Blog Archives

Awali Mengajar TKW, Kini Sukses Bisnis Sulam

ENDANG Rachminingsih awalnya tak pernah berpikir akan menggeluti sebuah usaha. Namun, perempuan yang lekat disapa Mimin Amir itu kini malah memiliki usaha kerajinan sulam dengan produk berupa tas dan aksesori lain.

Mimin Amir awalnya seorang ibu rumah tangga biasa. Dia mengabdikan diri untuk suami tercinta dan keempat anak yang semuanya laki-laki.

Tak pernah terpikir sedikit pun dalam benaknya menekuni sebuah usaha. Kehidupan keluarganya bahkan terbilang mapan lantaran suaminya, Amir Syarifudin, merupakan seorang pejabat Bank Indonesia (BI).

Namun, situasi itu menemukan titik jenuh saat semua anak Mimin Amir telah beranjak dewasa dan hidup terpisah karena urusan studi dan lainnya. Situasi itu mencapai puncaknya saat mendampingi sang suami ke Singapura pada tahun 2000.

Kebetulan sang suami ditugaskan menjadi Kepala Perwakilan BI di Negeri Singa tersebut. Meski hidup dalam suasana serba kecukupan dan fasilitas lengkap, bukan berarti dia memilih berleha-leha. Mimin Amir justru mencari kesibukan.

Hingga suatu saat, secara kebetulan, Mimin Amir melihat para tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia yang berada di Singapura senantiasa berkumpul di Masjid Sultan Singapura tiap Minggu untuk mendapatkan beberapa tambahan pengetahuan yang difasilitasi oleh pengelola masjid.

Dari sana tercetuslah ide darinya untuk turut berbagi memberikan apa yang dia punya bagi para TKW. “Saya menyampaikan niat saya ke suami, kebetulan diizinkan. Lalu, saya juga menyampaikan niat saya ke pihak pengurus masjid. Saat saya menyampaikan ingin mengajar keterampilan bagi TKW secara gratis, pihak masjid malah seolah tak percaya,” cerita Mimin.

Dia mengatakan, memberikan keterampilan di Singapura secara cuma-cuma kepada orang lain mungkin dianggap tak wajar. “Di sana untuk biaya kursus waktu itu dipatok 200 dolar Singapura untuk 1,5 jam pertemuan. Mungkin itu yang membuat pengelola masjid tak percaya bahwa saya akan memberikan kursus gratis bagi para TKW,” ujarnya.

Sejak itu, sebuah lembaran hidup baru dimulai perempuan yang mengaku tak sempat menyelesaikan kuliah karena keburu dilamar tersebut. Tiap Minggu mulai pukul 09.00-17.00 WIB dia memberikan kursus keterampilan merangkai bunga dan membuat beraneka ragam aksesori secara gratis. “Saya benar-benar memiliki kehidupan baru sejak itu,” akunya.

Perempuan kelahiran Bogor pada 1951 tersebut memaparkan, dia sebelumnya mendapat bekal keterampilan dari mendiang ibunya yang dulu dikenal sebagai perempuan terampil. Dia juga mengaku mendapatkan keterampilan dari dua guru hebatnya, Ibu Ir Suliantoro dan Encik Dewabrata.

Nama terakhir dikenal sebagai perangkai bunga istana sejak zaman Presiden Soeharto hingga saat ini. Rahasia hidup orang memang hanya Tuhan yang tahu. Sekembalinya ke Indonesia, kabar buruk diterima Mimin Amir pada 2004.

Suami tercinta yang telah setia menjadi pendamping hidup dipanggil menghadap Yang Kuasa, tepat setahun setelah menyelesaikan tugasnya di Singapura karena kanker otak.

“Saya biasa melihat orang meninggal. Tapi ketika suami meninggal, saya benar-benar tersadar bahwa orang meninggal itu tidak membawa apa-apa,” kenangnya.

Kepergian sang suami kemudian menjadi lentera bagi hatinya untuk berbagi dengan orang lain. Selang enam bulan setelah kepergian sang suami, Mimin Amir mendaftarkan diri menjadi tenaga pengajar sukarela di SLB Meruya Selatan, yang letaknya tak jauh dari kediamannya.

Merasa keterampilan yang dia ajarkan mampu menghasilkan produk- produk unik dan bernilai seni, pada Oktober 2005 Mimin Amir mendirikan usaha bernama Rumah Sulam Rachmy yang khusus memproduksi aneka macam tas wanita dengan hiasan sulam tangan, bordir mesin, lukisan, dan payet. “Keterampilan merangkai bunga yang saya dapatkan begitu membantu ketika saya menerjuni usaha ini,” ungkapnya.

Mimin memulai usahanya saat usia 54 tahun.Tapi, berkat keinginannya membuka lapangan kerja, semangat berbagi dan menciptakan sebuah karya terbaik di sisa umurnya hanya butuh lima tahun sejak usaha sulam dirintis, kini bisa dikatakan telah mencapai kesuksesan.

Terbukti, omzet usahanya rata-rata telah mencapai Rp40 juta per bulan. Produk-produknya berupa aneka tas wanita dengan hiasan sulam eksklusif karena senantiasa menampilkan satu desain untuk satu produk dengan harga jual antara Rp350 ribu hingga Rp1 juta sudah menyebar ke mana-mana.

Beberapa pameran baik di dalam maupun luar negeri turut mengangkat produknya. Produk Rumah Sulam Rachmy juga dijual melalui toko suvenir Istana Negara, selain membuka gerai di kediamannya di Jalan H Sa’abah, Kompleks DPR III, Meruya Selatan, Jakarta Barat.

Perempuan yang banyak mendapat penghargaan dan prestasi atas usaha yang digelutinya tersebut juga membagi pengalamannya menekuni usaha sulam dengan menerbitkan dua buku berjudul “Sulaman Bunga untuk Tas Cantik Anda” dan “Sulaman Bunga pada Tas dan Pernik Rumah Tangga”.

“Buku ketiga akan menyusul,” tuturnya. Sebagai salah satu bentuk pengembangan produk,dalam waktu dekat dia juga akan meluncurkan aneka produk sulaman untuk kebutuhan interior rumah seperti tempat koran, taplak meja, hiasan dinding dari sulaman, sarung bantal, dan lainnya.

“Keberhasilan saya juga tak lepas dari peran Bank Mandiri yang turut membantu memberikan pinjaman usaha senilai Rp50 juta,” ujarnya yang mengaku menjadi nasabah Bank Mandiri sejak Mei 2007.

Sebagai perbankan yang mengusung tagline, ”Tumbuh Bersama, Membangun Negeri”, kepedulian Bank Mandiri terhadap usaha mikro kecil menengah (UMKM), sebagaimana yang ditekuni Mimin Amir, juga diwujudkan dalam hal lain seperti pemberian pelatihan manajemen usaha, konsultasi bisnis, dan fasilitas lainnya seperti pameran.

Mimin Amir pun berharap suatu saat bisa diikutkan dalam pameran berskala internasional.”Saya butuh lebih banyak disertakan pameran skala nasional maupun internasional supaya usaha saya terus maju dan berkembang,” tuturnya. Kini hari-hari nenek lima orang cucu tersebut senantiasa disibukkan dengan aktivitas menyulam bersama-sama dengan karyawan dan ibu-ibu di sekitar rumahnya yang asri.

“Selain ngemong cucu, kegiatan menyulam menjadi aktivitas saya menghabiskan masa tua,” tuturnya. Mimin yang juga kerap memberikan pelatihan kursus sulam tersebut ingin mengajak seluruh ibu-ibu di Indonesia gemar menyulam.

Baginya, selain menghasilkan karya-karya indah bernilai ekonomi, menyulam juga dapat memupuk kreativitas, melatih kesabaran dan kecermatan. “Menyulam juga memberikan keasyikan sendiri,” ujarnya. (adn)(rhs) (sumber Okezone.com)