Blog Archives

Belajar 3 Jam, Sekarang Omzetnya Rp10 Juta/Bulan

JAKARTA – Sudah tak bisa dipungkiri lagi, industri kerajinan adalah sebuah usaha yang mempunyai marjin keuntungan yang cukup tinggi, yakni hingga 70 persen.

Lihat saja pengusaha glass painting Dyah Rachmanita, hobi melukisnya bisa berbuah pundi-pundi uang. Padahal, dirinya hanya belajar tiga jam saja untuk bisa melukis di atas gelas.

Kepada okezone, dia menceritakan sejak dulu, dirinya memang sudah hobi melukis. Suatu saat, Mei 2007, dia kedatangan pelukis dari Rumania yang mengajarkannya kerajinan melukis gelas. “Hanya tiga jam saya diajari dan selanjutnya saya kembangkan sendiri,” ujarnya kepada okezone.

Lebih dari empat tahun setelah dia belajar, Dyah kini telah memiliki sebuah showroom untuk memajang kerajinannya di Plaza Araya, Malang. Perempuan yang mengaku sampai saat ini masih mendesain dan mengerjakan hasil akhir karya-karyanya sendiri ini, sudah bisa mempekerjakan lima perajin.

Menariknya, dari usahanya ini, ia dapat memperoleh omzet usaha sekira Rp10 juta sebulan dengan margin keuntungan mencapai 70 persen. “Ya, untungnya sebesar itu karena ini kan barang seni ya. Mereka yang beli menghargai karya kita,” ucapnya.

Meskipun semua bahan baku gelasnya didapatkan dengan mudah di pasaran, tetapi khusus untuk catnya, dia langsung mengimpor dari Italia dan Prancis.

Dalam sehari, dia bisa menggarap berbagai kerajinan dari gelas seperti toples, botol, lampu petromak, dsb. “Lama pengerjaannya tergantung ukuran dan rumitnya desain,” tambahnya.

Meskipun terlihat sangat menarik dan diminati pengunjung, tapi ia mengaku belum memikirkan untuk mengekspor kerajinannya. “Belum lah, kita belum mampu ngekspor, harus skala besar banget dan kita belum sanggup,” lanjutnya lagi.

Ia juga menganggap bahwa acara-acara seperti pameran Inacraft ini sangat baik untuk mendukung usahanya. “Yang sering-sering saja kayak gini,” tutupnya. (ade) Gina Nur Maftuhah – Okezone

sumber: http://economy.okezone.com/read/2011/04/26/22/449972/belajar-3-jam-sekarang-omzetnya-rp10-juta-bulan

Berbekal Inovasi, Tas Kulit Ini Beromzet Puluhan Juta

Bermodalkan keuletan dan terus melakukan inovasi, itulah salah satu kunci menuju kesuksesan. Hal ini dibuktikan oleh seorang wanita muda, Putri Zanita, 26.

Usaha yang dijalani baru belum genap berusia satu tahun ini telah maju pesat. Ketertarikannya pada dunia fesyen, Putri nekat mendirikan home industry bernama UTEE, yang menghasilkan berbagai macam produk tas kulit maupun dompet yang berkualitas tinggi. Terbukti, hingga saat ini sudah ada sekitar 40 desain yang telah dibuatnya. Bahkan, produknya laku keras di pasar.

Sebelum merintis bisnis UTEE, Putri sempat mengenyam pendidikan di Universitas Bina Nusantara, Jakarta, jurusan desain grafis. Setelah lulus PADA 2008, Putri melanjutkan studi di Northumbria University, Newcastle, jurusan desain manajemen. Ketika kembali ke Indonesia, Putri sempat bekerja sebagai visual merchandiser di salah satu butik ternama di Jakarta.

Namun karena alasan tidak betah, Putri akhirnya mengundurkan diri. Setelah itu, Putri mengambil kursus menjahit di Susan Budiharjo selama enam bulan. “Akhirnya mencoba mendalami dunia fesyen lebih lanjut, karena merasa tidak cocok dengan dunia pekerjaan yang saya jalani,” kata Putri di bilangan Fatmawati, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Berbekal mesin jahit, Putri iseng mencoba membuat tas jenis jelly fish sebanyak enam buah. Tanpa disangka, tas itu malah laku terjual hanya dalam waktu tiga bulan. Sadar bisnisnya menguntungkan, Putri lalu merekrut dua orang karyawan. Rumahnya pun disulap menjadi pabrik kecil sekaligus workshop.

“Jadi lebih seperti home industry. Karena kita tidak pernah melempar ke industri. Semuanya kita kerjakan sendiri, dari mendesain sampai menjahit,” tutur perempuan berambut panjang itu.

Modal awal, Putri mengeluarkan dana sekirA Rp25 juta. Dana yang didapatkan dari ibunya itu, digunakan di antaranya untuk membeli mesin jahit, bahan baku kulit, mesin obras, dan gaji karyawan.

“Awalnya, kulit didapat dengan harga miring dari tante saya sendiri. Waktu itu, gaji karyawan sifatnya borongan jadi tidak seperti sekarang,” ucapnya.

Sekarang, wanita yang total ingin berbisnis ini mengeluarkan dana sekirA Rp3,5 juta per bulan untuk biaya produksi. “Bahan baku sendiri saya ambil dari sekitar Jawa Barat. Itu saya langsung ambil sendiri ke pabriknya. Karena kan kualitasnya juga lebih premium. Untuk desain saya kembangkan sendiri, karena saya juga ilustrator,” paparnya.

Pada saat ini, home industry UTEE mempekerjakan sekitar lima orang karyawan. Untuk satu orang karyawan, dibayar sekira Rp60 ribu-Rp90 ribu per hari. “Itu pendapatan bersih sih, karena mereka juga tinggal dan makan di rumah saya,” ucapnya.

Putri dan beberapa karyawannya juga menerima pesanan tas di luar proyek UTEE. Biasanya pesanan itu bisa mencapai tiga lusin setiap bulan. “Jatuhnya ya lebih mahal. Ada harga khususnya. Biasanya, tarif minimal untuk ongkos jahit saja Rp250 ribu. Konveksinya kita batasi, supaya fokus ke UTEE,” terangnya.

Untuk memasarkan semua produknya, wanita jebolan universitas luar negeri ini lebih memilih menjualnya melalui empat stockist yang tersebar di Jakarta dan Bali, di antaranya The Goods Dept, Manekineko, dan Voila.

Selain itu, juga menjual produknya di onlinestore yakni UTEE2010.blogspot.com dan Ratimaya.com. Namun, Putri mengaku penjualan melalui UTEE2010.blogspot.com jauh lebih menguntungkan, karena stockist mengenakan pajak yang lebih tinggi. Semua produk UTEE dibanderol dengan harga mulai dari Rp300 ribu hingga Rp2 juta per buah. Omzet awal yang didapat Putri adalah sekira Rp4,5 juta per bulan.

Sementara untuk sekarang, bisa meraup keuntungan hingga Rp14 juta dari hasil penjualannya di stockist dan Ratimaya.com. Total keuntungan itu adalah di luar pendapatan dari acara bazar yakni Brightspot Market. Meski baru pertama kali mengikuti acara itu, omzet yang didapatkan tak tanggung-tanggung, yakni hingga Rp23 juta hanya dalam waktu tiga hari.

“Dari masing-masing stockist pun berbeda omzetnya. Pertama kali menjual melalui The Goods Dept, aku bisa dapat Rp6,5 juta per bulan,” tuturnya.

Walaupun baru saja merintis bisnisnya, ia mengaku sudah pernah melakukan ekspor beberapa produknya ke Singapura, Australia,dan Belanda. Putri mengungkapkan, salah satu kendala ekspor hingga saat ini adalah terkait dengan proses pembayaran.

Sementara itu ketika ditanya kenapa lebih memilih kulit sebagai bahan baku produknya, Putri mengatakan karena dia ingin barang UTEE bisa lebih dikenal orang. “Jadi, orang tidak perlu membeli tas kulit dari merek yang mahal seperti Louis Vuitton. Dan UTEE kan jadi punya ciri khas,apalagi pemain tas kulit juga belum banyak di Jakarta. UTEE juga punya varian yang limited,” ucapnya.

Ke depan, dirinya mengaku bakal membuat beberapa gebrakan. Pertama, dia akan berkolaborasi dengan sebuah clothing brandlokal. “Bisa saja untuk membuat satu koleksi pakaian dan tas. Kira-kira dalam tiga bulan mendatang,” jelasnya.

Kedua, berencana untuk membuka cabang di Bali. Putri mengaku, biaya sewa tempat di Bali jauh lebih murah ketimbang di Jakarta,yakni hanya sekira Rp10 juta. Dengan bermodal sekira Rp30 juta, Putri optimistis target itu akan segera terealisasi.

Sedikit banyak Putri belajar bisnis dari orang tuanya yang juga berprofesi sebagai wirausaha, meski jenis usaha yang dirintisnya tidak sama. “Bisnis ya belajar autodidak saja sih, let it flow. Terjun sendiri, yang penting sabar dan pelan-pelan. Orang tua memang pengusaha. Mereka yang sering menasihati ketika saya baru merintis UTEE,” papar dia.

Lambat laun, manajemen UTEE yang tadinya masih berantakan ,mulai dibenahi sedikit demi sedikit. Tak hanya dunia fesyen, Putri juga menyukai kuliner. Sampai suatu ketika, dia mulai jatuh cinta pada kue jenis cupcake.

“Di London ada toko cupcake yang terkenal banget. Pas sudah di Jakarta sambil menunggu karyawan produksi tas, akhirnya coba bikin cupcake. Awalnya, saya bagikan ke orang-orang secara gratis. Dari situ, pesanan kue mulai banyak,” ujarnya.

Ia juga sempat kursus masak di Bogasari. Dirinya sering bereksperimen membuat resep baru, karena menurutnya cupcake belum banyak dikenal di Indonesia. Bahkan ke depan, Putri berencana untuk mendirikan usaha cupcake yakni Cuprocks. Modal usaha cupcake jauh lebih murah ketimbang tas kulit, yakni hanya sekira Rp3.000 per buah.

“Cupcake di sini kan masih belum terkenal. Jadi biar ada value-nya, saya buat hiasan-hiasan cupcake yang sifatnya personal. Sudah ada namanya, Cuprocks. Rencananya, toko cupcake akan digabungkan dengan tas kulit di Bali,” tutupnya. (Sandra Karina/Koran SI/ade)

sumber: http://economy.okezone.com/read/2011/05/29/320/462173/berbekal-inovasi-tas-kulit-bisa-beromzet-belasan-juta

Omzet Miliaran, Mantan TKW Sukses Jadi Pengusaha Sapu

PURBALINGGA – Di balik kisah sedih yang dialami para Tenaga Kerja Wanita (TKW ) asal Indonesia di luar negeri, ternyata ada juga TKW yang mampu meraih kesuksesan setelah kembali ke kampung halamannya.

Seperti di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Seorang mantan TKW sukses menjadi pengusaha sapu usai pulang bekerja dari Singapura. Tidak tanggung-tangung omzet usaha sapunya bisa mencapai miliaran rupiah. Bahkan, produk sapunya ini telah merambah ke beberapa negara seperti Taiwan, Korea Selatan, dan Malaysia.

Inilah sukses yang diraih Rohimah (37), istri dari Bambang Triono warga Desa Karang Gambas, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga. Di rumah yang juga dijadikan kantor, serta tempat produksi sapunya inilah, Rohimah beserta suaminya mengedalikan usaha sapunya yang terbuat dari rumput glagah. Usaha pembuatan sapu yang dimulai sejak 2005 ini, kini telah menjadi lapangan kerja bagi ratusan warga sekitar.

Kesuksesan pabrik sapu milik Rohimah ini ternyata tidak datang begitu saja. Namun beberapa kali mengalami pasang surut. Bahkan, usaha sapunya ini sempat vakum selama dua bulan akibat ketiadaan modal serta buruknya administrasi.

Kondisi inlah kemudian yang membuat Rohimah memutuskan untuk menjadi TKW ke Singapura. Namun, Rohimah hanya bekerja selama satu tahun di Singapura. Meski demikian, banyak pengalaman yang didapat hingga ia bersama suaminya melanjutkan usaha sapunya ini.

“Wah, usaha saya semula sempat pasang surut, pokoknya untuk sukses tidak gampang dan harus bekerja tekun mas,” ujar Rohimah, mantan TKW.

Tentu saja, kesuksesan Rohimah juga tak lepas dari peran dari Bambang Triono suaminya. Ayah dua anak inilah yang bekerja untuk mencari tempat pemasaran produk sapunya hingga kualitas produk sapunya dipercaya untuk diekspor ke beberapa negara Asia. “Kita saling mendorong dan bahu membahu mas,” ujar  Bambang Triono.

Banyaknya permintaan sapu dari berbagai negara membuat Rohimah dan Bambang tak bisa mengerjakan sendiri. Mereka harus mempekerjakan beberapa warga sekitar. Tentu saja kondisi ini sangat menguntungkan warga sekitar yang sebagian besar bekerja sebagai buruh tani. Bahkan, jumlah para pekerja di pabrik sapu milik Rohimah ini, mencapai ratusan orang.

Meski telah sukses, namun masih banyak kendala yang dihadapi Rohimah dan Bambang dalam mengembangkan usahanya ini, Seperti modal dan peralatan yang masih manual. Sehingga, mereka pun berharap pemerintah bisa membantu masalah yang dihadapi. (Saladin Ayyubi/Global/ade)

sumber: http://economy.okezone.com/read/2011/06/25/22/472687/omzet-miliaran-mantan-tkw-sukses-jadi-pengusaha-sapu

Selembar Rp100 Ribu Modal Ita Yudi Berbisnis Asesoris

PERNAH berfikir untuk membuat sesuatu yang berbeda, menjualnya dan bahkan bisa menjadi trendsetter? Hal ini yang dialami oleh Ita Yudi. Seorang Wanita yang pada awalnya merintis menjadi pekerja kantoran alias wanita karir yang kemudian banting setir menjadi wirausaha mandiri yang mempekerjakan banyak orang.

“Awalnya saya kerja di kantor, sebuah perusahaan yang berurusan dengan proyek-proyek. Isinya laki-laki semua, jadi tidak ada yang menggunakan assesoris. Akhirnya kerja seperti itu tidak enak. Nganggur,” ucapnya mengawali cerita ketika ditemui okezone di standnya dalam sebuah pameran yang baru-baru ini diadakan di Smesco center, Jakarta.

“Nah, saya kan pakai jilbab. Dan dari awal sudah hobi membuat asesoris. Mencoba-coba. Awalnya saya ingin punya bros buatan sendiri. Trial and error terus sih, tapi terus di coba,” imbuhnya.

Bahan yang awalnya digunakan adalah untaian kawat-kawat dan manik-manik yang kemudian dirangkainya. Entah itu menjadi bunga, bentuk binatang, atau bentuk abstrak yang menurutnya layak untuk dijadikan hiasan. Selain dari kawat, dirinya juga mengaku membuat dari bahan lain seperti kain yang berasal dari limbah garmen, dan juga lilin atau clay.

“Saya buat dari semua bahan. Seperti yang sering saya buat ini dari metal, kawat. Ada juga yang dari benang wol dirajut, kain bekas limbah garmen, dan clay,” terangnya.

Memang, bahan-bahan tersebut terlihat sangat sederhana dan mudah sekali untuk mencarinya. Seperti kawat misalnya, yang dengan mudah bisa kita temukan di pasar-pasar. Limbah garmen yang juga dengan mudahnya bisa didapatkan dari perusahaan garmen yang membuang sisa kainnya.

Diakuinya, untuk memulai usaha seperti dirinya, memang tidak membutuhkan banyak modal. Dirinya menuturkan, untuk memulai usaha ini dulu hanya cukup bermodalkan selembar uang Rp100 ribu saja.

“Modal untuk ini, sederhana saja. Malahan kalau sudah punya tang yang sebagai alat sudah bisa. Paling dulu modal Rp100 ribu,” ungkapnya.

“Kalau kawat, dulu waktu saya memulai usaha ini kawat seperti ini memang jarang. Tapi sekarang sudah banyak sekali yang jual. Sekarang dimana-mana orang jual. Rp10 ribu juga sudah bisa buat beli kawat,” ungkapnya lagi.

Dirinya menunjukkan kawat kecil sebagai alat yang digunakan untuk membentuk material serta kawat-kawat yang digunakan sebagai dasar pembuatan bros-bros tersebut. Kawat kecil dengan ujung lancip itu digunakan untuk membentuk dan membengkokan kawat sehingga membentuk suatu bentuk yang diinginkan.

Dalam setiap usaha, tentunya semua tidak langsung berjalan dengan lancar. Hal itu pula yang dialami oleh Ita. Awalnya, dalam sehari dirinya hanya mampu menjual satu sampai dua pieces bros. Jadi dalam sebulan, rata-rata dirinya hanya bisa menjual sebanyak 20 pieces bros.

Namun, saat ini hal tersebut sudah tidak berlaku lagi dalam kamus usahanya. Diakuinya, animo masyarakat terhadap kerajinan assesoris ini meningkat. Terbukti dari jumlah yang dihasilkannya laris manis terjual bak kacang goreng.

“Dulu, yang tertarik jarang sekali. Sekarang yang tertarik banyak. Sekarang tidak usah deh keluar negeri, di Indonesia juga sudah banyak kok. Lebih bagus dan juga lebih murah. Tidak usah ke Bangkok dan China. Kita sudah bisa menyaingi kok,” ucap Ita optimis.

Memang, dari segi harga bros yang dijualnya sangat bervariasi. Untuk yang motif sangat sederhana dibandrol dengan harga Rp2.500 sampai Rp10 ribu. Namun, jika yang bentuknya agak rumit dan menggunakan banyak material serta batu-batuan, bahkan ada yang menggunakan kristal swarovski harga bisa selangit alias bisa mencapai Rp500 ribu.

Bentuk yang dimaksud memang rumit. Dengan detil yang sangat kecil dan sempurna, dibagian tengahnya ditambahkan bebatuan yang senada dengan warna kawat dan manik-manik. “Saya juga mengangkat kekayaan Indonesia. Karena ada batu-batu yang berasal dari Indonesia, yang tidak kalah bagusnya. Tapi ada juga yang menggunakan kristal swarovski. Per pieces harganya Rp2.500 sampai 500 ribu,” jelasnya.

Kesulitan yang dihadapinya tidak sampai disitu, kadang material yang dibutuhkannya tidak terdapat di Indonesia. Sehingga dirinya harus memesan material tersebut dari China. Bersyukurlah kini, pesanan terus berdatangan. Jumlahnya bisa sampai ribuan, sehingga dengan sendirinya para distributor tersebut mendatangkan langsung material-material tersebut tanpa harus melalui pemesanan terlebih dahulu.

“Kendala, material kan 75 persen dari China. Tapi karena sekarang pesanan sudah banyak dan juga banyak yang sudah memulai bisnis serupa, jadi para distributor material ini sudah ada dengan sendirinya,” akunya.

Dengan usahanya tersebut, ibu dari tiga orang anak ini memiliki 40 karyawan binaan yang membantunya dalam merangkai berbagai jenis bahan yang akan dijadikan asesoris terutama bros.

Dirinya tidak membutuhkan sebuah toko besar atau kios dalam menjajakan bros-brosnya. Di rumahnya yang terletak di daerah Kalimalang merupakan “pabrik” sekaligus tempatnya memajang bros-brosnya. Selain itu, dirinya juga rajin melakukan kerja sama dengan butik-butik yang banyak terdapat di ibu kota. “Pekerja rata-rata ibu rumah tangga biasa yang masih radius kecamatan lah,” ucapnya.

Saat okezone berusaha mencari tahu lebih jauh, berapa pendapatan per bulannya saat ini, dirinya enggan berbagi lebih jauh. Karena menurutnya bisnis seperti ini tidak bisa dihitung secara pasti. Namun menurutnya, per bulan dirinya bisa menjual hingga ratusan aneka macam asesoris.

Terakhir, dalam hal pemasaran produk, dirinya mengingatkan untuk bisa menjadi yang berbeda diantara sekian banyak pesainganya. Banyak melihat, membaca dan memperhatikan pasar adalah kunci kesuksesannya.

“Kita harus menjadi yang berbeda. Banyak membaca, entah dari buku atau bisa juga browsing di internet,” tandasnya. (and) Yuni Astutik – Okezone

sumber: http://economy.okezone.com/read/2011/07/31/22/486317/selembar-rp100-ribu-modal-ita-yudi-berbisnis-asesoris

Fatchi, Sukses Menaklukkan Eropa dan AS dengan Batik

SUKSES pasti menjadi milik mereka yang bekerja keras, pantang menyerah dan selalu berani mencoba hal-hal baru dalam hidupnya. Hal ini jugalah yang terjadi dengan pemilik batik Tobal, Fatchiyah A Kadir.

Setelah pernah sukses menaklukkan pasaran Eropa dan Amerika Serikat (AS) dengan kain batik Pekalongannya, kini dia justru sedang berjuang menaklukkan pasar domestik.

Fat, demikian perempuan matang berkepala enam asal Pekalongan ini biasa disapa kerabatnya, memulai usaha batik pada 1971. Kala itu, jiwa wirausaha telah mengalir dalam keluarganya, Fat nampaknya mewarisi bakat yang diturunkan ayahnya yang kala itu berjualan kain tenun.

“Pada dasarnya kan orang-orang di daerah pesisir itu pintar berdagang, jadi mungkin saya ada bakat juga berdagang,” tutur Fat kepada okezone beberapa waktu lalu.

Sadar akan bakatnya, ibu tiga anak ini mencoba peruntungannya dengan membuat batik bersama suaminya. Saat itu, Fat tidak mempunyai modal yang tidak mempunyai modal sama sekali nekat untuk menjahitkan batiknya. ”Istilahnya, saya dan suami cuma punya dengkul saja,” kenang dia.

Namun, karena hasilnya yang memuaskan, kepercayaan dari beberapa pihak seperti pengrajin batik dan pembeli semakin meningkat.

“Kami malah diberikan uang pangkal (down payment) dulu 50 persen. Dulu, pembayaran di muka itu  sesuatu hal yang sangat langka sekali dulu,” jelas Fat.

Saat itu, kata Fat, di Pekalongan pengembangan batik memang dikerjakan terpisah-pisah antara kain batik dengan penjahit batik. Sukses di daerahnya, Fat menargetkan pasar ekspansi pasar yang lebih tinggi.

Tak tanggung-tanggung, Fat membidik pasar internasional sebagai pangsa pasarnya. “Karena kebetulan saat itu, pasar dalam negeri memang sedang tidak kondusif,” tambahnya.

Alasan dia kala itu cukup logis. “Saat itu, sedang marak-maraknya trend batik printing yang dipelopori batik keris, jadi batik tulis saat itu bahkan terancam punah, jadi 1971 itu saya langsung ekspor saja,” kata Fat.

Dengan pola pengembangan batik jahit borongan atau yang sering disebut maklon, bahkan pada 1993 lalu, dirinya mendapat penghargaan upakarti dari Presiden Soeharto. Sistem maklon sendiri menurutnya adalah sistem pengembangan batik khususnya di daerah Selatan dengan mengubah pengrajin-pengrajin batik dalam kelompok-kelompok.

Fat masih mengingat, pasar Australia adalah pasar yang pertama yang berhasil ia taklukkan. Padahal, dia sama sekali tidak mempunyai akses ke luar negeri, lalu bagaimana caranya? Fat yang memiliki  jiwa wirausaha tak kekurangan asal.

Fat bukan menjajakan lewat promosi di media massa ataupun selebaran. Fat memilih membangun toko batik di kawasan yang sering disambangi oleh wisatawan asing.

Saat itu, Fat memilih pulau dewata, Bali, untuk menjadi mediasi pasar ekspornya. Terbukti, batiknya berhasil menembus Spanyol, Italia dan juga Amerika Serikat. “Mula-mula pesanan batiknya hanya sekira 10 ribu potong per dua bulan, jumlahnya terus naik sampai 400 ribu potong per tahun,” tambah dia.

Fat terus memperluas produksi batiknya, setelah Bali, Fat kembali membuka sebuah showroom di sekitar Pasar kembang, Yogyakarta. Hal ini dilakukannya untuk mempermudah akses terhadap orang-orang dari kawasan eropa dan Amerika yang lebih kerap berkunjung ke Yogyakarta ketimbang Pekalongan.

Pembukaan showroom batik di Yogyakarta pastinya menimbulkan pertanyaan di benak kita, pasalnya, Yogyakarta bukannya sepi akan produk batik ini. Meski begitu, Fat yakin batik buatannya memiliki ciri khas tersendiri yang disukai para turis.

“Batik Pekalongan itu memang berbeda dengan motif batik Yogyakarta dan Solo yang menggunakan pakem warna-warna cokelat dan hitam, kalau batik Pekalongan berani dengan warna-warna cerah,” jelas Fat. Untuk pangsa ekspor, dia menambahkan desain yang sifatnya semi kontemporer.

“Jadi saya masukkan juga motif-motif etnis Indian, Aborigin atau  Hawai. Mereka itu (pasar ekspor) juga lebih suka batik cap dan batik tulis kagok (batik tulis yang tidak terlalu halus),” tambah dia.

Kesuksesan batik Tobal, menurut Fat, juga didukung dengan kreatifitasnya dalam memadukan dan merancang warna dan kain batik rancangannya. Adapun cara yang digunakan untuk memenuhi pesanan batik, adalah dengan jahit borongan (sistem maklon).

Waktu itu, lanjut Fat, sistem maklon biasa dilakukan di desa-desa di daerah Selatan. Untuk sistem maklon ini, satu sistim mempekerjakan minimal 10 pengrajin. ”Waktu itu saya punya sekira 40 maklon,” jelas dia.

Banting Setir

Namun, bukan usaha jika belum pernah terhempas badai. Lebih dari 30 tahun sukses mengekspor batik produksinya, badai itu datang pada 2007 lalu. Ditengarai karena krisis moneter yang terjadi di Indonesia, ditambah dengan kondisi keamanan yang tidak kondusif, membuat pelanggan-pelanggannya berhenti mengorder batik Tobal produksinya.

Tepat pada kuartal III-2007 Fat terpaksa melakukan Pemberhentian Hubungan Kerja (PHK), pada sejumlah karyawannya. “Saya harus PHK banyak karyawan saya, dari 500-an karyawan harus saya pangkas menjadi 120-an karyawan saja. Sedih sekali rasanya saat itu, karena banyak dari mereka yang sudah bekerja ke saya lebih dari 20 tahun,” kenang Fat.

Berhenti mendapat permintaan ekspor batik ke mancanegara, tidak lantas membuatnya berputus asa dan berpangku tangan. Brand Tobal miliknya pun merubah haluan dengan membidik pasaran dalam negeri sejak 2007.

Masuk pasar nasional, batik olahan Fat menjadi pemain baru. Dengan produksi hanya sekira 50-75 ribu potong per tahun, Fat terpaksa menjual batiknya secara retail. “Jadi satu pengusaha bisa lakukan hanya dalam satu showroom,” jelasnya.

Saat ini, Fat telah mempunyai showroom di Jakarta, Semarang dan juga Surabaya. Sukses Fat jadi pengekspor, dilakoninya pula di dalam negeri. Karena dedikasi dan kesetiannya pada pengembangan batik nasional, di perayaan hari batik nasional yang jatuh pada 3 Oktober lalu di Pekalongan, dirinya mendapat undangan resmi dari Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono untuk berdiskusi mengenai pengembangan batik.

Setelah pada 2009 lalu UNESCO meresmikan batik sebagai warisan budaya adalah The Untangible Heritage, Fat berharap perkembangan batik di Indonesia akan terus dapat berkembang dan diterima di masyarakat.

“Karena batik kita berbeda dengan produksi batik di negara manapun, batik kita punya ruh,” kata Fat mengakhiri kisahnya. (mrt) (rhs) Gina Nur Maftuhah – Okezone

sumber: http://economy.okezone.com/read/2011/10/13/22/514689/wanita-ini-perjuangkan-batik-dalam-negeri