Blog Archives

Jefri Van Novis, Pemilik PT. Bonita Tour and Travel: Juragan Bra yang terobsesi Bonita

Berawal dari kegigihannya menjual pakaian dalam wanita, bisnis Jefri terus berkembang. Setelah sukses mengembangkan usaha biro perjalanan di pasar grosir Aur Kuning di Bukittinggi, kini ia merangsek ke pusat grosir dunia di Tanah Abang Blok A, jakarta. “Saya bermimpi sekali waktu memiliki maskapai penerbangan Bonita Air,”katanya.

 

BONITA DALAM BAHASA Spanyol berarti wanita jelita. Nama inilah yang begitu lekat dan tak bisa dipisahkan dari Jefri Van Novis, pria lajang kelahiran Bukittinggi 27 tahun yang lalu. Ke mana-mana ia selalu membawa pakaian dalam wanita. Bahkan di pasar grosir Aur Kuning di Bukittinggi dan berbagai pasar di Padang, Sumatera Barat, Jefri identik dengan Bonita.

Meski begitu, jangan burn-burn salah sangka dan menudingnya banci. Bila ia selalu membawa-bawa pakaian dalam wanita, itu karena urusan bisnis semata. Tegasnya, bisnisnya adalah jual beli produk pakaian dalam wanita bermerek Bonita. Bisnis ini ditekuninya sejak menjelang ia masuk perguruan tinggi.

Usai menamatkan pelajaran di SMU Negeri 3 Bukittinggi, pada tahun 2000, meski sangat ingin, Jefri yang termasuk murid terpandai di sekolahnya ini tak terlalu yakin ia bisa melanjutkan studi ke univer­sitas. “Dari mana biayanya, orangtua saya bukan orang berada,” ke­nangnya. Meski begitu, ia tetap mengikuti SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) dan mengincar salah satu fakultas terfavorit di perguruan tinggi terfavorit di Sumatera Barat. Syukur kepada Allah, “Ketika hasil SPMB diumumkan, nama saya tercantum di daftar me­reka yang diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Pa­dang,” ujarnya.

Meski senang dan bangga, namun membersit juga rasa khawatir: bagaimana membayar biaya kuliah yang terbilang tinggi bagi keluarga­nya, serta biaya hidup selama berkuliah di Padang. Maka muncullah gagasan untuk berkuliah sambil berdagang. “Semua keluarga mendukung pilihan ini. Apalagi keluarga kami memang berlatar belakang pedagang,” tuturnya.

 

Modalnya ada­lah tekad dan kepercayaan dari kakak sepupunya, karena Jefri tak memiliki modal sepeser pun. la mendapat kredit selama satu minggu.

 

Maka jadilah Jefri pedagang produk pakai­an dalam wanita – bra, celana dalam, korset, dan sejenisnya – merek Bonita, yang diproduk kakak sepupu di Jakarta. Modalnya adalah tekad dan kepercayaan dari kakak sepupunya, karena Jefri tak memiliki modal sepeser pun. la mendapat kredit selama satu minggu. Jadi produk yang di­ambilnya baru dibayar seminggu kemudian.

Untuk mencari uang guna membayar uang masuk kuliahnya, Jefri langsung bergerak memasarkan produk bagi kalangan menengah ke bawah ini di pasar Aur Kuning, Bukittinggi, pasar grosir terbesar di Sumatera Barat. Lokasi pasar ini sangat strategic, tak jauh dari termi­nal bis antarkota, sehingga membuatnya semakin ramai dikunjungi. Banyak pedagang dari daerah-daerah lain yang datang berbelanja ke pasar ini untuk didistrusikan ke berbagai kota lainnya.

Jefri memang tipikal orang Minang asli, ulet dan pantang me­nyerah. Hari pertama menginjak kota Padang, ia langsung memasar­kan produk ini. Semua peluang dijajalnya. Selain memasok toko-toko grosir, juga memasarkan ke pedagang eceran dan kaki lima – tentunya dengan harga yang berbeda, sehingga ia mendapatkan margin lebih besar lagi. Semua toko di Padang ditawarinya.

Tanggapannya sangat beragam. “Ada yang suka dan memuji, tak ada juga yang meremehkan produk kami,” katanya. Namun berbagai sambutan miring itu tak mampu mematahkan semangatnya. “Kalau kita menawarkan 10 toko saja, mudah-mudahan ada satu yang mem­beli produk kami,” ujarnya. Karena ia menawarkan ke ratusan toko, maka jumlah toko yang berkenan membeli produknya pun lumayan banyak.

 

BIODATA

JEFRI VAN NOVIS, SE

Bukittinggi, 16 November 1981

Alamat: JL. By Pass Pasar Aur Kuning, Bukittinggi Sumatera Barat

PENDIDIKAN:

S1 Universitas Andalas

NAMA USAHA:

PT. Bonita Anugrah Pratama Tour And Travel

Deskripsi usaha: Penjualan Tiket Pesawat, Paket Tour, Umrah, Haji Plus, Rental Mobil dan Voucher Hotel

Alamat: Bukittinggi, Padang, Payakumbuh dan Jakarta. HP. 0812 672 1668

PENGHARGAAN:

2008 Finalis Wirausaha Muda Mandiri 2008

Top Ten Tour and Travel in West Sumatera dari Dinas Pendidikan Darah Perak Malaysia

 

Ke kampus pun ia tak ragu membawa barang dagangannya ini dan menawarkannya kepada rekan kuliahnya. Sambutan teman­-temannya pun beragam, adanya yang salut terhadap semangatnya dan ada pula yang melecehkan. “Saga sempat dijuluki tauke bra. Biar saja, saya malah menikmatinya,” ujarnya santai. Malah julukan itu mem­buat Jefri dan dagangannya kian dikenal. “Banyak juga rekan-rekan wanita yang memesan dagangan saya,” katanya. Belakangan, ketika usahanya kian berkembang, koleganya yang sempat melecehkan itu malah berbalik salut kepadanya.

Meski sangat sibuk berbisnis, bukan berarti kuliahnya diabaikan. Bahkan Jefri mampu menyelesaikan studinya di Jurusan Manaje­men Pemasaran hanya dalam tempo 3,5 tahun. IPK (Indeks Prestasi Kumulatif)-nya pun terbilang tinggi, 3,3 dari skala 4.

Untuk bisa menyelesaikan kedua kegiatan – kuliah dan berbisnis – dengan baik, Jefri memang harus sangat disiplin membagi waktu­nya. Tiada kata berleha-leha dalam kamus Jefri. Tiap Senin hingga Jumat, sejak pagi hingga sore ia kuliah dengan tekun. Sore hari ia berkeliling Pasaraya Padang menagih pembayaran produknya kepada toko-toko yang mengambil produknya. Jumat sore ia pulang ke Bukit­tinggi, membawa uang untuk disetorkan, sekaligus mengambil produk barn untuk dipasarkan.

Sebelum pulang ke Bukittinggi, Jefri biasanya mendatangi satu semi satu toko yang biasa dipasoknya. “Cari order,” katanya. Minggu sore ia telah ada di Padang kembali untuk menyerahkan pesanan pe­langgan-pelanggannya. “Begitulah saya setiap minggu,” katanya. Toh di Bela-Bela kepadatan jadwalnya ini ia masih menyempatkan kursus bahasa Inggris. “Ini merupakan modal penting dalam menghadapi persaingan global,” katanya.

Usai berkuliah pada tahun 2004, Jefri masih tetap memasok ba­rang dagangannya ke Padang. Namun sehari-hari ia lebih banyak be­rada di Bukittinggi, membantu kakaknya berdagang pakaian dalam di pasar Aur Kuning. Sambil membantu kakaknya ini ia mempelajari seluk-beluk pasar grosir terbesar di Sumatera Barat ini dan mencoba mengenali potensi-potensi bisnis yang bisa digali dari jejaring yang dikembangkannya di sana.

Akhirnya pada tahun 2006 ia pun merasa mantap untuk membangun bisnisnya sendiri yang terpisah dari sang kakak. Bisnis pakaian dalam ditinggalkannya, semua pelanggannya diserahkan ke­pada kakaknya itu. Namun ada satu yang tak bisa dilepasnya: nama Bonita, yang dipandangnya sudah melekat dengan personal brand­nya dan membawa hoki. Perusahaannya yang bergerak di industri perjalanan dan wisata diberinya nama Bonita Tour and Travel. Per­usahaan ini terutama melayani pemesanan tiket pesawat udara untuk tujuan ke dalam maupun ke luar negeri.

Dengan modal yang tidak terlalu banyak, Jefri merintis usaha ba­runya dengan menjadi subagen penjualan tiket pesawat. Setelah seta­hun menjadi subagen, Jefri bisa mewujudkan keinginannya menjadi agen resmi. “Sebagai agen resmi, kita bisa menikmati komisi penuh, Berta mendapat sejumlah insentif lainnya,” katanya.

Pada April 2007 ia menggandeng sang kakak untuk mendirikan perseroan terbatas sebagai syarat untuk bisa menjadi agen resmi. Di sini pun ia merangkak dari bawah. Karena modalnya terbatas, ia hanya bisa mengajukan agen satu demi satu maskapai. Berawal dari Mandala Airlines, lalu Batavia Air. Namun berkat kegigihan men­jual tiket, kemudian satu demi satu penerbangan lainnya – termasuk maskapai besar seperti Garuda Indonesia – mulai mempercayakan penjualan tiket mereka kepada Bonita.

Potensi bisnis di sektor ini terbilang besar. Orang Minang dikenal sebagai perantau yang kerap bepergian ke seantero pelosok Nusantara – bahkan juga ke mancanegara – untuk berniaga dan menggerakkan roda bisnis mereka. Dengan jejaring lugs di kalangan para pedagang besar dan grosir di Pasar Aur Kuning, Jefri bisa meraup peluang itu. Hubung­an baiknya dengan sejumlah perusahaan dan instansi pemerintah juga membuat banyak di antara organisasi tersebut yang memesan tiket kepadanya. “Alhamdulillah, cukup banyak yang mempercayakan semua urusan perjalanan penerbangannya. kepada Bonita,” ungkap Jefri. Di antaranya ada perusahaan CNI, Tupperware, sejumlah showroom mo­bil di Bukittinggi, dan sekretariat DPRD Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Bahkan ia juga meraih kepercayaan dari Jabatan Pendidikan Perak Darul Ridzuan, Malaysia, karena mampu memberikan layanan yang sangat memuaskan kepada tiga rombongan dari Malaysia yang berkunjung ke Bukittinggi.

Jefri mengakui, ketatnya persaingan antarmaskapai penerbang­an dan banyaknya bis antarkota antarprovinsi membuat margin dari penjualan tiket perjalanan udara makin lama makin kecil. “Tapi jika kita geluti secara serius, lama-lama pelanggan kita kita makin banyak dan hasil hasilnya pun makin banyak,” ujarnya.

Setiap bulannya kini rata-rata Bonita bisa menjual sekitar seribu tiket ke berbagai destinasi. Sekitar 70% pelanggannya berasal dari ling­kungan Pasar Aur Kuning, selebihnya dari berbagai instansi dan peru­sahaan swasta. Selain menjual tiket perjalanan udara seluruh maskapai penerbangan domestik dan sebagian penerbangan internasional, kini Bonita menjual paket perjalanan wisata, perjalanan ibadah umrah, haji ONH plus, serta rental mobil dan voucher hotel.

Berbeda dengan kebanyakan biro perjalanan di Bukittinggi dan sekitarnya, yang sekadar menyediakan tiket, Bonita Tour and Travel memberi sejumlah nilai tambah dengan menyediakan travel untuk antar­jemput dari Bukittinggi ke Bandar Udara Mi­nangkabau Padang yang berjarak lebih kurang 100 km. Untuk pembelian 10 tiket sekaligus, ia juga memberi satu tiket travel gratis. Ia juga bersedia mengantarkan tiket yang dibeli ke alamat pelanggan. “Pemesanan bisa dilakukan melalui telepon atau SMS,” katanya. “Kami juga menyediakan hotline service untuk pemesanan maupun keluhan.”

 

Setiap bulannya kini rata-rata Bo­nita bisa menjual sekitar seribu tiket ke berbagai destinasi. Sekitar 70% pelanggan­nya berasal dari lingkungan Pasar Aur Kuning.

 

Kesungguhan Jefri membesarkan Bonita terlihat dari berbagai upaya promosi yang dilakukannya. Seluruh ilmu yang dipelajarinya di perguruan tinggi, dan yang dipetiknya dari pengalaman langsung berbisnis sejak semester pertama kuliah diterapkannya untuk mem­perkenalkan, menarik perhatian, membujuk, dan membangun loyali­tas pelanggan. Secara teratur ia rajin mengunjungi langganan perusa­haannya untuk mengakrabkan hubungan, sekaligus `menjemput bola’ jika ada kebutuhan tiket. “Untuk langganan saga juga tidak mengena­kan biaya pembatalan (cancelation fee) pesanan tiket,” kata Jefri. Se-lain itu, pembayaran tiket juga tak harus tunai. “Bonita bisa memberi waktu tenggang beberapa hari.”

Jefri tak ragu menyebarkan 2 ribu brosur ke berbagai toko di Aur Kuning dan menempel stiker promosi di angkot-angkot. Ia juga menggencarkan promosi dari mulut ke mulut, beriklan secara teratur di media cetak dan radio lokal, serta aktif membuka stand atau booth di berbagai pameran usaha. Jefri juga menerapkan memberikan bonus point untuk setiap pembelian tiket, travel, atau sewa mobil di Bonita. Untuk pelanggan yang mengumpulkan 88 point pesawat ia memberi­kan satu tiket gratis untuk ruse yang sama.

Sukses membesarkan Bonita di kota asalnya, Jefri bertekad me­rentangkan sayapnya ke Jakarta dan akan membuka cabang di ber­bagai kota lainnya. Di Jakarta, misalnya, akhir Mares lalu ia membuka cabang di Pasar Blok A, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kita tabu lokasi ini sangat strategic karena merupakan pusat bisnis grosir yang bukan saja melayani seluruh Indonesia, melainkan juga ekspor dan impor ke kawasan Timur Tengah, Afrika, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, bahkan juga ke pasar Amerika dan Eropa. Bisa dipastikan kebutuhan tiket ke berbagai penjuru dunia terbuka luas.

Namun berbeda dengan di our Kuning dan Bukittinggi umum­nya yang pasarnya telah dikuasainya dengan baik, di sini Jefri harus bekerja keras lagi – apalagi di sini juga tentunya telah banyak biro perjalanan lainnya yang telah menancapkan kukunya lebih dulu. Na­mun jika Bonita – si gadis cantik dan luwes – bisa merebut hati pelang­gan barunya, tak pelak lagi bisnisnya akan membuahkan hasil berlipat ganda. Namun Jefri tak kehabisan akal. “Pelanggan kami yang selama ini membc1i di Buht i mj,,gi banyak yang berdagang di sini. Merekalah target awal kami,” katanya. Banyak pelanggan loyalnya yang ber­tindak sebagai evangelist, merekomendasikan kepada calon pelang­gan baru. Hasilnya, “Pelanggan baru yang membeli di sini pun cukup banyak,” katanya.

Dari sekadar berjualan tiket, Jefri juga ingin membesarkan bis­nisnya ke bidang terkait. Lingkup usaha seputar bisnis ini memang masih sangat potensial untuk digali. “Usaha di luar ticketing pesawat sangat menjanjikan,” katanya. Untuk sasaran jangka pendek, ia berni­at mengembangkan layanan jasa pengiriman, seperti kargo dan titip­an kilat. Layanan ini sudah dirintisnya dari kantor barunya di Pasar Tanah Abang Blok A. “Respon pasarnya sangat bagus,” ungkapnya. Bahkan, berdasarkan kebutuhan pelanggannya, ia juga berniat masuk ke usaha penukaran uang (money changer). “Doakan agar semua usaha ini bisa berhasil,” katanya.

Seiring dengan itu, angannya pun melambung. “Impian terbesar saga adalah membangun perusahaan penerbangan Bonita Air,” kata­nya. Dan seiring dengan itu bisnisnya pun terns membumbung tinggi, lebih tinggi dari pesawat yang tengah terbang di udara.

 

Hukum Wirausaha #24

Bersahabat dengan Ketidakpastian

Di tengah-tengah kesulitan, selalu tersimpan kesempatan.

Albert Einstein

 

SEGALA SESUATU YANG kita dipelajari di bangku sekolah adalah ilmu pasti. Seakan-akan di dunia ini hanya ada satu keadaan, yaitu keadaan yang pasti. Bahkan belakangan ini, telah terjadi tradisi baru dalam ilmu-ilmu sosial di mana para ilmuwan te­lah berupaya sangat keras menjadikan segala ketidakteratur­an alam semesta ke dalam hukum-hukum alam (a law) atau sesuatu yang mendekati hukum (a law like).

Dalam keteraturan kita menjadi lebih nyaman de­ngan kepastian, meski alam semesta sesungguhnya menyandang keadaan alami, sesuatu yang selalu penuh misteri. Terkadang diwarnai gejolak-gejolak, sesuatu yang terjadi tiba-tiba, tidak dapat dijelaskan dan ada saja ketidakakurasian prediksi. Dengan kata lain alam dan ma­nusia menyandang perbuatan ketidakpastian.

Demikian pulalah dengan perilaku manusia, bisnis, kesuksesan dalam menjalankan sesuatu, atau treatment­ apapun pun yang kita jalankan selalu saja diwarnai dengan ketidakpastian.

Banyak pemula gagal dalam berwirausaha dan memilih balik kembali ke dalam dunia kerja semata-mata karena mereka gagal menanamkan ‘passion” mereka ke dalam alam ketidakpastian. Mereka awalnya berpikir bah wa bisnis adalah kegiatan yang menguntungkan, penuh kekayaan. Kalau ada modal (baca: uang), maka akan ada pengembalian keuntungan (return). Padahal kegiatan ber­bisnis adalah berselancar di antara gelombang-gelombang ketidakpastian.

Supaya Anda tidak tergelincir dan kehilangan ‘pas­sion” sebelum usaha Anda mengalami aborsi, bersahabat­lah dengan ketidakpastian. Perhatikanlah tip berikut ini:

  • Ingatlah, tidak semua kehendak manusia selalu dapat menjadi kenyataan. Hendaknya kita selalu berharap pada hat yang terbaik, namun selalu bersiap menerima atau menghadapi kenyataan-kenyataan yang buruk.
  • Kita belum tentu mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi setiap langkah yang kita jalankan selalu ada yang dapat dipelajari. Kita tidak bisa meramalkan sesuatu dengan pasti namun talk akan ada hasil tanpa perbuatan. Kumpulan dari perbuatan itulah yang akan mengubah nasib kita, menjadi sesuatu.
  • Ketidakpastian eksis saat kita tidak mengenali apa yang kita hadapi, sesuatu yang jarang, unik, berbeda dari yang kita kenal, atau tidak ada umpan balik. Kenalilah, bersahabatlah dengan data dan informasi, sampai Anda mengenal betul pola, aktor, dan akibat-akibatnya.
  • Semakin pasti suatu bisnis, semakin kecil risiko yang Anda hadapi, namun semakin kecil kemungkinan keuntungan yang bisa Anda raih. Demikian pula sebalik­nya, semakin besar ketidakpastian – semakin besar ke­untungan yang tersandang di baliknya.
  • Cara berpikir sebaliknya juga perlu dihayati. Se­makin besar probabilitas keuntungan yang ditawarkan (misal­nya yang didapat dari berbisnis), semakin besar risikonya. Dan segala sesuatu yang semakin pasti (misalnya penerimaan gaji tetap sebagai karyawan), semakin kecil imbalannya.
  • Tidak ada kepastian yang sempurna. Sekalipun sesuatu terkesan lebih pasti, didalamnya selalu terkandung ketidakpastian. Yang ada hanyalah persepsi terhadap risiko.
  • Untuk mengurangi risiko, selain bersahabat dengan data dan informasi, milikilah payung-payung cadangan, jangan menaruh telur dalam satu keranjang, ciptakan faring laba-laba (melalui hubungan-hubungan pendukung), tanamkan keahlian dan reputasi, kurangi beban-beban yang berlebih (fokuslah pada keunggulan) dan jalani segala sesuatu yang Anda cintai.

 

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 1: Kisah Inspiratif Anak Muda Mengalahkan Rasa Takut dan Bersahabat dengan Ketidakpastian, Menjadi Wirausaha Tangguh. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

Riezka Rahmatiana, Pemilik CV. Ezka Giga Pratama (Pisang Ijo JustMine): Melangkah dari paling bawah

Meski ditentang orang tuanya, di olok-olok rekan kuliahnya, bahkan sempat ditipu rekan bisnisnya. Riezka Rahmatiana pantang menyerah dan terus berusaha, inovasi dan kemitraan menjadi kunci suksesnya untuk mengembangkan bisnis “Saya bermimpi bangsa ini bangkit bersama sehingga kemiskinan tak ada lagi.” Katanya.

 

SIAPA BILANG BISNIS harus dimulai dengan modal besar? Riezka Rahmatiana, 23 tahun, telah membuktikannya. Ia memulai usahanya hanya dengan mengandalkan uang jajannya sebagai modal awal, sekitar Rp 150.000. “Saya memulainya dari paling bawah, dengan berjualan pulsa elektronik,” ujar gadis berdarah India kelahiran Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat, 21 Maret 1986 ini.

Target pasarnya adalah rekan-rekan kuliahnya sendiri. Ternyata peminat pulsanya begitu banyak. “Tak sampai dua jam, deposit pulsa saya sudah habis,” katanya. Hasil penjualan ini langsung diputarkannya untuk membeli deposit kembali, sehingga lama kelamaan jumlah depositnya ternus bertambah. Bahkan ia bisa membuka outlet pulsa elektronik, fisik, dan kartu perdana yang diberinya nama Ezka Cell, di Jl. Raflesia H7, Perumahan Antapani, Bandung.

Kali ini target pasarnya adalah orang-orang yang satu komplek perumahan dengannya. Lagi-lagi hasilnya mengejutkan, omzetnya dalam sebulan bisa mencapai Rp 9.600.000. Sadar akan besarnya potensi bisnis pulsa ini Riezka pun berani mengibarkan bendera usaha. Pada 26 Maret 2007 ia mendirikan bendera CV Ezka Giga Pratama, perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan dan jasa. Dari berdagang pulsa ia ‘naik pangkat’ dipercaya menjadi master pulsa yangmengelola server pulsa elektronik yang membawahi sejumlah agen dan outlet-outlet kecil.

Pelan tapi pasti bisnisnya terus merayap naik. Satu per satu bidang usaha dirambahnya. Karena tempat usaha pulsanya yang berada di komplek ramai didatangi konsumen salah seorang rekan bisnisnya mengajak bekerja sama di bidang laundry & dry clean dengan pola bagi hasil. Pada awalnya ia sempat ragu apakah jasa ini dibutuhkan, mengingat umumnya tiap rumah telah memiliki pembantu rumah tangga. Namun setelah mengamati sejumlah gerai laundry & dry clean di kompleks perumahan lainnya, ia mem­beranikan diri masuk ke sektor ini. Maka, tahun itu, Riezka membuka gerai Prima Laundry. Di luar dugaan, “Di bulan pertama saya bisa mendapat bagian bersih Rp 2 juta,” katanya.

 

Dari berdagang pulsa ia ‘naik pangkat’ dipercaya menjadi mas­ter pulsa yang mengelola serves pulsa elektronik yang membawahi sejumlah agen dan outlet-outlet kecil.

 

Pada tahun berikutnya, Maret 2008, Riezka kembali melebarkan usahanya dengan mencoba merambah ke usaha makanan dan minuman. Menurut buku-buku yang dibacanya, margin keuntungan di usaha ma­kanan dan minuman bisa mencapai 50% lebih. Maka ia pun menyewa ruang di Food Court & Cafe di daerah Cihampelas, Bandung, dan mem­buka kafe D’Green House. Di sins ia menyajikan aneka macam makanan dan minuman. Sayang, usaha ini kandas karena omzet sangat minim.

 

MENGEMBANGKAN PRODUK DENGAN INOVASI

Rizka tahu jika ingin sukses ia harus bisa menampilkan produk yang berbeda dengan yang dijual orang lain, harga yang sesuai dengan segmen yang dibidik, serta memilih lokasi yang tepat, serta melaku­kan promosi untuk memperkenalkan produknya. Dengan kata lain, ia harus menerapkan empat bauran pemasaran (4P) yang disebutkan Philip Kottler: Product, Price, Place, dan Promotion.


BIODATA

RIEZKA RAHMATIANA

Mataram, 26 Maret 1986

Email: riezkarahmatiana@gmail.com

PENDIDIKAN:

2004 –Sekarang Mahasiswa Fakultas Komunikasi, Universitas Padjajaran Bandung

NAMA USAHA:

CV. Ezka Giga Pratama

(JustMine Pisang Ijo, Ezka Cell & Laundry) Alamat: Ruko MTC Blok C-6

Telp: 0818 642699, 022 92300888

PENGHARGAAN:

2008 Finalis Wirausaha Muda Mandiri kategod Mahasiswa Diploma dan Sarjana

LAIN-LAIN

2007 News Editor PT Radio Garuda Bandung

2007 Distributor of Tiens Group

2005 Announcer Radio Mora FM

 

“Saya melakukan inovasi produk dan mencari lokasi baru,” katanya. Kali ini ia menyajikan menu tradisional, yaitu tahu Sumedang dan sop urat, resep favorit ibunya. Untuk itu ia menyewa gerai di Jl. Cihanjuang, Bandung, yang dinamainya Dapur Kuring, yang berasosiasi dengan masakan tradisional rumahan. Untuk modal awal Riezka cukup mempersiapkan bahan baku dan peralatan, senilai sekitar Rp. 6 juta. Tempatnya disewa dengan pola bagi hasil, 25% untuk pemilik tempat dan 75% untuk Riezka.

Kali ini Dewi Fortuna menghampirinya. Tahu Sumedang dan sop urat laris manis disukai pelanggan dan pesanan. Apalagi sop uratnya, yang bisa dikatakan tak memiliki pesaing. Lokasinya yang di kawasan wisata membuat peminatnya bukan hanya dari kawasan Bandung dan sekitarnya, namun juga dari luar kota, seperti Jakarta, Bogor, Purwakarta. Para pelanggan yang puas ini pun menjadi evangelist yang dengan sukarela mempromosikan gerai makannya.

Agar semakin memikat perhatian konsumen, Riezka sengapi meletakkan tempat menggoreng tahunya di luar ruangan sehingga konsumen dapat melihat cars pembuatannya. Aromanya yang hariiiii mampu membujuk konsumen mampir ke gerai Dapur Kuring. “Alhadulillah, penggemarnya terus bertambah,” katanya.

 

FOKUS DI BISNIS MAKANAN DAN MINUMAN

Tampaknya Riezka sangat serius menekuni bisnis makanan dan minuman (food & beverage). Namun untuk bisa tampil bersaing dengan banyak sekali pemain di sektor ini, pelaku industri ini harus tel. us-menerus menggelar inovasi dan meluncurkan produk baru, serta mengemasnya secara menarik. Dan itulah yang dilakukan mahasiswa Jurusan Komunikasi Pemasaran Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung ini.

Awal 2009 ini, misalnya, ia meluncurkan produk baru Pisang Ijo “JustMine”. Produk ini dikembangkannya dari makanan tradisional khas Makassar terbuat dari bahan dasar pisang raja yang dibalut dengan tepung beras, dan diberi warna hijau alami dari daun suji. Di tangan Riezka, pisang ijo ini diberi cita rasa baru dengan berbagai varian rasa, yaitu fla cokelat, vanila, stoberi, durian dan rasa orisinal pisangijo khas Makassar. Lagi-lagi produk jajan pasar kreasi baru Riezka ini disukai para pencinta kuliner. “Sebelum dipasarkan, saya memberi­kan sampel produk Pisang Ijo kepada teman-teman, rekan bisnis, dan keluarga. Ketika di awal mereka mengatakan rasanya kurang enak, Riezka dan timnya mencoba lagi sampai semua mengangguk puas. “Syukur akhirnya kami bisa menghasilkan produk yang optimal dan disukai banyak orang,” katanya.

 

MENGEMBANGKAN USAHA LEWAT KEMITRAAN

Sambutan konsumen yang sangat bagus membuat permintaan kerja sama dan waralaba berdatangan. Riezka pun menyambut ajakan ini. “Jika bisa membantu orang lain sambil sekaligus mengembangkan usaha sendiri, kenapa tidak?” pikirnya. Untuk franchise, ia menawar­kan satu paket booth lengkap Justmine Pisang Ijo seharga Rp 6,5 juta. Paket ini meliputi sistem penjualan dengan SOP (standard operating procedure) agar kualitas produknya tetap dijaga, training karyawan, dan perlengkapan penjualan. “Tapi untuk periode promosi sampai bu­lan Juli, saya jual hanya dengan harga Rp 5,5 juta,” katanya.

Melihat gaga bisnisnya, ada beberapa hal yang menarik pada pengusaha belia ini. Riezka memulai bisnisnya dengan modal yang relatif kecil, dengan menjual produk yang banyak dibutuhkan orang sehingga risiko kegagalan lebih kecil.

Hal kedua, setiap kali mengembangkan bisnisnya, Riezka selalu menerapkan sistem kemitraan. la membuka diri untuk menggandeng mitra bisnis untuk bersama-sama memadukan kekuatan guna mengem­bangkan usaha. Riezka mengaku sangat ingin menularkan semangat berwirausaha kepada semua orang sejak dini. “Saya bermimpi bangsit ini bangkit bersama sehingga kemiskinan tak ada lagi,” katanya.

Dengan strategi kemitraan ini, Riezka juga bisa memiliki waktu lebih banyak. Faktanya, sambil terus mengembangkan usahanya, ia bisa menyelesaikan kuliahnya dengan nilai yang baik. “IPK saya tidak pernah kurang dari 3,” ujarnya sambil tersenyum. Orang tuanya yang dulu menentang usahanya, kini berbalik mendukung dan menyemangatinya.

Dengan kejelian membaca peluang pasar dan mengembangkan inovasi produk, Rizka mampu mengembangkan bisnisnya dengan relatif cepat. Dalam tempo tak sampai dua tahun, Ezka Giga Pratama yang didirikannya dengan modal awal sangat minimal ini kini telah memiliki aset sekitar Rp 500 juta – ibaratnya dari kilobyte menjadi giga. Berkat sistem franchise dan jaringan kemitraan yang dibangunnya, jangkauan usahanya juga terus membesar dan beranak-pinak.

 

JATUH BANGUN MENGHADAPI TANTANGAN

Jika kini terlihat perjalanan usaha Riezka berlangsung begitu mulus dan pesat, jangan menyangka ia tak pernah menghadapi rintangan. Tantangan pertama justru berasal dari lingkar dalam keluarganya sendiri. Orangtua Riezka menentang keinginan anak pertama mereka ini untuk mengembangkan potensi sebagai wirausaha dan memintanya agar fokus kepada kuliahnya.

Namun si sulung bersikukuh pada pendiriannya. Ia ingin menjadi pengusaha, sehingga memiliki keleluasaan mengelola waktu dan pendapatan sendiri. “Saya ingin mempunyai kebebasan waktu, tidak terikat dengan pekerjaan atau bos di kantor,” katanya.

Maka sambil kuliah, pada 2006-2007, Riez­ka mencoba berusaha dengan menjadi distributor dari Tiens Group, perusahaan multilevel marketing produk makanan kesehatan. Dengan tekun ia menawarkan dagangannya kepada teman-teman kuliahnya. Hasilnya? “Lebih ba­nyak penolakan dan ejekan ketimbang dibeli,” ujarnya.

 

Pada tahun 2007 Riezka pernah ditipu mitra bisnisnya sendiri, yang membawa kabur barang dagangan ber­nilai puluhan juta yang diambilnya dari Riezka.

 

Tantangan rupanya tak cukup sampai di situ. Pada tahun 2007 Riezka pernah ditipu mitra bisnisnya sendiri, yang membawa kabur barang dagangan bernilai puluhan juta yang diambilnya dari Riezka. “Untuk menutup kewajiban pembayaran seluruh tabungan saya ludes. Bahkan saya masih harus berutang kesana-kemari,” katanya. Hingga kini, mitra bisnisnya raib dan tak mempertanggungjawabkan kewa­jibannya. Sementara Riezka kehilangan kepercayaan dari teman­-temannya, bahkan mengalami hinaan yang menyakitkan, dari down­line-nya.

Toh mantan penyiar Radio Mora FM (2005) dan redaktur berita Radio Garuda (2007), keduanya di Bandung, ini pantang menyerah. Ia kembali bangkit dan siap melata dari anak tangga terbawah, dengan menjajakan pulsa tadi. Lalu sedikit demi sedikit mengumpulkan mo­dal untuk berbisnis kembali. Hasilnya, Riezka kini bisa menegakkan kepada dan membuktikan bahwa jika ada kemauan, selalu ada jalan mencapai keberhasilan. Ia juga telah membuktikan, jika dilakukan bersama-sama, tak ada kata tidak bisa.

 

 

Hukum Wirausaha #23

Naik Kelas

 

Banyak orang mendorong kewira­usahaan, seakan-akan berbisnis itu gampang. Ternyata memang tidak sulit, yang sulit adalah bagaimana agar naik kelas, tumbuh menjadi besar dan berkembang.

Rhenald Kasali

 

SEPERTI ORANG YANG bersekolah, maka usahawan pun harus bisa naik kelas. Usahawan sekolahan yang mempunyai kemampuan berpikir lebih baik, hendaknya bersungguh sungguh mengembangkan usahanya. Seorang pemilik kedai kopi kaki lima yang bertahun-tahun berusaha di tempat yang sama mungkin saja sudah puas dengan pelanggan-pelanggannya yang selama puluhan tahun tetap setia mengunjungi kedai kopinya. Namun harap diingat konsumen itu tidak selamanya diam di tempat, Konsumen berpindah-pindah dan suatu ketika Anda akan terkejut, usaha Anda mulai sepi pengunjung. Anda pun kadang menyalahkan perekonomian: krisis, resesi, dan sebagainya.

Sama seperti manusia yang ada usianya dan sepan­jang usianya manusia berubah bentuk, maka perusahaan dan usaha pun ada usia dan bentuknya. Makhluk hidup terikat dengan hukum evolusi dan karenanya harus ber­adaptasi. Berikut adalah tip untuk naik kelas:

  • Rumus pertama agar naik kelas adalah dengan belajar sebaik baiknya. Anda tentu tidak wajib menjadi juara kelas, namun untuk naik kelas setiap usahawan harus mau belajar. Hanya orang-orang yang tidak responsif dan tidak belajar hal-hal barulah yang tinggal kelas. Anda dan pasukan usaha Anda harus belajar dari hidup yang seka­rang, dari lingkungan Anda, dan belajar dari masa depan dengan berinovasi, menelusuri jalan-jalan baru yang be­lum ditemukan pesaing-pesaing Anda.
  • Kalau Anda tidak naik kelas, maka Anda hanya punya dua pilihan ini: menerima kenyataan dengan men­jadi usahawan bodoh, atau Anda pindah sekolah (pindah usaha) dan memasuki dunia usaha yang membuat Anda lebih cocok, lebih adaptif.
  • Ketika Anda naik kelas, ingatlah tantangan Anda di kelas-kelas yang lebih tinggi akan jauh lebih berat. Anda akan berhadapan dengan pelajaran yang lebih rumit dan menuntut Anda bekerja lebih keras dan berupaya lebih cerdik. Di kelas yang lebih tinggi Anda wajib bekerja dengan standar yang tertulis, manajemen yang lebih ter­tata baik dan SDM yang lebih unggul.

 

Perbedaan antara apa yang kita lakukan dan apa yang sebenarnya mampu kita lakukan akan sanggup untuk memecahkan sebagian besar masalah dunia ini.

Mahatma Gandhi

 

  • Ketika pelajaran menjadi lebih sulit Anda harus mencari kelas tambahan. Mungkin Anda memerlukan guru les yang dibayar secara profesional. Guru les itu mungkin adalah konsultan profesional yang Anda rekrut untuk membantu Anda memperbaiki sistem, sumber daya manusia, teknologi, manajemen, dan sebagainya.
  • Senior harus berubah. Tantangan terbesar bagi seorang senior yang ilmunya sudah tinggi, bukanlah be­lajar lagi, melainkan bagaimana beradaptasi dengan tun­tutan baru. Pada masa itu, seorang senior akan merasa dirinya paling tahu dan paling benar, sementara pengikut-­pengikutnya sudah merasa nyaman. Padahal mereka masih dituntut untuk berubah. Perubahan bagi seorang wirausahawan senior akan jauh lebih sulit daripada pemula yang masih bersemangat mencari bentuk.
  • Naik kelas dalam kewirausahaan bisa berarti memiliki jaringan usaha yang lebih lugs, teknologi yang lebih canggih, metode yang lebih baik, kualitas (lokasi, menajemen, produk) yang lebih baik, segmen yang me­ningkat, dan sebagainya. Saat Anda naik kelas semua orang menghormati Anda. Pada saat itu dibutuhkan pendekatan baru dalam berusaha.

 

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 1: Kisah Inspiratif Anak Muda Mengalahkan Rasa Takut dan Bersahabat dengan Ketidakpastian, Menjadi Wirausaha Tangguh. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

Doni Tirtana, Pemilik CV. Lorco Menara Multimedia: Menggali ceruk pasar kampanye K3

Kreatif, cekatan, cermat, dan pantang menyerah. Sifat itulah yang mengantarkan Doni Tirtana sehingga berhasil membesarkan perusahaan yang berkecimpung dalam bisnis kampanye keselamatan kerja.

 

JIKA SEKALI WAKTU Anda memasuki area industri atau pabrik sebuah perusahaan besar – misalnya di Pertamina atau Unilever dan menemukan poster-poster berisi pesan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja (K3), ingatlah nama Doni Tirtana Saat ini, bisa dikatakan dialah satu-satunya pelaku bisnis di bidang kampanye keselamatan kerja (industrial safety campaign).

Melalui CV Lorco Menara Multimedia, Doni dan timnya merancang berbagai karya kreatif unuk menyampaikan pesan keselamatan yang ditujukan bagi karyawan perusahaan yang menjadi kliennya. Yang unik, pesan-pesan dalam poster itu disampaikan secara jenaka dalam bentuk animasi yang memikat.

Alhasil, awareness pesan pun bisa menempel kuat di benak khalayak sasarannya – yang pada umumnya bukan berpendidikan tinggi. Ketika melihat poster peringatan pemakaian helm di kawasan industri, misalnya, dijamin karyawan akan memeriksa helmnya dan segera memakainya sambil tersenyum kecil. Tidak merasa dipaksa. Poster bergambar pria yang sedang menunjuk helm berwarna merah sambil. berteriak “Pake Helm doong…” itu jauh dari kesan menggurui, bahkan terkesan lucu.

 

KREATIVITAS DAN KEJELIAN MEMBIDIK PASAR JERUK

Sekilas, pesan-pesan yang dibuat Doni dan timnya terkesaN sepele. Namun sesungguhnya untuk menyampaikan pesan secara pas dan mengena kepada khalayak sasarannya ini dibutuhkan kreativitas yang sungguh-sungguh. Pesan harus pendek, mencolok, menarik perhatian, dan membujuk orang yang membacanya untuk mengikuti pesan tersebut karena kesadaran, bukan karena pak­saan. Di situlah keunggulan poster-poster Doni yang membuatnya berjaya di ceruk pasar (niche market) ini.

 

Pesan harus pendek, mencolok, menarik perhatian, dan membujuk orang yang membacanya untuk mengikuti pesan tersebut karena kesadaran, bukan karena paksaan

 

“Di Indonesia pelaku bisnis semacam ini be­lum ada, sementara kebutuhan terhadap kampa­nye keselamatan kerja telah menjadi kebutuhan utama. Jadi menurut saya bisnis ini memiliki pe­luang yang besar,” jelas sarjana Teknik Fisika dari Institut Teknologi Bandung tersebut.

Tak heran jika jasa CV Lorco dimanfaatkan puluhan perusahaan – termasuk belasan perusahaan berskala besar, bahkan multinasional.

Sejak awal Doni memang berbeda dari kebanyakan rekan-­rekannya. Selulus dari jurusan Teknik Fisika, justru memilih merin­tis bisnis sendiri dengan membuka usaha di bidang yang praktis tidak dilirik orang lain.

Namun keputusan Doni untuk terjun ke bisnis kampanye kesela­matan kerja bukannya tanpa perhitungan atau sekadar ingin berbeda. Ia tahu peraturan ketenagakerjaan mewajibkan seluruh industri men­erapkan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) atau OHS (Occupa­tional Health and Safety) pada seluruh rangkaian kerja dan seluruh sistem yang terlibat. Namun anehnya, industri penunjang khususnya untuk kampanye keselamatan kerja di Indonesia terbilang masih sangat minim. Kenyataan inilah yang membuat Doni yakin terjun ke bisnis tersebut pada awal tahun 2006.

 

BIODATA

DONI TIRTANA

Malang, 29 Juni 1980

Email: doni.tirtana@Iorco.co.id

 

PENDIDIKAN:

1998 -2003 S1 Teknik Fisika, Institut Teknologi Bandung

 

PERUSAHAAN:

CV. Lorco Menara Multimedia

(Penyedia jasa materi kampanye peningkatan mutu SDM dan Kesehatan dan Keselamatan Kerja)

Website: http://www.lorco.co.id, http://www.safetysign.co.id, http://www.safetyequipment.co.id

Alamat: A Gunung Batu 245, Pasteur –Bandung, Jawa Barat

Telp: 022 2015151

PENGHARGAAN:

2008 Finalis Wirausaha Muda Mandiri

LAIN – LAIN:

2004 – 2006 Mendirikan Lorco Interactive sebagai salah satu Tenant Pusat Inkubator Bisnis – ITB

2003 -2004 Freelance di Laboratorium Instrumentasi dan Kontrol TF- Fisika

Maret – Mel 2003 lugas Akhir di PT ConocoPhilips, Jakarta

Juni – Agustus 2001 Kerja Praktek di PT. Chevron Pacific Indonesia – Minas Plant, Riau

 

KEKUATAN DATA PENUNIANG

Ketika masuk bisnis penyediaan kampanye keselamatan kerja, Doni mencoba menganalisis data-data yang menurutnya terkait oral dengan bisnisnya. Berdasarkan data Organisasi Buruh Internasional (ILO) 2002, setiap tahun tercatat dua juta orang meninggal akibal kecelakaan kerja. Selain itu terdapat 160 juta kasus Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan 270 juta kasus Kecelakaan Akibat Kerja (KAK). Seniml kejadian itu mengakibatkan kerugian setara dengan US$ 1,25 triliun atau 4% dari GNP dunia.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2005 mengungkap kan bahwa komposisi penduduk usia kerja di Indonesia (usia 15-54tahun) sebesar 10,2% dari jumlah penduduk. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari PT Jamsostek pada tahun 2003, diketahui bahwa rata-rata setiap 400 kasus kecelakaan kerja mengakibatkan 7 kasus meninggal. Dan 9,8% dari kecelakaan kerja mengakibatkan pekerja mengalami cacat fisik sehingga terpaksa tidak mampu bekerja lagi. Hingga triwulan pertama tahun 2004 terjadi 49 kasus kecelakaan kerja dengan 5 korban meninggal dunia per hari. Hingga Agustus 2004 jumlah tersebut meningkat menjadi 86.880 kasus.

Data-data di atas makin menguatkan keyakinan Doni bahwn bisnis penyediaan kampanye keselamatan kerja merupakan hat yank sangat penting dan dibutuhkan oleh para pemilik bisnis atau pemilik pabrik dalam mengedukasi para karyawan atau pekerjanya. Karyawan itu ia menilai bisnis penunjang kampanye keselamatan kerja ini memiliki prospek sangat bagus, terutama dalam jangka panjang.

 

MEMBIDIK PASAR TERTENTU

Sejatinya bisnis kampanye keselamatan kerja bukan merupakan debut pertama Doni. Ketika baru lulus, ia mendirikan Lorco (Interactive) yang bergerak di bidang jasa pembuatan aplikasi multimedia interaktif. Dalam perjalanannya, Lorco yang tadinya hanya menanggapi pembuatan CD anak SMA dan mahasiswa, beralih pada target pasar perusahaan dengan menawarkan pembuatan video company profile.

Interaksinya dengan perusahaan-perusahaan tersebut membangkitkan semangat Doni untuk menggali potensi bisnis kampanye keselamatan kerja yang selama ini bisa dikatakan tidak terlalu diperhatikan di Lorco.

 

Bisnis K3 Berlandaskan Komunikasi

MENIMBA ILMU DI salah satu perguruan tinggi negeri favorit di Bandung, ITB, awalnya Doni Tirtana memiliki kerangka pemikiran harus menjadi karyawan di perusahaan swasta dengan gaji besar. Namun sejak ia mendapatkan wawasan mengenai wirausaha, ia mulai tertarik membangun usahanya sendiri. Pada 2003, ia membuat usaha jasa pembuatan video foto kenang-kenangan untuk anak-anak SMA. Karena kurang berkembang, ia pun beralih ke usaha lain. Tidak adanya rambu keselamatan kerja yang baku di Indonesia merupakan peluang yang menarik untuk dicobanya. Maka, tiga tahun yang lalu berdirilah PT. Lorco Menara Multimedia yang menyediakan tiga layanan: produksi audio visual, gambar ilustrasi, dan desain grafis kampanye-kampanye keselamatan kerja, penghe­matan energi, serta peningkatan mutu dan kualitas karyawan.

Q: Doni Tirtana, artinya apa, ya?

A: Tirta itu air. Tirtana, artinya semoga semuanya lancar-lancar saja. Seperti air.

Q: Anda menangani multimedia Kampanye Keselamatan Kerja, padahal Anda lulusan Teknik Fisika ITB. Apa hubungannya Teknik Fisika dengan K3?

A: Kalau dihubung-hubungkan sebenarnya ada. Sebab dulu lulusan Teknik Fisika kebanyakan bekerja dalam bidang industri. Nah, dari sana memperoleh mindset soal keselamatan kerja.

Q: K3 itu diajari di bangku sekolah?

A: Sedikit.

Q: Begitu. Banyaknya dari mana?

A: Kalau kita review ke belakang, awalnya saya mengenal K3 ini karena ada permintaan poster tentang K3 dari internet. Saya lihat di Indonesia memang jarang yang membuat, padahal di luar negeri sudah banyak. Ya saya pelajari sedikit-sedikit, dan menerapkan teknik ATM (Amati-Tiru­-Modifikasi) Saya coba membuatnya, lalu saya umumkan lewat mailing list bahwa saya bisa membuat itu. Akhirnya banyak konsumen datang, memberi kepercayaan untuk dibuatkan. Saya pelajari lagi ilmunya lebih mendalam secara otodidak.

Q: Jadi Anda masuk ke dunia maya, kemudian ada yang terpancing? Siapa saja contohnya?

A: Ada perusahaan multinasional di bidang perminyakan. Di negara­-negara maju, K3 ini kan sudah bagus, jadi mereka ingin menerapkannya di Indonesia sama dengan standar di negara asalnya.

Q: Produk apa yang Anda buat pertama kah?

A: Poster. Produk ini keberadaannya diwajibkan oleh Undang-Undang No. 1 tahun 1970 terkait keselamatan kerja. Di situ tercakup gambar-gambar yang berhubungan dengan keselamatan, yang harus dipasang di setiap tempat bekerja.

Q : Penggunaannya sendiri bagaimana? Belum banyak yang memakai?

A: Betul, masih belum tersosialisasi dengan baik.

Q: Media apa yang terbaik dipakai?

A: Sebenarnya sernua media baik dipakai karena masing-masing mempunyai kekuatan dan kelebihannya. Media video punya kelebihan di visualisasi dan suara, tetapi kekurangannya dia harus diperlihatkan di suatu tempat dan orang harus berkumpul disitu. Media suara atau media SMS, bisa digunakan tanpa orang-orang berkumpul berada dalam satu tempat (menyebar), tetapi kurang visualisasi. Yang terbaik tentu saja menggunakan semuanya.

Q : Apa mendorong Anda mengambil keputusan untuk menjadi pengusaha?

A: Sebelum saya lulus, di kampus mulai banyak digelar seminar tentang kewirausahaan. Awalnya saya ingin bekerja di perusahaan besar dengan gaji lumayan. Tapi saat-saat terakhir ada seminar yang dibawakan oleh Pak Fadel Muhammad, lulusan teknik fisika juga yang sekarang menjadi gubernur provinsi Gorontalo. Dia memberikan wawasan bahwa setelah lulus ia tidak mencari kerja tapi ia malah membuat suatu alat untuk dijual ke perusahaan perminyakan. Dia menggunakan ilmunya untuk berwirausaha dan berinovasi. Saya menjadi termotivasi. Daripada mencari pekerjaan, lebih bai membuat sesuatu untuk ditawarkan kepada perusahaan.

Q: Sebelum membentuk tim marketing, omzet kira-kira berapa?

A: Baru di kisaran satu hingga dua miliar rupiah.

Q: Menurut pemerintah, K3 juga akan disosialisasikan di lingkungan sektor informal seperti pedagang kaki lima, tukang ojek, nelayan, dan kalangan menengah ke bawah lainnya. Itu peluang bukan?

A: Benar, itu sebuah peluang juga. Memang, ada program pemerintah tentang K3 yang menyentuh sektor informal juga. Jadi K3 bukan hanya milik industri modern saja. Sebab, tukang ojek misalnya, rawan kecelakaan juga, kan.

Q: Bisnis ini awalnya memang tidak ada pesaing. Namun, dengan publikasi, orang akan mengenal bahwa bisnis ini prospektif. Mungkin akan banyak orang yang masuk. Apakah Anda suclah punya rencana pengembangan?

A: Dalam satu industri, K3 itu cuma satu bagian kecil. Jadi masih banyak yang bisa dikembangkan dari situ. Misalnya tentang motivasi karyawan, nilai-nilai perusahaan, tentang disiplin, tentang tepat waktu, atau integritati, Semua itu masih ada peluangnya. Bisnisnya bukan hanya K3-nya, tetapi komunikasi internalnya.

 

 

Pada awal 2006 mereka mulai mengembangkan industrial safety campaign tool dan safety video untuk beberapa industri.

Lalu pada pertengahan 2006 Lorco mengembangkan produk baru berupa poster-poster yang bertemakan keselamatan dan produktivitas kerja untuk industri. Poster-poster itu didesain dengan sangat menarik sehingga penampilannya langsung menonjol dan mendapat perhatian pekerja.

Produk ini mendapat sambutan pasar yang sangat baik, apalagi belum banyak perusahaan yang mengkhususkan diri bergerak di bidang tersebut. Beberapa produk yang ditawarkan Lorco antara lain : video safety instruction services, audio clip CD, safety sign, sqfety sticker dan lain-lain, memang mereka butuhkan.

Karena karakter masing-masing perusahaan itu sangat beragam tentu saja Doni dan timnya harus selalu kreatif menciptakan desain desain baru yang sesuai sifat dasar industri kliennya. Tidak hanya untuk kampanye K3 serta lingkungan kerja, tema-tema produk kampanye Lorco juga dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas, peningkatan mutu dan kualitas karyawan, penghematan energi juga pelestarian lingkungan hidup. Beragam tema seperti motor safety, goodhouse keeping, juga emergency evacuation mereka kemas dalam dialog dan monolog yang jenaka namun punya pesan sederhana, mengena, mudah dicerna, dan mudah diingat.

Perpaduan kreativitas, kerja cerdas, dan kerja keras ini mein buahkan hasil manis. Usaha mereka mendapatkan pengakuan dari Departemen Tenaga Kerja RI sebagai lembaga resmi (listed) penyedia industrial safety campaign tool dan safety video. Bisa ditebak, berbagai permintaan pun akan mengalir semakin deras.

 

Hukum Wirausaha #22

Jangan Kejar Uang, Kejarlah Makna Hidup!

Jika Engkau ingin mengetahui ba­gaimana akhir dari hidupmu, lihatlah saja arah kepalamu, sebab segala sesuatu akan sampai pada apa yang diarahkan hari ini.

Paul Arden

 

KESALAHAN MENDASAR SETIAP wirausaha barn, muncul saat ia beranggapan usaha dilakukan untuk mengejar ke­kayaan (uang) semata-mata. Meski uang akan datang dan menemani wirausahawan sukses, bukan itu yang harus dikejar seorang usahawan sejati. Wirausahawan sukses pertama-tama mengejar makna (meaning).

Berikut adalah tip untuk membangun meaning:

  • Jangan ingin cepat kaya, karena orang yang ingin cepat-cepat sukses juga cepat bosan, cepat gagal, tidak memiliki pondasi yang kuat, mengabaikan proses, dan banyak kehilangan persahabatan.
  • Jangan bekerja mengejar uang. Sebab kalau Anda mengejar uang Anda tidak mendapatkan “mean­ing” dan kehilangan uang. Kejar dan bangunlah “meaning” maka Anda akan mendapatkan dua-duanya sekaligus uang dan kebahagiaan.

 

Janganlah berpikir engkau harus menang. Pikirkanlah apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan apa yang benar-benar ingin kau lakukan.

Phyllis E. Grann

 

  • Beri penghargaan pada orang-orang yang berjasa pada usaha Anda dan fokus pada upaya membangun kebahagiaan.
  • Cari suatu tindakan yang terpuji dan lakukan, sebaik mungkin bukan untuk untuk menerima pujian namun untuk menjadi prestasi Anda. Tindakan terpuji itu bisa berupa inovasi bersama, manajemen yang baik,suasana kerja yang kondusif, partisipasi sosial, kontributi positif bagi komunitas, pengembangan karier atau kehidupan orang lain, pandangan-pandangan positif dam dimengerti banyak orang, keterlibatan dalam pendidikan, inisiatif-inisiatif terobosan, dan sebagainya.
  • Warisan bersejarah. Jangan hanya berpikir menciptakan kekayaan untuk keturunan Anda saja. Sebab warisan yang demikian akan habis sia-sia, dan kalau anda sudah mencarikan mereka (keturunan Anda) seluruh yang mereka butuhkan, mereka akan mencari apa lagi? Warisan bersejarah yang dinikmati orang selain keluarga akan memberikan kebahagiaan pada orang yang lebih banyak, mendatangkan doa dan syukur.
  • Bangun etika, moral, dan tata nilai. Yang mem­buat usaha seseorang tumbuh menjadi besar bukanlah inovasi dan teknologi, tetapi tata nilai positif yang di­pegang oleh seluruh orang dalam perusahaan dan ditela­dani dari pemimpin atau pendirinya. Bangunlah tata nilai, tentukan apa-apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh siapapun di perusahaan Anda.
  • Hidup Anda akan bermakna kalau hidup orang­-orang disekitar Anda juga bermakna. Buatlah hidup me­reka bermakna, bermartabat, dan sejahtera.

 

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 1: Kisah Inspiratif Anak Muda Mengalahkan Rasa Takut dan Bersahabat dengan Ketidakpastian, Menjadi Wirausaha Tangguh. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

Dwi Kartika Sari, Pemilik Goeboex Coffee: Goeboex yang terus berkembang

Awalnya adalah kejelian melihat peluang, memanfaatkan momentum, dan membidik segmen pasar. Lalu dipadukan dengan kemauan mendengarkan, konsistem berinovasi, dan kepiawaian menciptakan nilai bagi pelanggan. Hasilnya, pertumbuhan Goeboex Coffe terus melesat.

 

USIANYA BARU 22 tahun, masih sangat belia. Namun di saat kebanyakan teman-teman seusianya sibuk berjalan-jalan dan berbelanja di mal atau menghabiakan waktu untuk clubbing, Dwi Kartika Sari malah sibuk mengurusi berbagai bisnisnya yang terus beranjak naik.

Menangkap peluang dari sebayanya yang senang nongkrong (clubbing) itu, pada awal 2006 Sari—begitu ia biasa disapa—justru mendirikan Goeboex Coffee, tempat bersantai anak muda di Yogyakarta. “Berdasarkan pengamatan saya lihat banyak kebutuhan akan tempat nongkrong anak muda, khususnya mahasiswa,” ujar mahasiswa Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Sesuai namanya, konsep gerai kopi yang di tanah seluas 300 m2 ini berbentuk bangunan gubuk tradiaional yang sangat sederhana dan banyak ruangan terbuka. Namun konsep terbuka dan terkesan santai inilah justru membuatnya nyaman kita berlama-lama menyeruput kopi dan dihembus angin yang semilir. Alhasil pelanggan pun terus berdatangan, sehingga dalam tempo tak sampai setahun Goeboek Coffee perlu memperluas gerainya menjadi 700 m2, bahkan menjadi 2.300 m2. Lalu, Sari juga membangun Goeboex Futsal – olahraga yang belakangan sangat digemari anak muda. Hasilnya, lagi-lagi ia harus memperluas lahan hingga 3.000 m2. Kini setiap malamnya pengunjung Goeboex Coffee rata-rata mencapai di atas 250 orang.

 

MEMADUKAN LAYANAN DENGAN INOVASI

Banyak yang dilakukan Sari untuk men­jaga kemesraan hubungan dengan pelanggan ini. “Kami senantiasa berusaha meningkatkan layanan dan menghadirkan berbagai inovasi,” katanya memaparkan rahasia suksesnya. Tak kalah pentingnya adalah kesediaan tim Goebo­ex untuk mendengarkan masukan dari pelang­gan, sehingga mereka merasa seperti berada di rumah sendiri. Harga yang dipatok pun diae­suaikan dengan sasaran pasar, yang terutama kalangan pelajar dan mahasiawa.

Kini, dengan luas gerai sekitar 3.000 m2, warung kopi ini mampu menghasilkan omset sebesar Rp 180 juta per bulan. Pendapatan hariannya berkiaar Rp 3-8 juta. Pada akhir pekan, jumlah pengunjung menembus angka 400 orang semalam, membuat senyuman Sari kian sumringah.

Namun sukses yang diraih ini tak jatuh begitu saja dari langit. Sari juga pernah terantuk dan mengalami jatuh bangun dalam ber­usaha. la mulai merintia bisnis sejak usia sangat dini. “Sejak kecil saya sudah doyan duit,” katanya bergurau.

Sewaktu di bangku SMA Sari telah mencoba berjualan gaun babydoll yang waktu itu sedang in. Di awal masa kuliahnya, ia juga per­nah mencoba berjualan aksesori rambut bersama sahabat akrabnya, Adelia Pradifta. Berdua mereka membeli aksesori secara grosiran untuk kemudian dikemas ulang dan diberi merk Delary – yang diam­bil dari perpaduan nama Adel dan Sari. Produk ini lalu dijual eceran kepada teman-teman kuliah. “Walau barangnya kecil, tapi untungnya lumayan lho. Setiap piece kita bisa dapat 50%,” kenang Sari.

Lagi-lagi didorong keinginan untuk memiliki penghasilan sendiri, di tahun-tahun pertama kuliah Sari juga pernah mencoba mencari kerja sambilan. Keinginan ini bukan lantaran kekurangan uang jajan. Ayahnya yang pensiunan Pertamina sangat mampu mencukupi biaya bulanan bagi anak-anaknya. “Saya hanya ingin merasakan uang dari hasil keringat sendiri,” katanya.

 

BIODATA

DWI KARTIKA SARI

Kediri, 3 Januari 1987

Email: sarisan_03@yahoo.com

PENDIDIKAN:

2004—Sekarang Mahasiawa S1 Fakultas Ekonomi/Akutansi Universitas Gadiah Mada

NAMA USAHA:

Goeboex Coffee (Waning Kopi)

Alamat: J1. Perumnas, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta

Telp/Fax: 0274 433342

PENGHARGAAN;

2007 Finalia Wirausaha Mandiri

 

Ketika Sari berhasil diterima menjadi pramuniaga di sebuah toko mutiara, gaji yang ia dapatkan sungguh minim, Rp 200 ribu per bulan. Meski begitu, anak kedua ini berusaha bertahan selama beberapa bulan. Orang tuanya berkali-kali mendesaknya untuk keluar dan menawari untuk mengganti sejumlah gaji bulanan yang ia dapatkan. Namun Sari berpikiran lain. “Kalau begini, ketimbang menjadi karyawan, lebih baik bikin usaha sendiri.”

Sari menyadari bahwa ia sama sekali buta soal bisnis gerai kopi. Tapi kalau menunggu menjadi ahlinya, kapan akan dimulainya bisnis ini, pikirnya. Maka ia pun memutuskan untuk segera terjun ke kancah usaha dan belajar sambil jalan dari pengalaman. “Lebih cepat diwujudkan lebih baik,” ujarnya. Pikiran itulah yang kemudian mengantarnya untuk berkongsi bersama beberapa rekan kampusnya untuk mem bangun gerai pertamanya (bukan Goeboex Coffee) dengan beberapa orang teman. Namun usaha ini hanya bertahan beberapa bulan. Alih-alih sepakat memajukan usaha, begitu mulai berkembang seorang mitranya malah menyalahi kontrak. Sari pun memutuskan mengundurkan diri dari kongsi tersebut.

Gadis kelahiran 3 Januari 1987 ini mengaku tak menyesali peristiwa ini. Bahkan pengalaman itu dijadikannya sebagai pelajaran berharga. Tak mau kehilangan momentum, Sari menggandeng orang-orang yang bisa dipercayainya. Ia mengajak Fandy Hanifan, kakaknya semata wayangnya, serta sahabat setianya, Adel, untuk membuka lagi usaha serupa. Usaha yang dimulai dengan modal sekitar Rp 60 join inilah yang mereka namai Goeboex Coffee tadi. Bertiga mereka mengelolanya dengan konsep kekeluargaan. Ia juga tak mau menambah kongsi. “Soalnya saya rasakan mencari mitra yang bisa dipercaya itu benar-benar susah. Lagipula makin banyak kepala dan bisnis, semakin sulit pula menyatukan suara,” tambahnya.

 

MEMBIDIK PASAR KOMUNITAS

Tak berlama-lama, soft opening langsung digelar. Dengan penuh semangat mereka melakukan promosi dari kampus ke kampus. Tak tanggung-tanggung, mereka juga menggelar event dengan menampilkan band Indie asal Yogyakarta yang sedang digandrungi mahasiswa dan kaum muda umumnya. Mereka jugs mengundang komunitas­komunitas untuk menjadikan gerai ini sebagai tempat nongkrong me­reka. Gayung bersambut. Animo untuk nongkrong di tempat ini sangat tinggi, seperti telah disinggung di depan.

Berkiblat pada Kopi Blandongan, core business Goeboex Coffee memang kopi tradidional yang disukai kaum, pria. Namun untuk lebih memperluas pasar ke segmen wanita, mereka menyediakan variasi lebih banyak. Terutama kopi-kopi blend dingin yang biasa disajikan di kafe. Strategi itu sekaligus bisa menjadi senjata untuk masuk ke seg­men atas maupun bawah.

Sejak awal Sari sudah paham target market mereka akan lebih banyak didominasi kalangan pelajar dan mahasiawa. Karena itu gadis yang gemar menari ini pun menjalin hubungan sebanyak mungkin de­ngan komunitas indie band dan futsal. Melalui aktivitas mulut ke mu­lut, ia berusaha menggaet komunitas yang rata-rata punya gaga hidup gemar nongkrong tersebut. Setiap kali ia mengundang indie band tertentu menjadi pengisi acara di Goeboex Coffee, bisa dipastikan fans fanatik mereka menjejali tempat ini. Begitu pula, setiap kali tim futsal tertentu bermain di tempat mereka, para pendukungnya pun memenuhi gerai ini.

 

MERANGKUL MASYARAKAT

Dari sisi bisnis, strategi ini menampakkan hasil. Namun di siai lain citra Goeboex Coffee sebagai tempat nongkrong ternyata menjadi masalah tersendiri. Sempat muncul dugaan miring dari masyarakatsekitar bahwa mereka tidak hanya menyajikan kopi.

Di sinilah Sari memuji peran kedua orang. Tidak sekadar ingin dukung dalam bentuk modal, Sudarto ayahnya ikut turun tangan ketika ada masalah dengan usaha anak-anaknya. Terjun langsung didunia masyarakat dan aparat keamanan, pensiunan tersebut berusaha menjelaskan keberadaan Goeboex Coffee yang sesungguhnya.

Sari lalu menyisihkan sebagian keuntungan guna membantu masyarakat sekitar. Ia juga sebisa mungkin merekrut karyawan dari penduduk sekitar. “Sayang tidak semua penduduk asli punya etos kerja bagus,” katanya.

Sebagai anak-anak muda yang baru saja beranjak dari usia 20 an awal, Sari dan para mitranya menjadi matang sebelum waktunya. Bukan hanya masalah karyawan, ia juga harus mampu menangani masalah bahan baku, memutar otak menyiasati saat-saat bisnisnya sepi, mengamati produk mana yang lebih laku, memikirkan cara pendekatan kepada target market dan seabreg lagi masalah teknis lainnya. “Cukup melelahkan,” ia mengaku.

Untuk menjaga loyalitas tersebut Sari selalu memastikan agar mereka memberikan produk dan layanan yang sesuai dengan setiap rupiah yang dikeluarkan pelanggan. Tiga serangkai ini tidak terburu nafsu untuk memetik keuntungan. Setiap sen keuntungan langsung dimasukkan dalam rekening untuk program up grade Goeboex Coffee Dengan prinsip itu break event point lebih cepat dicapai. Sebagai gambaran, program perluasan warung dari 2.000 m2 menjadi 3.000 m2 pada bu­lan Agustus 2008, sudah balik modal dalam waktu tidak sampai 8 bulan.

Mereka juga menahan diri untuk tidak berkembang terlalu cepat. Dengan tegas Sari menolak membesarkan usahanya dengan pola waralaba. Ia merasa lebih baik bersabar dan me­mupuk modal sendiri sampai bisa mewujudkan cita-citanya untuk membuka beberapa cabang. “Cukup satu cabang di Setiap kota, agar terjaga eksklusivitasnya,” katanya.

 

Tiga serangkai ini tidak terburu nafsu untuk memetik keun tungan. Setiap sen keuntungan langsung di­masukkan dalam rekening untuk program up grade Goeboex Coffee .

 

Hukum Wirausaha #21

Manajemen Pengetahuan

Jika kita bisa rnelihat jauh ke depan itu tentu karena kita tengah berdiri di atas pundak raksasa, vaitu tumpukan pengetahuan dan pengalaman yang ditulia orang lain dan tersedia bagi kita untuk kita pahami.

Issacc Newton

 

SALAH SATU KELEMAHAN menclasar kewirausahaan Indo­nesia adalah tidak adanya proses sharing pengalaman atau pengetahuan lintas bagian dan lintas generasi. Ham­pir semua pengalaman yang ditemukan setiap orang, hilang begitu saja bersama perginya seseorang. Penge­tahuan dan pengalaman melekat pada orang dan tidak tertulia. Akibatnya perusahaan sulit menjadi besar dan bila sudah besar, muclah hilang ditelan perubahan.

Sementara itu perusahaan-perusahaan di Jepang mampu bertahan lebih dari 400 tahun (contoh: Sumito­mo), dan di negara-negara maju lainnya telah melewati atau mendekati usia seratus tahun (contoh: Nokia, General Motor, Philips, Siemens). Mengapa mereka mampu ber­umur panjang?

jawabnya adalah karena sedari awal, kewirausahaan sudah digabungkan dengan manajemen pengetahuan Bahkan di Jepang, segala sesuatu yang mereka kerjakan mereka tulis. Apa saja yang mereka temukan mereka buat tertulisnya dan mereka sharing-kan secara terbuka di dalam kantor. Sebentar-sebentar mereka rapat untuk mempelajari masalah, mencatat, dan berbagi.

Jadi semua orang bisa saling berbagi, saling mengkoreksi, dan saling menggantikan. Lebih jauh lagi, setiap penerus dapat mempelajari segala hal yang dialami pendahulunya dan para pekerja tidak terbelenggu dengan ego sektornya masing-masing.

Dengan menerapkan manajemen, khususnya manajemen pengetahuan (knowledge management), tim ka kewirausahaan akan menjaclikan usaha Anda tumbuli, berkembang, naik kelas, dan lebih lincah menghadapi ujian demi ujian. Perhatikanlah tip berikut ini:

  • Tulialah semua yang dialami dalam bentuk buku pedoman atau SOP, dan jalankan semua yang tertulis. Mereka yang mengembangkan bisnis waralaba umumnya menjadi lebih maju karena mempunyai siatem yang tertulis.
  • Kembangkan tradisi sharing atau cara berpikir sharing, karena cara penyelesaian pekerjaan dengan shar­ing akan lebih cepat daripada berpikir solo.
  • Biasakan orang-orang Anda menjalin hubungan saling melengkapi, dan jadikan diri Anda atau key person Anda sebagai perekat.
  • Hargai ide dari orang-orang Anda seberapa seclerhananya pun pikiran-pikiran mereka agar mereka mulai berani berpikir dan melakukan sharing. Larang me­reka untuk menguasai pengetahuan atau pengalaman (kecuali hal-hal sensitif) secara tertutup, tanpa ada yang mengetahui. Kembangkan tradisi presentasi, mencatat, menguji kebenaran, dan keterbukaan.
  • Rekrut hanya orang-orang yang mau berbagi, mau menghabiskan waktu dengan tim yang lain, yang mau mendengarkan, respek, dan membantu orang lain.
  • Beri kompensasi pada para pemikir bersama (shared thinking) dan para kolaborator (orang-orang yang membantu sharing pengetahuan dan mau bekerjasama).
  • Sediakan sarana untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman baik dari dalam maupun luar kantor Anda. Sarana-sarana itu dapat berwujud seminar diakusi sambil makan Siang atau makan pagi, website/milis ber­sama, papan-papan pengumuman, SMS dan sebagainya.

Kembangkan dengan lebih konkret lewat proyek-proyek bersama. Biasanya berupa sebuah gagasan yang dilaksanakan oleh banyak pihak dan diberi target mencapai hasil tertentu.

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 1: Kisah Inspiratif Anak Muda Mengalahkan Rasa Takut dan Bersahabat dengan Ketidakpastian, Menjadi Wirausaha Tangguh. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

Hafiz Khairul Rijal, Pemilik PT. Djawara Fizta Group: Manisnya Bisnis Es Dawet Cah Mbanjar

Sepuluh kali gagal berusaha tak membuat Hafiz jera. Berbekal ketekunan, di usaha kesebelas ia sukses memasarkan minuman tradisional jawa di Medan. Bahkan lewat sistem waralaba kini bisnisnya merebak hingga ke seluruh Sumatera dan menghasilkan laba puluhan juta rupiah per bulan.

 

PERNAHKAH ANDA MENCICIPI Es Dawet Cah Mbanjar Banjarnegara? Rasa minuman tradiaional yang terbuat dari tepung beras, gula aren, santan dan aroma pandan wangi ini manis dan lezat, sangat menyegarkan lebih-lebih di hari panas. Bagi Hafiz Khairul Rijal, usaha dawet ini tentu saja juga manis dan menyegarkan. Betapa tidak, berkat Dawet Ayu Banjarnegara ini kini Hafiz bisa meraih laba puluhan juta rupiah sebulan.

Berkat bisnis yang dirintianya pada tahun 2006 sarjana teknik, lulusan Universitas Sumatera Utara (USU) ini telah mampu mempekerjakan 27 karyawan. Ia juga telah memiliki beberapa unit mobil dan sepeda motor, serta ratusan armada gerobak untuk berjualan Es Dawet Cah Mbanjar Banjarnegara di Medan, Aceh, dan sekitarnya. Dalam tempo sekitar dua tahun setelah merintis usaha ini, ia juga telah mampu membeli hak paten resep dan bahan baku es dawetnya senilai Rp 50 juta.

“Alhamdulilah, usaha kami bisa berkembang dengan baik,” katanya. Lewat siatem franchiae yang dikembangkannya, usahanya kini sudah berkembang hingga ke Banda Aceh, Sigli, Lhoksumawe dan Langsa. Ia menargetkan, pada akhir 2009 bisnisnya bisa mencapai 500 gerobak.

Sejak tahun 2000, ketika masih duduk di bangku kuliah, anak pegawai negeri sipil ini telah mulai berwirausaha. Ia menjadi anggota
Student Entrepreneurship Center (SEC) unit Bina Kokulikuler Sahiva, Universitas Sumatera Utara (USU). Boleh dikatakan segala jenia usaha pernah dilakukannya. Ia pernah berjualan sandal dan sepatu, kaos kaki, keripik ubi, laundry, warung ayam bakar, warung ayam goreng, lontong sayur, bakso dan mie sop bawor, parfum, katering, dan MLM.

 

la pernah berjualan sandal dan sepatu, kaos kaki, keripik ubi, laundry, warung ayam bakar, warung ayam goreng, lontong saym, bakso dan mie sop bawor, parfum, katering dan MLM. Meski terasa menyakitkan, namun kegagalan demi kegagalan ini dianggapnya membawa hikmah.

 

Meski terasa menyakitkan, namun kegagalan demi kegagalan itu dianggapnya membawa hikmah. Setelah direnungkannya, ia tahu alasan mengapa ia gagal. “Sebelum usaha Es Dawet Cah Mbanjar ini, usaha saya tidak fokus, tidak konsisten, dan tidak persisten,” kata­nya. Segala macam usaha dicobanya tanpa didalami lebih dulu. Begitu merugi, ia langsung beralih ke usaha lain lagi. Begitu terus, hingga Ahirnya ia memutuskan untuk bekerja sebagai penerjemah di Aceh Monitoring Mission (AMM) misi perdamaian Aceh, di Bireuen sekitar setahun (2006-2007). Usai bekerja di sini Hafiz menjadi penerjemah untuk para pengamat Pilkada Aceh dari Uni Eropa (2007).

Gagasannya untuk kembali berbisnis berawal dari suatu kebe­tulan. Ketika mengambil libur dari pekerjaan sebagai penerjemah di AMM, ia pulang ke Medan. Suatu hari ia singgah di kaki lima sebuah jalan untuk menikmati segelas es dawet – minuman tradisional asal Jawa yang populer di Medan. Dari obrolan ringan dengan penjual es dawet, Hafiz sangat tertarik dengan keuntungan dari berjualan es dawet ini. Dengan modal sekitar Rp 300 ribu per gerobak, pemilik­nya bisa mendapat keuntungan bersih hingga Rp 100 ribu. Karena si pemilik mempunyai 25 gerobak, maka laba bersihnya per hari mencapai Rp 2,5 juta. “Dalam sebulan, si pemilik yang tamatan SMA bisa mendapatkan laba hingga Rp 75 juta. Padahal dia cukup duduk di rumah, karena yang berjualan orang lain,” tutur Hafiz penuh antusias.

 

 

BIODATA

HAFIZ KHAIRUL RIJAL

Jakarta, 13 Agustus 1978

Email: liafizkhairulrijal@yahoo.com

 

PENDIDIKAN:

1998-2005 SI Teknik Industri Universitas Sumatera Utara

 

NAMA USAHA:

PT. Djawara Fizta Group

Alamat: JI. Komplek Taman Setia Budi Indah Blok PP No.9 & 12, Medan.

Telp/Fax: 061 8211307, HP: 0816 313 9511

Website: http://www.dawetcahmbanjar.com

Email: dawetcahmbanjar@yahoo.com

 

PENGHARGAAN:

2008 Finalia Wirausaha Muda Mandiri

 

LAIN – LAIN:

2006 – 2007 Interpreter AMM (Aceh monitoring Miasion)

2008 Interpreter PILKADA ACEH (2007)

2007 Interpreter PILKADA NAD

 

Kenyataan ini membuat Hafiz sangat tertarik terjun ke bisnisini. Jika manajemennya ditingkatkan lagi, pasti pendapatannya pun akan lebih baik lagi, pikirnya.

“Syaratnya, kita tak boleh sok gengsi. Tak boleh malu mendorong gerobak dan berjualan di kaki lima,” katanya.

Namun pengalaman kegagalan bertubi-tubi juga membuat sultan Citra Puspa Sari dan ayah Faqih Maidani Al Hafiz ini tak mau gegabah. Ia mau mempelajari seluk-beluk perdawetan ini dengan sungguh-sungguh, sehingga bisa menggantungkan nasibnya di situ. Akhirnya ia mendekati penjualnya, untuk minta izin berjualan es dawet. Dengan uang jaminan Rp 1 juta ia pun mendapat pinjaman satu gerobak (Inn mengambil es dawet sebanyak 50 gelas dengan harga Rp 60 ribu.

Bermodal gerobak pinjaman itu, Hafiz pun mulai berjualan ka wasan Sumber, Padang Bulan, Medan. Hasilnya? “Laris manis Tanjung Kimpul, dagangan habia kumpul,” katanya. Karena potensinya yang bagus, ia pun kemudian merekrut karyawan dan memutuskan membuka satu lagi cabang penjualan es dawet di daerah Setia Budi.

Selama dua tahun Hafiz hanya menjual dan mengambil bahan Baru pada bulan Mei 2008 ia dipercaya membeli hak paten bumbu es dawet dengan harga Rp 50 juta. Babak baru pun dimulai. Hafiz mnlid memproduksi es dawet secara mandiri dan mendaftarkan merek dagangnya. Ia juga mendaftar ke Departemen Kesehatan dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mendapatkan sertifikat halal.

Langkah berikutnya adalah menerapkan sistem waralaba (franchise) agar usaha ini bisa semakin berkembang. “Selain mendapatkan resep dan bahan baku dari kami, pewaralaba (franchiaor) akan mendapatkan pelatihan cara melayani, menjaga penampilan, dan menjaga hal-hal kecil lainnya yang umumnya jarang diperhatikan orang agar4 usaha ini dapat maju,” ujarnya.

Dengan konsep yang jelas, keuntungan yang diraup bisa mencapai di atas 50% dari modal yang dikucurkan. Tak heran bila tawaran;winl ini mendapat sambutan meriah. Pada September 2008, 27 armada gerobaknya bertambah dengan 60 gerobak mitra waralabanya. Pasarnya meluas hingga ke Aceh, khususnya di Banda Aceh, Sigli, Lhokseumawe, dan Langsa.

Sebulan kemudian, persisnya di bulan Oktober 2008, Hafiz juga mendapat kucuran kredit program kemitraan dari Bank Mandiri se­hingga bisa menambah 50 gerobak lagi untuk pasar kota Medan.

Menurutnya, bisnis ini cukup mudah untuk dijalankan. Produknya pun sederhana dan mudah dibuat. Ditambah keunikan dengan ciri khas gerobaknya, calon pembeli mudah mengenali gerobak dan outlet Es Dawet Cah Mbanjar Banjarnegara.

Sukses dengan Es Dawet meyakinkan Hafiz akan manisnya bis­nis makanan dan minuman. “Saya akan fokus di bisnis ini,” katanya. Alasannya sederhana: selama orang masih membutuhkan makan dan minum, bisnis ini akan terus bergulir. la tengah mengincar se­jumlah makanan khas yang ada di Jawa untuk diboyong ke Sumatera dan sebaliknya. Pasalnya, berdasarkan pengamatan Hafiz, banyak orang Sumatera yang suka makanan Jawa, dan orang Jawa yang suka makanan Sumatera.

Untuk mendapatkan keahlian mengolah makanan dan minuman ini agar disukai, ia punya jurus ATM: Amati dengan baik, Tiru hal-hal yang baik dan positif, dan Modifikasi produk agar menjadi lebih baik lagi. Dengan kualitas produk yang lebih baik dan harga yang kompetitif, bisa dipastikan pembeli pun akan berdatangan dan datang lagi, datang lagi. Jika sudah begitu, bisa dipastikan kocek Hafiz akan semakin tebal.

 

Hukum Wirausaha #20

Take it, Delegate it, or Dump it!

 

Kebanyakan orang menghabia­kan waktunya untuk menyempurnakan pekerjaan “kertas”nya sebelum benar­benar menjalankannya. Berhentilah mengejar kesempurnaan, lakukan saja apa yang kau bisa, lalu perbaiki sambil berjalan dan percayai orang-orang yang: kau pilih.

Paul Arden

 

SALAH SATU KEKUATAN yang dimiliki orang muda aclaldq besarnya energi yang dimiliki untuk mengarungi aulmi kesempatan yang terbentang luas dihadapannya. Dengan energi yang demikian besar, namun miskin pengalaman dan intuisi, orang muda seakan-akan siap menerkam pe luang usaha apa saja yang ada dihadapannya.

Mereka seakan-akan talk kenal lelah dan sebagian besar merasa mampu melakukan apa saja. “Kalau orang lain bisa, saya pun bisa.” Bahkan mereka bisa meniru dan memperbaiki apa yang dibuat orang lain. Lebih berbahaya lagi satu proyek belum diselesaikan, sudah melompat ke proyek atau usaha lainnya. Akibatnya, banyak kaum muda yang tidak berhasil membangun usahanya.

Supaya Anda bisa berhasil seperti Usahawan-Usahawan Muda Mandiri lainnya, perhatikan tip berikut ini :

  • Tidak semua peluang yang lalu-lalang di depan Anda harus Anda ambil, seberapa pun menariknya keuntungan yang dijanjikan. Bahkan semakin menarik suatu peluang, waspadailah. Apalagi bila peluang itu mudah di­masuki, mudah terlihat dan dibicarakan banyak orang. Peluang-peluang yang demikian biasanya hanya menarik untuk dimasuki, tetapi kurang menarik dari segi bisnis.
  • Terhadap peluang yang Anda yakini mampu Anda jalankan, periksa baik-baik keekonomiannya. Ceksatu persatu apakah peluang itu mampu memberikan Anda keuntungan; tidak mudah ditiru pendatang-pendatang baru; tidak menimbulkan reaksi pemain-pemain lama yang sudah mencengkeramkan kakinya; dan mampu menumbuhkan kecintaan pada diri Anda sehingga Anda akan bertahan menggelutinya.
  • Bila point ke-2 sudah Anda penuhi, jalankanlah sepenuh hati dan jangan menyerah sebelum pohon yang Anda tanam memberi buahnya (prinsip take it!).
  • Terhadap pekerjaan-pekerjaan yang sudah Anda jalankan, janganlah selesaikan sendirian. Bila Anda me­merlukan tenaga-tenaga pendukung dan Anda mempu­nyai tugas-tugas lain yang tak dapat diaelesaikan sendiri, lakukanlah pendelegasian (prinsip delegate it!).
  • Terhadap hal-hal yang tidak sanggup Anda jalankan, janganlah ragu untuk melepaskan dan mem­buangnya (prinsip dump it!).

 

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 1: Kisah Inspiratif Anak Muda Mengalahkan Rasa Takut dan Bersahabat dengan Ketidakpastian, Menjadi Wirausaha Tangguh. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.