, Nani dan Irfan tetap menjalin

hubungan kekeluargaan dengan seluruh karyawan.

 

“Kami sedang menyiapkan sistem agar

karyawan memiliki saham hingga 30 persen.

Bahkan mesin jahit pun kami serahkan kepada

mereka,” katanya. Dengan cara ini Nani dan

Irfan berharap karyawan betah bekerja di

tempat mereka.

Menurut Irfan, Janamas selalu berupaya

memperbaiki sisi produksi, pemasaran, dan

permodalan. “Kami mulai menerapkan QC

(quality control) yang dikerjakan oleh satu

orang saja,” kata Irfan. Usaha yang berdiri

dengan modal awal Rp 100 juta ini telah

mampu memproduksi 6.000 potong pakaian

 

per bulan. Omzet bersih usaha yang berlokasi di

Kompleks Perumahan Tajur Indah, Tasikmalaya

ini mencapai Rp 800 juta per tahun. Setelah

dikurangi ongkos produksi, keuntungan bersih

yang dicapai Janamas sedikitnya mencapai Rp

100 juta per tahun.

Pengusaha busana muslim yang sudah menerbitkan

 

buku panduan berbusana muslim

dengan judul “Inspirasi Berbusana Muslim” ini

ingin agar dalam 5-10 tahun ke depan, usahanya

 

mampu berdiri lebih kokoh. Tidak muluk-muluk,

Nani hanya ingin memiliki konveksi yang dapat

mewadahi para penjahitnya yang sebagian masih

 

bekerja di rumah masing-masing saat ini.

Selain itu Nani ingin memiliki outlet sendiri di

Tasikmalaya. Dan, tujuan utama Nani berusaha

adalah ingin dapat terus membantu wanita

muslim tampil modis. “Karena semua ini saya

lakukan dengan tujuan untuk berniaga di jalan

Allah,” ujar Nani bersahaja.

 

Catatan Rhenald Kasali

SEPERTI KIKI GUMELAR, Nani Oktaviani dan suaminya yang mengawali kariernya

 

di dunia kerjä, juga pulang kampung yang satu pulang ke Garut, yang satunya

 

ke Tasikmalaya. Mereka memilih bisnis yang didukung oleh lingkungannya

 

sehingga tidak tarlalu sulit memu1ai, mempertahankan pertumbuhan, mencari

 

pegawai, membeli bahan baku, dan seterusnya.

Tentu saja hal seperti ini tidak berlaku sama pada setiap orang. Belum

 

tentu Anda barasal dari kampung yang memiliki daya dukung lingkungan

 

saperti Garut. Tasik adalah gudangnya pengusaha konveksi khususnya bordir.

Anda tinggal menyebut, ribuan tukang jahit akan datang. Demikian juga bahan

 

baku dan pembeli. Anda punya akses yang luas untuk membuat usaha jahitan

 

Anda menjadi produktif.

 

Demikian juga dengan Garut. Selain sebagai daerah wisata, penduduk Garut

 

terbiasa membuat pangan dodol dan jajanan wisata. Daya dukung pertanian dan

 

alamnya sangat kaya. Kota ini juga memiliki jendela pasar yang mudah

 

diakses.

Yagyakarta, Solo, Sleman, Plered, Cirebon, Pekalongan, Lombok, Bali,

 

Pontianak, Makassar, dan banyäk kota lainnya juga punya potensi yang sama

 

Anda tinggal mencocokkan minat dan keterampilan Anda pada potensi yang

Tersimpan di kota-kota tersebut, Selebihnya 90% keberhasilan ada di sana.

 

Anda tentu tidak harus mendaptakan sesuatu yang baru sama sekali. Seperti

 

kata pepatah we don’t have to reinvent the will.

Namun demikian, Anda perlu menyegarkan industri yang sudah ada. Sebab

 

Perilaku-perilaku usaha di kampung itu sudah puluhan tahun berada di sana

 

Dan, mereka saling meniru satu sama lain, mencocokkan produksi

dan pemasaran dengan yang dilakukan tetangga-tetangganya. Demikian terus

 

selama bertahun-tahun mereka melakukannya bersama-sama, bersaing dan

 

bekerja sama. Mereka lupa suatu ketika konsumen pun berubah.

Konsumen jenuh dengan barang yang sama terus-menerus. Selera pasar berubah,

 

menunggu sang pembaru.

Oleh karena itu, pulanglah ke kampung dan perbaruilah apa yang sudab ada.

 

Di sana semuanya sudah ada. Anda tinggal memperbaruinya.

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Koheri Latief, PHK Membawa Hikmah, Setelah di-PHK Koheri Sukses Raup Omzet Ratusan Juta dari Bisnis Sandal Hotel

Koheri Latief, Sandal Katrok Masuk Hotel

Sandal hotel yang ringan dan lembut

sering kali masuk di koper kita setelah

meninggalkan hotel. Bukan hanya

karena fungsinya, tetapi juga sebagai

tanda bahwa kita pernah menginap di

hotel tersebut.

 

Bisa jadi salah satunya adalah sandal

katrok produksi Koheri Latief. Ketika

pertama kali menjajakannya melalui

email, pria yang akrab dipanggil Koheri ini

memperkenalkan diri sebagai perajin sandal

katrok. Hal ini dilakukan untuk menarik

perhatian, meski kunci utamanya tetaplah

kualitas, on time delivery, dan harga yang

kompetitif.

Kisah Koheri menggeluti usaha ini pun tidak

sengaja. Tahun 2002 ketika menjadi korban

PHK, Koheri merasa mati kutu. Dia berpikir

keras untuk memulai usaha, namun belum juga

mendapatkan ide. “Mimpinya sederhana, dan

awalnya yang penting memiliki penghasilan

lebih baik daripada gaji saat masih menjadi

pegawai,” terang Koheri mengenang masa awal

ingin memiliki usaha. Saat itu Koheri berusia 36

tahun.

Dan, yang namanya ide memang dapat

muncul dari arah tak terduga. Ketika datang

 

kerumah salah satu temannya, ia melihat jajaran

botol sampo, sikat gigi, dan sabun ukuran mini.

 

“Saya tanya, ini apa? Buat apa? Dikirim ke mana?

Terus dia jawab, kalau itu semua buat ngisi ke

hotel,” cerita Koheri tentang ide usahanya.

SANDAL PENOPANG PHK

Koheri pun mendapat ide untuk membuat sandal

hotel. Ia mencari informasi dan dikenalkan ke

salah seorang perajin sandal di daerah Depok.

 

Awalnya berniat untuk sekadar bertanya, yang

terjadi justru sebaliknya. Mereka sepakat bekerja

sama dan Koheri mendirikan UD Herry Sandal

pada tahun 2003 dengan menjual rumahnya

seharga Rp 6o juta untuk modal usaha.

Meski masih dalam taraf belajar membuat

sandal, Koheri nekat menjajakan sendiri sandal-

sandalnya ke berbagai hotel, secara door to

door pada 2003. Dia hanya mengikuti intuisi

saja, melihat bahwa para calon pembeli lebih

mudah tertarik dengan barangnya jika melihat

langsung, ketimbang hanya dikirimi email

atau proposal. Dengan door to door, dia bisa

menjelaskan langsung kualitas barangnya. Hal

ini terus dilakukan Koheri seorang diri.

Di bulan pertama, Koheri berhasil menyuplai

sandal untuk Hotel Santika Cirebon dan Hotel

Bentani Cirebon. Namun, bukan keuntungan

yang didapat. Justru selama 6 bulan pertama

Koheri merugi karena biaya produksinya

terlalu tinggi, sementara pemasukan tidak

seberapa. Koheri pun menganggap proses

itu sebagai pembelajarannya. “Bisa dibilang

 

setahun pertama tidak ada keuntungan yang

berarti,” kenangnya, “Baru setelah setahun saya

merasakan nikmatnya usaha sandal.”

Selama setahun itu Koheri bisa dikatakan

bekerja apa saja, karena usaha sandalnya belum

menguntungkan. “Ada permintaan membuat

pensil, saya ambil. Ada yang meminta dibuatkan

tisu, saya iyakan,” ujarnya tergelak. Meskipun

untungnya kecil, tetapi usaha-usaha ini cukup

membantu mengamankan kondisi keuangannya.

Meski kecil, cash flow-nya berputar balik.

Minimal gaji dan tagihan listrik bisa dibayarnya.

Setelah bersabar setahun, usaha sandal

Koheri pun mulai mendapat sambutan bagus

dari pelanggannya. Kepuasan manajemen

Hotel Santika dan Bentani pada produk sandal

Koheri berbuah baik untuk bisnisnya. Dia

direferensikan ke cabang-cabang lain dalam

kelompok hotel tersebut, bahkan ke sesama

pengusaha hotel. Hingga Mei 2011, Koheri telah

menyuplai sandal ke sekitar 50 hotel di Cirebon,

Tegal, Pekalongan, Semarang, Yogyakarta,

Bandung, Jakarta, Bogor, dan Sumedang. Untuk

 

luar Pulau Jawa, sandal Koheri sudah menginjak

Balikpapan dan Belitung. Selain hotel, sandal

Koheri pun diminati oleh rumah sakit.

Sayangnya karena faktor kepercayaan,

kemitraan Koheri dengan perajin di Depok tidak

berumur panjang. Koheri kemudian membuat

usaha sendiri di Plered, lalu di Cirebon pada

2006.

Karena mengandalkan promosi mulut ke mulut

 

dari kliennya, Koheri mengaku tidak mengenal

langsung customer-nya. Transaksi yang mereka

lakukan hanya bermodal kepercayaan. Begini

sistem kerjanya: customer mengirimkan contoh,

Koheri kemudian membuatkan mock up yang

dikirim kembali untuk mendapat persetujuan.

Persetujuan ini memang sangat penting karena

setiap hotel biasanya memiliki desain sendiri

yang harus dipenuhi oleh Koheri. Misalnya

urusan pemakaian warna yang sesuai dengan

warna hotel tersebut. Koheri mengaku, kadang

ia juga memberi masukan terhadap desain yang

diinginkan konsumen. Tetapi, pada dasarnya ia

tidak mengubah terlalu banyak dari contoh yang

diajukan. Setelah mock up disetujui, proses

pembuatan sandal baru dijalankan.

Mengenai penetapan harga, Koheri berkata,

“Harga pokok produksi ya dihitung semua,

seperti bahan baku spons, lem, benang,

dan lain lain. Kemudian menghitung biaya

 

tenaga kerja dan ekspedisi. Untuk lingkup

Cirebon, kita pakai mobil sendiri. Kalau di

luar Cirebon, menggunakan ekspedisi yang

sudah berlangganan. Tapi terkadang konsumen

meminta ekspedisi yang dia percaya. Itu juga

bisa.” Setiap karung biasanya berisi 500 pasang

sandal yang dibagi-bagi dalam 50 kemasan plastik.

Jumlah pesanan dari setiap hotel memang

tidak sama, tergantung kebutuhan hotel itu

sendiri. Namun, agar biaya ekspedisinya tidak

terlalu mahal, untuk Pulau Jawa biasanya

Koheri mematok jumlah sandal minimal. “Oasis

Amir Hotel, Marbella, dan Parama itu biasanya

order sekitar 5.000 per bulannya, sedangkan

Hotel Santika Balikpapan itu sekitar 6.ooo per

bulan,” ujarnya memberi contoh.

MENOLAK DOWN PAYMENT

Koheri memegang teguh nilai-nilai yang harus

dipegang seorang pengusaha, seperti kejujuran,

kedisiplinan, dan keuletan. “Kejujuran adalah

 

hal yang paling tidak bisa ditawar. Tanpa itu saya

tidak akan mau berbisnis,” tegasnya. Sementara

kedisiplinan dibutuhkan agar dapat bertahan

walau kondisi tidak memungkinkan untuk

dilakukan, dan keuletan sangat membantu pada

saat menghadapi masa sulit dan tekanan yang

datang bertubi-tubi.

Menurut Koheri, kualitas dan pengiriman

yang tepat waktu menjadi faktor utama kelancaran

 

bisnisnya. Pasalnya, Koheri pernah

mendapatkan pengalaman pahit urusan pengiriman

 

barang. Ia pernah menggunakan

perusahaan ekspedisi yang kurang cermat

sehingga barang yang seharusnya berangkat

 

ke Bogor dikirim ke Bandung, begitu juga

sebaliknya. Di sinilah kredibilitas usaha

 

dipertaruhkan. Dia menuai protes atas kelalaian

yang bukan dilakukannya.

“Tapi saya belajar cerdik, ada copy bukti

kirim dari ekspedisi, kan. Saya kirim itu,

maka yang ada memang saya sudah kirim.

Cuma kenyataannya, di lapangan itu tertukar.

Diharapkan dia memaafkan saya. Tapi kalau

kita tidak bisa berargumentasi kayak begitu,

ya tadi, secara on time delivery saya kalah.

Kalau on time delivery kalah, hotel sudah

 

kehabisan sementara saya belum kirim. Jelek dong

kesannya. Dia pasti pindah ke tempat lain,”

paparnya. Ketepatan dan kecepatan perusahaan

 

ekspedisi termasuk faktor penting demi

 

mencegah customer-nya kabur.

Dari pengalaman tersebut Koheri selalu

berpesan kepada customer-nya untuk

 

memberitahu jika stok di hotel sudah menyentuh

kisaran 200-300 pasang. Sebab jika hotel

kehabisan sandal, sudah dipastikan toko

mana pun tidak ada yang menjual sandal

hotel tersebut. Dengan menjaga stok di kisaran

 

tersebut, hotel tidak sampai kehabisan

persediaan sandal dan Koheri mempunyai

cukup waktu untuk menyediakan sandal yang

dibutuhkan. Hal ini sudah termasuk waktu

pengiriman dari perusahaan ekspedisi di

sekitar Pulau Jawa yang memakan waktu 1

hari. Koheri memberikan keleluasaan kepada

customer-nya untuk menggunakan perusahaan

ekspedisi yang dipercaya. Jika customernya

 

menyerahkan kepada Koheri, baru dia

menggunakan perusahaan ekspedisi yang sudah

menjadi mitranya.

Urusan kualitas pun Koheri tak kalah berhati-

hati. Hal ini dipelajarinya dari pengalaman

pahit ketika ada pesanan dari salah satu hotel di

Malang, akibat PO (Purchase Order, dokumen

pemesanan) tertanggal 20 baru dibacanya

tanggal 25. Padahal, hotel tersebut sudah amat

membutuhkan sandal. Keterlambatan respons

Koheri membuat stok sandal keburu habis.

 

Koheri pun membuat sandal dengan terburu

buru tanpa mengontrol apakah sesuai seperti

yang biasa dikirimkan ke hotel tersebut, yakni

sandal mengilat. Seribu enam ratus pasang

sandal pun segera dibuat dan dikirim.

Heri tidak menyadari bahwa sandal-sandal

tersebut berbeda warna dan tidak mengilat.

Alhasil hotel tersebut mengirimkan kembali

sandal-sandal Koheri karena dianggap tidak

sesuai pesanan. Selain kerugian biaya produksi,

 

Koheri juga menelan kerugian akibat

pengiriman barang kembali. Nama baiknya pun

dipertaruhkan. Kliennya bisa saja berpindah

hati ke perajin lainnya. “Ketika tidak memenuhi

kualitas, dampaknya di saya,” cetusnya. Sandal-

sandal tersebut juga tidak bisa dijual ke mana

pun, karena nama hotelnya sudah tercantum.

Pun, tidak bisa didaur ulang. Sebagai pengusaha

kecil dan pemula, kerugian yang didapatnya

kala itu cukup besar, Rp 5 juta.

Di luar faktor pengiriman dan kualitas, Koheri

juga belajar untuk memiliki mitra kerja yang tidak

membuatnya rugi. Meski banyak yang berminat

menjadi agen sandal, Koheri hanya memberi

porsi 20 persen. Sedangkan 80 persennya, Koheri

memasok langsung ke hotel dan rumah sakit.

Dia pernah mengalami pengalaman pahit

ditinggal kabur agen sandalnya pada tahun 2004.

 

Awalnya, orang tersebut yang mengajak bekerja

sama. Koheri pun diajak ke tempat tinggalnya,

sebuah kos-kosan di Bandung. Secara kasat

mata, orang tersebut tampak berduit, terlihat

dari mobilnya yang berganti-ganti. Koheri pun

menyediakan sandal untuknya. Pembayaran

dilakukan dengan bilyet giro, yang ternyata

kosong. Dua kali dikirim nota, tidak juga dibayar.

Ketika dicari di kosannya, orang tersebut telah

pergi.

Hampir setiap hari Koheri menelepon ke

Surabaya, yang membuat tagihan teleponnya

membengkak. Hingga pada suatu titik, Koheri

memutuskan untuk merelakannya. Namun

sejak itu, Koheri meninggalkan perasaan ‘tidak

enakan’ dalam berbisnis. Ketika ada orang baru

yang ingin menjadi agen dan minta disediakan

sandal, dia dengan tegas meminta pembayaran

lunas sebelum sandal dibuat.

 

“Saya enggak mau sistem DP. Kalau DP

separuh, setelah sandal jadi dan dikirim,

masih perlu mengirim tagihan lagi. Saya mau

pembayaran full dulu. Logikanya, ketika sandal

saya sudah jadi lalu dia cancel, sandal itu jadi

sampah. Saya enggak mau seperti itu terulang

lagi,” jelasnya. Namun, perlakuan itu hanya

khusus untuk agen. Sementara untuk customer

tetap, yakni pihak hotel dan rumah sakit, Koheri

menggunakan asas kepercayaan, mengingat

mereka adalah customer yang setiap bulannya

sudah pasti memesan sandal dalam jumlah besar.

NIKMATNYA MUSIM LIBURAN

Setiap bulan, rata-rata Koheri memproduksi 80

ribu pasang sandal untuk menyuplai ke seluruh

hotel dan rumah sakit yang menjadi kliennya,

juga agen-agen sandal. Namun angka produksi

ini bisa meningkat hingga 2-3 kali lipat ketika

liburan sekolah, tahun baru, dan Lebaran.

Di ketiga musim ‘hot’ tersebut, permintaan

dari hotel bisa meningkat. Yang biasanya

memesan seribu pasang, menjadi dua ribu

pasang sandal. Namun, di antara 3 musim ramai

tersebut, Lebaran-lah yang paling mendapat

perlakuan istimewa. Pasalnya, tenaga kerja

libur nyaris 2 minggu, sementara hotel malah

 

sedang ramai-ramainya dengan tamu. Belum

lagi, perusahaan ekspedisi pun libur sejak H-3

hingga H+3 hari raya.

Pada awal usahanya, Koheri pernah kelabakan

 

hingga mengirim barang sendiri ke

kliennya karena sudah tidak ada perusahaan

ekspedisi yang beroperasi menjelang Lebaran.

Hal tersebut dilakukannya demi menjaga

kliennya tidak berpindah ke lain hati. Padahal

ongkos untuk pengiriman saja sudah cukup

tinggi.

Belajar dari itu, Koheri mewanti-wanti

customer-nya bahwa batas waktu order adalah

3 minggu sebelum Lebaran. Barang dikirim

beberapa hari sebelum hari raya. Lewat dari

masa itu, order yang datang terpaksa ditolaknya.

Mau tidak mau, hotel akan mengikuti aturan

tersebut karena tidak berani mengambil risiko

 

kehabisan stok sandal saat pengunjung

melimpah. Sehingga jauh sebelum Lebaran,

persediaan sandal mereka sudah cukup hingga

beberapa minggu pasca-Lebaran.

Tapi, banyaknya permintaan saat musim liburan

 

itu tak lantas membuat Koheri menaikkan

harga jualnya. Meskipun di saat Lebaran harga

bahan pokok menjulang, dia tetap menerapkan

harga yang sama. Koheri menyadari sulit

baginya menaikkan harga sandal saat Lebaran,

 

mengingat bahan bakunya, spons, yang didapatnya

 

dari Tangerang pun harganya relatif

stabil. Hanya saat harga BBM naik, customer

akan memaklumi jika Koheri meningkatkan

harga sandalnya.

“Kalau beli gula, beli heras, menjelang

Lebaran kan harga naik. Kalau saya mah tetep.

Aneh gitu. Pengennya ngaruh dong, biar saya

juga rezekinya banyak,” ujarnya dengan logat

Sunda yang kental sambil tertawa. Namun

sepanjang 8 tahun usaha sandal ini, dia masih

mampu memenuhi permintaan. Jika kekurangan

modal, dia masih dibantu oleh bank bjb yang

sudah meminjaminya uang 3 kali, yakni Rp 25

juta pada tahun 2005, Rp 30 juta pada tahun

2007, dan terakhir Rp 40 juta.

Apalagi, persaingan tampaknya tidak

 

menjadi masalah. Usaha Koheri berada di

kawasan kotamadya, sementara perajin sandal

lainnya biasanya berada di kawasan kabupaten.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Koheri

tidak punya pesaing yang berarti. Ia memiliki

akses yang jauh lebih besar untuk berhubungan

dengan hotel di mana pun. “Sengaja beda

sendiri,” imbuh pria berusia 45 tahun ini sambil

tergelak.

Pada prinsipnya, Koheri tidak pernah pilih

pilih, “Konsumen dari berbagai macam tingkat

hotel, dari mulai hotel bintang satu sampai lima

dan diamond, semua saya layani.” Bahkan beberapa

 

temannya menjadikan sandal buatan

Koheri sebagai oleh-oleh! Koheri menyikapinya

dengan santai. Selama ada peluang tersedia,

Koheri yakin akan terus memanfaatkannya.

 

MANAJEMEN USAHA

Namun, yang namanya usaha, tidak selalu berjalan

 

semanis harapan. Koheri kembali harus

menutup tempat usahanya pada tahun 2010 yang

diprotes warga sekitar karena bau lem yang menyeruak.

 

“Padahal saya kurang apa ya sama mereka?

 

Ketika saya bikin usaha di situ, anak muda

di sekelilingnya kan saya rekrut. Walaupun,

talentanya tidak ada. Dididik dulu,” tuturnya

heran.

Jadi, untuk sementara Koheri memproduksi

sandal-sandal di 3 rumah kecil miliknya. Koheri

 

masih mengincar daerah di pinggiran

Cirebon untuk menjadi tempat produksinya.

Dia beralasan, jika di pinggiran, bau lem

yang merebak saat pembuatan sandal tidak

akan mengganggu penduduk sekitar. Namun

tempatnya masih dalam pencarian, alias belum

ketemu.

Kesulitan mencari lokasi ini memang terkait

dengan idealisme Koheri untuk memberdayakan

masyarakat sekitar namun mereka tetap

tidak terganggu dengan proses produksinya.

 

“Kalau dapat seperti yang di Plered itu enak,”

ujarnya. “Tidak menimbulkan benturan dengan

masyarakat sekitar, mengingat di desa itu

masyarakatnya juga perajin sandal.”

Selain itu, dalam waktu sepuluh tahun mendatang

 

Koheri berharap sudah memiliki pabrik

sendiri, lengkap dengan kantor berkaca di atasnya,

sehingga mudah mengawasi proses produksi secara langsung.

Dengan jumlah karyawan sekitar 30 orang—

per orangnya bisa memproduksi 3 ribu pasang

sandal per harinya—Koheri ingin agar produknya

bisa menjelajah pasar yang lebih luas lagi. Baru

baru ini, dia sudah berhubungan dengan calon

klien dari Singapura yang meminta sampel dan

mock up. Sayangnya, hingga saat ini Koheri

belum mendapat tanggapan positif. Selain itu,

Koheri juga ingin menjelajah pasar yang lebih

besar, yakni Timur Tengah.

Terkait masalah tenaga kerja, kedepannya

Koheri berencana memiliki karyawan profesional

 

seperti kepala pabrik dan akuntan.

Namun, penggunaan tenaga profesional masih

 

harus dilihat dari kemampuan produksi dan

pemasukan keuangan. Untuk saat ini, dengan

kondisi tempat usaha dan permodalan yang ada,

menggunakan tenaga profesional hanya akan

menambah beban biaya produksi. Oleh sebab

itu semua pekerjaan—mulai dari pengawasan

produksi, penggajian karyawan, penagihan,

hingga penawaran produk—masih dilakukan

sendiri oleh Koheri dan istrinya.

Koheri mengaku saat ini belum bisa

 

memercayakan orang luar untuk mengurus manajemen

usahanya karena khawatir ditipu. “Banyak

 

kejadian begitu manajemen diserahkan kepada

orang luar, pengawasan oleh pemiliknya masih

lemah, sehingga banyak terjadi penipuan,”

tuturnya. Dengan mengerjakan sendiri, Koheri

mengaku kadang terjadi perselisihan dengan

istri, meskipun tidak pernah besar. “Paling

sekadar masalah salah pesan atau salah

membeli,” ujarnya sambil tertawa.

Sementara untuk buruh kasar, Koheri

mempekerjakan orang-orang di sekitar lokasi

usahanya yang dipilih berdasarkan kekerabatan

 

dengan orang yang telah bekerja sebelumnya.

Koheri menyerahkan urusan pelatihan

 

keterampilan karyawan baru pada orang yang

membawanya, sebab kebanyakan dari mereka

sama sekali belum memiliki keterampilan.

Biasanya, mereka akan menjadi terampil setelah

bekerja selama satu hingga tiga bulan.

Namun untuk kesetiaan pegawainya, Koheri

merasa tidak memiliki jaminan. Bukan saja

dibajak oleh perajin lain setelah memiliki

keterampilan, karyawan yang pergi pun kadang

mencuri informasi tentang pemesanan sandal.

Padahal, persaingan di antara sesama produsen

sandal hotel sangat ketat, hingga masing-masing

produsen menyembunyikan dengan baik siapa

saja pelanggan yang mereka miliki. Maka,

ketika karyawan dibajak, info penting pun bisa

berpindah tangan. “Beberapa kali tiba-tiba

pelanggan membagi dua pesanan, satu kepada

kita, satu lagi kepada saingan yang membajak

karyawan kita itu,” ujar Koheri prihatin.

Jika karyawan sudah terampil, sebenarnya

menurut Koheri tidak ada masalah lagi.

 

Dalam bisnisnya, inovasi produk tidak terlalu

 

dibutuhkan, sebab konsumen sudah mempunyai

 

bentuk standar masing-masing. Bagi

Koheri, yang lebih penting adalah menekan

biaya produksi serendah-rendahnya yang

dapat dicapai dengan membuat produk dalam

kuantitas sebanyak-banyaknya.

Pembayaran honor pekerjanya dilakukan

setiap akhir minggu mengikuti tradisi upah

mingguan yang berlaku dalam industri ini.

Mungkin itulah penyebab turunnya

 

produktivitas pada setiap Senin, karena karyawan

masih terbawa suasana libur hari Minggu

sehingga hari Senin kurang semangat bekerja.

“Mereka masuk semaunya dan jam kerja

diabaikan,” kisahnya. Untuk mengatasi masalah

 

tersebut, Koheri menggunakan sistem borongan,

 

yaitu memperpanjang jam kerja hari

Sabtu. Koheri memberi insentif lebih untuk

setiap kelebihan produksi yang mereka hasilkan

pada hari Sabtu, sehingga kekurangan pada hari

Senin dapat tertutupi.

 

Dia berkeyakinan, bisnis sandalnya masih

 

menjanjikan dan terbuka lebar untuk

menyentuh seluruh hotel maupun rumah sakit

di Indonesia. “Modal berapa pun masuk, pasti

habis. Begini, pasar kita ke nasional masih

terbuka luas. Sekarang modal saya sudah di atas

Rp loo juta. Ketika saya punya modal di atas Rp

200 juta-300 juta, jelas dong lebih lebar, lebih

luas. Ngisi ke hotelnya lebih banyak,” ujarnya

yakin.

Koheri mengaku kini sedang menikmati

jadi pengusaha dengan omzet Rp 100 juta

per bulan, ketimbang kala menjadi pegawai.

Menurutnya, dialah yang menentukan besaran

gajinya sendiri. Apalagi keuntungan usahanya

mencapai 10-15 persen dari omzetnya per bulan.

“Jadi pengusaha itu, gaji kita tetapkan sendiri,

saya pengen targetnya mau gaji berapa, Rp

10 juta, targetnya sekian,” cerita bapak 4 anak

yang ditemui di rumahnya di Taman Indah,

Kecamatan Harjamukti, Cirebon, dengan bangga.

 

Catatan Rhenald Kasali

USAHA KECIL ADALAH usaha pemula yang menggantungkan keberhasi1annya pada

 

diri Anda sendiri. Andalah yang menentukan usaha ini berhasil atau tidak,

 

menjadi besar atau tetap kecil, berputar atau teronggok mati.

Usaha kecil serba terbatas: modal tarbatas, karyawan sadikit, lokasi

 

barpindah-pindah, dan seterusnya.

Namun saat Anda memulai usaha dalam nuansa ‘penuh keterbatasan’ itulah Anda

 

merasakan ‘berkelebihan’. Anda menjadi lebih efisien lebih berhati-hati,

 

dan lebih teliti. Berbeda benar dengan usaha yahg bisa langsung

 

mempekerjakan banyak orang dengan space yang luas. Anda dapat lihat

 

sendiri, orang banyak mengangur dan tidak produktif. Jadi, tetaplah

 

produktìf meski penuh keterbatasan.

Supaya usaha Anda tidak stagnan maka Anda harus punya keberanian, untuk

 

berubah. Berubah atau mendiamkan terbawa arus gejolak jiwa adalah suatu

 

pilihan. Hidup hari ini seperti kemarin atau hari ini lebih baik

daripada kemarin. Anda sendiri yang memilihnya, Banyak orang memilih hidup

 

yang stagnan sehingga masalah yang dihadapi dari hari ke hari tetap sama.

 

Sulitnya tetap sama. Rezekinya pun tetap sama.

Padahal masalah yang Anda hadapi adalah ancaman bagi keberlangsungan usaha

 

Anda, namun peluang bagi mereka yang mau memperbaikinya. Orang-orang yang

 

melihat bagaimana cara kerja Anda akan memukul Anda dengan cara-cara yang

 

lebih efisien dan 1ebih modern.

Oleh karena itu janganlah tanggung-tanggung dalam berusaha. Anda hanya

 

punya dua pilihan menjadi pengusaha biasa-biasa saja, sekadar menumpang

 

hidup, atau menjadi pengusaha luar blasa. Pengusaha luar biasa tidak

 

berusaha yang tanggung-tanggung. Tutup semua kekurangan dengan menunda

 

kesempatan hidup bermewah-mewah dan memperbesar investasi, baik dalam fisik

 

(bangunan) maupun nonfisik (citra usaha, sistem, keterampi1an

 

karyawan, hubungan jangka panjang, dan seterusnya).

Perhatikanlah pengusaha-pengusaha mikro dalam buku ini. Di antara mereka

 

ada yang sudah berpikir jauh ke depan, namun juga ada yang masih

 

terbelenggu masalah rutin yang sama sepanjang hari. Sekali lagi, Anda bebas

memilih.

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Iyus Rohana, Pemuda Sukses Lewat Usaha Penyedia Berbagai Kebutuhan Petani dengan Omzet Usaha Rp 750 Juta/Bulan

Iyus Rohana Chandra, Menjadi Sahabat Para Tani

Berlokasi di lereng Pegunungan

Patuha, perjalanan UD Sahabat

Tani, membuktikan bahwa di desa

pun terdapat pemuda yang mampu

berkembang menjadi wirausaha

tangguh.

 

SEBAGAIMANA kisah kuno dari negeri

Cina tentang nasib manusia, Iyus Rohana

Chandra juga percaya bahwa tak ada

yang tahu nasib baik atau buruk seseorang.

Termasuk ketika pada suatu hari pamannya

memanggil Iyus untuk mendiskusikan hal

yang sangat serius. Di ujung pembicaraan, ia

menyatakan ingin mundur dan menyerahkan

usaha turun-temurun yang dirintis sang Kakek

ke tangannya.

“Saat itu Paman nggak bicara banyak soal

alasannya. Beliau hanya bilang akan beralih ke

agrobisnis,” kenang Iyus. Mendengar keputusan

paman, Iyus mengaku sangat terkejut, tapi ia

juga merasa bangga karena sang Paman percaya

padanya. “Cuma waktu itu saya enggak bisa

bilang apa-apa kecuali bersedia,” tambahnya.

Diserahi usaha yang membutuhkan tanggung

 

jawab besar, Iyus mengaku bahwa yang

terpenting usahanya dapat berjalan dengan lancar.

 

“Masalahnya, bisa nggak bisa, kan usaha ini

Harus jalan,” katanya sambil terkekeh, “Pokoknya

saya jalan saja dulu sesuai kebiasaan yang sudah

 

ada. Saya hanya berusaha menjalaninya dengan

sebaik-baiknya.”

Ternyata di tangannya, UD Sahabat Tani

berkembang dengan baik. Dan, setelah sepuluh

tahun, ia berhasil membuka cabang pertama

di Pasir Jambu, tahun 2003. Pengelolaannya

diserahkan kepada Dadang Ahmad Zakaria,

salah satu pamannya juga.

Setelah berhasil membuka satu cabang,

 

perkembangan UD Sahabat Tani tak terhentikan.

Dua tahun kemudian UD Sahabat Tani membuka

satu cabang lagi di Pasar Ciwidey, Kecamatan

Ciwidey. Cabang ini dikelola oleh salah seorang

saudara Iyus yang sebelumnya telah menjadi

karyawan. Secara tidak langsung Iyus mulai

menjadikan usahanya sebagai lahan pengaderan

calon pemimpin.

Dua tahun setelah cabang pertama dibuka,

UD Sahabat Tani kembali membuka 2 cabang

baru di Kecamatan Rancabali. Kemudian Iyus

membuka 1 cabang lagi di Kecamatan Ciwidey.

Dengan demikian hingga tahun 2011, UD Sahabat

 

Tani memiliki lima cabang.

 

FENOMENAL DARI LERENG PATUHA

Ayah dua anak ini menjalani tiga jenis usaha

sekaligus: penyedia berbagai kebutuhan petani

seperti benih, pupuk, dan obat-obatan; pemasok

stroberi dan kentang ke beberapa jaringan

ritel dan pusat belanja modern; serta pemilik

showroom sepeda motor.

Iyus memang bukan pemain baru di dunia

usaha. Sejak berumur belasan tahun dia telah

belajar berbisnis dari kakeknya yang juga seorang

pengusaha, Eman Sulaeman. Iyus mengenal

dan menguasai secara detail seluk-beluk bisnis

 

yang berkaitan dengan kebutuhan petani, mulai

dari pengambilan bahan, penataan, pemasaran,

hingga penagihan dan pembukuan.

Setelah Eman mundur, usaha tersebut diserahkan

 

kepada paman Iyus, Rahmat Suherman.

Meskipun berpindah tangan, pengelolaan usaha

ini tetap memerlukan tenaga Iyus. Sebab hanya

Iyus-lah yang menguasai hampir semua sisi,

dari pemasok sampai konsumen.

Namun, ketika lulus SMA Iyus sempat berpikir

 

untuk meninggalkannya dan melanjutkan

kuliah ke sebuah perguruan tinggi di Bandung.

 

Anehnya, belum lama menjalani kuliah,

 

Iyus sudah merasa bosan. “Mungkin karena

 

terbiasa pegang uang, saya merasa kuliah

 

menjadi tidak menarik. Saya merasa kuliah

seperti sia-sia karena enggak menghasilkan uang,”

 

kata Iyus. Melalui pertimbangan matang, akhirnya

 

Iyus memilih ‘cabut’ dan kembali bekerja.

Hanya saja, Iyus enggan kembali ke ‘pangkuan’ sang Paman.

Ia ingin mencari uang sendiri dan mandiri.

Keinginannya pun terkabul. Ia diterima di sebuah bengkel

sepeda motor. Namun ia hanya bertahan selama enam bulan.

Suami Mega Puspitasari, S.Pd. yang berprofesi sebagai

 

guru di SMAN Margahayu ini merasa

tak betah menjadi karyawan orang lain. Ia pun hengkang.

Iyus lalu menjalani usaha penjualan pulsa. Sayangnya

bisnis pulsa tersebut juga tak berkembang. Ia pun berhenti.

 

Karena merasa ‘mentok’, tahun

1990 Iyus kembali ke ‘pangkuan’ sang Paman.

 

Ternyata hokinya memang ada di dunia pertanian.

 

Selanjutnya, tak perlu banyak

belajar lagi, Iyus menguasai rantai usaha pertanian.

PENGALAMAN, PERGAULAN, DAN PELATIHAN

Sejak ditangani Iyus, pendapatan Sahabat Tani tak hanya berasal

dari penjualan kebutuhan petani, tetapi juga dari bidang usaha

lain. Iyus mengembangkan Sahabat Tani sebagai ‘lembaga

permodalan’ bagi petani yang ingin bergerak di bidang sayur

mayur dan buah-buahan, khususnya stroberi. “Tapi sejak awal

saya hanya berani memodali petani kalau pasar sudah ditemukan.

Setelah ketemu pasar baru berani,” katanya, “itu pun, petaninya

harus memiliki lahan dan tenaga.”

Dari mana Iyus memperoleh ilmu bisnis seperti itu? Menurutnya,

 

hal tersebut diperolehnya dari pengalaman, pergaulan,

dan pelatihan yang diselenggarakan oleh pemasok kebutuhan

sarana pertanian yang merupakan kepanjangan tangan produsen.

Mereka kerap menyelenggarakan berbagai jenis pelatihan untuk

para agen kebutuhan pertanian agar konsumen memahami

pertanian modern. Dengan cara itu produsen memiliki pasar

 

sekaligus agen bagi berbagai produk yang mereka hasilkan,

mulai dari bibit, obat-obatan hingga berbagai sarana

pertanian. “Setahun kami bisa dapat pelatihan sampai empat

kali,” katanya. Iyus memiliki kelebihan

pada cara menemukan pasar dan mempertahankan petani.

Salah satu yang dia lakukan

ialah melayani kebutuhan para petani dengan sebaik-baiknya

 

dan memperpendek jarak lokasi.

Untuk memenuhi kebutuhan jarak tersebut, diperlukan

waktu dua tahun sebelum memutuskan untuk membuka cabang.

 

Selain mempersiapkan lahan, Iyus harus menganalisis

 

pasarnya terlebih dahulu, mencari informasi mengenai

pesaing dan kebutuhan petani di lokasi tersebut.

 

“Sebelum pasarnya jelas, kami belum berani membuka cabang.

Kalau sudah yakin sebuah lokasi bisa menjadi pasar baru,

 

kami akan membukanya. Dibukanya cabang baru ini juga

 

mengurangi berbagai biaya yang

dikeluarkan Sahabat Tani karena selama ini memberikan layanan

gratis untuk mengangkut belanjaan pelanggan,” paparnya.

Namun, sebelum membuka usaha permodalan petani, Iyus

terlebih dahulu bermitra dalam usaha pemasaran kentang untuk

jaringan ritel modern di Jakarta. Kemitraan itu ternyata berjalan

dengan baik, bisnis pemasokan kentang pun berhasil. Usaha

 

kentang ini kemudian membawanya memasuki usaha pemasaran

stroberi.

“Setelah kedua usaha itu jalan, saya baru berani megang

 

petani dan memodali mereka,” ujarnya. Saat ini seluruh usahanya

berkembang, ia bukan hanya menjadi penyedia kebutuhan

 

sarana pertanian, tetapi juga pengusaha kentang dan stroberi, dan

lembaga permodalan untuk petani.

Iyus yang menggemari sepakbola dan sepeda motor,

 

menggunakan hobinya untuk menciptakan pasar dan pengaruhnya.

Tak jarang Sahabat Tani tampil sebagai sponsor pertandingan

sepakbola di kalangan petani agar dia bisa menjaga silaturahmi

dengan para pelanggan dan petani yang belum menjadi pelanggannya.

 

MENGELOLA USAHA DAN KARYAWAN

Seiring dengan perkembangan usaha, Iyus meningkatkan

tata cara pengelolaan Sahabat Tani. “Meskipun demikian

saya memberikan kepercayaan penuh kepada saudara-saudara

 

saya untuk mengembangkan cabang yang mereka

pegang,” katanya. Untuk urusan pembukuan,

Iyus menyerahkan masalah keuangan kepada karyawan yang

paling berkompeten. Demikian pula untuk pembelian dan

 

pengiriman barang. “Saya ingin semua yang bekerja dan

 

bermitra dengan Sahabat Tani sama-sama berkembang,” katanya.

Menurutnya, menangani karyawan bukan hal yang mudah

karena masing-masing orang memiiki watak, kemampuan,

dan cara menghadapi kondisi yang berbeda-beda. “Kalau

 

yang perempuan umumnya cepat menikah lalu pergi. Padahal

untuk bekerja di bidang pembukuan mereka lebih teliti daripada

karyawan laki-laki,” kata Iyus yang mengaku pembukuannya

masih konvensional. “Kami belum pakai sistem akuntansi modern.

Toh, ini bukan perusahaan besar di kota,” ujarnya enteng.

Dalam menerima karyawan baru, Iyus lebih memilih orang

luar daripada keluarga. Menurutnya bekerja dengan anggota

keluarga sendiri berpotensi sulit mengambil tindakan tegas.

“Kalau keluarga, akan ada rasa nggak enakan,” akunya. Selama

ini UD Sahabat Tani masih mempekerjakan karyawan lama dan

belum menerima karyawan baru. “Karyawan baru diterima ketika

kami membuka cabang baru,” katanya. Itu pun tanpa proses

yang rumit. Bagi Iyus, siapa pun yang mau kerja, bisa bergabung

dengannya.

Dengan cara demikian, Iyus mengaku hubungan antar

 

karyawan sudah terbangun seperti keluarga.

 

“Kami melakukan berbagai cara—mulai

dari arisan sampai jalan-jalan—agar selalu akrab. Tapi

saya juga membuat peraturan yang jelas dan sanksi yang

tegas bagi karyawan yang melanggar,” katanya. Karenanya,

 

walau banyak pesaing, karyawan UD Sahabat Tani

tetap setia. Hal yang sama juga berlaku

di setiap cabang. Namun, terhadap pengelola cabang Iyus

mengenakan peraturan yang sedikit berbeda, karena

 

pengaruh besarnya upah yang diberikan. Sementara untuk

pembagian keuntungan, cabang diwajibkan menyetor

60% untuk pusat.

Hubungan baik juga dia lakukan dengan pelanggan maupun

 

nasabahnya. Iyus bahkan mencoba untuk mengikat

 

hubungan dengan mereka. Pertama, memberikan diskon dan

 

pelayanan antar barang. Kedua, menggunakan

klub sepakbola yang didirikan sebagai sarana

promosi dan menjalin kesetiaan. “Selain untuk

alat promosi, ya untuk mengikat mereka. Yang

jadi anggota klub akan mendapatkan berbagai

prioritas dan kemudahan,” katanya.

BANTUAN KREDIT USAHA KECIL

Iyus paham bahwa bisnisnya berada di daerah

rawan bencana. Bahkan akibat sedikit tindakan

gegabah saja bencana mudah terjadi. Petani

Rancabali tinggal di lereng pegunungan yang

sebagian besar merupakan wilayah yang terkena

proyek reboisasi. Oleh sebab itu, Iyus selalu

bersikap hati-hati dalam bertindak. Bahkan dia

tak henti-hentinya mengajak para petani untuk

melakukan penghijauan.

 

Sebagai pelaku usaha, ia mengaku sering

dituntun oleh intuisi dalam membuat keputusan,

terutama jika di depan matanya terhampar

peluang. Contohnya, ketika Iyus menemukan

lahan yang dianggapnya potensial sebagai tempat

 

penanaman sayur-mayur dan stroberi

di Kecamatan Rancabali. Para petani pun

mendukung pemikiran tersebut, karena dengan

dibukanya lahan baru tersebut, mereka akan

mendapatkan pekerjaan tambahan. Meskipun

harus memulai dengan modal besar, dari proyek

ini Sahabat Tani memperoleh keuntungan yang

signifikan.

Namun, tidak berbeda dan usaha lainnya,

UD Sahabat Tani sempat mengalami kerugian.

Pada tahun 2007, misalnya, Perhutani menutup

lahan garapan petani yang dimodali Iyus karena

 

adanya kecemburuan sosial di antara para

petani. Pesaing menuding Iyus dan kelompok

taninya telah melanggar batas wilayah tertutup.

Mereka berdemo ke Perhutani. Akibatnya lahan

kami ikut ditutup,” jelas Iyus. Penutupan lahan

ini mengakibatkan 50% modal dan aset Sahabat

Tani melayang. “Kalau diuangkan nilainya mencapai

 

Rp 600 jutaan,” katanya.

Setelah menderita kerugian seperti itu, Iyus

langsung mencari solusi. Satu-satunya jalan

yang bisa mengatasinya adalah peminjaman dari

bank. Tetapi dari sejumlah bank yang ‘dilamar’nya,

 

hanya bank bjb yang mampu melihat

kekuatan usaha Iyus dan bersedia memberikan

bantuan. Setelah pinjaman modal sebesar Rp

250 juta dari bank bjb cair, Iyus bergerak lagi.

“Suntikan modal dari bank bjb itu membuat

Sahabat Tani bangkit lagi. Hanya dalam waktu

dua tahun pinjaman itu lunas,” katanya. Ia juga

merasa beruntung karena saat itu produsen

yang memasok obat-obatan juga memberikan

keringanan dalam bentuk kredit. “Kami boleh

mengambil duluan kebutuhan yang akan dijual,

bayarnya dua bulan di depan,” kenangnya.

Belum lagi pulih benar, tahun 2009 Sahabat

Tani harus menghadapi musim yang buruk.

Akibatnya beberapa proyek yang dibiayai

Sahabat Tani hancur dan jatuh lagi. Kerugian

 

yang dialaminya diperkirakan mencapai 30%

dari seluruh modal usaha. Mau tak mau Iyus

kembali pada bank bjb untuk mengajukan

pinjaman modal lagi.

Jika ditanyakan mengapa Iyus selalu kembali

 

ke bank bjb, menurut Iyus, alasannya

sederhana saja. Berdasarkan pengalamannya,

sistem pengembalian pinjaman dari bank lain

cukup memberatkannya. Iyus merasa berjodoh

dan menyebut bank bjb sebagai bank yang baik

dan terbuka. Terutama ketika Iyus berada dalam

keadaan terpojok, hanya bank bjb yang bersedia

membuka diri untuk meminjamkan modal.

“Saya merasa berjodoh dengan bank bjb.

Bahkan selama bersama bank bjb rasanya saya

seperti mendapat hoki,” katanya. Ia mengakui

pelayanan komunikasi dan informasi yang

diberikan bank bjb cukup lancar dan cepat

sampai ke nasabah. “Dengan HP-pun, bank

bjb mau melayani nasabah seperti kami.

 

Pelayanan informasinya juga bagus, selain itu juga

ada pendekatan yang membuat saya merasa

dimanusiakan,” kenangnya.

BISNIS KETIGA

Tahun 2010 kegiatan bisnis Sahabat Tani kembali

 

berjalan lancar. Iyus mulai kembali berani

melakukan diversifikasi usaha. Sebagai orang

 

yang memiliki hobi otomotif, Iyus mendirikan

showroom Yamaha yang diawali dengan membuka

 

bengkel. “Ini sebenarnya untuk menyalurkan bakat.

 

Waktu remaja, saya senang ngetrek, tapi

 

cita-cita mendirikan bengkel yang

merangkap showroom, belum kesampaian. Saya

rasa, saat itu saya bisa melakukannya,” katanya

Menjalani tiga bidang usaha sekaligus,

betapa repotnya! Tapi, itulah Iyus. “Saya hanya

terus berusaha untuk bisa maju. Apa yang bisa

saya jalankan akan saya kerjakan, terutama

kalau saya yakin bahwa hal tersebut bisa maju

dan bermanfaat bagi banyak orang,” katanya.

Dari seluruh usahanya itu Iyus mampu meraup

 

omzet antara Rp 500 juta sampai dengan

Rp 750 juta per bulan. Kini UD Sahabat Tani

yang beralamatkan di Jalan Perkebunan Patuha,

 

Kampung Cikoneng, Desa Alamendah,

Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung

 

menjadi mitra tetap bagi petani serta mereka

yang memerlukan pasokan kentang dan stroberinya.

Sampai saat ini Sahabat Tani masih dibantu

pinjaman dari bank bjb. Dengan melakukan

perluasan lahan garapan sedikit demi sedikit,

Sahabat Tani mampu membayar bunga cicilan

setiap bulannya dan melunasi pinjaman pokok

tepat waktu. Iyus berharap dengan melakukan

perluasan lahan, modal dapat terkumpul

 

sehingga dalam jangka waktu 5-10 tahun ke depan,

ia mampu membuat usahanya mandiri.

IMPIAN SANG LEGENDA

Sebagaimana orang desa, Iyus belum banyak

memanfaatkan teknologi modern dan hanya

paham sedikit tentang internet. Sementara

untuk teknologi pertanian, Iyus masih

 

mempelajarinya. Ia pernah menggunakan tenaga ahli

dan produksinya meningkat, tetapi biayanya

tidaklah kecil. Akhirnya tidak diteruskan.

Bak jago silat dari lereng gunung, setelah

mengembara ke luar, Iyus tampil sebagai

 

wirausaha yang tangguh. “Saya beruntung tumbuh

dalam keluarga yang menjalani usaha. Saya

mensyukuri nikmat dengan menjalani usaha

ini sebaik-baiknya. Saya hanya berusaha

 

menangkap peluang kemudian menjalaninya

 

dengan sebaik-baiknya,” katanya.

 

Namun, Iyus juga mengemukakan refleksinya

 

tentang nasib kaum tani di Indonesia

yang terus termaginalkan. Menurutnya, kalau

Indonesia benar-benar ingin petaninya maju,

maka harus ada perhatian yang nyata. “Selama

bermitra dengan petani, saya tidak menemukan

satu pun petani yang malas. Semuanya pekerja

keras, tapi mereka tidak punya akses. Selama ini

mereka enggak tahu jalan untuk mendapatkan

modal dan keperluan lain untuk bisa maju, juga

tak banyak yang menolong mereka. Saya hanya

mencoba mengisi kekosongan ini sebisa saya,”

katanya.

Iyus menjelaskan, ke depan ia akan mengembangkan

 

UD Sahabat Tani sebagaimana

namanya: benar-benar menjadi sahabat bagi

para petani. Dia ingin mengembangkan pola

yang sudah ada menjadi lebih modern, baik

untuk urusan jual-beli kebutuhan sarana

pertanian maupun lembaga permodalan bagi

kaum tani.

“Kami semua lahir dan tumbuh di sini. Kami

tidak akan jadi apa-apa kalau hanya tergantung

 

pada alam dan keadaan. Pengalaman telah

mengajarkan bahwa kita tidak boleh berhenti

belajar. Jelas banyak yang masih harus kami

pelajari supaya kami bisa lebih maju,” demikian

jelasnya.

 

Catatan Rhenald Kasali

KESULITAN YANG DIHADAPI para petani pasca reformasi adalah riil. Petani di

 

era ini bukan lagi menjadi subjek pambangunan industri pangan nasional

 

melainkan hanya diadikan objek. Saluran irigasi banyak yang rusak

air terkontaminasi sampah dan bahan-bahan berbahaya, pupuk menjadi

 

permainan para politisi, harga pokok bahan-bahan penopang lebih mahal

 

daripada harga jual output-nya, modal sulit didapat dan penyuluh-penyuluh

pertanian menghilang entah ke mana.

Maka tak mengherankan bila samakin hari semakin sedikit orang yang berminat

 

menjadi petani. Anak-anak meraka memilih menjual lahannya ketimbang

 

meneruskannya. Akibatnya pertanian Indonesia makin terpuruk,

digantikan oleh property dan Pilkada. Dan, kelak Indonesia akan kesulitan

 

pangan. Kasulitan? Bukankah “kesulitan” adalah urusannya wirausaha?

Benar! Seorang wirausaha mengubah masalah menjadi peluang. Jadi masalah

 

adalah peluang. Terbayang sekarang ada jutaan peluang di sektor partanian

 

mulai dari soal benih, pupuk alternatif, logistik, pengolahan (off

farming), permodalan, fasilitas pertanian, pengetahuan, lahan dan

 

seterusnya. Ini berarti dibutuhkan kreativitas dan kejelian membaca peluang

 

Melihat saja tidak cukup. Untuk menangkap peiuang ini Anda harus menjadi

“sahabat” petani dalam arti yang sesungguhnya menyelami masalah dan hidup

 

di tengah-tengah mereka.

Selebihnya action. Betul, dibutuhkan action, ringan tangan untuk bargerak

 

Sebab masalahnya begitu kompleks, sehingga menggunakan tabel cost-benefit

 

saja bisa membuat seorang wirausaha mengurungkan niatnya berpartisipasi.

 

Terlalu banyak cost ketimbang benefít-nya Tetapi itu terjadi bila Anda

 

menggunakan paradigma yang lama. Anda perlu bertindak untuk mengubahnya,

 

menciptakan sistem atau cara baru, bahkan produk-produk baru yang cost-nya

 

lebih rendah. Sebab masalah di sektor pertanian adalah masalah cost. Dan

 

ini berarti butuh inovasi.

UD Sahabat Tani saja berhasil menangkap peluang dalam skala dasa. Ia baru

 

menjadi sahabat belum menjadi inovator. Bayangkan apa jadinya usaha yang

 

digeluti Iyus Rohana Candra dan keluarga besarnya di lereng Gunung

Patuha, andaikan ia juga seorang inovator? Saya bayangkan UD Sahabat Tani

 

menjadi sebuah gerakan usaha yang besar, yang didukung dengan tenaga-tenaga

 

ahli dan relawan-relawan muda dari berbagai kampus, dengan puluhan truk

 

pengangkut benih dan hasil pertanian yang sibuk. Saya bayangkan UD Sahabat

 

Tani menjadi koperasi simpan pinjam atau lembaga keuangan mikro yang

 

tangguh.

Kuncinya hanya satu bagaimana mengubah sejuta masalah itu menjadi

 

kesempatan emas agar para petani kembali menjadi subjek, menjadi pahlawan.

 

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Kiki Gumelar, Mantan Manager yang Kini Sukses Lewat Bisnis Kuliner ‘Chocodot’ Cokelat dengan Dodol Garut

Kiki Gumelar, Tak Sengaja Mencipta Chocodot

Katakan dengan cokelat! Dan Kiki

Gumelar pun melakukannya dengan

Kreatif. Di tangan pria muda asal Garut

ini usaha makanan ringan berbahan

cokelat hadir sebagai keajaiban. Kiki

juga melihat peluang besar untuk

membawa Indonesia menjadi produsen

cokelat kelas dunia.

 

DALAM waktu dua tahun Kiki Gumelar

berhasil mengembangkan usaha dengan

omzet Rp 1 miliar per bulan. Berawal

dari modal sebesar Rp 17 juta pada tahun 2009,

Kiki mencoba untuk membuat makanan ringan

olahan berbahan dasar cokelat. Kini, Kiki

mampu memproduksi berbagai jenis makanan

cokelat dengan merek Chocodot Indonesian

Chocolate, atau lebih dikenal dengan nama

 

Chocodot. Usaba inilah yang membuat kota Garut

memiliki citra baru, dari kota dodol menjadi

kota cokelat.

Sebenarnya usaha Kiki sudah dirintis sejak

dia tinggal di Yogyakarta, tahun 2007. Saat itu

Kiki bekerja sebagai karyawan PT Nirwana Lestari,

 

distributor cokelat terbesar di Asia Pasifik,

Ceres. Namun, hobinya di bidang kuliner telah

menuntunnya menjadi pengajar di bidang

bakery dan cokelat. Akhirnya Kiki memutuskan

untuk membuka sendiri usaha bakery dan

cokelat bernama UD Tama Cokelat, yang diambil

dari nama anaknya semata wayang, Tama.

Tahun 2009, Kiki berniat untuk serius

 

mengembangkan usahanya. Dia ingin melakukan

ekspansi usaba ke Garut, Jawa Barat agar bisa

 

membangun kota asalnya. Di Garut, Kiki

 

menghasilkan panganan ringan dari cokelat yang

unik, yang dikenal dengan nama Chocodot,

sebuah akronim yang dibentuk dari kalimat

chocolate berisi dodol Garut. –

Penemuan Chocodot sendiri merupakan

serpihan kisah yang menarik. Suatu hari,

 

ketika sedang bersiap mengajar kelas cokelat di

rumahnya di Yogya, ibunya datang dari Garut

untuk menengok cucunya. Saat itu ibunya

datang membawa oleh-oleh khas dari Garut

yaitu dodol. Karena sibuk memanasi bahan

cokelat, Kiki tidak terlalu tertarik untuk

mencicipi oleh-oleh tersebut. Namun, secara

spontan Kiki justru memasukkan beberapa

potong dodo tersebut ke dalam cairan cokelat

yang sedang dipanasinya. Setelah coke!at

tersebut padat, Kiki pun mencicipinya. “Enak

juga,” pikirnya.

Peristiwa yang berlangsung hanya ‘sekejap’

itu ternyata sangat membekas di hatinya. Dan,

catatan tersebutlah yang akhirnya berubah

menjadi sebuah langkah kecil untuk melahirkan

usaha pembuatan produk makanan ringan baru

di Indonesia.

 

PRESTASI MENUJU SUKSES

Ketika mulai membangun usahanya di Garut

 

bulan Juli 2009, Kiki masih bekerja di PT

Nirwana Lestari, sebagai business development

 

manager untuk area Jawa Tengah dan

Yogyakarta. Meskipun sudah beberapa kali

mengajukan surat pengunduran diri, permohonannya

 

selalu ditolak. Masuk akal, karena selama

tiga tahun berturut-turut Kiki berhasil

 

menyelenggarakan festival bakery bernama D’Java

Bakery Festival. Festival makanan berbahan

cokelat itu berlangsung di Solo (2006), Semarang

(2007), dan Yogyakarta (2008), serta mendapat

sambutan hangat masyarakat. Barulah pada

November 2009, Kiki resmi meninggalkan PT

Nirwana Lestari.

Kiki bukan hanya kaya ide, tapi juga mampu

merealisasikan ide-ide tersebut. Kehebatan ini

sudah terlihat sejak masih duduk di bangku

SMA. Berbagai macam prestasi diraihnya. Pada

tahun 1997, Kiki terpilih sebagai Jajaka Garut

dan Runner-Up Jajaka Jawa Barat. Prestasi

lainnya menjadi Duta Boga dari PT Bogasari di

 

Yogyakarta dan Runner Up II di tingkat Nasional

tahun 2000.

Prestasi, kepandaian, dan kepribadian yang

menyatu ini rupanya tercium sejumlah perusahaan.

 

Ketika usianya baru menginjak 21

tahun, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang

 

tepung terigu, PT Pangan Mas Inti Persada

Cilacap, mengajaknya bergabung. Pada 2002,

dia direkrut oleh perusahaan kecap, PT Aneka

Food Semarang. Lalu tahun 2003, Kiki pindah

ke perusahaan santan, PT Kara Santan Pratama

Jakarta sebagai promotion supervisor. Terakhir,

pada 2005, Kiki bergabung dengan PT Nirwana

Lestari.

Rupanya di PT Nirwana Lestari inllah kelekatan

 

Kiki dengan dunia cokelat semakin

terbentuk. Saat menjadi distributor technical

officer di sana, ia belajar banyak untuk dapat

menjelaskan cara mencairkan cokelat, serta

mengolah cokelat dan mengaplikasikannya pada

roti, cake, juga makanan lainnya.

Walaupun sudah memiliki pekerjaan tetap,

Kiki tidak melupakan passion-nya di bidang

kehumasan dan mengajar. Kiki tidak pernah

melewatkan undangan atau tawaran mengajar

atau melatih yang datang dari berbagai lembaga

pendidikan, khususnya yang memiliki jurusan

boga. Kegiatan ini membuat Kiki semakin terdorong

 

untuk mendalami dunia kuliner terutama di bidang cokelat.

 

Dampaknya terlihat ketika ia semakin mahir

mengolah cokelat. Dari pengalaman inilah,

Kiki mendapat inspirasi untuk membuat usaha

cokelat sendiri. “Waktu mengajar saya sering

memberi saran agar mereka membangun usaha

berbahan cokelat. Lama-lama saya mikir,

mengapa menganjurkan orang lain melakukan

itu? Mengapa saya enggak merintis sendiri?”

katanya.

Suatu hari, ketika sedang menjelajah internet,

 

secara tak sengaja ia menemukan informasi

bahwa Ceres ternyata lahir di Garut. Informasi

ini semakin memperkuat niat Kiki untuk membuka

 

usaba di bidang cokelat. Dan, karena saat

itu Kiki dan keluarga juga berencana untuk

pulang ke Garut, Kiki memutuskan untuk

 

mengembangkan idenya tersebut di kota asalnya.

“Toh, sejarahnya sudah ada,” katanya mengenang

 

ide dan pemikiran awal bisnisnya itu.

Ketika kembali ke Garut, Kiki terus teringat

pada peristiwa dodol Garut yang tanpa sengaja

dimasukkannya ke dalam adonan cokelat. Ia

 

kemudian melakukan berbagai percobaan untuk

menemukan resep yang tepat. Hasilnya adalah

cokelat berisi dodol Garut.

Awalnya Kiki mengusulkan tiga nama, yaitu

Chodol (akronim untuk chocolate dan dodol);

Chodot (chocolate isi dodol Garut), dan Choqodot

(chocolate with dodol Garut). “Tapi akbirnya

yang muncul justru nama Chocodot dan langsung

 

saya daftarkan ke Ditjen HAKI (Hak Kekayaan

 

Intelektual) untuk merek, kemasan, dan

resep,” katanya.

Namun, ternyata usaha cokelat tersebut tidak

mendapat dukungan dari ayahnya yang tidak

ingin Kiki menekuni usaha kuliner. Pasalnya,

Kiki pernah mengalami kegagalan tahun 2003

dalam usaha bakery. “Tapi saya enggak bisa

berhenti. Saya jalan terus,” kenangnya lagi.

Pada bulan Juli tahun 2009, Kiki nekat

membuat dummy Chocodot sebanyak 20 kg,

yang kemudian ditawarkan ke toko-toko di

Garut. Dari toko-toko yang didatangi, hanya 4

toko yang menerimanya. “Dengan empat toko

itu saya ingin langsung beroperasi. Tapi saya

enggak punya modal. Minta Papa, enggak punya

uang. Akhirnya Mama iba dan meminjamkan

modal sebesar Rp 17 juta berupa kartu kredit,”

tuturnya.

Dengan modal tersebut, Kiki mulai merintis

kembali UD Tama Cokelat-nya di Garut. Awalnya,

 

upaya ini tak berjalan mulus. Tetapi, dengan

 

dukungan pamannya yang sudah memiliki bisnis

sendiri, Kiki kembali memiliki keberanian

untuk berbisnis. “Beruntung saya punya paman

yang penuh perhatian dan selalu meyakinkan

bahwa saya bisa melakukan sesuatu,” katanya.

Dari hasil diskusi dengan sang Paman,

Kiki semakin bersemangat. “Indonesia adalah

produsen besar tanaman cokelat tingkat dunia,

tapi ternyata enggak punya oleh-oleh cokelat

yang ready to eat. Saya bermimpi Garut harus

menjadi kota cokelat. Perusahaan sebesar Ceres

saja lahir di Garut, jadi apa lagi yang perlu

dibuktikan?” ungkapnya.

INOVASI DAN MENGOLAH PENAMPILAN

Seminggu setelah produksi pertama Chocodot

berhasil masuk ke empat toko di Garut, Kiki

bertemu dengan seseorang dari Koperasi Wanita

Indonesia di Garut Summit. Orang tersebut

menyarankan agar Kiki mengikuti Pameran

Pangan Nusa di Kementerian Perdagangan,

Jakarta. Walau sedang sibuk mempersiapkan

peluncuran Chocodot di Garut, Kiki tetap

menyanggupi pameran tersebut.

 

Melihat keseriusan menjalani usahanya,

akhirnya hati kedua orangtuanya luluh. Mereka

memberikan biaya dan bantuan untuk acara

peluncuran Chocodot di Garut, sementara Kiki

mempersiapkan pameran di Jakarta. Dengan

mengusung tema ‘Garut Gemar Chocodot’, acara

peluncuran yang dimeriahkan oleh pemilihan

ikon Chocodot dari semua umur—sejak balita

hingga dewasa—ini berjalan lancar dan sukses.

Sementara itu Pameran Pangan Nusa juga

memberikan hasil yang memuaskan. Kehadiran

Chocodot di ajang pameran pangan tersebut

mendapat sambutan cukup meriah dari

pengunjung, terutama media massa. Mereka

tertarik pada Chocodot yang unik baik dari

segi kreativitas, kesegaran ide, dan kemasan.

Kiki yang mengenal baik dunia humas dan

komunikasi, tidak menyia-nyiakan kesempatan

tersebut. Dia melayani media-media tersebut

dengan sebaik-baiknya. Akibatnya Chocodot

mendapatkan publikasi cukup besar di sejumlah

media, khususnya media kuliner.

Sejak Pameran Pangan Nusa, usaha Chocodot

berkembang pesat. Pada 1 Agustus 2009, Kiki

menyewa rumah seluas 36 meter persegi sebagai

 

tempat usaha. Rumah yang terletak di Jalan

Babakan Salawi, Garut tersebut kemudian diberi

nama Saung Cokelat.

Di sisi lain, Kiki juga tidak pernah jeda

 

melakukan inovasi. Ia merasa sudah saatnya berbuat

lebih dan memberikan sesuatu bagi Jawa Barat.

Karena itu, lahirlah Van Java Cokelat. Lewat

merek Van Java Cokelat, Chocodot melahirkan

produk inovasi berbahan dasar cokelat yang

belum pernah dipikirkan oleh banyak orang.

Produk inovasi tersebut antara lain cokelat

rasa bajigur, bandrek, sekoteng, dan kacang.

Namun, produk inovasi paling unik yang pernah

ia hasilkan adalah cokelat rasa cabai. Produk

produk baru ini kemudian diluncurkan pada

tanggal 14 Februari 2010, berbarengan dengan

dibukanya mitra cabang Chocodot di Jalan

Ottista, Garut, dengan nama Warung Cokelat

Intan.

Selain kaya ide, kekuatan Chocodot terletak

pada kepekaannya dalam menangkap dan mengemas

 

gagasan dari lingkungan, seperti kondisi

alam dan budaya Garut. Ia merefleksikan

 

kekayaan lingkungan ke dalam kemasan produk

 

Chocodot. Hal ini dapat dilihat pada

kemasan produk Chocodot tentang gunung

di Jawa Barat; Gunung Haruman untuk Dark

Chocolate; Gunung Talaga Bodas untuk White

Chocolate; dan Gunung Papandayan untuk

 

Milk Chocolate. Sementara untuk pertanian,

Chocodot memproduksi dua edisi khusus yaitu

Jeruk Garut untuk Dark Cholocolate with Dodol

Buah Jeruk dan Candi Cangkuang untuk Dark

Chocolate with Aneka Dodol.

Potensi geografis, legenda, dan produk

 

kerajinan anyaman khas Garut pun dijadikannya

bagian dalam kemasan produknya. Dalam

 

perkembangannya, Chocodot melahirkan beberapa

produk baru lain, yaitu Brodol dan Gage. Brodol

merupakan akronim dari brownies dodol,

sedangkan Gage adalah akronim Garut Geulis.

Gage adalah paket cokelat berisi krim buah yang

dikemas dalam besek atau bakul yang terbuat

dari anyaman cantik khas bumi Parahyangan.

Kemasan seperti itu tidak hanya mendatangkan

 

keuntungan bagi produk Chocodot tetapi

juga untuk para perajin anyaman di Garut.

“Kami juga menggandeng para remaja desa

untuk membuat paper bag dari tali berbahan

 

eceng gondok. Rantai ekonomi dan sosial ini

berkontribusi dalam membersihkan lingkungan

 

dari ancaman gulma,” paparnya.

Setelah mengeluarkan produk-produk

cokelat inovatif tersebut, langkah Kiki

 

selanjutnya adalah membuat rencana promosi

dengan mengemas kekayaan sosio-kultural

Garut. Kiki mengaku terkesan pada Jepang

yang mengemas kekayaan alam dan sosial

budayanya dalam sikap hidup sehari-hari

serta berbagai produknya. “Garut punya

banyak potensi alam dan sosial budaya seperti

Jepang. Cuma satu kekurangannya: promosi!”

ujarnya penuh semangat.

Untuk mewujudkan rencana promosinya

tersebut, ia mengikiankan produknya di

stasiun televisi lokal. Sejak ikian tersebut

muncul, ia mulai dikenal banyak orang dan

selain menjadi incaran media cetak, Kiki dan

Chocodot-nya mulai menjadi incaran stasiun

televisi nasional. Terhitung sejak tampil pada

Pameran Pangan Nusa hingga awal 2011, Kiki

dan Chocodot sudah 40 kali ditayangkan

oleh berbagai stasiun TV dan sudah tampil

di berbagai media cetak seperti tabloid Saji

dan majalah Sedap. Kiki ‘Chocodot’ yang

tak pernah kehabisan ide ini tampil sebagai

pengusaha UKM yang berhasil.

 

POSITIVE THINKING

Setiap usaha, pasti ada rintangannya.

 

Demikian pula usaha yang dijalani Kiki Gumelar.

Pemilik rumah yang disewa Kiki sebagai toko

pertamanya, kerap menaikkan barga sewa.

Awalnya harga sewa rumah tersebut hanya Rp

4 juta per tahun, lalu pada tahun kedua naik

menjadi Rp 7 juta per tahun, dan pada tahun

ketiga menjadi Rp 13 juta per tahun. Kiki tidak

bereaksi negatif terhadap tindakan tersebut

sebab pasar Chocodot terus meluas. Jumlah

cabang toko yang menjual Chocodot bertambah

menjadi 10 toko, sehingga jumlah karyawan

yang semula hanya satu orang terus bertambah

menjadi i6 orang.

Selain itu, Kiki juga sempat mengalami penipuan.

 

Pernah suatu ketika, Kiki didatangi

relasi bisnis yang ingin menjadi agen penjualan

Chocodot untuk Jakarta. Kiki pun tidak

 

menyiakan-nyiakan kesempatan ini. Namun, setelah

 

kerja sama berjalan dan barang-barang dikirimkan,

 

ternyata sang agen menghilang tanpa

jejak. Akibatnya uang sebesar Rp 50 juta pun

bablas.

Kiki memang cenderung tidak memiliki prasangka

 

buruk. Sayangnya, justru sifatnya inilah

yang membuatnya mudah diperdaya. Suatu kali

ia mendapatkan telepon dari seseorang di Pekanbaru,

 

Riau yang mengajaknya pameran di sana.

 

Tanpa buruk sangka, Kiki pun menyetujuinya.

Tapi sejak pameran selesai hingga saat ini, uang

hasil penjualan Chocodot sebesar Rp 33 juta,

tak pernah diterimanya. “Selain itu saya juga

sering menghadapi pemilik toko yang handel.

Mau utangnya, tapi susah bayarnya. Tapi saya

menganggap semua ini sebagai peringatan agar

saya bisa naik kelas. Intinya saya harus teliti,”

katanya.

Dalam mengalami berbagai masalah, Kiki

tetap berpikir positif. Dia pun mencari modal

tambahan dari bank. Meskipun setelah mengajukan

 

ke beberapa bank, belum juga berhasil,

Kiki tidak pernah mengeluh. Masalahnya

 

terpecahkan ketika Kiki tampil dalam suatu

 

seminar yang diselenggarakan oleh UMKM Centre

bank bjb. Saat itu Kiki menemukan jalan untuk

mendapatkan modal tambahan dari bank bjb

sebesar Rp 100 juta. Sejak saat itu, Kiki tak henti

memberikan apresiasi kepada bank daerah yang

tengah berjuang untuk menjadi bank nasional,

sama seperti dirinya.

Selain masalah keuangan, Kiki juga sempat

mendapatkan tekanan dari para pendahulunya

yang sudah lama dan menjadi ikon kota Garut.

Mereka merasa sebaiknya Chocodot tidak

 

menggunakan istilah cokelat isi dodol Garut atau

chocolate with dodol Garut karena mengancam

popularitas produk dodol Garut. Tidak ingin

 

masuk ke lingkaran persaingan yang tidak sehat,

Kiki memutuskan untuk mengganti istilah

 

tersebut menjadi Chocodot Indonesian Chocolate.

“Hikmahnya saya terpicu untuk menjadi lebih

kreatif,” katanya.

Walau awalnya berpikiran positif sempat

membuatnya sulit, namun kini Kiki berhasil

membuat kekurangannya tersebut menjadi kelebihan.

 

Berpikir positif membuatnya tetap melangkah maju,

 

melawan semua kendala.

MANAJEMEN USAHA

Bisnis UD Tama Cokelat ini tentu belum bisa

dilepaskan dari pendirinya. Pengalamannya

bekerja dalam bidang kuliner membuat Kiki

menjadi perancang utama. Kiki jugalah yang

menentukan dan merancang sistem manajemen

usahanya.

Pengalaman terdahulu mengajarkan Kiki

 

dan keluarganya agar tetap bersikap terbuka

dan lebih profesional. Kini, ia mulai menggeser

karakter bisnis keluarga menjadi usaha yang

profesional. Ia mulai merekrut tenaga profesional

dalam bidang manajerial. Ia berharap struktur

organisasi perusahaannya juga akan semakin

profesional, dengan 60 orang karyawan di luar

keluarganya.

Meski demikian Kiki masih melibatkan orang-

orang yang memiliki hubungan keluarga dengannya.

 

Ibunda Kiki, Nina Herlina, bertugas sebagai

 

pengawas produksi. Ayahnya yang masih

berstatus karyawan negeri sipil di Dinas Tenaga

Kerja, Garut, Tatang Kurnia, bertugas menangani

karyawan dan informasi seputar dunia tenaga

kerja. Sementara adiknya, Mila Ariani, dipercaya

sebagai manajer keuangan.

Dengan sistem keterbukaan dan profesionalitas,

 

Kiki mampu membangun relasi yang manusiawi.

 

UD Tama Cokelat memberikan gaji di

atas UMR sesuai dengan kinerja masing-masing

karyawannya. Sistem ini terbukti mampu

 

mengembangkan bisnisnya dan tidak ada kendala

yang berarti.

Intuisinya mengatakan usaha ini memiliki

masa depan yang cerah. Bukan hanya karena

penduduk Indonesia yang sangat besar,

 

melainkan juga posisi Indonesia sebagai penghasil

cokelat. Untuk itu, diperlukan kreativitas dan

pengelolaan yang tepat, baik di sisi hulu maupun

hilir.

Di sisi hulu, selain produktif melahirkan inovasi

 

produk baru yang berkualitas, Kiki tidak lupa

untuk terus belajar dan memperbarui teknologi

produksi. Melalui internet, Kiki mendapatkan

informasi mengenai perkembangan teknologi

produksi dan marketing. Karenanya Kiki pun

tidak lupa untuk mengembangkan keahlian para

karyawan dengan memberikan pelatihan yang

sesuai kepentingan karyawannya. Misalnya,

pelatihan marketing, pelatihan membuat cokelat,

 

dan pelatihan keterampilan lainnya.

Sementara di sisi hilir, Kiki giat melakukan

promosi. Selain menggunakan media cetak,

Kiki juga menggunakan jejaring sosial.

 

“Tentunya kami tak melupakan kekuatan word of

mouth, pelayanan yang menyenangkan, mau

 

mendengarkan, dan memberikan diskon sesuai

KTP. Kalau ada pembeli berusia 70 tahun kami

berikan diskon 70 persen; 60 tahun mendapat

diskon 60 persen, dan seterusnya,” katanya.

Karena promosi dan pemasaran tersebut

cukup berhasil, maka Chocodot mulai dikenal

di mana-mana. Kini, Chocodot sudah bisa di

dapatkan di Jakarta. “Kami juga sudah

 

mendapatkan pelanggan di kalangan pejabat dan

public figure,” ujar Kiki bangga.

Selain itu, UD Tama Cokelat juga mulai

mengeksplorasi pengembangan jaringan dengan

metode business opportunity. Dengan cara

ini Kiki telah memiliki dua gerai pribadi dan

dua gerai milik mitranya. Gerai-gerai yang

telah beroperasi itu menggunakan nama yang

berbeda-beda, yaitu Saung Cokelat, D’Jieun

Cokelat, Warung Cokelat Intan, dan Toko Cokelat

Neo. “Pendirian D’Jieun Cokelat mendapatkan

 

bantuan modal dari bank bjb sebesar Rp 450

juta. Luasnya 500 meter persegi,” paparnya.

Sikap bank bjb yang memberikan bantuan

modal dengan mudah bagi pengusaha UKM

membuat Kiki memiliki kelekatan emosional

khusus terhadap bank ini. Kiki yang melunasi

pinjaman dari bank bjb dengan sistem

 

membayar cicilan tepat waktu setiap bulannya,

 

tidak segan-segan menempelkan logo bank bjb besar-

besar di tempat usahanya. “Saya senang menjadi

PR (public relations) bank bjb,” katanya.

Kini, praktis tidak ada kendala yang berarti.

Tiga impian besar bagi usaha cokelatnya ini

mulai tampak hasilnya. Pertama, membuat

Garut terkenal karena cokelatnya. Bahkan

 

terkenal dengan wisata belanja cokelat. Kalau

Yogya bisa mengembangkan bisnis wisata agro

sekaligus rumah inap dan spa, maka siapa pun

yang datang ke Garut pasti akan singgah di

 

berbagai gerai cokelat miliknya untuk mencari

oleh-oleh cokelat khas Garut.

Kedua, men-cokelat-kan Indonesia. Indonesia

merupakan penghasil tanaman cokelat ketiga

terbesar di dunia, tetapi masyarakat Indonesia

belum memiliki produk cokelat dalam negeri.

Karenanya ia harus lebih menyebarluaskan

produk cokelat ke seluruh Indonesia.

Yang ketiga, memiliki istana cokelat di Garut,

 

Yogyakarta, Bali, Makassar, Kalimantan, dan

Sumatera. Untuk mewujudkan ini ia perlu

 

menyiapkan sistem kemitraan yang lebih baik

dan membentuk sistem untuk memantau

 

perkembangan pasar di daerah-daerah tersebut.

Semua impian tersebut tentu saja juga akan

tampak dalam omzet usahanya. Saat ini, omzet

UD Tama Cokelat baru mencapai sekitar Rp

1 miliar per bulan. Kiki percaya dia mampu

 

meningkatkannya menjadi sekitar Rp 2 miliar

dalam waktu dekat. Selain peningkatan omzet,

tujuannya yang paling penting adalah agar bisa

membuka lapangan kerja. “Semakin banyak

lapangan kerja yang dapat dibuka, maka

semakin banyak orang bisa membuka usaha

bersama Chocodot,” katanya mantap.

 

USAHA KECIL MENENGAH

ASGAR DAN COKELAT DODOLNYA

Chocodot jadi buah tangan baru di Garut.

Meraih penghargaan di Italia.

NUANSA SERBA KECOKELATAN menghiasi sebuah toko di Jalan Oto Iskandar

 

Dinata, Tarogong, Garut, Jawa Barat. Tak hanya dinding, kusen-kusen kayu di

 

rumah berdesain minimalis itu pun dilabur kelir cokelat cerah. Ruangan

 

depannya penuh rak yang memajang bermacam penganan dari cokelat. Ada

permen, cokelat batangan, hingga bolu cokelat. Bahkan dipajang pula patung

 

replika prajurit terakota dari Tiongkok setinggi 1 meter yang juga terbuat

 

dari cokelat.

Sekilas cokelat di toko itu biasa saja. Tapi, ketika dikunyah, terasa ada

 

yang unik. Ternyata makanan cokelat ini dilapisi lempengan dodol Garut

 

empuk dan legit. Inilah Chocodot atau cokelat isi dodol yang

belakangan jadi buah tangan favorit dari Kota Intan. “Paduan enak dan

 

unik,” ujar Resti Eka, 21 tahun, warga Tangerang, Banten, yang menyambangi

 

gerai itu, Kamis pekan lalu.

 

Lantaran keunikannya itulah Chocodot menjadi istimewa. Selain laris manis,

 

penganan ini kerap meraih penghargaan. Chocodot sudah meraih 10 penghargaan

 

sejak diproduksi dua tahun lalu. Pertengahan Mei lalu, misalnya, Chocodot

 

dianugerahi gelar Product Niche dalam TuttoFood Milano World Food

 

Exhibition di Italia, pameran dua tahunan yang dilkuti produsen makanan

 

dari 65 negara. Product Niche adalah penghargaan untuk produk yang

 

melestarikan tradisi, inovatif, dan tentu saja laku di pasar. Sekarang

dalam setiap kemasan Chocodot ada tambahan logo Tutto Food.

Sukses di balik sukses Chocodot tak lain Kiki Gurnelar. Pria asal Garut—

 

terkenal dengan sebutan Asgar—ini memilih jalan sebagai pengusaha kuliner

 

karena ingin pulang kampung dan mandiri. Rupanya, setelah beberapa tahun

 

bekerja di Yogyakarta sebagai kepala cabang sebuah pabrik cokelat ternama,

Kiki merasa jenuh. Kebetulan seluruh keluarga mendukung,” kata dia.

Dengan modal Rp 17 juta, Kiki mendirikan toko roti dan cokelat. Duitnya

 

pinjam dari sang Ayah, Tatang Kurnia, yang kebetulan pegiat Usaha Kecil dan

 

Menengah (UKM) di Garut. Meski pemiliknya berpengalaman jadi kepala cabang

 

produsen cokelat, usaha mandiri ini terantuk-antuk juga.

Lelaki berusia 31 tahun itu lalu putar otak. Muncul ide meromnbak dodol

 

ketan penganan khas Garut.

Iseng-iseng camilan kenyal itu dicelupkan ke cokelat cair. “Ternyata jadi

 

lebih enak.” Kiki menjual makanan baru ini. Modalnya, Rp 52 juta, pinjam

 

lagi dari orangtua. Dana ini buat membeli bahan baku dan menyewa

toko kecil di kawasan Babakan Selawi, Cipanas, Garut. Pada 19 Juli 2009,

 

Chocodot diperkenalkan pertama kali dalam sebuah pameran yang digelar

 

pemerintah daerah.

Toh, bisnis baru Kiki tak langsung sukses. Toko makanan di seputar Garut

 

ogah menampung Chocodot. Apes, kontestan Jejaka Jawa Barat 1997 ini bahkan

 

sempat tertipu. Barangnya dibawa kabur mitra dagang. “Mungkin semua itu

 

pelajaran buat naik kelas,” ujarnya seraya menolak menyebut angka

kerugian.

Kepalang basah, ayah satu anak ini terus berusaha. la merangkul kolega dan

 

sesekali memasarkan produknya lewat jejaring sosial Facebook. Chocodot juga

 

tak pernah absen ikut berpameran, hingga akhirnya menarik perhatian Dicky

 

Chandra. Mantan artis yang kini menjadi Wakil Bupati Garut itu punya

program mengembangkan UKM. Kegigihan Kiki kali ini membuahkan hasil.

 

Pemerintah daerah Garut menjadikan Chocodot sebagai salah satu suvenir buat

 

tetamu. Chocodot semakin terkenal dan diincar wisatawan. “Toko yang dulu

 

menolak Chocodot kini antre minta jatah,” ujar Kiki terkekeh-kekeh.

Bank-bank juga mulai melirik. Sukses mendapat kredit Rp 100 juta, Kiki

 

berekspansi menambah peralatan, bahan baku, dan membangun dua gerai. Dengan

 

bendera UD Tama Cokelat, produksi per bulan mencapai empat ton cokelat dan

 

dodol. Jenis produknya pun bertambah. Kini Chocodot memiliki

30 varian, misalnya cokelat rasa cabai, brownies, dan pizza isi dodol.

Kemasannya bermacam-macam, dari bakul bambu, sangkar burung, kertas

 

alumunium, hingga dalam boneka domba Garut. Dalam bungkus cokelat batangan

 

dipasang gambar dan informasi obyek wisata Garut. Dari penganan yang

 

harganya Rp 5 ribu hingga Rp 40 ribu sebungkus itu, Kiki bisa meraup

omzet Rp 1 miliar saban bulan.

Bagi pengusaha lain, meski Chocodot menjadi pesaing anyar, toh ada juga

 

sisi positifnya. Ato Hermanto, pemilik merek Picnic, produsen dodol ternama

 

asal Garut, mengatakan pamor dodol justru semakin terangkat. “Pasar lebih

 

menggairahkan lagi,” ujarnya. Kini merek legendaris itu malah latah

membuat produk serupa: Cokodol.

(Fery Firmansyah, Sigit Zulmunir, Tempo 20-26 Juni 2011 Hal. 112)

 

 

Catatan Rhenald Kasali

 

SEMUA ORANG BISA membuat sesuatu lebih baik. Dan semua orang bisa berbicara

 

bahwa produk atau makanan buatannya lebih baik dari buatan orang lain.

 

Tatapi sedikit sekali orang yang berani menggulirkan produknya ke pasar,

 

berhenti berbicara, beralih profesi menjadi wirausaba, sarta membangun

 

usaba dari nol.

Berbada dengan Kiki, ia benar-benar berhenti dari pekerjaan bagusnya dan

 

mengambil langkah berani. Pulang kampung, mambuat ookelat buatannya

 

sendiri, dan menjajakannya dari toko ke toko, memungut bayaran-bayaran

kecil mendengarkan suara pelanggan dan menyewa rumah untuk mengembangkan

 

usahanya sampai usaha itu tumbuh menjadi lebih stabil. Ia juga berani maju

 

menghadapi tantangan demi tantangan dari para incumbent yang bishisnya

 

terancam.

Seperti dodol garut yang terancam dengan kehadiran dodol berbalut cokelat

 

masa depan setiap produk pangan selalu menghadapi tantangan-tantangan baru

 

Selalu muncul inovasi yang mengubah salera. Maka itu perbaruilah produk

 

Anda dan beradalah selangkah di depan salera-salera baru

Setiap usaha memiliki dua sisi yaitu aspek tangibles (fisik, kasat mata)

 

dan aspek intangibles (melekat pada manusia, nonfisik tak kalihatan)

 

Pengusaha selalu terkait oleh kedua hal itu tetapi sering melupakan atau

 

tidak paham bahwa segala yang tak terlihat, kasat mata (intangibles) jauh

 

lebih penting daripada yang kasat mata.

Apa sajakah aspk-aspek intangibles itu? Aspek-aspek intangibles itu adalah

 

sagala sesuatu yang hanya didapat kalau kita melatih dan melangkah, dan

 

melekat pada diri manusia. Keterampilan mernasak, reputasi, kelincahan

kaki melangkah mendatangi outlet, keberanian berhenti dari pekerjaan dan

 

mengambil resiko, kejelian melihat lokasi, jaringan pertemanan, nama usaha

 

(brand image), kegelisahan tangan untuk membuat produk-produk inovatif dan

Seterusnya.

Kiki Gumelar melatih dirinya melalui serangkaian tindakan. Ia tidak hanya

 

sekolah lima sentimeter melainkan sekolah dua meter. Ia belajar mengolah

 

tepung di Bogasari, belajar membuat kecap dan mengolah cokelat dari

 

perusahaan tempat ia bekerja. Ia belajar menghadapi suara ibu-ibu, mengajar

 

di sekolah dan mendengarkan apa kata pasar. Lalu, ia melangkah pulang

 

kampung membuka usaha memberi nama yang unik, menghubungi orangtua untuk

mencari pinjaman modal, menghubungi para pemilik toko, membangun kerjasama

 

dengan perajin, dan seterusnya.

Intangibles tak pernah terputus. Ia terus mengakumulasi harta Anda, harta

 

yang tak terlihat. Dari bisa membuat satu menjadi serba bisa. Dari tak

 

dikenal menjadi mulai dikenal dan sangat terkenal. Inilah modalnya Kiki

 

Gumelar, modal yang memperbesar Chocodot. Ini pulalah yang membedakan usaha

 

Yang tetap kecil—berkisar jutaan rupiah saja—dengan usaha yang berevolusi

 

menjadi besar—berkisar miliaran rupiah.

Maka berhentilah berbicara dan mulailah bekerja, eksplorasi dunia ini

 

dengan segenap kreasi dan impian Anda. Kelak dunia mimpi itu

 

akan jadi milik Anda jua.

 

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012