Blog Archives

Apin meraih sukses berkat kerja pantang menyerah

Tak pernah mengenal kata putus asa, Ilpin Hawadi mengawali usaha mebelnya dari nol. Lantaran tak bisa melanjutkan kuliah, ia pun memilih menjadi perajin mebel berbekal ilmu dari STM dan bangku kuliah yang tak sempat ditamatkan. Kini, Apin–panggilan akrab Ilpin–menjadi pengusaha mebel yang sukses di Sumatra dengan omzet mencapai Rp 120 juta per bulan.

Kerja keras dan pantang menyerah merupakan kata-kata yang sering didengar sebagai kunci kesuksesan. Begitu pula dengan Apin. Kedua hal itu menjadi syarat untuk meraih mimpinya menjadi wirausahawan yang sukses.

Memulai usaha mebel sejak 1993, sekarang, ia sudah membuka dua cabang di Bandarlampung dan Palembang. Pemilik CV Pinka Barokah di Palembang ini juga sudah memperkerjakan 45 pegawai dengan omzet Rp 120 juta per bulan.

Apin membuat beragam furnitur yang terbuat dari kayu jati. Mulai kursi dan meja tamu, lemari, meja makan hingga kursi lipat. Produknya pun merambah sampai ke Jawa.

Keberhasilan Apin menjadi pengusaha mebel tidak terlepas dari keberhasilannya mengetahui seluk beluk bahan baku. Sehingga, ia bisa memproduksi mebel dengan biaya yang lebih murah.

Selain itu, keahliannya memproduksi dan merakit mebel juga sangat menentukan. Kemampuan ini diperoleh Apin dari latar belakang pendidikannya.

Sejak masih di bangku sekolah menengah atas, ia memilih kuliah di STM Pembangunan. Pada 1988, ia sempat mengenyam bangku kuliah di Teknik Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Namun, karena keterbatasan dana, ia hanya sempat kuliah hingga semester enam. “Tentu saja, saya sempat merasa terpukul karena tidak mampu melanjutkan kuliah,” ujarnya.

Ia pun harus pulang ke tempat asalnya di Ogan Hulu, Sumatera Selatan. Namun, Apin tak putus asa. Dengan modal ilmu yang sudah diraihnya, ia mulai memutar otak dan mencari usaha yang bisa menjadi sumber mata pencahariannya.

Karena memiliki ilmu dasar yang berkaitan dengan bangunan, Apin pun mencoba terjun di dunia mebel. Maklum, seperti membangun rumah, pemakaian konstruksi yang tepat juga berlaku untuk membuat furnitur yang kuat. “Waktu itu, saya yakin, inilah satu-satunya usaha yang bisa menghidupi tanpa harus menjadi pegawai di tempat lain,” katanya.

Dengan modal seadanya, ia pun mulai menjalankan bisnis pembuatan kusen, pintu, lemari, dan kursi di Bandarlampung. Ia memilih kota di ujung Selatan Sumatra ini karena melihat prospek bisnis yang berkembang di sana, mengingat Lampung merupakan wilayah yang dikembangkan sebagai daerah transmigrasi.

Pada saat membuka usaha pembuatan dan pengukiran mebel, tentu saja, Apin menemui banyak kendala. Mulai dari modal hingga hambatan mental berupa rasa khawatir akan gagal.

Namun, ia menepis semua kendala itu dengan tekad yang kuat dan dorongan dari keluarga. “Kita tidak akan tahu hasilnya kalau tidak pernah mencoba,” ujarnya memberi nasihat.

Seiring dengan berjalannya waktu, usaha Apin terus berkembang. Kalau pada lima tahun pertama, penjualannya masih tak menentu. Kini, ia sudah bisa melego 20 unit furnitur per bulan.
Tak hanya langsung menjual kepada konsumen, Apin juga menjadi pemasok mebel mentah atau non-ukiran bagi para perajin di sekitar Lampung.

Ayah dua putri ini mengaku, kesuksesan menjadi pengusaha seperti sekarang ini tidak lepas dari keinginannya untuk maju dan membuang rasa malu. “Kalau anak muda sudah malu atau takut memulai usaha, maka kesuksesan tidak akan pernah datang,” ujarnya.

Apin bercerita, kemampuannya bisa mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku STM dan kuliah lantaran motivasinya belajar memang murni mencari ilmu. “Banyak anak muda sekarang orientasi kuliahnya hanya sekadar mencari ijazah, setelah lulus mereka tidak bisa mengaplikasikan ilmunya,” kritiknya.

Untuk mendukung pengelolaan usahanya, Apin kuliah lagi di Fakultas Ekonomi Universitas Lampung (Unila) pada tahun 1995. Menurutnya, ilmu yang diperoleh di bangku kuliah tetap saja penting, meski banyak yang sukses menjadi wirausaha tanpa melewati perguruan tinggi. “Justru yang diasah dalam bangku kuliah adalah pola pikir kita, dan itu tidak ada di luar kuliah,” ujar Apin.

Ilpin Hawadi memulai usaha mebel dengan bahan baku kayu dan paku dari sisa-sisa proyek. Dengan usaha terus menerus, ia pun bisa mengumpulkan modal dan mencari pemasok kayu berkualitas dari Jepara. Namun, ia tertimpa kemalangan karena kebakaran gudang yang menghabiskan seluruh modalnya.

Menjadi seorang pengusaha sukses memang sudah menjadi cita-cita Ilpin Hawadi atau Apin sejak kecil. Baginya, menjadi seorang pengusaha memiliki nilai lebih karena bisa membantu membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas.

Lahir di Ogan Hulu, 8 Oktober 1969, Apin dibesarkan dari keluarga pengusaha. Setelah menyelesaikan pendidikan STM di Palembang, pada tahun 1988 ia merantau ke Yogyakarta dan melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Ia kuliah di Universitas Islam Indonesia (UII) Jurusan Teknik Arsitektur.

Setelah terkendala masalah biaya, akhirnya ia kembali ke kampung halaman pada tahun 1991. Walau gagal menyelesaikan kuliah, Apin tidak pulang dengan tangan hampa. Ia sudah memiliki ilmu yang mumpuni untuk bisa berwirausaha.

Apin semakin yakin dengan usaha mebel karena ia melihat prospeknya yang bagus. Selama kuliah di Yogyakarta, ia melihat banyaknya permintaan rak-rak buku dan meja belajar. “Saat itu saya terpikir pesaing di Yogya mungkin banyak, tapi tidak di Palembang atau Lampung,” ujarnya.

Tahun 1993, ia memulai usaha pembuatan mebel di Bandar Lampung. Ia membidik pasar mahasiswa untuk menjajakan meja atau rak buku. Karena modalnya belum cukup, ia memperoleh bahan baku seperti kayu dan paku dari sisa-sisa proyek. “Untungnya saya bisa memperoleh gratis dari penjaga proyek,” kenangnya.

Dengan modal utama keahlian menggambar dan kerja keras, usahanya berkembang pelan tapi pasti. Ia juga melanjutkan kuliah di Universitas Lampung Jurusan Manajemen untuk mendukung pengelolaan usahanya.

Dengan memiliki kenalan mulai dari mahasiswa hingga dosen di kampus, Apin makin mudah memasarkan produk-produknya. “Pemasaran dari mulut ke mulut saat itu lebih efektif,” ujarnya.

Setelah hampir tiga tahun bergelut dalam pembuatan dan perakitan mebel, ia mendirikan CV Karya Cipta Utama. Usaha ini terus tumbuh sehingga Apin memiliki cukup modal untuk mengembangkan usaha di Palembang, daerah asalnya.

Tahun 2000, ia membuka kantor baru di Palembang. Ia mempercayakan pengelolaan usaha di Lampung kepada adiknya.

Apin pun menjalin kerjasama dengan beberapa perajin asal Jepara. Dengan begitu, Apin bisa mendapatkan pasokan bahan baku jati yang murah. “Mereka saya bayar per barang mentah yang dikirimkan,” kata Apin. Dengan pemasok ini, ia tidak perlu khawatir dengan persediaan bahan baku.

Setelah ia mulai dikenal konsumen di Bandar Lampung dan Palembang, Apin meminjam Rp 250 juta ke salah satu bank pemerintah pada tahun 2007.

Ia memakai uang ini untuk memenuhi gudangnya di Palembang dengan bahan mentah mebel yang dikirim dari Jepara. Dengan rencana itu, ia berniat menjual setelah Lebaran ketika para pesaingnya baru mau memenuhi stok gudang.

Malang tidak bisa ditolak. Tiga hari menjelang lebaran gudangnya terbakar habis. “Saya sempat frustrasi dan bingung,” ujar Apin.

(sumber Kontan.co.id) *Bersambung*

Anak Petani yang Sukses Bisnis Kopi Gayo

Sadarsah yang kini menjabat sebagai Direktur CV Arvis Sanada, sejak 2001, dengan tertatihtatih berupaya mengangkat derajat emas hitam (kopi) dari Gayo ini ke mata penikmat kopi dunia.

Dengan usaha dan semangat pantang menyerah, ayah dari dua orang putri ini akhirnya bisa meraih kesuksesan. Kini dia telah mampu menjual kopi gayo ke luar negeri sebanyak 12 kontainer per bulan.

Sadarsah mengungkapkan, usahanya menekuni bisnis kopi ini tak bisa dilepaskan dari dukungan Mandiri Business Banking yang telah memberikan modal.

Kredit dari Mandiri Business Banking diperolehnya mulai tahun 2003 melalui program Pembiayaan Unit Kredit Kecil (PUKK). Lalu pada 2009 lalu, dia kembali mendapatkan tambahan modal melalui program Kredit Modal Kerja dan tahun ini dia kembali mengajukan tambahan modal ke Mandiri Business Banking.

“Usaha emas hitam ini saya geluti berangkat dari keinginan saya sebagai anak seorang petani untuk mengangkat derajat kopi gayo ke mata dunia internasional,” ujar Sadarsah saat ditemui di kantornya, CV Arvis Sanada, Jalan Selamat No 38 A, Lintasan Medan Binjai Kompos KM 12, belum lama ini.

Bisnis ekspor biji kopi ini digeluti alumnus Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) itu sejak 2001.

Di awal usahanya, Sadarsah menjadi tenaga pemasaran eksportir kopi dan belum memiliki perusahaan sendiri. “Saya hanya memasarkan kopi dari lima perusahaan kopi di Sumut. Saya bertindak sebagai marketing perusahaan tersebut ke luar negeri. Namun, usaha ini terus saya geluti dengan fokus hingga tahun 2006,” kata suami dari Nafsiah ini. Titik balik sukses bisnis yang digeluti Sadarsah dimulai pada 2006.

Di masa itu terjadi resesi kopi dunia. Hampir rata-rata perusahaan kopi kolaps karena panen hanya mampu menyuplai 50 persen kopi dunia.

Di masa inilah Sadarsah nekat mengambil inisiatif untuk mendirikan usaha sendiri yakni bisnis ekspor kopi ke luar negeri. “Ketika itu, Haji Abu Bakar memberikan modal kepada saya untuk dikelola. Dia juga yang menyiapkan gudang dan sebagainya,” ungkap lelaki kelahiran 19 November 1974 ini.

Lewat bantuan koleganya inilah usaha yang dirintis Sadarsah didirikan dengan sederhana. Awal usahanya dimulai dengan mengekspor satu kontainer kopi ke luar negeri.

“Di masa itu, langsung banyak permintaan kopi kepada kita.Rata-rata,penikmat kopi dari luar negeri menginginkan kopi organik,” kata anak dari pasangan Mude dan Ratih ini.

Dia pun berupaya memperoleh sertifikat kopi organik dari lembaga sertifikasi Control Union di Belanda. Syarat untuk memperoleh sertifikasi tersebut harus mendirikan koperasi yang bermanfaat untuk menaungi petani kopi. Sadarsah lalu mendirikan koperasi bernama KSU Arinagata.

Pada 2006,anggota KSU Arinagata sebanyak 335 orang dan saat ini mencapai 2.600 orang dengan total area penanaman kopi 2.700 hektare di Aceh Tenggara dan Bener Meriah (Takengon). Saat ini Sadarsah juga membina dua koperasi.

Yang pertama Koperasi Tunas Indah beranggotakan 3.958 orang beserta area 4.140 hektare penanaman kopi di Aceh Tenggara dan Bener Meriah. Selanjutnya, Koperasi Lintong dengan anggota asosiasi petani kopi lintong organik.

Koperasi ini memiliki anggota 120 orang dengan jumlah penanaman kopi di Lintong seluas 200 hektare. Untuk kopi gayo, CV Arvis Sanada mengusung merek Sumatera Arabica Gayo, untuk kopi lintong memakai merek Sumatera Arabica Lintong.

Adapun untuk kopi konvensional menggunakan merek Sumatera Arabica Mandailing. Namun pembeli dari luar negeri juga menginginkan lisensi keterurutan barang, manajemen koperasi, dan berdagang secara adil, yaitu lisensi Fair Tradedari Jerman.

“Perdagangan yang adil ini harus mengatur mata rantai yang tegas dan jelas dari anggota (petani kopi) ke koperasi, koperasi ke CV Arvis Sanada, dan dari CV Arvis Sanada ke pembeli di luar negeri,” sebutnya.

Dengan adanya lisensi itu,maka penikmat kopi dari luar negeri dapat mengetahui dari mana asal kopi yang diminumnya.

Sebaliknya, petani kopi binaan juga langsung mendapatkan pembagian keuntungan. Sebab, dari 1 kg kopi yang dinikmati peminum kopi di luar negeri, sebesar Rp1.800/kg dari harga kopi akan dikembalikan kepada petani kopi untuk kesejahteraan mereka.

Bahkan pada 2009–2010, dana yang dikembalikan penikmat kopi organik ini terkumpul Rp2 miliar. Dana inilah yang harus kembali diberikan kepada petani kopi dengan berbagai program yang telah dilakukan CV Arvis Sanada.
Antara lain pembagian sembako, pendirian tempat-tempat kursus, sarana air bersih,unit usaha seperti toserba yang kemudian hasilnya dibagikan kepada seluruh anggota koperasi. Dana pengembalian yang terkumpul dari penikmat kopi ini juga harus benar-benar disalurkan kepada petani yang tergabung dalam koperasi.

Saat ini CV Arvis Sanada mengekspor kopi ke Amerika Serikat,Eropa, dan Asia. Negara-negara yang jadi tujuan ekspornya antara lain Taiwan, Korea, Australia, Jepang, Laos.

Pertumbuhan bisnisnya begitu cepat. Pada 2006, omzetnya hanya mencapai Rp600 juta per bulan dengan mengekspor satu kontainer dan harga kopi Rp30.000/kg saat itu.

Tahun 2007, omzetnya mencapai Rp1,5 miliar per bulan dengan mengekspor 3 kontainer dengan harga kopi Rp30.000/kg. Pada 2008, omzetnya Rp3 miliar per bulan de-ngan mengekspor lima kontainer dan harga kopi Rp32.500/kg.

Tahun 2009, omzetnya sudah mencapai Rp5 miliar dengan mengekspor 8 kontainer per bulan dan harga kopi Rp35.000. Tahun 2010 ini,omzetnya telah mencapai Rp7,6 miliar per bulan dengan mengekspor 12 kontainer dan harga kopi Rp35.000/kg. Jika pada 2006 lalu Sudarsah hanya mampu mempekerjakan 15 orang karyawan, saat ini karyawan perusahaan eksportir biji kopi miliknya sudah mencapai 100 orang. Berbagai kesulitan dan kendala dalam membesarkan usaha pernah dialami lelaki yang awalnya tak pernah bercita-cita menjadi pengusaha ini.

“Pertama, kesulitan yang kita alami adalah modal. Saat ini kita belum mampu memenuhi permintaan pembeli luar negeri yang per bulan meminta 20 kontainer. Kita hanya mampu menyuplai 12 kontainer. Itu terjadi karena kita masih terbatas modal, apalagi sekarang kita membina tiga koperasi,”katanya. Tak hanya itu, ujarnya, bisnis kopi membutuhkan modal besar pada masa-masa panen raya yang hanya terjadi dua kali dalam setahun.

“Kalau kita memiliki modal yang besar,tentunya saatmasapanenbisa melakukan stok bahan mentah. Itu memerlukan modal besar.Apalagi dalam bisnis ini kontrak pembelian dilakukanselamasetahun,tentunya kita harus memiliki stok biji kopi selama satu tahun.Tambahan modal sangat diperlukan,”terangnya.

Sudarsah mengatakan, pilihan terhadapMandiriBusinessBanking dalam pengajuan modal karena selama ini prosesnya tidak rumit.Tak hanya itu,kata Sudarsah,prosesnya juga cepat. “Selain itu, dalam proses persetujuan pengajuan kredit, karyawan Mandiri Business Banking bekerja sangat profesional,” ujarnya mengapresiasi. (lia anggia nst)(Koran SI/Koran SI/ade) (sumber okezone.com)

Aksi Dua Saudara Kuasai Bisnis Alat Berat

oleh : Yuyun Manopol

Setelah 17 tahun bermain di bisnis alat berat, duet kakak-adik, Buyung dan Chandra, menjadi pemain yang kuat di Sumatera. Kini keduanya merambah ke bisnis penyewaan alat berat, kelapa sawit, dan mendirikan pembangkit tenaga listrik. Bagaimana lika-liku perjuangan mereka, dan apa kiat suksesnya?

Memiliki gaji Rp 5-7 ribu/hari sudah pernah dirasakan Buyung Chan. Saat itu (1986), ia menjadi sales lemari besi brankas di Medan. Itu dulu, dan menjadi kenangan yang indah baginya. Kini, pria kelahiran Tanjung Balai Asahan (Sum-Ut) 21 Maret 1967 ini, bersama adiknya Chandra Wijaya, sukses mengembangkan usaha di bidang alat berat melalui PT Technindo Contromatra (TC). Saat ini, TC mengageni 15 merek jenis produk sistem hidrolik, boiler, otomasi engine & industrial dan alat berat. Sejumlah merek andalannya adalah Deutz, Rexroth (Bosch Group), TCM dan Advance Boilers. Adapun pelanggannya antara lain, PT Riau Andalan Pulp & Paper, PT Musim Mas, PT Karya Prajona Nelayan, Perkebunan Nusantara, Smart Corporation, Lonsum, Indofood, Astra Agro Lestari, Pertamina, dan Pabum Berastagi.

Perjuangan Buyung meraih keberhasilan seperti saat ini tidaklah ringan. Lahir dari keluarga pas-pasan buah pasangan Amoy dan Wang Chi Kok (almarhum), membuat Buyung harus bekerja keras. Bahkan kuliahnya di Jurusan Akuntansi Universitas Nomensen, Medan, sempat terbengkalai, karena sembari kuliah ia harus bekerja. Sore hari kuliah, sedangkan pagi hari digunakan untuk bekerja di PT Indolok Bhakti Utama, khususnya menjual lemari besi merek Chubbs.

Tahun 1991, Buyung pindah ke PT Tira Austenite (TA) – anak perusahaan Grup Tira – yang bergerak di bidang peralatan industri yang menjual valve dan suku cadang untuk pabrik minyak kelapa sawit. Di perusahaan ini kariernya mulai berkembang. Ia sempat menempati posisi yang cukup bergengsi, manajer penjualan.

Menurut Buyung, awalnya TA banyak menggarap proyek perkebunan milik pemerintah di Medan. Namun, perubahan terjadi ketika pemerintah memberi kesempatan swasta untuk membuka perkebunan sawit. Saat itu Buyung ditugasi menjajaki peluang memasarkan alat berat di proyek perkebunan sawit yang digarap pihak swasta. Ternyata, upaya Buyung itu membuahkan hasil. Ia berhasil membawa perusahaan tersebut sebagai pemimpin pasar dalam penjualan alat berat perkebunan sawit milik swasta. Beberapa perusahaan yang berhasil dirambah Buyung antara lain PT Sinar Mas, Grup Salim, Indo Sawit, dan Asian Agri. “Saat itu, saya bisa menjual suku cadang senilai Rp 400-500 juta/bulan, sedangkan penjualan unitnya Rp 6-8 miliar/tahun,” papar Buyung.

Melihat hal itu, maka tahun 1992 ia menganjurkan adiknya, Chandra, membentuk CV Techno Sawita (TS), membidangi perdagangan yang menjual berbagai jenis suku cadang untuk pabrik pengolahan kelapa sawit. Pasalnya, saat itu bisnis suku cadang untuk industri kelapa sawit berkembang bagus, peluang pasarnya masih besar dan pemainnya sedikit. Toh, peluang itu tak bisa direngkuh begitu saja. Terbukti, pada awalnya penjualan TS hanya mencapai Rp 15-20 juta/bulan, meskipun pelanggannya cukup bonafide, antara lain Asian Agri dan Sinar Mas.

Tahun 1995, Buyung memutuskan hengkang dari TA, dan bergabung dengan adiknya mengembangkan TS. Ia melihat bisnis yang dirintis adiknya masih jalan di tempat. Di sini, Buyung dan Chandra berbagi tugas dan tanggung jawab. Buyung lebih fokus pada konsep, sistem, manajemen, serta visi dan misi perusahaan, sedangkan Chandra fokus dalam hal lobi dan pemasaran.

Setelah bergabung dengan Chandra, Buyung melakukan beberapa terobosan, di antaranya mencari prinsipal bagi TS. Dia menyebutkan, pertemuannya dengan prinsipal Valtec berlangsung tak sengaja. Kebetulan, ia diperkenalkan temannya pada seorang prinsipal yang sedang mencari dealer, yaitu Valtec. Setelah melakukan pembicaraan, ternyata mereka menemukan kecocokan, sehingga ia diminta mengageni merek tersebut. Untungnya, saat itu pihak Valtec tidak memberi target dan persyaratan khusus menjadi dealer. Maka, ia pun nekat menyuntikkan modal tambahan guna membesarkan TS kurang-lebih Rp 200 juta. Dana itu berasal dari pinjaman kakak iparnya, yang juga meminjam dari bank dengan mengagunkan rumahnya – yang digunakan untuk sewa tempat dan sebagian buat membeli barang yang akan dijual.

Langkah berikutnya, Buyung mengubah badan usaha Techno Sawita dari CV menjadi PT. Nama persisnya, seperti disebutkan di atas: PT Technindo Contromatra (TC). Pertimbangannya semata-mata agar terkesan bonafide. Saat itu omsetnya melambung ke angka Rp 500-600 juta/bulan.

Seiring berjalannya waktu, pada 2000 bisnis TC mulai menggeliat. Saat itu, Buyung mengembangkan bisnis TC yang semula hanya di bidang perdagangan dan produk keagenan, lalu mengarah ke after sales market. Untuk itu, selain menjual unit jika ada kerusakan, TC menyediakan suku cadang sehingga lebih terjamin. “Saat itu, saya banyak menggandeng produk yang memiliki after sales market,” katanya. Tak sampai di situ, Chandra mulai melirik industri lain di luar industri kelapa sawit sebagai target pasarnya, misalnya pabrik kimia, semen, pengolahan pulp & paper, baja, petrokimia, penyulingan dan migas. Pertimbangannya, produk yang dijual juga kian beragam buat berbagai industri.

Alhasil, baik unit maupun nilai penjualan TC terus meningkat. Sebutlah, di tahun 2006 penjualannya mencapai 25-30 unit, dengan nilai Rp 60-80 miliar. Komposisi penjualannya: 40% genset, 25% TCM forklift, dan 35% sisanya boiler. Adapun pertumbuhan penjualannya sekitar 20% dalam dua tahun terakhir, dengan total penjualan sekitar 50 unit/tahun, yang harganya Rp 100 juta-1 miliar/unit.

Sementara itu, di tahun 2009 ia tidak memasang target tinggi bagi penjualannya karena krisis global yang berdampak terhadap industri kelapa sawit. ”Paling tidak, nilainya sama dengan penjualan tahun 2008,” katanya. Toh, tahun 2010, ia menargetkan penjualan akan meningkat 15%. Buyung mengklaim, pangsa pasar TC saat ini berkisar 10%-15% di wilayah pemasaran Sumatera.

Kendati begitu, tak semua perjuangannya berbuah manis. Jatuh-bangun bisnis ini pun Buyung rasakan. Ia bercerita, pernah ketika bisnisnya sebagai agen suatu merek alat berat mulai bagus, tanpa ia duga prinsipalnya diakuisisi pemilik baru. Akibatnya bisa ditebak, pemasarannya pun yang semula ia pegang diambil alih pemilik baru, dan belum tentu agen yang sudah ada menjadi agennya lagi. Kendala lain, Buyung menambahkan, yakni bagaimana memberi servis yang memuaskan. Ini bukan perkara gampang. Ia pun mesti terus membina dan meningkatkan kemampuan teknisi sebagai ujung tombak dalam memberi kepuasan pada konsumen. Karena itu, pelatihan terus diberikan kepada mereka, baik secara internal maupun eksternal guna meningkatkan kualitas.

Di luar bisnis utamanya, sejak 2007, dua bersaudara ini telah merintis bisnis kelapa sawit. Alasannya, pada krisis tahun 1997 bisnis kelapa sawit tidak terkena imbasnya. Begitu pula ketika terjadi krisis global baru-baru ini, industri kelapa sawit termasuk yang paling cepat pulih. “Peluang bisnis sawit masih sangat besar dan bisa diolah untuk berbagai kebutuhan,” katanya. Itulah sebabnya, Buyung mengambil alih pabrik CPO di Pekanbaru senilai Rp 60-70 miliar, plus mengakuisisi perkebunan di Padang seluas sekitar 1.000 ha senilai Rp 10-15 miliar.

Menurut Buyung, akuisisi perkebunan di Padang itu terjadi secara kebetulan. Saat itu terjadi kredit macet pada koperasi petani plasma di Bank Nagari dan BNI. Lalu, ia mengambil alih lahan milik koperasi itu. “Sebagian telah menghasilkan dari 600 ha yang tertanam,” katanya. Hasil panen saat ini 500-600 ton/bulan belum maksimum. Yang wajar, setiap 1 ha menghasilkan 1.000-1.200 ton/bulan. Sementara itu, pabrik CPO di Pekanbaru yang telah berjalan 1,5 tahun itu sudah berproduksi 60 ton/jam atau 400-600 ton/hari. Untuk pengembangannya, ia telah menyiapkan dana Rp 50-60 miliar. Ia menargetkan, tiga tahun ke depan, bisa menambah satu pabrik lagi dengan lahan seluas 3.500 ha. Ia berharap dengan adanya satu pabrik lagi, maka ada penambahan produksi 30-45 ton/jam, atau totalnya (dua pabrik) 90-120 ton/jam.

Masuk ke bisnis kelapa sawit jelas membutuhkan dana besar. Untuk memenuhi kebutuhan dana itu, Buyung memperoleh pinjaman dari Bank Nagari dan BNI sebesar 70%-80%, dan sisanya 20%-30% merupakan modal sendiri. Ia memperkirakan break even point (BEP) pabrik CPO ini tiga-lima tahun, dengan syarat kapasitas produksi mencapai 75%-85% dari kapasitas yang ada. Adapun perkebunan, BEP-nya akan tercapai dalam 8-10 tahun, dengan asumsi, perkebunan mampu berproduksi 1,5-2 ton/ha/bulan. Buyung menjelaskan, tanaman akan berproduksi pada tahun ketiga. Itu pun belum maksimum. Baru pada tahun ke 7-8 hasilnya bisa maksimum. “Ini investasi jangka panjang,” katanya.

Saat ini produksi TC (3-4 ribu ton/bulan) dijual ke dua perusahaan, yaitu Smart (Grup Sinar Mas) dan KPN (Grup Wilmar) dengan komposisi 75%:25%. Sementara itu, buah sawit justru dijual ke perusahaan lain karena jaraknya terlalu jauh dari pabrik-pabrik tersebut sehingga kurang ekonomis.

Saat ini pihaknya sedang menjajaki membuka perkebunan di Pekanbaru dan Padang yang masing-masing luasnya sekitar 3.500 ha dan 3.000 ha. Bila rencana ini terealisasi, ia bisa membangun satu pabrik lagi. Buyung menyebutkan, untuk membangun satu pabrik, idealnya memiliki lahan 4-5 ribu ha. Biaya investasi untuk perkebunan sawit mencapai Rp 50-60 juta/ha. Lima tahun ke depan, ia berharap bisa menambah tiga pabrik lagi dan memiliki lahan 6-10 ribu ha. Bahkan ia berharap suatu saat siap masuk pasar ekspor.

Menurut Herdadi (59 tahun), mantan Manajer Penjualan Bakrie Pipe (Grup Bakrie), yang mengenal Buyung lebih dari 10 tahun, keberhasilan Buyung membangun TC karena ia adalah anak muda yang fokus pada pekerjaannya dan pekerja keras. “Leadership Buyung sangat kuat,” ia menandaskan.

Ucapan Herdadi diamini Togar Simanjutak, mantan Koordinator Maintenance PT London Sumatra (Lonsum) yang mengenal Buyung sejak tahun 1989. Pria berusia 47 tahun yang kini menjabat Direktur Triputra Agro Industri ini melihat Buyung sebagai sosok yang punya tekad kuat untuk maju. Buyung termasuk yang tidak mau tahu dengan segala kekurangan ataupun keterbatasannya. Ia teringat dengan postur kecil Buyung saat itu, membawa tas besar dan badan berkeringat menemui Togar buat menawarkan produk alat berat. ”Buyung memiliki approach skill yang sangat bagus. Ia melihat kekuatan Buyung dalam hal manajemen. Meskipun perusahaannya kecil (CV) saat itu, Buyung menerapkan manajemen modern, bahkan memberi pelatihan dan motivasi yang baik kepada karyawannya,” Togar menuturkan. Pengamatan dua rekan Buyung tampaknya tak meleset. Chandra mengungkapkan, kelebihan kakaknya Buyung memang pada kemampuan mengelola perusahaan dan finansial. Orangnya care, terbuka dan mau mendengar pendapat anak buah. Selain itu, naluri bisnisnya pun sangat kuat.

Terjun ke bisnis kelapa sawit bukanlah langkah terakhir dua bersaudara ini. Sekarang, Buyung dan Chandra sedang mempersiapkan diri untuk merambah bisnis pambangkit tenaga listrik. Pertimbangannya, dengan harga bahan bakar yang mahal, orang akan mencari alternatif energi yang lebih murah. Apalagi, ia melihat banyak perusahaan yang akan membangun power plant sendiri karena kebutuhan mereka yang tinggi. “Potensi pasar power plant di Indonesia tinggi,” kata Buyung. Rencananya, ia akan masuk ke wilayah Sumatera, khususnya di daerah industri kelapa sawit. Kapan? “Dalam satu hingga dua tahun mendatang. (sumber swa online)

Strategi Jitu Cak Fu, Bermodal Rp.25 Ribu Raup Untung Rp.10 Juta

Memulai usaha dan menjadi sukses tidak butuh keahlian hebat atau uang bermiliar-miliar. Hanya cukup komitmen kuat, inovasi cerdas, dan jaringan yang luas. Ini yang menjadi pengalaman berharga Fuad Zakiky, inspirator bisnis termuda dalam sesi “Dare 2 Innovate” yang digelar Suara Surabaya Media bersama Universitas Ciputra dan AIESEC di Atrium Tunjungan Plaza I, beberapa waktu lalu.

Motivator berusia 22 tahun ini bercerita tentang usaha nekadnya yang diawali saat dia berusia 19 tahun. Waktu itu, katanya, dia masih kuliah di semester dua Universitas Airlangga. “Saya ini tidak punya potongan jadi orang kaya. Orangtua saya PNS, nenek moyang saya tidak ada yang pernah jadi pengusaha. Tapi saya nekad,” katanya.

Waktu itu ia mengajak empat kawannya kerjasama bisnis. Tapi saat berdiskusi, bukannya kerjasama modal yang didapat, malah ungkapan bernada pesimistis disampaikan rekan-rekannya. “Punya uang darimana, wong kita masih sama-sama mahasiswa. Masih terlalu muda untuk memulai usaha,” kata dia.

Tidak dapat kongsi modal, Cak Fu-panggilan akrab Fuad-tidak menyerah. Kali ini ia mencoba bisnis kuliner. Meskipun tidak punya keahlian memasak, dia tetap nekad. Modalnya hanya keteguhan hati plus strategi untuk memperluas pemasaran. Setelah menemukan orang yang bisa memasak kue, ia memulai bisnis berjualan kue brownies. Untuk menjualnya, ia menitip ke toko-toko dengan pembagian hasil yang menguntungkan keduanya. “Lumayan juga, dalam dua bulan saya dapat tujuh toko yang mau dititipi kue saya. Hasilnya Rp500 ribu sampai Rp1 juta perbulan,” kata dia.

Tidak lama sejak memulai usaha brownies, Cak Fu mulai berpikir bagaimana memperluas usaha dan menambah keuntungannya. Akhirnya dipilihlah bisnis catering. Pertimbangannya, usaha ini punya skala lebih besar dan keuntungan lebih banyak. Tapi ada masalah serius untuk memulai bisnis ini. Apa itu? “Saya tidak bisa memasak, tidak punya alat masak, tidak punya dapur, dan tidak punya segalanya untuk memulai bisnis ini,” kata dia.

Menyerah? Tidak ada kata itu dalam kamus Cak Fu. Hanya bermodal Rp25 ribu, dia mulai menjalankan strategi kolaborasi. Uang Rp25 ribu itu ia belikan kartu nama untuk disebar ke mana-mana. Suatu ketika, dia mendapat order catering untuk 100 pax. “Saya bingung, mau memasak pakai apa karena saya tidak punya alat masak. Saya juga tidak bisa masak,” kata dia.

Memutar otak, dia mencari pengusaha catering kecil yang hidup segan, matipun tak mau. “Saya tawarkan order ke dia dengan panduan kualitas yang saya tentukan. Saya beli Rp13 ribu, kemudian saya jual lagi Rp20 ribu. Akhirnya saya bisa dapat untung banyak dari sini,” katanya. Bisnis ini terus ia jalankan sampai pada puncaknya, ia pernah mencapai keuntungan Rp10 juta hanya dari bisnis cateringnya ini.

Lebih lanjut, Cak Fu memberi tips agar tidak pernah takut memulai bisnis sejak masih belia. “Sebab jika kita gagal di usia muda, masih cukup banyak waktu untuk memulai kembali dan belajar dari kegagalan,” kata dia. (sumber ciputraentrepreneurship.com)

18 Tahun, Sudah Punya Puluhan Karyawan

KOMPAS.com – Bisnis aneka minuman cepat saji kian mengalir. Mulai mengusung merek pribadi hingga waralaba (franchise). Bahan dasarnya bisa susu, cincao, teh, sinom alias jamu, buah, hingga yang serba racikan sendiri. Bisnis teh kemasan siap saji misalnya, banyak diminati lantaran keuntungan yang diperoleh cukup besar, cara pembuatannya juga tak sulit.

Meracik teh yoghurt kini menjadi andalannya. Padahal, Victor Giovan Raihan, pelajar 18 tahun ini, semula hanya iseng-iseng saja membuat minuman yang memadukan teh dan susu fermentasi ini. Hasilnya, minuman olahannya ternyata memiliki banyak penggemar.

“Modal awalnya Rp 3 juta dengan meminjam dari orangtua sekitar 2010. Saat ini per outlet paling apes menghasilkan Rp 2 juta per bulan. Outlet lain yang ramai bisa lebih dari itu,” aku pemilik merek Teh Kempot ini.

Ide menamai Teh Kempot berasal dari cara orang minum teh kemasan dengan sedotan, jika teh terasa enak dan hampir habis pasti orang akan terus menyedot hingga bentuk pipinya kempot. Begitu kira-kira harapan Victor menjadikan teh yoghurt berasa paling yummy.

Sulung dua bersaudara yang bersekolah di SMA Negeri 1 Kepanjen ini memiliki 10 outlet yang dikelola sendiri dan 17 outlet yang dikelola oleh mitranya. Bermitra dengannya cukup bayar Rp 3,5 juta dan akan mendapatkan 1 paket booth (gerobak), alat masak dan 100 cup (gelas kemasan) pertama. Dua mitra diantaranya ada di Jakarta dan Palembang, lainnya tersebar di Kota Malang.

“Saya belum berani menjual hak dagang secara franchise karena masih sangat pemula. Jujur saja bisnis teh kemasan siap saji ini marjin keuntungannya bisa 350 persen. Kalau kuliner seperti, Bakso Mercon yang sedang saya kelola, marjin keuntungannya hanya 100 persen,” lanjut putra pasangan Sri Winarsih dan Bambang Hermanto.

Victor memang lebih dulu mengelola bisnis bakso, ketimbang teh yoghurt. Outlet baksonya baru ada lima, kesemuanya ada di Malang. Tahun ini, ia berencana nambah lima outlet. Bisnis yang dikelolanya ini belakangan berkembang ke minuman. Alasannya sederhana, kalau orang makan bakso pasti butuh minum.

“Saya coba beli daun teh setengah matang dari pemasok, saya kelola sendiri lalu saya mix dengan yoghurt (susu fermentasi). Ada rasa lemon tea, stoberi, dan cokelat,” ujar pria yang bermukim di Jl Panji II Kepanjen ini.

Per kemasan atau segelas teh yoghurt ukuran 250 ml dijual seharga Rp 2.000-2.500. Jumlah karyawan yang bekerja padanya kini tak kurang dari 50 orang, termasuk untuk outlet bakso dan teh yoghurt.

Setiap harinya, ia bisa menghabiskan 20 kg daun teh kering untuk diproduksi atau menjadi 70 gelas. Gula yang dibutuhkan 4 kg per outlet per hari. Sedangkan kebutuhan daging untuk bakso sekitar 20 kg per hari.

“Usaha bakso tetap akan jadi core business saya karena omzetnya besar. Kalau teh hanya sampingan. Ke depan, saya akan tambah mitra di kota-kota besar, seperti Surabaya dan Sidoarjo,” lanjut Victor.

Ia mengaku, jalan yang ia tempuh dari hasil kerja kerasnya kini membawa keberuntungan yang luar biasa di usianya yang masih belia. “Saya tidak tahu jika dulu saya mengikuti anjuran ayah untuk sekolah di kepolisian apa ‘omzet’nya akan sebesar ini. Keluarga besar saya semua di jalur angkatan bersenjata. Tapi saya tidak minat mengikuti jejak tersebut,” yakinnya.

Untuk perluasan usaha, Victor masih enggan mengajukan kredit kemana-mana. Pakai modal pribadi dan pinjam orangtua masih memungkinkan. “Toh bapak saya dapat fasilitas kredit dari bank, yakni kredit kepolisian. Saya pinjam dari situ juga,” pungkasnya. (Dwi Pramesti YS)

  • Editor: Erlangga Djumena
  • Sumber : Surya (dicopy dari kompas.com)